UNAIDS DAN NON-GOVERNMENTAL
ORGANIZATION: UPAYA MEMBANGUN JARINGAN
BERSAMA DALAM MENANGGULANGI
PENYEBARAN HIV/AIDS DI AFRIKA SELATAN
PADA TAHUN 2016-2018
LAPORAN TUGAS AKHIR
Oleh:
Muthi’ah Nurhasanah
106217080
PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS KOMUNIKASI DAN DIPLOMASI
UNIVERSITAS PERTAMINA
2021
UNAIDS DAN NON-GOVERNMENTAL
ORGANIZATION: UPAYA MEMBANGUN JARINGAN
BERSAMA DALAM MENANGGULANGI
PENYEBARAN HIV/AIDS DI AFRIKA SELATAN
PADA TAHUN 2016-2018
LAPORAN TUGAS AKHIR
Oleh:
Muthi’ah Nurhasanah
106217080
PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS KOMUNIKASI DAN DIPLOMASI
195/UP-DKN6.2/e.sign/VI/2021
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Tugas Akhir : UNAIDS dan Non-Governmental
Organization: Upaya Membangun
Jaringan Bersama Dalam
Menanggulangi Penyebaran HIV/AIDS di Afrika Selatan Pada Tahun 2016-2018
Nama Mahasiswa : Muthi’ah Nurhasanah
Nomor Induk Mahasiswa : 106217080
Program Studi : Hubungan Internasional
Fakultas : Komunikasi dan Diplomasi
Tanggal Lulus Sidang Tugas Akhir :
Jakarta, 30 Juni 2021 MENGESAHKAN
Pembimbing I : Nama : Novita Putri Rudiany, S.Hub Int., M.A NIP : 116156
Pembimbing II : Nama : Rika Isnarti, S.IP, M.A(IntRel) NIP : 120001
MENGETAHUI, Ketua Program Studi
ABSTRAK
Muthi’ah Nurhasanah. 106217080. Upaya UNAIDS Dalam Membangun
Jaringan Bersama Dengan NGO Untuk Menanggulangi Penyebaran HIV/AIDS di Afrika Selatan Pada Tahun 2016-2018.
Pada tahun 2016 hingga 2018, UNAIDS terbukti mampu mengurangi penyebaran HIV/AIDS terhadap orang baru di Afrika Selatan. Dalam menjalankan tugasnya tersebut, UNAIDS juga melibatkan beberapa NGO kesehatan lokal dan Internasional seperti mother2mother (M2M), SRHR Africa Trust (SAT), dan
Positive Young Women Voices (PYWV). Ketiga NGO tersebut memiliki fokus
masalah masing-masing yang dapat memudahkan UNAIDS mengimplementasikan program-programnya. Untuk dapat menjalin hubungan kerja sama tersebut, UNAIDS melakukan pendekatan kepada NGO agar membantunya menjalankan program-program pengentasan penyebaran HIV/AIDS di Afrika Selatan. Penulis menjelaskan bentuk kerja sama antara UNAIDS-NGO dengan menggunakan empat tipologi yang dijabarkan oleh M. Haque, yaitu forms, levels, institutions, dan
domains. Setelah mengetahui bentuk dari kerja sama tersebut, kemudian dapat
dianalsis upaya-upaya yang dilakukan oleh UNAIDS dalam membangun jaringan bersama dengan NGO kesehatan di Afrika Selatan dengan menggunakan konsep
policy implementation dan policy evaluation oleh J. Steffek. Hasil dari penelitian
ini menunjukkan bahwa upaya UNAIDS dalam membangun jaringan bersama dengan NGO untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Afrika Selatan pada tahun 2016-2018 berupa melakukan program bersama yang efektif dan efisien. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data
document-based research untuk menjelaskan analisa yang komprehensif.
ABSTRACT
Muthi’ah Nurhasanah. 106217080. UNAIDS Efforts in Building a Joint Networks with NGOs to Cope the Transmission of HIV/AIDS in South Africa in 2016-2018. From 2016 to 2018, UNAIDS was proven to be able to reduce the spread of HIV/AIDS to new people in South Africa. In carrying out its duties, UNAIDS also involves several local and international health NGOs such as mother2mother (M2M), SRHR Africa Trust (SAT), and Positive Young Women Voices (PYWV). The three NGOs have their own focus on problems that can make it easier for UNAIDS to implement its programs. To be able to establish this cooperative relationship, UNAIDS approached NGOs to help them run programs to reduce the spread of HIV/AIDS in South Africa. The author explained the form of cooperation between UNAIDS-NGOs using the four typologies described by M. Haque, namely forms, levels, institutions, and domains. After knowing the form of the cooperation, then it can be analyzed the efforts made by UNAIDS in building a network together with health NGOs in South Africa by using the concept of policy implementation and policy evaluation by J. Steffek. The results of this study indicate that UNAIDS efforts in building a network together with NGOs to tackle the spread of HIV/AIDS in South Africa in 2016-2018 are in the form of conducting effective and efficient joint programs. The author used qualitative methods with document-based research data collection techniques to explain a comprehensive analysis.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim. Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan rahma karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan judul “Upaya UNAIDS Dalam Membangun Jaringan Bersama Dengan NGO Untuk Menanggulangi Penyebaran HIV/AIDS di Afrika Selatan Pada Tahun 2016-2018”. Melalui ini, penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung penulis untuk dapat menyelesaikan tugas akhir. Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada:
1. Bapak Edy Priyanto, Ibu Rita Adelina, dan Muhammad Yusuf Habiburrahman selaku keluarga penulis yang telah memberikan banyak dukungan secara materi dan non-materi.
2. Dr. Indra Kusumawardhana, M. Hub. Int., selaku Kepala Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina.
3. Ibu Novita Putri Rudiany, S.Hub Int., M.A. selaku dosen pembimbing I yang senantiasa membantu dan membimbing penulis dalam menyusun tugas akhir.
4. Ibu Rika Isnarti, S.IP, M.A(IntRel). selaku dosen pembimbing II yang senantiasa membimbing penulis dalam menyusun tugas akhir.
5. Bapak Rusdi J. Abbas selaku dosen wali yang selalu membimbing dan membantu penulis selama masa perkuliahan.
6. Vivien Lianna, Tika Aulia Dewi, Amelinda Fairuz Azura, Gita Meysaroh, Khoirul Hidayat, Adinda Reisha, dan Khairunnisa Syifa Faadhilah selaku sahabat penulis yang selalu memberikan dukungan semangat dan menemani hari-hari penulis selama penulis menyelesaikan studinya.
7. Rika Agus Widiyanti, Nurhayati Harahap, Adelia Annisa, Sekar Ayunda, Siti Maulina Mutia, Rizky Maulidina Marpaung, dan Sonia Carabia selaku sahabat masa kecil penulis yang selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah penulis.
8. Seluruh dosen dan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina yang telah membantu penulis selama perkuliahan. 9. Semua pihak yang turut membantu penulis yang tidak dapat disebutkan
namanya satu per satu. Semoga amal baik mereka mendapatkan balasan dari Allah SWT.
Penulisan tugas akhir ini masih jauh dari kata sempurna, namun penulis berharap bahwa tugas akhir ini memberikan manfaat bagi pembaca. Penulis juga berharap adanya kritik dan saran agar dapat dilakukan evaluasi dan perbaikan yang lebih baik lagi.
Jakarta, 17 Juni 2021
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
LEMBAR PERNYATAAN ... iv
ABSTRAK ... v
ABSTRACT ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR SINGKATAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Pertanyaan Penelitian ... 5
1.3 Tinjauan Pustaka ... 5
1.4 Kerangka Pemikiran... 11
1.5 Metodologi ... 19
1.6 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 20
1.6.1 Tujuan Penelitian ... 20
1.6.2 Manfaat Penelitian ... 20
1.7 Sistematika Penulisan ... 20
BAB II UNAIDS DAN NGO YANG MENANGANI HIV/AID DI AFRIKA SELATAN ... 22
2.1 HIV/AIDS dan UNAIDS di Afrika Selatan ... 22
2.2 Keterlibatan NGO dalam Menangani HIV/AIDS di Afrika Selatan... 30
2.2.1 Mothers2mothers (M2M) ... 32
2.2.2 SRHR Africa Trust (SAT) ... 34
2.2.3 Positive Young Women Voices (PYWV) ... 35
BAB III UPAYA MEMBANGUN JARINGAN BERSAMA ANTARA UNAIDS DENGAN NGO HIV/AIDS DI AFRIKA SELATAN ... 38
3.1 Interaksi antara UNAIDS dan NGO HIV/AIDS di Afrika Selatan .... 38
3.2 Upaya Membangun Jaringan Bersama antara UNAIDS dengan NGO HIV/AIDS di Afrika Selatan ... 45
3.2.1 UNAIDS dan Mothers2mothers ... 46
3.2.2 UNAIDS dan SRHR Africa Trust ... 49
3.2.3 UNAIDS dan Positive Young Women Voices ... 51
3.3 Hasil Jaringan Bersama Terhadap Penurunan Angka HIV/AIDS di Afrika Selatan ... 53
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN ... 57
4.1 Kesimpulan ... 57
4.2 Saran ... 60
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Skema Alur Pemikiran ... 18 Gambar 2. Kurva orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Afrika Selatan tahun
1990-2018... 23 Gambar 3. Kurva orang baru yang terinfeksi HIV/AIDS di Afrika Selatan tahun
1990-2018... 24 Gambar 4. Kurva kematian yang diakibatkna oleh HIV/AIDS di Afrika Selatan
tahun 1990-2018 ... 24 Gambar 5. Kurva orang yang menerima pengobatan ART di Afrika Selatan
DAFTAR SINGKATAN
AIDS Acquired immunodeficiency syndrome
ANC African National Congress
ART Anti-Retroviral
CIDA Canadian International Development Agency
CPHA Canadian Public Health Association
ECOSOC The United Nations Economic and Social Council
HIPSS HIV Incidence Provincial Surveillance System
HIV Human Immunodeficiency Virus
IPAA International Partnership Against AIDS in Africa
LSL Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki
M2M Mothers2mothers
NGO Non-Governmental Organization
ODHA Orang Dengan HIV/AIDS
PBB Perserikatan Bangsa-Bangsa PCB Programme Coordinating Board
PMTCT Prevention of Mother-to-Child Transmission
PReP Pre-Exposure Prophylaxis
PYWV Poistive Young Women Voices
SANAC South Africa National AIDS Council
SAT SRHR Africa Trust
SRHR Sexual and Reproductive Health and Rights
TAC Treatment Activist Campaign
UNAIDS The Joint United Nations Programme on HIV/AIDS
USAID United States Agency for International Development
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
The Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) terbukti
mampu mengurangi penyebaran HIV/AIDS di Afrika Selatan dalam rentang tahun 2016 hingga 2018. Dalam hal ini, UNAIDS tidak bekerja sendirian dimana ia melibatkan dan berkerja sama secara aktif dengan aktor Non-Governmental
Organization (NGO) lokal maupun internasional. Dalam hal ini, NGO dianggap
sebagai model pelengkap yang dapat memenuhi permintaan publik yang tidak bisa dipenuhi oleh pemerintah (Steffek, 2014).
Penurunan penyebaran HIV/AIDS ditandai dengan turunnya angka orang baru yang terinfeksi HIV/AIDS. Pada tahun 2016, jumlah orang baru1 yang terinfeksi HIV/AIDS di Afrika Selatan adalah sebesar 260 ribu jiwa. Kemudian pada tahun 2017, jumlah orang baru yang terinfeksi menurun menjadi 240 ribu jiwa dan pada tahun 2018 menurun hingga 220 ribu jiwa (UNAIDS, 2020). Meskipun mengalami penurunan angka penyebaran terhadap orang baru, namun jumlah penderita HIV/AIDS di Afrika Selatan masih tergolong tinggi. Hingga tahun 2018, tercatat sekitar 7,7 juta jiwa warga Afrika Selatan terinfeksi HIV/AIDS (UNAIDS, 2020). Jumlah tersebut menjadikan Afrika Selatan sebagai negara dengan jumlah penderita HIV/AIDS tertinggi di dunia. Hal ini dapat berpengaruh terhadap
1 Orang baru merupakan individu yang baru tertular HIV/AIDS dan belum terdata sebelumnya di
penurunan tingkat produktivitas masyarakat yang mana sekitar 20,4% dari total kesuluruhan populasi di Afrika Selatan terhalang untuk melakukan pekerjaannya akibat terinfeksi HIV/AIDS (Avert, 2019). Selain itu, adanya stigma masyarakat terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dapat memicu kekerasan, gangguan mental dan tindakan bunuh diri. Dengan menurunnya produkvitas masyarakat, maka akan berdampak pula terhadap aktivitas negara.
Kemunculan HIV/AIDS di Afrika Selatan pertama kali ditemukan pada dua pasien di tahun 1983 (Ras GJ, 1983). Namun, minimnya tindakan pencegahan penyebaran yang disebabkan oleh terbatasnya pengetahuan dan teknologi mengakibatkan meningkatnya penderita HIV/AIDS dengan pesat. Pada tahun 1990, melalui survei antenatal nasional pertama yang menguji HIV menemukan bahwa terdapat sekitar 6,5 juta jiwa di Afrika Selatan yang hidup dengan HIV. Hingga pada tahun 1996, UNAIDS didirikan untuk mengadvokasi aksi global pada epidemi dan mengkoordinasikan respon terhadap HIV/AIDS (UNAIDS, 2008).
Isu HIV/AIDS di Afrika Selatan bukan hanya isu mengenai kesehatan ataupun pembangunan, namun juga mengenai pemerintahan di tingkat nasional, regional, dan internasional. Selain faktor kemiskinan dan kurang pendidikan, buruknya penanganan HIV/AIDS di Afrika Selatan juga dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan elit politik yang sebelumnya cenderung mengabaikan permasalahan ini dan kemudian menjadi salah satu faktor peningkatan penderita HIV/AIDS. Kelompok yang terpengaruh oleh epidemi ini adalah perempuan, remaja dan anak-anak, pekerja seks, laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), transgender, dan penasun (Avert, 2020). Meskipun terdapat elit politik di Afrika yang cenderung mengabaikan HIV/AIDS sebagai ancaman nyata
kehidupan masyarakat, namun akhir-akhir ini terdapat banyak dari berbagai elit politik di Afrika Selatan meningkatkan respon dan aksinya dalam menangani dan memerangi HIV/AIDS (Ngcaweni, 2016). Pemerintah Afrika Selatan telah mendanai hampir 80 persen dalam menanggapi HIV/AIDS, dan memberikan kepada lebih dari 4 juta orang pengobatan anti-retroviral (ART) yang dapat memperpanjang hidup penderita HIV/AIDS. Pada tahun 2018, Presiden Cyril Ramaphosa menyerukan peningkatan 2 juta orang Afrika Selatan yang akan menggunakan ART pada Desember 2020 melalui peningkatan tes dan pengobatan (Allinder & Fleischman, 2019).
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, UNAIDS dibantu oleh beberapa Non-Governmental Organization (NGO) lokal maupun internasional yang memiliki fokus dalam menanggulangi penyebaran HIV/AIDS masing-masing. Adapun NGO lokal dan internasional yang bekerja sama secara langsung dengan UNAIDS di Afrika Selatan yaitu mother2mother (M2M) yang memiliki fokus penanggulangan penyebaran HIV/AIDS dari ibu ke anak, SRHR Africa Trust (SAT) yang memiliki fokus dalam penanggulangan penyebaran HIV/AIDS terhadap remaja dan anak muda yang berumur 10-24 tahun, dan Positive Young Women
Voices (PYWV) yang memiliki fokus dalam penanggulangan penyebaran
HIV/AIDS terhadap perempuan dan pekerja seks.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, HIV/AIDS di Afrika Selatan mengalami penurunan angka penyebaran penyakit terhadap orang baru pada rentang tahun 2016 hingga 2018. Penurunan angka ini didorong oleh berbagai upaya yang dilakukan oleh UNAIDS yang juga dibantu oleh NGO lokal maupun internasional dalam meminimalisir penyebaran HIV/AIDS. Oleh sebab itu, penulis
ingin mengidentifikasi bagaimana upaya UNAIDS dalam menjalin kerja sama dengan NGO di Afrika Selatan ataupun Internasional untuk mengurangi penyebaran infeksi HIV/AIDS terhadap orang baru. Dengan demikian, penelitian ini dibuat dengan judul: “Upaya UNAIDS dalam membangun jaringan bersama dengan Non-Governmental Organization untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Afrika Selatan pada tahun 2016-2018”.
1.2 Pertanyaan Penelitian
Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh UNAIDS dalam melakukan kerja sama dengan NGO untuk mengatasi penyebaran HIV/AIDS di Afrika Selatan, maka penulis merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut: “Bagaimana upaya UNAIDS dalam membangun jaringan bersama dengan
Non-Governmental Organization untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di
Afrika Selatan pada tahun 2016-2018?”
1.3 Tinjauan Pustaka
Untuk menganalisis penelitian ini, diperlukan beberapa referensi literatur ilmiah sebagai tolak ukur dan landasan bagi peneliti. Sebelumnya, terdapat penelitian terdahulu yang berkaitan dengan topik tugas akhir ini. Oleh karena itu, di akhir bagian penulis mencoba untuk menunjukkan distingsi analisis dalam penelitian ini dengan publikasi ilmiah sebelumnya. Diskusi mengenai UNAIDS telah banyak di kaji, seperti penelitian yang ditulis oleh Jones et. al, (2019) yang menjelaskan bahwa kemajuan substansial seperti pencegahan dan pengobatan telah dibuat untuk mengakhiri epidemi HIV/AIDS. Namun, dalam pengaplikasiannya masih terdapat tantangan yang menghambat proses tersebut. Dalam penelitiannya, Jones menjelaskan prinsip-prinsip dasar pengendalian epidemi HIV/AIDS dan mengidentifikasi beberapa misi yang dapat dicapai dalam mengendalikan penyebaran HIV/AIDS di masyarakat atau di suatu kelompok yang memiliki risiko tertentu. Langkah-langkah pengendalian penyakit dimulai dari kontrol, eliminasi, pemberantasan, hingga penyakit tersebut punah. Dalam hal ini, metode pencegahan
yang telah diteliti berupa mencegah penularan HIV yang disebabkan oleh penularan dari ibu ke anak dan transfusi darah. Penularan yang disebabkan oleh perilaku seksual dan penggunaan narkoba suntikan juga menjadi perhatian Jones, namun pencegahan penularan ini membutuhkan kemajuan yang lebih lanjut dalam penelitian mengenai perilaku dan biomedis. Jones juga membahas secara singkat hal yang mempengaruhi keberhasilan program pencegahan HIV. Sehingga artikel ini penting untuk membantu penulis dengan data-data yang mengatakan adanya keberhasilan dalam pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS di Afrika Selatan.
Dalam artikel jurnal yang ditulis oleh Nsanzimana, et al (2015) menjelaskan mengenai program 90-90-90 UNAIDS di Kawasan Afrika dengan mengadaptasi perawatan dan kebutuhan individu yang diperlukan untuk meningkatkan kesadaran bagi masyarakat di Afrika. Dalam hal ini, UNAIDS mengumumkan 90% masyarakat di Afrika harus menerima pengobatan antiretroviral (ART) dan bahwa pada tahun 2020, 90% dari semua orang dengan HIV harus mengetahui status HIV mereka, 90% dari mereka yang didiagnosis sudah dapat mengakseses ke pengobatan antiretroviral, dan 90% orang yang menerima pengobatan harus mempertahankan penekanan virus agar tidak menyebar. Dalam hal ini, negara-negara yang berada di Afrika merupakan wilayah yang tingkat epidemi HIV tertinggi sehingga perlunya memperluas layanan pencegahan dan perawatan HIV di bawah strategi menyeluruh untuk menguji dan mengobati orang yang berisiko. Upaya untuk menetapkan solusi dan panduan yang relevan ini membutuhkan visi, peningkatan pembiayaan dalam negeri, dan kepemimpinan politik yang kuat. Upaya yang ada pada artikel jurnal Nsanzimana ini merupakan salah satu rujukan yang berkontribusi dalam penelitian yang dilakukan.
Disisi lain, Grobler, et. al, (2017) menjelaskan mengenai perkembangan target UNAIDS untuk menghilangkan penyebaram infeksi HIV kepada orang baru melalui program 90-90-90 yang dimulai dari tahun 2014 dan harus tercapai pada tahun 2020. Penelitian Grobler berbasis komunitas multilevel kompleks dalam lingkup rumah tangga yang mana dinilai apakah memenuhi HIV Incidence
Provincial Surveillance System (HIPSS). Penelitian ini menyimpulkan bahwa
masih kurangnya target UNAIDS 90-90-90 yang telah terpenuhi dalam populasi penelitiannya. Dibutuhkannya sosialisasi dalam skala yang besar untuk meningkatkan HIV dan memastikan bahwa semua pasien HIV memakai
Antiretroviral therapy (ART) untuk menghindari penyebaran HIV/AIDS kepada
orang baru. Jika cakupan layanan tidak ditingkatkan, Afrika Selatan tidak akan mampu membalikkan epidemi HIV di distrik dengan beban yang tinggi ini. Perbaikan di semua aspek rangkaian perawatan dan pengobatan HIV dibutuhkan, dengan penekanan pada sosialisasi untuk meningkatkan tes HIV. Sosialisasi seperti itu juga diperkuat dengan peningkatan skala pengujian di semua pengaturan, terutama di mana pasien dapat dijangkau seperti pengujian seluler di komunitas dan pengujian di tempat umum. Hasil tes yang dijabarkan dalam artikel jurnal ini akan membantu penulis dalam memperkuat argument yang ada.
Selanjutnya pada artikel jurnal yang ditulis oleh Vandormael, et, al. (2019) menjelaskan mengenai penurunan HIV di antara pria dan wanita di Afrika Selatan. Dengan menggunakan guideline dari UNAIDS, Vandormael memberikan bukti tentang penurunan insiden HIV di antara pria dan wanita yang tinggal di komunitas pedesaan dan hiperendemik Afrika Selatan. Hasil menunjukkan bahwa penurunan kejadian HIV lebih besar di antara laki-laki dan terjadi lebih awal, yang konsisten
dengan program VMMC lokal dan Antiretroviral therapy (ART). Secara keseluruhan, penyebaran HIV tetap tinggi, dengan perempuan mengalami risiko penularan HIV yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Dalam hal ini, adanya upaya-upaya pencegahan seperti meningkatkan penggunaan alat kontrasepsi, meningkatkan keterlibatan pria dengan sistem perawatan Kesehatan dan memastikan peningkatan layanan pencegahan primer untuk menciptakan epidemi HIV yang terkendali pada tahun 2030. Oleh karena itu, penilitian ini berkontribusi penting dalam hipotesis penulis dalam membantu data yang menunjukkan bahwa adanya penurunan penularan HIV/AIDS di antara pria dan wanita pada hiperendemik Afrika Selatan.
Selanjutnya, tulisan yang dibuat oleh Allinder, S (2020) menjelaskan alasan mengapa HIV/AIDS masih menjadi masalah darurat di Afrika Selatan. Ia menyebutkan terdapat beberapa alasan utama mengapa HIV/AIDS masih tergolong tinggi di Afrika Selatan. Jumlah orang baru yang terinfeksi tahunan terus berlanjut, tantangan dalam mengajak dan mempertahankan ODHA dengan metode pengobatan ART, serta rendahnya pencapaian dan keberlanjutan penekanan virus memicu epidemi dan menambah jarak yang harus dilalui oleh Afrika Selatan untuk dapat mengendalikan HIV sebagai ancaman kesehatan masyarakat. Disisi lain, adanya kesenjangan yang signifikan untuk mencapai tujuan UNAIDS 90-90-90 pada akhir tahun 2020 juga menjadi tantangan bagi Afrika Selatan dimana tidak semua orang dapat dengah mudah mengakses tujuan UNAIDS tersebut. Peran Afrika Selatan sebagai pusat ekonomi dan transportasi juga menambah sifat darurat epidemi HIV. Tingkat migrasi internal dan lintas batas yang tinggi menghasilkan
urbanisasi yang cepat perkotaan dan pinggiran kota. Data yang tertera di dalam artikel jurnal ini akan berkontribusi untuk melengkapi argumen penulis.
Pada buku yang ditulis oleh Theodore Powers (2020) menjelaskan secara umum situasi epidemi HIV/AIDS serta aktivis kesehatan di Afrika Selatan. Pembahasan ini dimulai dari formasi sosial melalui perspektif sejarah serta politik aktivis di dalamnya. Aktivis HIV/AIDS berjuang melawan penyebaran AIDS, terlibat dengan komunitas yang terinfeksi dan terpengaruh oleh epidemi sambil memimpin pengembangan kebijakan nasional. Para aktivis yang tergabung dalam
Treatment Activist Campaign (TAC) dan yang tergabung dalam gerakan HIV/AIDS
menganalisis bagaimana perjuangan melawan penyebaran AIDS terjadi di seluruh negeri dan di dalam South Africa National AIDS Council (SANAC). Hal yang menjadi perhatian adalah penolakan terhadap ketidakadilan dan ditentang oleh mereka yang telah diabaikan oleh masyarakat Afrika Selatan akibat terinfeksi HIV/AIDS, serta ketidakadilan atas penggunaan otoritas negara yang sewenang-wenang dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, adanya restrukturisasi SANAC didorong oleh visi negara dimana tanggapan aktivis, biomedis, dan berbasis komunitas terhadap dampak sosial, material, dan politik dari epidemi HIV/AIDS dimasukkan ke dalam proses pengembangan kebijakan HIV/AIDS. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gerakan aktivis HIV/AIDS dan African National Congress (ANC) sama-sama mengejar perubahan sosial transformatif berdasarkan prinsip-prinsip politik yang dikembangkan oleh Afrika Selatan.
Dalam artikel jurnal yang ditulis oleh Uwimana, et al (2012) menjelaskan mengenai peluang dan tantangan ketelibatan NGO dan komunitas kesehatan dalam kegiatan kolaboratif HIV dimana di dalamnya juga termasuk pencegahan penularan
dari ibu ke anak di Afrika Selatan. Pelaksanaan kegiatan kolaborasi TB dan HIV dapat membantu mengurangi dampak epidemi ganda pada pasien dan masyarakat. Implementasi ini membutuhkan fasilitas dan bantuan pemerintahan dengan masyarakat. Dengan melibatkan Community Care Workers (CCW) dalam pemberian layanan HIV yang terintegrasi, dapat meningkatkan hasil pengobatan yang lebih luas dan dapat menangani kebutuhan sumber daya manusia di sub-Sahara Afrika. Jurnal artikel ini menggunakan penelitian pra-intervensi di distrik Sisonke, KwaZulu-Natal, Afrika Selatan sebagai studi kasus. Jurnal ini juga merupakan salah satu rujukan yang digunakan oleh penulis, namun tidak hanya dilihat di satu daerah saja melainkan dalam satu negara Afrika Selatan.
Selanjutnya, artikel jurnal yang ditulis oleh Brittany Dernberger (2014) menjelaskan mengenai NGO di Afrika Selatan yang memiliki misi untuk menangani HIV/AIDS dan bagaimana pengaruhnya yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. HIV/AIDS di Afrika Selatan adalah masalah kesehatan masyarakat yang umum. Angka penularan HIV/AIDS yang sangat tinggi terutama bagi perempuan, ditambah dengan stigma dan kekerasan berbasis gender. Hal ini memunculkan konteks politik yang berdampak pada pekerjaan NGO dalam menangani HIV/AIDS. NGO tidak berdiri sendiri karena mereka berinteraksi dengan konteks politik yang lebih besar dan lingkungan sekitarnya. Dalam penelitiannya, Dernberg menggunakan Teori Sistem Terbuka dan Teori Pembangunan Sosial dalam kerangka kontekstual untuk analisisnya. Jurnal ini menyimpulkan bahwa NGO HIV/AIDS yang beroperasi di Afrika Selatan mempengaruhi komunitas lokal. Disisi lain, lingkungan sekitar juga mempengaruhi pekerjaan NGO sehingga menghasilkan pertukaran dua arah yang berkelanjutan.
Berbeda dengan pembahasan sebelumnya yang menunjukkan program-program UNAIDS; dan bagaimana kondisi aktivis/NGO HIV/AIDS yang ada di Afrika Selatan, tulisan ini menjawab pertanyaan bagaimana upaya UNAIDS dalam menjalin kerja sama dengan NGO di Afrika Selatan ataupun Internasional untuk mengurangi penyebaran infeksi HIV/AIDS terhadap orang baru.
1.4. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang permasalahan, UNAIDS mampu menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Afrika Selatan dengan melibatkan peran aktif dari NGO. Dalam hal ini, UNAIDS sebagai organisasi internasional bertindak sebagai aktor yang menyediakan sarana kerja sama yang mana hasil dari kerja sama tersebut akan menghasilkan keuntungan sesuai dengan tujuan bersama (Bennett, 1991). Untuk mencapai tujuan tersebut, organisasi internasional harus melakukan fungsi-fungsinya dengan efektif dan eefisien. Sama halnya dengan UNAIDS, dalam menjalankan fungsinya untuk mengurangi penyebaran HIV/AIDS di Afrika selatan berbagai cara dilakukan, salah satunya adalah dengan menjalin kerja sama dengan NGO kesehatan lokal dan Internasional. Menurut Piotrowicz, M dan Cianciara, D (2001), NGO kesehatan merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki peran dengan memberikan pelayanan dan advokasi kesehatan. Penyedian layanan mencakup layanan medis, sosial dan psikologis serta kegiatan yang terintegrasi, perawatan dan keperawatan, dukungan materi dan keuangan, layanan pendidikan dan informasi, serta pelatihan. Sedangkan advokasi kesehatan merupakan kombinasi dari tindakan individu dan sosial yang dirancang untuk mendapatkan
komitmen politik, dukungan kebijakan, penerimaan sosial dan dukungan sistem untuk tujuan atau program kesehatan tertentu.
Suatu agensi atau lembaga pemerintahan menjalin kerjasama dengan NGO guna memberikan inputs serta services dalam pembentukan kelompok, pengembangan sumber daya manusia, kegiatan peningkatan pendapatan, penciptaan kesadaran, dan sebagainya (Haque, 2004). Melalui kerjasama, pengalaman yang telah NGO dapatkan berdampak positif bagi lembaga pemerintahan di tingkat masyarakat sipil, terutama dalam meningkatkan pengetahuan lokal, komitmen, dan daya tanggap (Haque, 2004).
Untuk menjawab pertanyaan penelitian, dibutuhkan sebuah landasan pemikiran yang nantinya mampu menjabarkan bentuk kerja sama yang dilakukan oleh UNAIDS dengan NGO Kesehatan di Afrika Selatan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tujuan dari kedua aktor tersebut serta bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain dalam menjalankan tujuan bersamanya. Terdapat empat tipologi kerja sama yang dapat dilihat antara kerja sama organisasi internasional dengan NGO menurut M. Haque (2004), yaitu forms, levels, institutions dan domains. Keempat tipologi ini harus dianalisa secara keseluruhan bersama-sama untuk mengetahui ruang lingkup serta mengetahui implikasi dari kerja sama tersebut.
1. Forms
Bentuk hubungan organisasi internasional-NGO dapat dibagi menjadi dua, yaitu kompetisi dan kolaborasi. Yang dimaksud dengan kompetisi adalah organisasi internasional menolak adanya pluralisme kelembagaan yang mana dengan adanya pluralism kelembagaan ini akan menghasilkan banyak identitas sehingga memungkinkan
terjadinya tumpang tindih fungsi antar aktor, sedangkan kolaborasi merupakan hal dimana organisasi internasional menerima adanya pluralisme kelembagaan. Dalam hal ini, bentuk kolaborasi merupakan bentuk yang dapat mendefinisikan hubungan kerja sama antara organisasi internasioanl-NGO. Adanya tujuan bersama menciptakan kondisi saling membutuhkan satu sama lain. Namun dalam kolaborasi ini harus bersifat formal yang didalamnya terdapat sub-contract antar mitra untuk mencapai tujuan bersama. Dengan adanya sub-contract tersebut, organisasi internasional-NGO dapat melaksanakan program bersama. Sebagai contoh, dalam menangani isu pemanasan global, UNFCCC melakukan kerja sama dengan NGO berupa joint
implementation yang didalamnya terdapat sub-contract. Dalam hal ini,
NGO dapat melakukan proyek di daerah yang tidak dilakukan oleh perusahaan atau pemerintahan. Proyek ini juga melibatkan program pelatihan dan penyebaran informasi yang dilakukan oleh NGO (Michaelowa, 1995).
2. Levels
Dalam tingkat kerja sama dapat dibagi menjadi dua, yaitu tingkat
international dan national local. Dalam hal ini, NGO biasanya memiliki
afiliasi dengan berbagai stakeholder, termasuk diantaranya
international donor organization, national local government units,
hingga business enterprises. Biasanya, kerja sama ini dapat melibatkan pemerintah, donor internasional, dan NGO secara bersamaan. Namun hal ini kembali lagi kepada bentuk kerja sama dan tujuan dilakukannya
kerja sama tersebut. Dalam hal ini, hubungan kerja sama seringkali berdasarkan pada dukungan keuangan dan bantuan teknis, serta upaya dan kolaborasi yang dilakukan bersama. Sebagai contoh, dalam tingkat international, di Bangladesh terdapat kerja sama antara NGO seperti
Bangladesh Rural Advancement Committee (BRAC) dengan World Food Program untuk membantu kelompok yang rentan terutama
perempuan yang miskin dengan cara mendistribusikan makanan, memberikan dukungan logistik, dan memberikan pelatihan (Haque, M., 2004).
3. Institutions
Dalam hal institusi atau kelembagaan, terdapat mekanisme dan pengaturan yang telah terstruktur. Mekanisme dan pengaturan ini berguna untuk meningkatkan interaksi antara lembaga pemerintah dan NGO dengan dilakukannya forum dialog, menciptakan saling pengertian yang lebih baik, dan mendorong kolaborasi antara kedua mitra. Biasanya, mekanisme dan pengaturan dibuat oleh aktor yang lebih besar dan kuat pendanaannya. Namun, semua kembali lagi kepada perjanjian atau kesepakatan awal antara kedua pihak tersebut. Dengan memperkuat hubungan dan jaringan dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk kemitraan antara organisasi internasional-NGO. Sebagai Contoh, di Bangladesh, Palli Karma Shahayak Foundation (PKSF) atau Yayasan Bantuan Pekerjaan Pedesaan dibiayai serta dikelola oleh pemerintah dan disponsori oleh World Bank (Haque, M., 2004). Dalam kegiatan ini, World Bank juga turut ikut dalam kerja sama ini yang mana
ia berperan sebagai sponsor. Pengelolaan tersebut berupa pemberian pinjaman jangka pendek kepada NGO untuk memungkinkan mereka memberikan kredit mikro yang menghasilkan pendapatan bagi keluarga miskin di Bangladesh. Dalam hal ini, PKSF bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan pedesaan dengan cara menyediakan dana yang diperlukan untuk rumah tangga miskin melalui berbagai NGO. 4. Domains
Yang dimaksud dengan domains adalah ruang lingkup atau cakupan masalah-masalah yang dijadikan objek dalam kerja sama. Cakupan kemitraan organisasi internasional-NGO cukup luas dimana mencakup bidang-bidang utama tertentu seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan pedesaan, penanggulangan bencana, air bersih dan sanitasi, dan sebagainya. Tergantung pada agendanya, setiap NGO memiliki rangkaian prioritas yang berbeda dalam menangani domain tersebut. Prioritas ini berpacu pada tujuan dari NGO itu sendiri. Sebagai contoh, dalam menangani malnutrisi di Bangladesh, UNICEF dan World Bank berkerja sama dengan NGO dalam Integrated Nutrition Project. Dalam hal ini UNICEF dan World Bank berperan sebagai sponsor bagi NGO (Haque, 2004).
Setelah mengetahui bentuk dari kerja sama antara organisasi internasional dengan NGO, kemudian dapat diidentifikasi apa-apa saja upaya yang dilakukan oleh organisasi internasional untuk bekerja sama dengan NGO, dalam hal ini upaya UNAIDS dalam membangun jaringan bersama dengan NGO Kesehatan yang berfokus di Afrika Selatan. Upaya yang dilakukan oleh organisasi internasional
untuk menjalin kerja sama dengan NGO dapat dilihat dari apa saja atau menyesuaikan kebutuhan organisasi internasional tersebut. Dalam hal ini, terdapat
pull factors dan push factors yang mempengaruhi terjadinya kerja sama tersebut
(Steffek, 2014). Pull factors merupakan kebutuhan organisasi internasional akan NGO yang dapat menjalankan programnya. Organisasi internasional akan bertindak sebagai sebagai pendana serta bertindak sebagai penyedia layanan dan terlibat dalam advokasi. Sedangkan, Push factors merupakan faktor pendorong bagi NGO untuk melakukan kerja sama dengan organisasi internasional. Pada dasarnya dana yang dihasilkan NGO sendiri sangatlah terbatas, khususnya NGO yang aktif di bidang pembangunan dan bantuan kemanusiaan. Maka dari itu, NGO membutuhkan afiliasi lain untuk membantu dalam pendanaan mereka (Steffek, 2014).
Dari kedua faktor tersebut kemudian dapat dijelaskan bagaimana hubungan kerja sama antara organisasi internasional dengan NGO melalui policy cycle (Steffek, 2014). Setiap faktor memiliki masing-masing fase yang mempengaruhinya. Policy cycle memiliki enam fase proses, yaitu agenda-setting,
research and analysis, policy formulation, policy decision, policy implementation,
dan policy evaluation. Agenda-setting merupakan penetapan agenda atau kegiatan yang akan dilakukan oleh organisasi internasional, dalam hal ini organisasi internasional akan melibatkan NGO untuk membantunya dalam mengidentifikasi masalah baru. Bersamaan dengan ini, NGO akan mencoba untuk memberikan pengaruhnya terhadap agenda dari organisasi internasional. Kemudian Research and analysis akan dilakukan oleh kedua aktor dimana organisasi internasional membutuhkan NGO yang memiliki pengalaman serta pengetahuan khusus
mengenai agenda yang akan dilakukan, disisi lain NGO akan melakukan pencarian data dan informasi mengenai agenda tersebut. Setelah dilakukannya penelitian dan analisis, policy formulation dan policy decision dilakukan oleh organisasi internasional. NGO akan mencoba untuk memberikan pengaruhnya di dalam kebijakan tersebut sesuai dengan visi dan misi mereka. Setelah penetapan kebijakan, akan dilakukannya policy implementation. Policy implementation sendiri dilakukan oleh organisasi internasional yang berkolaborasi dengan NGO. Dalam hal ini, NGO menjadikan organisasi internasional sebagai donatur mereka dalam pengimplementasian agenda. Setelah dilaksanakannya agenda, terdapat
policy evaluation yang akan mengevaluasi kebijakan pada saat diimplementasikan.
Pola kerja sama antara organisasi internasional-NGO tersebut dapat berubah seiring waktu, tergantung pada agenda yang dikejar oleh para aktor dan masalah yang mereka coba selesaikan (Steffek, 2014). Karenanya, memungkinkan untuk mengidentifikasi pull factors dan push factors hanya dalam fase pembuatan kebijakan tertentu atau yang hanya relevan untuk organisasi internasional atau NGO yang menekankan pada satu fase atau fase lainnya (Steffek, 2014). Oleh sebab itu, penulis hanya akan menggunakan 2 fase saja dalam melakukan peniliian ini, yaitu fase policy implementation dan policy evaluation. Hal ini dikarenakan UNAIDS merupakan organisasi yang sudah memiliki kebijakan yang terstruktur dan dalam konteksnya di Afrika Selatan, keterlibatan NGO difokuskan untuk menjalankan program serta memberikan laporan hasil dari program yang telah mereka lakukan. Dari sini kemudian dapat dianalisis apa-apa saja upaya yang dilakukan oleh UNAIDS untuk bekerja sama dengan NGO.
Berdasarkan penjelasan kerangka pemikiran tersebut, maka dapat digambarkan alur pemikiran penulis sebagai berikut.
Gambar 1. Skema Alur Pemikiran
Isu HIV/AIDS di Afrika Selatan
UNAIDS
Policy Implementation NGO
Forms Levels Institutions Domains
Policy Evaluation
Menurunnya angka HIV/AIDS di Afrika Selatan tahun 2016-2018
1.5 Metodologi
Pada penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian yang bersifat deskriptif analitis dengan pendekatan penelitian yang bersifat kualitatif. Dipilihnya pendekatan penelitian kualitatif guna mengetahui serta memahami suatu permasalahan dalam bentuk kalimat yang disusun secara sitematis dan komprehensif. Metode ini berorientasi pada pada pengumpulan data serta analisis data secara deskriptif yang mana hasil dari pengolahan informasi yang telah diperoleh akan menjawab permasalahan yang ada dalam penelitian ini. Maka dari itu, penelitian ini harus didukung oleh data dan fakta. Dalam mengumpulkan informasi yang sesuai, dibutuhkan teknik yang terstruktur. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik studi kepustakaan. Peneliti akan mengumpulkan data-data dan fakta tertulis berdasarkan document-based
research. Data yang diambil berasal dari observasi melalui artikel, jurnal, dokumen
resmi, laporan, dan media online akademik maupun media elektronik dalam update informasi terhadap upaya UNAIDS dalam membangun jaringan bersama untuk menanggulangi HIV/AIDS di Afrika Selatan pada tahun 2016-2018.
Batasan penelitian pada tulisan ini diperlukan untuk mengetahui batasan permasalahan yang akan dibahas agar terhidar dari penjelasan yang terlalu luas. Oleh karenanya, penulis membatasi penelitian ini dari tahun 2016 – 2018. Penulis akan meniliti upaya yang dilakukan oleh UNAIDS dalam membangun kerja sama dengan NGO lokal dan internasional dalam menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Afrika Selatan. Tahun 2016 menjadi awal dari penurunan angka penyebaran HIV/AIDS terhadap orang baru di Afrika Selatan yang kemudian diikuti oleh penurunan angka penyebaran di tahun-tahun selanjutnya (UNAIDS, 2019).
1.6 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.6.1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menganalisis serta mengetahui upaya yang dilakukan oleh UNAIDS dalam membangun jaringan bersama untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Afrika Selatan.
1.6.2. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai interaksi antar aktor internasional dalam mengatasi permasalahan mengenai HIV/AIDS di Afrika Selatan melalui upaya-upaya yang dilakukan UNAIDS dalam bekerja sama dengan NGO lokal dan intenasional.
1.7 Sistematika Penulisan BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini, penulis membahas mengenai pendahuluan yang mencakup latar belakang urgensi HIV/AIDS di Afrika Selatan, pertanyaan penelitian yang menjadi fokus dari analisis pada penelitian ini, tinjauan pustaka, kerangka konseptual, serta tujuan dan manfaat penelitian.
BAB II : UNAIDS DAN NGO DI AFRIKA SELATAN
Pada bab ini, penulis menjelaskan mengenai kondisi HIV/AIDS di Afrika Selatan dan awal mula UNAIDS masuk ke dalam Afrika Selatan serta gambaran umum mengenai organisasi internasional tersebut. Penulis juga
akan mendeskripsikan peran dari NGO yang juga turut ikut membantu dalam mengurangi angka HIV/AIDS di Afrika Selatan.
BAB III : UPAYA ENGAGEMENT UNAIDS TERHADAP NGO DI AFRIKA SELATAN
Pada bab ini, penulis akan menjelaskan analisis secara deskriptif mengenai upaya UNAIDS dalam membangun jaringan bersama dengan NGO untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Afrika Selatan dengan menggunakan konsep Policy Implemetation dan Policy Evaluation.
BAB IV : KESIMPULAN
Pada bab ini, penulis menyimpulkan hasil dari analisis yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya serta memberikan saran terhadap penulis yang apabila akan membahas topik ini di penelitian selanjutnya.
BAB II
UNAIDS DAN NGO YANG MENANGANI HIV/AIDS DI
AFRIKA SELATAN
Bab ini membahas mengenai awal munculnya HIV/AIDS dan bagaimana masifnya penyebaran virus tersebut di kalangan masyarakat Afrika Selatan yang kemudian menjadikan negara tersebut sebagai negara dengan tingkat penderita HIV/AIDS tertinggi di dunia. Selain itu, juga dijelaskan mengenai awal pembentukan dan visi misi dari UNAIDS serta masuknya UNAIDS ke Afrika Selatan untuk membantu penanggulangan HIV/AIDS yang terus meningkat seiring berjalannya waktu. Terganggunya beberapa sektor yang diakibatkan oleh HIV/AIDS dan angka penderita yang semakin tinggi mendorong NGO lokal maupun internasional turut ikut mencari solusi dalam mengatasi permasalahan ini dan berperan aktif di dalamnya.
2.1 HIV/AIDS dan UNAIDS di Afrika Selatan
HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan masyarakat yang dominan di Afrika Selatan. HIV atau Human immunodeficiency virus merupakan virus yang memperlemah sistem kekebalan tubuh, dan pada akhirnya menyebabkan Acquired
immunodeficiency syndrome (AIDS). Sedangkan AIDS sendiri adalah kondisi
medis yang menunjukkan lemahnya kekebalan tubuh dan hingga saat ini belum bisa disembuhkan (WHO, 2005). Hingga tahun 2018, jumlah penduduk Afrika Selatan
sebanyak 57,7 juta orang yang menjadikan Afrika Selatan sebagai negara dengan tingkat penderita HIV/AIDS tertinggi di dunia. Tingkat prevalensi HIV/AIDS di populasi Afrika Selatan adalah sebesar 20,4%. Tingkat HIV/AIDS di antara orang dewasa adalah lebih dari 20% atau setara dengan satu dari lima orang, 45% dari semua kematian di negara ini dapat dikaitkan dengan HIV/AIDS, 13% orang kulit hitam Afrika Selatan lebih banyak terinfeksi HIV/AIDS dibandingkan 0,3% orang kulit putih Afrika Selatan dan diperkirakan ada 600.000 anak yatim piatu akibat AIDS. Prevalensinya lebih tinggi terhadap laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), waria, pekerja seks dan pengguna narkoba suntik (UNAIDS, 2019). Selain itu, kurangnya pendidikan, gizi buruk, perawatan kesehatan yang tidak memadai, dan kemiskinan membuat orang-orang rentan terhadap HIV/AIDS.
Gambar 2. Kurva orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Afrika Selatan tahun 1990-2018 Sumber: UNAIDS, 2021
Gambar 3. Kurva orang baru yang terinfeksi HIV di Afrika Selatan tahun 1990-2018 Sumber: UNAIDS, 2021
Gambar 4. Kurva kematian yang diakibatkan oleh HIV di Afrika Selatan tahun 1990-2018 Sumber: UNAIDS, 2021
Penyebaran virus HIV/AIDS di Afrika Selatan bukanlah hal yang baru-baru saja terjadi. Penyakit ini muncul pertama kali pada tahun 1982 dari seorang pria Afrika Selatan dan kematian pertama yang diakibatkan oleh penyakit ini terjadi pada tahun 1985. Mulai saat itu perkembangan HIV/AIDS menyebar dengan cepat. Namun, karena Afrika Selatan berada di tengah-tengah pemberontakan apartheid, masalah HIV sebagian besar diabaikan. Kerusuhan politik mendominasi media, sedangkan HIV mulai menyebar luas, baik di komunitas gay dan populasi kulit hitam yang rentan (Hodes, 2013). Pada pertengahan 1990-an, bahkan ketika tingkat HIV telah meningkat menjadi 60%, pemerintah tetap lambat dalam menanggapi apa yang menjadi bencana kesehatan masyarakat ini. Pada tahun 1990-an Presiden Nelson Mandela menanggapi keluhan pemerintahnya terhadap krisis, di mana pada saat itu Afrika Selatan telah menjadi populasi orang dengan HIV terbesar di dunia. (Breslow, 2013).
Pada tahun 2000, Departemen Kesehatan Afrika Selatan menguraikan rencana HIV/AIDS lima tahun tetapi hanya menerima sedikit dukungan dari Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki (Gow, 2009). Tanpa dukungan pemerintah, rencana lima tahun tidak berjalan secepat yang direncanakan, dengan sedikit yang muncul untuk menerima pengobatan antiretroviral. Sementara itu, HIV di antara ibu hamil Afrika Selatan melonjak dari delapan persepuluh menjadi 1% pada tahun 1990 dan menjadi lebih dari 30% pada tahun 2000 (UNAIDS, 2016). Kemudian, dengan mundurnya Mbeki dari jabatan presiden pada tahun 2008, pemerintah selanjutnya mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan virus tersebut, meningkatkan upaya untuk menjadi program obat HIV terbesar di dunia.
Penyebab utama dari penyebaran virus HIV/AIDS adalah seks bebas di antara heteroseksual maupun homoseksual tanpa alat kontrasepsi serta penggunaan jarum suntik narkotika yang telah digunakan berulang kali dengan orang-orang yang berbeda. Kasus penularan kemudian mengalami perubahan yang mana virus dapat ditularkan melalui ibu ke anak melalui menyusui yang pada akhirnya mengakibatkan peningkatan penyebaran di kalangan anak-anak. Epidemi HIV/AIDS berkembang dengan sangat cepat di Afrika Selatan. HIV/AIDS menjadi penyebab kematian tertinggi di Afrika selatan pada tahun 2006 sebanyak 290 ribu jiwa. Hal ini disebabkan oleh tingginya jumlah orang yang baru terinfeksi HIV/AIDS dan jumlah yang hidup dengan HIV/AIDS.
Dengan meluasnya penyebaran HIV/AIDS, hal ini berdampak terhadap penurunan sumber daya manusia yang signifikan di berbagai sektor. Sektor kesehatan menjadi sektor yang dirasakan dampaknya secara langsung. Hal ini mengakibatkan turunnya sumber daya manusia dari segi kuantitas dan kualitas yang kemudian menciptakan ketidakstabilan ke berbagai sektor lainnya di Afrika Selatan. Selain kesehatan, sektor yang turut terpengaruh akibat dari HIV/AIDS adalah sektor pendidikan. Hal ini diakibatkan oleh meningkatnya angka kematian dan morbiditas antar guru yang kemudian mempersulit mengakses pendidikan karena banyaknya jumlah guru lama yang harus berhenti dari pekerjaannya dan banyaknya guru baru yang harus dilatih kembali. Dengan menurunnya sektor pendidikan, hal ini berpengaruh terhadap aspek strategi pembangunan pemerintah Afrika Selatan. Dalam hal ini, sektor pembangunan sosial juga ikut terpengaruh seperti meningkatnya tingkat prevalensi HIV yang mempengaruhi ketidaksetaraan dan kohesi sosial yang pada akhirnya akan berdampak terhadap perekonomian
negara. Efek HIV/AIDS berpengaruh terhadap PDB per kapita yang mana tidak proporsionalnya pada sektor pemasok komoditas akibat pergeseran permintaan layanan kesehatan. Dengan meningkatnya orang yang terjangkit HIV/AIDS, maka mereka akan kehilangan pekerjaan mereka sehingga tidak memiliki pemasukan yang tetap. Selain itu, adanya stigma buruk di masyarakat yang memandang orang yang hidup dengan HIV/AIDS sebagai sebuah aib di masyarakat yang dapat memperburuk mental dari pasien ODHA.
Anak muda yang berusia 15 hingga 24 tahun merupakan proporsi terbesar orang yang terinfeksi HIV di Afrika Selatan dengan prevalensi sekitar 50%. Kemudian, perempuan menyumbang hampir 63% dari semua infeksi baru, hal ini diakibatkan oleh kesenjangan sosial dan ekonomi, ketidakberdayaan perempuan, dan tingginya tingkat pemerkosaan di Afrika Selatan adalah salah satu penyebab angka-angka ini. Selanjutnya, pria yang berhubungan seks dengan pria memeilik tingkat risiko tinggi HIV di Afrika Selatan, dengan perkiraan prevalensi 33% (WHO, 2018). Selain itu, pekerja migran memiliki risiko HIV yang sangat tinggi, dengan beberapa komunitas pertambangan menunjukkan tingkat infeksi lebih dari 60% (ICAP, 2017).
Dengan meningkatnya penyebaran HIV/AIDS di Afrika Selatan, membuat kekhawatiran tersendiri terhadap negara-negara lain. Kemiskinan, sistem kesehatan, infrastruktur yang masih belum berkembang dan belum memadai menghalangi Afrika Selatan untuk menangani permasalahan HIV/AIDS dengan cepat dan tepat. Salah satu cara untuk menangani masalah HIV/AIDS di Afrika Selatan adalah dengan menerima bantuan keuangan dan teknis dari organisasi
internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB yang merupakan sebuah badan internasional kemudian membentuk kerjasama yang dinamakan
International Partnership Against AIDS in Africa (IPAA) yang mana kerjasama
terdiri dari pemerintahan negara-negara di Afrika, badan PBB, sektor privat dan komunitas lainnya yang memiliki tujuan untuk membantu negara-negara yang ada di Afrika untuk menanggulangi permasalahan HIV/AIDS.
Untuk dapat menjangkau wilayah yang lebih luas dan merespon peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS yang signifikan pada penduduk dunia, PBB kemudian membentuk sebuah badan yang berfokus menangani HIV/AIDS di seluruh negara yang ada di dunia yaitu The Joint United Nations Programme on
HIV/AIDS (UNAIDS). UNAIDS dibentuk pada bulan Desember 1994 melalui Resolution of The United Nations Economic and Social Council (ECOSOC) dan
kemudian mulai aktif pada tahun 1996. Setelah UNAIDS terbentuk dan mulai berjalan secara aktif, kemudian di tahun yang sama UNAIDS menempatkan sekretariatnya di Afrika Selatan dengan tujuan mendukung upaya pemerintah Afrika Selatan dalam menangani HIV/AIDS dengan cara bekerja sama dengan pemerintah, komunitas sosial, dan sektor bisnis.
Target yang dikejar oleh UNAIDS pada awalnya adalah pengurangan penyebaran infeksi virus terhadap orang baru yang belum terinfeksi HIV/AIDS sebelumnya yang mana ini akan membuat adanya penurunan penyebaran HIV/AIDS di masyarakat Afrika Selatan. Dalam hal ini, UNAIDS memberikan dukungan dalam pembuatan kebijakan, perencanaan strategi, penelitian dan pengembangan, bantuan teknis, dan advokasi. UNAIDS juga ikut turut mendukung
organisasi-organisasi lainnya yang berfokus dalam penanggulangan HIV/AIDS, baik organisasi lokal maupun internasional. Dalam penanganan masalah HIV/AIDS, pemerintahan negara merupakan pihak yang memiliki tanggung jawab tertinggi dalam penanganan HIV/AIDS. UNAIDS mendukung dan melengkapi upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menangani masalah ini dengan meningkatkan kapasitas nasional dalam perencanaan, koordinasi, implementasi, dan memonitor seluruh program yang berkaitan dengan penanggulangan HIV/AIDS.
Dalam menjalankan tugasnya di Afrika Selatan, UNAIDS telah melakukan beberapa upaya dalam menangani masalah HIV/AIDS, seperti meluncurkan program Test and Treat, Antiretroviral Therapy (ART), 90-90-90 Fast Track, dan
pre-exposure prophylaxis (PrEP). Pengobatan Antiretroviral merupakan cara yang
dilakukan untuk mengobati pasien HIV dengan cara memberikan obat-obatan yang berguna untuk memperlambat pertumbuhan virus HIV/AIDS. 90-90-90 Fast Track merupakan program UNAIDS dimana 90% orang yang hidup dengan HIV mengetahui status HIV mereka, 90% orang yang mengetahui status HIV-positif mereka dapat mengakses pengobatan dan 90% orang yang memakai pengobatan telah menekan viral loads. Kemudian PrEP merupakan penggunaan obat antiretroviral pada orang yang berstatus HIV-negative agar tidak terinfeksi HIV dan kebijakan PrP yang ada untuk pasangan serodiskordan saja, sehingga pasangan yang hanya satu orang yang hidup dengan HIV dapat mengakses PrPP melalui sistem layanan kesehatan masyarakat untuk menghindari penularan ke pasangan HIV-negatif (UNAIDS, 2021).
Afrika Selatan menjadi negara yang memiliki program ART terbesar di dunia dan telah melakukan perluasan yang lebih lanjut dengan menerapkan pedoman Test and Treat. Pada tahun 2018, UNAIDS melaporkan bahwa sekitar 4,8 juta orang menerima perawatan di Afrika Selatan. Ini setara dengan 62% orang yang hidup dengan HIV di Afrika Selatan. Selain itu, Afrika Selatan juga menjadi negara pertama di Afrika sub-Sahara yang sepenuhnya menyetujui PrPP, yang sekarang tersedia bagi orang-orang yang berisiko tinggi terinfeksi (UNAIDS, 2019).
2.2 Keterlibatan NGO dalam Menangani HIV/AIDS di Afrika Selatan
Non-Govermental Organization (NGO) merupakan organisasi yang
seringkali memiliki tujuan khusus untuk melayani masyarakat yang termarjinalkan atau isu-isu yang kurang diperhatikan oleh pemerintahan pusat. Pada umumnya, NGO tidak memiliki nilai kekayaan yang banyak atau dapat disebut sebagai organisasi non-profit. Namun, NGO memiliki kemampuan pengembangan sistem sosialisasi di dalam lingkup masyarakat dengan cara melakukan pendekatan kepada masyarakat agar masyarakat dapat menerima visi misi dari NGO tersebut. Agar dapat berinteraksi dan merespon secara efektif dengan masyarakat, NGO harus terlibat secara langsung dengan lingkungan sekitar masyarakat. Sama halnya dengan NGO HIV/AIDS yang ada di Afrika Selatan, mereka mempunyai visi misi masing-masing untuk menangani HIV/AIDS di Afrika Selatan. NGO HIV/AIDS di Afrika Selatan muncul pada tahun 1990-an yang berfokus pada pembangunan dan berusaha menempatkan HIV/AIDS dalam agenda publik.
Dalam hal ini, NGO tidak berdiri sendiri. Mereka berinteraksi dengan konteks politik yang lebih besar dan organisasi nasional maupun internasional lainnya. NGO Afrika Selatan melihat lingkungan mereka dengan berfokus pada pembangunan ketika mereka muncul pada 1990-an. Namun, ketika Pemerintah Afrika Selatan dan masyarakat internasional mulai menanggapi krisis di awal tahun 2000-an, NGO mulai beroperasi dari perspektif kesejahteraan dengan memenuhi kebutuhan dasar. NGO berada dalam hubungan yang berkesinambungan dan berkelanjutan dengan masyarakat sekitar karena NGO berdampak pada lingkungan dan kemudian masyarakat mempengaruhi NGO.
Hingga saat ini, masih terdapat banyak NGO HIV/AIDS di Afrika Selatan yang memiliki fokus di sektor masing-masing guna menanggulangi penyebaran di negara ini. Dalam skripsi ini, penulis menggunakan tiga NGO HIV/AIDS yang memiliki fokus berbeda antara satu dengan lainnya, yaitu mothers2mothers (M2M) yang merupakan NGO lokal dengan fokus penanggulangan penyebaran HIV/AIDS dari ibu ke anak, SRHR Africa Trust (SAT) merupakan NGO regional yang berpusat di Afrika Selatan dan memiliki fokus pada penanggulangan HIV/AIDS terhadap remaja dan anak muda yang berumur 10-24 tahun, dan Positive Young Women
Voices (PYWV) merupakan NGO regional yang berfokus dalam penanggulangan
penyebaran HIV/AIDS terhadap perempuan dan pekerja seks di Afrika. Ketiga NGO ini merupakan NGO yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap penurunan HIV/AIDS. Dengan melakukan peningkatan layanan tes HIV/AIDS dan konseling kepada masyarakat yang masih belum sadar akan statusnya sebagai pasien HIV-positif atau HIV-negatif yang mana dapat menurunkan penularan
terhadap orang baru. Selain itu, NGO ini juga terlibat kerja sama dengan UNAIDS yang menjadikannya lebih efektif dalam menjalankan fungsinya.
2.2.1 Mothers2mothers (M2M)
Mothers2mothers merupakan NGO yang didedikasikan untuk
mencegah penularan HIV dari ibu ke anak dengan memberikan pendidikan dan dukungan untuk ibu hamil dan ibu baru yang hidup dengan HIV.
Mothers2mothers didirikan oleh Dr. Mitchell Besser di Rumah Sakit Groote
Schuur di Cape Town, Afrika Selatan pada tahun 2001 pada saat krisis. Jumlah infeksi HIV baru di Afrika Selatan mencapai puncaknya serta adanya stigma, ketakutan, dan kurangnya informasi yang membuat sebagian besar wanita hamil HIV-positif tidak dapat mengakses pengobatan yang diperlukan untuk tetap sehat dan mencegah anak mereka yang belum lahir dari tertular HIV (mothers2mothers, 2021).
Pada Januari 2000 Besser pindah ke Cape Town, Afrika Selatan sebagai anggota Departemen Obstetri dan Ginekologi Universitas Cape Town dan sebagai konsultan untuk peluncuran klinis layanan Prevention of
mother-to-child transmission (PMTCT) di Groote Rumah Sakit Schuur.
Saat bekerja di Groote Schuur, Besser menyadari bahwa bahkan ketika perawatan medis PMTCT tersedia, seringkali kurang efektif karena hambatan sosial, emosional dan psikologis. Untuk membantu melewati hambatan tersebut, Besser mengidentifikasi ibu HIV-positif di Afrika Selatan sebagai "sumber daya yang berharga dan kurang dimanfaatkan". Besser merekrut ibu baru yang hidup dengan HIV/AIDS sebagai Ibu
Mentor, yang kemudian mulai terhubung dengan dan mendidik rekan-rekan mereka yang hamil mengenai pentingnya layanan PMTCT, mengungkapkan status mereka kepada keluarga, dan menjalani kehidupan yang positif (mothers2mothers, 2021).
Pada tahun 2018, terdapat 84% anak yang lahir dari klien
mothers2mothers yang hidup dengan HIV/AIDS menerima tes HIV pada
usia 18-24 bulan. Hal ini merupakan peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 75%. Tidak hanya itu, para klien dari
mothers2mothers juga menerima pengobatan antiretroviral. Hingga saat ini,
program mothers2mothers telah beroperasi di lebih dari 400 situs di negara-negara, seperti Afrika Selatan, Kenya, Lesotho, Malawi, Swaziland, Tanzania, dan Uganda. Dalam pengoperasiannya, mothers2mothers juga bekerja sama dan menerima dana dari berbagai aktor, seperti UNAIDS, Skoll Foundation, Mulago Foundation, dan yayasan lainnya.
Mothers2mothers juga mempekerjakan lebih dari 11.000 wanita hidup
dengan HIV yang termasuk di antara masyarakat yang paling terpinggirkan. Sejak tahun 2001, mothers2mothers telah mendaftarkan lebih dari 11.000.000 wanita hamil, ibu baru yang HIV-positif dan anak-anak. Pada tahun 2010, mothers2mothers mendaftarkan sekitar 300.000 wanita hamil HIV-positif dan ibu baru ke dalam programnya. Mothers2mothers juga memanfaatkan bentuk dan hubungan kuat yang dibangun oleh Ibu Mentor dengan klien mereka untuk memberikan layanan pelengkap yang membantu seluruh keluarga dapat berkembang, seperti Pengembangan Anak Usia Dini dan Pendampingan Remaja (mothers2mothers, 2021).
2.2.2 SRHR Africa Trust (SAT)
Southern African AIDS Trust atau SRHR Africa Trust (SAT) adalah
NGO regional yang berfokus Sexual and Reproductive Health and Rights (SRHR) pada anak muda yang hidup dengan HIV/AIDS dan memberikan mereka edukasi yang baik kepada anak muda dengan memfasilitasi mereka ke pendidikan kesehatan, informasi, konseling dan layanan yang berkualitas melalui kemitraan, pengelolaan dana, dan mendukung hal-hal baru yang berhubungan dengan kesehatan remaja di Afrika Selatan. Tujuan utama SAT adalah untuk membangun kompetensi masyarakat untuk mengembangkan dan mengelola tanggapan yang efektif, tepat dan berkelanjutan terhadap HIV/AIDS (UNAIDS, 2020).
SAT didirikan pada tahun 1990 sebagai "Program Pelatihan AIDS Afrika Selatan" yang merupakan sebuah proyek dari Canadian
International Development Agency (CIDA) yang dilaksanakan oleh Canadian Public Health Association (CPHA) untuk mendukung program
penguatan organisasi berbasis masyarakat dalam menangani HIV/AIDS di Afrika bagian Selatan. SAT telah mengembangkan aktivitas pemrogramannya dengan bekerja sama dengan masyarakat, NGO regional, organisasi internasional, mitra advokasi dan aktivis yang bekerja dalam hal kesehatan dan hak seksual dan reproduksi universal untuk anak perempuan dan remaja. Pada tahun 2003, SAT menjadi organisasi regional independen dan terdaftar sebagai Trust amal di Zimbabwe, yang kemudian berganti nama menjadi "Southern African AIDS Trust". SAT memindahkan kantor
regionalnya ke Johannesburg, Afrika Selatan dan terus beroperasi di lima negara Afrika bagian Selatan Selatan (Malawi, Mozambik, Tanzania, Zambia, dan Zimbabwe), yang semuanya memiliki kantor program negara SAT yang terdesentralisasi. Hingga saat ini, SAT telah mendukung lebih dari 250 organisasi berbasis komunitas di Afrika Selatan (Wamba & Loga, 2008).
The National AIDS Councils (NAC) dan UNAIDS adalah mitra
strategis SAT dan telah berkolaborasi dalam banyak hal selama bertahun-tahun. SAT adalah anggota Forum NGO internasional dan nasional yang bertujuan untuk menyatukan semua NGO yang bekerja di bidang HIV dan AIDS sehingga mereka dapat mengkoordinasikan kegiatan mereka dalam mendukung respon nasional. Forum NGO di masing-masing negara juga bertujuan untuk dapat berkolaborasi secara kolektif dengan NAC untuk mempengaruhi program HIV dan AIDS yang efektif (Wamba & Loga, 2008).
2.2.3 Positive Young Women Voices (PYWV)
Positive Young Women Voices (PYWV) adalah organisasi berbasis
komunitas yang dimulai sebagai kelompok swadaya pada tahun 2014 yang kemudian terdaftar sebagai organisasi berbasis komunitas pada tahun 2017. Pembentukan PYWV muncul ketika para advokat melihat adanya tantangan dihadapi perempuan dan gadis muda yang hidup dengan dan berisiko HIV
di daerah kumuh Nairobi di Dandora. Tantangan utama meliputi kehamilan remaja, kemiskinan, kekerasan berbasis gender, akses ke fasilitas dan informasi kesehatan. PYWV menawarkan bimbingan, menyediakan hubungan dan rujukan, menciptakan kesadaran dan memberikan informasi. PYWV bermitra dengan organisasi lain secara nasional dan internasional untuk mencapai tujuannya (PYWV, 2021).
PYWV memiliki visi di mana perempuan dan anak perempuan muda memperoleh hak mereka atas kesehatan, pendidikan dan menikmati pertumbuhan ekonomi dan sosial. Dengan misi memberdayakan dan mengadvokasi perempuan dan perempuan muda untuk memajukan kehidupan mereka melalui bimbingan, penyebaran informasi tentang kesehatan reproduksi seksual dan HIV, hubungan dan rujukan dan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, PYWV bertujuan untuk mengadvokasi akses universal ke layanan kesehatan yang berkualitas, pencapaian hak asasi manusia dan keterlibatan yang berarti dari wanita muda dan remaja putri di pusat pembuatan dan implementasi kebijakan. PYWV juga melobi untuk memastikan bahwa pembuat kebijakan membuat dan menerapkan kebijakan yang sensitif gender dan non-diskriminatif untuk kesetaraan gender tidak hanya menjadi tantangan di Kenya, tetapi juga di Afrika. Untuk realisasi dari program, jejaring dan kolaborasi akan menjadi inti dari PYWV serta melibatkan organisasi dan Institusi untuk melihat bahwa anggota dilayani secara efektif (PYWV, 2021).
Ketiga NGO ini berperan aktif dan penting dalam membantu pemerintah Afrika Selatan dalam mengurangi angka penyebaran HIV/AIDS. Selain itu, setiap NGO memiliki fokus sasaran masing-masing yang menjadikan mereka lebih terarah dalam menjalankan fungsinya di dalam lingkungan masyarakat. NGO ini juga ikut berpartisipasi di dalam Programme Coordinating Board (PCB) yang diusung oleh UNAIDS yang mana dalam program ini NGO berperan penting sebagai perwakilan suara masyarakat dalam forum kebijakan global untuk AIDS. Perwakilan dari masing NGO secara aktif mencari masukan dari komunitas mereka masing-masing mengenai isu-isu yang terkait dengan kebijakan dan program UNAIDS, dan melakukan advokasi dengan negara anggota yang mana dalam hal ini adalah Afrika Selatan dan organisasi sponsor untuk dapat melakukan perbaikan dalam pelaksanaan dan evaluasi kebijakan dari program UNAIDS (UNAIDS, 2021). Dengan adanya hubungan antara UNAIDS dan NGO HIV/AIDS, menjadikan program-program pencegahan HIV/AIDS sebelumnya yang telah dijalankan di Afrika Selatan lebih efektif. Hubungan kerjasama yang terjalin antara UNAIDS dan NGO akan dibahas lebih lanjut pada bab selanjutnya.
BAB III
UPAYA MEMBANGUN JARINGAN BERSAMA
ANTARA UNAIDS DENGAN NGO HIV/AIDS DI
AFRIKA SELATAN
Bab ini membahas mengenai upaya UNAIDS dalam membangun jaringan bersama dengan NGO HIV/AIDS yang berada di Afrika Selatan. Untuk dapat mengetahui upaya tersebut, penulis menjabarkan terlebih dahulu mengenai interaksi yang terjalin antara UNAIDS dengan NGO HIV/AIDS di Afrika Selatan dengan menggunakan konsep yang diusung oleh Haque, yaitu forms, levels,
institutions dan domains. Tujuan dari mengetahui interaksi antara kedua aktor
tersebut guna memperjelas bentuk dari hubungan yang kemudian terjalin di dalamnya. Setelah mengetahui interaksi yang dilakukan oleh UNAIDS dengan NGO HIV/AIDS di Afrika Selatan, penulis kemudian mengidentifikasi upaya pembangunan jaringan bersama dengan menggunakan dua fase yang terdapat di dalam policy cycle, yaitu policy implementation, dan policy evaluation. Setelah dilakukannya analisis terhadap upaya pembangunan jaringan bersama antara UNAIDS dan NGO HIV/AIDS di Afrika Selatan, terdapat hasil dari upaya tersebut terhadap penurunan angka HIV/AIDS di Afrika Selatan.
3.1 Interaksi antara UNAIDS dan NGO HIV/AIDS di Afrika Selatan
Dalam melakukan fungsinya, UNAIDS tidak bekerja sendirian untuk dapat menanggulangi tingginya tingkat penderita HIV/AIDS di Afrika Selatan.
Melibatkan peran aktif dari NGO HIV/AIDS seperti mothers2mothers, SRHR
Africa Trust, dan Positive Young Women Voices di setiap kegiatan atau program
UNAIDS merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk dapat mengurangi permasalahan di negara tersebut. NGO HIV/AIDS sendiri memiliki pengetahuan mengenai lingkungan sekitar yang lebih baik, selain itu mereka juga memahami kebutuhan dan prioritas lokal (Haque, 2004). Karena pada dasarnya, NGO merupakan lembaga yang memiliki tujuan khusus untuk melayani masyarakat yang terpinggirkan. Agar dapat merespons dan berinteraksi secara efektif dengan masyarakat, NGO harus terlibat dalam pertukaran berkelanjutan dengan lingkungan di sekitarnya (Dernberger, 2014).
Menurut Brinkerhoff (2002), suatu kemitraan harus mencakup dua komponen penting, yaitu mutuality atau kebersamaan dan organizational identity atau identitas organisasi. Mutuality mengacu pada saling ketergantungan dan komitmen di antara aktor, memiliki kesetaraan dalam pengambilan keputusan, dan memiliki hak dan tanggung jawab satu dengan yang lain. Sementara itu, organizational identity mengacu pada pemeliharaan identitas, keyakinan, dan nilai masing-masing aktor. Tetapi, dalam proses aktualnya sering kali kerjasama dipengaruhi oleh kekuatan sosial, ekonomi, dan politik dari para aktor yang terlibat. Oleh sebab itu, untuk dapat mencapai tujuan bersama, UNAIDS dan NGO HIV/AIDS harus menjalankan fungsinya dengan efektif dan efisien. Interaksi yang tercipta di antara kedua aktor ini kemudian menciptakan keadaan dimana mereka akan saling membutuhkan antara satu dengan lainnya (Brinkerhoff, 2002).