ARTIKEL SEJARAH DAN SISTEM PENDIDIKAN DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 1 SERIRIT BERDASARKAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

Teks penuh

(1)

ARTIKEL

J

J

U

U

D

D

U

U

L

L

SEJARAH DAN SISTEM PENDIDIKAN DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

(SMA) NEGERI 1 SERIRIT BERDASARKAN KURIKULUM TINGKAT

SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

O

O

l

l

e

e

h

h

K

K

A

A

D

D

E

E

K

K

A

A

Y

Y

U

U

S

S

U

U

T

T

A

A

R

R

M

M

I

I

N

N

I

I

N

N

G

G

S

S

I

I

H

H

N

N

I

I

M

M

.

.

1

1

0

0

1

1

4

4

0

0

2

2

1

1

0

0

2

2

9

9

J

J

U

U

R

R

U

U

S

S

A

A

N

N

P

P

E

E

N

N

D

D

I

I

D

D

I

I

K

K

A

A

N

N

S

S

E

E

J

J

A

A

R

R

A

A

H

H

F

F

A

A

K

K

U

U

L

L

T

T

A

A

S

S

I

I

L

L

M

M

U

U

S

S

O

O

S

S

I

I

A

A

L

L

U

U

N

N

I

I

V

V

E

E

R

R

S

S

I

I

T

T

A

A

S

S

P

P

E

E

N

N

D

D

I

I

D

D

I

I

K

K

A

A

N

N

G

G

A

A

N

N

E

E

S

S

H

H

A

A

S

S

I

I

N

N

G

G

A

A

R

R

A

A

J

J

A

A

2

2

0

0

1

1

4

4

(2)

Sejarah dan Sistem Pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1

Seririt Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Oleh

Kadek Ayu Sutarminingsih1, Dr. Tuty Maryati, M.Pd1, Ketut Sedana Artha, S.Pd, M.Pd2 Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja

e-mail: ayusutarminingsih@yahoo.com, tuty_maryati_ragil@yahoo.co.id, sedana.arta@gmail.com

@undiksha.ac.id

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) sejarah dan perkembangan SMA Negeri 1 Seririt mulai dari periode filial SMA Negeri 1 Singaraja sampai periode berdiri sendiri sebagai SMA Negeri 1 Seririt (2) sistem pendidikan yang berkembang di SMA Negeri 1 Seririt pada masa pemberlakuan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Penelitian ini merupakan penelitian historis dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan langkah-langkah: (1) Teknik Pengumpulan Data dilakukan melalui: observasi, wawancara, dan studi dokumen, (2) Kritik Sumber (kritik ekstern dan intern), (3) Interpretasi (Analisis Data), dan (4) Historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) SMA Negeri 1 Seririt merupakan sekolah yang memiliki perjalanan history yang cukup panjang. Berdirinya SMA Negeri 1 Seririt dilatarbelakangi adanya beberapa faktor, yakni faktor politik ekonomi dan politik strategis. Perkembangan SMA Negeri 1 Seririt yang sangat pesat karena merupakan satu-satunya sekolah negeri di Seririt, sehingga menjadikannya sekolah mandiri yang awalnya merupakan filial SMA Negeri 1 Singaraja. (2) Sistem pendidikan di SMA Negeri 1 Seririt ketika pemberlakuan kurikulum KTSP mampu menorehkan berbagai prestasi baik dibidang akademik maupun non akademik.

Kata kunci : Filial, Sejarah, Sistem Pendidikan

This study aims to determine (1) the history and development of the SMA Negeri 1 Seririt filial period ranging from SMA Negeri 1 Singaraja to the period stands alone as the SMA Negeri 1 Seririt (2) the education system is developing in SMA Negeri 1 Seririt on the enactment of the educational unit level curriculum. This research is historical research using qualitative approach with measures: (1) engineering data collection done through: observation, interview, and document research, (2) source criticism (external criticism and internal criticism), (3) interpretation (data analysis), and (4) historiography (the writing of history). The results showed that (1) SMA Negeri 1 Seririt is a school that has a fairly long history travel. The establishment of the SMA Negeri 1 Seririt backed by a number of factors, the political factors of strategic economic and political. The development of SMA Negeri 1 Seririt very rapidly because is the only public school in Seririt, making it an independent school which was originally a filial SMA Negeri 1 Singaraja. (2) The education system in SMA Negeri 1 Seririt when enforcement of the curriculum unit level education capable of applying various achievements in the field of both academic and non academic.

(3)

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha manusia untuk membina kepribadian sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat atau suatu upaya membantu peserta didik untuk mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan, kecakapan, nilai, sikap dan pola tingkah laku yang berguna bagi hidup. Pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Pendidikan bukanlah menghilangkan harkat dan martabat sebagai manusia. Oleh karena itu pendidikan sifatnya mempengaruhi bukan menghilangkan, sebab tidak ada yang hilang dalam proses pendidikan. Hanya sifatnya mempengaruhi hal-hal yang kurang baik ke arah yang baik dan mengembangkan potensi yang positif menjadi maksimal sesuai dengan potensinya (Suyasa, 2005 : 16). Pendidikan merupakan hal yang pantas diberikan oleh setiap umat manusia baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Pentingnya pendidikan tidak bisa dibuat-buat, bukan saja demi perkembangan pribadi, tetapi juga bagi proses pembangunan sebuah negara (Muller, 2001 : 123).

Pendidikan dijamin oleh negara. Bertalian dengan pendidikan dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat 1 berbunyi: Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Ayat 2 pasal ini berbunyi: Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Ayat 3 pasal ini berbunyi: Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia. Ayat 4 pasal ini berbunyi: Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan belanja Negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Ayat 5 pasal ini berbunyi: pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk mewujudkan pasal 31 tersebut pemerintah mendirikan sekolah.

Sekolah adalah salah satu lembaga yang mempunyai peran strategis, terutama dalam mendidik dan menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam memegang estafet generasi sebelumnya. Keberadaan sekolah sebagai sub sistem tatanan kehidupan sosial, menempatkan lembaga sekolah sebagai bagian dari sistem pendidikan. Sebagai bagian dari sistem pendidikan dan lembaga sosial, sekolah harus peka dan tanggap dengan harapan dan tuntutan masyarakat sekitarnya. Sekolah diharapkan menjalankan fungsinya dengan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan optimal dan mengamankan diri dari pengaruh negatif lingkungan sekitar. Sehingga pada lingkungan sekolah hendaknya setiap individu dapat berkembang semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuannya (Idris, 1992 : 90).

Masyarakat sadar akan arti pentingnya pendidikan dan yang pertama dilakukan adalah melakukan pendirian sekolah di berbagai wilayah. Sebagai jaminan bahwa semua warga negara berhak mendapatkan pendidikan maka pendirian sekolah di berbagai wilayah baik itu di dalam kota maupun pinggiran kota menjadi mutlak dilakukan. Walaupun dalam implementasinya penyelenggaraan pendidikan baru bisa dilakukan secara bertahap.

Singaraja merupakan salah satu kota yang mendapat julukan kota Pendidikan. Hal ini merupakan sebuah kebanggaan baik untuk pemerintah maupun masyarakat. Terkait dengan hal itu, Singaraja yang merupakan salah satu kota yang berada di wilayah pulau Bali berusaha memajukan pendidikan yaitu dengan cara mendirikan sekolah-sekolah baik dari tingkat SD, SMP, SMA, SMK maupun Perguruan Tinggi. Julukan untuk kota Singaraja sebagai Kota Pendidikan memang tidak didapat secara instan, butuh waktu bertahun-tahun untuk diakui sebagai salah satu kota pendidikan, hal ini dapat dilihat dari sejarahnya sudah dikenal sebagai salah satu kota pendidikan sejak awal kemerdekaan RI. Hal ini dapat dilihat

(4)

dari SMA Negeri 1 Singaraja sudah berdiri sejak awal kemerdekaan.

SMA Negeri 1 Singaraja yang secara resmi berdiri pada 1 November 1958 merupakan sekolah menengah atas tertua di wilayah Bali dan Nusa Tenggara. Pada tahun 1967 SMA Negeri 1 Singaraja mendirikan sekolah filial. Meskipun Buleleng dibagi kepada 9 kecamatan, yaitu: Gerokgak, Seririt, Busungbiu, Banjar, Buleleng, Sukasada, Sawan, Kubutambahan, dan Tejakula. Namun SMA Negeri 1 Singaraja memilih lokasi sekolah filialnya di Seririt. Pemilihan lokasi di Seririt didasarkan karena letaknya yang strategis dibandingkan dengan kecamatan lainnya yang ada di wilayah kabupaten Buleleng. Selain itu, Seririt merupakan kota kecamatan sentra ekonomi di wilayah Buleleng Barat.

SMA Negeri 1 Seririt merupakan sekolah tertua jika dibandingkan sekolah-sekolah lainnya seperti misalnya; SMA Negeri 1 Banjar, SMA Negeri 2 Banjar, SMA Negeri 1 Gerokgak, dan lain-lainnya. SMA Negeri 1 Seririt filial SMA Negeri 1 Singaraja didirikan pada tahun 1967. Sejak tanggal 1 Januari 1975 SMA Negeri 1 Seririt filial SMA Negeri 1 Singaraja berubah status menjadi SMA Negeri 1 Seririt.

Ketika diberlakukannya kurikulum KTSP, SMA Negeri 1 Seririt semakin menunjukkan eksistensi dan kemandiriannya. Ini dibuktikan dengan masyarakat yang berlomba-lomba untuk mendaftarkan anak-anaknya di SMA Negeri 1 Seririt yang merupakan sekolah favorit. Mereka yang bisa masuk ke SMA Negeri 1 Seririt merupakan siswa-siswi pilihan, yang ditentukan dengan berbagai persyaratan dan juga menempuh serangkaian tes. Selain itu, keberhasilan dari pelaksanaan kurikulum KTSP tidak terlepas dari dukungan para guru-guru yang sudah senior dan juga berpengalaman di bidangnya. Dengan berbagai sumbangan pemikiran dan tindakan nyata untuk mewujudkan keberhasilan sekolah.

Berdasarkan latar belakang di atas, ada dua hal yang menarik untuk diteliti yaitu: (1) sejarah dan perkembangan SMA Negeri 1 Seririt mulai dari periode filial SMA Negeri 1 Singaraja sampai periode berdiri sendiri sebagai SMA Negeri 1 Seririt, dan (2) sistem pendidikan yang berkembang di SMA Negeri 1 Seririt pada masa pemberlakuan kurikulum KTSP.

METODE PENULISAN

Dalam kaitanya dengan penelitian tentang “Sejarah dan Sistem Pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Seririt Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)” maka metode yang dipakai adalah metode penelitian sejarah. Adapun langkah-langkah dari metode penelitian sejarah tersebut sebagai berikut.

(1) Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan kajian dokumen.

(2) Teknik Kritik Sumber

Pada penelitian ini teknik kritik sumber merupakan upaya untuk menentukan keabsahan sumber yang didapatkan (3) Teknik Analisis Data

Tafsiran atau interpretasi artinya memberikan makna dari hasil penelitian, menyelesaikan pola atau kategori, mencari hubungan antara berbagai konsep

(4) Teknik Historiografi

Historiografi (penulisan sejarah) bertujuan untuk mendapatkan gambaran sejarah yang mendalam dan untuk menyusun fakta sejarah agar menjadi cerita sejarah yang menarik.

(5)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejarah SMA Negeri 1 Seririt dari Filial SMAN 1 Singaraja Sampai Mandiri

SMA Negeri 1 Seririt terletak di kota Seririt merupakan kota kecamatan sentra ekonomi di wilayah Buleleng barat, dengan koordinat 8o 11’ 36,42” lintang selatan dan 114o 55’ 58,84” Bujur Timur dengan penduduk heterogin berjumlah 6.005 jiwa. Beriklim sedang dan dibatasi sebelah timur Desa Sulanyah, disebelah selatan Desa Bubunan, dan Patemon, disebelah barat Desa Lokapaksa dan disebelah Utara Desa Pengastulan.

Seririt sebagai salah satu kota terbesar setelah Singaraja di Kabupaten Buleleng, memiliki banyak potensi dalam berbagai bidang. Selain padatnya lalu lintas akibat pusat perdagangan, Seririt juga memiliki potensi yang besar dalam bidang pendidikan. Satu-satunya Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ada di Seririt adalahSMA Negeri 1 Seririt, yang lokasinya sebelah barat pusat kota Seririt kurang lebih 0.8 Km tepatnya di jalan Diponegoro No. 100 Seririt.

SMA Negeri 1 Seririt merupakan sekolah yang memiliki perjalanan history

yang cukup panjang. Berdirinya SMA Negeri 1 Seririt dilatarbelakangi adanya beberapa faktor, yakni faktor politik. Politik selalu mampu mempengaruhi pendidikan, tetapi tidak dapat dikatakan bahwa pendidikan mampu mempengaruhi politik baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Mereka yang dibesarkan dalam dunia pendidikan biasanya percaya bahwa pendidikan jangka pendek maupun jangka panjang mempengaruhi segala-galanya, termasuk politik.

Pendidikan publik bersifat politis karena dikontrol oleh pemerintah dan mempengaruhi kredibilitas pemerintah. Karena besarnya nuansa politik dari kebijakan-kebijakan pendidikan, maka berbagai faktor politis yang tidak ada hubungannya dengan pendidikan turut mempengaruhi bagaimana kontrol terhadap pendidikan dan bagaimana kebijakan-kebijakan yang dibuat.

SMA Negeri 1 Seririt didirikan pada pada tahun 1967 dan merupakan sekolah filial SMA Negeri 1 Singaraja, dimana SMA ini merupakan cabang dari SMA Negeri 1 Singaraja. Mengingat perkembangannya yang cukup pesat akhirnya SMA di bangun di Kecamatan Seririt. Sejak tanggal 1 Januari 1975 SMA Negeri 1 Seririt Filial SMA Negeri 1 Singaraja berubah status menjadi SMA Negeri 1 Seririt, dengan No. SK. 0270 / O / 1974 Tanggal 7 Desember 1974. Tahun 1967 - 1975 SMA Negeri 1 Seririt merupakan Filial SMA Negeri 1 Singaraja. Tahun 1975, setelah menjadi sekolah mandiri, SMA Negeri 1 Seririt sedang menapak membenahi diri dalam menciptakan kerjasama, antar warga sekolah untuk menuju sekolah yang berprestasi baik akademik maupun non akademik.

SMA Negeri 1 Seririt menjadi sekolah mandiri dengan alasan antusias masyarakat yang begitu tinggi ingin menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ini. Alasan lainnya adalah politik diantaranya yaitu alasan politik-ekonomi, dimana pihak sekolah dapat membeli lahan dengan harga yang lebih murah serta alasan politik-strategis, letak SMA Negeri 1 Seririt yang sangat strategis berada di pusat kecamatan. Alasan lainnya karena merupakan satu-satunya sekolah negeri yang ada di kecamatan Seririt.

Pergantian kepemimpinan SMA Negeri 1 Seririt yang silih berganti tentunya membawa dampak yang sangat besar terhadap perkembangan SMA Negeri 1 Seririt kearah yang lebih maju. Perkembangan SMA Negeri 1 Seririt Seririt ini selanjutnya mengalami perubahan dalam kategori sekolah, sekolah ini ditetapkan sebagai Rintisan Sekolah Kategori Mandiri (RSKM) oleh Dinas Pendidikan Provinsi Bali melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng menuju suatu kemandirian dalam mengabdikan diri dalam mewujudkan visi sekolah pada tahun 2008. Status sebagai sekolah mandiri masih tetap bisa dipertahankan SMA Negeri 1 Seririt karena

(6)

perkembangannya yang sangat pesat menuju kearah yang lebih baik lagi kedepannya.

Mulai dari awal berdirinya (1975) sampai dengan tahun 2013 sudah terjadi pergantian kepemimpinan kepala sekolah sebanyak enam kali, diantaranya yaitu yang pertama kali menjabat di SMA Negeri 1 Seririt pada periode tahun 1975-1989 adalah Bapak Suradnya Inggas (alm.) beliau menjabat cukup lama yakni 15 tahun, kepala sekolah yang kedua adalah bapak Dewa Putu Jember (alm.) masa kepemimpinannya adalah selama 8 tahun (1990-1997), yang ketiga bapak Srengen periode kepemimpinannya adalah tahun 1995-1998, keempat pak Nyoman Darta beliau menjadi kepala sekolah yakni dari periode tahun 1999-2002, yang kelima adalah bapak Putu Widiarsa yang menjabat selama dua periode yakni tahun 2003-2010 dan kini beliau telah dipindah tugaskan sebagai pengawas dan yang keenam memimpin dari periode 2010-2013 adalah bapak Ketut Sutaya yang kini beliau dipindahkan ke SMKN 1 Seririt yang lokasi berada di Lokapaksa. Masing-masing memiliki peranan yang sangat penting terhadap perkembangan dan kemajuan dari SMA Negeri 1 Seririt, salah satunya mampu memperoleh berbagai prestasi yang membanggakan baik dibidang akademik maupun non-akademik yang menandakan bahwa sekolah ini sudah mampu menjadi sekolah mandiri.

Mengenai status guru-guru yang ada ketika pemberlakuan sekolah filial ini, guru-guru di SMA Negeri 1 Seririt ada sebagian yang sudah menjadi pegawai negeri dan juga guru honorer atau guru bantu. Terkait dengan evaluasi, tentu saja dalam setiap perkembangan sekolah dilakukan evaluasi untuk mengukur sejauh mana keberhasilan sekolah ini. Evaluasi ini juga yang menjadikan SMA Negeri 1 Seririt bisa diperhitungkan untuk menjadi sekolah mandiri.

Sistem Pendidikan di SMA Negeri 1 Seririt Ketika Pemberlakuan KTSP

Berawal dari makna “curir” dan “curere”, kurikulum berdasarkan istilah diartikan sebagai “jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh medali atau penghargaan”. Pengertian tersebut kemudian diadaptasikan ke dalam dunia pendidikan dan diartikan sebagai “sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal hingga akhir program demi memeroleh ijazah”.

Menurut catatan sejarah, dunia pendidikan di Indonesia telah mengalami perubahan kurikulum sebanyak 9 kali. Kurikulum pertama tahun 1947 dikenal dengan Leer Plan (Rencana Pelajaran) yang lebih besar dengan nuansa politik Belanda. Kedua, tahun 1952 yang disebut dengan Rencana Pelajaran Terurai yang lebih merinci silabus setiap mata pelajaran. Di tahun 1964, kurikulum ketiga bernama Rentjana Pendidikan yang menitik beratkan pada pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan dan jasmani atau Pancawardana (Hamalik, 2007). Empat tahun kemudian, tahun 1968 dinamai dengan Kurikulum 1968 yang merupakan pergantiaan keempat, sebagai penyempurnaan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa Pancasila. Kemudian yang kelima, berubah lagi di tahun 1975 dengan nama Kurikulum 1975 yang lebih efisien dan efektif dengan konsep bidang manajemen atau disebut MBO (Management by Objective) dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Di perubahan keenam

terjadi tahun 1984 disebut Kurikulum 1984 yang lebih mengusung Skiil Approach ( Pendekatan Keahlian) dengan model yang disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL). Ketujuh, tahun 1994 dan 1999 yang disebut dengan kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999 yang memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya dan materi muatan lokal disesuaikan dengan daerah masing-masing. Di tahun 2004, kurikulum

(7)

yang kedelapan disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang setiap pelajaran diuraikan berdasarkan kompetensi yang harus dicapai siswa, tapi hasilnya kurang memuaskan. Yang selanjutnya di tahun 2006 diganti dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang memfokuskan pada isi dan proses pencapaian target kompetensi siswa melalui Kompetensi Dasar (KD), Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD) (Simanjuntak, 2012 : 2).

Sebagai salah satu sekolah negeri, kehadiran SMA Negeri 1 Seririt ini sejak berdirinya banyak mengalami perkembangan, baik dari segi siswa, guru, fasilitas maupun sistem yang digunakan. Secara lebih mengkhusus, peneliti akan memaparkan perkembangan SMA Negeri 1 Seririt berdasarkan pada penggunaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah dikembangkan. Selain menyesuaikan dengan satuan pendidikan, perkembangan dari KSTP juga disesuaikan dengan potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat dan disesuaikan pula dengan perkembangan dari peserta didik dengan harapan suksesnya pelaksanaan KTSP.

Terdapat beberapa tujuan mengapa pemerintah memberlakukan KTSP pada setiap jenjang pendidikan. Tujuan tersebut dijabarkan sebagai berikut.

1. Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan suatu pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara

partisipatif dalam pengembangan kurikulum.

2. Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah : a) Meningkatkan mutu pendidikan

melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.

b) Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.

c) Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendididikan yang akan dicapai (Mulyasa 2006: 22-23).

1) Masukan (Input)

Siswa yang bersekolah di SMA Negeri 1 Seriritdatang dari berbagai daerah. Siswa yang masuk ke SMA ini dapat melalui berbagai jalur seperti TPA, Prestasi dan Miskin. SMA Negeri 1 Seriritmerupakan salah satu dari 3 SMA yang ada di Kabupaten Buleleng yang menyelenggarakan tes potensi akademik (TPA). Tes ini diadakan pada sebulan sebelum penerimaan siswa baru. Siswa kelas XI dan XII terbagi ke dalam tiga program studi yakni program studi Ilmu Alam (IA), Ilmu Sosial (IS) dan Ilmu Bahasa (IB). Pemilihan program studi didasarkan minat dan bakat siswa dipadukan dengan perolehan nilai rapor siswa.

Kebanyakan orangtua siswa memiliki profesi sebagai petani, buruh dan PNS. Siswa mampu membayar biaya administrasi sekolah tepat waktu. Ini membuktikan ekonomi keluarga siswa baik. Namun tidak memungkiri ada kalangan siswa yang tergolong kurang mampu. Karena hal ini pihak sekolah juga memberi kebijakan kepada siswa untuk membayar dengan

(8)

rentangan waktu maksimal 2 bulan. Sekolah memberikan beasiswa bagi siswa yang kurang mampu dan bagi siswa yang berprestasi dalam bidang akademis maupun non-akademis. Sumber dana beasiswa ini dapat dari berbagai aspek. Misalnya para donatur, dinas pendidikan dan komite.

Adanya kenaikan ataupun penurunan pada jumlah siswa yang masuk di SMA Negeri 1 Seririt pada setiap tahunnya tidak terlalu mengalami perbedaan yang drastis, sehingga masih berada dalam kategori stabil. Penerimaan siswa di SMA Negeri 1 Seririt melalui berbagai jalur seperti TPA, Prestasi dan Miskin. Selain itu, perekrutan siswa juga berdasarkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak yang mulia sehingga sekolah dapat bersaing secara positif baik di bidang akademik maupun non akademik dengan sekolah-sekolah lainnya.

2) Proses

SMA Negeri 1 Seririt merupakan salah satu sekolah negeri yang mendapat predikat unggulan di Kabupaten Buleleng. Predikat ini tidak didapat dengan mudah oleh sekolah, melainkan dengan pemberian bukti-bukti hasil yang telah dicapai oleh sekolah yang berupa prestasi akademik dan non akademik. Prestasi-prestasi yang diraih dapat menyaingi prestasi sekolah-sekolah lainnya yang ada di Kabupaten Buleleng. Hal ini juga menjadi bukti bahwa siswa-siswi di SMA Negeri 1 Seririt memiliki kualitas yang baik.

Beberapa prestasi yang pernah ditorehkan di bidang akademik maupun non akademik antara lain: juara 1 Olimpiade Sains bidang Fisika SMA Kab. Buleleng, juara 2 Olimpiade Sains bidang Kebumian, juara 2 Olimpiade tingkat provinsi Bali, juara 1 lomba Lintas Alam Sispala SMA/SMK se-Bali

Mapala Loka Shamgraha Univ. Pendidikan Ganesha, juara 1 dan 2 Porseni Pelajar tingkat provinsi cabang Tenis Lapangan, juara 3 Pekan Olahraga Pelajar Nasional IX Kaltim cab. Tenis Lapangan, juara 1 kejuaraan Basket Putra tingkat SMA se-Kab. Buleleng.

Selain prestasi, dampak lainnya dari pelaksanaan kurikulum KTSP adalah melalui berbagai sosialisasi dan pelatihan yang telah diikuti oleh sebagian besar guru-guru di SMA Negeri 1 Seririt telah memberikan hasil yang nyata. Masing-masing guru telah mampu membuat perangkat pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang diempunya yang mengacu pada Standar Isi yang diterima oleh masing-masing sekolah.

Untuk menjaga nama baik sekolah, yang tercermin dari perilaku warga sekolahnya maka dibuat tata tertib yang sifatnya mengatur dan harus ditaati oleh seluruh warga SMA Negeri 1 Seririt baik oleh setiap guru, pegawai dan siswa dalam mengikuti berbagai aktivitas sekolah yang harus ditaati bersama. Tata tertib ini dijadikan sebagai pedoman dan acuan dalam bersikap dan berprilaku dalam berbagai aktivitas di sekolah. Semua tata tertib, klasifikasi serta saksi atas pelanggaran terangkum dalam sebuah buku yang disebut dengan buku saku. Tata tertib ini dibuat untuk meningkatkan kedisiplinan seluruh warga sekolah, terutama untuk siswa. Apabila dilanggar, maka akan dikenakan sanksi sesuai dengan klasifikasi atau tingkat pelanggaran yang dilakukan.

Kegiatan belajar mengajar dimulai pukul 07.30 Wita, setelah siswa masuk kelas dilanjutkan dengan Tri Sandya. Dengan adanya aturan seperti ini, maka proses belajar mengajar disekolah akan menjadi lebih efektif. Selain itu, untuk kelancaran aktifitas belajar mengajar dan menciptakan suasana yang

(9)

kondusif maka para siswa dilarang membawa handphone atau alat komunikasi yang sejenisnya. Peraturan ini juga berlaku kepada para guru dan staf pengajar di SMA Negeri 1 Seririt, apabila sedang dalam proses belajar mengajar di dalam kelas tidak diperkenankan menggunakan

handphone.

Hubungan sosial yang terjalin antar komponen sekolah di SMA Negeri 1 Seririt sudah berjalan dengan baik, meskipun mereka berbeda kelas, agama, ekonomi, latar belakang, sikap, budaya dan lain-lain. Mereka dapat saling membantu apabila mengalami kesulitan. Mereka bisa saling menghormati satu sama lainnya.

Dengan adanya sikap tersebut maka akan tercipta suasana yang harmonis dilingkungan sekolah tersebut. Selain itu mereka juga akan bekerja sama untuk menciptakan tujuan bersama dalam memecahkan masalah. Sikap individu terkadang muncul, seperti pada saat ulangan atau test berlangsung. Hal ini merupakan perilaku yang wajar dalam berkompetisi. Namun dalam kehidupan sosial mereka tetap terlihat akrab, hal ini dapat diamati ketika jam-jam istirahat maupun saat berada di dalam kelas. Mereka bisa berbaur satu sama lainnya, tanpa merasa bahwa mereka itu berbeda. Ini tentu saja dapat mendukung dalam menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif di lingkungan sekolah SMA Negeri 1 Seririt.

3) Kepemimpinan

1. Fase Kepemimpinan Drs. Putu Widiarsa

Drs Putu Widiarsa menjabat selama dua periode kepemimpinan yaitu dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2010. Beliau merupakan sosok pemimpin yang disiplin, bersifat kekeluargaan, karismatik dan dalam penataan

lingkungan sekolah selalu menonjolkan unsur kebersihan dalam penataan lingkungan sekolah. Beliau merupakan pemimpin yang sangat disegani setiap warga sekolah. Masa jabatannya pun tergolong cukup lama, hal ini dikarenakan cara pemimpinannya yang karismatik serta membawa dampak dan perubahan yang cukup besar pada SMA Negeri 1 Seririt yang dibuktikan dengan berbagai prestasi yang ditorehkan siswa-siswi disekolah ini.

Pada masa kepemimpinannya, SMA Negeri 1 Seririt memiliki guru pengajar sebanyak 55 orang yang terdiri dari guru tetap sebanyak 49 orang dan guru honorer berjumlah 6 orang. Data petugas tata usaha sebanyak 25 orang dengan status pegawai tetap sebanyak 16 orang yang terdiri dari laki-laki 11 orang dan perempuan 5 orang. Pegawai honorer sebanyak 9 orang yang juga terdiri dari laki-laki 4 orang dan perempuan sebanyak 5 orang.

Dalam melaksanakan tugasnya baik guru dan pegawai, kepala sekolah telah mengatur melalui rapat sekolah dan guru yang selanjutnya ditetapkan dalam surat keputusan kepala sekolah dimana tugas dan kewajiban guru dan pegawai telah tertuang secara jelas dalam surat keputusan tersebut.

Tabel 4.4 Jumlah siswa masuk periode tahun 2006-2010 NO Tahun Pelajaran Siswa Kelas X Keadaan Siswa L P JML 1 2006/2007 102 115 217 2 2007/2008 106 92 198 3 2008/2009 95 105 200 4 2009/2010 87 122 209 5 2010/2011 110 96 206

(10)

Kebanyakan orangtua siswa memiliki profesi sebagai petani, buruh dan PNS. Siswa mampu membayar biaya administrasi sekolah tepat waktu. Ini membuktikan ekonomi keluarga siswa baik. Namun tidak memungkiri ada kalangan siswa yang tergolong kurang mampu. Karena hal ini pihak sekolah juga memberi kebijakan kepada siswa untuk membayar dengan rentangan waktu maksimal 2 bulan. Sekolah memberikan beasiswa bagi siswa yang kurang mampu dan bagi siswa yang berprestasi dalam bidang akademis maupun non-akademis. Sumber dana beasiswa ini dapat dari berbagai aspek. Misalnya para donatur, dinas pendidikan dan komite.

2. Fase Kepemimpinan I Ketut Sutaya, S.Pd

Di tahun 2011, kurikulum yang diterapkan di SMA Negeri 1 Seririt adalah kurikulum KTSP. Pada saat itu yang menjabat sebagai kepala sekolah ialah Bapak Ketut Sutaya, S.Pd (2011-2013). Masa jabatannya hanya berlangsung sampai 3 tahun, dikarenakan beliau dipindah tugaskan di SMK 1 yang berada di Lokapaksa. Beliau merupakan sosok pemimpin yang disiplin, bersifat kekeluargaan dan dalam penataan lingkungan sekolah selalu menonjolkan unsur kebersihan dalam penataan lingkungan sekolah. Pada periode tahun ini, SMA Negeri 1 Seririt memiliki guru pengajar sebanyak 55 orang yang terdiri dari guru tetap sebanyak 49 orang dan guru honorer berjumlah 6 orang. Data petugas tata usaha sebanyak 27 orang dengan status pegawai tetap. Adapu rincian jumlah pegawai SMA Negeri 1 Seririt yaitu pegawai tetap 18 orang, terdiri dari

laki-laki sebanyak 11 orang dan perempuan 7 orang. Sedangkan pegawai honorer 9 orang dengan jumlah laki-laki sebanyak 4 orang dan perempuan sebanyak 5 orang.

Setiap guru memegang satu mata pelajaran sesuai dengan bidang yang ditekuninya. Selain bertugas sebagai guru pengajar di dalam kelas, beberapa guru memiliki tugas tambahan sesuai dengan surat keputusan kepala sekolah diantaranya, seperti wali kelas, guru piket, wakil kepala sekolah, pembina ekstrakurikuler, pengajar les kelas XII, pembina OSIS, pembina KSP, tim Litbang dan beberapa yang bertugas lainnya. Semuanya ini diatur dan dimusyawarahkan dalam yang dilakukan dengan semua perangkat sekolah.

Tabel 4.5 Jumlah siswa masuk periode tahun 2011-2013 NO Tahun Pelajaran Siswa Kelas X Keadaan Siswa L P JML 1 2011/2012 89 97 186 2 2012/2013 92 112 204 3 2013/2014 97 126 223

(Sumber: Data siswa SMA Negeri 1 Seririt, 2011-2013)

Penerimaan siswa baru di SMA Negeri 1 Seririt melalui tiga jalur yakni jalur Tes Potensi Akademik (TPA), jalur NUAN dan jalur miskin. Tes ini diadakan pada sebulan sebelum penerimaan siswa baru. Siswa kelas XI dan XII terbagi ke dalam tiga program studi yakni program studi Ilmu Alam (IA), Ilmu Sosial (IS) dan Ilmu Bahasa (IB). Pemilihan program studi didasarkan minat dan bakat siswa dipadukan dengan perolehan nilai rapor siswa.

4) Output

Jumlah lulusan dari SMA Negeri 1 Seririt pada periode 2006-2013 ada yang diterima di perguruan tinggi negeri

(11)

maupun swasta. Informasi yang didapatkan tersebut diantaranya seperti pada beberapa Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Udayana (UNUD), Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), UPT AKBID Singaraja, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Institut Pertanian Bogor (IPB), Seklah Penerbangan TNI Yogyakarta, STIKES Majapahit, Universitas Warmadewa, POLTEKNIK Negeri Bali, dan POLTEKES Denpasar. Karena kurangnya informasi dari para siswa yang telah lulus, sehingga kurangnya keakuratan data mengenai output siswa. Dari beberapa informasi yang diperoleh meskipun sangat sedikit diketahui ada juga yang memutuskan untuk lebih memilih langsung terjun pada dunia kerja.

Jumlah kelulusan di SMA Negeri 1 Seririt selalu mencapai 100% pada setiap periode tahunnya. Hal ini tentu saja menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah ini, menandakan bahwa SMA Negeri 1 Seririt memiliki siswa-siswi dengan kualitas yang sangat baik. Tingginya tingkat kelulusan siswa tidak terlepas dari peranan sekolah yang selalu membimbing siswa-siswi untuk menjadi lebih baik, salah satu bukti nyata dari sekolah yakni menambahkan jam belajar bagi mata pelajaran yang diujikan dalam UN (Ujian Nasional), selain itu guru-guru juga selalu memberikan latihan-latihan soal ujian nasional. Dengan tingginya tingkat kelulusan siswa dalam ujian nasional ini membuktikan bahwa sekolah ini sudah mampu mendidik peserta didiknya dengan baik yang didukung oleh profesionalitas para pendidik dengan melaksanakan proses belajar mengajar secara maksimal. Adanya tingkat kelulusan yang tinggi dapat mempertahankan kepercayaan yang diberikan masyarakat bahwa sekolah ini sebagai lembaga pendidikan yang mampu mendidik anak-anaknya dengan

sangat baik, sehingga orang tua semakin tertarik untuk mendaftarkan anaknya untuk bersekolah di SMA Negeri 1 Seririt.

SIMPULAN

SMA Negeri 1 Seririt didirikan pada pada tahun 1967 dan merupakan sekolah filial SMA Negeri 1 Singaraja, dimana SMA ini merupakan cabang dari SMA Negeri 1 Singaraja. Mengingat perkembangannya yang cukup pesat akhirnya SMA di bangun di Kecamatan Seririt. Sejak tanggal 1 Januari 1975 SMA Negeri 1 Seririt Filial SMA Negeri 1 Singaraja berubah status menjadi SMA Negeri 1 Seririt, dengan No. SK. 0270 / O / 1974 Tanggal 7 Desember 1974. Setelah menjadi sekolah mandiri, SMA Negeri 1 Seririt sedang menapak membenahi diri dalam menciptakan kerjasama, antar warga sekolah untuk menuju sekolah yang berprestasi baik akademik maupun non akademik. Berdirinya SMA Negeri 1 Seririt dilatarbelakangi adanya beberapa faktor, yakni faktor politik. Pendidikan publik bersifat politis karena dikontrol oleh pemerintah dan mempengaruhi kredibilitas pemerintah. Karena besarnya nuansa politik dari kebijakan-kebijakan pendidikan, maka berbagai faktor politis yang tidak ada hubungannya dengan pendidikan turut mempengaruhi bagaimana kontrol terhadap pendidikan dan bagaimana kebijakan-kebijakan yang dibuat.

Sistem pendidikan berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) baik dari masukan (Input), proses dan keluaran (Output) yang berlangsung di SMA Negeri 1 Seririt memberikan pengaruh yang besar bagi kemajuan SMA Negeri 1 Seririt.

Input siswa berasal dari SMP negeri maupun swasta yang ada di wilayah Kabupaten Buleleng maupun di luar wilayah Kabupaten Buleleng, serta rata-rata kualifikasi tingkat pendidikan guru-guru merupakan lulusan sarjana pendidikan. Proses pelaksanaan dari KTSP sudah bisa dikatakan cukup berhasil karena telah mampu menorehkan berbagai prestasi baik dibidang akademik maupun non akademik.

9

(12)

Kepimimpinan pada masa diberlakukannya KTSP yang pertama bapak Drs. Putu Widiarsa dan yang kedua yaitu Ketut Sutaya, S.Pd. Keduanya memiliki peranan yang sangat besar terhadap keberlangsungan sekolah, baik berupa prestasi dan kemajuan sekolah. Output atau lulusan di SMA Negeri 1 Seririt selalu mencapai hasil yang sangat memuaskan yakni dengan presentase pencapaian 100%. Meskipun data informasi mengenai

output siswa yang kurang, namun ada sedikit informasi yang menyatakan siswa memilih melanjutkan pendidikannya di berbagia perguruan tinggi ternama dan ada juga yang memilih memasuki dunia kerja.

DAFTAR RUJUKAN

Hamalik, Oemar. 2007. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosda Karya. Idris, Zahara dan Jamal Lisman. 1992.

Pengantar Pendidikan 1. Jakarta : PT. Gramedia Widiasana Indonesia. Muller.2001. Pendidikan Dasar, Pembangunan Politik, dan Kebudayaan. Dalam Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman. Sindhanata (ed). Yogyakarta: Kanisius.

Mulyasa, E. 2006. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara. Suyasa, I Wayan. 2005. Hand Out Filsafat/

Pengantar Pendidikan. Singaraja: IKIP Negeri Singaraja.

Figur

Tabel  4.4  Jumlah  siswa  masuk  periode  tahun 2006-2010  NO  Tahun  Pelajaran  Siswa Kelas X  Keadaan Siswa  L  P  JML  1  2006/2007  102  115  217  2  2007/2008  106  92  198  3  2008/2009  95  105  200  4  2009/2010  87  122  209  5  2010/2011  110  9

Tabel 4.4

Jumlah siswa masuk periode tahun 2006-2010 NO Tahun Pelajaran Siswa Kelas X Keadaan Siswa L P JML 1 2006/2007 102 115 217 2 2007/2008 106 92 198 3 2008/2009 95 105 200 4 2009/2010 87 122 209 5 2010/2011 110 9 p.9