BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS. regu, masing-masing regu terdiri atas enam orang pemain yang bertujuan untuk mendapatkan

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Teoretis

2.1.1 Hakikat Permainan Bola Voli

Permainan bola voli merupakan suatu permainan bola besar yang di mainkan oleh dua regu, masing-masing regu terdiri atas enam orang pemain yang bertujuan untuk mendapatkan angka sampai batas angka yang di tentukan dalam peraturan.

Menurut Muhajir (2005: 16), permainan bola voli ialah suatu cabang olahraga berbentuk memvoli bola di udara bolak-balik di atas jarring/net, dengan maksud mengarahkan bola ke lapangan lawan untuk memperoleh angka dan mencapai kemenangan. Memvoli dan memantulkan bola ke udara dapat mempergunakan bagian tubuh mana saja, asalkan perkenannya harus sempurna (tidak ganda/double).

Permainan bola voli yang sesungguhnya menurut Roji (2007: 10) ialah permainan yang di lakukan oleh regu, yang masing-masing regu berjumlah enam orang. Lama pertandingan adalah tiga atau lima set, atau kemenanga bisa di tentukan dengan selisih dua set. Masing-masing set adalah 25 angka (poin) dengan menggunakan rally point, yakni setiap bola mati di hitung menjadi poin.

Berdasarkan dua definisi di atas dapatlah di katakana bahwa permainan bola voli ialah permainan yang di mainkan oleh dua regu, yang masing-masing regu berjumlah enam orang. Pelaksanaannya ialah dengan menvoli bola di udara bola-balik di atas jarring/net, dengan maksud dapat menjatuhkan bola di dalam petak lapangan lawan untuk mencari kemenangan. Memvoli dan memantulkan ke udara dapat mempergunakan bagin tubuh mana saja, asalkan perkenannya harus sempurna (tidak ganda/double), sedangkan kemenangan di maksud di

(2)

tentukan dengan selisih dua set. Masing-masing set adalah 25 angka (poin) dengan menggunakan rally point, yakni setiap bola mati di hitung menjadi poin.

Dengan demikian, dapat di pahami bahwa permainan bola voli merupakan salah satu jenis permainan olahraga yang menggunakan net sebagai perantara atau pembagi dua lapangan. Pemainnya terdiri dua regu, masing-masing regu berjumlah 6 orang. Permainannya berdasarkan peraturan yang telah di tetapkan.

2.1.2 Lapangan Dan Perlengkapan Permainan Boal Voli a. Daerah Lapangan

1) Ukuran Lapangan

a. Lapngan permainan bola voli berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 18 meter dan lebar 9 meter. Lapangan di kelilingi oleh daerah bebas selebar 3 meterdengan sudut penghalang setinggi 7 meter dari permukaan lapangan permainan.

b. Untuk kompetisi internasional yang resmi, daerah bebas itu harus berukuran minimal 5 meter dari garis samping serta 8 meter dari garis akhir. Penghalang ruang bebas harus berukuran minimal setinggi 12,50 meter dari permukaan lapangan permainan. 2) Garis-garis Lapangan

a) Garis-garis batas

Dua garis samping dan dua garis akhir menandai batas-batas lapangan permainan. Baik garis samping maupun garis akhir termasuk ke dalam ukuran lapangan permainan.

(3)

Garis tengah (poros) membagi lapangan permainan menjadi dua petak lapangan yang masing-masing berukuran 9 x 9 meter. Garis ini terentang di bawah net dari garis samping ke garis samping lainnya.

c) Semua garis lapangan lebarnya 5 cm, harus berwarna terang dan berbeda warna dari warna lantai dan garis lainnya.

b. Daerah Lapanga Permainan 1. Daerah depan

Daerah depan pada setiap petak lapangan di batasi oleh garis tengah dan garis serang yang berjarak 3 meter dari garis tengah.

2. Daerah servis

Daerah servis lebarnya 9 meter dan berada di belakang garis akhir. Sisi-sisinya di batasi oleh dua garis pendek yang masing-masing panjangnya 15 cm.

3. Daerah pergantian

Daerah pergantian ialah perpanjangan dari kedua garis serang di dekat meja pencatat. 4. Daerah pemanasan

Untuk kompetisi yang di laksanakan FIVB, daerah pemanasan berukuran 3 x 3 meter. Letaknya adalah di sudut samping bangku cadangan di luar daerah bebas.

c. Net dan Tiangnya 1. Net

(4)

a. Lebar net 1 meter dan panjangnya 9,50 meter di pasang secara vertical di atas garis tengan lapangan.

2. Pita samping

Dua pita putih di pasang tegak lurus pada net dan di pasang paa setiap sisi net lebar pita putih 5 cm dan panjang 1 meter. Pita putih tersebut adalah bagian dari net.

3. Antena

a. Antena ialah tongkat yang lentur dengan panjang 1,80 meter dan diameter 10mm. b. Antena terbuat dari fiber glass atau bahan sejenisnya.

c. Dua antenna masing-masing di pasang pada sisi luar pada setiap pita samping. d. Antena di anggap sebagai bagian dari net dan batas-batas samping ruang lintasan

bola.

e. Tinggi setiap antenna di atas net adalah 80 cm dan terdapat garis-garis yang warnanya kontras sepanjang 10 cm, lebih baik warna merah dan putih.

d. Tinggi net

a. Di pasang tegak lurus di atas garis tengah, dengan ketinggian 2,43 meter untuk putera dan 2,24 meter untuk puteri.

b. Ketinggian net di ukur dari tengan lapangan permainan. Tinggi net (di atas kedua garis samping) harus tepat sama tinggi dan tidak boleh lebih tinggi dari 2 cm.

(5)

4. Tiang net

a. Sebagai penunjang net, tiang-tiang di ,etakkan dengan jarak 0,50 – 1,00 meter di luar garis samping. Tinggi net 2,55 meter dan sebaiknya dapat di atur naik turunnya.

b. Untuk kejuaraan dunia dan pertandingan resmi FIVB, tiang-tiang di tempatkan pada jarak 1 meter di luar garis samping.

c. Tiang harus bulat dan licin, di tegakkan pada lantai tanpa bantuan kawat-kawat. Tiang harus tidak membahayakan atau ada perlengkapan yang merintangi.

5. Bola

a. Karakteristik/Standar ketentuan Bola

Bola harus bulat, terbuat dari kulit yang lentur atau terbuat dari kulit sintensis yang bagia dalamnyadari karet atau bahan yang sejenis. Warna bola harus satu warna yang cerah atau kombinasi dari beberapa warna.

Bahan kulit sintesi dan kombinasi warna pada bola yang di pergunakan pada pertandinagnresmi internasional harus sesuai standar FIVB. Keliling bola 65 – 67 cm dan beratnya 260 – 280 gram.

Tekanan di dalam bola harusn0,30 – 0,325 kg/cm2 (4,26 – 4.61 psi) (294,3 – 318,82 mbar atau hpa).

(6)

Semua bola yang di pergunakan dalam suatu pertandingan harus sasuai denganketentuan mengenal: keliling, berat, tekanan di dalam, bentuk, dan lain-lain. Untukmkejuaraan dunia dan pertandingan resmi FIVB, demikian juga dengan kegiatan nasional atau kejuaraan liga menggunakan bola yang di sahkan oleh FIVB. 2.1.3 Teknik Dasar Permainan Bola Voli

Setiap cabang olahraga tentu memiliki teknik dasar, demikian halnya permainan bola voli. Muhajir (2005: 19) membagi tenik dasar permainan bola voli ke dalam dua bentuk, yakni gerak dasar tanpa bola dan gerak dasar dengan bola.

a. Gerak Dasar Tanpa Bola

1) Gerak Dasar Bergerak Maju

Gerak dasar maju adalah perpindahan posisi badan ke depan, beberapa langkah, dengan kecepatan yang selaras dengan kecepatan bola berdasarkan persepsi pemain. Gerakan itu di lakukan sebagai persiapan untuk melaksanakan sikap dasar agar dapat memainkan bola denga baik, yaitu memvoli bola kea rah yang tepat. Misalnya, memvoli bola untuk di teruskan kepada pemain berikutnya, baik untuk tujuan sekedar untuk menghidupkan bola agar tidak mati maupun untuk maksud mengumpan bola guna di teruskan dengan pukulan menyerang dengan teknik smash atau spike.

2) Gerak Dasar Bergerak Mundur

Sebagai lawan dari gerakan maju adalah gerakan mundur. Sama halnya dengan gerakan maju, gerakan ini di lakukan dengan maksud untuk memperoleh posisi badan yang tepat untuk menerima atau memainkan bola. Gerakannya tidak dalam bentuk gerakan lari yang sesungguhnya, melainkan gerak-gerakan khas dalam bola voli yang

(7)

kemudian memungkinkanterbentuk sikap dasar atau stance untuk menerima bola dan bola dapat di pukul dengan sebaik-baiknya.

3) Gerak Dasar Bergerak Ke Samping Kiri atau Kanan

Gerakan semacam itu juga di lakukan ke kiri atau ke kanan, atau kea rah samping yang di lakukan dengan menggeserkan kaki kanan, di susul kaki kiri, atau sebaliknya kaki kiri di susul dengan kaki kanan. Kecepatannya juga di pengaruhi oleh persepsi pemain terhadap arah dan kecepatan bola.

4) Gerak Dasar Meloncat

Karena bola di mainkan dengan tangan dengan tujuan di pukul keras ke arah lapangan lawan, dari atas ke bawah, melewati atas jarring yang menjasi pembatas dan sekaligus perintang, maka keterampilan dasar melompat sangat dominan dalam permainan bola voli. Kemampuan melompat ke arah tegak (vertical) menjadi keterampilan pokok yang di dukung oleh kekuatan dan power, di samping koordinasi. Itulah sebabnya, pemain yang memiliki tinggi badan yang melebihi pemain lawannya memperoleh keuntungan, karena dia akan unggul dalam hal mencapaiketinggian lompatan, terutama untuk melakukan pukulan menyerang dengan kuat dan cepat.

Keterampilan dasar melompat itu ssangan dominan di lakukan di daerah dekat dan sepanjang jarring. Bahkan dalam parmainan bola voli modern, servis (pukulan pertama untuk membuka permainan) juga di lakukan oleh pemain dengan melambung bola yang tinggi-tinggi, dan kemudian ia melompat seperti teknikdasar melukan serangan dengan teknik smash atau spike. Untuk pemain pemula, seperti di tingkat SLTP, teknik seperti ini memangtidak sesuai karena terlalu sulit pelaksanaannya.

(8)

Gerak dasar tanpa bola dan dengan bola pada dasarnya merupakan satu kesatuan dalam satu rangkaian gerakan. Gerak dasar tanpa bola di laksanakan sebagai pesiapan untuk melakukan gerak dasar dengan bola. Gerak dasar denggan bola meliputi servis, pasing, umpan (set up), smash, spike, dan bendungan (block).

2.1.4 Pengertian Servis Melayang (Floating Servis)

Service mengapung adalah service atas dengan awalan dan cara memukul yang hampir sama. awalan service mengapung adalah melemparkan bola ke atas namun tidak terlalu tinggi ( tidak terlalu tinggi dari kepala ). Tangan yang akan memukul bola bersiap di dekat bola dengan ayunan yang sangat pendek.

Menurut Dieter Beutelstahl (1978: 14) servis atas atau floating servis adalah servis yang tidak mengandung spin. Bola seakan-akan melayang, tanpa berputar sama sekali. Secara umum, bola itu melayang, kadang berubah arah, vertikal ataupun horisontal.

2.1.5 Cara Melakukan Servis Melayang

Kelangsungan gerak servis mengambang (float serve) menurut Barbara L. Viera, dkk (2004: 31).

Persiapan:

1. Kaki dalam posisi melangkah dengan santai 2. Berat badan terbagi seimbang

(9)

4. Kaki dari tangan yang tidak memukul berada di depan 5. Gunakan telapak tangan terbuka

6. Pandangan ke arah bola

Eksekusi

1. Pukul bola di depan bahu lengan yang memukul 2. Pukul bola tanpa atau dengan sedikit spin 3. Pukul bola dengan 1 tangan

4. Pukul bola dekat dengan tubuh

5. Ayunkan lengan ke belakang dengan sikut ke atas 6. Letakkan tangan di dekat telinga

7. Pukul bola dengan tumit telapak tangan terbuka

8. Pertahankan lengan pada posisi menjangkau sejauh mungkin 9. Awasi bola pada saat hendak memukul

10. Pindahkan berat badan ke depan Gerakan Lanjutan

1. Teruskan memindahkan berat badan ke depan 2. Jatuhkan lengan dengan perlahan sebagai lanjutan 3. Bergerak ke lapangan

Ada beberapa cara yang dapat di lakukan dalam servis melayang.

a) sikap persiapan dimulai dengan mengambil posisi kaki kiri lebih kedepan, kedua lutut agak rendah.

(10)

b) tangan kiri memegang bola dan tangan kanan disamping setinggi pelipis

c) dengan tangan kiri bola dilambungkan ssedikit kesamping kanan tidak terlalu tinggi d) setelah bola melambung keatas setinggi kepala, tangan kanan dipukulkan pada bagian

tengah bola.

e) pukulan float dapat dilakukan dengan beberapa cara: 1. dengan tumit tangan

2. dengan tangan, dimana ibu jari dilipat kedalam dan menempel pada telapak tangan 3. memukul dengan tangan tergenggam.

2.2 Hakikat Latihan 2.2.1 Pengertian Latihan

Menurut Bompa (1994) yang dikutip oleh Djoko Pekik Iriyanto (2002: 11) mengartikan latihan sebagai program pengembangan olahragawan untuk event khusus, melalui keterampilan dan kapasitas energi. Latihan adalah segala daya dan upaya untuk meningkatkan secara menyeluruh kondisi fisik dengan proses yang sistematis dan berulang-ulang dengan semakin hari semakin bertambah jumlah beban, waktu atau intensitasnya.

Menurut Djoko Pekik Iriyanto (2002: 11-12) latihan adalah proses pelatihan dilaksanakan secara teratur, terencana, menggunakan pola dan sistem tertentu, metodis serta berulang seperti gerakan yang semula sukar dilakukan, kurang koordinatif menjadi semakin mudah, otomatis, dan reflektif sehingga gerak menjadi efisien dan itu harus dikerjakan berkali-kali.

Menurut Sukadiyanto (2005: 5) istilah latihan berasal dari dalam bahasa Inggris yang dapat mengandung beberapa makna seperti: practice, exercises, dan training. Latihan berasal dari kata practice, adalah aktivitas untuk meningkatkan keterampilan (kemahiran) berolahraga

(11)

dengan menggunakan berbagai peralatan sesuai dengan tujuan dan kebutuhan cabang olahraga. Latihan berasal dari kata exercises adalah perangkat utama dalam proses latihan harian untuk meningkatkan kualitas pungsi sistem organ tubuh manusia, sehingga mempermudah olahragawan dalam penyempurnaan geraknya. Latihan berasal dari kata training adalah penerapan dari suatu perencanaan untuk meningkatkan kemampuan berolahraga yang berisikan materi teori dan praktek, metode, dan aturan pelaksanaan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang akan dicapai. Menurut Tohar (1992: 112) latihan merupakan suatu proses kerja yang harus dilakukan secara sistematis, berulang-ulang, berkesinambungan, dan makin lama jumlah beban yang diberikan semakin meningkat. Menurut Sukadiyanto (2005: 6) latihan adalah suatu proses penyempurnaan kemampuan berolahraga yang berisikan materi teori dan praktik, menggunakan metode, dan aturan, sehingga tujuan dapat tercapai tepat pada waktunya.

Beberapa ciri latihan menurut Sukadiyanto (2005: 7) adalah sebagai berikut:

a) Suatu proses untuk pencapaian tingkat kemampuan yang lebih baik dalam berolahraga, yang memerlukan waktu tertentu (pentahapan) serta memerlukan perencanaan yang tepat dan cermat.

b) Proses latihan harus teratur dan progresif. Teratur maksudnya latihan harus dilakukan secara ajeg, muju, dan berkelanjutan (kontinyu). Sedangkan bersifat progresif maksudnya materi latihan diberikan dari yang mudah ke yang sukar, dari yang sederhana ke yang lebih sulit (kompleks), dari yang ringan ke yang berat.

c) Pada setiap kali tatap muka (satu sesi atau satu unit latihan) harus memiliki tujuan dan sasaran. d) Materi latihan harus berisikan materi teori dan paktik, agar pemahaman dan penguasaan

(12)

e) Menggunakan metode tertentu, yaitu cara paling efektif yang direncanakan secara bertahap dengan memperhitungkan faktor kesulitan, kompleksitas gerak, dan menekan pada sasaran latihan.

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa latihan adalah aktifitas yang meningkatkan keterampilan (kemahiran) seseorang yang dilakukan secara sistematis, teratur, meningkat dan berulang-ulang waktunya untuk mencapai sempurna.

2.2.2 Prinsip-prinsip Latihan

Pada dasarnya latihan yang dilakukan pada setiap cabang olahraga harus mengacu dan berpedoman pada prinsip-prinsip latihan. Proses latihan yang menyimpang sering kali mengakibatkan kerugian bagi atlet maupun pelatih. Prinsip-prinsip latihan memiliki peranan penting terhadap aspek fisiologis dan psikologis olahragawan. Dengan memahami prinsip-prinsip latihan akan mendukung upaya dalam meningkatkan kualitas latihan.

Prinsip-prinsip latihan menurut Bompa (1994: 29-48) adalah sebagai berikut: (1) prinsip partisipasi aktif mengikuti latihan, (2) prinsip pengembangan menyeluruh, (3) prinsip spealisasi, (4) prinsip individual, (5) prinsip bervariasi, (6) model dalam proses latihan, dan (7) prinsip peningkatan beban. Selanjutnya Sukadiyanto (2005: 12) menjelaskan prinsip-prinsip latihan yang menjadi pedoman agar tujuan latihan dapat tercapai, antara lain: (1) prinsip kesiapan, (2) individual, (3) adaptasi, (4) beban lebih, (5) progresif, (6) spesifik, (7) variasi, (8) pemanasan dan pendinginan, (9) latihan jangka panjang, (10) prinsip berkebalikan, (11) tidak berlebihan, dan (12) sistematik. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa prinsip latihan pada dasarnya mencangkup prinsip spesifikasi, system energi, dan prinsip overload. Prinsip spesifikasi berarti memiliki kekhususan sistem energi meliputi penggunaan energi, dan prinsip overload yang bekaitan dengan intensitas, frekuensi, dan durasi.

(13)

2.2.3 Tujuan dan Sasaran Latihan

Menurut Bompa (1994: 5) bahwa tujuan latihan adalah untuk memperbaiki prestasi tingkat trampil maupun kinerja atlet, dan diarahkan oleh pelatihnya untik mencapai tujuan umum latihan. Rumusan dan tujuan dan sasaran latihan dapat bersifat untuk yangjangka panjang maupun jangka pendek. Untuk tujuan jangka panjang merupakan sasaran dan tujuan yang akan datang dalam satu tahun kedepan atau lebih. Sedangkan tujuan dan sasaran latihan jangka pendek waktu persiapan yang dilakukan kurang dari satu tahun.Menurut Sukadiyanto (2005: 8) tujuan latihan secara umum adalah membantu para pembina, pelatih, guru olahraga dapat menerapkan dan memiliki kemampuan konseptual serta keterampilan dalam mengungkap prestasi. Sedangkan sasaran latihan secara umum adalah untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan olahragawan dalam mencapai puncak prestasi.

Sukadiyanto (2005: 9) lebih lanjut menjelaskan bahwa sasaran dan tujuan latihan secara garis besar antara lain: (a) meningkatkan kualitas fisik dasar secara umum dan menyeluruh. (b) mengembangkan dan meningkatkan potensi fisik yang khusus, (c) menambah dan menyempurnakan teknik, (d) mengembangkan dan menyempurnakan strategi, teknik, dan pola bermain dan (e) meningkatkan kualitas dan kemampuan psikis olahragawan dalam bertanding. Berdasarkan beberapa pendapat pada penjelasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa tujuan dan sasaran latihan dibagi menjadi dua, yaitu tujuan dan sasaran jangka panjang dan jangka pendek. Untuk mewujudkan tujuan dan sasaran tersebut, memerlukan latihan teknik, fisik, taktik, dan mental. Prinsip-prinsip latihan yang dikemukakan di sini adalah prinsip yang paling mendasar, akan tetapi penting dan yang dapat diterapkan pada setiap cabang olahraga serta harus dimengerti dan diketahui benar-benar oleh pelatih maupun atlet. Untuk memperoleh hasil yang dapat meningkatkan kemampuan atlet dalam perencanaan program pembelajaran harus

(14)

berdasarkan pada prinsip-prinsip dasar latihan, yaitu: 1) Prinsip beban lebih (over load principle), 2) Prinsip perkembangan menyeluruh (multilateral development), 3) Prinsip kekhususan (spesialisasi), 4) Prinsip individual, 5) Intensitas latihan, 6) Kualitas latihan, 7) Variasi latihan, 8) lama latihan, 9) Prinsip pulih asal (Harsono, 1988: 102-122).

Prinsip beban lebih (over load principle) adalah bahwa beban latihan yang diberikan kepada atlet harus diberikan berulang kali dengan intensitas yang cukup. Kalau latihan dilakukan secara sitematis maka diharapkan tubuh atlet dapat menyesuaikan diri semaksimal mungkin kepada latihan yang diberikan, serta dapat bertahan terhadap hal yang ditimbulkan oleh latihan tersebut baik stress fisik maupun stress mental. Jadi selama beban kerja dan tantangan-tantangan yang diterima masih berada dalam batas-batas kemampuan manusia untuk mengatasinya, dan tidak terlalu menekan sehingga menimbulkan ketegangan yang berlebihan selama itu pula proses perkembangan fisik maupun mental manusia masih mungkin tanpa merugikan mereka(Harsono, 1988: 104). Dalam penelitian ini prinsip beban lebih (over load principle) ditingkatkan setiap satu minggu yaitu, repetisi tetap 10 kali dan setnya yang meningkat dimulai pada minggu pertama ke tiga set, pada minggu kedua empat set dan seterusnya. Dengan peningkatan beban ini diharapkan terjadi peningkatan kemampuan pada ketepatan servis bola voli.

Prinsip kekhususan (spesialisasi) mempunyai pengertian apapun cabang olahraga yang diikutinya tujuan serta motif atlet biasanya adalah untuk melakukan spesialisasi dalam cabang olahraga tersebut, oleh karena itu spesialisasi memperoleh kesuksesan dan menonjol dalam cabang olahraga tersebut. Spesialisasi juga berarti mencurahkan segala kemampuan, baik fisik maupun mental pada satu cabang olahraga tersebut (Harsono, 1988: 109). Prinsip individual mengharuskan seluruh konsep latihan disusun sesuai dengan kekhasan setiap individu agar tujuan latihan dapat tercapai. Faktor-faktor seperti umur, jenis kelamin, bentuk tubuh,

(15)

kedewasaan, latar belakang pendidikan, tingkat kesegaran jasmaninya dan ciri-ciri psikologisnya semua harus ikut di pertimbangkan dalam mendisain latihan bagi atletnya.

Oleh karena itu latihan memamng harus terencana, sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Menurut Harsono (1993:113), bahwa latihan memang harus direncanakan dan disesuaikan bagi setiap individu agar latihan tersebut dapat menghasilkan hasil yang terbaik. Intensitas latihan adalah suatu dosis atau jatah latihan yang harus dilakukan seorang atlet menurut program yang ditentukan (Sajoto, 1993: 133). Intensitas latihan dapat diukur dengan cara menghitung denyut nadi dengan rumus Denyut Nadi Maksimal (DNM) = 220-Umur (dalam tahun). Dalam penelitian ini dosis latihan menggunakan 80 % - 90 % dari DNM. Jadi bagi atlet yang berumur 14 tahun takaran intensitas yang dicapai dalam latihan adalah 80 dari 206 = 165 denyut nadi/menit. Kualitas latihan adalah apabila latihan atau drill-drill yang dilakukan memang benar-benar sesuai dengan kebutuhan atlet, apabila koreksi-koreksi yang konstruktif sering diberikan dan pengawasan diberikan oleh pelatih sampai ke detail-detail gerakan dan apabila prinsip-prinsip over load diterapkan baik segi fisik maupun mental (Harsono, 1988: 119). Variasi dalam latihan di berikan untuk mencegah kemungkinan timbulnya kebosanan berlatih sehingga pelatih harus kreatif dan pandai-pandai mencari dan menerapkan variasi dalam latihan. Variasi latihan yang dikreasi dan diterapkan secara cerdik akan dapat menjaga terpeliharanya fisik maupun mental atlet sehingga timbulnya kebosanan berlatih sejauh mungkin dapat terjadi dalam penelitian ini variasi latihan yang dilakukan yaitu pas atas berpasangan dan menggunakan tembok sasaran.(Harsono, 1988: 121)

2.3 Konsep Latihan Drill 2.3.1 Pengertian Latihan Drill

(16)

Seorang perlu memilki ketangkasan dalam sesuatu, misalnya dalam lari cepat, atletik, berenang, atau basket. Sebab itu didalam latihan untuk mengusai keterampilan tersebut, maka salah satu teknik penyajian pelajaran untuk memenuhi tuntutan tersebut ialah teknik latihan berulang-ulang (drill).

Latihan drill merupakan suatu cara mengajar dengan memberikan latihan-latihan terhadap apa yang telah dipelajari siswa sehingga memperoleh suatu keterampilan tertentu. Latihan drill mengandung arti bahwa sesuatu itu selalu diulang-ulang, akan tetapi bagaimanapun juga antara situasi belajar yang pertama dengan situasi belajar yang realistis, ia akan berusaha melatih keterampilannya. Bila situasi belajar itu diubah-ubah kondisinya sehingga menuntut respon yang berubah, maka keterampilan akan lebih disempurnakan.

Nana Sudjana 2012/04 Metode Pembelajaran LatihanDrill

Pengertian metode drill adalah suatu metode mengajar dimana siswa langsung diajak ke tempat latihan keterampilan seperti untuk melihat bagaimana cara membuat sesuatu, bagaimana menggunakan,untuk apa dibuat, dan apa manfaatnya.Metode drill berfungsi untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang telah merupakan kenyataanserta usaha memperoleh ketangkasan, ketepatan dan keterampilan latihan tentang sesuatu di pelajari.

Edi Karsono dan Rickky Rusdhiyana (dalam Pantolai, 2010:39).Metode drill latihan untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan latihan terhadap apa yang dipelajari, karena hanya dengan melakukan secara praktis suatu pengetahuan dapat disempurnakan.

Menurut Roestiyah dalam Muradi (2006: 4), Latihan drill adalah suatu teknik yang dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar dimana siswa melaksnakan kegiatan-kegiatan latihan, siswa memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari.

(17)

Drill ialah suatu teknik yang dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiata-kegiatan latihan, agar siswa memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari. Latihan yang praktis, mudah dilakukan, serta teratur melaksanakannya membina anak dalam meningkatkan penguasaan keteranpilan itu, bahkan mungkin siswa dapat memiliki ketangkasan itu dengan sempurna. Hal ini menunjang siswa berprestasi dalam bidang tertentu, misalnya juara lari, juara sepak bola, juara bersepeda dan sebagainya. Teknik memang banyak digunakan untuk pelajaran olahraga. Dalam hal ini banyak cabang olahraga yang memerlukan latihan khusus dan teratur, serta pengawasan dari trainer yang baik.

2.4 Kerangka Berfikir

Latihan drill adalah suatu jenis latihan yang dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar dimana sampel melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan berulang-ulang, sehingga sampel memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah di pelajari sebelumnya. Untuk melakukan latihan drill harus dilakukan gerakan yang bnaik dan pada prinsipnya untuk memperoleh hasil servis melayang maka latihan drill juga sangat berperan aktif.

Servis melayang (floating servis) dalam permainan bola voli adalah suatu rangkaian gerak memukul bola permulaan yang di lakukan oleh tangan yang di anggap lebih kuat dari luar garis belakang lapangan sendiri dengan cara melambungkan bola ke atas melewati kepala (overhead), kemudian di pukul dengan tangan (overhand) yang di anggap kuat tersebut kearah lapangan lawan dengan melewati atas jarring/net. Sedangkan servis melayang adalah kemampuan mengendalikan gerakan atau mengarahkan bola dengan tepat pada sasaran yang di kehendaki saat melakukan servis melayang dalam permainan bola voli. Asumsinya makin baik latihan drill

(18)

dilaksanakan, maka makin baik kemampuan sampel dalam melakukan servis melayang, penelitian ini hanya dibatasi pada pengaruh metode drill terhadap peningkatan ketepatan servis melayang dalam permainan bola voli pada siswa putera kelas X SMA Negeri 1 Boliyohuto.

Berdasarkan teori-teori yang ada, latihan drill adalah proses latihan yang berulang-ulang. Dengan demikian latihan drill sangat berperan dalam cabang olahraga Bola Voli, terutama dalam melakukan proses latihan servis melayang. Pembahasan sebelumnya, dapat dipahami bahwa untuk mencapai peningkatan ketepatan dalam melakukan servis melayang yang baik dan tepat, maka guru atau pelatih merancang dan mampu mendesainkan atau strategi dan pendekatan dari proses belajar mengajar ataupun melatih yang terarah dan terancang dengan baik atau terencana sesuai dengan keinginan.

2.5 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teoretis dan yang telah di kemukakan diatas hipotesis dalam penelitian ini adalah tedapat pengaruh metode drill terhadap peningkatan ketepatan servis melayang dalam perainan bola voli.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :