Penggunaan Emoticon Pada Aplikasi Chatting BBM Siswa-Siswi SMA Taman Siswa

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Perspektif/Paradigma Kajian

Setiap penelitian memerlukan paradigma teori dan model teori sebagai dasar dalam menyusun kerangka penelitian. Menurut Sandjaya (2007:5) “Paradigma adalah pandangan dalam kepercayaan yang telah diterima dan disepakati bersama oleh masyarakat ilmuan berkaitan dengan suatu keilmuan”.

Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditunjukkan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmandinata, 2006:72). Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan mengiterpretasikan sesuatu, misalkan kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.

(2)

diberikan atau dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis sebagaiana yang terdapat pada penelitian eksperimen.

Pada umumnya tujuan utama penelitian deskriptif adalah untuk menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti secara tepat. Dalam perkembangannya, akhir-akhir ini metode penelitian deskriptif banyak digunakan oleh peneliti karena dua alasan. Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian dilakukan dalam betuk deskriptif. Kedua, metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia.

Di samping kedua alasan tersebut di atas, peneliti deskriptif pada umumnya menarik bagi peneliti, karena betuknya sangat sederhana dengan mudah dipahami tanpa perlu memerlukan teknik statiska yang kompleks. Walaupun sebenarnya tidak demikian kenyataanya. Karena penelitian ini sebenarnya juga dapat ditampilkan dalam bentuk yang lebih kompleks, misalnya dalam penelitian penggabaran secara faktual perkembangan sekolah, kelompok anak, maupum perkembangan individual.

(3)

Terdapat sejumlah aliran filsafat yang mendasari penelitian deskriptif kualitatif, seperti fenomenologi, interaksionalisme simbolik, dan

Etnometodologi. Harus diakui bahwa aliran-aliran tersebut memiliki

perbedaan-perbedaan, namun demikian ada satu benang merah yang mempertemukan mereka, yaitu pandangan yang sama tentang hakikat manusia sebagai subjek yang mempunyai kebebasan menetukan pilihan atas dasar sistem makna yang membudaya dalam diri masing-masing pelaku.

Bertolak dari proposisi di atas, secara ontologis, penelitian kualitatif berpandangan bahwa fenomena sosial, budaya dan tingkah laku manusia tidak cukup dengan mereka hal-hal yang tampak secara nyata, melainkan juga harus mencermati secara keseluruhan dalam totalitas konteksnya. Sebab tingkah laku (sebagai fakta) tidak dapat dilepaskan atau dipisahkan begitu saja dari setiap konteks yang melatarbelakanginya. Berikut aliran filsafat yang mendasari penelitian kualitatif dalam paradigmanya.

Fenomenologi diartikan sebagai pengalaman subjektif atau

(4)

Penelitian kualitatif meyakini bahwa di dalam masyarakat terdapat keteraturan. Keteraturan itu berbentuk secara natural. Karena itu tugas peneliti adalah menentukan keteraturan itu, bukan menciptakan atau membuat sendiri batasan – batsannya berdasarkan teori yang ada.

Atas dasar itu, pada hakikatnya penelitian kualitatif adalah satu kegiatan sistematis untuk menemukan teori dari kancah-bukan untuk menguji teori atau hipotesis. Karenannya, secara Epistemologis, paradigma kualitatif tetap mengakui fakta empiris sebagai sumber pengetahuan tetapi tidak menggunakan teori yang ada sebagai bahan dasar untuk melakukan verifikasi.

Penelitian deskriptif kualitatif merupakan merupakan penelitian yang mengungkapkan wawancara secara terbuka untuk menelaah dan pandangan, perasaan dan perilaku individu atau sekelompok orang. Penelitian ini menafsirkan dan melihat serta menggambarkan fenomena yang terjadi disekitar lingkungan sosial dalam individu.

2.2 Kajian Pustaka

Kajian pustaka merupakan daftar referensi dari semua jenis referensi seperti buku, jurnal paper, artikel, tesis, skripsi, hand outs,

laboratory manual, dan karya ilmiah lainnya yang dikutip didalam

penulisan proposal. Semua referensi yang tertulis dalam kajian pustaka harus dirujuk didalam skripsi.

(5)

dianggap relevan dalam penelitian ini adalah : Komunikasi, Komunikasi Antar Pribadi, Self Disclosure, Interaksi Sosial, Remaja, New Media, Media Sosial dan Presentasi Diri dan Media Sosial dan Perubahab Budaya 2.2.1 Komunikasi

2.2.1.1 Definisi Komunikasi

Komunikasi berasal dari bahasa Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti “sama”. “Sama” disini maksudnya adalah satu makna. Jadi, jika dua orang terlibat dalam komunikasi maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dikomunikasikan, yakni baik si penerima maupun si pengirim sepaham mengenai suatu pesan tertentu (Effendy, 2002: 9). Berbicara tentang definisi komunikasi, tidak ada definisi yang benar atau yang salah. Seperti juga model atau teori, definisi harus dilihat dari kemanfaatan untuk menjelaskan fenomena yang didefinisikan dan mengevaluasinya. Beberapa definisi mungkin terlalu sempit, misalnya “Komunikasi adalah penyampaian pesan melalui media elektronik”, atau lebih luas lagi, misalnya “Komunikasi adalah interaksi antara dua pihak atau lebih sehingga peserta komunikasi memahami pesan yang disampaikannya.”

(6)

terlibat dalam komunikasi tersebut adalah manusia, karena komunikasi disini adalah komunikasi manusia. Komunikasi manusia sebagai bentuk singkat dari komunikasi antar manusia dinamakan komunikasi sosial atau komunikasi kemasyarakatan kerena hanya pada manusia yang bermasyarakat terjadinnya komunikasi.

Komunikasi secara paradigmatis, bahwa komunikasi mengandung tujuan tertentu, ada yang dilakukan secara lisan, tertulis, tatap muka, atau melalui media. Jadi komunikasi dalam pengertian paradigmatis bersifat intensional, mengandung tujuan, karena itu harus dilakukan perencanaan. Sejauh mana kadar perencanaan itu tergantung kepada pesan yang akan dikomunikasikan.

Pengertian komunikasi secara paradigmatis yaitu proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu sesuatu mengubah sikap, pendapat ataupun perilaku, baik secara lisan maupun tidak langsung dengan menggunakan media.

(7)

Setiap manusia memiliki kemampuan berinteraksi, kemampuan berinteraksi tersebut diwujudkan dalam komunikasi. Komunikasi adalah sarana yang dibutuhkan manusia akan adanya hubungan sosial didalam lingkungannya. Menurut Efendi (1995:3) secara umum pengertian komunikasi dapat dilihat secara etismologis, bahwa komunikasi berasal dari bahasa latin communicatio, yang asal katannya communis, artinnya “sama”, atas sama makna, jadi komunikasi dapat berlangsung apabila terdapat adannya orang-orang yang terlibat didalamnya memiliki sama makna akan suatu hal.

Sederhananya, apabila seseorang mengerti akan sesuatu yang dinyatakan orang lain kepadannya, maka komunikasi berlangsung. Dengan kata lain, hubungan mereka tersebut memiliki sifat komunikatif. Sebaliknya, jika ia tidak mengerti, komunikasi tidak berlangsung, maka hubungan antar orang tersebut tidak bersifat komunikatif walaupun adanya komunikasi.

2.2.1.2 Prinsip – Prinsip Komunikasi

Menurut Devito (2011), ada delapan prinsip komunikasi yaitu : 1. Komunikasi adalah paket isyarat

(8)

tertentu. Seluruh tubuh baik verbal dan non verbal, bekerja bersama – sama untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan kita

2. Komunikasi adalah proses penyesuaian

Komunikasi hanya dapat terjadi apabila komunikator dan komunikan menggunakan sistem isyarat yang sama. Kita tidak akan bisaberkomunikasi dengan orang lain jika sistem bahasa kita berbeda dengannya. Tetapi, prinsip ini menjadi sangat relevan bila kita menyadari bahwa tidak ada dua orang yang menggunakan dengan sistem isyarat yang persis sama. Budaya atau subbudaya yang berbeda, meskipun menggunakan bahasa yang persis sama, sering kali memiliki sistem non verbal yang sangat berbeda. Bila sistem ini berbeda, komunikasi yang bermakna dan efektif tidak akan terjadi.

3. Komunikasi mencakup dimensi dan hubungan

Komunikasi, setidak-tidaknya samapai batas waktu tertentu, berkaitan dengan dunia nyata atau sesuatu yang berada di luar pembicaraan dan pendengar. Tetapi sekaligus, komunikasi juga menyangkut hubungan di antara kedua pihak. Dalam setiap situasi komunikasi, dimensi isi mungkin tetap sama, tetapi aspek hubungan dapat berbeda, atau aspek hubungan tetap sama sedangkan isisnya berbeda.

(9)

meminimalkan perbedaan di antara kedua orang yang bersangkutan. Hubungan simetris bersifat kompetitif di mana masing – masing pihak berusaha mempertahankan kesetaraan atau keunggunlannya dari yang lain. Dalam hubungan komplementer dari yang lain. Dalam hubungan komplementer, perbedaan di antara kedua pihak dimaksimalkan.

5. Rangkai komunikasi dipungtuasi

Peristiwa komunikasi merupakan transaksi yang terjadi secara terus menerus tidak ada awal dan akhir yang jelas. Paul Watzlawick, Janet Biavin, dan Don Jackson, dalam buku mereka yang berpengaruh

Pragmatics of Human Communicatin, memberi istilah bagi kecenderungan

untuk membagi berbagai transaksi komunikasi ini dalam rangkaian stimulus dan tanggapan sebagai pungtuasi. Jika kita menghendaki komunikasi yang efektif, ingin memahami maksud orang lain. Selanjutnya, kita terus menyadari bahwa pungtuasi kita tidak mencerminkan apa yang ada dalam kenyataan, melainkan persepsi kita sendiri yang unik dan bisa keliru.

6. Komunikasi adalah proses transaksional

Komunikasi adalah transaksi, maksudanya dalah komunikasi adalah proses, bahwa komponen – komponennya saling terakait, dan para komunikatornya saling beraksi dan bereaksi sebagai satu kesatuan dan keseluruhan.

(10)

Kita mungkin menganggap bahwa komunikasi terjadi secara sengaja, bertujuan dan termotivasi secara sadar. Tetapi, sering kali pula komunikasi terjadi meskipun seseorang tidak merasa berkomunikasi atau tidak ingin berkomunikasi. Dalam interaksi, kita tidak bisa tidak berkomunikasi. Selanjutnya, bila kita dalam situasi interaksi, kita tidak bisa tidak menanggapi pesan dari orang lain. Seandainya pun kita bereaksi secara terbuka, ketiadaan reaksi ini sendiri pun merupakan reaksi, dan itu berkomunikasi

8. Komunikasi bersifat tak revesibel

Kita dapat membalikkan arah proses beberapa sistem tertentu. Proses seperrti itu dinamakan proses revesible. Tetapi ada sistem lain yang tak bersifat revesible (irrevesible). Prosesnya hanya berjalan dalam satu arah, tidak bisa berbalik. Komunikasi termasuk dalam proses seperti ini, proses tak revesible. Sekali kita mengkomunikasikan sesuatu, kita tidak bisa bisa mengurangi dampak yang sudah terlanjur kita sampaikan tetrapi pesan itu sendiri, sekali telah dikirimkan dan diterima, tidak bisa dibalikkan.

2.2.1.3 Unsur – Unsur Komunikasi

Menurut Effendy (2006) dari berbagai pengertia komunikasi yang telah ada, tampak adanya sebuah komponen atau unsur yang dicakup, yang merupakan pernyataan terjadinya komunikasi. Komponen atau unsur – unsur tersebut adalah sebagai berikut :

(11)

2. Pesan : Pernyataan yang didukung oleh lambang; 3. Komunikan : Orang yang menerima pesan;

4. Media : Sasaran atau saluran yang mendukung pesan bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya;

5. Efek : Dampak sebagai suatu pesan; 2.2.1.4 Tujuan Komunikasi

Ada empat tujuan motif komunikasi menurut Devito (2011) yaitu : 1. Menemukan

Penemuan diri (personal discovery) merupakan salah satu tujuan utama dari komunikasi. Melalui komunikasi dengan orang lai, kita tidak hanya belajar mengenai diri kita sendiri melainkan juga tentang orang lain. Persepsi – persepsi yang kita punya sebagian besar dihasilkan dari apa yang telah kita pelajari tentang diri sendiri dari orang lain selama komunikasi, khususnya dalam komunikasi interpersonal. Selain itu penemuan diri dapat dilakukan melalui proses perbandingan sosial, melalui pembandingan kemampuan, prestasi, sikap, pendapat, nilai dan kegagalan kita dengan orang lain. Artinya, evaluasi diri sendiri dapat dilakukan dengan membandingkan diri kita dengan orang lain. Komunikasi juga memungkinkan kita untuk menemukan dunia luar, dunia yang di penuhi objek, peristiwa, dan manusia lain

(12)

Salah satu alasan kita yang paling kuat untuk melakukan komunikasi adalah berhubungan dengan orang lain, membina dan memelihara hubungan dengan orang lain. Kita ingin merasa dicintai dan disukai orang lain, dan kita juga ingin mencintai dan menyukai orang lain.

3. Untuk Meyakinkan

Media massa ada sebagian besar untuk meyakinkan kita agar mengubah sikap dan perilaku kita. Tetapi, selain itu kita juga sering melakukan persuasi interpersonal, baik sebagai sumber maupun sebagai penerima. Dalam komunikasi interpersonal sehari – hari kita berusaha mengubah sikap dan perilaku orang lain.

4. Untuk bermain

Kita menggunakan banyak perilaku komunikasi kita untuk bermain dan menghibur diri kita. Kita mendengarkan pelawak, pembicaraan, musik dan film sebagian besar untuk hiburan. Demikkian pula, banyak dari perilaku komunikassi kita dirancang untuk menghibur orang lain. Adalakalanya hiburan ini merupakan tujuan akjir, tetapi adakalanya ini merupakan cara untuk mengikat perhatian orang lain sehingga kita dapat mencapai tujuan-tujuan itu.

2.2.1.5 Ruang Lingkup Kehidupan 1. Bidang Komunikasi

Berdasarkan bidangnya (Purba, 2010), komunikasi meliputi jenis-jenis sebagai berikut :

(13)

b. Komunikasi organisasi/manajemen (organisasi/management communication)

c. Komunikasi bisnis (bussines communication) d. Komunikasi politik (political communication)

e. Komunikasi international (international communication) f. Komunikasi antar budaya (intercultural communication) g. Komunikasi pembangunan (development communikation) h. Komunikasi teadisional (traditional communication) i. Komunikasi lingkungan (enviromental communication) 2. Sifat Komunikasi

Ditinjau dari sifatnya (Purba, 2010) komunikasi diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Komunikasi verbal (verbal communication) -Komunikasi lisan (oval communication) -Komunikasi tulisan (written communication) b. Komunikasi non verbal (non verbal communication)

-Komunikasi kial (gestural/body communication) -Komunikasi gambar (pictorial communication) c. Komunikasi tatap muka (fice to face communication) d. Komunikasi bermedia (mediated communication) 3. Bentuk/Tatanan komunikasi

(14)

a. Komunikasi pribadi (personal communication)

-Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) -Komunikasi intrapribadi (intrapersonal communication) b. Komunikasi kelompok (group communication)

-Komunikasi kelompok kecil (small group communication) -Komunikasi kelompok besar (large group communication) c. Komunikasi organisasi (organization communiaction)

d. Komunikasi massa (mass communication)

-Komunikasi media massa cetak (printed mass media communication)

-Komunikasi media massa elektronik (electronic mass communiaction)

e. Komunikasi media (media communication) 4. Metode komunikasi

Metode komunikasi, (Purba, 2010) diklasifikasikan menjadi : a. Komunikasi informatif (informative communication) b. Komunikasi persuasif (persuasive communication) c. Komunikasi pervasif (pervasive communication) d. Komunikasi koersif (coersive communication) e. Komunikasi intruktif (intruktive communication) f. hubungan manusia (human relation)

(15)

Komunikasi antar pribadi ini dikatakan efektif apabila, pesan yang mengandung kesamaan makna mengenai apa saja yang di komunikasikan komunikator kepada komunikan dapat ditangkap dengan baik di antara keduanya. Kekhasan yang ada pada komunikasi antar pribadi ini adalah arus timbal balik yang langsung bisa ditangkap baik secara verbal maupun non verbal melalui gerak-gerik bahasa tubuh dan perilaku posisi yang signifikan anatara komunikan dan komunikator.

Menurut Effendi (dalam Liliweri, 1991:12) komunikasi antarpribadai adalah komunkasi antara komunikator dan seorang komunikan. Jenis komunikasi tersebut dianggap efektif dalam merubah sikap, pendapat atau perilaku manusia berhubungan prosesenya yang dialogis. Sementara Barnlud (1968) (dalam Liliweri, 1991:12) menyatakan komunikaasi antar pribadi biasannya terjadi sangat spontan dan tidak berstruktur.

(16)

Ada tujuh karakteristik yang menunjukkan bahwa suatu komunikasi antara dua individu merupkan komunikasi antar pribadi. Tujuh karakteristik komunikasi antarpribadi itu adalah (Hardjana, 2003:86-90) sebagai berikut :

1. Melibatkan didalamnya perilaku verbal dan non verbal.

2. Melibatkan perilaku spontan, tepat, dan rasional. 3. Komunikasi antar pribadi tidaklah statis, melainkan

dinamis.

4. Melibatkan umpan balik pribadi, hubungan interaksi dua orang atau lebih, dan koherensi (pernyataan yang satu harus berkaitan dengan yang lain sebelumnya). 5. Komunikasi antar pribadi dipandu oleh tata aturan

yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik.

6. Komunikasi antarpribadi merupakan suatu kegiatan dan tindakan

7. Melibatkan di dalamnya bidang persuasif 2.2.3 Self Disclosure

Berbeda sedikit dengan Liliweri (1991:49), mengemukakan bahwa Teori Self Disclosure ini adalah teori yang dikembangkan atas hubungan manusia dan memandangnya dari sisi psikologi. Sehingga alter – teori Self

Disclosure ini disebut sebagai teori Jendela Johari (Johari’s Window). Para

(17)

merupakan dasar untuk memahami dan menjelaskan interaksi antar pribadi secara manusiawi. Johari mengemukakan bentuk kuadran sebagai berikut : Gambar 1. Teori Johari Window

Di ketahui oleh Orang lain Di ketahui oleh Orangh lain

Sumber : Sasa Djuarsa Senjaya dkk, Teori Komunikasi (Jakarta:universitas Terbuka, 2007,p2,45)

Jendela Johari Window terdiri dari 4 kotak. Masing – masing kotak berfungsi menjelaskan dan memahami diri sendiri dalam kaitannya dengan orang lain. Asumsi Johari Window dalam setiap individu dapat memahami diri sendiri maka dia dapat mengendalikan sikap dan tingkah lakunya di saat berhubungan denan orang lain.

Pada bingkai 1, menunjukkan orang terbuka terhadap orang lain. Hal tersebut terjadi karena dua pihak ( saya dan orang lain) sama – sama mengetahui informasi, perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi, gagasan, dan lain-lain. Johari menyebutnya bidang terbuka, bidang yang ideal untuk berkomunikasi antar pribadi. Kemudian bingkai 2, adalah bidang buta, merupakan bidang yang menjelaskan bahwa orang tidak mengetahui dirinya sendiri tetapi orang lain banyak tahu tentang dia. Lalu di bingkai 3, dimana seseorang menyembunyikan banyak hal tentang dirinya dan tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Pada bingkai

Terbuka Buta

(18)

terakhir atau keempat, yang menunjukkan berbagai keadaan diri sendiri yang tidak diketahui oleh diri sendiri dan orang lain.

Jika salah satu bingkai diperbesar maka akan terjadi ketimpangan. Kecuali hal tersebut terjadi pada bingkai yang pertama. Karena telah ada dua pihak (saya dan orang lain) yang sama-sama mengakui dan mengetahui, sehingga pantas disebut orang yang open minded perseson. Apabila bingkai kedua diperbesar maka, manusia tersebut sering disebut sebagai orang yang sering menonjolkan diri terhadap orang lain, tetapi tidak mengetahui dirinya sendiri. Pada bingkai 3 diperbesar, maka orang

itu tipikal introvert, dia selalu menyendiri tanpa ada tema. Kemudian di

bingkai ke 4 adalah tipikal orang yang mengetahui banyak hal teentang orang lain, tetapi dia juga tidak mau terbuka untuk orang lain.

Berdasarkan pemikiran yang di ciptakan Sidney Jourard, membuat Altmen dan Taylor mengembangkan teori tersebut menjadi teori penetrasi Sosial. Dimana melihat dari sisi lain bahwa orang lain mencoba masuk kedalam diri sosial orang lain tanpa merasa terganggu dengan kehadirannya.

(19)

mencapai kedekatan di antara sesama teman- temannya. Sehingga apabila kedekatan itu telah terjadi artinya komunikasi dengan menggunakan emoticon BBM saat chatting bisa dikatakan pencapaian dalam berkomunikasi itu berhasil. Serta tentunya mungkin ada halangan dan rintangan saat permulaan komunikasi itu sejak permulaannya. Jadi pengertian teori ini secara umum adalah semakin sering kita berhubungan dengan orang lain, maka semakin sering pulakita membuka diri untuk mendapatkan hubungan yang lebih baik.

Altmen dan Taylor mendapatkan ide teori ini dengan perumpamaan sebuah bawang. Menurut mereka hubungan manusia ini seperti bawang. Pada awalnya kulitnya terpisah-pisah, sehingga masih sulit untuk menemukan kesamaan sifat dan pengalaman (frame of reference and

experience). Namun, ketika keduanya telah membuka kulitnya satu persatu

dan makin kedalam, maka akan kelihatan kesamaan di antara mereka. Kulit bagian luar adalah perumpamaan dari apa yang bisa terkihat dan diketahui sebelum hubungan meningkat. Kettika sampai pada bagian inti, informasi, perasaan, kehidupan pribadi dan lain sebagainya akan terungkap. Altmen dan taylor mengatakan bahwa ketika mereka merasa dirugikan dari hubungan tersebut, maka mereka tidak akan ragu-ragu menutup dirinya. Hal ini sangat sesuai dengan pernyataan ciri-ciri komunikasi antarpribadi yang bisa menghasilkan suatu hal yang tidak terduga.

(20)

Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, dimana perilaku individu yang satu memengaruhi, mengubah atau memperbaiki perilaku individu lain (Gerungan, 2004).Sedangkan menurut Setiadi dan Kolip (2011:62) interaksi sosial merupakan hubungan antar manusia yang sifat dari hubungan tersebut dinamis, artinya hubungan itu tidak statis, selalu mengalami dinamika. Suatu hubunnga berinteraksi manusia dimana setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang-orang lainnya. Kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia yang satu dengan lainnya, yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi (Gea, dkk, 2003).

Menurut Setiadi dan Kolip (2011:65) interaksi sosial tidak cukup di jelaskan sebagai hubungan timbal balik antar manusia berdasarkan pola-pola tertentu, sebab interaksi sosial tetap didasarkan pada ciri-ciri atau karakter tertentu. Agar dapat dikategorikan sebagai bentuk interaksi, maka hubungan timbal balik antarmanusia tersebut harus memiliki kriteria tertentu, yaitu:

1. Harus ada pelaku yang jumlahnya lebih dari satu

2. Ada komunikasi dengan pelaku dengan menggunakan simbol-simbol

(21)

Menurut M. Sitorus (dalam Setiadi dan Klip, 2011:66) para ahli sosiologi memahami tindakan manusia dari sudut pandang perilakunya. Tindakan manusia dipahami sebagai perbuatan, perilaku atau aksi yang dilakukan manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Tindakan manusia dibedakan dalam dua macam, yaitu :

1. Tindakan yang terorganisasi, artinya tindakan yang dilatarbelakangi oleh seperangkat kesadaran sehingga apa yang dilakukan didorong oleh tingkat kesadaran yang berasal dari dalam dirinya

2. Tindakan yang dilakukan tanpa kesadaran, yaitu tindak refleks yang di kategorikan sebagai tindakan sosial, sebab tindakan itu tidak terorganisasi melalui kesadaran diri.

Menurut Setiadi dan Kolip (2011:67) proses interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat bersumber dari tindakan sosial, tindakan yang terorganisasi memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi proses terbentuknya, diantaranya :

1. Imitasi

Imitasi merupakan tindakan manusia untuk meniru tingkah pekerti orang lain yang berada di sekitarnya.

2. Sugesti

Sugesti di pahami sebagai tingkah laku yang mengikuti pola-pola yang berada di dalam dirinya.

(22)

Identifikasi timbul ketika seseorang mulai sadar bahwa didalam kehidupan ini ada norma-norma atau peraturan-peraturan yang harus dipenuhi, dipelajari dan ditaatinya.

4. Simpati

Simpati adalah faktor tertariknya seseorang atau sekelompok orang terhadap orang atau kelompok orang yang lain.

Mengenai interaksi yang terjalin tersebut, yang dianggap paling ideal adalah secara tatap muka. Interaksi tatap muka lebih memungkinkan suatu proses yang bersifat dinamis dan timbal balik secara langsung. Pertukaran informasi secara tatap muka dapat mempercepat proses saling mempengaruhi antara pihak-pihak yang beriteraksi di dalamnya. Suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat (Soekanto, 2002), yaitu :

1. Adanya kontak sosial (sosial-contact) 2. Adanya komunikasi (communication)

2.2.4.1 Adanya Kontak Sosial

Kata kontak berasal dari bahasa latin con dan cum (yang artinya bersama-sama) tango (yang artinya menyentuh), jadi artinya secara harfiah adalah bersam-sama menyentuh. Tetapi secara gejala sosial., kontak tidak perlu berarti suatu hubungan berdaniah,. Seperti pada perkembangan teknologi dewasa ini orang-orang dapat berhubungan satu dengan yang lainnya melalui telepon, telegrap, radio, surat, dan seterusnya.

(23)

muka face-to-face (berjabat tangan, saling menyapa, dan lain-lain) sebaliknya, kontak sekunder memerlukan suatu perantara seperti telepon, telegraf, radio, surat, dan sebagainya.

2.2.4.2 Adanya Komunikasi

Suatu komunikasi yang efektif apabila si penerima pesan menginterpretasikan pesan yang diterimanya sebagaimana dimaksudkan oleh pengirim pesan. Salah satu cara terbaik bahwa pesan benar-benar diterima secara tepat sebagaimana yang dimaksud adalah dengan mendapatkan umpan balik pesan tersebut. Umpan balik adalah proses yang memungkinkan sesorang pengirim mengetahui bagaimana pesan yang dikirimkannya telah ditangkap oleh si penerima atau tidak. Selain itu cara seseorang mendengarkan dan menanggapi lawan bicara juga sangatlah penting dalam berkomunikasi. Memberikan tanggapan penuh pemahaman dalam mendengarkan dapat menghindari kecendruangan kesalahpahaman komunikasi antara pihak terkait (Gea, dkk, 2003).

(24)

1. Tatap muka itu sendiri yang membedakannya dengan komunikasi jarak jauh atau komunikasi dengan menggunakan alat. Dalam komunikasi tatap muka ada peran yang harus diperankan yang di jalankan masing-masing pihak (pemberi informasi-penerima informasi, ibu-anak, ayah-anak suami-isteri, dan-lain lain) dan ditunjukkan dengan jelas.

2. Adanya hubungan dua arah secara langsung. Dengan adanya pertukaran pesan dalam komunkasi tatap muka, terjadi saling pengertian akan makna atau arti pesan. Jadi dalam komunikasi ini yang terpenting bukanlah pesannya semata, melainkan arti meaning dari pesan tersebut

3. Adanay niat, kehendak, atau intense dari kedua belah pihak. Hal tersebut akan memproses adanya saling pengertian secara kognitif dalam komunikasi antar manusia.

Komunikasi yang dilakukan secara tidak langsung (memerlukan perantara, seperti telpon, telegeraf, radio, surat, dll). Mempunyai dampak yang berbeda dengan komunikasi secara langsung (tatap muka) . komunikasi tidak langsung dapat memyebabkan timbulnya kegagalan saling komunikasi (hambatan-hambatan), dalam arti penerima

menagkap makna pesan berbeda dari maksud oleh se pengirim (Gea, dkk, 2003). Hamabatan-hambatan tersebut antara lain :

(25)

2. Hanya mengartikan kata atau kalimat secara murni tidak mengembangkan pemahamannya.

3. Kesalahpahaman atau distorsi dalam komunikasi.

4. Adanaya gangguan fisik, misalnya gangguan suara telepon, hasil cetakan yang tidak baik, tampilan layer yang kurang jelas, desain format yang tidak baik.

2.2.5 Remaja

Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata lain yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Istilah ini mempunyai arti lebih luas, mencakup kematangan mental, emosiaonal, sosial dan fisik (Hurlock, 2011). Apabila digolongkan sebagai anak-anak maka golongan remaja sudah melewati masa tersebut, tetapi bila digolongakan dengan orang dewasa juga masih belum sesuai. Banyak istilah golongan remaja ini dirasakan tumpang tindih pengertiannya. Istilah yang digunakan adalah Rumini dan Sundari H. S (2004), dimana masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak dengan masa memasuki masa dewasa.

(26)

Menurut Gea, Wulandari dan Babari (2003), lingkungan sosial yang paling dekat serta berpengaruh dalam kehidupan remaja adalah lingkungan sosial awal, yakni keluarga. Keluarga adalah lingkungan yang paling utama dimana kita mengalami kedekatan dan kebersamaan yang sangat intensif, serta lingkungan kita tempat menjalani sosisalisasi berbagai nilai dasar kemanusiaan. Menurut Soekanto (2002), orang tua dan saudara melakukan sosialisasi yang biasa diterapkan melalui kasih sayang. Atas dasar kasih sayang tersebut, seseorang individu di didik untuk mengenal nilai-nilai tertentu. Menurut Hurlock (2011), konsep hubungan keluarga mempengaruhi konsep diri remaja dimana seseorang remaja mempunyai hubungan erat dengan anggota keluarga akan mengidetifikasikan diri dengan orang dan ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama

2.2.5.2 Perilaku Remaja

(27)

berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menetukan perilaku

2.2.6 New Media

Dalam mendukung teori-teori yang ada dalam penelitian ini, maka penulis menambahkan sumber teori dari media internet mengenai penggunaan emoticon BBM di kalangan siswa-siswi SMA Taman Siswa khususnya teori New Media dan disini peneliti cukup kesulitan untuk menemukannya didalam bentuk hardcopy. Namun dikarenakan dalam kajian pustaka diperbolehkan mengambil referensi dari internet maka peneliti memilih sumber referensi dari salah sattu situs internet yaitu: htt ringkasan sumber yang peneliti peroleh dan peneliti terapkan di penelitian ini.

Dalam artian luas Media baru atau New Media adalah istilah yang dimaksudkan untuk mencakup kemunculan digital, komputer, atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi di akhir abad ke-20. Sebagian besar teknologi yang digambarkan sebagai “media baru” adalah digital, seringkali memiliki karakteristik dapat dimanipulasi, bersifat jaringan, padat, interaktif dan tidak memihak. Beberapa contoh dapat Internet, website, komputer multimedia, permainan komputer, CD-ROMS, dan DVD. Media baru bukanlah televisi, film, majalah, buku, atau publikasi berbasis kertas.

(28)

dari interaksi antara manusia dengan komputer dan internet secara khususnya. Termasuk di dalamnya adalah web, blog, online social network, dan online forum

Defenisi teori new media menurut para ahli :

1. Menurut McLuhan, kehadiran New Media dapat membuat sebuah proses komunikasi menjadi global, sehingga menyebabkan mengapa dunia saat ini disebut dengan Global Village. McLuhan mengatakan bahwa dunia akan menjadi satu desa global (Global Village) dimana produk produk yang ada akan menjadi cita rasa semua orang. Global Village menjelaskan bahwa tidak ada lagi batas waktu dan tempat yang jelas. Informasi dapat berpindah dari satu tempat ke belahan dunia lain dalam waktu yang sangat singkat dengan menggunakan teknologiinternet. Global Village adalah konsep mengenai perkembangan teknologi komunikasi di mana dunia dianalogikan menjadi sebuah desa yang sangat besar. McLuhan memperkenalkan konsep ini pada awal tahun 60-an dalam bukunya yang berjudul Understanding Media: Extension of A Man. Konsep ini berangkat dari pemikiran McLuhan bahwa suatu saat nanti informasi akan sangat terbuka dan dapat diakses oleh semua orang.

(29)

menjadikan komunikasi dunia suatu jarring-jaringraksasa, suatu dunia yang saling terhubung. Di ibaratkan sebagai berikut: manusia sebagai laba-laba yang membangun jaring-jaringnya, dimana teknologi informasi dalam berbagai fitur dan bentuk sebagai new media elektronik interaktif yang hidup di tengah jaringan tersebut. Jaring-jaring tersebut menjadi sarang dan alat untuk mencari makan, dimana laba-laba dan jaring adalah bentuk yang tak terpisahkan. Teori Castells tentang network society adalah sebuah bentuk jaringan yang mewakili morfologi sosial baru sebuah masyarakat dan penyebaran logika networking secara substansial memodifikasi operasi dan hasil di dalam proses produksi, pengalaman, kekuasaan, dan budaya.

Media sosial merupakan media baru (New Media) atau lebih sering disebut sebagai media konvergensi. Dengan keberadaan media sosial sebagai media baru, maka dalam penelitian ini teori yang digunakan sebagai alat ukur atau pendukung adalah teori media baru. Peneliti menganggap teori ini relevan dengan keberadaan media sosial yang merupakan pendatang baru dalam ranah media.

Pendekatan teori new media:

(30)

interaktif dan tidak memihak. Beberapa contoh dapat Internet, website, komputer multimedia, permainan komputer, CD-ROMS, dan DVD. Media baru bukanlah televisi, film, majalah, buku, atau publikasi berbasis kertas

2. Teori media baru merupakan sebuah teori yang dikembangkan oleh Pierre Levy, yang mengemukakan bahwa media baru merupakan teori yang membahas mengenai perkembangan media. Dalam teori media baru, terdapat dua pandangan.

1. pertama pandangan interaksi sosial, yang membedakan media menurut kedekatannya dengan interaksi tatap muka. Pierre Levy memandang World Wide Web (WWW) sebagai sebuah lingkungan informasi yang terbuka, fleksibel, dan dinamis, yang memungkinkan manusia mengembangkan orientasi pengetahuan yang baru dan juga terlibat dalam dunia demokratis tentang pembagian mutual dan pemberian kuasa yang lebih interaktif dan berdasarkan pada masyarakat.

(31)

salingmemiliki

2.2.6 Media Sosial dan Presentasi Diri

Pada dasarnya setiap orang memiliki langkah-langkah khusus dalam mempresentasikan dirinya kepada orang lain. Apalagi, jika kesempatan mempresentasikan diri ini berada pada konteks media sosial. Sekilas terlihat bahwa kehadiran media sosial seperti facebook, twitter, blog dan www memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi setiap individu user untuk berkreasi, khususnya dalm menapilkan diri masing-masing. Oleh karena itu tulisan ini bertujuan untuk mengurangi cara presentasi diri yang dilakukan oleh pengguna melalui beberapa media sosial yang ada.

Ada beberapa jenis penampilan yang bisa terlihat secara kasat mata yaitu menulis kata-kata bijak di status maupun di tweets, menyampaikan kritik, mengkomunikasikan kondisi pribadi saat ini, menyampaikan aktifitas dan lokasi saaat ini, dan berbagai cara lainnya, selain kata-kata presentasi diri juga dikombinasikan dengan video, gambar dan foto hasil foto-foto di berbagai lokasi, foto bersama public figur : seperti pejabat Negara, pakar atau ahli, aktor/aktris dan foto hasil karya sendiri. Berbagai ekspresi yang di lakukan oleh pengguna user media sosial akan mengerucut pada jenis-jenis strategi presentasi diri.

(32)

baru dalam new media dewasa ini. Ruang untuk mempresentasikan diri belum bisa dijangkau secara bebas oleh setiap orang. Dengan demikian, kehadiran media sosial, yang membuat setiap pengguna menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, meningkatkan variasi atau memberikan ruang yang luas dalam presentasi diri.

(33)

Dalam kehidupan masyarakat cyber pada saat ini, media sosial mempunyai peranan yang sangat penting dalam melakukan interaksi dan pembangunan relasi. Kehadiran media sosial seperti friendster, blog, facebook, sampai twitter ibarat kebutuhan primer dalam kehidupan masyarakat. Bak, kebutuhan sandang, pangan dan papan dalam kehidupan masyarakat. Media sosial berhasil membuat masyarakat “seakan-akan” tidak dapat hidup tanpa media sosial. Setiap detik yang dimiliki oleh masyarakat ‘serasa’terus membutuhkan kehadiran media sosial ini.

Kondisi ini hampir mirip dengan ‘perlakuan’ masyarakat terhadap alat komunikasi yang namanya ‘Handphone’ beberapa waktu yang lalu, bahkan sampai sekarang. Handphone menjadi media komunikasi yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Ketika seseorang lupa menaruh handphonenya, atau kehilangan handphonenya dalam satu menit saja, mereka sudah kebingungan dan ketakutan kalau ada hal-hal penting yang disampaikan kepada mereka. Hal yang sama juga berlaku dengan media sosial dalam kehidupan masyarakat kita pada saat ini. Media sosial menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan mereka. Seseorang akan gusar dan kebingungan ketika media sosial ini tidak dapat diakses dalam beberapa jam saja, mereka merasa ada sesuatu yang hilang, bahkan kurang dalam kehidupan mereka.

(34)

termasuk mengubah budaya dan perilaku buadaya. Dari sisi yang positif, media sosial mempunyai peranan yang sangat besar dalam membangun hubungan antara individu yang satu dengan yang lainnya. Melalui media sosial ini terbentuk jaringan komunikasi antara orang-orang yang berasal dari satu daerah maupun antara orang-orang yang berasal dari satu daerah yang berbeda. Peranan positif lainnya yang dapat di lakukan media sosial saat ini adalah mampu menghubungkan kembali jaringan sosial antara orang-orang yang sudah lama tidak bertemu. Selain itu media, media sosial mempunyai peranan yang sangat besar dalam transfer pengetahuan, transfer informasi bahkan proses pembelajaran. (Komunikasi Teoritisasi dan Implikasi. Rini Darmastuti. Liliweri, alo (2003). Dasar-dasar

Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta, Penerbit Pustaka Pelajar Offset)

2.3 Model Teoritis

Objek Penelitian Penggunaan Emoticon pada Aplikasi Chatting BBM dan seluruh Siswa-siswi SMA Tamansiswa Pematangsiantar yang beralamatkan di Jl. RA. Kartini Kota Pematangsiantar

Tujuan penelitian 1. Untuk mengetahui alasan penggunaan

emoticon BBM di kalangan siswa-siswi SMA

Tamansiswa Pematangsiantar

2. Untuk mengetahui kelebihan penggunaan

emoticon BBM di kalangan siswa-siswi SMA

Tamansiswa Pematangsiantar

3. Untuk mengetahui kekurangan penggunaan

emoticon BBM di kalangan siswa-siswi SMA

Figur

Gambar 1. Teori Johari Window
Gambar 1 Teori Johari Window . View in document p.17

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :