BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pengumpul. Pembeli dan penjual dapat bertransaksi langsung maupun tidak

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 1. Permasalahan

Sebuah model pasar terdiri dari tiga jenis agen, yakni penjual, pembeli, dan pengumpul. Pembeli dan penjual dapat bertransaksi langsung maupun tidak langsung melalui pengumpul (Rubinstein, 1987:1). Pengumpul banyak ditemui di tata niaga produk pertanian dan perikanan. Pengumpul dalam rangkaian tata niaga perikanan memiliki peran yang sangat penting.

Kehadiran pengumpul tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan masyarakat nelayan. Pengumpul menampung hasil tangkapan para nelayan untuk dijual kembali kepada para pedagang besar di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Palembang, Medan, dan Jambi (Susilowati, 1983: 1).

Pengumpul perikanan di masa sekarang agak berbeda dengan masa dahulu. Jika dahulu antara nelayan dan pengumpul memiliki keterikatan langsung, baik berupa bantuan pinjaman uang atau peralatan melaut, maka sekarang sudah tidak terlalu banyak ditemui. Para nelayan sudah dapat hidup mandiri, tidak selalu menggantungkan kebutuhannya kepada pengumpul. Para nelayan sudah mulai mengakses lembaga-lembaga keuangan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, misalnya perbankan dan pegadaian.

(2)

Pelelangan ikan pun sudah tidak banyak ditemui fenomena seperti dahulu. Para nelayan di masa dahulu menyetor ikan hasil tangkapannya langsung kepada para pengumpul, tetapi hal ini tidak banyak terjadi di masa sekarang. Hal seperti ini hanya terjadi di daerah-daerah pedesaan yang mengalami kesulitan akses transportasi. Pengumpul biasanya datang sendiri ke tempat para nelayan melabuhkan kapal atau perahunya dan transaksi terjadi seketika itu juga di tempat tersebut. Pengumpul kemudian membawa ikan yang dibelinya dari nelayan ke pasar-pasar besar.

Pelelangan ikan pada masyarakat modern, seperti yang terjadi di Pesisir Kabupaten Tuban, berbeda dengan yang terjadi di pedesaan. Pelelangan ikan dilaksanakan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) atau di pasar ikan. Para pengumpul sudah jarang ditemui mengambil ikan langsung dari para nelayan dengan harga sewenang-wenang. Hanya ada beberapa nelayan yang menyetor langsung ikan hasil tangkapannya ke pengumpul. Hal ini terjadi semata-mata karena memang sudah berlangganan dan terikat komitmen kerja.

Proses pelelangan ikan di TPI atau pasar membuat persaingan antar pengumpul di era modern semakin ketat. Pengumpul tidak bisa lagi membeli ikan tangkapan nelayan dengan harga yang sewenang-wenang, melainkan melalui proses pelelangan ikan yang resmi atau membeli ikan dengan harga standar. Para pengumpul saling bersaing menekan harga selama proses pelelangan berlangsung untuk mendapatkan ikan hasil tangkapan nelayan.

(3)

Persaingan yang terjadi di pasar ikan tempat pengumpul mendistribusikan ikannya tidak kalah ketat. Sifat produk perikanan yang mudah rusak menuntut proses penjualan berlangsung singkat agar kualitas produk perikanan tidak menurun atau bahkan rusak. Pengumpul di pasar ikan berhadapan dengan sesama pengumpul dari daerah lain untuk bersaing menjual ikannya.

Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Jawa Timur (2015: 75) mencatat jumlah unit pemasaran perikanan tangkap di Kabupaten Tuban sebanyak 38 pengumpul (collector), 42 pedagang besar (distributor), dan 1.326 pengecer (retailer). Salah satu perusahaan pengumpul perikanan tangkap yang besar adalah Putra Haji Muin (PHM) yang berlokasi di Desa Sukolilo Kecamatan Bancar.

Perusahaan PHM menarik untuk dikaji karena PHM adalah satu-satunya perusahaan pengumpul perikanan tangkap di Kabupaten Tuban yang mampu bertahan lebih dari tiga dasawarsa di tengah persaingan pasar yang ketat. Ketangguhan PHM ini teruji dengan bukti bahwa PHM masih eksis sampai saat ini. PHM bahkan menjadi satu-satunya perusahaan perikanan tangkap tertua di Kabupaten Tuban yang konsisten beroperasi di pasar-pasat besar, yakni Pasar Muara Angke dan Pasar Ikan Muara Baru Jakarta, serta Pasar Ikan Caringin Bandung.

Permasalahan produksi perikanan tangkap berupa produk yang tidak tahan lama dan naik-turunnya grafik produksi sesuai musim dapat diatasi dengan baik oleh PHM. PHM meyakini bahwa kunci utama untuk memenangkan kompetisi pasar tersebut adalah administrasi yang baik.

(4)

Permasalahan produksi perikanan tangkap dan persaingan antar pengumpul tidak bisa dihindari. Salah satu cara efektif untuk memenangkan persaingan adalah dengan cara memperbaiki kualitas adminstrasi perusahaan. Siagian (2001: 1) berpendapat bahwa administrasi pada dasarnya memiliki peranan yang sangat penting bagi perusahaan karena dapat membantu perusahaan dalam memberikan data atau informasi yang diperlukan oleh pimpinan perusahaan dan memudahkan pimpinan dalam mengambil keputusan dalam pelaksanaan tugas untuk memenangkan kompetisi pasar.

Etika merupakan salah satu cabang filsafat yang relevan untuk mengkaji permasalahan-permasalahan aktual. Etika dalam bentuknya sebagai etika terapan (applied ethics) atau bahkan filsafat terapan (applied philosophy) membahas masalah-masalah yang sangat praktis (Bertens, 2013: 207).

Salah satu cabang etika yang saat ini mulai banyak dikaji adalah etika administrasi. Etika administrasi adalah etika yang membahas tentang proses kerjasama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (Siagian, 2003: 2).

Setiap perusahaan mempunyai prinsip, visi, dan asas-asas etis yang dipegang teguh. Penelitian filsafati terhadap perusahaan pengumpul perikanan tangkap PHM dilakukan untuk menguraikan administrasi yang selama ini dilakukan. Penelitian ini bertujuan menganalisis asas-asas etis administrasi yang ada dalam administrasi

(5)

perusahaan PHM. Asas-asas etis tersebut selanjutnya direfleksikan untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dari administrasi Perusahaan PHM.

2. Rumusan Masalah

a. Bagaimana praktik administrasi Perusahaan Pengumpul Perikanan Tangkap

PHM?

b. Bagaimana konsep administrasi Perusahaan Pengumpul Perikanan Tangkap

PHM?

c. Apa implementasi asas-asas etis administrasi pada Perusahaan Pengumpul

Perikanan Tangkap PHM?

3. Keaslian Penelitian

Penelitian tentang pengumpul perikanan telah banyak dilakukan. Sejauh penelusuran peneliti belum ditemukan penelitian mengenai pengumpul perikanan yang dikaji melalui perspektif etika administrasi, khususnya penelitian tentang perusahaan perikanan tangkap PHM. Berikut ini beberapa penelitian yang memiliki objek material yang sama dengan peneltian ini:

1. Siswanto, Budi. 2007. Perlawanan Nelayan Prigi: Resistensi Nelayan

terhadap Tempat Pelelangan Ikan (TPI), Tengkulak, dan

Juragan. Thesis. Surabaya: Universitas Airlangga.

2. Ngatini. 2013. Hubungan Kerja Petani Tambak dengan Tengkulak Ikan

(Studi Kasus di Desa Bakaran Wetan Kecamatan Juwana Kabupaten Pati). Skripsi. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

(6)

3. Wulan, Ana Nurnovita. 2013. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Tengkulak Ikan Kecamatan Palang Kabupaten Tuban Memilih Ikan dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan. Skripsi. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat di antaranya bagi:

1. Ilmu Pengetahuan

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi positif pada perkembangan ilmu pengetahuan. Etika administrasi perusahaan privat akan memberikan pandangan baru yang lebih komprehensif mengenai pertimbangan moral administrator dalam menjalankan tugas-tugasnya. 2. Ilmu filsafat

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan terhadap perkembangan etika administrasi, khususnya etika administrasi privat.

3. Bangsa Indonesia

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pedoman kepada bangsa Indonesia, khususnya para pelaku usaha dan administrator mengenai administrasi yang baik sehingga dapat lebih meningkatkan usaha yang dijalankan di tengah persaingan yang ketat.

(7)

B. Tujuan Penelitian

Penelitian yang berjudul Inventarisasi Asas-Asas Etis Perusahaan Perikanan Tangkap Putra Haji Muin (PHM) di Kabupaten Tuban dalam Perspektif Etika Administrasi bertujuan untuk menyelesaikan persoalan dalam rumusan masalah sebagai berikut:

1. Menguraikan praktik administrasi pada Perusahaan Pengumpul Perikanan

Tangkap PHM

2. Menguraikan konsep administrasi Perusahaan Pengumpul Perikanan

Tangkap PHM

d. Menganalisis implementasi asas-asas etis administrasi pada Perusahaan Pengumpul Perikanan Tangkap PHM

C. Tinjauan Pustaka

Sejumlah orang dalam masyarakat nelayan mempunyai kegiatan utama sebagai pedagang. Sejumlah orang itu menampung hasil tangkapan para nelayan untuk dijual kembali kepada para penampung di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Palembang, Medan, dan Jambi (Susilowati, 1983: 1).

Peranan pedagang dalam masyarakat nelayan dilihat dari jenis spesialisasi kegiatannya dibedakan atas pedagang pengumpul, yaitu para bakul ikan, dan pedagang kecil atau pedagang eceran dan pedagang besar (grosir) (Susilowati, 1983: 5).

(8)

Pedagang pengumpul merupakan pedagang perantara yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tata niaga, yakni pergerakan barang-barang dari pihak produsen sampai ke pihak konsumen. Pedagang perantara merupakan perorangan, perserikatan, atau perseroan yang berusaha dalam bidang tata niaga. Lembaga ini membeli dan mengumpulkan barang-barang yang berasal dari produsen dan menyalurkannya kepada konsumen (Hanafiah dan Syaefuddin, 1983: 26)

Pengumpul dalam praktiknya biasanya memberikan bantuan sebagai bentuk jaminan hubungan kerja, baik berupa alat tangkap untuk kepentingan usaha, maupun berupa makanan atau sejumlah uang untuk kepentingan keluarga nelayan tanpa mewajibkan bunga. Namun ada kewajiban moral bahwa semua hasil tangkapan yang diperoleh nelayan, hendaknya dijual kepada para penampung itu dengan harga yang berbeda dari harga pasar (Susilowati, 1983: 1).

Pedagang pengumpul (tengkulak) adalah mereka yang aktif membeli dan mengumpulkan barang dari produsen (nelayan dan petani ikan) di daerah produksi dan menjualnya kepada pedagang perantara berikutnya dan jarang menjual kepada konsumen terakhir. Pedagang ini dapat terdiri dari mereka yang mempunyai tempat usaha tetap di desa-desa, di mana para nelayan dan petani ikan menjual barangnya, dan mereka yang membeli barang dengan mendatangi nelayan atau petani ikan (unit usaha perikanan) satu-persatu atau membuka tempat pembelian di tempat-tempat pengangkutan lokal (traveling buyer) (Hanafiah dan Syaefuddin, 1983: 33).

(9)

Pedagang pengumpul memiliki peranan terpenting dalam tata niaga hasil perikanan. Pergerakan hasil perikanan berupa bahan makanan dari produsen sampai konsumen pada umumnya meliputi proses-proses pengumpulan, pengimbangan, dan penyebaran. Pedagang pengumpul menjalankan fungsi sebagai pengumpul hasil, berhubung daerah hasil terpencar-pencar, skala produksi masing-masing kecil, dan produksinya berlangsung sesuai musim (Hanafiah dan Syaefuddin, 1983: 3).

Pedagang pengumpul pada umumnya memberi kredit (advance payment) kepada produsen (nelayan) sebagai ikatan atau jaminan untuk dapat memperoleh bagian terbesar dari hasil perikanan dalam waktu tertentu (Hanafiah dan Syaefuddin, 1983: 3).

Pedagang pengumpul dapat berbentuk perseorangan, perserikatan, ataupun perseroan. Berdasarkan pemilikan atas barang dagangan, pedagang pengumpul ini termasuk kelompok pedagang yang memiliki barang dagangan, yakni mereka yang membeli dan menjual barang dengan maksud memperoleh laba dan keharusan memikul risiko (Hanafiah dan Syaefuddin , 1983: 32-33).

Dinarwan (2002: 2) menjelaskan bahwa hampir di setiap wilayah pesisir di Indonesia dijumpai adanya tengkulak (pengumpul perikanan) yang mengambil beberapa fungsi pengembangan sektor perikanan dan kelautan secara informal. Fungsi-fungsi pengembangan sektor perikanan dan kelautan tidak hanya pada fungsi finansial, melainkan beberapa fungsi yang lain, yakni:

(10)

1. Fungsi Produksi

Tengkulak pada fungsi produksi ini mengambil peran sebagai penyedia faktor/sarana produksi penangkapan ikan, seperti menyediakan biaya-biaya bekal operasi penangkapan ikan, menyediakan alat tangkap ikan dan menyediakan mesin motor tempel serta kapal penangkap ikan.

2. Fungsi Pemasaran

Ikan hasil tangkapan nelayan pada lokasi-lokasi yang tidak terdapat tempat pelelangan ikan (TPI) umumnya dibeli oleh tengkulak. Kemudian oleh tengkulak disalurkan ke perusahaan-perusahaan eksportir atau disalurkan ke pasar-pasar lokal.

3. Fungsi Finansial

Segala kebutuhan berupa finansial untuk terlaksananya kegiatan usaha penangkapan ikan senantiasa disediakan oleh tengkulak. Nelayan hampir dapat dikatakan bergantung pada tengkulak. Para tengkulak memberikan bantuan finansial tanpa syarat-syarat tertentu tidak seperti pada lembaga-lembaga keuangan atau perbankan.

4. Fungsi Sosial

Nelayan saat terjadi musim paceklik tidak melakukan operasi penangkapan ikan sama sekali. Nelayan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari banyak mengandalkan bantuan tengkulak. Bahkan untuk kepentingan biaya pendidikan anak-anak nelayan, kadang-kadang mereka juga memohon bantuan pada tengkulak.

(11)

Edi Iwan (1983: 2) menjelaskan bahwa pengumpul ikan berperan dalam hal pemasaran untuk menyampaikan produk perikanan hingga sampai kepada konsumen. Kegiatan administratif pengumpul terdiri dari:

1. Pengumpulan ikan

2. Sortasi menurut jenis dan ukuran

3. Pengawetan untuk memperpanjang daya kesegaran

4. Pengemasan

5. Penyimpanan dalam ruang

6. Pendistribusian ke pasar besar, pengecer, atau langsung ke konsumen

D. Landasan Teori

Etika adalah ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas. Etika dapat pula dirumuskan sebagai ilmu yang menyelidiki tingkah laku moral (Bertens, 2013: 13).

The Liang Gie (1963: 9) menjelaskan bahwa suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam sebuah kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu dapat dicakup dalam istilah administrasi, yang dalam bahasa Inggris disebut administration. Kata administrasi berasal dari bahasa latin ad dan ministrare, yakni suatu kata kerja yang berarti melayani, membantu, menunang, atau memenuhi. Selanjutnya dari kata tersebut terbentuklah kata benda administrario dan kata sifat administrativus.

(12)

Kata administrasi dalam bahasa Indonesia menggambarkan peristiwa di mana suatu tujuan tertentu dilayani, diperlancar atau ditunjang penataannya sehingga tujuan itu benar-benar tercapai. Adapun kegiatan yang digolongkan sebagai administrasi mencakup:

1. Dilakukan oleh sekelompok orang (dua orang atau lebih).

2. Berlangsung dalam suatu kerjasama.

3. Dimaksud untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan.

Tiga hal inilah yang merupakan ciri khas dari administrasi. Ketiga hal tersebut dapat disingkat menjadi sekelompok orang, kerjasama, dan tujuan tertentu. Adminsitrasi dengan demikian adalah sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu (The Liang Gie, 1963: 9).

Siagian (2003: 7) membagi administrasi dari segi perkembangannya menjadi dua macam, yakni administrasi negara (public administration) dan administrasi privat (Private Administration). Sebagian besar kegiatan dalam bidang administrasi privat dilakukan oleh sektor keniagaan, sehingga sering disebut administrasi niaga. Administrasi niaga adalah keseluruhan kegiatan organisasi, mulai dari produksi barang dan/atau jasa sampai tibanya barang atau jasa tersebut ke tangan konsumen.

Ciri administrasi privat adalah mengutamakan aspek keuntungan atas modal yang ditanam. Perusahaan privat seringkali dihadapkan pada kompetisi yang ketat sehingga membutuhkan kecepatan. Administrasi yang dilakukan lebih bersifat

(13)

pragmatis untuk mengejar keuntungan daripada sekedar legalistis (Siagian, 2003: 27).

Petugas administrasi dalam menjalankan tugas diwajibkan untuk memahami dan melaksanakan asas-asas etis administrasi. Asas-asas tersebut adalah asas pertanggungjawaban, pengabdian, kesetiaan, kepekaan, persamaan, dan kepantasan (The Liang Gie, 1993: 115).

E. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian pustaka yang dilengkapi dengan data lapangan. Berdasarkan metode penelitian yang dirumuskan oleh Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair dalam buku Metodologi Penelitian Filsafat (1990: 91) penelitian ini menggunakan metode penelitian pandangan filsafati di lapangan, yaitu suatu metode dalam meneliti suatu objek berupa pandangan hidup atau pandangan dunia dalam suatu kelompok daerah, suku, bangsa, maupun negara, yang mendasari seluruh kebudayaan kelompok tersebut. Penelitian ini secara khusus akan meneliti tentang etika administrasi yang dimiliki oleh perusahaan PHM.

1. Bahan dan materi penelitian

Penelitian pustaka yang dilakukan ini memiliki bahan dan meteri yang diperoleh dari berbagai literatur, baik berupa buku, jurnal, makalah, artikel, dan laporan penelitian. Penelitian ini selain dilakukan dengan pustaka juga dibantu

(14)

dengan penelitian lapangan melalui wawancara terhadap beberapa narasumber di lapangan.

a. Kajian pustaka

Peneliti melakukan penelitian pustaka menggunakan bahan dan materi yang dapat dikategorikan dalam dua kategori utama, yaitu bahan dan materi yang bersumber dari data primer dan bahan dan materi yang bersumber dari data sekunder.

1)Sumber Primer

Sumber primer yang digunakan adalah Tanda Daftar Perusahaan

PHM dari Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan

Kabuparten Tuban tahun 2016, Visi, Misi, dan Buku Catatan

Keuangan Perusahaan PHM tahun 2017.

2)Sumber Sekunder

a) Buku Tata Niaga Hasil Perikanan karya Hanafiah dan Syaefuddin tahun 1983.

b) Buku Keadilan sebagai Landasan bagi Etika Administrasi

Pemerintahan dalam Negara Indonesia karya The Liang Gie

tahun 1993.

c) Buku Filsafat Administrasi karya Sondang P. Siagian tahun 2003.

d) Makalah Kedudukan Pedagang Perantara dalam

(15)

b. Kajian lapangan

Penelitian lapangan dilakukan dengan metode wawancara semiterstruktur. Wawancara semiterstruktur dilakukan dengan tujuan menggali dan menemukan permasalahan secara terbuka. Responden wawancara ini adalah pendiri Perusahaan PHM, karyawan bidang produksi, distribusi, dan pemasaran, serta nelayan setempat. Responden diminta pendapat dan ide-idenya agar memperoleh informasi yang perspektifnya lebih terbuka dan luas. 2. Jalan penelitian

Peneliti dalam melakukan penelitian ini melakukan tiga tahap penelitian berupa:

a. Pengumpulan data

Dilakukan dengan cara mengumpulkan semua data yang diperlukan dalam penelitian, yang berhubungan dengan objek kajian penelitian. Data yang diperoleh berasal dari studi pustaka dan hasil wawancara di lapangan.

b. Pengolahan data

Dilakukan dengan cara mengolah data yang terkumpul, meliputi klasifikasi dan deskripsi sesuai dengan apa yang dibahas di dalam penelitian. Data hasil wawancara di lapangan dan studi pustaka diklasifikasikan dan dideskripsikan.

(16)

c. Penyusunan hasil penelitian

Dilakukan dengan cara menyusun data meliputi analisis data yang kemudian dituangkan ke dalam bentuk laporan penelitian yang sistematis.

3. Analisis data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan unsur-unsur metodis sebagai berikut:

a. Deskripsi

Unsur metodis ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai data yang terkait dengan administrasi Perusahaan PHM sebagai objek material yang diperoleh melalui wawancara di lapangan serta kepustakaan mengenai perniagaan hasil perikanan dan etika administrasi. b. Interpretasi

Peneliti mengungkapkan konsep filsafati dari data yang didapat tentang administrasi perusahaan PHM dan etika administrasi.

c. Holistika

Struktur-struktur dan norma-norma Perusahaan PHM yang diidentifikasi dilihat perspektif yang menyeluruh.

d. Refleksi

Peneliti merenungkan dan menyelami releksi sistematis atas dasar data dan pemahaman mengenai etika administrasi yang ada dalam administrasi Perusahaan PHM.

(17)

F. Hasil yang Dicapai

Hasil yang dicapai dalam penelitian adalah berdasar pada rumusan masalah yang diajukan, yakni:

1. Memperoleh uraian yang lebih mendalam praktik administrasi Perusahaan

PHM

2. Memperoleh penjelasan yang komprehensif tentang konsep administrasi Perusahaan PHM

3. Memperoleh hasil analisis implementasi asas-asas etis administrasi pada administrasi Perusahaan PHM

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penelitian penelitian yang berjudul Inventarisasi Asas-Asas Etis Perusahaan Perikanan Tangkap Putra Haji Muin (PHM) di Kabupaten Tuban dalam Perspektif Etika Administrasi terdiri dari lima bab, yaitu:

BAB I berupa pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah yang akan dijawab dalam penelitian, keaslinan penelitian, manfaat penelitian, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, hasil yang akan dicapai dalam penelitian, dan sistematika penelitian.

BAB II berisi uraian objek formal dalam penelitian ini, yaitu etika administrasi. Pada bab ini akan diuraikan peran pengertian dan peran penting etika administrasi dan perbedaan antara administrasi negara dan administrasi privat.

(18)

Selain itu pada bab ini akan dibahas juga mengenai unsur administrasi, asas-asas etis administras, dan hal-hal pokok dalam etika administrasi privat.

BAB III menguraikan objek material penelitian berupa latar belakang sejarah berdiri Perusahaan PHM. Diuraikan lebih detail bagaimana mekanisme kerja dan unsur umum administrasi Perusahaan PHM, serta beberapa hal pokok dalam administrasi Perusahaan PHM.

BAB IV berisi uraian asas-asas etis dalam perusahaan PHM. Peneliti menganalisis asas-asas etis administrasi yang ada dalam administrasi perusahaan PHM. Asas-asas etis tersebut selanjutnya direfleksikan untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dari administrasi Perusahaan PHM.

BAB V berisi penutup yang memuat kesimpulan dengan merangkum secara garis besar pembahasan dalam penelitian yang telah dilakukan dan saran yang berisi saran peneliti untuk pengembangan penelitian di masa depan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :