• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASPEK PEMBIAYAAN KABUPATEN PASER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "ASPEK PEMBIAYAAN KABUPATEN PASER"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

ASPEK PEMBIAYAAN

KABUPATEN PASER

Sesuai PP no. 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, diamanatkan bahwa kewenangan pembangunan bidang Cipta Karya merupakan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten/Kota. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten/ Kota terus didorong untuk meningkatkan belanja pembangunan prasarana Cipta Karya agar kualitas lingkungan permukiman di daerah meningkat. Di samping membangun prasarana baru, pemerintah daerah perlu juga perlu mengalokasikan anggaran belanja untuk pengoperasian, pemeliharaan dan rehabilitasi prasarana yang telah terbangun.

Namun, seringkali pemerintah daerah memiliki keterbatasan fiscal dalam mendanai pembangunan infrastruktur permukiman. Pemerintah daerah cenderung meminta dukungan pendanaan pemerintah pusat, namun perlu dipahami bahwa pembangunan yang dilaksanakan Ditjen Cipta Karya dilakukan sebagai stimulan dan pemenuhan standar pelayanan minimal. Oleh karena itu, alternatif pembiayaan dari masyarakat dan sektor swasta perlu dikembangkan untuk mendukung pembangunan bidang Cipta Karya yang dilakukan pemerintah daerah. Dengan adanya pemahaman mengenai keuangan daerah, diharapkan dapat disusun langkah-langkah peningkatan investasi pembangunan bidang Cipta Karya di daerah.

Pembahasan aspek pembiayaan dalam RPI2-JM bidang Cipta Karya pada dasarnya bertujuan untuk:

1. Mengidentifikasi kapasitas belanja pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan bidang Cipta Karya.

2. Mengidentifikasi alternatif sumber pembiayaan antara lain dari masyarakat dan sektor swasta untuk mendukung pembangunan bidang Cipta Karya.

(2)

9.1

Arahan Kebijakan Pembiayaan Bidang Cipta Karya

Pembiayaan pembangunan bidang Cipta Karya perlu memperhatikan arahan dalam peraturan dan perundangan terkait, antara lain:

1. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah: Pemerintah daerah diberikan hak otonomi daerah, yaitu hak, wewenang, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah Pusat yaitu politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, serta agama.

2. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah: untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah daerah didukung sumber-sumber pendanaan meliputi Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, Pendapatan Lain yang Sah, serta Penerimaan Pembiayaan. Penerimaan daerah ini akan digunakan untuk mendanai pengeluaran daerah yang dituangkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah.

3. Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2005 Tentang Dana Perimbangan: Dana Perimbangan terdiri dari Dana Alokasi Umum, Dana Bagi Hasil, dan Dana Alokasi Khusus. Pembagian DAU dan DBH ditentukan melalui rumus yang ditentukan Kementerian Keuangan.Sedangkan DAK digunakan untuk mendanai kegiatan khusus yang ditentukan Pemerintah atas dasar prioritas nasional.Penentuan lokasi dan besaran DAK dilakukan berdasarkan kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis.

4. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota: Urusan pemerintahan yang menjadikewenangan pemerintahan daerah, terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi urusan, termasuk bidang pekerjaan umum.Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib yang berpedoman pada standar pelayanan minimal dilaksanakan secara bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah.Urusan wajib pemerintahan yang merupakan urusan bersama diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber pendanaan, pengalihan sarana dan prasarana, serta kepegawaian sesuai dengan urusan yang didesentralisasikan.

(3)

a. total jumlah pinjaman pemerintah daerah tidak lebih dari 75% penerimaan APBD tahun sebelumnya;

b. memenuhi ketentuan rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman yang ditetapkan pemerintah paling sedikit 2,5;

c. persyaratan lain yang ditetapkan calon pemberi pinjaman;

d. tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang bersumber dari pemerintah;

e. pinjaman jangka menengah dan jangka panjang wajib mendapatkan persetujuan DPRD.

6. Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2005Tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur (dengan perubahan Perpres 13/2010 & Perpres 56/2010): Menteri atau Kepala Daerah dapat bekerjasama dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur. Jenis infrastruktur permukiman yang dapat dikerjasamakan dengan badan usaha adalah infrastruktur air minum, infrastruktur air limbah permukiman dan prasarana persampahan.

7. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (dengan perubahan Permendagri 59/2007 dan Permendagri 21/2011): Struktur APBD terdiri dari:

a. Pendapatan daerah yang meliputi: Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan Pendapatan Lain yang Sah.

b. Belanja Daerah meliputi: Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung.

c. Pembiayaan Daerah meliputi: Pembiayaan Penerimaan dan Pembiayaan Pengeluaran.

8. Peraturan Menteri PU No. 15 Tahun 2010Tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur: Kementerian PU menyalurkan DAK untuk pencapaian sasaran nasional bidang Cipta Karya, Adapun ruang lingkup dan kriteria teknis DAK bidang Cipta Karya adalah sebagai berikut :

a. Bidang Infrastruktur Air Minum

(4)

b. Bidang Infrastruktur Sanitasi

DAK Sanitasi digunakan untuk memberikan akses pelayanan sanitasi (air limbah, persampahan, dan drainase) yang layak skala kawasan kepada masyarakat berpenghasilan rendah di perkotaan yang diselenggarakan melalui proses pemberdayaan masyarakat. DAK Sanitasi diutamakan untuk program peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan memenuhi sasaran/target MDGs yang dengan kriteria teknis:

- kerawanan sanitasi;

- cakupan pelayanan sanitasi.

9. Peraturan Menteri PU No. 14 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Kementerian Pekerjaan Umum yang Merupakan Kewenanangan Pemerintah dan Dilaksanakan Sendiri: Dalam menyelenggarakan kegiatan yang dibiayai dana APBN, Kementerian PU membentuk satuan kerja berupa Satker Tetap Pusat, Satker Unit Pelaksana Teknis Pusat, dan Satuan Non Vertikal Tertentu. Rencana program dan usulan kegiatan yang diselenggarakan Satuan Kerja harus mengacu pada RPIJM bidang infrastruktur ke-PU-an yang telah disepakati.Gubernur sebagai wakil Pemerintah mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan kementerian yang dilaksanakan di daerah dalam rangka keterpaduan pembangunan wilayah dan pengembangan lintas sektor.

Berdasarkan peraturan tersebut, dapat disimpulkan bahwa lingkup sumber dana kegiatan pembangunan bidang Cipta Karya yang dibahas dalam RPIJM meliputi :

1. Dana APBN, meliputi dana yang dilimpahkan Ditjen Cipta Karya kepada Satuan Kerja di tingkat provinsi (dana sektoral di daerah) serta Dana Alokasi Khusus bidang Air Minum dan Sanitasi.

2. Dana APBD Provinsi, meliputi dana daerah untuk urusan bersama (DDUB) dan dana lainnya yang dibelanjakan pemerintah provinsi untuk pembangunan infrastruktur permukiman dengan skala provinsi/regional.

3. Dana APBD Kabupaten/Kota, meliputi dana daerah untuk urusan bersama (DDUB) dan dana lainnya yang dibelanjakan pemerintah kabupaten untuk pembangunan infrastruktur permukiman dengan skala kabupaten/kota.

4. Dana Swasta meliputi dana yang berasal dari skema kerjasama pemerintah dan swasta (KPS), maupun skema Corporate Social Responsibility (CSR).

5. Dana Masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat.

6. Dana Pinjaman, meliputi pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri.

(5)

yang telah ada. Oleh karena itu, dana-dana tersebut perlu dikelola dan direncanakan secara terpadu sehingga optimal dan memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan pelayanan bidang Cipta Karya.

9.2

Profil APBD Kabupaten Paser

Bagian ini menggambarkan struktur APBD Kabupaten Paser selama 5 (lima) tahun terakhir dengan sumber data berasal dari dokumen Realiasasi APBD dalam 5 (lima) tahun terakhir. Komponen yang dianalisis berdasarkan format Permendagri No. 13 Tahun 2006 adalah sebagai berikut:

1. Pendapatan daerah yang meliputi: Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan Pendapatan Lain yang Sah.

2. Belanja Daerah yang meliputi: Belanja Langsung dan Belanja Tak Langsung.

3. Pembiayaan Daerah meliputi: Pembiayaan Penerimaan dan Pembiayaan Pengeluaran.

9.2.1 Komponen Penerimaan Pendapatan

Sebagaimana dijelaskan dalam PP 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri No. 13 tahun 2006, tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Menjelaskan bahwa kebijakan perencanaan pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana dan merupakan hak daerah dalam 1 (satu) tahun anggaran. Seluruh pendapatan daerah yang dianggarkan dalam APBD secara bruto mempunyai arti pendapatan yang dianggarkan tidak boleh dikurangi dengan belanja yang digunakan dalam rangka menghasilkan pendapatan tersebut dan/atau dikurangi dengan bagian pemerintah pusat/daerah lain dalam rangka bagi hasil. Pendapatan daerah ini ditetapkan berdasarkan perkiraan terukur secara rasional yang dapat dicapai setiap sumber pendapatan.

Pendapatan daerah dikelompokan kedalam sumber-sumber penerimaan daerah yang terdiri dari sumber penerimaan :

1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2. Dana Perimbangan dan

3. Pendapatan Lain-Lain Yang Sah.

(6)

Berikut ini akan dijabarkan Gambar 9.1 Grafik prosentase Tabel 9.1 komponen pendapatan APBD Kabupaten Paser selama 5 tahun terakhir dengan sumber data berasal dari dokumen Realiasasi APBD dalam 5 tahun terakhir.

Berdasarkan tabel perkembangan pendapatan daerah Kabupaten Paser 5 tahun terakhir mengalami peningkatan, pada Tahun 2008 sebesar 1.096.216.510.927,09 dan pada Tahun 2012 meningkat sebesar 1.834.348.610.799,00. Berikut adalah Grafik perkembangan proporsi pendapatan dan belanja dalam APBD untuk 5 Tahun terakhir. Gambar 9.1 Grafik Perkembangan Pendapatan Daerah (%)

Gambar 9.1

Grafik Perkembangan Pendapatan Daerah Kabupaten Paser Tahun 2008 - 2012

Sumber : Hasil Kajian RPIJMD Kabupaten Paser, 2013

(7)

Tabel 9.1 Perkembangan Pendapatan Daerah Kabupaten Paser Tahun 2008 - 2012

Sumber : Laporan Realisasi APBD Paser 2008 - 2012

(Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) %

1 Pendapatan Asli Daerah 72.147.192.978,09 6,58 79.319.639.674,35 8,38 107.225.851.713,45 9,72 111.504.056.786,42 6,94 61.409.692.833,00 3,35 1,1 Pa ja k Da era h 2.107.304.599,36 0,19 1.959.508.386,58 0,21 3.573.049.846,10 0,32 14.755.526.769,10 0,92 11.777.310.000,00 0,64 1,2 Retri bus i Da era h 15.663.056.147,13 1,43 13.302.867.844,18 1,41 14.105.654.654,81 1,28 15.891.873.187,08 0,99 13.969.561.000,00 0,76 1,3 Ha s i l pengel ol a a n keka ya a n da era h ya ng di pi s a hka n 6.127.194.162,71 0,56 7.220.578.358,04 0,76 6.314.331.773,25 0,57 8.363.137.666,17 0,52 6.919.808.190,00 0,38 1,4 La i n-l a i n PAD ya ng s a h 48.249.638.068,89 4,40 56.836.685.085,55 6,00 83.232.815.439,29 7,55 72.493.519.164,07 4,51 28.743.013.643,00 1,57

2 Dana Perimbangan 905.392.408.437,00 82,59 739.916.231.626,00 78,16 792.354.070.546,00 71,86 1.164.383.890.346,00 72,50 1.253.538.460.966,00 68,34 2,1 Da na ba gi ha s i l pa ja k/ba gi ha s i l buka n pa ja k 713.487.508.437,00 65,09 605.693.964.626,00 63,98 761.633.945.546,00 69,08 947.521.008.346,00 59,00 965.173.950.966,00 52,62 2,2 Da na a l oka s i umum 183.670.800.000,00 16,75 126.665.267.000,00 13,38 25.256.525.000,00 2,29 208.204.282.000,00 12,96 280.966.870.000,00 15,32 2,3 Da na a l oka s i khus us 8.234.100.000,00 0,75 7.557.000.000,00 0,80 5.463.600.000,00 0,50 8.658.600.000,00 0,54 7.397.640.000,00 0,40

3 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 118.676.909.512,00 10,83 127.422.359.138,00 13,46 203.034.611.720,00 18,41 330.151.927.820,00 20,56 519.400.457.000,00 28,32 3,1 Hi ba h 1.557.463.312,00 0,14 747.795.917,00 0,08 36.971.077.620,00 3,35 318.065.000,00 0,02 21.000.000.000,00 1,14 3,2 Da na ba gi ha s i l pa ja k da ri provi ns i da n 54.493.211.000,00 4,97 66.860.832.940,00 7,06 75.958.734.500,00 6,89 165.491.855.000,00 10,30 194.853.520.000,00 10,62

Pemeri nta h Da era h l a i nnya ***) 0,00

3,3 Da na penyes ua i a n da n otonomi Khus us ****) 2.726.235.200,00 0,25 5.611.875.000,00 0,59 15.211.899.600,00 1,38 74.578.157.820,00 4,64 36.500.837.000,00 1,99 3,4 Ba ntua n keua nga n da ri provi ns i a ta u 59.900.000.000,00 5,46 54.201.855.281,00 5,73 74.892.900.000,00 6,79 89.763.850.000,00 5,59 267.046.100.000,00 14,56

Pemeri nta h Da era h l a i nnya

TOTAL PENDAPATAN 1.096.216.510.927,09 946.658.230.438,35 1.102.614.533.979,45 1.606.039.874.952,42 1.834.348.610.799,00

2011 2012

(8)

9.2.2 Komponen Pengeluaran Belanja

Selanjutnya Berdasarkan PP No. 58 Tahun 2005 dan Permendagri No. 13 Tahun 2006,untuk belanja Daerah meliputi semua pengeluaran daerah yang merupakan urusan pemerintah daerah selama tahun anggaran yang berkenaan dan dialokasikan dalam 2 (dua) kelompok belanja daerah yang terdiri dari :

1. Belanja Daerah Tidak Langsung yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.

2. Belanja Daerah Langsung adalah belanja yang dikeluarkan dan dianggarkan terkait secara langsung kepada pelaksanaan program dan kegiatan.

a. Belanja Tidak Langsung ini terdiri dari : 1) Belanja Pegawai

2) Belanja Bunga 3) Belanja Subsidi 4) Belanja Hibah

5) Belanja Bantuan Sosial

6) Belanja Bagi Hasil Kepada Propinsi/Kabupaten/Kabupaten dan Pemerintah Desa 7) Belanja Bantuan Keuangan Kepada Propinsi/Kabupaten/Kabupaten dan

Pemerintah Desa 8) Belanja Tidak Terduga b. Belanja langsung terdiri dari :

1) Belanja Pegawai

2) Belanja Barang dan Jasa 3) Belanja Modal

Perkembangan belanja daerah Kabupaten Paser selama kurun waktu 2013 - 2017 mengalami kenaikan, dimana belanja total belanja pada tahun 2013 sebesar Rp.

(9)

Belanja Daerah Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Pertumbuhan ( % ) Belanja Langsung 914.105.286.202 1.119.422.295.005 1.239.973.559.508 1.725.871.876.672 2.592.465.603.309 19,31 Belanja Pegawai 362.963.068.625 395.875.360.765 447.477.240.661 637.369.623.498 711.092.595.421 15,00 Belanja Barang dan Jasa 150.378.421.461 204.303.939.515 165.219.662.100 288.199.014.142 346.050.556.355 15,53 Belanja Modal 400.763.796.116 519.242.994.725 627.276.656.747 800.303.239.032 1.535.322.451.533 27,38

Sumber : Hasil Analisa

Gambar 9.2 Grafik Perkembangan Belanja Daerah (%) Kabupaten Paser Tahun 2013 - 2017

(10)

9.2.3 Komponen Pembiayaan

Komponen ini adalah sebagai pengimbang perbedaaan antara pendapatan dan biaya dalam anggaran daerah. Unsur utama dalam komponen ini adalah sisa anggaran tahun lalu yang merupakan saving keuangan daerah. Komponen Pembiayaan tersebut adalah :

1. Penerimaan Pembiayaan Daerah

a. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya b. Pencairan Dana Cadangan

c. Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan d. Penerimaan Pinjaman Daerah dan obligasi daerah e. Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman

f. Penerimaan Piutang Daerah

2. Pengeluaran Pembiayaan Daerah

Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah, baik penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima kembali, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit dan atau memanfaatkan surplus anggaran. Penerimaan pembiayaan antara lain dapat berasal dari pinjaman, dan hasil divestasi. Sementara, pengeluaran pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal oleh pemerintah.

Penerimaan pembiayaan adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara/Daerah antara lain berasal dari penerimaan pinjaman, penjualan obligasi pemerintah, hasil privatisasi perusahaan negara/daerah, penerimaan kembali pinjaman yang diberikan kepada fihak ketiga, penjualan investasi permanen lainnya, dan pencairan dana cadangan.

Pembiayaan tersebut bersumber dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Sebelumnya (SiLPA), pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman daerah, penerimaan kembali pemberian pinjaman dan penerimaan piutang daerah, ada pun pembiayaan dibagi menjadi 4 macam, yaitu :

a. Pembentukan Dana Cadangan

b. Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah c. Pembayaran Pokok Utang

d. Pemberian Pinjaman Daerah

(11)

Gambar 9.3

Grafik Penerimaan Pembiayaan Daerah Kabupaten Paser Tahun 2013 - 2017

(12)

Tabel 9.3 Perkembangan Penerimaan Pembiayaan Kabupaten Paser Tahun 2013 - 2014

Pembiayaan Daerah Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017

Penerimaan Pembiayaan

472.892.815.269,72 739.097.498.098,70 536.513.580.005,76 392.281.933.145,64 721.997.800.298,95

Penggunaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran

472.892.815.269,72 739.097.498.098,70 535.755.239.338,31 387.276.884.612,38 719.025.104.961,78 Penerimaan Kembali Pemberian Pinj aman

Daerah - - 758.340.667,44 5.005.048.533,26 2.972.695.337,17

(13)

9.3

Profil Investasi Pembangunan Bidang Cipta Karya

Investasi pembangunan khusus bidang Cipta Karya di Kabupaten Paser selama 5 tahun terakhir yang bersumber dari APBN, APBD, perusahaan daerah dan masyarakat/swasta.

9.3.1 Perkembangan Investasi Pembangunan Cipta Karya Bersumber dari

APBN dalam 5 Tahun

Meskipun pembangunan infratruktur permukiman merupakan tanggung jawab Pemerintah Daerah Kabupaten, namun Ditjen Cipta Karya juga turut melakukan pembangunan infrastruktur sebagai stimulan kepada daerah agar dapat memenuhi SPM. Setiap sektor yang ada di lingkungan Ditjen Cipta Karya menyalurkan dana ke daerah melalui Satuan Kerja Non Vertikal (SNVT) sesuai dengan peraturan yang berlaku (Permen PU No. 14 Tahun 2011).

Berdasarkan Tabel Perkembangan Alokasi Dana APBN Kabupaten Paser, untuk Tahun 2017 sebesar Rp.128.628.097.000,- dan untuk tahun 2018 mengalami penurunan adapun dana alokasi yang diterima pada tahun 2018 sebesar Rp. 18.800.000.000,-. Alokasi dana APBN tertinggi terlihat pada Tahun 2017 yang didominasi oleh dana dari Satker Pengembangan Sistem Air Minum dan Satker Pengembangan Sistem Penyehatan Lingkungan Permukiman. Sedangkan untuk Tahun 2019 mengalami kenaikan sebesar Rp. 28.850.000.000,- Secara rinci perkembangan alokasi dana APBN untuk Kabupaten Paser dapat dilihat pada grafik dan tabel berikut.

Tabel 9.4 Perkembangan Alokasi Dana APBN Kab. Paser Tahun 2017 - 2020

Sektor Tahun (APBN) Jumlah

2017 2018 2019 2020

Pengembangan

Kawasan Permukiman 17.680.000.000,00 9.000.000.000,00 6.000.000.000,00 - 32.680.000.000,00 Pengembangan Sistem

Air Minum 62.248.097.000,00 2.300.000.000,00 15.000.000.000,00 - 79.548.097.000,00 Penyehatan Sistem

Lingkungan

Permukiman 47.700.000.000,00 7.500.000.000,00 7.850.000.000,00 - 63.050.000.000,00 Penataan Bangunan

dan Lingkungan 1.000.000.000,00 - - - 1.000.000.000,00

(14)

Gambar 9.4

Grafik Perkembangan Alokasi Dana APBN untuk Kegiatan Cipta Karya di Kabupaten Paser Tahun 2017 s/d Tahun 2020

Sumber : Hasil Analisa Kab. Paser 2016

Gambar 9.5

Grafik Perkembangan Alokasi Dana APBN per Sektor Kabupaten Paser Tahun 2017 s/d Tahun 2020

(15)

Tabel 9.4 Tabel Alokasi Dana APBN Cipta Karya di Kabupaten Paser Tahun 2017 - 2020

- Pemb. P/S RTH Kawasan Perkantoran Tepian Batang

- Pemb. P/S RTH Taman Depan Keraton Pasir Belengkong

(16)

Pengembangan

Pemb. P/S Sanitary Landfill Saluran Landfill Blok III

- Pemb. P/S TPA Sanitary Landfill,Sel Landfill blok II

- Pembangunan Jalan Masuk dan Jalan Operasional

- Pembangunan Jalan Masuk dan Jalan Operasional

- Pembangunan Sarana Penunjang(Jalan Akses)

-Pengadaan Kendaraan Road Sweeper untuk sarana peningkatan Pelayanan Pengelolaan Kebersihan

- Pembangunan Sell Sampah Baru (Zona 2)

- Pembangunan Drainase PrimerKota Tanah Grogot

-50 mm (Rangan Timur dan Rangan Barat)

-P/P Pipa Distribusi Ø 300 mm - Ø 75 mm (Desa Jone - Desa Padang Pangrapat-Desa Pondong)

-Pembangunan SPAM IKK Muara Samu (IPA Kap 10 ltr/dtk, dan sarana pelengkap lainnya ) Kec. Tanah Grogot ( Desa Padang Pangrapat - Pondong

(17)

-- Pembangunan Sarana Air Baku Perdesaan Desa Krayan Sentosa

-Pembangunan Sarana Air Baku Perdesaan Desa Air Mati Kec. Kuaro

Pengembangan Kawasan Permukiman

- Peningkatan Jalan Usaha Tani/Jalan Desa Pondong Baru

- Peningkatan Jalan Usaha Tani/Jalan Desa Batu Kajang

- Pemb. Jalan Titian pada Kawasan Kumuh Nelayan Desa Lori

- Pemb. Jalan Titian pada KawasanKumuh Nelayan Desa Labuangkalo

- Peningkatan Jalan Usaha Tani/Jalan Desa Kerang Dayo

- Pemb. Jalan Titian pada Kawasan Kumuh Nelayan Desa Muara Pasir

Penataan Bangunan

(18)

Di samping APBN yang disalurkan Ditjen Cipta Karya kepada SNVT di daerah, untuk mendukung pendanaan pembangunan infrastruktur permukiman juga dilakukan melalui penganggaran Dana Alokasi Khusus. DAK merupakan dana APBN yang dialokasikan ke daerah tertentu dengan tujuan mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah sesuai prioritas nasional.

Prioritas nasional yang terkait dengan sektor Cipta Karya adalah pembangunan air minum dan sanitasi. DAK Air Minumdigunakan untuk memberikan akses pelayanan sistem penyediaan air minum kepada masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan kumuh perkotaan dan di perdesaan termasuk daerah pesisir dan permukiman nelayan. Sedangkan

DAK Sanitasi digunakan untuk memberikan akses pelayanan sanitasi (air limbah, persampahan, dan drainase) yang layak skala kawasan kepada masyarakat berpenghasilan rendah di perkotaan yang diselenggarakan melalui proses pemberdayaan masyarakat. Besar DAK ditentukan oleh Kementerian Keuangan berdasarkan Kriteria Umum, Kriteria Khusus dan Kriteria Teknis.

Tabel 9.5

Perkembangan DAK Infrastruktur Cipta Karya di Kabupaten Paser Tahun 2016

No Kabupaten/ Kota Kegiatan Pagu (x Rp. 1.000)

DAK Pendamping

1 Kabupaten. Paser Air Minum 13.900.000

Sanitasi 1.250.000 Sistem Penyediaan Air Minum Desa Sandeley Kec. Kuaro

990.000

Pengawasan Teknis Peningkatan Cakupan Sistem Penyediaan Air Minum Desa Sangkuriman Kec. Paser Belengkong

10.000 52.500

Pengawasan Teknis Peningkatan Cakupan Sistem Penyediaan Air Minum Desa Sandeley Kec. Kuaro

10.000 40.000

Peningkatan Cakupan Sistem Penyediaan Air Minum

217.370

Peningkatan Cakupan Sistem Penyediaan Air Minum Desa Uko Kec. Ma Komam

127.270

(19)

No Kabupaten/ Kota Kegiatan Pagu (x Rp. 1.000)

DAK Pendamping

Minum Desa Uko Kec. Ma Komam

Peningkatan Cakupan Sistem Penyediaan Air Minum

13.740.430

Peningkatan Cakupan Sistem Penyediaan Air Minum Desa Jone Kec. Tanah Grogot

7.650.430

Peningkatan Cakupan Sistem Penyediaan Air Minum desa Padang Pangrapat Kec. Tanah Grogot

6.090.000

Pengawasan Teknis Peningkatan Cakupan Sistem Penyediaan Air Minum Desa Jone Kec. Tanah Grogot

10.000 240.000

Pengawasan Peningkatan Cakupan Sistem Penyediaan Air Minum desa Padang Pangrapat Kec. Tanah Grogot

10.000 190.000

IPAL Komunal (Kec. Tana Paser Desa Rantau Panjang)

461.932 46.193

IPAL Komunal (Kec. Tana Paser Desa Muara Pasir RT 1 & RT 2)

1.165.600 116.560

Sumber : PPK Randal PIP Kaltim, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Timur.

9.3.2 Perkembangan Investasi Pembangunan Cipta Karya Bersumber dari

APBD dalam 5 Tahun

Pemerintah Kabupaten/Kota memiliki tugas untuk membangun prasarana permukiman di daerahnya. Untuk melihat upaya pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan bidang Cipta Karya perlu dianalisis proporsi belanja pembangunan Cipta Karya terhadap total belanja daerah dalam 3-5 tahun terakhir. Proporsi belanja Cipta Karya meliputi pembangunan infrastruktur baru, operasional dan pemeliharaan infrastruktur yang sudah ada.

(20)

Tabel 9.6 Perkembangan Alokasi Dana APBD Provinsi Untuk Kegiatan Cipta Karya di Kabupaten Paser Tahun 2017 - 2020

Sektor Tahun (APBD Prov) Jumlah

2017 2018 2019 2020

Pengembangan

Kawasan Permukiman 4.350.000.000,00 - - - 4.350.000.000,00

Pengembangan

Sistem Air Minum 750.000.000,00 - 3.900.000.000,00 5.000.000.000,00 9.650.000.000,00 Penyehatan Sistem

Lingkungan

Permukiman 9.450.000.000,00 1.900.000.000,00 6.500.000.000,00 8.000.000.000,00 25.850.000.000,00 Penataan Bangunan

dan Lingkungan - - - -

-Jumlah 14.550.000.000,00 1.900.000.000,00 10.400.000.000,00 13.000.000.000,00 39.850.000.000,00

Sumber : SIPPa Tahun 2016

Tabel 9.7 Perkembangan Alokasi Dana APBD Kabupaten Untuk Kegiatan Cipta Karya di Kabupaten Paser Tahun 2017 - 2020

Sektor Tahun (APBD Kab.) Jumlah

2017 2018 2019 2020

Pengembangan Kawasan

Permukiman - - - -

-Pengembangan Sistem

Air Minum 16.798.097.000,00 - - - 16.798.097.000,00

Penyehatan Sistem

Lingkungan Permukiman 510.000.000,00 - 300.000.000,00 - 810.000.000,00 Penataan Bangunan dan

Lingkungan 390.000.000,00 - - - 390.000.000,00

Jumlah 17.698.097.000,00 - 300.000.000,00 - 17.998.097.000,00

Sumber : SIPPa Tahun 2016

Gambar 9.6

(21)

Proporsi Alokasi APBD Kabupaten Paser untuk Kegiatan Cipta Karya pada Tahun 2017 - 2020, didominasi oleh sektor Pengembangan Sistem Air Minum sebesar 93 % untuk pembangunan jaringan air bersih/ air minum dan pembangunan sarana dan prasarana air bersih pedesaan. Untuk Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan sebesar 2% untuk kegiatan pembangunan sarana dan prasarana olahraga, sarana dan prasarana publik, dan penataan RTH. Untuk Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman sebesar 0%. Sedangkan untuk sektor Pengembangan Sistem Penyehatan Lingkungan Permukiman sebesar 5 % untuk kegiatan peningkatan operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana persampahan, pengangkutan sampah dari TPS ke TPA dan penyediaan prasarana dan sarana air limbah.

Gambar 9.7

Diagram Proporsi Dana APBD Kabupaten Paser Untuk Kegiatan Cipta Karya Tahun 2017 - 2020

(22)

9.4

Proyeksi dan Rencana Investasi Bidang Cipta Karya

Untuk melihat kemampuan keuangan daerah dalam melaksanakan pembangunan bidang Cipta Karya dalam lima tahun ke depan (sesuai jangka waktu RPI2-JM) maka dibutuhkan analisis proyeksi perkembangan APBD, rencana investasi perusahaan daerah, dan rencana kerjasama pemerintah dan swasta.

9.4.1 Proyeksi APBD 5 tahun ke depan

Proyeksi APBD dalam lima tahun ke depan dilakukan dengan melakukan perhitungan regresi terhadap kecenderungan APBD dalam lima tahun terakhir menggunakan asumsi atas dasar trend historis. Setelah diketahui pendapatan dan belanja maka diperkirakan alokasi APBD terhadap bidang Cipta Karya dalam lima tahun ke depan dengan asumsi proporsinya sama dengan rata-rata proporsi tahun-tahun sebelumnya.

Tabel 9.12 Pertumbuhan Realisasi Pendapatan APBD Kabupaten Paser Tahun 2010 - 2012

Komponen APBD Realisasi

Prosentase Pertumbuhan Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 (%) Pendapatan Asli Daerah 107.225.851.713,45 111.504.056.786,42 61.409.692.833,00 -38,87

Dana Perimbangan 792.354.070.546,00 1.164.383.890.346,00 1.253.538.460.966,00 19,53 Dana Bagi Hasil 761.633.945.546,00 947.521.008.346,00 965.173.950.966,00 10,72

Dana Alokasi Umum 25.256.525.000,00 208.204.282.000,00 280.966.870.000,00 56,88

Dana Alokasi Khusus 5.463.600.000,00 8.658.600.000,00 7.397.640.000,00 9,93

Lain-Lain Pendapatan

Daerah yang Sah 203.034.611.720,00 330.151.927.820,00 519.400.457.000,00 37,47 Total Pendapatan 1.102.614.533.979 1.606.039.874.952 1.834.348.610.799 21,90 Sumber : Hasil Analisa

(23)

Tabel 9.13 Proyeksi Pendapatan APBD Kabupaten Paser Tahun 2015 - 2019

Komponen APBD Realisasi

Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 Pendapatan Asli Daerah 78.671.074.050 99.963.081.981 111.339.909.946 20.545.699.152 54.858.948.839 (36.099.408.796) (42.650.152.790)

Dana Perimbangan 702.908.846.301 788.883.744.523 1.045.517.434.044 1.247.197.580.562 1.326.609.797.992 1.409.423.488.208 1.482.494.825.234 Dana Bagi Hasil 586.510.269.945 729.706.170.016 911.053.215.218 964.851.080.272 1.023.385.865.476 1.040.715.937.402 1.098.927.851.912

Dana Alokasi Umum 101.010.003.568 (381.914.808.112) 47.449.270.288 262.123.387.804 47.235.222.024 101.154.327.828 (132.577.320.149)

Dana Alokasi Khusus 7.496.332.485 4.661.505.491 7.479.653.635 7.182.703.869 6.890.513.145 5.414.617.013 4.907.490.158

Lain-Lain Pendapatan

Daerah yang Sah 126.822.127.831 174.875.803.268 281.208.363.688 450.445.943.553 673.977.994.846 794.272.010.578 948.849.548.424 Total Pendapatan 908.402.048.182 1.063.722.629.772 1.438.065.707.678 1.718.189.223.267 2.055.446.741.676 2.167.596.089.990 2.388.694.220.867

Sumber : Hasil Analisa

(24)

9.4.2 Rencana Kerjasama Pemerintah dan Swasta

Rencana kerjasama pemerintah dan swasta pada umumnya terfasilitasi dalam program Coorporate Social Responsibility (CSR) yang merupakan program kepedulian perusahaan terhadap limgkungan atau masyaralat sekitar usahanya. Selain itu bentuk lain dari kerjasama pemerintah dan swasta adalah berupa kegiatan investasi yang dilakukan oleh swasta namun menggunakan sarana dan prasarana pemerintah dengan berbagi bentuk.

9.5

Strategi Peningkatan Investasi Bidang Cipta Karya

9.5.1 Analisis Kemampuan Keuangan Daerah

A. Analisis Ketersediaan Dana untuk Pelaksanaan RPIJM(Net Public Saving)

Net Public Saving atau Tabungan Pemerintah adalah sisa dari total penerimaan daerah setelah dikurangkan dengan belanja/pengeluaran yang mengikat. Dengan kata lain, NPS merupakan sejumlah dana yang tersedia untuk pembangunan. Besarnya NPS menjadi dasar dana yang dapat dialokasikan untuk bidang PU/Cipta Karya. Berdasarkan proyeksi APBD, dapat dihitung NPS dalam 3-5 tahun ke depan untuk melihat kemampuan anggaran pemerintah berinvestasi dalam bidang Cipta Karya.

Net Public Saving diperhitungkan dengan rumus:

NPS = (PAD+DBH+DAU+DAK+pendapatan transfer+pendapatan lainnya yang sah)-Belanja Wajib

Belanja Wajib = Belanja mengikat dan Kewajiban Daerah

• Belanja mengikat adalah belanja yang harus dipenuhi/tidak bisa dihindari oleh Pemerintah Daerah dalam tahun anggaran bersangkutan seperti belanja pegawai, belanja barang, belanja bunga, belanja subsidi, belanja bagi hasil serta belanja lain yang mengikat sesuai peraturan yang berlaku.

• Kewajiban daerah antara lain pembayaran pokok pinjaman, pembayaran kegiatan lanjutan, serta kewajiban daerah lain sesuai dengan peraturan daerah yang berlaku

Pendapatan yang dimaksud adalah Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi umum dan Dana alokasi Khusus. Sedangkan belanja wajib adalah pengeluaran yang wajib dibayar serta tidak dapat ditunda pembayarannya dan dibayar setiap tahun oleh Pemerintah Daerah seperti gaji dan tunjangan pegawai serta anggota dewan dan pembiayaan yang wajib dibayar oleh pemerintah daerah seperti pembayaran hutang kepada pihak ketiga yang telah ada kontrak jangka panjang atau belanja sejenis lainnya.

(25)

perimbangan, angka ini jauh lebih kecil. Hal ini menunjukkan semakin besarnya ketergantungan keuangan Pemerintah Kabupaten Paser dana transfer dari pemerintah pusat dalam bentuk Dana perimbangan, baik Dana Alokasi Umum, Dana alokasi Khusus, serta dana bagi hasil lainnya. Kondisi ini tentu mengakibatkan kemampuan kabupaten untuk membiayai belanja daerah khususnya program pembangunan di Bidang Cipta Karya semakin terbatas. Perkembangan public Saving Kabupaten Paser Periode Tahun 2009 sampai dengan Rahun 2012 dapat dilihat pada Gambar 9.8 dan Tabel 9.7.

Gambar 9.8

Grafik Perkembangan Public Saving Kabupaten Paser Tahun 2009 s/d Tahun 2012

(26)

Sumber : Hasil Kajian RPIJMD Kabupaten Paser, 2013

2009 2010 2011 2012

I Penerimaan 819,235,871,300.35 899,579,922,259.45 1,275,887,947,132.42 1,314,948,153,799.00 18.23%

1 Pendapatan Asli Daerah 79,319,639,674.35 107,225,851,713.45 111,504,056,786.42 61,409,692,833.00 -1.92%

2 Dana Bagi Hasil 605,693,964,626.00 761,633,945,546.00 947,521,008,346.00 965,173,950,966.00 17.34%

3 Dana Alokasi umum 126,665,267,000.00 25,256,525,000.00 208,204,282,000.00 280,966,870,000.00 226.42%

4 Dana Alokasi Khusus 7,557,000,000.00 5,463,600,000.00 8,658,600,000.00 7,397,640,000.00 5.40%

II Belanja Wajib 278,513,246,160.92 336,651,752,772.37 410,704,918,018.54 431,818,069,542.33 16.00%

1 Pembiayaan 6,608,676,760.00 15,720,992,675.00 18,173,622,984.00 61,060,230.00 17.94%

a. Penyertaan modal pada BUMD 2,550,000,000.00 14,465,000,000.00 11,800,000,000.00 0.00 116.28%

b. Pembayaran hutang kepada pihak ketiga 3,858,676,760.00 955,992,675.00 6,373,622,984.00 61,060,230.00 130.81%

c. Pemberian pinjaman kepada UMKM 200,000,000.00 300,000,000.00 0.00 0.00

2 Pembelanjaan 271,904,569,400.92 320,930,760,097.37 392,531,295,034.54 431,757,009,312.33 16.78%

a. Belanja Gaji dan Tunjangan 176,205,775,181.00 195,702,206,476.00 225,525,692,163.00 250,347,607,910.00 12.44%

b. Belanja Tambahan Penghasilan 92,051,783,527.00 121,486,998,278.00 162,151,907,137.40 176,759,646,114.00 24.82%

c. Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan

DPRD serta Operasional KDH/WKDH 2,576,440,000.00 2,368,119,999.00 2,524,360,000.00 2,289,997,000.00 -3.59%

d. Belanja Pemungutan Pajak Daerah 1,070,570,692.92 1,373,435,344.37 2,329,335,734.14 2,359,758,288.33 33.07%

540,722,625,139.43 562,928,169,487.08 865,183,029,113.88 883,130,084,256.67 19.96%

Realisasi

No Komponen Public Saving Pertumbuhan

rata-rata (%)

(27)

Pembangunan Bidang Cipta Karya

Sebagai kesimpulan dari analisis aspek pembiayaan, dilakukan analisis tingkat ketersediaan dana yang ada untuk pembangunan bidang infrastruktur Cipta Karya yang meliputi sumber pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan daerah, serta dunia usaha dan masyarakat. Kemudian, perlu dirumuskan strategi peningkatan investasi pembangunan bidang Cipta Karya dengan mendorong pemanfaatan pendanaan dari berbagai sumber.

9.5.3. Analisis Kemampuan Keuangan Daerah

Analisis ini dilakukan untuk memprediksi ketersediaan dana yang dapat digunakan dalam pembangunan yang diproyeksikan dalam RPIJMD. Dalam analisis kemampuan keuangan daerah memerlukan data perkembangan penerimaan dan pengeluarannya sehingga memungkinkan dilakukan proyeksi kemampuan pendanaan daerah dalam lima tahun mendatang. Dalam analisis ini dihitung perkembangan realisasi penerimaan dan belanja wajib yang merupakan komponen public saving. Kemampuan daerah untuk penyediaan dana pelaksanaan program pembangunan tercermin dari besarnya public saving.

Berdasarkan proyeksi Public Saving untuk tahun 2013 -2017 dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Data tahun dasar yang digunakan untuk menetapkan proyeksi adalah data tahun 2012 2) Tingkat pertumbuhan yang digunakan untuk proyeksi tahun 2013-2017 adalah Total

rata-rata pertumbuhan penerimaan dan belanja wajib perhitungan public saving tahun 2009-2012 yaitu sebesar 19.96%.

(28)

Sumber : Hasil Kajian RPIJMD Kabupaten Paser, 2013

Tabel 9.9. Proyeksi Pendanaan Belanja Langsung Kegiatan Cipta Karya Kabupaten Paser Tahun 2013-2017

Sumber : Hasil Kajian RPIJMD Kabupaten Paser, 2013

2013 2014 2015 2016 2017

Penerimaan 1,314,948,153,799.00 1,577,411,805,297.28 1,892,263,201,634.62 2,269,958,936,680.8900 2,723,042,740,442.3900 3,266,562,071,434.6900

1 Pendapatan Asli Daerah 61,409,692,833.00 19.96 73,667,067,522.47 88,371,014,199.95 106,009,868,634.2610 127,169,438,413.6600 152,552,458,321.0270 2 Dana Bagi Hasil 965,173,950,966.00 19.96 1,157,822,671,578.81 1,388,924,076,825.94 1,666,153,322,560.4000 1,998,717,525,743.4600 2,397,661,543,881.8500 3 Dana Alokasi umum 280,966,870,000.00 19.96 337,047,857,252.00 404,322,609,559.50 485,025,402,427.5750 581,836,472,752.1190 697,971,032,713.4420 4 Dana Alokasi Khusus 7,397,640,000.00 19.96 8,874,208,944.00 10,645,501,049.22 12,770,343,058.6472 15,319,303,533.1532 18,377,036,518.3705

Belanja Wajib 431,818,069,542.33 518,008,956,222.98 621,403,543,885.09 745,435,691,244.5490 894,224,655,216.9610 1,072,711,896,398.2700

1 Pembiayaan 61,060,230.00 19.96 73,247,851.91 87,868,123.15 105,406,600.5293 126,445,757.9950 151,684,331.2908 2 Pembelanjaan 431,757,009,312.33 19.96 517,935,708,371.07 621,315,675,761.94 745,330,284,644.0200 894,098,209,458.9660 1,072,560,212,066.9800

Total Public Saving 883,130,084,256.67 1,059,402,849,074.30 1,270,859,657,749.53 1,524,523,245,436.34 1,828,818,085,225.43 2,193,850,175,036.43 Data Tahun Dasar

(2012)

Rata-rata Pertumbuhan (%)

Proyeksi Public Saving No. Komponen Public Saving

2013 2014 2015 2016 2017

Balanja Langsung Cipta Karya 159,058,243,458.00 228,084,109,451.31 43.40% 327,064,852,806.16 468,999,871,137.23 672,529,858,343.13 964,384,935,258.71 1,382,895,185,717.45

Total 159,058,243,458.00 228,084,109,451.31 43.40% 327,064,852,806.16 468,999,871,137.23 672,529,858,343.13 964,384,935,258.71 1,382,895,185,717.45

Uraian DataTahun Dasar

2012 (Rp.)

Rata-rata Perumbuhan

Proyeksi Pendanaan Belanja Langsung Kegiatan Cipta Karya Data Tahun (n-1)

(29)

Grafik Proyeksi Public Saving Tahun 2013 s/d Tahun 2017

Sumber : Hasil Kajian RPIJMD Kabupaten Paser, 2013

Berdasarkan proyeksi Pendanaan Belanja langsung pembangunan bidang Cipta Karya dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Data tahun dasar yang digunakan untuk menetapkan proyeksi adalah data tahun 2012. 2. Tingkat pertumbuhan yang digunakan untuk proyeksi tahun 2013-2017 adalah rata-rata

pertumbuhan belanja langsung Cipta Karya sebesar 43.40%.

3. Jumlah keseluruhan pendanaan Belanja Langsung Kegiatan Cipta Karya periode 2013– 2017 menunjukkan kecenderungan meningkat. Kenaikan ini bila dibandingkan dengan kenaikan total public saving tidak sebanding. Dimana dana dari public saving tidak hanya dialokasikan untuk kegiatan Cipta Karya namun juga dialokasikan untuk program kegiatan pembangunan lain di Kabupaten Paser. Kemampuan kabupaten untuk membiayai belanja daerah untuk program pembangunan di Bidang Cipta Karya sangat terbatas. Berdasarkan analisis tersebut menunjukkan bahwa semakin besarnya ketergantungan keuangan Pemerintah Kabupaten terhadap dana transfer pemerintah pusat dalam bentuk Dana perimbangan, baik Dana Alokasi Umum, Dana alokasi Khusus, serta dana bagi hasil lainnya.

(30)

penerimaan daerah.

b. Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Paser, yang terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, penerimaan dinas-dinas, bagian laba BUMD, dan penerimaan lain-lain, selama kurun waktu tahun 2008-2011 diperkirakan tetap mengalami peningkatan. Peningkatan penerimaan ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan pajak daerah yang merupakan 13,23 % dari total penerimaan PAD. Sumber-sumber penerimaan pajak daerah di Kabupaten Paser meliputi pajak hotel dan restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan umum, pajak pengambilan dan perolehan bahan galian golongan C serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Dari ketujuh sumber tersebut, pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) memberikan kontribusi yang dominan terhadap penerimaan pajak daerah yaitu 69,58%.

c. Upaya ekstensifikasi pajak tidak cukup hanya mengandalkan kondisi sarana dan prasaran kota saat ini. Untuk itu, kedepan prioritas pembangunan kota harus benar-benar fokus pada sektor-sektor yang mampu menarik investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi kota dalam upaya untuk meningkatkan daya beli masyarakat yang dalam ini tentunya harus dilakukan dengan tanpa mengesampingkan konsistensi dalam menekan ketimbangan pendapatan masyarakat sebagai bentuk upaya untuk menekan angka kemiskina, serta tetap memperhatikan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan masyarakat Kabupaten Paser.

Gambar

Gambar 9.1Grafik Perkembangan Pendapatan Daerah Kabupaten Paser
Tabel 9.1 Perkembangan Pendapatan Daerah Kabupaten Paser Tahun 2008 - 2012
Gambar 9.2 Grafik Perkembangan Belanja Daerah (%)
Gambar 9.3Grafik Penerimaan Pembiayaan Daerah Kabupaten Paser
+7

Referensi

Dokumen terkait

5 Jika saya memperoleh tawaran pekerjaan yang lebih baik di perusahaan lain, saya tidak merasa bahwa tawaran tersebut merupakan alasan yang tepat untuk.

(pemilik bisnis ritel Islam) memiliki strategi yang baik, seperti right product, produk yang ia jual sesuai dengan kriteria Islam dan pelayanan yang ramah,

Untuk mengetahui penerapan metode planted question untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pelajaran Fiqih di. MTs N 2 Kudus tahun

Allah mengasihi Anda dan yang Ia inginkan bagi Anda hanyalah yang terbaik, tetapi itu hanya akan terjadi ketika kita meresponi kasih-Nya, di dalam iman, percaya dan menerima apa

Berdasarkan hasil interpretasi, klasifikasi terbimbing dan perbaikan peta setelah ground check lapangan dapat dihitung luasan 3 kelas kerapatan jenis mangrove yang

maksud dan tujuan diadakannya musyawarah tersebut dan peraturan- peraturan yang diberlakukan dalam musyawarah tersebut, maka mediator akan memberikan kesempatan

dengan ini menyatakan, bahwa buku berjudul Teknologi Informasi dan Perpustakaan yang saya tulis adalah benar-benar bebas dari bentuk plagiasi, belum

Untuk menghindari terjadinya hal-hal tersebut maka dilakukan perancangan dan pembuatan pintu gerbang yang dapat membuka dan menutup secara otomatis.. Cara kerja