Contoh Laporan Kasus Puskesmas

24  20  Download (0)

Teks penuh

(1)

LAPORAN KASUS

Oleh:

Vita Delia – 07120090022

UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

November, 2010

(2)

1. Penyakit Akut

Pada contoh penyakit akut diambil kasus Infeksi Saluran Kemih dengan keadaan demografis pasien sebagai berikut:

Nama : Ny. N

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 35 tahun

Alamat : Cikupa

Pekerjaan : Bagian Quality Control di pabrik sepatu

Agama : Islam

Status: : Menikah

No. Rekam Medis : 128 560

A. Anamnesis

 Keluhan Utama:

- Vagina terasa panas pada saat buang air kecil

 Riwayat Penyakit Sekarang:

- Pasien merasakan perih dan panas pada bagian alat kelamin setiap kali buang air

kecil sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengalami keputihan dan merasakan pegal/kram di bagian bawah pusar, selain itu, perutnya juga terasa kembung dan mual. Pasien sudah memakai obat Kejibeling untuk meredam rasa panas serta perih. Keluhan tidak mengganggu aktivitas dan pasien masih bisa bekerja seperti biasanya.

 Riwayat Penyakit Terdahulu:

- Pernah mengalami hal yang sama 1 kali, saat itu juga diobati dengan obat

Kejibeling lalu sembuh. Pasien tidak pernah menderita penyakit dengan gejala lain pada daerah tersebut.

 Riwayat Penyakit Keluarga:

- Adik perempuan kandung juga mengalami hal yang sama.

(3)

- Warna pipis normal (bening agak kekuningan), tidak ada nanah atau kristal yang

menyertai.

- Terkadang gatal pada bagian kelamin

B. Pemeriksaan Fisik

 Pemeriksaan Tanda-tanda Vital:

- Suhu Tubuh: 37,5oC

 Inspeksi:

- Kondisi pasien tampak cukup sehat untuk mengutarakan keluhan. Inspeksi pada

bagian bawah perut tidak ditemukan adanya pembengkakan, luka, warna kulit normal.

 Palpasi:

- Pemberian sedikit tekanan pada bagian bawah perut tidak membuat pasien gelisah

atau merasa sakit.  Perkusi:

- Metode perkusi tidak dilakukan.

 Auskultasi:

- Metode auskultasi tidak dilakukan.

C. Pemeriksaan Penunjang

 Tidak ada riwayat pemeriksaan penunjang pada pasien serta tidak dilakukan pemeriksaan penunjang pada pasien

D. Rangkuman

Pasien mengalami rasa perih dan panas setiap kali buang air kecil sejak 3 hari yang lalu dengan warna urin normal dan sudah diobati dengan Kejibeling namun tidak sembuh. Pasien merasakan gatal, adanya keputihan, juga kram pada bagian hipogastrik hingga umbilical. Tidak ada tanda-tanda deformitas, bengkak, atau bekas trauma pada bagian hipogastrik (pubis), pemberian tekanan tidak memberikan rasa sakit, apabila perkusi dilakukan normalnya menghasilkan bunyi timpanik atau pekak jika terdapat urin pada vesica urinaria, auskultasi normalnya tidak ada bruit dan bunyi usus normal. Dahulu pasien pernah mengalami penyakit

(4)

yang sama dan diobati dengan Kejibeling namun sembuh. Adik perempuan kandung pasien juga mengalami hal yang sama.

E. Diagnosa dan Pengobatan  Diagnosa:

- Batu Ginjal (Obstruksi Saluran Kemih)

Analisis: terdapat rasa nyeri atau perih pada saluran kemih, rasa nyeri menyebar (radiasi) ke bagian perut sehingga menimbulkan kram/pegal

 Diagnosa Banding:

- Uretritis (Infeksi Saluran Kemih)

Analisis: warna urin normal, tidak ada pendarahan pada saat mengeluarkan urin, tidak ada nanah atau kristal yang keluar bersama urin

 Pengobatan:

- Paracetamol: untuk mengurangi rasa nyeri - Sodium Bicarbonate: penambah elektrolit

- Clotrimazole: untuk menyerang infeksi jamur pada vagina

 Reaksi Pasien terhadap Penyakit:

- Feeling: Pasien merasa gejala yang dialaminya bukan merupakan sesuatu yang

darurat

- Insight: Wawasan pasien mengenai penyakitnya cukup, ia menduga bahwa

penyakitnya berhubungan dengan ginjal karena ia memberikan obat Kejibeling, yakni obat herbal yang dapat mengobati gangguan pada ginjal dan saluran kemih.

- Function: Gejala yang dialami pasien tidak mengganggu aktivitasnya sehari-hari,

pasien masih bisa bekerja seperti biasanya.

- Expectation: Harapan pasien mengenai penyakitnya paling tidak rasa perih

maupun panas yang dirasakan saat buang air kecil hilang.  Rekomendasi:

- Perbanyak minum air: membantu mengeluarkan batu ginjal.

- Jangan meminum kopi atau es teh untuk sementara waktu: mengandung zat

(5)

F. Tinjauan Penyakit

Batu Ginjal di dalam saluran kemih adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis). Batu di dalam kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat). Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah dalam. Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam air kemih. Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal. Batu yang tidak menimbulkan gejala, mungkin akan diketahui secara tidak sengaja pada pemeriksaan analisa air kemih rutin (urinalisis). Batu yang menyebabkan nyeri biasanya didiagnosis berdasarkan gejala kolik renalis, disertai dengan adanya nyeri tekan di punggung dan selangkangan atau nyeri di daerah kemaluan tanpa penyebab yang jelas. Analisa air kemih mikroskopik bisa menunjukkan adanya darah, nanah atau kristal batu yang kecil. Batu kecil yang tidak menyebabkan gejala, penyumbatan atau infeksi, biasanya tidak perlu diobati. Minum banyak cairan akan meningkatkan pembentukan air kemih dan membantu membuang beberapa batu; jika batu telah terbuang, maka tidak perlu lagi dilakukan pengobatan segera.

(6)

2. Penyakit Kronis

Pada contoh penyakit kronis diambil kasus Infeksi Tuberkulosis Paru dengan keadaan demografis pasien sebagai berikut:

Nama : Ny. K

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 70 tahun

Alamat : Cikupa

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Agama : Islam

Status : Menikah

No. Rekam Medis : 111 730

A. Anamnesis

 Keluhan Utama:

- Batuk berdahak

 Riwayat Penyakit Sekarang:

- Pasien menderita batuk berdahak dengan warna putih kental sudah semenjak 5

tahun yang lalu. Pasien sudah mengobatinya dengan OBH sejak 5 tahun lalu dan sudah sering kontrol ke puskesmas. Namun terkadang pasien sering tidak meminum obat karena lupa. Batuk tidak mengganggu aktivitas sehari-hari pasien. Pasien jarang batuk di pagi hari. Selain itu, pasien juga merasakan perut yang kembung, sakit pinggang, serta pusing.

 Riwayat Penyakit Terdahulu:

- Pasien pernah didiagnosis Tuberkulosis Paru. Sebelum itu, pasien tidak pernah

mengalami hal yang sama, hanya batuk biasa karena infeksi jangka pendek. 1 tahun lalu, batuk sempat mengeluarkan dahak yang bercampur dengan darah.  Riwayat Penyakit Keluarga:

- Seluruh anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang sama.

 Lain-lain:

(7)

- Pasien tidak pernah mengalami sesak nafas.

- Pasien tidak merokok dan tidak pernah mengkonsumsi alcohol.

B. Pemeriksaan Fisik

 Pemeriksaan Tanda-tanda Vital:

- Tidak dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital.

 Inspeksi:

- Kondisi pasien tampak cukup sehat untuk mengutarakan keluhan dan tidak sambil

terbatuk-batuk. Inspeksi pada bagian dada tampak normal, tidak ada deformitas, atau variasi bentuk dada serta kelainan lainnya.

 Palpasi:

- Metode palpasi tidak dilakukan.

 Perkusi:

- Metode perkusi tidak dilakukan.

 Auskultasi:

- Metode auskultasi tidak dilakukan.

C. Pemeriksaan Penunjang  Radiologi:

- Pernah dilakukan foto rontgen bagian dada dengan hasil ‘Infiltrat Paru’.

 Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang untuk riwayat penyakit sekarang D. Rangkuman

Pasien mengalami batuk dengan sputum berwarna putih kental sejak 5 tahun yang lalu. 1 tahun lalu, dahak pernah bercampur dengan darah berwarna merah terang. Pasien sudah mengobati batuk dengan OBH expectorant. Pasien berstatus putus obat (selama 5 tahun ini tidak benar-benar rajin mengkonsumsi obat). Pasien juga mengidap alergi debu. Pemeriksaan Foto X-Ray Thorax pernah dilakukan dengan hasil infiltrate pada apex paru. Tidak dilakukan pemeriksaan fisik yang lengkap, namun apabila dilakukan, seharusnya perkusi paru menghasilkan suara paru tumpul dan pada aukultasi terdengar rhonchi basah. Apabila dilakukan pemeriksaan radiologi ulang, kemungkinan adanya infiltrate pada paru serta adanya kavitas pada apex paru.

(8)

E. Diagnosa dan Pengobatan  Diagnosa:

- Tuberkulosis Paru

Analisis: batuk kronis, pernah ada riwayat hemoptysis, riwayat foto x-ray dengan hasil infiltrate paru,

 Diagnosa Banding:

- Tuberculosis paru dengan HIV

Analisis: batuk menahun, tidak diketahuinya adanya imunosupresi atau tidak  Pengobatan:

- Glyceril guaiacolate: obat batuk untuk mengencerkan dahak - Multivitamin dan Mineral: menambah daya tahan tubuh

 Reaksi Pasien terhadap Penyakit:

- Feeling: Pasien kemungkinan merasa batuk yang dialami tidak bisa sembuh namun

dia masih terlihat tenang.

- Insight: Pasien mengetahui dengan baik penyakit yang ia derita, yakni Tuberkulosis

Paru.

- Function: Gejala yang dialami pasien tidak mengganggu aktivitasnya sehari-hari, ia

masih bisa bermain-main dengan cucu dan sedikit mengurusi urusan rumah tangga.

- Expectation: Pasien berharap batuknya bisa berkurang dan terkontrol namun tidak

harus buru-buru.  Rekomendasi:

- Istirahat cukup

F. Tinjauan Penyakit

Tuberkulosis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Bakteri yang biasanya menginfeksi ialah kompleks Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini biasanya menyerang paru-paru (disebut sebagai TB Paru), walaupun pada sepertiga kasus, organ-organ lain ikut terlibat (disebut sebagai TB Ekstrapulmoner). TB Paru merupakan penyakit infeksi yang kronik (menahun) dengan gejala batuk kronik, bahkan jika sudah parah, batuk yang berdahak juga akan mengeluarkan darah (disebut dengan Hemoptysis). TB Paru dapat menyerang anak-anak

(9)

maupun orang dewasa. Biasanya, dengan daya tahan tubuh yang kuat, TB bisa sembuh sendiri dengan system kekebalan tubuh (TB Paru Primer). Sebaliknya, apabila daya tahan tubuh sedang lemah, TB dapat menyerang secara berulang sehingga disebut TB Paru Sekunder. Penyebaran bakteri M. Tuberculosis ialah secara droplet. Diagnosis TB Paru biasanya ialah dengan melakukan radiologi X-Ray dengan ciri khas Infiltrat Paru dan adanya kavitas, kultur sputum (dahak) lalu melakukan pemeriksaan mikroskopis dengan metoda Ziehl-Neelsen. Cara mencegah infeksi dari bakteri ini adalah dengan memperkuat system imun pada tubuh. Pengobatan untuk Tuberkulosis paru terdapat 2 tahap. Tahap pertama yakni Isoniazid, Rifampin, Pyrazinamide, Ethambutol, serta obat tambahan seperti Streptomycin. Tahap keduanya ialah golongan Quinolone. Pengobatan TB Paru dilakukan dengan cukup intensif khususnya di Indonesia, oleh karena itu kesungguhan pasien dalam menuruti konsumsi dari obat sangatlah penting.

(10)

3. Malnutrisi

Pada contoh penyakit yang disebabkan oleh malnutrisi (kurang gizi) diambil kasus Diare dengan keadaan demografis pasien sebagai berikut:

Nama : Sdi. Em

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 14 bulan

Berat Lahir : 3,8 kg

Berat Sekarang : 7,2 kg

Umur Persalinan : Cukup

Anak ke : 1

Alamat : Sukamulya 02

Cikupa, RT 11 RW 05

Pekerjaan : -

Agama : Islam

Status : Beium Menikah

No. Rekam Medis : 150 320

A. Anamnesis

 Keluhan Utama:

- Mencret

 Riwayat Penyakit Sekarang:

- Pasien menderita mencret berupa air 3 kali per hari sejak kemarin. Nafsu makan

pasien berkurang, hanya sekitar 4-5 suap. Pasien mampu mengisap ASI namun hanya sedikit. Pasien juga mengalami perut yang kembung. Mencret belum pernah diobati.

 Riwayat Penyakit Terdahulu:

- Pasien tidak pernah menderita hal yang sama sebelumnya. Pasien pernah

menderita batuk dan pilek beberapa bulan yang lalu.  Riwayat Penyakit Keluarga:

- Seluruh anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang sama.

Data Orangtua

Nama Ayah : Tn. R

Umur : 26 tahun

Pekerjaan : Karyawan

Nama Ibu : Ny. H

Umur : 24 tahun

(11)

 Lain-lain:

- Tidak ada alergi pada pasien

- Status imunisasi tidak diketahui karena yang membawa pasien adalah kakak

kandungnya B. Pemeriksaan Fisik

 Pemeriksaan Tanda-tanda Vital:

- Suhu Tubuh: 36,5oC

- Berat bayi di bawah garis normal pada grafik persentil (pada bagian berwarna

putih).  Inspeksi:

- Kondisi pasien tampak sedikit gelisah namun tidak sedang menangis. Pasien

terlihat kurus. Tidak ada kelainan pada pasien.  Palpasi:

- Metode palpasi tidak dilakukan.

 Perkusi:

- Metode perkusi tidak dilakukan.

 Auskultasi:

- Metode auskultasi tidak dilakukan.

C. Pemeriksaan Penunjang

 Tidak ada riwayat pemeriksaan penunjang pada pasien serta tidak dilakukan pemeriksaan penunjang pada pasien.

D. Rangkuman

Pasien mengalami diare dengan karakteristik feses cair sejak kemarin dengan frekuensi 3x/hari. Nafsu makan pasien berkurang dan pasien tampak sedikit gelisah. Pasien terlihat kurus, kemungkinan dikarenakan oleh asupan makanan yang kurang. Apabila palpasi dilakukan, kemungkinan bagian abdominal akan terasa sedikit keras karena berisi udara, perkusi akan sangat timpanik, dan pada auskultasi kemungkinan terdengar bising usus atau terdengar suara udara karena distensi pada abdominal.

(12)

E. Diagnosa dan Pengobatan  Diagnosa:

- Gizi Buruk

Analisis: pasien tidak makan secara teratur dan nafsu makannya berkurang

- Diare

Analisis: Feses pasien mengandung air yang berlebihan  Diagnosa Banding:

- Infeksi Cacing

Analisis: Nafsu makan berkurang serta diare  Pengobatan:

- Formula75: suplemen makanan

- Vitamin B-Complex: untuk menambah daya tahan tubuh dan mencegah defisiensi

vitamin B

- Zinc: meningkatkan energy dan stamina - Pyrantel Pamoate: mencegah infeksi cacing

 Reaksi Pasien terhadap Penyakit:

- Feeling: Pasien tampak sedikit gelisah namun tidak diketahui pasti karena tidak

ada kontak langsung dengan pasien.

- Insight: Pasien tidak tahu mengenai penyakit yang dialaminya.

- Function: Gejala yang dialami sering kali mengganggu pasien karena sering kali

menangis

- Expectation: Pasien ingin penyakitnya cepat sembuh.

 Rekomendasi:

- Pemberian makan diperbanyak dan teratur

F. Tinjauan Penyakit

Malnutrisi adalah suatu istilah umum yang merujuk pada kondisi medis yang disebabkan oleh diet yang tak tepat atau tak cukup. Penentuan seseorang malnutrisi atau tidak dapat dilihat dari berat badannya. Pada bayi, terdapat KMS (Kartu Menuju Sehat) yang di dalamnya terdapat grafik persentil yang dapat menentukan normal tidaknya berat bayi tersebut. Seseorang akan

(13)

mengalami malnutrisi jika tidak mengkonsumsi jumlah atau kualitas nutrien yang mencukupi untuk diet sehat selama suatu jangka waktu yang

cukup lama. Malnutrisi yang

berlangsung lama dapat

mengakibatkan kelaparan, penyakit, dan infeksi. Diare sendiri ialah sebuah penyakit di mana penderita mengalami rangsangan buang air besar yang terus-menerus dan tinja atau feses yang masih memiliki kandungan air berlebihan. Diare bisa disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri karena daya tahan tubuh yang lemah seperti pada orang yang malnutrisi. Diare disebabkan oleh gangguan penyerapan di usus besar (colon). Normalnya, makanan yang kita makan mengandung air dan air tersebut akan diserap oleh tubuh melalui dinding colon. Apabila colon mengalami infeksi, makan kerja dari colon menjadi tidak baik sehingga penyerapan air pun terganggu dan air akan dikeluarkan bersama-sama dengan feses. Oleh karena itu, penderita diare harus mengkonsumsi banyak air agar tidak mengalami dehidrasi. Gejala yang biasanya ditemukan pada penderita diare adalah buang air besar terus menerus disertai mual dan muntah. Perawatan untuk diare melibatkan pasien mengkonsumsi sejumlah air yang mencukupi untuk menggantikan yang hilang, lebih baik bila dicampur dengan elektrolit untuk menyediakan garam yang dibutuhkan dan sejumlah nutrisi.

(14)

4. Pediatri

Pada contoh penyakit yang dialami balita diambil kasus Infeksi Saluran Pernafasan Atas dengan keadaan demografis pasien sebagai berikut:

Nama : Nn. I

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 4 tahun 9 bulan

Berat : 15 kg

Alamat : Cihideng, Cikupa

Tingkat Pendidikan : Taman Kanak-kanak

Agama : Islam

Status : Beium Menikah

Nomor Rekam Medis : 121 890 A. Anamnesis

 Keluhan Utama:

- Batuk dan pilek

 Riwayat Penyakit Sekarang:

- Pasien menderita batuk serta pilek sejak 1 bulan yang lalu, namun 3 hari yang lalu

semakin parah. Batuk berdahak berwarna putih lendir. Pasien tidak ada demam. Batuk serta pilek tidak mengganggu aktivitas pasien, pasien masih tetap bisa bersekolah dan bermain bersama teman-temannya. Batuk dan pilek sudah diobati dengan OBH sejak 1 bulan yang lalu tapi tidak sembuh. Tidak ada gejala lain yang menyertai pasien.

 Riwayat Penyakit Terdahulu:

- Pada tahun 2009, pasien pernah mengalami batuk yang sama dan didiagnosis

batuk karena adanya infeksi pada saluran pernafasan atas. Batuk sudah diobati dengan obat ekspektoran dan antibiotik lalu sembuh, setelah 3 bulan ia tidak mengkonsumsi obat tersebut lalu kambuh.

(15)

- Seluruh anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang sama. Nenek

pernah mengalami batuk kronis. Teman-temannya di sekolah ada yang mengalami gejala batuk kronis yang sama.

 Lain-lain:

- Tidak ada alergi pada pasien. - Nafsu makan pasien normal.

B. Pemeriksaan Fisik

 Pemeriksaan Tanda-tanda Vital:

- Suhu Tubuh: 37oC

 Inspeksi:

- Kondisi pasien tampak sehat-sehat saja namun sering kali batuk dan berdahak

namun ditelan.  Palpasi:

- Metode palpasi tidak dilakukan.

 Perkusi:

- Metode perkusi tidak dilakukan.

 Auskultasi:

- Metode auskultasi tidak dilakukan.

C. Pemeriksaan Penunjang  Radiologi:

- Pasien pernah melakukan foto rontgen dan hasilnya baik dan normal.

 Laboratorium:

- Pasien pernah melakukan tes darah dan hasilnya normal.

 Pasien tidak pernah melakukan Tes Mantoux (Tes Kulit) D. Rangkuman

Pasien mengalami batuk sejak 1 bulan yang lalu dan 3 hari ini semakin parah. Batuk sudah diobati dengan OBH namun tidak sembuh. Tidak ada gejala lain yang menyertai. Lingkungan keluarga pasien bagus namun ada beberapa teman-teman pasien di lingkungan sekolah

(16)

mengalami gejala batuk kronis yang mirip. Pernah dilakukan tes radiologi serta laboratorium pada pasien dan hasilnya semuanya normal.

E. Diagnosa dan Pengobatan  Diagnosa:

- Infeksi Saluran Pernafasan Atas

Analisis: pasien mengalami batuk berdahak serta pilek.  Diagnosa Banding:

- Tuberkulosis Paru

Analisis: Batuk berulang. Batuk yang kali ini sudah 1 bulan (kronis)  Pengobatan:

- Vitamin: suplemen makanan

- Clotrimazole sirup: untuk mencegah infeksi

- Glyceryl guaiacolate: sebagai obat batuk expectorant - GKM

 Reaksi Pasien terhadap Penyakit:

- Feeling: Pasien merasa penyakitnya bukan merupakan penyakit yang berbahaya

atau harus segera ditangani.

- Insight: Pasien berusaha untuk mengetahui penyakit apa yang ia alami karena

penyakitnya sudah lama dan tidak sembuh-sembuh, serta hasil tes yang pernah dilakukan selama ini adalah baik.

- Function: Batuk dan pilek yang dialami pasien tidak mengganggu aktivitas

bermainnya sehari-hari.

- Expectation: Pasien ingin cepat mengetahui apa penyebab dari batuk kronis yang

ia alami.  Rekomendasi:

- Rujuk ke Rumah Sakit untuk melakukan pengulangan tes laboratorium, foto X-Ray,

(17)

F. Tinjauan Penyakit

Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernapasan, hidung, sinus, faring, atau laring. ISPA merupakan suatu penyakit terbanyak yang paling sering terjadi. Kebanyakan ISPA terjadi karena berbagai macam infeksi yang disebabkan dari 300 lebih jenis bakteri, virus, dan jamur. ISPA akan menjadi sangat berbahaya apabila sudah berkembang menjadi pneumonia, pada saat ISPA yang tidak dirawat atau diberikan pengobatan menjadi pneumonia, keadaan gawat dapat terjadi dan dapat menyebabkan kematian. Gejala yang timbul pada ISPA meliputi batuk, pilek, sesak nafas, panas atau demam. Faktor risiko yang dapat menyebabkan kematian akibat ISPA adalah umur di bawah dua bulan, kurang gizi, berat badan lahir rendah, tingkat pendidikan ibu rendah, jauhnya tempat pelayanan kesehatan. ISPA dapat dicegah dengan cara antara lain mengusahakan anak mempunyai gizi yang baik, memperkuat kekebalan tubuh dengan imunisasi, menjaga kebersihan perorangan serta lingkungan, serta pengobatan sesegera mungkin apabila positif terkena ISPA. ISPA yang disebabkan oleh virus tidak perlu diobati karena virus akan mati dalam waktu 4-5hari. Sedangkan ISPA yang disebabkan oleh bakteri ataupun mikroorganisme lainnya harus diobati dengan antibiotic, dan obat-obatan lainnya tergantung pada jenis mikroorganisme yang menginfeksi saluran pernafasan.

(18)

5. Geriatri

Pada contoh penyakit yang dialami lansia diambil kasus Hipertensi dengan keadaan demografis pasien sebagai berikut:

Nama : Tn. R

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 70 tahun

Alamat : Lampung

Pekerjaan : Pensiun

Agama : Islam

Status : Menikah

No. Rekam Medis : 118 509

A. Anamnesis

 Keluhan Utama:

- Darah tinggi

 Riwayat Penyakit Sekarang:

- Pasien mengalami darah tinggi sejak 30 tahun yang lalu. Gejala lain yang

menyertai adalah sesak nafas, pusing, dan panas. Pasien tidak merasa terganggu dengan keluhannya dan hanya ingin mengontrolnya.

 Riwayat Penyakit Terdahulu:

- Pasien sudah mengalami darah tinggi semenjak 30 tahun yang lalu.

 Riwayat Penyakit Keluarga:

- Seluruh anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang sama.

 Lain-lain:

- Pasien memiliki bisul pada paha.

B. Pemeriksaan Fisik

 Pemeriksaan Tanda-tanda Vital:

- Tekanan darah: 200/70 mmHg

(19)

- Kondisi pasien tampak sehat-sehat saja.

 Palpasi:

- Metode palpasi tidak dilakukan.

 Perkusi:

- Metode perkusi tidak dilakukan.

 Auskultasi:

- Metode auskultasi tidak dilakukan.

C. Pemeriksaan Penunjang

 Tidak ada riwayat pemeriksaan penunjang pada pasien serta tidak dilakukan pemeriksaan penunjang pada pasien.

D. Rangkuman

Pasien menderita hipertensi dengan tekanan darah 200/70 mmHg. Gejala yang menyertai adalah sesak nafas, pening, serta panas. Gejala tidak mengganggu aktivitas sehari-hari pasien. Anggota keluarga pasien semua sehat dan tidak ada yang mengalami gejala yang sama atau pun hipertensi.

E. Diagnosa dan Pengobatan  Diagnosa:

- Hipertensi Stadium 2

Analisis: pasien memiliki tekanan darah yang tinggi (sistolik >160 mmHg)  Diagnosa Banding:

- Infeksi akut

Analisis: badan panas, adanya bisul (peradangan) pada paha  Pengobatan:

- Beta-blocker: menurunkan tekanan darah

 Reaksi Pasien terhadap Penyakit:

- Feeling: Pasien merasa tenang dengan tekanan darahnya yang tinggi karena

sudah lama ia mengalaminya.

(20)

- Function: Tekanan darah yang tinggi tidak mengganggu aktivitas pasien sehari-hari. - Expectation: Pasien ingin tekanan darah tingginya terkontrol atau diharapkan bisa

normal kembali.  Rekomendasi:

- Mengurangi konsumsi garam dan olahraga teratur

F. Tinjauan Penyakit

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi atau kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis. Klasifikasi dari hipertensi pada dewasa menurut JNC-7 ialah sebagai berikut:

Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik

Normal < 120 mmHg (dan) < 80 mmHg

Pre-hipertensi 120-139 mmHg (atau) 80-89 mmHg

Stadium 1 140-159 mmHg (atau) 90-99 mmHg

Stadium 2 >= 160 mmHg (atau) >= 100 mmHg

Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis. Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.

Terdapat 6 kelas yang digunakan untuk hipertensi yakni obat diuretic, ACE Inhibitor, Angiotensin II Receptor Blocker, Beta-blocker, Calcium Channel Blocker, dan Aldosterone.

(21)

6. Maternal

Pada contoh maternal diambil kasus gejala yang menyertai ibu hamil dengan keadaan demografis pasien sebagai berikut:

Nama : Ny. Ty

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 23 tahun

Alamat : Cikupa

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Agama : Islam

Status : Menikah

No. Rekam Medis : 131 977

A. Anamnesis

 Keluhan Utama:

- Pusing, perut mules, lemas, kaki bengkak.

 Riwayat Penyakit Sekarang:

- Pasien sering kali merasakan pusing serta sakit perut semenjak beberapa hari

yang lalu. Kaki pasien juga tiba-tiba bengkak beberapa hari yang lalu. Aktivitas pasien tidak terganggu oleh keluhan yang diutarakan. Pasien merasakan adanya pengurangan nafsu makan serta sering lelah.

 Riwayat Penyakit Terdahulu:

- Selama hamil, pasien beberapa kali mual, mudah lelah, serta sering pusing.

Namun gejala-gejala tersebut tidak mengganggu aktivitas pasien sehingga obat-obatan untuk mengurangi gejala tidak dikonsumsi.

 Riwayat Penyakit Keluarga:

- Seluruh anggota keluarga terutama suami sehat.

 Lain-lain:

- Riwayat Hamil:

o Riwayat Menstruasi:

 HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir): 19-03-10 Nama Suami : Tn. W Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 26 tahun

Alamat : Cikupa

Pekerjaan : Karyawan

Agama : Islam

(22)

 HTP (Hari Taksiran Persalinan): 26-12-10

 Pergerakan Fetus: >10 per hari

 Pergerakan Fetus Pertama Kali: 3 minggu

 Pola Makan: 3 kali per hari, porsi makan berkurang

 Aktivitas Sehari-hari: ibu rumah tangga

 Imunisasi: Belum pernah

o Riwayat Hamil yang Lalu: kehamilan yang pertama

- Riwayat Kesehatan:

o Alat Kontrasepsi: mengkonsumsi pil KB 2 bulan sebelum kehamilan.

o Pasien tidak mengkonsumsi rokok, alcohol, atau obat-obatan.

B. Pemeriksaan Fisik

 Pemeriksaan Tanda-tanda Vital:

- Tekanan darah : 110/70 mmHg

- Berat Badan : 54 kg

- Umur Kehamilan : 32 minggu

- Tinggi Fundus : 30 cm

- Denyut jantung janin : Positif

 Inspeksi:

- Kondisi pasien tampak sedikit pucat namun masih bisa mengutarakan keluhan

dengan baik. Pada bagian abdomen tidak ditemukan adanya deformitas atau kelainan lainnya (normal).

- Konjunctiva berwarna merah agak muda.

 Palpasi:

- Metode palpasi tidak dilakukan.

 Perkusi:

- Metode perkusi tidak dilakukan.

 Auskultasi:

(23)

C. Pemeriksaan Penunjang  Laboratorium:

- Pasien pernah melakukan cek darah dengan hasil:

o Hemoglobin: 10 mg/dL

o Protein: negatif

D. Rangkuman

Pasien yang sedang hamil 32 minggu datang dengan keluhan sering pusing, sakit perut, serta edema pada bagian kaki. Wajah pasien terlihat sedikit pucat. Keluhan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari pasien. Pasien mudah lelah dan nafsu makan sedikit berkurang. Riwayat kehamilan pasien normal dan merupakan kehamilan yang pertama. Pola makan pasien baik dan pasien tidak mengkonsumsi rokok, alcohol, maupun obat-obatan. Hasil tes darah pasien menyatakan bahwa hemoglobin pasien sedikit turun (N: 12-14 mg/dL).

E. Diagnosa dan Pengobatan  Diagnosa:

- Anemia Ringan

Analisis: pasien memiliki hemoglobin sedikit turun yaitu 10 mg/dL  Diagnosa Banding:

- Anemia Normositik

Analisis: Hemoglobin turun  Pengobatan:

- FE I (Tablet Fe): Meningkatkan kadar zat Besi

- TT II (Tetanus Toxoid): untuk pencegahan infeksi bakteri terkait

 Reaksi Pasien terhadap Penyakit:

- Feeling: Pasien tidak terlalu khawatir dengan gejala yang dialami

- Insight: Pasien merasa gejala yang ia alami merupakan gejala yang biasa terjadi

pada ibu-ibu hamil lainnya.

- Function: Pasien menjadi lebih banyak istirahat.

- Expectation: Pasien berharap gejala-gejala yang ia alami bisa berkurang dan tidak

(24)

 Rekomendasi:

- Lebih banyak istirahat namun juga diseimbangi dengan jalan-jalan ringan agar

edema berkurang

- Melakukan cek darah lagi untuk hasil yang lebih akurat

F. Tinjauan Penyakit

Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr%. Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II. Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu. Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan. Beberapa etilogi anemia defisiensi besi pada kehamilan antara lain hipervolemia yang menyebabkan terjadinya pengenceran darah, pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma, kurangnya zat besi dalam makanan, kebutuhan zat besi meningkat, dan gangguan pencernaan serta absorbsi. Faktor risiko yang meningkatkan anemia defisiensi zat besi adalah umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, pendarahan akut, pendidikan rendah, pekerja berat, porsi makan yang kurang seimbang. Gejala-gejalanya ialah cepat lelah, sering pusing, palpitasi, nafsu makan berkurang, konjunctiva pucat. Apabila anemia jenis ini tidak ditangani dengan segera, maka dapat menyebabkan gangguan postpartum seperti gangguan proses persalinan, gangguan produksi asi, gangguan pada janin, dan sebagainya; bahkan, sebelum kelahiran dapat menyebabkan kematian bagi penderita. Pengobatan dari anemia defisiensi besi adalah dengan pemberian asupan tambahan dari zat besi (Fe).

Figur

Memperbarui...