ASUHAN KEBIDANAN PADA NY N MASA HAMIL, BERSALIN, NIFAS, NEONATUS DAN KELUARGA BERENCANA DI UPT PUSKESMAS PUNGGING KABUPATEN MOJOKERTO

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY “N” MASA HAMIL, BERSALIN, NIFAS, NEONATUS DAN KELUARGA BERENCANA DI UPT PUSKESMAS

PUNGGING KABUPATEN MOJOKERTO ASYROTUN NUVIDATIN NI’MAH

1415401008

Subject : Asuhan Ibu Hamil, Bersalin, Nifas, Neonatus dan Keluarga Berencana DESCRIPTION

Masalah utama yang di alami bangsa Indonesia saat ini yakni masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Di Kabupaten Mojokerto tahun 2014 Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 90,68 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Mojokerto tahun 2014 sebesar 7,68 per 1.000 kelahiran hidup. Salah satu upaya untuk menurunkan kejadian AKI dan AKB yaitu dengan melakukan deteksi dini terhadap kegawatdaruratan melalui pendekatan kesehatan berkelanjutan atau continuity of care yang dimulai ibu hamil, bersalin, nifas, neonatus dan keluarga berencana.

Asuhan Kebidanan dilakukan pada Ny “N” usia 23 tahun di Puskesmas Pungging Kabupaten Mojokerto. Dokumentasi asuhan kebidanan menggunakan metode SOAP notes yang disesuaikan dengan kemenkes RI No. 938 tahun 2007.

Hasil asuhan kebidanan yang dilakukan pada Ny N ditemukan permasalahan yaitu Hemorhoid, pengeluaran ASI tidak lancar dan Kaki bengkak. Setelah dilakukan asuhan kebidanan dan penatalaksanaan nyeri yang disebabkan oleh hemoroid dapat berkurang, pengeluaran ASI lancar sehingga dapat memberikan ASI eksklusif serta nyeri kaki yang disebabkan pada pembekakan dapat teratasi.

Asuhan Kebidanan yang di lakukan secara contiunity of care diharapkan bidan mampu meningkatkan pelayanan dengan lebih mendekatkan diri pada masyarakat untuk memberikan pendidikan kesehatan terutama pada ibu hamil, bersalin, nifas, neonatus dan kb serta dapat mendeteksi dini setiap kelainan dan masalah kegawatdaruratan.

ABSTRACT

The main problem that was experienced by the Indonesian today was high Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR). In Mojokerto in 2014 the Maternal Mortality Rate (MMR) was 90.68 per 100,000 live births and Infant Mortality Rate (IMR) in Mojokerto in 2014 was 7.68 per 1,000 live births. One of the efforts to decrease the incidence of MMR and IMR was to conduct early detection of emergency through continuity of care approach which started by pregnant mothers, parturition, postpartum, neonatal and family planning.

Midwifery care performed on Mrs "N" age 23 years old in Puskesmas Pungging Mojokerto . Documentation of midwifery care using SOAP notes method that was adjusted to the health of RI. 938 in 2007.

The results of midwifery care performed on Mrs “N” found problems that were Hemorhoid, ineffective breast milk production and swoilen feet. After midwifery care and management of pain caused by hemorrhoids, the pain could be reduced, the production of breast milk was smooth so that mother was able to give exclusive breastfeeding and pain in foot caused by swoilen could be resolved.

Midwifery care was done in contiunity of care that it’s expected that midwives can improve services by more closer to the community to provide health education,

(2)

especially in pregnant mothers, parturition, neonatal and family planning can detected early disorder and emergency problems.

Keywords: Pregnant Mothers, Parturition, Neonatal And Family Planning

Contributor : 1. Farida Yuliani, S.ST.,S.KM.,M.Kes

2. Nurun Ayati Khasanah, S.ST.,S.KM.,M.Kes

Date :

Type Material : Laporan Tugas Akhir Identifiter :

Right : Open Document Summary :

A. LATAR BELAKANG

Masalah utama yang di alami bangsa Indonesia saat ini yakni masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan suatu gambaran untuk mengetahui kematian ibu selama masa kehamilan, persalinan dan nifas serta hal-hal lain yang disebabkan oleh ganggaun kehamilan ataupun penanganannya, dan bukan termasuk kejadian yang tidak terduga seperti kecelakaan, terjatuh dll disetiap 100.000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Indonesia, 2015). Angka kematian bayi merupakan kematian yang terjadi pada neonatus dan bayi yang berumur kurang dari satu tahun.Penyebabnya adalah bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah, infeksi pasca lahir, hipotermia dan asfiksia (Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, 2012).

Hasil perkembangan capaian di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2013 menunjukkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai 97,39 per 100.000 kelahiran hidup dan pada tahun 2014 yang mencapai 93,52 per 100.000 kelahiran hidup. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur melaporkan Angka Kematian Bayi (AKB) pada tahun 2013 sebesar 27,23 per 1.000 kelahiran hidup dan pada tahun 2013 mencapai 26,66 per 1.000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Jawa Timur, 2014). Di Mojokerto capaian Angka Kematian Ibu (AKI) mengalami penurunan dengan perhitungan tahun 2013 mencapai 48,1 per 100.000 kelahiran hidup , tahun 2014 mencapai 45,09 per 100.000 kelahiran hidup .Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Mojokerto pada tahun 2013 mencapai 15,87 per 1.000 kelahiran hidup dan tahun 2014 mencapai 14,88 per 1.000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Kab. Mojokerto, 2014).

Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto tahun 2014 menjelaskan bahwa cakupan kunjungan ibu hamil K1 sebesar 98,74% dan cakupan kunjungan ibu hamil K4 sebesar 94,04%. Cakupan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan pada tahun 2014 sebesar 87,9 %. Cakupan ibu nifas pada tahun 2014 yakni sebanyak 89,2%. Cakupan Neonatus sebanyak 95,5%. Cakupan KB Aktif sebanyak 78,7% dan cakupan KB Baru sebanyak 6,5% (Profil Kesehatan Kab. Mojokerto, 2014).

Penyebab tertinggi Angka Kematian Ibu (AKI) Menurut profil Kesehatan Kabupaten Mojokerto adalah perdarahan, keracunan kehamilan (Pre eklamsi), infeksi. Sedangakan penyebab Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Mojokerto tahun 2014 yakni karena BBLR (berat badan lahir rendah), asfiksia, kongenital, infeksi .Hal tersebut terjadi karena 3T (terlambat mengambil keputusan, terlambat mendapatkan transportasi dan terlambat penanganan di sarana pelayanan kesehatan) dan 4 Terlalu (terlalu tua, terlalu banyak, terlalu muda, terlalu dekat jarak kehamilannya). Perlu dicermati bahwa masyarakat masih belum memahami secara benar tentang penanganan ibu hamil, masyarakat masih menganggap perdarahan yang

(3)

dialami ibu hamil merupakan suatu hal yang wajar ,keadaan ini berdampak pada keterlambatan merujuk yang dilakukan oleh keluarga serta penanganan perdarahan di fasilitas kesehatan perlu dilakukan secara adekuat sehingga kesiapan peralatan yang memadai serta ketrampilan petugas merupakan sesuatu yang wajib ada di fasilitas pelayanan kesehatan. (profil kesehatan Kab.Mojokerto, 2014).

Upaya Dinas Kesehatan untuk menurunkan AKI dan AKB di Kabupaten Mojokerto pada tahun 2014 hingga saat ini dengan cara melakukan pembinaan teknis berkala (seperti melakukan pertemuan dengan bidan, mengevaluasi kinerja, dan validasi setiap data ). Melakukan pe-ngembangan desa pelaksana P4K yakni (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi) yang terintegrasi dengan Desa Siaga (Poskesdes). Melakukan asuhan kebidanan secara berkesinambungan (continuity of care), yaitu dengan memberikan pelayanan secara berkesinambungan sesuai kebutuhan. Pencegahan yang dilakukan dengan menjalankan program sekarang yaitu ANC Terpadu menggunakan teori 17T pada Trimester pertama, persalinan minimal 4 tangan di fasilitas kesehatan tingkat 1 (puskesmas). Melakukan tindakan konservatif pada pasien kegawatdaruratan dengan melakukan rujukan yang tepat, cermat, dan cepat. Di Mojokerto sendiri telah di terapkan program GEBRAK (Gerak Bersama Amankan Kehamilan), dimana setiap satu bulan melakukan kunjungan 1x untuk memantau perkembangan ibu dan janin dengan melakukan konseling untuk ibu, dan sudah menunjukkan adanya peningkatkan. Dari peningkatan program tersebut,maka akan di kembangkan pada tahun berikutnya.

Berdasarkan diatas banyaknya AKI dan AKB yang disebabkan oleh berbagai faktor baik faktor dari penyakit yang menyertai kehamilan,faktor persalinan karena kelalaian penolong atau bidan dan kurangnya antisipasi komplikasi secara dini pada saat kehamilan. Maka penulis tertarik untuk melaksanakan asuhan kebidanan secara berkelanjutan (Continuity Of Care) dengan memberikan pelayanan berupa pendampingan pada ibu hamil trimester III, persalinan, nifas , bayi baru lahir (BBL) dan kb yang bertujuan untuk mendeteksi komplikasi se-dini mungkin agar dapat tertangani secara cepat dan tepat.

B. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan asuhan kebidanan secara continuity of care, yaitu dengan melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas, neonatus dan KB yang disesuaikan dengan manajemen kebidanan dengan pen-dokumentasian dalam bentuk SOAP di wilayah kerja UPT Puskesmas Pungging dimulai tanggal 24 Februari 17 sampai 16 Mei 2017. C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Manajemen Asuhan Kebidanan Komprehensif dimulai dari kehamilan, persalinan, nifas,bayi baru lahir dan KB. Pada Ny. “N” umur 22 tahun G1P0000 yang dimulai dari masa kehamilan trimester 3 sampai dengan pasien akan memakai KB dengan menggunakan metode Asuhan Kebidanan yang pendokumentasiannya menggunakan SOAP yang terdiri dari data subjektif, data objektif, analisa data dan penatalaksanaan.

Pada tanggal 24 Februari 2017 jam 12.00 WIB melakukan kunjungan pertama kehamilan trimester III dengan melakukan pengkajian data subjektif berupa data fokus yang dibutuhkan untuk menilai keadaan ibu sesuai dengan kondisinya, memberikan asuhan kebidanan pada Ny.N usia 22 tahun G1P0000 UK 30-31 minggu, ibu mengeluh nyeri pada anus sejak 3 minggu yang lalu.

(4)

Menurut hasil penelitian Leliana carolina (2014), menyatakan bahwa Pada kehamilan akibat pengaruh kenaikan hormon seks dan bertambahnya volume darah, menyebabkan pelebaran pada pembuluh darah vena di daerah dubur. Peningkatan hormon progesteron pada wanita hamil akan menyebabkan peristaltik saluran pencernaan melambat dan otot-ototnya berelaksasi, serta relaksasi katup vena di anorektal, sehingga akan mengakibatkan konstipasi yang akan memperberat sistem vena tersebut. Begitu pula akibat penekanan janin dalam rahim pada pembuluh darah vena didaerah panggul akan mengakibatkan pem-bendungan. Ditambah lagi dengan pengejanan waktu buang air besar yang sering terjadi pada wanita hamil karena konstipasi akan menyebabkan terjadinya prolaps hemorhoid.. Pencegahan terbaik adalah mencegah konstipasi seperti makan tinggi serat, banyak minum air dan jus buah, jangan menahan buang air besar, serta banyak makan sayur dan buah. Sedangkan pada wanita hamil senam kegel sangat membantu karena dapat melancarkan aliran darah disekitar anus.

Berdasarkan hasil pengkajian dari Ny “N” bahwasannya hemorrhoid yang di alami pada masa kehamilan merupakan hal yang fisiologis. Setelah di lakukan asuhan kebidanan di harapkan pasien mengetahui cara mengurangi rasa nyeri pada anus dengan cara banyak minum air, jus buah, tidak menahan BAB serta banyak makan sayur dan buah-buahan.

Pada kunjungan kedua dan ketiga kehamilan trimester III ibu tidak ada keluhan, namun setelah di lakukan pemeriksaan Leopold ternyata kepala janin masih belum masuk ke dalam pintu atas panggul (PAP) dan dihasilkan prognosis bahwa Ny “N” mengalami ketidaksesuaian bentuk panggul (CPD).

Menurut Prawirohardjo (2008) Cephalopelvic disproportion adalah keadaan yang menggabarkan ketidaksesuaian antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui vagina. Disproporsi sefalopelvik disebabkan oleh panggul sempit, janin yang besar ataupun kombinasi keduanya. Cara mengatasi hal tersebut bisa dengan melakukan posisi menungging (sujud) untuk mempercepat kepala masuk ke jalan lahir.

Dilihat dari data pengkajian Ny “N” menunjukkan bahwa kepala janin belum masuk ke pintu atas panggul (PAP). Peneliti menduga bahwa pada Ny “N” ukuran kepala atau bahu janin lebih besar dari ukuraran normal pada umumnya yang menyebabkan pada kehamilan usia 33-34 minggu kepala masih floting. setelah dilakukan asuhan kebidanan diharapkan ibu mampu melakukan posisi sujud untuk mempercepat proses masuknya kepala ke jalan lahir .

Berdasarkan hasil pengamatan pada tanggal 13 April 2017 pukul 15.30 WIB di dapatkan data bahwa Ny “N” datang dengan pembukaan 2 cm. Mengeluh kenceng-kenceng dan mengeluarkan lender bening sejak pukul 15.00 WIB . Di lakukan pemeriksaan dalam VT Ø 2cm, eff 25 %, presentasi kepala, denominator UUK, Hodge I, ketuban (+),tidak ada bagian yang menumbung.Dapat di perhitungkan bahwa kala 1 berlangsung selama 8 jam dihitung sejak pukul 15.00 WIB sampai dengan pukul 23.00 WIB.

Menurut Prawirohardjo (2010), kala 1 di mulai saat persalinan mulai sampai terjadinya pembukaan lengkap (10 cm). Proses ini terbagi dalam 2 fase, yaitu fase laten (8 jam) serviks membuka 1 cm sampai 3 cm dan fase aktif di mulai dari serviks membuka 3 cm sampai 10 cm dan berlangsung selama 7 jam. Pada kala 1 pada Primi berlangsung 13-14 jam sedangkan pada Multi berlangsung selama 6-7 jam.

Setelah di lakukan pemeriksaan pada saat pasien datang, pasien di berikan 1 tablet misoprostol dengan cara konsumsinya di letakkan di bawah lidah (sublingal).

(5)

Menurut hasil penelitian Feni Ermawati tentang Hubungan Antara Persalinan Induksi Oksitosin Drip Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum Di Rsud Dr.H.Soewondo Kabupaten Kendal (2013) Induksi persalinan adalah tindakan terhadap ibu hamil untuk merangsang timbulnya kontraksi rahim agar terjadi persalinan. Indikasi dilakukan induksi yang berasal dari janin yaitu postmaturitas,ketuban pecah dini, dan inkompatibilitas rhesus. Sedangkan faktor dari ibu yaitu intra uterine fetal death (IUFD) dan dari faktor ibu serta janin yaitu preeklamsia berat.

Pasien datang dengan keluhan kenceng-kenceng dan dilakukan pemeriksaan. Menurut Feni Ermawati 2013 induksi di berikan dengan indikasi postmaturitas, ketuban pecah dini, dan inkompatibilitas rhesus. Sedangkan faktor dari ibu yaitu intra uterine fetal death (IUFD) dan dari faktor ibu serta janin yaitu preeklamsia berat, sedangkan pada Ny “N” tidak ada indikasi seperti postmaturitas,ketuban pecah dini, dan inkompatibilitas rhesus, intra uterine fetal death (IUFD) dan preeklamsia berat.

Setelah pemberian misoprostol secara sublingual, jarak waktu 5,5 jam ketuban pecah dan di lakukan pemeriksaan dalam dengan hasil VT Ø 4cm, eff 25 % Hodge I, presentasi kepala, denominator UUK, ketuban (-),tidak ada bagian yang menumbung. Kemudian di lakukan pemasangan infus RL di tangan sebelah kiri dan drip oksitosin 1 ampul dengan kecepatan tetes 24 tpm.

Menurut manuaba (2010) Oksitosin dianggap merangsang pengeluaran prostaglandin sehingga terjadi kontraksi otot rahim. Komplikasi yang penting diperhatikan pada induksi persalinan dengan oksitosin adalah ketuban pecah pada pembukaan kecil yang disertai pecahnya vasa previa dengan tanda perdarahan dan diikuti gawat janin, darah merah segar, plolapsus bagian kecil janin terutama tali pusat juga dapat terjadi. Terjadi gawat janin karena gangguan sirkulasi retro plasenta pada tetani uteri atau solusio plasenta. Tetania uteri yaitu his yang yang terlalu kuat dan sering, sehingga tidak terdapat kesempatan untuk relaksasi otot rahim, akibatnya yaitu, terjadinya partus presipitatus atau partus yang berlangsung dalam waktu 3 jam, yang mengakibatkan hal yang fatal seperti terjadinya persalinantidak pada tempatnya, terjadi trauma pada janin, trauma jalan lahir ibu yang luas, dan dapat menyebabkan asfiksia.

Menurut Permenkes Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang izin dan Penyelengaraan Praktik Bidan, kewenangan yang dimiliki bidan yaitu hanya pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan postpartum. Namun pada kenyataannya dilahan praktik pemberian oksitosin secara drip dimulai pada saat kala 1 fase aktif yang menyebabkan persalinan berlangsung lebih cepat , yang dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa pada kasus ini terdapat penyalahgunaan kewenangan yang dimiliki oleh bidan.

Dalam rangka pelaksanaan pengawasan, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota dapat memberikan tindakan administratif kepada bidan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan penyelenggaraan praktik dalam peraturan ini seperti teguran lisan,teguran tertulis, pencabutan SIKB/SIPB untuk sementara paling lama 1 (satu) tahun dan pencabutan SIKB/SIPB selamanya.

Tanggal 14 April 2017 pukul 02.30 WIB VT Ø 10 cm, eff 100 %, presentasi kepala, denominator UUK, hodge IV, Moulase O ketuban (-) jernih. Ibu mengeluh ingin mengeran dan sudah ada tanda-tanda persalinan yaitu adanya dorongan meneran, tekanan pada anus, perineum menonjol, vulva membuka, dan pada jam 03.05 bayi lahir. Menurut Depkes RI kala II mulai dari pembukaan lengkap sampai bayi lahir. kala dua persalinan pada nulipara dibatasi 2 jam dan multipara 1 jam.

(6)

Pada saat proses persalinan taksiran berat badan janin 3410 gram, namun pada saat persalinan bayi terlihat lebih besar yang menyebabkan dilakukan episiotomy pada jalan lahir ibu hingga derajat 2.

Menurut Myles (2009) robekan derajat kedua yaitu robekan yang meliputi fourchette dan otot perineal superficial, yaitu bulbokavernosus dan otot perineal transversal serta pada beberapa kasus pubokoksigeus.

Proses kelahiran By. Ny. N berlangsung dalam 35 menit pembukaan sudah lengkap kemudian ibu di pimpin meneran jika ada his yang kuat. Karena pada prognosis awal ibu CPD dan ibu dapat melahirkan normal serta cepat karena adanya dengan bantuan OD, sehingga Kala II persalinan Ny “N” berjalan normal dan lebih cepat namun tidak ditemukan penyulit.

Setelah bayi lahir pukul 03.05 WIB, mengecek fundus secara dorsocranial menunggu adanya tanda-tanda pelepasan plasenta seperti semburan darah, tali pusat bertambah panjang, kontraksi uterus. Pukul 13.43 WIB, mengecek plasenta dengan kasa bagian maternal: jumlah kotiledon lengkap, keutuhan pinggir kotiledon, bagian fetal: utuh, tali pusat: insersi tali pusat, sentral, panjang tali pusat 45 cm. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam, jumlah perdarahan ± 150 cc.

Menurut Prawirohardjo (2010), kala III dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Pada kala III Ny.N berlangsung sesuai dengan pendapat Prawirohardjo yang mengatakan pengeluaran plasenta tidak lebih dari 30 menit yakni hanya membutuhkan waktu 12 menit.

Setelah proses persalinan dan pelepasan plasenta, buang bahan yang terkontaminasi, bersihkan ibu dan kenakan pakaian, dekontaminasi tempat persalinan, merendam alat bekas pakai dengan larutan klorin 0,5%. Pukul 04.20 WIB dilakukan pemantauan kondisi Ny. N selama 2 jam yaitu melakukan pemantauan tanda-tanda vital, perdarahan dan menilai kontraksi fundus uteri pada satu jam pertama 15 menit dan satu jam kedua 30 menit. Menurut Depkes (2010), kala IV yaitu melakukan pemantauan tanda-tanda vital, perdarahan dan menilai kontraksi fundus uteri pada satu jam pertama setiap 15 menit dan satu jam kedua setiap 30 menit. Masa post partum merupakan saat yang kritis untuk mencegah kematian ibu yaitu dilakukan pemantauan selama 2 jam.

Pada kala IV Ny “N” berjalan sesuai dengan pendapat Depkes setelah postpartum keadaan ibu yang harus diamati yaitu tanda-tanda vital, jumlah perdarahan, kontraksi uterus untuk mencegah komplikasi serta mencegah angka kematian ibu postpartum.

Secara keseluruhan pada tahap persalinan yaitu mulai dari kala I II,III dan IV tidak ditemukan adanya penyulit.

Kunjungan nifas dilakukan 4 kali yaitu dalam waktu 6-8 jam, 7 hari, 2 minggu dan 20 hari.Kunjungan nifas yang pertama pada tanggal 14 April 2017 jam 10.00 WIB, tekanan darah ibu : 100/70 mmHg, Nadi : 80 x/menit, suhu : 36,6˚C, kontraksi uterus keras, TFU 2 jari dibawah pusat, lochea rubra ± 50 cc dan ibu mengeluh ASI belum lancar dan ASI baru keluar ketika dilakukan palpasi payudara.

Menurut suherni (2009) perawatan payudara yang dilakukan dengan benar dan teratur akan memudahkan bayi dalam mengkonsumsi ASI serta mampu membantu merangsang produksi ASI dan mengurangi resiko luka saat menyusui.

Hasil pengkajian yang di dapatkan dari Ny “N” menunjukkan bahwa ASI nya masih belum lancar. Setelah di lakukan asuhan kebidanan di harapkan produksi ASI ibu dapat bertambah dengan cara mengajarkan pada ibu cara perawatan payudara dan setelah di ajarkan di harapkan ibu dapat mengaplikasikannya.

(7)

Kunjungan kedua pada tanggal 19 April 2017 jam 11.00 WIB, tekanan darah ibu : 100/70 mmHg, nadi : 80 x/menit, suhu : 36,8 ˚C, pernapasan 20 x/menit, TFU pertengahan antara pusat dan sympishis, lochea Sanguinolenta ± 20 cc, ASI sudah keluar, jahitan sudah menyatu,kering serta tidak ada tanda infeksi dan ibu mengatakan kaki yang sebelah kiri bengkak, terasa berat jika berjalan.

Menurut Reni Heryani (2012) Pembengkakan pada kaki selama nifas, dapat terbentuk thrombus sementara pada vena-vena manapun di pelvis yang mengalami dilatasi . Adapun penanganannya yaitu dengan tirah baring, elevasi ekstremitas yang terkena (meninggikan kaki yang bengkak), kompres panas , senam peregangan nifas terutama pada daerah kaki yang bengkak dan bila perlu di berikan analgesi (Dewi dan Sunarsih,2011).

Dari hasil pengkajian pada Ny “N” menunjukkan pada kunjungan kedua masa nifas, ibu mengalami bengkak pada kaki kiri yang menyebabkan terganggunya aktivitas ibu. Setelah di lakukannya asuhan kebidanan di harapkan ibu bersedia melakukan elevasi ekstremitas, kompres panas dan senam peregangan nifas terutama pada kaki yang bengkak dengan harapan dapat mengurangi rasa nyeri pada ibu.

Kunjungan ketiga pada tanggal 27 April 2017 jam 12.00 WIB, tekanan darah ibu : 100/70 mmHg, nadi : 78 x/menit, suhu : 36,8 ˚C, pernapasan 20 x/menit, TFU sudah masuk ke dalam panggul sehingga sulit untuk dilakukan palpasi, lochea serosa jumlah sedikit ± 5 cc, ibu mengatakan keadaannya sehat dan tidak ada keluhan.

Kunjungan keempat pada tanggal 16 Mei 2017 jam 12.00 WIB, tekanan darah ibu : 100/70 mmHg, nadi : 82 x/menit, suhu : 36,3 ˚C, pernapasan 20 x/menit, TFU tidak teraba, lochea alba jumlah sangat sedikit, ibu mengatakan tidak ada keluhan.

Menurut Suherni (2013), Lochea rubra berwarna merah tua selama 2 hari pasca persalinan, lochea sanguinolenta berwarna kuning berisi darah dan lendir 3-7 postpartum, lochea serosa berwarna kuning pada hari ke 7-14 postpartum, dan lochea alba cairan putih setelah 2 minggu sampai 6 minggu postpartum.

Berdasarkan hasil pemeriksaan pada Ny “N” tidak ditemukan adanya penyulit atau komplikasi dalam masa nifas.

Kunjungan pada bayi baru lahir di lakukan sebanyak 3 kali yaitu pada 0-48 jam, 3-7 hari dan 8-28 hari.Pengkajian bayi Ny “N” pada kunjungan pertama, by Ny “N” dalam keadaan sehat dan normal. Tanda-tanda vital dalam batas normal BB 3600 gram, PB 51 cm dan keadaan tali pusat normal tidak ada infeksi. Pada kunjungan kedua by Ny “N” dalam keadaan sehat, tanda-tanda vital dalam batas normal BB 3800 gram, PB 51 cm dan keadaan tali pusat sudah mengering. Pada kunjungan ketiga by Ny “N” dalam keadaan sehat, tanda-tanda vital dalam batas normal BB 4100 gram , PB 51 cm dan tali pusat sudah lepas.

Perawatan kebersihan bayi terdiri dari upaya menjaga kebersihan bayi, menyusui, perawatan tali pusat dan pemberian imunisasi (Bahiyatun ,2013).

Tanda bayi mendapat cukup ASI , Buang air kecil sebanyak 6 kali dalam sehari , Buang air besar bayi warna kuning dan berbiji, Bayi tampak puas saat menyusu, Berat badan bayi bertambah (Kemenkes ,2013).

Berdasarkan hasil pengkajian bayi Ny “N” selama 3 kali kunjungan tidak ditemukan adanya kelainan pada bayi yang ditandai dengan kondisi bayi setiap kali kunjungan selalu dalam keadaan stabil. Tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak kuning atau ikterus, bayi minum ASI dan isapan bayi kuat, BAB dan BAK lancar serta berat badan bayi pun bertambah.

Kunjungan keluarga berencana dilakukan sebanyak 1 kali. Pada tanggal 16 Mei 2017. Pada saat kunjungan didapatkan keadaan umum ibu baik, tidak ada keluhan.

(8)

Ibu diberikan konseling tentang KB, setelah dilakukan konseling diskusi dengan ibu dan meminta persetujuan suami maka ibu memilih menggunakan KB suntik 3 bulan.

Menurut BKKBN (2011), kontrasepsi suntikan 3 bulan mengandung progestin dengan jenis Depo Medroksi Progesteron Asetat mengandung 150 mg DMPA. Cara kerja nya yaitu membuat lendir serviks mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma dan pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur dengan sendirinya akan terganggu pula.

Berdasarkan hasil pengkajian, Ny “N” dan suami memutuskan memilih KB suntik 3 bulan karena Ny ”N” takut jika menggunakan KB jangka panjang.

D. SIMPULAN

Asuhan Kebidanan pada Ny ”N” G1P0000 dilakukan secara komprehensif, pendokumentasian dilakukan dengan metode Asuhan Kebidanan Manajemen yang mnggunakan SOAP. Penulis menyimpulkan bahwa dalam masa kehamilan dan persalinan terjadi ketidaksesuaian antara teori dengan praktik yang dalam hal ini bidan telah melampaui kewenangan yang telah diberikan.Menurut Permenkes Nomor 1464/Menkes/Per/X /2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan, dalam rangka pelaksanaan pengawasan, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota dapat memberikan tindakan administratif kepada bidan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan penyelenggaraan praktik dalam peraturan ini seperti teguran lisan,teguran tertulis, pencabutan SIKB/SIPB untuk sementara paling lama 1 (satu) tahun dan pencabutan SIKB/SIPB selamanya. Pada masa Nifas, BBL dan KB pada Ny. “N” sesuai dengan harapan dan berlangsung secara fisiologis. Hal ini merupakan manfaat dilakukan Asuhan Kebidanan Komprehensif yang sesuai dengan kebutuhan pasien dengan tujuan untuk menurunkan AKI dan AKB .

E. REKOMENDASI

1) Saran untuk institusi pendidikan

Institusi dapat mengembangkan praktik pembelajaran terutama penerapan continuity of care agar menjadi lebih efektif dan efisien sehingga kualitas sumber daya manusia yaitu mahasiswa meningkat dan dapat melaksanakan asuhan kebidanan secara continuity of care dengan baik dan tepat. 2) Bagi peneliti

Peneliti lebih menyempurnakan penelitian ini dengan mencari penanganan yang baru dan efektif untuk penanganan setiap masalah-masalah yang terjadi.

3) Bagi Pelayanan Kesehatan

Peningkatan pelayanan harus terus dilakukan dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat terutama pada ibu hamil dan bayi untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian. Puskesmas sebagai pelaksana teknik Dinas Kesehatan perlu melengkapi sarana pemeriksaan kehamilan untuk menyadari bahwa masalah kesehatan, khususnya ibu hamil adalah tanggung jawab tenaga kesehatan untuk mendeteksi dini kemungkinan kegawat daruratan.

F. DAFTAR PUSTAKA

Bahiyatun,2013. Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jogjakarta : Ar-ruzz Media BKKBN, 2011. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Bina Pustaka

(9)

Feni ermawati, 2013 Hubungan Antara Persalinan Induksi Oksitosin Drip Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum Di Rsud Dr.H.SoewondoKabupaten Kendal Leliana carolina, K.S.E.M, 2014. Hemorhoid Dalam Kehamilan . Volume 2, PP.

164-170

Manuaba, 2010. ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan KB untuk pendidikan bidan. jakarta: monica ester.

Myles, 2009. Buku Ajar Bidan. In m.A.c. Diane M fraster, ed. Myles Buku Ajar Bidan. 14th ed. Jakarta: EGC.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor1464/Menkes/Per/X/2010 prawirohardjo, s., 2008. ilmu kendungan. jakarta : PT bina pustaka sarwono

prawirohardjo.

prawirohardjo, s., 2010. ilmu kendungan. jakarta : PT bina pustaka sarwono prawirohardjo.

Profil Kesehatan Indonesia, P. K. I., 2015. Profil Kesehatan Indonesia. Indonesia, Kementrian Kesehatan RI.

Profil Kesehatan Kabupaten Mojokerto, P. K. I. J. T., 2014. Profil Kesehatan Kabupaten Mojokerto.Jawatimur, Indonesia.

suherni, h. w. r., 2009. perawatan masa nifas. yogyakarta: fitramaya.

ALAMAT CORRESPONDENSI

Email : Asyrotun.10@gmail.com Alamat : Sukorejo,Pasuruan No.Hp : 082141714370

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :