1 1.1 Latar Belakang
Pendidikan tinggi sebagai salah satu institusi yang bergerak dalam jasa
pendidikan tidak terlepas dari pengaruh globalisasi. Perubahan trend pendidikan dan pergerakan bebas ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu
aspek penting dalam globalisasi akan menyentuh bidang pendidikan. Penerapan
sistem informasi dapat dijadikan strategi untuk menjaring calon-calon mahasiswa
agar dapat bersaing dengan pesaing yang berada di bidang yang sama yaitu
perguruan tinggi.
Universitas Terbuka (UT) telah berkiprah lebih dari 27 tahun dalam dunia
pendidikan tinggi yang menerapkan sistem belajar jarak jauh dan terbuka. Di usia
yang cukup lama ini Universitas Terbuka telah dikenal masyarakat Indonesia
sampai pelosok tanah air, hal ini dikarenakan daya jangkau UT yang luas. UT
didirikan dengan tujuan memberikan kesempatan yang luas kepada masyarakat
Indonesia untuk memperoleh pendidikan tinggi dan memberikan layanan
pendidikan tinggi bagi mereka yang bekerja dan yang tidak dapat melanjutkan
pendidikannya ke perguruan tinggi konvensional. Dengan sistem belajar jarak
jauh dan terbuka, UT mempunyai keunikan tersendiri yang berbeda dengan
pendidikan tinggi konvensional.
UT memiliki visi dan misi untuk menunjang hal tersebut. Visi dari UT
Jarak Jauh (PTTJJ) berkualitas dunia dalam menghasilkan produk pendidikan
tinggi dan dalam penyelenggaraan, pengembangan, dan penyebaran informasi PTTJJ”.
Adapun misi UT sebagai berikut:
1. Menyediakan pendidikan tinggi yang berkualitas dunia bagi semua
lapisan masyarakat melalui penyelenggaraan berbagai program PTTJJ
2. Mengkaji dan mengembangkan sistem PTTJJ
3. Memanfaatkan dan mendiseminasikan hasil kajian keilmuan dan
kelembagaan untuk menjawab tantangan kebutuhan pembangunan
nasional.
Pada awal berdirinya, UT memberikan kesempatan pada para guru sekolah
menengah pertama maupun sekolah menengah umum dan masyarakat umum
untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan meningkatkan
profesionalisme. Seiring dengan kemajuan dan tuntutan di dunia pendidikan dan
adanya sertifikasi guru dan dosen yang mensyaratkan guru harus sarjana, maka
banyak guru sekolah dasar dan guru anak usia dini yang mengikuti Program
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Guru Pendidikan Anak
Usia Dini (PGPAUD) sehingga sampai saat ini jumlah mahasiswa UT yang
terbanyak di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), sedangkan jumlah
mahasiswa Non-Guru atau yang disebut Non Pendidikan Dasar (Non Pendas)
pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Ekonomi (FEKON)
dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) masih jauh di
Saat ini UT mempunyai 37 Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas
Terbuka (UPBJJ-UT) yang berada di setiap propinsi dan kota besar di Indonesia.
Hal ini membuat daya jangkau yang luas untuk melakukan promosi dalam rangka
menjaring mahasiswa baru Program Non Pendas. Namun setiap daerah tentunya
mempunyai karakteristik yang berbeda dalam menerima informasi, sehingga perlu
dicari strategi sistem informasi promosi yang tepat dan efektif.
Rochim (2014) menyebutkan perencanaan strategis sistem informasi
dibutuhkan untuk menyesuaikan gerak langkah organisasi dengan sistem
informasi yang pas dengan irama perkembangan organisasi dan mampu untuk
memenuhi kebutuhan sistem informasi organisasi di masa datang. Menurut
Nurjaya (2014) menjelaskan bahwa untuk memasuki lingkungan bisnis yang
kompetitif, manajemen sistem informasi yang baik merupakan faktor penting
yang harus diperhatikan. Lain halnya yang dikemukakan Sensuse dan Sopryadi
(2008), bahwa dalam industri usaha jasa, sistem informasi merupakan senjata
yang paling penting dalam memenangkan persaingan usaha, mengingat informasi
merupakan aset yang sangat strategis. Sipayung (2009) menjelaskan keberhasilan
atau kegagalan perusahaan tidak dapat dimotivasi atau diukur dalam jangka
pendek oleh model akuntansi keuangan tradisional, melainkan menggunakan
Balanced Scorecard. Sedangkan menurut Chrismardani (2010) dalam kondisi persaingan yang ketat, perusahaan dipaksa untuk berkompetisi dan berusaha untuk
menciptakan nilai bagi pelanggan. Konsep Blue Ocean Strategy merupakan strategi yang menantang perusahaan untuk keluar dari samudera merah yang
penuh dengan persaingan dan menciptakan ruang pasar yang belum ada
Dalam pelaksanaan sosialisasi dan promosi yang sudah dilaksanakan di
UPBJJ-UT Denpasar yaitu melalui surat kabar, radio, televisi, spanduk, brosur
dan website. Namun penerapan kegiatan promosi tersebut belum dirasa optimal
mengingat beberapa fakta-fakta yang terkait dengan keberhasilan promosi yang
dilakukan, yaitu diantaranya berkurangnya jumlah mahasiswa dari tahun ke tahun.
Berkurangnya jumlah mahasiswa tidak lepas dari ketidaktahuan calon mahasiswa
akan keberadaan UT. Bayang-bayang universitas konvensional di Bali sangat
mempengaruhi minat calon mahasiswa untuk mendaftar ke UT. Keberadaan UT di
Bali sejak 1984 seharusnya menjadikan institusi pendidikan ini mengakar pada
setiap lulusan Sekolah Menengah Umum/Sekolah Menengah Kejuruan
(SMU/SMK), namun kenyataannya dari beberapa SMU/SMK yang pernah
didatangi dalam rangka sosialisasi, hampir sebagian besar belum mengetahui
keberadaan UT. Hal tersebut mengindikasikan bahwa strategi promosi yang
UPBJJ-UT Denpasar lakukan selama ini belum dapat menyentuh target sasaran
utamanya. Oleh karena itu, peneliti membuat suatu bentuk usulan perencanaan
strategis sistem informasi promosi di UPBJJ-UT Denpasar yang mengacu pada
penelitian yang pernah di lakukan oleh Sarnoto dan Zainal (2007) tentang alam
kondisi industri penyiaran dengan tingkat persaingan sangat tinggi diperlukan
sebuah terobosan agar industri ini tetap sehat dan mampu bertahan. Model
perencanaan strategis sistem informasi dengan pendekatan Blue Ocean Strategy
-Balanced Scorecard (BOS-BSC) menjawab kebutuhan akan model perencanaan strategis pada industri penyiaran. Dengan sifat-sifat pada BOS dan BSC, model
ini menjawab kebutuhan model Perencanaan Strategis Sistem Informasi pada
persaingan tinggi dengan hasil pencapaian yang terukur dan komprehensif. Model
ini di implementasikan dalam PSSI TV Anak Space Toon. Hasil kajian menunjukkan sebuah model PSSI industri penyiaran TV yang selaras dengan
strategi bisnisnya. Komponen-komponen industri penyiaran yang tertangkap
dalam kurva nilai BOS dipetakan kedalam 4 perspektif BSC, yaitu persepektif
finansial, pelanggan, proses bisnis internal, pembelajaran dan pertumbuhan. Hasil
pemetaan ini selanjutnya mengelaborasi kebutuhan SI/TI sejalan dengan strategi
bisnis BOS menggunakan empat perspektif BSC. Kebutuhan SI/TI yang muncul
kemudian di inventarisir untuk dijalankan sesuai dengan manajemen strategis
SI/TI-nya. Pendekatan terintegrasi antara strategi bisnis Blue Ocean Strategy
dengan Balanced Scorecard menghasilkan model perencanaan strategis yang komprehensif sehingga cocok digunakan pada industri penyiaran TV.
Berdasarkan hal tersebut, peneliti mengimplementasikan pendekatan Blue Ocean Strategy - Balanced Scorecard (BOS-BSC) pada lembaga pendidikan. Dengan banyaknya lembaga pendidikan baru menimbulkan tingginya tingkat
persaingan target calon mahasiswa antar lembaga pendidikan. Pengelolaan
lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi pada dasarnya mengelola 3 aspek
utama, yaitu mengelola Process, Content, dan Resources. Mengelola process
dapat dikelompokkan dalam 2 bagian besar, yaitu proses inti (proses untuk
menjalankan fungsi perguruan tinggi - Tri Dharma Perguruan Tinggi), dan proses
penunjang (proses terkait dengan fungsi bisnis, seperti keuangan, sdm, dan
pemasaran). Mengelola Content di perguruan tinggi merupakan aktifitas yang sangat penting, karena di dalamnya terdiri atas mengelola isi pembelajaran,
adalah untuk mengelola semua sumberdaya yang dimiliki. Ketiga aspek utama
tersebut (Process, Content, Resources) saling terkait dan saling berpengaruh pada budaya organisasi. Dalam hal ini, pengelola lembaga pendidikan memerlukan
suatu terobosan untuk dapat mengelola ketiga aspek utama dengan baik, serta
dapat digunakan untuk meningkatkan daya saing dalam hal perebutan target calon
mahasiswa antar lembaga pendidikan.
Dengan problematik yang dihadapi dalam lembaga pendidikan ini peran
perencanaan strategis sistem informasi promosi menjadi penting dan menentukan
keberhasilan suatu lembaga pendidikan. Dengan perencanaan strategi sistem
informasi promosi diharapkan memberikan arahan, dan konsentrasi pada usahanya
agar mencapai target. Berlatar belakang hal tersebut, peneliti
mengimplementasikan pendekatan Blue Ocean Strategy - Balanced Scorecard
(BOS-BSC) pada lembaga pendidikan dengan membuat suatu bentuk usulan
perencanaan strategis sistem informasi promosi dan dikembangkan untuk
peningkatan jumlah mahasiswa Non Pendas UPBJJ-UT Denpasar. Penelitian ini
menggunakan sampel mahasiswa Program Non Pendas sebanyak 84 orang dan
pelajar kelas 3 SMU/SMK sebanyak 100 orang. Peneliti menggunakan statistik
deskriptif untuk menjelaskan atau menggambarkan berbagai karakteristik data
seperti rata-rata (mean), frekuensi dan sebagainya dengan menggunakan bantuan
software SPSS 16.0 for windows. Dari data statistik ini peneliti mendiskripsikan, menginterpretasikan dan menjelaskan informasi yang diperoleh dari responden.
Kemudian analisa PEST (Politik Ekonomi Sosial Teknologi) digunakan untuk
menganalisis lingkungan luar yang mempengaruhi kegiatan pendidikan dilihat
kerangka untuk menilai sebuah situasi, dan menilai strategi atau posisi, arah
perusahaan, rencana pemasaran, atau ide. Dimana analisis ini cukup
mempengaruhi perusahaan, karena melalui analisis ini dapat diambil suatu
peluang atau ancaman baru bagi perusahaan.
Dari analisa PEST didapatkan formula yang cocok digunakan dengan
kondisi lembaga pendidikan saat ini yaitu Blue Ocean Strategy (BOS). Blue Ocean Strategy adalah sebuah strategi yang menawarkan sebuah konsep baru dimana perusahaan mencari daerah baru yang belum dimasuki oleh kompetitor
sama sekali, sehingga perusahaan dapat bersaing dengan cara yang lebih baik
karena daerah yang dimasuki oleh perusahaan merupakan daerah yang bebas dari
pesaing (Peter,2007). Dalam BOS, perusahaan memiliki sebuah kelebihan untuk
melakukan penguasaan pasar karena para pesaing belum memasuki daerah yang
perusahaan kuasai saat ini. Prinsip dasar yang dikenalkan dalam model BOS ini
adalah mencari daerah baru yang belum dimasuki oleh para pesaing yang sudah
ada pada saat ini. Untuk dapat menerapkan BOS ini dibutuhkan beberapa hal yaitu
menemukan dan membangun daerah ataupun pasar yang baru, dan kedua adalah
mengeksploitasi pasar yang belum dimasuki oleh pesaing dan melindunginya
sehingga tidak ada pihak lain yang dapat masuk lagi.
Sedangkan untuk mendapatkan formulasi sistem informasi promosi
digunakan tools Balanced Scorecard (BSC). Balanced Scorecard lebih dari sekedar sistem pengukuran taktis atau operasional (Sipayung,2009). Perusahaan
yang inovatif menggunakan scorecard sebagai sebuah sistem manajemen
strategis, untuk mengelola strategi jangka panjang. Perusahaan menggunakan
penting seperti memperjelas dan menerjemahkan visi dan strategi,
mengkomunikasikan dan mengaitkan berbagai tujuan dan ukuran strategis,
merencanakan, menetapkan sasaran dan menyelaraskan berbagai inisiatif strategis,
meningkatkan umpan balik dan pembelajaran strategis. Dalam perkembangannya
BSC lebih dimanfaatkan sebagai alat yang efektif untuk perencanaan strategis,
yaitu sebagai alat untuk menterjemahkan misi, visi, peran kunci, faktor penentu
keberhasilan, tujuan, tolok ukur dan target kinerja serta tindakan perbaikan yang
komprehensip, koheren, terukur dan berimbang (Wahyu, 2014).
1.2. Perumusan Masalah
Bagaimana perencanaan strategis sistem informasi promosi UPBJJ-UT
Denpasar untuk meningkatkan jumlah mahasiswa Non Pendas.
1.3 Batasan Masalah
Masalah yang diangkat dibatasi pada suatu bentuk usulan perencanaan
strategis sistem informasi promosi di UPBJJ-UT Denpasar. Perencanaan strategis
dibuat dan dikembangkan untuk peningkatan jumlah mahasiswa Non Pendas
UPBJJ-UT Denpasar lima tahun kedepan. Penelitian ini menggunakan sampel
mahasiswa Program Non Pendas sebanyak 84 orang dan pelajar kelas 3
SMU/SMK sebanyak 100 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah penggabungan dari metode Balanced Scorecard (BSC), Blue Ocean Strategic (BOS), dan Politic Ekonomic Social and Technology (PEST). Analisa PEST digunakan untuk menganalisis lingkungan luar yang mempengaruhi
analisis PEST didapatkan formula yang cocok digunakan dengan kondisi lembaga
pendidikan saat ini yaitu Blue Ocean Strategy (BOS). Sedangkan untuk mendapatkan formulasi sistem informasi promosi digunakan tools Balanced Scorecard (BSC).
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan perencanan strategis sistem
informasi promosi yang tepat untuk peningkatan jumlah mahasiswa Non Pendas
di UPBJJ-UT Denpasar, menggunakan gabungan metode BSC, BOS dan PEST.
1.5. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Peneliti: untuk melengkapi persyaratan kelulusan Program Magister
Teknik Elektro.
2. Pimpinan: untuk membantu menentukan strategi sosialisasi dan promosi di
UPBJJ-UT Denpasar
3. UPBJJ-UT Denpasar: untuk meningkatkan jumlah mahasiswa pada tahun
mendatang.
1.6. Keaslian Penelitian
Sampai saat ini perencanaan strategis sistem informasi promosi di
UPBJJ-UT Denpasar dengan metode Balanced Scorecad (BSC), Blue Ocean Strategic
(BOS), dan Politic Ekonomic Social and Technology (PEST) belum pernah dilakukan di UPBJJ-UT Denpasar. Adapun penelitian yang pernah dilaksanakan
di UPBJJ-UT Denpasar oleh Sudrajat dan Wahyudi (2011) yaitu Analisis Strategi
Promosi UPBJJ-UT Denpasar. Metode yang digunakan adalah dengan menggali
informasi dari responden bahwa responden mengenal atau mengetahui Universitas
Terbuka melalui media apa sehingga desain penelitian ini merupakan exploratory study yang bertujuan untuk mendapatkan informasi/data sebanyak mungkin dari responden yang bersifat cross sectional. Ruang lingkup penelitian tersebut berupa penelitian statistik dan lingkungan penelitiannya merupakan penelitian lapangan
(field study). Beberapa penelitian yang menjadi acuan sebagai keaslian penelitian penulis adalah sebagai berikut:
1. Dalam penelitian Model Perencanaan Strategis Sistem Informasi Pada
Industri Penyiaran Televisi Dengan Pendekatan Blue Ocean Strategy
dan Balanced Scorecard oleh Sarnoto dan Hasibuan (2007), menyebutkan penentuan business strategy dalam lingkungan yang sarat perubahan harus menciptakan inovasi yang mempertimbangkan tiga
hal: who, what dan how. Who adalah siapa, yaitu sasaran segmentasi yang sesungguhnya ingin di capai, What adalah value apa yang akan diberikan dengan inovasi tersebut, dan How adalah bagaimana caranya menciptakan inovasi tersebut. Hasil kajian menyimpulkan inovasi
merupakan faktor strategis dalam meningkatkan keunggulan kompetitif.
2. Menurut Sipayung (2009) melalui penelitian Balanced Scorecard: Pengukuran Kinerja Perusahaan dan Sistem Manajemen Strategis
menjelaskan keberhasilan atau kegagalan perusahaan tidak dapat
dimotivasi atau diukur dalam jangka pendek oleh model akuntansi
yaitu suatu kerangka kerja untuk mengintegrasikan berbagai ukuran
yang diturunkan dari strategi perusahaan.
3. Dalam penelitian lainnya, Nurjaya (2014) menyebutkan Model
Strategic Planning For Information System Menggunakan Balanced Scorecard Pada Universitas Komputer Bandung menjelaskan bahwa untuk memasuki lingkungan bisnis yang kompetitif, manajemen sistem
informasi yang baik merupakan faktor penting yang harus diperhatikan.
BSC dimanfaatkan sebagai alat yang efektif untuk perencanaan
strategis, yaitu sebagai alat untuk menterjemahkan misi, visi, peran
kunci, faktor penentu keberhasilan, tujuan, tolok ukur dan target kinerja
serta tindakan perbaikan yang komprehensip, koheren, terukur dan
berimbang.
4. Lain halnya yang dikemukakan Sensuse dan Sopryadi (2008), metode
Ward dan Peppard dalam penelitian Perencanaan Strategis Sistem dan Teknologi Informasi Pada St. Ignatius Education Center Palembang. Dijelaskan bahwa dalam industri usaha jasa, sistem informasi
merupakan senjata yang paling penting dalam memenangkan
persaingan usaha, mengingat informasi merupakan aset yang sangat
strategis. Hal tersebut juga dapat mendukung rencana dan
pengembangan bisnis perusahaan yang nantinya akan memberikan nilai
tambah berupa competitive advantage dalam persaingan bisnis. Penerapan sistem teknologi informasi akan bermanfaat jika
menetapkan strategi sistem teknologi informasi yang selaras dengan
strategi bisnis.
5. Menurut Wedhasmara (2007), dalam penelitian Langkah-Langkah
Perencanaan Strategis Sistem Informasi Dengan Menggunakan Metode
Ward dan Pepard dijelaskan bahwa perencanaan strategis SI/TI digunakan untuk menyelaraskan antara kebutuhan strategi bisnis dan
strategi SI/TI untuk mendapatkan nilai tambah dari suatu organisasi dari
segi keunggulan kompetitif. Proses identifikasi kebutuhan informasi
perencanaan strategis sistem informasi dimulai terlebih dahulu dari
lingkungan organisasi yang memuat visi, misi, dan tujuan organisasi,
dilanjutkan kepada identifikasi terhadap lingkungan internal dan
eksternal organisasi, serta identifikasi internal dan eksternal SI/TI
lingkungan organisasi, kemudian proses penentuan peluang SI/TI dapat
dilaksanakan ketika kebutuhan informasi dari tujuan organisasi telah
semuanya teridentifikasi.
6. Sedangkan Rochim (2014) menyebutkan perencanaan strategis sistem
informasi dibutuhkan untuk mempersiapkan organisasi dalam
merencanakan pemakaian teknologi dan sistem informasi untuk
organisasinya. Perencanaan tersebut dibutuhkan sekali untuk
menyesuaikan gerak langkah organisasi dengan sistem informasi yang
pas dengan irama perkembangan organisasi dan mampu untuk
Pemetaan metode yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada diagram
fishbone penelitian pada gambar 1.1 berikut ini:
Renstra Sistem
Informasi Promosi
Permasalahan Pengumpulan data Penentuan strategi Metode Penurunan mahasiswa Formulasi BSC Penjabaran Visi dan misiObservasi Kuesioner Data sekunder Integrasi BOS-BSC Analisa BOS Inovasi promosi Sasaran segmentasi Pemetaan BOS ke BSC Value inovasi Menciptakan inovasi Analisa PEST Statistik Diskriptik
14 2.1. State Of The Art Review
Menurut Sarnoto dan Hasibuan (2007) dalam penelitian Model
Perencanaan Strategis Sistem Informasi Pada Industri Penyiaran Televisi Dengan
Pendekatan Blue Ocean Strategy dan Balanced Scorecard menyebutkan
penentuan business strategy dalam lingkungan yang sarat perubahan harus menciptakan inovasi yang mempertimbangkan tiga hal: who, what dan how. Who
adalah siapa, yaitu sasaran segmentasi yang sesungguhnya ingin di capai, What
adalah value apa yang akan diberikan dengan inovasi tersebut, dan How adalah bagaimana caranya menciptakan inovasi tersebut. Blue Ocean Strategy (BOS) adalah sebuah proses management strategic yang mampu mengubah paradigma pelaku bisnis dalam menghadapi persaingan. BOS adalah mengenai bagaimana
menguasai ruang pasar yang tidak diperebutkan sehingga dengan demikian
persaingan menjadi tidak relevan. Hasil kajian menyimpulkan inovasi merupakan
faktor yang strategis dalam meningkatkan keunggulan kompetitif. Solusi tersebut
di integrasikan kedalam Balanced Scorecard (BSC) untuk mendapatkan sebuah Perencanaan Strategis Sistem Informasi yang lebih fokus, serta komprehensif
serta dinamis yang sesuai dengan karakteristik TV.
Lain halnya yang dikemukan oleh Sipayung (2009) melalui penelitian
Balanced Scorecard: Pengukuran Kinerja Perusahaan dan Sistem Manajemen Strategis menjelaskan keberhasilan atau kegagalan perusahaan tidak dapat
dimotivasi atau diukur dalam jangka pendek oleh model akuntansi keuangan
tradisional. Model finansial tersebut pada umumnya mengukur peristiwa masa
lalu, bukan investasi yang ditanamkam dalam berbagai kapabilitas yang
menghasilkan nilai masa depan. Oleh karena itu perusahaan dapat menggunakan
Balanced Scorecard, suatu kerangka kerja untuk mengintegrasikan berbagai ukuran yang diturunkan dari strategi perusahaan. Balanced Scorecard juga memperkenalkan pendorong kinerja finansial masa depan. Pendorong kinerja
yang meliputi perspektif pelanggan, proses bisnis internal, dan pembelajaran serta
pertumbuhan, diturunkan dari proses penerjemahan strategi perusahaan yang
dilaksanakan secara eksplisit dan ketat ke dalam berbagai tujuan dan ukuran yang
nyata.
Sementara yang dipaparkan Nurjaya (2014) dalam penelitian Model Strategic Planning For Information System Menggunakan Balanced Scorecard
Pada Universitas Komputer Bandung menjelaskan bahwa untuk memasuki
lingkungan bisnis yang kompetitif, manajemen sistem informasi yang baik
merupakan faktor penting yang harus diperhatikan. BSC dimanfaatkan sebagai
alat yang efektif untuk perencanaan strategis, yaitu sebagai alat untuk
menterjemahkan misi, visi, peran kunci, faktor penentu keberhasilan, tujuan, tolok
ukur dan target kinerja serta tindakan perbaikan yang komprehensip, koheren,
terukur dan berimbang. BSC merupakan suatu kerangka kerja baru yang
mengintegrasikan berbagai ukuran yang diturunkan dari strategi organisasi.
Dengan perencanaan stretegis yang baik, dapat meningkatkan efesiensi dan
efektifitas dalam proses bisnis, dapat memberikan nilai tambah yaitu berupa
kinerja dan menumbuhkan daya saing yang berkelanjutan (sustainable competitive).
Perencanaan strategis sistem informasi lainnya dengan metode Ward dan
Peppard dipaparkan oleh Sensuse dan Sopryadi (2008). Dalam penelitian Perencanaan Strategis Sistem dan Teknologi Informasi Pada St. Ignatius Education Center Palembang dijelaskan dalam industri usaha jasa, sistem informasi merupakan senjata yang paling penting dalam memenangkan
persaingan usaha, mengingat informasi merupakan aset yang sangat strategis. Hal
tersebut juga dapat mendukung rencana dan pengembangan bisnis perusahaan
yang nantinya akan memberikan nilai tambah berupa competitive advantage
dalam persaingan bisnis. Penerapan sistem teknologi informasi akan bermanfaat
jika penerapannya sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan dengan
menetapkan strategi sistem teknologi informasi yang selaras dengan strategi
bisnis. Hasil dari analisis tersebut mendefinisikan perencanaan strategis sistem
informasi berupa strategi manajemen SI/TI, penerapan dan pemilihan teknologi
informasi yang selaras dengan strategi bisnis St. Ignatius Education Center. Menurut Wedhasmara (2007) dalam penelitian Langkah-Langkah
Perencanaan Strategis Sistem Informasi Dengan Menggunakan Metode Ward and
Pepard dijelaskan Perencanaan Strategis SI/TI digunakan untuk menyelaraskan antara kebutuhan strategi bisnis dan strategi SI/TI untuk mendapatkan nilai
tambah dari suatu organisasi dari segi keunggulan kompetitif. Proses identifikasi
kebutuhan informasi Perencanaan Strategis Sistem Informasi dimulai terlebih
dahulu dari lingkungan organisasi yang memuat visi, misi, dan tujuan organisasi,
organisasi, serta identifikasi internal dan eksternal SI/TI lingkungan organisasi,
kemudian proses penentuan peluang SI/TI dapat dilaksanakan ketika kebutuhan
informasi dari tujuan organisasi telah semuanya teridentifikasi. Hasil dari
Perencanaan Strategis SI/TI ini menjawab permasalahan pemanfaatan SI/TI suatu
organisasi, adapun hasil identifikasi dari perencenaan strategis sistem informasi
adalah terbentuknya portofolio aplikasi SI/TI.
Dalam penelitian Perencanaan Strategis Sistem Informasi Perguruan
Tinggi oleh Rochim (2014) disebutkan perencanaan strategis sistem informasi
dibutuhkan untuk mempersiapkan organisasi dalam merencanakan pemakaian
teknologi dan sistem informasi untuk organisasinya. Perencanaan tersebut
dibutuhkan sekali untuk menyesuaikan gerak langkah organisasi dengan sistem
informasi yang pas dengan irama perkembangan organisasi dan mampu untuk
memenuhi kebutuhan sistem informasi organisasi di masa datang. Dalam
penelitian yang menggunakan analisa portofolio (Mc Farlan) ini, mengangkat perencanaan strategis sebagai satu alat pendukung keberhasilan Universitas
Diponegoro dalam mencapai visi dan misi organisasinya.
Dalam penelitian yang pernah dilakukan di UPBJJ-UT Denpasar oleh
Sudrajat dan Wahyudi (2011) yaitu Analisis Strategi Promosi UPBJJ-UT
Denpasar menyebutkan jumlah mahasiswa Program Guru mengalami penurunan
karena para guru hampir semua sudah berijazah sarjana, sehingga Universitas
Terbuka harus dapat meningkatkan jumlah mahasiswa Program Non-Guru yaitu
FISIP, FEKON dan FMIPA. Perlu adanya promosi untuk mencapai target
mahasiswa baru seluruh Indonesia Program Non-Guru pada tahun 2014 sebanyak
Denpasar dapat berjalan dengan efektif maka perlu mengetahui informasi dari
masyarakat apakah mengenal atau setidaknya mengetahui Universitas Terbuka
dan melalui media apa. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode
statistik deskriptif yaitu menjelaskan atau menggambarkan berbagai karakteristik
data seperti rata-rata (mean), frekuensi dan sebagainya. Data statistik deskritif ini diolah dengan menggunakan bantuan software SPSS 17.0 for windows. Dari data statistik ini peneliti mendiskripsikan, menginterpretasikan dan menjelaskan
informasi yang diperoleh dari responden untuk diambil kesimpulan yang strategis
dalam mencapai target rekrutmen mahasiswa baru. Beberapa hal penting yang
dihasilkan dalam penelitian tersebut terkait dengan strategi promosi, diantaranya:
1. Sebagian besar mahasiswa baru Program Non-Guru mengenal Universitas
Terbuka pertama kali dari teman.
2. Sebagian kecil mahasiswa baru Program Non-Guru mengenal Universitas
Terbuka pertama kali dari media surat kabar, radio, televisi, brosur dan
internet.
3. Menurut pendapat mahasiswa baru sebaiknya UPBJJ-UT Denpasar tetap
melakukan promosi melalui surat kabar, radio, televisi, brosur dan internet.
4. Memberikan kualitas pelayanan yang terbaik kepada mahasiswa perlu
dilakukan agar secara tidak langsung mahasiswa dapat mensosialisasikan
dan mempromosikan Universitas Terbuka.
5. UPBJJ-UT Denpasar sebaiknya terus melakukan promosi dengan berbagai
cara seperti melalui media surat kabar, radio, televisi, brosur, internet,
spanduk, kerjasama, sosialisasi ke instansi terkait, memberikan pelayanan
Tabel 2.1 State Of The Art Review No Judul Penelitian Penulis (Tahun Penelitian) Metode 1 Model Perencanaan Strategis Sistem Informasi Pada Industri Penyiaran televisi Dengan Pendekatan Blue Ocean Strategy dan Balanced Scorecard Sunarto, A. dan Z.A. Hasibuan. (2007)
Menggunakan pendekatan Blue Ocean Strategy dan Balanced Scorecard dalam penentuan business strategy di lingkungan yang sarat perubahan harus menciptakan inovasi yang mempertimbangkan tiga hal: who, what dan how. Who adalah siapa, yaitu sasaran segmentasi yang sesungguhnya ingin di capai, What adalah value apa yang akan diberikan dengan inovasi tersebut, dan Howadalah bagaimana caranya menciptakan inovasi tersebut. Metode BOS di integrasikan kedalam BSC untuk mendapatkan sebuah Perencanaan Strategis Sistem Informasi yang lebih fokus, serta komprehensif serta dinamis yang sesuai dengan karakteristik TV.
2 Balanced Scorecard: Pengukuran Kinerja Perusahaan dan Sistem manajemen Strategis Sipayung F, (2009)
Metode Balanced Scorecard diperkenalkan sebagai pendorong kinerja finansial masa depan. Pendorong kinerja, yang meliputi perspektif pelanggan, proses bisnis internal, dan pembelajaran serta pertumbuhan, diturunkan dari proses penerjemahan strategi perusahaan yang dilaksanakan secara eksplisit dan ketat ke dalam berbagai tujuan dan ukuran yang nyata.
3 Model Strategic Planning For Information System Menggunakan Balanced Scorecard Pada Universitas Komputer Bandung Nurjaya, W.W.K., (2014)
Metode Balanced Scorecard dimanfaatkan sebagai alat yang efektif untuk perencanaan strategis, yaitu sebagai alat untuk menterjemahkan misi, visi, peran kunci, faktor penentu keberhasilan, tujuan, tolok ukur dan target kinerja serta tindakan perbaikan yang komprehensip, koheren, terukur dan berimbang. Dengan perencanaan stretegis yang baik, dapat meningkatkan efesiensi dan efektifitas dalam proses bisnis, dapat memberikan nilai tambah yaitu berupa competiteve advantage dalam persaingan bisnis, serta mampu meningkatkan kinerja dan menumbuhkan daya saing yang berkelanjutan (sustainable competitive). 4 Perencanaan Strategis Sistem Dan Teknologi Informasi Pada St. Ignatius Education Center Palembang
Sensuse, D.I. dan Sopryadi, H. (2008)
Metode Ward dan Peppard dipergunakan untuk mendukung rencana dan pengembangan bisnis perusahaan yang akan memberikan nilai tambah berupa competitive advantage dalam persaingan bisnis. Penerapan sistem teknologi informasi akan bermanfaat jika penerapannya sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan dengan menetapkan strategi sistem teknologi informasi yang selaras dengan strategi bisnis.
Tabel 2.1 State Of The Art Review ( lanjutan )
No Judul Penelitian Penulis
(Tahun Penelitian) Metode
5 Langkah-Langkah Perencanaan Strategis Sistem Informasi Dengan Menggunakan Metode Ward dan Pepard
Wedhasmara, A. (2014)
Dengan Menggunakan Metode Ward and Pepard dijelaskan perencanaan strategis SI/TI digunakan untuk menyelaraskan antara kebutuhan strategi bisnis dan strategi SI/TI untuk mendapatkan nilai tambah dari suatu organisasi dari segi keunggulan kompetitif. Proses identifikasi kebutuhan informasi perencanaan strategis sistem informasi dimulai terlebih dahulu dari lingkungan organisasi yang memuat visi, misi, dan tujuan organisasi, dilanjutkan kepada identifikasi terhadap lingkungan internal dan eksternal organisasi, serta identifikasi internal dan eksternal SI/TI lingkungan organisasi, kemudian proses penentuan peluang SI/TI dapat dilaksanakan ketika kebutuhan informasi dari tujuan organisasi telah semuanya teridentifikasi. 6 Jurnal Perencanaan Strategis Sistem Informasi Perguruan Tinggi (Studi Kasus di Universitas Diponegoro Semarang) Rochim, A.F. (2014)
Perencanaan strategis sistem informasi dibutuhkan untuk mempersiapkan organisasi dalam merencanakan pemakaian teknologi dan sistem informasi untuk organisasinya. Perencanaan tersebut dibutuhkan sekali untuk menyesuaikan gerak langkah organisasi dengan sistem informasi yang pas dengan irama perkembangan organisasi dan mampu untuk memenuhi kebutuhan sistem informasi organisasi di masa datang. Dalam penelitian yang menggunakan analisa portofolio (Mc Farlan) ini, mengangkat perencanaan strategis sebagai satu alat pendukung keberhasilan Universitas Diponegoro dalam mencapai visi dan misi organisasinya. 7 Analisis Strategi Promosi UPBJJ-UT Denpasar Sudrajat dan H. Wahyudi (2011)
Metode statistik deskriptif dipergunakan untuk menganalisis data dan diinterpretasikan untuk mendapatkan strategi promosi yang efektif dalam mencapai target rekruitmen mahasiswa baru. Beberapa hal penting yang dihasilkan dalam penelitian tersebut terkait dengan strategi promosi, diantaranya: Mahasiswa baru Program Non-Guru mengenal pertama kali Universitas Terbuka sebagian besar dari teman dan sebagian kecil dari media surat kabar, radio, televisi, brosur dan internet, sebaiknya UPBJJ-UT Denpasar tetap melakukan promosi melalui surat kabar, radio, televisi, brosur dan internet, spanduk, kerjasama, sosialisasi ke instansi terkait, memberikan kualitas pelayanan yang terbaik kepada mahasiswa.
2.2. Pengertian Sistem Informasi Promosi
Sistem informasi promosi adalah sekumpulan komponen pembentuk
sistem yang mempunyai keterkaitan antara satu komponen dengan komponen
lainnya yang bertujuan menghasilkan suatu informasi dalam suatu bidang tertentu.
Dalam sistem informasi promosi diperlukannya klasifikasi alur informasi, hal ini
disebabkan keanekaragaman kebutuhan akan suatu informasi oleh pengguna
informasi. Kriteria dari sistem informasi antara lain, fleksibel, efektif dan efisien.
Menurut Ward dan Peppard (2002) dalam buku Strategic Planning for Information System, sistem informasi dan teknologi informasi sering dianggap sebagai hal yang sama, hal ini sebagai hal yang harus dihindari apabila ingin
membangun sebuah strategi IT/IS. Teknologi informasi berhubungan dengan teknologi yang dipakai pada sebuah perusahaan, seperti halnya hardware, software dan network. Teknologi informasi memfasilitasi pencarian data, pemrosesan data, penyimpanan data dan pembagian informasi dalam bentuk
digital. Sistem Informasi sebagai cara bagi orang dan organisasi untuk
memaksimalkan penggunaan teknologi untuk mengumpulkan, memproses dan
menggunakan informasi tersebut. Sistem informasi telah berevolusi beberapa kali
dan dapat dikategorikan menjadi 3 era, yaitu: • Era data processing
• Era management information system
• Era strategis information system
Setiap era memiliki obyektif dan kegunaan sistem informasi yang berbeda,
pada era data processing sistem informasi lebih diutamakan untuk melakukan
berhubungan dengan sistem informasi yang dipakai. Pada masa management information system, sistem informasi digunakan untuk meningkatkan kegiatan manajemen dengan menghasilkan informasi yang dibutuhkan oleh pihak
manajemen yang nantinya akan digunakan untuk pengambilan keputusan.
Sekarang ini adalah era strategy information system, dimana sistem informasi digunakan untuk meningkatkan persaingan dengan melakukan pengembangan
strategi yang dipakai pada suatu sistem informasi perusahaan yang nantinya akan
dipakai oleh perusahaan tersebut.
Perencanaan strategis adalah sebuah perencanaan yang mengidentifikasi
tujuan-tujuan yang akan menempatkan perusahaan pada posisi yang
menguntungkan. Perencanaan strategi sistem informasi promosi adalah bagaimana
merencanakan sebuah sistem informasi dan teknologi informasi untuk mendukung
kegiatan operasional perusahaan. Dalam manajeman pemasaran, promosi tidak
hanya dilakukan oleh organisasi yang berorientasi profit saja tetapi juga dapat dilakukan oleh organisasi yang not for profit semisal lembaga pendidikan. Universitas Terbuka dengan karakteristik yang berbeda dengan perguruan tinggi
konvensional, maka brand image UT sudah melekat pada masyarakat, namun informasi yang lebih detail perlu disampaikan melalui media promosi.
Saat ini media promosi sangat beragam seiring dengan kemajuan jaman,
dulu iklan hanya melalui surat kabar saja sekarang sudah era internet.
Keberagaman media promosi ada media cetak seperti surat kabar, majalah,
tabloid, brosur, spanduk dan lain sebagainya maupun media non cetak seperti
radio, televisi dan internet perlu disikapi secara efisien dan efektif agar tercapai
dan input yang diperoleh sedangkan efektif ini terkait dengan sasaran yang ingin
dicapai.
Menurut Kotler (2003), promosi adalah bagian dari komunikasi yang
mengandung pesan perusahaan dirancang untuk membangkitkan kesadaran,
minat, dan membeli berbagai produk dan jasa. Perusahaan menggunakan
periklanan, promosi penjualan, tenaga penjualan, dan public relation
menyebarkan pesan yang dirancang untuk menarik perhatian dan minat.
2.3. Jenis-jenis Media Promosi
Menurut Sudrajat dan Wahyudi (2011), saat ini media untuk melakukan
promosi sangat banyak jenisnya. Masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangannya sehingga untuk menentukan media mana yang akan digunakan
untuk promosi harus dipertimbangkan dengan seksama. Berikut ini adalah media
yang umum digunakan untuk promosi
1. Surat Kabar
Surat kabar talah lama digunakan sebagai media untuk mengiklankan
(advertising) suatu produk atau jasa. Surat kabar di Indonesia sangat banyak baik yang bersifat nasional maupun lokal. Organisasi baik yang
bersifat profit maupun not for profit banyak yang memanfaatkan media ini untuk mempromosikan produk atau jasanya. Kelebihan surat kabar
mempunyai daya jangkau yang luas untuk sampai kepada masyarakat,
dapat dibaca ulang dan sebagian besar masyarakat membaca surat kabar.
Namun kurangannya adalah biaya yang relatif mahal apabila ditayangkan
2. Televisi
Saat ini telah banyak stasiun televisi baik yang bersifat nasional maupun
lokal. Banyak juga organisasi yang memanfaatkan media ini untuk
promosi. Peralatan televisi tidaklah menjadi barang yang mahal harganya
sehingga hampir semua rumah tangga mempunyai peralatan televisi.
Televisi juga mempunyai daya jangkau dalam menyampaikan informasi
yang luas. Biaya untuk promosi di televisi lebih mahal dibanding dengan
surat kabar. Kelebihan lain media ini adalah informasi yang disampaikan
dapat dilihat, didengar dan dibaca.
3. Radio
Radio mempunyai peran penting dalam menyebarkan informasi,
pemanfaatan radio telah lama digunakan masyarakat Indonesia sejak
jaman kemerdekaan. Saat ini stasiun radio telah banyak berdiri di berbagai
daerah. Umumnya siaran radio tersegmentasi pemirsanya (audien), sehingga dalam melakukan promosi melalui radio harus mengenal radio
tersebut sasarannya segmen mana. Daya jangkau radio dalam
menyampaikan informasi juga luas namun tidak seluas televisi. Dilihat
dari segi biaya, promosi melalui radio lebih murah dibanding dengan
televisi. Namun kekurangan media radio adalah informasinya hanya dapat
didengar saja dan waktu siarnya tertentu saja.
4. Brosur
Brosur merupakan media cetak untuk menyampaikan informasi. Brosur
dapat dibuat berdasarkan keinginan pengguna (customize). Saat ini teknolgi desain, cetak (printing), dan fotografi sudah sangat maju.
Brosur-brosur yang sangat menarik dan informatif dapat dibuat dengan cepat.
Kelebihan brosur ini informasinya dapat dibuat berdasarkan customize,
dapat dibuat dengan tampilan yang menarik dan dapat disimpan. Namun
kekurangannya daya jangkau untuk sampai kepada masyarakat sangat
terbatas karena brosur harus disebarkan kapada sasaran dengan tepat.
5. Internet
Pada era teknologi digital dan informasi saat ini internet bukanlah hal yang
asing lagi. Lin, C.T. dan Hsu, P.F. (2003) menyatakan karakteristik
internet dapat dengan mudah diakses, biaya pengadaan internet relatif
murah, menjangkau secara global, tidak tergantung waktu, dan interaktif.
Internet dapat diakses melalui komputer yang terhubung dengan jaringan
internet. Pemanfaatan internet tidak hanya untuk menyampaikan informasi
saja tetapi dapat juga dijadikan media untuk melakukan transaksi bisnis
online, seperti toko buku online, supermaket online dan sebagainya. Internet juga dapat dijadikan sebagai media pembelajaran seperti adanya
kursus bahasa inggris online, tutorial online dan sebagainya. Kelebihan teknologi internet adalah informasi yang disampaikan dapat beraneka
ragam dan banyak, dapat dibuat berdasarkan desain yang menarik, dapat
diakses kapan saja dan dimana saja, mempunyai daya jangkau yang sangat
luas melebihi surat kabar, radio, brosur dan televisi dan informasinya
dapat disimpan dalam bentuk digital atau dicetak. Internet juga memilki
kekurangannya misalnya masih banyak masyarakat yang belum bisa
menggunakan teknologi komputer dan internet, jaringan internet belum
untuk pengadaan peralatan komputer dan internet cukup besar sehingga
tidak semua rumah tangga mempunyai komputer beserta jaringan
internetnya dan sebagainya.
6. Word of Mouth
Informasi dapat juga disampaikan dari orang ke orang melalui informasi
perkataannya (word of mouth). Informasi jenis ini sebenarnya dapat dikatakan paling efisien dan efektif. Untuk dapat dijadikan media
penyampai informasi yang baik dan benar maka diharuskan memberikan
pelayanan prima kepada mereka sehingga mereka memberikan informasi
yang baik dan benar kepada orang lain. Ini menjadikan tantangan untuk
dapat memberikan pelayanan prima dan kepuasan kepada pelanggan.
2.4 Blue Ocean Strategy
Blue Ocean Strategy (BOS) yang ditulis oleh W. Chan Kim dan Renee Mauborgne (2005), adalah bagian dari proses strategi bisnis. Dari segi definisi
BOS adalah strategi bisnis yang menerapkan penguasaan ruang pasar yang tidak
diperebutkan (uncontested market space) sehingga membuat persaingan menjadi tidak relevan. Pasar yang tidak diperebutkan tersebut dianalogikan sebagai Blue Ocean (Samudera Biru) dimana suatu organisasi bermain sendirian tanpa ada pesaing. Sebaliknya kondisi dimana ruang pasar saling diperebutkan oleh berbagai
pihak dengan cara apapun seakan-akan sampai berdarah-darah, maka kondisi ini
Blue Ocean Strategy adalah sebuah strategi yang menawarkan sebuah konsep baru dimana perusahaan mencari daerah baru yang belum dimasuki oleh
kompetitor sama sekali, sehingga perusahaan dapat bersaing dengan cara yang
lebih baik karena daerah yang dimasuki oleh perusahaan merupakan daerah yang
bebas dari pesaing (Peter,2007). Dalam BOS, perusahaan memiliki sebuah
kelebihan untuk melakukan penguasaan pasar karena para pesaing belum
memasuki daerah yang perusahaan kuasai saat ini. Prinsip dasar yang dikenalkan
dalam model BOS ini adalah mencari daerah baru yang belum dimasuki oleh para
pesaing yang sudah ada pada saat ini. Untuk dapat menerapkan BOS ini
dibutuhkan beberapa hal yaitu menemukan dan membangaun daerah ataupun
pasar yang baru, dan kedua adalah mengeksploitasi pasar yang belum dimasuki
oleh pesaing dan melindunginya sehingga tidak ada pihak lain yang dapat masuk
lagi.
Sementara itu, Kulkarineetham (2007) mengemukakan bahwa Blue Ocean
Strategy mengacu pada pasar atau industri. Samudra biru yang belum dimanfaatkan adalah pasar yang tidak terbantahkan, yang menyediakan sedikit
atau tidak ada kompetisi untuk siapa saja. Disisi lain, samudra merah mengacu
pada pasar jenuh di mana ada persaingan sengit, sudah penuh sesak dengan
orang-orang atau perusahaan yang menyediakan jenis pelayanan yang sama atau
menghasilkan jenis barang yang sama. Sebuah konsep penting adalah bahwa
inovasi (dalam produk, layanan, atau pengiriman) harus meningkatkan dan
menciptakan nilai bagi pasar, sementara secara bersamaan mengurangi atau
menghilangkan fitur atau layanan yang kurang dihargai oleh arus atau pasar masa
berfokus pada mengalahkan kompetisi, fokus pasar pada pembuatan kompetisi
tidak relevan dengan menciptakan lompatan nilai bagi pembeli dan perusahaan,
sehingga membuka ruang pasar baru dan istirahat dari kompetisi. Strategi canvas
adalah tindakan kerangka kerja untuk membangun strategi samudra biru yang
menarik. Tujuannya adalah menangkap keadaan saat ini bermain di ruang pasar
yang sudah dikenal. Hal ini memungkinkan untuk memahami di mana kompetisi
investasi saat ini, persaingan faktor-faktor industri saat ini di dalam produk,
layanan, dan pengiriman, dan apa yang pelanggan terima dari penawaran
kompetitif yang ada di pasar.
Lain halnya yang dikemukakan oleh Wibowo (2014), Blue Ocean Strategy
menggambarkan semua industri yang belum ada saat ini (unknown & uncontested market space) Dalam BOS, permintaan diciptakan (created) dan bukan diperebutkan (fought over) peluang terbuka lebar bagi pertumbuhan bisnis yang bukan saja menguntungkan, namun juga pesat. Fokus utamanya adalah
menjalankan bisnis di lanskap yang belum ada pesaingnya sama sekali. Dengan
kata lain, sasaran utamanya adalah ‘menciptakan tanah baru’ bukannya
memetak-metak tanah yang sudah ada.
Sedangkan Chrismardani (2010) mengemukakan bahwa Blue Ocean
Strategy merupakan strategi yang menantang perusahaan untuk keluar dari samudera merah yang penuh dengan persaingan dan menciptakan ruang pasar
yang belum ada pesaingnya, sehingga kata kompetisi pun menjadi tidak relevan.
Untuk merumuskan dan menerapkan strategi samudera biru dengan sukses,
terdapat enam prinsip dasar yaitu: merekonstruksi batasan-batasan pasar, berfokus
strategis dengan benar, mengatasi rintangan-rintangan organisasional dan
mengintegrasikan eksekusi ke dalam strategi.
Pendekatan BOS menekankan pada kesetaraan antara nilai dan inovasi.
Perpaduan antara inovasi dan nilai menghendaki adanya cara-cara yang dilakukan
untuk memberikan manfaat kepada konsumen dan perusahaan. Pada gambar 2.1
menjelaskan inovasi nilai yang diciptakan dengan menekan biaya dan
meningkatkan nilai bagi konsumen.
(Sumber: Sarnoto dan Hasibuan, Jurnal Sistem Informasi MTI UI Vol. 3 – No. 2 – Oktober 2007)
Gambar 2.1: Pendekatan BOS
Pendekatan sistematis yang dirancang oleh Kim dan Mauborgne (2005)
dalam membuat Blue Ocean Strategy secara garis besar terdiri dari enam prinsip strategi yang terkelompok dalam dua prinsip yaitu Prinsip Perumusan dan Prinsip
Pelaksanaan. Prinsip Perumusan dalan BOS sebagai berikut:
1. Merekonstruksi batasan-batasan pasar dengan cara, yaitu:
a. Mencermati dunia pendidikan alternatif.
b. Mencermati kelompok-kelompok strategis dalam dunia pendidikan.
d. Mencermati daya tarik emosional atau fungsional bagi calon peserta
didik.
e. Mencermati waktu.
f. Fokus pada gambaran besar bukan pada angka.
2. Menjangkau melampaui permintaan yang ada.
3. Melakukan rangkaian strategis dengan tepat dengan melakukan urutan
sebagai berikut:
a. Utilitas, sejauh mana program tersebut bermanfaat bagi peserta didik.
b. Harga, yaitu menerapkan harga strategis yang tepat sehingga menarik
calon peserta didik sehingga mereka mempunyai kemampuan
mengikuti program yang ditawarkan.
c. Biaya, apakah organisasi bisa mencapai biaya sasaran sehingga
organisasi bisa mendapatkan keuntungan pada level harga yang
strategis.
d. Pengadopsian, apakah ada rintangan atau hambatan dalam
pengadopsian ide.
Untuk Prinsip Eksekusi atau Pelaksanaannya meliputi:
1. Mengatasi hambatan-hambatan utama dalam organisasi.
2. Mengintegrasikan eksekusi ke dalam strategi. Organisasi harus
mengintegrasikan eksekusi ke dalam strategi sejak awal.
Pada saat merumuskan dan menjalankan BOS digunakan kerangka kerja dan
a. Kanvas Strategi merupakan kerangka kerja yang digunakan untuk
mendiagnosa dan eksekusi BOS. Tujuan penggunaan canvas strategy
adalah menangkap posisi perusahaan yang ada di dalam pasar,
dengan mengetahui posisi perusahaan didalam pasar maka akan
dipahami faktor-faktor apa saja yang dikompetisikan baik untuk
produk, jasa, dan delivery yang diberikan ke pelanggan dan offerings
apa saja yang diterima oleh pelanggan akibat dari persaingan pasar.
Pada Gambar 2.2 adalah contoh sebuah kanvas strategi industri
penerbangan, yang menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi
dalam industri penerbangan.
(Sumber: http://strategika.wordpress.com) Gambar 2.2: Kanvas Strategi
Kanvas strategi mempunyai dua fungsi, yaitu:
1. Merangkum situasi ruang pasar yang sudah dikenal, hal ini
membantu untuk memahami dimana kompetisi saat ini sedang
tercurah, memahami faktor-faktor apa yang sedang dijadikan
memahami apa yang didapatkan pelanggan dari penawaran
kompetitif yang ada di pasar.
2. Mendorong melakukan kegiatan dengan mereorientasi ulang
fokus dari kompetitor ke industri alternatif dan dari pelanggan
ke non-pelanggan. Sumbu horisontal mewakili tentang
faktor-faktor yang dijadikan ajang kompetisi oleh industri.
b. Kerangka Kerja 4 langkah. Dalam usaha menciptakan inovasi, nilai
dapat diterjemahkan dengan efisiensi biaya dan menciptakan nilai
lebih bagi masyarakat. Untuk membantu menerjemahkan hal-hal apa
saja dari faktor-faktor yang menentukan dalam persaingan di
ketengahkan dalam Kerangka kerja 4 langkah (Four Action
Framework) Seperti dijelaskan dalam Gambar 2.3. Dari identifikasi awal yang ditemukakan bahwa terdapat beberapa stretegi promosi
yang dilakukan UPBJJ-UT Denpasar saat ini harus dievaluasi dalam
penerapannya. Sebagai contoh penentuan promosi pada media
elektronik (iklan radio dan televisi) yang harus menitikberatkan pada
target sasaran sehingga kegiatan yang dilakukan dapat menyentuh
sasaran yang tepat, adanya kegiatan promosi yang dilakukan secara
monoton tanpa melihat trend dan perkembangan saat ini, serta perlunya terobosan inovasi kegiatan yang baru sehingga dapat
(Sumber: Kim dan Mouborne, 2005) Gambar 2.3: Kerangka Kerja 4 Langkah
Reduce : Faktor – faktor apa yang harus dikurangi dari standar industri.
Eliminate : Faktor – faktor apa yang diterima begitu saja yang sebenarnya harus dihilangkan.
Raise : Faktor – faktor apa yang harus ditingkatkan dari standar industri.
Create : Faktor – faktor apa saja yang harus diciptakan yang tidak pernah ditawarkan industri sebelumnya.
Menurut Rachman (2013) dalam penelitian Pendekatan Blue Ocean
Strategy Terhadap Strategi Pelayanan Rumah Sakit bahwa skema Reduce, Eliminate, Raise dan Create ini memberikan empat manfaat utama kepada perusahaan, yaitu:
1. Mendorong perusahaan untuk mengejar diferensiasi dan biaya murah
secara bersamaan untuk mendobrak pertukaran nilai biaya.
2. Fokus perusahaan pada upaya meningkatkan dan menciptakan,
sehingga menaikkan struktur biaya perusahaan yang sering
memodifikasi produk dan jasa secara berlebihan yang merupakan
kesalahan umum pada banyak perusahaan.
3. Mudah dipahami oleh manajer di level apa pun, sehingga menciptakan
tingkat keterlibatan yang tinggi dalam penerapannya.
4. Karena penuntasan upaya-upaya dalam skema ini merupakan tugas
menantang, skema ini mendorong perusahaan untuk bersemangat dalam
menganalisis setiap faktor industri yang menjadi ajang kompetisi,
sehingga ia menemukan berbagai asumsi implisit yang mereka buat
secara tak sadar dalam berkompetisi.
2.5 Model Balanced Scorecard
Menurut Sirait (2010), Balanced Scorecard terdiri dari dua kata: kartu skor (scorecard) dan berimbang (balanced). Kartu skor adalah kartu yang digunakan untuk mencatat skor hasil kinerja suatu organisasi atau skor individu.
Kartu skor juga dapat digunakan untuk merencanakan skor yang hendak
diwujudkan di masa depan. Melalui kartu skor, skor yang hendak diwujudkan
organisasi/individu di masa depan dibandingkan dengan hasil kinerja
sesungguhnya. Hasil perbandingan ini digunakan untuk melakukan evaluasi atas
kinerja organisasi/individu yang bersangkutan. Kata berimbang dimaksudkan
dari dua aspek: keuangan dan non keuangan, jangka pendek dan jangka panjang,
internal dan eksternal.
Balanced Scorecard pertama kali dipublikasikan dalam artikel Robert S. Kaplan dan David. P. Norton di Harvaard Business Review tahun 1992 dalam
sebuah artikel yang berjudul “Balanced Scorecard - Measures that Drive Performance” Intinya scorecard terdiri atas tolok ukur keuangan yang menunjukkan hasil dari tindakan yang diambil sebagaimana ditunjukkan pada
tiga perspektif tolak ukur operasional lainnya: kepuasan pelanggan, proses
internal dan kemampuan berorganisasi untuk belajar dan melakukan perbaikan. “…. A set of measures that gives top managers a fase but comprehensive view of the business… includes financial measures that tell the results of actions already taken..complements the financial measures with operational measuers on customer satisfaction, internal processes, and the organization’s innovation and improvement activities-operational measures that are the drivers of of future financial performance”.
Balanced Scorecard lebih dari sekedar sistem pengukuran taktis atau operasional (Sipayung,2009). Perusahaan yang inovatif menggunakan scorecard
sebagai sebuah sistem manajemen strategis, untuk mengelola strategi jangka
panjang. Perusahaan menggunakan fokus pengukuran scorecard untuk
menghasilkan berbagai proses manajemen penting seperti memperjelas dan
menerjemahkan visi dan strategi, mengkomunikasikan dan mengaitkan berbagai
tujuan dan ukuran strategis, merencanakan, menetapkan sasaran dan
menyelaraskan berbagai inisiatif strategis, meningkatkan umpan balik dan
Dalam perkembangannya BSC lebih dimanfaatkan sebagai alat yang
efektif untuk perencanaan strategis, yaitu sebagai alat untuk menterjemahkan misi,
visi, peran kunci, faktor penentu keberhasilan, tujuan, tolok ukur dan target
kinerja serta tindakan perbaikan yang komprehensip, koheren, terukur dan
berimbang (Wahyu, 2014). Balance Scorecard adalah sistem penilaian kinerja yang menunjang kelangsungan hidup dan sustainability of growth organisasi.
Balance Scorecard merupakan sistem penilaian kinerja yang dikembangkan berdasarkan strategi organisasi. Balance Scorecard yaitu sistem penilaian kinerja yang mengintegrasikan aspek finansial dengan aspek lain yang penting bagi
organisasi.
Pemaparan yang disampaikan Prabowo (2007) bahwa terdapat 4 (empat)
perspektif dalam IT Balanced Scorecard, yaitu Corporate Contribution, User Orientation, Operational Excellence, dan Future Orientation. Perspektif
Corporate Contribution berisi ukuran yang menunjukkan bagaimana manajemen (pimpinan) menilai/melihat organisasi TIK, perspektif User Orientation berisi ukuran yang menunjukkan bagaimana user menilai/melihat hasil-hasil organisasi
TIK, perspektif Operational Excellence berisi ukuran efektifitas dan efisiensi proses TIK, sedangkan perspektif Future Orientation berisi ukuran yang menggambarkan bagaimana posisi TIK dalam tantangan kedepan. Secara umum,
empat perpektif yang ada dalam IT Balanced Scorecard mampu menggambarkan
keterkaitan strategi TIK dengan strategi organisasi.
Lainnya halnya yang dipaparkan oleh Adam (2014), Beberapa riset dan
pemikiran tentang manajemen perguruan tinggi memerlukan pengembangan
Kecenderungan di organisasi bisnis untuk mengukur kinerja hanya berbasis
keuangan, akan sulit terjadi pada organisasi nirlaba seperti perguruan tinggi.
Modifikasi teknik pengukuran kinerja tradisional di perguruan tinggi hanya bisa
diterima dengan menggunakan prespektif yang integral, mengingat perguruan
tinggi menyangkut kepentingan sosial masyarakat banyak, dan bukan untuk
memperkaya pemiliknya.
Dengan demikian Balanced Scorecard merupakan suatu sistem
manajemen, pengukuran dan pengendalian yang secara cepat, tepat dan
komprehensif dapat memberikan pemahaman kepada manajer tentang performansi
bisnis. Pengukuran kinerja tersebut memandang unit bisnis dari empat perspektif
yaitu perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis dalam perusahaan serta
proses pembelajaran dan pertumbuhan.
Keuangan 1. Tujuan 2. Uraian 3. Sasaran 4. Indikator Pelanggan 1. Tujuan 2. Uraian 3. Sasaran 4. Indikator Pembelajaran dan Berkembang 1. Tujuan 2. Uraian 3. Sasaran 4. Indikator Internal 1. Tujuan 2. Uraian 3. Sasaran 4. Indikator
VISI dan STRATEGI
(Sumber: Sarnoto dan Hasibuan, Jurnal Sistem Informasi MTI UI Vol. 3 – No. 2 – Oktober 2007)
Perspektif Balanced Scorecard dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Perspektif Finansial, mengukur hasil tertinggi yang dapat diberikan
kepada organisasi. Finansial dibutuhkan untuk memberikan ringkasan dari
konsekuensi ekonomi akibat dari kebijakan yang telah diambil.
2. Perspektif Pelanggan, fokus terhadap kebutuhan calon mahasiswa
termasuk peluang kerja.
3. Perspektif Internal, memfokuskan perhatian pada kinerja dalam proses
internal yang mendorong kemajuan universitas.
4. Pembelajaran dan Berkembang, memperhatikan langsung seluruh
kemungkinan untuk berhasil . Belajar dan pertumbuhan dibutuhkan untuk
mengidentifikasi infrastruktur dari organisasi yang harus dibangun untuk
menghasilkan pertumbuhan dan perbaikan jangka panjang.
2.6 Analisis (PEST)
Menurut Ward dan Peppard (2002), analisis PEST adalah analisis terhadap faktor lingkungan eksternal bisnis yang meliputi bidang politik,
ekonomi, sosial dan teknologi.
A. Faktor Politik
Faktor politik meliputi kebijakan-kebijakan pemerintah, masalah
hukum serta mencakup aturan-aturan formal dan informal dari
lingkungan dimana universitas melakukan kegiatannya. Contoh :
- Kebijakan Dinas Pendidikan
- Peraturan Ketenagakerjaan
B. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi meliputi semua faktor yang mempengaruhi
kemampuan calon mahasiswa dalam mengikuti suatu program yang
ditawarkan. Contoh :
- Pertumbuhan ekonomi
- Besarnya biaya yang ditawarkan
C. Faktor Sosial
Faktor sosial meliputi semua faktor yang dapat mempengaruhi
peluang ketenagakerjaan dan mempengaruhi ukuran dari besarnya
peluang yang ada. Contoh:
- Kondisi lingkungan sosial
- Kondisi lingkungan kerja
- Tingkat pertumbuhan penduduk
D. Faktor Teknologi meliputi semua hal yang dapat membantu dalam
menghadapi tantangan program dan mendukung efesiensi proses
pendidikan. Contoh :
- Kemudahan dalam proses pendidikan
- Kecepatan transfer teknologi
- Ketersediaan sarana dan prasarana TIK
PEST digunakan untuk menilai pasar dari suatu unit bisnis atau unit
organisasi. Arah analisis PEST adalah kerangka untuk menilai sebuah situasi, dan
menilai strategi atau posisi, arah perusahaan, rencana pemasaran, atau ide.
Dimana analisis ini cukup mempengaruhi perusahaan, karena melalui analisis ini
40
Metode penelitian adalah investigasi sistematik, terkendali dan empiris
terhadap suatu set hipotesis-hipotesis yang dibangun dari struktur teori. Penelitian
ini berlandaskan teori-teori yang berhubungan dengan obyek penelitian. Selain
menggunakan teori dan teknik perencanaan strategis sistem informasi promosi,
dalam penelitian ini juga di ambil teori-teori bidang ilmu komunikasi dan
pemasaran. Pada metode penelitian akan dijelaskan tentang kerangka penelitian,
jenis data, subyek penelitian, pengumpulan data dan instrumen penelitian, dan
analisis data. Manfaat dari teori-teori tersebut dalam kajian ini untuk
mempermudah dalam memahami karakteristik dari lembaga pendidikan.
Sementara BOS dan BSC sebagai inti dari pemodelan perencanaan strategis
sistem informasi promosi ini, menampung apa saja yang menjadi faktor penentu
dalam lembaga pendidikan ini.
3.1 Kerangka Kerja Perencanaan Strategis Sistem Informasi Promosi
Perencanaan strategis sistem informasi promosi adalah kegiatan
perencanaan berkelajutan yang menjamin implementasi teknologi informasi dan
komunikasi dalam suatu organisasi selaras dengan strategi bisnis untuk
meningkatkan efektivitas organisasi, menciptakan peluang dan memberi
kontribusi terhadap daya saing universitas. Rencana strategis sistem informasi
sistem informasi promosi dan menciptakan peluang baru dengan dukungan sistem
informasi promosi. Agar penyusunan rencana strategis sistem informasi promosi
dapat disusun dengan tepat maka diperlukan sebuah kerangka kerja. Kerangka
kerja berfungsi sebagai pedoman sistematis untuk melaksanakan perencanaan
strategis sistem informasi promosi. Adapun kerangka kerja yang penulis buat
disajikan pada gambar 3.1.
Visi dan Misi
Menentukan Strategi Metode BOS Analisis Faktor Eksternal Melakukan Analisis Kebutuhan SI
Metode PEST Metode BSC
Perencanaan Strategis Sistem Informasi Promosi
Rencana Implementasi
Gambar 3.1. Kerangka Kerja Perencanaan Strategis Sistem Informasi Promosi
Dari gambar 3.1 dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Penjabaran Visi dan Misi dari Universitas Terbuka dalam
penyelenggaraan, pengembangan, dan penyebaran informasi PTTJJ
untuk penyediaan pendidikan tinggi yang berkualitas bagi semua
lapisan masyarakat.
2. Analisis Faktor Eksternal. Analisa PEST digunakan untuk
menganalisis faktor eksternal yang mempengaruhi kegiatan
pendidikan dilihat dari aspek politik, ekonomi, sosial dan teknologi.
3. Menentukan Strategi Bisnis Organisasi. Proses menentukan strategis
bisnis organisasi diawali dengan melakukan analisis terhadap visi,
misi dan tujuan perusahaan. Butir tujuan perusahaan akan diturunkan
menjadi faktor-faktor penentu keberhasilan organisasi. Proses
menentukan strategi bisnis organisasi juga akan menformulasikan
permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh organisasi.
Menentukan business strategy dalam lingkungan yang sarat
perubahan harus menciptakan inovasi yang harus
mempertimbangkan tiga hal: who, whatdan how. Who adalah siapa, yaitu sasaran segmentasi yang sesungguhnya ingin di capai, What
adalah value apa yang akan diberikan dengan inovasi tersebut, dan
How adalah bagaimana caranya menciptakan inovasi tersebut. Blue Ocean Strategy (BOS) adalah sebuah proses management strategic
yang mampu mengubah paradigma pelaku bisnis dalam menghadapi
persaingan. BOS adalah mengenai bagaimana menguasai ruang
menjadi tidak relevan. Pasar yang bebas dari kompetisi ini disebut
sebagai Blue Ocean atau samudera biru sementara yang sarat dengan persaingan adalah Red Ocean. Kajian ini menitikberatkan pada Blue Ocean Strategy karena strategi ini menyeimbangkan value antara
customer dan keuntungan perusahaan yang diakomodasi dalam strategi bisnis.
4. Melakukan Analisis Kebutuhan Informasi. Balanced Scorecard lebih dari sekedar sistem pengukuran taktis atau operasional. Perusahaan
yang inovatif menggunakan scorecard sebagai sistem manajemen strategis, untuk mengelola strategi jangka panjang dan menghasilkan
proses manajemen seperti:
a. Memperjelas dan menerjemahkan visi dan strategi.
b. Mengkomunikasikan dan mengkaitkan berbagai tujuan dan
ukuran strategis.
c. Merencanakan, menetapkan sasaran, dan menyelaraskan
berbagai inisiatif strategis.
d. Meningkatkan umpan balik dan pembelajaran strategis.
5. Perencanaan Strategis Sistem Informasi Promosi. Proses
merumuskan rencana strategis sistem informasi promosi berdasarkan
hasil analisis dan pengolahan data yang telah dilakukan.
6. Rencana Implementasi. Perencanaan pengembangan rencana
strategis sistem informasi promosi serta aplikasi sistem informasi