Nomor : DPD.220/SP/11/2012
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH
SIDANG PARIPURNA KE-11
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA MASA SIDANG III TAHUN SIDANG 2011-2012
I. KETERANGAN
1. Hari : Kamis
2. Tanggal : 15 Maret 2012
3. Waktu : 10.15 WIB – Selesai
4. Tempat : GEDUNG NUSANTARA V
5. Pimpinan Sidang : Pimpinan DPD
1. H. Irman Gusman, SE., MBA. (Ketua) 2. Dr. Laode Ida (Wakil Ketua)
3. GKR. Hemas (Wakil Ketua)
6. Sekretaris Sidang : 1. Sekretaris Jenderal DPD (DR. Ir. Siti Nurbaya Bakar, MSc.) 2. Wakil Sekretaris Jenderal DPD (Drs. Djamhur Hidayat) 7. Panitera : Kepala Biro Persidangan II (Dra. Sri Sumarwati Isf.)
8. Acara :
Pengambilan putusan DPD RI tentang Pertimbangan DPD RI terhadap RUU APBN Perubahan Tahun Anggaran 2012
9. Hadir : 60 Orang
10. Tidak hadir : 72 Orang
1. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Om Swastyastu.
Bapak-Ibu yang saya hormati, para hadirin yang berbahagia. Sebagaimana biasanya sebelum kita memasuki sidang paripurna ini, sesuai dengan turan yang berlaku kita akan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Untuk kepada tim paduan suara untuk bisa memandu untuk menyanyikan lagu. Dan kepada para anggota DPD RI dan seluruh hadirin yang hadir di ruangan ini dimohon untuk berdiri dan bersama-sama kita nyantikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
2. PEMBICARA : PADUAN SUARA
Hiduplah Indonesia raya… Indonesia tanah airku. Tanah tumpah darahku. Disanalah aku berdiri. Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku. Bangsa dan Tanah Airku. Marilah kita berseru. Indonesia bersatu. Hiduplah tanahku. Hiduplah negriku.
Bangsaku Rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya.
Bangunlah badannya. Untuk Indonesia Raya. Indonesia Raya. Merdeka Merdeka.
Tanahku negriku yang kucinta. Indonesia Raya.
Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya. Indonesia Raya.
Merdeka Merdeka.
Tanahku negriku yang kucinta. Indonesia Raya.
Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya.
3. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Dengan mengucapkan bismillahirrohmanirrohim Sidang Paripurna ke-11 tahun sidang 2011-2012 Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, kami buka dan dinyatakan terbuka untuk umum.
Bapak-Ibu hadirin yang berbahagia.
Berdasarkan catatan daftar hadir yang disampaikan oleh sekretariat jenderal, sampai saat ini telah hadir 37 orang anggota DPD dan telah menandatangani daftar hadir. Dengan demikian sesuai tatib yang berlaku sidang harus memenuhi kuorum, sehingga kita harus menunggu 2 kali, 2 kali 24 jam, 1 kali 24 jam. Untuk itu sambil menunggu yang lain dan juga mengikuti tatib yang telah kita sepakati, kita terpaksa menskors sidang ini selama 15 menit.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera buat kita semua.
Om Swastyastu.
Bapak-Ibu anggota sidang yang mulia.
Sesuai dengan tatib di pasal 182, dimana disampaikan bahwasa kalau umpamakan dalam pengambilan keputusan tidak mencukupi maka kita akan melakukan skors. Untuk itu skorsing sidang cabut kembali.
Bapak-Ibu sekalian, kembali kita mendapat laporan dari sekretariat jenderal, telah bertambah anggota yang hadir tadi dari 32 menjadi 41. Dimana yang bertugas ada 34 orang, ijin ada 12 orang, sakit 2, jadi itu komposisinya. Memang pada hari ini sidang paripurna tidak termasuk jadwal, karena ini adalah memenuhi undang-undang untuk bisa kita memutuskan sebuah keputusan yang sangat strategis dan penting, yaitu pertimbangan DPD mengenai RAPBN-P. Untuk itu kita sekali lagi akan menskors sidang ini 15 menit lagi, kemudian kita habis itu kita akan mulai untuk melanjutkan sidang ini.
KETOK 1X
KETOK 1X
SIDANG DISKORS PUKUL 10.18 WIB
SIDANG DIBUKA KEMBALI PUKUL 10.35 WIB
KETOK 1X
Atas nama semua ijinkan saya untuk menskors sidang sekali yang terakhir untuk 15 menit. Terima kasih. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera buat kita semua.
Om Swastyastu.
Selama ini skors sidang yang kedua kalinya kita cabut.
Bapak-Ibu yang saya hormati.
Sesuai dengan pasal 182 ayat 3, disana dibunyikan setelah dua kali penundaan, yang mana kita telah lakukan, kuorum sebagaimana yang dimaksud pada ayat 1, dimana setiap sidang dalam mengambil keputusan harus dihadiri oleh lebih dari setengah jumlah anggota sidang atau rapat. Makanya, karena sampai sekarang masih belum terpenuhi, karena jumlahnya yang hadir 46, karena ada yang bertugas 37, ada yang ijin 4 dan sakit 2. Sesuai dengan tatib yang ada di peraturan kita, bahwasa cara penyelesaiannya diserahkan kepada pimpinan. Untuk itu kami mohon untuk satu menit untuk berunding, untuk supaya kita bisa mengambil keputusan dalam selanjutnya.
Baik, Bapak-Ibu sekalian, sesuai dengan kesepakatan pimpinan, bahwasa kita tidak mungkin lagi menunda sidang ini karena ada satu agenda penting yang harus kita putuskan, harus hari ini, karena hari ini juga sesuai dengan Undang-Undang MD3 itu mengenai RABPN-P ini harus kita serahkan pada hari ini, karena 2 minggu sebelum tanggal 29. Maka untuk itu atas ijin kita semua maka sidang ini kita akan lanjutkan.
Tepuk tangan buat kita semua.
Jadi kita telah mengikuti semua mekanismenya ini dengan baik, maka saya akan bisa meneruskan sidang ini, mudah-mudahan bisa kita selesaikan dengan baik dan cepat.
Agenda pokok Sidang Paripurna ke-11 DPD Masa Sidang III Tahun Sidang 2011-2012.
Sidang dewan yang mulia,
Sesuai dengan jadwal acara, sidang paripurna ini mempunyai agenda pokok yaitu pengambilan putusan DPD terhadap RUU APNP Perubahan Tahun Anggaran 2012.
Sidang dewan yang mulia,
KETOK 1X
SIDANG DISKORS PUKUL 10.35 WIB
KETOK 1X
SIDANG DIBUKA KEMBALI PUKUL 10.50 WIB
Seperti kita ikuti bersama pada beberapa minggu terakhir ini dirasakan akan gejolak sosial masyarakat atas rencana pemerintah yang pada tanggal 1 April yang akan menaikkan harga BBM sebagai upaya untuk menjaga stabilitas APBN yang secara tidak langsung akan sangat mempengaruhi kebijakan keuangan negara dari sisi fiscal. Pemerintah mengikuti perkembangan fluktuasi harga minyak mentah dunia karena berbagai faktor antara lain; karena krisis timur tengah, Israel dan Iran, gejolak buruh di Nigeria yang mengancam penutupan fasilitas produksi minyak dan meningkatnya jumlah permintaan jumlah minyak mentah oleh beberapa negara seperti Jepang dan Korea Selatan. Kebijakan tersebut tentu dapat berimplikasi kepada tatanan kehidupan masyarakat kita secara luas. Kebijakan dimaksud juga menuai pro dan kontra, karena kenaikan harga BBM secara empirik senantiasa beriringan dan atau diiringi dengan kenaikan harga-harga kebutuhan dasar masyarakat. Selain kenaikan harga kebutuhan pokok, kenaikan harga BBM juga menambah beban operasional perusahaan yang pada akhirnya akan diletakn beban itu kepada masyarakat sebagai pengguna dan menambah beban perekonomian masyarakat.
Sebagai lembaga penyalur aspirasi masyarakat dan daerah, DPD RI berkewajiban mencermati kebijakan tersebut, terlebih lagi kenaikan harga BBM kali ini juga dibarengi dengan rencana indikatif pemerintah untuk menaikkantarif dasar listrik sebesar 10% pada Mei 2012. Dalam hal ini dibutuhkan langkah strategis agar kenaikan tersebut tidak memperkeruh gejolak sosial di masyarakat. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia mendorong pemerintah untuk mendalami secara cermat persoalan tersebut dengan berbagai aspeknya. Belajar dari pengalaman kenaikan BBM di waktu yang lalu dan konversi BBM ke BBG, serta berbagai implikasi dan dampak atas kebijakan strategis tersebut, termasuk cara-cara dalam menanggulangi gejolak akibat lahirnya kebijakan. Yang paling penting juga, bahwa kita mengharapkan agar langkah pemerintah tersebut tidak hanya bersifat reaktif dan hanya berdampak jangka pendek. Dan hanya sebagai untuk mempertahankan keseimbangan daripada BBM. Kenaikan harga BBM sebagai alternative upaya penyelamatan BBM perlu kita cermati, karena bisa juga kondisi tersebut justru menjadi beban bagi masyarakat.
Rencana pemerintah untuk memanfaatkan dana sebesar Rp. 25 triliun sebagai bantuan langsung tunai dalam satu paket rangkaian kebijakan dimaksud juga perlu dikaji secara lebih cermat. Karena pola tersebut dapat dianggap tidak mendidik dan juga dapat menumbuhkan pola hidup konsumtif ditengah masyarakat. Selain itu BLT juga hanya akan memberikan beban baru bagi anggaran karena kompensasi tersebut tidak menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Senigga atas rancangan kebijakan yang demikian perlu dicermati bersama dengan sebaik-baiknya.
Terkait dengan berbagai rancangan kebijakan itu pula, pemerintah telah memutuskan untuk mempercepat RABPN-P 2012. Pemerintah telah mengirimkan dokumen Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan kepada DPR pada tanggal 29 Februari 2012. Mengingat materi yang cukup krusial, maka dalam memberikan pertimbangan sesuai dengan mandat konstitusi pertimbangan dari DPD harus jelas dan terperinci menyangkut asumsi terhadap kenaikan harga BBM dan rencana kenaikan tarif dasar listrik, serta hal-hal yang relevan dengan kebijakan dimaksud dan proyeksi perubahan anggaran 2012 secara keseluruhan. Karena dampak perubahan tersebut tidak hanya akan mempengaruhi aspek ekonomi masyarakat, namun juga pada aspek sosial dan keamanan.
Sidang dewan yang mulia,
Kita akan menyimak bersama rancangan pertimbangan DPD RI yang telah dibahas oleh Komite IV tentang RABPN-P 2012, dan terkait dengan hal-hal krusial seperti yang telah kami utarakan. Namun demikian saya ingin mengawali dengan laporan dari Komite III menyangkut pandangan dan pendapat DPD RI atas RUU tentang Jaminan Produk Halal. Dimana pada tanggal 8 Maret 2012 yang lalu Komite III DPD RI di undang rapat kerja dengan Komisi XIII DPR RI untuk membahas RUU tentang Jaminan Produk Halal. Untuk
itu pada kesempatan pertama pada piminan Komite III kami persilakan untuk dapat menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tugasnya. Untuk itu waktu dan tempat kami persilakan.
4. PEMBICARA : Prof. Dr. Dra. Hj. ISTIBSYAROH, SH., MA. (WAKIL KETUA
KOMITE III)
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera buat kita semua.
Om Swastyastu.
Yang terhormat Bapak-Ibu pimpinan DPD yang saya hormati.
Yang saya hormati juga pimpinan alat kelengkapan dan anggota DPD RI. Yang saya hormati Ibu Sesjen beserta jajarannya.
Hadirin yang berbahagia.
Pada sidang paripurna yang mulia ini, perkenankanlah kami menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan tugas Komite III Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia terkait dengan Rancangan Undang-Undang Jaminan Produk Halal. Komite III sebagai salah satu alat kelengkapan Dewan Perwakilan Daerah republik Indonesia telah melakukan serangkaian kegiatan secara efektif terkait dengan pembahasan atas Rancangan Undang-Undang Jaminan Produk Halal. Dalam hal tersebut Komite III DPD RI telah melakukan pembahasan sebagai berikut ;
Pertama, rapat dengar pendapat dengan direktur bimbingan masyarakat islam tangggal 22 Februari 2012. Rapat dengar pendapat umum dengan kamar dagang dan industri, badan pengawas obat dan makanan, yayasan lembaga konsumen (YLKI), LPPOM MUI, Pengurus Pusat Muhammadiyah, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, fakultas syariah dan hukum Universitas Islam Negeri Jakarta.
Kemudian yang kedua, penyerapan aspirasi masyarakat dan daerah. Kunjungan kerja ke Kalimantan Tengah dan Maluku. Finalisasi dilakukan dengan mengundang MUI Provinsi Jawa Barat dan LPPOM MUI Provinsi Jawa Barat. Dari rapat itu Komite III menyimpulkan.
1. Mendukung keberadaan RUU Jaminan Produk Halal. Dalam rangka memberikan perlindungan kepada konsumen dalam menggunakan dan mengkonsumsi suatu produk yang aman, sehat dan halal.
2. RUU JPH harus menetapkan MUI sebagai lembaga penjamin halal dan LPPOM MUI sebagai lembaga pemeriksa kehalalan dalam penyelenggaraan jaminan produk halal. 3. menghapus konsep keberadaan BNP2H dalam RUU JPH.
4. Menegaskan peran pemerintah dan pemerintah daerah sebagai regulator, pembina, pengawas dan penegak hukum dalam penyelenggaraan jaminan produk halal.
Rekomendasi. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia merekomendasikan RUU Jaminan Produk Halal agar segera disahkan menjadi undang-undang dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.
Sebelum kami mengakhiri lporan ini, kami mohon kepada pimpinan dan seluruh anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang terhormat, pada sidang paripurna ini berkenan untuk kiranya dapat mengesahkan pertimbangan atas Rancangan Undang-Undang tentang Jaminan Produk Halal menjadi putusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.
Akhirnya perkenankanlah kami mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat pimpinan beserta seluruh anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.
Demikianlah laporan perkembangan pelaksanaan tugas Komite III Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia disampaikan pada hari ini.
Akhirnya wabilahitaufiq wal hidayah, wal ridho wal inayah, wassalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Om Shanty Shanty Shanty Om.
5. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, terima kasih kepada pimpinan Komite III telah menyampaikan tentang pertimbangan DPD atas Rancangan Undang-Undang tentang Jaminan Produk Halal.
Setelah kita mendengarkan bersama tadi, Bapak Ibu sekalian, secara brief, secara kilas, dapatkah kita menyetujui pertimbangan DPD terhadap RUU tentang Jaminan Produk Halal. Silakan Ibu.
6. PEMBICARA : Dra. Hj. JUNIWATI T. MASJCHUN SOFWAN (JAMBI)
Terima kasih.
Saya hanya ingin bertanya kepada Ibu yang tadi membawakan Ibu Profesor. Karena kami tidak, belum membaca pertimbangan yang diberikan oleh DPD atas Rancangan Undang-Undang tentang Jaminan Produk Halal, yang menyangkut sertifikasi halal yang kami pernah mendengar bahwa hal ini akan diambil alih oleh Kementerian Agama. Padahal sertifikasi tersebut merupakan fatwa tertulis dan hasil audit serta fatwa. Dimana audit itu kepanjangantanganan dari MUI. Dan hal tersebut adalah untuk menenteramkan daripada umat terhadap produk-produk halal. Jadi sampai saat ini saya belum tahu bagaimana pertimbangan daripada DPD terhadap sertifikasi halal tersebut.
7. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, masih ada lagi? Kalau tidak ktia serahkan kepada pimpinan Komite untuk bisa menjelaskan. Kami persilakan.
8. PEMBICARA : Prof. Dr. Dra. Hj. ISTIBSYAROH, SH., MA. (WAKIL KETUA
KOMITE III)
Terima kasih Ibu Juni. Sebenarnya itu semua sudah ada dalam laporan yang lengkapnya. Kami tadi tidak sempat membacakan karena waktu, jadi kami membacakan hanya kesimpulannya, garis besarnya saja. Saya kira Ibu Juni juga setuju dengan itu karena waktu. Dan saya tahu Ibu Juni juga MUI sama dengan saya juga. Terima kasih.
9. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Persis seperti itulah kira-kira isinya Ibu Juni. Jadi sesama bis kota tidak bisa saling mendahului. Jadi sepakat itu kita kembalikan untuk ke MUI ya. Baik, kalau begitu kita setujui, kita sepakati bersama?
Baik, terima kasih. Tepuk tangan buat kita semua yang telah menghasilkan sebuah produk undang-undang untuk menjadi bahan pertimbangan. Dan ini telah dibahas dengan intensif ya antara pimpinan Komite III dan Komisi VIII. Jadi kita apresiasi juga pimpinan Komite III yang hubungannya dengan Komisi VIII itu sangat baik sekali. Bahkan sebelum diputuskan kita malah telah banyak hal yang telah menjadi masukan. Jadi yurispudensinya tidak apa-apa, jadi ini agak terlambat sedikit.
Baik, Bapak-Ibu sekalian, sekarang kita masuk ke agenda yang utama yaitu kita ingin menyampaikan laporan perkembangan terkait dengan tughas daripada Komite IV tentang rancangan pertimbangan DPD atas RABPN-P 2012. Untuk itu kami persilakan waktu dan tempat kami sediakan.
10. PEMBICARA : H. CHOLID MAHMUD, ST., MT. (KETUA KOMITE IV)
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bapak Ketua dan Ibu Wakil Ketua yang saya hormati. Ibu-Bapak anggota DPD RI yang terhormat.
Para hadirin yang berbahagia.
Biasanya kalau saya ditugasi membaca laporan saya baca ringkas-ringkasnya saja. Tetapi untuk kali ini saya akan membaca utuh karena saya tidak bisa meringkas. Saya berharap nasib dari laporan Komite IV ini nanti akan seindah laporan Komite III. Jadi yang nanya satu saja langsung disetujui.
Terlebih dahulu marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan yang maha kuasa, yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita sekalian sehingga dapat menghadiri sidang paripurna Dewan Perwakilan Daerah pada hari ini. Atas nama pimpinan dan segenap anggota Komite IV Dewan Perwakilan Daerah kami sampaikan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan. Selanjutnya sesuai dengan jadwal rapat hari ini perkenankan kami menyampaikan laporan pelaksanaan tugas Komite IV DPD mengenai RAPBN Perubahan Tahun Anggaran 2012.
Pimpinan, anggota dan hadirin sidang paripurna yang kami hormati.
Pada tanggal 29 Februari 2012 DPD RI telah menerima RUU tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang APBN Tahun Anggaran 2012. Selain itu DPD juga telah menerima surat dari DPR tanggal 7 Maret 2012 perihal permintaan pertimbangan DPD RI terhadap RUU tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011, tentang APBN Tahun Anggaran 2012 atau RABPN-P Tahun Anggaran 2012.
Sehubungan dengan pertimbangan DPD terhadap RABPN-P tahun 2012 berdasarkan Undang-Undang MD3 diberikan paling lambat 14 hari sebelum pengambilan keputusan oleh DPR. Dalam hal ini pengambilan keputusan terhadap RABPN-P 2012 akan dilakukan di DPR pada tanggal 29 Maret 2012. Oleh karena itu merujuk peraturan perundang-undangan Komite IV harus segera menyampaikan pertimbangan tersebut pada hari ini. Berdasarkan hal tersebut Komite IV kemudian melaksanakan RDPU dengan pakar, RDPU dengan BP Migas dan BPH Migas bersama dengan Komite II, serta finalisasi pada tanggal 22 sampai 14 Maret 2012. Komite IV juga akan mengadakan raker dengan Menteri Keuangan dan Menteri ESDM, serta pertemuan dengan Badan Anggaran DPR.
Pimpinan, anggota dan hadirin sidang paripurna yang terhormat.
Dalam draft pertimbangan RABPN-P 2012 DPD memberikan beberapa catatan antara lain :
1. Pemerintah mengajukan Rancangan APBN Perubahan Tahun 2012 di dasari beberapa pertimbangan; antara lain untuk mengantisipasi perubahan ekonomi dunia yaitu harga minyak dunia, krisis ekonomi Eropa dan Amerika, perubahan perekonomian nasional
misalnya harga BBM tingkat inflasi, perkiraan pertumbuhan ekonomi dan menjaga kesinambungan pembangunan serta tetap mengutamakan kepentingan rakyat dan kedaulatan negara.
2. Perkembangan pelaksanaan APBN Tahun 2012 sampai dengan saat ini diperkirakan akan menghadapi tekanan berat sebagai akibat kenaikan harga minyak di pasar internasional dan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara Eropa dan belum pulihnya perekonomian Amerika Serikat. Tekanan tersebut akan berdampak bagi penurunan permintaan ekspor Indonesia. Selain itu kenaikan harga minyak di pasar internasional dan penurunan permintaan ekspor negara-negara Eropa akan menurunkan permintaan ekspor dari China dan negara Asia lainnya. Dampak ini akan berlanjut ke Indonesia dalam bentuk penurunan permintaan ekspor bahan baku ke China dan negara-negara Asia lainnya.
3. Dampak kenaikan harga minyak dan melanmbatnya perekonomian dunia harus diantisipasi dengan cermat dan hati-hati. Terutama mencegah melambatnya perekonomian nasional, meningkatnya pengangguran, meningkatnya biaya produksi, melambungnya harga kebutuhan pokok rakyat, serta meningkatnya angka kemiskinan.
4. Selain perkiraan dampak negatif kenaikan harga minyak di pasar internasional dan melambatnya perekonomian dunia, DPD RI juga menemukan dan mencatat berbagai masalah yang masih dihadapi oleh rakyat antara lain:
1. Meningkatnya harga pangan.
2. Terbatasnya peluang rakyat miskin untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu dan melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
3. Sulitnya rakyat di beberapa daerah dalam mengakses layanan kesehatan.
4. Meningkatkan ekonomi biaya tinggi sebagai akibat meluasnya kerusakan infrastruktur dan terbatasnya kapasitas infrastruktur.
5. Terhambatnya kegiatan ekonomi masyarakat sebagai akibat terbatasnya pasokan bahan bakar minyak dan terbatasnya pasokan energi.
Berbagai permasalahan tersebut harus dapat diatasi oleh pemerintah secara tuntas melalui berbagai kebijakan program dan kegiatan pembangunan yang tertuang dalam APBN 2012 dan RAPBN-P Tahun 2012.
Sehubungan dengan berbagai hal tersebut, pertimbangan DPD RI antara lain :
1. Sebagai antisipasi terhadap meningkatnya harga minyak mentah di pasar dunia dan melambatnya perekonomian global, DPD RI mencatat bahwa pemerintah menyiapkan langkah-langkah pengamanan pelaksanaan APBN Tahun 2012 sebagai berikut : 1. Penghematan subsidi BBM melalui kenaikan harga BBM jenis premium dan
minyak solar sebesar Rp. 1.500,-/liter.
2. Penghematan subsidi listrik melalui kenaikan Tarif Dasar Listrik sebesar 3% untuk semua golongan tarif secara bertahap setiap triwulan mulai triwulan II Tahun 2012
3. Harga pembelian pemerintah beras (HPP Beras) dinaikkan dari Rp. 5.060,- menjadi Rp. 6.600,-/kg
Semua mempunyai kecenderungan meningkatkan baiya hidup masyarakat dan meningkatkan jumlah orang miskin.
2. DPD RI berpendapat bahwa sebelum memberlakukan kenaikan harga BBM dan TDL, pemerintah perlu menjelaskan skenario dampak terhadap kesejahteraan rakyat. Skenario dampak tersebut perlu memperhitungkan dampak langsung dan segera dirasakan oleh rakyat berupa kenaikan harga kebutuhan pokok dan beban pengeluaran rumah tangga, serta kenaikan biaya produksi dan biaya angkut bagi para pelaku usaha terutama usaha kecil.
Selain itu pemerintah perlu menjelaskan perkiraan dampak tidak langsung berupa pengurangan dan penghentian produksi, pengurangan jam kerja dan pengurangan tenaga kerja, penurunan jangkauan dan mutu layanan pendidikan dan kesehatan, serta dampak tidak langsung lainnya yang secara akumulatif akan menambah berat beban pengeluaran rumah tangga dan sekaligus menutup sumber pendapatan rumah tangga dan pelaku usaha kecil.
Dalam menyusun skenario dampak langsung dan tidak langsung kenaikan harga BBM dan TDL pemerintah harus benar-benar memperhitungkan karakteristik dan kondisi serta resiko stabilitas dan kesejahteraan masyarakat disetiap daerah yang berbeda, sehingga memenuhi kaidah yang berkeseimbangan dan keadilan antar daerah.
3. Pengurangan subsidi BBM yang berakibat pada perubahan konfigurasi APBN Tahun Anggaran 2012 dapat diterima sebagai alternatif akhir untuk menyelamatkan anggaran tahun berjalan. Dampak pengurangan subsidi tidak dapat dihindari dan hal tersebut akan berakibat pada kenaikan harga BBM. Akan tetapi tidak seharusnya akibat kenaikan BBM di pasaran dunia akan diakomodasi secara terus menerus oleh RUU APBN-P. Untuk itu harus dilakukan solusi dengan :
- Meningkatkan penerimaan negara.
- Menghemat belanja atau pengeluaran negara.
4. Peningkatan penerimaan negara saat ini didominasi oleh penerimaan pajak. Dalam RUU APBN-P Tahun Anggaran 2012 penerimaan pajak justru turun sejumlah 20,8 triliun, yaitu penerimaan pajak berdasarkan APBN Tahun Anggaran 2012 sebesar 1.032 triliun, kemudian pada penerimaan pajak berdasarkan RUU APBN-P 2012 sebesar 1.011 triliun.
Kebijakan tersebut adalah tidak rasional mengingat bahwa akhir-akhir ini sedang dilakukan pengawasan yang komprehensif terhadap pejabat pajak dan wajib pajak dalam melaksanakan sistem perpajakan self assessment.
5. Dari sisi penghematan belanja negara ternyata dalam RUU APBN-P Tahun Anggaran 2012 terdapat kenaikan sejumlah 99,175 triliun untuk 13 kementerian atau lembaga dan non kementerian lembaga. Meliputi peningkatan belanja kementerian dan lembaga, 93,321 triliun, belanja non KL sebesar 26,728 triliun. Penghematan perlu dilakukan melalui pengkajian ulang secara selektif untuk kementerian/lembaga atau non kementerian/lembaga hal-hal mana yang perlu dikurangi.
6. Bantuan Langsung Tunai merupakan shock therapy jangka waktu pendek untuk mengatasi gejolak harga bagi masyarakat kecil. Untuk itu jangan sampai terjadi kebocoran dan harus diupayakan mekanisme yang sederhana dan transparan.
7. Untuk jangka panjang agar dipersiapkan secara sungguh-sungguh alternatif pengganti BBM ke BBG, serta mengembangkan diversifikasi energi seperti energi angin, biofuel, energi yang baru dan kebijakan bauran energi atau energy mix. Serta mengganti bahan bakar yang tersedia di Indonesia dengan bahan bakar yang berharga murah.
8. Strategi ketahanan pangan menjadi prioritas penting. Harga pangan menjadi pemicu tingkat inflasi yang tinggi. Oleh karena itu subsidi pupuk dan bibit yang menjadi komponen utama dalam produksi pangan tidak boleh diturunkan hanya karena penyampaiannya pada tahun yang sebelumnya kurang baik. Sebagian besar penduduk miskin bekerja di sektor pertanian kira-kira 75% dari penduduk Indonesia. Oleh karena itu pengurangan subsidi benih dan pupuk mempunyai dampak yang besar kepada lapangan kerja di pedesaan dan meningkatkan jumlah orang miskin. DPD RI tidak setuju terhadap penurunan subsidi pupuk dan benih. Sistim distribusi pupuk dan benih yang harus diperbaiki, bukan subsidinya yang dikurangi.
9. Berkaitan dengan transfer ke daerah, DPD RI berpendapat bahwa berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah dalam pengelolaan dana transfer daerah masih belum optimal dalam memacu pertumbuhan ekonomi daerah dan mempercepat pembangunan daerah. Kendala yang dihadapi dalam pengelolaan dana transfer daerah antara lain adalah :
1. Terlambatnya penerbitan petunjuk teknis yang menyebabkan kesulitan administrasi anggaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
2. Kurang tertatanya manajemen pengelolaan DAK sebagai akibat terlalu banyaknya jenis program DAK.
3. Terlambatnya penyaluran Dana Alokasi Khusus sebagai akibat keterlambatan penerbitan pedoman dan petunjuk teknis.
4. Meningkatnya beban aparat pemerintah daerah yang harus menghadapi pemeriksaan auditor sebagai akibat perbedaan dasar hukum dalam menyusun dan menggunakan penggunaan DAK dengan dasar hukum dan pemeriksaan menggunakan DAK.
5. Kurang efektifnya penggunaan DAK sebagai akumulasi dari berbagai permasalahan sebelumnya.
10. Oleh sebab itu DPD RI meminta kepada pemerintah untuk menata kembali pengelolaan dana transfer ke daerah, sehingga mempunyai dampak nyata dan terukur bagi pengurangan kesenjangan fiskal, peningkatan kualitas pelayanan publik di daerah, peningkatan produktifitas, efisiensi, nilai tambah dan daya saing daerah, perluasan kesempatan kerja, pengurangan kemiskinan, peningkatan kapasitas aparatur pemerintah daerah, peningkatan efisiensi pemanfaatan sumber daya alam, serta pencegahan degradasi serta penurunan daya dukung lingkungan di daerah. Langkah ini akan sejalan dengan upaya mendorong pembangunan yang lebih memihak kepada pertumbuhan ekonomi, perluasan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan serta pelestarian lingkungan.
Dengan memperhatikan berbagai catatan dan pertimbangan, DPD RI berpendapat bahwa usulan pemerintah tentang RAPBN-P Tahun 2012 belum dapat diterima sepenuhnya oleh DPD RI. DPD RI berpendapat bahwa pemerintah perlu memberikan penjelasan tambahan tentang beberapa hal :
a. Rincian perkiraaan dampak perlambatan ekonomi nasional terhadap perekonomian daerah. Terutama dampak terhadap pertumbuhan ekonomi, pengangguran dan kemiskinan di setiap provinsi.
b. Langkah-langkah optimalisasi penerimaan perpajakan dengan melakukan penertiban administrasi perpajakan dan pemberantasan mafia pajak.
c. Rincian dari perubahan kebijakan fiskal yang menyangkut distribusi subsidi antar daerah, distribusi lokasi pelaksanaan pembangunan infrastruktur dan distribusi penerima manfaat kompensasi antar daerah
d. Langkah-langkah pengalihan penambahan belanja kementerian atau lembaga menjadi penambahan transfer ke daerah untuk meningkatkan infrastruktur ekonomi di daerah. e. Langkah-langkah penataan kembali pengelolaan dana transfer ke daerah.
f. Langkah-langkah peningkatan porsi belanja modal dan pembangunan infrastruktur di daerah.
g. Langkah-langkah diversifikasi energi.
h. Rincian perkiraan dampak tidak langsung yang berupa pengurangan dan penghentian produksi, pengurangan jam kerja dan pengurangan tenaga kerja, penurunan jangkauan dan mutu layanan pendidikan dan kesehatan, serta dampak tidak langsung lainnya yang secara akumulatif akan menambah berat beban pengeluaran rumah tangga dan sekaligus menutup sumber pendapatan rumah tangga dan pelaku usaha kecil.
Pimpinan, anggota dan hadirin sidang paripurna yang kami hormati.
Dapat kami sampaikan juga bahwa dalam finalisasi yang dilakukan oleh Komite IV, terutama terhadap pembahasan tentang pengurangan subsidi BBM pembahasan berlangsung cukup alot. Sebagian anggota memandang bahwa subsidi BBM tidak perlu dikurangi, sementara sebagian anggota lainnya memandang subsidi BBM memang perlu dikurangi guna menyelamatkan APBN. Perdebatan ini menyebabkan keputusan DPD baru dapat diselesaikan oleh Komite IV kemarin siang menjelang rapat Panitia Musyawarah. Akhirnya pada sidang paripurna yang terhormat ini kami menyampaikan materi ini dengan harapan dapat diambil keputusan DPD RI tentang pertimbangan DPD RI terhadap RUU APBN-P, RUU Perubahan atas Undang-Undang No. 22 Tahun 2011 tentang APBN Tahun Anggaran Tahun 2012.
Pimpinan, anggota dan hadirin sidang paripurna yang kami hormati.
Demikian laporan pelaksanaan tugas Komite IV yang dapat kami sampaikan dalam sidang paripurna ini. Atas nama pimpinan dan anggota Komite IV DPD RI mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan dukungan yang terhormat pimpinan, anggota, tim Budget Office, staf ahli Komite IV, sekretariat jenderal DPD RI serta rekan-rekan media dalam pelaksanaan tugas Komite IV DPD RI. Khusus kepada pimpinan DPD, baik ketua, wakil ketua kedua-duanya kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas sumbang sarannya dalam finalisasi dimana pimpinan ikut turun rembug dalam pembahasan pertimbangan atas RAPBN-P Tahun Anggaran 2012, sehingga memberi pengayaan dalam pembahasan tersebut. Demikian laporan kami.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
11. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, Bapak-Ibu sekalian, kita baru saja mendengarkan laporan dari pimpinan Komite IV mengenai draft RAPBN-P yang tadi sudah dijelaskan bagaimana dinamika yang ada di Komite IV tersebut sangat dinamis sekali. Bahkan kami pun dari pimpinan DPD memberikan juga kontribusinya dalam rangka pengayaan dengan berbagai pikiran. Makanya kalau kita dengar tadi begitulah dinamika yang ada, jadi ada yang sepakat untuk tidak sepakat. Tapi
bagaimanapun tentu secara konstitusional kita harus memberikan pertimbangan dengan berbagai macam rambu-rambu yang itu nanti tentu akan dibawakan oleh pimpinan dan anggota Komite IV untuk nanti dibahas secara lebih rinci dengan Panitia Anggaran ya, dan juga dengan kementerian yang terkait dengan hal ini.
Baik, Bapak-Ibu sekalian, kalau kita buka sesi ini. Tapi saya harapkan ini diutamakan bagi yang bukan anggota Komite IV begitu ya, karena Komite IV kan sudah seperti yang disampaikan tadi proses ini juga panjang bahkan sampai ke melelahkan dan voting. Kami persilakan kami mulai dari sayap kanan. Ibu Aida, kemudian Pak Badri, Pak Bambang, tolong dicatat. Pak Budi. Oke. Yang bukan Komite IV ya.
12. PEMBICARA : MUH. ASRI ANAS (SULBAR)
125.
13. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik. Coba dicatat.
14. PEMBICARA : Dipl. Ing. H. BAMBANG SOEROSO (BENGKULU)
B-27, Provinsi Bengkulu.
15. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Iya. Dari sini ya. Bu Aida, Baik ya. Kami persilakan. Mohon waktunya kita kelola dengan baik karena. Baik. Silakan Ibu.
16. PEMBICARA : AIDA ZULAIKA NASUTION ISMETH, SE., MM.
(KEPULAUAN RIAU)
Terima kasih pimpinan.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Om Swastyiastu.
Salam sejahtera. Selamat pagi.
Saya ingin di sini bagus sekali apa yang disampaikan Pak Cholid tadi Komite IV. Tetapi apakah tidak bisa lebih dipertajam lagi usulan terhadap ini? Oleh karena misalnya penurunan tadi ini dengan harga BBM kenaikan itu penurunan subsidi BBM. Bagaimana sikap kita sebagai anggota DPD terhadap kenaikan harga BBM tersebut? Jadi mohon supaya kalau bisa lebih dipertajam lagi. Misalnya kalau memang seandainya memang terpaksa penurunan subsidi itu dan BBM dinaikkan, tapi dengan syarat-syarat bahwa peningkatan infrastruktur, pengurangan pegawai pemerintah dan lain sebagainya sebagaimana pembicaraan yang kemarin. Jadi mohon Pak Cholid kalau bisa lebih dipertajam lagi supaya sikap kita itu lebih jelas. Jangan kelihatannya kita agak plin-plan, begitu. Bagaimana sikap yang kita ambil mohon supaya nanti kita pecahkan.
Terima kasih.
17. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Mohon dicatat pimpinan Komite IV. Pak Wasis.
18. PEMBICARA : WASIS SISWOYO, SH. (JAWA TIMUR)
Terima kasih pimpinan.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera.
Om Swastyastu.
Kalau kami melihat, saya melihat apa yang disampaikan oleh Ketua Komite IV memang benar apa yang menjadi keputusan Komite IV itu cukup dinamis mekanisme yang dilakukan. Namun kami melihat, saya melihat bahwa apa yang disampaikan Komite IV itu ambigu. Saya tidak melihat apakah Komite IV menyetujui atau tidak. Jadi ini lebih, kami mohon lebih dipertegas. Kalau memang menyetujui seperti apa, kalau tidak seperti apa.
Terima kasih pimpinan.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
19. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Terima kasih.
Selanjutnya Pak Ahmad Subadri.
20. PEMBICARA : H. AHMAD SUBADRI (BANTEN)
Terima kasih pimpinan dan Bapak-Ibu anggota yang terhormat.
Saya kira kalau tadi dikatakan Komite IV ambigu menurut saya sih justru jelas ini. Bahwa dalam penutup uraian tadi ini dikatakan belum dapat diterima sepenuhnya RAPBN Tahun 2012 inii. Jadi saya kira itu sebagai komentar saya.
Kemudian yang kedua, ini RAPBN-P ini pasti yang menjadi perhatian masyarakat saat ini adalah pengurangan subsidi BBM. Dan dikonversi dengan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat. Kebetulan saya sering pualang kampung karena dekat di Banten. Jadi sering mendengar bahwa sesungguhnya masyarakat itu tidak menginginkan naik BBM tetapi menginginkan BLT-nya. Ini juga sebuah realita ya. Dan juga memang banyak keluhan terkait dengan penerima BLSM ini. Jadi banyak yang merasa berhak tetapi tidak mendapatkan, sementara yang tidak berhak malah mendapatkan. Ini juga mungkin perhatian kita bagaimana menyukseskan, kalau memang ini sebuah pilihan pahit kenaikan harga BBM dan kemudian ada BLSM ini, bagaimana kita memberikan kontribusi agar penyaluran BLSM ini bisa lebih tepat sasaran.
Sekedar usulan pimpinan dan Bapak-Ibu anggota terutama Komite IV. Rakyat miskin itu lebih susah lagi ketika terkena musibah terutama kematian. Pemerintah saat ini sudah memberikan Jamkesmas walaupun itu belum sepenuhnya mencapai sasaran sehingga ada juga Jamkesda dan seterusnya. Nah ini kalau kesehatan masyarakat tadi program pemerintah sudah ada berupa Jamkesmas, tetapi pada saat masyarakat meninggal terutama masyarakat kecil, ini sangat menderita sekali. Oleh karena itu saya mengusulkan bagaimana kalau dalam BLSM ini ada alokasi untuk mengasuransikan jiwa rakyat miskin. Sekarang ini kan ada asuransi yang sangat murah saya kira. Dengan Rp.15.000 saja rakyat miskin bisa diasuransikan. Kalau tadi misalnya Rp.150.000 per bulan selama 9 bulan, bagaimana kalau dikurangi 10% nya yaitu Rp.15.000 untuk mengasuransikan rakyat miskin selama 1 tahun asuransi jiwanya.
Kemudian yang kedua, ini terkait dengan problema penerima BLSM ini. Kita memang sering merasa miris dan prihatin Pak Ketua, dimana rakyat kita
berbondong-bondong ke kantor pos mengambil bantuan langsung tersebut dan terjadi prahara di situ, ini membuat kita malu sebagai bangsa. Oleh karena itu apakah memungkinkan kalau penyaluran BLSM ini juga melalui bank misalnya, sehingga masyarakat si penerima ini membuka rekening dengan prosedur yang sangat mudah. Tidak lagi dipersulit harus membuka rekening bank itu dengan misalnya saldo minimal Rp.100.000 atau berapa. Tetapi terkait dengan BLSM ini langsung masuk ke rekeningnya sehingga tidak perlu antrian panjang berpanas-panas dan bergontok-gontokan derta terjadi prahara disana. Saya kira itu saja sebagai masukan. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
21. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Wa’alaikum salam.
Selanjutnya kami persilakan kepada Bapak Bambang Soeroso.
22. PEMBICARA : Dipl. Ing. H. BAMBANG SOEROSO (BENGKULU)
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bambang Soeroso. B-27. Provinsi Bengkulu.
Konstitusional based Pak Ketua, saya ingin menyampaikan beberapa hal sebagai menanggapi apa yang disampaikan tadi oleh Pak Ketua Komite IV khususnya didalam rangka pendapat dan pertimbangan terhadap APBN-P 2012.
Yang pertama, kami berpendapat bahwa apapun, meskipun kita hanya dapat memberikan pertimbangan dan pendapat tapi ini adalah merupakan sebuah harapan besar dari masyarakat yang kami tangkap 2 bulan terakhir ini yang mengharapkan DPD sebagai perwakilan yang diamanahkan untuk memperjuangkan apa yang menjadi hasrat dan harapan masyarakat itu di tingkat kebijakan itu benar-benar bisa tercermin. Oleh karenanya kalau saya menangkap tadi apa yang disampaikan oleh Pak Ketua Komite IV khususnya terhadap pertimbangan dan pendapat itu, memang kami melihat belum ada sebuah esensi ketegasan terhadap apa yang dimaknai oleh harapan masyarakat tersebut khususnya didalam rangka BBM dan TDL itu. Oleh karenanya saya ingin mempertegas dan sekaligus ingin mengklarifikasi kepada Pak Cholid, sikap dan standing position DPD khususnya terhadap implikasi yang potensi sangat besar terjadi terhadap kemiskinan pada etape yang ketiga terhadap masyarakat yang sekarang sedang mencoba untuk me-recovery apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan dasar bagi masyarakat itu belum terlihat. Oleh karenanya kalau tadi sahabat saya Pak Badri itu mengatakan sikap dan pendapat ini adalah, maaf yang menyampaikan adalah Pak Wasis, ini ambigu, ini masih terlihat di sini Pak Ketua. Oleh karenanya kami ingin mempunyai ketegasan dan sikap dari pimpinan dan anggota DPD ini sudah ditunggu oleh masyarakat di seluruh Indonesia. Ini tanggapan yang kami dapatkan dari serangkaian perjalanan dan komunikasi kami terhadap stakeholder yang ada di daerah.
Oleh karenanya pada kesempatan ini saya ingin menegaskan kembali, saya sebagai anggota B-27 dari Provinsi Bengkulu ingin mengatakan bahwa saya tidak setuju dilakukannya kenaikan BBM. Dengan catatan bahwa paling tidak atau setidak-tidaknya pada 2012 ini. Dan kalau nanti teman-teman sebagian besar menyetujui, maka kami akan menyampaikan minderheidsnota terhadap pendapat dan pertimbangan ini. Dan perlu diingat bahwa pada Undang-Undang APBN Tahun 2012 sudah ditegaskan disitu bahwa di tahun 2012 tidak akan ada kenaikan terhadap BBM, apalagi TDL. Dan tadi saya mendapat catatan, kecuali dengan persetujuan DPR. Ini menjadi catatan kami, Bu-Pak Ketua, semoga apa yang menjadi aspirasi dari masyarakat yang harus kita perjuangkan ini bisa diterima dengan baik. Oleh karenanya maka sekali lagi hasil keputusan ini akan kami segera sosialisasikan kepada
masyarakat yang penuh dengan harapan untuk DPD itumengambil sebuah sikap yang tegas terhadap persoalan ini karena masih menderita. Terima kasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
23. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Wa'alaikumsalam.
Silakan, Pak Dr. Budi.
24. PEMBICARA : Dr. BUDI DOKU (GORONTALO)
Terima kasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saya Budi Doku, Gorontalo. Intinya, walaupun ini pertimbangan Komite IV dan DPD menyetujui yang mana, ambigu, yang jelas saya harus punya catatan, “Dr. Budi menolak kenaikan BBM”. Karena apa? Pertama, kami ini tadi pagi dibagikan selebaran semua yang menyatakan, “Ketua DPR menyatakan bahwa dalam praktiknya anggota DPD lebih banyak bekerja di Jakarta sehingga permasalahan daerah tidak dipresentasikan secara objektif".
Saya pribadi sering turun ke daerah. Saat ini di daerah harga barang-barang, nenek saya minta naik lagi gajinya, harga barang, beras semua Rp.2.000 perak naik di Pasar Kamis, di pasar sentral Gorontalo. Pemerintah mencoba memiskinkan rakyat tiga kali. Sekarang sudah naik, tanggal 1 April lagi akan naik harga barang, di akhir setelah pasca itu juga pasti akan naik. Kalau memang mau naik, sudah dari enam bulan lalu dinaikkan secara tiba-tiba, bukan dipolemikkan.
Perlu diketahui 91% hasil LSI, masyarakat menolak kenaikan ini, dan alhamdulillah
kita DPD dipercaya masyarakat 86,6%. Itu harus kita pegang benar. Dan pemerintah pada saat ini juga kita harus hati-hati, pemerintah coba membenturkan antara orang kaya dan orang miskin. Di mana-mana spanduk bertuliskan, “BBM bersubsidi hanya bagi yang tidak mampu”. Sekarang di daerah sudah terjadi pembakaran-pembakaran. Apabila ada mobil yang mampu, tidak tahu juga jelas antara definisi “mampu” dan “tidak mampu", sudah mulai dibakar-bakar di daerah. Ini yang perlu jadi antisipasi kita bersama.
Terus, tadi Pak Badri mengatakan BLT dikasih rekening. BLT hanya 150, ongkos untuk ke bank lebih banyak lagi ongkosnya.
Terima kasih.
25. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik. Apa sudah cukup? Ada ya, Ibu Istibsyaroh? Oh, Pak Asri tadi, maaf.
26. PEMBICARA : MUH. ASRI ANAS (SULBAR)
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ya sangat menarik kiranya apa yang disampaikan oleh Komite IV. Secara pribadi tentu sikap kami sebagai wakil dari Provinsi Sulawesi Barat juga menganggap bahwa kajian yang dilakukan oleh Komite IV sebagai sebuah sikap terhadap posisi DPD menurut saya juga adalah ambigu, meminjam istilah Pak, bukan ambigu, “tidak tegas”, bahkan, “ikut-ikutan”, kan begitu. Dalam pandangan kami Ketua, seperti penyampaian tadi, semua juga mengetahui APBN-P dilakukan bahkan dipercepat karena kenaikan harga minyak dunia. Kemudian kedua, penyelesaian terhadap belanja negara. Coba lihat, mohon maaf ya teman-teman Komite IV, hampir semua pandangan yang diuraikan oleh Komite IV ini menguraikan juga,
hampir semua ini mencoba mengkonfigurasi saja dari pendapat yang sudah berkembang untuk mendukung kenaikan harga BBM. Kalaupun ada perspektif kita, itu adalah perspektif untuk coba mendukung program BLT. DPD jangan ikut-ikutan membuat program instan dan membodohi masyarakat kitra. Dan menurut saya BLT itu adalah program yang membodohi masyarakat. Tidak memberikan solusi jangka panjang. Dulu JK mengatakan bahwa BLT hanya kita lakukan pada saat itu. Sekarang dinaikkan lagi, dan kita ikut-ikutan mendukung.
Saya termasuk, dan saya sudah mengonfirmasi semua teman-teman provinsi Sulawesi Barat, kami sepakat untuk menyatakan menolak kenaikan harga BBM. Kenapa? Banyak sikap. Pertama, hampir semua juga orang mengatakan bahwa pemerintah kita sekarang tidak memberikan gambaran, sikap, attitude sebagai pejabat negara terhadap kondisi dan realita masyarakat kita yang ada sekarang. Kemudian yang kedua, APBNP kalaupun dilakukan perubahan, hampir semua, hampir 80% juga itu konfigurasi belanjanya untuk belanja pusat, bukan belanja daerah. Coba lihat saja. Saya mencermati yang dilakukan oleh teman-teman, ini lebih banyak bicara tambahan untuk departemen ini, departemen ini. Sedangkan kalau kita melihat postur APBN 2012, itu 80% bahkan adalah belanja pusat, bukan belanja daerah. Lalu dimana posisi kita untuk memperjuangkan kepentingan daerah? Sehingga kami meminta ada ketegasan.
Kita jangan ikut-ikutan mendukung program-program yang tidak dirasakan real
dengan masyarakat kita. Seperti bahasa Dr. Budi, saya juga selalu turun ke lapangan. Program nasional itu hanya satu yang diakui oleh daerah, hanya program PNPM Mandiri. PNPM Mandiri tidak lebih daripada 2 triliun kok yang dibagi di seluruh Indonesia. Tidak ada lagi program yang lain. Program pemerintah daerah pun kebanyakan sekarang hanya memikirkan popularitasnya, bahkan banyak pemerintah daerah yang hanya memikirkan untuk mereka sendiri, bukan untuk kepentingan rakyat secara menyeluruh. Sehingga pimpinan, tentu kita butuh ketegasan. Dan di paripurna ini saya berani menyatakan untuk teman-teman Provinsi Sulawesi Barat menolak kenaikan BBM.
Dan tadi Sulawesi, Gorontalo juga menyatakan itu. Jangan ada sikap ambigu kita untuk melihat ini. Dan kalau perlu disampaikan kepada seluruh provinsi yang hadir pada saat ini, siapa yang menyatakan menolak dan siapa yang menyatakan mendukung. Kalau semua menyatakan menolak, maka kita semua harus menyatakan, “DPD menolak dengan kenaikan harga BBM.” Kalaupun ada proses, kita ikut-ikutan mendukung, jelas harus konfigurasinya untuk kepentingan daerah. Lalu apa untuk kita?
Coba lihat, mohon maaf ya teman-teman Komite IV, kita ikut-ikutan bicara tentang belanja departemen pusat, harusnya bicara tentang APBN. Bahkan sekarang DPR saya mendengar bicara tentang dana Silva 60 triliun yang akan dibicarakan di situ, bukan bicara tentang kepentingan daerah itu. Mohon maaf pimpinan, kita semua sudah gerah ini. Kita sudah tiga tahun berjuang untuk kepentingan daerah, dan gerah kita merasakan. Kita ikut di caci-maki oleh rakyat sekarang. Kalau kita ikut-ikutan juga melakukan ini, kita ikut melakukan pembodohan terhadap rakyat. Dan saya tidak mau terlibat. Intinya Sulawesi Barat menyatakan penuh mendukung agar pemerintah tidak menaikkan BBM.
Terima kasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
27. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik. Silakan, Pak Ishak Mandacan.
28. PEMBICARA : ISHAK MANDACAN, SH. (PAPUA BARAT)
B-121, Papua Barat, Ishak Mandacan.
Saya mau sampaikan, khusus di Papua Barat BBM sekarang sudah dari 3-4 kabupaten sudah naik dari Rp.8.000 menjadi Rp.12.000. saya baru dapat telepon dari Teluk Wondama, Rp.12.000 perliter. Dari Sorong Selatan dan Maybrat, Tambrauw, Rp.8.000 – Rp10.000 perliter. Raja Ampat, Rp10.000 perliter. Ini cukup memberatkan bagi masyarakat kecil di Papua Barat.
Saya sependapat dengan apa yang tadi disampaikan oleh Saudara Asri dari Sulawesi Barat. Bahwa kita menyetujui yang ini hanya untuk memberikan kontribusi untuk orang pusat. Saya dengar rakyat tetap di daerah itu menderita. Maka itu saya mau menyatakan khusus bagi 4 anggota dari DPD Papua Barat kami akan menolak kenaikan BBM. Jadi itu sikap kami untuk mendukung rakyat kecil. Saya kira apa yang, pernyataan yang saya buat ini untuk kami berempat, saya akan sampaikan bahwa kami menolak untuk kenaikan BBM.
Terima kasih, Pimpinan.
29. PEMBICARA : Ir. ADHARIANI, SH., MH. (KALSEL)
Interupsi, pimpinan. B-86, Kalimantan Selatan.
30. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Ya, interupsi apa ini? Kalau mau tanya, boleh silakan. Ada tidak? Interupsinya itu terhadap apa? Silakan. Kalau mau tanya, kita bikin ruang. Nanti Adhariani habis ini ya. Silakan Ibu.
31. PEMBICARA : Prof. Dr. Dra. Hj. ISTIBSYAROH, SH., MA. (JAWA TIMUR)
Terima kasih.
Saya Istibsyaroh, B-57 dari Jawa Timur.
Penduduk Jawa Timur hampir 40 juta. Yang miskin sudah 6 juta lebih. Kalau BBM nanti dinaikkan, pasti akan bertambah rakyat miskin di seluruh Indonesia, khususnya Jawa Timur karena penduduknya padat. Untuk itu dari Jawa Timur semua ini sudah sepakat untuk menolak kenaikan BBM dengan alasan apa pun. Kemudian kalau ada katanya untuk BLT, BLT sementara itu banyak yang salah alamat juga. Jadi bukan orang miskin tapi mendapat BLT. Ketika akan ada BLT mengaku miskin, tetapi sebenarnya itu cukup. Kemudian, apalagi nanti di listrik juga dinaikkan, ini juga akan merepotkan lagi. Artinya Indonesia secara umum sudah hampir 40 juta yang miskin, sudah tambah 2,7 juta, akan bertambah lagi dengan kenaikan itu. Saya kira apakah diterima oleh yang lain, yang jelas dari Jawa Timur khususnya DPD, teman-teman juga menolak kenaikan BBM. Terima kasih.
32. PEMBICARA : MUH. ASRI ANAS (SULBAR)
Interupsi pimpinan. Mohon dicatat dan menjadi bahan pertimbangan kita bahwa teman-teman sudah menyebut empat provinsi yang sudah menyatakan menolak.
Terima kasih.
33. PEMBICARA : Dr. BUDI DOKU (GORONTALO)
Interupsi pimpinan. Konkrit pimpinan. Kalau boleh mekanisme rapat ini meminta pernyataan dari setiap provinsi saja, setuju atau tidak kenaikan? Karena kita mewakili provinsi. Terima kasih.
34. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, ya. Coba kita hargai, kita sudah melewati mekanisme biasa. Maaf, teman-teman sekalian, coba kita hargai mekanisme kita ya. Bahwasa pertama, keanggotaan DPD itu adalah perorangan ya, bukan perprovinsi ya. Jangan kita ini. Silakanlah berpendapat, saya tidak ada masalah. Silakanlah menyampaikan itu, tetapi jangan kita melanggar apa yang telah kita sepakati. Dan ini adalah perorangan, belum tentu sama satu provinsi ya.
Coba silakan, Pak Adhariani.
35. PEMBICARA : Ir. ADHARIANI, SH., MH. (KALSEL)
Ya, terima kasih pimpinan.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kalau lembaga ini adalah representasi dari rakyat, harus buka mata, telinga dan hati nurani. Hari ini di berbagai daerah itu demo-demo besar penolakan terhadap kenaikan BBM, itu sudah luar biasa Pak. Saya tiap minggu pulang ke Banjarmasin, terutama daerah saya, itu tiap hari saya menghadiri demo Pak. Intinya mereka menolak kenaikan BBM itu. Nah,
makanya ini lembaga daerah yang fungsinya juga memperjuangkan rakyat daerah. Maka saya rasa tidak ada alasan utnuk tidak mempertimbangkan aspirasi daerah itu. maka, dengan apa yang disampaikan kepada saya untuk disampaikan di paripurna pada hari ini, maksud dan kehendak orang daerah agar BBM itu tidak dinaikkan, maka hal itu saya sampaikan di rapat paripurna ini sebagai catatan bahwa mayoritas masyarakat Kalimantan Selatan menolak kenaikan BBM. Tegas.
Terima kasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
36. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Silakan, Pak Alirman Sori.
37. PEMBICARA : ALIRMAN SORI, SH., M.Hum., MM. (SUMBAR)
Terima kasih pimpinan.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bapak-Ibu semua, setelah kita dengan seksama mendengarkan hasil kerja dari Komite IV, kemarin itu juga dibahas di Panmus, dan dinamika di Panmus luar biasa juga waktu itu. Tetapi melihat kondisi riil yang terjadi di lapangan, katakanlah hampir di setiap daerah, baik tayangan di televisi maupun di media cetak itu semua atau rata-rata menolak untuk kenaikan BBM Saya bukan berbicara atas nama Provinsi Sumatera Barat, Pak Ketua. Dalam kapasitas saya sebagai anggota DPD, kebetulan mewakili Sumatera Barat dan tidak berani juga menggeneralisir untuk satu provinsi. Bisa saja Pak Ketua, Bu Emma, Pak Riza dengan saya berbeda. Untuk itu mohon dipahami apa yang saya sampaikan.
Artinya, yang disampaikan Komite IV, mohon maaf juga kalau saya menggunakan istilah, itu kan mengikuti irama pemerintah. Tetapi itu adalah suatu kajian yang sudah luar biasa dilakukan oleh Komite IV dan pantas kita hargai dengan berbagai pandangan yang dikemukakan mungkin di Komite IV. Mestinya DPD memang harus berani mengambil sikap. Apalagi setelah kita terbakar dengan membaca berita hari ini di beberapa media cetak dan, yang ini menurut saya pengalihan isu yang coba dilakukan oleh DPR terhadap DPD. Supaya sikap kita tidak ambigu atau berada di persimpangan, harus jelas, harus ada keberanian DPD untuk menolak opsi yang disampaikan pemerintah untuk menaikkan BBM itu. Tetapi harus
ada alasan juga. Kalau ditolak, jalan keluarnya seperti apa. Tentunya saya mengatakan berani tidak DPD misalnya kita menolak kenaikan BBM, tetapi langkahnya apa, begitu. Misalnya, ini ilustrasi ya, ilustrasi misalnya. Sampaikan saja ke ruang publik. Itu gaji pejabat negara itu dipotong, misalnya. Itu kan tidak sederhana,. Tetapi kan ini tidak ada satu solusi satu pun yang ditawarkan tadi kecuali hanya mengkritik saja. Tetapi singkatnya, Pak Ketua, secara pribadi saya juga menolak untu kenaikan ini.
Terima kasih.
38. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik. Jadi, menarik juga dipotong gaji pejabat negara, berapa persennya nanti kita bicarakan. Yang lain?
39. PEMBICARA : ELNINO M. HUSEIN MOHI. ST., M.Si. (GORONTALO)
Pimpinan.
40. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik ya. Mana? Sebentar tadi, Pak Elnino ya? Oke, kalau begitu ya sekarang coba Komite IV. Jadi kita harus sebagai lembaga ini, kalau tidak nah seperti yang diusulkan Pak Alirman Sori tadi itu sangat luar biasa. Mari semua pejabat negara, termasuk kita juga untuk juga melakukan pemotongan gaji. Itu menurut saya luar biasa dampak psikologisnya.
Silakan.
41. PEMBICARA : ELNINO M. HUSEIN MOHI. ST., M.Si. (GORONTALO)
Terima kasih pimpinan.
Pak Ketua, Bu wakil ketua dan teman-teman sekalian. Ini saya anggota Komite IV, saya tidak mau berbicara soal substansi yang diputuskan oleh Komite IV untuk diusulkan di paripurna ini. Saya ingin mengusulkan mekanisme paripurna kita, bahwa daripada kita ribut terus ini nanti, ada 132 nanti ngomong semua bagaimana itu Pak Ketua? Yang paling bisa adalah bagaimana supaya seperti yang Dr. Budi bilang, saudara saya ini, setiap provinsi ada pandangannyalah. Itu yang pertama. Kalau memang harus dibilang bahwa ini kita anggota perorangan, tidak bisa digeneralisir perprovinsi. Maka tidak ada masalah juga kita voting
secara terbuka di sini soal kita menaikkan BBM atau tidak. Terima kasih pimpinan.
42. PEMBICARA : MUH. ASRI ANAS (SULBAR)
Pimpinan, ijin, pimpinan. 125.
Ini bukan pada perspektif kita saling berhadap-hadapan dimana kita semua menanggapi kemudian Komite IV harus menjawab dari sekian pandangan dan perspektif kita. Kalau bahasa Pak Alirman Sori tadi, bagaimana solusinya? Banyak solusinya yang bisa kita berikan. Hampir 1.000 tiriliun kok belanja pusat ini. Belanja daerahnya sekitar 400 triliun. Jadi artinya pimpinan, solusinya banyak yang kita berikan. Tetapi dalam mekanisme forum kita tidak pada posisi bahwa Komite IV harus setiap menanggapi dari setiap pertanyaan kita. Mekanisme itu tidak tepat pimpinan.
Usulan kami adalah, karena pandangan sudah ada, pandangan Komite IV ada dan kita semua memiliki hak pribadi-pribadi politik dan hak wilayah kita untuk menyampaikan perspektif terhadap pandangan itu, maka harus ditentukan oleh pimpinan bagaimana
mekanisme mengambil keputusan. Saya sepakat dengan saudara Elnino, mekanisme pengambilan keputusan ya siapa yang sepakat ya berdiri. Siapa yang tidak sepakat, ya. Kalau landasan filosofinya, landasan perspektif akademiknya, dan kajian-kajian secara politiknya kan sudah ada. Bukan hanya kita, fraksi-fraksi pun terbelah tentang ini. Tinggal memilih posisinya sekarang. Tidak pada posisi untuk melakukan kajian-kajian lagi.
Terima kasih pimpinan
43. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Sebentar ya. Ini mekanismenya kan sudah jalan ini. Dari berbagai pandangan tadi, kan kita mempercayakan ini kan ke Komite IV, sudah berjalan dengan baik. Ini mekanisme, tidak perlu kita rubah begitu ya. Kita serahkan nanti bagaimana apa yang disampaikan tadi dengan berbagai perspektif, ambiguity, tidak sepakat, dan lain sebagainya, baru nanti pandangannya kita lihat. Kalau memang itu nanti, kan bisa saja dari berbagai pandangan itu dengan catatan kayak Pak Bambang Soeroso ya. Silakan ini kalau sudah diputuskan. Kita harus hormati juga putusan dari komitenya. Itulah wakil-wakil kita yang di provinsi untuk bisa menyampaikan. Kan sudah disampaikan tadi, di Komite IV juga berakhir juga dengan
voting ya, jadi tidak mudah juga. Tetapi kita dengarkanlah dulu ya supaya lebih jelas. Tentu
tidak semudah itu juga,ya. Mungkin biar tahu di Panmus juga ramai juga ya. Kami persilakan ke Ketuanya dulu, ya. Silakan
44. PEMBICARA : H. CHOLID MAHMUD, ST., MT. (KETUA KOMITE IV)
Terima kasih pimpinan.
Terima kasih atas perhatian besar dari para anggota terhadap persoalan ini. Dan memang seharusnya seperti itu karena ini urusan yang sangat penting. Saya akan sampaikan sedikit tentang diskusi yang terjadi di Komite IV terkait dengan kenaikan harga BBM itu.
Bapak-Ibu anggota yang saya hormati.
Sebenarnya kalau kita mau tidak mengurangi subsidi BBM, itu bisa, tidak sulit. Artinya tinggal dari tambahan angka yang ada dari pendapatan BBM, kemudian silva, itu kita masukan saja kepada subsidi BBM. Itu sudah selesai. Artinya sebenarnya persoalan kita bukan persoalan pada angka, tetapi persoalan kita adalah persoalan pada apa iya kayak
begitu, bahwa sekian besar anggaran itu kita gunakan untuk subsidi BBM. Bandingkan misalnya dengan subsidi pertanian yang angkanya jauh lebih kecil daripada subsidi BBM. Bahkan sekarang pun dalam APBN-P ini dikurangi lagi.
Nah, diskusi yang berkembang adalah apakah tepat subsidi sebesar itu? Nah
kemudian, beberapa yang berkembang begini, pertama subsidi sebesar itu, itu hanya dinikmati mayoritas oleh orang Jawa dan Bali. Jadi data dari BPS itu menunjukkan bahwasanya lebih dari 50% pengguna kendaraan itu hanya di Pulau Jawa dan Bali. Artinya penduduknya banyak. Artinya apa? Artinya dalam konteks pemerataan daerah ini sebenarnya tidak dinikmati oleh mayoritas daerah. Yang kedua, bahwa yang disebut suibsidi BBM itu adalah subsidi untuk orang yang punya kendaraan bermotor. Semiskin-miskinnya mereka itu punya motor. Sedangkan yang punya motor itu jumlah motor di Indonesia itu hanya berapa ratus ribu, begitu. Artinya itu hanya bagian sangat kecil dari jumlah penduduk Indonesia kita yang sangat besar itu. Sehingga pertanyaan kita adalah apakah subsidi yang begitu besar kita berikan hanya untuk sebagian kecil penduduk, itu pun yang punya motor atau yang punya mobil lebih dari satu, bahkan kadang-kadang lebih dari satu, dan lokasinya juga hanya di beberapa tempat saja. Nah, ini kan pertanyaan kritisnya disitu. Karena itu kita berpikir sebagai, berpikir tentang negara itu bahwasanya mestinya subsidi besar itu tidak harus ke situ arahnya, tetapi diberikan kepada sektor-sektor lain yang lebih menyentuh kepada rakyat yang
lebih layak untuk diberikan subsidi. Karena itu diskusi ini memang cukup tajam dan panjang kemarin kita lakukan. Kemudian akhirnya tidak dengan suara bulat memang, tetapi akhirnya kita bisa memahami di Komite IV betapa subsidi itu memang harus kita evaluasi. Ini satu hal. Yang kedua, Bapak-Ibu, bagi kita di Komite IV dan bagi kita di DPD, sebenarnya ini bukan barang baru. Waktu kita memberi pertimbangan terhadap APBN 2012, kita punya dua rekomendasi besar. Rekomendasi besar pertama kita adalah mengevaluasi subsidi BBM. Ini pertimbangan kita di APBN 2012, bukan sekarang. APBN 2012. Artinya kajian kita terhadap APBN, terhadap subsidi BBM itu memang sudah menimbulkan kegelisahan kita, secara garis besar begitu ya. Apa betul subsidi sebesar itu dan bisa jadi akan terus meningkat diberikan kepada hanya sebagian kecil penduduk dan itu pun bukan orang miskin. Karena itu kemudian kita memberi rekomendasi di 2012 supaya subsidi BBM itu betul-betul dievaluasi.
Nah, karena kasus yang sekarang sudah dengan isu kenaikan BBM, maka sekarang
yang kita dengar adalah orang-orang yang seolah-olah itu menolak dan seolah-olah itu mewakili mayoritas masyarakat. Padahal mayoritas masyarakat dirugikan oleh adanya subsidi BBM ini. Bukan diuntungkan, tetapi dirugikan oleh subsidi BBM yang hanya menguntungkan sekelompok kecil dari penduduk kita. Ini yang pertama.
Yang kedua, tentang, ini ungkapan Pak Sofwat, saya kira Pak Sofwat nanti bisa menyampaikan sendiri, tetapi saya setuju dengan ungkapan beliau, ketika orang mengatakan BLT tidak mendidik, saya kira kita sepakat itu. Tetapi bagaimana orang-orang kaya kita subsidi dengan uang besar negara, apakah itu mendidik? Itu tidak kita pernah kita pertanyakan. Saya kira ini kan hal yang harus secara adil kita lihat juga, sehingga justru keberpihakan DPD adalah kepada masyarakat yang seharusnya lebih berhak untuk mendapatkan bantuan. Nah, ini satu sisi.
Dari segi daerah, di dalam pertimbangan kita yang lengkap ini, mungkin Bapak-Ibu anggota bisa membaca secara lebih tegas, lebih luas di dalam pertimbangan kita yang lengkap. Seluruh permintaan kita adalah menganalisis anggaran-anggaran kementerian itu untuk dikurangi dan dialokasikan ke, transfer ke daerah. Justru stressing-nya disitu. Bukan kita mendukung perubahan-perubahan di anggaran kementerian dan non kementerian itu. Tetapi justru itu harus di efisienkan dan kita dorong untuk menjadi transfer daerah, sehingga sekurang-kurangnya DAU itu mencapai atau mendekati angka 26% yang di alokasikan sebagaimana syarat di undang-undang. Di dalam ABPN-P ini hanya ada angka 5 koma sekian triliun untuk transfer ke daerah. Dan itu bukan akibat kebijakan, itu adalah akibat tadi penambahan DBH karena kenaikan harga minyak. Jadi bukan karena kebijakan pemerintah untuk memberi transfer ke daerah melalui penyesuaian-penyesuaian anggaran. Nah karena itu kita mengkritik keras persoalan itu, dan silakan Bapak-Ibu membaca secara detail di dalam pertimbangan kita. Saya kira ini beberapa penjelasan tambahan, tetapi saya sepakat bahwasanya sepenuhnya ini menjadi kebijakan kita. Hanya saja saya secara pribadi berharap bahwa kita berpikir sebagai, bukan sekedar melihat fenomena-fenomena sesaat, tetapi kita betul-betul berpikir secara keseluruhan. Terima kasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
45. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, terima kasih. Sebentar dulu, kan sudah, coba yang di Panmus juga menurut saya jangan dululah, itu debatnya juga sudah kuat. Yang lain yang belum ada beri kesempatan. Sekarang kita ke Komite IV dulu. Silakan Pak Sofwat sama Ibu, Komite IV dulu, silakan, supaya bisa menjelaskan begitu, ini publikmenunggu juga, mendengar.
46. PEMBICARA : Ir. SARAH LERY MBOEIK (NTT)
Terima kasih pimpinan.
Kebetulan di Komite IV, sebenarnya sudah tidak pantasnya kami menceritakan fenomena bagaimana diskusi itu berlangsung. Dan ketika itu juga pimpinan hadir dalam diskusi yang cukup alot itu. Saya pikir pro kontra di dalam Komite IV itu juga luar biasa terjadi. Banyak teman-teman posisi sama juga dengan teman-teman dalam forum ini. Kemudian sampai pada mekanisme voting. Tapi saya ingin mengatakan beberapa hal substansi yang juga kita bahas seperti apa pikiran teman-teman. Kami tidak menyetujui BLT. Formulanya, uangnya boleh tapi formulanya dirubah, itu satu, mungkin saya hanya ingin menlanjutkan apa yang disampaikan oleh Pak Cholid. Formula itu macam-macam, banyak tawaran kita tentang formula. Malah kita mengatakan BLT itu sifatnya bukan untuk mensejahterakan sehingga kami tolak, malah tidak menghargai harkat dan martabat manusia sebagai manusia. Kami sampai mengatakan pada soal esensi hak asasi dalam BLT itu sendiri. Sehingga memang di dalam butir-butir pertimbangan ini kami menyampaikan formulanya perlu di perhatikan, bukan kami mensetujui BLT dalam konteks bagi-bagi langsung. Itu ada beberapa catatan yang kami sampaikan. Formulanya bisa melalui DAK, bisa melalui DAU, dengan tidak mempertimbangkan kriteria yang selalu dipakai oleh pemerintah jumlah penduduk, karena di pakai itu kembali lagi.
Kami kemarin, minta maaf, suka mengatakan Jawa dan luar Jawa. Kita pakai itu untuk melihat ketidakadilan yang berlaku selama ini. Sehingga formula yang kita pakai adalah proporsional, lihat pada kriteria infrastruktur, indeks pelayanan minimal dan macam-macam yang terjadi daerah sebagai pengakibatkan kemiskinan luar biasa. Kami sepakat kalau ini sudah di antisipasi akan menjadi akar dari kemiskinan structural. Sehingga beberapa antisipasi coba disengaja ditawarkan oleh teman-teman Komite IV. Jujur kami beberapa orang masih tetap posisi seperti teman-teman, tapi kami mengakui mekanisme demokrasi yang coba kami lakukan sampai kepada tracking budget pun kami lakukan. Item-item dari masing-masing sektor kami lakukan dan mungkin dalam gambaran yang besar kita bisa menunjukan. Tapi karena di sampaikan dalam lembaran yang sempit ini, itu tidak kelihatan. Kita menyampaikan beberapa kriteria tentang tracking budget yang dilakukan naik turunnya. Malah kami sampai mempertanyakan kenapa LAN harus naik lebih besar daripada dana transfer. Fenomena ini ada terjadi di dalam diskusi Komite IV.
Kami juga melihat tentang beberapa perbandingan yang dilakukan oleh pemerintah di dalam nota keuangan 5 tahun lalu. Dan kalau teman-teman tidak bisa membaca itu terjebak, seolah-olah ada kenaikan, padahal tidak ada kenaikan. Dan posisi kami, pertanyaan kami adalah bagaimana posisi daerah dalam melihat APBN-P? Seperti tidak ada perubahan sama sekali. Kritik kami besar ada di dalam ini. Kalau teman-teman baca dengan hati tenang substansinya jelas, rekomendasi kami jelas. Saya posisi kembali lagi, saya posisi menolak, bukan tidak menolak, kami dalam Komite IV beberapa orang pun menolak. Jadi tidak ada kepentingan kami menjadi perpanjangan ataupun sekedar mengutip ahli, tapi kami realita. Kami bukan sekedar melihat pada realita ilmu pengetahuan, tapi realita daerah, orang miskin makin banyak secara structural. Itu yang menjadi pertimbangan kami untuk mengungkapkan dari berbagai aspek politik, ekonomi, sosial, budaya. Terima kasih pengantar saya.
47. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)