UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

211 

Teks penuh

(1)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

PERANCANGAN FASILITAS BERDASARKAN PRINSIP-PRINSIP ERGONOMI PADA BAGIAN SORTASI UDANG

DI PT. CENTRAL WINDU SEJATI TUGAS SARJANA

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Penulisan Tugas Sarjana

Oleh:

HENDRIK P. SIMBOLON NIM: 050423003

PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA EKSTENSI

D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I

F A K U L T A S T E K N I K

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2009

(2)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

(3)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

(4)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

ABSTRAK

PT. Central Windu Sejati adalah salah satu perusahaan yang bergerak di dalam bidang pembekuan udang. Produk-produk yang dihasilkan kebanyakan diekspor ke luar negeri. Kualitas dan ketepatan pengiriman adalah salah satu persyaratan yang harus dicapai agar kepercayaan akan produk yang dihasilkan dapat diterima oleh konsumen di luar negeri.

Produktivitas adalah salah satu yang sangat diperhatikan oleh perusahaan dalam kegiatan produksi agar target produksi dapat dicapai dengan tepat. Salah satu bagian yang penting dalam kegiatan produksi dalam pencapaian target produksi adalah bagian sortasi udang. Bagian ini terdiri atas dua kegiatan yaitu sortasi warna udang dan sortsi grade. Produktivitas produksi pada bagian sortasi ini dipengaruhi oleh metode kerja dan fasilitas kerja. Pada bagian sortasi ini terlihat metode kerja yang kurang efisien sehingga mengakibatkan penyelesaian pekerjaan akan memerlukan waktu yang lebih besar. Selain itu, dalam melakukan pekerjaan para pekerja (operator) melakukanya dalam kondisi berdiri dan membungkuk sehingga mengakibatkan para pekerja sering mengalami keluhan pada bagian kaki dan leher yang berakibat menurunnya produktivitas para pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan suatu solusi mengenai metode dan fasilitas kerja yang lebih efisien untuk meningkatkan produktivitas kerja. Setelah melakukan penelitian dengan menggunakan Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan, penelitian ini memberikan suatu metode kerja usulan sortasi warna dengan waktu baku sebesar 3,4 detik/ekor dan metode kerja usulan sortasi grade dengan waktu baku sebesar 9,6 detik/ekor. Berdasarkan antropometri tubuh para pekerja, penelitian ini merancang suatu meja dengan ukuran 154,1 cm x 58,51 cm x 62,21 cm dan perancangan suatu kursi dengan panjang alas duduk sebesar 41,7 cm, lebar alas duduk sebesar 34,65 cm, tinggi sandaran duduk ke tempat alas duduk sebesar 63,78 cm, tinggi dasar kursi ke alas duduk sebesar 43,95 cm, lebar sandaran duduk sebesar 39,74 cm.

Kata Kunci : Ergonomi, Metode Kerja, Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan, Fasilitas Kerja, Antropometri, Kolmogorov Smirnov.

(5)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

UCAPAN TERIMA KASIH

Tugas Sarjana ini tidak akan pernah terwujud tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada :

1. Ibu Ir. Rosnani Ginting, MT, selaku Ketua Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Ir. Sugih Arto Pujangkoro, MM selaku Koordinator Tugas Sarjana Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Ir. H A Jabbar M Rambe, M.Eng, selaku Ketua Bidang Ergonomi

dan Dasar Perancangan Sistem Kerja Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Ir. Mangara M. Tambunan, MSc selaku pembimbing I, yang telah meluangkan banyak waktunya untuk memberikan motivasi, bimbingan arahan dan koreksi dalam penulisan Tugas Sarjana ini.

5. Bapak Buchari, ST, M.Kes selaku pembimbing II, yang telah begitu sangat sabar dan telah banyak meluangkan waktu yang sangat terbatas untuk memberikan motivasi, bimbingan, arahan dan koreksi agar Tugas Sarjana ini dapat selesai dengan baik.

6. Bapak Polmen Purba, ST selaku Supervisor Plant PT. Central Windu Sejati Medan, yang banyak membantu penulis selama proses pengambilan data di lapangan dan memberikan informasi-informasi yang sangat diperlukan dalam penulisan Tugas Sarjana ini.

(6)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

7. Kedua Orang Tuaku Tercinta , U. Simbolon dan N. Marbun, yang selalu memberikan bantuan moral, serta Adik-adikku tersayang yang juga merupakan motivasi penulis agar dapat segera menyelesaikan Tugas Sarjana ini.

8. Seluruh Staf dan karyawan PT. Central Windu Sejati medan yang telah memberikan bantuan berupa informasi dan dukungan moril selama penulisan Tugas Sarjana ini.

9. Teman-teman seperjuangan Ekstensi ’05 dan anak-anak Ekstensi ’06 yang selalu hadir memberikan bantuan dan semangat untuk penulis.

10.Buat semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam pembuatan laporan ini, terima kasih karena tanpa kalian penulis bukan siapa-siapa.

Demikian penulis sampaikan untuk memulai pembahasan Tugas Sarjana ini. Dalam hal ini penulis menyadari bahwa Tugas Sarjana yang disajikan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. Semoga Tugas Sarjana ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Universitas Sumatera Utara Medan, 01 Desember 2009 Penulis,

(7)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kasih dan setia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Sarjana ini yang berjudul “Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang di PT. Central Windu Sejati”.

Tugas sarjana ini dibuat sebagai salah satu syarat dalam menempuh ujian Sarjana pada Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan Tugas Sarjana, Penulis telah berusaha untuk membuat yang terbaik, namun penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk lebih menyempurnakan Tugas Sarjana ini.

Semoga Tugas Sarjana ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Universitas Sumatera Utara Medan, 01 Desember 2009 Penulis,

(8)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

DAFTAR ISI

BAB HALAMAN

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii I. PENDAHULUAN ... I-1 1.1. Latar Belakang ... I-1 1.2. Perumusan Masalah ... I-2 1.3. Tujuan Penelitian ... I-2 1.4. Manfaat Penelitian ... I-3 1.5. Ruang Lingkup ... I-4 1.6. Asumsi yang Digunakan ... I-4 1.7. Sistematika Penulisan Tugas Akhir ... I-5 II. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... II-1 2.1. Sejarah Perusahaan ... II-1 2.2. Lokasi Perusahaan ... II-2 2.3. Ruanglingkup Bidang Usaha ... II-3 2.4. Organisasi dan Manajemen Perusahaan ... II-5 2.4.1. Struktur Organisasi ... II-5 2.4.2. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab ... II-5 2.4.3. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja ... II-6 2.4.3.1. Jumlah Tenaga Kerja ... II-6 2.4.3.2. Jam Kerja ... II-8

(9)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

2.4.4. Sistem Pengupahan dan Fasilitas Lainnya ... II-9 2.5. Proses Produksi ... II-11 2.5.1. Standar Mutu Produk ... II-11 2.5.2. Bahan yang Digunakan ... II-14 2.5.2.1. Bahan Baku ... II-14 2.5.2.2. Bahan Penolong ... II-15 2.5.2.3. Bahan Tambahan ... II-17 2.5.3. Proses Produksi ... II-18 2.6. Mesin dan Peralatan ... II-25 2.7. Utilitas ... II-26 2.8. Safety and Fire Protection ... II-31 2.9. Waste Treatment ... II-34 III. LANDASAN TEORI ... III-1 3.1. Analisa Metode Kerja ... III-1 3.2. Ergonomi ... III-4 3.2.1. Defenisi Ergonomi ... III-5 3.2.2. Tujuan dan Pentingnya Ergonomi ... III-6 3.2.3. Bidang Kajan Ergonomi ... III-6 3.3. Antropometri ... III-9 3.3.1. Antropometri Dinamis ... III-10 3.3.2. Antropometri Statis ... III-10 3.3.3. Dampak Postur Kerja terhadap Kesehatan ... III-11 3.3.4. Cara Pengukuran dan Faktor-faktor yang

Mempengaruhi Dimensi Tubuh Manusia ... III-12 3.3.5. Aplikasi Data Antropometri dalam Perancangan

Produk/Fasilitas Kerja ... III-22 3.4. Persentil ... III-24

(10)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

3.5. Therblig Chart ... III-25 3.6. Prinsip-prinsip Ekonomi Gerakan ... III-28 3.7. Prosedur Pengukuran Kerja ... III-30 3.8. Tahapan Pengukuran Kerja ... III-34 3.9. Tahapan Setelah Pengukuran Pendahuluan ... III-34 3.10. Kolmogorov Smirnov Test ... III-36 IV. METODOLOGI PENELITIAN ... IV-1 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian ... IV-1 4.2. Rancangan Penelitian ... IV-1 4.3. Langkah-langkah Penelitian... IV-1 4.4. Instrumen Penelitian ... IV-4 4.5. Variabel Penelitian ... IV-6 V. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA ... V-1 5.1. Pengumpulan Data ... V-1 5.1.1. Data Kegiatan Sortasi ... V-1 5.1.1.1. Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan Sekarang . V-1 5.1.1.2. Waktu Siklus ... V-5 5.1.2. Pengumpulan Data Antropometri Pekerja ... V-8 5.2. Pengolahan Data ... V-9 5.2.1. Pengolahan Data Kegiatan Sortasi ... V-9 5.2.1.1. Waktu Baku Penyortiran Warna ... V-9 5.2.1.2. Waktu Baku Penyortiran Grade (ukuran) ... V-14 5.2.2. Pengolahan Data Antropometri Pekerja ... V-19 5.2.2.1. Perhitungan Standar Deviasi ... V-19 5.2.2.2. Uji Keseragaman Data ... V-20 5.2.2.3. Uji Kecukupan Data ... V-22

(11)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

DAFTAR ISI (Lanjutan)

BAB HALAMAN

5.2.2.4. Uji Kolmogorov Smirnov Test ... V-23 5.2.2.5. Perhitungan Persentil ... V-27 VI. ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH ... VI-1 6.1. Analisa ... ... VI-1 6.1.1. Analisa Metode Kerja ... VI-1 6.1.2. Penentuan Persentil ... VI-1 6.2. Pemecahan Masalah ... VI-3 6.2.1. Pemecahan Masalah Metode Kerja ... VI-3 6.2.1.1. Penyortiran Warna ... VI-3 6.2.1.2. Penyortiran Grade ... VI-10 6.2.2. Pemecahan Masalah Fasilitas Kerja ... VI-17 6.2.2.1. Perancangan Meja Kerja ... VI-17 6.2.2.2. Perancangan Kursi ... VI-21 VII. KESIMPULAN DAN SARAN ... VII-1 7.1. Kesimpulan ... VII-1 7.2. Saran ... VII-3 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(12)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN

2.1. Sebaran Tenaga Kerja Berdasarkan Jabatan ... II-6 2.2. Klasifikasi Ukuran Udang ... II-13 3.1. Perhitungan Persentil ... III-25 5.1. Waktu Siklus Penyortiran Warna Udang pada Masing-masing

Pekerja/Operator ... V-6 5.2 Waktu Siklus Penyortiran Grade (ukuran) Udang pada Masing-masing

Pekerja/Operator ... V-7 5.3. Data Antropometri Para Pekerja ... V-8 5.4. Parameter Pengujian Keseragaman Data Waktu Siklus

Penyortiran Warna ... V-9 5.5. Parameter Penguujian Keseragaman data Waktu Siklus Penyortiran

Grade (ukuran) ... V-14 5.6. Perhitungan Standar Deviasi Tinggi Duduk Tegak (TDT) ... V-19 5.7. Hasil Uji Data Keseluruhan Dimensi Tubuh ... V-23 5.8. Hasil Perhitungan Dmaks Dimensi Tinggi Duduk Tegak (TDT) ... V-25

5.9. Hasil Uji Kolmogorov Smirnov untuk Keseluruhan Dimensi Tubuh .. V-27 5.10. Hasil Perhitungan Dimensi Tubuh untuk Persentil 5 ... V-28 5.11. Hasil Perhitungan Dimensi Tubuh untuk Persentil 95 ... V-29 6.1. Hasil Perhitungan Dimensi Tubuh untuk Persentil 5 ... VI-2 6.2. Hasil Perhitungan Dimensi Tubuh untuk Persentil 95 ... VI-2 6.3. Waktu Siklus Penyortiran Warna Udang Usulan ... VI-5 6.4. Parameter Pengujian Keseragaman Data Waktu Siklus Penyortiran

Warna Udang Usulan ... VI-6 6.5. Waktu Siklus Penyortiran Grade Udang Usulan ... VI-12 6.6. Parameter Pengujian Keseragaman Data Waktu Siklus Penyortiran

(13)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR HALAMAN

2.1. Struktur Organisasi PT. Central Windu Sejati ... II-7 3.1. Langkah-langkah Kegiatan Analisa Metode Kerja... III-2 3.2. Rasa Sakit/Cacat pada Tubuh ... III-12 3.3. Pengukuran Dimensi Tubuh Manusia Posisi Duduk ... III-16 3.4. Pengukuran Dimensi Tubuh Manusia Posisi Berdiri... III-18 3.5. Pengukuran Dimensi Tubuh Manusia Posisi Berdiri dengan

Tangan ke Depan ... III-19 3.6. Pengukuran Dimensi Tubuh Manusia Posisi Duduk Menghadap

Ke Depan ... III-20 3.7. Pengukuran Dimensi Tubuh Manusia Posisi Berdiri dengan Kedua

Lengan Direntangkan ... III-21 3.8. Pengukuran Jari Tangan ... III-22 3.9. Kurva Distribusi Normal dengan Persentil 95 ... III-24 4.1. Blok Diagram Pengolahan Data ... IV-5 4.2. Blok Diagram Rancangan Penelitian ... IV-6 5.1 Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan Penyortiran Warna ... V-2 5.2. PetaTangan Kiri dan Tangan Kanan Penyortiran Grade ... V-4 5.3. Peta Kontrol Waktu Siklus Penyortiran Warna Udang ... V-11 5.4. Peta Kontrol Waktu Siklus Penyortiran Grade Udang ... V-16 5.5. Peta Kontrol (Control Chart) Tinggi duduk Tegak ... V-21 6.1. Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan Penyortiran Udang Usulan ... VI-4 6.2. Peta Kontrol Waktu Siklus Penyortiran Warna Udang... VI-7 6.3. Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan Penyortiran Grade Udang Usulan VI-11 6.4. Peta Kontrol Waktu Siklus Penyortiran Grade Udang Susulan ... VI-14 6.5. Sketsa Penentuan Tinggi Meja Kerja Sortasi Usulan ... VI-18 6.6. Sketsa Penentuan Lebar Meja Kerja Sortasi Usulan ... VI-19

(14)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

DAFTAR GAMBAR (Lanjutan)

GAMBAR HALAMAN

6.7. Sketsa Penentuan Panjang Meja Kerja Sortasi Usulan ... VI-20 6.8. Sketsa Meja Kerja Sortasi Usulan ... VI-20 6.9. Kursi Kerja Bagian Sortasi Usulan I... VI-22 6.10. Kursi Kerja Bagian Sortasi Usulan II ... VI-23

(15)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Perhitungan Standar Deviasi, uji Keseragaman Data dan

Kecukupan Data ... L-1 2. Uji Kolmogorov Smirnov Dimensi Tubuh... L-2 3. Tabel Rating Factor Westinghouse ... L-3 4. Allowance berdasarkan Westinghouse ... L-4 5. Tabel Distribusi Normal ... L-5 6. Tabel Uji Normal Kolmogorov Smirnov One Test Sample ... L-6

(16)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

PT. Central Windu Sejati adalah salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pembekuan udang. PT. Central Windu Sejati menghasilkan beberapa jenis produk yang didasarkan atas pesanan (order) dari pihak konsumen. Konsumen produk PT. Central Windu Sejati meliputi Negara Jepang, Amerika, Singapura dan Eropa.

Bagian sortasi merupakan bagian yang sangat penting dalam kelancaran kegiatan produksi di PT. Central Windu Sejati. Target produksi harus terpenuhi setiap harinya agar kepercayaan konsumen tidak menurun. Pada bagian sortasi terlihat adanya ketidak seimbangan beban kerja antara tangan kanan dan tangan kiri dalam melakukan aktivitasnya serta selama ini dari segi kesehatan, banyak dari pekerja pada bagian sortasi selalu mengalami keluhan terhadap kesehatan mereka. Para pekerja sering mengeluh akan penyakit varises pada kaki karena pekerja dalam melakukan pekerjaannya pada posisi berdiri selama beraktivitas. Selain itu pekerja juga mengeluh akan penyakit hypothermia yang sering terjadi pada para pekerja karena kondisi lingkungan kerja yang dingin.

Kondisi aktivitas pekerja selama ini pada bagian sortasi yaitu beraktivitas dengan posisi yang berdiri selama jam kerja. Pada bagian sortasi ini tidak disediakan kursi dan kondisi meja yang kurang sesuai dengan kebanyakan postur

(17)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

tubuh para pekerja yang ada pada bagian ini. Selain itu, metode kerja yang dilakukan oleh para pekerja kurang efisien.

Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam merancang suatu fasilitas kerja serta metode kerja yang baik yang berguna untuk meningkatkan produktivitas dan kesehatan pekerja.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas dimana metode kerja yang digunakan saat masih kurang efesien terhadap penggunaan waktu kerja sehingga diperlukan suatu metode kerja yang efisien, serta sikap dan posisi operator yang ada sekarang menimbulkan penyakit varises, sakit pada bahu, tangan, punggung baik punggung atas, tengah dan belakang, tungkai dan kaki serta kelelahan yang cepat pada tenaga kerja yang dapat mengurangi jumlah produksi dan kualitas produk perusahaan sehingga perbaikan rancangan fasilitas kerja berdasarkan antropometri perlu dilakukan untuk mendapatkan kondisi kerja yang lebih baik.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini terdiri atas 2 (dua) jenis yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

a. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah perancangan meja, kursi dan perbaikan metode kerja pada bagian sortasi.

(18)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

b. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah :

1) Mengukur dimensi tubuh dari setiap operator di bagian sortasi untuk mendesain meja dan kursi pekerja yang lebih ergonomi.

2) Melakukan perbaikan metode kerja berdasarkan prinsip-pronsip ekonomi gerakan.

3) Mengukur waktu normal dan waktu baku untuk menentukan secara tepat waktu kerja yang dibutuhkan setiap pekerja dalam melakukan aktivitasnya. 4) Uji Kolmogorov-Smirnov terhadap dimensi tubuh pekerja yang berguna

untuk menguji apakah data dimensi tubuh pekerja tersebut berdistribusi normal atau tidak.

5) Menggunakan persentil 95 dari dimensi tubuh untuk mndesain meja dan kursi kerja agar sebagaian besar pekerja dapat menggunakannya.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sangat penting, baik bagi mahasiswa, fakultas dan perusahaan. Adapun manfaat yang diharapkan yaitu :

1. Bagi Mahasiswa

a. Dapat membandingkan teori-teori yang diperoleh pada saat mengikuti perkuliahan dengan praktek di lapangan.

b. Dapat memahami dan mengetahui aspek-aspek kegiatan perusahaan.

c. Memperoleh kesempatan untuk melatih keterampilan dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan lapangan.

(19)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

2. Bagi Fakultas

a. Dapat mempererat kerja sama antara perusahaan dengan Fakultas Teknik, Program Pendidikan Sarjana Ekstensi, Departemen Teknik Industri, Universitas Sumatera Utara.

b. Departemen Teknik Industri dapat lebih dikenal secara luas sebagai forum disiplin ilmu terapan yang sangat bermanfaat bagi perusahaan.

3. Bagi Perusahaan

a. Memudahkan perusahaan dalam mengalokasikan sumberdaya untuk

meningkatkan produktivitas kerja.

b. Sebagai bahan masukan bagi manajemen perusahaan dalam rangka

perbaikan metode kerja dan perancangan fasilitas kerja.

1.5. Ruang Lingkup

Ruang lingkup penelitian adalah sebagai berikut: 1. Objek yang dianalisis adalah bagian sortasi udang.

2. Fasilitas kerja yang dimaksud adalah meja kerja dan kursi kerja yang digunakan pekerja bagian sortasi udang

1.6. Asumsi yang Digunakan

Beberapa asumsi yang digunakan agar pemecahan masalah dapat dilakukan dengan baik adalah sebagai berikut:

1. Tidak ada penambahan fasilitas kerja selama pelaksanaan penelitian. 2. Hasil pengukuran yang dilakukan dianggap sudah benar.

(20)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

I.7. Sistematika Penulisan Tugas Akhir

Agar lebih mudah dipahami dan ditelusuri maka sistematika penulisan tugas sarjana ini akan disajikan dalam beberapa bab sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang permasalahan, perumusan masalah, tujuan dan sasaran penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup dan asumsi, serta sistematika penulisan.

BAB II : GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Berisi tentang gambaran perusahaan secara umum meliputi sejarah perusahaan, ruang lingkup usaha, proses produksi, tenaga kerja dan informasi lainnya.

BAB III : LANDASAN TEORI

Bab ini berisikan teori-teori yang digunakan dalam pengambilan data maupun untuk mendapatkan pemecahan dari masalah yang diteliti.

BAB IV : METODOLOGI PENELITIAN

Dalam hal ini menguraikan tahapan-tahapan yang dilakukan dalam pelaksanaan penelitian.

BAB V : PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Bab ini berisi tata letak dan metode kerja bagian sortasi udang, proses sortasi, fasilitas kerja dan sikap kerja operator, data antropometri, serta pengolahan data.

(21)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

BAB VI : ANALISA DAN PEMECAHAN MASALAH

Bab ini berisi analisa dampak pemakaian metode dan fasilitas kerja yang lama baik bagi produktivitas kerja, kesehatan pada postur kerja, uji normal Kolmogorof Smirnof Test, perhitungan persentil, rancangan fasilitas dan metode kerja serta dampak pemakaiannya.

BAB VII : KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil analisa dan evaluasi data, dan memberikan saran-saran untuk menjadi bahan pertimbangan oleh perusahaan.

(22)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

BAB II

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Perusahaan

PT. Central Windu Sejati adalah sebuah perusahaan swasta nasional (PMDN) yang bergerak dalam industri perikanan, khususnya ekspor udang beku. Perusahaan ini terletak di Jl. K.L. Yos Sudarso Km. 10,5 Kawasan Industri Medan I (KIM I). Produk yang dihasilkan PT. Central Windu Sejati sampai saat ini telah diakui sebagai komoditi ekspor non-migas yang sudah mendapatkan pasar internasional terutama Jepang dan Amerika.

PT. Central Windu Sejati didirikan pertama kali pada tanggal 27 April 1988 oleh Direktur Perdata, Nurjali Nartosoewojo, SH. Pendirian perusahaan ini didasarkan atas keinginan untuk membantu pemerintah dalam memenuhi permintaan ekspor akan udang keluar negri. Selain itu, perusahaan ini didirikan karena melihat masa depan yang cerah akan permintaan produk udang keluar negeri memperlihatkan grafik yang meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan hal tersebut pemilik PT. Central Windu Sejati mengajukan proposal untuk mendirikan perusahaan kepada pemerintah. Usulan proyek tersebut disetujui melalui surat ketua BPKM Nomor 785/1/PMDN/1988 tanggal 12 desember 1988 dengan status Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Pada awal saat persetujuan pendirian perusahaan, nama dari perusahan ini adalah PT. Udang Mas Intipertiwi. Dalam memulai prosesnya pada tanggal 19 Desember 1990, PT. Udang Mas Intipertiwi merekrut sebanyak 100 orang

(23)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

karyawan dengan kapasitas produksi sebesar 4-5 ton/hari. Untuk permulan ekspor produk pertama kali dilakukan ke negara jepang pada akhir pebruari 1991.

Pada perjalanan produksinya, PT. Udang Mas Intipertiwi dijual kepada PT. Central Windu Intipertiwi pada tanggal 21 juni 1993 melalui perjanjian jual beli aktiva yang disahkan dengan akte Notaris H. Rokayah Sulaeman, SH. Dengan dibelinya PT Udang Mas Intipertiwi ini, pihak manajemen merubah nama perusahaan menjadi PT. Central Windu Sejati. Seiring dengan perkembangan perusahaan serta permintaan akan produk PT. Central Windu Sejati semakin meningkat, maka perusahaan mendirikan pabrik tambahan yang berjarak 2 Km dari perusahaan sebelumnya, tepatnya terletak di Kawasan Industri Medan II (KIM II).

2.2. Lokasi Perusahaan

PT. Central Windu Sejati terletak di kawasan Industri Medan, jalan kolonel Laut Yos Sudarso (Medan-Belawan) Km 10,5 Kecamatan Medan Deli, Kotamadya Medan, Sumatera Utara. Kawasan ini merupakan tempat khusus bagi pabrik sehingga sarana transporatasi dan fasilitas yang dibutuhkan tersedia dengan baik.

PT. Central Windu Sejati menempati tanah seluas 4263 m2 dengan luas bangunan 1718 m2 yang terdiri dari ruang kantor, ruang penerimaan bahan baku, ruang produksi, ruang penyimpanan, ruang mesin dan lain-lain.

(24)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

Perusahaan ini berbatasan dengan :

Sebelah Timur : Pengolahan Limbah KIM Sebelah Barat : Gudang Ban

Sebelah Utara : Gudang Sebelah Selatan : Tanah Kosong

2.3. Ruang Lingkup Bidang Usaha

PT. Central Windu Sejati adalah salah perusahaan yang bergerak dibidang budidaya, pengolahan dan pembekuan udang. Produk yang dihasilkan ada beberapa jenis yang mempunyai berbagai macam size (ukuran) yang disesuaikan terhadap permintaan konsumen. Bahan baku yang digunakan dalam memproduksi yaitu udang yang berasal dari hasil budidaya sendiri dan dari tambak masyarakat. Pada saat ini PT. Central Windu Sejati hanya memiliki sekitar 100 hektar tambak budidaya udang. Tambak budidaya ini hanya mampu memasok sekitar 20% dari bahan baku yang dibutuhkan oleh perusahaan. Untuk itu, untuk memenuhi bahan baku yang diinginkan perusahaan telah memiliki pemasok (supplier) dari tambak milik masyarakat. Pemasok ini telah memiliki standar kualitas udang yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Pemasok yang telah menjadi langganan tetap untuk PT. Central Windu Sejati berasal dari Aceh, Deliserdang dan Langkat.

Produk yang dihasilkan oleh PT. Central Windu Sejati diproduksi berdasarkan atas permintaan (make to order) dari konsumen dan sebagian diproduksi untuk mengantisipasi peningkatan pasar (make to stock). Konsumen dari produk yang dihasilkan keseluruhan produk berasal dari luar negeri. Negara-negara yang menjadi konsumen PT. Central Windu Sejati adalah Amerika,

(25)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

Jepang, Australia, Hongkong, Singapura serta negara-negara Eropa lainnya. Negara yang memiliki permintaan produk terbesar adalah negara Jepang. Permintaan produk ke negara jepang berkisar 90% dari dari total produksi dan sisanya 10% diekspor ke negara lainnya.

Berdasarkan jenisnya, PT. Central Windu Sejati menghasilkan beberapa jenis produk. Adapun produk-produk yang dihasilkan yaitu :

1. Produk Headless (H/L)

Produk headless (H/L) merupakan produk yang memiliki karakteristik udang tanpa kepala yang dibekukan melalui pendingin Individual Quick Freezer (IQF).

2. Produk Head-On (H/O)

Produk ini memiliki karakteristik udang yang masih utuh dengan ekor dan kepala dan dibekukan dengan pendingin Individual Quick Freezer (IQF). 3. Produk peeled Deveined (PD)

Produk ini mengalami perlakuan pengupasan kulit, pembuangan ekor dan pembersihan usus dengan cara disudet (diambil dengan menggunakan pin). 4. Produk Peeled Tail On (PTO)

Produk ini memiliki karakteristik tanpa kepala dan usus yang telah dibersihkan, akan tetapi masih memiliki ekor.

5. Produk Cooked Peeled Prawn (CPP)

Produk mengalami pembuangan kepala, pembuangan ekor dan pembuangan usus kemudian direbus terlebih dahulu pada suhu 900C selama ± 90 detik sebelum di dibekukan.

(26)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

2.4. Organisasi dan Manajemen Perusahaan

Sebelum menjalankan suatu aktivitas dalam perusahaan, sangat penting untuk mencantumkan suatu struktur organisasi dan uraian tugas dan tanggung jawab bagi seluruh pegawai yang ada dalam perusahaan.

2.4.1. Struktur Organisasi

Struktur organisasi merupakan salah satu hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap perusahaan. Hal ini dilakukan agar dalam pelaksanaan pekerjaan batas-batas tugas, wewenang dan tanggung jawab dari setiap personil terlihat dalam organisasi. Sehingga dalam pelaksanaannya ttidak terbentur sama lain dan hasil yang diperoleh lebih terarah.

Struktur organisasi yang digunakan PT. Central Windu Sejati adalah struktur organisasi berbentuk gabungan lini dan fungsional di mana wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan kepada satuan-satuan di bawahnya dalam bidang kerja tertentu. Pada level terakhir dari struktur organisasi terlihat bahwa pembagian kerja sudah berdasarkan fungsinya masing-masing. Struktur organisasi pabrik udang PT. Central Windu Sejati dapat dilihat pada Gambar 2.1.

2.4.2. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab

Untuk menjalankan suatu organisasi dibutuhkan adanya personil yang memegang jabatan tertentu seperti yang terdapat dalam struktur organisasi, dimana masing-masing personil mempunyai tugas dan wewenang yang seimbang dan jelas. Tanggung jawab yang diberikan harus seimbang dengan wewenang

(27)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

yang diterima. Organisasi yang baik adalah organisasi yang jelas dan teratur sehingga dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya setiap pemangku jabatan memiliki gambaran dan batasan tugas dan tanggung jawab yang diembannya.

2.4.3. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja 2.4.3.1. Jumlah Tenaga Kerja

Tenaga kerja merupakan salah satu aset yang dimili oleh perusahaan. Untuk menjalankan perusahaan dengan baik maka perusahaan harus memiliki tenaga kerja (SDM) yang mencukupi. Dalam menjalankan manajemen dan produksi PT. Central Windu Sejati memperkerjakan sekitar 430 0rang tenaga kerja mulai dari level General Manajer sampai tingkat pekerja paling bawah. Perincian sebaran tenaga kerja berdasarkan jabatan di PT. Central Windu Sejati dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Sebaran Tenaga Kerja Berdasarkan Jabatan

Jabatan Jumlah (orang)

General Manager 1 Manager 7 Section Head 10 Supervisor 14 Staff Administrasi 2 Mandor 11 Satpam 9

Daily Worker (Pekerja Harian) 171

Hired Worker (Pekerja Borongan) 193

Jumlah 418

(28)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

K et er anga n : = S tr ukt ur al - - -- - -- ---= F ungs iona l G am b ar 2. 1 . S tr u k tu r O rgan is as i P T . C ent ral Wi ndu Se jat i

(29)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

2.4.3.2. Jam Kerja

Sesuai dengan peraturan pemerintah PT. Central Windu Sejati memiliki jam kerja selama 7 jam perhari dengan waktu istirahat 1 jam. Dan terdiri atas tiga sift/hari dan kerja akan libur pada hari besar. Pengaturan jam kerja karyawan setiap harinya adalah sebagai berikut:

1. Karyawan kantor (Staff).

Jam bekerja karyawan kantor mulai pukul 08.00 WIB s/d 16.00 WIB dengan waktu istirahat pukul 12.00 WIB s/d 13.00 WIB, kecuali hari Jumat mulai pukul 12.00 WIB s/d 13.30 WIB dan hari Sabtu jam kerja dimulai pukul 08.00 WIB s/d 13.00. Untuk hari Minggu dan hari libur nasional karyawan kantor tidak bekerja.

2. Karyawan pengolahan, pengemasan, dan penyimpanan.

Karyawan ini bekerja selama 6 hari dengan jam kerja yang sama dengan karyawan kantor.

3. Karyawan peralatan, mesin, dan satuan pengaman.

Karyawan bagian ini dibagi menjadi tiga shift dengan jam kerja selama 8 jam untuk masing-masing shift, yaitu:

Shift I : Pukul 07.00 WIB s/d 15.00 WIB Shift II : Pukul 15.00 WIB s/d 23.00 WIB Shift III : Pukul 23.00 WIB s/d 07.00 WIB

(30)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

2.4.4. Sistem Pengupahan dan Fasilitas Lainnya

Upah merupakan salah satu bagian yang menciptakan hubungan kerja dengan pihak pekerja dan perusahaan. Syarat perjanjian pemberian upah telah diatur oleh perusahaan, pengusaha, karyawan dan pemerintah. Secara umum dapat diketahui bahwa bagi perusahaan upah merupakan salah satu elemen penting pabrik, sebaliknya bagi karyawan upah merupakan pendapatan atau penghasilan. Upah juga merupakan suatu sarana untuk memotivasi karyawan untuk bekerja secara maksimal. Karyawan akan merasa puas bila memperoleh penghasilan pada tingkat yang wajar dengan suatu penilaian kerja yang adil. PT. Central Windu Sejati memiliki tiga jenis karyawan yang dipekerjakan yaitu karyawan harian, karyawan borongan dan karyawan tetap.

Perincian pemberian upah karyawan di PT. Central Windu Sejati yaitu : a. Karyawan Tetap

Karyawan tetap merupakan karyawan yang resmi perusahaan. Karyawan ini memperoleh upah sebesar Rp.1.050.000,-/bulan dan dibayarkan setiap bulannya. Karyawan ini memperoleh tunjangan jabatan, tunjangan hari raya/tahun baru, JAMSOSTEK, bus karyawan, bonus dan tunjangan lainnya sesuai dengan kecakapan dan prestasi kerja yang dilaksanakan karyawan tersebut.

Untuk karyawan yang bekerja lembur, upah lembur akan dibayar dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Apabila jam kerja dilakukan pada hari biasa:

(31)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

- Tiap jam berikutnya dibayar upah 2 kali upah per jam.

2. Apabila jam kerja lembur dilakukan pada hari minggu atau hari raya resmi:

- Untuk setiap jam hingga batas 7 jam upah dibayar 2 kali upah sejam. - Jam kerja lembur setelah 7 jam upah dibayar 3 kali upah sejam. b. Karyawan Kontrak

Karyawan kontrak merupakan karyawan lepas perusahaan melakukan ikatan kerja selama dua tahun. Upah yang diberikan kepada karyawan ini sebesar Rp.31.500,-/hari dan upah dibayarkan setiap dua minggu sekali. Karyawan ini memperoleh fasilitas bus karyawan, JAMSOSTEK dan tunjangan hari raya/tahun baru.

c. Karyawan Borongan

Upah karyawan borongan diberikan berdasarkan hasil kerja yang diperoleh. Pemberian upah kerja yang diberikan yaitu sebesar Rp.1.900,-/kg dan dibayarkan setiap dua minggu sekali.

Untuk meningkatkan timgkat produktivitas dan kesejahteraan karyawan PT. Central Windu Sejati menyediakan insentif dan fasilitas sebagai berikut : 1. Pengobatan dengan tanggung jawab suami/isteri serta anak 3 orang dirumah

sakit yang ditunjuk perusahaan. 2. Mushalla bagi karyawan muslim

3. Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK)

4. Perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan memberikan sepatu, sarung tangan, topi dan baju kerja.

(32)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

5. Tunjangan hari raya/tahun baru

6. Tunjangan jabatan dan bonus sesuai dengan kecakapan dan prestasi kerja yang dihasilkan.

7. Bus karyawan yang berfungsi untuk mengantar jemput karyawan ketempat kerja.

8. Kantin disediakan untuk tempat karyawan makan siang dan malam. Di kantin ini juga disediakan makanan bagi karyawan yang tidak membawa makanan dari rumah.

2.5. Proses Produksi 2.5.1. Standar Mutu Produk

Peranan Quality Control (QC) dalam dunia industri sangat berperan. Hal ini dikarenakan mutu dari barang yang dihasilkan harus dapat dijamin. Pengendalian mutu dilakukan mulai dari bahan baku (raw material) sampai ke tahap yang paling akhir yaitu pengepakan (packing).

Pengendalian ini dilakukan oleh departemen QC berdasarkan standar spesifikasi yang sudah ditetapkan. Dalam hal ini, QC tidak terlepas dari analisis produk yang akan dipasarkan dan juga analisis terhadap bahan yang sedang berada dalam proses.

Parameter yang digunakan untuk mutu udang dengan tingkatan mutu terbagi atas tiga, yaitu:

A. Mutu udang kelas satu (first Grade), dengan ciri-ciri antara lain : - Kulit udang keras, segmen pertama masih lentur jika ditekan.

(33)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

- Kondisi udang masih utuh, kuat dan tidak pecah ataupun cacat lain. - Tidak terdapat bintik-bintik hitam (black Spot) pada badan udang. B. Mutu udang kelas dua (Second Grade), dengan ciri-ciri antara lain :

- Kulit dan daging udang sudah melunak (soft shell)

- Terdapat black spot dan luka pada badan udang (injuries).

- Back broken tetapi tidak sampai pada broken depth, artinya meskipun

antar segmen pada tubuh pecah tapi masih terdapat selaput putih. C. Mutu udang kelas tiga (broken), dengan ciri-ciri antara lain :

- Ruas badan udang pecah hingga lebih dari 3 mm (black broken depth) - Banyak terdapat black spot pada badan dan ekor udang.

- Banyak terdapat injuries badan dan ekor udang, daging udang sudah melunak serta ekor udang patah.

Sedangkan parameter yang digunakan untuk mutu udang dengan sortasi warna dibedakan dalam 2 kelompok besar:

1. Warna Hitam (black), dibedakan atas : a. First black (warna udang paling hitam)

b. Second black (warna udang agak hitam)

2. Warna Biru (blue), dibedakan atas : a. Blue (warna udang paling biru)

b. White Blue (warna udang putih kebiruan)

Selain untuk tujuan estetika, sortasi warna dilakukan untuk memenuhi spesifikasi yang diminta oleh konsumen. Misalnya produk udang Head-On

(34)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

terdapat perbedaan antara produk yang dikirim ke Jepang dengan produk yang akan dikirim ke Amerika dan Eropa.

Untuk produk yang dikirim ke Jepang , ciri-cirinya antara lain: - Tidak terdapat blackspot, injuries dan cacat lainnya.

- Anggota badan lengkap, tekstur daging keras, tidak soft ataupun semi soft. - Lebar pecah antar ruas <3 mm, dan masih terdapat selaput putih.

Sedangkan untuk produk yang dikirim ke Amerika Serikat dan Eropa, memiliki ciri-ciri antara lain:

- Tidak terdapat blackspot pada bagian daging, kulit dan ekor. - Anggota badan lengkap, tekstur daging agak lunak.

- Lebar pecah antara ruas < 4 mm.

Berdasarkan ukuran udang dapat diklasifikasikan seperti didalam Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Klasifikasi Ukuran Udang

Ukuran Pcs/lbs Pcs/4 lbs Gram/pcs 21-25 23 92-96 18-22 26-30 28 112-116 15-17 31-40 36 114-148 12-14 41-50 45 180-184 9-11 51-60 54 216-220 5,9-8,9 61-70 63 252-264 6,5-7,4 71-90 82 320-332 5-6,4 91-110 98 392-404 4-4,9

(35)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

Dari Tabel di atas terlihat bahwa satuan yang digunakan untuk ukuran udang adalah pcs/lbs. Satuan ukuran udang ini pada umumnya digunakan konsumen dalam melakukan pemesanan terutama konsumen luar negeri, walaupun perusahaan tidak menutup kemungkinan untuk dilakukannya pemesanan dengan ukuran udang pcs/kg.

2.5.2. Bahan Yang Digunakan

Bahan-bahan yang digunakan dalam proses produksi dapat dikelompokkan atas bahan baku, bahan penolong dan bahan tambahan.

2.5.2.1. Bahan Baku

Bahan baku adalah bahan utama yang diproses dan memiliki persentase terbesar dalam produk akhir.

Bahan baku yang digunakan oleh PT. Central Windu Sejati dalam pembuatan produk adalah udang segar dari jenis:

a. Udang tiger (Penaeus Monodon)

b. Udang Swallow (Metapanaeus Monoceros)

Bahan baku ini diperoleh dari beberapa pemasok udang, dimana berdasarkan sumbernya dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu: a. Udang laut (Udang tradisi)

b. Udang tambak (Udang Intensif)

Udang merupakan spesies hewan air yang tergolong ke dalam phylum Invertebrata, kelas Decapoda dan Family Panaideae. Tubuh udang terbagi dari

(36)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

bagian atas yaitu cepholothorax (merupakan gabungan antara kepala, dada serta perut), dan bagian ekor. Seluruh bagian tubuh beserta anggotanya terdiri dari ruas-ruas (segmen). Kepala-dada terdiri dari 13 ruas-ruas, yaitu kepala 5 ruas-ruas dan dada 8 ruas. Sedangkan bagian ekor terdiri dari 6 ruas. Bagian kepala udang memiliki berat antara 36 – 49 %, bagian daging antara 24 – 41 % dan bagian kulit antara 17 – 23 % dari berat total badannya.

Dewasa ini udang windu/tiger merupakan jenis udang yang paling banyak dibudidayakan karena spesies ini memiliki ukuran cukup besar dan rasanya manis. Udang jenis ini memiliki ciri-ciri kulit tebal, berwarna abu-abu kebiruan dan memiliki cincin yang berwarna gelap. Dalam proses produksi, udang ini akan dibedakan berdasarkan warna hitam (black) dan biru (blue). Warna hitam dibagi lagi menjadi first black, second black dan white black sedangkan warna biru (blue) dibedakan atas blue dan white blue. Penggolongan ini hanya berlaku untuk udang pasokan dari tambak, sedangkan udang laut hanya dikenal udang dengan warna hitam. Pembedaan ini dilakukan untuk menambah nilai estetika produk.

2.5.2.2. Bahan Penolong

Bahan penolong merupakan bahan yang digunakan dalam proses produksi yang fungsinya untuk memperbaiki kualitas produk serta membantu proses produksi agar produk dapat dihasilkan sesuai dengan yang ditetapkan. Dalam produksi, bahan penolong sangat dibutuhkan dalam proses produksi. Bahan penolong ini dibutuhkan dalam jumlah yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan bahan baku.

(37)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

Bahan penolong memegang peranan yang cukup penting dalam proses pengolahan untuk memperlancar proses produksi dan menjaga agar kondisi udang tetap segar. Bahan penolong yang digunakan antara lain:

1. Air, digunakan untuk:

a. Membilas dan membersihkan udang, serta menjaga kesegaran udang. b. Media pemindahan udang dari satu tempat ke tempat berikutnya.

c. Proses sterilisasi udang yaitu: perendaman udang dalam air yang telah dicampur dengan Khlorin.

d. Campuran bahan kimia STPP (Sodium Tri Poly Phospat) yang digunakan selama pengolahan, khususnya udang Peeled.

e. Proses pembekuan, khususnya pembekuan udang dalam bentuk blok. f. Sanitasi ruangan, peralatan dan perlengkapan kerja serta mesin.

Air diperoleh dari sumur bor yang dibangun oleh perusahaan di lokasi pabrik dan PDAM Tirtanadi Medan.

2. Khlorin

Khlorin merupakan bahan kimia yang digunakan dalam proses desinfeksi yang bertujuan untuk mematikan bakteri-bakteri. Bakteri-bakteri yang biasanya ada adalah Pseudomonas, Achromobacter, Flavobacterium, Alcaligenes dan

Arthrobacter. Bakteri ini dapat hidup hingga suhu -5o C dan pada suhu ini

bakteri akan membentuk pertahanan tubuh sehingga digunakan larutan khlorin dengan kandungan yang cukup tinggi pada tahap awal proses pengolahan. Larutan khlorin juga digunakan untuk membilas udang, sterilisasi peralatan

(38)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

pengolahan serta sarung tangan dan sepatu pekerja dengan konsentrasi yang berbeda-beda.

2.5.2.3. Bahan Tambahan

Bahan tambahan adalah bahan yang tidak ikut dalam proses produksi tetapi ikut dalam produk, atau dengan kata lain bahan tambahan berfungsi memperbaiki tampilan produk sehingga menghasilkan produk akhir yang siap untuk dipasarkan.

Bahan tambahan yang digunakan PT. Central Windu Sejati adalah :

1. Sodium Tri Poly Phospat (STTP)

Bahan kimia ini dikenal dengan rumus kimia Na5P3O10 dalam bentuk

serbuk putih dengan titik lebur 622 0C. Bahan ini digunakan dalam proses pengolahan udang Peeled. Fungsi utama zat ini adalah sebagai water holding

agent, yaitu untuk menahan kandungan air yang ada di dalam udang, sehingga

berat udang tidak susut. Selain itu zat ini berfungsi untuk: a. Mencegah hilangnya zat-zat gizi yang terdapat dalam udang.

b. Menjaga kestabilan bentuk tubuh (tekstur) udang, sehingga daging udang tidak menjadi lunak.

c. Untuk produk udang Tempura, zat ini berguna untuk mencegah timbulnya bintik-bintik hitam pada ekor udang setelah direbus.

2. Es, digunakan untuk mempertahankan suhu udang selama proses pengolahan (antara 0–4o C), sehingga kesegaran dan kualitas udang tetap terjaga serta mencegah terjadinya kerusakan udang selama proses pengolahan berlangsung.

(39)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

Untuk keperluan ini digunakan hancuran es yang disebut Es Curai. Kebutuhan es diperoleh dari pabrik-pabrik es yang terdapat di sekitar PT. Central Windu Sejati dan mesin pembuat es milik PT. Central Windu Sejati. Untuk membuat es curai perusahaan menyediakan mesin pemecah es yang disebut Ice Flake Machine.

2.5.3. Proses Produksi

Secara umum proses produksi produk Headless (H/L), Head On (H/O),

Peleed Deveined (PD), Peled Tail On (PTO) dan Cooked Peeled Prown (CPP)

memiliki uraian proses yang sama. Perbedaan hanya berada pada perlakuan pembuangan kepala, pembuangan ekor, pengupasan kulit dan pembuangan usus. Untuk uraian proses produksi pada produk-produk diatas secara umum yaitu : 1. Penerimaan (Receiving)

Bagian ini menerima kedatangan bahan baku dan memisahkannya menurut jenis asal bahan baku, apakah bahan baku berasal dari tambak atau dari laut. Udang yang berasal dari laut diterima dan dimasukkan kedalam tong-tong berjenis kayu. Kapasitas dari tong-tong ini mencapai 100 Kg/tong. Untuk udang yang berasal dari tambak diterima dan di tempatkan di dalam tong yang berbahan dasar Fiberglass. Kapasitas dari tong ini mencapai 1-1,2 ton/tong. Udang-udang yang telah diterima kemudian dimasukka ke dalam keranjang kemudian dibilas dengan air dingin dengan suhu ± 50C. Perlakuan ini bertujuan untuk mrnghilangkan kotoran-kotoran yang melekat pada udang, serta untuk menjaga kualitas udang agar tetap segar.

(40)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

2. Perendaman dengan Air Chlorine (Soaking)

Udang yang telah dibilas kemudian dimasukka ke dalam washing tank untuk mendapatkan perlakuan pembilasan sekali lagi. Hal ini untuk menghilagkan kotoran yang masih melekat dan untuk mendapatkan udang yang lebih bersih lagi. Tahap selanjutnya adalah memasukkan udang ke dalam tangki penampungan dan di rendam dengan air khlorin dengan suhu < 40C yang mempunyai konsentrasi 100 ppm. Perendaman ini bertujuan untuk membunuh bakteri-bakteri yang melekat pada udang, serta sekaligus untuk menjaga agar tidak terkontaminasi dari bakteri-bakteri lain.

3. Sortasi Ukuran dan Warna (Grading and Coloring)

Pada tahap ini produk yang telah direndam dengan air khlorin, kemudian dimasukkan ke dalam mesin penyortir (Grading Machine) untuk memisahkan berdasarkan besar kecilnya udang. Mesin ini dilengkapi dengan ban berjalan

(Belt Conveyor). Dengan menggunakan ban berjalan, udang yang berada

diatas ban dijatuhkan pada pasangan roller berbentuk silinder panjang yang berfungsi sebagai alat sortasi. Masing-masing roller pada tiap pasangannya memiliki arah putaran yang berlawanan. Jumlah roller silinder yang terdapat pada alat ini adalah empat pasang dimana ruang antara sepanjang roller dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan. Pengaturan ruang antar roller dilakukan mulai dari jarak yang kecil kemudian makin besar. Hasil dari msin penyortiran ini kemudian ditampung kedalam tong penampungan yang kemudian dilakukan lagi penyortiran tahap lanjutan secara manual berdasarkan kualitas fisik dan warna yang terdapat pada udang. Hasil dari penyortiran ini kemudian

(41)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

dimasukkan ke dalam tong yang berisi air khlorine dengan suhu < 40C dan konsentrasi 30 ppm. Hal ini untuk menjaga agar bakteri-bakteri yang ada pada saat proses penyortiran tidak terkontaminasi pada udang.

4. Penimbangan (Weighting)

Udang yang telah disortasi berdasarkan ukuran dan warnanya kemudian dibawa ke bagian penimbangan untuk ditimbang untuk menentukan size dari udang apakah telah sesuai dengan standar yang telah ditentukan perusahaan. Penimbangan dilakukan per pan dan menggunakan timbangan digital dengantampilan 4 digit. Untuk produk yang dikirim ke Amerika Serikat dan Eropa per inner pan adalah sekitar 1,8000 kg. Untuk produk yang dikirim ke Jepang berat per inner pan juga sebesar 1,8000 kg. Untuk kepastian ukuran produk maka jumlah udang harus sesuai dengan size yang diminta. Sisa udang yang tidak mencukupi dalam jumlah penimbangan akan ditampung sementara pada meja material carry over (MCO) menunggu untuk digabungkan dengan udang berikutnya yang memiliki ukuran, mutu dan warna yang sama.

5. Pemotongan Kepala (Deheading)

Untuk produk yang memiliki karakteristik tanpa kepala akan melalui tahap ini. Udang yang telah disortasi dan ditimbang kemudian dibawa ke bagian pemotongan kepala dengan menggunakan keranjang. Udang kemudian di berikan kepada pekerja pada bagian ini dengan meletakkannya diatas meja kerja. Untuk menjaga agar kondisi udang tetap segar, maka udang ditaburi es curai di atas meja. Pemotongan kepala dilakukan dengan menggunakan alat berbentuk cincin tajam yang terbuat dari stainlessteel yang disebut dengan

(42)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

kuku macan. Pemotongan kepala udang ini dilakukan dengan meletakkan kuku macan di bagian ibu jari dan dilakukan pemotongan secara cepat kepada bagian kepala udang. Udang yang tanpa kepala kemudian dimasukkan kembali ke dalam tong penampungan yang berisi air khlorin dengan suhu < 40C dan konsentrasi 30 ppm.

6. Pengupasan dan Pembersihan (peeling and de veining)

Produk yang memiliki karakteristik pengupasan dan pembersihan akan melalui tahap ini. Udang dibawa ke bagian pengupasan dan pembersihan dan diletakkan diatas meja yang ditaburi dengan es untuk menjaga kesegaran udang. Udang kemudian dikupas dengan menggunakan pisau pemotong dan usus dibersihkan dengan mencabutnya menggunakan pin khusus.

7. Pembekuan (freezing)

Proses pembekuan udang dilakukan agar sifat alami udang dapat dipertahankan sebelum akhirnya dikonsumsi. Pembekuan bukanlah untuk mensterilkan udang, tetapi hanya menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan memperlambat reaksi kimia dan aktivitas enzim.

Sebelum dilakukan pembekuan udang-udang dalam pan diberi air berkhlorin 5 ppm dan bersuhu < 4 0C. Untuk pembekuan ini, digunakan long pan dimana 1 buah long pan terdiri 3 blok. Kemudian udang ditutup dengan selembar plastik yang sebelumnya telah direndam dalam air yang mengandung khlorin 200 ppm dan 500 ppm. Pemberian plastik ini dimaksudkan agar permukaan blok es yang akan terbentuk tidak melekat dengan plat penutup di atasnya, selanjutnya ditutup dengan lempengan stainless steel sebelum

(43)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

dimasukkan ke dalam Contact Plate Freezer (CPF). Temperatur pembekuan diatur antara -35 0C hingga -45 0C dengan lama pembekuan kurang lebih 1 jam 45 menit.

Untuk produk yang disusun dalam polybag, terlebih dahulu dibawa ke mesin vacuum and seal. Proses vacuum and seal dilakukan dengan menggunakan pengatur waktu (timer). Lamanya waktu untuk proses vakum 4 detik dan untuk proses seal adalah 3,5 detik dengan kepasitas mesin adalah 8

polybag. Selanjutnya kemasan yang telah divakum dan seal ini dibawa ke

ruang Individual Quick Freezer (IQF) dan disusun dalam tray yang berukuran 50 x 90 cm2, lalu dimasukkan ke mesin IQF dengan ban berjalan. Suhu pembekuan yang biasa digunakan adalah -30 0C selama kurang lebih 45 menit. 8. Pengepakan (packing)

Setelah pembekuan, pan-pan yang berisi produk udang tersebut diberi lapisan es tipis dan dilepaskan dari inner pan dengan cara mencelupkan udang beku dalam air dingin yang bersuhu 0 – 5 0C. proses ini disebut dengan peng-glazing-an. Adapun tujuan peng-glazing-an adalah:

a. Untuk mencegah terjadinya oksidasi

b. Melindungi produk dari kekeringan selama proses penyimpanan c. Menambah nilai estetika produk

Selanjutnya produk udang dibawa ke ruang pengemasan. Bahan pengemasan yng digunakan harus menjamin sanitasi dan kesehatan konsumen. Kemasan yang digunakan dalam proses pengemasan terdiri dari tiga bagian:

(44)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

a. Kemasan primer, berupa bahan plastik yang terbuat dari polyetilen dengan ketebalan 0,03 mm dan berukuran 38 cm x 15 cm x 5 cm. Kemasan ini langsung digunakan untuk membungkus blok udang.

b. Kemasan sekunder, kemasan ini berupa inner carton yang terbuat dari kertas karton dengan lapisan lilin pada bagian dalam dan luar berukuran 25 x 20 x 5 cm.

c. Kemasan tertier, kemasan ini merupakan kemasan terluar (master carton) yang terbuat dari bahan corrugated paperboard dengan tipe single wall ataupun double wall. Ukurannya tergantung dari jumlah inner carton yang akan dikemas. Pada master carton tercantum antara lain merk, jenis produk akhir, ukuran, tipe, grade (tingkatan mutu), asal produk, berat bersih produk akhir, bahan tambahan, tanggal kaluarsa, suhu penyimpan dan kode produksi yang berisi tanggal, bulan, dan tahun produk tersebut dihasilkan. Selanjutnya produk dalam master carton ini diikat dengan strapping band (tali pengikat kemasan).

9. Penyimpan (Cold Storage)

Produk udang yang telah dikemas, selanjutnya disimpan dalam ruang penyimpan (Cold Storage) yang bersuhu -18 sampai -20 0C, selama menunggu pendistribusian. Jika waktu penyimpan cukup lama disarankan manggunakan suhu -30 sampai -35 0C. Penyusunan dilakukan secara bertumpuk dan serapi mungkin serta diberi jarak sehingga suhu ruangan merata ke seluruh kotak. Penyusunan kotak diatur berdasarkan jenis, mutu dan ukuran udang.

(45)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

Udang dalam inner carton yang jumlahnya belum mencukupi untuk dikemas dalam master karton juga disimpan dalam ruangan ini, menunggu digabung dengan produk yang sama pada hari berikutnya. Hal ini juga berlaku untuk produk hasil Contact Plate Freezer yang belum sempat diproses.

Khusus untuk produk CPP, tahapan pengolahan adalah sebagai berikut: Perendaman dengan air garam

1) Udang yang diperoleh dari hasil penyortiran mutu dan warna selanjutnya direndam dengan air garam yang bertujuan untuk mencegah semakin menurunnya kualitas udang dan memberikan citarasa tambahan pada udang. Perendaman dilakukan kurang kebih 24 jam untuk menyakinkan bahwa air garam meresap ke dalam tubuh udang.

2) Perebusan

Perebusan merupakan prosedur yang mutlak bagi produk CPP (Cooked

Peeled Prawn). Perebusan dilakukan kurang lebih 10 menit atau hingga

udang berubah warna merah. 3) Pembersihan dan Finishing produk

Dalam tahapan ini dilakukan pengupasan kulit dan pemotongan kepala udang yang masih terlihat utuh. Kemudian dilakukan finishing produk berupa pembersihan untuk menghilangkan noda-noda hitam pada tubuh udang dan membersihkan sisa usus yang masih terdapat dalam tubuh udang. Setelah dilakukan finishing maka udang selanjutnya direndam dalam air berkhlorin sekitar 10 menit dan selanjutnya ditiriskan.

(46)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

4) Penimbangan dan pengepakan awal

Setelah dilakukan pembersihan, selanjutnya dilakukan penimbangan untuk mendapatkan jumlah udang yang tepat sesuai dengan ukuran yang ditentukan. Setelah penimbangan maka udang-udang disusun dalam polybag yang telah disediakan.

5) Vacum Packing

Untuk mencegah kontaminasi udang CPP dengan udara bebas maka dilakukan proses vacum packing terhadap produk udang yang telah disusun rapi dalam polybag dengan menggunakan mesin khusus untuk

vacum packing. Selanjutnya udang yang telah divakum packing dibekukan

bersama produk udang lainnya.

2.6. Mesin dan Peralatan

Spesifikasi mesin dan peralatan merupakan hal yang penting didalam suatu pabrik,dimana jika terjadi perubahan pada alat maka mudah diadakan penggantian. Mesin adalah semua peralatan yang memerlukan penggerak (power) sedangkan peralatan adalah semua peralatan yang memerlukian penggerak (power). Mesin dan peralatan merupakan salah satu faktor utama dalam proses produksi. Pemilihan mesin dan peralatan yang tepat akan dapat meningkatkan produktifitas kerja. Mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi dapat dilihat di lampiran 6.

(47)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

2.7. Utilitas

Utilitas adalah alat perlengkapan yang mendukung pelaksanaan produksi dalam kegiatan perusahaan. Sarana utilitas digunakan untuk meningkatkan mutu, memelihara peralatan, menjaga keseimbangan dalam proses pengolahan di samping kegunaan pokoknya sebagai penggerak peralatan.

Beberapa utilitas yang digunakan perusahaan antara lain: a. Air

Air memegang peranan penting dalam proses produksi udang. Air digunakan untuk kebutuhan air pendingin , air boiler dan air proses.

Air ini berasal dari sumur bor sebanyak 4 (empat) buah dengan menggunakan pompa dan pipa pada kedalaman 200 m di dalam tanah. Untuk memenuhi persyaratan sesuai dengan kebutuhan yang ada maka air sumur bor ini terlebih dahulu diproses agar tidak merusak instalasi pabrik. Kebutuhan air untuk kantor, kantin dan WC karyawan berasal dari PDAM.

b. Unit Generating Set Merk : Caterpilar

Fungsi : Sebagai cadangan pensuplai energi listrik Kapasitas : 590 kVA, 220V/380 V, 3 fasa, 50 Hz Jumlah : 1 unit

Model : 3412 c. Kompresor

Tipe : GST - 41

(48)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

Kapasitas : 275.200 kg uap/jam Jumlah : 4 unit Merk : GRAM Refrigan : Amonia Daya : 110 kW d. Teknologi Refrigasi

Refrigasi adalah pengusahaan dan pemeliharaan tingkat suhu dari suatu bahan atau ruangan pada tingkat yang lebih rendah daripada suhu lingkungan atau atmosfir sekitarnya dengan cara penarikan atau penyerapan panas yang dilakukan oleh suatu bahan yang disebut refrigerant. Sistem refrigannya amonia, amonia ini berfungsi sebagai medium pendingin yang akan mengadakan keseimbangan dengan fase uap cair di dalam deretan penekanan yang sempit dan termanpatkan. Amonia bersifat toksit, mudah terbakar, mudah meledak pada kondisi tertentu. Alasan pemakaian amonia adalah karena mempunyai efek refrigasi yang tinggi untuk setiap satuan berat. Volume spesifiknua rendah, efesiensinya tinggi dan biaya pemakaiannya rendah.

Pada sistem kompresi amonia cair dalam tangki penerima berada pada tekanan tinggi, sehingga mendorong amonia cair tersebut melaluui pipa cairan dan kran ekspansi menuju bagian yang bertekanan rendah yang dihasilkan oleh kerja kompresor. Kemudian amonia cair tersebut mendidih dan menguap dalam evaporator.

Panas yang diperlukan untuk penguapan diambil dari sekitarnya atau dari produk sehingga terjadi pendinginan terhadap ruangan dan produk tersebut.

(49)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

Selanjutnya uap amonia mengalir pada tekanan rendah melalui pipa-pipa uap menuju ke kompresor. Di dalam kompresor karena adanya pendinginan dengan semprotan air dan udara yang ditiupkan maka amonia menjadi cair kembali karena menyerap panas latennya dari sekitarnya. Kemudian amonia cair mengalir menuju tangki penerima, selanjutnya mengalir menuju evaporator, demikian seterusnya siklus ini berlangsung.

Bila terjadi kebocoran amonia dalam sistem pendinginan dapat diketahui dengan mendeteksi dari baunya, selain itu juga dipakai batang belerang yang dibakar hingga keluar asapnya, apabila asap belerang tersebut berpapasan dengan aminia maka akan terbentuk asap yang berwarna putih.

Komponen-komponen utama penyusun sistem pendingin kompresor adalah tangki penerima, klep ekspansi, evaporator, kompresor dan kondensor. - Tangki penerima (liquid receiver)

Tangki penerima berfungsi menampung amonia cair yang berasal dari kondensor dan dialirkan masuk ke evaporator melalui klep ekspansi.

- Klep Ekspansi

Klep ini mempunyai dua fungsi, pertama yaitu mengatur kecepatan aliran amonia cair. Apabila amonia cair yang mengalir evaporator terlalu banyak, maka sebagian tidak dapat menguap tetapi mengalir ke kompresos sehingga dapat merusak kompresor. Fungsi kedua adalah untuk menjaga perbedaan tekanan antara kondesor yang bertekanan rendah.

(50)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

- Evaporator

Evaporator merupakan bagian dari sistem pendingin dimana zat pendingin mendidih, menguap dan menyerap panas. Evaporator biasanya berupa pipa yang berkelok-kelok berupa koil yang bahannya terbuat dari baja. Pipa-pipa tersebut berisi amonia yang menguap dengan mengambil panas dari ruangan serta bahan udang yang didinginkan, sehingga suhu udang menjadi turun atau rendah. Uap amonia ini kemudian dihisap oleh kompresor secara terus menerus

- Kompresor

Kompresor mempunyai dua fungsi, pertama yaitu menghisap uap dingin dari evaporator sehingga tekanan dalam evaporator dapat dipertahankan tetap rendah dan yang kedua untuk memompa uap zat pendingin (amonia) ke kondensor untuk dicairkan kembali pada tekanan tertentu dengan pendinginan yang menggunakan air.

Kompresor harus dapat menghisap seluruh uap yang berasal dari evaporator, karena setiap lb zat pendingin mempunyai volume tertentu, banyaknya gas yang dapat dipompa kompresor tersebut menentukan kapasitas sistem pendinginannya.

Prinsip kerja:

Pada bagian dalam kompresor terdapat suatu bagian yang disebut piston yang dapat bergerak naik turun di dalam silinder oleh adanya es yang diputar oleh motor penggerak. Pada saat terjadi penghisapan (suction), piston bergerk ke bawah sehingga terjadi tekanan rendah dalam ruangan antara puncak piston dengan kepala silinder, dengan demikian uap amonia akan terhisap ke ruangan

(51)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

tersebut memlalui klep penghisapan yang terdapat pada kepala silinder. Pada saat itu klep pengeluaran atau pemampatan menutup secara otomatis. Kemudian piston naik sehingga uap amonia termampatkan. Apabila tekanan tertentu yang dikehendaki, maka klep pemampatan kan terbuka secara otomatis sehingga uap amonia yang telah termampatkan akan menjadi panas dan akan mengalir ke kondensor. Pada saat itu klep penghisapan akan menutup. Setelah semua uap amonia termampatkan, maka piston akan bergeraak naik turun kembali ke posisi semula.

- Kondensor

Fungsi kondensor adalah mendinginkan uap amonia dan mengubahnya menjadi cairan, uap amonia tersebut berasal dari kompresor.

Prinsip kerjanya:

Uap amonia mula-mula dikompresikan ke kondensor, uap amonia yang bersuhu dan bertekanan tinggi ini mengalir melalui koil-koil atau pipa-pipa kondensor. Air berfungsi sebagai pendingain dipompa dari tangki air dan disemprotkan melaluui sprayer secara terus-menerus di atas pipa kondensor, sehingga uap amonia melepaskan panasnya dan mencairkan kembali. Titik-titik air yang menerima panas dari uap amonia selanjutnua didinginkan oleh udara yang dihembuskan oleh fan atau blower. Adanya kontak antara titik air dengan udara tersebut menyebabkan terjadinya perpindahan panas dari titik-titik cair ke udara, sehinga titik-titik air menjadi dingin. Amonia cair tersebut kemudian ditampung dalam liquid receiver amonia.

(52)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

2.8. Safety and Fire Protection

Keselamatan kerja merupakan bagian dari berlangsungnya produksi pabrik. Oleh sebab itu, keselamatan kerja harus diperhatikan secara serius. Dalam hal ini, cara pengendalian keselamatan kerja dan keamanan pabrik sangat penting ditinjau.

PT. Central Windu Sejati memiliki kebijaksanaan yang mengutamakan kesehatan dan keselamatan kerja dari pekerja. Perhatian perusahaan yang cukup besar ini disebabkan beberapa kondisi kerja yang ditimbulkan oleh berlangsungnya prosses produksi seperti :

- Bau yang berasal dari udang dan bahan kimia

- Penggunaan air yang cukup besar sehingga ruangan terutama lantai menjadi basah dan licin

- Suara yang ditimbulkan oleh mesin dan generator dan kompresor.

- Suhu udara yang cukup tinggi terutama di bagian pembekuan dan cold storage

Untuk meminimalisasi kecelakaan kerja di bagian pembekuan untuk meningkatkan hiegienitas dari produk yang dihasilkan perusahaan mewajibkan pekerja menggunakan perlengkapan kerja yang disediakan oleh perusahaan. Perlengkapan kerja yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan kerja yang berbeda-beda untuk masing-masing bagian.

Perlengkapan yang digunakan berbeda-beda berdasarkan bagian masing-masing. Adapun perlengkapan yang digunakan antara lain:

(53)

Hendrik P. Simbolon : Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-Prinsip Ergonomi Pada Bagian Sortasi Udang DI PT. Central Windu Sejati, 2010.

a. Untuk pekerja produksi.

1. Afron, berfungsi sebagai penutup bagian dada sampai lutut, terbuat dari plastik berwarna putih untuk melindungi pakaian pekerja dan percikan air dan kotoran udang pada saat bekerja

3. Masker, berguna sebagai penutup mulut dan hidung, terbuat dari kain berwarna putih. Alat ini berfungsi untuk mengurangi bau amis dan mencegah kontaminasi terhadap produk yang dihasilkan, baik dari hidung maupun mulut pekerja. Alat ini juga berfungsi untuk melindungi pekerja dari pengaruh udara lembab, sehingga tidak mengganggu pernapasan. 4. Sarung tangan, berfungsi untuk melindungi tangan pekerja dari

bagian-bagian udang yang dapat melindungi tangan dari pengaruh suhu dingin. 5. Penutup kepala, berfungsi untuk mencegah kntaminasi terhadap udang

yang berasal dari rambut pada saat melakukan pekerjaan.

6. Sepatu bot, terbuat dari karet tebal berwarna hitam dan tahan air. Sepatu ini berguna untuk melindungi kaki pekerja dari suhu dingin dan melindungi pekerja agar tidak tergelincir.

b. Karyawan bagian pembekuan dan cold storage

1. Saybo, berfungsi untuk melindungi bagian kepala pekerja dari pengaruh suhu dingin dalam ruangan pendingin.

2. Jaket tebal, berfungsi melindungi tubuh pekerja dari pengaruh suhu yang sangat rendah dalam ruangan pendingin

3. Sarung tangan tebal, berfungsi untuk melindungi tangan pekerja dari pengaruh suhu yang sangat rendah

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :