• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PANDANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PANDANGAN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PANDANGAN ISLAM TENTANG MANUSIA

DOSEN PEMBIMBING

Siti Rohmah, M.HI

DISUSUN OLEH

Kelompok 3 Muhammad Mayogi

Reyhan Ammar Rima Madania

JURUSAN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

(2)

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah atas segala karunia dan kesempatan yang diberikan oleh Allah ﷻ sehingga kami bisa menyelesaikan makalah dengan judul “Makalah Pendidikan Agama Islam : Pandangan Islam Tentang Manusia”. Makalah ini kami tulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam sesuai dengan petunjuk dan bimbingan yang diberikan oleh dosen kami.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dan sejumlah pihak yang turut membantu proses penyusunan makalah yang kami buat. Saran dan kritik yang membangun akan sangat kami harapkan untuk perbaikan ke depan. Tentu saja kami berharap agar makalah ini bisa memberikan menfaat dan barokah kepada para pembacanya sehingga mampu membawa keselamatan baik di dunia maupun di akhirat kelak.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2

DAFTAR ISI 3

BAB I: PENDAHULUAN 4

1.1. Latar Belakang 4

1.2. Rumusan Masalah 5

1.3. Tujuan dan Manfaat 5

BAB 2: KAJIAN PUSTAKA 6

2.1. Hakikat Manusia 6

2.2. Asal Usul dan Penciptaan Manusia 10

2.3. Peran dan Tanggung Jawab Manusia Sebagai Hamba 14 dan Khalifah Allah

BAB 3: PENUTUP 21

3.1. Kesimpulan 21

3.2. Saran 21

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hakikat berarti kebenaran atau sesuatu yang sebenar-benarnya atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah ﷻ. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka bumi ini.

Dalam salah satu teori, teori psikoanalisis manusia adalah makhluk yang memiliki prilaku interaksi antara komponen biologis, psikologis, dan sosial. Di dalam diri manusia terdapat unsur animal (hewan), rasional (akali), dan moral (nilai). Sedangkan dari Ibnu Sina menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial dan sekaligus makhluk ekonomi. Begitu banyak teori yang menjelaskan tentang hakikat manusia.

Dan asal-usul manusia yang mengatakan bahwa manusia adalah keturunan dari kera tetapi teori tersebut diruntuhkan oleh para ilmuan atau para evolusionis. Bahwa manusia bukanlah keturunan dari kera dan juga didalam Al-Qur’an telah menegaskan dengan memberi jawaban bahwa manusia bukan keturunan kera, melainkan keturunan manusia pertama (Adam) yang diciptakan oleh Allah ﷻ dari tanah.

(5)

Dikarenakan pentingnya tiga pokok pembahasan tadi, makalah ini dibuat sebagai bahan penunjang pembelajaran sekaligus untuk memenuhi tugas mata kuliah PAI.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana hakikat manusia dalam pandangan islam? 2. Bagaimana asal usul dan proses penciptaan manusia?

3. Apa aja peran dan tanggug jawab manusia sebagai hamba dan khalifah Allah?

1.3. Tujuan dan Manfaat

Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk:

1. Mengetahui hakikat manusia dalam pandangan islam 2. Mengetahui asal usul dan proses penciptaan manusia

3. Mengetahui peran dan tanggung jawab manusia sebagai hamba dan khalifah Allah

(6)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. HAKIKAT MANUSIA

Hakikat manusia sebagai hamba Allah dapat dipandang dari tiga perspektif, yaitu perspektif Al Quran, perspektif ilmuwan muslim, dan perspektif ilmuwan modern.

2.1.1. Perspektif Al Quran

Ada banyak kosakata-kosakata dalam bahasa Arab yang Allah pilih dalam Alquran seperti : Potensi fisik (Basyar, Insan, An-Nas) dan Potensi rohani ( Al-qalb, dan Al-hawa.)

Potensi Fisik

1. Konsep “basyar” dalam Alquran sering dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia, seperti asalnya manusia dari tanah liat atau lumping kering sebagaimana firman Allah pada surah Alhijr : 33. Kata basyar juga mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia melalui tahapan-tahapan sehingga mencapai tahapan kedewasaan, yaitu menjadikanya mampu memikul tanggung jawab. Dan karena itu pula manusia Allah jadikan sebagai khalifah.

2. Konsep Al-Insan selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai makhluk yang berfikir, diberi ilmu, dan memikul amanah. Jika dilihat dari asalnya “nasiya” yang artinya lupa, maka apabila manusia lupa terhadap suatu hal, maka tidak ada dosa baginya. Tetapi apabila seseorang yang sengaja lupa terhadap sesuatu, maka dosa baginya.

(7)

Dengan demikian, Alquran memandang manusia memiliki potensi fisik dalam 3 hal yaitu manusia sebagai makhluk biologis (basyar) ; yaitu manusia sebagai makhluk yang tunduk pada takdir Allah, psikologis (Al-Insan) dan sosial (An-Nas) yang bermakna memiliki kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menentang takdir Allah.

Potensi Rohani

Akal dalam Bahasa Indonesia adalah pikiran atau rasio. Dan akal adalah ciri teragung manusia yang merupakan alasan manusia di akhirat kelak harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di hadapan Allah. Dalam Alquran akal diartikan dengan kebijaksanaan, intelegensia, dan pengertian.

Alqalb yang berarti berubah, berpindah, atau berbalik. Adapun nafsu adalah suatu kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginannya. Nafsu dapat bersifat mendorong manusia kepada hal yang menyebabkan Allah ridho kepadanya dan dapat pula sebaliknya. Nafsu yang baik telah Allah sebutkan di dalam surah Alfajr : 27.

2.1.2. Perspektif Ilmuwan Muslim

Ibnu Sina yang terkenal dengan dengan kemampuan filsafatnya menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial dan makhluk ekonomi. Yang dimaksud dengan makhluk sosial adalah manusia dapat mencapai kepuasan dan memenuhi segala kepuasannya bila hidup bersama manusia. Sedangkan manusia ekonomi karena manusia selalu memikirkan masa depannya dan menyiapkan segala sesuatu untuk masa depannya.

Menurut pendapat Murthada Mutahhari, manusia adalah makhluk serba dimensi, yaitu :

(8)

 Dimensi kedua yaitu manusia memiliki sejumlah emosiyang bersifat etis, yaitu ingin memperoleh keuntungan dan menghindari kerugian.

 Dimensi ketiga yaitu manusia mempunyai perhatian terhadap keindahan.

 Dimensi keempat, manusia memiliki dorongan untuk menyembah Tuhan.

 Dimensi kelima yaitu manusia memiliki kemampuan dan kekuatan yang berlipat ganda, karena manusia telah dikaruniai oleh Allah akal sehingga ia mampu menahan nafsu yang negatif dan dapat menciptakan keseimbangan dalam hidupnya.

 Dimensi keenam yaitu manusia mampu mengenal dirinya sendiri.

Jadi dapat diambil kesimpulan jika manusia telah mengenal dirinya sendiri, maka ia akan mencari dan ingin siapa penciptanya, untuk apa ia diciptakan, dari apa ia diciptakan, bagaimana proses penciptaannya.

2.1.3. Perspektif Ilmuwan Modern

Pada pembahasan ini terdapat para penganut teori-teori untuk menjelaskan manusia secara lengkap, yaitu para penganut :

i. Teori psikoanalisis yang berpendapat bahwa manusia sebagai homo volens ( manusia berkeinginan). Menurut aliran ini manusia adalah makhluk yang memiliki perilaku interaksi antara komponen biologis, psikologis, dan sosial. Dalam diri manusia terdapat unsur animal (hewani), rasional (alkali), dan moral (nilai).

(9)

lingkungannya, tidak disebabkan oleh aspek rasional dan emosionalnya.

iii. Teori kognitif berpendapat manusia sebagai homo sapiens (manusia berpikir). Menurut penganut aliran ini manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungan, tetapi sebagai makhluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya, makhluk yang selalu berpikir.

iv. Teori humanism menyebut manusia sebagai homo luden (manusia bermanin). Aliran ini mengecam psikoanalisis dan behavionarisme, karena keduanya tidak menghormati manusia sebagai manusia. Keduanya tidak dapat menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan menentukan, seperti cinta, kreativitas, nilai, makna, dan pertumbuhan pribadi. Menurut humanism manusia berperilaku untuk mempertahankan, meningkatkan, dan mengaktualisasikan diri.

Manusia yang merupakan hasil evolusi terakhir, tentunya memiliki karakter atau sifat-sifat khusus yang tidak dimiliki hewan-hewan atau makhluk-makhluk yang lebih rendah lagi. Hewan memiliki kesadaran dan nafsu, tetapi kesadaran hewani hanyalah pada objek-objek yang bersifat individual dan particular, dan tidak dapat menjangkau yang bersifat universal dan general.

Sedangkan kesadaran manusia mencapai apa-apa yang tidak dapat dijangkau oleh kesadaran hewani. Kesadaran manusia tidak tetap terpenjara dalam batas local atau ruang, juga tidak dapat terbelenggu pada waktu tertentu. Kesadaran manusia justru dapat melakukan penggambaran menembus ruang dan waktu. Namun, yang membedakan antara hewan dan manusia adalah iman dan ilmu. Inilah perbedaan utama dari manusia dan hewan.1

(10)

2.2. ASAL USUL DAN PENCIPTAAN MANUSIA

Tak ada kebudayaan, peradaban, dan agama yang tidak menyepakati bahwa awal munculnya makhluk manusia adalah akhir dari proses penciptaan semesta, khususnya penciptaan bumi.2 Dan terdapat berdebatan antara apakah

manusia keturunan dari kera ?

2.2.1. Sejarah Manusia Menurut Sains

Teori Evolusi Darwin

Charles Darwin (1809-1882), berusaha mengetengahkan sebuah teori mengenai asal-usul species melalui seleksi alam atau bertahannya ras-ras yang beruntung dalam perjuangan untuk mempertahankan penghidupannya. Dia berusaha menemukan mekanisme, yang melalui mekanisme tersebut, satu spesies dapat berubah menjadi species lain.

Teori evolusi yang diperkenalkan Darwin pada abad ke 19 telah menimbulkan kepanikan. Apalagi setelah teori itu diekstrapolasikanoleh para penganutnya sedemikian rupa, sehingga seolah-olah manusia berasal dari kera. Para pengikut Darwin yang paling ekstrem menjadikan Darwinisme itu sebagai acuan untuk mengatakan bahwa manusia adalah keturunan kera. Darwin sendiri tidak pernah mengemukakan hal tersebut, walaupun taksonomi manusia dan kera besar berada pada super famili yang sama, yaitu hominoidae.

Teori Darwin memuat dua aspek. Aspek pertama bersifat ilmiah, aspek ilmiah ini sangat rapuh. Dan Aspek kedua bersifat filosofis yang diberi penekanan oleh darwin sangat kuat dan diungkapkan secara jelas.

Evolusi manusia menurut ahli paleontologi dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu:

(11)

1. Tingkat Pra manusia, fosilnya ditemukan di Johanesburg, Afrika Selatan pada tahun 1924 yang dinamakan fosil australopithecus.

2. Tingkat manusia kera, fosilnya ditemukan di solo pada tahun 1891 yang disebut pithencantropus erectus.

3. Manusia purba, yaitu tahap yang dekat kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama, yaitu homo biarpun spesiesnya dibedakan. Ditemukan di Neander, karena itu disebut homo neanderthalesis dan kerabatnya ditemukan di Solo homo soloensis.

4. Manusia modern atau homo sapiens yang telah pandai berpikir, menggunakan otak dan nalarnya.

Para Darwinis menyatakan bahwa manusia modern yang ada saat ini berevolusi dari sejenis makhluk mirip kera.

Runtuhnya Teori Evolusi Darwin

Kalangan evolusionis menamakan nenek moyang manusia pertama mirip kera sebagai Australopithecus, yang berarti “Kera Afrika Selatan”. Makhluk hidup ini sebenarnya tidak lain adalah spesies kera kuno yang telah punah. Dua orang ahli anatomi Lord Solly Zuckerman dan Prof.Charles Oxnard, telah menunjukkan bahwa spesies ini spesies kera biasa yang telah punah dan tidak memiliki kemiripan dengan manusia.

Dengan menyusun mata rantai penghubung sebagai Australopithecus > Homo habilis > Homo erectus > Homo sapiens, evolusionis menyatakan bahwa masing-masing dari spesies ini adalah nenek moyang bagi yang lainnya. Akan tetapi, Homo habilis dan Homo erectus telah hidup di belahan bumi yang berbeda pada saat yang sama (A.J. Kelso, 1970). Dan Homo sapiens neandarthalensis dan

Homo sapiens sapiens pernah hidup berdampingan di daerah yang sama (Jeffrey Kluger, 1996).

(12)

satupun dari ketiganya memperlihatkan kecenderungan berevolusi semasa hidup mereka di bumi.

Lord Solly Zuckerman, menyimpulkan bahwa kenyataannya tidak pernah ada pohon kekerabatan (silsilah) yang menghubungkan makhluk mirip kera hingga ke manusia. Dan P.P. Grasse menyimpulkan bahwa antara manusia dan kera berbeda, dengan kata lain tidak terbukti (Maurice Bucaille, 1989).3

2.2.2. Sejarah Manusia Menurut Al Quran

Al-Qur’an telah menegaskan dengan memberi jawaban bahwa manusia bukan keturunan kera.Setiap kali seorang muslim berbicara mengenai penciptaan manusia, maka setiap itu pula ia akan mengangkat satu dahlil yang menjadi rujukan tentang eksistensi Adam. Dan dalil tersebut adalah surah Al-Baqarah ayat 30:

“Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka : Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ? Dia berkata : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Maksud dari ayat diatas mengatakan bahwa Adam bukan “diciptakan” tetapi “dijadikan khalifah”. Mahsud dari perkataan mereka ini ada dua hal:

1) Mereka meyakini bahwa ayat penciptaan Adam tersebut sesungguhnya merupakan “ayat pengangkatan Adam menjadi seorang khalifah di muka bumi”. Kata mereka didasarkan pada pemahaman surah Al-Baqarah ayat 30 di atas. Allah menggunakan term “ja’ala” menjadikan, bukan “khalaqa” menciptakan. Sementara itu, makna “menjadikan” berarti

(13)

membuat sesuatu yang telah ada menjadi sesuatu yang lebih baik atau lebih sempurna atau kebalikannya. Makna ini, tentu saja, berbeda dengan makna “menciptakan” di mana kata ini mengandung pengertian membuat sesuatu yang belum ada menjadi ada. Oleh karena itu, kata mereka, berasarkan firman Allah ﷻ dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 30 di atas, Allah menjadikan Adam mengandung pengertian bahwa “Adam telah tercipta”, lau dia dijadikan sesuatu. Sesuatu apa? Ayat tersebut mengatakan “khalifah”. Dengan demikian, kita memperoleh pengertian bahwa Adam dijadikan oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi, dan bukan dalam pengertian Allah menciptakannya sebagai manusia yang pertama.

2) Mereka menganggap dan meyakini bahwa Adam bukan manusia yang pertama. Allah hanya mengangkat atau menjadikan Adam tersebut yang memang telah lama diciptakan manusia yang lain sebagai khalifah di muka bumi.4

Jika Allah menciptakan semua makhluk-Nya hana mengatakan “kun fayakun”.

Tetapi, apakah firman seperti itu memberi makna bahwa penciptaan manusia misalnya tanpa melalui proses dan perkembangan. Kenyataan menunjukkan bahwa kejadiaan manusia berproses. Kehadirannya pun sebagai khalifah yang dari sisi etimologisnya berarti pelanjut penguasa di bumi. Lalu kesamaan Adam dan Isa bukan dari sisi tidak memiliki ayah, tetapi kesamaan dari sisi bahwa kedua makhluk Tuhan ini sama-sama diciptakan dari tanah, seperti yang terlihat jelas dalam Al-Qur’an tanpa perlu takwil yang lebih jauh.5

Di dalam Al-Qur’an proses kejadian manusia dapat di jelaskan sebagai berikut:

a. Manusia diciptakan Allah ﷻ berasal dari sari pati tanah,(Al Hijr :28)

b. Dari segumpal tanah lalu menjadi nutfah (didalam rahim), segumpal darah, segumpal daging, tulang dibungkus dengan daging, dan akhirnya menjadi makhluk yang paling sempurna (Almukminun :12-14)

4 Muhammad Muhyidin, op. cit. hlm 93-97

(14)

c. Ditiupkan Ruh (Al Hijr : 29)

d. Sebelum ruh ditiupkan, ketika masih di alam ruh manusia telah berjanji mentauhidkan Allah (Al A’raf : 172)

Dari tahapan tersebut jelaslah bahwa manusia terdiri dari dua unsur pokok, yaitu gumpalan darah dan hembusan ruh. Kedua unsur itu tidak dapat dipisahkan. Apabila dipisahkan, ia bukan manusia lagi.jika memperhatikan unsur ruh ilahinya, boleh jadi ia akan seperti malaikat dan jika hanya memperhatikan unsur jasadnya maka ia seperti binatang. Manusia dilahirkan di tengah eksistensi alam semesta ini menyandang tugas dan kewajiban yang berat dalam fungsinya yang ganda, yakni sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah Allah.6

2.3. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI HAMBA DAN KHALIFAH ALLAH

Ibnul Qayyim berkata, “Allah ﷻ memerintahkan kepada manusia untuk merenungkan penciptaannya, tidak hanya pada satu ayat di dalam Al Quran.”7

Seandainya saja manusia mau merenungkan tentang penciptaan dirinya, maka apa yang ia temukan dari perenungan itu sudah mencukupinya untuk tidak berbuat ingkar kepada Allah Sebagai hamba Allah, manusia memiliki konsekuensi untuk taat dan patuh kepada pencipta manusia itu sendiri.8 Banyak dari ayat Al Quran

yang memuat keajaiban dalam penciptaan manusia, antara lain Q.S. Adz-Dzariyat ayat 21, Q.S. Al-Hajj ayat 5, dan Q.S. Al-Qiyamah ayat 36-40.

Dalam Q.S. Al Isra’ ayat 70, disebutkan bahwa Allah memuliakan manusia melebihi makhluk lainnya. Dengan menggunakan akalnya, manusia diberikan oleh Allah ﷻ kemampuan untuk berpikir dan berakhlak yang baik, seperti adanya sifat ketaatan dan kepatuhan yang dimiliknya. Bahkan semua makhluk sibuk melayani segala keperluan manusia dan memenuhi segala kebutuhannya. Malaikat, matahari, bulan, binatang, tumbuh-tumbuhan, angin, udara, dan

6 Thohir Luth, dkk., op. cit. hlm. 84-85

7 Khalil Ibnu Ibrahim Amin, Kejaiban-Keajaiban Makhluk Ciptaan Allah, Citra Media, Yogyakarta, 2007, hlm. 1

(15)

sebagainya, semuanya melaksankan tugas dari Allah ﷻ untuk melayani keperluan manusia.9

Maka manusia yang menyadari hal tersebut dan diiringi oleh keimanan kepada Allah pastilah akan merenungkan nikmat-nikmat tersebut dan juga akan selalu mensyukurinya. Modal yang tepat sebagai wujud rasa syukur tersebut adalah dengan menjalankan tugas sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi sebagaimana yang telah ditugaskan oleh Allah kepada manusia itu sendiri.

2.3.1. Hakikat Manusia Sebagai Hamba Allah

Hakikat kehambaan kepada Allah adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan. Tujuan Allah menciptakan manusia telah jelas dituangkan dalam Q.S. Adz-Dzariyat ayat 56,

“Dan tidak Kuciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Menyembahku”.

Pengingkaran manusia dalam penghambaan diri kepada Allah menunjukkan bahwa ia menghambakan dirinya sendiri, menghambakan hawa nafsunya, dan menghambakan sesama makhluk Allah. Menghambakan sesama makhluk adalah perbuatan syirik, pelakunya disebut musyrik, dan ketahuilah bahwa itu adalah kezaliman yang paling besar nilainya. Allah tidak ragu menyatakan dalam Q.S. An Nisaa’ ayat 48,

(16)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

2.3.2. Tanggung Jawab Manusia Sebagai Hamba Allah

Makna esensial dari abd (hamba) adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan yang hanya layak ditujukan kepada Allah semata. Selain tanggungjawab kepada Allah, manusia juga memiliki tanggungjawab terhadap dirinya sendiri yaitu dengan memelihara iman yang dimiliki, karena iman manusia bersifat fluktuatif, kadang naik dan kadang turun, yang dalam hadist Rasulullah ﷻ dikatakan yazidu wa yanqushu.

Sebagai abdullah (hamba Allah), manusia juga memiliki tanggungjawab kepada keluarga dan menjaga iman keluarganya. Allah berfirman dalam QS At Tahriim ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”

Ada pula kewajiban sebagai abdullah (hamba Allah) untuk memiliki tanggungjawab kepada sesama manusia, yaitu dengan menegakkan keadilan dan menjalankan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran).

(17)

Jauh sebelum manusia diciptakan, Allah telah menyampaikan kepada malaikat bahwa Dia akan menciptakan khalifah (wakil) di muka bumi, sebagaimana yang tertuang dalam QS Al Baqarah ayat 30:

“Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka : Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ? Dia berkata : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Sebagai khalifah, manusia bertugas untuk mengurus bumi dengan seluruh isinya, dan memakmurkannya sebagai amanah dari Allah. Manusia berkewajiban membudayakan alam semesta ini guna menyiapkan kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Tugas umat islam adalah mampu menunjuk orang yang tepat untuk menjadi pemimpin yang siap menjalankan amanah tersebut.

Sebagai khalifah, manusia memiliki tugas besar untuk membangun, mengolah, dan memakmurkan bumi ini dengan sebaik-baiknya. Namun khalifah tidak akan bisa memikul tanggung jawabnya tanpa dilengkapi potensi-potensi yang diberikan Allah kepada manusia sehubungan dengan kedudukannya sebagai khalifah Allah di muka bumi (M. Quraish Shihab, 1998), yakni:

a. Kemampuan untuk mengetahui sifat, fungsi, dan kegunaan segala macam benda (Thaha:31)

b. Pengalaman selama berada di dalam surga, baik yang manis maupun yang pahit, keduanya amat berharga sekaligus sebagai peringatan kepada manusia

(18)

d. Tuhan memberi petunjuk kepada manusia selama berada di bumi (Thaha:123)10

Tugas manusia di bumi sebagai khalifah antara lain tugas kekhalifahan/kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi, dan pengelolaan serta pemeliharaan alam.

Khalifah memiliki arti sebagai wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan dengan kekuasaan yang bersifat kreatif dan dinamis, contohnya melakukan rekayasa membentuk wujud baru dalam kebudayaan, maupun membentuk kebijakan yang strategis untuk kepentingan manusia, tentunya juga memperhatikan perkembangan zaman dan pola pikir manusia tersebut. Tetapi kebebasan manusia sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah

sehingga kebebasannya tidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang. Kekuasaannya juga dibatasi oleh hukum-hukum Allah (Al Quran, hadist, maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta/al kaun). Kelak, khalifah tersebut akan dimintai pertanggungjawaban terhadap pengunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya (Q.S. Fathr:39).

Pemimpin dalam arti khalifah tidak hanya ditujukan pada pemimpin umat atau pemimpin suatu bangsa, tetapi sebenarnya manusia dipandang sama berdasarkan bidang dan keahliannya masing-masing. Tidak ada kelebihan antara satu manusia dengan yang lain, kecuali yang paling baik dalam menjalankan fungsi khalifah di muka bumi dan yang paling banyak membawa manfaat kepada manusia, dan tentu saja yang paling bertaqwa.

2.3.4. Tahapan Manusia Menjadi Khalifah Allah

Melalui tahapan ta’alluq, takhalluq, dan tahaqquq, seseorang akan mencapai derajat sebagai khalifah Allah.11 Maksud dari ta’alluq adalah

mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kepada Allah. Sementara itu takhalluq

adalah meneladani akhlak Allah, dan yang ketiga adalah tahaqquq, yaitu menjadi

10 Thohir Luth, dkk., op. cit. hlm. 89

(19)

mitra Allah di bumi. Inilah yang disebut tahaqquq: berusaha merealisasikan dan memanifestasikan sifat-sifat Ilahi yang kita miliki supaya bisa menjalankan tugas kekhalifahan12 (Komarudin Hidayat, Psikologi Ibadah: Menyibak Arti Menjadi

Hamba dan Mitra Allah di Bumi, Serambi, Jakarta, 2008, hlm. 75). Ada tiga sifat ilahi yang dimaksud di sini, yaitu al-‘alim (Maha Mengetahui), al-khaliq (Maha Pencipta), dan al-badi’ (Maha Pembuat). 13

2.3.5. Proses Munculnya Pemimpin (Khalifah)

Proses munculnya pemimpin dalam islam dapat dilacak sebagai berikut: Allah menciptakan Adam dan Hawa (Q.S. An Nisa ayat 1), lalu dari dua manusia itu lahir suatu komunitas yang disebut syu’ub dan qobail (Q.S. Al Hujurat ayat 13), kemudian terjadi proses ta’aruf (saling mengenal) sehingga ada yang memulai untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran (Q.S. Ali Imran ayat 104) sehingga adanya proses penyeleksian tentang siapa yang memiliki ability untuk ditempatkan sebagai hamba Allah yang paling mulia /

khoiru ummat sebagaimana yang ada dalam Q.S. Ali Imran ayat 110.14

2.3.6. Teori Kelahiran Pemimpin dalam Islam

Aunur & Iip (2001: 6-9) menyatakan bahwa ada dua teori kelahiran pemimpin dalam islam, yaitu teori alamiah dan terencana. Teori alamiah menyebutkan bahwa pemimpin muncul dari proses yang dialami oleh anak manusia, sejak kecil hingga dewasa sehingga akan membentuk karakter pribadinya. Sedangkan teori terencana menyimpulkan bahwa pemimpin lahir dari suatu kegiatan yang sengaja dibentuk untuk melahirkan pemimpin, seperti Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), organisasi politik, dan lain sebagainya.

2.3.7. Akhlak Seorang Pemimpin dalam Islam

Aunur & Iip (2001: 6-9) membagi akhlak seorang pemimpin/khalifah dari dua perspektif, yaitu perspektif Al Quran dan Hadist. Dalam perspektif Al Quran, akhlak pemimpin ialah:

12 Ibid., hlm. 75

13 Ibid., hlm. 80

(20)

 Mencintai kebenaran (Q.S. Al Baqarah ayat 147)

 Dapat menjaga amanah dan kepercayaan orang lain (Q.S. Al Baqarah ayat 166)

 Ikhlas dan memiliki semangat pengabdian (Q.S. Al Baqarah ayat 245)  Baik dalam pergaulan masyarakat (Q.S. Fushilat ayat 34)

 Bijaksana (Q.S. Yusuf 22)

Sementara itu dalam perspektif hadist disebutkan bahwa akhlak seorang pemimpin adalah:

 Memimpin untuk melayani bukan dilayani (HR. Abu Na’im)  Zuhud terhadap kekuasaan (HR. Bukhari dan Muslim)  Jujur dan tidak munafik (HR. Athabrani)

 Memiliki visi keumatan dan bukan fanatisme (HR. Ahmad)  Memiliki tanggung jawab moral (HR. Bukhari dan Muslim) 2.3.8. Keterkaitan Antara Hamba dan Khalifah

Manusia yaitu sebagai hamba dan khalifah bukanlah dua hal yang saling bertentangan melainkan keduanya adalah perpaduan tugas dan tanggung jawab yang melahirkan dinamika hidup, sehingga akan menghasilkan amal saleh. Keduanya merupakan suatu kesatuan yang padu dan tak terpisahkan. Kekhalifahan adalah realisasi dari pengabdiannya kepada Allah yang menciptakannya.15

Tetapi, apabila keduanya tidak mampu dijalankan secara seimbang, maka manusia tersebut akan memiliki sifat-sifat yang mampu menurunkan derajatnya ke tingkat yang paling rendah, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Q.S. At Thin ayat 5-6,

(21)

“Kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Dari topik yang kami bahas pada kesempatan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya manusia ini hanyalah hamba Allah yang wajib mengikuti syariat-Nya sebagaimana firman Allah dalam Alquran surah Adz Dzariyat : 56 yang artinya “Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan mereka hanya menyembahKu”. Dari ayat itulah kita dapat mengetahui tujuan kita diciptakan hanya untuk mengabdi dengan tulus kepada Allah. Oleh karena itu, kita wajib beriman dan bertaqwa kepada Allah dan beribadah serta menyerahkan segala urusan kepada Allah.

3.2. Saran

Setelah mengetahui hakikat manusia diciptakan, bagaimana asal usul penciptaannya, serta apa saja tugas dan tanggungjawabnya sebagai hamba dan khalifah di dunia, maka apa yang harus kita lakukan sebagai manusia, adalah:

(1) mengokohkan akidah dan tauhid kita,

(2) menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangannya,

(22)
(23)

DAFTAR PUSTAKA

Thohir Luth, dkk. 2015. Buku Daras Pendidikan Agama Islam di Universitas Brawijaya. Malang: PPA Universitas Brawijaya.

Daniel Djuned. 2011. Antropologi Al-Quran. Jakarta: Erlangga.

Muhammad Muhyidin. 2006. Asal Usul Manusia: Adam as atau Pithecanthropus Erectus Nenek Moyang Kita? Yogyakarta: IRCiSoD

Khalil Ibnu Ibrahim Amin. 2007. Keajaiban-Kejaiban Makhluk Ciptaan Allah.

Yogyakarta: Citra Media.

Komarudin Hidayat. 2008. Psikologi Ibadah: Menyibak Arti Menjadi Hamba dan Mitra Allah di Bumi. Jakarta: Serambi.

Aunur Rohim Fakih dan Iip Wijayanto. 2001. Kepemimpinan Islam. Yogyakarta: UII Press.

Referensi

Dokumen terkait

Sehubungan dengan Pelelangan Sederhana Pengadaan Barang/Jasa pada DINAS PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN KOTA MEDAN Tahun Anggaran 2014, untuk kegiatan PEMBANGUNAN RUANG KELAS.. BARU

Error Lower Bound Upper Bound 95% Confidence Interval

Dalam tubuh ODHA, partikel virus akan bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga orang yang terinfeksi HIV seumur hidup akan bergabung dengan DNA sel pasien,

Stimuli pemasaran yang terdiri dari produk, harga, lokasi/tempat/saluran distribusi, dan promosi merupakan strategi perusahaan.Strategi ini dilakukan perusahaan untuk

Pembelajaran Learning Cycle 7E berbasis inkuiri merupakan pembelajaran matematika yang menggunakan tahap-tahap model pembelajaran Learning Cycle 7E dengan berdasarkan pada

Berdasarkan pada data sampel yang diperoleh dapat dilihat bahwa sebagian besar petani ikan di Kecamatan Ngemplak berpendapat bahwa Kecamatan Ngemplak memiliki kondisi yang

(2) Bagi para investor pasar modal yang ingin menanamkan investasinya di pasar modal kawasan Asia Tenggara khususnya negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina

ingin bekerjasama dalam memasarkan produk Vans. Bentuk kerjasama yang ditawarkan PT. Gagan Indonesia kepada pihak tersebut yaitu dalam bentuk perjanjian