• Tidak ada hasil yang ditemukan

KORELASI ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN DAN SO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KORELASI ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN DAN SO"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BALITA DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2012

ARTIKEL

Diajukan untuk memenuhi tugas akhir Fakultas Kedokteran

Universitas Islam Bandung

PRAMADIO BAMBANG NUGROHO

10100109021

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

(2)

KORELASI ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN DAN

SOSIODEMOGRAFI DENGAN PREVALENSI DIARE PADA BALITA

DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2012

CORRELATION BETWEEN ENVIRONMENTAL AND

SOCIODEMOGRAPHIC FACTORS WITH THE PREVALENCE OF

DIARRHEA IN UNDER-FIVE YEARS CHILD IN BANDUNG REGENCY

IN 2012

Pramadio Bambang Nugroho1, Santun Bhekti Rahimah2, Budiman3

1

Mahasiswa Program Sarjana Kedokteran Universitas Islam Bandung1

2

Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

3

Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Islam Bandung

Abstrak

Diare merupakan permasalahan kesehatan pada balita yang paling utama. Di Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat, angka kejadian diare pada balita pada tahun 2012 mencapai 33.676 kasus. Diare dipengaruhi oleh beberapa determinan, antara lain faktor lingkungan seperti kepemilikan jamban keluarga, sarana air bersih, dan SPAL, juga faktor sosiodemografi seperti kepadatan penduduk dan angka kemiskinan. Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara faktor lingkungan dan sosiodemografi dengan prevalensi diare pada balita di Kabupaten Bandung tahun 2012.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini menganalisis data sekunder yaitu hasil survei tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung pada tahun 2012. Data sekunder yang diteliti sebanyak 56 dari 62 Puskesmas. Analisis statistik dengan menggunakan Pearson-Correlation Test pada derajat kepercayaan 95%.

Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang bermakna antara kepemilikan SPAL dengan prevalensi diare dan arah negatif, dengan kekuatan hubungan lemah (p = 0,045 dan r = -0,269) dan terdapat korelasi yang bermakna antara angka kemiskinan dengan prevalensi diare dan arah positif, dengan kekuatan hubungan lemah (p = 0,003 dan r = 0,389). Tidak terdapat korelasi antara prevalensi diare dengan kepemilikan jamban keluarga, kepemilikan sarana air bersih, dan kepadatan penduduk.

Peningkatan kepemilikan SPAL secara tidak langsung meningkatkan penggunaannya akan menurunkan penularan diare melalui air yang tercemar. Kemiskinan menyebabkan kurang tersedianya akses terhadap fasilitas sanitasi yang memadai, lingkungan rumah yang tidak bersih dan kebersihan diri pada anak yang buruk. Kesimpulan yang dapat diambil adalah terdapat korelasi antara kepemilikan SPAL dan angka kemiskinan dengan prevalensi diare pada balita di Kabupaten Bandung tahun 2012.

Kata Kunci: balita, diare, lingkungan, sosiodemografi

(3)

Abstract

Diarrhea is most clinical problem in under-five years child. In Bandung Regency of West Java Province, the incidence of diarrhea in under-five in 2012 reached 33.676 cases. Diarrhea is influenced by several determinants, such as environmental factors as the household latrines, clean water, and wastewater disposal ownership, also sociodemographic factors such as population density and poverty. The aim of the research is to determine whether there are correlation between environmental and sociodemographic factors with the prevalence of diarrhea in under-five years child in Bandung Regency in 2012.

This research is quantitative research by analytical observational methods with cross-sectional approach. This study analyzed secondary datas which are the results of an annual survey of Bandung District Health Department in 2012. 56 of the 62 health centers as secondary data had been examined. Statistical analysis using the Pearson-Correlation Test at 95% confidence level.

The results of bivariate analysis showed that there is significant correlation between the wastewater disposal ownership with diarrhea prevalence and negative direction, with weak correlation (p = 0.045 and r = -0.269) and there is a significant correlation between the prevalence of poverty with diarrhea and a positive direction, with weak correlation (p = 0.003 and r = 0.389). There is no correlation between the prevalence of diarrhea with the household latrines ownership, the clean water ownership, and population density.

The increase of ownership wastewater disposal, it means increase the use of it, will reduce the trasnsmission of diarrhea through contaminated water. Poverty causes lack of availability of access to adequate sanitation facilities, clean home environment and poor personal hygiene in children. The conclusion that there are correlation between the wastewater disposal ownership and poverty with the prevalence of diarrhea in under-five years child in Bandung regency in 2012.

Keyword: diarrhea,environment, sociodemographic, under-five years child

Diare merupakan suatu keadaan pada individu dimana frekuensi buang air besar

mencapai lebih dari 3 kali per hari atau lebih sering dari biasanya dengan konsistensi feses

yang lembek atau encer.1 Penyebab diare antara lain karena infeksi Rotavirus, E.coli,

Salmonella, Campylobacter, Shigella, Entamoeba histolytica dan Histoplasma capsulatum,

dan bisa juga karena alergi dan keracunan makanan. 1, 2 3, 4 Diare masih menjadi permasalahan

kesehatan utama pada balita di dunia. Diare menjadi penyebab kematian anak umur dibawah

lima tahun terbesar kedua di dunia pada tahun 2009. Angka kejadian yang disebabkan oleh

diare mencapai 2,5 milyar kasus per tahun,dengan angka kematian mencapai 1,5 juta kasus

per tahun.1 Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2007 menyatakan bahwa

prevalensi klinis diare di Indonesia mencapai angka 9,0%, dengan rentang 4,2%-18,9%

dengan prevalensi diare pada anak umur 1-4 tahun merupakan yang tertinggi (16,7%) diikuti

(4)

oleh penyakit diare sebesar 25,2%.5 Angka kejadian diare di Kabupaten Bandung berdasarkan

Profil Kesehatan Kabupaten Bandung pada tahun 2011 mencapai 71.010 kasus, sedangkan

angka kejadian diare pada tahun-tahun sebelumnya seperti pada tahun 2009 mencapai

126.251 kasus dan pada tahun 2010 mencapai 99.412 kasus. Angka kesakitan kelompok umur

1-4 tahun akibat diare di Kabupaten Bandung tahun 2011, yang menjalani rawat jalan di Pusat

Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) mencapai 25.359 kasus. Pada tahun 2012, hasil laporan

bulanan Dinas Kesehatan tahun 2012, angka kejadian diare pada balita mencapai 33.676

orang.6

Pada diare, faktor risiko yang utama adalah faktor lingkungan yang terkontaminasi

dan peningkatan paparan terhadap patogen dalam saluran pencernaan.7 Cara penularannya

melalui fecal-oral, yaitu dengan memakan makanan atau air yang terkontaminasi dengan

patogen dari feses manusia atau hewan.8 Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi

kejadian diare antara lain kepemilikan fasilitas jamban keluarga dan kepemilikan sarana air

bersih.9-13 Selain itu, sarana pembuangan air limbah (SPAL) dapat meminimalisir paparan

beberapa mikroorganisme patogen dan parasit yang biasanya ditemukan di dalam air limbah

yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya diare.14 Selain faktor lingkungan,

faktor sosiodemografi menjadi faktor lain yang dapat mempengaruhi kejadian diare. Faktor

sosiodemografi yang dapat mempengaruhi kejadian diare antara lain status ekonomi dan

kepadatan penduduk.14-16 Kepadatan penduduk dapat menjadi faktor risiko kejadian diare

karena salah satu penyebab diare pada balita paling banyak yaitu Rotavirus dapat menyebar

melalui udara.14

Angka kejadian diare pada balita di Kabupaten Bandung saat ini masih menjadi 10

besar penyakit terbanyak yang terjadi di Kabupaten Bandung. Hal ini menjadi alasan peneliti

untuk melakukan penelitian mengenai korelasi antara faktor-faktor yang mempengaruhi

kejadian diare pada balita, antara lain faktor lingkungan berdasarkan kepemilikan jamban

keluarga, kepemilikan sarana air bersih, dan kepemilikan sarana pembuangan air limbah

(SPAL), dan faktor sosiodemografi berdasarkan angka kemiskinan dan kepadatan penduduk

dengan prevalensi diare pada balita di Kabupaten Bandung pada tahun 2012.

Metode

Pada penelitian ini, populasi terjangkaunya adalah seluruh penduduk yang berada di

wilayah Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat pada tahun 2012. Penelitian ini

(5)

Kabupaten Bandung mengenai cakupan kepemilikan sarana air bersih, kepemilikan jamban

keluarga, kepemilikan SPAL, kepadatan penduduk, angka kemiskinan, dan angka kejadian

diare pada balita di wilayah yang dinaungi oleh setiap Puskesmas di wilayah Kabupaten

Bandung pada tahun 2012. Kriteria inklusinya antara lain data sekunder yang diambil pada

tahun 2012 yang mencakup perihal di atas secara lengkap.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode observasional analitik

dengan pendekatan cross-sectional, yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika

korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau

pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach).17 Tidak dilakukan teknik

pengambilan sampel karena menggunakan seluruh populasi.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah faktor lingkungan yaitu kepemilikan

jamban keluarga, kepemilikan sarana air bersih, dan kepemilikan SPAL, dan faktor

sosiodemografi yaitu kepadatan penduduk dan angka kemiskinan. Kepemilikan jamban

keluarga dihitung dengan cara jumlah kepala keluarga di wilayah kerja Puskesmas yang

menggunakan jamban keluarga dibagi jumlah kepala keluarga dalam tahun yang sama

dikalikan 100%. Begitu pula dengan kepemilikan sarana air bersih yaitu dihitung dengan cara

jumlah kepala keluarga di wilayah kerja Puskesmas yang menggunakan sarana air bersih

pribadi dibagi jumlah kepala keluarga dalam tahun yang sama dikalikan 100%. Sedangkan

pada kepemilikan SPAL, yang dihitung adalah jumlah pengguna SPAL di wilayah kerja

Puskesmas yang memenuhi syarat dibagi jumlah kepala keluarga pada tahun yang sama

dikalikan 100%. Pada variabel kepadatan penduduk diambil dari hasil penghitungan jumlah

penduduk satu wilayah kerja Puskesmas dibagi dengan luas wilayah kerja Puskesmas tersebut

dalam Hektare. Angka kemiskinan didapat dari jumlah keluarga miskin (Keluarga Pra

Sejahtera + Keluarga Sejahtera 1) dibagi jumlah seluruh penduduk di tahun yang sama

dikalikan 100%. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prevalensi diare pada balita di

Kabupaten Bandung pada tahun 2012 yang didapat dari hasil penghitungan jumlah kasus

dibagi jumlah seluruh penduduk pada tahun yang sama dikali 1000.

Data yang telah terkumpul kemudian akan diolah dengan aplikasi komputer meliputi

editing, coding, entry dan tabulating. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan

program SPSS 17 yang meliputi analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat dilakukan

untuk mengetahui distribusi frekeuensi dan normalitas data. Analisis bivariat dilakukan

(6)

variabel numerik-numerik yang tujuan untuk mengetahui korelasi antara variabel bebas

dengan variabel terikat. Dasar pengambilan keputusan penerimaan hipotesis berdasarkan

tingkat signifikan (nilai α) sebesar 95%, dimana Ho gagal ditolak apabila p > α (0,05) dan Ho ditolak apabila p ≤ α (0,05). Kekuatan korelasi dikatakan lemah jika nilai R antara 0,2 - 0,4.

Sebelum pelaksanaan penelitian, peneliti mengajukan permohonan izin untuk

pengambilan data sekunder kepada setiap Puskesmas atau dinas kesehatan kabupaten terkait

dan pengolahan data untuk kepentingan penelitian.

Hasil dan Pembahasan

Karakteristik faktor lingkungan, sosiodemografi, dan prevalensi diare pada balita di

Kabupaten Bandung pada tahun 2012 dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini:

Tabel 1 Karakteristik Faktor Lingkungan, Sosiodemografi, dan Prevalensi Diare pada

Balita

Variabel Rerata Minimum Maksimum

Persentase Kepemilikan Jamban Keluarga

Kepemilikan jamban keluarga yang tertinggi mencapai 98,7% dan yang terendah

hanya mencapai 27,5% dengan rerata 53,96%. Begitu pula dengan kepemilikan sarana air

bersih yang tertinggi mencapai 100% dan yang terendah mencapai 19,34% dengan rerata

kepemilikan 55,62%. Rerata kepemilikan SPAL masih sangat minim yaitu 26,87%, dengan

jumlah tertinggi dan terendah adalah 77,44% dan 2,35%. Kepadatan penduduk tertinggi

adalah 178 jiwa per Ha dan terendah 2 jiwa per Ha. Persentase kemiskinan melampaui

separuh dari penduduk dengan rata-rata 53,26%. Prevalensi diare pada balita mencapai 22,23,

dengan rincian prevalensi tertinggi mencapai 55,47 dan terendah 9,21.

Tabel 2 Korelasi antara Faktor Lingkungan dan Sosiodemografi dengan Prevalensi

Diare pada Balita di Kabupaten Bandung Tahun 2012

Variabel R p-value

(7)

Persentase Kepemilikan Sarana Air Bersih -0,095 0,484

Persentase Kepemilikan SPAL -0,269 0,045

Kepadatan Penduduk -0,173 0,203

Persentase Kemiskinan 0,389 0,003

Dari tabel 2 diketahui bahwa kepemilikan jamban keluarga tidak menunjukkan

korelasi yang bermakna terhadap prevalensi diare pada balita. Hal ini kemungkinan

disebabkan karena tidak diketahui apakah jamban yang digunakan oleh keluarga sudah

memenuhi syarat atau tidak. Kepemilikan jenis jamban cemplung akan lebih berpeluang

untuk terjadinya kontaminasi air dengan mikroorganisme penyebab diare dibandingkan

dengan jamban leher angsa yang memiliki tempat penampungan tinja dan saluran sekat air

pada leher angsa sehingga lalat atau vektor tidak dapat mencapai tempat penampungan tinja

dan tidak berbau. Jamban yang memenuhi syarat tidak akan mencemari sarana air bersih di

sekitarnya sehingga akan memutus rantai penularan diare.

Kepemilikan sarana air bersih pun tidak menunjukkan korelasi yang bermakna

terhadap prevalensi diare pada balita di Kabupaten Bandung. Pada penelitian ini, variabel

yang diamati adalah kepemilikan sarana air bersih yang dimiliki oleh keluarga atau pribadi,

tanpa melihat apakah sarana air bersih tersebut terlindungi atau tidak terlindungi. Sarana air

bersih yang tidak terlindungi akan mempermudah kontaminasi mikroorganisme sehingga

terjadi pencemaran air yang disebabkan oleh tercampurnya air bersih dengan air limbah. Jarak

antara sarana air bersih dengan jamban keluarga dan sarana pembuangan air limbah pun tidak

dilakukan penelitian. Apabila jaraknya kurang dari 10 meter, peluang terjadinya pencemaran

air akan meningkat. Selain itu, bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Bandung pada tahun

2012 dapat menyebabkan pencemaran sarana air bersih yang tidak terlindungi, misalnya

sumur yang terbuka.

Terdapat korelasi yang bermakna antara kepemilikan sarana pembuangan air limbah

dengan prevalensi diare pada balita (p = 0,045) dan arah negatif dengan kekuatan hubungan

lemah (r = -0,269), artinya semakin tinggi tingkat kepemilikan SPAL, maka akan semakin

rendah prevalensi diare. Apabila mikroorganisme penyebab diare mencemari air yang biasa

digunakan sebagai sumber air minum oleh masyarakat Kabupaten Bandung, maka akan

terjadi penularan penyakit diare melalui fecal-oral. Hal tesebut dapat diminimalisir dengan

kepemilikan sarana pembuangan air limbah sehingga air yang sudah terkontaminasi tidak

tercampur dengan air yang akan digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari. Dengan

meningkatnya pemakaian sarana pembuangan air limbah di Kabupaten Bandung, diketahui

(8)

Hasil uji statistik Pearson-Correlation Test menunjukkan bahwa p = 0,203 (p > 0,05)

sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna antara kepadatan

penduduk dengan prevalensi diare pada balita di Kabupaten Bandung tahun 2012. Kepadatan

penduduk Kabupaten Bandung yang rendah dan tidak merata kemungkinan menjadi penyebab

kepadatan penduduk tidak menjadi faktor yang memiliki korelasi terhadap prevalensi diare

pada balita.

Angka kemiskinan memiliki korelasi yang bermakna terhadap prevalensi diare pada

balita dengan p = 0,003 (p ≤ 0,05) dan arah positif dengan kekuatan hubungan lemah (r =

0,389). Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wilunda pada tahun 2009

yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status ekonomi dengan

kejadian diare pada anak-anak. Anak-anak yang hidup dari keluarga yang miskin memiliki

risiko yang lebih tinggi terhadap diare disebabkan karena tidak tersedianya akses terhadap

fasilitas sanitasi yang memadai, lingkungan rumah yang tidak bersih dan kebersihan diri pada

anak yang buruk.15

Pada penelitian ini tidak meneliti mengenai korelasi PHBS terhadap kejadian diare.

Jamban keluarga yang menjadi variabel hanya diteliti mengenai kepemilikannya saja, tetapi

jenis dan kondisi jamban tidak diteliti. Sarana air bersih pun hanya diteliti dari segi

kepemilikannya saja, tetapi kualitas air, akses terhadap air bersih, dan sumber air minum tidak

dilakukan penelitian. Pada penelitian ini juga, faktor sosiodemografi seperti pengetahuan ibu

terhadap diare, pemberian ASI pada bayi, status gizi, status imunisasi, pendidikan ibu,

pekerjaan ibu dan penyakit pengikut tidak dilakukan penelitian mengingat keterbatasan dalam

penelitian.

Simpulan

Terdapat korelasi yang bermakna antara prevalensi diare pada balita dengan

kepemilikan SPAL dan angka kemiskinan di Kabupaten Bandung pada tahun 2012. Semakin

banyak kepemilikan SPAL pada suatu daerah akan menurunkan prevalensi diare pada balita.

Akan tetapi, semakin tinggi angka kemiskinan suatu daerah, maka semakin tinggi pula

prevalensi diare pada balita di daerah tersebut.

Ucapan Terimakasih

Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada dekan dan para pembimbing penelitian

yang selalu memberi arahan dan saran terhadap penelitian ini, serta kepada keluarga dan

(9)

Daftar Pustaka

1. WHO. Diarrhea: why children are still dying and what can be done [monograph on the internet] 2009 [cited 2013 January 20th]. Available from: http://whqlibdoc.who.int/publications/2009/9789241598415_eng.pdf.

2. Bravo EA et al. Dimorphic fungal coinfection as a cause of chronic diarrhea and pancolitis. Case Reports in Medicine. 2011;2011:4.

3. Passariello A et al. Diarrhea in neonatal intensive care unit. World J Gastroenterol. 2010;16(21):2664-8.

4. Cangemi JR. Food poisoning and diarrhea: small intestine effects. Curr Gastroenterol Rep. 2011;13:442-8.

5. Badan Penelitian dan Pengembangan Dinas Kesehatan RI. Riset kesehatan dasar 2007. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2008.

6. Laporan bulanan tahun 2012 penderita diare. In: Kesehatan D, editor. Kabupaten Bandung: Dinas Kesehatan; 2012.

7. Kliegman RM et al. Nelson textbook of pediatrics. 18th ed. Philadelphia: Saunders; 2007.

8. Fauci AS et al. Harrison's principles of internal medicine. 17th ed. USA: McGraw-Hill; 2008.

9. Woldemicael G. Diarrhoeal morbidity among young children in Eritrea: environmental and socioeconomic determinants. J Health Popul Nutr. 2001 June;19(2):83-90.

10. Mbonye AK. Risk factor for diarrhoea and upper respiratory tract infections among children in a rural area of Uganda. J Health Popul Nutr. 2004 March;22(1):52-8.

11. Semba RD et al. Relationship of the presence of a household improved latrine with diarrhea and under-five child mortality in Indonesia. Am J Trop Med Hyg. 2011;84(3):443-50.

12. Godana W, Mengiste B. Environmental factors associated with acute diarrhea among children under five years of age in Derashe District, Southern Ethiopia. Science Journal of public Healh. 2013;1(3):119-24.

13. Anwar A, Musadad A. Pengaruh akses penyediaan air bersih terhadap kejadian diare pada balita. Jurnal Ekologi Kesehatan 2009 June;8(2):953-63.

(10)

15. Wilunda C, Panza A. Factors associated with diarrhea among children less than 5 years old in Thailand: a secondary analysis of Thailand multiple indicator cluster survey 2006. J Health Res. 2009;23 (Suppl):17-22.

16. Mubasyiroh R. Faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di beberapa regional Indonesia tahun 2007. Bul Penelit Kesehat. 2010;38:24-31.

(11)
(12)

SURAT PERMOHONAN PEMUATAN ARTIKEL

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Pramadio Bambang Nugroho

NPM : 10100109021

Program Studi : Pendidikan Sarjana Kedokteran

Alamat Korespondensi : Jalan Hariang Banga No. 2 Bandung

Email : [email protected]

Judul naskah artikel :

“ Korelasi Antara Faktor Lingkungan dan Sosiodemografi dengan Prevalensi Diare pada Balita di Kabupaten Bandung Tahun 2012”

mengajukan permohonan pemuatan artikel dengan judul seperti tersebut di atas

dan bersedia memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh dewan

editor Publikasi Berkala Penelitian Program Pendidikan Sarjana Kedokteran

Universitas Islam Bandung.

Bandung, Agustus 2013

Pemohon,

(13)

SURAT PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Pembimbing: Tanda Tangan

1. Santun Bhekti Rahimah, dr., M.Kes ...

2. Budiman, dr., M.KM ...

Judul naskah artikel:

KORELASI ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN DAN

SOSIODEMOGRAFI DENGAN PREVALENSI DIARE PADA BALITA DI

KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2012

menyatakan bahwa naskah artikel dengan judul seperti tersebut di atas telah

diperiksa, dikoreksi, dan disetujui oleh komisi pembimbing untuk dimuat dalam

Gambar

Tabel 1 Karakteristik Faktor Lingkungan, Sosiodemografi, dan Prevalensi Diare pada

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan : Korelasi sangat lemah antara frekuensi merokok dalam sehari dengan tingkat kecemasan pada siswa kelas X sampai XII SMA Murni Surakarta. Kata Kunci :

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara sumber air bersih dengan kejadian diare pada anak balita di Kelurahan Pisangan, Ciputat Timur. Hal ini

Kesimpulan: Terdapat korelasi negatif yang lemah antara jumlah trombosit dengan kepadatan parasit pada subyek penelitian secara keseluruhan. Kata kunci: malaria, anak,

Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan untuk menjawab permasalahan dan rumusan hipotesis, maka dapat diambil kesimpulan secara umum bahwa tidak terdapat korelasi

implikasi (1) masih banyak anak balita yang memiliki gizi buruk di Sumatera Barat dimana prevalensi gizi buruk sekitar 17,6 persen dan gizi kurang sekitar 14 persen, (2) kemiskinan

Hubungan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Rumah Tangga, Personal Hygiene Ibu Balita Dan Kebiasaan Jajan Terhadap Riwayat Penyakit Diare Pada Balita Daerah

Kesimpulan : Tidak terdapat korelasi antara volume perdarahan intraserebral dengan nilai indeks barthel pada stroke hemoragik.. Kata Kunci : volume perdarahan,

Kemudian karena angka yang dihasilkan dalam akhir penghitungan Pearson Correlationnya adalah angka yang positif, yaitu 0,397, maka dapat dikatakan bahwa korelasi atau hubungan yang