• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang Penelitian

Pajak adalah kegiatan membayar sejumlah uang kepada negara yang diatur oleh undang-undang yang berlaku yang digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah dan pembangunan (Ahira, 2012). Hal ini tercakup dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) dimana penerimaan dari pembayaran pajak ini adalah sumber pemasukan terbesar negara.Pajak juga merupakan salah satu pendapatan negara yang langsung dipungut dari berbagai objek pajak.Direktorat Jenderal Pajak yang secara struktural berada di bawah naungan Kementrian Keuangan merupakan salah satu instansi pemerintah yang mengemban tugas administrasi perpajakan ini. Dengan bermisikan menyelenggarakan fungsi administrasi perpajakan dengan menerapkan Undang-Undang Perpajakan secara adil dalam rangka membiayai penyelenggaraan negara demi kemakmuran rakyat, Direktorat Jenderal Pajak menurunkan misi tersebut kedalam misi fiskalnya, yakni untuk menghimpun penerimaan dari sektor pajak sehingga dapat menunjang pembiayaan pemerintah berdasarkan undang-undang perpajakan dengan tingkat efektifitas dan efisiensi yang tinggi (Annisa, 2011).

Mustikasari (2007) menyatakan bahwa di Indonesia masih menunjukkanadanya tax gap yaitu kesenjangan antara penerimaan pajak yang seharusnyaterhimpun dengan realisasi penerimaan pajak yang dapat dikumpulkan setiaptahunnya.Hal tersebut menyimpulkan bahwa meskipun angka penerimaan pajak yang tertera di dalam APBN terlihat besar sesungguhnya penerimaan pajak di Indonesia masih sangat rendah.

Reformasi pajak adalah salah satu upaya yang telah dilakukan dalam rangka meningkatkan jumlah penyampaian pajak.Reformasi sendiri berarti perubahan yang mendasar.Suatu sistem perpajakan hendaknya memiliki sifat quasi constitutionalyang

(2)

berarti sistem tersebut berlaku dalam jangka panjang dan tidak dapat sebentar-sebentar dilakukan reformasi.

Saat ini pemerintah mulai melirik sektor swasta yang dipastikan memiliki potensi yang besar untuk pemasukan pajak, yaitu dari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), omzet dan labanya memang jauh lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan besar.Namun keberadaan usaha ini yang hampir dapat dijumpai di sepanjang jalan nyatanya mampu memberikan sumbangsih yang berarti bagi pertumbuhan ekonomi.Berdasarkan survei BPS, UMKM menyumbang 57% untuk PDB (Produk domestik bruto) sedangkan kontribusinya terhadap pajak hanya sebesar 5%. Jika sektor ini dapat dimaksimalkan perpajakannya maka akan memberikan dampak yang sangat positif bagi pemasukan kas negara.

Dalam upaya untuk meningkatkan pemenuhan kewajiban perpajakan secara sukarela (voluntary tax compliance) dan mendorong kontribusi penerimaan negara dari sektor UMKM, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013.Peraturan Perpajakan yang baru ini memiliki kelebihan yaitu tarif yang dianut lebih kecil dari tarif yang sebelumnya yaitu 1% dari omset. PP No.46 Tahun 2013 berlaku untuk Wajib Pajak Orang pribadi dan / atau Badan yang memiliki penghasilan bruto tertentu, yaitu penghasilan yang kurang dari 4,8 M terbatas pada penghasilan dari usaha.

Perubahan Undang-Undang Pajak Penghasilan ini bila dianalisis secara keseluruhan bagi wajib pajak badan akan memberikan keringanan beban pengenaan pajak penghasilan dibandingkan dengan peraturan yang berlaku sebelumnya. Jadi secara umum beban pajak penghasilan wajib pajak badan tahun 2013 dan seterusnya dapat menjadi lebih kecil dibandingkan dengan beban pajak penghasilan tahun 2008 dan sebelumnya. Hal ini memungkinkan timbulnya perilaku kecurangan untuk menggurangi tingkat pendapatan untuk memperoleh keuntungan beban pajak.

Menurut Lumbantoruan (2005) dalam Subagyo dan Oktavia (2010) Menghindari pajak dengan cara legal dapat dilakukan melalui manajemen pajak. Definisi manajemen pajak adalah sarana untuk memenuhi kewajiban perpajakan

(3)

dengan benar tetapi jumlah pajak yang dibayar dapat ditekan serendah mungkin untuk memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan.Tujuan dari manajemen pajak dapat dicapai melalui fungsi-fungsi manajemen pajak yang terdiri atastax planning atau perencanaan pajak, tax implementation atau pelaksanaan kewajiban perpajakan, dan

taxcontrol atau pengendalian pajak. Definisi tax planning (Suandy, 2006)dalam

Subagyo dan Oktavia (2010) adalah langkah awal dalam manajemen pajak, pada tahap ini dilakukanpengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan, dengan maksud dapat diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akandilakukan, atau dengan kata lain meminimumkan kewajiban pajak.Tax planning

bisa dilakukan dengan dua cara, Mardiasmo (1992) dalam Subagyo dan Oktavia (2010) yaitu dari sisi formal dan sisi material, dari sisi formal, tax planningdilakukan dengan melakukan penghematan pajak dari aspek perpajakan yang bersifat administratif, sebagai contoh: menggeser pembayaran pajak pada hari batas akhir tanggal pembayaran, berusaha menjadi Wajib Pajak Kriteria Patuh agar mendapat beberapa fasilitas khusus dari kantor pajak atau menyimpan data agar memudahkan perusahaan saat terjadinya pemeriksaan pajak. Tax planning dari sisi material biasa dilakukan dengan cara memilih kebijakan dan metode akuntansi yang sesuai dengan tujuan perusahaan.

Pemilihan kebijakan dan metode akuntansi ini bisa dilakukandengan pemilihan metode akuntansi maupun smoothing discretionaryaccrual (Scott, 2003) dalam Alim (2009).Tax planning dari sisi material dengan pemilihan kebijakan dan metode akuntansi dengan harapan mempengaruhi besar penghasilan kena pajak ini dalam literatur teori akuntansi dikenal dengan earning management atau manajemen laba dengan motivasi perpajakan.

Besar atau kecil pajak penghasilan suatu perusahaan sangat terkait dengan sistem akuntansi yang dilakukan perusahaan tersebut. Pajakpenghasilan adalah suatu jenis pajak yang dikenakan pada subjek pajakatas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam satu tahun pajak.Penghasilan suatu perusahaan akan dihitung dari catatan-catatan, bukuserta dokumen pendukung lainnya yang dikelola dalam suatu

(4)

sistemakuntansi yang dilakukan oleh perusahaan. Sistem akuntansi yangdilakukan dengan baik akan menghasilkan perhitungan laba (rugi) bersih perusahaan dan dijadikan dasar untuk menghitung penghasilanperusahaan tersebut pada suatu tahun tertentu.

Secara sepintas, seharusnya pajak penghasilan tidak akan membawa masalah yang berarti bagi penyelenggaraan suatu sistem akuntansi di suatu perusahaan, dengan penyelenggaraan akuntansi yang normal, pajak penghasilan akan dengan sendirinya terhitung, karena pajak penghasilan adalah bagian dari laba bersih perusahaan. Bagi Pemerintah, pajak mempunyai fungsi budgeter yaitu fungsi pajak sebagai sumber penerimaan negara, berdasarkan fungsi ini, pajak adalah bagian laba perusahaan yang seharusnya dibagikan ke Pemerintah untuk menjalankan roda pemerintahan, tentu saja, bagi Pemerintah, semakin besar pajak yang disetorkan perusahaan, akan semakin baik. Di sisi yang lain, pajak bagi perusahaan lebih sering dianggap sebagai pos pengurang laba bersih yang seharusnya bisa diminimalkan. Pajak diakui sebagai elemen utama dalam kebijakan pengeluaran perusahaan Modigliani dan Miller(1958) dalam Alim (2009), bagi perusahaan, pajak penghasilan adalah bagian laba bersih yang dibagikan ke pihak lain (Pemerintah), sehingga pajak akan mengurangi bagian laba yang seharusnya dapat dibagikan ke pihak manajemen, pemilik modal atau dimanfaatkan untuk peningkatan investasi perusahaan, berdasarkan penelitian Maydew (1997) dan Guenther (1994) dalam Alim (2009) disimpulkan bahwa motivasi pajak dari pihak insider/manajemen perusahaan merupakan elemen penting dari kebijakan pengeluaran perusahaan.

Dalam praktik bisnis, earning atau laba biasanya sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan oleh berbagai pihak yang berkepentingan, misalnya sebagai dasar untuk menambahkan modal untuk meningkatkan kinerja, digunakan sebagai dasar untuk menghitung penghasilan kena pajak, dan bisa juga digunakan untuk kriteria penilaian kinerja perusahaan. Dengan diberlakukannya tarif pajak penghasilan 2013 ini UMKM tentunya akan memanfaatkannya dengan membayar pajak sekecil mungkin. Salah satunya caranya dengan melakukan praktik

(5)

meningkatkan profit margin. Oleh karena itu biasanya pemilik atau pimpinan sering juga memanfaatkan peluang untuk merekayasa angka laba (earning management) dengan rekayasa akrual untuk mempengaruhi hasil akhir dari berbagai keputusan antara lain meminimalkan beban pajak penghasilan yang harus dibayar oleh perusahaan (Hidayati dan Zulaikha, 2003).

Rasio Profit margin menurut Riyanto (1999:37) adalah perbandingan antara

net operating income dengan net sales. Dengan kata lain dapatlah dikatakan bahwa

rasio profit margin adalah selisih antara net sales dengan operating expenses ( harga pokok penjualan + biaya adminitrasi ditambah biaya umum), selisih mana dinyatakan dalam persentase dari net sales. Gross margin ratio adalah merupakan ratio atau perimbangan antara gross profit (laba kotor) yang diperoleh perusahaan dengan tingkat penjualan yang dicapai pada periode yang sama (Munawir, 2001:99).

Pengertian manajemen laba oleh Merchan dan Rockness (1994) dalam Subagyo dan Oktavia (2010) didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan untuk mempengaruhi laba yang dilaporkan yang bias memberikan informasi mengenai keuntungan ekonomis (economic advantage) yangsesungguhnya tidak dialami perusahaan, yang dalam jangka panjang tindakan tersebut bisa merugikan perusahaan. Ketika pemerintah menetapkan tarif baru untuk wajib pajak badan, hal ini akan membuat mereka untuk memanfaatkan kesempatan ini. Kewajiban manajemen perusahaan yang dituntut untuk menghasilkan laba seoptimum mungkin mengakibatkan mereka memanfaatkan setiap celah yang ada.Perubahan tarif dari tarif tungal menjadi tarif final 1% sebenarnya sudah menguntungkan UMKM yang bermargin besar. Tetapi adanya perbedaan tingkatmargin yang dihasilkan oleh UMKM membuat mereka memberikan informasi pendapatan yang palsu atau bias agar pajaknya juga menjadi kecil. Dengan kata lain, pengusahaakanmenurunkan laba mereka dari yang sebenarnya agar kewajiban pajaknya juga semakin kecil.

Sedangkan dalam industri perkebunan kelapa sawit apabila suatu badan memulai usahanya dimulai dari porses land clearingmaka selama tiga tahun di awal

(6)

merupakan proses investasi pembangunan lahan kebun sawit dimana dari proses pembibitan menjadi tanaman belum menghasilkan, setelah tiga tahun pohon sawit tersebut sudah mulai berbuah dan bisa dipanen akan tetapi sampai tahun ke tujuh proses panen buah kelapa sawit atau yang biasa di sebut TBS (Tandan Buah Segar) masih lebih besar biaya produksi di banding dengan harga jual TBS tersebut, sehingga kondisi ini memungkinkan bahwa perusahaan perkebunan sawit harus siap merugi selama 7 hingga 8 tahun, hal ini di karenakan kandungan minyak dalam TBS masih sedikit sehingga membuat harga TBS jauh lebih murah di bandingkan dengan usia pohon diatas 10 tahun. Dengan terbitnya peraturan baru yaitu PP No 46 Tahun 2013 mengenai pajak penghasilan dengan peredaran bruto tertentu hal ini sangat berpengaruh terhadap keuangankoperasi yang dimana pada awal masa panen harusmengalami kerugian imbas dari biaya produksi yang belum tertutupi dari penjualan TBS sedangkan dampak dari kebijakan baru pemerintah harus mewajibkan koperasi tetap membayar pajak final 1% yang dihitung dari omzet penjualan, serta tidak adanya penangguhan pajak. Hal ini justru sangat memberatkan bagi pihak koperasi harus membayar pajak dalam kondisi merugi.

Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah UMKM akan melakukan penentuan ulang margin profit sebagai respon atas perubahan tarif pajak badan di Indonesia untuk perdearan bruto tertentu.Kontribusi pertama dari penelitian ini adalah menguji apakah UMKM di Indonesia melakukan restruktur margin profit sebagai respon atas diberlakukannya PP No. 46 Tahun 2013 Tentang Pajak Penghasilan.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul :

“PENGARUH PERUBAHAN TARIF PAJAK PENGHASILAN (PP

No 46 Tahun 2013) TERHADAP PROFIT MARGIN PADA

KOPERASI BINAAN BUMITAMA GUNAJAYA AGRO”.

(7)

1.2 Identifikasi Masalah

Sesuai dengan latar belakang penelitian yang telah dikemukakan diatas maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana profit margin UMKM jika menggunakan UU No 36 Tahun 2008 dibandingkan dengan PP 46 Tahun 2013 ?

2. Apakah tingkat profit margin mempengaruhi beban pajak yang harus dibayar setelah diberlakukan perubahan tarif pajak Badan di Indonesia (PP No.46 Tahun 2013 Tentang Pajak Penghasilan).

3. Apakah PP No 46 Tahun 2013 yang diterapkan berpengaruh terhadap laba bersih koperasi ?

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah diungkapkan dapat diketahui bahwa tujuan penelitian ini adalah:

1. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dampak dari diberlakukannya perubahan tarif pajak badan di Indonesia (PP No. 46 tahun 2013 Tentang Pajak Penghasilan) terhadap tingkat margin profit.

2. Untuk menguji apakah laba bersih koperasi yang bergerak di bidang agribisnis yang terdaftar menjadi koperasi binaan Bumitama Agri Ltd mendapatkan respon positif atas perubahan tarif pajak badan di Indonesia.

3. Untuk memberikan bukti empiris apakah PP No.46 Tahun 2013 yang diterapkan oleh koperasi efisien digunakan pada koperasi yang memiliki

(8)

1.4 Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan yang diperoleh atau diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi penulis, mahasiswa, atau akademisi, penelitian ini diharapkan mendorong munculnya diskusi para akademisi mengenaidampak dari diberlakukannya perubahan tarif pajak badan di Indonesia (PP No. 46 tahun 2013 Tentang Pajak Penghasilan Peredaran Bruto Tertentu).

2. Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan kajian teoritis, khususnya mengenai akuntansi, manajemen dan perpajakan.

3. Bagi pihak lain, hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu rekan-rekan mahasiswa maupun pihak-pihak lain yang membutuhkan informasi dan sebagai referensi dalam penelitian sejenis yang dibahas oleh penulis.

1.5 Batasan Penelitian

Penulis melakukan suatu pembatasan pada ruang lingkup penelitian dengan tujuan agar penelitian dapat dilakukan secara terarah dan hasil yang diperoleh dapat sebaik-baiknya. Adapun pembatasan penelitian dilakukan diantaranya :

1. Penelitian ini dilakukan untukmengetahui seberapa besar tingkat laba bersih yang diperolehkoperasi dengan membandingkan PP No. 46 Tahun 2013 dengan UU No.36 Tahun 2008.

2. Penelitian hanya difokuskanuntukmengetahui dampak dari diberlakukannya perubahan tarif pajak badan di Indonesia (PP No. 46 tahun 2013 Tentang Pajak Penghasilan) terhadap laba bersih.

3. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya nilai keadilan dari penerapan PP No.46 tahun 2013.

(9)

4. Penelitian hanya difokuskan pada koperasi yang bergerak pada sektor perkebunan sawit.

1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

Dalam rangka penulisan skripsi ini penulis melakukan penelitian untuk mendapatkan data-data yang diperlukan melalui koperasi yang menjadi binaanBumitama Agri Ltd antara tahun 2013-2014.Adapun waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2015 sampai dengan bulan Juli 2015.

Referensi

Dokumen terkait

Apakah Hutang Jangka Pendek, Hutang Jangka Panjang dan Modal Sendiri secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Laba Bersih Sebelum Pajak pada

Penelitian diperusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2013 perusahaan yang terkoneksi politik membayar pajak penghasilan badan lebih rendah dari

Manajemen mengharapkan dengan tindakan perataan laba (income smoothing) ini pasar akan bereaksi lebih kuat terhadap perusahaan yang melakukan perataan laba yaitu dengan meningkatnya

Judul penelitian yang diangkat pada penelitian ini adalah “Analisis Pengaruh Perencanaan Pajak dan Beban Pajak Tangguhan terhadap Manajemen Laba pada Perusahaan

Penerimaan Pajak Penghasilan seperti yang diuraikan diatas dalam kaitannya dengan penerapan norma penghitungan pajak penghasilan, khususnya terhadap Wajib Pajak Orang

Namun, jika suatu perusahaan memiliki laba atau keuntungan yang tinggi akan berdampak pada peningkatan pajak penghasilan perusahaan di mana hal tersebut tentunya sulit

Hal ini seperti penelitian Modigliani & Miller (1958) mengatakan bahwa kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, karena nilai perusahaan

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, terjadi peningkatan piutang di perusahaan yang sangat besar akibat adanya kebijakan perusahaan untuk mengutamakan dalam