BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan, yang

Teks penuh

(1)

1 1.1. Latar Belakang Masalah

Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan, yang menjadi sarana dalam proses pelayanan belajar dan proses pendidikan, sekolah berfungsi sebagai pemberi pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan peserta didik Menurut Suryobroto, (2004).

Sekolah menpunyai fungsi mempersiapkan peserta didik, untuk masuk dalam dunia kerja, membantu memecahkan masalah-masalah sosial dan kebudayaan, melalui sekolah lah Tujuan Nasional Pendidikan dapat tercapai.

Pemerintah dalam hal ini pemegang peranan yang sangat penting dalam menjamin pemerataan Pendidikan Indonesia, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencapai Tujuan Nasional Pendidikan, dimulai dengan menyediakan sarana prasarana pendidikan berupa

(2)

gedung sekolah yang layak di Penjuru Negeri fasilitas pendukung pendidikan lainnya, guna pemerataan pendidikan.

Pemerintah selalu mengupayakan untuk menyusun berbagai macam kebijakan dan program dibidang pendidikan, sejalan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Kementrian Pendidikan Nasional dalam Renstra Kementrian Pendidikan Nasional 2015-2019 yang disusun berdasarkan Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang “Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025”, Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang “Sistem Pendidikan Nasional”, Undang-Undang No. 25 tahun 2004 tentang “Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional”, serta Peraturan Presiden tahun 2015 tentang “Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional”. Dalam RenStra (2014:162) sasaran yang ingin dicapai yakni : “1). Meningkatkan Angka Partisipasi Pendidikan Dasar dan Menengah; 2). Meningkatkan Angka Keberlanjutan Pendidikan Yang

(3)

Ditandai Dengan Menurunnya Angka Putus Sekolah dan Meningkatnya Angka Melanjutkan; 3). Menurunnya Kesenjangan Partisipasi Pendidikan Antarkelompok; 4). Meningkatnya Kesiapan Siswa Pendidikan Menengah Untuk Memasuki Pasar Kerja Atau Melanjutkan Jenjang Pendidikan Tinggi; 5). Meningkatnya Jaminan Kualitas Pelayanan Pendidikan, Tersedianya Kurikulum Yang Andal Dan Tersedianya Sistem Penilaian Menjamin Kepastian Atau Keterjaminan Memperoleh Layanan Pendidikan; 6). Meningkatkan Proporsi Siswa SMK Yang Dapat Mengikuti Program Pemagangan Di Industri; 7). Meningkatnya Kualitas Pengelolaan Guru Dengan Memperbaiki Distribusi Dan Memenuhi Beban Mengajar; 8). Meningkatnya jaminan hidup dan fasilitas pengembangan ilmu pengetahuan dan karir bagi guru yang ditugaskan didaerah khusus; 10). Tersusunnya Peraturan Perundangan Terkait Wajib Belajar 12 Tahun”.

Penggabungan (regrouping) sekolah dasar di Indonesia, tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri

(4)

No 421.2/2501/Bangda/1998 tentang “Pedoman Pelaksanaan Penggabungan (Regrouping) Sekolah Dasar”.

Berdasarkan peraturan diatas, sejalan dengan pemberlakuan desentralisasi bidang pendidikan kepada pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota, sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang “Pemerintah Daerah” maka setiap provinsi wajib menetapkan peraturan daerah tentang penyelenggaraan pendidikan. Dalam hal ini provinsi jawa tengah, mengatur kewenangan Penyelenggaraan Pendidikan No. 4 Tahun 2012 yang diantaranya juga mengatur kewenangan melakukan penggabungan (regrouping) sekolah. Kewenangan tersebut selanjutnya, diatur lebih rinci dalam Peraturan Gubernur No. 56 Tahun 2013 tentang “Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah No. 4 Tahun 2012 tentang “Penyelenggaraan Pendidikan”. Dalam peraturan gubernur tersebut antara lain ditentukan bahwa :

“Bupati/Walikota Sesuai Dengan Kewenangan Dapat Melakukan Penambahan, Perubahan, Penggabungan Dan Penutupan Satuan Pendidikan Formal Pada Jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),

(5)

Pendidikan Dasar (Dikdas), Pendidikan Menengah (Dikmen), Dan Satuan Pendidikan Non Formal Sesuai Dengan Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Pasal 6 Ayat 1”.

Sehubungan dengan hal tersebut, menurut staff Kabid Dikdas Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Salatiga, pada tahun 2013 melakukan kajian pada hasil evaluasi pendidikan khususnya bidang sekolah dasar yang terdapat dalam empat Kecamatan di kota Salatiga yaitu Kecamatan Sidomukti, Kecamatan Sidorejo, Kecamatan Agromulyo, Kecamatan Tingkir. Adapun hasilnya terdapat banyak permasalahan pendidikan yang dihadapi diantaranya adalah penurunan jumlah peserta didik pada PPDB setiap tahunnya pada beberapa sekolah yang terdapat di empat kecamatan tersebut. Penurunan jumlah peserta didik ini berdampak pada pengelolaan dana pendidikan yang tidak efektif, dan sarana prasarana pendidikan tidak digunakan secara tepat guna atau tidak efisien, sehingga penurunan jumlah peserta didik yang selalu dialami sekolah-sekolah tertentu akan berdampak pada tidak terselenggaranya pendidikan yang bermutu.

(6)

Setelah melakukan evaluasi pada tahun 2013, setiap tahunnya Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga Kota Salatiga melakukan evaluasi rutin tahunan terhadap sekolah-sekolah yang sudah didapati permasalahannya, hingga pada bulan juni 2016 Dinas Pendidikan Kota Salatiga memutuskan untuk merencanakan pelaksanaan penggabungan (regrouping) terhadap sekolah-sekolah yang dalam evaluasi semenjak tahun 2013 selalu mengami penurunan jumlah peserta didik pada PPDB. Keputusan ini berdasarkan Peraturan Kewenangan Penyelenggaraan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah No 4 Tahun 2012 dan Peraturan Pemerintah No 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Satu diantara sekolah yang akan dilakukan regrouping pada bulan juni 2016 adalah SD Negeri Dukuh 04, Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga.

Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga pada tahun pelajaran 2012/2013 pada PPDB sekolah ini hanya mendapat 3 calon

(7)

peserta didik yang mendaftar, pada tahun pelajaran 2013/2014 hanya mendapat 5 calon peserta didik yang mendaftar dan pada tahun pelajaran 2014/2015 hanya mendapat 6 calon peserta didik yang mendaftar, hal ini menyebabkan SD Negeri Dukuh 04 temasuk dalam sekolah yang bermasalah. Tidak berimbangnya antara calon peserta didik dan peserta didik yang akan lulus setiap tahunnya sangat berdampak pada pengelolaan dana pendidikan dan penggunaan sarana prasarana sekolah dalam hal penggunaannya hal ini jika tidak segera ditindak lanjuti akan berdampak pada mutu pendidikan sekolah hingga mutu pendidikan nasional di kota salatiga.

Hingga regrouping sekolah di SD Negeri Dukuh 04 dilaksanakan, gedung sekolah SD Negeri Dukuh 04 tidak difungsikan sebagaimana mestinya, seperti yang terdapat dalam peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui Kementrian dalam Negeri No 421.2/2501/Bangda/1998 yang menyatakan bahwa :

“Tujuan Program Regrouping Sekolah Dasar Adalah Sebagai Upaya Untuk Mengurangi Masalah

(8)

Kekurangan Tenaga Guru, Peningkatan Mutu, Efisiensi Biaya Perawatan Gedung Sekolah, Dan Sekolah Yang Ditinggalkan Dimungkinkan Penggunaanya Untuk Rencana Pembukaan SMP Kecil/ SMP Kelas Jauh Atau Setara Sekolah Lanjutan Sesuai Ketentuan Setempat Untuk Menampung Lulusan Sekolah Dasar”.

Penggabungan (regrouping) sekolah dasar ini, belum terlaksana dengan baik dari berbagai aspek masih terdapat kendala dan dampak dari pelaksanaan program regrouping sekolah. Sehingga timbulah pertanyaan-pertanyaan seiring dengan pelaksanaan program penggabungan (regrouping) sekolah di SD Negeri Dukuh 04 dan SD Negeri Mangunsari 02. Satu diantaranya adalah “Apakah Dengan Dilaksanakannya Program Penggabungan (Regrouping) Sekolah ini, Sudah berjalan sebagaimana mestinya dan mencapai tujuan yaitu Meningkatkan Mutu Pendidikan Di Kota Salatiga, Khususnya Di SD Negeri Mangunsari 02 Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga ?”.

Penelitian program penggabungan (regrouping) sekolah, dalam dunia pendidikan juga telah dilakukan diberbagai sekolah khususnya sekolah dasar, seperti halnya

(9)

penelitian yang dilakukan oleh Syahidah. (2013), dalam penelitiannya yang berjudul “Evaluasi Kebijakan Penggabungan Sekolah Dasar Negeri Pekalongan”. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian evaluasi dengan model kualitatif, penelitian ini membahas tentang kebijakan penggabungan sekolah dasar dikota pekalongan yang terbagi menjadi dua, yaitu : 1). Kebijakan murni berdasarkan satu kawasan dalam pencapaian efektifitas dan efisiensi kebijakan dan hasilnya sudah dapat dikatakan berhasil karena baik input, actor maupun factor pendukungnya telah terpenuhi, sehingga proses implementasi kebijakan tidak mengalami kesulitan; 2). Kebijakan berdasarkan manajemen yang dimiliki, terdapat banyak kendala dalam pencapaian efektifitas dan efisiensi, dari 8 (delapan) sekolah yang diteliti hasilnya manajemen efektifitas belum dapat tercapai karena beban ganda yang dilimpahkan kepada kepala-kepala sekolah, yang menjadikan kepala sekolah justru memiliki kendala dalam

(10)

membagi waktu dan menjalankan program untuk dua sekolah.

Penelitian selanjutnya tentang program penggabungan (regrouping) sekolah, dilakukan oleh Widiowati, (2014). Penelitiannya berjudul “Scholl Resillency and capital of Regrouping policy after merapi eruption in the special

district of Yogyakarta Indonesia”. Penelitian ini

menggunakan model analisis deskriptif kualitatif secara interaktif dan berkelanjutan. Hasil dari penelitian yang dilakukan ini menunjukan adanya kendala dalam pelaksanaan regrouping dan adanya faktor yang mendukung pelaksanaan regrouping. Dari segi kendala pelaksanaan program regrouping, banyak hal yang terjadi baik dari proses pelaksanaan hingga terlaksananya regrouping. Terdapat kendala pada awal proses negosiasi manfaat dan kerugian yang dirasakan warga sekolah, namun dalam hal ini pilhak sekolah menanggapi secara positif dengan adanya kebijakan regrouping sekolah dengan berbagai pertimbangan antara lain : keamanan, keselamatan,

(11)

tempat tinggal siswa dan efektifitas kerja pasca gunung merapi, kebijakan regrouping ini bertujuan untuk membangun resillensi sekolah pasca erupsi agar proses belajar mengajar menjadi efektif dan efisien. Faktor pendukung program regrouping sekolah adalah pemerintah daerah, beberapa bantuan dalam bentuk dana dalam pembuatan gedung sekolah baru untuk SD Negeri Umbulharjo 02, kemauan dari masing-masing guru sekolah untuk mendukung kebijakan regrouping demi lancarnya proses belajar mengajar pasca erupsi gunung merapi, guru bersedia memberikan pendampingan kepada siswa dan senantiasa memberikan nasihat dan dukungan kepada siswa agar siswa dapat beradaptasi terhadap lingkungan sekolah yang baru. Fakor yang menjadi penghambat pelaksanaan program regrouping adalah pengetahuan guru yang kurang luas mengenai pemulihan psikologis anak pasca erupsi gunung merapi, beban kerja guru yang bertambah, problem internal dari guru itu sendiri karena kurannya kreatifitas dan

(12)

inovasi guru dalam mengajar, sehingga dalam membangun resillensi tidak optimal.

Dari kedua penelitian diatas, tampak bahwa penelitian tersebut keduanya melakukan evaluasi terhadap program regrouping sekolah. Namun kedua penelitian tersebut memiliki temuan yang berbeda, yang masing-masing mempunyai permasalahan tersendiri penelitian pertama yang dilakukan oleh Syahidah menunjukan hasil jika regrouping sekolah belum dapat tercapai karena beban ganda yang dilimpahkan kepada kepala-kepala sekolah, yang menjadikan kepala sekolah justru memiliki kendala dalam membagi waktu dan menjalankan program untuk dua sekolah. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Widiowati menunjukan bahwa terdapat faktor pendukung dan penghambat dalam proses pelaksanaan regrouping sekolah.

Dalam hal ini, penelitian yang akan dilakukan penulis mencoba melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan regrouping sekolah menggunakan model CIPP yang

(13)

berorientasi pada context, input, process dan product program penggabungan (regrouping) sekolah. Menggunakan model CIPP karena model evaluasi CIPP bersifat menyeluruh bukan hanya proses dan produk, namun konteks dan input juga termuat dalam komponen yang akan di evaluasi, sehingga dapat diperoleh pemahaman menyeluruh berhasil atau tidaknya serta faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan regrouping sekolah di SD Negeri Dukuh 04 dan SD Negeri Mangunsari 02. Adapun hasilnya akan menjadi rujukan bagi sekolah lain yang melaksanakan program regrouping dan rekomendasi bagi perbaikan terhadap keberlanjutan pelaksanaan program regrouping sekolah.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

(14)

a. Bagaimana Context Program Regrouping Sekolah di SD Negeri Dukuh 04 dan SD Negeri Mangunsari 02 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga ?

b. Bagaimana input program Regrouping sekolah di SD Negeri Dukuh 04 dan SD Negeri Mangunsari 02 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga ?

c. Bagaimana process program Regrouping sekolah di SD Negeri Dukuh 04 dan SD Negeri Mangunsari 02 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga ?

d. Bagaimana Product program Regrouping sekolah di SD Negeri Dukuh 04 dan SD Negeri Mangunsari 02 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga ?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi :

(15)

a. Context program regrouping sekolah di SD Negeri Dukuh 04 dan SD Negeri Mangunsari 02 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga.

b. Input program regrouping sekolah di SD Negeri Dukuh 04 dan SD Negeri Mangunsari 02 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga.

c. Process program regrouping sekolah di SD Negeri Dukuh 04 dan SD Negeri Mangunsari 02 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga.

d. Product program regrouping sekolah di SD Negeri Dukuh 04 dan SD Negeri Mangunsari 02 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini, diharpkan dapat memberi manfaat secara teoritis maupun praktis bagi pemerhati pendidikan. 1.4.1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai tambahan bahan referensi pengetahuan dalam bidang

(16)

manajemen pendidikan, serta memberikan sumbangsih keilmuan khususnya yang berhubungan dengan program regrouping sekolah dasar.

1.4.2. Manfaat Praktis

Adapun manfaat hasil penelitian ini bagi sekolah penyelenggara program regrouping sekolah, sebagai berikut:

1. Bagi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Salatiga sebagai masukan untuk membuat suatu perencanaan pendidikan guna mencapai tujuan pelaksanaan program regrouping sekolah.

2. Bagi sekolah yang bersangkutan sebagai masukan dalam rangka ketercapaian tujuan perencanaan dan pelaksanaan program regrouping sekolah serta peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

3. Bagi sekolah lain yang akan melaksanakan program regrouping sekolah, sebagai tambahan referensi dalam melaksanakan regrouping sekolah agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :