K E M E N T E R I A N P E K E R J A A N U M U M S E K R E T A R I A T J E N D E R A L

Teks penuh

(1)

K E M E N T E R I A N P E K E R J A A N U M U M

S E K R E T A R I A T J E N D E R A L

Jalan Pattimura No. 20 – Kebayoran Baru – Jakarta Selatan 12110 Telp. (021) 7260864, Facsimile. (021) 7392786

Nomor

:

Kp.04.01-Sj/134

Jakarta,

24

Maret

2010

Lampiran

:

Kepada yang terhormat,

1. Para Sekretaris Satminkal di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum;

2. Para Kepala Balai Besar di lingkungan Ditjen Bina Marga dan Ditjen Sumber Daya Air;

3. Para Kepala Biro dan Kepala Pusat di lingkungan Sekretariat Jenderal.

Perihal

:

Tata Cara Pemeriksaan dan Penjatuhan Hukuman Disiplin Pegawai

Dengan hormat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut :

1.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian

segaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999, bahwa salah satu

pembinaan pegawai dilakukan melalui penegakan disiplin pegawai dan dituangkan dalam

Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980.

2. Peraturan Pemerintah tersebut telah ditindak lanjuti dengan Surat Edaran Kepala BKN

Nomor 23/SE/1980 tentang Disiplin Pegawai Negri Sipil.

Sehubungan dengan hal tersebut, dalam pelaksanaan penegakan disiplin pegawai di

lingkungan Satminkal agar menggunakan kriteria dan tatacara pemeriksaan dan penjatuhan

hukuman disiplin sebagaimana terlampir.

Atas perhatian Saudara, kami mengucapkan terima kasih.

SEKRETARIAT JENDERAL,

Ir. Agoes Widjanarko, MIP

NIP. 110023320

Tembusan disampaikan kepada Yth:

1. Bapak Menteri pekerjaan Umum (sebagai laporan);

2. Para Eselon I di lingkungan Kementerian PU.

(2)

Lampiran Surat

Nomor : Kp.04.01-Sj/134

Tanggal : 24 Maret 2010

I. FAKTOR YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN DALAM MENENTUKAN PENJATUHAN HUKUMAN DISIPLIN

Dalam menentukan jenis hukum disiplin yang dijatuhkan, hal yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa hukuman disiplin yang akan dijatuhkan itu setimpal dengan pelanggaran disiplin yang dilakukan.

Mengacu pada Penjelasan atas PP. No. 30 tahun 1980 Pasal 9 ayat (1), dalam mempertimbangkan penjatuhan hukuman perlu mengetahui faktor-faktor yang mendorong perbuatan tersebut dan wajib memperhatikan secara teliti tingkat dan jenis hukuman disiplin yang akan diberikan serta memperhatikan unsur-unsur yang melatarbelakangi (faktor-faktor yang dipertimbangkan) sehingga sanksi yang dijatuhkan benar-benar obyektif dan dapat diterima dengan rasa adil.

Sesuai dengan surat Inspektur Jenderal Nomor : KP.04.01-Ij/475 tanggal 3 Mei 1990 tentang Tata Cara Penanganan

Pelanggaran PP. 30 tahun 1980, maka dalam rangka menyamakan pengertian tentang tata cara/prosedur penerapan PP. 30 tahun 1980 perlu disusun kriteria tentang berat ringannya hukuman disiplin yang akan dijatuhkan terhadap berbagai

macam pelanggaran dengan tujuan adanya keseragaman atau setidak-tidaknya mendekati keseragaman.

Di dalam menentukan berat ringannya hukuman disiplin yang akan dijatuhkan, terlebih dahulu mempertimbangkan faktor-faktor dan unsur-unsur yang berkaitan dengan pelanggaran/permasalahan yang ditimbulkan.

Adapun faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut :

1. Motivasi, yaitu apakah pelanggaran yang dilakukan ybs. adalah semata untuk keuntungan pribadi, atau ada pengaruh dari pihak lain. Dengan kata lain apa yang melatarbelakangi ybs melakukan perbuatan tersebut.

2. Kesalahan/kepentingan, apakah pelanggaran yang dilakukan merupakan sesuatu yang direncanakan atau karena merupakan kelalaian.

3. Kedudukan/status, untuk memperjelas apakah si pelaku pelanggaran adalah orang yang diberi tanggung jawab atau tidak. 4. Akibat perbuatan/pelanggaran, untuk mengetahui sampai seberapa besar pelanggaran yang dilakukan tersebut

sebelumnya.

5. Penanggulangan Pelanggaran, apakah pelanggaran tersebut merupakan pengulangan dari pelanggaran yang telah dilakukan sebelumnya.

6. Jasa, apakah yang bersangkutan pernah berjasa terhadap Negara atau instansinya.

7. Sikap si pelanggar dalam proses pemeriksaan, yang menggambarkan bagaimana penampilan/itikhad/dan sikap yang bersangkutan dalam menjalani pemeriksaan, apakah pada saat proses wawancara dalam pembuatan Berita Acara Pemeriksaan mempersulit, atau menyesali perbuatannya, dan lain sebagainya.

Sedangkan unsur-unsur yang mempengaruhi terjadinya suatu pelanggaran adalah :

A. Unsur yang Meringankan

1. Atas pengaruh orang lain;

2. Dilakukan untuk kelancaran pekerjaan;

3. Merupakan kelalaian;

(3)

5. Pernah mendapatkan tanda penghargaan/tanda jasa; 6. Belum pernah dijatuhi hukuman disiplin.

B. Unsur yang Memberatkan

1. Untuk keuntungan pribadi;

2. Atas kehendak sendiri;

3. Dilakukan dengan sengaja;

4. Yang bersangkutan adalah pejabat; 5. Yang bersangkutan adalah pegawai senior; 6. Yang bersangkutan adalah penanggung jawab; 7. Perbuatannya menimbulkan kerugian Negara;

8. Perbuatannya merupakan pengulangan pelanggaran sebelumnya; 9. Mempersulit proses pemeriksaan;

10. yang bersangkutan tidak menyesali perbuatannya.

Berat ringannya jenis hukuman disiplin yang akan dijatuhi tergantung pada banyak sedikitnya faktor-faktor yang mendorong dan unsur-unsur yang mempengaruhi tersebut. Semakin banyak faktor yang mendorong maupun unsur yang mempengaruhi, akan semakin berat tentunya hukuman disiplin yang akan dijatuhkan.

Terhadap PNS yang pernah dijatuhi hukuman disiplin, kemudian melakukan pelanggaran disiplin yang sifatnya sama, terhadapnya dijatuhi hukuman disiplin yang lebih berat dari hukuman yang dijatuhkan sebelumnya.

II. MELAKUKAN PANGGILAN

1. Panggilan dibuat secara tertulis (bersifat kedinasan/resmi);

2. Dalam membuat panggilan harus ditentukan/diperhatikan waktu penyampaiannya;

3. Panggilan terhadap PNS yang berpekara dilakukan maksimum sebanyak 2 (dua) kali;

4. Apabila dalam panggilan kedua, PNS ybs tidak mengindahkan panggilan tersebut, tidak akan menghalangi penjatuhan

hukuman disiplin. Maksudnya penjatuhan hukuman tetap dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

III. PEMERIKSAAN

1. Tujuan Pemeriksaan adalah :

Untuk mengetahui sampai seberapa jauh PNS yang bersangkutan melakukan pelanggaran atau untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong sehingga PNS ybs melakukan/memutuskan perbuatan tersebut.

2. Obyek Pemeriksaan

a. PNS yang diduga melakukan pelanggaran disiplin;

b. PNS yang akan melakukan perceraian atau perkawinan lagi.

3. Mekanisme Pemeriksaan

(4)

b. Pemeriksaan yang dilakukan secara lisan digunakan untuk PNS (terperiksa) yang akan dijatuhi hukuman disiplin tingkat ringan;

c. Pemeriksaan yang dilakukan secara lisan dan tertulis digunakan untuk PNS (terperiksa) yang akan dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang dan berat atau PNS yang akan melakukan izin perceraian atau perkawinan lagi; d. Hal tersebut dilakukan untuk meneliti kebenaran antara apa yang diucapkan dan yang ditulis oleh terperiksa; e. Sebelum melakukan pemeriksaan terhadap PNS yang diduga melakukan pelanggaran/PNS yang akan melakukan

perceraian dibuat Tim Pemeriksa;

f. Pemeriksaan dilakukan pejabat yang pendelegasian kewenangannya berdasarkan Pendelegasian Wewenang yang

berlaku;

g. Kedudukan Pemeriksa (pangkat/golongan) tidak boleh rendah dari Terperiksa (minimum sama); h. Pemeriksaan dilakukan dengan teliti dan obyektif, dilakukan di tempat yang tertutup;

i. Pegawai Negeri Sipil yang diduga melakukan pelanggaran disiplin, dipanggil untuk diperiksa oleh pejabat yang

berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk;

j. Pejabat yang berwenang membuat Surat Perintah untuk melakukan pemeriksaan yang nantinya dituangkan dalam

Berita Acara Pemeriksaan;

k. Pemeriksaan secara tertulis dituangkan dalam bentuk Berita Acara Pemeriksaan (BAP);

l. PNS (Terperiksa) mengisi isian BAP yang telah disediakan oleh Tim Pemeriksan dengan tulisan tangan ybs (Terperiksa);

m. Apabila PNS (Terperiksa) tidak menjawab pertanyaan yang diajukan dalam BAP, maka dianggap ybs mengakui perbuatan yang dituduhkan kepadanya;

n. Berita Acara Pemeriksaan ditandatangani oleh Pemeriksa dan Terperiksa;

o. Apabila ada isi BAP yang menurut pendapat PNS (Terperiksa) tidak sesuai dengan apa yang diucapkan, maka BAP tersebut wajib diperbaiki oleh Pemeriksa;

p. Apabila PNS (Terperiksa) menolak untuk menandatangani BAP, maka BAP cukup ditandatangani oleh Pemeriksa dengan menyebutkan dalam BAP bahwa Terperiksa menolak menandatangani BAP;

q. BAP tersebut tetap digunakan sebagai dasar/bahan proses selanjutnya untuk penjatuhan hukuman disiplin maupun pemberian izin perceraian atau perkawinan lagi;

r. Pemeriksaan dilakukan secara Tertutup, artinya hanya diketahui oleh Tim Pemeriksa dan PNS yang diperiksa;

s. Apabila dipandang perlu, untuk melengkapi keterangan dalam pemeriksaan, Tim Pemeriksa dapat menghadirkan pihak ketiga sebagai saksi yang dianggap mengetahui kejadian yang sebenarnya;

t. Hasil pemeriksaan atas suatu kasus yang telah diperiksa oleh pejabat yang berwajib misalnya Inspektorat Jenderal, Inspektorat Wilayah Daerah, Kopkamtib beserta jajarannya Kepolisian, Kejaksaan, BPKP dapat sepenuhnya digunakan sebagai dasar dalam menjatuhkan hukuman disiplin menurut Peraturan Pemerintah Nomor 30 tahun 1980 (Vide Surat Edaran MENPAN Nomor : B-824/I/MENPAN/9/1982 tanggal 20 September 1982 dan Nomor : B-305/I/MENPAN/6/1987 tanggal 10 Juni 1987, dengan ketentuan :

1. Isi BAP memberi keyakinan adanya pelanggaran;

2. isi BAP menggambarkan uraian tentang faktor-faktor yang mendorong terjadinya pelanggaran;

3. Dengan BAP, pejabat yang berwenang menghukum merasa telah mempunyai bahan yang cukup kuat untuk memberikan sanksi berupa penjatuhan hukuman disiplin (vide surat Kepala BAKN Nomor : K.1-41/V.73-9 tanggal 12 November 1982.

(5)

IV. PENJATUHAN HUKUMAN DISIPLIN

A. UMUM

1. Tujuan Penjatuhan Hukuman Disiplin, adalah untuk memperbaiki dan mendidik PNS yang melakukan pelanggaran disiplin pegawai;

2. Sebelum menjatuhkan hukuman disiplin, pejabat yang berwenang menghukum wajib mempelajari terlebih dahulu dengan teliti hasil dari pemeriksaan yang telah dituangkan dalam BAP, serta wajib memperhatikan dengan seksama faktor-faktor yang mendorong atau menyebabkan PNS melakukan pelanggaran disiplin tersebut;

3. Sebelum hukuman disiplin dijatuhkan harus diteliti kebenarannya; 4. Harus dipertimbangkan dengan teliti dan obyektif untuk keadilannya;

5. Apabila PNS yang bersangkutan melakukan beberapa pelanggaran, hanya satu jenis hukuman yang dapat dijatuhkan (terberat);

6. Walaupun wujud pelanggaran disiplin sama, namum faktor-faktor yang mendukung untuk melakukan pelanggaran disiplin itu berbeda, maka jenis hukuman disiplin yang akan dijatuhkan berbeda pula;

7. Berdasarkan BAP, pejabat yang berwenang menghukum menjatuhkan hukuman disiplin dengan dasar kewenangan menjatuhkan hukuman disiplin sesuai Pendelegasian Wewenang yang berlaku;

8. Dalam tingkat Departemen, Menteri berwenang menjatuhkan hukuman disiplin bagi PNS berpangkat golongan

IV/a ke bawah, sedangkan untuk PNS golongan IV/b keatas sepanjang mengenai jenis hukuman disiplin Pasal 6

ayat (4) huruf c dan d, Presiden yang berwenang menjatuhkan hukuman disiplin;

9. Tingkat/jenis hukuman disiplin yang diberikan sesuai yang ditetapkan dengan PP. Nomor 30 tahun 1980; 10. Bentuk Surat Keputusan Hukuman Disiplin ditetapkan dalam SE. Ka. BAKN Nomor : 23/SE/1980;

11. Tindak pelanggaran disiplin sesuai dengan pasal-pasal yang tercantum dalam Kewajiban (pasal 2) dan Larangan (Pasal 3 ayat 1) dalam PP. Nomor 20 tahun 1980 serta dicantumkan dalam konsideran pembuatan Surat Keputusan penjatuhan hukuman disiplin;

12. Dalam penjatuhan hukuman disiplin pegawai dan izin pemberian izin perceraian atau perkawinan memperhatikan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.180/KPTS/M/2008 tentang Pendelegasian Wewenang Urusan Kepegawaian (diktum ke-empat, lima, dan enam);

13. Tembusan Surat Keputusan Penjatuhan Hukuman Disiplin, disampaikan antara lain kepada : a. Kepala Badan Kepegawaian Negara;

b. Deputi Informasi Kepegawaian BKN di Jakarta; c. Kepala Pusat Analisis Manajemen Kepegawaian BKN; d. Pejabat Kepegawaian satminkal/unit kerja ybs/terkait;

e. Kepala Biro Kepegawaian dan Ortala Setjen cq. Kabag Informasi dan TUK;

f. Kepala Biro Tata Usaha Kepegawaian BKN di Jakarta;

g. Direktur Pensiun PNS dan Pejabat Negara BKN di Jakarta;

h. Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan dan Kas Negara Jakarta V di Jakarta;

(6)

V. LAPORAN HUKUMAN DISIPLIN

Diharapkan dalam rangka menuju tertib administrasi, semua Surat Keputusan Hukuman Disiplin/Pemberian maupun Penolakan Izin Perceraian yang telah dijatuhkan kepada pegawai di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum baik hukuman disiplin ringan, sedang, maupun hukuman disipil berat bagi PNS golongan Pengatur Tingkat I (II/d) ke bawah selain pemberhentian, tembusannya harus disampaikan ke Biro Kepegawaian dan Organisasi Tatalaksana, Sekretariat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum.

Semua unit kerja tigkat struktural II (melalui Sekretariat satminkal) secara periodik setiap akhir bulan melaporkan semua pegawai yang telah dijatuhi hukuman disiplin dalam bulan yang bersangkutan kepada Sekretaris Jenderal.

Semua unit kerja tingkat struktural II (melalui Sekretariat satminkal) secara periodik setiap akhir bulan melaporkan semua pegawai yang telah dijatuhi hukuman disiplin dalam bulan yang bersangkutan kepada Sekretaris Jenderal.

Laporan hukuman disiplin setiap bulan dihimpun Biro Kepegawaian dan Organisasi Tatalaksana untuk selanjutnya disampaikan kepada Inspektorat Jenderal.

VI. PENGAJUAN KEBERATAN

1. PNS dapat mengajukan keberatan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari terhitung mulai tanggal ybs menerima

keputusan hukuman disiplin.

2. Keberatan yang diajukan oleh PNS disampaikan secara tertulis.

3. Pejabat yang menerima keberatan tersebut wajib menyampaikan kepada atasan Pejabat yang berwenang menghukum.

4. Pejabat yang berwenang menghukum wajib membuat tanggapan dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja terhitung

mulai tanggal Pejabat tersebut menerima keberatan.

A. Pengajuan Keberatan Atas Hukuman Disiplin ke Sekretariat Badan Pertimbangan Kepegawaian Keberatan yang dapat diajukan :

1. PNS yang berpangkat Pembina golongan ruang IV/a ke bawah yang dijatuhi salah satu hukuman disiplin Pasal Ayat huruf c dan d.

2. PNS yang dijatuhi hukuman disiplin sebagai dimaksud pasal 6 ayat (3) dan ayat (4)

Keberatan yang tidak dapat diajukan :

1. Hukuman yang dijatuhkan oleh Presiden RI.

2. PNS yang dihukum ringan (Pasal 6 ayat 2) dan sedang (Pasal 6 ayat 3)

3. Pembebasan dari Jabatan (Pasal 6 ayat 4 huruf b)

B. Pengajuan keberatan kepada Atasan Pejabat yang berwenang Yang dapat diajukan keberatan :

1. Hukuman disiplin tingkat sedang (Pasal 6 ayat 2)

(7)

VII. KETENTUAN LAIN

Bahwa ketentuan butir (VII) tersebut di atas diperuntukkan bagi Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi hukuman disiplin

sepanjang hukuman disiplin berdasarkan PP. Nomor 30 tahun 1980.

Diluar ketentuan tersebut, BAPEK tidak mengatur ketentuan lain.

VIII. JENIS PELANGGARAN DAN ANCAMANNYA

Sebagai pedoman untuk menentukan/mengetahui antara suatu jenis pelanggaran dan ancaman hukuman disiplin dapat dilihat sebagai berikut :

1. Ringan

 Pasal 2 : huruf j, k, l, m, n, o, p, q, r, s, u, v, w

 Pasal 3 (1) : huruf o,p,q

2. Sedang  Pasal 2 : huruf b, f, g, h, i, n, q, t, x, y  Pasal 3 (1) : huruf g, i, j, k, n 3. Berat  Pasal 2 : huruf a, c, d, e, z  Pasal 3 (1) : huruf a, b, c, d, e, f, h, l, m, r SEKRETARIS JENDERAL

Ir. AGOES WIDJANARKO, M.IP.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :