Biodegradasi Limbah Domestik Dengan Menggunakan Inokulum Alami Dari Tangki Septik

Teks penuh

(1)

Biodegradasi Limbah Domestik Dengan Menggunakan Inokulum Alami Dari Tangki Septik

Prawita Herdin Doraja*, Maya Shovitri1, Nengah Dwianita Kuswytasari1

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Gedung H Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111, Indonesia Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi mikroorganisme dari tangki septik dalam proses biodegradasi bahan organik pada limbah domestik dengan jumlah dan massa inkubasi yang berbeda serta pengaruh inkubasi gelap dan terang. Penelitian ini menggunakan sistem pengolahan limbah bioreaktor secara tertutup dan hasil proses biodegradasi dapat diketahui dari nilai parameter secara kimia dan fisika. Nilai parameter kimia meliputi Derajat Keasaman (pH), Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD). Sedangkan nilai parameter fisika meliputi Total Suspended Solid (TSS) dan Total Dissolved Solid (TDS). Kesimpulan dari penelitian ini adalah jumlah mikroorganisme yang mampu mendegradasi limbah organik secara optimal adalah pada rasio inokulum : limbah domestik = 1:4 (v/v) dalam kondisi terang dengan adanya penurunan nilai BOD5

sebesar 1381,67 mg/lt dan nilai TSS sebesar 20006,67 mg/lt dalam 5 hari massa inkubasi. Kata Kunci : Biodegradasi, Limbah organik, Mikroorganisme

Abstract

This study aims to determine the potential of microorganisms from septic tanks in the process of biodegradation of organic matter in the amount of domestic waste and incubation of different masses and to determine the effect of light and dark incubation. This study uses a bioreactor wastewater treatment system is closed and the process of biodegradation can be determined from the chemical and physical parameters. Chemical parameter values include the degree of acidity (pH), Biochemical Oxygen Demand (BOD) and Chemical Oxygen Demand (COD). While the value of physical parameters including Total Suspended Solid (TSS) and Total Dissolved Solid (TDS). The conclusion of this study is the number of microorganisms capable of degrading organic waste is the optimal ratio of inoculum: domestic waste = 1:4 (v/v) in light of the conditions with a decrease in BOD5 values of

1381,67 mg/lt and TSS values of 20006,67 mg/lt on day 5 of incubation mass. Key words : Biodegradation, Organic waste, Microorganisms

*Coresponding Author Phone: 085648461133

1Alamat Sekarang : Jurusan Biologi FMIPA ITS

1. Pendahuluan

Limbah merupakan buangan atau sesuatu yang tidak terpakai, dapat berbentuk cair, gas dan padat (Putra, 2011). Limbah domestik adalah air buangan yang berasal dari limbah rumah tangga, seperti air bekas cucian, dapur, kamar mandi, dan toilet (Sa’adah, 2009). Berdasarkan tingkat kepadatan dan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia, limbah domestik dapat menjadi ancaman yang cukup serius terhadap pencemaran lingkungan perairan bila tidak segera diuraikan (Supradata,

2005). Kebanyakan masyarakat membuang langsung limbah domestik dan kotoran/tinja secara sengaja ke sungai atau selokan air (Said, 1999). Limbah cair domestik mengandung 99,9% air dan 0,1% zat padat. Zat padat terdiri dari 85% protein; 25% karbohidrat; 10% lemak dan sisanya zat anorganik terutama butiran pasir, garam-garam dan logam (Sugiharto, 1987).

Sebenarnya lingkungan itu sendiri memiliki kemampuan untuk mendegradasi senyawa-senyawa pencemar yang masuk ke

(2)

dalamnya melalui proses biologis dan kimiawi. Namun, sering kali beban pencemaran di lingkungan lebih besar dibandingkan dengan kecepatan proses degradasi zat pencemar tersebut secara alami. Akibatnya, zat pencemar akan terakumulasi sehingga dibutuhkan campur tangan manusia dengan teknologi yang ada untuk mengatasi pencemaran tersebut (Nugroho, 2006). Biodegradasi didefinisikan sebagai suatu proses oksidasi senyawa organik dan anorganik oleh mikroorganisme, baik di tanah, perairan, atau pada pengolahan air limbah (Dwipayana, 2011). Biodegradasi merupakan salah satu pengolahan limbah secara biologi yang sering dipilih karena efektif untuk pengolahan limbah organik terlarut dan membutuhkan biaya yang sedikit. Namun keberhasilan pengolahan limbah secara biologi sangat tergantung pada aktivitas dan kemampuan mikroorganisme pendegradasi bahan organik dalam limbah (Syamsudin, 2006). Prinsip pengolahan limbah secara biologi adalah pemanfaatan aktivitas mikroorganisme seperti bakteri, fungi, dan protozoa. Mikroorganisme tersebut merombak limbah organik menjadi senyawa organik sederhana dan mengkonversikannya menjadi gas karbondioksida (CO2), air (H2O) dan

energi untuk pertumbuhan dan reproduksinya (Departemen Perindustrian, 2007).

Sistem tangki septik merupakan proses perombakan limbah cair yang berlangsung dalam kondisi anaerobik (Departemen Perindustrian, 2007). Menurut Firdus (2010), tangki septik adalah tempat penampungan limbah kotoran manusia (tinja). Walaupun sebagai produk akhir dari proses metabolisme tubuh, tinja manusia masih mengandung sisa nutrisi organik seperti protein, karbohidrat dan lemak. Di dalam tangki septik, bahan organik tersebut akan didegradasi oleh mikroorganisme pengurai menjadi gas dan bahan organik sederhana lainnya. Sedangkan sisa bahan yang tidak dapat diuraikan akan mengendap menjadi lumpur (sludge).

Parameter kimia untuk mengukur tingkat biodegradasi limbah organik adalah dengan mengukur nilai Chemical Oxygen Demand (COD), nilai Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan pH limbah. Apabila kandungan bahan organik dalam limbah tinggi, maka semakin banyak pula oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk mendegradasi bahan organik tersebut, sehingga nilai BOD dan COD limbah juga akan tinggi. Sebaliknya

jika nilai BOD dan COD rendah, maka dapat diinterpresentasikan bahwa bahan organik yang ada dalam limbah tersebut rendah.

Parameter fisika untuk mengetahui kandungan bahan organik dan inorganik dari limbah cair adalah dengan mengukur nilai kandungan Total Suspended Solid (TSS) dan Total Dissolved Solid (TDS). Zat padat tersuspensi atau TSS adalah semua zat padat atau partikel yang tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi, ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikel-partikel anorganik (pasir, lumpur, dan tanah liat). Zat padat tersuspensi merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang heterogen dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan dapat menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan (Tarigan, 2003). Sedangkan Total Dissolved Solid atau padatan terlarut adalah padatan-padatan yang mempunyai ukuran lebih kecil dari padatan tersuspensi. Jumlah TDS biasanya terdiri atas zat organik, garam organik dan gas terlarut (Togatorop, 2009).

2. Metodologi

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Agustus-Oktober 2011 d i Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi dan Laboratorium Botani Jurusan Biologi FMIPA ITS.

Bioreaktor

Bioreaktor yang digunakan berupa toples yang terbuat dari plastik berbentuk tabung dengan tinggi ± 20 cm (Gambar 1).

Gambar 1. Replika bioreaktor anaerob Perlakuan

Limbah diletakkan dalam bioreaktor. Menurut Suyasa (2007), limbah ditambahkan NPK 0,5 gram (0,1%) dan Urea 10% (V/V) per 500 ml limbah. Lalu diaduk hingga homogen. Kemudian limbah domestik siap Penutup bioreaktor kran/pipa Campuran antara limbah domestik dengan inokulum

(3)

diinokulasi dengan inokulum alami tangki septik (Tabel 1).

Tabel 1. Kode bioreaktor tiap perlakuan.

Bioreaktor Macam Perlakuan Ulangan Keterangan A 1:2 A1 A2 A3 Limbah cair inokulum alami tangki septik sebanyak 500 ml dan limbah cair domestik sebanyak 1000 ml B 1:4 B1 B2 B3 Limbah cair inokulum alami tangki septik sebanyak 300 ml dan limbah cair domestik sebanyak 1200 ml C 1:8 C1 C2 C3 Limbah cair inokulum alami tangki septik sebanyak 167 ml dan limbah cair domestik sebanyak 1333 ml D kontrol + D1 D2 D3 Limbah cair domestik dan mikroorganisme dari DEGRA SIMBA E kontrol - E1 E2 E3 Limbah cair domestik saja sebanyak 1500 ml (tanpa inokulum apapun) Pengukuran Parameter Limbah

Pengukuran parameter pH, BOD, COD, TSS, dan TDS dilakukan selama massa inkubasi 5 hari yang mengikuti protokol baku masing-masing metode.

3. Hasil dan Pembahasan Kondisi Awal Limbah Organik

Limbah organik yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah cair yang berasal dari rumah tangga (domestik) jenis grey water. Limbah domestik grey water berasal dari kegiatan mencuci dan memasak yang umumnya langsung dibuang ke saluran penampung maupun perairan umum (Supradata, 2005). Limbah domestik yang digunakan diduga mengandung protein, karbohidrat, dan lemak tinggi karena berasal dari campuran sisa daging, susu, minyak dan nasi. Protein merupakan penyebab utama terjadinya bau akibat proses penguraian. Minyak berwarna kuning berada pada permukaan limbah (Sugiharto, 1987).

Walaupun kandungan organik dalam limbah domestik ini tidak dianalisa, namun merujuk pada baku mutu limbah cair domestik, limbah yang mengandung bahan organik tinggi akan mempunyai nilai BOD dan COD yang tinggi. Limbah domestik yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai parameter awal seperti yang disebutkan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Karakter limbah domestik yang digunakan pada penelitian.

Parameter Limbah Domestik

pH 5

BOD 1770 mg/lt

COD 200 mg/lt

TSS 20200 mg/lt

TDS 356 /lt

Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa limbah domestik yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai nilai lebih tinggi daripada yang telah disebutkan oleh Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik, yaitu pH sebesar 6-9; BOD sebesar 100 mg/lt; dan TSS sebesar 100 mg/lt. Tingginya nilai BOD dan COD pada limbah domestik tersebut menunjukkan tingkat pencemaran yang kuat dan mempunyai jumlah oksigen yang rendah, yaitu 2-3 mg. Oksigen dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam proses biodegradasi, sehingga diperlukan pengenceran sebelum limbah organik dilakukan uji BOD (Jenie & Rahayu, 1993). Pengukuran tingkat biodegradasi limbah domestik dalam penelitian ini menggunakan dua parameter, yaitu parameter kimia dan fisika. Parameter kimia antara lain derajat keasaman (pH), Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD). Sedangkan parameter fisika yaitu Total Suspended Solid (TSS) dan Total Dissolved Solid (TDS).

(4)

Gambar 2. Perubahan pH selama 20 hari massa inkubasi. Gambar 3. Perubahan nilai BOD selama 5 hari massa Gambar 4. Nilai minus menunjukkan bahwa nilai

inkubasi. COD mengalami kenaikan dari nilai COD awal

selama 20 hari massa inkubasi.

Gambar 5. Perubahan nilai TSS selama 20 hari massa inkubasi. Gambar 6. Nilai minus menunjukkan bahwa nilai TDS mengalami kenaikan dari

nilai TDS awal selama 20 hari massa inkubasi.

0 2 4 6 8 10 12

Hari ke-0 Hari ke-5 Hari ke-10Hari ke-15Hari ke-20

pH Terang 1:2 Gelap 1:2 Terang 1:4 Gelap 1:4 Terang 1:8 Gelap 1:8 Terang k+ Gelap k+ Terang Gelap

(5)

k-Pengaruh Perlakuan Terhadap Kondisi Awal Limbah Organik

Derajat keasaman (pH) merupakan nilai yang menunjukkan aktivitas ion hidrogen dalam air. Nilai pH dalam limbah dapat mencerminkan keseimbangan antar asam dan basa dalam limbah tersebut. Limbah domestik biasanya mempunyai pH mendekati netral (Jenie & Rahayu, 1993). Akan tetapi, limbah domestik yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan pH 5 (Tabel 2) yang berarti limbah tersebut bersifat asam. Hal ini menunjukkan bahwa limbah domestik tersebut mengandung konsentrasi asam organik yang cukup banyak (Jenie & Rahayu, 1993). Air limbah dengan konsentrasi pH yang tidak netral akan menyulitkan proses biologi, sehingga mengganggu proses penjernihannya (Sugiharto, 1987). Kebanyakan kapang tumbuh baik pada pH 4-5 (Jenie & Rahayu, 1993), sedangkan khamir pada pH antara 4-4,5 dan tidak dapat tumbuh dengan baik pada keadaan alkali. Bakteri membutuhkan pH optimum antara 6,5 dan 7,5 (Rachmawan, 2001).

Gambar 2 menunjukkan perubahan pH menjadi basa pada semua perlakuan (pH ± 9-10) dari hari ke-5 sampai hari ke-20. T idak ada perbedaan antara perlakuan dan kontrol. Perubahan pH pada air limbah menunjukkan bahwa telah terjadi aktifitas mikroorganisme yang mendegradasi bahan organik. Polprasert (1989) menyebutkan bahwa degradasi protein dan nitrogen organik yang menjadi ammonium (NH4) dapat menaikkan pH menjadi basa.

Bioreaktor yang digunakan adalah tertutup sehingga ada penurunan kadar oksigen (O2),

maka diduga terjadi proses denitrifikasi, dimana nitrogen nitrat dan nitrit direduksi menjadi gas nitrogen dibawah kondisi anaerobik (Jenie & Rahayu, 1993). Kondisi pH yang relatif tinggi akan melarutkan nitrogen dan selanjutnya akan diemisikan sebagai ammoniak (NH3) (Rizaldi, 2008).

Uji BOD merupakan metode analisis yang umum digunakan untuk mengetahui jumlah bahan organik yang dapat diuraikan secara biologis. Nilai BOD menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk memecahkan atau mengoksidasi bahan-bahan organik menjadi karbondioksida (CO2) dan air (H2O) (Jenie &

Rahayu, 1993). Uji BOD ini dilakukan selama 5 hari. Hal ini disebabkan karena bakteri nitrifikasi dapat tumbuh jika terlalu lama massa inkubasi. Bakteri nitrifikasi tumbuh

lambat dan nitrifikasi umumnya tidak berlangsung dalam botol BOD pada waktu inkubasi kurang dari 9 a tau 10 hari (Jenie & Rahayu, 1993).

Untuk mencapai penanganan limbah secara biologi yang optimal, limbah harus mengandung karbon, nitrogen, dan fosfor untuk mempertahankan laju sintesis mikroorganisme. Jumlah nutrient yang kurang akan menurunkan laju pertumbuhan mikroorganisme dan menurunkan laju reduksi BOD (Jenie & Rahayu, 1993). Milasari & Ariyani (2010) mengatakan bahwa mikroorganisme akan menggunakan bahan organik yang terkandung dalam limbah, tetapi ada beberapa unsur kimia penting yang digunakan sebagai nutrisi untuk pertumbuhan mikroorganisme secara optimal, yaitu pertambahan mikro dan makro nutrient seperti NPK dan urea yang dilakukan pada penelitian ini.

Setelah diinkubasi selama 5 hari, terjadi penurunan nilai BOD5 pada semua perlakuan

limbah dalam kondisi terang. Penurunan nilai BOD terbesar terjadi pada perlakuan limbah 1:4 kondisi terang (Gambar 3). Hal ini membuktikan bahwa penambahan inokulum alami dari tangki septik mampu menurunkan nilai BOD limbah lebih cepat dibandingkan kontrol. Nilai BOD awal sebesar 1770 m g/lt (Tabel 2). Pada kondisi terang, perlakuan limbah penambahan inokulum alami tangki septik 1:4 dalam rentang waktu 5 hari mampu menurunkan nilai BOD sebesar 1381,67 mg/lt. Sedangkan kontrol (+) dan kontrol (-) hanya mampu menurunkan nilai BOD masing-masing sebesar 1196,67 mg/lt dan 1199,33 mg/lt (Gambar 3). Menurunnya nilai BOD5

disebabkan karena terdegradasinya sebagian bahan organik yang sebelumnya tidak terurai pada proses anaerob menjadi sel-sel baru yang tersuspensi dan dipisahkan dengan cara pengendapan (Sofyan, 2011).

Sebaliknya pada bioreaktor kondisi gelap, kontrol (+) dan kontrol (-) mempunyai nilai BOD yang lebih kecil daripada perlakuan limbah 1:4. Hal ini menunjukkan bahwa mikroorganisme inokulum alami dari tangki septik mendegradasi limbah organik secara optimal dalam kondisi terang dan mikroorganisme dalam kontrol positif dan kontrol negatif lebih optimal mendegradasi limbah organik dalam kondisi gelap. Terjadinya penurunan nilai BOD pada kontrol negatif menunjukkan bahwa mikroorganisme

(6)

yang terdapat dalam limbah domestik juga melakukan degradasi bahan organik. Kebanyakan mikroorganisme yang terdapat dalam limbah organik adalah bakteri kemoheterotrof yang menggunakan bahan organik sebagai sumber energi dan karbon. Bakteri ini berperan penting dalam penanganan limbah cair karena dapat mendegradasi bahan organik (Jenie & Rahayu, 1993).

Nilai COD awal limbah domestik adalah sebesar 200 mg/lt (Tabel 2). Perubahan nilai COD selama massa inkubasi dalam penelitian ini terjadi secara fluktuatif sampai dengan hari ke-20 (Gambar 4). Tidak adanya penurunan nilai COD pada perlakuan diduga karena terjadi peningkatan biomassa mikroorganisme. Menurut Jenie & Rahayu (1993), meningkatnya biomassa mikroorganisme akan menyebabkan turunnya konsentrasi bahan organik pada limbah. Peningkatan biomassa disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme dalam limbah tersebut. Kenaikan nilai COD disebabkan oleh semakin banyaknya biomassa yang terbentuk akibat pertambahan sel, sehingga bahan organik yang harus didegradasi pun akan bertambah dengan sendirinya. Pada dasarnya fluktuasi nilai COD berbanding lurus dengan pertambahan sel. Nilai COD naik pada saat jumlah sel cenderung naik (Carolina, 2012). Pertumbuhan populasi mikroorganisme berpengaruh penting terhadap efisiensi proses penyisihan nilai COD (Sutapa, 1999). Makin lama waktu tinggal mikroorganisme akan memberikan waktu kontak antara bahan organik yang terdapat dalam limbah cair dengan mikroorganisme juga semakin lama, sehingga degradasi senyawa organik (penurunan COD) menjadi besar (Achmad, 2011).

Pada Gambar 4 terlihat jika tidak terjadi penurunan pada nilai COD, tetapi ada tendensi bahwa nilai COD kontrol (+) dan kontrol (-) lebih tinggi dibandingkan dengan penambahan inokulum dari tangki septik. Hal ini dapat menjadi suatu indikator bahwa pertumbuhan mikroorganisme inokulum alami pada tangki septik lebih rendah daripada pertumbuhan mikroorganisme pada kontrol positif dan kontrol negatif.

Total Suspended Solid (TSS) terdiri dari zat padat terapung dan zat padat terendap. Zat padat terapung pada umumnya bersifat organik, sedangkan zat padat terendap bersifat organik dan anorganik (Suhardjo, 2008). Menurut Tamod (2004) zat padat tersebut

mengandung bahan-bahan yang bersifat koloidal misalnya protein yang mengandung berbagai senyawa organik dan ini dapat mengurangi penetrasi sinar ke dalam limbah serta mengakibatkan kekeruhan. Total Dissolved Solid atau padatan terlarut adalah padatan yang mempunyai ukuran lebih kecil dari padatan tersuspensi (Togatorop, 2009). Didalamnya terdapat mineral dan garam-garam seperti protein, lemak, dan karbohidrat (Tamod, 2004).

Nilai TSS awal limbah domestik adalah sebesar 20200 mg/lt (Tabel 2). Pada hari ke-5 sampai hari ke-20 terjadi penurunan nilai TSS pada semua perlakuan jika dibandingkan dengan TSS awal (Gambar 5). Penurunan terbesar terjadi pada perlakuan limbah 1:4 dalam kondisi terang, yaitu sebesar 20006,67 mg/lt. Pada hari ke-15 dan hari ke-20, penurunan nilai TSS menjadi berkurang masing-masing sebesar 19752 m g/lt dan 19613,33 mg/lt (Gambar 5). Tetapi selanjutnya jika dibandingkan dengan limbah kontrol (+) dan kontrol (-), perlakuan limbah yang diberi inokulum alami dari tangki septik lebih dapat mendegradasi bahan organik karena nilai TSS lebih rendah dibandingkan dengan kontrol (+) dan kontrol (-).

Berkurangnya penurunan nilai TSS selama massa inkubasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adalah pengambilan cairan limbah secara terus-menerus tanpa diikuti penggantian cairan netral dalam bioreaktor, sehingga menyebabkan nilai TSS semakin hari semakin bertambah akibat adanya pengadukan dari endapan dalam bioreaktor. Faktor lain adalah adanya peningkatan biomassa mikroorganisme sehingga bahan organik bertambah dan tersuspensi dalam kertas saring ukuran 1 μm yang akan mengakibatkan kenaikan nilai TSS (Carolina, 2012). Berdasarkan Rachmawan (2001), ukuran fungi berkisar 1 sampai 5 μm yang diduga terdapat dalam suspensi tersebut.

Nilai TDS berpengaruh terhadap proses pengolahan secara anaerob. Pada proses pengolahan limbah secara anaerob, bahan organik komplek dihidrolisis menjadi organik sederhana (asam organik) (Seabloom, 2004). Pada fase non-methanogenic ini nilai TDS akan naik karena bahan organik diubah menjadi ukuran yang lebih kecil (proses degradasi). Pada fase Methanogenic, asam organik diubah menjadi karbondioksida (CO2)

(7)

yang menyebabkan nilai TDS turun karena bahan organik telah terdegradasi secara sempurna menjadi gas, sehingga penurunan nilai TSS seharusnya diikuti pula dengan turunnya nilai TDS. Akan tetapi pada penelitian ini nilai TDS mengalami kenaikan hingga mencapai lebih dari 3000 m g/lt, baik pada kondisi terang maupun gelap. Nilai TDS awal adalah sebesar 356 mg/lt (Tabel 2).

Kenaikan nilai TDS ini menunjukkan bahwa bahan organik yang berukuran kecil ≤ 1 μm belum terdegradasi secara sempurna menjadi gas dan adanya peningkatan biomassa mikroorganisme yang berukuran lebih kecil dari kertas saring ukuran 1 μm (Carolina, 2012). Menurut Rachmawan (2001) ukuran bakteri paling kecil sekitar 0,15 –0,3 mikron yang diduga terdapat dalam filtrat tersebut. Dari Gambar 5 dan Gambar 6 terlihat bahwa nilai TDS lebih besar daripada nilai TSS untuk semua perlakuan. Hal ini menggambarkan bahwa padatan yang terkandung dalam limbah domestik lebih banyak yang berukuran kecil ≤ 1 μm. Hal ini mungkin dikarenakan limbah domestik mengandung sabun dan detergen yang merupakan bahan organik berbahan dasar asam lemak (Warlina, 2004).

4. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Jumlah mikroorganisme tangki septik yang paling potensial dalam mendegradasi bahan organik pada limbah domestik adalah rasio 1:4 (v/v).

b. Massa inkubasi 5 hari dapat menurunkan nilai BOD sebesar 1381,67 mg/lt dan nilai TSS sebesar 20006,67 mg/lt. Kondisi inkubasi terang menurunkan nilai lebih tinggi (BOD = 1381,67 mg/lt) daripada kondisi gelap (BOD = 1171,33 mg/lt). 5. Daftar Pustaka

Achmad, A., Syarfi, dan M. Atikalidia. 2011. Penyisihan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Produksi Biogas Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Dengan Bioreaktor Hibrid Anaerob Bermedia Cangkang Sawit. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan” ISSN 1693 – 4393. Laboratorium Rekayasa Bioproses Jurusan Teknik Kimia Universitas Riau: 5-6. Carolina, Sriharti, dan Neni. 2012. Netralisasi

Limbah karet Oleh Beberapa Jenis Mikroalga. Prosiding Seminar

Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Fisika Terapan LIPI Subang: 433-439.

Departemen Perindustrian. 2007. Cleaner Production: Pengelolaan Limbah Industri Pangan. Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah Departemen Perindustrian:

Jakarta. Diakses dari

http://www.kemenperin.go.id/asp/pelatihan _ikm/cleanerprod/cleaner-production.pdf Pada tanggal 23 Januari 2011 Pukul 20.15 WIB.

Dwipayana dan H. D. Ariesyady. 2011. Identifikasi Keberagaman Bakteri Pada Lumpur Hasil Pengolahan Limbah Cat Dengan Teknik Konvensional. Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Firdus dan Muchlisin ZA. 2010. Degradation Rate Of Sludge and Water Quality of Tangki septik (Water Closed) by Using Starbio and Freshwater Catfish as Biodegradator. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh, Aceh. Jurnal Natural Vol.10 No. 1.

Jenie, B.S. L dan W.P. Rahayu. 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan. Penerbit Kanisius Anggota IKAPI, Yogyakarta.

Milasari, N. I dan S. B. Ariyani. 2010. Pengolahan Limbah Cair Kadar COD Dan Fenol Tinggi Dengan Proses Anaerob Dan Pengaruh Mikronutrient Cu: Kasus Limbah Industri Jamu Tradisional. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Diakses dari http://eprints.undip.ac.id/11892/1/Bab_1-5_skripsi_nurita-sukma.pdf Pada tanggal 23 Januari 2011 Pukul 20.30 WIB.

Nugroho, A. 2006. Biodegradasi Sludge Minyak Bumi Dalam Skala Mikrokosmos: Simulasi Sederhana Sebagai Kajian Awal Bioremediasi Land Treatment. Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Arsitektur Lansekap Dan Teknologi Lingkungan. Universitas Trisakti: Jakarta. Makara, Teknologi, Vol. 10, No. 2: 82-89.

Polprasert. C, 1989. Organik Waste Recycling. Inc, Indonesia.

Putra, Y. 2011. Pengelolaan Limbah Rumah Tangga (Upaya Pendekatan Dalam

(8)

Arsitektur). Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatra Utara, Sumatera Utara.

Rachmawan, O. 2001. Ruang Lingkup Mikroorganisme. Departemen Pendidikan Nasional Proyek Pengembangan Sistem dan Standar Pengelolaan SMK Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Jakarta, Jakarta.

Rizaldi, R. 2008. Pengelolaan Sampah Secara Terpadu Di Perumahan Dayu Permai Yogyakarta. Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Sa’adah, N. R dan P. Winarti. 2009.

Pengolahan Limbah Cair Domestik Menggunakan Lumpur Aktif Proses Anaerob. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang.

Diakses dari

http://eprints.undip.ac.id/11591/2/laporan_ penlit_Puji_Rahmi.pdf Pada tanggal 20 Maret 2011 Pukul 19.40 WIB.

Said N. I. dan H.D.Wahjono. 1999. Alat Pengolah Air Limbah Rumah Tangga Semi Komunal Kombinasi Biofilter Anaerob dan Aerob. Kelompok Teknologi Pengelolaan Air Bersih dan Limbah Cair Direktorat Teknologi Lingkungan, Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, Material dan Lingkungan. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta.

Seabloom, R. B. 2004. University Curriculum Development for Decentralized Wastewater Management : Septic Tanks. Emeritus Professor of Civil and Environmental Engineering Dept. of Civil and Environmental Engineering, University of Washington.

Sofyan, K. dan S. Sy. 2011. Pengaruh Waktu Tinggal dan Waktu Aerasi Terhadap Penurunan Bahan-bahan Pencemar Dalam Limbah Cair Industri Tapioka. Tapioka Disk 31 Vol. IV.

Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah. Penerbit Universitas Indonesia, UI Press, Jakarta: 8-12, 27-31.

Suhardjo, D. 2008. Penurunan COD, TSS, dan Total Fosfat Pada Tangki septik Limbah Mataram Citra Sembada Catering Dengan Menggunakan Wastewater Garden. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia. Jurnal Manusia Dan Lingkungan Vol. 15, No.2: 79-89.

Supradata. 2005. Pengolahan Limbah Domestik Menggunakan Tanaman Hias Cyperus Alternifolius, L. Dalam Sistem Lahan Basah Buatan Aliran Bawah Permukaan (Ssf-Wetlands). Diakses dari http://eprints.undip.ac.id/18696/1/Supradat a.pdf Pada Tanggal 18 Maret 2011 P ukul 20.30 WIB.

Sutapa I.DA. 1999. Lumpur Aktif: Alternatif Pengolah Limbah Cair. Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan dan Lingkungan Vol I No. 3: 25-38.

Suyasa, IWB dan W. Dwijani. 2007. Pengaruh Penambahan Urea, Kompos Cair, dan Campuran Kompos Dengan Gula Terhadap Kandungan BOD dan COD Pada Pengolahan Air Limbah Pencelupan. Laboratorium Kimia Lingkungan FMIPA Universitas Udayana: Bali. Ecotrophic 4 (1) : 62-65.

Syamsudin, S. Purwati, dan A. Taufick R. 2006. Efektivitas Aplikasi Enzim Dalam Sistem Lumpur Aktif Pada Pengolahan Air limbah Pulp Dan Kertas. Balai Besar Pulp dan Kertas: Bandung. Berita Selulosa Vol. 43 (2): 83-92.

Tamod, Z. E, J.Paruntu, J. Rombang, dan L.C. Mandey. 2004. Aplikasi Lumpur Dan Perilaku Pasir-Lempung Sebagai Instrumen Sanitasi Lingkungan Terhadap Limbah Cair Mie Instan Indofood. Eugenia 10 (1): 36-55.

Tarigan, M.S dan Edward. 2003. Kandungan Total Zat Padat Tersuspensi (Total Suspended Solid) Di Perairan Raha, Sulawesi Tenggara. Bidang Dinamika Laut, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta 14430, Indonesia. Makara Sains Vol. 7, No. 3.

Togatorop, R. 2009. Korelasi Antara Biological Oxygen Demand (BOD) Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Terhadap pH, Total Suspended Solid (TSS), Alkaliniti Dan Minyak/ Lemak. Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara: Medan.

Warlina, L. 2004. Pencemaran Air: Sumber, Dampak dan Penanggulangannya. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :