PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Semenjak pecahnya Perang Dunia II menjelang paruh kedua abad ke-20 Dunia Islam mulai melepaskan diri dari cengkeraman penjajahan Barat dan menjadi negara-negara merdeka. Akan tetapi, dalam banyak hal Dunia Islam masih tergantung kepada Barat. Dana pembangunan, peralatan militer, tenaga konsultan dalam berbagai bidang, dan hasil industri berat, hampir semua negara Islam masih tergantung pada Barat. Ketergantungan Dunia Islam pada khususnya dan Dunia Ketiga pada umumnya kepada Barat ini tidak lain adalah imperialisme-kolonialisme dalam bentuknya yang baru. Dengan kata lain dapat dinyatakan, meskipun Dunia Islam telah melepaskan diri dari imperialisme-kolonialisme Barat dan menjadi negera-negera merdeka sudah kurang lebih setengah abad, namun dalam kenyataannya Dunia Islam masih berada dalam pengaruh dominasi Barat.
Meskipun realitas sekarang menunjukkan, bahwa Dunia Islam masih berada dalam pengaruh dominasi Barat, namun bukan berarti Dunia Islam tidak punya kekuatan sama sekali. Samuel menilai Dunia Islam, bersama-sama dengan Konfusionisme, mempunyai kekuatan cukup signifikan, dan semenjak berakhirnya Perang Dingin, akan menjadi ancaman terbesar bagi dominasi Barat selama ini. Makalah ini akan mengkaji hubungan peradaban Barat dan Islam khususnya, dan dengan peradaban-peradaban lain pada umumnya dalam era Pasca Perang Dingin dan Globalisasi.
B. Tujuan Pembahasan
Sesuai latar belakang di atas maka tujuan pembahasan makalah ini, antara lain:
PEMBAHASAN A. Islam dan Barat menurut Menteri Agama
Barat dan Islam merupakan dua peradaban besar dan penting yang eksis di muka bumi saat ini, dengan memiliki karakter dan ciri khas tersendiri. Dalam perspektif sejarah, dua peradaban ini telah melakukan interaksi yang panjang dalam situasi pahit dan manis selama sekian abad. Hubungan keduanya banyak diwarnai oleh proses saling belajar, saling memberi, dan menerima, di samping itu antara keduanya juga pernah terjadi ketidakharmonisan, konflik, dan benturan.
Dalam konteks tersebut di atas, untuk menata masa depan dunia yang damai, adil dan makmur, maka sudah seyogianya jika Barat dan Islam belajar dari sejarah masa lalu yang panjang, mengevaluasi kondisi maupun konflik masa lalu, sehingga kita bersama mampu mengambil hikmah yang positif dalam rangka membangun masa depan untuk kemanusiaan yang lebih gemilang. Untuk itu dituntut adanya sikap saling menerima dan menghargai perbedaan masing-masing.
Barat yang kini mendominasi kepemimpinan dunia, sudah selayaknya memberikan keteladanan yang tinggi bagi peradaban-peradaban lain, dalam misi bersama mewujudkan kehidupan umat manusia yang damai, adil dan makmur. Sebaliknya, dunia Islam juga harus mampu dan mau belajar dari berbagai aspek positif peradaban Barat, tanpa meninggalkan nilai-nilai asasi dalam Islam. Malahan jika Barat secara jujur mengakui sumbangan besar dunia. Islam terhadap peradaban Barat di masa lalu, niscaya sikap saling pengertian dan saling menghargai antar-peradaban akan lebih mudah dibangun.
Dalam berbagai kasus penanggulangan bencana kemanusiaan yang menyentuh nurani antar-bangsa di dunia, seperti bencana Tsunami di Aceh, Flu Burung, HIV Aids, dan lain-lain, umat manusia secara spontan telah menemukan bentuk kepedulian dan kerjasama yang baik. Hal itu perlu diperluas dan dikembangkan ke dalam sektor-sektor lain.
Sementara itu tidak dapat dipungkiri, setelah Perang Dingin berakhir, berkembang berbagai wacana dan peristiwa yang membuka jalan baru bagi upaya membangun hubungan yang lebih harmonis antara dunia Islam dengan dunia Barat. Walaupun kita juga memaklumi adanya perbedaan persepsi dan kepentingan yang cukup mendasar antara dunia Islam dengan dunia Barat, misalnya dalam penyelesaian masalah Palestina, penanganan isu nuklir di sejumlah negara Muslim, dan sebagainya. Perbedaan persepsi dan kepentingan tersebut seharusnya dapat diatasi dengan mengupayakan dialog dan komunikasi yang terbuka dan intensif antara dunia Islam dengan dunia Barat. Sekurangnya upaya demikian bermanfaat untuk menumbuhkan sikap saling memahami dan menghormati adanya perbedaan, sekiranya belum dapat dicapai titik temu.
Dalam kitab suci Al Quran yang menjadi pedoman hidup umat Islam di seluruh dunia, Allah SWT menegaskan, sekiranya Allah menghendaki seluruh manusia bisa dijadikan satu umat saja, tetapi Allah ingin menguji manusia dengan segala pemberian-Nya, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan (QS Al-Maidah: 48), Allah menjadikan umat manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal satu sama lain (QS Al Hujurat: 12).
Oleh karena itu adalah sia-sia dan melawan sunnatullah jika Barat ingin menghomogenkan atau "membaratkan" seluruh dunia. Biarlah dunia yang heterogen dengan tata nilainya masing-masing tetap dalam keragamannya sehingga umat manusia dapat belajar satu sama lain. Barat dengan segala keunggulannya saat ini, disadari atau tidak disadari, membutuhkan cemin untuk mengoreksi kelemahan dan kekurangannya.
Quran dan Sunnah Rasulullah adalah asas dan unsur penting dalam peradaban Islam, sebagaimana agama dan nilai judaeo-christian sebagai salah satu unsur penting dalam peradaban Barat. Oleh karena itu, untuk membangun jembatan dialog antar-peradaban, maka diperlukan dialog dan hubungan yang harmonis antara pemeluk agama yang berbeda tadi, khususnya antara Islam, Kristen dan Yahudi. Interfaith dialog sebenarnya telah menjadi agenda global selama puluhan tahun. Salah satu wadah yang dibentuk ialah Parlemen Agama-Agama Sedunia di New York, Amerika Serikat, dimana dewan penasehatnya pernah dijabat oleh tokoh intelektual Muslim Indonesia dan mantan Menteri Agama Almarhun Prof. Dr. H.A. Mukti Ali. Banyak hasil yang telah dicapai dalam interfaith dialog, meskipun masih ada berbagai batu sandungan.
Di tengah multi krisis yang melanda umat manusia di dunia saat ini, agama-agama semakin dituntut perannya dalam merealisasikan cita-cita bersama umat manusia untuk mewujudkan dunia yang damai, adil dan makmur. Karena itu dialog-dialog antar-umat beragama perlu terus dilakukan dalam kondisi apa pun untuk memecahkan tantangan dan masalah bersama umat manusia dengan tetap menghonnati perbedaan keyakinan masing-masing agama.
Sebagai satu negara Muslim terbesar di dunia dengan jumlah penduduk Muslim sekitar 200 juta jiwa, Indonesia saat ini memang sedang menghadapi banyak persoalan internal. Kita sedang belajar dari pengalaman masa lalu dan tentu saja kita tidak ingin mengulang kesalahan yang sama di masa lalu. Dalam pada itu kita ingin menjadikan Islam sebagai tata nilai yang menjadi rahmat bagi bangsa kita dan umat manusia secara keseluruhan. Insya Allah jika kita mampu keluar dari berbagai persoalan dan kesulitan saat ini, maka jalan yang lebih baik dan terang benderang akan dapat kita songsong. Al Quran sendiri mengajarkan, setelah kesulitan senantiasa ada kemudahan.
dalam berbagai bidang kehidupan. Untuk itulah, di samping mendayagunakan potensi dan kekuatan di dalam negeri, dukungan eksternal dari berbagai negara dan kerjasama internasional juga tidak dapat kita kesampingkan. Jika kita berhasil mengembangkan sikap saling pengertian antar-bangsa, khususnya antara negara-negara Muslim dengan negara-negara Barat, maka kita akan dapat membuktikan bangkitnya negara-negara Muslim dan Barat menjadi kekuatan ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, dan politik yang mandiri, tidak perlu dipandang sebagai ancaman antara satu dengan yang lain.1
B. Islam dan Barat Pasca Perang Dingin
Dalam teorinya, Samuel melihat dari seluruh peradaban yang ada, Islam merupakan peradaban yang paling mengancam bagi ideolgi AS, yang dapat menghambat dominasi Barat bagi menuju tatanan dunia baru. Hal ini dipengaruhi oleh dua hal, yang pertama adalah sejarah, dimana hanya ada satu peradaban di Dunia ini yang dapat mengalahkan perdaban besar Yunani dan Romawi adalah Islam. Dilain sisi Barat yang pada awalnya adalah Kristen merasa telah dikalahkan paling kurang dua kali, dan yang kedua adalah adanya ketakutan kebangkitan Islam setelah kemenangan yang diperoleh atas Uni Soviet.
Dalam teori ini Barat melakukan dua hal, yang pertama mengantisipasi ancaman dari ideologi lain, dan yang kedua adalah harus menunjukkan eksistensinya. Ada tujuh peradaban yang akan menjadi tantangan bagi AS dalam mewujudkan Ideologi global,2 dan diantaranya ada dua unsur kebudayaan
yang memiliki sifat universal, yang melewati batas-batas wilayahnya yang dapat menjadi tantangan bagi Barat, yaitu tantangan yang datang dari Islam dan tantangan yang datang dari Sino. Dari sini, Samuel P. Huntington Melihat dimana persaingan antar peradaban merupakan faktor utama yang mempengaruhi terjadinya benturan antar kelompok dari berbagai peradaban.3
1Muhammad M. Basyuni, Islam dan Barat, www.kemenag.go.id, diakses tanggal 8 Desember 2015 jam 11.10
2Huntington, The Clash Of Civilization. hlm.25
Sehingga lahir teori Clash of civilization, yang menjadi alasan utama terjadinya konflik dalam peraturan global. Kehancuran Uni Soviet melahirkan sebuah anggapan bahwa hanya peradaban Baratlah yang pantas menjadi kebudayaan global, karena mereka menyebutnya dengan sebuah peradaban yang dapat mebawa pembaharuan. The ent of history, sebuah teori yang muncul pasca berakhirnya perseteruan antara dua kekuatan Kapitalis dan Komunis, dimana benturan antara Kapitalis dan sosialis sudah berakhir, dan dunia akan terpola dalam sebuah sistim kapitalis dengan AS sebagai pemain utamanya, yang lain berada dalam sistim yang telah dibentuk tersebut, atau dapat dipahami dengan Kapitalisme global.
Tahun 1993 sebuah pandangan baru lahir dari seorang pemikir Barat bernama Samuel P. Huntington, melahirkan sebuah teori The Clash of Civilization (Benturan peradaban), dimana dalam kancah hubungan International, Barat yang dianggap sebagai sebuah kekuatan besar akan berhadapan dengan sebuah kekuatan baru yang datang dari luar, dalam menerapkan dan menyebarkan ideologi serta peradabannya. Teori yang dilahirkan oleh Huntington melengkapi teori yang dilahirkan oleh fransis fukuyama, dimana Huntington memaparkan bahwa untuk mencapai kepada cita-cita berdirinya Kapitalis global dengan AS sebagai pemain utamanya masih menyisakan sebuah PR. Bahwa tantangan yang dihapi oleh Barat pada dekade selanjutnya bukanlah datang dari Barat itu sendiri, akan tetapi dari peradaban-peradaban lain yang ada selain Barat yang dianggap akan menyaingin Barat dalam menerapkan dan menyebarkan ideologi serta peradabannya, inilah yang dipahami sebagai sebuah benturan yang akan menciptakan benturan peradaban.
bahwa Islam adalah tantangan dan hambatan bagi dalam mewujudkan cita-cita ideologi global. Hal ini dipengaruhi oleh tiga faktor:
1. Kebangkitan Islam diberbagai wilayah yang berupaya untuk melepaskan diri dari paham dan pemikiran Barat seperti yang telah diciptakan dalam agama Yahudi dan Kristen.
2. Gelombang besar umat Islam ke tanah Barat, dimana Barat sendiri kehilangan regenerasi untuk melanjutkan perjuangannya. Keadaan ini memungkinkan Islam berkembang dengan pesat di Barat, disamping berkembangnya upaya untuk mewujudkan kembali kekhilafahan Islam.
3. Kebutuhan AS akan suplai minyak dari Timur Tengah.4
Abdul Qadim Zallum menjelaskan bahwa keruntuhan ideologi Sosialis (Komunis) yang merupakan seteru Ideologi Kapitalis, membuat Amerika merasa sebagai satu-satunya ideologi yang bermain dalam percaturan perpolitikan Intenasional yang harus diterapkan oleh dunia, dan dalam hal ini, Barat yang diwakili oleh Amerika merasa tidak ada lagi ideologi yang dapat menghalangi kepentingannya setelah pecahnya Uni Soviet kecuali berasal dari Islam yang telah memiliki ideologi sendiri.5
Ketakutan ini bukan tanpa alasan, Sebuah ketakutan yang selalu menghantui mereka (Barat) adalah kejayaan Islam yang pernah melampaui kejayaan Romawi dan Persia, dimana tidak ada satupun peradaban yang sebelumnya dapat mengalahkan dua kekuasaan Imperium ini. Selain dari itu, belum ada dari peradaban manapun yang bisa menciptakan peradaban seperti apa yang telah dicapai oleh Islam.
Berbagai macam reaksi bermunculan, dari para tokoh-tokoh berpengaruh, sebagai pemangku kebijkan ploitik di Barat, baik dari kalangan AS maupun US. Tidak hanya dari kalangan politikus, tetapi juga banyak pemikiran-pemikiran yang lahir dari para tokoh-tokoh intelektual Barat, yang mempertajam paradigma dan maindstream terhadap umat Islam.
4Ahamd Dumyathi Bashori, Eksistensi Islam di Timur Tengah dan Pengaruh Globalnya (Jurnal al Insan. No.1 vol. 3. 2008), hlm.100-101.
W. Blum mengamini hal ini : “extending political, economic and military hegemony over as much of the globe as possible, to prevent the rise of any regional power that might challenge American supremacy, and to create a world order in America s image, as befits the world s only superpower‟ ‟ .”6
Pada tahun 1985, setelah Gorbachev memegang tampuk kekuasaan di Uni Soviet, Presiden Ameriak Serikat Nixon megatakan “Rusia dan Amerika harus mengadakan kerjasama yang efektif untuk memukul fundamentalis Islam.”7
Pada 1990 Menteri Luar Negri Amerika Henry Kissinger menyampaikan pidato dalam konferensi tahunan Kamar Dagang Internasinal, dalam pidato itu dia mengatakan Front baru yang harus dihadapi Barat adalah dunia Arab dan Islam sebagai msuh baru bagi Barat.8
Dalam buku The Revolt of Islam: When did the conflict with the West begin, and how could it end? Lewis menyatakan In the course of human history, many civilizations have risen and fallen—China, India, Greece, Rome, and, before them, the ancient civilizations of the Middle East. During the centuries that in European history are called medieval, the most advanced civilization in the world was undoubtedly that of Islam. Islam may have been equalled—or even, in some ways, surpassed—by India and China, but both of those civilizations remained essentially limited to one region and to one ethnic group, and their impact on the rest of the world was correspondingly restricted.
Artinya : Dalam sejarah perjalanan manusia, banyak peradaban yang jatuh dan bangkit, seperti Cina, India, Yunani, Roma, dan peradaban kuno Timur Tengah. Selama berabad-abad, dalam sejarah Eropa yang dikenal dengan Pertengahan, dimana tidak diragukan lagi Islam adalah yang paling maju, setara bahkan melebihi Cina dan India. Akan tetapi Cina dan India masih terbatas pada kelompok dan etnisnya, dan dampaknya terhadap dunia juga terbatas.
6William Blum, Rogue State: a Guide’s ti The World Only Super Power, (London, United Kingdom: Zed Books Ltd, 2006), hlm.316.
Samuel P. Huntington menuliskan “The rhetoric of America s‟
ideological war with militant communism has been transferred to its religious and cultural war with militant Islam”, dan “The twentieth-century conflict between liberal democracy and Marxist-Leninism is only a fleeting and superficial historical phenomenon compared to the continuing and deeply conflictual relation between Islam and Christianity.”9
Bernard Lewis “For almost a thousand years, from the first Moorish landing in Spain to the second Turkish siege of Vienna in 1529, Europe was under constant threat from Islam.”10
Kekhawatiran Barat, terutama AS semakin jelas ketika melihat ada sebuah kekuatan militan bersenjata yang terlatih secara militer dari kalangan umat Islam, veteran perang Afganistan yang datang dari berbagai wilayah, negara dan bangsa yang berbeda. Sebagain dari para pejuang ini terus melanjutkan perjuangannya untuk kembali mewujudkan sebuah kemerdekaan demi kemakmuran ditanah umat Islam dan menginginkan sebuah kebangkitan Islam kembali. Hal ini tidak lepas dari jasa AS selama terjadinya perang di Afganistan yang telah membantu merekrut pejuang-pejuang Islam untuk melawan Uni Soviet (US).11
Barisan para pejuang Islam ini, terus bergerak menjalankan misinya untuk melakukan perlawanan senjata terhadap seluruh kekuatan asing yang masih berada ditanah umat Islam. Sebagaimana dipahami, setelah Perang Dingin ada satu kekuatan asing yang masih terus melanjutkan cita-cita ideologinya, yaitu AS dengan ideologi Kapitalisnya. Para pejuang militan Islam ini mengharapkan AS angkat kaki dari tanah umat Islam dan memberikan kebebasaan untuk mengatur kehidupan tanpa ada campur tangan AS dalam urusan umat Islam. hal ini sangat dipengaruhi oleh beberapa pandangan berikut. 1. Alasan Syar’I :
9Azyumardi Azra, Wayne Hudson, Islam Beyond Conflict: Indonesian Islam and Western Political Teory (England: Ashgate Publishing Company, 2008), hlm. 182.
10Israr Hasan, Believers and Brothers : a History of Uneasy Realationship (Bloomington: Authorhouse, 2009), hlm.160
a. Pemerintah Amerika Telah menduduki dua kota suci Umat Islam,Mekkah dan Madinah.
b. Amerika dan Yahudi, membunuhi kaum muslimin disegala tempat dan waktu, dan menghalalkan darah rakyat sipil muslimin.
2. Alasan Politik :
Karena Amerika sekarang menjadi musuh utama umat Islam yang selalu mengincar muslimin dan jemaah-jemaah Islam yang aktif, dan tidak ada lagi kekuatan yang mampu mengatasi Amerika.12 Dan Amerika mendukung
kepentingan Zionis dan menelantarkan nasib rakyat Palestina.
Apa yang dicita-citakan gerakan ini, sejalan dengan kekhawatiran AS terhadap Islam, dan ini tidak bisa diterima oleh AS, hal ini tentunya berlawanan dengan cita-cita ideologi yang telah diperjuangkan, dan tidak mungkin bagi AS melepaskan begitu saja aset miliyaran dolar yang telah mereka tanam akan diserahkan begitu saja, begitu juga dengan Ideologi yang mereka kembangkan akan sirna begitu saja dan sebaliknya Islam akan bangkit kembali. Semua hal ini sangat bertentangan dengan cita-cita dibalik lahirnya ideologi yang diusung oleh Barat, yang mengharapkan Islam jangan sampai bangkit kembali setelah hancurnya Turki Usmani. Hal ini dilatar belakangi oleh latar belakang terciptanya dua ideologi ini yang bertujuan untuk :
1. Membantu mewujudkan berdirinya negara Israel di Palestina.13
2. Menghidupkan rasa fanatisme golongan dan kelompok dalam tubuh umat Islam, serta adu domba.
3. Ikut campur tangan dalam urusan Timur Tengah dan Dunia Islam. 4. Menghalangi terwujudnya atau diajalankannya syariat Islam.
5. Memalingkan Bangsa Arab dari pengaruh Islam. 6. Merusak pemikiran serta akhlak generasi mudanya.14
Di sini ada dua cita-cita ideologi yang berbeda, antara keinginan para militan Islam yang ingi mewujudkan kebangkitan Islam kembali, dilain pihak AS
12Fuad Husein, Generasi ke Dua al Qaida, hlm. 227.
sebagai sebuah perpanjangan tangan sebuah ideologi yang tidak mengharapkan Islam bangkit kembali, dan menginginkan kebebasan untuk menikmati kekayaan yang dimiliki oleh tanah umat Islam.
Tahun 1992-1998, keberadaan AS diberbagai wilayah umat Islam sering terganggu, melalui aksi serangan bersenjata terhadap konvoi tentara AS hingga serangan ke pusat-pusat kepentingan AS. Semua kejadian ini, pada awalnya selalu dirahasiakan, akan tetapi perhatian mereka selalu tertuju kepada kelompok militan Islam yang dianggap sebagai pelaku dibalik semua yang diderita oleh AS. Seperti serangan pada tahun 1992 di Yaman yang menewaskan sekitar personel AS, tahun 1993, 18 orang personel As dalam sebuah serangan di Somalia, 1995 sebuah ledakan besar terjadi di camp Militer As di Saudi Arabia,15 dan masih banyak lagi yang lainnya.
Salah satu sosok yang dianggap oleh AS yang paling bertanggung jawab adalah Usamah bin Laden, dan al Qaeda. Bagi AS Usamah adalah promotor yang sangat berpengaruh dalam membangkitkan semangat perjuangan untuk kebangkitan Islam dan melakukan perlawanan terhadap keberadaan AS di tanah Umat Islam. Sebelum wacana perang global dicetuskan, AS sudah beberapa kali berupaya untuk menghentikan pergerakan militan Islam dan menangkap Usamah bin Laden. AS pernah menyerang Sudan begitu juga Afganistan, akan tetapai upaya itu belum membuahkan hasil. Bagi AS Usamah adalah musuh nomor satu. Banyak kelompok yang terinspirasi dengan pemikiran dan gerakan Usamah, hingga berkembang seiring dengan berkembangnya sentimen anti AS.
Setiap gerakan perlawanan ini disebut dengan al Qaeda, hal ini digunakan untuk mempermudah dan mengeneralisir setiap pergerakan militan anti AS, dan al Qaeda sendiri adalah sebuah sandi intelejen yang berarti data base, berisikan seluruh data pejuang mujahidin Afgan, baik yang berada dalam kelompok Usamah ataupun tidak, Arab maupun non Arab dari seluruh penjuru negara Islam.
Melihat ancaman ini AS berupaya untuk meminimalis ancaman yang sedang dihadapi, baik secara umum, maupun secara khusus yang datang dari gerakan kelompok militan Islam. ZA. Maulani menyimpulkan 4 strategi AS sebagai kekuatan super power dalam menghadapi kekuatan umat Islam pasca perang dingin :16
a. Mempersepsikan adanya ideologi yang bermusuhan ke dalam benak rakyat Amerika.
b. Memprovokasi berbagai insiden yang mengundang amarah dan kebencian dikalangan publik Amerika terhadap Islam.
c. Menciptakan wahana agar perang berjalan terus, tanpa mempedulikan opini umum,
d. menjalankan sebuah mesin perang diluar kontrol kongres maupun para pemilih Amerika.
Ketegangan dan ketakutan AS terhadap militan Islam dan veteran Afgan terus berlanjut, hingga terjadi ledakan 9/11, dan tanpa berfikir panjang AS lansung menujukan perhatiannya terhadap al Qaeda dan Usamah, adalah kelompok yang bertanggung jawab. meski kebenarannya masih dipertanyakan hingga hari ini, akan tetapi AS sebagai polisi dunia, yang memiliki pengaruh politik yang kuat, tidak menghiraukan benar atau salah siapa dalang dibalik ini semua, yang penting genderang perang terus berbunyi.
Sejalan dengan pendapat Huntington, bahwa untuk menunjukkan eksistensinya, AS harus punya lawan, dan tiada lagi lawan bagi AS setelah Uni Soviet yang dapat mengancam keberadaannya kecuali Islam. dimana dalam sejarah Islam adalah satusatunya peradaban yang mampu melampai peradaban Barat dan mengalahkannya, baik sebagai sebuah imperium, maupun sebagi sebuah ideologi. Sebaliknya di AS sentimen anti Islam juga mulai digulirkan.17
Disamping ketakutan Barat akan kebangkitan Islam, keberadaan militan Islam pasca perang dingin memang sangat mencolok bagi AS. Ketakutan AS terhadap kelompok ini sangat besar, hingga ia harus
16Sibhudi, dkk, Terorisme Konspirasi Anti Islam. hlm. 14.
melancarkan serangan-serangan yang membabi buta, sehingga korban dari kebrutalannya ini adalah rakyat sipil yang tidak berdosa, namun AS hanya melihat itu sebelah mata. Lalu siapa teroris yang sesungguhnya. Dengan alasan mencari al Qaeda dan Usamah, AS membenarkan setiap tindakan karena ketakuan semata. Tidak hanya dari sisi perlawanan bersenjata yang dilakukan oleh umat Islam, kekhawatiran AS juga dipengaruhi oleh bangkitnya perpolitikan dunai Islam, seperti kemenangan partai Islam di Sudan, dan di al Jazair,18 dan telah berdirinya negara Islam Afganistan dibawah
pemerintahan Thaliban. Tentunya ini sebagai sebuah signal bahwa Islam sudah mulai bangkit kembali secara menyeluruh setelah dihancurkan pada tahun 1924.
Berawal dari al Qaeda, AS memulai perangnya dengan tujuan yang mendasari sikap AS mendeklarasikan perang terhadap terorisme Untuk mengadili pelaku dan kelompok terorisme, dalang dibalik tragedi 9/11, melindungi warganya, baik di dalam maupun di luar Amerika, juga melindungi seluruh kepentingan AS yang tersebar diberbagai negara didunia, dan demi menjamin dan menjaga keselamatan serta keamanan dunia dari ancaman serangan terorisme, yang ingin mengeluarkan Israel dari Timur Tengah dan mengusir Yahudi dan Nasrani dari tanah Asia danAfrika, secara umum disebut Homeland security.
PENUTUP A. Kesimpulan
Islam dan barat merupakan 2 peradaban yang sangat besar dan mempunyai sejarah yang panjang. Pasca perang dingin peradaban barat lebuh maju dari
peradaban Islam dari berbagai sektor. Ini menjadikan barat ingin menjadi penguasa dunia dan menghomogenitaskan berbagai negara yang ada di dunia.
Akan tetapi barat takut akan keberadaan peradaban Islam, ini dikarenakan dalam sejarahnya. Islam mampu mengalahkan peradaban Yunani dan Romawi, sehingga barat dengan berbagai cara mulai mempengaruhi jemaat Islam yang aktif untuk masuk ke ideologi mereka. Meskipun begitu Islam harus mengambil nilai positif dari peradaban barat, serta peradaban barat harus bercermin atas tindakan yang mereka lakukan.Tindakan yang negatif harusnya bisa dihilangkan agar Islam dan Barat mampu hidup berdampingan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.
B. Komentar
Dalam pembuatan makalah ini mungkin masih terdapat beberapa kesalahan baik dari isi dan cara penulisan. Untuk itu pemakalah sebagai penulis mohon maaf apabila pembaca tidak merasa puas dengan hasil yang pemakalah sajikan, dan kritik beserta saran juga pemakalah harapkan agar dapat menambah wawasan untuk memperbaiki penulisan makalah ini.
DAFTAR RUJUKAN
Azra, Azyumardi, Wayne, Hudson. Islam Beyond Conflict: Indonesian Islam and Western Political Teory. England: Ashgate Publishing Company 2008.
Bashori, Ahamd Dumyathi. Eksistensi Islam di Timur Tengah dan Pengaruh Globalnya. Jurnal al Insan. No.1 vol. 3. 2008.
Blum, William. Rogue State: a Guide’s ti The World Only Super Power. London, United Kingdom: Zed Books Ltd. 2006.
Hasan, Israr . Believers and Brothers : a History of Uneasy Realationship.
Bloomington: Authorhouse. 2009.
Husein, Fuad. 2008. Generasi ke Dua al Qaida, diterjemahkan oleh Syakirin, Ahmad. 2008, Solo : Al Jazera.
Jundi, Anwar. Islam setelah Komunis. Jakarta: Gema Insani Press. 2004.
Katzman, Kenneth. Al Qaeda: Profile and Threat Assessment. CRS Report for Congress. Pdf. 2005.
Khadar, Lathifah. KetikaBarat Memfitnah Islam. Jakarta : Gema Insani Press. 2005.
Kumar, Deepa. Islam Politik: Sebuah analisis Marxis. Yogyakarta: Resist Book. 2012.
Mardenis. Pemberantasan Terorisme Politik Internasional dan Politik Hukum Nasional Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2011.
M. Romli, Asep Syamsul. Demonologi Islam: Upaya Barat Membasmi Kekuatan Islam. Jakarta: Gema Insani. 2000.