Tingkat kecenderungan perilaku konsumtif mahasiswa Program Studi Bimbingan Dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2011 tahun akademik 2013/2014 - USD Repository

68 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TINGKAT KECENDERUNGAN PERILAKU KONSUMTIF

MAHASISWA PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN

KONSELING UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA ANGKATAN 2011 TAHUN AKADEMIK

2013/2014

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh:

Yohanes Berchmans Denny Suranto NIM: 071114034

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

PERSEMBAHAN

 

 

Skripsi ini saya persembahkan untuk:

ƒ

Tuhan Yang Maha Esa

ƒ

Ayah (alm) Thomas MBani

(5)

MOTTO

“ Just Be Yourself “

(6)
(7)
(8)

ABSTRAK

TINGKAT KECENDERUNGAN PERILAKU KONSUMTIF MAHASISWA PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING UNIVERSITAS

SANATA DHARMA YOGYAKARTA ANGKATAN 2011 TAHUN AKADEMIK 2013/2014

Yohanes Berchmans Denny Suranto Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2014

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kecenderungan perilaku konsumtif mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2011.

Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2011 yang berjumlah 47 orang. Instrument yang digunakan adalah Kuesioner Kecenderungan Perilaku Konsumtif Mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2011 yang disusun oleh peneliti. Kuesioner ini terdiri dari 34 item pernyataan dengan 4 alternatif jawaban yaitu: sangat sering, sering, kadang-kadang, dan sangat jarang.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengkategorisasian yang disusun berdasarkan model distribusi normal yang terdiri dari 3 jenjang yaitu kategori rendah, sedang dan tinggi (Azwar 2010).

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 55,31% atau 26 mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma angkatan 2011 tingkat perilaku konsumtifnya termasuk dalam kategori rendah, 44,68% atau 21 mahasiswa termasuk dalam kategori sedang dan 0% atau tidak ada mahasiswa yang termasuk dalam kategori tinggi.

(9)

ABSTRACT

TRENDS OF 2011 ENROLLMENT STUDENTS’ CONSUMPTIVE BEHAVIOR OF GUIDANCE AND COUNSELING STUDY PROGRAM

AT SANATA DHARMA UNIVERSITY YOGYAKARTA IN 2013/2014 ACADEMIC YEAR

Yohanes Berchmans Denny Suranto Sanata Dharma University

Yogyakarta 2014

This study is a quantitative descriptive research that aims to determine the level of consumptive behavior tendencies of 2011 enrollment students’ consumptive behavior of Guidance and Counseling Study Program at Sanata Dharma University Yogyakarta in 2013/2014 academic year.

The subject is 2011 enrollment students of Guidance and Counseling Study Program at Sanata Dharma University Yogyakarta, consisting of 47 people. The instrument used is a questionnaire Trends of 2011 enrollment students’ Consumptive Behavior of Guidance and Counseling Study Program at Sanata Dharma University Yogyakarta compiled by the researcher. The questionnaire consists of 34 items with four alternative answers statement namely: very often, often, occasionally and very seldom.

The data analysis technique used in this study is the categorization based on the normal distribution model that consists of 3 levels, namely the category of low, medium and high (Anwar 2010).

(10)

KATA PENGANTAR

Peneliti menyadari proses selama penulisan skripsi ini tidak mudah, tetapi penuh tantangan. Justru lewat proses yang tidak mudah itu, peneliti menemukan banyak hal yang berharga. Peneliti diajak untuk bisa menghargai suatu proses yang di dalamnya terkandung pengolahan diri dan rencana Tuhan yang begitu indah pada waktunya.

Penulisan skripsi ini juga tidak lepas dari proses perkuliahan selama 14 semester, dimana penulis merasakan banyak kegembiraan dan kebahagian bersama teman-teman, para dosen dan orang-orang yang dijumpai dan berproses bersama. Untuk itu penulis mengucapkan limpah terima kasih kepada:

1. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2. Dr. Gendon Barus, M.Si. sebagai Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Juster Donal Sinaga, M.Pd sebagai Sekretaris Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan sebagai Dosen pembimbing skripsi yang telah membantu, mendampingi, membimbing, dan mengarahkan sampai skripsi ini terselesaikan dengan baik.

(11)
(12)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL. ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ... vii

ABSTRAK ... viii

(13)

BAB III METODE PENELITIAN ... 24

A. Jenis Penelitian ... 24

B. Subjek Penelitian ... 24

C. Instrumen Penelitian ... 25

1. Jenis Instrumen ... 25

2. Format Pernyataan ... 26

3. Penentuan Skor ... 26

D. Validitas dan Reliabilitas ... 27

1. Validitas ... 27

2. Seleksi Item ... 27

3. Reliabilitas ... 28

E. Prosedur Pengumpulan Data ... 29

F. Teknik Analisis Data ... 30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 33

A. Hasil Penelitian ... 33

B. Pembahasan ... 34

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 38

A. Kesimpulan ... 38

B. Saran ... 40

DAFTAR PUSTAKA ... 42

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Kisi-kisi Skala Tingkat Kecenderungan Perilaku

Konsumtif Mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Angkatan 2011 ... 26 Tabel 2 Kisi-kisi Skala Tingkat Kecenderungan Perilaku Konsumtif

Mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Angkatan 2011

Setelah Uji Coba ... 28 Tabel 3 Reliabiltas Perilaku Konsumtif Setelah Uji Coba ... 29 Tabel 4 Pengkategorisasain Skor Subjek Penelitian ... 32 Tabel 5 Persentase Perilaku Konsumtif Mahasiswa Prodi Bimbingan dan

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Skala Tingkat Perilaku Konsumtif ... 46

Lampiran 2 Validitas dan Reliabiltas ... 49

Lampiran 3 Data Sebelum Seleksi Item ... 51

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam bab ini diuraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional dari istilah-istilah pokok yang digunakan dalam penlitian ini.

A. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah yang mahluk istimewa yang diciptakan Tuhan karena memiliki akal budi. Melalui akal budi manusia dapat hidup sesuai dengan apa yang ada tempat dimana dia hidup. Perkembangan yang dialami oleh manusia menjadikan dia lebih matang dalam menjalani kehidupan ini. Dewasa awal merupakan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalani kehidupan ini. Dewasa awal merupakan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalani hubungan secara intim dengan lawan jenis.

(17)

adalah masa dimana motivasi untuk meraih sesuatu sangat besar yang didukung oleh fisik yang prima. Oleh karena itu, ada steriotipe yang mengatakan bahwa masa remaja awal dan masa dewasa awal adalah masa dimana lebih mengutamakan fisik dari pada kekuatan fisik atau daripada kekuatan rasio (akal sehat) dalam suatu masalah.

Dewasa awal juga sering disebut juga dewasa muda yaitu antara umur 20-40 tahun merupakan tahapan yang paling dinamis sepanjang rentang kehidupan manusia, sebab seseorang mengalami banyak perubahan-perubahan progresif secara fisik, kognitif maupun psikologis-emosional, untuk menuju integrasif secara fisik, kognitif maupun psikososio-emosional, untuk integrasi kepribadian yang semakin matang dan bijaksana. Seseorang yang dewasa itu telah menunaikan tugas perkembangan masa remaja, seperti telah menyelesaikan pendidikan menengah maupun atas, mengikuti dan menamatkan pendidikan tinggi (universitas), meniti maupun meraih puncak karir, menikah, membentuk, dan membina rumah tangga baru, berpartisipasi sebagai warga negara yang aktif dan produktif.

(18)

Secara umum, mereka yang tergolong dewasa muda (young ) ialah mereka yang berusia 20-40 tahun. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan, Santrock (1999), orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik transisi secara fisik (physically trantition), transisi secara intelektual (cognitive trantition),serta transisi peran sosial (social role trantition).

Pola asuh orang tua juga dapat memengaruhi perkembangan anaknya dimasa dewasa awal karena pembentukan karakter dan kepribadian dimulai dari lingkungan utama yaitu keluarga. Bagaimana seorang anak mempelajari segala hal, dimulai dengan pengajaran dari orangtua atau saudaranya. Pengasuhan orangtua itu sendiri tidak sepenuhnya memengaruhi kesuksesan anaknya karena didikan orangtuanya itu sebagai pegangan dan prinsip yang dipegang, tetapi yang menjalankan dan mencapai kesuksesan itu adalah diri kita sendiri. Pendidikan yang diberikan orangtua sebagai penguat/dasar pandangan hidup kita. Orangtua sebagai penyemangat dan dorongan dalam mencapai kesuksesan.

(19)

menjadi follower saja, dia tidak bisa memutuskan sesuatu atas dasar pilihannya, ia cenderung mengikuti bagaimana pola bermain yang ada dalam kelompok itu. Dalam memecahkan masalahpun, ia bertanya pada teman sebayanya dan tidak bisa menyelesaikan sendiri. Mereka yang menjadi minoritas, akan mengikuti mayoritas yang ada. Mungkin ini dimaksudkan untuk tidak berani mengungkapkan pendapat.

Pada masa dewasa awal persaingan antar teman sebaya di masa kuliah sudah berkurang. Tidak sebesar rasa persaingan saat di masa-masa sekolah seperti waktu SMP dan SMA. Karena disini mahasiswa sudah memiliki pengalaman dan mempunyai pandangan sendiri bagaimana melakukan sesuatu, bagaimana memutuskan suatu hal. Secara teori mungkin belum bisa dijelaskan bagaimana ini bisa terjadi, tapi menurut pengalaman dan cerita dari orang-orang, saat masa kuliah mereka cenderung merasakan tidak mau ambil pusing. Dalam artian tidak ingin bersikap yang terlalu ambisius namun santai tapi serius dalam mencapai apa yang dia inginkan. Persaingan pasti ada, tetapi tidak terlalu mencolok dalam masa pencapaiannya.

(20)

digunakan untuk menunjuk pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. Misalnya sebagai ilustrasi, seseorang memiliki penghasilan 500 ribu rupiah. Orang tersebut membelanjakan 400 ribu rupiah dalam waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Sisa 100 ribu dibelanjakan sepasang sepatu karena sepatu yang dimilikinya untuk bekerja sudah rusak. Dalam hal ini orang tadi belum disebut berperilaku konsumtif. Tapi apabila orang tersebut dibelanjakan untuk sepatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan (apalagi membeli sepatu 200 ribu dengan kartu kredit), maka dapat disebut berperilaku konsumtif.

Mahasiswa cenderung memiliki keinginan untuk tampil menarik. Hal tersebut dilakukan mereka dengan menggunakan busana dan aksesoris, seperti sepatu, tas, jam tangan, dan sebagainya yang dapat menunjang penampilan mereka. Mereka juga tidak segan-segan untuk membeli barang yang menarik dan mengikuti trend yang sedang berlaku, karena jika tidak mereka akan dianggap kuno, kurang “gaul” dan tidak trendi. Akibatnya, manusia pada masa dewasa awal tidak memperhatikan kebutuhannya ketika membeli barang. Mereka cenderung membeli barang yang mereka inginkan bukan yang mereka butuhkan secara berlebihan dan tidak wajar. Sikap atau perilaku remaja yang mengkonsumsi barang secara berlebihan dan tidak wajar inilah yang disebut dengan perilaku konsumtif.

(21)

orang lain, berdasarkan penilaian baik-buruk, salah-benar. Mahasiswa yang memiliki sikap yang relatif stabil tersebut akan berusaha menyesuaikan diri secara pribadi maupun sosial dengan teman sebaya terutama dalam hal penampilan dan pembelian suatu produk. Mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktunya berada diluar rumah bersama-sama dengan teman sebayanya sehingga dengan mudah ia akan terpengaruh oleh sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku teman-temannya daripada nilai-nilai yang dianut oleh orang tuanya. Dengan kata lain, mereka beranggapan bahwa dengan memakai model suatu produk tertentu mereka akan mudah diterima oleh teman-teman sebayanya atau diterima oleh suatu kelompok sosial tertentu atau bahkan malah dianggap berasal dari kelompok sosial ekonomi tertentu. Bagi mahasiswa itu adalah hal yang sangat penting untuk mendapatkan dukungan sosial, popularitas dan laim-lain.

Kebingungan ini akan muncul dalam tindakan hidup yang tidak wajar dengan mencari kesenangan dan kenikmatan semu yang bersifat sesaat. Suatu kondisi yang hanya mengejar kenikmatan terungkap dalam corak hidup metropolitan yang individualistis, materialistis, hedonisme serta konsumtif (Singgih, 2001).

(22)

yang sudah tidak rasional lagi. Pembelian tidak lagi didasarkan pada faktor kebutuhan tetapi sudah pada taraf keinginan.

Pada dasarnya, gagasan untuk mengkonsumsi barang-barang yang lebih baik dimaksudkan untuk memberi manusia kebahagiaan yang lebih dari yang sudah-sudah namun manusia zaman sekarang terpesona oleh kemungkinan membeli dan membeli, terutama barang-barang baru. Tindakan membeli dan mengkonsumsi telah menjadi tujuan irasional dan kompulsif, karena tujuannya terletak pada membeli itu sendiri, tanpa hubungan sedikitpun dengan manfaatnya atau dengan kesenangan dalam membeli dan mengkonsumsi barang-barang (Fromm, 1995).

Terdapat beberapa alasan mengapa suatu produk dinilai memiliki simbol tertentu bagi individu, yang pertama yaitu produk tersebut terlihat jelas oleh orang lain misalnya seorang konsumen dengan sengaja ingin supaya orang lain dapat menilai siapa dirinya dari produk yang dikonsumsinya (Ferrinadewi, 2008), yang kedua yaitu faktor lingkungan memberikan peranan sangat besar terhadap pembentukan perilaku konsumtif seseorang. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Kholilah (2008), yang menunjukkan bahwa teman-teman merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku konsumtif.

(23)

realistis, cenderung boros dalam menggunakan uangnya, lebih mudah terpengaruh teman sebaya dalam hal berperilaku, dan biasanya lebih mementingkan gengsinya untuk membeli barang-barang bermerk agar mereka dianggap tidak ketinggalan zaman.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa rentang usia mahasiswa ada pada usia 18/19-22/23 tahun dan biasanya sedang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebagai remaja yang sedang menghadapai transisi ke dewasa awal mereka memiliki sikap, pandangan, dan kepribadian yang mulai stabil dalam menghadapi dunia disekitarnya. Penyesuaian diri pribadi dan penyesuaian sosial yang dipengaruhi oleh sikap teman-teman sebaya dan juga public figure yang mereka idolakan.

(24)

B. Rumusan Masalah

Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut:

Seberapa tinggi tingkat kecenderungan perilaku konsumtif pada mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling angkatan 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta?

C. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

Untuk mengetahui tingkat kecenderungan perilaku konsumtif pada diri mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling angkatan 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

D. Manfaat Penelitian

Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat: 1. Secara teoritis

(25)

2. Secara praktis

a. Sebagai bahan referensi bagi orang tua untuk bertindak secara realistis dengan lebih memperhatikan pendampingan pada anaknya yang mengalami transisi dari remaja akhir ke masa dewasa awal.

b. Mencegah meluasnya perilaku konsumtif di kalangan remaja/transisi ke dewasa awal sebagai salah satu dampak buruk dari kehidupan metropolitan.

c. Sebagai bahan pertimbangan bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian tentang perilaku konsumtif pada remaja/transisi ke dewasa awal.

E. Definisi Operasional

1. Perilaku Konsumtif

(26)

2. Mahasiswa Prodi BK 2011 Universitas Sanata Dharma

Mahasiswa Prodi BK 2011 Universitas Sanata Dharma adalah mahasiswa-mahasiswi yang menempuh pendidikan di Universitas Sanata Dharma angkatan 2011. Para mahasiswa tersebut berusia antara 19-23 tahun.

(27)

BAB II

LANDASAN TEORI

Bab ini berisi penjelasan tentang perilaku konsumtif, mahasiwa sebagai dewasa awal.

A. Dewasa Awal

Istilah adult atau dewasa awal berasal dari bentuk lampau kata

adultus yang berarti telah tumbuh menjadi kekuatan atau ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa. Hurlock (1999) mengatakan bahwa masa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai umur 40 tahun, saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif. Santrock (2002) mengatakan masa dewasa awal adalah masa untuk bekerja dan menjalin hubungan dengan lawan jenis, terkadang menyisakan sedikit waktu untuk hal lainnya.

(28)

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dewasa awal adalah individu yang berada pada rentang usia antara 20 hingga 40 tahun dimana terjadi perubahan fisik dan psikologis pada diri individu yang disertai berkurangnya kemampuan reproduktif, merupakan masa dimana individu tidak lagi harus bergantung secara ekonomis, sosiologis, maupun psikologis pada orangtuanya, serta masa untuk bekerja, terlibat dalam hubungan masyarakat, dan menjalin hubungan dengan lawan jenis.

Hurlock (1980) membagi tugas perkembangan pada individu dewasa awal, antara lain:

a. Mulai bekerja b. Memilih pasangan c. Mulai membina keluarga d. Mengasuh anak

e. Mengelola rumah tangga

f. Mengambil tanggungjawab sebagai warga Negara g. Mencari kelompok sosial yang menyenangkan

Hurlock (1996), menguraikan secara ringkas ciri-ciri dewasa yang menonjol dalam masa-masa dewasa awal sebagai berikut:

1. Masa dewasa awal sebagai masa pengaturan

(29)

menerima tanggungjawab sebagai ibu dan pengurus rumah tangga.

2. Masa dewasa awal sebagai usia produktif

Orang tua merupakan salah satu peran yang paling penting dalam hidup orang dewasa. Orang yang kawin berperan sebagai orang tua waktu saat ia berusia duapuluh atau tigapuluh tahun. 3. Masa dewasa awal sebagai masa bermasalah

Dalam tahun-tahun awal masa dewasa banyak masalah baru yang harus dihadapi seseorang. Masalah-masalah baru ini dari segi utamanya berbeda dengan dari masalah yang sudah dialami sebelumnya.

4. Masa dewasa awal sebagai masalah ketegangan emosional Pada masa ini banyak individu sudah mampu memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi secara baik sehingga lebih stabil dan lebih tenang.

5. Masa dewasa awal sebagai masa terasingan sosial

(30)

6. Masa dewasa awal sebagai masa komitmen

Setelah menjadi orang dewasa, individu akan mengalami perubahan, dimana mereka akan memiliki tanggungjawab sendiri dan komitmen-komitmen sendiri.

7. Masa dewasa awal sering merupakan masa ketergantungan Meskipun telah mencapai status dewasa, banyak individu yang masih tergantung pada orang-orang tertentu dalam jangka waktu yang berbeda-beda. Ketergantungan ini mungkin pada orang yang membiayai pendidikan.

8. Masa dewasa awal sebagai masa perubahan nilai

Perubahan karena adanya pengalaman dan hubungan sosial yang luas dan nilai-nilai itu dapat dilihat dari kacamata orang dewasa. Perubahan nilai ini disebabkan karena beberapa alasan yaitu, individu ingin diterima oleh anggota kelompok orang dewasa, individu menyadari bahwa kelompok sosial berpedoman pada nilai-nilai konvensional dalam hal keyakinan dan perilaku. 9. Masa dewasa awal masa penyesuaian diri dengan dengan cara

hidup baru

(31)

10. Masa dewasa awal sebagai masa kreatif

Orang yang dewasa tidak terikat lagi oleh ketentuan dan aturan orang tua maupaun guru-gurunya sehingga terbebas dari belenggu ini bebas untuk berbuat apa yang mereka inginkan bentuk kreatifitas ini tergantung dengan minat dan kemampuan individual.

B. Kecenderungan Perilaku Konsumtif

Kata “konsumtif” (sebagai kata sifat) sering diartikan sama dengan “konsumerisme”. Padahal konsumerisme mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal (www.e-psikologi.com).

(32)

dikatakan berperilaku rasional jika mereka mempertimbangkan dan memilih salah satu alternatif yang benar-benar bermanfaat, dimana tujuan yang dipilih oleh konsumen berdasar pada kriteria objektif, seperti ukuran, berat, harga, dan lain-lain. Motivasi emosional dipakai oleh konsumen ketika mereka melakukan pemilihan berdasarkan atas kriteria subjektif atau pribadi, misalnya rasa takut, status, dan lain-lain.

C. Aspek-aspek Perilaku Konsumtif

Aspek-aspek perilaku konsumtif menurut Lina dan Rosyid (1997) adalah:

1. Pembelian Impulsif (Impulsive Buying)

Aspek ini menunjukkan bahwa seorang remaja berperilaku membeli semata-mata karena didasari oleh hasrat yang tiba-tiba/keinginan sesaat, dilakukan tanpa terlebih dahulu mempertimbangkannya, tidak memikirkan apa yang akan terjadi kemudian dan biasanya bersifat emosional.

2. Pemborosan (Wasteful Bying)

Perilaku konsumtif sebagai salah satu perilaku yang menghambur-hamburkan banyak dana tanpa disadari adanya kebutuhan yang jelas.

3. Mencari kesenangan (Non rational Buying)

(33)

yang dicari adalah kenyamanan fisik dimana para remaja dalam hal ini dilatarbelakangi oleh sifat remaja yang akan merasa senang dan nyaman ketika dia memakai barang yang dapat membuatnya lain daripada yang lain dan membuatnya merasa trendi.

4. Mencari kepuasan (Statisfaction Seeking)

Aspek ini memperlihatkan bahwa sikap konsumtif didasari pada keinginan untuk selalu lebih dari yang lain, selalu tidak ada kepuasan dan usaha untuk memperoleh pengakuan, serta biasanya diikuti oleh rasa bersaing yang tinggi.

D. Faktor-faktor yang Memengaruhi Perilaku Konsumtif

Faktor-faktor yang dapat memengaruhi perilaku konsumtif seseorang ditentukan oleh:

1. Faktor budaya dan keluarga

(34)

2. Faktor kelas sosial dan gaya hidup

Kelas sosial berpengaruh dalam kecenderungan perilaku konsumtif seseorang. Kelas sosial ditunjukkan melalui pemilihan produk dan merk tertentu dalam bidang-bidang seperti pakaian, peralatan rumah tangga, kegiatan di waktu senggang, dan mobil. Remaja yang berasal dari kelas sosial atas tidak merasa kesulitan jika harus memilih produk dan merk barang yang mewah untuk menjaga kredibilitasnya di kalangan masyarakat kelas atas lainnya. Hal ini berbeda dengan remaja yang berasal kelas kalangan ekonomi menengah ke bawah yang cenderung memilih produk yang relatif sederhana dengan harga yang terjangkau (Nurlita, 1999).

(35)

3. Faktor kelompok referensi

Kelompok acuan (reference groups) berfungsi sebagai titik banding baik langsung maupun tidak langsung yang membentuk sikap atau perilaku konsumtif seseorang. Perilaku konsumtif yang berlebihan sangat ditentukan oleh sikap mudah terpengaruh oleh kelompok referensi. Remaja sebagai konsumen yang masih dalam masa transisi mempunyai karakteristik mudah dipengaruhi kelompok sebaya dan kelompok referensinya (Loudon & Bitta, 1984).

Peran teman dan sahabat sebagai kelompok referensi sangat penting bagi remaja karena adanya kedekatan secara emosional yang erat diantaranya. Pandangan dan pendapat dari teman-teman akan suatu produk tertentu akan memengaruhi remaja dalam membeli dan memanfaatkan produk tersebut. Ketika ada suatu produk beredar di pasaran mereka akan membicarakannya satu sama lain, sehingga informasi dan pendapat dari teman turut berpengaruh dalam pengambilan keputusan untuk membeli suatu produk, sekalipun mereka memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan sendiri (Mahendra, 2002).

4. Faktor kepribadian dan konsep diri

(36)

diri, dimana harapan dan peran teman berpengaruh pada setiap keputusannya. Hal ini juga nampak dalam keputusannya ketika mengkonsumsi suatu produk, remaja akan mendengarkan dan mengikuti gagasan dan minat teman-temannya ketika membeli sesuatu. Harapan teman yang terpenuhi membantu remaja untuk memperoleh identitas dirinya dalam kelompok sosial tersebut (Mahendra, 2002).

Selain kepribadian, konsep diri yang dimiliki remaja juga turut membantu dalam usaha pencarian identitas diri. Dasar pemikiran konsep diri adalah bahwa apa yang dimiliki seseorang memberi kontribusi dan mencerminkan identitas mereka; bahwa, “kita adalah apa yang kita punya”. Menurut Mahendra (2002) hal ini juga berlaku bagi remaja yang sering mengidentifikasikan dirinya dengan menjadi apa yang diharapkan dan atau dikatakan orang lain mengenai dirinya. Pandangan dan pendapat dari teman-temannya akan suatu produk tertentu akan memengaruhi remaja dalam menggunakan produk tersebut.

5. Faktor motivasi

(37)

dengan desakan banyak permintaan, yang tidak akan pernah hilang atau dikendalikan secara sempurna. Seseorang pertama kali mencoba memenuhi kebutuhan yang paling penting, ketika terpenuhi kebutuhan itu tidak akan menjadi motivator lagi dan orang itu akan mencoba memenuhi kebutuhan terpenting selanjutnya (Kotler & Amstrong, 2001).

6. Faktor proses belajar dan keyakinan

Pembelajaran menggambarkan perubahan perilaku individu yang muncul karena pengalaman. Proses belajar melalui drive

(dorongan), stimuli (rangsangan), clues (petunjuk), responses

(tanggapan), reinforcement (penguatan) yang saling memengaruhi.

(38)

konsumtif yang rendah, sedangkan remaja putri yang memiliki

locus of control eksternal atau keyakinan bahwa apa yang terjadi di luar dirinya baik keberhasilan maupun kesengsaraan lebih disebabkan oleh nasib, keberuntungan, kesempatan, kekuasaan orang lain dan bukan merupakan tanggungjawabnya ternyata memiliki perilaku konsumtif yang tinggi. Begitu juga sebaliknya yang terjadi pada pria. Pria lebih memiliki keyakinan bahwa individu sendirilah yang bertanggungjawab atas kesuksesan atau kegagalan yang dialaminya dan hal itu yang menyebabkan pria memiliki perilaku konsumtif yang rendah. Contohnya saja dalam keseharian remaja putri bersaing dalam menggunakan pakaian fashionable agar keliatan menarik di antara teman-teman yang lainnya. Remaja putra menggunakan pakaian yang keren untuk menarik lawan jenisnya, nongkrong di cafe atau mall yang elit dan mahal untuk menunjukkan kelas sosialnya yang tinggi. Tapi dari semua hal yang dilakukan mereka tidak memikirkan ke depannya apakah hal itu baik atau tidak bagi diri mereka.

(39)

BAB III

METODE PENELITIAN

Pada bab ini diuraikan jenis penelitian, subjek penelitian, instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas instrumen, prosedur pengumpulan data, dan teknik analisis data.

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang memberikan gambaran atau uraian atas suatu keadaan sejernih mungkin tanpa ada perlakuan terhadap objek yang diteliti. Penelitian deskriptif ini biasanya dilakukan terhadap satu variabel. Sekurang-kurang satu variabel yang diteliti dengan mencoba menguraikannya serinci mungkin sesuai dengan masalah penelitian yang diinginkan. Pada umumnya penelitian deskriptif menggunakan survei sebagai metode pengumpulan data (Kountur, 2003). Penelitian ini bersifat deskriptif karena peneliti ingin memperoleh gambaran tentang tingkat kecenderungan perilaku konsumtif pada mahasiwa Prodi Bimbingan dan Konseling angkatan 2011.

B. Subjek Penelitian

(40)

C. Instrumen Penelitan

1. Jenis Instrumen

(41)

Tabel 1

Kisi-kisi Skala Tingkat Kecenderungan Perilaku Konsumtif

No. Aspek Indikator

Nomor Item

Pemborosan a. Pemborosan 17,18 1,9 4

b. Perilaku yang menghambur-

hamburkan banyak dana

b. Keinginan untuk selalu lebih dari orang lain, merasa tidak puas, ingin diakui dan rasa ingin bersaing

12,24,25,16,4 29,31,10,33,20 10

Jumlah 17 17 34

2. Format Pernyataan

Format pernyataan yang disusun peneliti memuat 34 item pernyataan. Pernyataan-pernyataan dalam skala memuat item-item pernyataan yang favorable dan unfavorable. Skala ini dilengkapi dengan empat alternatif jawaban yaitu Sangat Sering, Sering, Kadang-Kadang dan Sangat Jarang. Pada skala ini opsi netral tidak disertakan untuk mengurangi kecenderungan responden dalam memberikan jawaban yang netral.

3. Penentuan Skor

(42)

Kadang-kadang = 2; dan Sangat Jarang = 1 untuk favorable item dan sebaliknya untuk unfavorable item.

Kuesioner yang digunakan untuk mengukur tingkat kecenderungan perilaku konsumtif yang dialami mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

D. Validitas dan Reliabilitas

1. Validitas

Validitas adalah sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut (Azwar, 2004).

Penelitian ini menggunakan validitas isi berguna untuk melihat tingkat kebenaran suatu alat tes dari area yang ingin diukur (Kountur, 2003). Untuk mengetahui valid atau tidak valid suatu alat tes peneliti dapat meminta pendapat dari para ahli (professional judgement) (Kountur, 2003). Professional judgement dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing. 2. Seleksi item

(43)

adalah untuk memilih item-item yang valid dan membuang item-item yang tidak valid. Pemilihan item yang sahih menggunakan batasan rix ≥ 0,30. Semua item yang mencapai

koefisien korelasi minimal 0,30 dianggap memuaskan. Sebaliknya, bila kurang dari 0,30 dinyatakan gugur (Azwar, 2010). Terlihat dari tabel 2.

Tabel 2

Kisi-kisi Skala Tingkat Kecemderngan Perilaku Konsumtif Setelah Uji Coba

No. Aspek Indikator

Nomor Item

Pemborosan a. Pemborosan 17,18 9 3

b. Perilaku yang menghambur-

hamburkan banyak dana

d. Keinginan untuk selalu

lebih dari orang lain, merasa tidak puas, ingin diakui dan rasa ingin bersaing

12,24,25,16,4 29,31,10,33,20 10

Jumlah 17 14 31

3. Reliabilitas

(44)

suatu teknik pengujian reliabilitas dan biasanya digunakan pada alat ukur yang jawabannya berupa pilihan (Kountur, 2003). Reliabilitas Perilaku Konsumtif setelah uji coba adalah 0,932.

Tabel 3

Reliability Statistics

Cronbach's

Alpha N of Items

.932 31

E. Prosedur Pengumpulan Data

Berikut ini adalah tahap-tahap yang ditempuh dalam pengumpulan data:

1. Penyusunan proposal penelitian dan pengajuan proposal penelitian.

2. Revisi proposal dan penyusunan item kuesioner. Penyusunan item kuesioner mempertimbangkan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Menetapkan dan mendefinisikan variabel penelitian, yaitu perilaku konsumtif mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling angkatan 2011.

(45)

c. Menyusun pernyataan-pernyataan item kuesioner sesuai dengan aspek dan indikator.

d. Melakukan judgement expert kuesioner penelitian kepada para ahli.

e. Menghubungi koordinator PPL BK Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terkait dengan ijin untuk melaksanakan penelitian.

f. Melaksanakan penelitian di Ruang Driyakara Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

F. Teknik Analisis Data

Langkah-langkah yang ditempuh dalam menganalisis data, yaitu: 1. Menentukan skor dari setiap alternatif jawaban. Norma scoring

untuk pernyataan favorable adalah sangat sering: 4, sering: 3, kadang-kadang: 2, dan sangat jarang: 1. Sebaliknya norma

scoring untuk pernyataan unfavorable adalah sangat sering: 1, sering: 2, kadang-kadang: 3, dan sangat jarang: 4.

2. Membuat tabulasi skor dari item-item kuesioner dan menghitung skor masing-masing responden.

(46)

metode kategorisasi jenjang (ordinal). Azwar (2011) mengatakan bahwa kategorisasi jenjang (ordinal) bertujuan menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang posisinya berjenjang menurut suatu kontinum berdasarkan atribut yang diukur.

Perhitungan dalam penggolongan norma kategorisasi adalah sebagai berikut:

X maksimum teoritik : 4 x 31 = 124 X minimum teoritik : 1 x 31 = 31

σ (standar deviasi) : 93/6 = 15.5

µ (mean teoritik) : (124 + 31) : 2 = 155/2 = 77.5

(47)

Tabel 4

Pengakategorisasian Skor Subjek Penelitian

No. Penghitungan Skor Item Skor Keterangan

1. (µ+1.0σ) ≤ X ≥ 94 Tinggi

2. (µ-1.0σ) ≤ X < µ+1.0σ) 61 – 93 Sedang

3. X ≤ (µ-1.0σ) ≤ 62 Rendah

Keterangan:

X maksimum teoritik : Skor tertinggi yang diperoleh subjek penelitian dalam skala.

X minimum teoritik : Skor terendah yang diperoleh subjek penelitian dalam skala.

σ (standar deviasi) : Luas jarak rentangan yang dibagi dalam 6 satuan deviasi sebaran.

(48)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini diuraikan hasil penelitian mengenai tingkat kecenderungan perilaku konsumtif mahasiswa Prodi BK angkatan 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

A. Hasil Penelitian

Tingkat kecenderungan perilaku konsumtif mahasiswa Prodi BK 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ditentukan dengan menggunakan kategorisasi Azwar (2011).

Berdasarkan data yang terkumpul dan diolah dapat diketahui bahwa tingkat kecenderungan perilaku konsumtif mahasiswa Prodi BK 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta adalah seperti yang disajikan dalam tabel 5.

Tabel 5

Persentase Perilaku Konsumtif Mahasiswa Prodi BK angkatan 2011

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

No Rentang

Skor Frekuensi Persentase Kategori

1. ≥ 94 0 0% Tinggi

2. 61 - 93 21 44,68% Sedang

(49)

Berdasarkan tabel 5, terlihat bahwa:

1. Tidak ada mahasiswa (0%) yang mempunyai perilaku konsumtif yang tinggi.

2. Ada 21 mahasiswa (44,68%) yang mempunyai perilaku konsumtif yang sedang.

3. Ada 26 mahasiswa (55,31%) yang mempunyai perilaku konsumtif yang rendah.

Dari hasil penelitian tersebut peneliti menyimpulkan bahwa sebagian besar mahasiswa Prodi BK angkatan 2011 mempunyai kecenderungan perilaku konsumtif yang rendah dan sebagian besar yang lainnya sedang.

B. Pembahasan

Hasil penelitian di atas menyatakan bahwa perilaku konsumtif mahasiswa Prodi BK angkatan 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang memiliki perilaku konsumtif “Rendah” 55,31% yaitu 26 mahasiswa, yang memiliki perilaku konsumtif “Sedang” 44,68% yaitu 21 mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki perilaku konsumtif “Tinggi” adalah 0% dengan kata lain tidak ada mahasiswa Prodi BK angkatan 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang memiliki perilaku konsumtif yang tinggi.

(50)

teori yang diutarakan oleh Lina dan Rosyid (1997) yaitu impulsif (dalam diri) dimana aspek ini menyatakan bahwa perilaku konsumtif terjadi semata-mata karena didasari oleh hasrat yang tiba-tiba atau keinginan sesaat. Hal ini dilakukan tanpa terlebih dahulu membuat perencanaan dan pertimbangan, tidak memikirkan apa yang terjadi kemudian dan biasanya bersifat emosional. Dalam aspek ini tingkat frekuensinya sedang.

Pada aspek kedua juga tampak bahwa mahasiswa Prodi BK angkatan 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta berada di aspek pemborosan yang sedang dan di aspek ini menjabarkan sikap konsumtif sebagai perilaku membeli yang menghambur-hamburkan banyak dana.

Frekuensi mahasiswa Prodi BK angkatan 2011 Universitas Sanata Dharman pada aspek perilaku yang konsumtif yang mencari kesenangan adalah cukup sedang. Di aspek ini dikatakan bahwa sikap konsumtif adalah salah satu perilaku membeli yang dilakukan semata-mata mencari kesenangan saja.

Pada aspek mencari kepuasan dikatakan sikap konsumtif didasari pada keinginan untuk selalu lebih dari yang lain, selalu tidak ada kepuasan dan usaha untuk memperoleh pengakuan, serta biasanya diikuti oleh rasa bersaing yang tinggi. Ada 44,68% mahasiswa Prodi BK angkatan 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang berada pada aspek ini dan ini dapat dikatakan pada frekuensi yang cukup sedang.

(51)

perilaku konsumtifnya. Seperti yang dikatakan Lina dan Rosyid (1997) aspek impulsif (dalam diri) pada frekuensi ini cukup rendah. Di aspek ini ada 26 mahasiswa yang cukup bagus dalam mengatur dirinya sendiri yaitu membuat perencanaan dan pertimbangan, bisa memikirkan apa yang akan terjadi kemudian apabila membeli suatu barang, dan bisa mengatur emosionalnya dalam menginginkan suatu barang. Hasrat yang tiba-tiba atau keinginan sesaatnya juga bisa dikendalikan. Apabila hal ini dapat dipertahankan maka ke depannya akan berdampak cukup bagus.

Di sini aspek pemborosan juga terlihat rendah yang dimana mahasiswa Prodi BK angkatan 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tidak membeli sesuatu yang menghambur-hamburkan banyak dana dan tidak berlebih-lebihan.

Aspek ketiga, sikap konsumtif adalah salah satu perilaku membeli yang dilakukan semata-mata mencari kesenangan. Setelah diteliti, peneliti menemukan ada 26 mahasiswa dari 47 mahasiswa yang berada pada aspek ini dan 26 mahasiswa tersebut berada pada frekuensi yang rendah dan hal ini cukup bagus. Pada frekuensi yang rendah ini dalam membeli suatu barang mahasiswa tidak untuk mencari kesenangan tapi untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan saja.

(52)

mahasiswa Prodi BK angkatan 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terletak pada level yang rendah dan hal ini berdampak bagus.

(53)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini akan dikemukakan mengenai kesimpulan hasil penelitian dan saran-saran terhadap kecenderungan perilaku konsumtif mahasiswa Prodi BK angkatan 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

A. Kesimpulan

Beberapa kesimpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian adalah sebagian mahasiwa (55,31%) tingkat kecenderungan perilaku konsumtif mahasiwa Prodi BK angkatan 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta masuk pada kategori rendah. Sebelum melakukan penelitian ini peneliti melihat perilaku konsumtif para mahasiswa cukup banyak tetapi setelah melakukan penelitian ternyata perilaku konsumtif beberapa mahasiswa cukup sedang. Hal ini cukup bagus mengingat para mahasiwa dalam masa transisi menuju ke masa dewasa awal dimana dalam transisi ini mahasiswa harus mulai mempersiapkan diri untuk ke jenjang yang lebih tinggi.

(54)

tinggi, rasa bersaing antar individu juga cukup tinggi dan apabila mahasiwa tidak bisa mengendalikan perilaku konsumtifnya maka dikhawatirkan mahasiswa tidak akan siap untuk memasuki dunia kerja.

Peneliti juga melihat ternyata beberapa mahasiswa yaitu sebesar 44,68% tingkat perilaku konsumtifnya rendah. Peneliti melihat beberapa mahasiswa yang berada pada frekuensi ini sudah cukup bagus dan diharapkan hal ini akan berlangsung terus menerus untuk ke depannya dimana mahasiswa Prodi BK angkatan 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta akan memasuki dunia kerja dan kelak akan berkeluarga. Apabila hal ini tidak dapat dipertahankan maka peneliti khawatir kelak buat ke depannya ketika dia bekerja dan berkeluarga kehidupan mereka secara ekonomi akan mengalami kesulitan.

(55)

B. Saran

Berikut ini dikemukakan beberapa saran yang sesuai dengan hasil penelitian untuk berbagai pihak:

1. Bagi mahasiswa Prodi BK angkatan 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Saran peneliti kepada mahasiswa Prodi BK angkatan 2011 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta agar bisa mempertahankan sikap perilaku konsumtifnya yang berada di frekuensi yang rendah dan buat yang berada pada frekuensi sedang agar dapat mengurangi sedikit perilaku konsumtifnya agar tidak terjadi pemborosan atau kesombongan dalam bersosialisasi dengan teman-teman sebaya.

Hal ini sangat penting untuk dipertahankan karena dalam masa transisi menuju masa dewasa awal ini mahasiswa akan mengalamu gejolak emosi yang tinggi karena kehidupan sosial ke depannya akan sangat mengalami peningkatan yang drastis dan sangat berbeda ketika mereka masih kuliah.

2. Orang tua

(56)

hal ini membantu mereka agar tidak mudah berperilaku konsumtif dan memenuhi taraf kebutuhan yang semakin meningkat secara lebih positif.

Selain itu orangtua juga perlu melihat banyak referensi pengetahuan tentang perkembangan remaja yang mulai masuk ke dalam masa dewasa awal dan perlu ada kesediaan diri dari orangtua untuk memposisikan diri sebagai sahabat dan teman mereka, hal ini dapat membantu dalam membuka komunikasi yang lebih jujur dan terbuka satu sama lainnya.

3. Peneliti lain

a. Peneliti lain sebaiknya mengadakan wawancara atau observasi kepada beberapa narasumber untuk pembahasan hasil penelitian yang lebih dalam, mengingat ada kemungkinan beberapa mahasiswa tidak serius atau dalam keadaan yang tidak sehat, baik fisik maupun batinnya pada saat mengisi instrumen.

(57)

DAFTAR PUSTAKA

Andi, Mappiare. (1982). Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.

Azwar, Saifuddin. (2004). Reliabiltas dan Validitas. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar Offset.

Azwar, Saifuddin. (2011). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar Offset.

Dowdey & Diane. (1990). The Researching Reader: Source Based Writings Across The Disciplines. Fort Worth: Holt Rinehard and Winston, Inc. Ferrinadewi, Erna. (2008). Merek dan Psikologi Konsumen. 2008. Yogyakarta :

Graha Ilmu.

Fromm, Erich. (1995). Masyarakat yang Sehat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Grinder, R.E. (1978). Adolescent. New York: John Wiley & Sons.

Handayani, Ninik, (2001). “Memperkuat Penguasaan Diri atas Dasar Skala Nilai dan Norma”. Perkembangan Psikologi Remaja. http://www.iqeq.web.id. Hurlock, E.B. (1980). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang

Rentang Kehidupan. Ed.5. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hurlock, E.B. (1990). Psikolgi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Terjemahan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo). Jakarta : Penerbit Erlangga.

Hurlock, E.B. (1993). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Ed.5. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hurlock, E.B. (1996). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Ed.5. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hurlcock, E.B. (1999). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Ed.5. Jakarta: Penerbit Erlangga.

(58)

Kontur, R. (2003). Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis. Jakarta: Penerbit PPM.

Kotler & Amstrong. (2001). Prinsip-Prinip Pemasaran. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

Lina & Rosyid. (1997). “Perilaku Konsumtif Berdasar Locus of Control pada Remaja Putri”. Psikologika. no. 4. Thn. 2. Jakarta.

Lina & Rosyid, H.F. (1997). Perilaku Konsumtif Berdasarkan Locus of Control Pada Remaja Putri. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi. no.4, Tahun XI, halaman 5-13.

Lubis. (1987). “Perilaku Konsumtif: Antara Gengsi dan Kenyataan”. Gadis. no.18.20 Juli. Jakarta.

Loudon & Blitta. (1984). Consumer Behavior: Consepts and Application. Second Edt. New York: McGrawhill.

Mahendra, JB M. SCPKV. (2002). Skripsi. “Studi Deskriptif tentang Perilaku Konsumtif Remaja Putri”. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

Mangkunegara, Anwar Prabu. (2002). Perilaku Konsumen. Bandung : PT. Refika Aditama.

Mu’tadin, Zainudin. (2002). Mengenal Kecerdasan Emosi Remaja. http://www.e-psikologi.com.

Monks,F.J., Knoers,A.M.P & Hadinoto S.R. 2001. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Nurlita. (1999). “Metropolitan: Selayang Pandang”. Media Konsumen. Ed. 3. YLKI: Jakarta.

Santoso, Singgih. (2001). “Mewujudkan “Mimpi” Demokrasi: Awas! Virus Hedon!”. Familia. no.22. Tahun II. Agustus. Yogyakarta: Penerbit Yayasan Kanisius.

(59)

Schiffman, Leon. G. & Kanuk, Leslie Lozar. (1997). Consumer Behavior. 6th ed. New Jersey: Prentice Hall.

Setiono, Liliy. (2002). Beberapa Permasalahan Remaja. http://www.e-psikologi.com.

Tambunan, Roy. (2001). Remaja dan Perilaku Konsumtif. http://www.e-psikologi.com.

(60)

LAMPIRAN

Lampiran 1 : Skala Tingkat Perilaku Konsumtif

Lampiran 2 : Validitas dan Reliabilitas

(61)

LAMPIRAN 1

SKALA TINGKAT PERILAKU KONSUMTIF

PETUNJUK PENGERJAAN

Bacalah setiap pernyataan dengan cermat dan teliti. Kemudian pilih

jawaban dengan memberi tanda silang (X) pada kolom yang telah

disediakan. Penggantian jawaban dapat dilakukan dengan cara memberi

tanda sama dengan (=) pada jawaban pertama lalu berilah tanda silang (X)

pada jawaban yang dikehendaki.

Adapun pilihan jawaban yang tersedia adalah :

SS

:

Sangat Sering

apabila pernyataan sangat sering Anda lakukan

S

:

Sering

apabila pernyataan sering Anda lakukan

KK

:

Kadang-Kadang

apabila pernyataan kadang-kadang Anda lakukan

SJ

:

Sangat Jarang

apabila pernyataan sangat jarang Anda lakukan

Contoh cara menjawab :

No Pernyataan

Pilihan

Jawaban

SS S KK SJ

1

Saya tahu batasan ketika sedang

berbelanja.

X

Dalam skala ini, tidak ada jawaban yang benar atau salah. Oleh

karena itu, jawablah secara jujur dan terbuka sesuai dengan keadaan diri

Anda. Jawablah seluruh pernyataan dan jangan sampai terlewatkan satu

pernyataan pun. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap petunjuk yang

diberikan dan kesediaannya untuk mengerjakan skala ini.

(62)

No

Pernyataan

Pilihan Jawaban

SS S KK SJ

1 Saya tahu batasan ketika sedang

berbelanja.

SS S KK SJ

2 Saya suka membeli barang meskipun

barang tersebut tidak saya pakai.

SS S KK SJ

3 Ketika berbelanja saya membeli apa

saja yang menarik pada saat itu.

SS S KK SJ

4 Saya

tidak

mau

kalah dengan

teman-teman saya.

SS S KK SJ

5 Saya bisa mengendalikan pengeluaran

dana yang saya miliki.

SS S KK SJ

6 Saya akan merasa kekurangan sesuatu

apabila tidak membeli barang di

mall

atau di toko yang mahal/bergengsi.

SS S KK SJ

7 Apabila saya menyukai suatu barang

maka saya akan berpikir lagi apakah

saya mempunyai biaya yang cukup atau

tidak.

SS S KK SJ

8 Saya membeli barang yang saya

inginkan walaupun barang itu tidak

terlalu penting untuk saya gunakan.

SS S KK SJ

9 Saya akan membeli barang sesuai

kebutuhan.

SS S KK SJ

10 Saya tidak meminta orang lain untuk

memuji penampilan saya.

SS S KK SJ

11 Saya

akan

membeli sesuatu yang mahal

dan ber-

merk

agar kelihatan keren.

SS S KK SJ

12 Saya kecewa dengan barang yang telah

saya miliki.

SS S KK SJ

13 Ketika berbelanja saya hanya membeli

barang sesuai dengan kebutuhan.

SS S KK SJ

14 Saya merasa senang membeli sesuatu di

sebuah toko meskipun bukan di

mall

atau di toko yang mahal.

SS S KK SJ

15 Saya cukup berpenampilan sederhana

dan tidak perlu memakai sesuatu yang

mahal dan ber-

merk

.

SS S KK SJ

16 Saya akan merasa minder dan iri apabila

teman-teman mempunyai sesuatu yang

tidak saya miliki.

SS S KK SJ

(63)

dalam berbelanja.

18 Saya membeli barang lebih dari yang

saya butuhkan.

SS S KK SJ

19 Saya tidak tergoda untuk membeli

sesuatu yang menarik perhatian saya

SS S KK SJ

20 Saya tidak cemburu apabila

teman-teman mempunyai sesuatu yang tidak

saya miliki.

SS S KK SJ

21 Saya merasa terburu-buru dalam

membeli sesuatu dan tidak

merencanakannya terlebih dahulu.

SS S KK SJ

22 Saya akan membeli barang yang akan

saya pakai saja.

SS S KK SJ

23 Saya tidak khawatir jika barang yang

ingin saya beli tidak ada.

SS S KK SJ

24 Saya memamerkan barang yang saya

punya kepada orang lain.

SS S KK SJ

25 Saya kesal apabila teman saya tidak

memuji penampilan saya.

SS S KK SJ

26 Apabila saya menyukai suatu barang

maka barang tersebut harus beli dan

tidak peduli harga barang tersebut.

SS S KK SJ

27 Saya merencanakan terlebih dahulu

sebelum berbelanja.

SS S KK SJ

28

Saya tidak bisa mengendalikan

pengeluaran dana yang saya miliki

ketika berbelanja.

SS S KK SJ

29 Saya merasa puas dengan barang yang

telah saya miliki.

SS S KK SJ

30 Saya

merasa

cemas ketika barang yang

akan saya beli tidak ada.

SS S KK SJ

31 Saya senang dengan barang yang saya

punya sekarang.

SS S KK SJ

32 Saya menahan diri untuk membeli

barang yang sangat mearik.

SS S KK SJ

33 Saya cukup bangga dengan apa yang

saya punya dan tidak merasa tersaingi

oleh teman-teman saya.

SS S KK SJ

34 Saya

membelanjakan uang saya untuk

membeli barang-barang yang sedang

trend tanpa memperhitungkan

manfaatnya buat saya.

(64)

LAMPIRAN 2

(65)

VAR00027 1.81 .741 47

VAR00001 55.02 188.673 .695 .928

VAR00002 54.79 186.258 .736 .928

VAR00003 55.21 194.475 .490 .931

VAR00004 55.26 188.803 .678 .928

VAR00005 55.43 192.424 .605 .929

VAR00006 55.40 198.942 .380 .932

VAR00007 54.91 191.558 .556 .930

VAR00008 55.40 197.463 .394 .932

VAR00009 55.21 194.475 .490 .931

VAR00010 55.30 190.909 .598 .929

VAR00011 54.91 189.949 .648 .929

VAR00012 55.09 197.167 .332 .933

VAR00013 55.28 195.944 .492 .931

VAR00014 55.26 188.803 .678 .928

VAR00015 55.04 187.868 .660 .929

VAR00016 55.04 188.346 .724 .928

VAR00017 54.64 197.149 .426 .931

VAR00018 54.81 196.245 .274 .934

VAR00019 54.91 189.949 .648 .929

VAR00020 54.91 195.427 .419 .932

VAR00021 55.00 186.913 .645 .929

VAR00022 55.49 198.125 .401 .932

VAR00023 55.62 199.589 .353 .932

VAR00024 55.02 191.152 .605 .929

VAR00025 55.19 195.767 .433 .931

VAR00026 54.96 194.563 .457 .931

VAR00027 55.15 195.521 .456 .931

VAR00028 55.04 188.346 .724 .928

VAR00029 55.30 198.953 .344 .932

VAR00030 55.13 193.505 .540 .930

(66)
(67)
(68)

Figur

Tabel 1 Kisi-kisi Skala Tingkat Kecenderungan Perilaku
Tabel 1 Kisi kisi Skala Tingkat Kecenderungan Perilaku . View in document p.14
Tabel 1
Tabel 1 . View in document p.41
Tabel 2 Kisi-kisi Skala Tingkat Kecemderngan Perilaku Konsumtif Setelah Uji Coba
Tabel 2 Kisi kisi Skala Tingkat Kecemderngan Perilaku Konsumtif Setelah Uji Coba . View in document p.43
Reliability StatisticsTabel 3
Reliability StatisticsTabel 3 . View in document p.44
Tabel 4
Tabel 4 . View in document p.47
Tabel 5 Persentase Perilaku Konsumtif Mahasiswa Prodi BK angkatan 2011
Tabel 5 Persentase Perilaku Konsumtif Mahasiswa Prodi BK angkatan 2011 . View in document p.48

Referensi

Memperbarui...