• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA DENPASAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II GAMBARAN UMUM KOTA DENPASAR"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

GAMBARAN UMUM KOTA DENPASAR

2.1 Lokasi dan Keadaan Geografis

Pembentukan Kota Denpasar pada mulanya berupa Kota Administratif. Kota Administratif merupakan sebuah wilayah administratif di Indonesia yang dipimpin oleh Walikota Administratif. Keberadaan Kota Administratif diatur oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah. Kota Administratif bukanlah daerah otonom sebagaimana Kotamadya atau kota, dan karena tidak memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Walikota Administratif bertanggung jawab kepada Bupati Kabupaten induknya. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999, di Indonesia tidak dikenal lagi istilah Kota Administratif karena pembagian Provinsi hanya terdiri atas Kabupaten dan kota. Akibatnya Kota Administratif harus berubah status menjadi kota atau bergabung kembali dengan Kabupaten induknya.

Kota Denpasar adalah Ibukota Provinsi Bali yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan disegala bidang yang terus meningkat, memberikan pengaruh besar terhadap kota sendiri. Kota Denpasar yang merupakan Ibukota Kabupaten Daerah Tingkat II Badung dan sekaligus merupakan Ibukota Provinsi Daerah Tingkat I Bali mengalami pertumbuhan demikian pesatnya. Pertumbuhan penduduknya rata-rata 4,05% pertahun dengan pertumbuhan diberbagai sektor, sehingga memberi pengaruh besar terhadap Kota Denpasar, pada akhirnya menimbulkan berbagai permasalahan yang harus diselesaikan oleh pemerintah Kota Administratif. Berdasarkan kondisi objektif dan berbagai pertimbangan antara Tingkat I Bali dan Tingkat II Badung telah dicapai kesepakatan untuk meningkatkan status Kota Administratif Denpasar menjadi Kota Denpasar.

(2)

Kota Denpasar lahir tanggal 15 Januari 1992 berdasarkan Undang-Undang Nomor I Tahun 1992 tentang pembentukan Kota Denpasar dan telah diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 27 Februari 1992. Pemerintahan di Daerah Tingkat I Bali, Kabupaten Daerah Tingkat II Badung dan juga Kota Denpasar. Provinsi Daerah Tingkat I Bali merupakan pengembangan yang dulunya terdiri atas 8 (delapan) Daerah Tingkat II sekarang menjadi 9 (Sembilan) Daerah Tingkat II. Sedangkan Kabupaten Badung telah kehilangan sebagian wilayah potensi yang terkandung didalamnya. Sementara bagi Kota Denpasar merupakan babak baru dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang merupakan Daerah Tingkat II terbungsu diwilayah Provinsi Daerah Tingkat I Bali.

Kota Denpasar mengalami perkembangan pesat secara fisik maupun non fisik. Di jadikannya Kota Denpasar sebagai Ibukota Provinsi Bali, berarti segala kegiatan pemerintahan berlangsung di wilayah Kota Denpasar. Berdirinya Universitas Udayana Tahun 1962 juga menjadi penyebab semakin pesatnya perkembangan Kota Denpasar, karena dengan demikian Kota Denpasar juga menjadi pusat pendidikan yang akan menjadi penampung para pelajar untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Keterikatan masyarakat dengan Puri dapat kita lihat di Kota Denpasar sebagai kota budaya, dimana masyarakat terikat dengan empat Puri besar yang berperan penting, yaitu Puri Denpasar, Puri Pemecutan, Puri Satria, Puri Kesiman. Terdapat dua Puri yang memainkan peranan penting yaitu Puri Kesiman dan Puri Denpasar. Melalui kekuasaan ini kemudian Kota Denpasar berkembang baik dalam aspek ekonomi, politik, sosial budaya dan pendidikan (Ardhana, 2005:412).

Kota Denpasar secara administratif wilayah memiliki 4 kecamatan dan 43 Desa/Kelurahan. Kecamatan Denpasar Selatan terdiri dari 10 Desa. Denpasar Timur 11 Desa/Kelurahan. Denpasar Barat 11 Desa/Kelurahan. Denpasar Utara 11 Desa/Kelurahan. Luas wilayah Kota Denpasar sebesar 12.778 Ha atau 2,18% dari luas wilayah Provinsi Bali. Apabila dilihat dari penggunaan tanahnya, dari luas wilayah yang ada sekitar 2.693 Ha merupakan tanah kering dan sisanya seluas

(3)

10 Ha merupakan tanah yang digunakan untuk usaha seperti tambak, kolam, tebat, dan empang. Letak geografis Kota Denpasar berada ditengah-tengah Pulau Bali menjadikan Kota Denpasar sebagai titik sentral berbagai kegiatan serta sekaligus sebagai pusat distribusi barang dan jasa. Disamping itu, sebagai Ibukota Provinsi Bali. Kota Denpasar sudah tentu sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, dan perekonomian di Provinsi Bali.

Kota Denpasar terletak antara 08º 35º 31º - 08º 44º 49º Lintang Selatan dan 115º 10º 23º - 115º 16º 27º Bujur Timur. Batas wilayah Kota Denpasar sebagian besar berbatasan dengan Kabupaten Badung yaitu sebelah utara, barat dan selatan, sedangkan sebelah timur adalah Kabupaten Gianyar dan Selat Lombok. Secara umum Kota Denpasar merupakan daratan rendah dengan ketinggian berkisar antara 0-75m diatas permukaan laut. Akses jalan di Kota Denpasar hingga Tahun 2013 jalan utama kota sangat baik dan terawat dengan bagus. Dimana sebagian besar jalan utama sudah di aspal dengan tujuan mempermudah warga masyarakat untuk mengakses berbagai tempat tujuan mereka.

2.2 Kota Denpasar Dari Kota Keraton Menjadi Kota Budaya

Berdasarkan gambaran historis dan landasan teori tentang terbentuknya kota serta didukung pustaka acuan sebagai pembanding, dapat dikatakan bahwa Kota Denpasar lahir dari sebuah keraton (Puri). Keraton Denpasar di bangun kemudian berfungsi sebagai Ibukota pusat pemerintahan Tahun 1788. Sejak itu kekuasaan Kerajaan Badung memancar dari Puri Denpasar. Upaya ini tidak bisa dipisahkan dari peranan Raja I Gusti Ngurah Made Pemecutan, Raja pertama di Puri Denpasar (1788-1813). Hampir satu abad Puri Denpasar berdiri megah memberi corak Kota Kerajaan, Kota Keraton di Kerajaan Badung sebelum di bombardir oleh pasukan marinir dan angkatan darat Belanda Tahun 1906 hingga hancur. Selanjutnya di atas puing Keraton Puri Denpasar di bangun gedung sebagai pusat Pemerintahan di Bali selatan, Denpasar diabadikan Gubernur Jenderal Hindia Belanda menjadi nama Ibukota Afdeeling Bali Selatan pada akhir

(4)

Tahun 1907. Sejak itu ditetapkan bahwa di karesidenen Bali membentuk sebuah Afdeeling Bali selatan dengan Ibukotanya Denpasar. Setahap demi setahap Kota Denpasar senantiasa memberi warna dan ciri sebagai Ibukota Daerah Tingkat II (Dati II) Badung, Ibukota Dati II Bali dan Ibukota Provinsi Bali sampai menjadi kota yang memiliki otonomi karena perkembangan yang dialami selama usia 225 Tahun. Dari Kota Keraton menjadi kota berproses selama 225 Tahun (1788-2013) Denpasar tetap eksis menjadi kebanggaan warga Kota Denpasar.

Perkembangan kota modern yang muncul dibentuk berdasarkan warisan sejarah masa lalunya. Dalam dinamika sejarahnya, kota-kota itu lahir sebagai akibat dari adanya pergeseran pusat-pusat politik tradisional seperti pusat-pusat istana kerajaan, pusat-pusat perkembangan perdagangan didaerah pedalaman atau wilayah pesisir pantai ‘pelabuhan’. Pergeseran perpindahan terjadi karena adanya dinamika politik, di pedalaman sebagai akibat perkembangan politik ditingkat internal yang menyebabkan keinginan untuk memisahkan diri, maupun serangan dari Kerajaan-Kerajaan lainnya. Pengalaman sejarah seperti itu dapat dilihat dari tumbuh dan berkembangnya Kota Badung yang kemudian menjadi Kota Denpasar sebagai pusat perkembangan politik, ekonomi, dan budaya di Bali selatan (Ardhana, 2005:405). Nama Badung juga sering kali digunakan untuk menyebut nama wilayah kerajaan itu, yaitu Kerajaan Badung atau kemudian dikenal dengan sebutan Kerajaan Denpasar. Saat ini Badung, selain menjadi nama sungai di wilayah itu, juga dipergunakan sebagai nama pasar, yakni pasar Badung pasar terbesar dikawasan itu. Nama Badung juga dipergunakan untuk menyebut nama Kabupaten yaitu Kabupaten Badung yang kini beribukota di Mangupura.

Secara historis Kabupaten di Bali berasal dari pusat kerajaan yang masing-masing masyarakat lokal di wilayah memiliki adat-istiadat, sistem pengairan (subak) dan pemerintahan sendiri. Struktur masyarakat pada tiap kabupaten berbasiskan desa adat mempunyai wilayah dengan karakteristiknya sendiri yang tidak hanya menentukan pelaksana keagamaan, tetapi juga menyangkut persoalan sosial dan budaya. Kota Denpasar ditetapkan sebagai pusat Pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Badung. Semenjak Tahun 1958, Denpasar dijadikan

(5)

sebagai pusat pemerintahan Provinsi Daerah Tingkat I Bali yang selanjutnya mengalami perkembangan pesat tidak hanya dalam arti fisik, melainkan juga secara sosial budaya. Pada periode ini Kota Denpasar diusulkan untuk menjadi Kota Administratif bersamaan dengan pemekaran wilayah Kecamatan Denpasar dan Kesiman. Hal ini dilakukan mengingat jumlah penduduk yang semula hanya memiliki enam (6) Kecamatan, sekarang menjadi tujuh (7) Kecamatan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1978, Kota Denpasar diubah statusnya menjadi Kota Administratif yang membawahi tiga Kecamatan yaitu: Kecamatan Denpasar Barat dengan luas 50,06 Km2, Kecamatan Denpasar Timur dengan luas 27,73 Km2, dan Kecamatan Denpasar Selatan dan Denpasar Timur dengan luas wilayah 46,19 Km2. Dilihat dari segi tipologi, Kecamatan Denpasar Selatan dan Timur memiliki ketinggian antara 0-75 meter dari atas permukaan laut, sedangkan Kecamatan Denpasar Barat memiliki ketinggian antara 12-75 meter dari atas permukaan laut. Kota Denpasar berperan sebagai Ibukota Kabupaten, Provinsi dan pusat pengembangan industri pariwisata Indonesia bagian timur (Soenaryo, 2003:198)

Kota Denpasar memiliki jati diri sebagai sebuah kota yang secara hakiki merefleksikan citra kota berbasis budaya lokal Bali. Identifikasi diri masyarakat Kota Denpasar tampak dalam komunitas kecil seperti menjadi anggota banjar maupun sebagai krama desa pekraman. Meskipun Kota Denpasar telah berkembang dalam dinamika interaksi yang mengglobal, tetapi citra tradisi masih kental mewarnai penampilan Kota Denpasar sebagai kota budaya. Paling tidak hal ini dapat dilihat dari pilar-pilar warisan budaya yang terdapat pada bangunan Puri, Pura, Artefak kuno dan pemeliharaan bangunan-bangunan yang mengandung nilai historis, merupakan satu bukti bahwa masyarakat Kota Denpasar masih tetap mencintai tradisi-tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang pendahulunya.

Warisan budaya berupa institusi tradisional seperti banjar, desa adat, subak, Sekaa-sekaa, merupakan kearifan lokal (local genius) yang telah diakui oleh dunia internasional. Meskipun institusi-institusi itu mengalami pasang surut

(6)

sebagai akibat adanya faktor-faktor internal dan eksternal, tetapi hingga saat ini masih tetap memainkan peran penting dalam pembangunan Kota Denpasar sebagai kota budaya. Demikian juga halnya dengan filosofi Tri Hita Karana, desa, kala, patra, karma phala, jengah, paras paros, dan nilai kearifan lokal lainnya dipandang sebagai budaya unggul dan menjadi inspirasi dan kreasi bagi masyarakat Kota Denpasar sesungguhnya secara historis merupakan perkembangan dari kota kerajaan (Puri) menjadi kota budaya yang dengan kental telah mengusung kearifan-kearifan lokal dalam membangun Kota Denpasar (Geriya, 2010:23).

Gambar 2.1 Daerah Provinsi Bali

Gambar 2.1 berikut mengenai peta Pulau Bali secara keseluruhan yang terdiri dari Kota Madya Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Tabanan, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Karangasem, Kabupaten Bangli, Kabupaten Jembrana, dan Kabupaten Buleleng. Keseluruhan Kabupaten di Bali tersebut memilki masing-masing pemimpin yang disebut Bupati dan Walikota khusus untuk wilayah Kota Denpasar. Dan keseluruhannya berada dalam ruang lingkup Provinsi Bali yang dikepalai oleh seorang Gubernur dan Wakil Gubernur. Kemampuan kelas lahan pada masing-masing kabupaten memilki kualitas dan potensi yang berbeda-beda tergantung pada sumber daya manusia dan potensi sumber daya alam pada masing masing kabupaten kota. Dari

(7)

gambar di atas pemanfaaatan lahan secara nilai guna lebih terasa manfaatnya di daerah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, hal itu karena potensi Kota Madya sebagai tempat perekonomian sentral di Bali sehingga seluruh hasil pada masing-masing kabupaten lain di Bali dominan di kirim ke Denpasar dan Badung yang memilki pasar potensial ekonomi. Pemanfaatan lahan potensial dikembangkan sebagai perumahan atau tempat usaha lainnya. Di kabupaten lain pemanfaatan lahan seperti di Tabanan, Gianyar, Bangli, Buleleng, Jembarana, Klungkung, dan Karangasem potensi lahannya cukup optimal dengan telah dikembangkannya pertanian dan perkebunan di setiap desa kabupaten tersebut, pemanfaatan teknologi untuk mendukung perekonomian dan pemanfaatan lahan juga sangat digunakan secara baik oleh sebagian masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan pengusaha di perkebunan.

Gambar 2.2 Peta Daerah Kota Denpasar.

Gambar 2.2 merupakan bentuk alur jalan dan peta gambar Kota Denpasar. Pada saat ini masyarakat di Kota Denpasar sebagian besar sebagai seorang karyawan swasta, buruh, guru, dosen, pegawai negeri dan pengusaha. Dengan keadaan ini Kota Denpasar berkembang maju dengan segala dukungan dari setiap elemen masyarakat. Perbaikan jalan sebagai akses masyarakat akan mempermudah perekonomian. Pemerintah berusaha untuk memajukan perekonomian di setiap kecamatan di Kota Denpasar. Permasalahan pemukiman yang padat penduduknya tidak hanya tugas dari pemerintah, penggalakan program seperti Keluarga Berencana (KB) selalu dijalankan untuk mencegah kepadatan

(8)

penduduk berlebihan, penggunaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) secara menyeluruh juga sangat membantu pemerintah dan masyarakat sebagai salah satu identitas diri sebagai warga masyarakat Kota Denpasar.

2.3 Komposisi Penduduk

Penduduk merupakan aset pembangunan bila mereka dapat diberdayakan secara optimal. Kendati begitu mereka juga bisa menjadi beban pembangunan jika pemberdayaannya tidak dibarengi dengan kualitas penduduk (SDM) yang memadai pada wilayah atau daerah bersangkutan. Berikut tabel 2.1 mengenai angka penduduk Kota Denpasar menurut kelompok umur dan kecamatan Tahun 2011.

Tabel 2.1

Penduduk Kota Denpasar Menurut Kelompok Umur dan Kecamatan, 2011 Kelompok Umur Kecamatan Denpasar Selatan Denpasar Timur Denpasar Barat Denpasar Utara (1) (2) (3) (4) (5) 0-4 23.915 12.760 22.026 16.482 5-9 21.225 12.089 20.460 15.925 10-14 17.567 10.780 17.281 14.387 15-19 18.917 11.319 17.448 14.208 20-24 28.050 13.758 23.346 16.328 25-29 30.864 14.941 27.058 18.209 30-34 28.048 14.112 25.376 17.894 35-39 24.999 13.774 24.026 17.790 40-44 19.267 11.727 19.336 14.999 45-49 12.541 8.140 12.562 10.789 50-54 8.768 5.806 8.950 7.692 55-69 6.183 4.235 6.495 5.553 60-64 3.857 2.927 3.917 3.580 65-69 2.616 2.118 2.817 2.533 70-74 1.439 1.351 1.474 1.426 75+ 1.662 1.431 1.609 1.745 Jumlah 249.917 141.268 234.182 179.538

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Denpasar (Proyeksi Penduduk) Denpasar dalam angka 2012.

(9)

Berdasarkan tabel 2.1 jumlah penduduk di Kota Denpasar di bagi menjadi 4 kecamatan di antaranya Denpasar Selatan, Denpasar Timur, Denpasar Barat, dan Denpasar Utara. Masing-masing kecamatan di atas memiliki jumlah penduduk berbeda dengan variasi umur dan jumlah yang berbeda pula. Denpasar Selatan memiliki jumlah penduduk 249.917 Jiwa, Denpasar Timur memiliki jumlah penduduk 141.268 Jiwa, Denpasar Barat memiliki jumlah penduduk 234.182 Jiwa, dan terakhir Denpasar Utara dengan jumlah penduduk 179.538 Jiwa. Penggolongan menurut kelompok umur dan kecamatan dengan usia penduduknya dihitung usia 0 – 75+ Tahun. Pembagian kelompok umur ini akan mempermudah dalam mendata dan mengetahui rata-rata usia penduduk, balita, remaja, serta usia lansia. Dalam penelitian musik Indie bagi kalangan remaja di Kota Denpasar, usia remaja yang di ambil adalah 19 – 21 Tahun.

2.4 Pendidikan

Pendidikan membuat kita berwawasan luas. Globalisasi telah mengubah dunia menjadi satu kota besar, tidak ada pembatasan untuk mendapat pengetahuan. Hal ini memungkinkan bagi kita untuk mengetahui tentang budaya berbeda atau peristiwa yang terjadi di ujung dunia sekalipun. Semua ini dimungkinkan karena adanya pendidikan. Pendidikan dapat mengubah proses berpikir kita menjadi lebih baik. Pendidikan membantu dalam membuat kita lebih toleran dan menerima masukan dan ide dari orang lain. Pendidikan memberi pengetahuan bagi setiap orang yang telah belajar dan mempelajari ilmu sebagai langkah kehidupan bermasyarakat. Selain memiliki kemampuan nonakademis, musisi Indie atau remaja di Kota Denpasar tetap belajar, sehingga kemampuan akademis musisi Indie atau remaja berjalan beriringan dengan pengetahuan dibangku pendidikan. Berikut Tabel 2.2 mengenai Jumlah Siswa/Mahasiswa Menurut Jenis Sekolah/Perguruan Tinggi di Kota Denpasar Tahun 2011.

(10)

Tabel 2.2 Jumlah Siswa/Mahasiswa Menurut Jenis Sekolah/Perguruan Tinggi di Kota Denpasar Tahun 2011

No Siswa/Mahasiswa

Jumlah Sekolah/ Perguruan Tinggi

Negeri Swasta Jumlah

(1) (2) (3) (4)

1 Sekolah Dasar 65.547 19.626 85.173

2 Sekolah diluar Lingkungan P dan K

- - -

3 SLTP 10.046 22.932 32.978

4 ST - - -

5 Sekolah Luar Biasa 257 166

Sub Sub Jumlah/Sub Total 75.850 42.724 118.151

6 SMA 15.783 13.491 29.274

7 SMK 1.837 3.689 5.526

8 SMIK 1.223 1.833 3.056

9 SMK (Pariwisata) 4.079 5.868 9.947

10 Sekolah Pengatur Rawat Gigi

- - -

Sub Sub Jumlah/Sub Total

22.922 24.881 47.803

Jumlah/ Total 98.772 67.605 165.954 Sumber : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Denpasar 2011.

Penjelasan tabel 2.2 yaitu jumlah siswa SD Negeri berjumlah 65.547 dan SD Swasta berjumlah 19.626. Jumlah siswa SLTP Negeri berjumlah 10.046 dan siswa SLTP Swasta berjumlah 22.932. Jumlah SLB Negeri berjumlah 257 dan SLB Swasta berjumlah 166. Jumlah siswa SMA Negeri berjumlah 15.783 dan siswa SMA Swasta berjumlah 13.491. Siswa SMK Negeri berjumlah 1.837 dan SMK Swasta berjumlah 3.689. Jumlah Siswa SMIK Negeri berjumlah 1.223 dan SMIK Swasta berjumlah 1.833. Jumlah SMK Pariwisata Negeri berjumlah 4.079 dan SMK Pariwisata Swasta berjumlah 5.868. Gambaran tabel 2.2 diatas memberikan gambaran tingginya minat belajar anak-anak dan remaja di Kota Denpasar dengan berbagai jenis jenjang sekolah dan tanpa kecuali pada sekolah luar biasa yang merupakan sekolah bagi anak-anak cacat atau memiliki keterbatasan fisik juga banyak mempunyai minat dan jumlah siswa yang tinggi untuk belajar.

(11)

2.5 Organisasi Sosial

Suatu organisasi dibentuk untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Oleh karena itu, keberhasilan suatu organisasi ditunjukan oleh kemampuannya mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan sangat ditentukan oleh kinerja organisasi yang sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal organisasi. Faktor eksternal adalah segala sesuatu yang berada diluar organisasi, namun mempunyai pengaruh besar terhadap organisasi dan budayanya. Kecenderungan global yang semakin kompetitif berpengaruh kuat pada budaya organisasi. Apabila kita tidak mampu merespon pengaruh global akan berdampak pada kesulitan organisasi. Demikian pula kecenderungan pertumbuhan demografis, sosial, ekonomi, dan politik di dalam negeri berpengaruh terhadap kinerja organisasi.

Tabel 2.4 Jenis dan Jumlah Organisasi Kesenian Menurut Kecamatan di Kota Denpasar, 2011 No Nama Organisasi Kesenian Kecamatan Denpasar Selatan Denpasar Timur Denpasar Barat Denpasar Utara Jumlah 1 Gong Gede 3 - 2 1 6 2 Gong Kebyar 47 66 48 25 186 3 Semar Pegulingan 3 11 - - 14 4 Angklung 24 30 20 17 91 5 Gambang 2 4 3 1 10 6 Selonding - 5 1 1 7 7 Saron - 1 - - 1 8 Gong Suling - 3 2 5 10 9 Gambuh 1 - 1 - 2 10 Barong 17 14 18 18 67 11 Topeng 7 2 4 3 16 12 Calon Arang - 10 - - 10 13 Arja - 1 1 - 2

(12)

14 Cupak - - - 4 4 15 Sanghyang - 1 3 - 4 16 Cak - - - - - 17 Wayang Wong 4 - - - 4 18 Joged Bumbung 4 3 2 - 9 19 Legong Dedari - 4 - - 4 20 Joged Pingitan - - - - - 21 Wayang Kulit 9 11 7 3 30 22 Gandrung 1 2 3 - 6 23 Parwa - - - - - 24 Baris Upacara 2 - - 3 5 25 Janger - 2 - - 2 26 Genggong - - - - - 27 Jegog - - - - - 28 Cekepung - - - - - 29 Keroncong - 1 - 1 2 30 Tretekan - - - 1 1 31 Sastra Daerah - - - 4 4 32 Drama Gong - 1 - - 1 33 Tekok Jago 6 1 - - 7 34 Sanggar Seni Tari 19 30 30 34 113 35 Gong Beri - - - - - 36 Gender Wayang 5 11 5 6 27 37 Gdr Pelegongan - 4 4 - 8 38 Leko - - - - - JumlahTahun 2011 154 218 154 127 653

Sumber : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Denpasar 2011.

Dari tabel 2.4 terdapat lima (5) besar alat kesenian atau tempat pelestarian seni budaya di Kota Denpasar yaitu Gong kebyar (186), Sanggar Seni Tari (113), Angklung (91), Barong (67), Wayang Kulit (30), data tersebut merupakan cerminan bagaimana dalam masyarakat Kota Denpasar yang berupaya melestarikan kesenian dan budaya melalui kegiatan-kegiatan budaya seperti menabuh, megambel, menari, wayang, dan ada pula yang berupa mekakawin. Berbagai bentuk kesenian disini di lestarikan menurut minat dan bakat para remaja atau masyarakat di tiap-tiap banjar. Gong kebyar memiliki daya tarik yang

(13)

besar dengan angka (186) untuk menaruh perhatian pada generasi muda untuk menjaga kasanah budaya dan seni di Kota Denpasar. Namun terdapat kesenian seperti seni arja, drama gong dan keroncong masing-masing hanya ada dua (2) organisasi yang menggeluti bidang tersebut dan minat remaja atau pemuda untuk berkecimpung dan membentuk organisasi yang serupa pada beberapa tahun belakangan ini menurun minatnya. Hal tersebut dapat di akibatkan karena kurangnya inovasi dan sosialisasi serta daya tarik tersendiri dari jenis kesenian yang sedikit jumlah organisasinya.

2.6 Sratifikasi Sosial

Masyarakat berstratifikasi adalah masyarakat yang penduduknya terbagi menjadi dua kelompok atau lebih dan kedudukan kelompok yang satu lebih tinggi atau lebih rendah kalau dibandingkan dengan yang lain, kelihatan adanya perbedaan jelas dalam hal hak, penghasilan, pembatasan, dan kewajiban. Di Bali sistem kemasyarakatan terdiri dari Banjar dan Sekaa-sekaa dalam satu lingkungan desa adat. Disamping kelompok-kelompok kerabat patrineal yang mengikat orang Bali berdasarkan atas prinsip keturunan, ada pula bentuk kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan atas kesatuan wilayah, ialah desa. kesatuan yang diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara-upacara keagamaan keramat. Pada umumnya tampak beberapa perbedaan-perbedaan antara desa-desa adat di pegunungan biasanya sifatnya lebih kecil dan anggotanya terbatas pada orang asli yang lahir di desa itu juga. Sesudah kawin, orang itu langsung menjadi warga desa adat (Krama Desa) dan mendapat tempat duduk yang khas dibalai desa yang disebut Bale Agung, serta berhak mengikuti rapat-rapat desa yang diadakan teratur pada hari-hari yang ditetapkan Bagus dalam Koentjaraningrat (1979:290).

Hak para anggota kelompok yang dinilai lebih tinggi. Di samping itu, ada kecenderungan bahwa mereka tidak mendapat penghargaan yang sama, dan pembatasan serta kewajiban mereka kemungkinan besar sedikit lebih berat, meskipun para anggota kelompok yang dinilai tinggi juga memiliki pembatasan dan kewajiban sendiri yang khas untuk ditaati. Stratifikasi sosial pada hakikatnya

(14)

adalah ketidaksamaan yang dilembagakan, tanpa peringkat, tinggi melawan rendah, tidak ada stratifikasi. Perbedaan-perbedaan sosial tanpa peringkat bukanlah stratifikasi. Penggolongan stratifikasi sosial berikutnya melalui sistem warna. Pengertian warna sesungguhnya amat bertolak belakang dengan pengertian kasta di India, dan wangsa di Bali. Masing-masing istilah tersebut memiliki pengertian sendiri-sendiri dengan sumber yang berbeda-beda. Catur Warna adalah landasan konsepsi ajaran kemasyarakatan Hindu yang bersumber pada kitab suci Hindu. Kata warna (aslinya varna) berasal dari Bahasa Sansekerta dari urat kata Vri artinya memilih lapangan kerja. Catur Warna membagi masyarakat Hindu menjadi empat kelompok profesi secara paralel horizontal Warna ditentukan oleh guna dan karma. Guna adalah sifat, bakat dan pembawaan seseorang sedangkan karma artinya perbuatan atau pekerjaan. Guna dan karma inilah yang menentukan warna seseorang (Wiana, 1993:12).

Band Indie di Kota Denpasar dalam satu grup terdiri dari beberapa personil yang berasal dari berbagai kelas atau kasta warna pada masing-masing individu grup band Indie. Adanya perpaduan kasta ini dapat dilihat dari kolaborasi antara kasta sudra, waisya dengan kstaria dan brahmana. Dalam grup band mereka bersatu dengan bagian atau posisi masing-masing yang berkaitan saling membantu dan melengkapi satu sama lain. Ada yang bertugas sebagai vokalis, ada sebagai gitaris, bassist, hingga sebagai seorang drummer. Pembagian tugas dalam bentuk alat musik ini dilakukan sesuai dengan kemampuan dalam diri personil. Persatuan antara kasta sudra, waisya, ksatria dan brahmana ini terjadi secara alami dengan mengutamakan keahliannya masing-masing bukan asal usul dari kasta itu sendiri, sehingga musik dapat bersama-sama dalam bentuk grup band Indie bila antara satu personil dan lainnya saling mengikat dan bersatu tanpa memandang derajat, kasta serta wangsa yang dimilikinya.

Di Bali penduduknya sejak awal mayoritas beragama Hindu. Di Pulau Bali ini sistem pelapisan sosial masyarakat Bali yang beragama Hindu disebut Wamsa, yang oleh masyarakat luas disebut Wangsa. Walaupun Wangsa dan kasta itu sama-sama bukan ajaran Hindu, namun di Bali Wangsa pada kenyataannya

(15)

tidak setajam kasta di India. Persamaannya, Wangsa di Bali membeda-bedakan masyarakat berdasarkan keturunannya. Dalam sistem Wangsa ada satu keturunan yang dipandang lebih tinggi dan ada yang dipandang lebih rendah. Demikian pula ada kelompok keturunan yang secara tradisional mendapatkan hak-hak istimewa terutama dalam pergaulan adat. Timbulnya sistem wangsa ini, semenjak pemerintahan Dalem di Bali pada abad ke- XV. Umat Hindu di Bali menurut sumber tradisional sebagian besar berasal dari Jawa. Kedatangan umat Hindu dari Jawa ke Bali diawali oleh Dang Hyang Markandya yang membawa petani-petani dari Gunung Rawung di Jawa Timur. Masyarakat Bali dalam kenyataannnya dewasa ini di bagi menjadi tiga jenis golongan. Golongan pertama, yang dikatakan golongan Pendeta, ini diyakini sebagai cikal bakal Wangsa Brahmana Siwa dan Brahmana Budha di Bali. Umumnya rumah tinggal kedua Brahmana ini disebut Griya atau Geria. Golongan tinggal kedua, adalah golongan yang berasal dari Kediri dan Majapahit. Keturunan ini disebut Ksatria Wangsa. Tempat tinggal golongan ini disebut Jero atau Puri. Golongan ketiga adalah golongan yang bertempat tinggal diluar Jero, Puri, Geria. Mereka disebut orang Jaba. Jadi, ada tiga golongan Brahmana Wangsa, Ksatria Wangsa, Jaba Wangsa.

2.7 Mata Pencaharian

Mata pencaharian atau pekerjaan merupakan hal yang sangat penting bagi manusia, karena tanpa pekerjaan kita akan mengalami kesulitan dalam hidup. Kita memiliki ide dan kebijaksanaan, dengan itu kita dapat mengembangkan kemampuan memperbaiki, membuat sesuatu atau memilih pekerjaan yang kita inginkan. Memilih pekerjaan yang akan kita kerjakan adalah penting sekali sebab bila kita salah memilih pekerjaan, kita akan merasa selalu tidak puas dan menderita. Masyarakat Kota Denpasar adalah masyarakat majemuk dan sangat toleransi. Dalam hal pekerjaan segala sektor di Kota Denpasar saling mendukung usaha satu dan usaha yang lainnya. Hal itu disebabkan karena adanya kebutuhan serta keinginan untuk memajukan perekonomian Kota Denpasar melalui pekerjaan masing-masing masyarakat geluti sejak dini. berikut adalah gambaran presentase pekerjaan atau mata pencaharian masyarakat di Kota Denpasar.

(16)

Tabel 2.5

Mata Pencaharian Masyarakat Kota Denpasar 2011

No Sektor Lapangan Usaha Wilayah

Denpasar Bali

1 Pertanian 0,75 25,24

2 Penggalian ‘Galian C’ 0,10 0,57

3 Industri 11.41 13,16

4 Listrik, Gas, Air Minum 0,82 0,31

5 Bangunan/ Konstruksi 6,74 8,42

6 Perdagangan, Hotel dan Restaurant 36,33 27,05

7 Angkutan dan Komunikasi 6,08 3,71

8 Keuangan 6,93 3,75

9 Jasa-jasa 30,85 17,75

Jumlah/Total 100,00 100,00

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Denpasar, 2011.

Struktur tenaga kerja di Kota Denpasar pada Tahun 2011 masih sama dengan Tahun 2010 dimana tenaga kerja masih terkosentrasi pada tiga sektor, sektor perdagangan, hotel dan restoran tetap mendominasi penyerapan tenaga kerja di Denpasar Sebesar 36,33%, walaupun distribusinya mengalami penurunan sebesar 4,44% dibanding Tahun 2010. Di sisi lain, sektor jasa-jasa, distribusi penyerapan tenaga kerjanya bergeser naik sebesar 3, 06% menjadi 30,85% pada Tahun 2011. Sedangkan sektor industri turun 1,69% menjadi 11,41% pada Tahun 2011. Struktur tenaga kerja di Kota Denpasar berbeda dengan struktur tenaga kerja Provinsi Bali dimana sektor pertanian mendominasi dalam penyerapan tenaga kerja. Di denpasar, Pertanian hanya mampu menyerap 0,75% tenaga kerja. Jumlah ini semakin menurun di banding Tahun 2010 (1,37%). Disamping itu sektor pertanian masih tetap diupayakan dan menyebar dibeberapa desa atau kelurahan. Tenaga kerja kontribusi sektor pertanian sejalan dengan semakin sedikitnya tanah sawah di Denpasar (Badan Pusat Statistik Kota Denpasar, 2011).

(17)

2.8 Sistem Kekerabatan

Sistem kekerabatan dalam hal ini adalah erat kaitannya dengan perkawinan. Menurut anggapan adat lama yang amat dipengaruhi oleh sistem klen-klen (dadia) dan sistem kasta (wangsa), maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan diantara warga se-klen, atau setidak-tidaknya antara orang-orang yang dianggap sederajat dalam kasta. Demikian, perkawinan adat di Bali itu bersifat endogami klen, sedangkan perkawinan yang dicita-citakan oleh orang Bali yang masih kolot adalah perkawinan antara anak-anak dari dua orang saudara laki-laki.

Keadaan ini memang agak menyimpang dari lain-lain masyarakat yang berklen (tunggal kawitan, tunggal dadia, tunggal sanggah) di Bali itu, adalah orang-orang yang setingkat kedudukannya dalam adat, agama, dan demikian juga kasta, sehingga dengan berusaha untuk kawin dalam batas klen-nya, terjagalah kemungkinan-kemungkinan akan ketegangan-ketegangan dan noda-noda keluarga yang akan terjadi akibat perkawinan antar kasta yang berbeda derajatnya. Dalam hal ini terutama harus dijaga agar anak wanita dari kasta tinggi jangan sampai kawin dengan pria yang rendah derajat kastanya, karena suatu perkawinan serupa itu akan membawa malu pada keluarga, serta menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita itu. Dahulu bila terjadi perkawinan campuran yang demikian, maka wanita itu akan dinyatakan keluar dari dadia-nya, dan secara fisik suami-istri akan dihukum buang (maselong) untuk beberapa lama, ke tempat yang jauh dari tempat asalnya. Semenjak Tahun 1951, hukum semacam itu tidak pernah dijalankan lagi dan pada waktu ini perkawinan campuran antar kasta lebih banyak dilaksanakan Bagus dalam Koentjaraningrat (1979:287).

Sistem kekerabatan dapat dipandang dari sudut cara pemakaian dari istilah-istilah kekerabatan pada umumnya, maka tiap bahasa mempunyai dua macam sistem istilah yang disebut : a) istilah menyapa, atau term of address, dan b) istilah menyebut, atau term of reference. Istilah menyapa itu dipakai Ego untuk memanggil seseorang kerabat apabila ia berhadapan dengan kerabat tadi dalam

(18)

hubungan pembicaraan langsung. Sebaliknya, istilah menyebut itu dipakai oleh Ego apabila ia berhadapan dengan seseorang lain, berbicara tentang seorang kerabat sebagai orang ketiga. Demikian didalam bahasa Indonesia istilah menyapa bagi ayah adalah bapak atau pak, sedangkan istilah menyebut bagi ayah adalah orangtua.

Sistem kekerabatan erat kaitannya dengan pola perkawinan pada daerah tertentu. Perkawinan biasanya dianggap sebagai prasyarat mutlak dalam mengukuhkan status warga kerabat dalam memperoleh hak-hak dan pedoman kewajiban pada suatu kelompok masyarakat. Pada umumnya perkawinan adat Bali dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara meminang dan mrangkat. Melalui jenis perkawinan tersebut, akan terbentuk keluarga batih sebagai representasi dari jaringan kerabat. Sebuah rumah di Bali biasanya terdiri dari suatu keluarga batih yang bersifat monogami, dimana anak laki-laki yang sudah kawin masih dizinkan tinggal beserta anggota kerabat lainnya sampai orang bersangkutan telah mampu berdiri sendiri dan membangun rumah tangga secara utuh (ngarangin). Selain itu, salah satu dari saudara anak yang telah kawin tersebut biasanya tetap tinggal dengan orang tua (ngerob).

Setiap keluarga batih atau keluarga luas diwajibkan memelihara hubungan interaksi dengan kelompok kerabatnya yang lebih luas atau klen. Dalam sistem perkawinan adat Bali berasaskan pada sistem klen, dimana perkawinan biasanya dilakukan dengan klen sederajat (tunggal kawitan, tunggal sanggah, tunggal dadia) agar tidak menimbulkan bencana yang sulit terselesaikan di kemudian hari. Adapun struktur tunggal dadia Bali bersifat kontekstual, yang berakibat keanekaragaman tradisi masing-masing daerah. Pada daerah pegunungan, terdapat kecenderungan tradisi orang-orang dari tunggal dadia yang telah berneolokal diwajibkan mendirikan pemujaan untuk leluhurnya (kemulan taksu). Keluarga batih yang hidup neolokal masih dianggap memiliki kewajiban-kewajiban terhadap Sanggah asal di rumah orang tua mereka. Kelompok kerabat lebih besar melengkapi beberapa kerabat tunggal dadia (sanggah) memuja kuil leluhur yang sama disebut paibon atau panti. Bagus dalam Koentjaraningrat (1979:287-289).

(19)

2.9 Religi

Agama sebagai ilmu pengetahuan yaitu: pengetahuan kerohanian yang telah lama dipersoalkan orang, sebab menyangkut masalah kerohanian dan soal-soal rohani yang bersifat gaib (suksma irationil) dan methafisika (nirbawa) sehingga sangat sukar diberikan definisi secara bulat. Sebab apa yang dikatakan itu sebenarnya ialah persoalan keyakinan (kepercayaan) untuk menuntut seseorang supaya percaya diperlukan beberapa metode yang sesuai dengan kemampuan berpikir dari yang dituntut itu. Mengingat keadaan dewasa ini dengan adanya kemajuan-kemajuan dibidang ilmu dan teknologi mengharuskan kita memilih metode tertentu untuk menanamkan keyakinan kepada orang-orang yang rasional.

Perkataan “Agama” yang lazim dipakai dalam bahasa Indonesia bersinonim dengan perkataan “Religion” (bahasa Inggris), Religis kata “Agama” dapat diuraikan yang terdiri dari kata AGAM = A jadi kata “Agama” berasal dari kata “Gam” (Bahasa Sansekerta) atau Go (Bahasa Inggris) yang berarti “A” artinya sesuatu yang (bersifat). Berdasarkan uraian diatas kata “Agama” itu berasal dari bahasa Sansekerta yang sudah menjadi bahasa Indonesia, yang artinya sesuatu yang bersifat tidak bergerak atau tidak pergi (langsung). Religion atau religi terdiri dari kata “Ro” = kembali. Religi = mengikat. Jadi religion atau religi berarti mengikat diri kembali kepada yang langgeng.

Menurut ajaran Agama Hindu yang dimaksud memiliki sifat langsung (kekal, abadi, tidak berubah-ubah) hanya Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa), sedangkan “Alam Semesta” beserta mahluk hidup dan isi alam ini sifatnya tidak ada yang langgeng (kekal) selalu mengalami perubahan bahkan akhirnya akan kembali kepada sumbernya (sangkan paran) yaitu Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Ketersediaan tempat peribadatan atau bangunan suci seperti Pura, Mesjid, Gereja, Wihara, dan sebagainya merupakan hal penting dalam pembangunan keagamaan atau spiritual masyarakat Kota Denpasar dengan pemeluk agama Hindu 428.676 orang, Islam 143.399 orang, Katolik 14.050 orang, Protestan

(20)

30.017 orang serta pemeluk agama Budha 12.649 orang. Ketersediaan sarana peribadatan terdiri dari Pura Kahyangan Tiga 105 Buah serta 2 buah Sad Kahyangan atau Dhang Kahyangan. Mesjid dan Langgar 30 buah, serta 8 bangunan Wihara. Berikut ini adalah tabel mengenai banyaknya pemeluk agama menurut kecamatan di Kota Denpasar Tahun 2011.

Tabel 2.6

Banyaknya Pemeluk Agama Menurut Kecamatan di Kota Denpasar 2011 No Wilayah Hindu Islam Katholik Protestan Budha Lainnya

1 Denpasar Selatan 170.725 54.013 5.692 10.094 4.263 44 2 Denpasar Timur 96.637 31.107 5.427 3.371 1.845 16 3 Denpasar Barat 143.548 70.455 3.870 7.367 4.165 30 4 Denpasar Utara 127.256 39.470 2.260 4.440 2.431 43

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Denpasar, 2011.

Dari data tabel 2.6 dapat digambarkan kecamatan Denpasar Selatan sebagai daerah yang sangat banyak pemeluk agama Hindunya dengan angka 170.725 jiwa dan di bagian urutan kedua daerah Denpasar Barat dengan 143.548 jiwa, Denpasar Utara dengan 127.256 jiwa, Denpasar Timur dengan 96.637 jiwa. Mayoritas agama Hindu sangat dominan berada disetiap daerah Kota Denpasar mengingat sebagian besar umat di Bali adalah beragama Hindu dan sisanya ada yang beragama Islam, Katholik, Protestan, Budha, dan yang lainnya, untuk jumlah angka pada masing-masing kecamatan terlampir diatas.

Gambar

Gambar 2.1 Daerah Provinsi Bali
gambar  di  atas  pemanfaaatan  lahan  secara  nilai  guna  lebih  terasa  manfaatnya  di  daerah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, hal itu karena potensi Kota Madya  sebagai tempat perekonomian sentral di Bali sehingga seluruh hasil pada  masing-masing
Tabel 2.2 Jumlah Siswa/Mahasiswa Menurut Jenis  Sekolah/Perguruan Tinggi di Kota Denpasar Tahun 2011

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh debt to equity rasio (DER), total assets turnover (TAT) dan return saham terhadap harga saham pada perusahaan

1 POTENSI WILAYAH KECAMATAN DI KABUPATEN BANTUL PADA BULAN FEBRUARI 2014.. DESA PKB DU SUN PPKBD RT SUB PPKBD KKB DPS BPS RS KKB

Respons yang muncul pada hari ke enam tersebut lebih cepat jika dibandingkan dengan edelweiss species Anaphalis elliptica yang diteliti oleh Senthilkumar dan Paulsamy

Oespophagografi adalah pemeriksaan dengan menggunakan sinar-X untuk melihat gambaran secara radiologi oesophagus, teknik pemeriksaannya dengan cara pasien harus menelan media

Terlepas dari faktor noise dan permukaan tersebut, penggunaan metode ini berfungsi untuk mengetahui komposisi mineral dan batuan yang terdapat pada tanah sehingga

Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa debt to equity ratio tidak memiliki pengaruh terhadap stock price pada perusahaan manufaktur

Sudah ribuan orang disembuhkan dengan kami dan obat yang aman tanpa efek samping, jangan tunda pengobatan untuk kutil kelamin penyakit penyebebnya virus akan

dapat dilihat bahwa jika titik yang terbaca nilainya lebih dari 7 (Titik > 7) maka sudut beloknya adalah 105° dimana artinya mobil berbelok ke kiri, sedangkan jika titik yang