• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHASAN. Habitat Kukang Jawa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMBAHASAN. Habitat Kukang Jawa"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBAHASAN

Habitat Kukang Jawa

Spesifikasi Habitat Kukang Jawa 1. Jumlah jenis vegetasi

Rerata jumlah spesies vegetasi pohon di talun habitat kukang jawa adalah 30 spesies dengan rentang 21-45 spesies. Jumlah ini lebih tinggi daripada jumlah spesies pohon di talun Kecamatan Cisayong Tasikmalaya yakni 11 spesies dan Kecamatan Sadananya Ciamis yakni 28 spesies (Ginoga 2004). Jumlah spesies vegetasi pohon di enam transek lebih rendah daripada jumlah spesies pohon di talun habitat kukang jawa di Desa Marga Mekar Sumedang Selatan (32 spesies) (Winarti 2003), kecuali transek LP, Cm, Ct, dan Al. Secara keseluruhan, jumlah spesies vegetasi pohon pada penelitian ini lebih mirip dengan talun di Sumedang Selatan daripada talun di kabupaten yang sama (Winarti 2003; Ginoga 2004). Kemungkinan hal ini disebabkan oleh fokus penelitian terhadap talun yang menjadi habitat kukang jawa, sedangkan penelitian Ginoga (2004) dilakukan dengan pemilihan contoh talun secara acak.

Jumlah spesies vegetasi pohon dan komposisi spesies pada tiap tingkat tumbuhnya menunjukkan bahwa talun yang menjadi habitat merupakan suatu area komunitas tegakan pohon. Tujuh spesies pohon yang selalu terdapat di setiap transek merupakan spesies yang dimanfaatkan kukang, yaitu sebagai vegetasi untuk tidur (a), vegetasi pakan (b), dan vegetasi untuk istirahat dan bridging atau persinggahan untuk berpindah tempat (c). Vegetasi untuk tidur yang secara umum ada di setiap transek adalah aren Arenga pinnata Merr. dan bambu tali

Gigantochloa apus Kurz. Vegetasi pakan yang secara umum ada di setiap transek adalah sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen, aren Arenga pinnata

Merr., mahoni Swietenia mahagonii Jacq., pisang Musa paradisiaca L., dan nangka Artocarpus heterophyllus Lmk.

Vegetasi yang ditanam ataupun dibiarkan tumbuh di talun merupakan keputusan pemilik talun. Tujuh spesies pohon yang secara umum selalu ada di transek juga memiliki manfaat ekonomi bagi pemilik talun. Hal ini menunjukkan

(2)

adanya persamaan kebutuhan terhadap keberadaan spesies pohon tersebut bagi kukang jawa dan manusia. Persamaan kebutuhan terhadap tujuh spesies tersebut menjadi indikasi ketersediaan di masa datang. Keanekaragaman spesies vegetasi diharapkan dapat berpengaruh baik terhadap fungsi talun sebagai habitat, terutama dalam menyediakan vegetasi pakan dan vegetasi untuk tidur.

2. Struktur vegetasi pohon (DBH >10 cm)

Talun habitat kukang jawa di seluruh lokasi memiliki kerapatan pohon dengan rentang 0,24-0,54 individu/ha, rerata tinggi 8,02-17,29 m, rerata DBH 21-72 cm, rentang basal area 2,95-1364 m2, dan rentang kanopi 26,72-79,87%. Kerapatan pohon di talun habitat kukang jawa tergolong rendah karena kurang dari satu individu/ha. Meskipun demikian, penggunaan talun sebagai habitat oleh kukang jawa menunjukan bahwa kerapatan vegetasi di talun tersebut dapat atau masih dapat mendukung kehidupan kukang jawa.

Kanopi pohon di seluruh lokasi cenderung mendominasi, kecuali di transek PP, PR, dan PCu di Desa Kawungsari dan transek P di Desa Sarimanggu. Persentase kanopi vegetasi pohon di seluruh lokasi menunjukkan kemiripan dengan talun habitat kukang jawa di Sumedang Selatan (Winarti 2003), yaitu minimal 42,82%, kecuali di empat transek tersebut. Kerapatan individu/ha, rata-rata tinggi, dan kanopi pohon di suatu habitat berpengaruh bagi pergerakan kukang jawa karena sifat hidupnya yang arboreal. Kukang menyukai pohon yang memiliki DBH besar, tinggi, dan kanopi yang luas (Pliosungnoen et al. 2010). Tiga parameter tersebut dapat menjadi indikasi struktur vegetasi yang disukai kukang.

Perbandingan nilai lima parameter vegetasi yang diamati dalam penelitian ini dinyatakan dalam skor 1-10, semakin besar nilai maka semakin besar skor. Parameter tersebut yaitu kerapatan pohon/ha, rerata tinggi pohon, rerata DBH, basal area pohon, dan kanopi pohon Skor nilai vegetasi tersebut menghasilkan nilai total struktur vegetasi di tiap transek (Gambar 27). Nilai total struktur vegetasi terbesar terdapat di transek Ct yaitu 40, diikuti oleh PCi sebesar 37 serta Cm dan LP sebesar 36. Nilai total struktur vegetasi berturut-turut di transek B, Al, PR, PP dan PCu, serta P adalah 32, 20, 17, dan 14.

(3)

Gambar 28 Perbandingan nilai struktur vegetasi di tiap transek

Secara keseluruhan talun yang mendekati hutan ditunjukkan oleh nilai parameter struktur vegetasi yang lebih besar. Hal tersebut ditunjukkan oleh talun di Desa Raksajaya (Ct dan Cm), Sarimanggu (PCi), dan Sukakerta (Al). Struktur vegetasi sistem pertanian kebun-talun dipengaruhi oleh kepadatan penduduk desa sekitar, status sosial ekonomi, dan luas sawah (Christanty et al. 1986). Hal tersebut juga terlihat pada mayoritas mata pencaharian penduduk di lima desa lokasi yakni petani. Di Desa Sarimanggu terdapat pertambangan mangan (Mn) yang menjadi sumber mata pencaharian penduduk. Ini menjadi indikasi pertanian darat yang tidak memerlukan banyak pengelolaan. Nilai parameter struktur vegetasi talun Desa Sarimanggu lebih rendah dibanding talun desa lainnya.

Pengelolaan talun mempengaruhi keaneragaman spesies vegetasi di dalamnya (Soemarwoto et al. 1985; Suharjito 2002). Campur tangan pemilik terhadap pemilihan jenis pohon akan mempengaruhi struktur vegetasi talun antara lain terhadap kerapatan pohon perhektar, tinggi dan DBH pohon, basal area serta kanopi pohon. Namun struktur vegetasi talun dapat sewaktu-waktu berubah oleh penebangan atau pembukaan lahan. Apabila hal ini terjadi, maka kukang jawa akan berpindah lokasi ke lokasi talun di sekitarnya. Pada saat penelitian dilakukan penebangan pohon dan rumpun bambu terjadi di talun B, PR dan PCi. Kukang jawa di ketiga talun tersebut tidak dijumpai di lokasi yang sama setelah gangguan terhadap habitatnya.

(4)

3. KR, DR, FR, dan INP

Karakteristik habitat terlihat dari talun yang didominasi oleh vegetasi pohon. Banyaknya vegetasi pohon pada tingkat semai menunjukkan regenerasi tegakan pohon di talun. Secara keseluruhan tiga INP tertinggi di tiap transek dimiliki oleh vegetasi pohon yang mendukung kehidupan kukang jawa, yaitu vegetasi untuk tidur (a), vegetasi pakan (b), dan vegetasi untuk istirahat atau persinggahan untuk berpindah tempat (c). Tiga pohon ber-INP tinggi di tiap transek adalah bambu tali G. apus Kurz. (fungsi a dan c) , sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen (fungsi b dan c), dan aren Arenga pinnata Merr. (fungsi a, b, dan c). Bambu tali G. apus Kurz., dan aren Arenga pinnata Merr. biasanya tumbuh secara alami, adapun sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen dan mahoni Swietenia mahagonii Jacq. merupakan tanaman komoditas yang secara umum banyak ditanam oleh pemilik.

Bambu memiliki nilai penting dalam komunitas vegetasi talun. Tingginya nilai penting bambu disebabkan oleh sifatnya merumpun atau memiliki kerapatan relatif yang tinggi, frekuensi yang tinggi yakni selalu ditemukan di tiap petak dari masing-masing transek vegetasi, dan karena penutupan tajuknya yang mendominasi area talun. sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen, dan aren Arenga pinnata Merr. memiliki nilai penting tinggi karena jumlahnya banyak dan selalu ditemukan di setiap talun.

4. Indeks H’ dan D

Keanekaragaman atau indeks H’ vegetasi pohon di talun juga menjadi karakteristik spesifik habitat kukang jawa. Vegetasi pohon di talun habitat kukang jawa pada umumnya beranekaragam atau memiliki indeks H’ yang tinggi. Indeks H’ menunjukkan kekayaan spesies dan stabilitas kondisi vegetasi yang tumbuh di talun. Semakin tinggi nilai indeks H’ maka vegetasi talun makin stabil kondisi vegetasinya. Indeks H’ vegetasi di seluruh transek tergolong rendah karena kurang dari 2. Vegetasi talun yang ditanam di talun merupakan hasil keputusan pemilik (Soemarwoto et al. 1985; Parikesit 2001; Suharjito 2002). Pada awal penanaman maupun pada masa perawatan pemilik akan membiarkan atau memilih untuk menghilangkan vegetasi tertentu di lahan talunnya. Rendahnya indeks H’ talun

(5)

menjadi indikasi bahwa talun di seluruh lokasi masih dirawat oleh pemilik sehingga keanekaragamannya cenderung rendah.

Indeks H’ tertinggi ditunjukkan oleh vegetasi lantai dan vegetasi pohon kategori semai. Tingginya indeks H’ pada vegetasi lantai menunjukkan daerah bukaan dan atau adanya lahan garapan di talun. Talun di setiap lokasi masih memiliki daerah bukaan berupa lahan yang masih digarap ataupun bekas garapan (sudah ditinggalkan). Baik di dalam transek maupun di luar dalam lokasi talun yang sama, area garapan berupa kebun singkong Manihot utilisima Pohl. terdapat di semua lokasi talun. Dari seluruh lokasi, area kebun yang tidak digarap atau sudah ditinggalkan dalam waktu yang lama terdapat di talun Ct, PP, PCi, dan Al. Lahan yang sudah tidak digarap menjadi indikasi rendahnya kunjungan dan perawatan manusia di talun tersebut.

Tingginya indeks H’ semai di delapan lokasi menjadi indikasi regenerasi vegetasi talun di masa depan. Semai yang berhasil tumbuh menjadi pohon dewasa, sehingga diharapkan kondisi vegetasi talun di masa depan akan lebih stabil.

Secara keseluruhan, vegetasi pohon mendominasi talun. Hal ini menunjukkan bahwa talun yang menjadi habitat kukang jawa merupakan vegetasi yang diisi oleh tegakan pohon. Perkembangan talun pada fase akhir akan semakin mendekati struktur vegetasi hutan sekunder. Dominasi pohon di talun menjadi indikasi struktur vegetasi yang mendukung habitat kukang jawa.

5. Profil vegetasi

Profil vegetasi talun memiliki daerah bukaan atau gap horizontal dan kanopi yang tidak bersambungan atau gap vertikal. Secara umum di semua transek, gap

horizontal merupakan luasan yang ditumbuhi vegetasi pendek. Gap horizontal berupa area kosong (rumput atau jalan) yang luas hanya ada di transek LP dan Al. Vegetasi pendek tersebut merupakan spesies yang ditanam, seperti tanaman palawija, teh Thea cinensis, singkong Manihot utilisima Pohl. Vegetasi pendek yang tidak ditanam atau liar hanya terdapat di transek P yaitu ki rinyuh

Eupathorium odoratum L. Keberadaan vegetasi pendek dalam profil vegetasi habitat kukang jawa menjadi indikasi campur tangan manusia berupa lahan garapan.

(6)

Keberadaan gap horizontal di lokasi penelitian cenderung tidak mengganggu pergerakan kukang jawa karena kukang memiliki perilaku turun ke tanah untuk menyebarang gap. Indikasi hal ini ditunjukkan oleh perjumpaan kukang jawa yang turun ke tanah pada malam hari untuk menyeberangi gap, yaitu satu kali di Berecek Dusun Cicantel Desa Kawungsari, dan dua kali di Dusun Cidoyang Desa Sukakerta. Perilaku kukang turun ke tanah juga dilakukan jenis kukang lainnya. Streicher (2004) melaporkan bahwa N. pygmaeus turun ke tanah untuk melintas dengan cepat jika tidak ada cabang yang memungkinkan untuk dipanjat, dan hal ini dilakukan N. pygmaeus setelah memeriksa kondisi sekitarnya sebelum turun. N. pygmaeus juga dilaporkan turun ke tanah di area semak setinggi lebih kurang satu meter dan melakukan aktifitas yang berhubungan dengan perilaku mencari makan (feeding purpose) hingga 30 detik.

Laporan penduduk juga dapat menjadi informasi yang menunjukkan bahwa pada saat-saat tertentu, kukang turun ke tanah untuk melintasi gap atau untuk mendapatkan sumber pakan yang berada dekat dengan permukaan tanah. Penduduk Desa Sukamaju dan Sukakerta melaporkan sebanyak masing-masing satu dan dua kali perjumpaan kukang jawa yang melintasi jalan. Penduduk di sekitar habitat kukang jawa di Rangkasbitung Banten melaporkan perjumpaan kukang jawa turun ke tanah untuk memakan buah kasungka Gnetum cuspidatum

Bl. dan pucuk tepus Elaterio spermum tapos Bl. (Wirdateti et al. 2005). Penduduk sekitar habitat hutan Pasir Panjang di Kalimantan Tengah juga melaporkan bahwa

N. menagensis sering dijumpai turun ke tanah untuk memakan buah dan sari bunga topah Etlingera sp. (Wirdateti 2005).

Perilaku turun ke tanah pada kukang jawa di talun cenderung terlindungi karena gap horizontal merupakan area kebun. Pergerakan kukang jawa pada kanopi yang bersambungan didukung oleh profil vegetasi talun yang memiliki stratifikasi yang lengkap. Pembukaan lahan pada saat rotasi tanam cenderung tidak berpengaruh terhadap profil vegetasi suatu habitat, karena dilakukan pada luasan yang kecil saja (Soemarwoti 1984). Secara umum, profil vegetasi talun mendukung pergerakan dan aktifitas kukang jawa.

(7)

6. Fase talun

Talun yang mendekati struktur vegetasi hutan sekunder tergolong sebagai talun sempurna (fase III). Pemilihan talun sebagai lokasi transek telah mempertimbangkan keterwakilan fase talun II dan III serta luas talun di setiap desa, akan tetapi bila seluruh talun contoh dibandingkan antara desa satu dengan desa lainnya terdapat beberapa talun yang strukturnya mendekati sempurna atau sudah mirip dengan hutan sekunder. Talun tersebut antara lain LP (Desa Sukamaju), Ct (Desa Raksajaya), dan Al (Desa Sukakerta). Hal ini menjadi indikasi bahwa bahwa struktur vegetasi talun di ketiga desa tersebut cenderung lebih baik dan lebih potensial menjadi habitat kukang jawa. Tentu saja hal ini harus dipertimbangkan dengan faktor lain seperti perburuan dan sosial budaya masyarakat desa tersebut.

Preferensi Habitat Kukang Jawa

Berdasarkan pengamatan sepintas, talun yang menjadi habitat kukang jawa selalu memiliki bambu sebagai penyusun vegetasinya. Hal ini menunjukkan salah satu karakteristik preferensi habitat kukang jawa. Karakteristik habitat kukang jawa ditunjukkan dari keberadaan vegetasi yang mendukung kehidupan kukang jawa, yakni vegetasi untuk tidur dan vegetasi pakan

Vegetasi untuk tidur

Pada saat penelitian dilakukan, kukang jawa lebih sering menggunakan bambu sebagai vegetasi untuk tidur. Dari seluruh perjumpaan kukang jawa tidur, hanya satu perjumpaan kukang jawa tidur pada pohon dan liana; bungur

Lagerstroemia speciosa (L.) Pers. dan areuy kawao Milletia sericea (Vent.) W. et A. Penduduk menggunakan areuy kawao Milletia sericea (Vent.) W. et A. untuk tali dan penutup lodong (bahasa Sunda, artinya ruas bambu yang dipakai untuk menampung air nira).

Bambu memiliki kanopi yang rimbun sehingga keberadaan kukang jawa di dalam kanopinya tidak terlihat. Kukang jawa yang dijumpai tidur di vegetasi selain bambu berada pada tinggi posisi tidur lebih kurang 5 m dari permukaan tanah. Meskipun tidak serimbun kanopi bambu, tiga vegetasi untuk tidur selain

(8)

bambu terdapat di tengah-tengah rumpun bambu. Kukang jawa menggunakan ketiga vegetasi tersebut tetap terlindung dan tidak terlihat dari luar.

Kisaran tinggi posisi tidur kukang jawa di bambu berkisar antara 3-18 m. Kukang jawa cenderung lebih sering dijumpai tidur di rumpun bambu, terutama bambu tali G. apus Kurz. dan bambu surat G. pseudoarundinaceae (Steud.) Widjaja. Tinggi posisi tidur kukang jawa di bambu tali G. apus Kurz. sekurangnya 5 m di atas permukaan tanah, sedangkan di bambu surat G. pseudoarundinaceae (Steud.) Widjaja lebih tinggi atau sekurangnya 8 m di atas permukaan tanah. Kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh kerimbunan rumpun bambu G. pseudoarundinaceae (Steud.) Widjaja tidak serapat bambu tali G. apus

Kurz. (Widjaja 2001), sehingga kukang jawa bersembunyi di posisi yang lebih tinggi.

Secara keseluruhan tinggi posisi tidur kukang jawa tidak begitu berbeda dengan perjumpaan di Sumedang di dua spesies bambu tersebut yaitu pada ketinggian 10-15 m di atas permukaan tanah (Winarti 2003). Kisaran tinggi posisi tidur kukang jawa pada penelitian ini jauh berbeda dengan data hasil wawancara perjumpaan kukang jawa di Banten (Wirdateti et al. 2004) yaitu 12-30 m di atas permukaan tanah. Hal ini dimungkinkan karena parameter dalam menentukan tinggi pada penelitian tersebut hanya berdasarkan sedikit data perjumpaan dan informasi dari penduduk.

N. coucang di Manjung Malaysia cenderung berganti vegetasi untuk tidur setiap hari dengan posisi tinggi dari permukaan tanah 1,8-35 m (Wiens 2002). Berbeda dengan N. coucang di Manjung Malaysia, N. pygmaeus cenderung memilih vegetasi untuk tidur yang sudah pernah digunakan sebelumnya dengan berganti lokasi tidur pada radius 97,2-289,6 m. Tinggi posisi tidur kukang jawa pada penelitian tesis ini berkisar antara 3-18 m dari permukaan tanah. Seperti pada

N. pygmaeus, kukang jawa di lokasi tidak berganti jenis vegetasi untuk tidur. Terutama pada induk dengan infan, kukang jawa di habitat talun akan tetap menggunakan vegetasi yang sama atau masih dalam lokasi yang sama selama 3-9 hari.

Preferensi kisaran tinggi 3-18 m ini dapat menjadi indikasi bahwa kukang jawa secara umum tidak merubah posisi tinggi. Pemilihan jenis vegetasi untuk

(9)

tidur dan jarak dengan vegetasi untuk tidur sebelumnya juga lebih dekat. Perbedaan ini disebabkan oleh keanekaragaman spesies dan jumlah vegetasi untuk tidur di habitat talun yang lebih sedikit daripada habitat N. coucang dan N. pygmaeus.

Bambu merupakan vegetasi yang paling banyak dimanfaatkan kukang jawa untuk tidur. Bambu memiliki INP tertinggi di setiap transek (bambu tali G. apus

Kurz. 54,72-209,42%; bambu surat G. pseudoarundinaceae (Steud.) Widjaja 43,70-68,13%; bambu hitam G. atroviolaceae Widjaja 33,48%). Nilai penting bambu terhadap vegetasi di habitat serta pemanfaatannya oleh kukang jawa dapat menggambarkan peran talun sebagai habitat kukang jawa, terutama dalam menyediakan perlindungan dari predator.

Kukang jawa di TNGH dijumpai tidur di pohon puspa Schima walichii (DC) Korth. pada ketinggian lebih kurang 10 m dari permukaan tanah (Wirdateti 2003). Berdasarkan informasi penduduk, kukang jawa di Rangkasbitung Banten Selatan menggunakan puspa Schima walichii (DC) Korth., beunying Ficus fistulosa

Reinw. Bl., dan hamerang Ficus fulva Reinw untuk bersarang. Ketiga spesies pohon tersebut dapat ditemukan di lokasi penelitian ini. Puspa Schima walichii

(DC) Korth. dijumpai di transek PR dan PCu, beunying Ficus fistulosa di transek Cm, dan hamerang Ficus fulva Reinw. di transek LP dan P. Keberadaan ketiga spesies vegetasi untuk tidur tersebut dapat mendukung potensi talun untuk menjadi habitat kukang jawa.

Vegetasi pakan

Potensi pakan kukang jawa dapat ditunjukkan oleh ketersediaan spesies vegetasi pakan di tiap talun pada tingkat permudaan pohon. Potensi pakan juga dapat diketahui dari jenis pakan berdasarkan penelitian kukang jawa di tempat lain ataupun penelitian spesies kukang lainnya.

Tiga vegetasi pakan kukang jawa yaitu sengon Paraserianthes falcataria

(L) I. C. Nielsen., aren Arenga pinnata Merr., dan pisang Musa paradisiaca L. merupakan jenis vegetasi yang selalu ditemukan dan secara umum memiliki INP yang tinggi di tiap transek (sengon 30,42-51,30%; aren 32,16-83,30%; pisang 40,29-97,67%). Nilai penting ketiganya menunjukkan potensi talun dalam

(10)

mendukung ketersediaan pakan bagi kukang jawa. Ketiga spesies tersebut merupakan jenis komoditi yang memiliki nilai ekonomi bagi pemilik talun. Selain aren Arenga pinnata Merr., vegetasi tersebut sengaja ditanam oleh pemilik. Nilai ekonomi menjadi indikasi ketersediaan di masa depan karena pemilik cenderung akan menanam atau membiarkan sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen, aren Arenga pinnata Merr., dan pisang Musa paradisiaca L. tetap tumbuh di talun. Pemanenan atau penebangan pohon dewasa di talun cenderung tidak bersifat tebang habis atau hanya membuka sebagian kecil area talun saja (Soemarwoto 1984). Oleh karena itu ketersediaan ketiga jenis vegetasi pakan di talun cenderung terjamin.

Potensi ketersediaan pakan di talun juga terlihat dari spesies vegetasi pakan yang berada pada tingkat pertumbuhan yang lebih muda (semai dan pancang). Anakan pohon yang menjadi pakan kukang jawa terdapat di lima transek, yaitu LP, B, Cm, Ct, dan PCi. Secara umum, talun di Desa Sukamaju dan Raksajaya memiliki potensi ketersediaan pakan yang lebih tinggi daripada talun di tiga desa lainnya.

Pakan kukang jawa berdasarkan spesies vegetasi pakan kukang lainnya juga tersedia di talun. Keberadaan vegetasi tersebut dapat menambah informasi data mengenai sumber pakan kukang jawa di talun (Tabel 25). Namun penelitian yang lebih intensif perlu dilakukan untuk memastikan apakah vegetasi pakan yang sama digunakan oleh kukang jawa atau tidak.

Pakan kukang jawa di hutan Bodogol TNGGP yaitu buah dan getah pasang

Quercus sp. (Pambudi 2008). Pasang Quercus sp. dapat dijumpai di transek B dan Ct. Vegetasi pakan kukang jenis lainnya yang ditemukan di lokasi ada tiga spesies, yaitu leungsir Pometia pinnata Forst., puspa Schima walichiii (DC) Korth., dan nangka Artocarpus heterophyllus Lmk. (Wiens 2002; Swapna 2008). Enam genus yang sama dengan pakan kukang lainnya yaitu Garcinia sp, Ficus

spp., Mangifera sp., Dillenia sp., Diospyros sp., dan Stercullia sp. Pakan yang sama pada tingkat famili yaitu Lecythidaceae dan Palmae. Secara keseluruhan terdapat 25 spesies vegetasi yang menjadi potensi pakan kukang jawa di talun. Keberadaan spesies dalam semua tingkat pertumbuhan menjadi indikasi keberlanjutan fungsi talun sebagai penyedia pakan kukang jawa.

(11)

Tabel 25 Potensi vegetasi pakan kukang jawa di habitat talun

Spesies yang ada di lokasi Nama lokal Famili Bagian yang dapat dimanfaatkan Lokasi transek (tingkat pertumbuhanb) Nycticebusa (spesies pakan)

Quercus sp Pasang Faga

ceae

Batang & getah

B & Ct (po) j1

Pometia pinnata Forst Leungsir Sapin daceae Buah2 P (po) c2 Schima walichiii (DC) Korth. Puspa Thea ceae Serangga3, batang4

PR & PCu (po) j3, b5

Garcinia diodica Bl. Garcinia mangostana L. Garcinia celebica L. Ceuri, Manggis, Manggis hutan Gutti ferae Bunga Ct (po)

B & Ct (pa & po) P (po)

c2(Garcinia

sp.)

Ficus quercifolia Roxb.

Ficus benjamina

Ficus fistulosa Reinw. Bl.

Ficus hispida L.

Ficus sp.

Ficus fulva Reinw.

Ficus ampelas Burn.

Ficus annulata Bl.

Ficus septica Burm.

Ficus ribes Reinw. Bl.

Amis mata Beringin Beunying Bisoro Ficus Hamerang Hampelas Kiara Ki ciat Walen Mora ceae Buah Cm, Ct, PCi, P PP (po) Cm (po) LP (se) PP (po) PP (po) LP & P (po) PP (po) PCi (se) Ct (po) c2 (Ficus spp.)

Mangifera foetida Lour.

Mangifera indica L

Limus Mangga

Anacar diaceae

Getah B & Cm (pa & po) PCi (pa)

c2

(Mangifera griffithii)

Dillenia excelsa Gilg.

Dillenia indica L. Ki segel Sempur Dille nia ceae Buah LP & Cm (pa) PP (po) b5 (Dillenia pentagyna)

Diospyros kaki Linn. F. Kesemek Ebena ceae

Buah PCu (pa) c2 (Diospyros kingie) Sterculia javanica R. Br. Sterculia macrophylla Vent. Hantap Hantap heulang Ster cullia ceae

Getah LP & P (pa), PCi (se),

Ct (pa)

b5 (Sterculia villosa)

Baringtonia racemosa Putat Lecy

thida ceae Getah, nektar, & batang P (po) b5 (Careya arborea) Palmae sp. Kakalapa an

Palmae Buah & nektar/bagian dari bunga

B & PCi (se) c2 (Elaeis guineensis &

Eugeissona tristis

Keterangan:

a. Spesies kukang; b = Nycticebus bengalensis, c = N. coucang, j = N. javanicus, b. pa = pancang, po = pohon, se = semai,

c. PL = pengamatan langsung, IF = identifikasi feses,

1 = Pambudi (2008), 2 = Wiens (2002), 3 = Wirdateti et al. (2005), 4 = Wirdateti (2003), 5 = Swapna (2008)

(12)

Populasi Kukang Jawa

Kepadatan Populasi Kukang Jawa

Rerata kepadatan individu kukang jawa di habitat talun sebesar 25,52 individu/km2 (0-101,21 individu/km2 pada pengamatan siang hari dan 0-43,38 individu/km2 pada pengamatan malam hari). Kecuali di transek Al, kepadatan individu kukang jawa pada pengamatan siang lebih tinggi daripada kepadatan individu pengamatan malam. Hal ini disebabkan oleh adanya induk dan infan di semua lokasi kecuali di transek Al. Induk dan infan akan selalu ditemukan bersama-sama kecuali pada saat aktif di malam hari (Wiens 2002).

Saat pengamatan transek pada malam hari, belum pernah terjadi perjumpaan dengan infan. Pada awal pengamatan malam induk dan infan tampak masih bersama, terlihat dari pantulan dua pasang sorot mata oranye. Akan tetapi pengamatan malam pada ulangan pada sub waktu berikutnya hanya menjumpai individu dewasa saja. Hal ini berkaitan dengan perilaku infant parking pada kukang. Induk berperan dalam menyembunyikan atau menempatkan anaknya di tempat yang tersembunyi dan aman. Saat memulai aktifitas mencari makan, induk meletakkan infan-nya untuk sementara (infant parking), sehingga saat dilakukan pengamatan malam hari kukang jawa lebih sering terlihat sendirian. Infant parking teramati pada induk & infan di transek PCi.

Rerata kepadatan individu kukang jawa pada penelitian ini lebih tinggi dari kepadatan individu di TNGGP (4,29-15,29 individu/km2), maupun kepadatan jenis kukang lainnya (N. coucang di Semenanjung Malaya 20 individu/km2, N. bengalensis di Khao Ang Rue Nai Wildlife Sanctuary Thailand 1,27-4,26 individu/km2) (Barrett 1991, diacu dalam Wiens 2002; Pambudi 2008; Pliosungnoen et al. 2010). Akan tetapi rerata kepadatan individu kukang jawa pada penelitian ini jauh lebih rendah daripada kepadatan N. coucang di Manjung Malaysia yaitu 80 individu/km2 (Wiens 2002).

Nilai kepadatan individu ditentukan oleh jumlah perjumpaan kukang jawa. Di banyak daerah sebarannya, kukang jarang dijumpai tetapi di beberapa daerah lainnya justru memiliki tingkat perjumpaan yang tinggi (Nekaris et al. 2008). Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan lokasi, ketinggian, tipe habitat, metode

(13)

penelitian yang digunakan serta durasi penelitian. Durasi memiliki korelasi positif terhadap kisaran hasil penelitian. Durasi atau lamanya waktu pengambilan data dianggap cukup atau optimal jika penambahan waktu tidak menyebabkan perubahan hasil yang signifikan. Durasi dan metode yang digunakan pada penelitian ini merupakan hasil dari survei pendahuluan, sehingga hasil yang diperoleh diharapkan benar-benar menggambarkan habitat, populasi, dan sebaran kukang jawa di talun. Tingginya perjumpaan dan kepadatan individu kukang jawa di lokasi kemungkinan disebabkan oleh perbedaan tipe habitat dan waktu pengamatan yang dilakukan pada waktu siang dan malam.

Penelitian kukang jawa yang penulis lakukan merupakan habitat di luar kawasan konservasi berupa lahan pertanian yang sewaktu-waktu dapat berubah struktur vegetasi dan luasannya. Kukang jawa di tipe habitat ini kemungkinan sudah mengalami perkembangan perilaku dalam waktu yang lama dan beradaptasi dengan kondisi habitat talun. Hal tersebut menyebabkan kukang jawa di talun cenderung mudah dijumpai baik siang maupun malam hari. Deteksi keberadaan kukang jawa pada siang hari lebih mudah diterapkan di talun karena struktur vegetasinya tidak serapat hutan sekunder.

Rerata kepadatan individu kukang jawa di talun sempurna lebih besar daripada kepadatan individu di talun kebun (28,24 individu/km2 dan 24,03 individu/km2). Kepadatan individu kukang lebih tinggi pada habitat alami atau hutan dengan sedikit gangguan (Wiens 2002; Pliosungnoen et al. 2010). Tingkat gangguan di talun sempurna lebih rendah daripada talun kebun. Gangguan manusia di habitat talun sempurna berupa kunjungan untuk perawatan talun ataupun pemanenan lebih rendah dibandingkan dengan talun kebun yang terdapat area garapan. Talun sempurna memiliki struktur vegetasi mirip hutan sekunder. Kepadatan individu kukang jawa di hutan sekunder Bodogol TNGGP bahkan lebih tinggi daripada hutan primer yaitu 15,29 individu/km2 dibandingkan dengan 4,29 individu/km2 (Pambudi 2008).

Talun kebun B Desa Sukamaju dan PCu Desa Kawungsari memiliki kepadatan individu lebih tinggi daripada talun sempurna di desa yang sama. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh banyaknya vegetasi tidur dan vegetasi pakan di kedua talun berupa bambu tali G. apus Kurz., bambu surat G.

(14)

pseudoarundinaceae (Steud.) Widjaja, aren Arenga pinnata Merr., pisang Musa paradisiaca L., dan sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen. Tingginya kepadatan individu kukang jawa di talun B kemungkinan hanya sementara mengingat talun tersebut berdekatan dengan lokasi talun lainnya. Kukang jawa di talun B memiliki kemungkinan pergerakan atau daerah jelajah ke talun di lokasi lainnya yang berdekatan.

Kukang jawa di lokasi sering dijumpai turun ke tanah untuk menyeberang

gap atau jalan. Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan kukang jawa tidak terbatas pada kanopi vegetasi yang bersambungan. Ketersediaan sumber pakan dan aktifitas manusia berpengaruh terhadap daerah jelajah (Rowe 1996). Kukang jawa di lokasi penelitian memiliki kemungkinan daerah jelajah hingga keluar area desa. Selain itu, jumlah perjumpaan dan populasi yang tinggi di tipe habitat yang tidak stabil kemungkinan hanya bersifat sementara (Nekaris et al. 2008). Kukang jawa dapat melakukan migrasi antarlokasi talun dan antarsubpopulasi di dalam area habitat desa tersebut maupun berpindah ke desa-desa sekitarnya. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kepadatan individu kukang jawa di talun memiliki kecenderungan yang fluktuatif.

Komposisi Kelompok Tidur

Kukang merupakan satwa primata soliter, sehingga pada saat pengamatan siang maupun malam hari lebih sering terlihat sendiri. Namun kukang mempunyai unit sosial yang stabil berupa kelompok spasial yang masih mempunyai hubungan kekeluargaan (Wiens 2002). Kelompok spasial ini biasanya terlihat dalam bentuk kelompok tidur. Jumlah perjumpaan, jumlah kukang jawa yang dijumpai, dan kisaran perjumpaan pada siang hari lebih banyak daripada malam hari. Tingkat perjumpaan kukang jawa berkaitan dengan struktur vegetasi talun yang tidak serapat hutan. Keberadaan kukang jawa yang sedang tidak aktif (tidur) di talun menjadi lebih mudah ditemukan. Luas talun cenderung kecil dan merupakan fragmen dari lansekap (Parikesit et al. 2004). Kondisi ini terdapat di semua talun di lima desa lokasi penelitian ini. Hal ini menjadi indikasi bahwa daerah jelajah kelompok spasial kukang jawa di talun cenderung kecil dan tumpang tindih.

(15)

Perjumpaan N. coucang di alam saat tidur biasanya hanya satu hingga tiga individu, terdiri atas dua individu dewasa atau pradewasa dan satu infan (Wiens 2002). Contact sleep atau perjumpaan saat kukang tidur dan tidak aktif di siang hari di lokasi penelitian adalah 1-3 individu. Luas habitat talun yang cenderung kecil dimungkinkan menyebabkan daerah jelajah yang kecil dan tumpang tindih. Populasi yang lebih kecil dengan habitat yang terfragmentasi mendorong kukang jawa lebih efisien dalam penggunaan energi. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan berbagai vegetasi untuk tidur yang sama sehingga komposisi kelompok tidur kukang jawa cenderung sama dengan kukang yang hidup di habitat hutan yang lebih luas.

Secara umum, kelompok tidur kukang jawa di seluruh transek menunjukkan komposisi kelompok umur yang lengkap, yaitu dewasa, juvenil, dan infan. Perjumpaan empat komposisi kelompok tidur di talun sempurna menunjukkan bahwa talun fase ini lebih disukai kukang jawa sebagai habitat terutama dalam mendukung ketersediaan vegetasi untuk tidur.

Keberadaan individu infan di lokasi transek menunjukkan regenerasi yang berjalan dengan baik. Keberadaan individu dewasa menunjukkan potensi perkembangbiakan kukang jawa di talun. Apabila tidak ada gangguan yang merubah total struktur vegetasi talun dan tidak adanya perburuan kukang jawa di lokasi penelitian, komposisi kelompok umur kukang jawa di habitat ini diharapkan dapat berkembang biak dengan baik.

Estimasi Populasi Kukang Jawa

Estimasi populasi kukang jawa dipengaruhi oleh kepadatan individu kukang dan luas habitat representatif. Dengan luas yang sama, kepadatan individu kukang jawa dapat menjadi gambaran kualitas habitat talun di suatu area. Kepadatan individu kukang jawa yang tinggi secara umum terdapat pada talun yang memiliki struktur vegetasi yang baik, yakni ditunjukkan dari struktur vegetasi yang mirip hutan dan ketersediaan vegetasi untuk tidur dan vegetasi pakan.

Kepadatan individu dan populasi kukang jawa tertinggi terdapat di Desa Raksajaya dan Kawungsari, dan estimasi terendah terdapat di Sukakerta (Tabel

(16)

19). Berdasarkan pengamatan vegetasi, talun Desa Raksajaya dan Sukakerta memiliki struktur vegetasi dan ketersediaan vegetasi untuk tidur dan vegetasi pakan tergolong lebih baik di antara talun lainnya. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa tingginya estimasi populasi berkaitan dengan struktur vegetasi talun yang memiliki nilai lebih tinggi atau lebih mendekati struktur vegetasi hutan. Kepadatan individu kukang jawa dan estimasi populasi yang tinggi terdapat pada talun dengan nilai H' yang tinggi, artinya kukang jawa menyukai habitat yang memiliki keanekaragaman jenis vegetasi yang tinggi.

Talun Desa Kawungsari menunjukkan parameter struktur vegetasi yang rendah. Namun total luas habitat representatif di desa ini paling tinggi dibandingkan dengan empat desa lainnya. Kawungsari merupakan desa yang terletak jauh dari jalan provinsi, serta akses jalan darat yang tergolong susah dijangkau karena medan jalan yang terjal dan curam. Dengan faktor geografis ini Kawungsari memiliki potensi area hijau, baik berupa area pertanian berupa sawah, darat (kebun), ataupun talun yang masih asri dan luas. Dengan kepadatan individu yang secara umum tergolong sedang jika dibandingkan dengan kepadatan individu di desa lainnya, estimasi populasi kukang jawa di Kawungsari menjadi lebih tinggi karena HR-nya yang luas.

Luas habitat juga dapat mempengaruhi jumlah perjumpaan kukang. Sukakerta merupakan desa dengan luas HR terkecil namun memiliki tingkat perjumpaan yang relatif tinggi. Hal ini dimungkinkan karena luas HR yang sempit, tingkat fragmentasi tinggi, dan berada dekat dengan pemukiman sehingga tingkat gangguannya cenderung tinggi. Kukang jawa di Desa Sukakerta cenderung lebih mudah dijumpai daripada di desa lainnya, kecuali Raksajaya.

Kukang memiliki sebaran yang tidak merata dengan indikasi populasi yang bersifat sementara (Nekaris et al. 2008). Adanya sistem rotasi tanam talun memungkinkan ketersediaan vegetasi untuk tidur dan sumber pakan sekaligus menjadi indikasi terjadinya perpindahan atau migrasi kukang jawa ke talun lain di sekitarnya. Migrasi dapat terjadi jika talun yang didiami kukang jawa mengalami perubahan, baik perubahan akibat sistem rotasi tanam maupun akibat ancaman perburuan. Perbedaan kepadatan individu kukang hasil penelitian ini dengan penelitian lainnya (Barrett 1991, diacu dalam Wiens 2002; Wiens 2002; Pambudi

(17)

2008; Pliosungnoen et al. 2010) serta struktur vegetasi talun yang rentan berubah menjadi indikasi bahwa estimasi populasi pada penelitian ini rentan mengalami penurunan setiap waktu.

Sebaran Kukang Jawa

Sebaran kukang jawa cenderung mengikuti sebaran habitat talun. Secara umum perjumpaan kukang jawa bersifat tersebar tidak merata. Baik pada waktu aktif maupun tidak aktif (tidur), perjumpaan kukang jawa dapat terjadi di luar habitat talun. Kukang jawa dapat ditemukan tidur di rumpun bambu di tepi jalan pedesaan atau di pekarangan penduduk.

Sebagaimana kondisi talun di hulu sungai Citarum Jawa Barat (Parikesit et al. 2004), talun di lokasi penelitian cenderung kecil dan merupakan fragmen dari lansekap lahan. Habitat talun di semua desa terdapat pada area tertentu dari suatu desa. Hal ini berkaitan dengan tata letak tipe guna lahan di desa masing-masing. Pada umumnya pemukiman mengelompok sedangkan lahan pertanian tersebar di seluruh area desa. Secara umum letak talun yang menjadi habitat kukang jawa terletak jauh dari pemukiman, kecuali di talun B Desa Sukamaju, Cm Desa Raksajaya, dan Al Desa Sukakerta.

Sebaran talun di setiap desa berbeda-beda. Talun Desa Sukamaju, Raksajaya, dan Kawungsari tersebar di seluruh area desa, sedangkan di Sarimanggu dan Sukakerta mengelompok di area tengah desa. Sebaran talun dapat menjadi indikasi sebaran kukang jawa, kecuali di Desa Sukamaju. Meskipun talun tersebar di seluruh area desa dan secara umum tergolong representatif sebagai habitat, perjumpaan kukang jawa hanya terjadi di dua lokasi yaitu transek LP dan B. Berdasarkan informasi penduduk, talun Desa Sukamaju sering menjadi area berburu satwa liar seperti burung, bajing, dan tando atau kubung Cynocephalus variegatus menggunakan senapan angin secara berkelompok dan berkala (rutin setiap bulan atau setiap minggu). Adanya perburuan atau kegiatan menembak satwa liar menjadi salah satu penyebab sedikitnya kukang jawa yang dapat ditemukan. Pada saat penelitian dilakukan, kegiatan perburuan terjadi di Desa Sukamaju dan Sarimanggu. Perburuan di Desa Sukamaju merupakan perburuan

(18)

secara tidak langsung dengan tujuan menjadikan satwa liar di talun sebagai sasaran tembak. Perburuan di Desa Sarimanggu merupakan perburuan secara langsung karena bertujuan mendapatkan hasil buru berupa kukang jawa untuk dijual.

Sebaran habitat berdasarkan topografi secara umum dapat dijumpai di lereng bukit atau daerah yang curam dan juga di daerah yang landai seperti di talun Cm, P, dan Al. Sebaran kukang jawa di talun kebun dan talun sempurna cenderung sama. Sebaran kukang jawa dimungkinkan banyak dipengaruhi oleh faktor non habitat, yaitu faktor gangguan manusia terhadap habitat dan faktor perburuan baik perburuan secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan yang mungkin terjadi di habitat kunjungan manusia di talun pada saat pengolahan, perawatan, dan pemanenan hasil talun.

Gambar

Gambar 28  Perbandingan nilai struktur vegetasi di tiap transek
Tabel 25  Potensi vegetasi pakan kukang jawa di habitat talun

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganilisis dan mendeskripsikan (1) Proses dan aktivitas pembelajaran menulis laporan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar dengan model

Keselamatan yang ditawarkan dalam Kristus jauh lebih baik ketimbang berkat yang ditawarkan oleh para guru palsu di Kolose. Keutamaan Kehidupan

Sumber-sumber primer kedua yang dimaksud adalah sumber data berupa video yang diambil dari media sosial yaitu youtobe yang terkait dengan penelitian, alasan

”Untuk pelajaran Fikih saya biasanya Sering menggunakan metode Ceramah, akan tetapi dalam materi yang menuntut harus dipraktekkan seperti pelaksanaan ibadah Haji ini,

Distribusi Triangular dari komponen biaya akan digunakan untuk menjalankan simulasi Monte Carlo. Metode perkiraan biaya proyek Monte Carlo berdasarkan pada

Dari hasil karakterisasi yang dilakukan, dapat diketahui pengaruh variasi jarak penyangga ( spacer ) terhadap kualitas lapisan tipis Cd(S 0,6 Te 0,4 ) yang terbentuk meliputi

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pengembangan bahan ajar telah melalui proses validasi dan dinyatakan memenuhi validasi isi