• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akses Perempuan terhadap Nafkah dan Hart

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Akses Perempuan terhadap Nafkah dan Hart"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Mendapat Bantuan Dana dari DIPA BOPTAN UIN SGD

Bandung Tahun Anggaran 2013

Oleh:

Nina Nurmila, PhD

Nip: 196909061994032004

Lembaga Penelitian

Universitas Islam Negeri

Sunan Gunung Djati Bandung

(2)

Abstraksi

Penelitian ini dilatar belakangi oleh begitu banyaknya pembahasan tentang poligami yang bersifat normatif atau hanya mengungkapkan perdebatan ideologis tentang pemahaman Muslim terhadap isu poligami. Namun masih sangat jarang penelitian lapangan yang menggali kehidupan berpoligami, terutama tentang akses perempuan yang terlibat dalam poligami terhadap nafkah dan harta bersama.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akses perempuan yang terlibat dalam poligami terhadap nafkah dan harta bersama. Penelitian ini menggunakan metodologi feminisme. Metodologi feminisme mengkritik ketidak terlihatan perempuan ( ), baik sebagai objek ataupun ahli ilmu sosial ( ) dan menawarkan pendekatan , yang menekankan orang yang diteliti. Sumber data dalam penelitian ini adalah mereka yang terlibat dalam poligami, baik suami, istri pertama, istri kedua dan anak anak mereka, Pengadilan Agama Kota Bandung dan Biro Statistik Kota Bandung.

(3)

Penelitian ini dilatar belakangi oleh begitu banyaknya pembahasan tentang poligami yang

bersifat normative atau hanya mengungkapkan perdebatan ideologis tentang pemahaman Muslim

terhadap isu poligami. Misalnya, hampir semua buku tafsir seperti

dan buku fiqih seperti dan terdapat

pembahasan tentang poligami. Namun masih sangat jarang penelitian lapangan yang menggali

kehidupan berpoligami, terutama tentang akses perempuan yang terlibat dalam poligami

terhadap nafkah dan harta bersama.

Poligami merupakan salah satu bentuk pernikahan yang diatur dalam perundang undangan

Indonesia. Undang Undang Perkawinan (UUP) no. 1 tahun 1974 Pasal 3 5 mengatur prosedur

pernikahan poligami. Yaitu bahwa seorang suami hanya boleh menikah lagi setelah mendapat

izin dari Pengadilan Agama. Izin hanya akan diberikan jika (a) istri tidak dapat menjalankan

kewajibannya sebagai isteri; (b) istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat

disembuhkan; (c) istri tidak dapat melahirkan keturunan. Selain itu suami juga harus memenuhi

syarat syarat berikut: (a) adanya persetujuan dari isteri/isteri isteri; (b) adanya kepastian bahwa

suami mampu menjamin keperluan keperluan hidup isteri isteri dan anak anak mereka; (c)

adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri isteri dan anak anak mereka.

Meskipun terdapat beberapa aturan perundang undangan dan peraturan pemerintah yang

mengatur praktek poligami agar dapat terhindar dari ketidak adilan dan kesewenang wenangan,

namun pada realitanya, aturan aturan tersebut di atas sering kali diabaikan. Oleh karena itu

diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui alas an mengapa para suami yang

berpoligami enggan mengikuti aturan perundang undangan yang ada dengan melakukan

permohonan izin kepada pengadilan agama sebelum menikah lagi; dan bagaimana suami yang

berpoligami mengatur waktu gilir dan jumlah nafkah terhadap istri istrinya dan bagaimana

konsekuensi pernikahan poligami yang tercatat dan tidak tercatat terhadap akses istri pada nafkah

dan harta bersama selama pernikahan. Untuk mengetahui hal tersebut, penulis tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “

(4)

Penelitian ini akan bermanfaat bagi para pengambil kebijakan dan para praktisi hukum agar

mengetahui secara realitas praktek poligami yang ada di masyarakat dan pengaruhnya terhadap

pengaturan nafkah, waktu gilir dan hak istri terhadap harta bersama. Selama ini para pendukung

poligami seringkali mempromosikan bahwa poligami merupakan solusi terhadap masalah yang

dihadapi oleh suami yang tidak bisa mendapatkan pelayanan istri atau tidak memiliki anak.

Dengan diadakannya penelitian lapangan ini, setidaknya pengambil kebijakan dapat mengetahui

bagaimana pengaruh ‘solusi’ ini terhadap kehidupan berumah tangga pasca suami menikah lagi,

terutama tentang pengaruhnya terhadap akses istri pada nafkah dan harta bersama.

! "# $ % &

Kaum Muslim berbeda pendapat tentang poligami berdasarkan pemahaman mereka terhadap Al

Qur’an Surat An Nisa’ (4): 3.

Pemahaman kaum Muslim terhadap ayat di atas dapat diklasifikasi kepada tiga kelompok

berdasar pada kategorisasi Abdullah Saeed mengenai pendekatan yang digunakan Muslim dalam

memahami Al Qur’an (2006). Yang pertama adalah kelompok tekstualis atau bisa disebut juga

dengan kelompok literalis yang memahami bahwa poligami dibolehkan dalam Islam dan

merupakan bagian dari ajaran Islam sehingga menerima poligami dianggap sebagai menerima

ajaran Islam secara sempurna (! ). Yang kedua adalah kelompok semi tekstualis yang memahami bahwa poligami hanya dibolehkan dengan syarat berbuat adil. Yang ketiga adalah

kelompok kontekstualis yang memandang bahwa pesan utama ayat tersebut bukan tentang

pembolehan poligami, melainkan penekanan akan pentingnya berbuat adil terhadap kaum yang

dianggap lemah, yaitu janda dan anak yatim (Wadud, 1999; Barlas 2002). Ayat ini juga justru

difahami sebagai anjuran bermonogami karena dengan bermonogami seorang suami dapat

terhindar dari berbuat tidak adil (Afshar, 1998; Jawad, 1998; Mashhour, 2005; Muhammad,

2011).

Tentang nafkah, mayoritas umat Islam memahami bahwa nafkah merupakan kewajiban yang

harus diberikan suami kepada istrinya berdasarkan pemahaman mereka terhadap Al Qur’an Surat

An Nisa’ (4): 34. Ayat ini juga sering kali difahami bahwa laki laki secara mutlak adalah

pemimpin keluarga yang berkewajiban memberi nafkah kepada istrinya dan istri, sebagai ibu

(5)

Seolah semua laki laki terlahir secara otomatis dengan memiliki kemampuan untuk memimpin

dan memberi nafkah kepada istrinya.

Penetapan peran laki laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah nampaknya sangat cocok

pada konteks abad ketujuh di Arab, saat turunnya ayat, mengingat mencari nafkah pada masa

tersebut sering kali melibatkan perjalanan jauh di bawah terik matahari, berjalan kaki atau naik

unta berbulan bulan, sehingga kurang cocok dilakukan oleh seorang perempuan, terutama yang

sedang menanggung beban reproduksi seperti sedang hamil, melahirkan atau menyusui.

Pembebanan pemberian nafkah kepada suami merupakan sesuatu yang adil, terutama saat

perempuan sedang menanggung beban reproduksi sehingga perempuan tidak harus menanggung

dua beban sekaligus: mencari nafkah (beban produksi) dan hamil/menyusui/melahirkan (beban

reproduksi).

Namun perlu diingat bahwa perempuan tidak selalu dalam situasi menanggung beban reproduksi.

Setelah masa menopause atau setelah anak anaknya besar, perempuan memiliki keleluasaan

waktu yang memungkinkan dirinya melakukan kegiatan produktif, baik di dalam ataupun luar

rumah. Selain itu, pada era sekarang, era informasi dan globalisasi, mencari nafkah tidak selalu

bergantung pada kekuatan fisik, melainkan lebih bergantung pada kemampuan meresponi

informasi dan penguasaan serta pengguanaan teknologi canggih. Dengan proses pendidikan,

perempuan bisa berprestasi dan meraih apa pun yang bisa diraih laki laki. Sementara laki laki,

tanpa berusaha keras, ia tidak bisa secara otomatis berpendidikan dan memiliki kemampuan

mencari dan memberi nafkah. Sehingga pemahaman bahwa laki laki secara kodrati atau secara

otomatis bisa menjadi pemimpin dan pemberi nafkah keluarga mulai dipertanyakan.

Salah satu tafsir yang mengkritisi pembagian peran tersebut adalah karya Nasaruddin Umar.

Dalam bukunya yang berjudul " # ! $ % Umar.

membedakan antara kata dan & ! . Menurutnya, adalah seseorang yang memiliki kriteria tertentu (1999). Dalam rumah tangga, seperti yang dinyatakan dalam Al Qur’an Surat

Al Nisa’ (4): 34), seseorang dikatakan sebagai ketika ia memiliki dua kriteria yaitu (1)

memiliki kelebihan atau keunggulan dibanding pasangannya dan (2) menafkahkan sebagian

hartanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Seseorang tidak terlahir sebagai ,

melainkan harus dicapai melalui berbagai usaha, misalnya dengan melalui proses pendidikan dan

(6)

menjadi & ! jika ia tidak berusaha untuk memenuhi kedua kriteria tersebut. Konsekuensi dari pembedaan antara kata dan & ! ini adalah bahwa seseorang yang terlahir sebagai (perempuan) bisa menjadi ketika ia bisa memenuhi kedua kriteria yang ditetapkan dalam

Al Qur’an Surat Al Nisa’ (4): 34). Artinya, menjadi pemimpin rumah tangga, karena memiliki

keunggulan dibanding pasangannya, misal dari segi tingkat pendidikan dan penghasilan, serta

kemampuan memberi nafkah, bisa dicapai oleh perempuan, bukan secara kodrati hanya bisa

dilakukan oleh laki laki saja.

Meskipun UUP Pasal 35 37 sudah mengatur tentang harta bersama, entah berapa banyak

perempuan Indonesia yang tidak mengetahui akan haknya, terutama para istri yang berstatus ibu

rumah tangga, yang terkadang tidak mengetahui bahwa mereka memiliki hak atas bersama atau

harta yang diperoleh selama masa pernikahan baik itu diperoleh istri ataupun suaminya. Tidak

sedikit ibu rumah tangga yang karena tidak merasa berkontribusi secara ekonomi merasa tidak

berhak atas harta yang diperoleh suaminya. Padahal suaminya tidak akan dapat bekerja dengan

baik menghasilkan uang jika ia tidak mendapat kenyamanan yang diusahakan istrinya seperti

penyediaan makan minum, pakaian bersih, rumah tertata, anak terasuh yang sebenarnya jika

diuangkan kontribusi ekonomi seorang ibu rumah tangga bisa bernilai sama atau lebih tinggi dari

penghasilan suami.

3. '

Penelitian ini menggunakan metodologi feminisme. Metodologi feminisme mengkritik ketidak

terlihatan perempuan ( ), baik sebagai objek ataupun ahli ilmu sosial (

): perkembangan dari “ ” (Gorelick,

1991: 459). Metodologi feminisme juga di antaranya didasarkan pada Teori Kritis. Teori Kritis

berasumsi bahwa ilmu pengetahuan itu tidaklah bebas nilai, melainkan dipengaruhi oleh latar

belakang dan kepentingan penulisnya (Agger, 1991). Metodologi feminisme menawarkan

pendekatan , yang menekankan orang yang diteliti.

Sumber data dalam penelitian ini adalah para suami, istri dan anak anak yang terlibat dalam

poligami, baik poligami yang tercatat ataupun yang tidak tercatat, yang berdomisili di sekitar

(7)

Kota Bandung untuk mendapatkan data tentang rekapitulasi kasus yang masuk ke Pengadilan

Agama dari tahun 2011 2013 dan kondisi objektif Kota Bandung. Data dalam penelitian ini

dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur. Hasil wawancara diketik dan diserahkan

kepada responden untuk dilakukan pengecekan atau koreksi. Setelah pengetikan dan pengecekan

hasil wawancara, peneliti membaca kembali hasil pengumpulan datanya, menganalisanya dengan

menggunakan kajian teori, mengkategorisasi data dan mereduksi data dengan menyisihkan data

yang kurang relevan atau tidak menjawab pertanyaan penelitian serta mempresentasikannya

dalam bentuk narasi dan kutipan langsung dari subjek penelitian.

( )

Sebagian besar pelaku poligami dalam penelitian ini tidak mengikuti prosedur hukum yang telah

ditetapkan, yaitu mengajukan aplikasi permohonan izin kepada Pengadilan Agama. Bagi PNS,

sebelum mengajukan permohonan izin ke Pengadilan Agama, mereka terlebih dahulu harus

mengajukan permohonan izin kepada atasan mereka. Namun dalam penelitian ini, hanya satu

dari sekian banyak PNS yang melakukan permohonan izin atasan sebelum menikah lagi. Ada

beberapa alas an mengapa mereka tidak mengikuti prosedur yang telah ditetapkan, namun alas an

utama, walaupun tidak selalu terkatakan, adalah bahwa mereka sudah merasa tidak memenuhi

kondisi yang telah ditetapkan Undang undang untuk menikah lagi, sehingga mereka merasa malu

atau merasa percuma memohon izin kalau nanti tidak dikabulkan karena tidak memenuhi kondisi

yang ditetapkan.

Alasan yang terkatakan tentang mengapa mereka yang tidak mengikuti prosedur hukum

berpoligami di antaranya adalah: (1) komitmen terhadap syari`ah yang tidak mengharuskan

meminta izin istri dan penentangan terhadap undang undang yang dianggap ingin

menumbangkan syari`at [kasus 1]; (2) takut dipecat sebagai PNS kalau ketahuan beristri 2 [kasus

2]; dan (3) tidak merasa harus izin istri [kasus 3]. Dalam kasus 3, walaupun secara arrogan

Fahmi enggan mengakui bahwa ia menyesal tidak meminta izin istrinya sebelum menikah lagi,

namun secara implicit dapat dilihat betapa menyesalnya ia menikah lagi tanpa sepengetahuan

istrinya. Ini terlihat dari sarannya agar para suami yang berpoligami hendaknya meminta izin

terlebih dahulu terhadap istri pertamanya. Jika tidak diizinkan, ia menyarankan untuk tidak

memaksakan kehendak menikah lagi karena hanya akan menyengsarakan istri pertama dan itu

(8)

diceritakan Fahmi bahwa sejak ia menikah lagi tanpa sepengetahuan Linda, apa pun yang

dilakukan Fahmi dianggap menyakitkan hati Linda. Hal ini membuatnya tidak nyaman karena

pada dasarnya ia mencintai dan menyayangi Linda serta ingin membuat Linda bahagia.

Ketika seorang pria tertarik untuk menikahi seorang perempuan, sepertinya ia akan berusaha

memenuhi keinginan perempuan yang dinikahinya. Nuri dan Indri sepertinya melek hukum dan

mengetahui cara melindungi dirinya secara hukum sehingga mereka tidak bisa menerima begitu

saja jika mereka dijadikan istri simpanan, istri gelap atau istri sirri. Mereka ingin diposisikan

secara terhormat dengan menjadi istri resmi, walaupun istri kedua. Mereka juga sepertinya

menyadari bahwa menjadi istri kedua, walaupun resmi sudah tercela di tengah masyarakat

Bandung, apalagi jika tidak resmi.

Dalam prakteknya, setelah berpoligami, Rosyid memang nampak selalu berusaha untuk berbuat

adil dengan cara mengikuti kehendak Tuti dalam mengatur giliran dan nafkah, namun secara

financial, ia sebenarnya tidak memenuhi syarat untuk berpoligami mengingat penghasilannya

yang sangat kecil, yang untuk menafkahi keluarga monogaminya saja jauh dari cukup, apalagi

untuk berpoligami. Akibatnya, pernikahan poligaminya bukan hanya harus didukung oleh

pemberian dana dari istrinya yang pertama, yang tentu saja sangat terbatas. Hal ini mendorong

Rosyid untuk meminjam uang guna memenuhi tuntutan istri keduanya, Nuri. Utang tersebut

terakumulasi begitu banyak walaupun pernikahannya baru berjalan selama empat bulan dan uang

sekolah anak anaknya tidak terbayar. Tuti, sebagai penanggung jawab utama nafkah keluarga,

merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut dan mengingatkan suaminya, yang bertingkah laku

seperti anak kecil yang tidak bertanggung jawab, untuk memenuhi janjinya agar mengakhiri

salah satu pernikahannya. Dengan berat hati, akhirnya Rosyid mengakhiri pernikahannya dengan

Nuri, itu pun dengan ongkos yang mahal. Tuti bukan hanya harus membiayai proses perceraian

Rosyid, melainkan ia juga harus berjuang lebih keras lagi guna membayar mut`ah untuk Nuri

sebanyak Rp. 5.000.000, .

Dalam kelima kasus yang diceritakan dalam laporan penelitian ini, kebetulan hampir semua

suami berusaha bergilir dan memberi nafkah kepada kedua istrinya secara adil. Tidak ada kasus

penelantaran kepada salah satu istri. Namun pada kasus kasus lain, mengingat terbatasnya ruang,

sehingga tidak dapat diceritakan secara detail semua di sini, ada beberapa kasus penelantaran

(9)

hidup bersama istri barunya tanpa membiayai atau menengok istri dan anak anak istri

pertamanya sehingga menimbulkan penderitaan bagi istri dan anak anak yang ditinggalkannya.

Syamsul memang kemudian pindah berumah tangga secara total hidup dengan Indri, tanpa

menyisakan satu malam pun untuk bergilir kepada Rosa. Namun itu ‘dinikmati’ Rosa yang

memang ingin hidup bebas tanpa aturan keras dari Syamsul dan Syamsul sendiri masih

memberikan nafkah, sejumlah uang yang biasa ia berikan kepada Rosa sebelum ia menikah lagi.

Dari kelima kasus yang diceritakan, Tuti dan Esih menunjukkan sikap protektif mereka terhadap

harta bersama. Dalam upayanya menyelamatkan harta bersama, di antaranya berupa sanggar seni

yang telah dirintisnya dari nol bersama suaminya, Tuti dengan pandainya sudah dapat membuat

suaminya berjanji untuk mengakhiri salah satu pernikahannya jika pernikahan tersebut berakibat

negative terhadap keluarga inti. Nuri yang baru menjalankan rumah tangganya selama 4 bulan

tidak bisa mengklaim harta bersama saat mereka bercerai, karena memang tidak ada harta yang

bisa dikumpulkan suaminya bersamanya selama masa tersebut, bahkan justru menghasilkan

banyak utang. Namun pernikahan resminya, membuatnya secara resmi dapat menuntut mut`ah

sebesar lima juta rupiah. Esih juga tidak rela jika uang Dadan digunakan untuk meningkatkan

kesejahteraan Indah, istri keduanya. Supaya uang Dadan lebih banyak mengalir ke pihaknya,

Esih meminta anak bungsunya untuk kuliah lagi di Akademi Perawat, walaupun ia sudah

mendapat gelar S1 dari perguruan tinggi tempat Dadan mengajar. Upaya istri untuk menghalangi

mengalirnya uang ke pihak istri yang lain ini cocok dengan apa yang diterangkan Brenner bahwa

yang dikhawatirkan istri ketika suaminya menyeleweng adalah terkuranginya harta keluarga

untuk membiyayai atau diberikan kepada perempuan lain (1998: 151).

* #

Berdasaran pembahasan sebelumnya dapat ditarik kesimpulan sebagai ikut:

a. Sebagian besar suami yang berpoligami enggan mengikuti prosedur berdasarkan Undang

undang Perkawinan (UUP) yang ada yaitu memohon izin ke Pengadilan Agama. Alasan

utama yang tidak terkatakan adalah karena pada dasarnya mereka tidak memenuhi

kondisi yang membolehkan berpoligami yang dinyatakan dalam UUP. Adapun alas an

yang terkatakan mengapa mereka enggan mengikuti prosedur hukum yang ada di

(10)

istri; (2) sebagai PNS, takut dipecat kalau ketahuan beristri dua; (3) tidak merasa perlu

izin istri. Faktor lainnya mengapa sebagian besar suami berpoligami tidak mengikuti

prosedur resmi UUP adalah kekurang tahuan pihak calon istri tambahan terhadap

pentingnya perlindungan hukum dalam pernikahan sehingga mereka menerima begitu

saja saat dinikahi tanpa dicatatkan kepada tugas yang berwenang. Sementara sebagian

kecil dari para suami yang terlibat dalam penelitian ini mengikuti prosedur hukum yang

ada yaitu dengan memohon izin kepada Pengadilan Agama. Untuk itu, mereka harus

memperoleh izin terlebih dahulu dari istri pertamanya. Proses meminta izin istri untuk

menikah lagi ini merupakan proses yang tidak mudah dan cukup menyakitkan untuk istri

pertama. Namun sepertinya lebih menyakitkan lagi kalau suami menikah lagi secara

diam diam tanpa sepengetahuan istri pertama dan izinnya serta baru mengetahui dari

orang lain.

b. Para suami yang berpoligami yang kasusnya dilaporkan dalam penelitian ini

menunjukkan bahwa mereka berusaha untuk berbuat adil dengan menetapkan waktu

giliran mereka sendiri yang diketahui oleh kedua istrinya ataupun mematuhi waktu gilir

yang diinginkan istri pertamanya, kecuali Syamsul yang hanya sesekali saja datang di

siang hari untuk menengok Rosa, namun Rosa memang menyukai untuk dibiarkan hidup

sendiri tanpa control dari suaminya. Ada beberapa kasus yang tidak dilaporkan dalam

penelitian ini yang suaminya menelantarkan istri pertamanya, hanya menengok dan

member nafkah semaunya, bahkan ada yang tidak menengok dan member nafkah sama

sekali setelah menikah lagi.

c. Dua dari istri pertama dalam penelitian ini, Tuti dan Esih, bersikap protektif terhadap

harta bersama yang mereka miliki dan enggan jika harta yang mereka dapatkan atau

miliki selama pernikahan mereka dengan suaminya mengalir ke pihak istri tambahannya.

Sebaliknya, Mila sendiri sudah merasa cukup tenang selama gaji suaminya dari

penghasilan utamanya sebagai dosen/PNS hanya diberikan padanya walaupun sebenarnya

kehidupan ekonominya akan lebih baik jika suaminya tidak berpoligami dan penghasilan

tambahan suaminya bisa lebih dapat ia gunakan untuk keperluan biaya pendidikan anak

anaknya. Sementara Rosa, merasa kurang bisa berkontribusi terhadap ekonomi keluarga

(11)

diterima suaminya. Sekalipun kurang, ia tidak pernah berani meminta tambahan kepada

suaminya.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, ada beberapa saran sebagai berikut:

a. Bagi suami hendaknya meminta izin istri pertamanya sebelum menikahi istri tambahan

karena bagaimana pun pernikahannya dengan istri tambahan akan sangat berpengaru baik

terhadap nafkah dan waktu yang bisa diberkan kepada istri dan anak anak istri yang ada.

Jika tidak diizinkan, sebaiknya tidak memaksakan kehendak. Demikian halnya bagi calon

istri tambahan, hendaknya meminta kepada calon suaminya untuk mengikuti prosedur

resmi UUP yaitu dengan memohon izin terlebih dahulu kepada Pengadilan Agama. Tidak

semua suami selalu bisa memperlakukan istrinya dengan baik sepanjang masa. Untuk

berjaga jaga lebih baik menggunakan perlindungan hukum yang ada sebelum menikah,

walaupun idealnya dan akan lebih baik jika tidak memasuki rumah tangga orang lain,

melainkan membina rumah tangga sendiri, yang terdiri dari satu suami dan satu istri,

yang relative lebih sedikit masalahnya dibanding menyelusup ke dalam rumah tangga

orang lain.

b. Petugas Pengadilan Agama idealnya tidak membantu pendaftar permohonan izin

poligami untuk memanipulasi data agar pendaftaran poligaminya diterima dan hanya

menerima pendaftar yang memang memenuhi syarat. ‘Pemaksaan’ terhadap situasi yang

memang tidak seharusnya boleh berpoligami memiliki akibat buruk terhadap mereka

(12)

+

Abdul Kodir, Faqihuddin (2005a). ' # $ % (

) 'Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara.

Aedy, Hasan (2007). # * # # 'Bandung: Alfabeta.

Afshar, Haleh (1998). + " , * 'New York: St. Martin’s

Press.

Agger, Ben (1991). , # - ' . #

. ' UK: The Falmer Press.

Amarudin, Didin (2007). , / # " ! # 0

! 1 ! . . * %'Jakarta: ‘Adil.

Barlas, Asma 2002. 1 % " 2 #

$ 'Austin, TX: University of Texas Press.

Basyir, Abu Umar (2007). # ' & . Solo: Rumah Dzikir.

BPS Kota Bandung (2013). ! 3456. Kota Bandung: Badan Pusat

Statistik.

Brenner, Suzanne (1998). . . " 7 7 '

Princeton, NJ: Princeton University Press.

Gusmian, Islah (2007). ) 8 ! ! !

55 . Yogyakarta: Pustaka Marwa.

Gorelick, Sherry (1991). “Contradictions of Feminist Methodology”, / * , Vol. 5 No. 4, December.

Jawad, Haifaa A. (1998). 9 7 " 'Basingstoke:

Macmillan and New York: St. Martin’s Press.

Jones, Gavin W. (1994). . * : . Kuala Lumpur:

Oxford University Press.

Khan, Maulana Wahiduddin (1995a). 7 7 * . New Delhi:

The Islamic Centre.

Khan, Maulana Wahiduddin (1995b). 7 * 1 . New Delhi: The Islamic

Centre.

(13)

Mashhour, Amira 2005. Islamic Law and Gender Equality−Could There be a Common Ground?: A Study of Divorce and Polygamy in Sharia Law and Contemporary Legislation in Tunisia and

Egypt, ( 9 $ , 27, pp. 562 596.

Nurmila, Nina (2005). Polygamy and Chicken, 83, Juli Sept.

Nurmila, Nina (2009). 7 : - '9 # .London:

Routledge.

Pahl, Jan (1980). Patterns of money management within marriage, *

* # 9, 3: 313–35.

Pahl, Jan (2000). Couples and their money: patterns of accounting and accountability in the

domestic economy, = , Vol. 13 No. 4, pp. 502 517.

Pengadilan Agama Bandung ( 2011). Rekapitulasi Perkara Yang Diterima Tahun 2011. Bandung: Pengadilan Agama Bandung.

Pengadilan Agama Bandung ( 2012). Rekapitulasi Perkara Yang Diterima Tahun 2012. Bandung: Pengadilan Agama Bandung.

Pengadilan Agama Bandung ( 2013). Rekapitulasi Perkara Yang Diterima Tahun 2013. Bandung: Pengadilan Agama Bandung.

Republik Indonesia (1990). Kompilasi Hukum Islam,

http://hukum.unsrat.ac.id/ma/kompilasi.pdf, diakses 3 Januari 2014.

Republik Indonesia (2006). Undang undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974,

https://docs.google.com/document/d/1uoCWh4aNYuCDoLgIiMtMe9cEfiTBaOaxmkrfFV1Ypa M/edit?pli=1, diakses 25 Desember 2013.

Saeed, Abdullah (2006). $ % " , 'New

York: Routledge.

Suryakusuma, Julia I. (1996). ‘The State and sexuality in New Order Indonesia’, in Laurie J.

Sears (ed.), + & + . Durham and London: Duke University

(14)

Takariawan, Cahyadi (2007). ! . Solo: Era Intermedia.

Umar, Nasaruddin (1999). " # ! $ % . Jakarta:

Paramadina.

Wadud, Amina (1999). $ % 7 " 9 * > 7 %

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini mencerminkan bahwa siswa Madrasah Aliyah Darussalam Agung Buring Malang yang memiliki adversity quotient tinggi cenderung memiliki regulasi diri yang

kesanggupan atau keterampilan yang dimiliki siswa untuk menyampaikan informasi tentang peristiwa dan pendapat yang memiliki nilai yang penting, menarik bagi

Kemudian pada birama 43 hingga bagian akhir komposisi dimainkan oleh combo band secara lengkap, yaitu; paduan suara dan solo vokal pria yang menggambarkan

Suatu hasil kerja seseorang dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan oleh organisasi, dengan indikator yaitu (Fadel, 2009) :.. a)

Masukan sel rata kanan : Jika data lebih panjang dari panjang sel maka lebihnya akan mengisi sel disebelah kirinya yang kosong, jika sel sebelah kiri terisi maka data akan

Semua bayi baru lahir di fasilitas kesehatan harus segera mendapatkan tanda pengenal berupa gelang yang dikenakan pada bayi dan ibunya untuk menghindari tertukarnya bayi,

Pengembangan dan penerapan sistem pemanfaatan terpadu (conjunctive use) antara air permukaan dan air tanah akan digalakkan terutama untuk menciptakan sinergi dan

Untuk itu setiap pemimpin harus mampu menganalisa situasi sosial kelompok atau organisasinya, yang dapat di manfaatkan dalam mewujudkan fungsi kepemimpinan dengan kerja sama