i
KONTRASEPSI KB PIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KRUENG BARONA JAYA KABUPATEN ACEH BESAR
Karya Tulis Ilmiah
Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Program Studi Diploma III Kebidanan U’Budiyah
Banda Aceh
Diajukan Oleh :
IDAWATI NIM : 09010024
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN U’BUDIYAH BANDA ACEH DIPLOMA III KEBIDANAN
ii ABSTRAK
Karakteristik Akseptor KB Yang Menggunakan Alat Kontrasepsi KB Pil Di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011 xii + 40 halaman : 7 Tabel, 11 Lampiran
Berdasarkan laporan dari Puskesmas Krueng Barona Jaya tahun 2010 sebagian besar akseptor KB menggunakan kontrasepsi pil sebanyak 324 jiwa (37,2%). Pengguna alat kontrasepsi memiliki ciri-ciri khusus yang bersifat lebih lekas sesuai dengan penawaran tertentu. Karakteristik ini dapat mempengaruhi gaya hidup pasien dalam menghadapi hal-hal baru atau asing bagi dirinya termasuk juga kondisi psikologisnya (Oacley, 2004). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Tahun 2011.
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional, menggunakan kuesioner, penelitian dilaksanakan pada tanggal 25 s/d 30 Juni 2011, dimana teknik pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa dari 76 responden, karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB sebagian besar berpendidikan menengah sebanyak 38 orang (50%), sebagian besar berpengetahuan dengan kategori cukup sebanyak 47 orang (61,8%), sebagian besar berpendapatan rendah sebanyak 40 orang (62,6%),
Dapat disimpulkan bahwa karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB sebagian besar berpendidikan menengah, berpengetahuan cukup dan berpendapatan rendah, diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi agar dapat memberikan informasi kepada mahasiswi dan diharapkan penelitian ini menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan untuk meningkatkan pelayanan asuhan kebidanan pada ibu hamil khususnya keluarga Berencana sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal untuk meningkatkan kesejahterkan keluarga.
Kata Kunci : Pendidikan, Pengetahuan, Pendapatan, Akseptor KB, Alat kontrasepsi pil KB
iii
Karya Tulis Ilimiah Ini Telah Disetujui Untuk Dipertahankan Dihadapan Tim Penguji Diploma III Kebidanan STIKES U’budiyah Banda Aceh
Banda Aceh, 2011
Nama Pembimbing
(Rukiah. AR, S.Si.T)
MENGETAHUI :
KETUA PRODI DIPLOMA III KEBIDANAN STIKES U’BUDIYAH BANDA ACEH
iv
Diploma III Kebidanan STIKES U’budiyah Banda Aceh
Banda Aceh, 2011
Tanda Tangan
Ketua : Rukiah. AR, S.Si.T (___________________)
Penguji I : A. Sakir Walad, SKM (___________________)
Penguji II : Ulfa Farrah Liza, S.ST (___________________)
MENYETUJUI MENGETAHUI
KETUA STIKES U’BUDIYAH KETUA PRODI DIPLOMA III
BANDA ACEH KEBIDANAN
v
Dengan ini saya menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah ini sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacuan dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Banda Aceh, Juli 2011
vi
Puji dan syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT dengan berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan judul “Karakteristik Akseptor KB Yang Menggunakan Alat Kontrasepsi KB Pil Di
Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011” telah dapat peneliti selesaikan, tidak lupa pula salawat dan salam peneliti hantarkan ke pangkuan alam Baginda Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa manusia dari alam kegelapan ke alam terang benderang yang penuh ilmu pengetahuan sehingga banyak hamba Allah yang berpikir dan berilmu.
Peneliti menyadari Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini tidak dapat diselesaikan tanpa bantuan berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Dedi Zefrizal, ST, Selaku Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) U’budiyah Banda Aceh.
2. Ibu Marniati, M.Kes, Selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) U’budiyah Banda Aceh.
3. Ibu Lilis Suryani, SKM, M.Kes, selaku Ketua Prodi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) U’budiyah Banda Aceh.
vii
penguji II dari Karya Tulis Ilmiah yang telah banyak memberikan bimbingan dan saran dalam penyusunan KTI ini.
6. dr Nilawati, selaku kepala Puskesmas Krueng Barona Jaya yang telah memberikan izin dan masukan kepada peneliti sehingga terselesaikannya Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
7. Para Dosen dan Staf Akademik Prodi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) U’budiyah Banda Aceh.
8. Keluarga Tercinta peneliti yang senantiasa menjadi sumber inspirasi bagi peneliti, selalu menghibur penulis dikala duka juga tak bosan memberikan dorongan demi terselesaikannya Karya Tulis Ilmiah ini.
9. Semua teman-teman angkatan 2008-2011, yang telah memberikan dorongan dan dukungan dalam pelaksanaan Karya Tulis Ilmiah ini.
Akhirnya peneliti mengharapkan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan penulisan ini, semoga berguna dan bermanfaat bagi kita semua.
Banda Aceh, Juli 2011
viii
D. Karakteristik Ibu-ibu Akseptor KB ... 15
BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN ... 23
A. Kerangka Konsep ... 23
BAB V HASILPENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 30
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 30
B. Hasil Penelitian ... 30
ix
A. Kesimpulan ... 39 B. Saran ... 39 DAFTAR PUSTAKA
x
Tabel 3.1 Definisi Operasional ... 24 Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Akseptor KB
Yang Menggunakan Alat Kontrasepsi Pil KB Ditinjau Dari Pendidikan Di Wilayah Kerja Puskesmas
Krueng Barona Jaya Tahun 2011 ... 31 Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Akseptor KB
Yang Menggunakan Alat Kontrasepsi Pil KB Ditinjau Dari Pengetahuan Di Wilayah Kerja Puskesmas
Krueng Barona Jaya Tahun 2011 ... 31 Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Akseptor KB
Yang Menggunakan Alat Kontrasepsi Pil KB Ditinjau Dari Pendapatan Di Wilayah Kerja Puskesmas
Krueng Barona Jaya Tahun 2011 ... 32 Tabel 5.4 Distribusi Karakteristik Akseptor KB Yang
Menggunakan Alat Kontrasepsi Pil KB Ditinjau Dari Pendidikan Di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona
Jaya Tahun 2011 ... 32 Tabel 5.5 Distribusi Karakteristik Akseptor KB Yang
Menggunakan Alat Kontrasepsi Pil KB Ditinjau Dari Pengetahuan Di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona
Jaya Tahun 2011 ... 33 Tabel 5.6 Distribusi Karakteristik Akseptor KB Yang
Menggunakan Alat Kontrasepsi Pil KB Ditinjau Dari Pendapatan Di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona
xi
xii Lampiran 1 Surat Pengambilan Data Lampiran 2 Surat Izin Penelitian
Lampiran 3 Surat Izin Permohonan Responden Lampiran 4 Surat Izin Bersedia Menjadi Responden Lampiran 5 Kuesioner
Lampiran 6 Kunci Jawaban
Lampiran 7 Surat Selesai Penelitian
Lampiran 8 Tabel pengolahan Data (Master Tabel) Lampiran 9 Jadwal Kegiatan KTI
Lampiran 10 Lembar Konsul Lampiran 11 Biodata
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia menghadapi permasalahan pada jumlah dan kualitas sumber daya manusia dengan tingginya tingkat kelahiran setiap tahun. Untuk dapat mengangkat derajat kehidupan telah dilaksanakan secara bersamaan dengan pembangunan ekonomi dan Keluarga Berencana (KB) yang merupakan sisi masing-masing mata uang. Bila gerakan keluarga berencana tidak dilakukan bersamaan dengan pembangunan ekonomi, dikhawatirkan hasil pembangunan tidak akan berarti (Manuaba, 2003 ).
Keluarga sebagai unit terkecil kehidupan bangsa diharapkan dapat menerima Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) yang berorentasi pada zero population growth (pertumbuhan seimbang). Gerakan KB Nasional selama ini telah berhasil mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam membangun keluarga kecil yang makin mandiri (Manuaba, 2003). Hartono (2004) juga mengemukkan bahwa gerakan KB adalah suatu program KB mandiri yang dapat diwujudkan oleh segenap lapisan masyarakat. Keberhasilan ini mutlak harus diperhatikan, bahkan harus terus ditingkatkan karena pencapaian tersebut belum merata.
KB merupakan suatu cara yang efektif untuk mencegah kematian ibu dan anak, oleh karena dapat menolong Pasangan Usia Subur (PUS) menghindari kehamilan resiko tinggi. KB adalah tindakan yang membantu individu atau Pasangan Usia Subur untuk mengatur interval/menjarangkan
kehamilan, menghindari kehamilan yang tidak diinginkan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga. Cara-cara ini disebut cara ber-KB atau kontrasepsi (Hartono, 2004).
Kontrasepsi adalah suatu metode yang digunakan oleh PUS untuk menjarangkan/mencegah kehamilan atau pencegahan konsepsi, upaya ini dapat bersifat sementara ataupun permanen. Untuk mencapai tujuan tersebut berbagai cara dapat dilakukan antara lain dengan penggunaan alat kontrasepsi seperti pil KB/kontrasepsi oral, suntikan KB/intra muscular, penggunaan alat dalam saluran reproduksi seperti kondom, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR), alat kontrasepsi bawah kulit/implant, operasi (vasektomi dan tubektomi) dan dengan obat topikal intravagina yang bersifat spermisida
(Prawirohardjo, 2003).
Pil KB adalah salah satu metode kontrasepsi yang paling sering digunakan diseluruh dunia. Tiga perempat pengguna pil KB adalah wanita dibawah usia 30 tahun. Pil KB semakin banyak dipakai karena kerjanya yang efektif, pemakaiannya yang praktis, harga yang relatif murah dan aman. Kontrasepsi pil memiliki keuntungan antara lain angka kegagalan kurang dari 0,1% pertahun, tidak mengganggu kelancaran ASI, melindungi ibu dari anemia dan lain-lain, sedangkan kerugiannya adalah terganggunya pola haid seperti amenorhoe, munculnya bercak (spotting), pertambahan berat badan pada kunjungan pertama dan lain-lain (Wordpress, 2009).
Pil, 4,93% memilih implant, 2,72% memilih AKDR dan 1,11% memilih kontrasepsi lain-lain. Pada umumnya PUS memilih metode non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) seperti KB alamiah, suntikan dan pil, sehingga metode KB MKJP seperti Intra Uterine Devices/IUD, implant, Medis Operatif Pria/MOP dan Medis Operatif Wanita/MOW masih kurang diminati.
Berdasarkan profil kesehatan Dinkes Prov Aceh (2009) diperoleh data bahwa dari jumlah Pasangan Usia Subur/PUS 693.602 yang ada di Aceh, PUS yang menjadi akseptor KB aktif sebanyak 415.452 jiwa (59,90%) dan akseptor KB baru sebanyak 122.128 jiwa (17,61%), dimana PUS/akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi suntik 48,61%, pil 42,71%, kondom 4,78%, obat vagina 1%, AKDR 1,69%, Medis Operatif Pria/Medis Operatif Wanita 0,71%, dan implant 1,49% (Dinkes Prov Aceh, 2009).
Data yang diperoleh dari Laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar tahun 2009, dari jumlah PUS sebanyak 28.860 jiwa, yang menjadi akseptor KB aktif sebanyak 14.858 jiwa (51,48%) dan akseptor KB baru sebanyak 6.521 jiwa (22,60%), dimana PUS/akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi suntik 48,13%, pil 31,24%, kondom 6,49%, obat vagina 0%, AKDR 2,67%, Medis Operatif Pria/Medis Operatif Wanita 6,58%, dan implant 4,89% (Dinkes Kabupeten Aceh Besar, 2009).
suntikan sebanyak 378 orang (43,3%) dan pil sebanyak 324 jiwa (37,2%), implant sebanyak 48 orang (5,51%), kondom sebanyak 121 orang (13,9%)
(Laporan Puskesmas Krueng Barona Jaya, 2010).
Penggunaan alat kontrasepsi merupakan salah satu upaya yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Pengguna alat kontrasepsi memiliki ciri-ciri khusus yang bersifat lebih lekas sesuai dengan penawaran tertentu. Karakteristik ini dapat mempengaruhi gaya hidup pasien dalam menghadapi hal-hal baru atau asing bagi dirinya termasuk juga kondisi psikologisnya (Oacley, 2004). Karakteristik penguna kontrasepsi mencakup pendidikan, pengetahuan, dan pendapatan/ekonomi (Angelo, 2001).
Pendidikan adalah suatu proses perubahan dan tingkah laku seseorang melalui upaya pengajaran. Pendidikan bertalian dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan, makin banyak dan makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin baik tingkat pengetahuan yang dimilikinya, sehingga informasi yang diperoleh menjadi lebih baik untuk merubah cara pandang seseorang terhadap sesuatu (Notoatmodjo, 2003). Sedangkan informasi akan memberi pengaruh pada pengetahuan seseorang yang bermanfaat dan mempunyai nilai yang nyata bagi si penerima, sehingga dapat dipakai sebagai dasar untuk mengambil keputusan untuk masa yang akan datang (Kadir, 2008).
menggunakan kontrasepsi pil sebagian besar berumur produktif (25-40 tahun) dalam menggunakan pil, 6 orang memiliki anak lahir hidup >2 orang (paritas tinggi) dan 4 orang memiliki anak <2, 3 orang berpendidikan tinggi (S1), 5 orang berpendidikan menengah (SMA), dan 2 orang berpendidikan dasar (SMP), 6 orang memiliki pengetahuan yang baik tentang pil baik dari segi keuntungan pil dan kerugiannya dan 4 orang memiliki pengetahuan yang kurang tentang pil. Dari latar belakang diatas, maka penulis merasa tertarik ingin melakukan peneliti tentang “Karakteristik Akseptor KB Yang
Menggunakan Alat Kontrasepsi Pil Di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Tahun 2011”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Tahun 2011?”.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB ditinjau dari pendidikan.
b. Untuk mengetahui karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB ditinjau dari pengetahuan.
c. Untuk mengetahui karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB ditinjau dari pendapatan.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Puskesmas Krueng Barona Jaya
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan masukan sehingga dapat memberikan informasi dan penyuluhan kepada masyarakat (PUS) tentang KB Pil.
2. Bagi insitusi pendidikan
Diharapkan penelitian ini dapat menambah bahan informasi yang dijadikan sebagai referensi bagi pengembangan ilmu dan penelitian lebih lanjut, serta dapat memberikan informasi yang akurat kepada mahasiswa dan pihak terkait lainnya tentang pil KB.
3. Bagi peneliti
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Kontrasepsi 1. Pengertian Kontrasepsi
Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra berarti ”melawan” atau ’mencegah”, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel
telur yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma (Suratun, 2008).
Sarwono (2003) juga mengemukakan kontrasepsi adalah alat/obat yang digunakan untuk menunda/menjarangkan kehamilan serta menghentikan kesuburan. Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (ovum) yang telah matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan.
Kontrasepsi adalah pencegahan kehamilan atau pencegahan konsepsi. Untuk mencapai tujuan tersebut, berbagai cara dilakukan, antara lain penggunaan pil KB/kontrasepsi oral, suntikan KB/intra vena, penggunaan alat dalam saluran reproduksi (kondom, alat kontrasepsi dalam rahim/IUD dan lain-lain), susuk/implant, kontrasepsi mantap/operasi (tubektomi/vasektomi),
atau dengan obat topikal intravaginal yang bersifat spermisida (Anonymous, 2009).
2. Jenis-jenis Kontrasepsi
Sarwono (2003) mengemukakan bahwa setiap jenis kontrasepsi memiliki cara kerja yang berbeda-beda. Secara umum kontrasepsi di kelompokkan menjadi 5 berdasarkan metode kerja masing-masing yaitu : a. Metode kontrasepsi alami, terdiri dari pantang berkala/kalender, senggama
terputus, pembilasan pasca senggama, Lactation Amenorrhea Method (LAM).
b. Metode kontrasepsi barrier, terdiri dari kondom, diafragma vaginal, cervical cap.
c. Metode kontrasepsi hormonal, terdiri dari pil (pil kombinasi, pil sekuensial, pil mini, pil pasca senggama/morning after pil), suntikan (Depo provera), susuk /implant.
d. Metode kontrasepsi dalam rahim, terdiri dari inert (lippes loop dan the chinese ring), yang mengandung tembaga (TCu 380A, TCu 200C,
multiload, MLCu 250, MLCu 375, dan Nova T.
B. Kontrasepsi Pil KB 1. Pengertian Pil KB
Kontrasepsi pil KB adalah kontrasepsi hormonal yang berkerja dengan cara mengendalikan hormon (eserogen dan progesteron), yang berfungsi menngatur siklus reproduksi pada wanita. Kontrasepsi oil/oral adalah kombinasi dari hormon estrogen dan progestin atau hanya progestin-mini pil. yang mengandung progestin saja atau kombinasi progestin dan estrogen (Hartanto, 2004).
Pil KB adalah suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk pil atau tablet didalam strip yang berisi gabungan hormon estrogen dan progesterone atau yang hanya terdiri dari hormon progesterone saja (Suratun,
2008).
2. Cara Kerja Pil KB
Sarwono (2003) mengemukakan cara kerja kontrasepsi pil antara lain sebagai berikut :
a. Menekan ovulasi b. Mencegah implantasi
c. Lendir serviks mengental sehingga sulit dilalui sperma
d. Pergerakkan tuba tergaggu sehingga transportasi telur dengan sendirinya akan terganggu pula
3. Keuntungan Pil KB
Menurut Suratun (2008) kontrasepsi pil memiliki beberapa keuntungan, sebagai berikut :
a. Efektif dan reversibilitasnya atau kembalinya kesuburan tinggi b. Harus diminum setiap hari
c. Mudah menggunakannya
d. Mengurangi rasa sakit pada waktu menstruasi e. Mencegah anemia difesiensi zat besi
f. Mengurangi kemungkinan infeksi panggul dan kehamilan ektopik, dan mengurangi kanker ovarium
4. Kerugian Pil KB
Manuaba (2003) menegmukakan kontrasepsi pil juga memiliki beberapa kerugian, sebagai berikut :
a. Pil Harus diminum secara teratur
b. Dalam jangka waktu yang panjang menekan fungsi ovarium c. Berat badan bertambah dan rambut rontok
d. Menyebabkan tumbuhnya acne e. Mempengaruhi fungsi hati dan ginjal
Sedangkan menurut Suratun (2008) pil KB memiliki kerugian antara lain : a. Memerlukan disiplin dari pemakai
b. Mengurangi ASI pada pil yang mengandung estrogen
c. Menyebabkan resiko infeksi klamidia, nyeri payudara dan berhenti haid d. Pada penggunaan pil kombinasi jarang terjadi, mual terutama pada 3 bulan
pemakaian pertama
e. Meningkatkan tekanan darah, sehingga pil KB tidak dianjurkan pada wanita diatas 30 tahun karena akan mempengaruhi keseimbangan metabolisme tubuh.
5. Jenis-jenis pil KB
a. Monofasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormonal aktif.
b. Bifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormonal aktif.
c. Trifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon
aktif estrogen/progestin (E/P) dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormonal aktif.
Hartono (2004) mengemukakan bahwa kontrasepsi pil terdiri dari : a. Pil kombinasi
Pil Kombinasi adalah pil kontrasepsi yang mengandung sintetik estrogen dan preparat progestin yang mencegah kehamilan dengan cara
menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur oleh indung telur) melalui penekanan hormon LH dan FSH, mempertebal lendir mukosa servikal (leher rahim), dan menghalangi pertumbuhan lapisan
endometrium (Prawirohardjo, 2002).
Keuntungan pil kombinasi adalah sangat efektif, mencegah kanker indung telur dan kanker endometrium, menurunkan ketidakteraturan
menstruasi dan anemia yang berkaitan dengan menstruasi, menghaluskan
kulit dengan jerawat sedang, sedangkan kerugiannya adalah tidak direkomendasikan untuk menyusui, tidak melindungi dari Penyakit Menular Seksual (PMS), harus diminum setiap hari, membutuhkan resep dokter. Efek samping dari pil adalah efek samping lokal yaitu mual, nyeri tekan pada payudara, sakit kepala, dan efek samping : perdarahan tidak teratur (umumnya menghilang setelah 3 bulan pemakaian), meningkatkan tekanan darah (dapat kembali normal bila oral kombinasi dihentikan), bekuan darah pada vena tungkai (3-4 kali pada pil KB dosis tinggi), meningkatkan faktor risiko penyakit jantung, risiko stroke (pada wanita usia > 35 tahun) (Hartono, 2004).
b. Pil sekuensial
Pil sekuensial dewasa ini agak kurang populer. selama 14-15 hari pertama hanya diberi estrogen, selanjutnya kombinasi estrogen dan profesteron sampai siklus haid selesai (Prawirohardjo, 2002).
c. Pil mini (Kontrasepsi oral progestin)
Pil mini adalah pil yang mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur oleh indung telur), mempertebal lendir mukosa leher rahim, mengganggu pergerakan silia saluran tuba, dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium. Keefektifan berkurang bila pil tidak diminum di waktu yang sama setiap harinya. Kontrasepsi ini diberikan pada wanita yang menginginkan kontrasepsi oral namun tidak bisa menggunakan oral kombinasi karena pengaruh estrogen dapat membahayakan, misalnya pada wanita yang sedang menyusui (Sarwono, 2003).
Keuntungan pil ini adalah mula kerja cepat (24 jam setelah pemakaian pil), menurunkan kejadian menoragia dan anemia. Dapat digunakan pada wanita menyusui. Mencegah terjadinya kanker endometrium, tidak memiliki efek samping yang berkaitan dengan
estrogen (bekuan darah di vena tungkai). Sedangkan kerugiannya adalah
harus diminum di waktu yang sama setiap hari, kurang efektif dibandingkan oral kombinasi, membutuhkan resep dokter (Sarwono, 2003).
C. Konsep Akseptor KB
Subur. PUS adalah pasangan suami istri yang masih berpotensi untuk mempunyai keturunan atau biasanya ditandai dengan belum datangnya waktu menopouse (terhenti menstruasi bagi istri). Peserta KB (akseptor) adalah pasangan usia subur (PUS) dimana salah seorang menggunakan salah satu cara/alat kontrasepsi untuk tujuan pencegahan kehamilan, baik melalui program maupun non program (BKKBN, 2009).
D. Karakteristik Ibu-Ibu Akseptor KB
Karakteristik adalah ciri khusus yang memiliki sifat lebih lekas sesuai dengan penawaran tertentu. Karakteristik yang dimaksud adalah umur, etnis, jenis kelamin, pekerjaan dan spiritual atau keyakinan. Karakteristik ini dapat mempengaruhi gaya hidup pasien dalam menghadapi hal-hal baru atau asing bagi dirinya termasuk juga kondisi psikologisnya. (Oacley, 2004).
Sedangkan menurut Angelo (2001) karakteristik adalah sifat khas atau perwatakan tertentu. Karakteristik mencakup hal-hal sebagai berikut: usia, paritas, pendidikan, pengetahuan, ekonomi, gaya hidup (pola makan dan pola komunikasi), agama, ras dan lain-lain.
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi Akseptor KB menggunakan kontrseapsi a. Umur
kali lebih tinggi daripada usia 20 sampai 29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30 sampai 35 tahun. (Wiknjosastro, 2005).
Mochtar (2004) menyatakan bahwa pemilihan metode kontrasepsi yang akan digunakan menjadi hak penuh calon akseptor, tetapi harus mengingat pola konsepsi rasional yakni mempertimbangkan tujuan reproduksi dan umur akseptor. Dengan kata lain tujuan reproduksi harus jelas, ingin menunda kehamilan, menjarangkan, atau tidak ingin mempunyai anak lagi serta apakah ibu berumur reproduksi atau tidak.
Hartono (2004) mengemukakan bahwa salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi adalah umur istri, makin tua umur istri maka pemilihan alat kontrasepsi kearah alat yang mempunyai keefetivitas lebih tinggi yakni metode kontrasepsi jangka panjang. Hal ini didukung oleh BKKBN, bahwa kontrasepsi rasional harus mempertimbangkan umur akseptor, bila umur lebih dari 35 tahun, maka lebih efektif menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (BKKBN, 2004).
AKDR, suntik KB, pil KB, atau implant, dan bagi keluarga setelah mempunyai 2 anak dan umur istri lebih 30 tahun dianjurkan tidak hamil lagi, kondisi keluarga seperti ini dapat menggunakan kontrasepsi seperti metoda kontap, AKDR, implant, suntik KB dan pil KB.
b. Paritas
Paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang hidup (viable), yaitu sebagai berikut:
1) Nulipara yaitu seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi hidup untuk pertama kali.
2) Primipara yaitu seorang wanita yang pernah melahirkan bayi hidup untuk pertama kali.
3) Multipara yaitu seorang wanita yang pernah melahirkan bayi hidup beberapa kali (2-3 kali).
4) Grandemultipara yaitu seorang wanita yang pernah melahirkan bayi hidup atau mati lebih dari 4 kali (Prawiroharjo, 2005).
tetapi dewasa ini banyak akseptor KB yang masih mengalami kesulitan dalam menentukan pilihannya (Wiknjosastro, 2005).
Paritas diperkirakan ada kaitannya dengan arah pencarian informasi tentang pengetahuan ibu hamil, nifas/menyusui. Hal ini dihubungkan dengan pengaruh pengalaman sendiri maupun orang lain terhadap pengetahuan yang dapat mempengaruhi perilaku saat ini atau kemudian, pengalaman yang diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang (Kusnayanti, 2005).
c. Pendidikan
Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar, dimana dalam suatu proses belajar itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan dan perubahan kearah yang lebih matang pada diri individu, kelompok dan masyarakat (Notoatmodjo, 2007).
Dictionary Of Education menyebutkan bahwa pendidikan adalah
proses dimana seseorang mengembangkan sifat dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya didalam masyarakat dimana ia hidup, proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol, sehingga ia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal (Ihsan, 2003).
(SMP dan SMA), dan jenjang pendidikan non formal (Akademi dan universitas).
Pendidikan mempunyai pengaruh dalam hal pemilihan kontrasepsi. Disamping itu pendidikan mempunyai kaitan bermakna positif dengan norma besarnya keluarga dalam penerimaan KB. Makin tinggi tingkat pendidikan ibu makin tinggi pula perilaku penerimaannya terhadap KB, dan sebaliknya atau makin tinggi tingkat pendidikan ibu makin sedikit jumlah anak yang dimiliki dan sebaliknya.
d. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap sesuatu objek tertentu, penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2007).
dan memahami informasi yang diterima yang kemudian menjadi dipahami (Notoatmodjo, 2007).
Menurut Notoatmodjo (2007) Pengetahuan yang diinginkan didalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu :
1) Tahu (Know)
Merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah diartikan mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya untuk mengukur bahwa orang tahu tentang sesuatu dengan menggunakan kata kerja antara lain menyebutkan, mendefinisikan, menguraikan dan sebagainya.
2) Memahami (Comprehension)
Merupakan suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Bila telah paham secara objek, maka kita harus menjelaskan, menerangkan, menyebutkan contoh, menyimpulkan dan meramalkan terhadap objek yang dipelajari.
3) Aplikasi (Aplication)
4) Analisis (Analysis)
Merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke dalam komponen-komponen tertentu, tetapi dalam struktur organisasi tersebut dan mempunyai hubungan satu sama lain.
5) Sintesis (Syntesis)
Menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6) Evaluasi (Evaluating)
Merupakan kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi atau objek berdasarkan criteria yang telah ditentukan. Setelah orang mendapatkan pengetahuan, selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap yang diketahuinya itu.
Pengetahuan adalah informasi yang didapatkan dari pembelajaran dan pengalaman yang mempunyai arti bagi si penerima dan mempunyai nilai yang nyata, sehingga dapat dipakai sebagai dasar untuk mengambil keputusan dan tindakan di masa yang akan datang (Notoatmodjo, 2007).
kesehatan terutama dalam hal mencari pelayanan kontrasepsi untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan cara mencegah dan menjarangkan kehamilan. Notoatmodjo (2007).
e. Pendapatan
Pendapatan adalah seluruh penerimaan baik barang atau uang dari pihak lain atau hasil sendiri dengan jumlah uang atau jumlah harga yang berlaku saat ini (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005). Tingkat penghasilan atau pendapatan adalah gambaran yang lebih jelas tentang posisi ekonomi keluarga dalam masyarakat yang merupakan jumlah seluruh penghasilan dapat digolongkan menjadi 2 golongan yaitu penghasilan tinggi dan rendah sehubungan dengan tingkat penghasilan (Upah Minimum Regional, 2010) mengelompokkan sebagai berikut: 1) Tingkat penghasilan tinggi : Rp. 1.300.000
2) Tingkat penghasilan rendah : Rp. < 1.300.000
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian ini mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Angelo (2001) dimana karakteristik adalah sifat khas atau perwatakan tertentu. Karakteristik mencakup hal-hal yaitu umur, paritas, pengetahuan, pendidikan, ekonomi/pendapatan, gaya hidup (pola makan dan pola komunikasi), agama, ras dan lain-lain, karena keterbatasan waktu peneliti hanya meneliti tentang pengetahuan, pendidikan, pendapatan, untuk lebih jelas dapat dilihat pada bagan kerangka konsep, sebagai berikut :
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian
Akseptor pil KB Pengetahuan
Pendidikan
Pendapatan
B. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Tabel Defenisi operasional No Variabel Defenisi
Operasional
1. Pendidikan Jenjang pendidikan terakhir yang telah
Kuesioner - Tinggi bila tamat DIII/SI
2. Pengetahuan Segala sesuatu yang diketahui
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian Survei bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui gambaran karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Tahun 2011.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 25 s/d 30 Juni 2011.
C. Populasi Dan Sampel 1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah akseptor KB yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar sebanyak 324 orang.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah PUS yang mengunakan alat kontrasepsi pil KB dan tinggal di Kecamatan Krueng Barona Jaya, dengan penetapan jumlah sampel minimum menggunakan rumus Slovin (Notoatmodjo, 2005), sebagai berikut :
)
d : Tingkat kepercayaan (ketepatan yang diinginkan) sebesar 90 %
2
n dibulatkan menjadi 76 akseptor
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling, yaitu didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang
dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya, dengan menggunakan kriteria inklusi, yaitu :
a. Responden bersedia menjadi sampel b. Dapat membaca dan menulis
D. Cara Pengumpulan Data 1. Data Primer
untuk mendapatkan data mengenai karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Tahun 2011.
2. Data Sekunder
Data yang diperoleh dari laporan Dinas Kesehatan dan catatan/laporan Puskesmas Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besa, dan berbagai informasi yang ada kaitannya dengan penelitian ini.
E. Instrumen Penelitian
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan kuesioner yang berbentuk pilihan multiple choise dengan melakukan wawancara terpimpin untuk pengukuran gambaran karakteristik akseptor KB dalam pemilihan jenis kontrasepsi, dengan jumlah pertanyaan sebanyak 22 soal, yang terdiri dari 20 soal tentang pengetahuan, 1 soal tentang pendidikan, 1 soal tentang pendapatan.
Untuk variabel pengetahuan responden hanya memberikan jawabannya dengan cara memberikan tanda silang (x) pada salah satu pilihan jawaban yang dianggap benar, dengan nilai benar (1) dan salah (0) (Notoatmodjo, 2005).
F. Pengolahan dan Analisa Data 1. Pengolahan Data
mengisi dengan benar dan semua item pertanyaan sudah dijawab oleh responden.
b. Coding yaitu pengkodean dilakukan dengan cara melihat nomor
responden yang ada dilembar kuesioner mulai dari No Responden 1 s/d 76, untuk jawaban yang benar diberi nilai 1 (satu) dan untuk jawaban yang salah diberi nilai 0 (nol).
c. Transfering yaitu data yang telah diberi kode dan telah disusun secara berurutan kemudian dilakukan pengolahan data dan setelah itu dimasukkan kedalam master tabel.
d. Tabulating yaitu setelah data disusun ke dalam master tabel selanjutnya diberi total nilai untuk masing-masing variabel dan dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi.
2. Analisa data
Analisis data yang digunakan untuk melihat distribusi frekuensi variabel-variabel yang diteliti, baik variabel dependen maupun variabel independen. Dimana penilaian hasil ukur yang digunakan menurut Arikunto (2006). Kriteria penilaian variabel independen, terdiri dari : a. Pengetahuan, dengan kriteria:
1). Baik, bila menjawab 76-100% (16-20 soal) 2). Cukup, jika menjawab 56- 75 % (11-15 soal) 3). Kurang, jika menjawab <56% (1-10 soal)
b. Pendidikan, dengan kriteria
3) Dasar bila tamat SD/MIN, SMP/sederajat c. Pendapatan, dengan kriteria :
1) Tinggi bila > Rp. 1.300.000,- 2) Rendah bila < Rp. 1.300.000,-
Selanjutnya data dimasukkan dalam tabel distribusi frekuensi, menurut Sudjana (2005) analisis ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari masing-masing variabel dengan rumus sebagai berikut :
%
100
1
n
f
P
Keterangan : P : Persentase
f1 : Frekuensi teramati
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Puskesmas Krueng Barona Jaya merupakan Puskesmas yang terletak di Kecamatan Krueng Barona Jaya merupakan Puskesmas pemekaran dari Kecamatan Ingin Jaya Pada bulan Maret 2005, dengan jarak tempuh dari ibu Kota Provinsi Aceh + 6,5 km, memiliki jumlah penduduk + 13.744 jiwa yang terdiri dari 6.750 jiwa laki-laki, dan 6.994 jiwa perempuan Adapun batas-batas wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya adalah sebagai berikut :
1. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh
2. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh
3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kuta Baro Kab Aceh Besar 4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Ingin Jaya Kab Aceh Besar
B. Hasil Penelitian 1. Analisa Univariat
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di pada tanggal 25 s/d 30 Juni 2011, di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya, dengan jumlah responden sebanyak 76 orang, adapun hasil penelitian yang diperoleh dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
a. Pendidikan
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Akseptor KB Yang Menggunakan Alat Kontrasepsi Pil KB Ditinjau Dari Pendidikan Di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Tahun 2011
Berdasarkan Tabel 5.1 menunjukkan bahwa dari 76 responden, sebagian besar responden berpendidikan dengan kategori menengah sebanyak 38 orang (50%).
b. Pengetahuan
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Akseptor KB Yang Menggunakan Alat Kontrasepsi Pil KB Ditinjau Dari Pengetahuan Di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Tahun 2011
c. Pendapatan
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Akseptor KB Yang Menggunakan Alat Kontrasepsi Pil KB Ditinjau Dari Pendapatan Di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Tahun 2011
Berdasarkan Tabel 5.3 menunjukkan bahwa dari 76 responden, sebagian besar responden memiliki pendapatan dengan kategori rendah sebanyak 40 orang (62,6%).
d. karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB ditinjau dari pendidikan
Tabel 5.4 Distribusi Karakteristik Akseptor KB Yang Menggunakan Alat Kontrasepsi Pil KB Ditinjau Dari Pendidikan Di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Tahun 2011
e. karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB ditinjau dari pengetahuan
Tabel 5.5 Distribusi Karakteristik Akseptor KB Yang Menggunakan Alat Kontrasepsi Pil KB Ditinjau Dari Pengetahuan Di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Tahun 2011
Berdasarkan Tabel 5.5 menunjukkan bahwa dari 76 responden, sebagian besar responden yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB mempunyai pengetahuan cukup sebanyak 47 orang (61,8%).
f. karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB ditinjau dari pendapatan
Berdasarkan Tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 76 responden, sebagian besar responden yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB berpendapatan rendah sebanyak 40 orang (62,6%).
C. Pembahasan
1. Karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB ditinjau dari pendidikan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa 76 responden yang diteliti, karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB sebagian besar berpendidikan menengah sebanyak 38 orang (50%).
Menurut peneliti, pendidikan merupakan karakteristik akseptor KB yang mempengaruhinya dalam menggunakan alat kontrasepsi pil KB, dimana dari hasil penelitian diperoleh bahwa sebagian besar responden berpendidikan menengah dalam menggunakan alat kontrasepsi pil KB, hal ini karena pendidikan yang dimiliki akseptor KB berhubungan dengan pengetahuan dan sikapnya dalam memutuskan dan bertindak menggunakan alat kontrasepsi pil KB, dimana semakin tinggi tingkat pendidikan akseptor KB maka semakin tinggi pula kesadaran dan motivasi akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi pil KB yang bermanfaat untuk mensejahterakan keluarganya dimasa yang akan datang.
2. Karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB ditinjau dari pengetahuan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa 76 responden, karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB sebagian besar berpengetahuan dengan kategori cukup sebanyak 47 orang (61,8%), dimana responden memiliki kemampuan yang cukup baik dalam menjawab pertanyaan tentang kontrasepsi pil KB mulai dari pengertian, macam-macam, manfaat, keuntungan dan kerugian dari menggunakan kontrasepsi pil KB.
pengetahuan/intelektual juga mempengaruhi pola pikir/cara berpikir seseorang, semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang semakin baik pula seseorang menelaah dan bertindak dalam mengatasi suatu hal khususnya yang berhubungan dengan kesehatannya. Pengetahuan seseorang tidak secara mutlak dipengaruhi oleh pendidikan karena pengetahuan dapat juga diperoleh dari pengalaman masa lalu, namun tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami informasi yang diterima yang kemudian menjadi dipahami.
bertindak dalam mengatasi suatu hal khususnya yang berhubungan dengan kesehatannya khususnya dalam menggunakan kontrasepsi pil KB yang bermanfaat bagi dirinya dan keluarganya dimasa yang akan datang. 3. Karakteristik Akseptor KB Yang Menggunakan Alat Kontrasepsi Pil KB
Ditinjau Dari Pendapatan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa dari 76 orang responden, karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB sebagian besar berpendapatan rendah sebanyak 40 orang (62,6%).
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh BkKBN (2004), dimana kondisi lemahnya ekonomi keluarga mempengaruhi daya beli termasuk kemampuan membeli alat dan obat kontrasepsi. Keluarga miskin pada umumnya mempunyai anggota keluarga yang cukup banyak, kemiskinan menjadikan relative tidak memiliki akses dan bersifat pasif dalam berpartisipasi untuk meningkatkan kualitas diri dan keluarganya.
39 PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil di Wilayah Kerja Puskesmas Krueng Barona Jaya Tahun 2011, dari 76 responden pada tanggal 25 s/d 30 Juni 2011, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB sebagian besar berpendidikan menengah sebanyak 38 orang (50%). 2. Karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB
sebagian besar berpengetahuan cukup sebanyak 47 orang (61,8%).
3. Karakteristik akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi pil KB sebagian besar berpendapatan rendah sebanyak 40 orang (62,6%).
B. Saran
2. Kepada institusi pendidikan, diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi agar dapat memberikan informasi kepada mahasiswi kebidanan tentang kontrasepsi.
Angelo, TA, 2003, Classroom Assessment Techniquest. Edisi Terjemahan The New Pathway to General Medical Education at Harvard University. Anonymous,2008,http://www/Wikipedia.co.id/iptek/kesehatan/2003/0905/kes1ht
ml (dikutip tanggal 25 Februari 2010).
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.
Budiarto, E 2001. Biostatistik Untuk Kedokteran Dan Kesehatan Masyarakat. EGC, Jakarta
BKKBN. 2003. Bahan Pembelajaran Peningkatan Partisipasi Pria dalam KB dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta: BKKBN.
BKKBN. 2006. Pelayanan Keluarga Berkualitas. Jakarta.
BKKBN. 2004. Pembangunan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga secara Tepat. Jakarta.
Depkes, RI. 2007. Buku Acuan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
Dinas Kesehatan Prov Aceh. 2009. Profil Kesehatan, Banda Aceh.
Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar. 2009. Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Besar. Aceh Besar.
Hartono. 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Pustaka dan Sinar Harapan. Jakarta.
Laporan Puskesmas Krueng Barona Jaya, 2010.
Manuaba, 2003. Obstetri dan Gynekologi, widya Medika, Jakarta Mochtar, 2003, Sinopsis Obstetri, EGC, Jakarta.
Notoatmodjo, 2007. Ilmu Kesehatan Masyarakat; Prinsip-Prinsip Dasar, Rineka Cipta. Jakarta.
_________, 2010. Metodelogi Penelitian, Rhineka Cipta, Jakarta
Sudjana, 2005, Metode Statistika. Tarsito. Bandung
Upah Minimum Regional Aceh. http://www.disnaker.nad.go.ad,dikutip tanggal 28 Desembar 2010.