• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rumusan akad syariah pada perbankan syar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Rumusan akad syariah pada perbankan syar"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

PUSLITBANG HUKUM DAN PERADILAN

BADAN LITBANG DIKLAT KUMDIL

MAHKAMAH AGUNG RI

RUMUSAN AKAD-AKAD SYARI’AH

(2)

RUMUSAN AKAD-

AKAD SYARI’AH

PADA PERBANKAN SYARI’AH,

IMPLEMENTASI

DAN AKIBAT HUKUMNYA

LAPORAN PENELITIAN

Koordinator Peneliti :

Dr. Andi Akram, SH. MH.

PUSLITBANG HUKUM DAN KEADILAN

BADAN LITBANG DIKLAT KUMDIL

(3)
(4)

LAPORAN PENELITIAN

RUMUSAN AKAD-

AKAD SYARI’AH

PADA PERBANKAN SYARI’AH,

IMPLEMENTASI

DAN AKIBAT HUKUMNYA

Koordinator Peneliti :

Dr. Andi Akram, SH. MH.

PUSLITBANG HUKUM DAN PERADILAN

BADAN LITBANG DIKLAT KUMDIL

(5)
(6)

KATA PENGANTAR

Badan Penelitian dan Pengembangan & Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI merupakan satuan kerja yang lahir setelah semua Lembaga Peradilan Yaitu :

1.

Peradilan Umum;

2.

Peradilan Agama;

3.

Peradilan Tata Usaha Negara;

4.

Peradilan Militer;

berada di bawah "satu atap" Mahkamah Agung RI. Salah satu tugas dan tanggung jawab Badan Litbang Diklat Kumdil adalah meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia bagi seluruh aparat Peradilan, baik bagi Tenaga teknis (Hakim, Panitera dan Jurusita) maupun tenaga non Teknis, termasuk Pejabat Struktural.

Dan dalam rangka Pelaksanaan tugas tersebut, Badan Litbang Diklat Kumdil meliput 4 (empat) unit kerja yakni :

1.

Sekretariat Badan;

2.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan

Peradilan;

3.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknis Peradilan;

4.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen dan

Kepemimpinan;

Salah satu unit dari Badan Litbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI adalah Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan adalah Penelitian (Puslitbang).

Berdasarkan DIPA 2014 Pusat Penelitian dan

Pengembangan Hukum dan Peradilan (Puslitbang) telah

melaksanakan berbagai macam kegiatan yang menjadi

tupoksinya. Salah satunya adalah Penelitian "RUMUSAN AKAD-AKAD SYARI’AH PADA PERBANKAN SYARI’AH, IMPLEMENTASI DAN AKIBAT HUKUMNYA" yang

merupakan Penelitian Kepustakaan. Penelitian tersebut

(7)

Untuk itu, kami menyampaikan ucapan terima kasih atas ketulusan dan keikhlasan semua pihak mulai dari

pengumpulan bahan-bahan sampai dengan selesainya

penelitian dan telah menjadi sebuah Buku Laporan Penelitian "RUMUSAN AKAD-AKAD SYARI’AH PADA PERBANKAN SYARI’AH, IMPLEMENTASI DAN AKIBAT HUKUMNYA".

Insya Allah, jerih payah kita semua akan menjadi amal sholeh dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, Amin.

Jakarta, September 2014 KEPALA

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN & PENDIDIKAN DAN PELATIHAN HUKUM DAN PERADILAN

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas segala limpahan nikmat dan karunianya, sehingga Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan melalui DIPA Balitbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI Tahun Anggaran 2014 telah berhasil merealisasikan salah satu tugas pokok dan fungsinya yakni menyelenggarakan kegiatan penelitian.

Kegiatan tersebut diawali dengan F ocus Gr up Discussion

(FGD) untuk mendiskusikan Proposal Penelitian berjudul "RUMUSAN AKAD-AKAD SYARI’AH PADA PERBANKAN SYARI’AH, IMPLEMENTASI DAN AKIBAT HUKUMNYA" kegiatan FGD Proposal tersebut berlangsung di Jakarta. Setelah FGD Proposal, dilanjutkan dengan memulai pelaksanaan kegiatan Penelitian Kepustakaan di Jakarta, melalui kompilasi bahan dan data penelitian, seleksi serta analisis terhadap berbagai data, bahan, referensi kepustakaan, dan putusan-putusan pengadilan yang relevan, serta dilengkapi sejumlah wawancara dengan para narasumber yang kompeten. Terhadap hasil Penelitian tersebut kemudian dilakukan Kegiatan F ocus Gr up Discussion (FGD) untuk membahas dan mendiskusikan Hasil Penelitian dengan tujuan untuk mendapatkan masukan dalam rangka penyempurnaan hasil penelitian.

FGD Proposal Penelitian, maupun FGD Hasil Penelitian telah diikuti oleh para undangan, antara lain meliputi beberapa Hakim Agung, Hakim Tinggi, Hakim Tinggi Pengawasan, Hakim Tinggi yang diperbantukan pada Balitbang Diklat, Hakim

Yusitisial, Hakim Tingkat Pertama, Fungsional Peneliti

(9)

internal Mahkamah Agung beserta segenap jajaran dan hirarkinya, maupun bagi para sta ke holder lainnya.

Buku Laporan Hasil Penelitian ini dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban Kapuslitbang kepada Pimpinan Mahkamah

Agung RI, serta sebagai dokumentasi telah selesainya

pelaksanaan kegiatan tersebut. Semoga kiranya dapat memberikan manfaat sebagaimana mestinya.

KEPALA

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BADAN LITBANG DIKLAT KUMDIL MA-RI

(10)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR KABALITBANG DIKLAT KUMDIL . i

KATA PENGANTAR KAPUSLITBANG KUMDIL ………... iii

DAFTAR ISI ………. v

BAB I PENDAHULUAN ……… 1

A. Latar Belakang Masalah ..……….. 1

B. Perumusan Masalah ….……….. 4

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ………... 4

D. Kerangka Pemikiran ……….. 5

E. Metode Penelitian ……….. 7

F. Sistematika Pembahasan ….……….. 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA FATWA DSN TENTANG AKAD-AKAD PEMBIAYAAN ……. 11

1. Mudharabah …………..………. 11

2. Murabahah ……….. 12

3. Musyarakah ……… 13

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …. 17

A. Penelitian Terhadap 3 Perbankan Syariah ….… 17 1. Bank Syariah Mandiri………... 17

2. Bank BRI Syariah ………. 26

3. Bank BNI Syariah ………..…... 30

B. Akibat Hukum Rumusan Akad Pembiayaan Syariah ……… 41

C. Akibat Hukum dari Akad ………... 44

D. Pernyataan Akad Sebagai Penyebab Timbulnya Akibat Hukum ……… 46

(11)

F. Jaminan Pembiayaan Dalam Pembiayaan

Syariah ……… 55

BAB IV KESIMPULAN ………...……. 61

A. Kesimpulan ….………..………. 61

B. Saran-Saran ………..……….. 61

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keberadaan perbankan syari’ah di Indonesia merupakan perwujudan dari keinginan masyarakat yang membutuhkan suatu sistem perbankan alternatif yang menyediakan jasa perbankan yang memenuhi prinsip syari’ah. Pada Undang-Undang Perbankan yang lama, yaitu Nomor 14 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perbankan tidak dimungkinkan untuk melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syari’ah karena tidak ada pengaturannya. Keberadaan bank syari’ah secara formal dimulai sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3472) walaupun istilah yang dipakai adalah bank yang berdasarkan pada prinsip bagi hasil, yaitu dengan beroperasinya Bank Muamalat Indonesia pada tanggal 1 Mei 1992. Namun, sebelum pendirian Bank Muamalat Indonesia, sebenarnya bank syari’ah pertama kali yang memperoleh izin usaha adalah Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah (BPRS) Berkah Amal Sejahtera dan BPRS Dana Mardhatillah pada tanggal 19 Agustus 1991, serta BPRS Amanah Rabanish pada tanggal 24 Oktober 1991 yang ketiganya beroperasi di Bandung, dan BPRS Hareukat pada tanggal 10 November 1991 di Aceh.1

Dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, belum ada ketentuan yang lebih rinci mengenai bank yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. Keberadaan bank syari’ah baru mendapat pengakuan yang tegas serta memberi peluang yang lebih besar bagi perkembangannya dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992

1 Gemala Dewi, 2004, Aspek-Aspek Hukum dalam Perbankan dan

(13)

tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182), khususnya Pasal 6 huruf M bahwa bank umum atau bank perkreditan syari’ah dapat beroperasi menggunakan prinsip syari’ah atau bank umum konvensional dapat juga menjalankan kegiatan syari’ah disamping kegiatan konvensional. Sistem ini disebut dengan dual banking system, maksud dari Dual Banking System adalah terselenggaranya dua sistem perbankan (konvensional dan syari’ah) secara berdampingan yang pelaksanaannya diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Berdasarkan Pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 94 (selanjutnya disebut

Undang-Undang Perbankan Syari’ah) bahwa bank umum

konvensional yang juga melakukan kegiatan syari’ah disebut dengan Unit Usaha Syari’ah (UUS)2dan bank syari’ah berfungsi juga sebagai lembaga intermediasi (intermediary institution)3

yaitu menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan

kembali dana-dana tersebut kepada masyarakat yang

membutuhkannya dalam bentuk pembiayaan.

Seperti halnya bank konvensional, bank syari’ah berfungsi juga sebagai lembaga intermediasi (Intermediatry Institution), yaitu berfungsi menghimpun dana dari masyarakat

2 Unit Usaha Syari’ah yang selanjutnya disebut UUS adalah unit kerja

dari kantor pusat Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syari’ah, atau unit kerja di kantor cabang dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri yang melaksanakankegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu syari’ahdan/atau unit syari’ah. Berdasarkan Pasal 1 Angka 10 Undang-Undang Perbankan Syari’ah. Mendorong spin of UUS menjadi Bank Umum Syari’ah ketika aset UUS telahmencapai 50% dari induknya atau setelah 15 tahun setelah berlakunya Undang-Undang Perbankan Syari’ah.

3 Istilah Bank Syari’ah dalam Pasal 1 Angka 7 Undang-Undang

(14)

dan menyalurkannya kembali dana-dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkannya dalam bentuk pembiayaan. Keberadaan bank syari’ah ditengah-tengah perbankan konvensional adalah untuk menawarkan sistem perbankan alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan layanan jasa perbankan tanpa harus khawatir atas persoalan bunga.

Dalam manajemen bank syari’ah, tidak banyak berbeda dengan manajemen bank pada umumnya (bank konvensional). Namun, dengan adanya landasan syari’ah serta sesuai dengan peraturan perundang-undangan tentu saja baik organisasi maupun sistem opersional bank syari’ah terdapat perbedaan dengan bank konvensional, terutama dengan adanya Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) dalam struktur organisasi. Pada Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/16/PBI/2008 tentang Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/19/PBI/2007 tentang Pelaksanaan Prinsip Syari’ah Dalam Kegiatan Penghimpunan Dana dan Penyaluran Dana serta Pelayanan Jasa Bank Syari’ah, dan pelaksanaannya dituangkan dalam Surat Edaran Nomor 10/14/DPbs tangal 17 Maret 2008, maka pada dasarnya kegiatan usaha perbankan syari’ah dibagi dalam 3, yaitu:

1. Pelaksanaan prinsip syari’ah dalam kegiatan penyaluran dana (financing).

2. Pelaksanaan prinsip syari’ah dalam kegiatan penghimpunan dana (funding); dan

3. Pelaksanaan prinsip syari’ah dalam kegiatan pelayanan jasa (service)

Berdasarkan peraturan di atas, Bank syariah, atau bank Islam, seperti halnya bank konvensional, juga berpungsi sebagai suatu lembaga intermediasi (Intermediary Institution), yaitu mengerahkan dana dari masyarakat yang membutuhkanya dalam bentuk fasilitas pembiayaan. Dalam merumuskan akad-akad pembiayaan syariah, Bank syariah merumuskan produknya

berdasarkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh DSN.

(15)

Syariah Pada Perbankan Syariah Implementasi Dan Akibat Hukumnya (Studi Akad Pembiayaan Di BSM, BRI Syariah Dan BNI Syariah))

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, Peneliti merumuskan permasalahan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah rumusan akad-akad pembiayaan syariah pada perbankan syari’ah.

2. Apakah kontruksi akad-akad pembiayaan syari’ah pada perbankan syari’ah telah sesuai dengan prinsip-prinsip hukum perjanjian syariah

3. Bagaimana akibat hukum terhadap akad pembiayaan syari’ah yang diberlakukan pada perbankan syari’ah.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan menganalisis rumusan akad-akad syari’ah yang berlaku pada perbankan syari’ah.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis konstruksi akad-akad syari’ah yang berlaku pada perbankan syari’ah menurut hokum perjanjian syariah

3. Untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana akibat hukum terhadap akad syariah yang berlaku pada perbankan syari’ah.

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:

a. Secara teoritis, mengetahui secara komprehensif tentang akad-akad syari’ah yang berlaku pada perbankan syari’ah, memperkuat dan mendukung hasil-hasil penelitian hukum sebelumnya yang berkaitan dengan pelaksanaan akad-akad syariah pada perbankan syariah.

(16)

dan peran serta di dalam menjalakan aktivitas ekonomi syari’ah secara konsekuen.

D. Kerangka Pemikiran

Akad atau kontrak berasal dari bahasa Arab yang berarti ikatan atau simpulan baik yang nampak (hissy) maupun yang tidak nampak (ma’nawy).4 Kamus al-Mawrid, menterjemahkan

al-Aqd sebagai contract and agreement atau kontrak dan perjanjian.5 Sedangkan akad atau kontrak menurut istilah adalah suatu kesepakatan atau komitmen bersama baik lisan, isyarat, maupun tulisan antara dua pihak atau lebih yang memiliki implikasi hukum yang mengikat untuk melaksanakannya.6 Subhi Mahmassaniy 7 mengartikan kontrak sebagai ikatan atau hubungan di antara ijab dan qabul yang memiliki akibat hukum terhadap hal-hal yang dikontrakkan. Ada pula ahli hukum yang mendefinisikan sebagai satu perbuatan yang sengaja dibuat oleh dua orang berdasarkan kesepakatan atau kerelaan bersama.8 Dalam Hukum Islam, istilah kontrak tidak dibedakan dengan perjanjian, keduanya identik dan disebut akad. Sehingga akad didefinisikan sebagai pertemuan ijab yang dinyatakan oleh salah

4 Afzalur Rahman, 1990, Economic Doctrines of Islam, (Lahore:

Islamic Publication dalam Mihammad Syafii Antonio, 2001, Bank Syari’ah dari Teori ke Praktik, Jakarta: Gema Insai Press), hal. 29

5 Ahmad Abu Al-Fath, 1913, Kitab al-Muamalat fi asy-Syari’ah al

-Islamiyyah wa al-Qawanin al-Misriyah, (Mesir: Matba’ah al-Busfur, lihat juga asy-Syaukani, 1964, fath al-Qadir, Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi), hal. 4

6 Muhammad Salam Madkur, 1963, al-Madkhal al-Fiqh al-Islamiy,

(ttp: Daar al-Nahdah al-Arabiyyah), hal. 506

7 Subhiyy Mahmassaniy, 1948, Nazariyyat Ammah li

al-Mujibat wa al-Uqud fi al-Syari’ah al-Islamiyyah, (Mesir: Dar Kitab al-Arabiyy), hal 210

8 Hasbi al-Shiddiqie, 1974, Pengantar Fiqh Muamalah,

(17)

satu pihak dengan kabul dari pihak lain secara sah menurut syarak yang tampak akaibat hukumnya pada objek.9

Akad dalam suatu kontrak perjanjian harus jelas dan diakui syara’. Selain itu, tujuan akad harus terkait pula dengan berbagai bentuk yang dilakukan. Oleh karena itu, apabila tujuan suatu akad berbeda dengan tujuan aslinya, maka akad itu menjadi tidak sah. Menurut para ahli fiqih, tujuan suatu akad harus sejalan dengan kehendak syara’. Atas dasar itu pula seluruh akad yang mempunyai tujuan atau akibat hukum yang tidak sejalan dengan kehendak syara’, hukumnya tidak sah.

Persoalan akad adalah persoalan antar pihak yang sedang menjalankan ikatan. Untuk itu, yang perlu diperhatikan dalam menjalankan akad adalah terpenuhinya hak dan kewajiban masing-masing pihak tanpa ada pihak yang terlanggar haknya. Oleh karena itu, maka penting untuk membuat batasan-batasan yang menjamin tidak terjadinya pelanggaran hak antar pihak yang sedang menjalankan akad tersebut.

Dua fungsi utama dari perbankan adalah pengumpulan dana dan penyaluran dana. Penyaluran dana yang terdapat di bank konvensional dengan yang terdapat di bank syariah mempunyai perbedaan yang esensial, baik dalam hal nama, akad, maupun transaksinya. Dalam perbankan konvensional penyaluran dana ini dikenal dengan nama kredit sedangkan diperbankan syariah adalah pembiayaan.

Dalam arti sempit, pembiayaan dipakai untuk

mendefinisikan pendanaan yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan seperti bank syariah kepada nasabah. Pembiayaan secara luas berarti financing atau pembelanjaan yaitu pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah

9 Syamsul Anwar, 2006, Kontrak Islam, makalah disampaikan pada

(18)

direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun dikerjakan oleh orang lain.10

Menurut M. Syafi’i Antonio menjelaskan bahwa pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank yaitu pemberian fasilitas dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan deficit unit.11

Sedangkan menurut UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan menyatakan:

Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.12

E. Metode Penelitian

Mengacu pada tematik penelitian, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Tema penelitian mengangkat masalah yang berkaitan dengan realita sosial yang banyak dipengaruhi oleh faktor yang sifatnya tidak konstan, namun selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan pengetahuan. Metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku dari orang-orang yang dapat diamati, didukung dengan studi literatur atau studi kepustakaan berdasarkan pada pendalaman kajian pustaka berupa data dan angka sehingga realitas dapat dipahami dengan baik.

Teknik analisis data penulisan penelitian yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif. Digunakan metode deskriptif

10 Muhammad, 2005, Manajemen Bank Syariah, Yogyakarta : UPP

AMP YKPN, hal. 304.

11Antonio, Muhammad Syafi’i, 2001, Bank Syariah dari Teori ke

Praktik, Jakarta : Gema Insani Press, hal. 160

(19)

kualitatif dikarenakan makalah ini bertujuan untuk memperoleh gambaran dari kondisi riil permasalahan serta bagaimana metode penerapan solusinya. Kondisi riil yang ada di lapangan dijadikan rujukan untuk kemudian permasalahan yang ada tersebut, dianalisis dan dicari solusinya

1. Pendekatan Masalah

Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis normatif, yaitu pendekatan yang menggunakan konsep legis positivis yang menyatakan bahwa hukum adalah identik dengan norma-norma tertulis yang dibuat dan diundangkan oleh lembaga-lembaga atau pejabat yang berwenang. Selain itu konsep ini juga memandang hukum sebagai sistem normatif yang bersifat otonom, tertutup dan terlepas dari kehidupan masyarakat.13

2. Spesifikasi Penelitian

Spesifikasi yang digunakan dalam penelitian ini berupa penelitian studi kasus dengan penguraian secara deskriptif analitis tentang rumusan akad pembiayaan syariah pada perbankan syariah di BSM, BRI Syariah dan BNI Syariah serta kaidah kaidah hukum seperti apa yang mesti diperhatikan dan akibat sebagi konsekuensi hukumnya. Adapun yang dimaksud dengan penelitian deskriptif menurut Soerjono Soekanto adalah suatu penelitian yang dimaksud untuk memberikan data seteliti mungkin tentang manusia, keadaan gejala-gejala lainnya.14

Ciri penelitian yang mengunakan tipe deskriptif analitik

sebagaimana dikemukakan Winarno Surachmad, maka

dikemukakan hal-hal sebagai berikut:

a. Memusatkan diri pada analisa masalah-masalah yang ada pada masa sekarang, pada masalah yang aktual.

b. Data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan dan kemudian dianalisa.

13 Ronny Hanitijo Soemitro, Metode Penelitian Hukum dan

jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1988, hal. 11.

(20)

Hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi suatu deskripsi dari fenomena yang ada disertai dengan tambahan ilmiah terhadap fenomena tersebut. Sumber dan Jenis Data Menurut Suharsini Arikunto yang dimaksud dengan sumber data adalah subyek dari mana data diperoleh.15 Dikatakan deskriptif, maksudnya dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh

gambaran secara menyeluruh dan sistimatik mengenai

pembiayaan pada bank syariah. Sedangkan analisis dilakukan terhadap berbagai aspek hukum yang mengatur tentang akad pembiayaan syariah

4. Teknik Pengumpulan Data

Guna mendapatkan deskripsi yang lengkap dari obyek yang diteliti, dipergunakan alat pengumpul data berupa studi dokumen. Studi dokumen sebagai sarana pengumpul data terutama ditujukan kepada dokumen Perbankan Syariah yang berupa buku laporan, pedoman dan surat perjanjian dan termasuk kategori-kategori dokumen-dokumen lain yang ada di 3 Bank Syariah yaitu; BSM, BRI Syariah dan BNI Syariah. Dalam pengumpulan data penelitaan hukum cenderung menggunakan data bersandar pada data primer yang berupa, pengamatan sesaat maupun pengamatan terlibat tetapi juga studi kepustakaan. 5. Teknik Analisa Data.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisa kualitatif yaitu data yang di peroleh disusun secara sistimatis kemudian dianalisa secara kualitatif agar dapat diperoleh kejalasan masalah yang akan dibahas. Hasil penelitian kepustakaan untuk menganalisa data yang diperoleh dilapangan, tujuan analisa ini untuk mendapatkan gambaran secara nyata terhadap rumusan akad pembiayaan Syariah di BSM, BRI Syariah dan BNI Syariah. Dari hasil tersebut kemudian ditarik suatu kesimpulan yang merupakan jawaban atas permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini.

15 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan

(21)

F. Sistematika Pembahasan

Bab I. Pendahuluan yang terdiri dari 6 (enam) Sub Bab yaitu a. Latar belakang, b. Perumusan masalah, c. Tujuan dan kegunaan, d. Kerangka Pemikiran, e. Metode Penelitian dan F. Sistematika Pembahasan

Bab II. Tinjauan Pustaka. Pada bab ini, akan diuraikan tentang teori-teori bank syariah, akad, DSN dan Fatwa-fatwa DSN dalam akad pembiayaan Syariah.

Bab III. Hasil penelitian dan pembahasan, berisi hasil penelitian dan pembahasan yang yang dirangkum dalam 3 (tiga) sub bab yaitu: rumusan akad pembiayaan di Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah dan di BNI Syariah, analisis kontruksi dan subtansi akad pembiayaan menurut hukum perjanjian islam yakni akad murabahah, akad mudharabah dan akad musyarakah dan akibat hukum rumusan akad pembiayaan syari’a yaitu: akibat hukum akad murabahah, akad mudharaba dan akad musyarakah

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

FATWA DSN TENTANG AKAD-AKAD PEMBIAYAAN

1. Mudharabah

Akad Mudharabah merupakan akad yang oleh para ulama telah disepakati akan kehalalannya. Karena itu,akad ini dianggap sebagai tulang punggung praktek perbankan syariah. DSN-MUI telah menerbitkan Fatwa No: 07/DSN-MUI/IV/2000, yang kemudian menjadi pedoman bagi praktek perbankan syariah. Dalam fatwa nomor tersebut disebutkan: “LKS (lembaga Keuangan Syariah) sebagai penyedia dana, menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah kecuali jika mudharib (nasabah) melakukan kesalahan yang disengaja, lalai, atau menyalahi perjanjian.” (Himpunan Fatwa Dewan syariah Nasional MUI hal. 43) Pada fatwa dengan nomor tersebut, DSN menyatakan: Pada ketentuan lainnya, DSN kembali menekankan akan hal ini dengan pernyataan: “Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari

mudharabah, dan pengelola tidak boleh menanggung

kerugian apapun, kecuali diakibatkan dari kesalahan disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan.”16

Tetapi Praktek perbankan syariah di lapangan masih jauh dari apa yang di fatwakan oleh DSN. Andai perbankan syariah benar-benar menerapkan ketentuan ini, niscaya masyarakat berbondong-bondong mengajukan pembiayaan

dengan skema mudharabah. Dalam waktu singkat

pertumbuhan perbankan syariah akan mengungguli

perbankan konvensional. Tetapi fakta tidak semanis teori. Perbankan syariah yang ada belum sungguh-sungguh menerapkan fatwa DSN secara utuh. Sehingga pelaku usaha

16 Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI, (IB-MUI, 2006:

(23)

yang mendapatkan pembiayaan modal dari perbankan syariah, masih diwajibkan mengembalikan modal secara utuh, walaupun ia mengalami kerugian usaha.

2. Murabahah.

Akad Murabahah adalah satu satu produk perbankan syariah yang banyak diminati masyarakat. Karena akad ini menjadi alternatif mudah dan tepat bagi berbagai pembiayaan atau kredit dalam perbankan konvensional yang tentu sarat dengan riba. Kebanyakan ulama dan juga berbagai lembaga fikih nasional atau internasional, membolehkan akad murabahah kontemporer. Lembaga fikih nasional DSN (Dewan Syariah Nasional) di bawah MUI,

juga membolehkan akad murabahah, sebagaimana

dituangkan dalam fatwanya No: 04/DSN-MUI/IV/2000. Fatwa DSN ini, menjadi payung dan pedoman bagi

perbankan syariah dalam menjalankan akad

murabahah. DSN pada fatwanya No: 04/DSN-MUI/IV/200, tentang Murabahah menyatakan: “Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.”17 dalam hal ini bank mana yang benar-benar menerapkan ketentuan ini sehingga barang yang diperjual belikan benar-benar telah dibeli oleh bank. Pada prakteknya, perbankan syariah, hanya melakukan akad murabahah bila nasabah telah terlebih dahulu melakukan pembelian dan pembayaran sebagian nilai barang (bayar uang muka). Tidak ada bank yang berani menuliskan pada laporan keuangannya bahwa ia pernah memiliki aset dan kemudian menjualnya kembali kepada nasabah. Seperti kita mengetahui bahwa perbankan di negeri kita, baik yang berlabel syariah atau tidak,

17 Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI, (IB-MUI, 2006:

(24)

hanyalah berperan sebagai badan intermediasi. Artinya, bank hanya berperan dalam pembiayaan, dan bukan membeli barang, untuk kemudian dijual kembali. Karena secara regulasi dan faktanya, bank tidak dibenarkan untuk melakukan praktek perniagaan praktis. Dengan ketentuan ini, bank tidak mungkin bisa membeli yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri. Hasilnya, bank telah melanggar ketentuan DSN MUI di atas.

3. Musyarakah

Musyarakah adalah akad kerjasama yang terjadi diantara para pemilik modal (mitra musyarakah) untuk menggabungkan modal dan melakukan usaha secara bersama dalam suatu kemitraan, dengan nisbah pembagian hasil sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung secara proporsional sesuai dengan kontribusi modal. Adapun ketentuan dalam musyarakah menurut fatwa di atas adalah sebagai berikut:

Pertama : Beberapa Ketentuan:

1. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad), dengan memperhatikan hal-hal berikut:

a. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad).

b. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak.

c. Akad dituangkan secara tertulis, melalui

korespondensi, atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern.

2. Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum, dan memperhatikan hal-hal berikut:

a. Kompeten dalam memberikan atau diberikan

(25)

b. Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan, dan setiap mitra melaksanakan kerja sebagai wakil. c. Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset syirkah

dalam proses bisnis normal.

d. Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra yang lain untuk mengelola aset dan masing-masing dianggap telah diberi wewenang untuk melakukan aktifitas syirkah dengan memperhatikan kepentingan mitranya, tanpa melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja.

e. Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau menginvestasikan dana untuk kepentingannya sendiri. 3. Obyek akad (modal, kerja, keuntungan dan kerugian)

a. Modal

i. Modal yang diberikan harus uang tunai, emas, perak atau yang nilainya sama.

ii. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan, seperti barang-barang, properti, dan sebagainya. Jika modal berbentuk aset, harus terlebih dahulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra. iii. Para pihak tidak boleh meminjam, meminjamkan,

menyumbangkan atau menghadiahkan modal syirkah kepada pihak lain, kecuali atas dasar kesepakatan.

iv. Pada prinsipnya, dalam pembiayaan syirkah tidak ada jaminan, namun untuk menghindari terjadinya penyimpangan, LKS dapat meminta jaminan. b. Kerja

(26)

ii. Setiap mitra melaksanakan kerja dalam syirkah atas nama pribadi dan wakil dari mitranya. Kedudukan masing-masing dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak.

c. Keuntungan

i. Keuntungan harus dikuantifikasi dengan jelas untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu alokasi keuntungan atau penghentian syirkah.

ii. Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra.

iii. Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu, kelebihan atau prosentase itu diberikan kepadanya.

iv. Sistem pembagian keuntungan harus tertuang dengan jelas dalam akad.

d. Kerugian

Kerugian harus dibagi di antara para mitra secara proporsional menurut saham masing-masing dalam modal.

4. Biaya Operasional dan Persengketaan

a. Biaya operasional dibebankan pada modal bersama. b. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya

atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.18

18 Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI, (IB-MUI, 2006:

(27)
(28)

BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Penelitian Terhadap 3 Perbankan Syariah

Hasil Penelitian terhadap 3 Bank Pemerintah, yakni Bank Syariah mandiri (BSM), BRISyariah dan BNI Syariah.

1. Bank Mandiri Syariah

Adapun produk-produk BSM antara lain: a. Commercial Banking

Produk dan layanan perbankan yang masuk kategori

comercial banking, yaitu sebagai berikut:19

1)

Bank Garansi,

2)

Kredit Agunan Tunai

3)

CashManagement.

4)

Foreign Exchange Line.

5)

Deposito On Call Mandiri.

6)

Giro dengan sistem bunga harian yang progresif dan kompetitif.

7)

Deposito Berjangka yaitu deposito dengan suku bunga yang kompetitp dan tersedia berbagai pilihan jangka waktu yang dapat ditentukan sesuai dengan kebutuhan nasabah, yaitu: 1, 3, 6, 12, atau 24 bulan.

8)

Kredit Investasi.

9)

Kredit Modal Kerja.

10)

L/C Impor, yaitu letter of credit yang dibuka oleh Bank Mandiri atas permintaan nasabah/importir dalam rangka memasukkan barang dari luar negeri ke dalam wilayah Indonesia.

11)

Negosiasi Wesel Ekspor.

19“Commercial Banking,”

(29)

b. Consumer Banking

Sedangkan produk dan layanan bank yang masuk kategori consumer banking, yaitu:20

1)

Tabungan Mandiri dengan setoran awal minimal Rp. 500.000,-.

2)

Tabungan Rencana Mandiri, yaitu tabungan dengan setoran wajib bulanan (mulai Rp.200.000,- atau kelipatan

Rp.100.000,-) yang memberikan anda ekstra

perlindungan Asuransi.

3)

Tabungan Haji Mandiri.

4)

Reksa Dana.

5)

Mandiri Investasi Sejahtera.

6)

Mandiri Siswa Sejahtera.

7)

Graha Mandiri.

8)

Inkaso Rupiah.

9)

Payment Point.

10)

Payroll Package.

c. Rumusan Akad Pembiayaan di BSM (Bank Syariah Mandiri)

Bank Syariah Mandiri dalam melaksanakan kegiatan usahanya mempunyai suatu prinsip dasar yang digunakan untuk mendasari setiap kegiatan yang akan dilakukannya. Prinsip dasar yang digunakan Bank Syariah Mandiri dalam

menjalankan kegiatan usahanya adalah113: a) Prinsip Keadilan

b) Prinsip Kemitraan c) Prinsip Keterbukaan d) Prinsip Universalitas

20“Consumer Banking,” http://www.bankmandiri.co.id/article/index_

(30)

Jenis pembiayaan atau yang disebut dengan financing yang ditawarkan oleh Bank Syariah Mandiri adalah sebagai

berikut114:

a. “BSM Pembiayaan Mudharabah

Pembiayaan dimana seluruh dari modal usaha/kerja yang dibutuhkan nasabah ditanggung oleh bank. Skim pembiayaan jenis ini, bank bertindak sebagai shahibul maal dan pengelola usaha disebut bertindak sebagai mudharib

(pengelola dan).115 Fasilitas ini dapat diberikan pada jangka waktu tertentu, sedangkan bagi hasil dibagi secara periodik dengan nisbah yang disepakati. Setelah jatuh tempo nasabah mengembalikan jumlah dana tersebut beserta porsi bagi hasil yang menjadi bagian bank.

b. BSM Pembiayaan Musyarakah

Pembiayaan yang khusus untuk modal usaha/kerja, dimana dana dari bank merupakan bagian dari saham/modal usaha/kerja nasabah. Musyarakah merupakan akad antara dua orang atau lebih dengan menyetorkan modal dan dengan keuntungan dibagi sesama mereka menurut

porsi/nisbah yang disepakati.116 Musyarakah lebih dikenal dengan sebutan syarikat merupakan gabungan pemegang saham/modal untuk membiayai suatu proyek, keuntungan dari proyek tersebut dibagi menurut persentase yang disetujui dan seandainya proyek tersebut mengalami kerugian maka beban kerugian tersebut ditanggung

bersama oleh pemegang saham/modal secara

proporsional.117

c. BSM Pembiayaan Murabahah

(31)

d. BSM Pembiayaan Talangan Haji e. BSM Pembiayaan Istishna

Pembiayaan pengadaan barang dengan skim istishna

adalah pembiayaan jangka pendek, menengah, dan panjang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengadaan barang (obyek istishna) dimana masa angsuran melebihi masa periode pengadaan barang (goods in process financing) dan bank mengakui pendapatan yang menjadi haknya pada periode angsuran, baik pada saat pengadaan berdasarkan persentase penyerahan barang maupun setelah barang selesai dikerjakan.

f. Pembiayaan dengan skim IMBT (Ijarah Muntahiyah Bittamliik)

Pembiayaan Ijarah Muntahiyah Bittamliik adalah fasilitas pembiayaan dengan skim sewa atas suatu objek sewa antara Bank dan Nasabah dalam periode yang ditentukan yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan nasabah.

g. Pembiayaan Mudharabah Muqayyadah off Balance Sheet

Pembiayaan Mudharabah Muqayyadah off Balance Sheet

adalah penyaluran dana mudharabah muqayyadah di mana Bank bertindak sebagai agen (channelling agent), sehingga bank tidak menanggung resiko.

h. BSM Consumer Network Financing

i. BSM Pembiayaan Resi Gudang

j. BSM Pembiayaan Edukasi

Pembiayaan jangka pendek dan menengah yang digunakan

untuk memenuhi kebutuhan uang masuk

sekolah/perguruan tinggi/lembaga pendidikan lainnya atau

uang pendidikan pada saat pendaftaran tahun

ajaran/semester baru berikutnya dengan akad ijarah.

k. PKPA

(32)

para anggotanya (kolektif) yang mengajukan pembiayaan kepada koperasi karyawaan.

l. BSM Implan

Pembiayaan konsumer dalam valuta rupiah yang diberikan oleh bank kepada karyawan tetap perusahaan /anggota kopkar yang pengajuannya dilakukan secara massal (kolektif). BSM Implan dapat mengakomodir kebutuhan pembiayaan bagi para karyawan perusahaan, misalnya dalam hal perusahaan tersebut tidak memiliki koperasi karyawan, koperasi karyawan belum berpengalaman dalam kegiatan simpan pinjam atau perusahaan dengan jumlah karyawan terbatas. BSM Implan digunakan untuk

pembelian barang konsumer (halal) dan

pembelian/memperoleh atas manfaat jasa (contoh: untuk biaya pendidikan). Manfaat BSM Implan yaitu :

1) Bagi Perusahaan :

a) Salah satu bentuk dari penghargaan kepada karyawan b) Outsourcing sumber sumber dana dan administrasi

pinjaman

2) Bagi Karyawan: Kesempatan dan kemudahan

memperoleh fasilitas pembiayaan. Akad pembiayaan yang digunakan untuk pembelian barang yaitu akad

Wakalah wal Murabahah sedangkan untuk memperoleh manfaat atas jasa digunakan akad Walkalah wal Ijarah. m.Pembiayaan Dana Berputar

n. BSM Pembiayaan Pemilikan Rumah

Pembiayaan Griya BSM adalah pembiayaan jangka pendek, menengah atau panjang untuk membiayai pembelian rumah tinggal baik barumaupun bekas di lingkungan developer maupun non developer dengan sistem murabahah.

o. BSM Optima Pembiayaan Pemilikan Rumah

(33)

pada waktu tertentu sepanjang coverage atas agunannya masih dapat meng-cover total pembiayaannya dan dengan memperhitungkan kecukupan debt to service ratio

nasabah.

p. Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) Bersubsidi

Pembiayaan untuk pemilikan/pembelian rumah sederhana sehat (RSSehat) yang dibangun oleh pengembang dengan dukungan subsidi uang muka dari pemerintah yang ditujukan kepada golongan berpendapatan tetap.

q. Pembiayaan Umrah

Pembiayaan jangka pendek yang digunakan untuk memfasilitasi kebutuhan biaya perjalanan umrah, seperti untuk tiket, akomodasi, dan persiapan biaya umrah lainnya dengan akad ijarah.

r. BSM Pembiayaan Griya DP 0%

Pembiayaan Griya BSM tanpa dipersyaratkan adanya uang muka bagi nasabah dimana nilai pembiayaan adalah sebesar 100% dari harga transaksi rumah.

s. BSM Sistem Pembayaran Off Line

Sistem pembayaran BSM secara off line yang dapat digunakan oleh institusi yang memiliki pelanggan yang banyak untuk melakukan pembayaran dari pelanggan institusi di seluruh konter BSM.

t. Pembiayaan Dengan Agunan Investasi Terikat Syariah Mandiri

u. Pembiayaan Kepada Pensiunan v. Pembiayaan Peralatan Kedokteran

Dari produk pembiayaan BSM di atas dalam merumuskan akadnya tidak lepas dari fatwa-fatwa DSN dalam pembiayaan di antaranya:

1. Pembiayaan Mudharabah. Adalah Bank menyediakan pembiayaan modal investasi atau modal kerja secara penuh (trusty financing),sedangkan nasabah menyediakan proyek

atau usaha lengkap dengan manajemennya.Hasil

(34)

atau ditanggung bersama antara bank dan nasabah dengan ketentuan sesuai kesepakatan bersama. Adapun rukun dan syaratnya adalah sebagai berikut:

Rukun Mudharabah:

a. Ada shahibul maal (modal/nasabah) b. Adanya mudharib (pengusaha/bank) c. Adanya amal (usaha/pekerjaan)

d. Adanya hasil (bagi hasil/keuntungan) dan e. Adanya aqad (ijab-qabul)

2. Pembiayaan Musyarakah adalah pembiayaan sebagian dari modal usaha,yang mana pihak bank dapat dilibatkan dalam proses manajemennya.modal yang disetor dapat berupa uang, barang perdagangan (trading asset), property, equipment atau intangible asset (seperti hak paten dan goodwiil) dan barang-barang lainnya yang dapat dinilai dengan uang.

3. Pembiayaan Murabahah dalam istilah fiqh ialah akad jual beli atas barang tertentu.dalam transaksi jual beli tersebut,penjual menyebutkan dengan jelas barang yang diperjual belikan termaksud harga pembelian dan keuntungan yang diambil . Murabahah dalam teknis perbankan adalah akad jual beli antara bank selaku penyedia bank dengan nasabah yang memesan untuk membeli barang. Adapun rukun dan syaratnya sebagai berikut:

Rukun Murabahah: a. Penjual

b. Pembeli

c. Barang yang diperjual-belikan d. Harga dan

e. Ijab-qabul

(35)

cara pembayaran, dimana pada pembiayaan murabahah pembayaran ditunaikan setelah berlangsungnya akad kredit, sedangkan pada pembiayaan Al-Bai’ Bithaman Ajil cicilan baru dilakukan setelah nasabah penerima barang mampu memperlihatkan hasil usahanya.

5. Pembiayaan Salam diaplikasikan dalam bentuk

pembiayaan jangka pendek untuk produksi agrobisnis atau industri jenis lainnya.

6. Pembiayaan Isthina’ diaplikasikan dalam bentuk pembiayaan manufaktur, industri kecil-menengah dan konstruksi dalam pelaksanaannya pembiayaan isthina dapat dilakukan dengan dua cara, yakni pihak produsen ditentukan oleh bank atau pihak produsen ditentukan oleh nasabah.pelaksanaan salah satu dari kedua cara tersebut harus ditentukan dimuka dalam akad berdasarkan kedua belah pihak.

7. Pembiayaan sewa beli (ijarah wa iqtina atau ijarah muntahiyyah bi tamlik) adalah akad sewa suatu barang antara bank dengan nasabah, dimana nasabah diberi kesempatan untuk membeli obyek sewa pada akhir akad atau dalam dunia usaha dikenal dengan finance lease Harga sewa dan harga beli ditetapkan bersama diawal perjanjian. Dalam pembiayaan ini yang menjadi obyek sewa diisyaratkan harus barang yang bermanfaat dan dibenarkan oleh syariat dan nilai dari manfaat dapat diperhitungkan atau diukur.pembiayaan sewa beli ini dapat dilakukan

dengan cara: pertama lembaga pembiayaan atau

perusahaan leasing yang berdasarkan syariah Islam membeli aset yang akan dibeli oleh nasabah, setelah terbeli maka, lembaga tersebut menyewakan aset itu dalam jangka waktu dan harga yang ditentukan dalam perjanjian kedua belah pihak.

8. Hiwalah

(36)

modal tunai agar melanjutkan produksinya, dalam hal ini Bank akan mendapatkan imbalan (fee) atas jasa pemindahan piutang. Besarnya imbalan yang akan diterima Bank ditetapkan berdasarkan hasil kesepakatan antar Bank dengan nasabah.

9. Rahn

Produk perbankan ini disediakan untuk membantu nasabah dalam pembiyaan kegiatan multiguna. Rahn sebagai produk pinjaman berarti Bank hanya memperoleh imbalan atas penyimpanan, pemeliharaan, asuransi dan administrasi barang yang digadaikan. berkenaan dengan hal tersbut maka, produk Rahn hanya digunakan bagi keperluan Sosial seperti pendidikan dan kesehatan.

10. Pembiayaan Ijarah

Al-Ijarah berasal dari kata al-ajru yang berarti al’iwadhu atau berarti ganti. Dalam Bahasa Arab, Al-Ijarah diartikan sebagai suatu jenis akad untuk mengambil manfaat dengan jalan penggantian sejumlah uang. Definisi mengenai prinsip Ijarah juga telah diatuir dalam hukum positif Indonesia yakni dalam Pasal 1 ayat 10 Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/46/PBI/2005 yang mengartikan prinsip ijarah sebagai “ transaksi sewa – menyewa atas suatu barang dan atau upah – mengupah atas suatu usaha jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau imbalan jasa.”

(37)

transaksinya adalah jasa, baik manfaat atas barang maupun manfaat atas tenaga kerja. Jika dengan pembiayaan murabahah, Bank syariah hanya dapat melayani kebutuhan nasabah untuk memiliki barang, sedangkan nasabah yang membutuhkan jasa tidak dapat dilayani. Dengan skim Ijarah, bank syariah dapat pula melayani nasabah yang hanya membutuhkan jasa.

2. Bank BRI Syariah

A.Adapun produk-produk BRISyariah adalah sebagai berikut : 1. Tabungan BRISyariah iB

2. Tabungan Haji BRISyariah iB 3. Giro BRISyariah iB

4. Deposito BRISyariah iB

5. Pembiayaan Pengurusan Ibadah Haji BRISyariah iB 6. Gadai BRISyariah iB

7. KKB BRISyariah iB 8. KPR BRISyariah iB

Merupakan Pembiayaan Kepemilikan Rumah kepada perorangan untuk memenuhi sebagian atau keseluruhan kebutuhan akan hunian dengan mengunakan prinsip jual beli (Murabahah) dimana pembayarannya secara angsuran dengan jumlah angsuran yang telah ditetapkan di muka dan dibayar setiap bulan.

Manfaat produk ini yaitu Skim pembiayaan adalah jual beli (MURABAHAH), adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh Bank dan Nasabah (fixed margin), Uang muka ringan, Jangka waktu maksimal 15 tahun, Cicilan tetap dan meringankan selama jangka waktu, serta Cicilan tetap dan meringankan selama jangka waktu. Tujuan dari produk ini adalah

a) Pembelian Property

b) Pembangunan/Renovasi Rumah

(38)

B. Rumusan Akad Pembiayaan di BRI Syariah

Akad-akad pembiayaan di BRI Syariah sama halnya dengan BSM menggunakan akad yang difatwakan oleh DSN yakni Murabahah, Mudharabah, Musyarakah dan Ijarah. Dalam wibsite BRI Syariah diungkapkan, Mudharabah adalah kerja sama antara pemilik modal dengan pengelola modal, dimana modal disediakan 100% oleh pemilik modal sedangkan pengelola hanya sebagai pengelola modal tersebut dan bagi hasilnya sesuai dengan porsi yang telah disepakati. Mudharabah pada dasarnya terbagi atas dua kateori, yaitu Mudharabah Mutlaqah dan Mudharabah Muqayyadah. Mudharabah Mutlaqah adalah dimana pemilik modal memberikan kebebasan kepada pengelola dalam menjalan bidang usaha, waktu dan tempat usaha. Sedangkan

Mudharabah Muqayyadah adalah pemilik modal

memberikan batasan-batasan tertentu kepada pengelola dalam menjalan usaha atau dapat dikatakan bahwa pengelola modal menjalankan usaha sesuai keinginan pemilik modal. Dan dalam perbankan syariah, mudharabah ini digunakan pada produk penghimpunan dana dan penyaluran dana.

Produk Penghimpuanan Dana : Contoh penggunaan akad mudharabah pada BRI Syariah :

1. Tabungan Haji BRISyariah iB yaitu fasilitas yang disediakan oleh BRISyariah dalam mengelola dana haji dengan akad mudharabah dan bagi hasil diberikan secara kompetitif, bank memetapkan bahwa akad yang digunakan mudharabah mutlaqah.

2. Tabungan Impian Syariah iB berjangka dari BRISyariah dengan prinsip bagi hasil yang dirancang untuk mewujudkan impian Anda dengan terencana.

3. Deposito BRiSyariah iB adalah Deposito BRISyariah iB adalah produk investasi berjangka kepada Deposan dalam mata uang tertentu.Produk ini jua mengunakan akad Mudharabah Mutlaqah.

(39)

1. Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa.

2. Investasi Khusus, atau disebut juga Mudharabah Muqayyadah, dimana sumber dan khusus dengan penyaluran yang khusus dengan syarat-syarat yang telah diterapkan oleh shahibul mal. Sistem Mudharabah ini adalah sistem yang bebas dari bunga (interest) yang diharamkan. Sehingga aman dan tidak diharamkan dalam syariat.

3. Produk jual-beli dengan akad murabahah

4. Produk sewa-beli dengan akah al-ijarah muntahiya bittamlik.

Khusus mengenai akad murabahah sebagai fokus kajian penelitian ini, BRI Syariah menerapkannya dengan rumusan fatwa DSN tentang murabahah. Tujuan murabahah sendiri untuk membantu kebutuhan ekonomi nasabah. Berikut beberapa rukun dan syarat jual beli murabahah yang dirumuskan oleh BRI Syariah dalam tabel dibawah ini:

RUKUN JUAL-BELI MURABAHAH

SYARAT JUAL BELI MURABAHAH 1. Penjual (Baa’i)

2. Pembeli (Mustari) 3. Barang yang

dijual-belikan (Maabi’) 4. Harga barang (Tsaman) 5. Pernyataan serah terima

(Ijab-Qabul)

1.Pihak yang berakal, (Baa’i dan Mustari’), cakap hukum dan tidak dalam paksaan.

2.Barang yang diperjual-belikan (Maabi’) tidak masuk barang yang haram dan jenis dan jumlahnya jelas. 3.Harga barang (Tsaman)

(40)

cara pembayarannya disebutkan secara jelas. 4.Pernyataan serah terima

(ijab-qabul) harus jelas dengan menyebutkan secara spesifik pihak-pihak yang berakad.

Sebagai contoh penerapan akad murabahah di BRI syariah KKB BRISYARIAH iB. Pembiayaan kepemilikan mobil dari BRISyariah kepada nasabah perorangan untuk memenuhi kebutuhan akan kendaraan dengan menggunakan prinsip jual beli (murabahah) dimana pembayarannya secara angsuran dengan jumlah angsuran yang telah ditetapkan di muka dan dibayar setiap bulan.

Produk pembiayaan KPR BRISyariah iB menggunakan prinsip jual beli (murabahah) dengan akad murabahah bil wakalah.

 Akad wakalah. Adalah akad pelimpahan kekuasaan oleh Bank BRISyariah kepada nasabah, dalam hal ini Bank BRISyariah mewakilkan kepada nasabah untuk membeli monil dari penjual mobil/dealer.

 Akad murabahah. Adalah akad transaksi jual beli mobil sebesar harga perolehan mobil ditambah dengan margin yang disepakati oleh para pihak, dimana Bank BRISyariah menginformasikan terlebih dahulu harga perolehan kepada pembeli.

Tujuan pembiayaan KKB BRI Syariah :  Pembelian mobil baru

 Pembelian mobil bekas

 Take over/pengalihan pembiayaan KKB dari lembaga pembiayaan lain

(41)

 Skim pembiayaan adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh bank dan nasabah (fixed margin)  Uang muka ringan, mulai 20%

 Jangka waktu maksimal 5 tahun

3. Bank BNI Syariah

C.2. Rumusan Akad Pembiayaan di BNI Syariah 1. Murabahah

Pembiyaan Murabahah memakai prinsip jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati, dengan pihak bank selaku penjual dan nasabah selaku pembeli. Karakteristiknya adalah penjual harus memberitahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya Pembayaran dapat dilakukan secara angsuran sesuai dengan kesepakatan bersama.

Pembiayaan ini cocok untuk Anda yang membutuhkan tambahan asset namun kekurangan dana untuk melunasinya secara sekaligus.

(42)

2. Kontrak pertama harus sah. 3. Kontrak harus bebas dari riba.

4. Bank Islam harus menjelaskan setiap cacat yang terjadi sesudah pembelian dan harus membuka semua hal yang berhubungan dengan cacat.

5. Bank Islam harus membuka semua ukuran yang berlaku bagi harga pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara hutang.

6. Jika syarat dalam 1, 4 atau 5 tidak dipenuhi, pembeli memiliki pilihan:

a. melanjutkan pembelian seperti apa adanya.

b. kembali kepada penjual dan menyatakan

ketidaksetujuan. c. membatalkan kontrak.

Dalam sistem flat, marjin dihitung berdasarkan plafon awal, yaitu prosentase keuntungan dikali nominal pencairan di awal. Pola angsuran yang menjadi kewajiban nasabah (marjin + pokok) besarnya sama setiap bulannya. Sedangkan pada metode annuitas, pola yang digunakan untuk menghitung marjin didasarkan pada outstanding (sisa pokok yang belum terbayarkan) bulan sebelumnya. Dalam pendekatan ini, pola angsuran yang dibentuk adalah porsi marjin lebih besar di awal periode dan porsi pokok akan lebih besar di akhir periode. Karena semakin banyak pokok yang terbayarkan maka akan semakin kecil pula porsi marjin pada bulan berjalan.

(43)

menggunakan sistem annuitas, sedangkan sistem flat digunakan oleh bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS).

Pertimbangan BUS/UUS menggunakan sistem annuitas adalah karena tingkat bagi hasil nasabah deposito/tabungan juga menggunakan sistem annuitas. Jadi expected rate of return itu dinilai berdasarkan nominal pokok yang disimpan di bank syariah. Selain itu, keberadaan sistem annuitas akan menjaga mekanisme pengelolaan aset dan kewajiban bank syariah. Sementara sistem flat, meski itu sangat bagus, akan menyebabkan para deposan menderita di awal, karena tidak sesuai dengan perkiraan return yang akan didapatnya. Juga sistem flat cenderung membuat break even point menjadi lebih lama.

2. Musyarakah

Pembiayaan syariah ditujukan untuk memenuhi

kebutuhan usaha Anda sesuai dengan prinsip syariah, yakni bagi hasil, jual beli dan sewa beli yang terbebas dari penetapan bunga. Dengan prinsip syariah Anda akan mendapatkan pembiayaan yang adil. Prinsip kami, kemajuan usaha Anda adalah juga kemajuan BNI Syariah.

Manfaatkan fasilitas pembiayaan dari BNI Syariah, dengan persyaratan yang mudah dan fleksibel. Segera hubungi Cabang BNI Syariah terdekat.

Tujuan Pembiayaan:

11.Pembiayaan konsumtif, untuk memenuhi kebutuhan Anda akan barang-barang konsumtif: kendaraan, rumah tinggal, furniture, dll.

12.Pembiayaan produktif, untuk membantu perusahaan Anda dalam memperoleh modal kerja dan barang modal. Manfaat :

1. Rasa tentram, karena dengan pembiayaan syariah terhindar dari transaksi yang ribawi.

(44)

3. Rasa tenang, karena tidak ada beban bunga yang ditetapkan di depan

Aplikasi Dalam Perbankan 1. Pembiayaan Proyek.

Musyarakah biasanya diaplikasikan untuk pembiayaan proyek dimana nasabah dan bank sama-sama menyediakan dana untuk membiayai proyek tersebut. Seteleh proyek itu selesai nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati untuk bank.

2. Modal Ventura

Pada bank-bank yang dibolehkan investasi dalam kepemilikan perusahaan, musyarakah diterapkan dalam skema modal ventura . Penanaman modal dilakukan untuk jangka waktu tertentu, dan setelah itu bank melakukan divestasi baik secara singkat maupun bertahap.

Skema Pembiayaan Musyarakah

© Copyright 2003 - 2004 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk

13.Mudharabah

(45)

menyediakan dana 100%. Sedangkan pihak nasabah, bertindak selaku pengelola (mudharib), dengan keuntungan dibagi menurut kesepakatan dimuka dan apabila rugi ditanggung oleh sahibul maal. Pembiayaan ini dapat disalurkan untuk berbagai jenis usaha yakni perdagangan, perindustrian dan pertanian serta jasa

Skema pembiayaan mudharabah :

Dalam penelitian ini penulis hanya menganalisis bagaimana konstruksi akad pembiayaan murabahah di 3 Bank Syariah (BSM, BRI Syariah dan BNI Syariah)

Menurut Hukum Perjanjian Islam sebagai contoh

perbandingan. Dari pembacaan surat perjanjian atau akad murabahah dari ketiga Bank Syariah tersebut dapat diketahui:

Pertama, Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syari’ah: Bank dan nasabah harus melakukan akad

murabahah yang mana bebas riba; Barang yang

(46)

menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang; Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang pada nasabah berikut biaya yang diperlukan; Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang

telah disepakati; Untuk mencegah terjadinya

penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah; Jika bank hendak untuk mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual-beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik bank.

(47)

muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.

Ketiga, Jaminan di dalam Murabahah: Jaminan dalam murabahah dibolehkan, agar nasabah serius dengan

pesanannya; Bank dapat meminta nasabah untuk

menyediakan jaminan yang dapat dipegang.

Keempat, Utang dalam Murabahah: 1. Secara prinsip, penyelesaian utang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. Jika

nasabah menjual kembali barang tersebut dengan

keuntungan atau kerugian, ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan utangnya kepada bank; 2. Jikalau nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya; 3. Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah tetap harus menyelesaikan utangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidaklah boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan.

Kelima, Penundaan untuk Pembayaran dalam Murabahah: Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian utangnya; Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja, atau jika salah

satu pihak tidak menunaikan kewajibannya, maka

penyelesaiannya akan dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

(48)

Berdasarkan penjelasan Peraturan Bank Indonesia No. 7/46/PBI/2005 tentang Akad Penghimpunan dan Penyaluran Dana Bagi Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah bahwa dalam akad ada ketentuan persyaratan minimum akad tersebut disusun berpedoman kepada fatwa yang mana diterbitkan oleh instansi Dewan Syariah Nasional dengan memberikan penjelasan lebih rinci aspek teknis perbankan guna menyediakan landasan hukum yang cukup memadai bagi para pihak yang berkepentingan. Sebagaimana telah ditegaskan pada Pasal Pasal 26 UU Perbankan Syariah, bahwa: 1. Kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, Pasal 20, dan Pasal 21 dan/atau produk dan jasa syariah, wajib tunduk kepada Prinsip Syariah; 2. Prinsip Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat 1 difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia; 3. Fatwa sebagaimana yang dimaksud pada ayat 2 dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia; 4. Dalam rangka penyusunan Peraturan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat 3, Bank Indonesia membentuk komite perbankan syariah; 5. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dari pembentukan, keanggotaan, dan tugas komite perbankan syariah sebagaimana dimaksud pada ayat 4 diatur dengan Peraturan BI.

Oleh karena itu, akad baku di bank syariah harus memenuhi persyaratan minimum sebagaimana diatur pada Peraturan Bank Indonesia No. 7/46/PBI/2005 tentang Akad Penghimpunan dan Penyaluran Dana Bagi Bank yang mana Melaksanakan Kegiatan UsahaBerdasarkan Prinsip Syariah

(49)

dan juga Penyaluran Dana bagi Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah, mengatur:

Pertama, Kegiatan penyaluran dana di dalam bentuk

pembiayaan berdasarkan akad Murabahah berlaku

persyaratan paling kurang sebagai berikut: Bank menyediakan dana pembiayaan berdasarkan perjanjian jual-beli barang; jangka waktu pembayaran harga barang oleh nasabah kepada bank ditentukan berdasarkan kesepakatan bank dan juga nasabah; Bank dapat membiayai sebagian atau juga seluruh harga pembelian barang yang mana telah disepakati kualifikasinya; dalam hal bank mewakilkan kepada nasabah (wakalah) untuk membeli barang, maka akad Murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank; Bank dapat meminta nasabah

untuk membayar uang muka atau urbun saat

menandatangani kesepakatan awal pemesanan barang oleh nasabah; Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan agunan tambahan selain barang yang dibiayai bank; kesepakatan marjin harus ditentukan satu kali pada awal akad dan tidak berubah selama periode akad; Angsuran pembiayaan selama periode akad harus dilakukan secara proporsional.

(50)

ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut, dan jika

urbun tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.

Dalam pembiayaan Murabahah bank dapatlah

memberikan suatu potongan dari total kewajiban

pembayaran hanya pada nasabah yang mana telah melakukan kewajiban pembayaran cicilannya dengan tepat waktu dan/atau nasabah yang mana mengalami penurunan

kemampuan pembayaran. Besar potongan Murabahah

kepada nasabah tidak boleh diperjanjikan dalam akad dan diserahkan kepada kebijakan bank (Pasal 10 UU Perbankan Syariah).

Ketentuan dari Fatwa Dewan Syariah Nasional tentang murabahah itu dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia khususnya pada Pasal 9 dan Pasal 10, sehingga akad baku yang dibuat oleh bank syariah minimal haruslah memuat syarat-syarat minimum sebagaimana ditentukan dalam fatwa DSN-MUI yang telah dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia. Beberapa contoh klausul akan akad murabahah dari beberapa bank syariah:

Pertama, Pokok Perjanjian: Bank berjanji dan mengikat diri untuk menjual barang yang dipesan oleh nasabah dan menyerahkannya kepada nasabah, dan nasabah dengan ini berjanji dan mengikat diri untuk membeli dan menerima barang serta membayar harganya kepada bank.

Kedua, Barang: yang dipesan oleh pihak nasabah dengan spesifikasi sebagaimana diuraikan dalam suatu lampiran dan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari Akad yang diadakan oleh bank untuk dijual kepada nasabah.

(51)

Harga jual bank tidak termasuk biaya-biaya yang timbul sehubungan dengan pembuatan akad ini, seperti biaya notaris, meterai dan lain-lain sejenisnya, yang mana oleh para pihak telah disepakati dibebankan sepenuhnya kepada nasabah.

Keempat, Penyerahan Barang: 1. Berdasarkan syarat-syarat pembelian antara bank dan pemasok, maka atas persetujuan dan juga sepengetahuan bank, penyerahan barang akan dilakukan langsung oleh pemasok kepada nasabah; 2. Apabila pelaksanaan teknis pembelian barang oleh bank dari pemasok dilakukan oleh nasabah untuk dan atas nama bank berdasarkan kuasa dari bank, maka kuasa harus dibuat secara tertulis sesuai dengan ketentuan Pasal 1795 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata; 3. Pemberian kuasa tidak mengakibatkan nasabah dapat menuntut bank untuk membatalkan akad ini atau menuntut ganti rugi jika nasabah mengetahui barang itu bukan milik bank sebagaimana dimaksud Pasal 1471 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Kelima, Agunan: 1. Untuk dapat lebih menjamin pembayaran kembali utang murabahah dengan tertib dan secara sebagaimana mestinya oleh nasabah pada bank, maka nasabah dan/atau penjamin menjaminkan barang kepada bank berupa Pengikatan barang jaminan tersebut sebagai agunan akan dibuat dalam suatu akta/akad tersendiri sesuai dengan ketentuan yang berlaku; 2. Apabila menurut pendapat bank nilai dari agunan tidak lagi cukup untuk menjamin utang murabahah nasabah pada bank, maka atas permintaan pertama dari bank, nasabah wajib menambah agunan lainnya yang disetujui bank.

(52)

keterlambatan yang diterima oleh bank akan diperuntukkan sebagai dana sosial.

B. Akibat Hukum Rumusan Akad Pembiayaan Syariah Hubungan antara Bank Syariah dengan nasabahnya adalah suatu hubungan hukum (rechtsverhouding). Sebagai suatu hubungan hukum, maka dari hubungan-hubungan hukum inilah terbit hak dan kewajiban bagi para pihak. Dalam hubungan hukum ditentukan sejumlah aturan yang disepakati bersama oleh para pihak yang bersangkutan, seperti pemenuhan hak di satu sisi dan pemenuhan kewajiban di sisi lainnya. Pihak lainnya juga dibebani hak dan kewajiban serupa yang bersifat timbal balik, dan pemenuhan hubungan hukum inilah yang mendasari berlangsungnya hubungan hukum yang disepakati bersama secara tepat, jelas dan tuntas. Tidak dipenuhinya hak satu pihak akan berakibat bagi pihak lainnya, seperti tuntutan hukum, dan tuntutan hukum inilah yang menjadi akibat hukum oleh karena tidak dipenuhinya suatu hak tertentu oleh pihak tertentu tersebut. Di antara Bank Syariah dengan nasabahnya terdapat hubungan hukum yang terwujud dalam suatu Akad (perjanjian) .

(53)

tata kelola perusahaan (good corporate governance), dan implementasi prinsip kehati-hatian bank (prudential banking principle).

Dengan demikian, Terjadinya sebuah persetujuan akad (kontrak) secara langsung menimbulkan hak dan kewajiban bagi para pihak yang terlibat dalam suatu akad, dan merupakan hal yang logis, jika hak secara otomatis menimbulkan kewajiban. Untuk itu, dalam bab ini akan dibahas hal yang berhubungan dengan para pihak untuk mendapatkan hak dan kewajibannya, serta akibat hukum yang ditimbulkan.

1. Kerelaan Mengadakan Akad (Kontrak)

Kerelaan para pihak untuk melakukan akad merupakan asas terlaksananya akad dan mutlak dibutuhkan untuk mengadakan akad, hal ini berdasar pada al- Qur’an surat An -Nisa: 29:

“Hai orang beriman, janganlah kamu saling memakan

harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka diantara

kamu”

Ayat di atas, menjelaskan secara gamblang bahwa untuk mendapatkan hak atas harta orang lain hendaknya dengan jalan perniagaan atau dengan kemauan keduabelah pihak, yakni dengan memberikan kebebasan dalam memilih akad, selama akad yang dilakukan tidak terdapat nash yang melarang sehingga bertentangan dengan dalil syar’i.21

2. Kecakapan Hukum Para Pihak

Unsur yang terpenting dalam akad ialah para pihak (‘aqidani) yang mengadakan akad. Secara umum yang sah mengadakan akad ialah kedua belah pihak yang mempunyai kemampuan/kecakapan, dalam hal ini terbagi menjadi dua

(54)

yakni, Pertama, kecakapan untuk melakukan tindakan hukum bagi diri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Kedua, memiliki kecakapan berdasarkan penetapan hukum untuk melaksanakan akad sebagai wakil orang lain. Kecakapan dalam ranah ilmu fiqh diartikan sebagai kecakapan seseorang untuk untuk memperoleh hak yang sah bagi dirinya, memikul kewajiban serta sahnya tindakan yang dilakukan.11 Untuk kecakapan dalam fiqh terdapat dua bagian yakni, Pertama, kecakapan wujub yang merupakan kepatutan seseorang untuk memperoleh hak dan memikul kewajiban, berdasarkan hak kehidupan atau sifat kemanusian. Kedua, Kecakapan ada’ yaitu kecakapan seseorang melakukan perbutan yang diakui oleh hukum dan menimbulkan akibat hukum baik perbuatan tersebut dibidang ibadat maupun muamalat. Kondisi-kondisi para pihak yang membuat akad menjadi tidak sah secara hukum. Kondisi-kondisi tersebut meliputi yakni:

a. Kecakapan tidak sempurna, kecakapan seseorang yang hanya sebatas pada menerima hak dan belum dapat menjalankan kewajiban. Termasuk dalam kategori ini adalah janin yang berhak memperoleh empat hak penting yakni: hak keturunan, hak waris, hak wasiat dan hak hasil wakaf.22

b. Kondisi kecakapan sempurna bagi manusia yang mulai dari anak sampai dewasa dijelaskan sebagai berikut: kecakapan anak yang tufulah (dari lahir sampai usia 7 tahun) dalam usia ini, anak telah dapat memiliki barang yang dibeli walinya atas namanya dan memikul kewajiban dalam akad. Seperti pada tukar menukar, membayar hutang mengganti kerugian, membayar zakat, namun tidak diwajibkan bagi anak tamyis untuk membayar kewajiban agama yang mengandung unsur sanksi seperti membayar dam dan diat.

22 Fase janin demikian para ulama fiqh sering mengistilahkannya

(55)

C. Akibat Hukum dari Akad

Akibat hukum dalam perjanjian hukum Islam dibedakan menjadi dua bagian, yakni:

a. akibat hukum pokok dari perjanjian yang biasa disebut dengan hukum akad (hukm al aqd), dan b.

b. akibat hukum tambahan dari perjanjian yang biasa disebut hak-hak akad. Hukum akad yang dimaksud ialah terwujudnya tujuan akad yang menjadi kehendak bersama untuk diwujudkan oleh para pihak melalui perjanjian. Sedangkan akibat hukum tambahan ialah dengan

Referensi

Dokumen terkait

dalam akad bahwa nasabah telah mengajukan permohonan pembiayaan murabahah (untuk selanjutnya disebut fasilitas murabahah ) kepada bank untuk membeli barang dengan spesifikasi

Murabahah yang dipraktikkan dalam perbankan syariah adalah murabahah li al-amir bi al-syira, yaitu transaksi jual beli, dimana nasabah mengajukan permohonan kepada pihak

Hadi, dalam pelaksanaan akad murabahah tanpa wakalah hendaknya melalui tahapan-tahapan berikut ini: (1) Nasabah mengajukan permohonan untuk melakukan pembelian suatu barang

Jika bank mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank. Ketentuan

a. Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau asset kepada bank. Jika bank menerima permohonan perjanjian ia harus membeli terlebih dahulu

a. Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau asset kepada bank. Kemudian jika bank menerima permohonan tersebut, bank harus membelikan

1 Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau aset kepada bank 2 Jika bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih dahulu aset yang

1 Pada angka 4 empat Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syariah, menyebutkan: “Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas