• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR DAN AKTI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR DAN AKTI"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS SISWA PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIKOM) MELALUI

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD KELAS VIII R6 SMP NEGERI 3 SAMPIT KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

PROPOSAL

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah

Penelitian Tindakan Kelas

OLEH :

NAMA : EVA UTAMI

NPM : 1387203002

JURUSAN : PENDIDIKAN IPS

PROGAM STUDI : PENDIDIKAN EKONOMI

MAJELIS PENDIDIKAN TINGGI PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) MUHAMMADIYAH SAMPIT

(2)

ABSTRAK

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS SISWA PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIKOM) MELALUI

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD KELAS VIII R6 SMP NEGERI 3 SAMPIT KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

Penelitian ini berangkat dari latar belakang perlunya dilakukan pembaharuan dalam peningkatan kreativitas mengajar guru dalam pengelolaan proses pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIKOM) di SMP sebagai respon semakin melemahnya kualitas belajar siswa. Dalam kegiatan pembelajaran, materi pembelajaran tidak konstektual dan kinerja siswa rendah, pada proses belajarnya. Untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi di PTK dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Penelitian ini dilakukan di SMPN 3 Sampit dengan dua siklus. Pada siklus pertama sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar kooperatif tipe STAD sehingga dilakukan tindakan dengan memberi penjelasan kepada siswa tentang prinsip–prinsip pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dilain sisi guru sebagai kolaborator dalam PTK ini juga belum maksimal dalam mengimplementasikan pemeblajaran kooperatif tipe STAD. Dalam siklus kedua siswa dan guru sudah mulai memahami implementasi pembelajaran kooperatif tipe STAD dan menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi terhadap guru dan siswa mulai terbiasa menciptakan suasana pembelajaran yang mengarah pada pendekatan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dari hal pelaksanaan, siklus pertama dan kedua dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi pada kelas VIII R6 SMPN 3 Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.

(3)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan proposal penelitian tindakan kelas ( PTK ) dengan judul “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Dan Aktivitas Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIKOM) Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Kelas VIII R6 SMP Negeri 3 Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur”.

Proposal penelitian tindakan kelas ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di STKIP Muhammadiyah Sampit dengan dosen pengampun Ibu Dr. Fatimah Setiani, SH, M.Pd.

Dalam penyusunan proposal penelitian tindakan kelas ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih dengan tulus dan sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah banyak membantu sehingga penulisan ini selesai.

Penulis menyadari bahwa penyusunan proposal penelitian tindakan kelas ini jauh dari sempurna untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak selalu penulis harapkan.

Sampit, Desember 2015

(4)

DAFTAR ISI

A. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe “Two Stay Two Stray” dengan Pendekatan Kontektual Untuk Meningkatkan Komunikasi Matematika Siswa Kelas VII SMPN 4 Cempaga.

B. Hipotesis Tindakan... ...38 BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN...

(5)

A. Subjek Penelitian ... ...39 B. Deskripsi Persiklus ... ...40

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kurikulum TIKOM disempurnakan untuk meningkatkan mutu

pendidikan teknologi informasi dan komunikasi. Saat ini kesejahteraan

bangsa tidak hanya bersumber pada sumber daya alam dan modal yang

bersifat fisik ,tetapi bersumber pada modal perkembangan teknologi

informasi dan komunikasi. Pengembangan kurikulum TIKOM merespons

secara positif berbagai perkembangan informasi. Hal ini dilakukan untuk

meningkatkan relevansi program pembelajaran TIKOM dengan keadaan dan

kebutuhan setempat. Kompetensi TIKOM menjamin pertumbuhan keimanan

(6)

hidup, penguasaan prinsip–sosial, ekonomi, budaya dan kewarganegaraan

sehingga tumbuh generasi yang kuat dan berakhlak mulia.

Memperhatikan tujuan yang dikandung oleh mata pelajaran TIKOM

maka seharusnya pembelajaran disekolah merupakan suatu kegiatan yang

disenangi, menantang dan bermakna bagi peserta didik. Kegiatan belajar

mengajar mengandung arti interaksi dari berbagai komponen, seperti guru,

murid, bahan ajar dan sarana lain yang digunakan pada saat kegiatan

berlangsung.

Dari uraian diatas dapat asumsikan bahwa mata pelajaran TIKOM

mempunyai nilai yang strategis dan penting dalam mempersiapkan sumber

daya manusia yang unggul, handal, dan bermoral semenjak dini. Hal yang

menjadi hambatan selama ini dalam pembelajaran TIKOM adalah kurang

dikemasnya pembelajaran TIKOM dengan metode yang menarik, menantang,

dan menyenangkan. Para guru sering kali menyampaikan materi TIKOM apa

adanya, sehingga pembelajaran TIKOM cenderung membosankan dan kurang

menarik minat para siswa yang pada gilirannya prestasi belajar siswa kurang

memuaskan. Disisi lain juga ada kecenderungan bahwa aktivitas siswa dalam

pembelajaran TIKOM masih rendah. Setidaknya ada tiga indikator yang

menunjukkan hal ini. Pertama, siswa kurang memiliki keberanian untuk

menyampaikan pendapat kepada orang lain. Kedua, siswa kurang memiliki

kemampuan untuk merumuskan gagasan sendiri. Dan ketiga, siswa belum

(7)

Pembelajaran mata pelajaran TIKOM sering dianggap suatu kegiatan

yang membosankan , kurang menantang, tidak bermakna serta kurang terkait

dengan kehidupan seharian. Akibatnya banyak kritikan yang ditujukan kepada

guru–guru yang mengajarkan TIKOM, antara lain rendahnya daya kreasi guru

dan siswa dalam pembelajaran, kurang dikuasainya materi TIKOM oleh

siswa, dan kurangnya variasi pembelajaran.

Meningkatnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran akan

membuat pelajaran lebih bermakna dan berarti dalam kehidupan anak.

Dikatakan demikian, karena (1) adanya keterlibatan siswa dalam menyusun

dan membuat perencanaan proses mengajar, (2) adanya keterlibatan

intelektual emosional siswa melalui dorongan dan semangat yang

dimilikinya, (3) adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam

mendengarkan dan memperhatikan apa yang disajikan guru.

Agar pembelajaran TIKOM menjadi pembelajaran yang aktif, kreatif,

efektif, dan menyenangkan, dapat dilakukan melalui berbagai cara yang

cukup efektif adalah melalui penerapan model pembelajaran kooperatif

dengan tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions). Oleh karena itu,

perlu diadakan penelitian tindakan kelas untuk membuktikan bahwa melalui

penerapan pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD dapat meningkatkan

hasil belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran TIKOM.

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan diatas, maka penulis tertarik

untuk melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan tema ”Upaya

(8)

Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIKOM) Melalui Pembelajaran

Kooperatif Tipe STAD Kelas VIII SMP Negeri 3 Sampit Kabupaten

Kotawaringin Timur”. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis dapat merumuskan masalah

yaitu ”Bagaimana Upaya Meningkatan Hasil Belajar Dan Aktivitas Siswa

Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIKOM) Melalui

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Kelas VIII SMP Negeri 3 Sampit

Kabupaten Kotawaringin Timur?”.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan pelaksanaan penelitian ini yaitu

Upaya Meningkatan Hasil Belajar Dan Aktivitas Siswa Pada Mata Pelajaran

Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIKOM) Melalui Pembelajaran

Kooperatif Tipe STAD Kelas VIII SMP Negeri 3 Sampit Kabupaten

Kotawaringin Timur.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang akan dicapai dalam Penelitian Tindakan Kelas tersebut

adalah :

1. Bagi Mahasiswa/Mahasiswi, sebagai masukan tentang penggunaan

(9)

peningkatan kemampuan belajar siswa melalui kegiatan belajar secara

kelompok dalam pembelajaran TIKOM di sekolah menengah pertama.

2. Bagi peneliti, sebagai bahan referensi berkaitan dengan penggunaan

pendekatan pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan hasil belajar

siswa.

3. Bagi guru sekolah menengah pertama, sebagai masukan pentingnya

penerapan pendekatan pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan

kerjasama siswa dalam suasana kelompok dan kemampuan belajar siswa

di sekolah.

4. Bagi siswa sekolah menengah pertama, sebagai masukan pentingnya

berperan secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga dapat lebih

meningkatkan kemampuan belajarnya.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Upaya Meningkatan Hasil Belajar Dan Aktivitas Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIKOM) Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Kelas VIII SMP Negeri 3 Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur

1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams

Achievement Devision)

Pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis yang

mengisyaratkan adanya orang yang mengajar dan belajar dengan

(10)

mengajar. Dalam proses tersebut, terdapat kegiatan memilih, menetapkan,

dan mengembangkan metode atau pendekatan untuk mencapai hasil

pembelajaran yang diinginkan.

Trianto (2009:17) “Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia

yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan”. Pembelajaran

secara simpel dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan

antara pengembangan dan pengalaman hidup. Pembelajaran dalam makna

kompleks adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan

siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya)

dalam rangkan mencapai tujuan yang diharapkan.

Berdasarkan pendapat diatas, maka pembelajaran merupakan suatu

kegiatan yang dilakukan secara sistematis yang diawali dengan persiapan

mengajar (prainstruksional), proses pembelajaran (instruksional) dan

diakhiri penilaian atau evaluasi. Kunci pokok pembelajaran ada pada guru

(pengajar), tetapi bukan berarti hanya guru yang aktif sedang murid pasif.

Pembelajaran menuntut keaktifan kedua belah pihak yang sama-sama

menjadi subjek pembelajaran agar proses pembelajaan dapat berlangsung

optimal dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Salah satu pendekatan pembelajaran di sekolah adalah pembelajaran

kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan yang berorientasi

pada kegiatan kerjasama antara siswa dalam bentuk kelompok sehingga

(11)

Menurut Isjoni (2012:14) metode pembelajaran kooperatif adalah

rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam

kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah

siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya

berbeda. Model pembelajaran kooperatif dapat diterapkan untuk

memotivasi siswa berani mengemukakan pendapatnya, menghargai

pendapat teman dan saling memberikan pendapat. Menurut Wina Sanjaya

(2009: 242) pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran

dengan sistem pengelompokkan kecil antara 4-6 orang secara heterogen

dari sisi kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, maupun suku.

Berdasarkan pendapat di atas, maka pembelajaran kooperatif

merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan

guru di sekolah sesuai dengan tuntutan materi pelajaran yang

mengandung unsur kerjasama antara siswa dalam kelas dalam melakukan

kerja kelompok. Penekanan pendekatan ini adalah mengaktifkan siswa

dalam pembelajaran melalui kerjasama antar siswa dalam suasana belajar

berkelompok.

Menurut Johnson & Johnson, 1994 dan Sutton, 1992 (dalam Trianto,

2009:60) terdapat lima unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif,

yaitu sebagai berikut :

(12)

Dalam pembelajaran kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang

bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain.

b. Interaksi antara siswa yang semakin meningkat

Belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi antara siswa. Hal ini

terjadi bila seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses

sebagai anggota kelompok. Saling memberikan bantuan ini akan 15

berlangsung secara alamiah karena kegagalan seorang dalam

kelompok mempengaruhi kesuksesannya kelompok. Interaksi yang

terjadi dalam belajar kooperatif adalah dalam hal tukar-menukar ide

mengenai masalah yang sedang dipelajari bersama.

c. Tanggung jawab individual

Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dapat berupa

tanggung jawab siswa dalam hal: (a) membantu siswa yang

membutuhkan bantuan dan (b) siswa tidak hanya dapat sekedar

“memboncang” pada hasil kerja teman siswa dan teman

sekelompoknya.

d. Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil

Dalam belajar kooperatif, selain dituntut untuk mempelajari materi

yang diberikan seorang siswa dituntut untuk belajar bagaimana

berinteraksi dengan siswa lainnya dalam kelompoknya.

e. Proses kelompok

Belajar kooperatif tidak akan berlangsung tanpa proses kelompok.

(13)

bahwa mereka akanmencapai tujuan dengan baik dan membuat

hubungan kerja yang baik.

Salah satu tipe pembelajaran dalam pendekatan pembelajaran

kooperatif adalah tipe STAD. STAD atau Tim Siswa-Kelompok Prestasi

yaitu jenis pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Dalam STAD,

siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dengan anggota 3-6

orang, dan setiap kelompok harus heterogen. Guru menyajikan pelajaran

dan siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan seluruh anggota

tim telah menguasai pelajaran. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis

tentang materi itu dan mereka tidak boleh saling membantu mengerjakan

kuis.

Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe

dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan

kelompok-kelompok kecil yang jumlah anggota setiap kelompok-kelompok 4-5 orang siswa

secara heterogen. Diawali dengan menyampaikan tujuan pembelajaran,

penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis dan penghargaan kelompok

(Trianto, 2009:68)

2. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif tipe Student Teams

Achievement Division (STAD)

Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif tipe Student Teams

Achievement Division(STAD)Adapun langkah-langkah dalam

pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement

(14)

a. Membentuk kelompok yang anggotanya 4-5 orang secara heterogen

seperti menurut prestasi, jenis kelamin dan suku,

b. Guru menyajikan pelajaran, dan

c. Guru memberikan tugas kelompok untuk dikerjakan oleh

anggota-anggota kelompok. Anggota yang sudah mengerti, dapat

menjelaskan pada anggota lainya sampai semua anggota dalam

kelompok itu mengerti (Trianto, 2009:70)

3. Kelemahan dan Keunggulan Kooperatif tipe STAD

Pembelajaran kooperatif memiliki manfaat atau kelebihan yang sangat

besar dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih

mengembangkan kemampuannya dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini

dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran kooperatif, siswa dituntut

untuk aktif dalam belajar melalui kegiatan kerjasama dalam kelompok.

a. Kelemahan

Menurut Isjoni, (2012:62) kelemahan pembelajaran kooperatif tipe

STAD adalah antara lain sebagai berikut:

1) Berdasarkan karakteristik STAD jika dibandingkan dengan

pembelajaran konvesional (yang hanya penyajian materi dari

guru), pembelajaran menggunakan model ini membutuhkan yang

relatif lama, dengan memperhatikan tiga langkah STAD yang

menguras waktu seperti penyajian materi dari guru, kerja

(15)

dan piñata ruang kelas sesuai kelompok yang ada dapat dilakukan

sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Dengan demikian,

dalam kegiatan pembelajaran tidak ada waktu yang terbuang

untuk pembentukan kelompok dan penata ruang kelas.

2) Model ini memerlukan kemampuan khusus dari guru. Guru

dituntut sebagai fasilitator, mediator, motivator dan evaluator.

b. Kelebihan

Menurut Rusman (2011:204) kelebihan pembelajaran kooperatif tipe

STAD adalah antara lain sebagai berikut:

1) Siswa memiliki dua bentuk tanggung jawab, yaitu belajar untuk

dirinya sendiri dan membantu sesame anggota kelompok untuk

belajar,

2) Siswa saling membelajarkan sesame siswa lainnya atau

pembelajaran oleh rekan sebaya (peerteaching) yang lebih efektif

dari pada pembelajaran guru,

3) Pengelompokan siswa secara heterogen membuat kompotisi yang

terjadi di kelas menjadi lebih hidup,

4) Prestasi belajar dan hasil belajar yang baik bisa didapatkan oleh

semua anggota kelompok,

5) Kuis yang terdapat pada langkah pembeleajaran membuat siswa

(16)

6) Kuis tersebut meningkatkan tanggung jawab individu, karena

nilai akhir kelompok dipengaruhi nilai khusus yang dikerjakan

secara individu,

7) Adanya penghargaan dari guru, sehingga siswa lebih termotivasi

untuk aktif dalam pembelajaran, dan

8) Anggota kelompok dengan prestasi dan hasil belajar rendah

memiliki tanggung jawab besar agar nilai yang didapatkan tidak

rendah supaya nilai kelompok baik

4. Hasil Belajar TIKOM

a. Pengertian Hasil Belajar TIKOM

Belajar merupakan tugas pokok dari setiap siswa agar dapat

sukses di sekolah. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi

dalam diri setiap manusia sebagai hasil dari aktivitas tertentu.

Misalnya perubahan yang terjadi dari tidak tahu menjadi tahu, atau

dari tidak mengerti menjadi mengerti yang terjadi pada anak-anak

sekolah maupun bukan anak sekolah.

Wina Sanjaya (2009:57), menurutnya belajar adalah proses

perubahan tingkah laku. Namun demikian kita akan sulit melihat

bagaimana proses terjadinya perubahan tingkah laku dalam diri

seseorang, oleh karena perubahan tingkah laku berhubungan dengan

perubahan sistem syaraf dan perubahan energi yang sulit dilihat dan

(17)

merupakan suatu misteri, atau para ahli psikologi menamakannya

sebagai kotak hitam (black box).

Menurut Skinner yang dikutip Dimyati dan Mudjiono (2006:9),

belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya

menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya

menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut:

1) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon

pelajar,

2) respon si pelajar, dan

3) konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.

Pemerkuat terjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi

tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respon si pembelajar yang

baik diberi hadiah. Sebaliknya, perilaku respon yang tidak baik

diberi teguran dan hukuman.

Berdasarkan pendapat di atas, belajar merupakan usaha

menguasai hal-hal yang baru atau peningkatan kemampuan seseorang

dalam memahami sesuatu sehingga ada perubahan yang mengarah

kepada perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sebagai

dampak dari aktivitas belajar yang dilakukan, akan meningkatkan

kemampuan belajar siswa sehingga akan dapat memberikan hasil

belajar yang maksimal di sekolah sebagai pencerminan kemampuan

belajar siswa, yang lazim dikenal dengan istilah hasil atau prestasi

(18)

Wahidmurni, dkk. (2010: 18) menjelaskan bahwa sesorang dapat

dikatakan telah berhasil dalam belajar jika ia mampu menunjukkan

adanya perubahan dalam dirinya. Perubahan-perubahan tersebut di

antaranya dari segi kemampuan berpikirnya, keterampilannya, atau

sikapnya terhadap suatu objek.

Berdasarkan pendapat di atas, hasil belajar dapat diartikan sebagai

hasil yang dicapai siswa setelah melakukan aktivitas belajar. Hasil

belajar siswa merupakan kecakapan nyata yang dapat diukur langsung

dengan menggunakan tes hasil belajar atau evaluasi belajar siswa, di

mana hasil belajar yang dimaksud dalam kajian ini adalah hasil belajar

pada pelajaran TIKOM.

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar siswa merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor

yang mempengaruhi, baik dari diri maupun dari luar diri siswa.

Pengenalan terhadap faktor-faktor tersebut penting sekali artinya dalam

membantu siswa mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya. Di

samping itu, diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar,

akan dapat diidentifikasi faktor yang menyebabkan kegagalan bagi siswa

sehingga dapat dilakukan antisipasi atau penanganan secara dini agar

siswa tidak gagal dalam belajarnya atau mengalami kesulitan belajar.

Menurut Suryabrata (2010:233) factor-faktor yang mempengaruhi

hasil belajar yaitu factor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu

(19)

dan faktor psikologi. Sedangkan faktor eksternal yaitu faktor yang

berasal dari luar diri pelajar, digolongkan menjadi faktor nonsosial dan

faktor sosial.

a. Faktor fisiologis

Faktor-faktor fisiologis dibedakan menjadi dua macam,

yaitu: tonus jasmani pada umumnya, dan keadaan fungsi-fungsi

fisiologis tertentu. (Suryabrata, 2010:235). Tonus jasmani memiliki

pengaruh yang cukup kuat terhadap proses belajar siswa. Keadaan

jasmani yang sehat dan segar akan mempermudah siswa dalam

menerima pelajaran dibandingkan keadaan jasmani yang kurang

sehat. Sedangkan fungsi-fungsi fisiologis tertentu seperti

pancaindera juga memiliki pengaruh terhadap pehaman siswa dalam

menerima materi pelajaran. Suryabrata (2010:236) mengemukakan

bahwa baiknya berfungsinya pancaindera merupakan syarat

dapatnya belajar itu berlangsung dengan baik. Dalam proses belajar,

pancaindera yang memiliki peran penting adalah mata dan telinga.

Melalui mata siswa dapat melihat berbagai hal baru yang

sebelumnya tidak ia ketahui dan dengan telinga siswa mampu

mendengarkan berbagai informasi yang dapat menjadi sumber

belajar.

b. Faktor psikologi

Faktor psikologi atau kejiwaan dalam diri individu memiliki peranan

(20)

Frandsen (dalam Suryabrata, 2010:236) mengatakan bahwa hal yang

mendorong seseorang untuk belajar itu adalah:

1) adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih

luas;

2) adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan

untuk selalu maju;

3) adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orangtua,

guru, dan teman-teman;

4) adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu

dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan

kompetisi;

5) adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai

pelajaran;

6) adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir daripada belajar.

c. Faktor nonsosial

Beberapa faktor nonsosial yang dapat mempengaruhi proses belajar

menurut Suryabrata (2010:233) adalah keadaan udara, suhu udara,

cuaca, waktu (pagi, atau siang, atau malam), tempat (letaknya,

pergedungannya), alat-alat yang dipakai untuk belajar (seperti alat

tulis-menulis, buku-buku, alat-alat peraga, dan sebagainya yang

biasa kita sebut sebagai alat pelajaran). Keadaan-keadaan seperti

yang dikemukan diatas akan mempengaruhi suasana belajar siswa,

(21)

yang menyebabkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran seperti

yang diharapkan.

d. Faktor social

Suryabrata (2010:234) menyatakan yang dimaksud dengan

faktor-faktor sosial disini adalah faktor manusia (hubungan

manusia), baik manusia itu ada (hadir) maupun kehadirannya itu

dapat disimpulkan, jadi tidak langsung hadir.

Keberadaan atau kehadiran seseorang dapat mempengaruhi

konsentrasi siswa dalam proses belajar. Hubungan yang terjalin

diantara siswa dengan siswa ataupun siswa dengan guru menunjukan

hubungan sosial yang dapat membantu tercapainya tujuan

pembelajaran. Namun keadaan sosial yang tidak baik, seperti

keributan yang terjadi di dalam kelas ketika proses belajar mengajar

berlangsung dapat mengganggu konsentrasi siswa dalam memahami

dan menerima materi belajar yang disampaikan.

Faktor-faktor yang telah dikemukakan tersebut akan mempengaruhi

proses belajar yang dilakukan siswa yang akan berpengaruh pada hasil

belajar yang diperoleh siswa. Tinggi dan rendah nya hasil belajar yang

diperoleh siswa berkaitan dengan faktor yang mempengaruhinya.

Pada umumnya hasil belajar siswa yang rendah bisa diakibatkan oleh

beberapa faktor, diantaranya: (1) semangat belajar siswa yang kurang, (2)

sarana belajar kurang, (3) penggunaan metode mengajar yang tidak

(22)

6. Penggunaan Pembelajaran Kooperatif dalam Meningkatkan Hasil

Belajar siswa

Salah satu komponen pembelajaran yang sangat menentukan kualitas

proses pembelajaran TIKOM di sekolah menengah pertama adalah

pendekatan pembelajaran, di antaranya pembelajaran kooperatif. Oleh

karena itu, setiap guru dituntut untuk menggunakan pendekatan

pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan materi pelajaran dengan

mempertimbangkan kemampuan guru dan siswa dalam mengikuti

pelajaran dengan pendekatan pembelajaran kooperatif.

Menegaskan pentingnya penggunaan pendekatan pembelajaran yang

tepat sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai, seperti dalam

pembelajaran TIKOM. Dalam mempelajari materi pelajaran TIKOM,

siswa dituntut untuk saling bekerjasama dalam mengerjakan soal-soal

praktikum atau bertukar pikiran atau pendapat tentang materi pelajaran

TIKOM. Hal ini mengisyaratkan guru harus dapat menggunakan

pendekatan pembelajaran seperti pembelajaran kooperatif agar dapat

secara efektif digunakan dengan harapan dapat meningkatkan

kemampuan belajar dan hasil belajar siswa.

Hal ini menunjukkan berarti dalam meningkatkan kualitas proses

pembelajaran yang dapat berdampak positif terhadap peningkatan hasil

belajar siswa, guru harus memperhatikan penggunaan metode atau

pendekatan pembelajaran secara efektif, di antaranya model

(23)

Pendekatan pembelajaran kooperatif tipe STAD dimaksudkan agar

proses pembelajaran TIKOM dapat berlangsung lebih optimal, karena

melibatkan siswa dalam pembelajaran dalam bentuk kerjasama antara

siswa.

Penggunaan pendekatan pembelajaran kooperatif tipe STAD

dilakukan dengan harapan agar materi pelajaran TIKOM dapat diterima

secara optimal oleh siswa berupa terjadinya transfer pengetahuan dari

guru dan antara siswa dalam kelas tentang materi pelajaran yang

diajarkan guru mata pelajaran TIKOM. Penggunaan pembelajaran

kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran TIKOM akan memungkinkan

siswa bekerjasama mengerjakan soal praktikum atau mengkaji materi

pelajaran atau permasalahan tertentu, karena mata pelajaran TIKOM

merupakan mata pelajaran yang menekankan pada materi yang menuntut

siswa untuk saling bekerjasama, khususnya dalam membahas materi

pelajaran sehingga semua siswa dapat sama-sama aktif dan memiliki

kemampuan yang merata dalam pendalaman materi pelajaran TIKOM.

B. Hipotesis Tindakan

Dengan diterapkan model pembelajaran model kooperatif dengan tipe STAD

dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mata pelajaran TIKOM.

Dengan diterapkan model pembelajaran model kooperatif dengan tipe STAD

(24)

BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN A. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini meliputi : lokasi penelitian, waktu penelitian,

mata pelajaran, kelas dan karakteristik siswa.

1. Lokasi Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMPN 3 Sampit Kabupaten

Kotawaringin Timur untuk mata pelajaran TIKOM. Sebagai subyek dalam

(25)

jumlah siswa sebanyak 30 orang, terdiri dari 17 siswa perempuan dan 13

siswa laki – laki.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada pertengahan tahun ajaran baru 2015/2016

yaitu bulan September sampai dengan Desember 2015. Penentuan waktu

penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah karena PTK

memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar

yang efektif di kelas

3. Mata Pelajaran Penelitian

PTK ini dilaksanakan melalui dua siklus untuk melihat hasil peningkatan

hasil belajar dan aktivitas siswa dalam mengikuti mata pelajaran TIK

melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD.

4. Kelas

Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas

VIII R6 terdiri dari 30 siswa dengan komposisi perempuan 17 siswa dan

laki – laki 13 siswa.

5. Karakteristik Siswa

Dalam PTK tidak ada penentuan populasi dan sampel, adanya subjek

penelitian. Subjek PTK ini adalah siswa kelas VIII R6 SMP Negeri 3

(26)

pelajaran 2015/2016. Siswa kelas VIII R6 SMP Negeri 3 Sampit terdiri

dari 30 siswa. Komposisinya adalah L 13 dan P 17.

B. Deskripsi Persiklus

1. Siklus Pertama (satu pertemuan)

Siklus pertama terdiri dari empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan,

observasi dan refleksi.

a. Perencanaan (Planning)

1) Tim peneliti melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa dengan

menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2) Membuat rencana pembelajaran kooperstif tipe STAD 3) Membuat lembar kerja siswa

4) Membuat instrumen yang digunakan dalam siklus PTK 5) Menyusun alat evaluasi pembelajaran

b. Pelaksanaan (Acting)

Pada saat awal siklus pertama pelaksanaan belum sesuaii dengan

rencana. Hal ini disebabkan :

1) Sebagian kelompok belum terbiasa dengan kondisi belajar

berkelompok

2) Sebagian kelompok belum memahami langkah–langkah

pembelajaran kooperatif tipe STAD secara utuh dan menyeluruh

(27)

a) Guru dengan intensif memberi pengertian kepada siswa kondisi

dalam kelompok, kerja sama kelompok, keikutsertaan siswa

dalam kelompok

b) Guru membantu kelompok yang belum memahami langkah –

langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Pada akhir siklus pertama dari hasil pengamatan guru dan

kolaborasi dengan teman sejawat dapat disimpulkan :

1) Siswa mulai terbiasa dengan kondisi belajar kelompok.

2) Siswa mulai ter biasa dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD. 3) Siswa mampu menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe

STAD memiliki langkah – langkah tertentu.

c. Observasi (Observation)

(28)

Hasil observasi aktivitas guru dalam kegiatan belajar mengajar pada

siklus pertama masih tergolong rendah dengan perolehan skor 27 atau

61,36% sedangkan skor idealnya adalah 44. Hal ini terjadi karena lebih

banyak berdiri didepan kelas dan kurang memberikan pengarahan

kepada siswa bagaimana melakukan pembelajaran secara kooperatif.

2) Hasil evaluasi siklus 1. Penguasaan siswa terhadap materi

pembelajaran.

Selain aktivitas guru dalm PBM, penguasaan siswa terhadap materi

pembelajaran pun masih tergolong kurang. Dari skor ideal 100, skor

perolehan rata – rata hanya mencapai 62 atau 62%.

d. Refleksi (Reflecting)

Adapun keberhasilan dan kegagalan yang terjadi pada siklus pertama

adalah sebagai berikut :

1) Guru belum terbiasa menciptakan suasana pembelajaran yang

mengarah kepada pendekatan pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Hal ini diperoleh dari hasil observasi terhadap aktivitas guru dalam

PBM hanya mencapai 69%.

2) Sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar dengan

menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Mereka merasa

senang dan antusias dalam belajar, hal ini bisa dilihat dari hasil

observasi terhadap aktivitas siswa dalam PBM hanya mencapai

69%.

(29)

4) masih ada kelompok yang belum bisa menyelesaikan tugas dengan

waktu yang ditentukan. Hal ini karena anggota kelompok tersebut

kurang serius dalam belajar. Masih ada kelompok yang kurang

mampu dalam mempresentasikan kegiatan.

Untuk memperbaiki kelemahan dan mempertahankan keberhasilan yang

telah dicapai pada siklus pertama, maka pada pelaksanaan siklus kedua

dapat dibuat perencanaan sebagai berikut :

1) Memberikan motivasi kepada kelompok agar lebih aktif lagi dalam

pembelajaran.

2) Lebih inntensuif membimbing kelompok yang mengalami

kesulitan.

3) memberi pengakuan atau penghargaan (reward)

2. Siklus Kedua (Dua Pertemuan)

Siklus kedua terdiri dari lima tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan,

observasi, pengumpulan data dan refleksi

a. Perencanaan (Planning)

Perencanaan pada siklus ketiga berdasarkan replaning siklus kedua

yaitu :

1) Memberikan motivasi kepada kelmpok agar lebih aktif lagi dalam pembelajaran.

(30)

4) Membuat perangkat pembelajaran pembelajaran kooperatif tipe STAD yang lebih baik lagi.

b. Pelaksanaan (Acting)

1) Suasana pembelajaran sudah lebih sudah mengarah pada

pembelajaran kooperatif tipe STAD. Tugas yang diberikan guru

pada kelompok dengan lembar kerja akademik mampu dikerjakan

dengan lebih baik lagi. Siswa dalam satu kelompok menunjukkan

saling membantu untuk menguasai materi pelajaran yang telah

diberikan melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota

kelompok. Siswa kelihatan lebih antusias mengikuti proses belajar

mengajar.

2) Hampir semua siswa merasa termotivasi untuk bertanya dan

menanggapi suatu presentase dari kelompok lain.

3) Suasana pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan sudah

lebih tercipta.

c. Observasi (Observation)

Hasil observasi selama siklus kedua dapat dilihat seperti dibawah ini.

1) Hasil Observasi aktivitas siswa dalam PBM pada siklus ketiga

dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2

Perolehan skor aktivitas siswa dalam PBM siklus II

Kelompok Skor

Perolehan

Skor Ideal Presentase

( % )

(31)

Melati 14 16 88

Kamboja 15 16 94 Tertinggi

Teratai 13 16 81

Bonsai 12 16 75 Terendah

Rerata 16 85

2) Hasil observasi siklus kedua aktivitas guru dalam PBM mendapat

rata- rata nilai perolehan 40 dari skor ideal 44 atau 91%. Hal ini

berarti menunjukkan adanya peningkatan yang sangat signifikan.

3) Hasil evaluasi siklus kedua pengeuasaan siswa terhadap materi

pembelajaran memiliki nilai rerata 85 atau 85 % dari skor ideal

100. Hal ini menunjukkan penguasaan siswa terhadap materi

pembelajar Tergolong tinggi.

4) Hasil ulangan harian kedua (setelah menggunakan pembelajaran

kooperatif tipe STAD). Mengalami peningkatan yang cukup

berarti yakni 7,60 sedangkan sebelumnya 5,48.

d. Pengumpulan Data

Alat pengumpul data dalam PTK ini meliputi tes, observasi,

wawancara, dan diskusi sebagai berikut :

1) Tes : menggunakan butir soal untuk mengukur hasil belajar siswa

2) Observasi : menggunakan lembar observasi untuk mengukur

tingkat partisipasi siswa daalam proses PBM.

3) Wawancara : menggunakan panduan wawancara untuk

mengetahui pendapat atau sikap siswa dan teman sejawat tentang

pembelajaran tipe STAD.

4) Diskusi : menggunakan lembar hasil pengamatan.

(32)

Adapun keberhasilan yang diperoleh selama siklus ketiga adalah

sebagai berikut :

1) Aktivitas siswa dalam PBM sudah mengarah kepembelajaran

kooperatif secara lebih baik. Siswa mampu membangun kerja

sama dalam kelompok untuk memahami tugas yang diberikan

guru. Siswa mulai mampu berpartisipasi dalam kegiatan dan tepat

waktu dalam melaksanakannya. Siwa mulai mampu

mempresentasikan hasil kerja. Hal ini dapat dilihat dari data hasil

observasi terhadap aktivitas siswa meningkat dari 62% pada

siklus pertama menjadi 85% pada siklus kedua.

2) Meningkatnya aktivitas siswa dalam PBM didukung oleh

meningkatnya aktivitas guru dalam mempertahankan dan

meningkatkan suasana pembelajaran yang mengarah pada

pembelajaran kooperatif tipe STAD. Guru intensif membimbing

siswa, terutama saat siswa mengalami kesulitan dalam PBM dapat

dilihat dari hasil observasi aktivitas guru dalam PBM meningkat

dari 69% pada siklus pertama menjadi 91% pada siklus kedua.

3) Meningkatnya aktivitas siswa dalam melaksanakan evaluasi

terhadap kemapuan siswa menguasai materi pembelajaran. Hal ini

berdasarkan hasil evaluasi 6,20 pada siklus pertama meningkat

menjadi 8,50 pada siklus kedua.

4) Meningkatnya rata-rata nilai ulangan harian dari 5,48 % (ulangan

(33)

STAD dan 7,33 (ulangan harian II) setelah menggunakan

pembelajaran kooperatif tipe STAD.

DAFTAR PUSTAKA

Kunandar. 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: PT Rajawali Pers

Wardani, IGAK, dkk. 2007. Materi Pokok Penelitian Tindakan Kelas: 1-6. Jakarta: Universitas Terbuka

http://PTKPenelitiantindakankelasYeniAndrianiMERANCANGPENELITIANTINDAK

ANKELAS.htm (diakses pada tanggal 25 september 2015)

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/PembimbinganPTK.pdf (diakses pada

(34)

Gambar

Tabel 2

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi

Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan

Alhamdulillah, segala puji syukur dan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang

Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan

Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi

Alhamdulillah,segala puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penyusunan Tugas Akhir ini dapat

Dengan mengucapkan Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penyusunan skripsi yang

Alhamdulillah,segala puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penyusunan Tugas Akhir ini dapat