BAB II LANDASAN TEORI. orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Menurut

Teks penuh

(1)

7

A.Kajian Teori

1. Pengertian Guru

Seperti yang telah diterangkan sebelumnya, guru adalah pendidik yang berada di lingkungan sekolah. Dalam pengertian sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Menurut Ahmad Barizi dan Muhammad Idris (2010:42) guru atau pendidik berperan sebagai pembimbing dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Menyediakan keadaan-keadaan yang memungkinkan peserta didik merasa nyaman dan yakin bahwa kecakapan dan prestasi yang dicapai akan mendapat penghargaan dan perhatian sehingga dapat meningkatkan motivasi berprestasi peserta didiknya.. UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen menyebut guru adalah: “pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah”.

Jadi tugas guru selain dari memberikan ilmu pengetahuan juga memberikan pendidikan dalam bidang moral pada anak didik sebagaimana yang disebutkan dalam UU diatas. Masyarakat akan melihat bagaumana sikap perbuatan guru sehari-hari, apakah ada yang patut diteladani atau tidak, apakah dapat dijadikan panutan atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, memberikan dorongan dan arahan pada anak didiknya, dan

(2)

bagaimana cara guru berpakaian, berbicara, serta bergaul dengan siswanya, ataupun teman – temannya dalam kehidupan bermasyarakat, sering menjadi perhatian masyarakat luas. Guru merupakan unsur aparatur Negara dan abdi Negara.

Karena itu guru perlu mengetahui kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan, sehingga dapat melaksanakan ketentuan kebijakan pemerintah tersebut. Untuk itu, semuanya diatur dalam kode etik guru Indonesia. Dengan demikian guru diharapkan untuk mampu berbakti kepada negara sebagai suatu profesi kependidikan yang mulia. Guru yang berbakti adalah guru yang mampu membentuk peserta didik berjiwa pancasila. Dasar ini mengandung beberapa prinsip yang harus dipahami seorang guru dalam menjalankan tugasnya yakni tujuan pendidikan nasional.

Tujuan pendidikan nasional dapat dibaca dalam UU No. 2/1989 tentang sistem pendidikan nasional, yakni membentuk manusia seutuhnya yang berjiwa pancasila, Selain mengajarkan pengetahuan dan perkembangan intelektual, guru juga harus memperhatikan perkembangan moral, jasmani rohani dan lain-lain yang sesuai dengan hakikat pendidikan. Hakikat pendidikan dalam hal ini yaitu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan/ keahlian dalam kesatuan organis harmonis dinamis, didalam dan diluar sekolah yang berlangsung seumur hidup (Andriani Purwastuti dkk, 2002: 76).

Pengertian yang lebih sempit yaitu, guru adalah orang yang pekerjaannya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah atau di dalam kelas (Idris, 2010: 142). Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia,

(3)

guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.

a. Tugas dan Tanggung Jawab Guru

Tugas mendidik guru berkaitan dengan transformasi nilai dan pembentukan pribadi, sedangkan tugas mengajar berkaitan dengan transformasi pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik. Menurut Suciati (2001: 39), aspek prestasi sebagai suatu hasil dari kegiatan mendidik dan mengajar meliputi aspek kognitif/ berfikir, aspek afektif/ perasaan atau emosi, serta aspek psikomotor. Didalam undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 20, maka tugas guru adalah:

1) Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

2) Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

3) Bertindak obyektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi, peserta didik dalam pembelajaran. Dalam hal ini, perhatian diberikan secara adil tanpa adanya perbedaan. Perhatian disini bukan suatu fungsi, melainkan yaitu pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, dan pikiran. Jadi, fungsi memberi kemungkinan dan perwujudan aktifitas. Wasty Soemanto (2003: 34) 4) Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum dan kode etik

(4)

5) Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa. Guru mempunyai tanggung jawab, yang dimana tanggung jawabnya tidak hanya menyampaikan ide-ide, akan tetapi guru juga menjadi suatu wakil dari suatu cara hidup yang kreatif, suatu simbol kedamaian dan ketenangan dalam suatu dunia yang dicemaskan dan aniaya. Oleh karena itu, guru merupakan penjaga peradaban dan pelindung kemajuan (Dwi Siswoyo, 2007:133). Guru pada hakekatnya ditantang untuk mengemban tanggung jawab moral dan tanggung jawab ilmiah. Dalam tanggung jawab moral, guru dapat memberikan nilai yang dijunjung tinggi masyarakat, bangsa dan Negara dalam diri pribadi. Sedangkan tanggung jawab ilmiah, berkaitan dengan transformasi pengetahuan dan keterampilan sesuai perkembangan yang mutakhir.

b. Kompetensi Guru

Sesuai dengan bahan kriteria dan bahan pengajar, guru harus memiliki kualifikasi kompetensi tertentu sesuai dengan bidang tugas dan akhirnya dapat menghasilkan lulusaan yang bermutu. Menurut pendapat Karwati dan Priansa (2014) mengklasifikasikan bahwasanya terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki guru yakni, a) kompetensi pedagogik, b) kompetensi kepribadian, c) kompetensi sosial dan, d) kompetensi professional.

a) Kompetensi Pedagogik

Yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi

(5)

pembelajaran, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Jadi, dalam kaitannya dengan pengaruh peran guru terhadap pembinaan keterampilan yaitu kemampuan guru SBK dalam mengajarkan seni dan keterampilan siswa melalui perencanaan pembelajaran seperti pemberian teori serta evaluasi yang terselubung dalam kegiatan belajar mengajar dikelas, baik secara langsung maupun tidak langsung.

b) Kompetensi Kepribadian

Merupakan kondisi guru sebagai individu yang memiliki kepribadian yang mantap sebagai contoh seorang pendidik yang beriwaba. Adapun kompetensi kepribadian ini mencakup berbagai aspek yakni memiliki kepribadian sebagai pendidik yang layak diteladani, dan memiliki sikap serta kemampuan kepemimpinan dalam interaksi yang bersifat demokratis dalam mengayomi peserta didik. Jadi dalam kaitannya dengan pengaruh peran guru dalam pembinaan seni dan keterampilan yaitu dalam memberikan bimbingan, guru harus mempunyai ketermpilan yang dapat dijadikan teladan oleh siswa dikelas. Dengan kata lain, baiknya kepribadian seorang guru dalam mengajar, akan berpengaruh baik pula bagi siswa yang diajarnya.

c) Kompetensi Profesional

Merupakan penguasaan materi ilmu pengetahuan dan teknologi yang luas dan mendalam mengenai bidang studi atau mata pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik dengan menggunakan sistem intruksional dan strategi pembelajaran yang tepat. Kompetensi professional ini

(6)

mencakup; 1) Penguasaan materi pembelajaran atau bidang studi yang mencakup ilmu pengetahuan, teknologi dan seni secara teriris dan praktis; 2) Penguasaan pengetahuan cara mengajar dan kemampuan melaksanakannya secara efektif; 3) Penguasaan pengetahuan tentang cara dan proses belajar dan mampu membimbing peserta didik secara berkualitas; 4) Memiliki pengetahuan dan pemahaman professional mengenai prilaku individu dan kelompok dalam masa perkembangan dan mampu melaksanakannya dalam proses pembelajaran untuk kepentingan peserta didik, termasuk kegiatan bimbingan; 5) Menguasai pengetahuan kemasyarakatan dan pengetahuan umum yang memadai; 6) Menguasai kemampuan mengevaluasi hasil atau prestasi belajar peserta didik secara obyektif. Jadi, dalam kaitannya dengan pengaruh peran guru terhadap pembinaan moral seperti yang telah diterangkan sebelumnya yaitu merupakan penguasaan materi ilmu pengetahuan dan teknologi yang luas dan mendalam mengenai bidang studi atau mata pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik dengan menggunakan sistem intruksional dan strategi pembelajaran yang tepat dalam memberikan pembinaan moral tersebut.

d) Kompetensi Sosial

Kaitannya dengan pengaruh peran guru terhadap pembinaan moral merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari suatu kelompok sosial yang mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua atau wali peserta didik serta masyarakat sekitar dalam memberikan pendidikan moral. Adapun aspek-aspek dalam

(7)

kompetensi ini meliputi; (1) Memiliki prilaku yang terpuji dengan sikap dan kepribadian yang menyenangkan dalam pergaulan disekolah dan masyarakat. (2) Memiliki kemampuan menghormati dan menghargai orang lain khususnya peserta didik dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. (3) Memiliki ahlak yang mulia sesuai agama yang dianut.

Dari keempat kompetensi di atas, kompetensi kepribadian yang berhubungan langsung dengan pembentukan moral anak didik. Guru harus menjadi teladan dan memberikan contoh yang baik dari segala sisi kepada anak didik karena apa yang kita berikan dapat ditiru anak didik.

2. Kreativitas Guru

a. Pengertian Kreativitas

Kreativitas merupakan kemampuan untuk mengekspresikan dan mewujudkan potensi daya berpikir untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan unik atau kemampuan untuk mengkombinasikan sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang lain agar lebih menarik. Kreativitas juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan, memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Guru harus berpacu dalam pembelajaran dengan memberikan kemudahan belajar bagi seluruh peserta didik, agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Oleh kerena itu, “untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, diperlukan ketrampilan. Diantaranya adalah ketrampilan pembelajaran atau ketrampilan mengajar”. Agar tercipta

(8)

pembelajaran yang kreatif, professional dan menyenangkan, diperlukan adanya ketrampilan yang harus dimiliki dan dikuasai oleh guru, berkaitan dengan ini Turney dalam bukunya E Mulyasa (2011) mengatakan bahwa:

Ada 8 ketrampilan mengajar yang sangat berperan dan menentukan kualitas pembelajaran, yaitu ketrampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, membimbing diskusi kelompok kecil, mengelola kelas serta mengajar kelompok kecil dan perorangan.

Kreativitas ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu. Jadi, Dalam proses pembelajaran, seorang guru harus kreatif agar dapat selalu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan supaya siswa tidak merasa bosan dan mengalami kesulitan belajar. Dengan demikian pengelolaan proses belajar mengajar yang baik didukung oleh kreativitas guru akan dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

b. Ciri – Ciri Kreativitas Guru

Menurut pendapat Karwati dan Priansa (2014) untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri anak, dibutuhkan guru yang kreatif dan guru yang kreatif itu mempunyai ciri-ciri; 1) kreatif dan menyukai tantangan; 2) menghargai karya anak; 3) motivator dan 4) evaluator.

1) Kreatif dan menyukai tantangan

Guru dapat mengembangkan potensi pada diri anak dengan menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. Guru juga harus menyukai tantangan dan hal yang baru sehingga guru tidak akan terpaku pada

(9)

rutinitas ataupun mengandalkan program-program yang sudah ada. Sehingga guru senantiasa menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak pernah dilakukan.

2) Menghargai karya anak

Karakteristik guru dalam mengembangkan kreatifitas sangat menghargai karya anakapapun bentuknya. Tanpa adanya sifat ini anak akan sulit untuk mengekspresikan dirinya secara bebas dan mandiri dalam menyelesaikan tugas – tugasnya.

3) Motivator

Guru sebagai motivator yaitu seorang guru harus memberikan dorongan dan semangat agar siswa mau dan giat belajar.

4) Evaluator

Dalam hal ini guru harus menilai segi-segi yang harusnya dinilai, yaitu kemampuan intelektual, sikap dan tingkah laku peserta didik, karena dengan penilaian yang dilakukan guru dapat mengetahui sejauh mana kreativitas pembelajaran yang dilakukan. Dalam kelas yang menunjang kreativitas, guru menilai pengetahuan dan kemajuan siswa melalui interaksi yang terus menerus dengan siswa. Pekerjaan siswa dikembalikan dengan banyak cacatan dari guru, terutama menampilkan segi-segi yang baik dan yang kurang baik dari pekerjaan siswa.

c. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kreativitas Guru

Proses perkembangan pribadi seseorang pada umumnya ditentukan oleh perpaduan antara faktor-faktor internal (warisan dan psikologis) dan faktor eksternal (lingkungan sosial dan budaya). Faktor internal adalah

(10)

hakikat dari manusia itu sendiri yang dalam dirinya ada suatu dorongan untuk berkembang dan tumbuh ke arah usaha yang lebih baik dari semula, sesuai dengan kemampuan pikirnya untuk memenuhi segala kebutuhan yang diperlukannya.

Dalam bukunya, Mulyasa (2011) menerangkan bahwa seorang guru dalam hal melaksanakan tugasnya sebagai pelaksana pendidikan pasti menginginkan dirinya untuk tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik dan berkualitas. Kreativitas merupakan titik pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis yaitu intelegensi, gaya kognitif, dan kepribadian atau motivasi. Secara bersamaan tiga segi dalam pikiran ini membantu memahami apa yang melatar belakangi individu yang kreatif. Intelegensi meliputi kemampuan verbal, pemikiran lancar, pengetahuan, perumusan masalah, penyusunan strategi, representasi mental, keterampilan pengambilan keputusan dan keseimbangan serta integrasi intelektual secara umum.

Gaya kognitif atau intelektual dari pribadi kreatif menunjukkan kelonggaran dan keterikatan konvensi, menciptakan aturan sendiri, melakukan hal-hal dengan caranya sendiri dan menyukai masalah yang tidak terlalu berstruktur. Sedangkan dimensi kepribadian dan motivasi meliputi ciri-ciri seperti kelenturan, dorongan untuk berprestasi dan mendapat pengakuan keuletan dalam menghadapi rintangan dan pengambilan resiko yang moderat. Faktor eksternal juga sangat berpengaruh pada dorongan dan potensi dari dalam, yaitu pengaruh-pengaruh yang datangnya dari luar yang dapat mendorong guru untuk mengembangkan diri. Faktor eksternal ini dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu; 1) latar belakang pendidikan guru; 2)

(11)

pelatihan – pelatihan guru dan organisasi keguruan; 3) pengalaman mengajar guru dan 4) kesejahteraan guru.

1) Latar Belakang Pendidikan Guru

Guru yang berkualifikasi profesional, yaitu guru yang tahu secara mendalam tentang apa yang diajarkannya, cakap dalam mengajarkannya secara efektif dan efisien dan guru tersebut berkepribadian yang mantap. Untuk mewujudkan guru yang cakap dan ahli tentunya diutamakan dari lulusan lembaga pendidikan keguruan. Karena kecakapan dan kreativitas seorang guru yang profesional bukan sekedar hasil pembicaraan atau latihan-latihan yang terkondisi, tetapi perlu pendidikan yang terprogram secara relevan serta berbobot, terselenggara secara efektif dan efisien dan tolak ukur evaluasinya terstandar.

2) Pelatihan – Pelatihan Guru dan Organisasi Keguruan

Pelatihan-pelatihan dan organisasi sangat bermanfaat bagi guru dalam mengembangkan pengetahuannya serta pengalamannya terutama dalam bidang pendidikan. Dengan mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, guru dapat menambah wawasan baru bagaimana cara-cara yang efektif dalam proses pembelajaran yang sedang dikembangkan saat ini dan kemudian diterapkan atau untuk menambah perbendaharaan wawasan, gagasan atau ide-ide yang inovatif dan kreatif yang akan semakin meningkatkan kualitas guru.

3) Pengalaman Mengajar Guru

Seorang guru yang telah lama mengajar dan telah menjadikannya sebagai profesi yang utama akan mendapat pengalaman yang cukup dalam

(12)

pembelajaran. Hal ini pun juga berpengaruh terhadap kreativitas dan keprofesionalismenya, cara mengatasi kesulitan, yang ada dan sebagainya. Pengalaman mendorong guru untuk lebih kreatif lagi dalam menciptakan cara-cara baru atau suasana yang lebih edukatif dan menyegarkan.

4) Kesejahteraan Guru

Tidak dapat dipungkiri bahwa guru adalah juga seorang manusia biasa yang tak terlepas dari berbagai kesulitan hidup, baik hubungan rumah tangga, dalam pergaulan sosial, ekonomi, kesejahteraan, ataupun masalah apa saja yang akan mengganggu kelancaran tugasnya sebagai seorang guru dalam proses pembelajaran. Gaji yang tidak seberapa ditambah dengan keadaan ekonomi negara saat ini sedang dilanda krisis berpengaruh pada kesejahteraan guru. Oleh karena itu, tidak sedikit guru yang berprofesi ganda misalnya seorang guru sebagai tukang ojek demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kreativitas guru dalam kegiatan pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut maka peningkatan kesejahteraan, pengembangan kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, penjaminan memperoleh layanan kesehatan jasmani dan rohani, merupakan instrument kebijakan guna meningkatkan profesionalisme guru, implementasinya harus menyentuh sasaran dengan tepat berdasarkan prinsip-prinsip keadilan, sehingga guru memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

(13)

d. Manajemen Kelas

Menurut Karwati dan Priasan (2014: 5) manajemen merupakan rangkaian usaha yang dilakukan guru untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan memanfaatkan peserta didik, sedangkan yang dimaksud kelas adalah kelompok peserta didik yang melakukan kegiatan belajar bersama sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dengan guru sebagai manajer utama.

Manajemen kelas menurut Mulyasa (2011:91) merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran. Jadi manajemen kelas yang dimaksud merupakan keterampilam yang harus dimiliki guru agar tercipta iklim pembelajaran yang kondusif sehingga guru dapat mengendalikan kelas.

e. Komponen – Komponen Keterampilan Manajemen Kelas

Komponen – komponen keterampilan manajemen kelas dibagi menjadi dua bagian yaitu: 1) keterampilan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar dan, 2) keterampilan pengendalian kondisi belajar.

1) Keterampilan Penciptaan dan Pemeliharaan Kondisi Belajar

Dalam keterampilan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang kondusif terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan, meliputi; a) menunjukkan sikap tanggap, b) membagi perhatian, c) memusatkan perhatian kelompok, d) memberikan petunjuk dengan jelas, e) menegur dan, f) memberikan penguatan.

(14)

a) Menunjukkan Sikap Tanggap

Guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul dari peserta didik dan memberikan berbagai tanggapan secara proporsional terhadap perilaku tersebut.

b) Membagi Perhatian

Perhatian guru tidak hanya terfokus pada satu siswa atau satu kelompok tertentu saja yang dapat menimbulkan kecemburuan, perhatian guru harus terbagi dengan merata kepada setiap peserta didik yang ada di dalam kelas.

c) Memusatkan Perhatian Kelompok

Munculnya kelompok informal di kelas, atau pengelompokkan karena disengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama jika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diseleseikan.

d) Memberikan Petunjuk dengan Jelas

Tugas guru menyampaikan setiap pelaksanaan tugas – tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan peserta didik secara bertahap dan jelas.

e) Menegur

Permasalahan bisa terjadi dalam hubungan yang terbangun, baik antar peserta didik maupun antara guru dengan peserta didik sehinggaguru sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran yang sesuai dengan beban permasalahan yang terjadi serta menyesuaikan dengan tugas dan perkembangan peserta didik.

(15)

f) Memberikan Penguatan

Penguatan merupakan upaya yang diarahkan guru agar prestasi dan perilaku yang baik dapat dipertahankan oleh peserta didik atau bahkan dapat ditingkatkan dan ditularkan kepada peserta didik lainnya.

2) Keterampilan Pengendalian Kondisi Belajar

a) Memodifikasi Tingkah Laku

Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk – bentuk tingkah laku ke dalam tuntutan kegiatan pembelajaran sehinggan tidak muncul prototype pada diri peserta didik tentang peniruan perilaku yang kurang baik.

b) Pengelolaan Kelompok

Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran, maka kelompok yang ada di kelas itu harus di kelola dengan baik oleh guru.

c) Menemukan dan Memecahkan Tingkah Laku yang Menimbulkan

Masalah

Guru harus dapat mendeteksi permasalahan yang muncul serta secepatnya mampu mengambil langkah – langkah penyeleseian sehingga permasalahan tersebut akan cepat teratasi.

3. Minat Belajar

Menurut Slameto (2010:180) minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Sedangkan menurut Skinner dalam buku Syaiul Sagala (2003:14), belajar adalah suatu proses adaptasi / penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Slameto (2010:2) menyatakan bahwa belajar kialah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan

(16)

tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Berdasarkan pengertian minat dan belajar diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud minat belajar adalah sesuatu keinginan atas kemauan yang disertai perhatian dan keaktifan yang di sengaja yang akhirnya melahirkan rasa senang dalam perubahan tingkah laku, baik berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan.

B.Kajian Penelitian yang Relevan

Berikut adalah beberapa penelitian yang terkait:

1. Nanik Haryati (2015) yang berjudul “Hubungan minat belajar dengan prestasi belajar matematika siswa kelas V sd se-gugus Wonokerto Turi Sleman tahun ajaran 2014 – 2015”. Hasil menunjukkan bahwa penelitian terdahulu meneliti tentang minat belajar dengan prestasi belajar Matematika, tujuan penelitian terdapat perbedaan yakni penelitian terdahulu memuat tentang bagaiamana untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan yang positif dan signifikkan antara minat belajar dan prestasi belajar Matematika di SD Se-Gugus Wonokerto Turi Sleman. Penelitian terdahulu menggunakan jenis pendekatan berupa pendekatan kuantitatif dan teknik pengumpulan data menggunakan skala psikologi dan dokumentasi. Penelitian terdahulu menggunakan uji hipotesis. Penelitian terdahulu menggunakan teknik analisis statistic deskriptif dan statistic inferensial. Penelitian bertempat di Wonokerto Turi Sleman dan penelitian terdahulu dilakukan pada tahun 2015.

(17)

2. “Pengaruh Kreatifitas Guru Dalam Mengajar Terhadap Prestasi Belajar Rumpun Pai Siswa Kelas V Di Mi Nu Ngadiwarno Sukorejo Kendal” oleh Nur Kholis (2010). Penelitian ini memiliki kesamaan dan perbedaan dengan penelitian yang peneliti lakukan. Persamaannya yaitu sama-sama ingin mengetahui bagaimana kreativitas guru dan minat belajar siswa. Sedangkan perbedaannya adalah pendekatan penelitian menggunakan ex post facto. Sumber data pada penelitian terdahulu yaitu kepala sekolah, guru dan siswa kelas V. Penelitian terdahulu dijadikan tolak ukur dan pembanding dengan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian terdahulu juga lebih menekankan pada pengaruh kreativitas guru terhadap prestasi belajar siswa.

C.Kerangka Pikir

Adanya hubungan antara kreativitas guru dengan minat belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas II SD Muhammadiyah 08 DAU yang sedang dikaji diharapkan mampu meningkatkan kreativitas guru dalam menumbuh kembangkan minat belajar siswa.

(18)

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Peneliti SD Muhammadiyah 08 DAU

Siswa

Kognitif Afektif Psikomotor Guru Kompetensi Kepribadian Kompetensi Profesional Kompetensi Sosial Kompetensi Pedagodik

Kreativitas Guru Minat Belajar

- Metode Wawancara - Metode Observasi - Metode Dokumentasi - Teknik Kuisioner Hubungan Kreativitas Guru dengan Minat

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :