• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN BURNOUT PADA TELLER BANK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN BURNOUT PADA TELLER BANK"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN

BURNOUT PADA TELLER BANK

OLEH

ULFIA LITA TIARAWATI SUSANTO 80 2014 124

TUGAS AKHIR

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Guna Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan Untuk Mencapai Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN

BURNOUT PADA TELLER BANK

Ulfia Lita Tiarawati Susanto

Krismi Diah Ambarwati

Program Studi Psikologi

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

(8)

i Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan burnout pada teller bank. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan negatif antara dukungan sosial dengan burnout pada teller bank. Subjek penelitian adalah teller bank yang ada di 15 bank di Salatiga berjumlah 40 orang. Metode pengumpulan data menggunakan skala dukungan sosial yang disusun dengan mengacu pada teori Sarafino (2002) dan skala burnout yang mengacu pada teori Maslach & Jackson (1981) dengan teknik random sampling. Hasil uji korelasi Spearman Rho menunjukkan rxy = -0,730 dan p<0,05, hal ini berarti terdapat

hubungan negatif yang signifikan antara burnout dan dukungan sosial.

(9)

ii Abstract

This study aims to determine the relation between social support with burnout at the bank’s teller. The hypothesis from this study, there is a negative relation between social support and burnout at the bank’s teller. The subjectsfrom this study are bank’s tellers in 15 banks in Salatiga, and the total are 40 people. The method of data collection is using social support scale that compiled and referenced by Sarafino theory (2002) and also burnout scale which refered by the Maslach and Jackson theory (1981) and used random sample technic. The result from this study shows that there is a significant negative relationship between social support and burnout which represents by spearman Rho correlation test (rxy = -0.730 and p<0.05).

(10)

1 Pendahuluan

Untuk membangun perusahaan bank yang baik dan berkualitas sangat ditentukan dengan kemampuan para pegawai dalam menjalankan peran masing-masing maupun dalam hal kerja sama antar pegawai untuk kemajuan perusahaan. Salah satu masalah yang dapat dialami adalah masalah kejenuhan yang dialami oleh pegawai-pegawai bank terlebih bagian teller. Berdasarkan hasil penelitian Wulandari (2013) mengenai burnout dan persepsi dukungan sosial rekan kerja pada teller bank menunjukkan bahwa teller bank yang mengalami burnout dengan kategori tinggi sebanyak 68% karyawan. Teller bank merupakan salah satu karyawan bank yang bertanggung jawab terhadap lalu lintas uang tunai. Tuntutan pekerjaan sebagai seorang teller dapat membuat seseorang mengalami stres kerja yang diperlihatkan melalui gejala-gejala umum, seperti sulit tidur, perasaan cemas, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung dan frustrasi. Kejenuhan biasanya dialami oleh orang-orang yang sudah bekerja dalam jangka waktu yang cukup lama dan pekerjaan yang dilakukan besifat rutinitas. Penelitian tersebut dilakukan di Uni Global Union yang terletak di Swiss, terlihat bahwa lebih dari 80% perusahaan perbankan dan 26 negara (16 negara di Eropa, 4 di Asia, 3 di Afrika dan 3 di Amerika Latin) telah melaporkan memburuknya kesehatan sebagai masalah yang dialami pegawai bank selama dua tahun terakhir dan mereka kini disebut bekerja dalam iklim ketakutan yang disebabkan karena tekanan yang dirasakan akibat tuntutan pekerjaan.

(11)

2

setelah berada dipekerjaan itu untuk jangka waktu tertentu. Maslach (dalam Spector, 2008) burnout merupakan hasil interaksi dengan orang lain terutama yang berhubungan dengan pekerjaan. Kejenuhan kerja (burnout) menurut Maslach & Jackson (1981) adalah gejala kelelahan emosional dan sinisme yang sering terjadi antara individu-individu yang melakukan beberapa jenis pekerjaan.

Burnout memiliki tiga aspek yaitu kelelahan emosional yaitu perasaan lelah dan letih di tempat kerja, depersonalisasi yaitu pengembangan perasaan sinis dan tak berperasaan terhadap orang lain, dan penurunan pencapaian prestasi pribadi adalah perasaan bersalah ketika memperlakukan orang lain di sekitarnya secara negatif (Maslach & Jackson, 1981). Burnout dapat terjadi di antara karyawan yang tidak mampu mengatasi tekanan pekerjaan yang luas yang menuntut energi, waktu, dan sumber daya. Burnout juga dapat terjadi diantara karyawan yang bekerja di bidang pelayanan, serta dapat terjadi karena situasi kerja yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan harapan (Rizka, 2013).

Karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan atau instansi juga merupakan makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial sangat dibutuhkan kehadiran manusia lain untuk berinteraksi. Hal ini karena individu tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologisnya sendirian. Menurut Ganster, Fusilier, and Meyes (1986), individu membutuhkan dukungan sosial baik yang berasal dari atasan, teman sekerja maupun keluarga. Rosyid (1996) mengatakan bahwa ketiadaan dukungan sosial atasan terhadap karyawan akan mengakibatkan timbulnya

(12)

3

burnout pada karyawan.

Menurut Lee & Ashforth (1996), ada beberapa faktor yang menyebabkan burnout yaitu tekanan pekerjaan dan dukungan. Tekanan pekerjaan meliputi ambiguitas, konflik peran, stres kerja dan beban kerja. Sedangkan dukungan meliputi dukungan keluarga, dukungan teman sekerja dan kekompakan antar kelompok. Dalam penelitian ini lebih menekankan pada dukungan sosial yaitu tersedianya sumber yang dapat dipanggil ketika dibutuhkan untuk mencari dukungan, sehingga orang tersebut cenderung lebih percaya diri dan sehat karena yakin ada orang lain yang membantunya saat kesulitan.

Dukungan sosial mengacu pada memberikan kenyamanan pada orang lain, merawatnya atau menghargainya (Sarafino, 2006). Menurut Kendalhunt (2005), dukungan sosial adalah adanya transaksi interpersonal yang ditunjukkan dengan memberikan bantuan pada individu lain, bantuan itu umumnya diperoleh dari orang yang berarti bagi individu yang bersangkutan. Dukungan sosial dapat berupa pemberian informasi, bantuan tingkah laku, ataupun materi yang didapat dari hubungan sosial yang dapat membuat individu merasa diperhatikan, bernilai dan dicintai. Sumber-sumber dukungan sosial dapat berasal dari keluarga, rekan kerja, dan atasan. Di sebuah perusahaan, karyawan pasti mengharapkan memperoleh dukungan sosial dari atasan, teman kerja, dan juga keluarga (Ganster, Fusilier, and Meyes (1986)). Apabila dukungan sosial tersebut tidak diperoleh, maka karyawan dapat mengalami kebingungan peran, merasakan kesepian karena tidak ada tempat untuk menceritakan

(13)

4

permasalahannya dan sebagai makhluk sosial, karyawan tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut akan berdampak pada kinerja karyawan yang tidak maksimal sehingga kurang memuaskan dan akan berpengaruh terhadap kualitas perusahaan.

Sarafino (2002) menjelaskan ada lima aspek dukungan sosial yaitu dukungan emosi yang merupakan ekspresi empati, kepedulian, dan perhatian kepada seseorang, dukungan penghargaan yang menyediakan terbangunnya perasaan harga diri, kompeten dan bernilai, dukungan instrumen meliputi bantuan secara langsung, dukungan informasi meliputi pemberian nasehat, saran atau umpan balik kepada individu dan dukungan jaringan sosial dengan memberikan perasaan bahwa individu adalah anggota dari kelompok tertentu dan memiliki minat yang sama. Rasa kebersamaan dengan anggota kelompok merupakan dukungan bagi individu yang bersangkutan.

Lingkungan turut mendukung seorang karyawan untuk mengurangi intensitas burnout, dukungan juga bisa diperoleh dari rekan kerja sesama karyawan atau atasan, sehingga membuat lingkungan kerja yang penuh dengan tekanan penyebab burnout menjadi lebih menyenangkan, sebab pengaruh burnout tanpa dukungan sosial yang baik dapat mengakibatkan gangguan fisik, kinerja yang buruk, dan produktivitas yang rendah pada karyawan (Daisy, 2009). Penelitian yang dilakukan oleh Dierendock, Schaufeli, and Buunk (1998) menambahkan bahwa dukungan sosial merupakan hal penting dalam upaya menetralkan burnout. Oleh karena itu, adanya dukungan sosial membuat individu merasa yakin bahwa dirinya

(14)

5

dicintai, dihargai sehingga mengurangi gejala burnout yang dialami. Berdasarkan penelitian Purba, Yulianti dan Widyanti (2007) didapatkan hasil bahwa dukungan sosial berpengaruh negatif terhadap burnout pada guru. Adapula penelitian Adawiyah (2013) yang menghasilkan hubungan negatif signifikan antara dukungan sosial dengan burnout pada guru. Penelitian lain menujukkan bahwa tinggi rendahnya dukungan sosial yang diperoleh perawat di Rumah Sakit Premier tidak berpengaruh pada burnout (Harnida, 2015)

Tidak ada hubungan antara dukungan sosial dengan burnout dikarenakan pekerjaan perawat selalu berkaitan dengan manusia (human service) sehingga dituntut tanggung jawab yang tinggi dan harus menyelesaikan tugasnya dengan baik karena berhubungan dengan kualitas hidup orang lain. Apabila seorang perawat tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka yang dirasakan dampaknya bukan saja dia sebagai pelaku pekerja tetapi juga berakibat pada kehidupan orang lain yang terimbas oleh pekerjaan perawat tersebut dalam hal ini adalah pasien. Jadi meskipun seorang perawat memiliki dukungan sosial yang cukup baik namun kalau tidak diaplikasikan dengan baik maka perawat tersebut akan tetap mengalami burnout.

Pada penelitian tersebut alat ukur yang digunakan adalah angket sehingga peneliti tidak dapat mengontrol kejujuran dari responden. Selain itu dua dari tiga alat ukur yang digunakan tidak diujicobakan karena sudah merupakan alat ukur yang sudah baku. Memang alat ukur yang sudah ada telah memiliki validitas dan reliabilitas yang cukup baik, namun kondisi

(15)

6

sampel yang dahulu dan sekarang berbeda dalam beberapa hal misalnya kondisi fisik, lingkungan dan kondisi psikis yang dialami oleh sampel penelitian kemungkinan juga akan memberikan kualitas respon yang berbeda juga.

Dalam pelaksanaan penelitian juga ada kemungkinan sampel yang kurang sungguh-sungguh dalam mengerjakan angket yang penulis sebarkan. Hal ini bisa terjadi karena pekerjaan mereka telah menjadi beban kerja perawat yang cukup berat sehingga mereka merasa enggan atau menilai tidak penting untuk mengerjakan angket dengan sungguh-sungguh. Selain guru dan perawat, teller bank juga merupakan pekerjaan yang memiliki keterbatasan gerak untuk mengeksplorasi diri sehingga akan menimbulkan rasa jenuh. Di tempat kerja, kegiatan yang dilakukan cenderung didasarkan pada suatu agenda tertentu, segala sesuatu dikerjakan dengan batas waktu tertentu dan untuk tujuan tertentu. Orang yang kurang tertantang tidak menemukan gairah atau kenikmatan dalam pekerjaan, mereka mengatasinya dengan menjauhkan diri dari pekerjaan (Susanto & Amalia 2006 ).

Berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya dan kajian teoritis, muncul pertanyaan apakah ada hubungan negatif antara dukungan sosial dengan burnout pada teller bank? Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan burnout pada teller bank.

(16)

7

Hipotesis

Ada hubungan negatif antara dukungan sosial dengan burnout pada karyawan teller Bank.

Metode Penelitian Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif adalah penelitian dengan hasil data yang berbentuk angka-angka dan dianalisis menggunakan statistik (Sugiyono, 2011). Pendekatan ini dipilih karena peneliti mengolah data dalam bentuk angka-angka ke dalam analisis statistik. Untuk jenis penelitian adalah jenis penelitian korelasional, yaitu penelitian yang dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Pengukuran korelasional digunakan untuk menentukan besarnya arah hubungan (Sevilla et all, 1993).

Variabel Penelitian

Penelitian ini merupakan studi korelasi dengan tujuan untuk mengetahui hubungan dua variabel yaitu dukungan sosial sebagai variabel independen (X) dan burnout sebagai variabel dependen (Y).

Definisi Operasional Burnout

Maslach & Jackson (1981), burnout merupakan sindrom psikologis yang meliputi kelelahan, depersonalisasi dan menurunnya kemampuan dalam melakukan tugas-tugas rutin seperti mengakibatkan timbulnya rasa cemas, depresi, atau bahkan dapat mengalami gangguan tidur.

(17)

8

Dukungan Sosial

Sarafino (1998) menyatakan bahwa dukungan sosial merujuk pada kenyamanan, kepedulian, harga diri atau segala bentuk bantuan yang diterima individu dari orang lain atau kelompok.

Subjek Penelitian Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah teller bank yang masih aktif di 15 Bank di Salatiga. Jumlah populasi dalam penelitian ini ± 60 orang, sedangkan subjek dalam penelitian ini adalah 40 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah random sampling. Proses pengambilan sampel dilakukan dengan memberi kesempatan yang sama pada setiap anggota populasi untuk menjadi anggota sampel. Jadi disini proses memilih sejumlah sampel n dari populasi N yang dilakukan secara random. Peneliti tidak bisa menentukan jumlah teller bank yang diberikan angket. Jumlah sampel disesuaikan dengan jumlah teller bank yang direkomendasikan oleh pimpinan bank.

Karakteristik Sampel

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teller bank yang memiliki karakteristik sebagai berikut :

a. Karyawan teller bank yang bersedia diteliti b. Karyawan teller bank yang tidak sedang cuti c. Berusia 23-45 tahun

(18)

9

Metode Pengumpulan Data Skala Burnout

Skala burnout akan mengungkap tinggi rendahnya burnout yang dialami oleh teller Bank. Skala burnout menggunakan skala Maslach Burnout Inventory (MBI) dengan tingkat koefisien reabilitas sebesar 0,83. MBI disusun oleh Maslach dan Jackson (1981) yang terdiri dari 3 aspek, yaitu: kelelahan emosional, depersonalisasi, dan pencapaian pribadi. Skala burnout yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 22 item. Terdapat 16 item memiliki daya diskriminasi baik sesuai dengan batas koefisien korelasi item total ≥ 0, 3 (Azwar, 2004) yang dapat digunakan untuk dianalisa dalam penelitian ini dengan nilai reliabilitas sebsar 0,948.

Skala Dukungan Sosial

Dukungan sosial diukur dengan menggunakan skala dukungan sosial yang dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan teori Sarafino (1998). Alat ukur ini melihat berdasarkan lima aspek antara lain: dukungan emosional, dukungan penilaian, dukungan instrumental, dukungan informasi dan dukungan jaringan sosial. Skala dukungan sosial yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 31 item. Terdapat 30 item memiliki daya diskriminasi baik sesuai dengan batas koefisien korelasi item total ≥ 0,3 (Azwar, 2004) yang dapat digunakan untuk dianalisa dalam penelitian ini dengan nilai reliabilitas sebesar 0,964.

(19)

10

Hasil Penelitian Analisis Deskriptif

a. Burnout

Variabel burnout memiliki item dengan daya diskriminasi baik berjumlah 16 item, dengan jenjang skor antara 1 sampai dengan 4. Pembagian skor tertinggi dan terendah adalah sebagai berikut :

Skor tertinggi : 4 x 16= 64 Skor terendah : 1 x 16 = 16

Pembagian interval dilakukan menjadi empat kategori, yaitu sangat tinggi, tinggi, rendah dan sangat rendah. Pembagian interval dilakukan dengan mengurangi jumlah skor terendah dan membaginya dengan jumlah kategori.

Tabel 1

Kriteria Skor Burnout

No Interval Kategori Frekuensi Persentase

1. 52 ≤ x <64 Sangat Tinggi 7 17,5% 2. 40 ≤ x <52 Tinggi 7 17,5% 3. 28 ≤ x <40 Rendah 21 52,5% 4. 16≤ x <28 SangatRendah 5 12,5 %

Data di atas menunjukkan tingkat burnout dari 40 subjek yang berbeda-beda, mulai dari tingkat sangat rendah, rendah, tinggi hingga sangat tinggi. Pada kategori sangat rendah didapati persentase sebesar12,5%, kategori rendah sebesar 52,5%, serta kategori tinggi dan sangat tinggi sebesar 17,5%

(20)

11

b. Dukungan Sosial

Variabel dukungan sosial memiliki item dengan daya diskriminasi baik berjumlah 30 item, denga skor terendah 1 dan skor tertingggi 4. Pembagian skor tertinggi dan terendah adalah sebagai berikut :

Skor tertinggi : 4 x 30 = 120 Skor terendah : 1 x 30 = 30

Pembagian interval dilakukan menjadi tiga kategori, yaitu tinggi, sedang dan rendah dan membaginya dengan jumlah kategori.

Tabel 2

Kriteria Skor Dukungan Sosial

No Interval Kategori Frekuensi Persentase

1. 97,5 ≤ x <120 Sangat Tinggi 10 25% 2. 75 ≤ x <97.5 Tinggi 23 57,5% 3. 52,5≤ x <75 Rendah 6 15% 4. 30≤ x <52,5 SangatRendah 1 2,5 %

Data di atas menunjukkan tingkat dukungan sosial dari 40 subjek yang berbeda-beda, mulai dari tingkat sangat rendah, rendah, tinggi hingga sangat tinggi. Pada kategori sangat rendah didapati persentase sebesar 2,5%, kategori rendah sebesar 15%, kategori tinggi sebsar 57,5% dan sangat tinggi sebesar 25%.

Uji Asumsi

Uji Normalitas

Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan metode Kolmogorov Smirnov. Data dapat dikatakan berdistribusi normal apabila nilai signifikansi (p> 0,05) yang didapat dari hasil analisa menggunakan

(21)

12

program SPSS 16.0. Hasil perhitungan uji kolmogorov-smirnov Z burnout diperoleh nilai K-S-Z sebesar 1,163 dengan nilai sign. = 0,134 (p > 0,05), dan dukungan sosial juga besar nilai K-S-Z sebesar 1,161 dengan nilai sign. = 0,135 (p> 0,05) dari data tersebut artinya kedua variabel berdistribusi normal.

Uji Linearitas

Pengujian linearitas diperlukan untuk mengetahui apakah dua variabel yang sudah ditetapkan, memiliki hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Kedua variabel dapat dikatakan linier bila memiliki nilai signifikansi deviation from linearity (p > 0,05).

Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa hubungan dukungan sosial dan burnout adalah tidak linear, karena dari hasil uji linearitas diperoleh p= 0,001 (p< 0,05) maka data dapat dikatakan tidak linier, karena itu dapat dikatakan bahwa hubungan antara dukungan sosial dan burnout tidak menunjukkan garis yang sejajar atau linear.

Uji Korelasi

Setelah dilakukan uji korelasi dengan spearman rho correlation didapati nilai rxy = -0,730 maka diketahui bahwa terdapat hubungan

negatif yang kuat. Diketahui nilai p = 0,000, maka terdapat hubungan negatif yang kuat antara burnout dengan dukungan sosial dan hubungan tersebut dikatakan signifikan karena nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05).

(22)

13

Pembahasan

Dari hasil pengujian korelasi diperoleh adanya hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial dengan burnout (r = -0,730; p< 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diperoleh maka semakin rendah burnout, demikian sebaliknya. Hal tersebut menunjukan bahwa dalam penelitian ini hipotesis diterima.

Labib (2013) dalam penelitiannya mengatakan bahwa hubungan antara dukungan sosial dengan tingkat burnout memiliki sifat berlawanan, dilihat dari tanda negatif (-) dalam koefisien korelasi. Dengan kata lain semakin tinggi dukungan sosial yang diperoleh, maka tingkat burnout semakin rendah.

Sumbangan efektif (SE) dukungan sosial terhadap burnout pada teller bank sebesar 53,29 % ditunjukkan oleh koefisien determinan r2= 0,5329. Hal ini memiliki arti bahwa terdapat ada 46,71% variabel lain yang mempengaruhi burnout pada teller bank di luar variabel dukungan sosial seperti beban kerja, jenis kelamin, tipe kepribadian dan lain sebagainya (Ariatiani, 2015).

Berdasarkan analisis data statistik yang dilakukan, telah diketahui bahwa dukungan sosial berkorelasi negatif dengan burnout pada karyawan teller bank. Sesuai dengan pernyataan Coyne dan Downey (Smet, 1994) bahwa hubungan yang kurang baik seperti individu yang memiliki konflik dengan rekan kerjanya atau tidak memiliki hubungan harmonis dengan keluarga cenderung memiliki dukungan sosial yang

(23)

14

rendah. Sebaliknya apabila individu memiliki hubungan yang harmonis dengan keluarga, cenderung mendapatkan dukungan sosial yang tinggi dalam keluarga maupun lingkungan.

Ketika seorang individu memiliki hubungan sosial dari keluarga dan rekan kerja, maka tidak akan sulit bagi individu tersebut untuk memperoleh energi positif dari lingkungannya. Energi positif yang dimaksud adalah motivasi, penghargaan, fasilitas serta kemudahan dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan. Menurut hasil penelitian, para teller bank telah memiliki dukungan sosial yang tinggi dengan persentase 57,5% sehingga mereka bisa menikmati pekerjaannya dan menurunkan tingkat burnout yang mereka miliki dengan persentase burnout yang rendah sebesar 52,5%. Mereka juga bisa meminimalisir kesulitan dalam memahami dan mengerjakan tugas karena mereka memperoleh kemudahan untuk memperoleh informasi yang mereka butuhkan.

Dukungan sosial yang diperoleh dari atasan, teman sekerja, dan keluarga mempunyai andil besar untuk meringankan beban seseorang yang mengalami burnout. Faktor dari luar seperti tingginya dukungan sosial dari lingkungan sekitar dapat mempengaruhi burnout pada teller bank. Adanya dukungan ini, menggambarkan tersedianya barang-barang (materi) atau adanya pelayanan dari orang lain yang dapat membantu individu dalam menyelesaikan masalahnya. Selanjutnya hal tersebut akan memudahkan individu untuk dapat memenuhi tanggung jawab dalam menjalankan perannya seharihari. Dengan adanya rekan kerja yang membantu menyelesaikan tugas, hal tersebut dapat mengurangi burnout

(24)

15

yang dialami individu. Dukungan meliputi pemberian nasehat, saran atau umpan balik kepada individu biasanya diperoleh dari sahabat, rekan kerja, atasan atau seorang profesional seperti dokter atau psikolog (Sarafino, 2002) akan membantu individu memahami situasi dan mencari alternatif pemecahan masalah atau tindakan yang akan diambil. Adanya saran atau nasehat yang diberikan teman dapat mengurangi depersonalisation yang dialami individu sehingga dapat menghargai setiap usaha dan pekerjaan yang dilakukannya. Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan ada hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial dengan burnout. Tinggi rendahnya dukungan sosial memberikan pengaruh terhadap burnout pada teller bank.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial dengan burnout (-0,730 ; p<0,05). Semakin tinggi dukungan sosial, maka semakin rendah burnout demikian sebaliknya. Burnout dalam pelitian ini tergolong rendah dengan persentase sebesar 52,5%, sedangkan untuk dukungan sosial tergolong tinggi dengan persentase sebesar 57,5%.

Saran

Untuk mengurangi terjadinya burnout, para teller bank perlu mengintensifkan hubungan sosial yang baik dengan lingkungan agar terbentuk dukungan sosial yang baik dan kondusif untuk mencegah terjadinya burnout. Sebaiknya sering juga dilakukan kegiatan bersama untuk mengurangi kejenuhan para teller bank dalam bekerja. Dengan

(25)

16

begitu kecenderungan terjadinya burnout dapat dikurangi. Pihak bank harus mempertahankan keadaan lingkungan kerja yang kondusif, karena dari hasil penelitian didapatkan bahwa burnout yang dimiliki teller bank rendah karena tingginya dukungan sosial. Alangkah lebih baiknya juga memberikan kegiatan bersama seperti social gathering untuk menambah rasa kekeluargaan antar karyawan bank sehingga dapat lebih meningkatkan dukungan sosial.

Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya perlu menambahkan variabel lain yang dapat mempengaruhi burnout, misalnya faktor demografi dan stres kerja serta menambahkan jumlah sampel yang lebih besar.

(26)

17

Daftar Pustaka

Adawiyah, R. (2013). Kecerdasan emosional, dukungan sosial dan kecenderungan burnout. Jurnal Psikologi Indonesia, 2 (2), 99-107 Agustin, H. (2010). Hubungan kepuasan kerja dan dukungan sosial dengan

persepsi perubahan organisasi. Jurnal Insan, 12 (3), 127-137 Azwar, S. (2004). Validitas dan reliabilitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Azwar, S. (2006). Metode penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Azwar, S. (2006). Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Daisy, C (2009). Job stress. Indian Journal of Industrial Relation, 1, 37-67 Dierendock, DV., Schaufeli, W.B., dan Bunk, B.P. (1988). The evaluation of an individual burnout intervetion program : the role of inequity and social support. Journal of Apploed Psychology, 83 (2), 367-378

Dewi, S. (2014). Hubungan antara stres kerja dengan burnout pada perawat di ruang ICU, ICCU dan PICU RSUD ulin Banjarmasin. An-Nadaa 1 (1), 10-13

Ganster, D.C., Fusilier, M.R., and Meyes, B.T. 1986. Role of social support in the experience of stress at work. Journal of Applied Psychology, 71, 102-110

Harnida, H. (2015). Hubungan efikasi diri dan dukungan sosial dengan burnout pada perawat. Persona, Jurnal Psikologi Indonesia, 4(01), 31-43.

Labib, A. (2013). Analisis hubungan dukungan sosial dari rekan kerja dan atasan dengan tingkat burnout pada perawat rumah sakit jiwa. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 2 (1)

Lee, R.T dan B.E. Asforth. (1996). A media analytic examination of the correlates of the three dimention of burnout. Journal of Aplied Psychology, 81 (2), 123-133

Maslach, C., & Jackson, S. (1981). The measurement of experienced burnout. Journal of Occupational Behaviour, 2 , 99-113

Purba, J., Yulianti, A., dan Widyanti, E. (2007). Pengaruh dukungan sosial terhadap burnout pada guru. Jurnal Psikologi, 5 (1).

Rizka, Z. (2013). Sikap terhadap pengembangan karir dengan burnout pada karyawan. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 1 (2), 2301-8267

(27)

18

Rosyid, H.F. (1996). Burnout penghambat produktivitas yang perlu dicermati. Buletin Psikologi, IV (1): 19-24.

Sarafino, E.P. (2002). Health psychology biopsychosocial interactions, (4th ed). John Wiley and Sons, Inc, United State

Sevilla, Cg, et all. (1993). Pengantar metode penelitian. Jakarta : UI Press Spector, P. E. (2008). Industrial and organizational psychology. USA :

John Wiley and Sons Inc.

Susanto dan Amalia. (2006). Reinventing your self. Retreived from http://eprints.umpo.ac.id/3704/5/REINVENTING%20YOUR%20S ELF.pdf

Sears, D.O. Freedman, J.L. Peplau, L.A. (1991). Social psychology. (Terjemahan Adryanto). Jakarta : Erlangga

Wijono, S. (2010). Psikologi industri dan organisasi : Dalam suatu bidang gerak psikologi sumber daya manusia. Jakarta : Kencana Wulandari, S. (2013). Persepsi dukungan sosial rekan kerja dengan

burnout pada teller bank. Jurnal Online Psikologi, 1 (2). Retreived from

http://id.portalgaruda.org/index.php?ref=browse&mod=viewarticle &article=97201

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis maka diperoleh korelasi yang signifikan antara dukungan sosial dengan burnout atau r sebesar -0,468 dengan p= 0,001 yang berarti p&lt;0,01,

Terbuktinya hipotesis yang diajukan menunjukkan bahwa dukungan sosial memang sangat penting untuk dapat dirasakan oleh para karyawan karena dengan dukungan sosial

Variabel di dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu dukungan sosial dari rekan kerja dan atasan yang meliputi dukungan emosional, dukungan penghargaan,

Izzati (2013) yang berjudul hubungan antara persepsi mengenai dukungan sosial orangtua dengan motivasi belajar siswa yang mendapatkan hasil bahwa siswa yang tidak

Sarason (1983) mengungkapkan bahwa dukungan sosial mencangkup dua aspek, antara lain: 1) Jumlah sumber dukungan sosial yang tersedia (kuantitas), merupakan persepsi

Pengaruh persepsi mengenai kondisi lingkungan kerja dan dukungan sosial terhadap tingkat burnout pada perawat IRD RSUD dr.Soetomo Surabaya.. Prosedur penelitian,

Berdasarkan penjelasan mengenai dukungan sosial di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial adalah perasaan nyaman, perhatian, dan penghargaan yang diterima individu

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi “Pengaruh Beban Kerja Workload Dan Dukungan Sosial Sosial Support Terhadap Burnout Pada