• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI. perbuatan yang bersifat kekerasan atau kasar terhadap yang lain

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI. perbuatan yang bersifat kekerasan atau kasar terhadap yang lain"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Perilaku Agresi

1. Definisi Perilaku Agresi

J.S Badudu dalam bukunya Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia (dalam Nadeak, 2003) mengatakan bahwa agresi adalah tindakan atau perbuatan yang bersifat kekerasan atau kasar terhadap yang lain

Sementara ahli-ahli psikologi sosial seperti Baron dan Richardson (1994) mendefiniskan agresi sebagai segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai makhluk hidup lain yang terdorong untuk menghindari perlakuan itu. Pengertian yang hampir sama juga dikemukakan Myers (1996), yang menyebutkan bahwa perilaku agresi merupakan perilaku fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain. Atkinson dan Hilgard (1999) menyatakan bahwa perilaku agresi adalah perilaku yang dimaksudkan untuk melukai orang lain secara fisik atau verbal atau merusak harta benda.

Menurut Buss (dalam Morgan, 1989), yang terkenal dalam penelitiannya mengenai agresi, menyatakan secara lebih spesifik mengenai perilaku agresi. Buss (1989) mendefenisikan perilaku agresi sebagai suatu perilaku yang dilakukan untuk menyakiti, mengancam atau membahayakan individu-individu atau objek-objek yang menjadi sasaran perilaku tersebut baik secara fisik atau verbal dan langsung atau tidak langsung.

(2)

Jika menelaah beberapa defenisi yang ditampilkan maka penelitian dalam hal ini akan menggunakan konsep perilaku agresi menurut Buss dengan asumi defenisi ini cukup lengkap dan detil dalam menjelaskan perilaku agresi.

2. Teori-Teori Perilaku Agresi a. Teori Genetik dan Biologis

Sejumlah teori mempostulasikan bahwa agresi berhubungan dengan faktor genetik dan biologis. Teori-teori genetik berargumen bahwa agresivitas merupakan warisan genetik yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lain. Freud (Moeller, 2001) mengganggap bahwa agresi berakar dari biologis. Ia percaya bahwa manusia dilahirkan dengan dorongan yang disebut Thanatos yaitu dorongan mencari akhir dari kehidupan (kematian). Meskipun mungkin dorongan ini secara langsung melukai diri sendiri, namun bisa juga dilepaskan ke orang lain. Freud juga memperkenalkan ide katarsis (pelepasan energi), yang menekankan bahwa jika kekuatan dari dorongan agresi mulai timbul dari dalam diri, sesuatu harus dilakukan untuk melepaskan enerhi tersebut sebelum menjadi sangat kuat. Menurut hipotesis katarsis, tekanan yang berhubungan dengan dorongan agresi dikurangi dengan perilaku agresi, termasuk melakukan respon

displacement dari dorongan agresi tersebut (Moeller, 2001).

b. Teori Instinctual Behaviour

Teori ini dikemukakan oleh Lorenz (1966;1974). Ia mengemukakan perspektif evolusi dari agresi, dengan pandangannya mengenai sifat manusia yang hampir sama dengan pandangan Freud (Lorenz 1966; Baron dan Ricardshon, 1994). Salah satu pandangan Freud mengenai agresi adalah bahwa agresi adalah sesuatu yang dibawa sejak

(3)

lahir, insting kematian yang bisa dilepaskan dan mengalihkannya ke orang lain (Brain, dalam Lorenz 1966). Sama halnya dengan Freud, Lorenz percaya bahwa agresi tidak dapat dihindarkan, merupakan penerusan secara luas dari dorongan lahiriah.

Lorenz (1966) mengemukakan salah satu teori etologis mengenai insting yang sangat berpengaruh penting. Lorenz berpandangan bahwa beberapa pola perilaku individu merupakan warisan keturunan, dan perlu beberapa dorongan untuk memunculkan perilaku tersebut. Ia menjelaskan bahwa perilaku agresi tidak hanya sebuah reaksi terhadap stimulus dari luar, melainkan juga hasil dari dorongan agresi atau rangsangan dari dalam diri yang harus diekspresikan atau dikeluarkan tanpa menghiraukan ada tidaknya objek pelepasan (Lorenz 1996). Brain (1986) menambahkan bahwa agresi berasal dari insting menyerang yang dibawa sejak lahir dan umum ada pada semua manusia.

c. Teori Frustasi Agresi

Dalam hipotesi frustasi-agresi yang awal (Dollard dkk., 1939), agresi dijelaskan sebagai hasil dari suatu dorongan yang dimaksudkan untuk mengakhiri keadaan devprivasi, sedangkan frustasi disefenisikan sebagai interferensi eksternal terhadap perilaku yang diarahkan pada tujuan. Jadi, pengalaman frustasi mengaktifkan keinginan bertindak agresi terhadap sumber frustasi yang, sebagai akibatnya, mencetuskan perilaku agresi. Tetapi tidak semua frustasi menimbulkan respon agresi. Individu mungkin akan menarik diri dari situasi itu atau menjadi depresi. Selain itu tidak semua tindakan agresi merupakanhasil dari frustasi yang dialami sebelumnya. Miller (1941) menyatakan bahwa frustasi menyebabkan sejumlah respon yang berbeda. Salah satu diantaranya adalah bentuk agresi tertentu. Kemungkinan frustasi akan memunculkan respon agresi

(4)

bergantung pada pengaruh variabel-variabel moderator. Takut akan hukuman atas tindakan agresi atau ketiadaan penyebab frustasi merupakan variabel moderator yang menghambat agresi.

d. Teori Agressive-Cue

Teori ini dikemukakan oleh Berkowitz (1962). Ia berargumen bahwa frustasi adalah satu dari sejumlah stimulus tidak menyenangkan yang mungkin memancing reaksi agresi. Stimulus tidak menyenangkan ini mungkin tidak secara langsung mengasilkan perilaku agresi, tetapi dapat menciptakan kesiapan untuk melakukan tindakan agresi. Hal ini dapat meningkat jika ada stimulus dari lingkungan yang diasosiasikan dengan kemarahan pada saat itu atau sebelumnya.

Berkowitz pada tahun 1993 merevisi teori lamanya dengan teori cognitive neoassociation model. Pada teori ini ia menekankan bahwa frustasi atau stimulus tidak menyenangkan lain dapat memancing agresi jika tercipta perasaan (affect) negatif. Respon hanya ditentukan oleh interpretasi individu terhadap perasaan negatifnya. Singkatnya, adanya hambatan dalam mencapai tujuan tidak akan menciptakan agresi jika individu tidak merasakan hal tersebut sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan. Berkowitz (1993) berargumen bahwa rintangan atau hambatan dapat meinmbulkan agresi ketika individu mengalami perasaan negatif.

e. Teori Social Learning

Teori social learning perspective (e.g., Bandura, dalam Lorenz 1966) berawal dari sebuah ide bahwa manusia tidak lahir dengan sejumlah respons-respons agresi tetapi mereka harus memperoleh respons ini dengan cara mengalaminya secara langsung (direct

(5)

experience) atau dengan mengobservasi tingkah laku manusia lainnya (Anderson & Bushman, 2001; Bushman & Anderson, 2002). Dengan demikian, berdasarkan pengalaman masa lalu mereka dan kebudayaan dimana mereka tinggal, individu mempelajari: (1) berbagai cara untuk menyakiti yang lain, (2) kelompok mana yang tepat untuk target agresi, (3) tindakan apa yang dibenarkan sebagai tindakan balas dendam, (4) situasi atau konteks apa yang mengizinkan seseorang untuk berperilaku agresi. Singkatnya, teori social learning perspective berusaha menjelaskan bahwa kecenderungan seseorang untuk berperilaku agresi tergantung pada banyak faktor situasional, yaitu: pengalaman masa lalu orang tersebut, rewards yang diasosiasikan dengan tindakan agresi pada masa lalu atau saat ini, dan sikap serta nilai yang membentuk pemikiran orang tersebut mengenai perilaku agresi.

Proses-proses belajar sosial yang dapat menimbulkan perilaku agresi adalah: 1) Classical conditioning. Perilaku agresi terjadi karena adanya proses mengasosiasikan suatu stimulus dengan stimulus lainnya, 2) Operant Conditioning. Perilaku agresi terjadi akibat adanya reward yang diperoleh setelah melakukan perilaku agresi tersebut. Reward

tersebut bersifat tangible (memperoleh sesuatu yang dia mau), sosial (dikagumi/disegani oleh kelompoknya), dan internal (meningkatkan self-esteem orang tersebut), 3) Modelling

(meniru). Perilaku agresi terjadi karena seseorang meniru seseorang yang ia kagumi, 4)

Observational Learning. Perilaku agresi terjadi karena seseorang mengobservasi individu lain melakukannya baik secara langsung maaupun tidak langsung, 5) Social Comparison.

Perilaku agresi terjadi karena seseorang membandingkan dirinya dengan kelompok atau orang lain yang disukai, 5) Learning by Experience. Perilaku agresi terjadi karena pengalaman masa lalu yang dimiliki oleh orang tersebut.

(6)

f. Teori Agresi Buss

Teori ini dikemukakan oleh Arnold.H.Buss tahun 1961. ia mengaplikasikan teori instrumental learning dari Thorndike dan Skinner terhadap perilaku agresi. Menurut Buss, perilaku agresi dipelajari seperti perilaku intrumental lainnya melalui reward dan punishment. Buss berpendapat perilaku menjadi agresi ketika individu menyalurkan stimulus berbahaya ke orang lain. Ia berpendapat bahwa agresi instrumental adalah agresi yang lebih penting dan digambarkan dalam agresi fisik dan verbal, agresi aktif dan pasif, dan agresi langsung dan tidak langsung..

Buss (dalam Dayakisni dan Hudaniah, 2003) menyebutkan, menjelaskan dan memperluas penjelasan dari bentuk perilaku tersebut:

1) Agresi Fisik Aktif Langsung

Tindakan agresi fisik yang dilakukan individu atau kelompok dengan cara berhadapan secara langsung dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya dan terjadi kontak fisik secara langsung seperti memukul, mendorong, menembak, dan sebagainya.

2) Agresi Fisik Aktif Tidak Langsung

Tindakan agresi fisik yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara tidak berhadapan secara langsung dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya seperti merusak harta korban, membakar rumah, menyewa tukang pukul, dan sebagainya.

3) Agresi Fisik Pasif Langsung

Tindakan agresi fisik yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara berhadapan dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya, namun tidak

(7)

terjadi kontak fisik secara langsung, seperti demonstrasi, aksi mogok, aksi diam, dan sebagainya.

4) Agresi Fisik Pasif Tidak Langsung

Tindakan agresi fisik yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara tidak berhadapan dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya dan terjadi kontak fisik secara langsung, seperti tidak peduli, apatis, masa bodoh, dan sebagainya.

5) Agresi Verbal Aktif Langsung

Tindakan agresi verbal yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara berhadapan secara langsung dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya, seperti menghina, memaki, marah , mengumpat.

6) Agresi Verbal Aktif Tidak Langsung

Tindakan agresi verbal yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara tidak berhadapan secara langsung dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya, seperti menyebar fitnah, mengadu domba, dan sebgainya.

7) Agresi Verbal Pasif Langsung

Tindakan agresi verbal yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara berhadapan dengan individu atau kelompok lain namun tidak terjadi kontak verbal secara langsung, seperti menolak berbicara, bungkam dan sebagainya.

8) Agresi Verbal Pasif Tidak Langsung

Tindakan agresi verbal yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara tidak berhadapan dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya dan tidak terjadi kontak verbal secara langsung, seperti tidak memberikan dukungan, tidak menggunakan hak suara, dan sebagainya.

(8)

Walaupun Buss menerima bahwa frustasi kadang memicu agresi, namun ia juga menyatakan bahwa individu mungkin memperlajari respon frustasi dari orang lain. Ia menyatakan bahwa beberapa faktor berkontribusi pada perilaku agresi seperti pengalaman yang secara spesifik berhubungan dengan frustasi dari orang lain dan dan kepribadian dari individu. Ia menekankan bahwa pengalaman terdahulu dari individu adalah penyebab utama dari perilaku yang ditampilkan pada saat itu.

3. Dimensi Perilaku Agresi

Buss (dalam Morgan, 1989) menyatakan bahwa tingkah laku agresi dapat digolongkan menjadi tiga dimensi, yaitu fisik-verbal, aktif-pasif, dan langsung tidak langsung. Perbedaan dimensi fisik-verbal terletak pada perbedaan antara menyakiti fisik (tubuh) orang lain dan menyerang dengan kata-kata. Perbedaan dimensi aktif-pasif adalah pada perbedaan antara tindakan nyata dan kegagalan untuk bertindak. Sementara agresi langsung berarti kontak face-to-face dengan orang yang diserang, dan agresi tidak langsung terjadi tanpa kontak dengan orang yang diserang.

Kombinasi dari ketiga dimensi ini menghasilkan suatu framework untuk mengkategorikan berbagai bentuk perilaku agresi (Buss, dalam Dayakisni dan Hudaniah, 2003) antara lain:

a. Agresi Fisik Aktif Langsung

Tindakan agresi fisik yang dilakukan individu atau kelompok dengan cara berhadapan secara langsung dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya dan terjadi kontak fisik secara langsung seperti memukul, mendorong, menembak, dan sebagainya.

(9)

b. Agresi Fisik Aktif Tidak Langsung

Tindakan agresi fisik yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara tidak berhadapan secara langsung dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya seperti merusak harta korban, membakar rumah, menyewa tukang pukul, dan sebagainya.

c. Agresi Fisik Pasif Langsung

Tindakan agresi fisik yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara berhadapan dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya, namun tidak terjadi kontak fisik secara langsung, seperti demonstrasi, aksi mogok, aksi diam, dan sebagainya.

d. Agresi Fisik Pasif Tidak Langsung

Tindakan agresi fisik yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara tidak berhadapan dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya dan terjadi kontak fisik secara langsung, seperti tidak peduli, apatis, masa bodoh, dan sebagainya.

e. Agresi Verbal Aktif Langsung

Tindakan agresi verbal yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara berhadapan secara langsung dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya, seperti menghina, memaki, marah , mengumpat.

(10)

f. Agresi Verbal Aktif Tidak Langsung

Tindakan agresi verbal yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara tidak berhadapan secara langsung dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya, seperti menyebar fitnah, mengadu domba, dan sebgainya.

g. Agresi Verbal Pasif Langsung

Tindakan agresi verbal yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara berhadapan dengan individu atau kelompok lain namun tidak terjadi kontak verbal secara langsung, seperti menolak berbicara, bungkam dan sebagainya.

h. Agresi Verbal Pasif Tidak Langsung

Tindakan agresi verbal yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara tidak berhadapan dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya dan tidak terjadi kontak verbal secara langsung, seperti tidak memberikan dukungan, tidak menggunakan hak suara, dan sebagainya.

4. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Agresi

Sarwono (2002), menyatakan rangsangan atau pengaruh terhadap perilaku agresi dapat datang dari luar diri sendiri yaitu dari kondisi lingkungan atau pengaruh kelompok atau dari pelaku sendiri yaitu pengaruh kondisi fisik dan kepribadian.

a. Kondisi Lingkungan

Rasa sakit pada hewan dapat memicu agresi. Pada manusia, bukan hanya sakit fisik yang dapat memicu agresi, melainkan juga sakit psikis. Adanya serangan juga cenderung memicu agresi karena pihak yang diserang cenderung membalas.

(11)

b. Pengaruh Kelompok

Pengaruh kelompok terhadap perilaku agresi , antara lain adalah menurunkan kendali moral. Adanya provokasi secara langsung dari pihak lain merupakan salah satu faktor pendorong terjadi perilaku agresi. Seseorang akan mudah terpengaruh melakukan perilaku agresi pada saat mendapat provokasi secara langsung dari pihak lain dalam kelompok, penelitian laboratorium telah menunjukkan bahwa hal ini dapat terjadi baik karena provokasi verbal maupun fisik.

Selain karena faktor ikut terpengaruh, perilaku agresi juga disebabkan karena adanya perancuan tanggung jawab (tidak merasa ikut bertanggung jawab karena dikerjakan beramai-ramai), ada desakan kelompok dan identitas kelompok (karena kalau tidak ikut dianggap bukan anggota kelompok), dan ada deindividuasi (identitas sebagai individu tidak akan dikenal).

c. Pengaruh Kepribadian dan Kondisi Fisik

Salah satu faktor kepribadian yang berpengaruh terhadap perilaku agresi adalah peran jenis kelamin. Pria yang maskulin pada umumnya lebih agresif daripada wanita yang feminin. Gejala ini ada hubungannya dengan faktor kebudayaan, yaitu pada umumnya wanita diharapkan oleh norma masyarakat untuk lebih mengekang perilaku agresi. Perbedaan jenis kelamin juga mempengaruhi tingkat dan bentuk perilaku agresi, dimana laki-laki diasumsikan lebih agresif dari wanita (Nasution, 1990). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Bandura (dalam Nasution, 1990) yang menemukan bahwa anak laki-laki menunjukkan perilaku agresi yang lebih dari anak perempuan. Begitu juga dengan Rahardjo (dalam Nasution, 1990) yang mengatakan bahwa laki-laki lebih agresif dari perempuan. Maccoby dan Jacklin (1974) menemukan bahwa

(12)

pria lebih agresif secara fisik, demikian juga dengan Glaude (1991) yang menemukan bahwa tingkatan yang lebih tinggi dalam agresi yang nyata atau tampak pada pria dibandingkan dengan wanita.

Selain karena pengaruh dari faktor kepradian, perilaku agresi juga selalu saja ada keterkaitannya dengan situasi-situasi sesaat yang merupakan indikasi bahwa perilaku agresi lebih disebabkan oleh faktor situasi daripada faktor kepribadian. Faktor situasi selain dapat berasal dari kondisi lingkungan dan pengaruh kelompok, dapat juga disebabkan oleh kondisi diri atau fisik seseorang.

B. Kohesivitas

1. Definisi Kohesivitas

Menurut George & Jones (2002) kohesivitas adalah anggota kelompok yang memiliki daya tarik satu sama lain. Kelompok yang kohesivitasnya tinggi adalah saling tertarik pada setiap anggota, kelompok yang kohesivitasnya rendah adalah tidak saling tertarik satu sama lain. Mcshane & Glinow (2003) mengatakan kohesivitas dalam kelompok merupakan perasaan daya tarik individu terhadap kelompok dan motivasi mereka untuk tetap bersama kelompok dimana hal tersebut menjadi faktor penting dalam keberhasilan kelompok. Anggota kelompok merasa kompak adalah ketika mereka percaya kelompok mereka membantu tujuan mereka, saling mengisi kebutuhan mereka, atau memberikan dukungan sosial selama masa krisis.

Greenberg (2005) menyatakan bahwa kohesivitas kelompok adalah perasaan dalam kebersamaan antar anggota kelompok. Tingginya kohesivitas kelompok berarti tiap anggota dalam kelompok saling berinteraksi satu sama lain, mendapatkan tujuan mereka,

(13)

dan saling membantu di tiap pertemuan, dan bila kelompok tidak kompak maka tiap anggota kelompok akan saling tidak menyukai satu sama lain dan mungkin terjadi perbedaan pendapat. Robbins (2001) menyatakan bahwa kohesivitas kelompok adalah sejauh mana anggota merasa tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap berada dalam kelompok tersebut. Misalnya, kelompok yang telah berpengalaman dalam menghadapi ancaman dari luar menyebabkan anggotanya lebih dekat satu sama lain. Gibson (2003) mengungkapkan bahwa kohesivitas kelompok adalah kekuatan ketertarikan anggota yang tetap pada kelompoknya dari pada terhadap kelompok lain. Mengikuti kelompok akan memberikan rasa kebersamaan dan rasa semangat dalam bekerja. Certo, S (2003) menyatakan bahwa kohesivitas kelompok merupakan memiliki anggota yang ingin tetap tinggal dalam kelompok selama mengalami tekanan dalam kelompok. Forsyth (1999) menyatakan bahwa kohesivitas kelompok merupakan kesatuan yang terjalin dalam kelompok, menikmati interaksi satu sama lain, dan memiliki waktu tertentu dan di dalamnya terdapat semangat kerja yang tinggi.

Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kohesivitas merupakan derajat kekuatan ikatan dalam suatu kelompok, yang mana masing-masing anggotanya saling tarik-menarik, saling tergantung dan saling bekerjasama secara kompak, sehingga akan membentuk suatu “konformitas” yang akan meningkatkan kapasitas kelompok untuk mempertahankan keanggotaan para anggotanya dalam mencapai tujuannya.

(14)

2. Faktor yang Mempengaruhi Kohesivitas

Menurut McShane & Glinow (2003) faktor yang mempengaruhi kohesivitaskelompok, yaitu :

a. Adanya Kesamaan

Kelompok yang homogen akan lebih kohesif dari pada kelompok yang heterogen. anggota yang berada dalam kelompok yang homogen dimana memiliki kesamaan latar belakang, membuat mereka lebih mudah bekerja secara objektif, dan mudah menjalankan peran dalam kelompok.

b. Ukuran kelompok

Kelompok yang berukuran kecil akan lebih kohesif dari pada kelompok yang berukuran besar karena akan lebih mudah untuk beberapa orang untuk mendapatkan satu tujuan dan lebih mudah untuk melakukan aktifitas.

c. Adanya interaksi

Kelompok akan lebih kohesif bila kelompok melakukan interaksi berulang antar anggota kelompok.

d. Ketika ada masalah

Kelompok yang kohesif mau bekerja sama untuk mengatasi masalah. e. Keberhasilan kelompok

Kohesivitas kelompok terjadi ketika kelompok telah berhasil memasuki level keberhasilan. Anggota kelompok akan lebih mendekati keberhasilan mereka dari pada mendekati kegagalan.

(15)

f. Tantangan

Kelompok kohesif akan menerima tantangan dari beban kerja yang diberikan. Tiap anggota akan bekerja sama menyelesaikan tugas yang diberikan, bukan menganggap itu sebagai masalah melainkan tantangan.

3. Dimensi Kohesivitas Kelompok

Forsyth (1999) mengemukakan bahwa ada empat dimensi kohesivitas kelompok, yaitu :

a. Kekuatan sosial

Keseluruhan dari dorongan yang dilakukan oleh individu dalam kelompok untuk tetap berada dalam kelompoknya. Dorongan yang menjadikan anggota kelompok selalu berhubungan. Kumpulan dari dorongan tersebut membuat mereka bersatu. b. Kesatuan dalam kelompok

Perasaan saling memiliki terhadap kelompoknya dan memiliki perasaan moral yang berhubungan dengan keanggotaannya dalam kelompok. Setiap individu dalam kelompok merasa kelompok adalah sebuah keluarga, tim dan komunitasnya serta memiliki perasaan kebersamaan.

c. Daya tarik

Daya tarik merupakan properti kelompok yang berasal dari jumlah dan kekuatan sikap positif antara anggota kelompok. Individu akan lebih tertarik melihat dari segi kelompok kerjanya sendiri daripada melihat dari anggotanya secara spesifik.

(16)

Sebuah proses yang dinamis yang direfleksikan dengan kecenderungan suatu kelompok untuk tetap terikat bersama dan mempertahankan kesatuan dalam usaha untuk mencapai tujuan. Individu memiliki keinginan yang lebih besar untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok.

C. Geng Motor

Thrasher (1963), mendefenisikan geng sebagai suatu kelompok yang memiliki kesamaan karakteristik seperti penampilan, tindakan, konflik dan perencanaan. Sedangkan menurut Triyono Lukmantoro (2007), geng adalah sebuah kelompok penjahat yang terorganisasi secara rapi. Dalam konsep yang lebih moderat, geng merupakan sebuah kelompok kaum muda yang pergi secara bersama-sama dan seringkali menyebabkan keributan. Pola terbentuknya sebuah geng, dimulai dari sebuah ikatan kebersamaan dan eemosional dari sebuah komunitas tertentu, misalnya komunitas sekolah atau komunitas otomotif (Triyono Lukmantoro, 2007).

Geng motor merupakan suatu bentuk geng yang di dalamnya merupakan kumpulan orang pencinta motor yang menyukai kebut-kebutan, tanpa membedakan jenis motor yang dikendarai (Muliyani Hasan, 2007). Ada perbedaan antara geng motor dengan kelompok pengguna motor (club motor) yang harus dipahami oleh masyarakat luas. Perbedaannya adalah club motor merupakan kelompok yang mengusung merek atau spesifikasi tertentu dengan perangkat organisasi formal untuk menjadi anggotanya dan kegiatan club motor jauh dari hal-hal yang berbau negatif. Mereka sekedar kumpul dan konvoi. Hal ini bertolak belakang dengan berbagai jenis kegiatan geng motor yang cenderung negatif seperti mencuri, tawuran, merusak tempat umum bahkan membunuh.

(17)

Di daerah Semarang, Bandung dan sekitarnya aktivitas yang dilakukan geng motor seperti pengrusakan tempat umum,kebut-kebutan di jalan umum, pencurian, tawuran antar geng motor, perampokan dengan kekerasan sudah sangat meresehakan. Banyak dari mereka yang membawa senjata tajam, Samurai, jenis golok berukuran panjang yang biasa digunakan oleh kelompok Ninja di Jepang, menjadi senjata (Pikiran Rakyat. 27 November 2007). Sementara di Medan perilaku agresi yang dilakukan anggota-anggota geng motor antara lain yang seperti perkelahian antar geng motor, pemukulan yang dilakukan pada anggota geng motor lain yang tidak disukai, pemalakan atau pemerasan yang dilakukan terhadap anak-anak sekolah, perkelahian dengan anak sekolah, mencaci maki orang-orang yang tidak disukai terutama yang berasal dari kelompok atau geng lain. Khususnya di medan,ada beberapa geng motor seperti RnR dan TIB yang perilaku agresinya lebih berorientasi pada tawuran atau perkelahian antar gang, hal ini berbeda dengan geng motor di daerah lain yang sudah melakukan kekerasan terhadap publik atau sarana publik.

D. Hubungan Kohesivitas dengan Perilaku Agresi pada Anggota Geng Motor

Decker dan vin Winkle (1996) menjelaskan dinamika yang mendasari tindakan kekerasan geng berdasarkan signifikansi konstruk ancaman. Menurut pandangan ini, geng seringkali lahir untuk merespons ancaman (menurut persepsi yang bersangkutan atau yang sungguh-sungguh ada) yang berasal dari individu-individu atau kelompok lain yang berada diluar kelompoknya. Ancaman bisa diarahkan, atau dipersepsi diarahkan pada keselamatan fisik, wilayah kekuasaan, atau identitas psikologis para anggotanya. Bila

(18)

geng lawan mengadopsi persepi yang sama mengenai ancaman dan mencoba mendahului menyerang maka kekerasaan geng berpotensi kuat untuk bereskalasi.

Selain itu perilaku agresi sudah menjadi perilaku khas dari anggota geng. Perilaku-perilaku agresi ini menjadi perilaku yang dipilih anggota geng untuk melindungi geng mereka dari ancaman geng lain. Muliyani mengatakan bahwa perkelahian, kebut-kebutan, tawuran dan perilaku kriminal lainnya adalah upaya anggota geng motor menunjukkan dari geng motor mana mereka berasal dan ingin membuat geng motor mereka menjadi yang terbaik dari geng motor lainnya. Triyono (dalam Geng, Distorsi dalam Komunikasi) menambahkan lagi anggota-anggota geng memiliki preferensi untuk memaksa, dan setidaknya menggertak pihak yang dianggap lebih lemah untuk mengikuti kehendak mereka. Cara-cara kekerasan fisik dan verbal sengaja dilakukan untuk menundukkan pihak yang dipandang tidak sejalan.

Salah satu faktor yang menyebabkan seseorang melakukan perilaku agresi adalah adanya pengaruh kelompok (Sarwono, 1999). Seseorang dapat ikut terpengaruh oleh kelompok dalam melakukan perilaku agresi. Pengaruh kelompok dalam perilaku agresi antara lain adalah menurunkan kendali moral. Adanya provokasi secara langsung dari pihak lain dalam kelompok merupakan pendorong terjadi perilaku agresi. Seseorang akan mudah terpengaruh melakukan perilaku agresi pada saat mendapat provokasi secara langsung dari kelompoknya. Selain itu adanya desakan dari kelompok dan identitas kelompok (kalau tidak ikut melakukan dianggap bukan anggota kelompok) dapat menyebabkan seseorang melakukan perilaku agresi (Sarwono, 1999).

Menurut Forsyth (1999) anggota-anggota dalam satu kelompok bisa bebas saling mempengaruhi satu sama lain jika terdapat kohesivitas dalam kelompok tersebut. Selain

(19)

itu anggota kelompok yang kohesif akan lebih menyadari identitasnya sebagai bagian dari kelompok. Forsyth (1999) menyatakan bahwa kelompok yang kohesif memiliki ciri-ciri antara lain, masing-masing anggota timbul keterdekatan, sehingga bisa mempengaruhi satu sama lain, rasa toleran, saling membagi, saling mendukung terutama dalam menghadapi masalah, keeratan hubungan, saling tergantung untuk tetap tinggal dalam kelompoknya. rasa saling percaya, timbul suasana yang nyaman (merasa aman dalam bekerja, untuk mengungkapkan pendapat & berinteraksi, saling pengertian) dan adanya kesadaran sebagai bagian dari kelompok. Forsyth (1999) menambahkan bahwa kohesivitas merupakan derajat kekuatan ikatan dalam suatu kelompok yang mana masing-masing anggotanya saling tarik-menarik, saling tergantung dan saling bekerjasama secara kompak, sehingga akan membentuk suatu “konformitas” yang akan meningkatkan kapasitas kelompok untuk mempertahankan keanggotaan para anggotanya dalam mencapai tujuannya.

Mc Shane dan Glinow (2003) menyatakan bahwa kohesivitas kelompok merupakan perasaan daya tarik individu terhadap kelompok dan memotivasi mereka untuk tetap bersama kelompok, dimana hal tersebut menjadi faktor penting dalam keberhasilan kelompok. Gibson (2003) mengungkapkan juga bahwa kohesivitas kelompok adalah kekuatan ketertarikan anggota yang tetap pada kelompoknya daripada kelompok lain. mengikuti kelompoknya akan memberikan rasa kebersamaan dan rasa senang.

Walgito (2007) juga menjelaskan mengenai adanya peran kohesivitas dalam mempengaruhi perilaku-perilaku anggota-anggota kelompok. Anggota kelompok yang kohesif akan memberikan respon positif terhadap para anggota dalam kelompok. Secara

(20)

teoritis, kelompok yang kohesif akan terdorong untuk menyesuaikan diri dengan norma kelompok dan merespon positif terhadap perilaku anggota kelompok yang lain. Hal ini di dukung dengan penemuan Festinger, Schacter, dan Black (dalam Shaw 1979) yang mendapati bahwa anggota kelompok yang kohesif mempunyai opini yang seragam dan umumnya dalam tindakan menyesuaikan diri dengan standar atau keinginan kelompok. Jadi pressure atau tekanan terhadap keseragaman naik searah atau sejajar dengan naiknya kohesi kelompok. Dalam hal ini kohesivitas dalam suatu kelompok menjadikan anggotanya bersedia melakukan norma-norma atau perilaku yang diinginkan kelompok, termasuk perilaku agresi terhadap kelompok lain.

Oleh karena itu, berdasarkan uraian di atas peneliti berasumsi bahwa semakin kohesif suatu kelompok, maka anggota-anggotanya akan semakin bebas saling mempengaruhi perilaku anggotanya yang lain, dalam hal ini kelompok dapat mempengaruhi atau mendesak anggota untuk melakukan perilaku agresi. Jadi semakin kuat kohesivitas dalam kelompok, semakin tinggi perilaku agresi yang dilakukan anggotanya.

E. Hipotesa Penelitian

Berdasarkan uraian teoritis diatas maka hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini adalah “ada hubungan positif antara kohesivitas geng motor dengan perilaku agresi”.

Referensi

Dokumen terkait

pembuangan dan itu mengakibatkan dampak bagi lingkungan di sekitar tetapi sekarang banyak ditemukan cara atau solusi untuk menangani dampak-dampak yang dihasilkan oleh limbah,

KESATU : Membentuk Satuan Tugas Anti Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya (NAPZA) Berbasis Masyarakat di Tingkat Desa Mappedeceng, Desa Benteng, Desa

Terkait dengan fenomena adanya kemiripan alur dan tema dalam beberapa novel, penelitian ini akan melihat sejauh mana keterkaitan cerita dalam novel Senja, Hujan, dan

Berangkat dari keyakinan seperti itu, tradisi pengobatan Balia menjadi sebuah ritual yang turun temurun, sebagai salah satu bentuk interaksi dengan kekuatan-kekuatan yang

bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 16 ayat (1) Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 13 tahun 2010 tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pencalonan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan

output yang diperoleh operator berupa informasi data diri pasien, kemudian dokter bertugas meng input kan data diagnosis pasien dan data resep pasien, sedangkan output

Kondisi Arus Lalu Lintas Ruas Jalan Seturan Raya Ke Arah Jalan Padjajaran Pada Hari Kamis, 09 November 2017 .... Kondisi Arus Lalu Lintas Ruas Jalan Seturan Raya Ke