PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBL) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SIKAP ILMIAH SISWA PADA KONSEP
SISTEM PERNAPASAN MANUSIA DI SMA NEGERI 11 BANDA ACEH Oleh
Erdi Surya
(Dosen FKIP Pendidikan Biologi Universitas Serambi Mekkah) ABSTRAK
Telah dilakukan sebuah penelitian yang berjudul “Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) Untuk Meningkatkan Kemampuan Sikap Ilmiah Siswa Pada Konsep Sistem Pernapasan Manusia di SMA Negeri 11 Banda Aceh”. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan sikap ilmiah siswa pada konsep Sistem Pernapasan Manusia melalui pembelajaran berbasis masalah. Metode yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan “pretest-postest control group design. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas XI SMA Negeri 11 tahun ajaran 2012/2013. Sampel yang digunakan sebanyak 2 kelas yaitu satu kelas eksperimen sebanyak 30 orang dan satu kelas kontrol sebanyak 30 orang. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah skor kemampuan sikap ilmiah siswa terhadap PBL. Uji perbedaan dua rerata antara dua kelompok perlakuan menggunakan uji t. Data menunjukkan bahwa ada perbedaan peningkatan secara signifikan pada kelas eksperimen dibanding kelas kontrol pada taraf α=0,05 yaitu thitung > ttabel. Pada sikap ilmiah 2,7 > 1,67. Rata-rata N-Gain sikap ilmiah siswa kelas
eksperimen dan kelas kontrol adalah 0,30 dan 0,40; yang termasuk kategori sedang. Pada umumnya siswa menyatakan senang dengan pembelajaran berbasis masalah karena dapat meningkatkan minat belajar dan mudah dalam memahami konsep. Dengan demikian pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan sikap ilmiah siswa di SMA Negeri 11 Banda Aceh.
Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah dan sikap ilmiah
PENDAHULUAN
Pendidikan di Indonesia mempunyai arah dan tujuan yang sesuai dengan falsafat bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan cinta tanah air, dapat menumbuhkan manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta tanggung jawab atas pembangunan
bangsa. Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang baik dan berkesinambungan sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, sebab pendidikan merupakan suatu proses pembentukan yang memungkinkan tubuh dan berkembang potensi. Oleh karena itu tidak seorangpun yang luput dari pendidikan sekalipun ia telah dewasa.
Semakin maju suatu masyarakat atau bangsa, semakin pula telah terasa kebutuhan akan pendidikan, karena sudah menjadi kebutuhan dasar dari manusia.
Menurut (Nurhadi, 2004) selama ini hasil pendidikan hanya tampak dari kemampuan siswa menghafal fakta-fakta pembelajaran yang selama ini disekolah siswa lebih banyak menghafal materi dari pada memahami isi materi tersebut, sehingga siswa cepat lupa terhadap materi yang sudah dipelajari, hal tersebut merupakan suatu permasalahan yang harus dipecahkan dalam pembelajaran biologi di sekolah menengah.
Berdasarkan observasi di lapangan yang dilakukan di sekolah penelitian, ditemukan beberapa kendala permasalahn pada proses belajar berlangsung di kelas X1 SMA 11 Banda Aceh dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Diantaranya pembelajaran yang selama ini menunjukkan bahwa aktivitas belajar didominasi oleh guru melalui ceramah /presentasi dan cenderung meniadakan pengalaman interaksi social dikalangan siswa seperti mengajukan pertanyaan, merespon pertanyaan guru dan teman sejawat, bekerja dalam satu tim dan lain-lain sehingga motivasi belajar dan sikap ilmiah siswa tidak berkembang.
Sikap ilmiah erat kaitannya dengan Problem Based Learning. Sikap ilmiah perlu dikembangkan dalam diri siswa, sikap selalu dikaitkan dengan prilaku yang berada dalam batas kewajaran dan kenormalan yang merupakan respon atau reaksi terhadap stimulus social. Masalah-masalah yang
disajikan dalam Problem Based
Learning (PBL) diharapkan dapat
mendorong siswa untuk menemukan bagaimana cara pemecahan suatu masalah. Dengan timbulnya pemikiran tersebut siswa akan terbiasa untuk bereksperimen dan mencari sumber informasi lebih banyak sehingga menemukan suatu solusi. Sejalan dengan proses pemecahan masalah maka sikap ilmiah akan terbentuk terhadap kemampuan memecahkan masalah biologi, meningkatkan kemampuan menerapkan konsep-konsep biologi dan meningkatkan sikap positif terhadap pelajaran serta dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Sejalan dengan yang dikemukakan Guntur (2004) agar siswa belajar lebih aktif, guru perlu memunculkan strategi yang tepat dalam memotivasi siswa. Guru harus memfasilitasi siswa agar siswa mendapatkan informasi yang bermakna, sehingga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri.
Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan hakikat konstruktivisme adalah model pembelajaran berbasis masalah. Beberapa teori mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, berpikir kritis, dan berpikir kreatif.
Dewey dalam Sudjana (2005) mengemukakan belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan.
Lingkungan member masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik. Pengalaman yang diperoleh dari lingkungan akan menjadikan kepadanya bahan dan materi guna memperoleh pergertian bisa dijadikan pedoman dan tujuan belajarnya. Oleh karena itu pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran biologi merupakan hal yang sangat penting.
Pembelajaran berbasis masalah mempersiapkan diri untuk berpikir kritis dan analistis, dan untuk mencari serta menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai. Pada dasarnya, PBL adalah pendidikan dimana siswa mengembangkan pemikiran kritis dan kemampuan memecahkan masalah di samping mengembangkan pemahaman tentang konsep-konsep penting menggenggam melalui analisis masalah kehidupan nyata Duch (Gamze et, al, 2013) Penyelidikan autentik pembelajaran berbasis masalah, mengembangkan pembelajaran berdasarkan masalah mengharapkan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis masalah, mengembangkan hipotesis, membuat ramalan, mengumpul dan menganalisa informasi, melakukan experimen (jika diperlukan) membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan, metode penyelidikan yang digunakan
bergantung kepada masalah yang dipelajari (Ibrahim dan Nur, 2000).
Dalam pembelajaran sistem pernapasan pada manusia di laksanakan kegiatan praktikum yang dilengkapi dengan lembaran kerja siswa (LKS) yang dapat menuntun siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang ingin di capai dan membantu menerapkan sikap ilmiah siswa dalam kehidupan sehari-hari, sehingga diharapkan siswa termotivasi dan sikap ilmiah nya berkembang dalam konsep sistem pernapasan pada manusia.
Menurut Subagyo di dalam Pangestu (1986), paling kurang ada empat jenis yang perlu mendapat perhatian dalam mengembangkan sikap ilmiah siswa SMA: 1) sikap terhadap perkerjaan di sekolah 2) sikap terhadap diri mereka sebagai siswa 3) sikap terhadap ilmu pengetahuan, khususnya sains, dan 4) sikap terhadap objek dan kejadian di lingkungan sekitar. Keempat sikap ini akan membentuk sikap ilmiah yang mempengaruhi keinginan seseorang untuk ikut serta dalam kegiatan tertentu, dan cara seseorang merespon kepada orang lain, objek atau peristiwa dalam memecahkan setiap masalah dituntut untuk melakukan kerja ilmiah dengan mengembangkan sikap ilmiah. Sikap ilmiah perlu dikembangkan dalam diri siswa karena hakikat pendidikan IPA adalah ilmu pengetahuan yang mencakup ranah, proses, produk dan sikap.
Sikap ilmiah yaitu meliputi: hasrat ingin, jujur, objektif, kemauan untuk mempertimbangkan data baru, pendekatan positif terhadap kegagalan,
diterminasi, keterbukaan dan ketelitian (Amin, 1994).
Menurut Depdiknas (2006) belajar sains dapat membantu siswa untuk memahami alam dan gejalanya berkaitan dengan penelitian dan penyelidikan sehingga dapat menumbuhkan sikap ilmiah siswa. Sikap ilmiah yang dapat dikembangkan berani dan santun dalam mengajukan pertanyaan dan argumentasi, ingin tahu, peduli lingkungan, mau bekerja sama, terbuka, tekun, cermat, kreatif dan inovatif, kritis, disiplin, jujur, objektif dan beretos kerja tinggi (BSNP, 2005).
Untuk memperoleh gambaran sikap dapat digunakan instrumen skala
sikap ilmiah agar memperoleh
gambaran mengenai sikap ilmiah siswa sebagai adanya pengalaman berbasis masalah. Instrumen yang digunakan untuk mengukur sikap ilmiah berbentuk tes tertulis berupa kalimat pernyataan, yaitu pernyataan positif dan pernyataan negatif. Tipe skala sikap Likert dapat digunakan dalam pengukuran skala sikap (Riduwan, 2002 ). Pedoman penskoran jawaban skala sikap yang digunakan terdapat pada Tabel 2.2
Tabel 1 Pedoman Penskoran Jawaban Skala Sikap
Jawaban Pernyataan Positif Skor Jawaban Pernyataan Negatif Skor
Sangat setuju ( SS) 5 Sangat setuju (SS) 1
Setuju (S) 4 Setuju (S) 2
Ragu-ragu (R) 3 Ragu-ragu (R) 3
Tidak setuju (TS) 2 Tidak setuju (TS) 4
Sangat tidak setuju (STS) 1 Sangat tidak setuju (STS) 5
Sumber : Riduwan,(2002)
Dalam Dictionary of Psychology, Reber dalam Dimyati dan Mudjiono, (1994) menyatakan bahwa istilah sikap (attitude) berasal dari bahasa Latin, “attitude” yang berarti kemampuan, sehingga sikap dijadikan acuan apakah seseorang mampu atau tidak mampu pada pekerjaan tertentu. Natawidjaja, di dalam Rochman (1979) menyatakan bahwa sikap atau pendirian adalah satu predisposisi atau kecenderungan yang relatif stabil dan berlangsung terus menerus untuk bertingkah laku atau untuk mereaksi dengan cara tertentu. Anom (1989) menganggap bahwa Thurstone adalah yang pertama mempopulerkan
metodologi pengukuran sikap. Thurstone mendefinisikan sikap sebagai seluruh kecenderungan dan perasaan, kecurigaan dan prasangka, prapemahaman yang mendetail, ide-ide, rasa takut, ancaman dan keyakinan tentang suatu hal.
Subagyo dan Pangestu (1996) mengambarkan hubungan antara sikap dan prilaku. Sikap berkembang dari
interaksi antara individu dengan
lingkungan masa lalu dan masa kini. Melalui proses kognisi dari integrasi dan konsistensi sikap dibentuk menjadi
komponen kognisi, emosi, dan
terbentuk akan mempengaruhi prilaku secara langsung.
Penelitian-penelitian terdahulu yang mendukung penelitian ini diantaranya: Penelitian Titin, dkk (2011) menyatakan bahwa proses pembelajaran menggunakan Problem
Based Learning (PBL) pada materi
sistem pernapasan manusia, didapatkan peningkatan rata-rata sebesar 9,60. Peningkatan ini dikarenakan pada proses pembelajaran dengan menggunakan Problem Based Learning
(PBL) disajikan permasalahan berupa pertanyaan-pertanyaan di dalam lembar kerja siswa (LKS). Dari permasalahan tersebut siswa diminta mencari solusinya, kemudian melakukan
Prokop, et al, (2007) melakukan penelitian tentang sikap ilmiah terhadap pembelajaran biologi, apakah biologi itu membosankan. Hasil menunjukan bahwa pelajaran biologi itu menarik, tidak sulit, tetapi masih dianggap penting (sikap positif). Pelaksanaan penerapan model pembelajaran Problem
Based Instruction ini dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Purworini (2006) yang menunjukkan bahwa penerapan Problem Based Instruction dapat meningkatkan hasil belajar, aktivitas, dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran di SMP Nasional KPS Balikpapan.
Berdasarkan pemaparan di atas maka dicoba mengkaji sebuah penelitian tentang penerapan pembelajaran berbasis masalah pada konsep sistem pernapasan manusia untuk meningkatkan kemampuan sikap
ilmiah siswa di SMA Negeri 11 Banda
Aceh.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan adalah: Apakah terjadi peningkatan kemampuan sikap ilmiah siswa setelah pembelajaran berbasis masalah pada konsep sistem pernapasan manusia ?
TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan rumusan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui peningkatan kemampuan sikap ilmiah siswa setelah mengikuti pembelajaran berbasis masalah pada konsep sistem pernapasan manusia. MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada tenaga pendidik secara khusus guru bidang studi biologi dan pembaca
1. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan pedoman dan menambah wawasan bagi guru Biologi SMA tentang pembelajaran berbasis masalah sebagai pembelajaran alternatif yang dapat meningkatkan sikap ilmiah siswa pada konsep sistem pernapasan manusia.
METODE PENELITIAN
Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Desain “
Pre-test-post-test Control Group Design”
(Arikunto, 2009) disajikan pada tabel berikut (Tabel 2).
Tabel 2 Desain Pre-test-pos-test Control Group Design
Sampel Kelompok Pre-test Perlakuan Post-test Acak A (Eksperimen) O X1 O
Acak B (Kontrol) O X2 O
Ket. :
X1 = Model Pembelajaran berbasis masalah kelas eksperimen X2 = Model Pembelajaran konvensional kelas kontrol
O = Pre-test O = Post-test
Tahapan penelitian ini dibagi menjadi lima langkah yaitu merumuskan masalah yang akan dikaji, studi pendahuluan, perancangan penerapan model pembelajaran berbasis masalah, implementasi model pembelajaran berbasis masalah, pengumpulan dan analisis data, serta pengambilan kesimpulan.
TEMPAT DAN SUBYEK PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 11 Kota Banda Aceh, Sedangkan subyek penelitian ini adalah siswa kelas X1 sebanyak 90 siswa, yang tersebar pada tiga kelas paralel, dengan rata-rata jumlah siswa 30 siswa per kelas. Dari populasi ini, diambil secara acak sebanyak 30 siswa yang dijadikan sebagai kelas eksperimen (pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah) dan 30 siswa sebagai kelas kontrol (model pembelajaran konvensional). Pengelompokan siswa ke dalam kelas eksperimen dan kelas kontrol didasarkan pada kemampuan awal penguasaan konsep (hasil pre-test)
PROSES PENGUMPULAN DATA Data yang dikumpulan dalam penelitian ini terdiri dari empat macam data, yaitu : (1) data skor tes awal dan skor tes akhir sikap ilmiah siswa kelas eksperimen dan siswa kelas kontrol pada materi sistem pernapasan manusia TEHNIK PENGOLAHAN DATA
Data-data yang diperoleh selama penelitian dianalisis, sehingga diperoleh suatu kesimpulan. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistic deskriftif dan statistik inferensial yang digunakan untuk menguji hipotesis. ANALISIS DATA
Analisis data dengan uji statistik dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Uji hipotesis dengan uji perbedaan dua rerata.
Uji hipotesis atau uji dua rerata dilakukan untuk mengetahui signifikan sikap ilmiah setelah pembelajaran secara keseluruhan. antara siswa kelas eksperimen dan kelas kelas kontrol dengan menggunakan uji-t. Sikap ilmiah yang dibandingkan dilakukan pada tiga indikator yang digunakan
diantaranya Rasa ingin tahu. Kerja sama dan Kepedulian lingkungan. Adapun uji beda dua rerata yang dilakukan dengan menggunakan rumus. SDbM My Mx t (Hadi, 1988) Keterangan: t = Ratio Mx = MeansampelX My = Mean sampel Y SDbM = Standar kesalahan perbedaan mean
2. Perhitungan gain ternormalisasi Untuk mengetahui peningkatan keterampilan sikap ilmiah siswa, analisis penentuan skor berpedoman pada kriteria N-Gain, (Meltzer, 2002) sebagai berikut.
N-Gain = A MAX A B N N N N Dengan:
NB : nilai post- test siswa
NA : nilai pre- test siswa
NMAX : nilai ideal siswa
Kriteria gain ternormalisasi
diperlihatkan pada Tabel 3
Tabel 3 Kriteria N-Gain Ternormalisasi
No Gain ternormalisasi N-Gain 1 Rendah 0- 0,30 2 Sedang 0,31-0,69 3 Tinggi 0,70- 1,00 Sumber : (Meltzer, 2002) HASIL PENELITIAN Sikap Ilmiah Siswa
a. Peningkatan Sikap Ilmiah Siswa Kelas Eksperimen dan Siswa kelas Kontrol
Data tentang sikap ilmiah siswa diperoleh dari skor sikap awal dan skor sikap akhir. Analisis data menunjukkan terjadinya peningkatan terhadap sikap ilmiah siswa secara keseluruhan pada kelas eksperimen. Statistik deskriptif tentang sikap ilmiah siswa yang diperoleh sebelum dan sesudah pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah disajikan dalam Tabel 4
Tabel 4. Statistik Deskriptif Skor Sikap Awal dan Sikap Akhir Siswa Skor Kelas N
Tes Sikap Ilmiah Siswa Skor Ideal Skor Min Skor Max S Pre-test Eksperimen 30 110 40,8 66,7 51,1 7,5 Kontrol 30 110 40 53,3 48,7 4,33 Post-test Eksperimen 30 110 73,3 83,3 79,2 3,31 Kontrol 30 110 70 75,8 73 1,54 N-Gain Eksperimen 30 - 0,16 0,34 0,3 0,04 Kontrol 30 - 0,32 0,49 0,4 0,05 Berdasarkan Tabel 4. menunjukkan bahwa sebelum pembelajaran, rata-rata skor awal sikap ilmiah siswa tidak jauh berbeda dengan rata-rata skor akhir sikap ilmiah setelah pembelajaran. Secara keseluruhan rata-rata skor sikap ilmiah siswa dari pernyataan yang diberikan terhadap pembelajaran biologi mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dalam tabel di atas, skor awal kelas eksperimen dari nilai minimum 40,8 sampai ke nilai maksimum 66,7. Sedangkan skor akhirnya dari nilai minimum 73,3 sampai pada nilai maksimum 83,3. Apabila dibanding dengan kelas kontrol jelas terlihat peningkatan untuk kelas eksperimen
66,7 83,3 53,3 75,8 0 20 40 60 80 100 Pre-test Sikap Post-test Sikap Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
baik tes awal sikap maupun tes akhir sikap. Dengan rata-rata awal untuk siswa kelas eksperimen adalah 51,1 dan kelas kontrol 48,7. Sedangkan rata-rata akhir untuk kelas eksperimen adalah 79.2 dan kelas kontrol 73. Dengan demikian jelas terlihat sikap kelas eksperimen lebih baik dibanding kelas kontrol.
SumbeUntuk lebih jelasnya peningkatan sikap ilmiah yang dicapai siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol maka ditampilkan dalam bentuk diagram batang pada Gambar 1.
Gambar 1 Skor Sikap Ilmiah Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Diagram batang pada Gambar 1 menunjukkan peningkatan sikap ilmiah secara keseluruhan yang dicapai oleh siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari gambar terlihat bahwa skor sikap ilmiah siswa baik untuk nilai pre-test sikap atau pos-test sikap kelas eksperimen lebih baik dibanding siswa kelas kontrol. Untuk lebih jelasnya peningkatan sikap ilmiah yang dicapai oleh kelas eksperimen, apakah meningkat signifikan terhadap kelas kontrol maka dilakukan uji beda dua rerata terhadap peningkatan sikap kedua kelas penelitian tersebut.
b. Uji Perbedaan Rata-Rata Skor Pre-test dan Post-Pre-test Sikap Ilmiah Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Uji beda dua rerata dilakukan untuk mengetahui signifikansi perbedaan skor pretes dan postes sikap antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Uji perbedaan rata-rata yang digunakan adalah uji t-hitung dengan jumlah sampel setiap kelas berjumlah 30. Pengujian rata-rata skor pre-test dan pos-test sikap dilakukan berdasarkan hipotesis statistik yang di ajukan yaitu:
Terima Ha jika thitung ≥ ttabel
Tolak Ha jika thitung ≤ ttabel
Ha : Kemampuan sikap ilmiah
siswa meningkat dengan pembelajaran berbasis masalah pada konsep sistem pernapasan manusia.
Ha diterima jika thitung > ttabel pada
taraf signifikansi α=0,05. Hasil perhitungan perbedaaan rata-rata data skor pre-test, post-test kelas eksperimen dengan kelas kontrol ditampilkan dalam Tabel 5
Tabel 5. Signifikansi Peningkatan Sikap ilmiah Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kela s Data ∑Fx/∑ Fy Gain (Beda) Mx/ My SDb M Thit Ttab t0.95(58) Pene ri maa n Ha α = 0,05 Simpu lan Eksp erim en Prete s 1534 841 28 1,4 3 2,7 1,67 Teri ma Ha Terja di peni ngka tan signi fikan Poste s 2375 Kont rol Prete s 1462 726 24, 2 Poste s 2188
Diketahui Gain kedua kelas tersebut terjadi perbedaan. Setelah dilakukan perhitungan dengan uji-t maka diketahui nilai Thitung > ttabel atau 2,7 >
1,67 pada daerah t0.95 dengan derajat
kebebasan (58) pada taraf signifikansi α=0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima. Dengan demikian hipotesis yang diajukan bahwa sikap ilmiah siswa meningkat dengan pembelajaran berbasis masalah pada konsep sistem pernapasan manusia diterima. Dari
Tabel 5. terlihat peningkatan sikap ilmiah yang signifikan terjadi pada kelas eksperimen terhadap siswa kelas kontrol.
c. Analisis Sikap Ilmiah Siswa pada Setiap Indikator
Setelah dilakukan uji perbedaan dua rerata sikap ilmiah siswa, maka diketahui adanya perbedaan yang signifikan sikap ilmiah siswa sebelum dan sesudah pembelajaran. Analisis peningkatan sikap ilmiah pada tiga indikator yang digunakan yaitu (1) rasa ingin tahu, (2) kerjasama, (3) kepedulian lingkungan, dilakukan dengan menghitung N-Gain setiap indikator sikap
ilmiah dari seluruh siswa. Selanjutnya akan diperoleh N-Gain dengan kriteria rendah, sedang atau tinggi (Meltzer, 2002). Hasil analisis sikap per indikator ditampilkan pada
Tabel 6 N-Gain Sikap Ilmiah Setiap Indikator Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
No Indikator sikap
ilmiah
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
N-Gain Rendah N-Gain Sedang N-Gain Tinggi N-Gain Rendah N-Gain Sedang N-Gain Tinggi 1 Rasa Ingin Tahu - 11 19 - 22 8 2 Bekerjasama 17 13 - - 16 14 3 Peduli Lingkungan - 13 17 7 19 4
Jumlah 17 37 36 7 57 26
Sumber: Lampiran 5-28
Data pada tabel di atas memperlihatkan N-Gain sikap yang dicapai oleh siswa untuk masing-masing kategori. Terlihat pada tabel untuk semua indikator sikap kelas kontrol lebih banyak mendapat Gain sedang dari pada kelas eksperimen. Untuk mengetahui lebih jelas persentase kategori Gain yang dicapai oleh siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol, maka ditampilkan dalam Tabel 7 berikut ini.
Tabel 7. Persentase N-Gain Sikap Ilmiah Siswa
No Indikator
sikap ilmiah
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
N-Gain Rendah N-Gain Sedang N-Gain Tinggi N-Gain Rendah N-Gain Sedang N-Gain Tinggi 1 Rasa Ingin Tahu - 36,67 63,33 - 73,33 26,67 2 Bekerjasama 56,67 43,33 0,00 - 53,33 46,67 3 Peduli Lingkungan - 43,33 56,67 23,33 63,33 13,33 Jumlah 18,89 41,11 40,00 7,78 63,33 28,89 Sumber: Lampiran 5-29
Jumlah N-Gain sikap yang dicapai siswa, apabila di persentase terdapat hasil seperti yang ditampilkan pada Tabel 7 di atas. Untuk Gain kategori tinggi kelas eksperimen lebih unggul dibanding kelas kontrol. Sedangkan Gain kategori rendah khususnya pada sikap bekerjasama persentase lebih banyak pada siswa kelas eksperimen. Untuk melihat bagaimana peningkatan yang terjadi untuk masing-masing indikator maka di lakukan rekapitulasi
0,76 0,25 0,71 0,63 0,67 0,48 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
rerata N-Gain setiap indikator sikap yang disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8 Rekap Rerata Gain Sikap Setiap Indikator Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
No Indikator Sikap
Ilmiah
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Rerata Gain Kategori Rerata
Gain
Kategori
1 Rasa Ingin Tahu 0,76 Tinggi 0,63 Sedang 2 Bekerjasama 0,25 Rendah 0,67 Sedang 3 Peduli Lingkungan 0,71 Tinggi 048 Sedang
rata-rata (X) 0,57 Sedang 0,59 Sedang
ber: Lampir 5-29
Rerata N-Gain di atas menunjukkan bahwa untuk sikap bekerjasama kelas eksperimen jauh lebih rendah dari siswa kelas kontrol. Dimana rerata kelas eksperimen 0.25 dan rerata kelas kontrol 0.67. Untuk dua indikator sikap lainnya kelas eksperimen lebih baik. Apabila dilihat rerata sikap keseluruhan kelas kontrol mencapai rerata yang lebih baik dengan rerata 0,59 dan kelas eksperimen 0,57. Gambaran rerata N-Gain sikap lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2
Gambar 2 Rerata N-Gain Sikap Ilmiah Per-Indikator Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Gambar 2. memperlihatkan peningkatan sikap bekerjasama lebih baik pada siswa kelas kontrol. Hal ini dapat disimpulkan bahwa sikap ilmiah siswa kelas eksperimen tidak cukup mewakili terhadap siswa kelas kontrol. Hal ini ditunjukkan dari hasil signifikansi peningkatan sikap dengan menggunakan uji-t hitung yang disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9 Signifikansi Skor Sikap Ilmiah Setiap Indikator yang dicapai Kelas Eksperimen Terhadap Kelas Kontrol
NO Indikator Sikap
Ilmiah Kelas ∑Fx/∑Fy Thit
Ttab t0.95(58)
Penerimaan Ha
(α = 0,05) Simpulan
1 Rasa Ingin Tahu Eksperimen 18 4,51 1,67 Terima Ha SIGN Kontrol 13,4
2 Bekerjasama Eksperimen 0,44 -13,9 1,67 Tolak Ha NO SIGN Kontrol 16,1
3 Kepedulian Lingkungan
Eksperimen 10,5 6,6 1,67 Terima Ha SIGN
Kontrol 6,37
Sumber: Lampiran 5-33
Tabel 9 menunjukkan peningkatan untuk setiap indikator sikap oleh siswa kelas eksperimen dan siswa kelas kontrol. Dalam tabel terlihat bahwa dari tiga indikator sikap yang digunakan hanya dua indikator yang mengalami peningkatan signifikan dari siswa kelas eksperimen terhadap kelas kontrol. Sikap Rasa ingin tahu meningkat signifikan dengan thit = 4,51 dan ttab = 1,67. Selanjutnya sikap Kepedulian lingkungan meningkat signifikan dengan nilai thit = 6,6dan ttab = 1,67. Apabila dinilai per-indikator skor sikap siswa kelas eksperimen tidak terjadi peningkatan yang signifikan terhadap siswa kelas kontrol.
PEMBAHASAN
Pembahasan terhadap hasil penelitian dilakukan berdasarkan analisis data dan temuan-temuan pada hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab hasil penelitian.
Sikap Ilmiah
a. Peningkatan Sikap Ilmiah Siswa Analisis data penelitian tentang sikap ilmiah siswa, ditemukan bahwa skor sikap ilmiah awal dan sikap ilmiah akhir siswa terhadap pembelajaran biologi materi sistem pernapasan mengalami peningkatan. Hal ini dapat terlihat dengan lebih tingginya rata-rata skor sikap ilmiah akhir dari skor sikap ilmiah awal siswa.
Perubahan sikap ilmiah siswa setelah pembelajaran menunjukkan bahwa sikap seseorang tidak selalu tetap, tetapi dapat mengalami perubahan karena adanya proses pembelajaran. Dayakisni dan Hudaniyah (2006) yang menyatakan bahwa sikap bukan suatu pembawaan, melainkan hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya sehingga sikap bersifat dinamis. Sikap dapat berubah karena kondisi dan pengaruh yang diberikan. Sikap dapat pula dinyatakan sebagai hasil belajar sehingga sikap tidak terbentuk dengan sendirinya karena sikap senantiasa akan berlangsung dalam interaksi manusia berkenaan dengan obyek tertentu.
Analisis terhadap peningkatan sikap ilmiah dilakukan dengan menghintung N-Gain pada setiap indikator sikap ilmiah. Setelah dianalisis diketahui sikap ilmiah siswa baik kelas eksperimen atau pun kelas kontrol untuk setiap indikator berada pada kategori sedang. Adapun rerata sikap akhir untuk kelas eksperimen adalah 79,2 sedangkan kelas kontrol 73, dengan nilai sikap maksimum pada tes akhir 83,3 untuk siswa kelas eksperimen dan nilai sikap maksimum untuk tes akhir kelas kontrol 75,8.
Untuk peningkatan rerata N-gain sikap siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu pada indikator sikap Rasa ingin tahu kelas eksperimen mendapat rerata 0,76 dan kelas kontrol 0,63. Sedangkan untuk indikator sikap Kerjasama kelas eksperimen mendapat rerata lebih rendah yaitu 0,25 dan kelas kontrol 0,67. Selanjutnya untuk indikator sikap Peduli lingkungan kelas eksperimen mendapat rerata 0,71 dan kelas kontrol 0,48.
Dari penjelasan di atas dapat dilihat kelas kontrol jauh lebih baik pada indikator Bekerjasama dibanding kelas eksperimen. Hal ini dapat dimungkinkan pada saat pembelajaran siswa kelas eksperimen menganggap mereka dapat melakukan setiap tugas atau langkah-langkah yang di instruksikan oleh guru secara sendiri-sendiri, sehingga merasa tidak perlu untuk bekerjasama. Hal ini terlihat pada saat pembelajaran ada beberapa kelompok pada kelas eksperimen, pada saat pembelajaran beberapa individu pada kelompok tersebut kurang menanggapi dan ada melakukan hal-hal yang tidak relevan pada saat diskusi seperti berbicara, menertawakan teman dan lain sebagainya.
Meskipun demikian secara keseluruhan sikap ilmiah siswa kelas eksperimen meningkat signifikan dibanding kelas kontrol yaitu thitung= 2,7 lebih besar nilainya dari ttabel= 1,67 pada derajat kebebasan 58. Dengan demikian hipotesis yang diajukan dapat diterima. Selanjutnya untuk peningkatan sikap per-indikator kelas eksperimen meningkat dalam dua indikator sikap yaitu Rasa ingin tahu
thitung= 4,51 lebih besar nilainya dari ttabel= 1,67, Peduli lingkungan yaitu thitung= 6,6 lebih besar nilainya dari ttabel= 1,67 pada derajat kebebasan 58.
Berdasarkan temuan dan analisis data menunjukkan sikap ilmiah siswa pada kelas eksperimen lebih baik di banding kelas kontrol. Pembelajaran berbasis masalah menuntut siswa terlibat langsung di dalam kegiatan ilmiah. Kegiatan ilmiah yang tercermin dalam penelitian ini diantaranya melakukan observasi, menganalisis, mengidentifikasi, serta melakukan eksperimen serta membuat interpretasi dan kesimpulan. Kegiatan ilmiah yang dilaksanakan dalam pembelajaran dapat mengembangkan sikap ilmiah. Pembelajaran berbasis masalah digunakan sebagai strategi untuk mencapai kompetensi tertentu yang harus dikuasai oleh siswa. Kompetensi yang disusun dalam pendidikan sains diharapkan dapat membantu peserta didik menguasai prinsip-prinsip alam, kecakapan hidup, kemampuan bekerja, mengembangkan kepribadian dan sikap ilmiah (Komalaningsih, 2007).
Penanaman sikap ilmiah melalui model pembelajaran yang tepat akan sangat berpengaruh pada pembinaan sikap positif terhadap konsep atau topik yang sedang dipelajari. Oleh karena itu, sikap ilmiah perlu dibina sedini mungkin pada peserta didik, sehingga mereka dapat menjadi pribadi yang baik dan menjadi generasi penerus yang berkualitas (Komalaningsih, 2007).
Interaksi sosial yang terjadi di dalam kelompok atau di luar kelompok dalam pembelajaran ini dapat mempengaruhi pembentukan sikap
ilmiah yang dimiliki siswa. Hasil interaksi sosial yang positif atau negatif mempengaruhi persepsi seseorang terhadap sesuatu. Afiliansi kelompok (the group affiliations) yang dapat mempengaruhi sikap berasal dari keluarga, sekolah, lembaga agama, atau masyarakat. Selain itu, kepribadian juga dapat mempengaruhi pembentukan sikap (Krech, et al., 1962).
b. Uji Beda Dua Rerata Sikap
Dari hasil penghitungan N-Gain sikap ilmiah antara siswa kelas eksperimen dan siswa kelas kontrol diketahui bahwa secara keseluruhan kelas kesperimen meningkat signifikan dibanding kelas kontrol yaitu yaitu nilai thitung= 2,7 lebih besar nilainya dari ttabel= 1,67. Hal ini berarti peningkatan sikap ilmiah siswa kelas eksperimen lebih baik dibandingkan siswa kelas kontrol. meskipun pada sikap bekerjasama kelas eksperimen lebih rendah.
Apabila ditinjau dari tiga indikator sikap yang digunakan, maka kelas eksperimen hanya meningkat siginifikan pada dua indikator sikap terhadap kelas kontrol yaitu sikap rasa ingin tahu dan kepedulian lingkungan. Sedangkan untuk sikap bekerjasama siswa kelas eksperimen jauh lebih rendah dibanding siswa kelas kontrol yaitu dengan nilai thitung= -13,9 lebih kecil nilainya dari ttabel= 1,67, sehingga untuk sikap bekerjasama tidak terjadi peningkatan signifikan.
Lemahnya sikap bekerjasama yang dimiliki oleh siswa kelas eksperimen dapat dimungkinkan karena pengetahuan atau informasi yang
diterima sangat mempengaruhi penilaian atau pandangan terhadap sesuatu yang diterima. Dalam hal ini guru masih lemah dalam penyampaian atau instruksi yang berhubungan dengan kerja individu atau kelompok siswa. Sehingga siswa kelas eksperimen dalam menjawab butir pernyataan sikap yang berhubungan dengan kerjasama dimungkinkan lebih mementingkan skor bagi indiviualnya, dengan demikian mengabaikan rasa atau sikap lebih bekerjasama. Selain itu pada saat pembelajaran beberapa individu dalam kelompok tidak dapat berinteraksi dengan baik didalam kelompoknya dan ada melakukan hal-hal yang tidak relevan, sehingga dimungkinkan sikap bekerjasama pada siswa kelas eksperimen jauh lebih rendah dari siswa kelas kontrol.
Sesuai dengan pendapat Prokop,
et al., (2007) yang melakukan penelitian tentang sikap siswa Slowakia terhadap biologi, mengatakan walaupun mayoritas siswa menemukan bahwa biologi itu “mudah”, penilaian kesulitan berbeda-beda berdasarkan kelas. Karakteristik guru telah terbukti memiliki peran signifikan pada sikap para siswa Slowakia terhadap biologi; siswa menganggap guru biologi sebagai model untuk memutuskan tentang karir mereka. Tetapi, pandangan-pandangan mereka mengenai guru berbeda-beda berdasarkan guru-guru yang berbeda. Oleh karena itu, karakter individual dari seorang guru mungkin menjadi salah satu variabel yang penting untuk penelitian sikap siswa.
Penelitian Insan (2008) diperoleh hasil bahwa pembelajaran berbasis laboratorium dapat meningkatkan penguasaan konsep dan sikap ilmiah siswa SMA pada materi sistem pencernaan manusia. Pembelajaran berbasis laboratorium lebih memfokuskan siswa sebagai subjek belajar dan memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk membangun pengetahuan melalui percobaan (Insan, 2008).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap siswa maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Setelah pembelajaran berbasis masalah sikap ilmiah siswa kelas eksperimen meningkat signifikan pada dua indikator dibanding pada kelas kontrol.
SARAN-SARAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang diperoleh dalam penelitian ini, maka saran-saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut :
1. Untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal. Guru diharapkan dapat menggunakan model pembelajaran berbasis masalah ini sebagai alternatif untuk mengajarkan materi biologi lainnya.
2. Hasil yang ditemukan dalam proses penelitian ini tidak dapat di generalisasikan untuk semua siswa SMA kelas XI, karena hanya diadakan penelitian di satu sekolah. Oleh sebab itu untuk menyimpulkan hasil yang lebih baik, maka perlu
dilakukan penelitian-penelitian serupa di sekolah-sekolah yang lain sehingga dapat mengungkapkan peningkatan sikap ilmiah siswa lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, M. T. (1994). Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based
Learning. Jakarta: Pernada
Media Group.
Anom, 1989. Psikologi belajar. Semarang: IKIP Semarang Press.
Arikunto, S. (2009). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Badan Standar Nasional Pendidikan (2005). Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPA. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Dayakisni, T dan Hudaniyah. (2006).
Psikologis Sosial. Malang: UM Pres
Depdiknas (2006). Pelatihan
Terintegrasi Berbasis
Kompetensi Guru Mata
Pelajaran Biologi, jakarta
Departemen Pendidikan nasional.
Dimyati dan Mudjiono. (1994). Belajar
dan Pembelajaran. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Gamze, S,S., Serap, C dan Mehmet, S.(2013). A.Comparisan of Achievement in Problem Based, Strategi and Traditional Learning Classes in Physics.
International Journal on New
Frend in Education and Their Implication (Turki). Vol. 4 ISSN 1309-6249
Guntur, M. (2004). Efektifitas Model Pembelajaran Latihan Inquiri
Dalam Meningkatkan
Keterampilan Proses Sains
Pada Konsep Ekologi Siswa Kelas 1 SMU. Tesis S2 UPI. Bandung: Tidak diterbitkan . Ibrahim, M dan Nur. (2000).
Pengajaran Berdasarkan
Masalah. Surabaya : University Press.
Insan. (2008). Pembelajaran Berbasis
Laboratorium untuk
Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Sikap Ilmiah Siswa
pada Konsep Sistem
Pencernaan. Tesis pada PPs
UPI. Bandung: Tidak diterbitkan. Ballachey Krech. D.’Crutchiefld.,R.S
and, E (1962). Individual In Society. A. Text Book of Social
Psychology. San Fransisco:
MC-Graw-Hill Book Company, Inc. Komalaningsih S. (2007).
Problem-Based Learning. Makalah pada mata kuliah Pengajaran Biologi
Sekolah Lanjut (Tidak
dipublikasikan).
Metlzer, D. (2002). ‘The Relationship Between Mathematics Preparation and Conceptual Learning Gains In
Physics’American Journal of Physics, 70, 1259-1268.
Nurhadi. (2004). Pembelajaran Konstektual dan Penerapannya
dalam KBK. Malang: UM Press.
Prokop, P, Tuncer ,G dan Chundra, J (2007) ’Slovakian Student
Attitude toward Biology’
Eurasia Journal of Mathematic
Science & Technology
Education, 3 (4), 287-295. Purworini, SE. (2006). Pembelajaran
Berbasis Proyek Sebagai Upaya Mengembangkan Habit of Mind Studi Kasus di SMP Nasional KPS Balikpapan. Jurnal .1 (2):17-19.
Riduwan, (2002). Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Bandung Alfabeta.
Rochman. (1979). Psikologi Pendidikan. Jakarta : Arief Jaya.
Subagyo dan Pangestu. (1986).
Forecasting Konsep dan
Aplikasi. Yogyakarta : BPFE. Sudjana. (2005). Dasar-dasar Proses
Belajar Mengajar. Bandung :
Sinar Baru.
Titin, E dan R (2011). Pengaruh
Penerapan Pembelajaran
Kontektual Melalui Mode
lProblem Based Instruction
(PBI) Terhadap Hasil Belajar
Siswa Pada Materi Sistem
Pernapasan Manusia di Kelas
VIIISMP Negeri 3 Sukadana,
Jurnal Penelitian Universitas Tanjung pura Vol XXI No 1.1 Januari 2011.