• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN RELOKASI PENGUNGSI DAN KONFLIK (Studi Tentang Formulasi Kebijakan Relokasi Pengungsi Gunung Sinabung Berkaitan dengan Konflik Desa Lingga Kabupaten Karo Tahun 2016)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KEBIJAKAN RELOKASI PENGUNGSI DAN KONFLIK (Studi Tentang Formulasi Kebijakan Relokasi Pengungsi Gunung Sinabung Berkaitan dengan Konflik Desa Lingga Kabupaten Karo Tahun 2016)"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bencana alam sebagai peristiwa alam dapat terjadi setiap saat, dimana saja

dan kapan saja. Bencana alam merupakan peritiwa atau rangkaian peristiwa yang

mengancam dan menggangu kehidupan manusia yang disebabkan baik oleh faktor

alam, atau faktor nonalam atau faktor tindakan manusia, sehingga mengakibatkan

timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak

psikologis.1

Gunung Sinabung yang telah tertidur selama 400 tahun, pada tahun 2010

telah aktif kembali dan mengakibatkan terjadinya erupsi di Kabupaten Karo.

Selang tiga tahun kemudian, gunung Sinabung tersebut kembali meletus dan

mengakibatkan terjadinya erupsi yang cukup besar disaerah sekitar Gunung Hal ini mendorong masyarakat yang tinggal dilokasi daerah kawasan

rawan bencana untuk memahami, mencegah dan menanggulangi bencana alam

agar terjamin keselamatan dan kenyamanannya. Selain masyarakat yang tanggap

akan bencana alam diperlukan juga pemerintah yang tanggap akan bencana.

Kabupaten Karo yang terletak di kawasan tinggi Sumatera Utara memiliki potensi

bencana alam yang cukup tinggi. Kabupaten Karo memiliki dua gunung yang

sampai saat ini masih aktif yaitu Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak. Hal

inilah yang menyebabkan Kabupaten Karo sering mengalami bencana alam

gunung meletus.

1

(2)

Sinabung sehingga menyebabkan banyak memakan korban jiwa.2

Dalam UUD 1945 tepatnya pada pembukaan alinea IV yang merupakan

tujuan negara telah menjelaskan bahwa negara akan melindungi segenap bangsa

Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, artinya negara memberikan

perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan termasuk perlindungan atas

bencana, dalam mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan pancasila.

Selain pada UUD 1945, berdasarkan UU No. 24 Tahun 2007 tentang

penanggulangan bencana, pemerintah memiliki tanggung jawab dalam

menanggulangi setiap bencana yang terjadi di Indonesia. Pada Undang-undang ini

telah dijelaskan bagaimana sesungguhnya tanggung jawab dan wewenang Pada tahun

2013 Gunung Sinabung meletus kembali sampai 17 September 2013 telah terjadi

4 kali letusan. Tanggal 15 September 2013 telah terjadi letusan sebanyak dua kali

yaitu pada dini hari dan pada sore harinya. Pada 17 September 2013 juga terjadi

dua kali letusan pada siang dan sore harinya. Letusan ini melepaskan awan panas

dan abu vulkanik. Akibat peristiwa ini, status Gunung Sinabung dinaikkan ke

level 3 manjadi siaga. Setelah aktivitas cukup tinggi selama beberapa hari, pada

tanggal 29 September 2013 status diturunkan menjadi level 2 yaitu status waspada.

Namun demikian, aktifitas tidak berhenti dan kondisnya fluaktif. Keadaan yang

demikian membuat sorotan bagi pemerintah untuk menjalankan kewajibannya

sebagai pemimpin bangsa. Pemerintah pusat juga memiliki tugas yang telah diatur

dalam konstitusi negara Indonesia yaitu Undang-Undang Dasar 1945.

2

(3)

kemampuan alam untuk melakukan pemulihan; dan pengendalian pengumpulan

dan penyaluran uang atau barang yang berskala nasional.4

Selain pemerintah, pemerintah daerah juga memiliki tanggung jawab yang

meliputi: penjamin pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena

bencana alam yang sesuai dengan standart pelayanan minimum; perlindungan

masyarakat dari dampak bendana alam; pengurangan resiko bencana alam dan

pemaduan pengurangan resiko bencana alam dengan program pembangunan;

pengalokasian dana penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan

Belanja Daerah yang memadai.5 Wewenang pemerintah daerah diantaranya:

penetapan kebijakan dan penanggulangan bancana pada wilayahnya selaras

dengan kebijakan pembangunan daerah; pembuatan perencanaan dan

pembangunan yang memasukkan unsur-unsur kebijakan penanggulangan bencana;

pelaksanaan kebijakan kerjasama dalam penanggulangan bencana dengan Provinsi

dan Kabupaten/Kota lain; pengaturan penggunaan teknologi yang berpotensi

sebagai sumber ancaman atau bahaya bencana; perumusan kebijakan pencegahan

penguasa atas sumber daya alam yang melebihi kemampuan wilayahnya;

pengendalian pengumpulan dan penyaluran uang atau barang yang bersekala

Provinsi dan Kabupaten/Kota.6

Dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga terlibat untuk membantu

pemerintah pusat dan daerah. BNPB merupakan lembaga pemerintah

4

Ibid. Pasal 7

5

Ibid. Pasal 8

6

(4)

nondepartemen setingkat dengan menteri. Sedangkan BPBD merupakan badan

yang dibentuk oleh pemerintah daerah dan bekerja atas koordinasi dengan BNPB.

Tugas, fungsi dan unsur serta struktur telah diatur dalam UU No.24 Tahun 2007

tersebut.

Untuk mengatasi permasalahan yang timbul dari bencana alam erupsi

Gunung Sinabung tersebut diperlukan perhatian pemerintah melalui kedua

lembaga tersebut yakni BPBD yang bekerjasama dengn BNPB pusat. Walaupun

bencana Gunung Sinabung tidak ditetapkan sebagai bencana nasional, namun

tetap harus ada program pemerintah melalui BPBD untuk menanggulangi bencana

tersebut. Namun pada kenyataannya, BPBD Kabupaten Karo baru terbantuk

setelah erupsi Gunung Sinabung terjadi beberapa kali dan mulai menimbulkan

korban materi dan korban jiwa. Sebelum terbantuknya BPBD di kabupaten Karo,

penanggulangan bencana erupsi Gunung Sinabung dilakukan oleh TNI dan juga

BPBD Sumatera Utara. Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah

(BPBD) di Kabupaten Karo diharapkan akan dapat membantu penanggulangan

bencana alam erupsi Sinabung yang masih terus aktif sampai saat ini. Mengingat

masih baru dibentuknya BPBD Kabupaten Karo yang belum terlihat kinerja yang

maksimal. Hal ini terbukti karena masih terdapat masalah seperti :

“Syamsul Ma’arif Kepala Badan Nasional Penanggulangan

Bencana (BNPB) di Posko utama pendopo rumah dinas Bupati Karo

berkomentar kinerja tim penanggulangan bencana Gunung

Sinabung tidak tanggap dan kurang koordinasi. Penanganan

tanggap darurat Gunung Sinabung kurang koordinasi setiap tim

(5)

sendirii-pemerintah dalam menanggulangi bencana. Selain itu juga menjelaskan tentang

lembaga-lembaga yang terlibat dalam menanggulangi bencana alam yang terjadi

baik dalam bentuk apapun dan terjadi dimana dan saat kapanpun.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab atas

bencana alam yang terjadi. Tanggung jawab pemerintah dalam penyelenggaraan

penanggulangan bencana meliputi: pengurangan resiko bencana alam;

perlindungan masyarakat dari dampak bencana; penjamin pemenuhan hak

masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana alam yang adil dan sesuai

dengan standart pelayanan minimum; pemulihan kondisi dampak bencana alam,

pengalokasian anggaran penanggulangan bencana alam dalam bentuk siap pakai;

dan pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak

bencana alam.3

3

Undang-undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007 pasal 6

Dalam hal ini pemerintah juga memiliki wewenang yang meliputi:

penetapan kebijakan penanggulangan bencana selaras dengan kebijakan

pembangunan nasional; pembuatan perencanaan pembangunan yang mamasukkan

unsur-unsur kebijakan penanggulangan bencana; penetapan status dan tingkat

bencana nasional dan daerah; penentuan kebijakan kerjasama dalam

penanggulangan bencana dengan negara-negara lain, badan-badan, atau

pihak-pihak internasional lain; perumusan kebijakan tentang penggunaan teknologi yang

berpotensi sebagai sumber ancaman atau bahaya bencana; perumusan kebijakan

(6)

sendiri dan hasil yang dicapai tidak maksimal.Hal ini harus segera

diatasi untuk melindungi puluhan ribu pengungsi, perlunys

kekompakaan tim penanggulangan bencana Gunung Sinabung

dalam penanganan bencana di lapangan”.7

Saat ini pemerintah pusat telah membuat Keputusan Presiden Republik

Indonesia No. 21 Tahun 2015 Tentang satuan tugas percepatan relokasi korban

berdampak bencana erupsi gunung Sinabung di Kabupaten Karo Provinsi

Sumatera Utara. Satuan tugas percepatan berada dibawah dan bertanggung jawab

kepada presiden. Satgas percepatan memiliki tugas diantaranya : melakukan

perencanaan dan pelaksanaan relokasi korban terdampak bencana erupsi Gunung

Sinabung; mempercepat hunian sementara bagi pengungsi Gunung Sinabung,

mempercepat hunian tetap di daerah relokasi; mempercepat bangunan sarana dan

prasarana; dan menyediakan lahan pertanian.8

Setelah setahun lebih terhitung mulai September 2013 masyarakar korban

Gunung Sinabung hidup dalam tenda pengungsian, para korban mendapat

kepastian relokasi. Izin pengguna kawasan hutan lindung buat jalan sudah keluar

dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dua hari setelah kunjungan

Jokowi ke Sinabung. Pasca kedatangan Presiden Jokowi relokasi kembali

langsung berjalan setelah tertunda sekian lama. Beliau salut saat tanggal 29

Oktober 2014 Presiden memerintahkan Menteri Lingkungan Hidup dan kehutanan

untuk mengeluarkan surat izin, Siti Nurbaya langsung mengeluarkan surat izin

7

http://www.waspada.co.id/index.php diakses pada tanggal 21 oktober 2016 pukul 14.00

8

(7)

pada 31 Oktober 2014. Pengerjaan pembangunan perdana relokasi ini dipimpin

langsung oleh Kasad, Jendral TNI Gatot Nurmantyo di kawasan Siosar

Kecamatan Merek Karo. Pembangunan tahap awal yang dilakukan pada 5

November 2014 dilakukan dengen proses pengerasan jalan seluas 3,4 km dilanjut

dengan membuka jalan baru seluas 8,5 km dikawasan hutan.9

“Pada kawasan ini terdapat 3 desa diantaranya Desa Bekerah dengan jumlah KK sebanyak 103 KK dan jumlah jiwa sebanyak 331

jiwa, Desa Simacem dengan KK sebanyak 131 KK dengan jumlah

jiwa sebanyak 445 jiwa, dan Desa Sukameriah dengan KK sebanyak

136 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 436 jiwa, sehingga total KK

keseluruhan sebanyak 370 KK. Seluruh KK tersebut masing-masing

telah mendapatkan rumah yang telah disediakan oleh pemerintah dan

lahan seluas 0,5 ha/KK.”

Kunjungan pertama

Jokowi sebagai presiden terpilih priode 2014-2019 ke Tanah Karo membuat

Jokowi mengeluarkan keputusan ini dengan tujuan agar tempat layak huni bagi

korban Sinabung di percapat serta mengingat tujuan negara dan tanggung jawab

pemerintah yang telah diatur dalam UU No. 24 Tahun 2007 tersebut.

Kawasan yang telah disediakan pun berada pada kawasan Siosar

Kecamatan Merek Kabanjahe Kabupaten Karo sekitar 17 km dari Kota Kabanjahe.

Dimana kawasan ini merupakan hutan rimbun yang telah di berikan izin oleh

mentri kehutanan untuk dijadikan kawasan relokasi korban Sinabung.

10

9

http://www.mongobay.co.id/2014/11/10/pembangunan-relokasi-pengungsi-sinabung-mulai-jalan-kasad-jangan-salahgunakan-izin-kawasan -hutan/diakses pada tanggal 22 Oktober 2016 pukul 22.32 wib

10

(8)

Pasca keluarnya Kepress Nomor 21 tahun 2015 tentang penempatan

relokasi korban Gunung Sinabung, ternyata masih banyak korban yang belum

mendapatkan tempat layak huni dan lahan untuk dijasikan mata pencaharian. Hal

ini dikarenakan Kepress tersebut hanya berlaku sampai akhir tahun 201511

Berdasarkan laporan Komisi nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)

penolakan masyarakat Lingga didasari oleh kebijakan relokasi mandiri nantinya .

Banyaknya jumlah pengungsi yang belum mendapatkan tempat tinggal dan

kehidupan yang layak memberi tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Karo

untuk mempercepat relokasi tahap kedua untuk pengungsi Gunung Sinabung.

DPD juga mendesak pemerintah untuk mempercepat penanganan korban Gunung

Sinabung, sebab masih banyak korban yang belum ditangani secara tuntas.

Kemudian setelah mendapat tuntutan dari masyarakat pengungsi Gunung

Sinabung, dan berdasarkan tugas pemerintah daerah sesuai kemendagri No. 131

tahun 2003 tentang pedoman penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi

di daerah, maka pada tanggal 13 Juni Bupati Karo Terkelin Brahmana membuat

sebuah kebijakan untuk menangani sisa korban pengungsi dan menyepakati desa

lingga sebagai lahan relokasi mandiri tahap II. Dengan adanya keputusan dari

Bupati Karo, malah memunculkan persoalan baru. Sebab keputusan ini membuat

masyarakat desa Lingga keberatan desanya dijadikan sebagai lokasi relokasi tahap

II yang dinamakan sebagai Relokasi Mandiri.

(9)

akan menggangu keutuhan dan kesatuan komunitas masyarakat Lingga yang

diketahui merupakan desa adat di Kabupaten Karo, dan berdampak pada

pergeseran budaya. Kemudian alasan lainnya yaitu dari aspek ekonomi, di mana

mata pencaharian masyarakat Lingga berasal dari lahan pertanian12. Ditambahkan

lagi menurut juru bicara warga desa Lingga Arya Sinulingga mengungkapkan

alasan menolak relokasi warga pengungsi Gunung Sinabung karena Desa Lingga

sudah tidak memungkinkan menampung seluruh pengungsi. Mengingat sempitnya

lahan pertanian yang menjadi sumber utama pencaharian warga Desa

Lingga."Luas wilayah 1.600 hektare, jumlah penduduknya 1000 Kepala Keluarga.

Artinya 1.600 hektare dibagi 1.000 hanya 1,6 hektare. Jika ditambah 1600 KK

akan menjadikan luas lahan pertanian masyarakat Lingga akan berkurang,

sehingga berpotensi terjadinya rebutan lahan dan memicu konflik sosial.13

Pelaksanaan relokasi terkesan dipaksakan meskipun dalam beberapa

kesempatan mendapat penolakan seperti yang dilakukan warga Desa Lingga.

Ketidakpastian fungsi penggunaan lahan yang ada pada Desa Lingga juga menjadi

penyebab permasalahan yang terjadi pada Desa Lingga tersebut. Selain penolakan

kerusuhan pun memuncak dengan pristiwa kerusuhan antar warga Desa Lingga

dengan Personil Kaporles Karo dilahan Relokasi Mandiri tahap II Desa Lingga.

Badan Hukum dan Advokasi Rakyat Sumatera Utara (Bakumsu) menilai bahwa

12

Komnas HAM. 2016. Keterangan Pers Komnas HAM tentang Pemantauan dan Penyelidikan Peristiwa BentrokMasyarakat Desa Lingga Dengan Kepolisian Resor Tanah Karo.Pdf. diakses pada 11 Agustus 2016. Hal. 2

(10)

kerusuhan tersebut merupakan puncak dari ketidakpastian dalam penanganan

korban erupsi Sinabung. Dinilai bahwa pemerintah Pusat dan pemerintah daerah

belum serius dalam menanggapi dampak bencana sinabung sejak 2013 hingga

sekarang.14

B. Rumusan Masalah

Sehingga berdasarkan pemaparan di atas, penulis tertarik untuk

melihat dan meneliti tentang bagaimana proses kebijakan relokasi yang berhujung

kepada konflik dengan judul “Kebijakan Relokasi Pengungsi dan Konflik

(Studi Tentang Formulasi Kebijakan Relokasi Pengungsi Gunung Sinabung Berkaitan dengan Konflik Desa Lingga Kabupaten Karo Tahun 2016)”

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, peneliti merumuskan masalah

dalam penelitian ini :

a. Bagaimana proses formulasi kebijakan terhadap relokasi pengungsi

Gunung Sinabung di Desa Lingga Kabupaten Karo Tahun 2016 ?

b. Kenapa timbul kerusuhan setelah adanya relokasi pengungsi di Desa

Lingga Kabupaten Karo Tahun 2016 ?

C. Batasan Masalah

Batasan masalah berfungsi agar suatu penelitian lebih fokus dan terarah

dalam pembahasan yang sedang diteliti sehingga dapat menghasilkan suatu karya

ilmiah yang dapat memberikan informasi terhadap pembaca. Adapun batasan

masalah yang ada pada penelitian ini adalah : proses formulasi kebijakan relokasi

di Desa Lingga serta penyebab kerusuhan yang ada di Desa Lingga tersebut.

(11)

D. Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti memiliki beberapa tujuan diantaranya :

1. Untuk mengetahui bagaimana proses formulasi kebijakan relokasi di

Desa Lingga Kabupaten karo.

2. Untuk mengetahui penyebab kerusuhan yang ada di Desa Lingga

Kabupaten karo.

E. Manfaat Penelitian

Pada penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat yang dilakukan

oleh peneliti diantaranya :

1. Pribadi peneliti, penelitian ini diharapkan mampu memberi pengetahuan

dan pengalaman dalam penelitian ke lokasi sesuai dengan kajian yang

dikaji.

2. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu menambah

pengetahuan di Departemen Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara serta

sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi di Program studi Ilmu

Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

3. Secara Teoritis, penelitian ini merupakan kajian ilmu politik yang sungguh

diharapkan mampu memberikan sebuah sumbangsih mengenai kebijakan

penanggulangan korban bencana alam

4. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan

kontribusi atau sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta

(12)

F. Kerangka Teori

F.1. Teori Kebijakan Publik

F.1.1. Pengertian Kebijakan Publik

Kebijakan publik adalah keputusan yang dibuat oleh negara, khususnya

pemerintah sebagai strategi untuk merealisasikan tujuan negara yang

bersangkutan. Kebijakan publik adalah strategi untuk mengantarkan masyarakat

pada masa awal, memasuki masyarakat pada masa transisi, untuk pada masyarakat

yang dicita-citakan.15

Carl Fredich memandang kebijakan publik adalah satu arah tindakan yang

diusulkan oleh seorang kelompok atau pemerintah dalam satu lingkungan tertentu,

yang memberikan hambatan-hambatan dan kesempatan-kesempatan terhadap

kebijakan yang diusulkan untuk menggunakan dalam rangka mencapai suatu

tujuan merealisasikan suatu maksud tertentu.16

Setiap jenis analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi dapat

menjadi dasar bagi para pengambil kebijakan didalam menguji argumennya.

Analisis dalam kerangka kebijakan publik secara tidak langsung menunjukkan

pengguna institusi dan pertimbangan yang mencakup tidak hanya pengujian

kebijakan dengan pemecahan kedalam komponen-komponennya, tetapi juga Secara umum, saat ini kebijakan

lebih dikenal sebagai keputusan yang dibuat oleh pemerintah untuk

menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada masyarakat.

15

Riant Nugroho, 2008. Public policy. Jakarta: Elex Media Komputindo. Hal.55

16

(13)

merencanakan dan mencari sintesis atas alternatif-alternatif yang memungkinkan.

Kegiatan ini mencakup penyelidikan untuk menjelaskan atau memberikan

wawasan terhadap problem atau isu yang muncul atau untuk mengevaluasi

program yang sudah berjala. Menurut Charles O. Jones kebijakan terdiri dari

komponen-komponen sebagai berikut :17

Goal atau tujuan yang diinginkan,

Plans atau proposal, yaitu pengertian yang spesifik untuk mencapai tujuan,

Program yaitu upaya yang berwewenang untuk mencapai tujuan,

Decision atau keputusan, yaitu tindakan-tindakan untuk menentukan

tujuan, membuat rencana, melaksanakan dan mengevaluasi program,

Efek yaitu akibat-akibat dari program (baik disengaja atau tidak, primer

atau sekunder).

Jadi pada dasarnya studi kebijakan publik berorientasi pada pemecahan

masalah riil yang terjadi ditengah masyarakat. Lebih lanjut dikatakan bahwa

dalam hubungannya tindakan pemerintan untuk mengatasi masalah-masalah

masyarakat, maka kebijakan adalah keputusan pemerintah untuk memecahkan

masalah yang telah diutarakan.

17

(14)

F.1.2. Tahapan Analisis Kebijakan Publik

Proses analisis kebijakan secara umum merupakan suatu proses kerja yang

meliputi lima komponen informasi kebijakan yang saling terkait dan dilakukan

secara bertahap dengan menggunakan berbagai teknik analisis kebijakan18

Proses Analisis Kebijakan Publik

seperti

bagan berikut :

Bagan 1.1

Dalam memecahkan masalah yang dihadapi kebijakan publik, Wiliam

Dunn mengemukakan bahwa ada beberapa tahap analisis yang harus dilakukan

dalam kebijakan publik, yaitu : agenda setting (penetapan agenda kebijakan);

policy formulation (formulasi kebijakan); policy adoption (adopsi kebijakan);

(15)

policy implementation (implementasi kebijakan); dan policy asessment (evaluasi

kebijakan).19

1. Agenda setting

Tahap penetapan agenda kebijakan, yang harus dilakukan pertama kali

adalah menentukan masalah publik yang akan dipecahkan. Pada hakekatnya

permasalahan ditemukan melalui proses problem structuring. Menurut Dunn

problem structuring memiliki 4 fase yaitu : problem search (pencarian masalah),

problem defenition (pendefenisian masalah), problem specification (spesifikasi

masalah), dan problem setting (pengenalan masalah).

2. Policy formulation

Berkaitan dengan formulasi kebijakan, Woll berpendapat bahwa formulasi

kebijakan berarti pengembangan sebuah mekanisme untuk menyelesaikan

masalah publik, dimana pada tahap para analisis kebijakan publik mulai

menerapkan beberapa teknik untuk menjustifikasikan bahwa sebuah pilihan

kebijakan merupakan pilihan yang terbaik dari kebijakan yang lain. Dalam

menentukan pilihan kebijakan pada tahap ini dapat menggunakan analisis biaya

manfaat dan analisis keputusan, dimana keputusan yang harus diambil pada posisi

tidak menentu dengan informasi yang serba terbatas.

Pada tahap formulasi kebijakan ini, para nalisis harus mengidentifikasikan

kemungkinan kebijakan yang dapat digunakan memalui prosedur

19

(16)

forecastinguntuk memecahkan masalah yang didalamnya terkandung konsekuensi

dari setiap pilihan kebijakan yang akan dipilih.

3. Policy Adoption

Tahap adopsi kebijakan merupakan tahap untuk menentukan pilihan

kebijakan melalui dukungan para stakeholders atau pelaku yang terlibat. Tahap ini

dilakukan setelah melalui proses rekomendasi dengan langkah-langkah sebagai

berikut :

1) Mengidentifikasi alternatif kebijakan (policy alternative) yang

dilakukan pemerintah untuk merealisasikan masa depan yang

diinginkan dan merupakan langkah terbaik dalam upaya mencapai

tujuan tertentu bagi kemajuan masyarakat luas.

2) Pengidentifikasian kriteria-kriteria tertentu dan terpilih untuk menilai

alternatif yang akan direkomendasi.

3) Mengevaluasi alteratif-alternatif tersebut dengan menggunakan

kriteria-kriteria yang relevan (tertentu) agar efek positif alternatif

kebijakan tersebut lebih besar daripada efek negatif yang akan terjadi.

4. Policy implementation

Pada tahap ini suatu kebijakan telah dilaksanakan oleh unit-unit eksekutor

(birokrasi pemerintahan) tertentu dengan memobilisasikan sumber dana dan

sumber daya lainya (teknologi manajemen), dan pada tahap ini monitoring dapat

dilakukan. Menurut Patton dan Sawicki bahwa implementasi berkaitan dengan

(17)

posisi ini eksekutif mengatur cara untuk mengorganisisr, menginterpretasikan dan

menerapkan kebijakan yang telah diseleksi. Sehingga dengan mengorganisisr

seorang eksekutif mampu mengatur secara efektif dan efisien sumber daya,

unit-unit dan teknik yang dapat mendukung pelaksanaan program, serta melakukan

interpretasi terhadap perencanaan yang telah dibuat, dan petunjuk yang dapat

diikuti dengan mudah bagi realisasi program yang dilaksanakan.

Jadi tahapan implementasi ini merupakan pristiwa yang berhubungan

dengan apa yang terjadi setelah suatu perundang-undangan ditetapkan dengan

memberikan otoritas pada suatu kebijakan dengan membentuk output yang jelas

dan dapat diukur. Tugas implementasi sebagai suatu penghubung yang

memungkinkan tujuan-tujuan kebijakan mencapai hasil melalui aktivitas atau

kegiatan dari program pemerintah.

5. Policy assesment

Tahap akhir dari proses kebijakan adalah penilaian terhadap kebijakan

yang telah diambil dan dilakukan. Dalam penilaian ini semua proses implementasi

dinilai apakah telah sesuai dengan yang telah ditentukan atau direncanakan dalam

program kebijakan tersebut sesuain dengan ukuran-ukuran atau kriteria-kriteria

yang telah ditentukan. Evaluasi kebijakan dapat dilakukan oleh lembaga

independen maupun pihak birokrasi pemerintah sendiri (sebagai eksekutif) untuk

mengetahui apakah program yang dibuat oleh pemerintah telah mencapai tujuan

atau tidak. Apabila ternyata tujuan program tidak tercapai atau memiliki

(18)

kelemahan tersebut sehingga kesalahan yang sama tidak terulang dimasa yang

akan datang.

Menurut Dunn evaluasi kebijakan publik mengandung arti yang

berhubungan dengan penerapan skala penilaian terhadap hasil kebijakan dan

program yang telah dilakukan. Jadi termologi evaluasin dapat disamakan dengan

penaksiran (apprasial), pemberian angka (ratting), dan penilaian (asessment).

Dalam arti yang lebih spesifik lagi, evaluasi kebijakan berhubungan dengan

produk informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan. Maka dapat

diketahui sifat evaluasi sebagai berikut:

1) Fokus nilai, dimana evaluasi dipusatkan pada penilaian yang

menyangkut keperluan atau nilai dari satu kebijakan dan program.

2) Interpedensi fakta dan nilai, dimana tuntutan evaluasi tergantung pada

fakta dan nilai untuk menyatakan bahwa kebijakan atau program

tertentu telah mencapai tingkat kinerja yang tertinggi atau terendah.

3) Orientasi masa kini dan masa lampau, dimana evaluasi bersifat

retrospektif dilakukan setelah aksi-aksi yang dilakukan, sekaligus

bersifat prospektif untuk kegunaan masa mendatang.

4) Dualitas nilai, dimana nilai-nilai yang mendasari tuntutan evaluasi

mempunyai kualitas ganda karena dipandang mempunyai tujuan

sekaligus cara.

Suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi

(19)

kebijakan dalam membuat keputusan20

1. Nilai yang pencapainya mertupakan tolak ukur utama untuk melihat

apakah masalah telah teratasi

. Didalam menganalisis sebuah kebijakan

publik dapat diproses melalui sebuah proses untuk menguraikan dan mengkaji

unsur-unsur penting dalam sebuah kebijakan. Selain itu analisis kebijakan publik

juga untuk melahirkan sebuah alternatif baru yang dapat memberikan sebuah

solusi atas persoalan persoalan yang belum diselesaikan dari kebijakan

tersebut.Tindakan tindakan yang diambil dalam analisis kebijakan mungkin dapat

dimulai dengan menguraikan isu-isu seputar permasalahan yang ada sampai

dengan melakukan evaluasi terhadap suatu program kebijakan publik secara

lengkap.Kebijakan publik diharapkam dapat menghasilkan informasi dan

argumen-argumen yang memiliki dasar logika yang jelas dan mengandung 3

macam tolak ukur utama yaitu :

2. fakta yang keberadaanya dapat membatasi atau meningkatkan

pencapaian nilai-nilai

3. tindakan yang penerapannya dapat menghasilkan pencapaian

nilai-nilai.21

Berikutnya terdapat 5 unsur yang ada pada kebijakan publik, diantaranya :

a. Masalah publik (Public Issue); merupakan isu sentral yang akan

diselesaikan dengan sebuah kebijakan. Seperti disampaikan di depan,

kebijakan selalu diformulasikan untuk mengatasi ataupun mencegah

20

William.N.Dunn. 2003.Analisis Kebijakan Publik I. Yogyakarta .Gadjah Mada University Press.hal.95.

21

(20)

timbulnya masalah, khususnya masalah yang bersifat isu publik. Masalah

disebut sebagai isu publik manakala masalah itu menjadi keprihatinan

(Concern) masyarakat luas dan mempengaruhi hajat hidup masyarakat luas.

b. Nilai Kebijakan (Value); setiap kebijakan selalu mengandung nilai tertentu

dan juga bertujuan untuk menciptakan tatanilai baru atau norma baru

dalam organisasi. Seringkali nilai yang ada di masyarakat atau anggota

organisasi berbeda dengan nilai yang ada di pemerintah. Oleh karena itu

perlu partisipasi dan komunikasi yang intens pada saat merumuskan

kebijakan.

c. Siklus Kebijakan; proses penetapan kebijakan sebenarnya adalah sebuah

proses yang siklis dan bersifat kontinum, yang terdiri atas tiga tahap: (1)

perumusan kebijakan (Policy Formulation), (2) penerapan kebijakan

(Policy Implementation), dan (3) evaluasi kebijakan (Policy Review).

Ketiga tahap atau proses dalam siklus tersebut saling berhubungan dan

saling tergantung, kompleks serta tidak linear, yang ketiganya disebut

sebagai Policy Analysis.

d. Pendekatan dalam Kebijakan; pada setiap tahap siklus kebijakan perlu

disertai dengan penerapan pendekatan (Approaches) yang sesuai. Pada

tahap formulasi, pendekatan yang banyak dipergunakan adalah pendekatan

normatif, valuatif, prediktif ataupun empirik. Pada tahap implementasi

banyak menggunakan pendekatan struktural (organisasional) ataupun

(21)

pendekatan yang sama dengan tahap formulasi. Pemilihan pendekatan

yang digunakan sangat menentukan tingkat efektivitas dan keberhasilan

sebuah kebijakan.

e. Konsekuensi Kebijakan; pada setiap penerapan kebijakan perlu dicermati

akibat yang dapat ditimbulkan. Dalam memantau hasil kebijakan kita

harus membedakan dua jenis akibat; luaran (Output) dan dampak (Impact).

Apapun bentuk dan isi kebijakan pada umumnya akan memberikan

dampak atau konsekuensi yang ditimbulkan. Tingkat intensitas

konsekuensi akan berbeda antara satu kebijakan dengan yang lain, juga

dapat berbeda berdasar dimensi tempat dan waktu. Konsekuensi lain yang

juga perlu diperhatikan adalah timbulnya resistensi (penolakan) dan

perilaku negatif.22

Adapun pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan sesorang dalam

menganalisis sehingga memiliki dasar logika yang kuat yaitu pendekatan

empiris,valuatif dan normative.

(22)

Tabel 1.1

Pendekatan Dalam Analisis Kebijakan Publik

Pendekatan Pertanyan Utama Tipe Informasi

Empiris Adakah dan adakah

(fakta)

Deskriptif dan prediktif

Valuatif Apa manfaatnya (nilai) Valuatif

Normatif Apakah yang harus di

perbuat (aksi)

Preskriptif

Sumber : Analisis Kebijakan Publik. Wiliam N. Dunn Hal 98

Tabel diatas menjelaskan pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam

menganalisis sebuah kebijakan publik.Pendekatan empirisi menekankan

penjelasan berbagai sebab dan akibat dari sebuah kebijakan publik.Pertanyaan

utama di dalam pendekatan empiris bersifat faktual dan informasi yang dihasilkan

bersifat deskriptif.Contohnya meramalkan, menjelaskan pengeluaran publik untuk

kesehatan, pendidikan atau jalan raya23

23

Thomas Dye. 1976. Police Analysis: What Governments Do Why They do it, and what Diffrence Makes.Univesrity AL. The University of Alabama Press.

.Sebaliknya, pendekatan valuatif lebih

menekankan terhadap penentuan bobot atau nilai yang terkandung didalam

kebijakan.Adapun pertanyaan dalam analisisnya adalah berapa nilai dan bobot

yang terkandung di dalam kebijakan tersebut, sehingga informasi yang dihasilkan

bersifat valuatif. Sebagai contoh, setelah memberikan informasi deskriptif

mengenai berbagai macam kebijakan perpajakan, analisi dapat mengevaluasi

(23)

konsekuensi etis dan moral mereka. Dan yang terakhir adalah pendekatan

normatif yang menekankan terhadap rekomendasi serangkaian tindakan-tindakan

yang akan datang yang dapat menyelesaikan masalah publik, pertanyaan dalam

pendekatan ini adalah yang berkenaan dengan tindakan yang diapilkasikan dari

kebijakan publik tersebut.

F.1.3. Faktor yang Mempengaruhi dalam Pembuatan Kebijakan

Dalam perumusan kebijakan publik paling tidak terdapat sebanyak enam

factor strategis yang biasanya mempengaruhi, factor-faktor tersebut meliputi :

1. Faktor Politik. Faktor ini perlu dipertimbangkan dalam perumusan

suatu kebijakan publik, karena dalam perumusan suatu kebijakan

diperlukan dukungan dari berbagai actor kebijakan (policy actors),

baik aktor-aktor dari pemerintah maupun dari kalangan bukan

pemerintah (pengusaha, LSM, asosiasi profesi, media massa, dan

lain-lain).

2. Faktor ekonomi/financial. Faktro ini pun perlu dipertimbangkan

terutama apabila kebijakan tersebut akan menggunakan atau menyerap

dana yang cukup besar atau akan berpengaruh pada situasi ekonomi

dalam suatu daerah.

3. Faktor administratif/organisatoris. Dalam perumusan kebijakan perlu

pula dipertimbangkan faktor administratif atau organisatoris yaitu

(24)

oleh kemampuan administratif yang memadai, atau apakan sudah ada

organisasi yang akan melaksanakan kebijakan itu.

4. Faktor teknologi. Dalam perumusan kebijakan publik perlu

mempertimbangkan teknologi yaitu apakah teknologi yang ada dapat

mendukung apabila kebijakan tersebut diimplementasikan.

5. Faktor sosial, budaya dan agama. Faktor ini pun perlu

dipertimbangkan, misalnya apakah kebijakan tersebut tidak

menimbulkan benturan sosial, budaya, dan agama atau yang sering

disebut masalah SARA.

Faktor pertahanan dan keamanan. Faktor pertahanan dan keamanan ini pun

akan berpengaruh dalam perumusan kebijakan, misalnya apakah kebijakan yang

akan dikeluarkan tidak mengganggu stabilitas keamanan suatu daerah.

F.1.4. Kategori Kebijakan Publik

Joynt mengatakan bahwa kebijakan itu dapat berarti yang berbeda-beda

untuk orang-orang yang berbeda-beda. Usaha untuk mengadakan klasifkasi/

tingkat-tingkatan kebijakan itu adalah seperti halnya membai tingkatan suhu udara.

Menanggapi hal tersebut maka, simon dalam buku soenarko kemudian kemudian

dapat membagi klasifikasi kebijakan itu menjadi 3 macam policy yaitu:24

a. Legislatif policy, yaitu kebijakan yang dibuat landasan dan pegangan

bagi pimpinan (management) dalam melaksanakan tugasnya, atau

kebijakan yang banyak mengandung norma-norma yang harus

24

(25)

diselenggarakan oleh pimpinan tersebut.Oleh karena itu, kebijakan ini

lebih banyak memberikan ketentuan-ketentuan yang mengandung

pemberian hak-hak, kewajiban, larangan-larangan dan

keharusan-keharusan yang lebih banyak dibuat oleh legislatif.

b. Management policy, merupakan-merupakan peraturan-peraturan yang

dibuat oleh pimpinan pusat (top-management) atau pejabat-pejabat

teras

c. Working policy, yaitu kebijakan lainnya yang dibuat untuk

pelaksanaan (operation) dilapangan untuk tercapainya tujuan akhir

yang tersimpul dari kebijakan itu.

Berbeda dengan simon, hudson menyoroti klasifikasi kebijakan publik

dalam pemerintahan. Sehingga kebijakan publik itu dapat dibagi menjadi

golongan,yaitu

a. Over–all policies, pada umumnya dibuat oleh Badan Legislatif atau

presiden dengan berdasarkan UUD (constution). Oleh karena itu, sifatnya

adalah umum dan berlaku untuk seluruh wilayah negara.

b. Top management policies, (kebijaksanaan pelaksanaan), yaitu merupakan

kebijaksanaan yang biasanya dibuat oleh kepala-kepala jawatan atau

dinas-dinas pelaksanaan “over-all policies” dengan menentukan cara-cara,

(26)

c. Divisional of bureau policies (kebijaksanaan pelaksanaan), merupakan

langsung bertanggungjawab tentang tercapainya tujuan program di dalam

kegiatan operasionalnya.

F.1.5. Bentuk dan Tahapan Kebijakan Publik

Terdapat tiga kelompok rententan kebijakan publik yang dirangkum secara

sederhana yakni sebagai berikut:25

1. Kebijakan publik makro

Kebijakan publik yang bersifat makro atau umum atau dapat juga

dikatakan sebagai kebijakan yang berdasar. Contohnya:26

2. Kebijakan Publik Meso

(a).

Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945; (b). Undang-Undang-undang atau

peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang; (c). Peraturan Pemeritah;

(d). Peraturan Presiden; (e). Peraturan Daerah.Dalam

pengimplementasikannya, kebijakan publik makro dpat langsung

diimplementasikan.

Kebijakan yang bersifat meso atau bersifat menengah atau yang lebih

dikenal dengan penjelasan pelaksanaan. Kebijakan ini dapat berupa

Peraturan Menteri, surat Edaran Menteri, Peraturan Gubernur, Peraturan

25

Riant, Nugroho. 2006. Kebijakan Publik Untuk Negara-Negara Berkembang (Model-model Perumusan Implementasi dan Evaluasi). Jakarta : PT. Elex Media komputindo. Hal. 31

26

(27)

Walikota, Peraturan Bupati, Keputusan Bersama atau SKB antar-menteri,

Gubernur dan Bupati atau Walikota.

3. Kebijakan Publik Mikro

Kebijakan yang bersifat Mikro, mengatur pelaksanaan atau implementasi

dari kebijakan publik yang diatasnya. Bentuk kebijakan ini misalnya

Peraturan yang dikeluarkan oleh aparat –aparat publik tertentu yang berada

dibawah Menteri, Gubernur, Bupati dan Walikota.

F.1.6. Bentuk-Bentuk Analisis Kebijakan

Analisis kebijakan dapat dibedakan menjadi tiga bentuk utama, yakni:27

1. Analisis Kebijakan Prospektif

Analisis kebijakan prospektif yang berupa produksi dan transformasi

informasi sebelum aksi kebijakan di mualai dan di implementasi

cendrung mengidentifikasi cara beroperasinya para ekonom, analisis

sistem dan analisis operasi dengan lain merupakan suatu alat untuk

merealisasikan informasi untuk dipakai dalam merumuskan suatu

alternative dan preferensi kebijakan yang digunakan secara komperatif,

diramalkan dalam bahasa kuantitatif atau kualitatif sebagai landasan

atau penuntun dalam pengambilan keputusan.

2. Analisis kebijakan restropektif

27

(28)

Analisis kebijakan restropektif dalam banyak hal sesuai dengan

deskripsi penelitian kebijakan yang dikemukakan sebelumnya.

Analisis kebijakan restropektif dijelaskan sebagai penciptaan dan

transformasi informasi sesudah aksi kebijakan dilakukan, mencakup

berbagai tipe kegiatan yang dikembangkan oleh tiga kelompok

analisis :

a. Analisis yang berorientasi pada disiplin, yang sebagian besar dari

para ilmuan politik dan sosiologi terutama berusaha untuk

mengembangkan dan menguji teori yang didasarkan pada teori dan

menerangkan sebab-sebab dan konsekuensi-konsekuensi kebijakan.

Kelompok ini jarang berusaha untuk mengidentifikasikan

tujuan-tujuan dan sasaran spesifik dari para pembuat kebijakan dan tidak

melakukan usaha apapun untuk membedakan variabel kebijakan

yang merupakan hal dapat diubah melalui manipulasi kebijakan,

dan variabel situasional yang tidak dapat dimanipulasi.

b. Analisis yang berorientasi pad masalah, sebagian besar terdiri dari

para ilmuan politik dan sosiologi yang berusaha menerangkan

sebab-sebab dan konsekuensi dari kebijakan. Walaupun demikian,

para analisis yang berorientasi pada masalah ini kurang menaruh

perhatian pada pengembangan dan pengujian teori-teori yang

dianggap penting dalam disiplin ilmu sosial, tetapi lebih menaruh

(29)

dimanipulasi oleh para pembuat kebijakan untuk mengatasai

masalah.

c. Analisis berorientasi pada aplikasi, yaitu kelompok analisis yang

mencakup ilmuan politik dan sosiologi, tapi juga orang-orang yang

datang dari bidang studi profesional pekerja sosial dan administrasi

publik dan bidang studi sejenis seperti penelitian evaluasi.

Kelompok ini juga berusaha menerangkan sebab dan kosekuensi

kebijakan-kebijakan dan program publik, tetapi tidak menaruh

perhatian terhadap pengembangan dan pengujian teori-teori dasar.

Lebih jauh kelompok ini tidak hanya menaruh perhatian pada

variabel-variabel kebijakan, tetapi juga melakukan indentifikasi

tujuan dan sasaran kebijakan dari pada para pembuat kebijakan dan

pelaku kebijakan.

3. Analisis kebijakan yang terintegrasi

Analisis kebijakan yang terintegrasi merupakan bentuk analisis yang

mengkombinasikan gaya operasi para praktif yang menaruh perhatian

pada penciptaan dan transformasi dan informasi sebelum dan sesudah

kebijakan diambil. Analisis kebijakan yang terintegrasi tidak hanya

mengharuskan para analisis untuk mengaitkan tahap penyelidikan

restropektif dan perspektif, tetapi juga menuntut para analisis untuk

terus menerus menghasilkan dan mentransformasikan informasi setiap

(30)

berulang-ulang, tanpa ujung, paling tidak dalam prinsipnya. Analisis

dapat memulai penciptaan dan tranformasi informasi pada setiap titik

dari lingkaran analisis, baik sebelum dan sesudah aksi. Analisis

kebijakan yang terintegrasi mempunyai semua kelebihan yang dimiliki

metodologi analisis prospektif dan restropektif, tetapi tidak satupun

dari kelebihan mereka. Analisis kebijakan yang terintegrasi melakukan

pemantauan dan evaluasi kebijakan secara terus menerus sepanjang

waktu. Tidak demikian halnya analisis prospektif dan restropektif yang

menyediakan lebih sedikit informasi.

F.2. Teori Konflik James Scott (Patron-Clien)

Istilah “patron” berasal dari bahasa Spanyol yang secara etimologis berarti

“seseorang yang memiliki kekuasaan (power), status, wewenang, dan pengaruh”,

sedangkan “klien” berarti “bawahan atau orang yang diperintah atau disuruh”.

Teori ini hadir untuk menjelaskan bahwa didalam sebuah interaksi sosial

masing-masing aktor melakukan hubungan timbal balik. Hubungan ini dilakukan baik

secara vertikal (satu aktor kedudukannya lebih tinggi) maupun secara horizontal

(masing-masing aktor kedudukannya sama).28

Pola hubungan patron-klien merupakan aliansi dari dua kelompok

komunitas atau individu yang tidak sederajat, baik dari segi status, kekuasaan,

maupun penghasilan, sehingga menempatkan klien dalam kedudukan yang lebih

28

(31)

rendah (inferior), dan patron dalam kedudukan yang lebih tinggi (superior). Atau,

dapat pula diartikan bahwa patron adalah orang yang berada dalam posisi untuk

membantu klien-kliennya29

Lebih lanjut mengenai hal ini, sebagaimana yang dikemukakanoleh Scott

bahwa ada ketidakseimbangan dalam pertukaran antara dua mitra yang

mengekspresikan dan reflets perbedaan dalam kekayaan relatif mereka, kekuasaan

dan status. Seorang klien dalam pengertian ini adalah seseorang yang telah

memasuki hubungan pertukaran yang tidak seimbang di mana ia tidak dapat

membalasnya sepenuhnya.Sebuah utang kewajiban mengikat dia untuk

pelindung.

.Menurutnya seorang patron berposisi dan berfungsi

sebagai pemberi terhadap kliennya, sedangkan klien berposisi sebagai penerima

segala sesuatu yang diberikan oleh patronnya.

30

Scott memang tidak secara langsung memasukkan hubungan patron-klien

ke dalam teori pertukaran. Meskipun demikian, jika memperhatikan

uraian-uraiannya mengenai gejala patronase, maka akan terlihat di dalamnya unsur

pertukaran yang merupakan bagian terpenting dari pola hubungan semacam ini.

Menurut pakar ilmu politik Universitas Yale Amerika Serikat ini, hubungan

patron-klien berawal dari adanya pemberian barang atau jasa yang dapat dalam

berbagai bentuk yang sangat berguna atau diperlukan oleh salah satu pihak, bagi

29

Jamesscott C. 1983. Moral Ekonomi Petani. Jakarta: LP3S. Cetakan Kedua. Hal. 14

30

(32)

pihak yang menerima barang atau jasa tersebut berkewajiban untuk membalas

pemberian tersebut.31

Scott menjabarkan makna hubungan patron-klien adalah suatu kasus

khusus hubungan antar dua orang yang sebagian besar melibatkan persahabatan

instrumental, dimana seseorang yang lebih tinggi kedudukan sosial ekonominya

(patron) menggunakan pengaruh dan sumber daya yang dimilikinya untuk

memberikan perlindungan atau keuntungan atau kedua-duanya kepada orang yang

lebih rendah kedudukannya (klien), yang pada gilirannya membalas pemberian

tersebut dengan memberikan dukungan yang umum dan bantuan, termasuk

jasa-jasa pribadi kepada patro. Dalam hubungan ini, pertukaran tersebut merupakan

jalinan yang rumit dan berkelanjutan, biasanya baru terhapus dalam jangka

panjang. Imbalan yang diberikan klien bukan imbalan berupa meteri melainkan

dalam bentuk lainnya32

a. ketimpangan pasar yang kuat dalam penguasaan kekayaan,

. Scott menyebutkan tiga faktor yang menjadi penyebab

tumbuh dan berkembangnya relasi patronase dalam suatu komunitas, yaitu:

b. status dan kekuasaan yang banyak diterima sebagai sesuatu yang

sah,

31

Ibid. hal. 91-92

32

(33)

c. ketiadaan jaminan fisik, status dan kedudukan yang kuat dan

bersifat personal serta ketidakberdayaan kesatuan keluarga sebagai

wahana yang efektif bagi keamanan dan pengembangan diri.33

Scott memberi defenisi bahwa ikatan patron-klien didasarkan dan berfokus

pada pertukaran yang tidak setara yang berlangsung antar kedua belah pihak, serta

tidak didasarkan pada kriteria askripsi.

Disatu sisi Scott mengatakan bahwa dalam hubungan patron-klien dapat

menimbulkan hubungan yang bersifat eksploitasi, walaupun terdapat situasi

ketergantungan antara penyewa/penggarap (klien) dengan tuan tanah (patron),

sehingga berimplikasi terhadap minculnya konflik atau pertentangan seperti kasus

di Luzon tengah Filipina. Disamping itu salah satu penyebab konflik adalah

karena reaksi yang diberikan oleh dua orang/kelompok atau lebih dalam situasi

yang sama berbeda-beda disogreement/ketidaksetujuannya. Eksploitasi menurut

Scott adalah bahwa ada individu, kelompok atau kelas yang secara tidak adil atau

secara tidak wajar menarik keuntungan dari kerja, atau atas keinginan orang

lain.Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam pengertian ini ada dua cara eksploitasi.

Pertama, harus dilihat sebagai suatu hubungan antara perorangan, dan ada pihak

yang mengeksploitasi dan dieksploitasi.Kedua, merupakan distribusi tidak wajar

33

(34)

dari usaha dan hasilnya.Eksploitasi berbeda dengan resiprositas dalam hubungan

patron klien.34

Dalam hubungan ini sebagian besar melibatkan persahabatan instrumental

dimana terdapat seseorang dengan status sosial ekonomi lebih tinggi (patron) yang

pada gilirannya memberi balasan, dukungan dan bantuan kepada seseorang yang

status ekonominya lebih rendah (clien). Scott juga mengatakan bahwa hubungan

patron-klien memeiliki hubungan pertukaran antara dua peran yang berbeda.

Ikatan tersebut dapat berupa hubungan persahabatan instrumental dimana

sebagian besar individu atau kelompok sosial ekonomi yang lebih tinggi statusnya

(patron) menggunakan pengaruh dan sumberdaya untuk memberikan

perlindungan atau manfaat kepada kelompok yang lebih rendah statusnya

(clien).35

G. Metodologi Penelitian G.1. Metode Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan metodologis yaitu deskriptif. Penelitian

deskriptif adalah suatu cara yang digunakan untuk memecahkan masalah yang ada

berdasarkan fakta dan data-data yang ada. penelitian ini untuk memberikan

gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena.36

34

Scott, JC. 1994. Moral Ekonomi Petani: Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara. Jakarta [ID]: LP3ES. Hal. 239

35

Ibid. hal 92

36

(35)

Tujuan dasar penelitian ini adalah membuat deskripsi, gambaran atau lukisan

secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta

hubungan antara fenomena yang diselidiki. Metode penelitian ini tidak sampai

mempersoalkan jalinan hubungan antara variabel yang ada, tidak dimaksudkan

untuk menarik generalisasi yang menjelaskan variabel-variabel yang

menyebabkan suatu gejala atau kenyataan sosial. Sebab pada metode deskriptif

tidak menggunakan atau tidak melakukan pengujian hipotesa seperti yang

dilakukan pada metode eksplanatif berarti tidak dimaksudkan untuk membangun

dan mengembangkan perbendaharaan teori.37 Metode penelitian yang digunakan

untuk menjawab penelitian adalah metode penelitian deskriptif. Menurut Hadari

Nawawi, metode penelitian deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan

masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek

atau objek penelitian seseorang, lembaga, maupun masyarakat pada saat sekarang

berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya.38

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis

penelitian kualitatif. Dimana menurut peneliti penelitian ini termasuk kedalam Pada penelitian kali ini penulis akan melakukan penggambaran proses

kebijakan relokasi yang ada di Desa Lingga kabupaten karo tahun 2016.

G.2. Jenis Penelitian

37

Sanafiah Faisal, “Format Penelitian Sosial Dasar-Dasar Aplikasi”. Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1995. Hal. 20

38

(36)

jenis penelitian yang tidak menggunakan angka atau nomor untuk mengolah data

yang diperlukan. Data terdiri dari kutipan-kutipan orang dan deskripsi keadaan,

kejadian, intraksi, dan kegiatan. Dengan menggunakan jenis data ini,

memungkinkan peneliti mendekati dan sehingga mampu mengembangkan

komponen-komponen keterangan yang analitis, konseptual dan kategoris dari data

itu sendiri.

Studi ini pada dasarnya bertumpu pada penelitian kualitatif. Aplikasi

penelitian kualitatif ini adalah konsekuensi metodologis dari penggunaan metode

deskriptif. Bogdan dan Taylor mengungkapkan bahwa “metodologi kualitatif”

sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata

tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati. Penelitian kualitatif

dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan atau proses penjaringan informasi dari

kondisi sewajarnya dalam kehidupan suatu objek, dihubungkan dengan

pemecahan masalah, baik dari sudut pandang teoritis maupun praktis.

Pengertian diatas jelaslah bahwa penelitian kualitatif bersifat induktif,

karena tidak dimulai dari hipotesa sebagai generalisasi untuk diuji kebenarannya

melalui pengumpulan data yang bersifat khusus. Hal yang sama juga diungkapkan

oleh Bogdan dan Biklen, bahwa salah satu karakteristik penelitian kualitatif yang

memberikan perbedaan yang sangat nyata dengan penelitian kuantitatif adalah

penelitian yang bersifat deskriptif dimana data-data yang dibutuhkan pada

umumnya berbentuk kata yang dapat menggambarkan dan bukan angka atau kata

(37)

dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat suatu objek tertentu dengen

mengguakan survey data-data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara yang

didukung oleh panduan wawancara.39

39

Sinulingga, Sukaraja, 2011. Metode Penelitian. Medan : USUpress. Hal. 43.

Penelitian kualitatif dimulai dengan mengumpulkan informasi dalam

situasi sewajarnya, untuk dirumuskan menjadi satu generalisasi yang dapat

diterima oleh akal sehat manusia. Masalah yang diungkapkan dapat disiapkan

sebelum mengumpulkan data atau informasi, akan tetapi mungkin saja berubah

dan berkembang selama penelitian berlangsung. Dengan demikian data atau

informasi yang dikumpulkan terarah pada kalimat yang diucapkan, kalimat yang

tertulis dan tingkah laku kegiatan. Informasi dapat dipelajari dan ditafsirkan

sebagai usaha untuk memahami maknanya sesuai dengan sudut pandang sumber

datanya. Maka informasi yang bersifat khusus dalam bentuk teoritis melalui

proses penelitian kualitatif tidak mustahil akan menghasilkan teori-teori baru,

tidak sekedar untuk kepentingan praktis saja.

G.3. Lokasi Penelitian

Dalam penulisan ini, yang menjadi sumber penelitian studi analisis adalah

(38)

G.4. Teknik Pengumpulan Data

Penulisan penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dan

informasi yang dibutuhkan, maka peneliti melakukan beberapa teknik

pengumpulan data, yaitu :

1. Data primer yang diperoleh dari hasil wawancara atau pengamatan

( melihat, Mendengar, dan bertanya). Selain itu data primer ini dapat

melalui catatan tertulis atau alat perekam. Data primer merupakan

informasi yang telah dikumpulkan oleh peneliti langsung dari sumbernya.

Dalam hal ini yang menjadi key person pada penelitian ini adalah :

a. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) selaku bagian

dari pemerintah yaitu bapak Suharta Sembiring, S.T selaku

kepala bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi.

b. Kepala Desa Lingga yaitu Bapak Servis Ginting

c. Sample masyarakat desa lingga diantaranya bapak Sarana

Sinulingga selaku tokoh masyarakat Desa Lingga bapak

Keteng Sembiring dan ibu Leni Br sembiring mewakili

masyarakat Desa Linga.

Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam penelitian

kualitatif dianggap sebagai Key Person, dan dalam penelitian kualitatif key

person tidak dibatasi, yang penting key person yang dimaksud dapat

memenuhi data yang diperlukan. Dalam penelitian kuantitatif, istilah key

(39)

metode kualitatif ini jumlah sample yang diambil sesuai kebutuhan dan

tidak membutuhkan rumus perhitungan seperti yang ada dalam metode

kuantitatif.40

c. Data sekunder yang berupa pengumpulan data yang peneliti gunakan

adalah mencari data dan informasi melalui literatur-literatur,

buku-buku, jurnal, majalah, surat kabar, dan internet yang berhubungan

dengan pokok permasalahan yang akan dibahas dan berkaitan dengan

penelitian ini.

G.5. Teknik Analisa Data.

Analisa data adalah proses pengorganisasian dan mengurutkan data

kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema

dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan data. Analisis data

kualitatif memberikan hasil penelitian yang memperoleh gambaran terhadap

proses yang diteliti juga menganalisis data yang ada di balik informasi, data, dan

proses tersebut41

40

Noung Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi III, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996. Hal28

41

Burhan Bungin, 2009. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial lainnya. Jakarta : Kencana. Hal.153

. Proses pengolahan data pada penelitian ini dimulai dari tahap

mengedit data yang terkumpul melalui wawancara kepada pihak yang terkait yang

berhubungan dengan studi kasus yang diangkat oleh peneliti, melalui observasi

kelapangan yang menjadi lokasi penelitian yaitu pemerintah Kabupaten Karo dan

(40)

penelitian ini. Hal ini dilakukan untuk melihat kesesuaian dari data tersebut

dengan topik yang diteliti.

Setelah terkumpul data yang diolah, dilanjutkan dengan menganalisis data

secara deskriptif berdasarkan fenomena yang terjadi dilapangan dan data yang

diperoleh dari informan dan responden yang telah di tetapkan peneliti yaitu pihak

yang terkait dengan pembuat kebijakan yaitu pemerintah kabupaten Karo dan

masyarakat yang ada di Desa Lingga Kabupaten Karo. Hal ini dilakukan agar

diperoleh kejelasan atas permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya dan

(41)

H. Sistematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN

Pada Bab ini akan membahas atau menguraikan Latar Belakang

Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kerangka teori,

Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Pada Bab ini akan mendeskripsikan gambaran umum lokasi

penelitian sebagai sumber penelitian studi analisis yaitu di desa

Lingga Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara serta profil

BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten

Karo.

BAB III : PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

Pada Bab ini peneliti akan menyajikan hasil penelitian mengenai

proses formulasi kebijakan relokasi korban Gunung Sinabung di

Desa Lingga, serta apa yang menjadi penyebab kerusuhan yang

ada di Desa Lingga Kabupaten karo.

BAB IV : PENUTUP

Pada Bab ini berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil

pembahasan pada bab-bab sebelumnya, serta berisi saran baik

yang bermanfaat bagi penulis secara pribadi maupun para

Gambar

Tabel diatas menjelaskan pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam

Referensi

Dokumen terkait

Sebagaimana umumnya pembangunan dan penataan kebudayaan yang berdasarkan kosep dualisme-paradoks, dua arus aliran kekuasaan tidaklah rnungkin dapat hidup secara

[r]

(6) Nilai Tetap Tambahan Penghasilan berdasarkan kinerja instansi ditetapkan dengan Keputusan Sekretaris Daerah atas nama Gubernur dan besarnya sama dengan tambahan

[r]

bahwa setelah dilakukan evaluasi guna pengaturan teknis pendataan, dan pendataan untuk Penduduk Rentan Administrasi Kependudukan serta Pendaftaran Peristiwa

[r]

Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh. Gelar Strata Satu

Studi pustaka dilakukan untuk menambah pengetahuan penulis dan untuk mencari referensi bahan dengan membaca literature maupun bahan – bahan teori baik berupa buku, data dari