KATA SAMBUTAN. Kepada semua pihak, baik pemerintah maupun swasta yang telah memberikan data demi terwujudnya publikasi ini kami ucapkan terima kasih.

Teks penuh

(1)
(2)

i

Penerbitan publikasi Produk Domestik Regional Bruto 2008 – 2012, merupakan lanjutan dari publikasi yang sama tahun sebelumnya yang berisikan gambaran informasi data statistik mengenai kemajuan berbagai sektor pembangunan di Kabupaten Tanah Datar.

Pemerintah Kabupaten Tanah Datar menyambut baik terbitnya buku ini, karena disamping bisa dijadikan sebagai bahan informasi untuk evaluasi, juga data yang disajikan sangat membantu dalam pengambilan berbagai kebijakan pembangunan yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu, kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal (BAPPEDA-PM) Kabupaten Tanah Datar dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tanah Datar dalam penyusunan publikasi ini perlu terus dibina dan dikembangkan sehingga akan senantiasa tersedia data Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tanah Datar yang akurat, disajikan secara tepat waktu dan berkesinambungan.

Kepada semua pihak, baik pemerintah maupun swasta yang telah memberikan data demi terwujudnya publikasi ini kami ucapkan terima kasih.

Batusangkar, Juli 2013 Bupati Tanah Datar,

Ir. M SHADIQ PASADIGOE, SH, MM KATA SAMBUTAN

(3)

ii

Buku Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Tanah Datar T ah u n 2 0 0 8 -2 0 1 2 merupakan publikasi yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tanah Datar bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal (BAPPEDA-PM) Kabupaten Tanah Datar.

Dalam publikasi ini disajikan tabel-tabel agregat yang merupakan hasil penghitungan nilai tambah seluruh sub sektor kegiatan perekonomian di Kabupaten Tanah Datar, dari tahun 2008 sampai dengan 2012. Selain itu, dibahas pula struktur perekonomian, pertumbuhan ekonomi, kinerja kelompok sektor, pendapatan perkapita Tanah Datar.

Sekalipun publikasi ini telah kami siapkan dengan penuh ketelitian, namun tidak tertutup kemungkinan masih akan ditemui kelemahan. Untuk itu kami senantiasa menantikan perhatian pembaca untuk memberikan masukan guna penyempurnaan publikasi selanjutnya.

Kepada semua S K P D , I n t a n s i V e r t i k a l , B U M N , B U M D s e r t a semua pihak yang telah membantu memberikan data demi terwujudnya publikasi ini kami ucapkan terima kasih.

Demikian, mudah-mudahan publikasi ini bermanfaat bagi kita semua.

Batusangkar, Juli 2013

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

dan Penanaman Modal Kabupaten Tanah Datar

Kepala,

Ir. NURYEDDISMAN

NIP. 196111241989031003

Badan Pusat Statistik Kabupaten Tanah Datar

Kepala,

BAKHTARUDDIN, SE NIP. 195707151981031004

(4)

iii

Halaman

KATA SAMBUTAN ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Pengertian Pendapatan Regional ... 1

1.2 Kegunaan Statistik Pendapatan Regional ... 6

BAB II RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN... 10

2.1 Pertanian,Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan ... 10

2.2 Pertambangan dan Penggalian ... 12

2.3 Industri Pengolahan ... 14

2.4 Listrik, Gas dan Air Bersih ... 15

2.5 Bangunan ... 16

2.6 Perdagangan, Hotel dan Restoran ... 17

2.7 Pengangkutan dan Komunikasi ... 18

2.8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan ... 20

2.9 Jasa – Jasa ... 26

BAB III PERKEMBANGAN EKONOMI KABUPATEN TANAH DATAR... 32

3.1 Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto ... 32

3.2 Perkembangan Struktur Perekonomian Tanah Datar ... 37

3.3 Pertumbuhan Ekonomi ... 40

3.4 Produk Domestik Regional Bruto Perkapita ... 43

3.5 Kinerja Kelompok Sektor Ekonomi ... 45

3.6 Kontribusi Tanah Datar terhadap Perekonomian Sumatera Barat ... 48

3.7 Indeks Implisit Kabupaten Tanah Datar Tahun 2012... 54

BAB IV PREDIKSI PEREKONOMIAN TANAH DATAR TAHUN ... 58

4.1 Prediksi PDRB Tahun 2013-2014 ... 59

(5)

iv

Tabel 3.1 Perkembangan PDRB Kabupaten Tanah Datar Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2008-2012... 33 Tabel 3.2 Perkembangan PDRB Kabupaten Tanah Datar Atas Dasar Harga

Konstan 2000 Tahun 2008-2012... 35 Tabel 3.3 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tanah Datar Tahun 2008-2012... 42 Tabel 3.4 PDRB Perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita Penduduk

Tanah Datar Tahun 2008-2012... 44 Tabel 3.5 Nilai Tambah Kelompok Sektor PDRB Atas Dasar Harga Berlaku

Kabupaten Tanah Datar Tahun 2008-2012... 46 Tabel 3.6 Nilai Tambah Kelompok Sektor PDRB Atas Harga Konstan dan

Pertumbuhan Ekonomi Menurut Kelompok Sektor Kabupaten Tanah Data Tahun 2008-2012... 48 Tabel 3.7 Peranan PDRB Tanah Datar Terhadap PDRB Sumatera Barat Tahun

2008-2012... 49 Tabel 3.8 Distribusi Persentase PDRB Kab/Kota Terhadap Total PDRB Seluruh

Kab/Kota di Sumatera barat Tahun 2008-2012... 50 Tabel 3.9 Pertumbuhan Ekonomi Kab/Kota di Sumatera Barat Tahun

2008-2012 (%)... 52 Tabel 3.10 Tingkat Inflasi Berdasarkan Indeks Implisit Kabupaten Tanah Datar

Tahun 2008-2012... 55 Tabel 3.11 Tingkat Inflasi Kab.Tanah Datar Berdasarkan Indeks Implisit

(6)

v

Gambar 3.1 Perkembangan PDRB Kabupaten Tanah Datar Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2011-2012... 31 Gambar 3.2 Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Kabupaten

Tanah Datar Tahun 2008-2012... 36 Gambar 3.3 Diagram Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Tanah datar Atas

Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2012... 38 Gambar 3.4 Diagram Garis Perkembangan Distribusi Persentase PDRB Kab.Tanah

Datar Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2012... 40 Gambar 3.5 Grafik Laju Pertumbuhan Ekonomi Kab.Tanah Datar Tahun

2008-2012... 41 Gambar 3.6 Perkembangan PDRB Perkapita Kabupaten Tanah Dtar Tahun

2008-2012 ... 43 Gambar 3.7 Grafik Pertumbuhan PDRB Perkapita dan Pendapatan Perkapita

Kabupaten Tanah Datar Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2008-2012. 45 Gambar 3.8 Perkembangan PDRB Menurut Kelompok Sektor Atas Dasar Harga

Berlaku Tahun 2010-2012... 47 Gambar 3.9 Posisi Pertumbuhan Ekonomi Kab.Tanah Datar di Antara Kab/Kota

(7)

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Tabel 1 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008-2012...…………...……... 59 Tabel 2 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000

Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008-2012... 60 Tabel 3 Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Atas

Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008-2012... 61 Tabel 4 Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Atas

Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008-2012... 62 Tabel 5 Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Atas

Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008-2012... 63 Tabel 6 Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Atas

Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008-2012... 64 Tabel 7 Indeks Berantai Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga

Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008-2012... 65 Tabel 8 Indeks Berantai Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga

Konstan Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008-2012... 66 Tabel 9 Indeks Implisit Produk Domestik Regional Bruto Menurut

Lapangan Usaha Tahun 2008-2012... 67 Tabel 10 Pendapatan Regional dan Angka-angka Perkapita Tanah Datar Atas

Dasar Harga Berlaku Tahun 2008-2012... 68 Tabel 11 Pendapatan Regional dan Angka-angka Perkapita Tanah Datar Atas

Dasar Harga Konstan Tahun 2008-2012... 69 Tabel 12 Indeks Perkembangan Pendapatan Regional dan Angka-angka

Perkapita Tanah Datar Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2008-2012... 70 Tabel 13 Indeks Perkembangan Pendapatan Regional dan Angka-angka

Perkapita Tanah Datar Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2008-2012... 71 Tabel 14 Indeks Berantai Perkembangan Pendapatan Regional dan Angka- 72

(8)

vii

2012... Tabel 15 Indeks Berantai Perkembangan Pendapatan Regional dan Angka-angka Perkapita Tanah Datar Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2008-2012... 73 Tabel 16 Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Tanah Datar Atas

Dasar Harga Berlaku Tahun 2008-2012... 74 Tabel 17 Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Tanah Datar Atas

Dasar Harga Konstan Tahun 2008-2012... 75 Tabel 18 Laju Indeks Implisit Produk Domestik Regional Bruto Tanah Datar

Tahun 2008-2012... 76 Tabel 19 Laju Pertumbuhan Pendapatan Regional dan Angka-angka Perkapita

Tanah Datar Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2008-2012... 77 Tabel 20 Laju Pertumbuhan Pendapatan Regional dan Angka-angka Perkapita

(9)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 1

BAB I

P E N D A H U L U A N

1.1.Pengertian Pendapatan Regional

Salah satu tujuan dari suatu negara atau pemerintahan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tujuan ini dapat dicapai bila berbagai kegiatan ekonomi di negara bersangkutan berjalan sehingga menimbulkan output yang pada gilirannya memberikan pendapatan kepada masyarakat.

PDRB atau Produk Domestik Regional Bruto didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDRB merupakan salah satu ukuran untuk mengukur kinerja perekonomian suatu daerah. Dengan PDRB, produksi yang dihasilkan oleh suatu

daerah, baik produksi berupa barang maupun jasa (goods and services) dapat

diketahui dan dihitung. Dan dari derivasi besarnya produksi tersebut dapat diketahui besarnya pendapatan daerah yang dihasilkan oleh daerah bersangkutan yang merupakan salah satu cerminan dari keberhasilan pemerintahan daerah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Guna mendapatkan nilai tambah PDRB suatu daerah dapat dilakukan melalui tiga pendekatan penghitungan, yaitu :

1) Menurut Pendekatan Produksi

Dalam hal ini PDRB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di suatu wilayah atau suatu daerah dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Unit-unit produksi tersebut dalam penyajian ini dikelompokkan menjadi 9 (sembilan) lapangan usaha yaitu : 1. Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan

(10)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 2

dan Perikanan; 2. Pertambangan dan Penggalian; 3. Industri Pengolahan; 4. Listrik, Gas dan Air Bersih; 5. Bangunan/Konstruksi; 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran; 7. Pengangkutan dan Komunikasi; 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan; 9. Jasa-jasa termasuk Jasa Pelayanan Pemerintah.

2) Menurut Pendekatan Pendapatan

Dalam pendekatan ini PDRB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan; semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. Dalam definisi ini PDRB mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung neto. Jumlah semua komponen pendapatan ini per sektor disebut sebagai nilai tambah bruto sektoral. Oleh karena itu produk domestik bruto merupakan jumlah dari nilai tambah bruto seluruh sektor (lapangan usaha).

3) Menurut Pendekatan Pengeluaran

Dalam hal ini, PDRB adalah semua komponen permintaan akhir seperti : (1) pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba, (2) konsumsi pemerintah, (3) pembentukan modal tetap domestik bruto, (4) perubahan stok, (5) ekspor neto, dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Ekspor neto merupakan ekspor dikurangi impor.

Secara konsep ketiga pendekatan tersebut memberikan jumlah yang sama antara jumlah pengeluaran dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama pula dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksinya.

(11)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 3

Dalam penyajiannya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) secara umum dikelompokkan menjadi dua yakni PDRB atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan, dengan penjelasan sebagai berikut:

1) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku

Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar adalah jumlah nilai tambah bruto (gross value added) yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah. Yang dimaksud dengan nilai tambah adalah nilai produksi (output) dikurangi biaya antara. Nilai tambah bruto di sini mencakup komponen-komponen pendapatan faktor (upah dan gaji, bunga, sewa tanah dan keuntungan), penyusutan dan pajak tidak langsung neto. Jadi dengan menghitung nilai tambah bruto dari masing-masing sektor dan menjumlahkan nilai tambah bruto dari seluruh sektor tadi, akan diperoleh Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar.

2) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan

Secara konsep nilai atas dasar harga konstan mencerminkan kuantum produksi pada tahun yang berjalan yang dinilai atas dasar harga pada tahun dasar. Sejak tahun 2006 BPS telah melakukan perubahan tahun dasar dalam penghitungan PDRB dari tahun 1993 menjadi tahun 2000 sebagai tahun dasar penghitungan PDRB atas dasar harga konstan. Adanya perubahan tahun dasar, salah satu alasan mendasar adalah pertumbuhan ekonomi yang dihitung berdasarkan tahun dasar 1993 menjadi makin tidak realistis, karena perubahan struktur ekonomi yang relatif cepat mengakibatkan pertumbuhan ekonomi berdasarkan PDRB tahun dasar 1993 menjadi tidak mewakili lagi.

Agregat Produk Domestik Regional Bruto, terdiri dari:

(12)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 4

Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar adalah jumlah nilai tambah bruto (gross value added) yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah. Yang dimaksud dengan nilai tambah adalah nilai produksi (output) dikurangi biaya antara. Nilai tambah bruto di sini mencakup komponen-komponen pendapatan faktor (upah dan gaji, bunga, sewa tanah dan keuntungan), penyusutan dan pajak tidak langsung neto.

Jadi dengan menghitung nilai tambah bruto dari masing-masing sektor dan menjumlahkan nilai tambah bruto dari seluruh sektor tadi, akan diperoleh Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar.

2) Produk Domestik Regional Neto (PDRN) Atas Dasar Harga Pasar

Perbedaan antara konsep neto di sini dan konsep bruto di atas, ialah karena pada konsep bruto di atas; penyusutan masih termasuk di dalamnya, sedangkan pada konsep neto ini komponen penyusutan telah dikeluarkan. Jadi Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar dikurangi penyusutan akan diperoleh Produk Domestik Regional Neto atas dasar harga pasar. Penyusutan yang dimaksud di sini ialah nilai susutnya (ausnya) barang-barang modal yang terjadi selama barang-barang modal tersebut ikut serta dalam proses produksi. Jika nilai susutnya barang-barang modal dari seluruh sektor ekonomi dijumlahkan, maka hasilnya merupakan pennyusutan yang dimaksud di atas.

3) Produk Domestik Regional Neto (PDRN) Atas Dasar Biaya Faktor

Perbedaan antara konsep biaya faktor di sini dan konsep harga pasar di atas, ialah karena adanya pajak tidak langsung yang dipungut pemerintah dan subsidi yang diberikan oleh pemerintah kepada unit-unit produksi. Pajak tidak langsung ini meliputi pajak penjualan, bea ekspor dan impor, cukai dan lain-lain pajak, kecuali pajak pendapatan dan pajak perseorangan. Pajak tidak langsung dari unit-unit produksi dibebankan

(13)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 5

pada biaya produksi atau pada pembeli hingga langsung berakibat menaik-kan harga barang. Berlawanan dengan pajak tidak langsung yang berakibat menaikkan harga tadi, ialah subsidi yang diberikan pemerintah kepada unit-unit produksi, yang bisa mengakibatkan penurunan harga. Jadi pajak tidak langsung dan subsidi mempunyai pengaruh terhadap harga barang-barang, hanya yang satu berpengaruh menaikkan sedang yang lain menurunkan harga, hinggakalau pajak tidak langsung dikurangi subsidi akan diperoleh pajak tidak langsung neto. Kalau Produk Domestik Regional Neto atas dasar harga pasar dikurangi dengan pajak tidak langsung neto, maka hasilnya adalah Produk Domestik Regional Neto atas dasar biaya faktor.

4) Pendapatan Regional

Dari konsep-konsep yang diterangkan di atas dapat diketahui bahwa Produk Domestik Regional Neto atas dasar biaya faktor itu sebenarnya merupakan jumlah balas jasa faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu daerah. Produk Domestik Regional Neto atas dasar biaya faktor, merupakan jumlah dari pendapatan yang berupa upah dan gaji, bunga, sewa tanah dan keuntungan yang timbul atau merupakan pendapatan yang berasal dari daerah tersebut. Akan tetapi pendapatan yang dihasilkan tadi, tidak seluruhnya menjadi pendapatan penduduk daerah itu, sebab ada sebagian pendapatan yang diterima oleh penduduk daerah lain, misalnya suatu perusahaan yang modalnya dimiliki oleh orang luar, tetapi perusahaan tadi beroperasi di daerah tersebut, maka dengan sendirinya keuntungan perusahaan itu sebagian akan menjadi milik orang luar yaitu milik orang yang mempunyai modal tadi. Sebaliknya kalau ada penduduk daerah ini yang menambahkan modalnya di luar daerah maka sebagian keuntungan perusahaan tadi akan mengalir ke dalam daerah tersebut, dan menjadi pendapatan dari pemilik modal tadi. Kalau Produk

(14)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 6

Domestik Regional Neto atas dasar biaya faktor dikurangi dengan pendapatan yang mengalir ke luar dan ditambah dengan pendapatan yang mengalir ke dalam tadi, maka hasilnya akan merupakan Produk Regional Neto yaitu merupakan jumlah pendapatan yang benar-benar diterima oleh seluruh penduduk yang tinggal di daerah yang dimaksud. Produk Regional Neto inilah yang merupakan Pendapatan Regional.

5) Pendapatan Regional Perkapita

Bila Pendapatan regional ini dibagi dengan jumlah penduduk yang tinggal di daerah itu, maka akan dihasilkan suatu Pendapatan perkapita.

1.2. Kegunaan Statistik Pendapatan Regional

Melalui PDRB Menurut Lapangan Usaha, dapat diketahui beberapa indikator pokok ekonomi makro, sebagai berikut:

1) Nilai nominal PDRB

PDRB merupakan dasar pengukuran atas nilai tambah yang mampu diciptakan akibat timbulnya berbagai aktifitas ekonomi dalam suatu wilayah. Data PDRB tersebut menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumber daya alam dan sumer daya manusia yang dimiliki. Oleh karena itu, besaran PDRB yang mampu dihasilkan sangat tergantung pada faktor tersebut. Dasi sini dapat dilihat besaran nilai tambah dari masing-masing sektor ekonomi. Selain itu dapat dilihat sektor-sektor yang berperan dalam pembentukan perekonomian daerah.

2) Peranan/Kontribusi Sektor Ekonomi

Peranan atau kontribusi sektor ekonomi menunjukkan struktur perekonomian yang terbentuk di suatu daerah. Struktur ekonomi yang

dinyatakan dalam persentase, menunjukkan besarnya peran

masing-masing sektor ekonomi dalam kemampuan menciptakan nilai tambah. Hal tersebut menggambarkan ketergantungan daerah terhadap

(15)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 7

kemampuan produksi dari masing- masing sektor ekonominya. Apabila struktur ekonomi ini disajikan dari waktu ke waktu maka dapat dilihat perubahan struktur perekonomian yang terjadi. Pergeseran struktur ekonomi ini sering dipakai sebagai indikator untuk menunjukkan adanya suatu proses pembangunan. Misalnya adanya penurunan peran sektor

pertanian diikuti dengan kenaikan sektor industri.

3) Laju Pertumbuhan Ekonomi

Laju pertumbuhan ekonomi merupakan suatu indikator ekonomi makro yang menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi. Indikator ini biasanya digunakan untuk menilai sampai seberapa jauh keberhasilan pembangunan suatu daerah dalam periode waktu tertentu. Dengan demikian indikator ini dapat pula dipakai untuk menentukan arah kebijaksanaan pembangunan yang akan datang. Untuk mengukur besarnya laju pertumbuhan tersebut dapat dihitung dari data PDRB atas dasar harga konstan. Pertumbuhan yang positif menunjukkan adanya peningkatan perekonomian dan sebaliknya. Untuk melihat fluktuasi perekonomian tersebut secara riil, maka perlu disajikan PDRB atas dasar harga konstan secara berkala.

4) Tingkat Perubahan Harga

Fluktuasi harga yang terjadi akan mempengaruhi daya beli konsumen, karena berakibat terhadap ketidak seimbangan dengan pendapatan. Indeks harga ini dapat diturunkan juga dari perhitungan PDRB yang disebut sebagai "PDRB deflator" atau yang dikenal dengan indeks implisit. Indeks ini merupakan perbandingan antara PDRB atas dasar harga berlaku dan PDRB atas dasar harga konstan.

Berbeda dengan Indeks Harga Konsumen (IHK), indeks implisit mengambarkan perubahan harga di tingkat produsen. Indeks implisit PDRB menggambarkan perkembangan perubahan harga. Untuk kepentingan analisa, indeks implisit lebih sesuai jika disajikan dalam

(16)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 8

bentuk indeks perkembangan karena menggambarkan perkembangan harga dari waktu ke waktu.

5) PDRB Perkapita

PDRB perkapita merupakan gambaran nilai tambah yang bisa diciptakan oleh masing-masing penduduk akibat dari adanya aktivitas produksi. Data tersebut diperoleh dengan cara membagi total nilai PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun (karena penyebarannya dianggap lebih merata). Kedua indikator tersebut biasanya digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran penduduk suatu daerah. Apabila data tersebut disajikan secara berkala akan menunjukkan adanya perubahan kemakmuran.

Dengan demikian, maka PDRB merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu wilayah dalam suatu periode tertentu ditunjukkan oleh data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan.

Data Pendapatan Regional adalah salah satu indikator makro yang dapat menunjukkan kondisi perekonomian regional setiap tahun. Manfaat yang lebih rinci yang bisa diperoleh dari data ini antara lain adalah :

1) PDRB harga berlaku nominal menunjukkan kemampuan sumber daya

ekonomi yang dihasilkan oleh suatu wilayah. Nilai PDRB yang besar menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang besar pula.

2) PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan pendapatan yang

memungkinkan dapat dinikmati oleh penduduk suatu daerah.

3) PDRB harga konstan (riil) dapat digunakan untuk memberikan gambaran

tentang laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan atau setiap sektor dari tahun ke tahun.

4) Distribusi PDRB harga berlaku menurut sektor menunjukkan besarnya

(17)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 9

Sektor-sektor ekonomi yang mempunyai peran besar menunjukkan basis perekonomian suatu daerah.

5) PDRB perkapita atas dasar harga berlaku menunjukkan nilai PDRB per kepala

atau per satu orang penduduk.

6) PDRB perkapita atas dasar harga konstan berguna untuk mengetahui

(18)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 10

BAB II

RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN

Uraian sektoral yang disajikan dalam bab ini mencakup ruang lingkup dan definisi dari masing-masing sektor dan sub sektor, cara-cara perhitungan Nilai Tambah Bruto (NTB) baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan 2000, serta sumber datanya.

2.1. Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 2.1.1. Tanaman Bahan Makanan

Sub sektor ini mencakup komoditi bahan makanan seperti padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, umbi-umbian, kacang tanah, kacang kedele, kacang-kacangan lainnya, sayur-sayuran, buah-buahan, padi-padian serta bahan makanan lainnya.

2.1.2. Tanaman Perkebunan

Sub sektor ini mencakup semua jenis kegiatan tanaman perkebunan yang diusahakan baik oleh rakyat maupun oleh perusahaan perkebunan. Komoditi yang dicakup meliputi antara lain cengkeh, jahe, kakao, karet, kapas, kapok, kayu manis, kelapa, kelapa sawit, kemiri, kina, kopi, lada, pala, panili, serat karung, tebu, tembakau, teh serta tanaman perkebunan lainnya.

2.1.3. Peternakan dan Hasilnya

Sub sektor ini mencakup semua kegiatan pembibitan dan budidaya segala jenis ternak dan unggas dengan tujuan untuk dikembangbiakan, dibesarkan, dipotong dan diambil hasilnya, baik yang dilakukan rakyat maupun oleh perusahaan-perusahaan peternakan. Jenis ternak yang dicakup adalah : sapi, kerbau, kambing, kuda, ayam, itik, telur itik, telur ayam, susu sapi serta hewan peliharaan lainnya.

(19)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 11

2.1.4. K e h u t a n a n

Sub sektor ini mencakup kegiatan penebangan segala jenis kayu serta pengambilan daun-daunan, getah-getahan dan akar-akaran, termasuk juga kegiatan perburuan. Komoditi yang dicakup meliputi : kayu gelondongan (baik yang berasal dari hutan rimba maupun hutan budidaya), kayu bakar, rotan, arang, bambu, terpentin, gondorukem, kopal, menjangan, serta hasil hutan lainnya seperti sarang burung, madu, dan lain-lain.

2.1.5. P e r i k a n a n

Sub sektor ini mencakup semua kegiatan penangkapan, pembenihan dan budidaya segala jenis ikan dan biota air lainnya, baik yang berada di air tawar maupun di air asin. Komoditi hasil perikanan antara lain seperti ikan tuna dan jenis ikan laut lainnya; ikan mas dan jenis ikan darat lainnya; ikan bandeng dan jenis ikan air payau lainnya; udang dan binatang berkulit keras lainnya; cumi-cumi dan binatang lunak lainnya; rumput laut serta tumbuhan laut lainnya. Di Kabupaten Tanah Datar, tidak terdapat perikanan air asin, sehingga komoditas ikan air asin tidak tercakup dalam penghitungan PDRB Kabupaten Tanah Datar. 2.1.6. Jasa Pertanian

Jasa Pertanian merupakan jasa-jasa khusus yang diberikan untuk menunjang kegiatan ekonomi pertanian berdasarkan suatu pungutan atau kontrak tertentu. Termasuk dalam jasa pertanian adalah penyewaan alat pertanian dengan operatornya dengan syarat pengelolaan dan resiko usaha tersebut dilakukan secara terpisah. Dalam penghitungan nilai tambah sektor pertanian, secara konsep nilai tambah jasa pertanian ini terdistribusi pada masing-masing sub sektor (misalnya jasa dokter hewan pada sub sektor peternakan, jasa memetik kopi pada sub sektor perkebunan). Akan tetapi karena sampai saat ini belum didapat informasi yang lengkap tentang jasa pertanian, maka untuk alasan

praktisnya nilai tersebut dianggap terwakili dalam besarnya persentase mark-up

(20)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 12

Pendekatan yang digunakan dalam memperkirakan nilai tambah sektor pertanian adalah melalui pendekatan dari sudut produksi. Pendekatan ini didasarkan pada pertimbangan tersediannya data produksi dan harga untuk masing-masing komoditi pertanian.

Secara umum, nilai output setiap komoditi diperoleh dari hasil perkalian antara produksi yang dihasilkan dengan harga produsen komoditi bersangkutan. Menurut sifatnya, output dibedakan atas dua jenis yaitu output utama dan output ikutan.

Disamping itu diperkirakan melalui besaran persentase pelengkap (mark-up) yang

diperoleh dari berbagai survei khusus. Total output suatu sub sektor merupakan penjumlahan dari nilai output utama dan ikutan dari seluruh komoditi ditambah dengan nilai pelengkapnya.

Nilai Tambah Bruto (NTB) suatu sub sektor diperoleh dari penjumlahan NTB tiap-tiap komoditi. NTB ini didapat dari pengurangan nilai output atas dasar harga produsen terhadap seluruh biaya-biaya antara, yang dalam prakteknya biasa dihitung melalui perkalian antara rasio NTB terhadap output komoditi tertentu. Untuk keperluan penyajian data NTB atas dasar harga konstan 2000 (2000 = 100), digunakan metode revaluasi, yaitu metode dimana seluruh produksi dan biaya-biaya antara dinilai berdasarkan harga tahun dasar 2000.

Khusus untuk sub sektor peternakan, penghitungan produksinya tidak dapat dilakukan secara langsung, tetapi diperoleh melalui suatu rumus persamaan yang menggunakan tiga peubah (variabel) yakni : banyaknya ternak yang dipotong ditambah selisih populasi ternak dan selisih antara ekspor dan impor ternak.

2.2. Pertambangan dan Penggalian

Seluruh jenis komoditi yang dicakup dalam sektor pertambangan dan penggalian, dikelompokkan dalam tiga sub sektor, yaitu : pertambangan minyak dan gas bumi (migas), pertambangan tanpa migas, dan penggalian.

(21)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 13

2.2.1. Pertambangan Minyak dan Gas Bumi

Pertambangan migas meliputi kegiatan pencarian kandungan minyak gas bumi, penyiapan pengeboran, penambangan, penguapan, pemisahan serta penampungan untuk dapat dijual atau dipasarkan. Komoditi yang dihasilkan adalah minyak bumi, kondensat dan gas bumi. Di Kabupaten Tanah Datar kegiatan penambangan minyak dan gas bumi belum dilakukan. Oleh karena itu, tabel-tabel PDRB Kabupaten Tanah Datar tidak mencakup sub sektor ini.

2.2.2. Pertambangan Tanpa Migas

Pertambangan tanpa migas meliputi pengambilan dan persiapan pengolahan lanjutan benda padat, baik di bawah maupun di atas permukaan bumi serta seluruh kegiatan lainnya yang bertujuan untuk memanfaatkan bijih logam dan hasil tambang lainnya. Hasil dari kegiatan ini adalah batu bara, pasir besi, bijih timah, bijih nikel, ferro nikel, nikel mattes, bijih bauksit, bijih tembaga, bijih emas dan perak, bijih mangan, belerang, yodium fosfat, aspal alam serta komoditi tambang selain tersebut di atas.

Untuk memperoleh output beberapa komoditi tambang seperti batu bara, bijih bauksit, bijih timah, bijih tembaga, bijih nikel, ferro nikel mates, bijih emas dan bijih perak tetap digunakan metode pendekatan produksi. Cara yang digunakan untuk memperoleh output dan NTB atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2000 ditempuh cara yang sama dengan cara yang digunakan pada sub sektor pertambangan migas, yaitu revaluasi.

2.2.3. P e n g g a l i a n

Sub sektor ini mencakup penggalian dan pengambilan segala jenis barang galian seperti batu-batuan, pasir dan tanah yang pada umumnya berada pada permukaan bumi. Hasil dari kegiatan ini adalah batu gunung, batu kali, batu kapur, koral, kerikil, batu karang, batu marmer, pasir untuk bahan bangunan, pasir silika, pasir kwarsa, kaolin, tanah liat, dan komoditi penggalian selain tersebut di atas.

(22)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 14

Output komoditi penggalian lainnya atas dasar harga berlaku dihitung melalui pendekatan produksi dimana output setiap komoditi diperoleh dari hasil perkalian antara produksi dengan harga masing-masing komoditi. NTB diperoleh dari output dikurangi biaya antara. Sedangkan penghitungan atas dasar harga konstan 2000 dilakukan melalui metode revaluasi.

2.3. Industri Pengolahan

Industri pengolahan dibedakan atas dua subsektor, yaitu industri pengolahan minyak dan gas bumi (migas), dan industri pengolahan tanpa migas.

2.3.1. Industri Pengolahan Migas

Sub sektor ini mencakup pengilangan minyak bumi dan produk LNG yang dihasilkan oleh pengilangan gas alam. Namun karena tidak ada kegiatan di Kabupaten Tanah Datar, maka sub sektor ini dikosongkan.

2.3.2. Industri Tanpa Migas

Sejak tahun 2006 Industri pengolahan tanpa migas dihitung menurut dua digit kode Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yaitu industri makanan, minuman dan tembakau (31); industri tekstil, pakaian jadi dan kulit (32); industri kayu, bambu dan rotan (33); industri kertas dan barang dari kertas (34); industri kimia dan barang-barang dari kimia dan karet (35); industri barang galian bukan logam (36); industri logam dasar (37); industri barang dari logam, mesin & peralatannya; dan industri pengolahan lainnya (39).

Pada penghitungan tahun dasar 2000 = 100 yang digunakan sebagai acuan adalah Tabel Output Sumatera Barat tahun 2000 sehingga semua kode KBLI yang dimulai dengan angka 3 (tiga) sudah dimasukkan dalam sektor industri. Meskipun demikian, dalam penyajiannnya belum memisahkan sektor industri sehingga menjadi 2 digit KBLI. Hal ini mengingat keterbatasan data dasar Industri Kecil dan Kerajinan Rumah tangga.

(23)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 15

1) Industri Besar dan Sedang

Metode penghitungannya menggunakan pendekatan produksi, yaitu output dihitung lebih dahulu, kemudian setelah dikurangi dengan biaya antara diperoleh nilai tambah brutonya. Pada prinsipnya metode estimasi yang digunakan, yaitu menggunakan cara inflasi untuk menghitung atas dasar harga berlaku dan cara ekstrapolasi untuk menghitung atas dasar harga konstannya.

2) Industri Kecil dan Kerajinan Rumah tangga

Pada prinsipnya cakupan dan definisi kegiatan Industri Kecil dan Kerajinan Rumah-tangga (IKKR) sama dengan cakupan dan definisi kegiatan Industri Besar/Sedang tanpa Migas. Perbedaannya terletak pada jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan industri tersebut. Suatu perusahaan dikatakan sebagai Industri Kecil jika tenaga kerjanya berjumlah antara 5 sampai 19 orang. Sedangkan perusahaan digolongkan sebagai Industri Kerajinan Rumah tangga jika tenaga kerjanya berjumlah kurang dari 5 orang.

2.4. Listrik, Gas dan Air Bersih 2.4.1. L i s t r i k

Kegiatan ini mencakup pembangkitan dan penyaluran tenaga listrik, baik yang diselenggarakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) maupun oleh perusahaan Non-PLN seperti pembangkitan listrik oleh swasta (perorangan maupun perusahaan), dengan tujuan untuk dijual. Listrik yang dibangkitkan atau yang diproduksi meliputi listrik yang dijual, dipakai sendiri, hilang dalam transmisi, dan listrik yang dicuri. Metode penghitungan untuk sub sektor ini adalah dengan menggunakan pendekatan produksi, yang didasarkan pada data hasil Survey di PLN.

(24)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 16

2.4.2. G a s

Kegiatan ini meliputi penyediaan serta penyaluran gas kota kepada konsumen dengan menggunakan pipa. Di Indonesia kegiatan usaha ini hanya dilakukan oleh Perum Gas Negara. Karena tidak ada kegiatan ini di Kabupaten Tanah Datar, maka sub sektor ini tidak ada isian.

2.4.3. Air Bersih

Kegiatan sub sektor air bersih mencakup proses pembersihan, pemurnian dan proses kimiawi lainnya untuk menghasilkan air minum, serta pendistribusian dan penyalurannya secara langsung melalui pipa dan alat lain ke rumah tangga, instansi pemerintah maupun swasta. Metode penghitungan yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan produksi, dengan data dasar hasil Survey Perusahaan Air Minum (PAM / PDAM) Tahunan.

2.5. B a n g u n a n

Kegiatan sektor bangunan terdiri dari bermacam-macam kegiatan meliputi pembuatan, pembangunan, pemasangan dan perbaikan (berat maupun ringan) semua jenis konstruksi yang keseluruhan kegiatan sesuai dengan rincian menurut Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (KLUI).

Metode estimasi untuk memperoleh output dan nilai tambah sektor bangunan, menggunakan cara ekstrapolasi yang mana output dan nilai tambah bruto dengan harga konstan harus diperoleh dahulu sebelum memperoleh output dan nilai tambah harga berlaku.

Output dari kegiatan konstruksi Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) dan Non AKI diestimasi dengan indeks output. Selanjutnya ditambah dengan pengeluaran investasi rumah tangga yang berupa bangunan. Untuk menghitung Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku dihitung dengan

(25)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 17

2.6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 2.6.1. P e r d a g a n g a n

Kegiatan yang dicakup dalam sub sektor perdagangan meliputi kegiatan membeli dan menjual barang, baik barang baru maupun bekas, untuk tujuan penyaluran/ pendistribusian tanpa mengubah sifat barang tersebut. Sub sektor perdagangan dalam perhitungannya dikelompokkan ke dalam dua jenis kegiatan yaitu perdagangan besar dan perdagangan eceran.

Perdagangan besar meliputi kegiatan pengumpulan dan penjualan kembali barang baru atau bekas oleh pedagang dari produsen atau importir ke pedagang besar lainnya, pedagang eceran, perusahaan dan lembaga yang tidak mencari untung. Sedangkan perdagangan eceran mencakup kegiatan pedagang yang umumnya melayani konsumen perorangan atau rumah tangga tanpa merubah sifat, baik barang baru atau barang bekas.

Metode yang digunakan yaitu metode arus barang. Output atau margin perdagangan merupakan selisih antara nilai jual dan nilai beli barang yang diperdagangkan setelah dikurangi dengan biaya angkut barang dagangan yang dikeluarkan oleh pedagang. Dengan cara metode arus barang, output dihitung berdasarkan margin perdagangan yang timbul akibat memperdagangkan barang-barang dari sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, industri serta barang-barang yang berasal dari impor.

Nilai Tambah Brotu (NTB) diperoleh berdasarkan perkalian antara total output dengan rasio NTB. Kemudian untuk memperoleh total NTB sub sektor perdagangan adalah dengan menjumlahkan NTB tersebut dengan pajak penjualan dan bea masuk barang impor.

2.6.2. H o t e l

Sub sektor ini mencakup kegiatan penyediaan akomodasi yang menggunakan sebagian atau seluruh bangunan sebagai tempat penginapan. Yang dimaksud akomodasi disini adalah hotel berbintang maupun tidak

(26)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 18

berbintang, serta tempat tinggal lainnya yang digunakan untuk menginap seperti losmen, motel dan sejenisnya. Termasuk pula kegiatan penyediaan makanan dan minuman serta penyediaan fasilitas lainnya bagi para tamu yang menginap dimana kegiatan-kegiatan tersebut berada dalam satu kesatuan manajemen dengan penginapan. Alasan penggabungan ini karena datanya sulit dipisahkan.

Nilai Tambah Bruto (NTB) sub sektor hotel diperoleh dengan menggunakan pendekatan produksi. Indikator produksi yang digunakan adalah jumlah malam kamar. Output atas dasar harga berlaku diperoleh berdasarkan perkalian indikator produksi dengan indikator harganya. Sedangkan NTB diperoleh berdasarkan perkalian output dengan rasio NTB-nya. Output dan NTB atas dasar harga konstan dihitung dengan menggunakan metode ekstrapolasi. 2.6.3. R e s t o r a n

Kegiatan sub sektor restoran mencakup usaha penyediaan makanan dan minuman jadi yang pada umumnya dikonsumsi di tempat penjualan. Kegiatan yang termasuk dalam sub sektor ini seperti rumah makan, warung nasi, warung kopi, katering dan kantin.

Pendekatan yang digunakan untuk menghitung Nilai Tambah Bruto (NTB) sub sektor restoran adalah pendekatan pengeluaran konsumsi makanan dan minuman jadi di luar rumah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS).

2.7. Pengangkutan dan Komunikasi 2.7.1. Pengangkutan

Kegiatan yang dicakup dalam sub sektor pengangkutan terdiri atas Jasa Angkutan Rel; Angkutan Jalan Raya; Angkutan Laut; Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan; Angkutan Udara; dan Jasa Penunjang Angkutan. Kegiatan tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan alat angkut atau kendaraan,

(27)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 19

baik bermotor maupun tidak bermotor. Sedangkan jasa penunjang angkutan mencakup kegiatan yang sifatnya menunjang kegiatan pengangkutan seperti terminal, pelabuhan dan pergudangan.

1)Angkutan Jalan Raya

Meliputi kegiatan pengangkutan barang dan penumpang

menggunakan alat angkutan kendaraan jalan raya, baik bermotor maupun tidak bermotor. Termasuk kegiatan carter / sewa kendaraan baik dengan atau tanpa pengemudi.

Metode estimasi yang digunakan adalah pendekatan produksi. Output atas dasar harga berlakunya merupakan perkalian antara indikator produksi dengan indikator harga untuk masing-masing jenis angkutan. Sedangkan output atas dasar harga konstan diperoleh dengan menggunakan metode ekstrapolasi. NTB dihitung berdasarkan perkalian antara rasio NTB dengan outputnya.

2) Jasa Penunjang Angkutan

Mencakup kegiatan yang bersifat menunjang dan memperlancar kegiatan pengangkutan, yaitu meliputi jasa-jasa pelabuhan udara, laut, sungai, darat (terminal & parkir), bongkar muat laut dan darat, keagenan penumpang, ekspedisi laut, jalan tol dan jasa penunjang lainnya (pengerukan dan pengujian angkutan laut).

Metode estimasi yang digunakan adalah pendekatan produksi. Output dan Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku dari kegiatan-kegiatan yang sifatnya monopoli diperoleh dari pengolahan keuangan BUMN yang terkait. Kegiatan lainnya diperhitungkan dengan mengalikan indikator produksi dan harga. Rasio-rasio yang digunakan adalah rasio NTB, rasio mark-up dan rasio lainnya yang sesuai.

(28)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 20

2.7.2. K o m u n i k a s i

Sub sektor ini terdiri dari kegiatan Pos dan Giro, Telekomunikasi, dan Jasa Penunjang Komunikasi. Pos dan Giro mencakup kegiatan pemberian jasa kepada pihak lain dalam hal pengiriman surat, wesel dan paket pos yang diusahakan oleh Perum Pos dan Giro. Kegiatan telekomunikasi meliputi pemberian jasa kepada pihak lain dalam hal pengiriman berita melalui telegram, telepon, dan telex yang diusahakan oleh PT. Telekomunikasi dan PT. Indosat. Jasa Penunjang Komunikasi meliputi kegiatan lainnya yang menunjang komunikasi seperti warung telekomunikasi (wartel), radio panggil (pager) dan telepon seluler (ponsel).

Metode estimasi yang digunakan adalah pendekatan produksi. Output atas dasar harga berlaku berupa pendapatan/penerimaan Pos dan Giro serta Telekomunikasi diperoleh dari laporan keuangan. Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku diperoleh pula dari laporan keuangan berupa penjumlahan upah dan gaji, penyusutan, laba/rugi, dan komponen-komponen lainnya dari NTB. Sedangkan output dan NTB atas dasar harga konstan diperoleh dengan metode ekstrapolasi.

Output dan NTB jasa penunjang angkutan diestimasi dengan pendekatan produksi, yaitu dengan menggunakan jumlah perusahaan sebagai indikator produksi, dan rata-rata pendapatan per perusahaan sebagai indikator harganya. Sedangkan output dan NTB atas dasar harga konstan dihitung dengan metode ekstrapolasi.

2.8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 2.8.1. B a n k

Kegiatan yang dicakup adalah kegiatan yang memberikan jasa keuangan pada pihak lain seperti : menerima simpanan terutama dalam bentuk giro dan deposito, memberikan kredit/pinjaman baik kredit jangka pendek/menengah

(29)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 21

dan panjang, mengirim uang, membeli dan menjual surat-surat berharga, mendiskonto surat wesel /kertas dagang/surat hutang dan sejenisnya, menyewakan tempat penyimpanan barang berharga, dan sebagainya.

Output dari usaha perbankan adalah jumlah penerimaan atas jasa pelayanan bank yang diberikan kepada pemakainya, seperti biaya administrasi atas transaksi dengan bank, biaya pengiriman wesel, dan sebagainya. Dalam output bank dimasukkan pula imputasi jasa bank yang besarnya sama dengan selisih antara bunga yang diterima dengan bunga yang dibayarkan. NTB sub sektor ini dihitung oleh Bank Indonesia Pusat.

2.8.2. Lembaga Keuangan Non Bank

1) Usaha Jasa Asuransi

Asuransi adalah salah satu jenis lembaga keuangan bukan bank yang

usaha pokoknya menanggung resiko-resiko atas terjadinya

musibah/kecelakaan atas barang atau orang tersebut (termasuk tunjangan hari tua). Pada pihak ditanggung dapat menerima biaya atas hancur/rusaknya barang atau mengakibatkan terjadinya kematian tertanggung. Jasa asuransi ini dapat dibedakan menjadi asuransi jiwa, asuransi sosial, serta asuransi kerugian.

a) Asuransi Jiwa adalah usaha perasuransian yang khusus menanggung

resiko kematian, kecelakaan atau sakit, termasuk juga jaminan hari tua/masa depan pihak tertanggung. Nilai pertanggungan ditentukan dan disetujui oleh kedua belah pihak yang dicantumkan dalam surat perjanjian.

b) Asuransi Kerugian adalah usaha perasuransian yang khusus

menanggung resiko atas kerugian, kehilangan atau kerusakan harta/benda milik tertanggung termasuk juga tanggung jawab hukum pada pihak ketiga yang mungkin terjadi terhadap benda/harta milik tertanggung karena sebab-sebab tertentu dengan suatu nilai

(30)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 22

pertanggungan yang besarnya telah ditentukan dan disetujui oleh kedua belah pihak yang dicantumkan dalam surat perjanjian.

c) Asuransi Sosial adalah usaha perasuransian yang mencakup usaha

asuransi jiwa (kerugian) yang dibentuk pemerintah berdasarkan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara pihak asuransi dengan seluruh/segolongan masyarakat untuk tujuan sosial.

Pihak asuransi ini akan menerima/menampung sejumlah

iuran/sumbangan wajib dari masyarakat yang menggunakan jasa pelayanan umum, seperti : jasa angkutan, jasa kesehatan, jasa/pelayanan terhadap pemilik kendaraan bermotor dan pelayanan hari tua.

Output dari kegiatan asuransi merupakan rekapitulasi dari output asuransi jiwa, asuransi bukan jiwa (asuransi sosial, asuransi dan reasuransi kerugian serta broker asuransi).

Biaya antara yang dikeluarkan dalam kegiatan asuransi berupa biaya umum (seperti pembelian alat tulis kantor, BBM, rekening listrik dan sebagainya), biaya pemeliharaan, sewa gedung dan biaya administrasi. Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku diperoleh berdasarkan selisih antara output dan biaya antara yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan (hasil Survei Khusus Sektoral/SKS).

Sedangkan untuk NTB atas dasar harga konstan diperoleh dengan cara sebagai berikut: untuk asuransi jiwa menggunakan metode esktrapolasi dan sebagai esktrapolator-nya adalah jumlah pemegang polis; untuk asuransi sosial menggunakan metode ekstrapolasi dan sebagai ekstrapolatornya adalah jumlah peserta; untuk asuransi kerugian menggunakan metode deflasi dan sebagainya deflatornya adalah Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) umum.

(31)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 23

2) Koperasi Simpan Pinjam

Koperasi Simpan Pinjam adalah koperasi yang kegiatan usahanya menerima simpanan dan memberikan pinjaman bagi para anggotanya. Termasuk disini koperasi yang mempunyai unit simpan pinjam.Output dan NTB atas dasar harga berlaku dari kegiatan Koperasi Simpan Pinjam ini diperoleh dari hasil pengolahan laporan keuangan koperasi dengan cara jasa yang diterima dikurangi biaya operasional. Sedangkan estimasi output dan Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga konstan sama output dari subsektor bank, yaitu selisih antara bunga yang diterima dengan bunga yang dibayar ditambah dengan penerimaan jasa lainnya.

3) Dana Pensiun

Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola program yang menjanjikan manfaat pensiun. Manfaat pensiun adalah pembayaran berkala yang dibayarkan kepada peserta pada saat peserta pensiun dan dengan cara yang ditetapkan dalam peraturan dana pensiun. Manfaat pensiun terdiri dari manfaat pensiun normal, manfaat pensiun dipercepat, manfaat pensiun cacat dan manfaat pensiun ditunda. Jenis dana pensiun dibedakan menjadi dua yaitu Dana Pensiun Pemberi Kerja dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan.

Output dan Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku dari kegiatan Dana Pensiun diperoleh dari hasil pengolahan laporan keuangan kegiatan tersebut. Sedangkan estimasi output dan NTB atas dasar harga kosntan diperoleh dengan menggunakan cara deflasi/ekstrapolasi dan sebagai deflatornya/ekstrapolatornya adalah IHK umum atau jumlah peserta.

4) Pegadaian

Mencakup usaha lembaga perkreditan pemerintah yang bersifat monopoli dan dibentuk berdasarkan ketentuan undang-undang, yang

(32)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 24

tugasnya antara lain membina perekonomian rakyat kecil dengan menyalurkan kredit atas dasar hukum gadai dengan cara yang mudah, cepat, aman dan hemat.

Kegiatan utamanya adalah memberikan pinjaman uang kepada segolongan masyarakat dengan menerima jaminan barang bergerak. Besarnya pinjaman sesuai dengan nilai barang jaminan yang diserahkan pihak peminjam tanpa syarat apapun mengenai penggunaan dananya.

Output dan Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku dari kegiatan Pegadaian diperoleh dari hasil pengolahan laporan keuangan Perum Pegadaian. Outputnya terutama terdiri dari sewa modal, bunga deposito dan lain-lain (sewa rumah). NTB diperoleh dengan mengurangkan output dengan biaya antara. Sedangkan output dan NTB atas dasar harga konstan diperoleh dengan menggunakan metode ekstrapolasi, dan sebagai ekstrapolatornya adalah jumlah nasabah. 2.8.3. Jasa Penunjang Keuangan

Mencakup kegiatan pedagang valuta asing, pasar modal dan jasa penunjangnya, manajer investasi, reksa dana, biro administrasi efek, tempat penitipan harta, dan sejenisnya.

1) Pedagang Valuta Asing

Pedagang valuta asing adalah suatu badan usaha/perusahaan yang memperoleh izin Bank Indonesia untuk melakukan transaksi valuta asing dan membeli travel check, dan perusahaan tersebut tidak boleh melakukan pengiriman uang dan menagih sendiri ke luar negeri.

Output dari pedagang valuta asing merupakan selisih penjualan valuta asing dengan pembelian valuta asing. Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku diperoleh dari perkalian rasio NTB terhadap outputnya. Sedangkan NTB atas dasar harga konstan diperoleh dengan menggunakan metode deflasi.

(33)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 25

2.8.4. Sewa Bangunan

Sub sektor ini meliputi usaha persewaan bangunan dan tanah, baik yang menyangkut bangunan tempat tinggal maupun bukan tempat tinggal seperti perkantoran, pertokoan serta usaha persewaan tanah persil.

Output untuk persewaan bangunan tempat tinggal diperoleh dari perkalian antara pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita untuk sewa rumah, kontrak rumah, sewa beli rumah dinas, perkiraan sewa rumah, pajak dan pemeliharaan rumah dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.

Sedangkan output usaha persewaan bangunan bukan tempat tinggal diperoleh dari perkalian antara luas bangunan yang disewakan dengan rata-rata

tarif sewa per m2. Nilai Tambah Bruto (NTB) diperoleh dari hasil perkalian antara

rasio NTB dengan outputnya. NTB atas dasar harga konstan diperoleh dengan menggunakan metode ekstrapolasi dan sebagai ekstrapolatornya adalah indeks luas bangunan.

2.8.5. Jasa Perusahaan

1)Jasa Hukum ( Advokat / Pengacara, Notaris )

Yang dimaksud dengan Advokat adalah ahli hukum yang berwenang bertindak sebagai penasehat atau pembela perkara dalam pengadilan, baik perkara pidana maupun perdata. Sedangkan Notaris adalah orang yang ditunjuk dan diberi kuasa oleh Departemen Kehakiman untuk mensyahkan dan menyaksikan berbagai surat perjanjian dan sebagainya.

2)Jasa Akuntansi dan Pembukuan

Jasa akuntansi dan pembukuan adalah usaha jasa pengurusan tata buku dan pemeriksaan pembukuan termasuk juga jasa pengolahan data dan tabulasi yang merupakan bagian dari jasa akuntansi dan pembukuan.

(34)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 26

3)Jasa Bangunan, Arsitek dan Teknik

Jasa bangunan, arsitek dan teknik adalah usaha jasa konsultasi bangunan, jasa survei geologi, penyelidikan tambang/pencarian komoditi pertambangan dan jasa penyelidikan serta sejenisnya.

4) Jasa Periklanan dan Riset Pemasaran

Jasa periklanan dan riset pemasaran adalah suatu kegiatan usaha yang memberikan pelayanan kepada pihak lain dalam bentuk pembuatan dan pemasangan iklan, yang bertujuan untuk menyampaikan informasi, membujuk dan meningkatkan kepada konsumen tentang produk dari suatu perusahaan/usaha serta dalam penyampaiannya dapat melalui berbagai media massa.

5) Jasa Persewaan Mesin dan Peralatan

Jasa persewaan mesin dan peralatan adalah usaha persewaan mesin dan peralatannya untuk keperluan pertanian, pertambangan dan ladang minyak, industri pengolahan, konstruksi, dan mesin-mesin keperluan kantor. Output jasa perusahaan diperoleh dari perkalian antara indikator produksi (jumlah perusahaan atau tenaga kerja) dengan indikator harga (rata-rata output perusahaan atau tenaga kerja).

2.9. Jasa - jasa

2.9.1. Pemerintahan Umum dan Pertahanan

Jasa pemerintahan pada prinsipnya terbagi dua yakni pertama pelayanan dari pemerintahan departemen dan pertahanan, dan kedua pelayanan yang diberikan oleh badan-badan di bawah departemen tersebut. Pelayanan kedua ini disebut jasa pemerintahan lainnya.

1)Administrasi, Pemerintahan dan Pertahanan

Sektor Pemerintahan umum dan pertahanan mencakup semua departemen dan non departemen, badan / lembaga tinggi negara,

(35)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 27

kantor dan badan-badan yang berhubungan dengan administrasi pemerintahan dan pertahanan.

Belanja pegawai guru pemerintah yang memegang tata usaha dikategorikan sebagai administrasi pemerintahan, sedangkan belanja pegawai guru pemerintah yang tugasnya mengajar dikategorikan sebagai jasa pendidikan. Begitu juga dokter pemerintah yang tidak melayani masyarakat dikelompokkan sebagai administrasi pemerintahan sedangkan dokter pemerintah yang melayani masyarakat dikelompokkan sebagai jasa kesehatan.

Kegiatan-kegiatan ini meliputi semua tingkat pemerintahan, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang terdiri dari propinsi, kabupaten/kota, dan desa termasuk angkatan bersenjata.

2)Jasa Pemerintah Lainnya

Jasa pemerintah lainnya meliputi kegiatan yang bersifat jasa seperti sekolah-sekolah pemerintah, universitas pemerintah, rumah sakit pemerintah, bimbingan masyarakat terasing, museum, perpustakaan, tempat-tempat rekreasi yang dibiayai dari keuangan pemerintah, dimana pemerintah memungut pembayaran yang ada pada umumnya tidak mencapai besarnya biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan tersebut. Unit-unit usaha semacam ini menyediakan pelayanan jasa untuk masyarakat.

Aparat pemerintah yang melayani penyuluhan KB atau memberi penyuluhan kepada masyarakat terasing dikategorikan sebagai jasa kemasyarakatan lainnya. Sedangkan pegawai pemerintah yang melakukan penjualan karcis masuk taman hiburan, museum atau melayani di perpustakaan dikategorikan sebagai jasa hiburan dan kebudayaan.

Belanja pegawai dari sektor ini terdiri dari gaji pokok, honorarium dan tunjangan lainnya. Belanja pegawai yang dipisahkan dari belanja

(36)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 28

pembangunan ditransfer ke belanja rutin, seperti pembayaran honor pegawai negeri yang turut dalam kegiatan proyek.

Belanja pegawai jasa pemerintahan lainnya yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah, baik rutin maupun pembangunan adalah untuk guru-guru sekolah negeri, pekerja rumah sakit pemerintah, pekerja bimbingan masyarakat terasing, pekerja perpustakaan dan tempat-tempat rekreasi serta museum pemerintah.

Penyusutan barang modal untuk sektor pemerintahan umum datanya belum tersedia. Sehingga nilai penyusutan diadakan estimasi berdasarkan rasio terhadap belanja pegawai. Struktur biaya dari sektor ini tidak memuat unsur surplus usaha. Sedangkan pemerintah tidak melakukan pembayaran pajak tak langsung, untuk memperoleh nilai tambah bruto diperkirakan dari penjumlahan belanja pegawai serta perkiraan penyusutan. Data untuk estimasi Nilai Tambah Bruto (NTB) sektor pemerintahan umum didasarkan pada realisasi pengeluaran pemerintah.

Belanja pegawai jasa pemerintahan lainnya yang ditransfer dari pemerintah pusat dan daerah diperoleh dari realisasi anggaran belanja pembangunan menurut sektor dan sub sektor. Sedangkan belanja pegawai jasa pemerintahan lainnya untuk pemerintah daerah diperoleh dari laporan belanja pegawai menurut jenis pengeluaran.

Disamping belanja pegawai di atas penyusutan juga termasuk dalam penghitungan Nilai Tambah Bruto (NTB) jasa pemerintahan lainnya. Dimana nilai penyusutan diperkirakan sekitar 5 persen dari nilai belanja pegawai.

Perkiraan NTB sektor pemerintahan umum dan jasa lainnya atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara ekstrapolasi menggunakan indeks tertimbang jumlah pegawai negeri menurut golongan kepangkatan.

(37)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 29

2.9.2. Jasa Swasta

1)Jasa Sosial Kemasyarakatan

Meliputi jasa pendidikan, kesehatan, riset / penelitian, palang merah, panti asuhan, panti wreda, yayasan pemeliharaan anak cacat / YPAC, rumah ibadat dan sejenisnya, baik yang dikelola oleh pemerintahan maupun swasta.

Output jasa sosial dan kemasyarakatan diperoleh dari hasil perkalian antara masing-masing indikator produksi seperti jumlah murid menurut jenjang pendidikan, jumlah tempat tidur rumah sakit, jumlah dokter, jumlah anak yang diasuh, jumlah orang lanjut usia yang dirawat, jumlah rumah ibadah, jumlah anak cacat yang dirawat dengan rata-rata output per masing-masing indikator.

2) Jasa Hiburan dan Rekreasi

Meliputi kegiatan produksi dan distribusi film komersial dan film dokumenter untuk kepentingan pemerintah serta reproduksi film video, jasa bioskop dan panggung hiburan, studio radio, perpustakaan, museum, kebun binatang, gedung olah raga, kolam renang, klub malam, taman hiburan, lapangan golf, lapangan tenis, bilyar, klub galatama, artis film, artis panggung, karaoke, video klip, studio televisi dan stasiun pemancar radio yang dikelola oleh swasta.Output atas dasar harga berlaku diperoleh dengan menggunakan metode pendekatan produksi, yaitu output diperoleh dari hasil perkalian antara indikator produksi dengan indikator harga.

Output kegiatan produksi film diperoleh dari perkalian antara jumlah film yang diproduksi dengan rata-rata output per film. Output kegiatan distribusi film diperoleh dari perkalian antara rasio biaya sewa film dengan output bioskop, sedangkan output bioskop diperoleh dari perkalian antara jumlah penonton dengan rata-rata output per penonton. Output panggung hiburan / kesenian dihitung berdasarkan pajak tontonan yang diterima pemerintah. Output untuk jasa hiburan dan rekreasi lainnya pada umumnya

(38)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 30

didasarkan pada hasil perkalian antara jumlah perusahaan dan jumlah tenaga kerja masing-masing dengan rata-rata output per indikatornya. Dan NTB atas dasar harga berlaku diperoleh dari hasil perkalian antara rasio NTB dengan outputnya. Sedangkan outputnya dan NTB atas dasar harga konstan

menggunakan metode deflasi/ekstrapolasi dengan deflatornya /

ekstrapolatornya adalah IHK hiburan & rekreasi / indeks indikator produksi yang sesuai.

3) Jasa Perorangan dan Rumah tangga

Meliputi segala jenis kegiatan jasa yang pada umumnya melayani perorangan dan rumah tangga, yang terdiri dari :

a) Jasa perbengkelan/reparasi kendaraan bermotor, jasa

perbengkelan/reparasi lainnya seperti perbaikan/reparasi jam, televisi, radio, lemari es, mesin jahit, sepeda dan barang-barang rumah tangga lainnya.

b)Jasa pembantu rumah tangga, mencakup koki, tukang kebun, penjaga

malam, pengasuh bayi dan anak, dan sejenisnya.

c) Jasa Perorangan lainnya, mencakup tukang binatu, tukang cukur,

tukang jahit, tukang semir sepatu, dan sejenisnya.

Output atas dasar harga berlaku untuk jasa perbengkelan serta jasa perorangan dan rumah tangga diperoleh dari perkalian antara masing-masing jumlah tenaga kerja dengan rata-rata output per tenaga kerja. Sedangkan output jasa pembantu rumah tangga, pengasuh bayi dan sejenisnya diperoleh dari perkalian antara pengeluaran per kapita untuk pembantu rumah tangga dengan jumlah penduduk pertengahan tahun untuk jasa perorangan yang belum dicakup.

Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku diperoleh dari hasil perkalian antara rasio NTB dengan output, rasio NTB diperoleh dari hasil

(39)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 31

Survei Khusus Sektoral. Sedangkan output dan NTB atas dasar harga konstan diperoleh dengan menggunakan metode ekstrapolasi.

(40)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 32

PERKEMBANGAN EKONOMI KABUPATEN TANAH DATAR

3.1 Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto

Sumber daya alam dan faktor produksi yang dimiliki merupakan faktor penentu perekonomian suatu daerah. Dengan kata lain besarnya PDRB atau perekonomian di suatu daerah kabupaten/kota terbentuk dari berbagai macam aktivitas atau kegiatan ekonomi yang timbul di daerah tersebut. Secara garis besar berbagai kegiatan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam sembilan sektor lapangan usaha.

a. Atas Dasar Harga Berlaku

PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun berjalan. Selain itu, nilai PDRB harga berlaku nominal menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu daerah, pergeseran, dan struktur perekonomian daerah. Pada hakekatnya, pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan usaha, meningkatkan hubungan ekonomi regional serta mengusahakan agar distribusi pendapatan masyarakat merata dengan baik.

Perekonomian regional merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan perekonomian nasional. Perekonomian Kabupaten Tanah Datar tergambar melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku. Tahun 2012, PDRB atas dasar harga berlaku Kabupaten Tanah Datar adalah sebesar Rp 6.789,34 milyar. Jumlah ini meningkat sebesar Rp 704,37 Milyar atau meningkat 11,58% dibandingkan dengan tahun 2011.

(41)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 33

Tabel 3.1

Perkembangan PDRB Kab. Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2008-2012

LAPANGAN USAHA Nilai Tambah (Milyar Rupiah)

2008 2009 2010 2011 2012 (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. Pertanian 1.680,92 1.829,52 2.045,42 2.281,42 2.517,96 2. Pertambangan & Penggalian 79,33 88,96 99,03 110,73 123,65 3. Industri Pengolahan 510,82 569,08 637,66 712,85 792,24 4. Listrik,Gas & Air Bersih 44,77 48,25 51,88 56,69 61,76 5. Bangunan 336,14 382,48 432,48 492,13 553,09 6. Perdagangan, Hotel &

Resto. 536,55 608,93 677,8 754,68 853,12 7. Pengangkutan &

Komunikasi 287,78 320,49 362,72 412,24 465,037 8. Keu, Persewaan & Jasa

Prshn. 148,76 166,99 187,5 212,01 241,644 9. Jasa-jasa 751,87 829,72 928,59 1.052,22 1.180,82

Jumlah 4.376,94 4.844,42 5.423,08 6.084,97 6.789,34

Sumber : Tabel 1

Perkembangan PDRB atas harga berlaku dari tahun ke tahun dapat terlihat pada Tabel 3.1. Indeks Berantai PDRB Kabupaten Tanah Datar Atas Dasar Harga Berlaku. Pada tahun 2012, terlihat untuk Sektor Pertanian, meskipun memberikan nilai tambah yang terbesar dibandingkan sektor lainnya, namun perkembangannya yang sebesar 10,37% lebih kecil dari sektor lainnya, kecuali sektor Listrik dan Air Bersih yang meningkat 8,95% dibandingkan tahun 2011.

Sektor yang paling tinggi peningkatan nilai tambahnya dibandingkan tahun 2011 adalah Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan yang meningkat 13,98%, disusul oleh sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran yang meningkat 13,04%, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi yang meningkat 12,81%, Sektor Bangunan yang meningkat 12,39%, Sektor Jasa-Jasa yang meningkat 12,22%, Sektor Pertambangan yang meningkat 11,67% dan Sektor Industri Pengolahan yang

(42)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 34 2.517,96 2.281,42 110,73123,65 712,83792,25 56,6961,76 492,12553,09 754,67853,12 412,23465,04 212,01241,64 1.052,22 1.180,82 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2012 2011 meningkat 11,14%. Gambar 3.1

Perkembangan PDRB Kabupaten Tanah Datar Atas Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha tahun 2011-2012

(Milyar Rupiah)

b. Atas Dasar Harga Konstan 2000

Terpantaunya pergerakan perekonomian suatu daerah merupakan salah satu manfaat dari penghitungan PDRB. Dengan melihat perkembangan nilai tambah yang dihasilkan setiap sektor ekonomi pada tingkat harga yang konstan (tetap) pada suatu tahun dasar, dalam hal ini adalah tahun 2000 sebagai tahun dasar, kita bisa mendapatkan informasi tentang pergerakan perekonomian suatu daerah. Atau dengan kata lain, dari nilai PDRB atas dasar harga konstan 2000 dapat kita lihat

Lapangan Usaha

1 Pertanian 6 Perdagangan,Hotel&

2 Pertambangan&Penggalian Restoran

3 Industri Pengolahan 7 Pengangkutan&Komunikasi 4 Listrik&Air Bersih 8 Keu,Persewaan&Jasa Perush

5 Bangunan 9 Jasa-Jasa PDRB Atas Dasar Harga Berlaku

(43)

PDRB Kabupaten Tanah Datar Menurut Lapangan Usaha, 2008 – 2012 35

produktivitas ekonomi Kabupaten Tanah Datar secara riil.

Secara keseluruhan, nilai tambah seluruh sektor ekonomi selama tahun 2012 tercatat sebesar Rp. 2.924,84 milyar yang meningkat dibandingkan nilai tambah pada tahun 2011 yang sebesar Rp. 2.766,81 milyar atau naik 5,71% yaitu sebesar Rp.158,03 milyar. Peningkatan tersebut adalah merupakan peningkatan produksi seluruh sektor ekonomi karena nilai tambah yang dihasilkan tidak dipengaruhi oleh fluktuasi harga.

Tabel 3.2

Perkembangan PDRB Kabupaten Tanah Datar Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2008-2012

LAPANGAN USAHA Nilai Tambah (Milyar Rupiah)

2008 2009 2010 2011 2012 (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. Pertanian 876,81 923,83 972,12 1.025,12 1.083,78 2. Pertambangan & Penggalian 41,25 43,69 46,29 48,91 51,76 3. Industri Pengolahan 283,62 300,62 318,69 336,91 353,24 4. Listrik,Gas & Air Bersih 21,09 22,43 23,86 25,22 26,66 5. Bangunan 167,6 178,35 189,82 202,20 215,39 6. Perdagangan, Hotel &

Resto. 307,78 326,12 345,65 365,73 378,39 7. Pengangkutan & Komunikasi 126,61 135,56 145,36 155,23 164,28 8. Keu, Persewaan&Jasa Prshn. 81,03 86,76 92,95 99,73 106,70 9. Jasa-jasa 425,95 451,38 479,45 507,76 535,60 Jumlah 2.331,7 2.468,7 2.614,19 2.766,81 2.924,84 Sumber : Tabel 2

Jika dilihat menurut sektor ekonomi seluruh sektor mengalami peningkatan nilai tambah yang bervariasi. Sektor pertanian sebagai mata pencaharian sebagian besar masyarakat Tanah Datar berperan paling besar dalam menyumbangkan nilai tambahnya terhadap perekonomian Tanah Datar. Pada tahun 2012 nilai tambah

Figur

Tabel 3.1       Perkembangan  PDRB  Kabupaten  Tanah  Datar  Atas  Dasar  Harga  Berlaku Tahun 2008-2012................................................................

Tabel 3.1

Perkembangan PDRB Kabupaten Tanah Datar Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2008-2012................................................................ p.5
Diagram Garis Perkembangan Distribusi Persentase PDRB Kab.Tanah Datar  Atas Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2012

Diagram Garis

Perkembangan Distribusi Persentase PDRB Kab.Tanah Datar Atas Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2012 p.48

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : baik pemerintah maupun swasta