Makalah Pemanfaatan Kekayaan laut Indonesia untuk Mewujudkan Ketahanan Ekonomi Nasional
PEMANFAATAN KEKAYAAN LAUT INDONESIA
1. Latar Belakang
Sejak dahulu kala Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan
terbesar di dunia. Dengan luasnya lautan yang dimiliki banyak potensi
kekayaan laut yang dapat kita manfaatkan untuk kesejahteraan rakyat
Indonesia.
Indonesia memiliki potensi sumber daya laut yang sangat besar. Selain ikan, berbagai sumber daya lain terdapat di sini, seperti pertambangan, rumput laut, terumbu karang, dan sebagainya. Semuanya memiliki nilai ekonomi yang sangat besar untuk kesejahterakan rakyat, terutama kaum nelayan. Nelayan memiliki posisi yang cukup strategis mengingat dua pertiga wilayah Nusantara adalah laut. Namun seringkali nelayan tidak berdaya secara ekonomi dan terjerat kemiskinan. Karena itu perlu upaya untuk memberdayakan nelayan demi meningkatkan kesejahterannya. Sumber daya laut yang ada di Indonesia memang sangat besar, jika dikelola dengan baik, maka bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat,
khususnya nelayan dan masyarakat pesisir. Sehingga ketahanan ekonomi akan terwujud.
Laut Indonensia memiliki kekayaan sumber daya berlimpah. Namun
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1. Profl Laut Inooneiaa
Laut Indonesia memiliki luas lebih kurang 5,6 juta km 2 dengan
garis pantai sepanjang 81.000 km, dengan potensi sumberdaya, terutama
perikanan laut yang cukup besar, baik dari segi kuantitas maupun
diversitasnya. Selain itu Indonesia tetap berhak untuk berpartisipasi
dalam pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan alam di laut lepas di luar
batas 200 mil laut ZEE, serta pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan
alam dasar laut perairan internasional di luar batas landas
kontinen.Nampak bahwa kepentingan pembangunan ekonomi di
Indonesia lebih memanfaatkan potensi sumberdaya daratan daripada
potensi sumberdaya perairan laut.
Memperhatikan konfigurasi Kepulauan Indonesia serta letaknya
pada posisi silang yang sangat strategis, juga dilihat dari kondisi
keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia,
yaitu:
•
Marine Mega Biodiversity
; wilayah perairan Indonesia memiliki
keragaman hayati yang tidak ternilai baik dari segi komersial maupun
saintifiknya yang harus dikelola dengan bijaksana.
•
Plate Tectonic
; Indonesia merupakan tempat pertemuan tiga lempeng
tektonik, sehingga wilayah tersebut kaya akan kandungan sumberdaya
alam dasar laut, namun juga merupakan wilayah yang relatif rawan
terhadap terjadinya bencana alam.
•
Dynamic Oceanographic and Climate Variability
, perairan Indonesia
merupakan tempat melintasnya aliran arus lintas antara samudera Pasifik
dan samudera Indonesia, sehingga merupakan wilayah yang memegang
peranan penting dalam sistem arus global yang menentukan variabilitas
iklim nasional, regional dan global dan berpengaruh terhadap distibusi
dan kelimpahan sumberdaya hayati.
Indonesia dengan konsep Wawasan Nusantara, sebagaimana
diakui dunia internasional sesuai dengan hukum laut internasional
(UNCLOS 82), memberikan konsekuensi kepada negara dan rakyat
Indonesia untuk mampu mengelola dan memanfaatkannya secara
optimal dengan tetap memperhatikan hak-hak tradisional dan
internasional.
Indonesia sebagai negara kepulauan telah menetapkan alur
perlintasan pelayaran internasional, yaitu yang dikenal dengan Alur Lintas
Kepulauan Indonesia (ALKI), hal ini mengharuskan kita untuk
mengembangkan kemampuan teknik pemantauannya serta kemampuan
untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya.
melaksanakan riset yang bersifat strategis yang dapat diaplikasikan oleh
masyarakat luas terutama oleh para pelaku industri dan masyarakat pesisir pada umumnya.
2. Kekayaan Laut Inooneiaa
Tiga per empat dari keseluruhan wilayah Indonesia adalah lautan.
Di dalamnya terdapat lebih dari 17.500 pulau dengan garis pantai
sepanjang 81.000 km yang merupakan garis pantai terpanjang kedua di
dunia setelah Kanada. Banyak sekali kekayaan laut yang dimiliki negara
kita.
Laut kita mengandung banyak sumber daya yang beragam baik
yang dapat diperbaharui seperti perikanan, terumbu karang, hutan
mangrove, rumput laut, dan plasma nutfah lainnya atau pun sumber daya
yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak dan gas bumi, barang
tambang, mineral, serta energi kelautan seperti gelombang, angin, dan
OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) yang sedang giat
dikembangkan saat ini.
Terdapat 7,5% (6,4 juta ton/tahun) dari potensi lestari total ikan
laut dunia berada di Indonesia. Kurang lebih 24 juta hektar perairan laut
dangkal Indonesia cocok untuk usaha budi daya laut (marine culture) ikan
kerapu, kakap, baronang, kerang mutiara, dan biota laut lainnya yang
bernilai ekonomis tinggi dengan potensi produksi 47 ton/tahun.
Selain itu lahan pesisir (coastal land) yang sesuai untuk usaha
budidaya tambak udang, bandeng, kerapu, kepiting, rajungan, rumput
laut, dan biota perairan lainnya diperkirakan 1,2 juta hektar dengan
potensi produksi sebesar 5 juta per tahun. Hampir 70% produksi minyak
dan gas bumi Indonesia berasal dari kawasan pesisir dan laut.
dimanfaatkan. Jika kita telusuri kembali sebenarnya masih banyak potensi
kekayaan laut yang dimiliki Indonesia.
Prakiraan nilai ekonomi potensi dan kekayaan laut Indonesia yang
telah dihitung para pakar dan lembaga terkait dalam setahun mencapai
149,94 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14.994 triliun.
Potensi ekonomi kekayaan laut tersebut meliputi perikanan senilai
31,94 miliar dollar AS, wilayah pesisir lestari 56 miliar dollar AS,
bioteknologi laut total 40 miliar dollar AS, wisata bahari 2 miliar dollar AS,
minyak bumi sebesar 6,64 miliar dollar AS dan transportasi laut sebesar
20 miliar dollar AS.
3. Maialah-maialah yang oa haoapa oalam Pemanfaatan Kekayaan Laut
Dengan kekayaan laut yang melimpah ini, sayangnya belum
termanfaatkan secara optimal. Sumber daya kelautan yang begitu
melimpah ini hanya dipandang “sebelah mata”, Kalaupun ada kegiataan
pemanfaatan sumber daya kelautan, maka dilakukan kurang profesional
dan ekstraktif, kurang mengindahakan aspek kelestariannya. Bangsa
Indonesia kurang siap dalam menghadapi segala konsekuensi jati dirinya
sebagai bangsa nusantara atau negara kepulauan terbesar di dunia
karena tidak disertai dengan kesadaran dan kapasitas yang sepadan
dalam mengelola kekayaannya.
menekan seperti pembelian perlengkapan untuk menangkap ikan yang
masih harus lewat rentenir karena jika melalui Bank, prosesnya yang
berbelit-belit dan terlalu birokrasi. Juga dengan produksi industri kelautan
yang keadaannya setali tiga uang, terlihat dari rendahnya peranan
industri domestik seperti nelayan.
Selain itu, banyak nelayan asing yang mencuri ikan di wilayah
perairan kita, tiap tahunnya jutaan ton ikan di perairan kita dicuri oleh
nelayan asing yang rata-rata peralatan tangkapan ikan mereka jauh lebih
canggih dibandingkan para nelayan tradisional kita. Kerugian yang
diderita negara kita mencapai Rp 18 trilyun-Rp36 trilyun tiap tahunnya.
Hal ini memang kurang bisa dicegah oleh TNI AL sebagai lembaga yang
berwenang dalam mengamankan wilayah laut Indonesia, karena seperti
kita ketahui keadaan alut sista (alat utama sistem senjata) seperti kapal
perang yang dimiliki TNI AL jauh dari mencukupi. Untuk mengamankan
seluruh wilayah perairan Indonesia yang mencapai 5,8 km
2, TNI AL
setidaknya harus memiliki 500 unit kapal perang berbagai jenis. Memang
jika kita menengok kembali sejarah, di zaman Presiden Soekarno
Angkatan Laut kita pernah menjadi keempat terbesar di dunia setelah
Amerika Serikat, Uni Soviet,dan Iran. Akan tetapi semuanya hanya
bersifat sementara karena tidak dibangun atas kemampuan sendiri,
namun karena bantuan Uni Soviet dalam rangka permainan geopolitik.
Sebenarnya apa yang salah dari pengelolaan laut Indonesia. Ada
beberapa faktor yang menyebabkan pemanfaatan laut sebagai potensi
bangsa yang dahsyat itu terabaikan di antaranya yaitu lemah
pengamanan, lemah pengawasan, dan lemah koordinasi dari negara.
Sebenarnya Indonesia memiliki Maritime Surveillance System (sistem
pengamatan maritim) pada sebuah institusi militer yang domainnya
memang laut.
lanjut. Karena itu, sistem ini lebih cenderung berlaku sebagai alat bantu
penegakan keamanan di laut, meski sangat mungkin dikembangkan lebih
lanjut sebagai alat bantu pertahanan.
4. Upaya Pemanfaatan kekayaan Laut Inooneiaa
Pemerintah hendaknya harus bekerja lebih keras dalam mencari
penyelesaian masalah ini agar eksplorasi serta pemanfaatan kekayaan
laut kita dapat dilaksanakan secara optimal dan terarah. Negara kita
perlu mempunyai kebijakan kelautan yang jelas dan bervisi ke depan
karena menyangkut geopolitik dan kebijakan-kebijakan dasar tentang
pengelolaan sumber daya kelautan. Kebijakan mengenai berbagai
terobosan untuk mendayagunakan sumber daya kelautan secara optimal
dan lestari sebagai keunggulan kompetitif bangsa.
Mengingat potensi sumber daya laut yang kita miliki sangat besar,
maka kekayaan laut ini harus menjadi keunggualan kompetitif Indonesia,
yang dapat menghantarkan bangsa kita menuju bangsa yang adil,
makmur, dan mandiri. Memang untuk mewujudkan cita-cita tersebut
perlu adanya koordinasi berbagai pihak dan dukungan dari masyarakat.
Seyogyanya harus ada perubahan paradigma pembangunan nasional di
masyarakat kita dari land-based development menjadi ocen-based
development. Pembangunan di darat harus disinergikan dan
diintegrasikan secara proporsional dengan pembangunan sosial-ekonomi
di laut. Perlu adanya peningkatan produksi kelautan kita dengan cara
memberikan penyuluhan kepada para nelayan, pemberian kredit ringan
guna membeli perlengkapan untuk menangkap ikan yang lebih memadai,
serta pembangunan pelabuhan laut yang besar guna bersandarnya
kapal-kapal ikan yang lebih besar.
Peningkatan produksi juga meliputi sektor bioteknologi perairan,
mulai dari proses produksi (penangkapan ikan dan budidaya),
mencakup penguatan dan pengembangan obyek wisata bahari dan
pantai, pelayanan, pengemasan serta promosi yang gencar dan efektif.
Dengan berbagai kebijakan kelautan yang ditempuh ini, diharapkan
adanya pembangunan kelautan yang sinergis dan terarah serta
menyeluruh, sehingga tidak mustahil dengan pemanfaatan kekayan laut
yang optimal akan menumbuhkan pertumbuhan ekonomi secara
berkelanjutan guna meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia
menuju Indonesia yang adil, makmur, dan mandiri.
Dibutuhkan kesinergisan dari banyak pihak (institusi) yang
memiliki kewajiban dan tanggung jawab dalam pengembangan kelautan.
Baik secara langsung maupun tidak langsung, agar manajemen
pengelolaan laut ini dapat berhasil dengan optimal.
Institusi tersebut di antaranya DKP, Departemen Perhubungan khususnya Dirjen Perhubungan Laut, Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla),
Departemen Tenaga Kerja, Departemen Kehutanan, Departemen Pariwisata dan Budaya, Departemen Perdagangan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Ditjen Bea Cukai, Pelindo, TNI AL, Kepolisian RepublikIndonesia, Kejaksaaan, dan sebagainya.
5. Pemanfaatan Kekayaan Laut Untuk Ketahanan Ekonoma Inooneiaa
Ketahanan ekonomi adalah merupakan suatu kondisi dinamis
kehidupan perekonomian bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan,
kekuatan nasional dalam meghadapi serta mengatasi segala tantangan
dan dinamika perekonomian baik yang datang dari dalam maupun luar
negara Indonesia, dan secara langsung maupun tidak langsung menjamin
kelangsungan dan penigkatan perekonomian bangsa dan negara republik
Indonesia yang telah diatur berdasarkan UUD 1945.
sehat dan dinamis, menciptakan kemandirian ekonomi nasional yang
berdaya saing tinggi, dan mewujudkan perekonomian rakyat yang secara
adil dan merata. Dengan demikian, pembangunan ekonomi diarahkan
kepada mantapnya ketahanan ekonomi melalui suatu iklim usaha yang
sehat serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, tersedianya
barang dan jasa, terpeliharanya fungsi lingkungan hidup serta
menigkatnya daya saing dalam lingkup perekonomian global.
Ketahanan ekonomi hakikatnya merupakan suatu kondisi
kehidupan perekonomian bangsa berlandaskan UUD 1945 dan dasar
filosofi Pancasila, yang menekankan kesejahteraan bersama, dan mampu
memelihara stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis serta
menciptakan kemandirian perekonomian nasional dengan daya saing
yang tinggi.
Potensi bidang kelautan cukup besar meliputi sektor perikanan,
pelayaran, pariwisata bahari, perkapalan, jasa pelabuhan serta
sumberdaya mineral bawah laut. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan ekonomi kelautan akan tetapi diperlukan keterpaduan
kebijakan publik di bidang kelautan. Karena sektor kelautan menjadi
potensi yang sangat strategis untuk didorong sebagai mainstream
pembangunan perekonomian nasional.
Kekayaan sumberdaya pesisir dikuasai oleh Negara untuk dikelola
sedemikian rupa guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat,
memberikan manfaat bagi generasi sekarang tanpa mengorbankan
kebutuhan generasi yang akan datang. Ironisnya, sebagian besar tingkat
kesejahteraan masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir justru
menempati strata ekonomi yang paling rendah bila dibandingkan dengan
masyarakat darat lainnya. Dengan upaya peningkatan SDM masyarakat
pesisir (nelayan) maka perekonomian akan meningkat, sehingga
ketahanan ekonomi akan semakin baik.
Melihat semakin besarnya peran ekonomi kelautan (
marine
economy
) dalam pembangunan nasional maka diperlukan adanya agenda
negara kepulauan bercirikan nusantara yang sejalan dengan amanat
Undang-Undang No.17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang (RPJP) 2005- 2025, yakni misi mewujudkan Indonesia
sebagai negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan makmur yang
berbasis kepentingan nasional sebagaimana tersirat dalam misi ketujuh
undang-undang tersebut.
Misi tersebut setidaknya memiliki 3 (tiga) agenda ke depan yang
harus segera dilakukan:
Pertama
, membuat payung hukum Kebijakan
Kelautan Nasional (
National Ocean Policy
) untuk arah pembangunan
nasional sektor kelautan;
Kedua
, menyiapkan
roadmap
penggunaan dan
pemanfaatan (sumberdaya kelautan) yang didedikasikan untuk
kepentingan nasional dan bermuara pada peningkatan kesejahteraan
rakyat dalam Kebijakan Ekonomi Kelautan Nasional (
National Ocean
Economic Policy
);
dan ketiga
, adalah Tata Kelola kelautan yang baik
(
Ocean Governance
) sebagai panduan atau
code of conduct
dalam
pengelolaan kelautan secara holistik.
Jika Indonesia berhasil memanfaatkan kekayaan laut yang
BAB III
PENUTUP
1. Keiampulan
Indonesia memiliki 5 (lima) keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, yaitu: Marine Mega Biodiversity, Plate
Tectonic, dan Dynamic Oceanographic and Climate Variability.
Laut kita mengandung banyak sumber daya yang beragam baik yang dapat diperbaharui seperti perikanan, terumbu karang, hutan mangrove, rumput laut, dan plasma nutfah lainnya atau pun sumber daya yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak dan gas bumi, barang tambang, mineral, serta energi kelautan seperti gelombang, angin, dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) yang sedang giat dikembangkan saat ini.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan pemanfaatan laut
sebagai potensi bangsa yang dahsyat itu terabaikan di antaranya yaitu
lemah pengamanan, lemah pengawasan, dan lemah koordinasi dari
negara. Sebenarnya Indonesia memiliki Maritime Surveillance System
(sistem pengamatan maritim) pada sebuah institusi militer yang
domainnya memang laut.
Negara kita perlu mempunyai kebijakan kelautan yang jelas dan
bervisi ke depan karena menyangkut geopolitik dan kebijakan-kebijakan
dasar tentang pengelolaan sumber daya kelautan.Kebijakan mengenai
berbagai terobosan untuk mendayagunakan sumber daya kelautan
secara optimal dan lestari sebagai keunggulan kompetitif bangsa.
Sektor kelautan menjadi potensi yang sangat strategis untuk
didorong sebagai mainstream pembangunan perekonomian nasional
Pemerintah dan masyarakat harus selalu bekerjasama agar dapat
memanfaatkan kekayaan laut secara optimal dan terarah. Sehingga
dapat meningkatkan ekonomi kelautan, yang juga akan meningkatkan
ketahanan ekonomi nasional.
makalah dampak dinamika sosial budaya terhadap
pengelolaan SDL
MAKALAH DAMPAK DINAMIKA SOSIAL BUDAYA
TERHADAP PENGELOLAAN SDL (SUMBER DAYA LAUT)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Budaya atau kebudayaan berasal dari sansekerta yaitu budhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal diartikan sebagai hal-hal dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Manusia semakin lama semakin meningkat karena manusia sebagai pelaku aktivitas tersebut memiliki kebudayaan dan pola pikir yang berbeda satu sama lainnya. Tatanan sosial baru-pun akhirnya membawa dampak pada berkurangnya kepercayaan, pandangan dan nilai-nilai lama yang bersumber pada ajaran leluhur dan nenek moyang.
Kepercayaan lama yang bersifat pribadi dan cenderung tidak pasti telah digantikan oleh kehidupan beragama yang lebih formal. Kehidupan ini berkembang dengan cepat di kalangan generasi muda yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik. Hal ini banyak dipengaruhi oleh perkembangan dunia pendidikan, informasi dan komunikasi yang memberikan peranan besar pada pergeseran budaya, cara pandang dan pola pikir yang selama ini berkembang di masyarakat.
Jadi ada sejumlah kekuatan yang mendorong terjadinya perkembangan sosial budaya masyarakat Indonesia. Secara kategorikal ada 2 kekuatan yang memicu perubahan social. Petama, adalah kekuatan dari dalam masyarakat sendiri (internal factor), seperti pergantian generasi dan berbagai penemuan dan rekayasa setempat. Kedua, adalah kekuatan dari luar masyarakat (external factor), seperti pengaruh kontak-kontak antar budaya (culture contact) secara langsung maupun persebaran (unsur) kebudayaan serta perubahan lingkungan hidup yang pada gilirannya dapat memacu perkembangan sosial dan kebudayaan masyarakat yang harus menata kembali kehidupan mereka.
Perubahan ini juga membawa dampak negatif pada kehancuran moral (moral damage) yang dapat dijumpai di daerah perkotaan yang sebagian besar masyarakat menganggap bahwa dampak negatif ini merupakan hal yang wajar. Padahal apabila dampak negatif ini tidak segera diatasi mungkin dampak negatif pembangunan dan perubahan sosial akan lebih berkembang dibandingkan dampak positif yang diperoleh.
Perubahan social budaya ini juga berdampak pada pengelolaan SDL (Sumber Daya Laut). Ini menjadi masalah yang cukup besar bagi bangsa Indonesia, karena semua kekayaan hayati dan berbagai manfaat yang di dapatkan dari laut dan jika ini mengalami perubahan maka apa yang akan terjadi?
Masalah-masalah inilah sehingga kami memilih judul ini untuk makalah kami. Dan kami memberikan suatu informasi tentang dinamika social budaya, dan dampaknya terhadap pengelolaan sumber daya laut.
Adapun rumusan masalah yang terrdapat di dalam makalah ini yaitu:
1. Apa itu dinamika social?
2. Apa itu SDL (Sumber daya Laut)?
3. Apa pengaruh dari dinamika social budaya terhadap pengelolaan SDL?
C. Tujuan
Adapun tujuan yang terdapat di dalam makalah ini, yaitu:
1. Agar kita mengetahui tentang dinamika social budaya
2. Agar kita mengetahui apa itu SDL (Sumber Daya Laut)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Dinamika Sosial Budaya
1. Pengertian Perubahan Sosial Budaya
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan.
2. Faktor – Faktor Perubahan Sosial Budaya
Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi,cara dan pola pikir masyarakat.
Faktor internal seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru,
terjadinya konflik atau revolusi.
Faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim, peperangan, dan
pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Faktor yang menghambat terjadinya perubahan sosial budaya, yaitu :
1. Kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain.
2. Perkembangan IPTEK yang lambat.
3. Sifat masyarakat yang sangat tradisional.
4. Adanya kepentingan-kepentingan tertentu yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat.
5. Prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru.
6. Rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan.
8. Pengaruh adat atau kebiasaan.
B. Sumber Daya Laut
1. Pengertian Sumber Daya Laut
Sumber daya kelautan adalah sumber daya yang meliputi, ruang lingkup yang luasnya mencakup kehidupan laut (flora dan fauna, mulai dari organisme mikroskopis hingga paus pembunuh, dan habitat laut) mulai dari perairan dalam hingga ke daerah pasang surut di pantai dataran tinggi dan daerah muara yang luas. Berbagai orang memanfaatkan dan berinteraksi dengan lingkungan laut mulai dari pelaut, nelayan komersial, pemanen kerang, ilmuwan Dll. Juga digunakan untuk berbagai kegiatan baik rekreasi, penelitian, industri, dan kegitan lain yang bersifat komersial.
2. Macam - Macam Sumber Daya Laut
Secara umum, sumber daya kelautan terdiri atas :
a. Sumber daya dapat pulih (renewableresources), Sumberdaya dapat pulih terdiri dari berbagai jenis
ikan, udang, rumput laut, termasuk kegiatan budidaya pantai dan budidaya laut (mariculture).
b. Sumber daya tidak dapat pulih meliputi mineral, bahan tambang/galian,
minyak bumi dan gas.
c. Jasa-jasa lingkungan kelautan adalah pariwisata dan perhubungan laut. Potensi
sumberdaya kelautan ini belum banyak digarap secara optimal, karena selama ini upaya kita lebih banyak terkuras untuk mengelola sumber daya yang ada di daratan yang hanya sepertiga dari luas negeri ini.
3. Contoh Kebiasaan-Kebiasaan Masyarakat Pesisir
Beberapa contoh kebiasaan kebiasaan masyarakat pesisir yang kami dapat dari beberapa sumber yaitu:
Masyarakat nelayan Desa Pantai Harapan memiliki ritual yang berhubungan dengan usaha mereka sebagai nelayan dalam memanfaat akan sumberdaya laut. Ritual yang biasa dilakukan oleh masyarakat nelayan setempat yakni (Stefanus Stanis, 2005):
1) Bito Berue, merupakan suatu tradisi adat yang dilakukan oleh nelayan setempat sebelum
menggunakan sampan/juku baru. Acara ini biasanya dilakukan di pantai dengan menggunakan bahan-bahan seperti ayam jantan yang jenggernya masih utuh. Jengger ayam dipotong oleh tua adat laut (Aho Male), lalu darahnya dioles disekeling sampan/juku baru.
2) Lepa Nua Dewe, tradisi ini dilakukan untuk melepas pukat yang ukurannya kecil yang dalam
bahasa setempat disebut noro. Jenis pukat ini merupakan alat tangkap tradisional masyarakat setempat untuk menangkap ikan serdin dan tembang biasanya pada musim-musim tertentu selalu muncul diperairan laut daerah setempat dalam jumlah yang sangat banyak.
3) Bruhu Brito,merupakan suatu tradsi oleh masyarakat nelayan setempat sebelum melepas
pukat baru untuk menangkap jenis ikan selain tembang.
4) Tula Lou Wate, upacara ini merupakan tradisi dalam memberi makan kepada ”leluhur di laut”
dengan maksud memanggil ikan agar ikan dapat berkumpul dan memberikan hasil tangkapan yang banyak. Semua jenis upacara adat tersebut di atas dilakukan oleh tua adat laut yang dalam bahasa masyarakat setempat disebut Aho Male. Masyarakat setempat tampaknya sangat patuh dan taat terhadap sistem nilai setempat. Hal yang menarik di sini adalah meskipun tradisi-tradisi setempat lebih banyak pada usaha penangkapan, namun dalam ritual tersebut diwanti-wanti oleh Aho Male bahwa tidak boleh menangkap dalam jumlah yang sangat banyak. Jika hasil tangkapan terlalu banyak, maka akan membawa resiko berupa sakit atau bencana lainnya di laut. Selain itu, adanya tradisi tersebut, masyarakat nelayan setempat selalu tercipta hubungan kerjasama yang harmonis dalam semangat gotong royong, tidak saling bersaing dalam usaha penangkapan, termasuk tidak saling merusak atau mencuri alat-alat tangkap yang dimiliki oleh sesama nelayan. Juga diakui bahwa adanya tradsi ini dapat menciptakan adanya kesadaran masyarakat nelayan untuk tidak menangkap dan memanfaatkan hasil-hasil laut secara bebas, berlebihan dan merusak sumberdaya laut.
b. Desa Wulandoni
tuan tanah (tua adat) setempat yang disapah dengan Lewo Tanah Alap (Stefanus Stanis, 2005).
Dalam acara ritual toto Tua Adat (Lewo Tanah Alap) akan melakukan penyembelian ayam jantan merah dan darah ayam dipercik atau dioles pada pukat dengan berjalan melingkari pukat. Kemudian ayam jantan merah yang sudah disembeli dimasak dengan cara dibakar, dan bersama dengan material lainnya (pisang, jangung titi, dan tuak) untuk selanjutnya dilakukan sesajen sebelum dimakan bersama. Makna penting dari ritual ini adalah agar alat tangkap (pukat) dapat memberikan hasil yang baik bagi usaha mereka (Stefanus Stanis, 2005).
Melalui dari sumber (Stefanus Stanis, 2005) diperoleh gambaran bahwa keraifan yang dimiliki oleh masyarakat setempat tidak semata-mata bermakna untuk mendapat hasil yang berlimpah, namun ritual semacamini biasa dilakukan untuk menjaga keselamatan nelayan dan alat tangkap itu sendiri.
Makna lainnya adalah dalam acara semacam ini mencerminkan ikatan sosial dan kebersamaan antara nelayan. Sebagai perwujudan dari kebersamaan dan ikatan sosial diantara masyarakat, maka hasil tangkapan untuk pertama kali dari pukat baru tersebut harus dibagi dan diberikan kepada para janda-janda dan jumpo-jumpo (Stefanus Stanis, 2005).
Penghargaan dan penghormatan terhadap Lewo Tanah Alap (Tua Adat) sangat tinggi, karena hasil tangkapan tua adat selalu mendapat kebagian. Tua Adat juga dihargai, jika sewaktu-waktu ditemukan ikan jenis besar yang terdampar seperti lumba-lumba, pari, penyu dan paus yang terdampar, sebelum ikan tersebut dipotong, nelayan yang menemukan harus terlebih dahulu menghubungi Lewo Tanah Alap, selanjutnya ikan tersebut dibagi-bagi dengan syarat Lewo Tanah Alap harus mendapat kebagian bagian kepala dan jantung dari ikan tersebut (Stefanus Stanis, 2005).
c. Di Lamalera
Menurut Stefanus Stanis, 2005., adapun kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di Lamarela yaitu:
1) Upacara Tobu Nama Fatta’ ; adalah upacara di mana para Tua Adat Lamalera berkumpul
berbagai kegiatan, hambatan para nelayan Lamalera pada musim penangkapan sebelumnya serta upaya-upaya dan strategi yang harus diantisipasi dan dihadapi nelayan pada musim penangkapan sekarang. Setelah upacara ini para Tua Adat akan mengahdap Tuan Tanah Lamalera untuk meminta restu sehingga Leffa Nuang dapat dimulai.
2) Misa Arwah;merupakan kebaktian secara Katolik yang dipimpin oleh Pastor (Pendeta Katolik)
yang bertujuan untuk mendoakan semua arwah leluhur yang meninggal di laut dan upacara misa ini dilaksanakan sehari sebelum kegiatan melaut (biasanya dilaksanakan pada setiap
4) Tena Fulle;adalah upacara di mana salah satu perahu (peledang) tertentu yang dipercayakan
untuk pertama kali melaut pada hari pertama yang didahuli dengan upacara ritual adat memberi makan kepada arwah leluhur bertempat di pinggir pantai dan dilakukan oleh Tua Adat (Ata Molang). Bagi masyarakat nelayan Lamalera aktivitas Leffa Nuangmerupakan suatu aktivitas yang sangat sakral dan memiliki resiko yang sangat tinggi, oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara personal dalam komunitas masyarakat harus dijaga agar tetap harmonis. Tidak boleh terdapat perselisihan antara nelayan atau kelompok masyarakat bahkan dalam keluarga tidak boleh terjadi pertengkaran antara suami – istri maupun dengan anak. Keharmonisan tersebut diwujudkan dengan saling maaf memaafkan sebelum melaut, karena mereka sangat percaya bahwa jika terjadi perselisihan atau pertengkaran Arwah Leluhur dan Allah Yang Mahakuasa tidak berkenan dan tidak akan memberikan berkat dan rahmat serta rezeki yang berlimpah. Mereka juga sangat percaya jika semua tahapan-tahap secara adat maupun agama tidak dilakukan dengan sempurna serta terjadi pertengakaran atau perselisihan maka dalam aktivitas melaut akan mengalami resiko yang dapat bersifat fatal, karena yang mereka hadapi ikan paus yang merupakan makhluk paling besar penghuni laut. Suasana kerjasama antara nelayan, pantangan seperti tidak boleh maki, mencuri menjadi tabu bagi nelayan Lamalera.
d. Desa Wailolong
terdapat sistem kepercayaan tradisional, yakni menurut mereka bahwa di laut ada penguasanya yang disebut ”hari” dan penguasa di darat yang disebut ”neda ”. Adanya sistem kepercayaan ini mendorong pemangku adat ”lemaq ” untuk melakukan ritual ’kolo umen bale lamaq” yakni upacara memberi makan kepada penguasa di laut sebelum mereka melakukan penangkapan, budidaya rumput laut maupun pengelolaan sumberdaya pesisir seperti penanaman bakau. Namun demikian tradisi ini hanya dilakukan oleh orang tertentu dan sifatnya perorangan, belum merupakan suatu kesepakatan bersama. Melalui wawancara mendalam dengan tokoh kunci dan wawancara kelompok dengan masyarakat diperoleh gambaran informasi bahwa hasil-hasil usaha nelayan saat ini mengalami penurunan, sebagai akibat dari banyaknya hasil-hasil laut yang sudah hilang seperti agar-agar, bakau dan teripang. Terdapat aspirasi masyarakat desa ini khususnya masyarakat nelayan yang hidupnya sangat bergantung pada hasil-hasil laut, menghendaki agar ritual semacam ini perlu dilakukan secara bersama dan terusmenerus sehingga merupakan aturan atau norma serta tradisi yang mempunyai makna dapat mengatur tindakan-tindakan manusia terhadap pemanfaatan sumberdaya alam pesirsir dan laut di tempat itu (Stefanus Stanis, 2005).
e. Desa Lebewala
Masyarakat pesisir Desa Lebewala Kecamatan Omesuri Kabupaten Lembata mempunyai tradisi dan kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam laut dan pesisir. Dalam pemanfaatan sumberdaya teripang sistem nilai yang mengatur masyarakat setempat adalah ”poan kemer puru larang” yakni suatu tradisi larangan secara adat bagi masyarakat untuk tidak mengambil hasil-hasil laut secara bebas (Stefanus Stanis, 2005).
Penangkapan teripang hanya boleh dilakukan jika tuan tanah, tua adat dan dukundukun melakukan ritual terlebih dahulu. Dukun (Ata Molang) akan melakukan ritual dan selanjutnya masyarakat boleh mengambil teripang. Setelah kurang lebih 2 tau 3 hari, Ata Molang akan melakukan ritual pelarangan kembali wilayah perairan tersebut. (Stefanus Stanis, 2005).
Selain Ata Molang melakukan tradisi pelarangan secara ritual, Pemerintah Desa Lebewala juga memiliki Kesepakatan Desa yang sifatnya mengikat secara hukum yakni berupa sanksi denda dalam bentuk uang tunai satu juta rupiah dan kambing jantan besar senilai satu juta rupiah. Dengan adanya sanksi secara adat dan atauran pemerintah tampaknya membuat masyarakat kawasan pesisir desa ini cukup jerah dalam melakukan tindakan pengurasakan atau pengambilan teripang secara bebas. (Stefanus Stanis, 2005)
Setiap kebudayaan dan masyarakat di dunia, tidak terkecuali kebudayaan dan masyarakat bahari, cepat atau lambat pasti mengalami perubahan sebagai fenomena sosial. Realitasnya fenomena sosial itu sesungguhnya menunjukkan fenomena sosial budaya yang sangat kompleks. Kompleksitas fenomena sosial budaya bahari ditunjukkan dalam proses dinamikanya.
Di sana ada perubahan sepenuhnya seperti motorisasi perahu nelayan yang menggantikan fungsi layar dan dayung, ada proses transformasi struktural mengenai kelompok-kelompok kerja nelayan dan pelaut serta jaringan pemasaran, ada proses perkembangan internal seperti perubahan tipe bagang tancap ke bagang perahu melalui bentuk-bentuk transisi bagang rakit/apung di Sinjai (Sulawesi Selatan), dan proses difusi (persebaran) yang menyolok seperti persebaran rumpon dari Majenne (Sulawesi Selatan), bubu dari Buton (Sulawesi Tenggara), sebuah bentuk perahu tradisional dari Kalimantan dimodifikasi menjadi tipe jolloro’ di Bira (Bulukumba) kurang lebih dua dekade terakhir,dan bahkan seringkali ada manipulasi identitas etnis secara sementara atau per manen seperti dilakukan oleh sebagian besar kelompok-kelompok masyarakat Bajo di mana-mana dalam rangka adaptasi sosial budayanya, bertahannya tradisi seperti pengetahuan kelautan, pembuatan perahu, dan aturan bagi hasil. (J. Supriatni, 2008)
Lebih lanjut dalam konteks Indonesia misalnya, di sana ada wacana tentang kearifan lokal (local indigenious) tetapi banyak kali kontradiksi dengan fenomena eksploitasi sumberdaya secara berlebih dan komersialisasi dengan segala dampak negatifnya bagi kondisi sosial ekonomi, lingkungan dan sumberdaya laut (berdasarkan pandangan etik dan emik). Konteks birokrasi melalui pelaksanaan kebijakan pemerintah juga menyumbang kepada perubahan-perubahan keputusan dan prilaku nelayan melalui respons-respons ide dan sikap-sikap (menerima atau menolak). Motorisasi perahu dan adopsi gae (istilah Bugis) atau rengge (istilah Makassar) sejenis pukat apung raksasa (purse seine) yang merupakan teknik tangkap andalan untuk ikan pelagik (terutama layang) di Sulawesi Selatan. Sebetulnya diperkenalkan oleh dan melalui jalur promosi pemerintah di tahun 1970-an. (J. Supriatni, 2008)
ponggawa-sawi (Sulawesi Selatan), ternyata bahwa proses dinamika, modernisasi dan globalisasi banyak membawa dampak-dampak negatif berupa kemiskinan ekonomi sebagian terbesar penduduk nelayan tradisional skala kecil, konflik-konflik antar kelompok-kelompok nelayan, terkurasnya populasi sumberdaya laut, kerusakan ekosistem laut, terutama terumbu karang. (J. Supriatni, 2008)
Hal ini adalah akibat dari suatu proses dinamika komuniti-komuniti nelayan yang kurang terarahkan secara bijak, mereka itu “closed to the stone, far from the throne” menurut Pujo Semedi (2000) atau untuk nelayan Bugis, Makassar. Selanjutnya apa yang perlu dilakukan oleh pihak-pihak berkepentingan seperti pemerintah, kalangan akademisi, LSM, tokoh masyarakat, dan lembaga donor? ialah menemukan arah-arah pengelolaan pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan laut secara berkelanjutan, berwawasan lingkungan, untuk kesejahteraan bersama masyarakat. (J. Supriatni, 2008)
Tumbuhkan pandangan dan kesadaran bahwa
sumberdaya laut rentan terhadap ancaman perilaku-perilaku tertentu, jadi tanpa perlakuan bijak kondisi sumberdaya laut akan menjadi semakin berkurang/terbatas, manusia harus arif dan bertanggung jawab dalam perilaku pemanfaatan sumber daya laut, mengubah pandangan budaya dan praktek akses terbuka/bebas ke penguatan hak-hak pemilikan. (J. Supriatni, 2008)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini, yaitu:
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya
dalam suatu masyarakat.
Sumber daya kelautan adalah sumber daya yang meliputi, ruang lingkup yang luasnya
mencakup kehidupan laut (flora dan fauna, mulai dari organisme mikroskopis hingga paus pembunuh, dan habitat laut) mulai dari perairan dalam hingga ke daerah pasang surut di pantai dataran tinggi dan daerah muara yang luas.
Perubahan sepenuhnya seperti motorisasi perahu nelayan yang menggantikan fungsi layar
dan dayung, ada proses transformasi struktural mengenai kelompok-kelompok kerja nelayan dan pelaut serta jaringan pemasaran, ada proses perkembangan internal seperti perubahan tipe bagang tancap ke bagang perahu melalui bentuk-bentuk transisi bagang rakit/apung di Sinjai (Sulawesi Selatan), dan proses difusi (persebaran) yang menyolok seperti persebaran rumpon dari Majenne (Sulawesi Selatan), bubu dari Buton (Sulawesi Tenggara),
B. Saran
Adapun saran kami dalam makalah ini, yaitu:
1. Pemerintah lebih menyadari tentang pengaruh dinamika social budaya terhadap pengelolaan
SDL (sumber Daya Laut)
2. Masyarakat khususnya yang berada di pinggir laut lebih memahami dan mengetahui
pengaruh-pengaruh apa saja yang dapat mempengaruh-pengaruhi pengelolaan SDL.
3. Makalah ini menjadi sumber referensi bagi peneliti lain yang mengangkat judul yang sama.
NEGARA REPUBLIK MASYARAKAT ADAT
Banyak sekali permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat sekitar hutan, contohnya konfik tenurial antara masyarakat adat dan perusahaan-perusahaan yang mengambil manfaat dari hutan. Masyarakat adat memperebutkan lahan mereka dengan perusahaan yang mengambil manfaat dari hasil hutan, sehingga terjadilah konfik yang berkepanjangan antara masyarakat adat dan perusahaan pengusaha hutan.
Masyarakat adat sudah lama menduduki wilayah mereka sebelum Negara ini lahir, namun selama ini masih abu-abu karena wilayah mereka tidak diakui oleh pemerintah. Konfik pun terjadi ketika pengusaha hutan datang berbekal surat izin, dan masyarakat adat yang menganggap bahwa “Ina aoalah Negara kama” maka mereka tidak menerima tanah mereka, wilayah mereka yang sudah lama mereka singgahi diganggu gugat. Jika pengusaha pengembangan hutan mengambil lahan hutan yang demi kepentingan mereka, terus bagaimana nasib masyarakat adat?
Itu salah satu tanda tanya yang paling besar, dan tidak pernah ada tanda serunya. Mungkin itu kata-kata yang sepele namun sangat bermakna bagi masyarakat adat. Bagaimana mungkin lahan yang menjadi titik kehidupan mereka dari zaman dahulu diambil oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab yang hanya mementingkan kehidupan mereka sendiri tanpa memedulikan kehidupan yang mereka rebut.
Siapa yang patut disalahkan? Sangat menggelikan memang melihat orang-orang saling menyalahkan satu sama lain, antara masyarakat adat yang mempertahankan wilayah mereka dengan perusahaan pengusaha hutan yang juga mempertahankan wilayah pengelolaan mereka. Ini karena faktor dari tidak adanya pengakuan pemerintah atas wilayah masyarakat adat. Padahal masyarakat adat adalah masyarakat yang sudah lama tinggal di wilayah sekitar hutan. Namun mereka tidak mendapatkan pengakuan atas wilayah mereka.
tidak ada. Bagi banyak keluarga, berjual hasil hutan dan hasil wanatani (agroforest) merupakan sumber uang utama untuk dapat membiayai sarana produksi pertanian, sekolah dan kesehatan. Masyarakat yang tingal di hutan cenderung miskin secara menahun. Tidak adanya prasarana, sulitnya komunikasi dan jauhnya jarak hutan dari pasar, sarana kesehatan dan pendidikan sangat membatasi pilihan sumber penghidupan. Tumpang-tindih wilayah kelola dan tekanan ekonomi, akan memicu konfik antara masyarakat, pengusaha dan aparatur negara.
Konfik ini misalnya terjadi di Desa Seruat Dua, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, yang melibatkan warga dan PT Sintang Raya. Masyarakat mengklaim, hutan adat seluas 700 hektar dari total 900 hektar diserobot PT SR. Hutan adat yang bersebelahan dengan kawasan kelola PT SR kini sudah gundul dan ditanami bibit kelapa sawit. Namun, Manajer PT SR membantahnya, bahwa pihaknya telah menyerobot hutan adat milik desa itu.
Data Badan Peratanahan Nasional (BPN) sendiri telah menyebutkan, sampai 2011 terdapat 14.337 sengketa pertanahan dengan berbagai tingkatan. Satuan tugas pemberantasan Mafia Hukum juga mencatat, pada September 2009-April 2011 ada 910 perkara sengketa tanah yang dilaporkan. Sengketa lahan yang setiap saat bisa meledak menjadi aksi kekerasan dan anarkisme, bahkan gangguan sosial terjadi di seluruh Indonesia. Di Kalimantan misalnya, keributan-keributan yang terjadi biasanya mengakibatkan terjadinya pembakaran kamp-kamp, pengrusakan peralatan dan pemukulan terahadap para pegawai perusahaan. Di Riau kekerasan tingkat rendah terjadi secara merata dan semakin meningkat antara para pendukung perusahaan pupl dan kertas dengan masyarakat setempat.
Pemerintah seakan tutup telinga atas konfik yang terus terjadi. Mereka memberikan izin kepada Pengusaha Hutan untuk mengelola (konsensasi) sehingga ini menjadi kunci Pengusaha Hutan untuk memasuki areal hutan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat adat. Ini membuktikan masyarakat adat kalah akan selembar kertas dan menjadi titik awal terjadinya konfik. Masyarakat seakan terusir dari Negaranya sendiri yang sudah lama ia duduki dan pengusaha hutan merasa berkuasa mengelola hutan dengan surat izin tersebut.
memikirkan nasib masyarakat adat karena masyarakat adat adalah rakyatnya juga dan memberikan kebijakan dan aturan yang ditujukan kepada rakyatnya.
Masalah konfik sumberdaya alam sebenarnya bukan sesuatu yang baru baik di Indonesia maupun di kawasan Asia Tenggara lainnya, masalah ini telah muncul sejak abad ke 18 yang lalu ketika bangsa Eropa melakukan ekspansi dalam rangka mencari bahan baku untuk memenuhi kebutuhan pengembangan industri. Bersamaan dengan ekspansi itu terbangun konsep bahwa sumberdaya alam adalah faktor produksi yang dengan menggunakan teknologi tertentu dapat dieksploitasi untuk menjadi barang komoditi.
Konsep itu kemudian dialihkan ke kawasan Asia Tenggara melalui penetrasi kolonialisme. Sejak saat itu eksploitasi sumberdaya alam bukan hanya menjadi semakin intensif dan sistimatis, melainkan juga telah menempatkan ekonomi kawasan ini menjadi bagian dari sistim kapitalisme dunia. Selain itu proses eksploitasi mengesampingkan kehidupan masyarakat. Setiap kali masyarakat mengajukan tuntutan agar memperoleh akses justru dianggap sebagai penghambat atau pengacau, karena itu masyarakat hampir tidak pernah menikmati hasil eksploitasi alam di daerah sendiri. Warisan kearifan dan nilai-nilai sosial yang dipergunakan untuk menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dan alam juga ikut rusak terkoyak oleh kepentingan ekonomi. Akhirnya konfik tak terbendung lagi.
MAKALAH HUKUM HUMANITER
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hukum Humaniter Internasional memiliki sejarah yang singkat namun penuh peristiwa. Untuk menghindari penderitaan akibat perang maka baru pada pertengahan abad ke-19 negara-negara melakukan kesepakatan tentang peraturan-peraturan internasional dalam suatu konvensi yang mereka setujui sendiri (Lembar Fakta HAM, 1998: 172). Sejak saat itu, perubahan sifat pertikaian bersenjata dan daya merusak persenjataan modern menyadarkan perlunya banyak perbaiakan dan perluasan hukum humaniter melalui negosiasi–negosiasi panjang yang membutuhkan kesabaran.
Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (1966) memberikan sumbangan untuk memperkuat pandfangan bahwa semua orang berhak menikmati Hak Asasi Manusia, baik dalam pada masa perang maupun damai.
Hukum perang atau yang sering disebut dengan hukum Humaniter internasional, atau hukum sengketa bersenjata memiliki sejarah yang sama tuanya dengan peradaban manusia, atau sama tuanya dengan perang itu sendiri. Mochtar Kusumaatmadja mengatakan, bahwa adalah suatu kenyataan yang menyedihkan bahwa selama 3400 tahun sejarah yang tertulis, umat manusia hanya mengenal 250 tahun perdamaian. Naluri untuk mempertahankan diri kemudian membawa keinsyarafan bahwa cara berperang yang tidak mengenal batas itu sangat merugikan umat manusia, sehingga kemudian mulailah orang mengadakan pembatasan-pembatasan, menetapkan ketentuan-ketentuan yang mengatur perang antara bangsa bangsa. Selanjutnya Mochtar Kusumaatmadja juga mengatakan bahwa tidaklah mengherankan apabila perkembangan hukum internasional modern sebagai suatu sistem hukum yang berdiri sendiri dimulai dengan tulisantulisan mengenai hukum perang.
Dalam sejarahnya hukum humaniter internasional dapat ditemukan dalam aturan-aturan keagamaan dan kebudayaan di seluruh dunia. Perkembangan modern dari hukum humaniter baru dimulai pada abad ke-19. Sejak itu, negara-negara telah setuju untuk menyusun aturan-aturan praktis, yang berdasarkan pengalamanpengalaman pahit atas peperangan modern. Hukum humaniter itu mewakili suatu keseimbangan antara kebutuhan kemanusiaan dan kebutuhan militer dari negara-negara. Seiring dengan berkembangnya komunitas internasional, sejumlah negara di Seluruh dunia telah memberikan sumbangan atas perkembangan hukum humaniter internasional. Dewasa ini, hukum humaniter internasional diakui sebagai suatu sistem hukum yang benar-benar universal.
Pada umumnya aturan tentang perang itu termuat dalam aturan tingkah laku, moral dan agama. Hukum untuk perlindungan bagi kelompok orang tertentu selama sengketa bersenjata dapat ditelusuri kembali melalui sejarah di hampir semua negara atau peradaban di dunia. Dalam peradaban bangsa Romawi dikenal konsep perang yang adil (just war). Kelompok orang tertentu itu meliputi penduduk sipil, anakanak, perempuan, kombatan yang meletakkan senjata dan tawanan perang.
Dalam penulisan makalah ini, permasalahan-permasalahan yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui asas-asas dan prinsip-prinsip dari Hukum Humaniter.
2. Ruang lingkup konflik bersenjata Hukum Humaniter dalam kontek Hukum Internasional .
3. Permasalah dari perang konfik bersenjata dan non bersenjata.
C. Tujuan Penulaian
Adapun maksud dan tujuan tim penulis dalam menyusun makalah ini tiada lain adalah sebagai tugas mata kuliah Hukum Internasional yang di berikan oleh Dosen pembimbing sebagai bahan diskusi dalam proses pembelajaran bersama pada semester Empat Sekolah Tinggi Hukum Garut.
D. Saitemataka Penulaian
Sistematika Penulisan di bagi menjadi beberapa bagian
BAB I Penoahuluan
Pendahuluan berisikan ; Latar belakang. Identifikasi masalah, tujuan penulisan, sistematika penulisan
BAB II Pembahaian
Pembahasan dalam bab ini berisikan isi/penyelesaian dari identifikasi masalah
Penutup dalam bab ini beriikan Kesimpulan dan Saran
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertaan Hukum Humanater
Istilah hukum humaniter atau lengkapnya international humanitarian law applicable in armed confict berawal dari istilah hukum perang (laws of war). Dalam perkembangannya kata-kata perang (war) menimbulkan ketakutan yang mendalam, sehingga timbul istilah baru yaitu pertikaian bersenjata (arm confict) untuk menggantikan istilah perang sekalipun perang masih terjadi di mana-mana. Sesudah perang dunia II dilakukan upaya-upaya untuk menghindarkan dan bahkan meniadakan perang. Sikap tersebut berpengaruh dalam penggunaan istilah, sehingga istilah hukum perang berubah menjadi hukum sengketa bersenjata (laws of armed confict).
Humanitarian Law Aplicable in Armed Confict, yang kemudian sering disingkat dengan istilah international humanitarian law atau hukum humaniter internasional
Walaupun istilah yang digunakan berbeda-beda yaitu hukum perang, hukum sengketa bersenjata, hukum perikemanusiaan internasional, Hukum Humaniter Internasional (HHI), tetapi semua istilah itu mempunyai arti yang sama yaitu mengatur tentang tata cara dan metode perang serta perlindungan terhadap korban-korban perang.
Adapun pengertian perang oleh Francois didefinisikan sebagai keadaan hukum antara negara-negara yang saling bertikai dengan menggunakan kekuatan militer. Sedangkan Oppenheimmendefinisikan perang sebagai persengketaan antara dua negara dengan maksud menguasai lawan dan membangun kondisi perdamaian seperti yang diinginkan oleh yang menang (Haryomataram1994: 4)
Dalam kepustakaan hukum internasional, istilah hukum humaniter merupakan istilah yang dianggap relatif baru. Istilah ini baru lahir sekitar tahun 1970-an
Berikut adalah beberapa pengertian hukum humaniter menurut para Ahli :
a. Mochtar Kusumahadmadja
Bagian dari hukum yang mengatur ketentuan-ketentuan perlindungan korban perang, berlainan dengan hukum yang mengatur perang itu sendiri dan segala sesuatu yang menyangkut cara melaksanakan perang itu sendiri. Batasan Hukum Humaniter Internasional adalah hukum yang mengatur ketentuan yang memberi perlindungan terhadap korban perang, yang berbeda dengan hukum perang yang mengatur tentang perang tersebut.
b. International Committee Of The Red Cross (ICRC)
menggunakan senjata dan metode perang, dalam melindungi orang maupun harta benda yang terkena pertikaian bersenjata.
c. Geza Herczegh
International humanitarian law hanyalah terbatas pada Hukum Jenewa saja, karena konvensi inilah yang mempunyai sifat internasional dan humaniter.
d. Jean pictet
International humanitarian law in the wide sense is contitusional legal provition, whether written and customary, ensuring respect for individual and his well being.
e. Esbjorn Rosendbland
Hukum humaniter internasional mengadakan pembedaan antara : the law of armed confict, yang berhubungan dengan permulaan dan berakhirnya pertikaian, pendudukan wilayah lawan, hubungan pihak pertikaian dengan negara netral. Sedangkan law of warfare ini antara lain mencakup : metode dan sarana berperang, status kombatan, perlindungan yang sakit, kombatan dan orang sipil.
f. Panitia Tetap Hukum Humaniter, Departemen Hukum dan Perundang-undangan
Hukum humaniter sebagai keseluruhan asas, kaidah dan ketentuan internasional baik tertulis maupun tidak tertulis yang mencakup hukum perang dan hak asasi manusia yang bertujuan untuk menjamin penghormatan terhadap harkat dan martabat seseorang.
g. Palang Merah Indonesia (Brosur PMI)
Hukum perikemanusiaan internasional atau juga dikenal dengan hukum humaniter internasional merupakan bagian dari hukum internasional publik yang bertujuan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang timbul karena pertikaian bersenjata baik internasional maupun non internasional.
tujuan hukum humaniter adalah memanusiaakan perang. Di samping itu ada beberapa tujuan hukum humaniter yaitu (Arlina permanasari dkk, 1999:12)
a. Memberikan perlindungan terhadap kombatan maupun penduduk sipil dari
penderitaan yang tidak perlu;
b. Menjamin hak asasi manusia yang sangat fundamental bagi mereka yang jatuh ke
tangan musuh. Kombatan yang jatuh ke tangan musuh berhak diperlakukan sebagai tawanan perang dan harus dilakukan secara manusiawi;
c. Mencegah dilakukannya perang secara kejam tanpa mengenal batas. Di sini yang
penting adalah asas perikemanusiaan.
Jadi tujuan dari hukum humaniter internasional adalah untuk memberikan perlindungan kepada korban perang, menjamin Hak Asasi Manusia (HAM) dan mencegah dilakukannya perang secara kejam. Hukum humaniter internasional lebih ditujukan untuk kepentingan kemanusiaan, yaitu mengurangi penderitaan setiap individu dalam situasi konfik bersenjata.
1. Aiai-Aiai Hukum Humanater
Asas hukum atau prinsip hukum merupakan pikiran dasar yang umum sifatnya yang terjelma dalam peraturan perundang-undangan (Sudikno Mertokusumo, 2003: 34). HHI disusun dengan berdasarkan asas-asas sebagai berikut (Arlina dkk, 1999:11).
a. Asas kepentingan militer
Berdasarkan asas ini maka pihak yang bersengketa dibenarkan menggunakan kekerasan untuk menundukkan lawan demi tercapainya tujuan dan keberhasilan perang.
b. Asas Perikemanusiaan
Menurut asas ini pihak yang bersengketa diharuskan untuk memperhatikan perikemanusiaan, di mana mereka dilarang untuk menggunakan kekerasan yang dapat menimbulkan luka yang berlebihan atau penderitaan yang tidak perlu.
c. Asas kesatriaan
2. Praniap-praniap Hukum Humanater
Prinsip yang berlaku pada hukum humaniter internasional antara lain:
1. Prinsip kepentingan Militer (Militery Necessity)
Yang dimaksud dengan prinsip ini ialah hak pihak yang berperang untuk menentukan kekuatan yang diperlukan untuk menaklukan musuh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dengan biaya yang serendah-rendahnya dan dengan korban yang sekecil-kecilnya. Namun demikian, perlu diingat pula bahwa hak pihak yang berperang untuk memiliki alat/senjata untuk menaklukan musuh adalah tidak tak terbatas.
2. Prinsip Kemanusiaan (Humanity)
Prinsip ini melarang penggunaan semua macam atau tingkat kekerasan (violence) yang tidak diperlukan untuk mencapai tujuan perang. Orang-orang yang luka atau sakit, dan juga mereka yang telah menjadi tawanan perang, tidak lagi merupakan ancaman, dan oleh karena itu mereka harus dirawat dan dilindungi. Demikian pula dengan penduduk sipil yang tidak turut serta dalam konfik harus dilindungi dari akibat perang.
3. Prinsip Kesatriaan (Chivalry)
Prinsip ini tidak membenarkan pemakaian alat/senjata dan cara berperang yang tidak terhormat.
4. Prinsip pembedaan
obyek kekerasan. Dalam pelaksanaannya prinsip ini memerlukan penjabaran lebih jauh lagi dalam sebuah asas pelaksanaan (principles of application), yaitu :
1. Pihak-pihak yang bersengketa setiap saat harus bisa membedakan antara
kombatan dan penduduk sipil untuk menyelamatkan penduduk sipil dan obyek-obyek sipil.
2. Penduduk sipil tidak boleh dijadikan obyek serangan walaupun untuk membalas
serangan (reprisal).
3. Tindakan maupun ancaman yang bertujuan untuk menyebarkan terror terhadap
penduduk sipil dilarang.
4. Pihak yang bersengketa harus mengambil langkah pencegahan yang
memungkinkan untuk menyelamatkan penduduk sipil atau setidaknya untuk menekan kerugian atau kerusakan yang tidak sengaja menjadi kecil.
5. Hanya angkatan bersenjata yang berhak menyerang dan menahan musuh.
6. Rule of Engagement (ROE)
Tidak semua konfik dapat diberlakukan Hukum Humaniter, sehingga Suatu konfik dapat diberlakukan Hukum Humaniter apabila:
1. Memiliki struktur organisasi.
2. Memiliki kekuatan bersenjata.
3. Memiliki atribut orgnasasi (bendera, seragam).
4. Memiliki wilayah kekuasaan.
B. Hubungan Hukum Humanater oengan HAM
konvensi ini tidak boleh dilanggar. Setidaknya terdapat 7 (tujuh) hak yang harus tetap dihormati, karena merupakan intisari dari Konvensi ini, yaitu: hak atas kehidupan, hak kebebasan, integritas fisik, status sebagai subyek hukum, kepribadian, perlakuan tanpa diskriminasi dan hak atas keamanan. Ketentuan ini terdapat juga dalam Pasal 4 Kovenan PBB mengenai hak-hak sipil dan politik dan Pasal 27 Konvensi HAM Amerika.
Selain itu, terdapat pula hak-hak yang tak boleh dikurangi (non derogable rights), baik dalam keadaan damai maupun dalam keadaan sengketa bersenjata. Hak-hak yang tak boleh dikurangi tersebut meliputi hak hidup, prinsip (perlakuan) non diskriminasi, larangan penyiksaan (torture), larangan berlaku surutnya hukum pidana seperti yang ditetapkan dalam konvensi sipil dan politik, hak untuk tidak dipenjarakan karena ketidakmampuan melaksanakan ketentuan perjanjian (kontrak), perbudakan (slavery), perhambaan (servitude), larangan penyimpangan berkaitan dengan dengan penawanan, pengakuan seseorang sebagai subyek hukum, kebebasan berpendapat, keyakinan dan agama, larangan penjatuhan hukum tanpa putusan yang dimumkan lebih dahulu oleh pengadilan yang lazim, larangan menjatuhkan hukuman mati dan melaksanakan eksekusi dalam keadaan yang ditetapkan dalam Pasal 3 ayat (1) huruf (d) yang bersamaan pada keempat Konvensi Jenewa.
Konferensi internasional mengenai hak asasi manusia yang diselenggarakan oleh PBB di Teheran pada tahun 1968 secara resmi menjalin hubungan antara Hak Asasi Manusia (HAM) dan Hukum Humaniter Internasional (HHI). Dalam Resolusi XXIII tanggal 12 Mei 1968 mengenai “penghormatan HAM pada waktu pertikaian bersenjata”, meminta agar konvensi-konvensi tentang pertikaian bersenjata diterapkan secara lebih sempurna dan supaya disepakati perjanjian baru mengenai hal ini. Resolusi ini mendorong PBB untuk menangani pula Hukum Humaniter Internasional.
Terdapat 3 aliran yang berkaitan dengan hubungan hukum humaniter internasional;
1. Aliran integritas
Aliran integrationis berpendapat bahwa sistem hukum yang satu berasal dari hukum yang lain. Dalam hal ini, maka ada 2 (dua) kemungkinan, yaitu:
Pendapat ini antara lain dianut oleh Robertson, yang menyatakan bahwa hak asasi manusia merupakan hak dasar bagi setiap orang, setiap waktu dan berlaku di segala tempat. Jadi hak asasi manusia merupakan genus dan hukum humaniter merupakan species-nya, karena hanya berlaku untuk golongan tertentu dan dalam keadaan tertentu pula.
2. Hukum Humaniter Internasional merupakan dasar dari Hak Asasi Manusia, dalam arti bahwa hak asasi manusia merupakan bagian dari hukum humaniter. Pendapat ini didasarkan pada alasan bahwa hukum humaniter lahir lebih dahulu daripada hak-hak asasi manusia. Jadi secara kronologis, hak asasi manusia dikembangkan setelah hukum humaniter internasional.
2. Aliran Separatis
Aliran separatis melihat Hak Asasi Manusia dan Hukum Humaniter Internasional sebagai sistem hukum yang sama sekali tidak berkaitan, karena keduanya berbeda. Perbedaan kedua sistem tersebut terletak pada obyek, sifat, dan saat berlakunya.
3. Aliran komplementaris
Aliran Komplementaris melihat Hukum Hak Asasi Manusia dan Hukum Humaniter Internasional melalui proses yang bertahap, berkembang sejajar dan saling melengkapi.
Dengan demikian, walaupun hukum humaniter berlaku pada waktu sengketa bersenjata dan hak asasi manusia berlaku pada waktu damai. Namun inti dari hak-hak asasi atau “hard core rights” tetap berlaku sekalipun pada waktu sengketa bersenjata. Keduanya saling melengkapi. Selain itu, ada keterpaduan dan keserasian kaidah-kaidah yang berasal dari instrumeninstrumen hak asasi manusia dengan kaidah-kaidah yang berasal dari instrumeninstrumen hukum humaniter internasional. Keduanya tidak hanya mengatur hubungan diantara negara dengan negara dengan menetapkan hak-hak dan kewajiban mereka secara timbal balik.
C. Perang, Konfak Berienjata oan Damaa
konfik. Penyelesaian konfik dapat dilakukan dengan akomodasi, integrasi secara konsensus tanpa kekerasan. Banyak dilakukan dengan tekanan dan kekerasan, tidak terbatas selalu dengan kekerasan senjata, tetapi dengan bentuk-bentuk kekerasan yang meliputi bidang kehidupan, apakah politik, ekonomi, kebudayaan dan sebagainya.
Perang adalah pelaksanaan atau bentuk konfik dengan intensitas kekerasan yang tinggi. Von Clausewitz, seorang militer dan filsuf Jerman mengatakan antara lain bahwa perang adalah kelanjutan politik dengan cara-cara lain. Dengan prinsip tersebut ia melihat bahwa hakekat kehidupan bangsa adalah suatu perjuangan sepanjang masa dan dalam hal ini ia identikkan politik dengan perjuangan tersebut. Sementara Indonesia menganut pendirian bahwa Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaannya. Pada hakekatnya perang adalah mematahkan semangat musuh untuk melawan.
Dahulu rakyat tidak mengetahui adanya perang, karena peperangan dilakukan oleh dua negara dengan masing-masing menggunakan prajuritnya bahkan prajurit sewaan. Saat ini, bersamaan dengan tumbuhnya demokrasi dalam pemerintahan dan dukungan teknologi yang cepat, maka berubahlah perang dan konfik antar negara menjadi sangat luas dan kompleks. Dalam alam demokrasi, perang dan konfik telah melibatkan secara politis seluruh rakyat negara yang bersangkutan. Dengan alat-alat komunikasi mutakhir setiap manusia dimanapun berada akan dapat dijangkau oleh radio, bahkan televisi, sarana komunikasi dan informasi lainnya sebagai alat konfik yang akan mempengaruhi pikirannya.
Meskipun masalah-masalah itu tidak termasuk perang, dampaknya bagi Negara yang mengalami bisa sama atau dapat melebihi.
Dewasa ini (pada masa damai), sering terjadi konfik di dalam suatu Negara yang dipandang akan berdampak langsung maupun tidak langsung bagi stabilitas suatu Negara. Kesalahan tindakan preventif terhadap konfik yang terjadi, akan berakibat fatal bagi keutuhan sebuah Negara. Pengalaman penanganan konfik etnik yang melanda Uni Soviet dan Negara-negara bagian, misalnya, menyadarkan banyak Negara akan arti pentingnya tindakan preventif untuk pencegahan konfik, agar tidak berdampak negatif bagi keamanan nasional mereka. Pengalaman Uni Soviet, yang gagal untuk mengantisipasi konfik menyebabkan Negara tersebut runtuh menjadi serpihan-serpihan Negara kecil, ternyata telah menyadarkan banyak Negara akan dampak langsung konfik bagi aspek pertahanan. Begitu pula sulitnya penanganan konfik yang dipicu oleh masalah identitas agama yang menyebabkan konfik, yang belum kunjung selesai di India antara Hindu dan Muslim sehingga Muslim membentuk identitas tersendiri sejak akhir abad 19 mendorong setiap Negara untuk mengantisipasi sifat dan jenis-jenis konfik yang mungkin berdampak bagi faktor keamanan dan pertahanan.
D. Jenai-jenai Konfak Berienjata
Secara garis besar, hanya ada dua bentuk konfik bersenjata saja yang diatur dalam Hukum Humaniter sebagaimana yang dapat dilihat dan mengkaji konvensi-konvensi jenewa 1949 dan Protokol Tambahan 1977 yaitu : 1). “sengketa atau konfik bersenjata yang bersifat internasional” (international armed confict); serta 2.) “sengketa bersenjata yang bersifat non-internasional” (non-international armed confict). Pembagian dua bentuk konfik ini adalah juga menurut Haryomataram.
Selain Konvensi Jenewa dan Protokol Tambahan, para pakar Hukum Humaniter telah mengajukan bentuk konfik bersenjata, antara lain :
Shigeki Miyazaki, pakar ini menjabarkan konfik bersenjata sebagai berikut :
1. Konfik bersenjata antara pihak peserta konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan 1977. Konvensi Jenewa, Pasal 2, Paragraf 1 dan Protokol I, Pasal 1, Paragraf 3.
2. Konfik bersenjata antara pihak peserta (negara) dengan bukan pihak peserta (negara atau penguasa de facto), misalnya penguasa yang memimpin kampanye pembebasan nasional yang telah menerima Konvensi Jenewa dan/atau Protokol. Konvensi Jenewa Pasal 2, Paragraf 4, Protokol Tambahan I, Pasal 1, Paragraf 4, Pasal 96, Paragraf 2.
3. Konfik bersenjata antar pihak peserta (negara) dan bukan pihak peserta (negara atau penguasa de facto), yang belum menerima baik Konvensi Jenewa maupun Protokol. Konvensi Jenewa, Pasal 2, Paragraf 4, Marthen Clause, Protokol II (penguasa :authority).
4. Konfik bersenjata antara dua bukan pihak peserta (non-contracting parties). Konvensi Jenewa, Pasal 2, Paragraf 4, Kovensi Jenewa Pasal 3 (penguasa), Marthen Clause, Protokol 2 (penguasa).
5. Konfik bersenjata yang serius yang tidak bersifat internasional (pemberontakan). Konvensi Jenewa, Pasal 3, Protokol 2, Hukum Internasional Publik.
BAB III
PENUTUP
A. Keiampulan
Menurut Mochtar Kusumaatmadja hukum humaniter adalah Bagian dari hukum yang mengatur ketentuan-ketentuan perlindungan korban perang, berlainan dengan hukumperang yang mengatur perang iu sendiri dan segala sesuatu yang menyangkut cara melakukan perang itu sendiri. Hukum humaniter tidak dimaksudkan untuk melarang perang, atau untuk mengadakan undang-undang yang menentukan permainan “perang”, tetapi karena alasan-alasan perikemanusiaan untuk mengurangi atau membatasi penderitaan individu-individu dan untuk membatasi wilayah dimana kebuasan konfik bersenjata diperbolehkan.
B. Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan kepada mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang Hukum Humaniter Internasional lebih khusus lagi mengenai jenis-jenis konfik bersenjata.
Kita sebagai manusia tentu masih banyak kekurangan oleh karena itu marilah kita bersama saling mengisi kekurangan itu dengan berbagi pengetahuan. Tim penulis menyadari bahwa kemampuan yang dimiliki masih sangat kurang dan sangat terbatas untuk meningkatkan kemampuan penulis maka sangat diharapkan sumbangan-sumbangan pemikiran dari mahasiswa lainnya / pembaca. Karena tim penulis memahami sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam tahap pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Prof. DR. Mochtar Kusumaatmadja, S.H, LLM, Konvensi-Konvensi Palang Merah 1949, Alumni, Bandung, 2002
http://dewaarka.wordpress.com/2010/03/08/hukum-humaniter-internasional/
http://soegenghardjowinoto.dosen.narotama.ac.id/2012/02/08/overview-hukum-humaniter-internasional/