BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Transfusi darah merupakan satu dari banyak kegiatan yang sering dilakukan di Rumah Sakit pada penyakit-penyakit tertentu. Tindakan transfusi darah merupakan tindakan invasif dengan memasukkan darah atau komponen yang ada dalam darah pendonor darah kedalam sirkulasi darah pasien dengan tujuan memenuhi kebutuhan pasien akan komponen darah. Data World Health Organization (2011), terdapat lebih dari 92 juta kantong darah yang didonasikan dari berbagai tipe golongan darah dari 62 negara dengan 39 negara diantaranya tidak melakukan pemeriksaan rutin untuk Transfusion-Transmissible infection (TTiS) yang meliputi HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan Syphilis (World Health Organization, 2011).
Kejadian yang tidak diharapkan pada proses pemberian transfusi darah adalah kematian. Disebutkan pada Sentinel Event Alert, Issue 10 “Blood Transfusion Errors: Preventing Future Occurences” dalam 3 tahun lebih observasi, setidaknya terdapat 12 kasus kesalahan pelaksanaan transfusi darah. Dari 12 kasus kesalahan transfusi tersebut 10 mengalami kematian (The Joint Commision, 2010). Kejadian Purpura Post Transfusion (PPT) bisa terjadi pada 1:50.000 tindakan transfusi darah, hal ini mengakibatkan 10-20% kematian pasien (Shtalrid et al., 2006).
Selain kematian, tindakan transfusi darah juga dapat menimbulkan reaksi imunologik komplikasi seperti panas, reaksi anapilatik, reaksi alergi pada pasien, dan infeksi bakteri (AABB et al., 2009). Komplikasi yang timbul akibat pelaksanaan tindakan transfusi darah dapat memberikan impact yang negatif pada peningkatan morbiditas dan peningkatan Length of Stay pasien di Rumah Sakit. Penelitian yang dilakukan oleh Dorneles et al., (2011) menyebutkan reaksi infeksi pada tindakan transfusi darah pasien bedah jantung dapat memperpanjang masa rawat pasien di Rumah Sakit dari delapan hari post operasi menjadi tigabelas hari post operasi.
pemberian transfusi darah dapat terjadi karena kelalaian pelaksanaan seperti administrasi yang kurang lengkap. Hasil survey tim Joint Commision International (JCI) mendapatkan bahwa akar masalah kejadian yang tidak diharapkan bisa terjadi pada perencanaan yang kurang baik yakni: Informed consent yang tidak diberikan sebelum tindakan dilakukan (The Joint Commission, 2010).
Informed consent merupakan media yang digunakan dokter untuk mentransfer pengetahuan tentang tindakan yang akan dilaksanakan kepada pasien. Tujuan dari pemberian tersebut untuk memberikan pemahaman (persamaan persepsi) pasien dan dokter terhadap prosedur tindakan akan dilakukan sehingga dapat memberikan pengetahuan kepada pasien bahwa tindakan transfusi darah jika dilakukan atau tidak dilakukan memiliki risiko, sehingga informed consent perlu dilakukan kepada pasien (Ezeome et al., 2011).
Pelaksanaan informed consent di Indonesia diatur dalam Undang–Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyebutkan: hak pasien terhadap informasi, kewajiban tenaga kesehatan harus memenuhi ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan standar prosedur operasional serta pelayanan transfusi, lebih terperinci kembali dalam Undang–Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran pada Pasal 45 ayat (3) butir ke-2 dan ke-4 yaitu penjelasan tindakan kedokteran sekurang-kurangnya mencakup tujuan dari tindakan medis yang dilakukan dan risiko komplikasi yang mungkin terjadi. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 290/MENKES/PER/III/2008 tentang persetujuan tindakan kedokteran disebutkan pada Pasal 1 ayat (5) bahwa tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi adalah tindakan medis yang berdasarkan tingkat probabilitas tertentu dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan sedangkan pada Pasal 3 ayat (1) setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.
Informed consent berdasarkan pemberiannya dibedakan menjadi dua, yaitu informed consent tertulis dan lisan. Informed consent tertulis diberikan pada tindakan dengan risiko tinggi dan pemberian secara lisan dilakukan pada prosedur dan tindakan kesehatan yang dianggap sudah biasa dilakukan, namun dalam penelitian disebutkan bahwa pemberian informed consent yang dilakukan dengan lisan memiliki efek sangat buruk karena pasien sering melupakan tentang informasi penting yang disampaikan yang berkaitan dengan tindakan (Leclercq et al., 2010)
Pelaksanaan informed consent menurut persepsi pasien sering memberikan hasil yang berbeda. Penelitian yang dilakukan oleh Akkad et al., (2006) pada 732 pasien bedah obsgyn memberikan hasil bahwa persetujuan tindakan tertulis (informed consent), 46% pasien percaya bahwa informed consent tertulis bermanfaat untuk melindungi Rumah Sakit, sedangkan 54% berpendapat berbeda yaitu: 68% menyebutkan bahwa persetujuan tertulis hanyalah mengesahkan keinginan dokter terhadap tindakan yang akan dilakukan dan 32% menyebutkan informed consent tertulis sudah sesuai dengan keinginan pasien terhadap tindakan yang akan dilakukan.
Manfaat pemberian informed consent tertulis di Indonesia telah banyak dilakukan penelitian seperti penelitian yang dilakukan oleh Yulianto, (2006) pada pasien bedah dengan Hernia Inguinalis mendapatkan hasil bahwa informed consent tertulis dapat meningkatkan pemahaman dan kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan, hal ini sama dengan hasil penelitian Pratomo, (2009) yang diberikan pada pasien bedah Femur, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Prihyanto, (2012) mendapatkan hasil informed consent pada pasien pre operasi Caesaria dapat menurunkan kecemasan pasien. Dilihat dari berbagai hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian informed consent pada pasien dapat memberikan manfaat positif pada pasien yaitu sebagai tindakan pencegahan (preventif) pada tindakan medis.
Berdasarkan survei awal di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri pada tindakan medis seperti bedah sudah ada informed consent tertulis yang dijadikan satu dengan rekam medik, tapi untuk tindakan transfusi darah yang pada
darah pada rekam medis pasien tidak didapati form pemberian informed consent tertulis yang ditandatangani oleh dokter, pasien dan saksi. Pemberian transfusi darah pada pasien selama ini dilaksanakan berdasar permintaan dokter sesuai dengan indikasi penyakit kemudian perawat bangsal menginformasikan hal tersebut pada pasien untuk ke PMI guna mencari kebutuhan darah yang sesuai dengan pasien.
RSUD dr Soediran Mangun Sumarso belum mempunyai form informed consent tertulis untuk tindakan tranfusi darah, Sedangkan hasil penelitian menyebutkan bahwa informed consent di Rumah Sakit yang merupakan dasar hubungan paternalistik antara dokter dan pasien dan hak otonomi pasien untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan dokter (Akkad et al., 2006; Junaid, Azhar, Oliver, 2006; Goldberger et al., 2011). Peneliti tertarik untuk meneliti “Persepsi pasien dan dokter tentang pentingnya informed consent tertulis dalam tindakan transfusi darah di RSUD dr Soediran Mangun Sumarso Wonogiri” ini dengan harapan dapat menjadi salah satu alternatif tindakan preventif kedokteran dalam pemberian pelayanan kesehatan yang berkualitas.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, didapati perumusan masalah penelitian: Bagaimana persepsi pasien dan dokter tentang pentingnya persetujuan tindakan (informed consent) tertulis dan risiko dalam tindakan transfusi darah di RSUD Wonogiri?
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Menyusun komponen informed consent tertulis pada tindakan transfusi darah. 2. Tujuan Khusus
a. Mengeksplorasi persepsi pasien tentang pentingnya informed consent tertulis dan risiko tindakan transfusi darah.
b. Mengeksplorasi persepsi dokter tentang pentingnya informed consent tertulis dan risiko tindakan transfusi darah.
c. Mengeksplorasi persepsi management rumah sakit terhadap pentingnya informed consent tertulis transfusi darah.
d. Teridentifikasnya komponen informed consent tertulis transfusi darah berdasar persepsi pasien dan dokter.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Bagi Pasien
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan pasien tentang persetujuan tindakan transfusi darah.
2. Manfaat bagi dokter
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam pembuatan komponen informed consent tindakan transfusi darah sehingga dalam pelaksanaan informed consent tertulis transfusi darah dapat sesuai dengan persepsi dokter.
3. Manfaat bagi Rumah Sakit
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk menciptakan informed consent tertulis pada tindakan transfusi darah sesuai dengan persepsi pasien dan dokter sehingga menjadi masukan bagi pelayanan yang berkualitas di RS. dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri.
E. Keaslian Penelitian
1 Ezeome et al., (2011)
Contents and readability of currently used
surgical/ procedure Informed consent forms in Nigerian tertiary health institutions Survey form informed consent dan pelaksanaan informed consent pada 33 form dari 49 institusi kesehatan di Nigeria
- form tidak ada: ijin persetujuan tindakan tranfusi darah, pelepasan perban, risiko jika tindakan tidak dilakukan, pelaksanaan anestesi - Skor Flash ability
terhadap form cukup susah
Persamaan : penelitian tentang Informed consent
Perbedaan :
Pada penelitian Ezoame menganalisa tentang isi form informed consent yang ada pada lembaga lembaga kesehatan
2 Court, Robinson, & Hocken, (2011)
Informed consent and patient understanding of blood transfusion Quantitatif dengan Kuesioner sejumah164 pasien transfusi darah Lokasi : RS Bedah Great Western di Inggris - Pelaksanaan Informed consent ditambah dengan informasi mengunakan leaflet dapat meningkatkan pengetahuan pasien terhadap tindakan tranfusi darah Persamaan :
Penelitian tentang Informed consent tranfusi darah
Perbedaan :
Form informed consent pada penelitian tersebut sudah tersedia sudah tersedia
3 Humayun
et al., (2008)
Patient perception and actual practice of Informed consent, privacy and confidential in general medical outpatient departements Cross-section dengan Observasi dokter dalam pelaksanaan Informed consent pada 2 Rumah Pelaksanaan Informed consent lebih baik
pelaksanaan di RS. Privat dibandingkan pada RS. Publik
Persamaan :
Penelitian pada Informed consent Perbedaan :
Pada penelitian tersebut melakukan observasi pada dokter dalam pelaksanaan Informed consent kepada pasien dengan
Di Lahore, Pakistan 4 Akkad et al., (2006) Patient perception of written consent : Questionaire Study Qualitative research, Cross sectionaldengan quesioner pada 732 pasien bedah Obsgyn di Inggris - 46% Informed consent melindungi Rumah sakit - 54% dibagi menjadi dua: 68% mengesahkan keinginan dokter 32% sesuai dengan keinginan pasien Persamaan :
Meneliti tentang persepsi pasien terhadap Informed consent
Perbedaan:
Pada penelitian Akkad et al., 2006 meneliti tentang persepsi pasien tentang informed consent tertulis yang telah ada.