PUSAT DATA DAN INFORMASI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
MAKASAR, 18 OKTOBER 2010
OUTLINE
I.
KONDISI DAN TANTANGAN SEKTOR ENERGI
II. PRINSIP KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL
III. KONSEP RENCANA UMUM ENERGI
IV. PENUTUP
Peran minyak bumi dalam
bauran energi primer masih
besar
Pemanfaatan EBT masih
terlalu kecil
Keterbatasan Infrastruktur
energi yang menyebabkan
rendahnya akses mayarakat
terhadap energi.
Penggunaan energi yang
belum efisien
I. KONDISI DAN TANTANGAN ENERGI SAAT INI
25.1% 50.9% 20.0% 2.8% 1.20%
2009 *)
*) Data sementara Peran minyak bumi dalam
bauran energi primer masih
besar
Pemanfaatan EBT masih
terlalu kecil
Keterbatasan Infrastruktur
energi yang menyebabkan
rendahnya akses mayarakat
terhadap energi.
Penggunaan energi yang
belum efisien
I. KONDISI DAN TANTANGAN ENERGI SAAT INI
(lanjt..)
5%
95%
1990
Total Non Fosil Total Fosil
4%
96%
2009 *)
*) Data sementara
Peran minyak bumi dalam
bauran energi primer masih
besar
Pemanfaatan EBT masih
terlalu kecil
Keterbatasan Infrastruktur
energi yang menyebabkan
rendahnya akses mayarakat
terhadap energi.
Penggunaan energi yang
belum efisien
NAD 74,91% North Sum 69,32 % West Sum 68.72% Riau + Kepri 54,66% Sumse l 49,80 % Bengkulu 50.08% Babel 72,45 % Lampung 47,66% Jakarta 100% Banten 72,11% West Java 64,95% Jambi 48.85% Jogya 79,64% East Java 71,08 % Bali 74,42% NTB 31.99 % NTT 24.24 % Kalbar 45,65% Central Kal 44,33% South Kal 71,39% East Kal 68,37 % Sulut66,62% Gorontalo 48,70% Central Sul 47,64% Sultra 38,21% South Sul 54,90 % North Maluku 47,81% Maluku 55,36% Papua + Papua Barat 32,05% Category : > 60 % 41 - 60 % 20 - 40 %Rasio Elektrifikasi Nasional 65%*
Peran minyak bumi dalam
bauran energi primer masih
besar
Pemanfaatan EBT masih
terlalu kecil
Keterbatasan Infrastruktur
energi yang menyebabkan
rendahnya akses mayarakat
terhadap energi.
Penggunaan energi yang
belum efisien
1.84 1.69 1.36 1.16 1.05 0.73 0.47 0.26 0.17 0.10 (0.03) (0.12) (0.50) -0.50 1.00 1.50 2.00Sumber: Handbook of Energy & Economic Statistic in Japan 2008
Kehutanan 14%
Energi 6%
Sampah 6%
Melalui pengembangan
energi baru terbarukan
dan pelaksanaan
konservasi energi dari
seluruh sektor
Komitmen Presiden pada G-20 Pittsburgh dan COP15
Untuk mengurangi emisi gas rumah kaca pada tahun 2020
26%
41%
Upaya
sendiri
Upaya sendiri dan
dukungan
internasional
K
OMITMEN
P
ADA
P
ERUBAHAN
I
KLIM
KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL
(Berdasarkan UU Energi No. 30 tahun 2007)
Peningkatan Kegiatan ekonomi Ketahanan Nasional
P
E R
A
N
E N
E R G
I
KETAH
ANAN E
NERGI
EKSPLORASI PRODUKSI KONSERVASI (OPTIMASI PRODUKSI) SUBSIDI LANGSUNG DIVERSIFIKASI KONSERVASI (EFISIENSI) SUPPLY SIDE POLICY DEMAND SIDE POLICY JAMINAN PASOKAN KESADARAN MASYARAKAT HARGA ENERGI S HIFT ING P A RADIG M1.
Tercapainya perubahan paradigma dalam memandang sumber daya
energi sebagai komoditas menjadi sumber daya energi sebagai
modal pembangunan;
2.
Tercapainya optimalisasi pemanfaatan sumber daya energi yang
memberikan dampak berganda (multiplier effect) bagi pembangunan
ekonomi nasional;
3.
Tercapainya bauran energi yang optimal, dengan adanya
peningkatan peran EBT.
4.
Penerapan harga energi sesuai dengan nilai keekonomian
berkeadilan dan subsidi harga dihilangkan secara bertahap dan
menjadi nihil paling lambat pada tahun 2014;
5.
Tercapainya penurunan intensitas energi final sebesar 1%/tahun.
6.
Tercapainya peningkatan cadangan terbukti energi fosil dan non fosil;
7.
Terwujudnya pembangunan infrastruktur energi yang mampu
memaksimalkan akses masyarakat terhadap energi;
8.
Tercapainya peningkatan kemandirian pengelolaan energi,
penciptaan lapangan kerja, pengembangan kemampuan dan peranan
industri dan jasa energi dalam negeri;
Batubara; 34,6% Gas Bumi; 20,6% Minyak Bumi; 41,7% EBT; 3,1% Batubara; 33% Gas Bumi; 30% Minyak Bumi; 20% EBT; 17% Batubara ; 32% Gas Bumi; 23% Minyak Bumi; 20% EBT; 25% Batubara; 30,7% Gas Bumi; 21,0% Minyak Bumi; 43,9% EBT; 4,4%
ARAH KEBIJAKAN ENERGI
EBT Gas Bumi Batubara M. Bumi 21 % 30,7 % 43,9% 4,4 % EBT Gas Bumi Batubara M. Bumi 2010* 2015 2020 2025 KONSERVASI ENERGI (37,25%) D IV ER SIFIK A SI EN ER G I BAU**
Sumber: *DEN, **Blueprint PEN 2006-2025
PERPRES 5/2006 VISI 25/25 25 % 32 % 1131,3 SBM 20 % 23 % 41.7% 20,6% 34.6% 3,1% 5100 SBM 3200 SBM 3200 SBM
1982 1991 1995 2005 2006 KEBIJAKAN KONSERVASI ENERGI 2007
Instruksi Presiden No. 9 Tahun 1982 tentang Konservasi Energi
Keputusan presiden No. 43 Tahun 1991 tentang Konservasi Energi (dicabut) Rencana Induk Konservasi Energi Nasional Tahun 1995 dan revisinya Tahun 2005
Instruksi Presiden No. 10 Tahun 2005 tentang Penghematan Energi dan Peraturan MESDM No. 0031 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penghematan Energi (dicabut)
Undang-Undang No. 30 Tahun 2007 tentang Energi Instruksi Presiden No. 2 Tahun 2008 tentang Penghematan Energi dan Air
2008
Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional
2009 Peraturan Pemerintah No.70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi
2002 Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
Perlunya Pemerintah Daerah
memasukkan SNI Konservasi Energi dalam proses Izin
Mendirikan Bangunan
“Sistem penghawaan dan pencahayaan mempertimbangkan prinsip-prinsip penghematan
energi dalam bangunan gedung”
Sebagai turunannya adalah PP No. 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No.
28/2002
Permen PU No. 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung
yang antara lain berisi “Persyaratan teknis sistem ventilasi, kebutuhan ventilasi harus
mengikuti SNI 03-6390-2000 Konservasi Energi Sistem Tata Udara” dan “Persyaratan
pencahayaan harus mengikuti SNI 03-6197-2000 tentang Konservasi Energi Sistem
Pencahayaan pada Bangunan Gedung”
SNI Konservasi di Bangunan Gedung
SNI 03-6390-2000 Konservasi Energi Sistem Tata Udara pada Bangunan Gedung
SNI 03-6197-2000 Konservasi Energi Sistem Pencahayaan pada Bangunan Gedung
SNI 03-6389-2000 Konservasi Energi Selubung Bangunan pada Bangunan Gedung
SNI 03-6196-2000 Prosedur Audit Energi pada Bangunan Gedung
UU NO. 28/2002
Kebijakan Energi Baru Terbarukan … (1)
No Regulasi Deskripsi
1. Kebijaksanaan Umum Bidang Energi (KUBE)/KEN 2003-2020
Kebijakan Diversifikasi Energi mendorong Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan
2. Perpres No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional
Energy mix yang optimal, Target EBT sebesar 17% pada tahun
2025 3. UU No. 30/2007 tentang
Energi
Mengatur penyediaan dan pemanfaatan energi secara berkelanjutan;
Pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan sesuai dengan kewenangannya.
Pemerintah dan pemerintah daerah menyediakan insentif untuk pemanfaatan energi baru terbarukan sampai dengan waktu tertentu sampai tercapai keekonomiaannya.
4. UU No. 30/2009 tentang Ketenagalistrikan
Memprioritas penggunaan energi terbarukan yang tersedia setempat untuk pembangkit listrik
Proses pembelian listrik dari energi baru terbarukan melalui penunjukan langsung (tanpa lelang)
Kebijakan Energi Baru Terbarukan … (2)
No Regulasi Deskripsi
5. UU No. 27/2003 tentang Panas Bumi
PP No. 59/2007 tentang Kegiatan Usaha Pabum Permen 32/2009 tentang
harga Harga Patokan
Pembelian TL oleh PT. PLN (Persero) dari PLTP
Mengatur pengelolaan dan pengembangan sumber energi panas bumi untuk pemanfaatan langsung dan tidak langsung Berdasarkan Peraturan Menteri No. 32/2009, harga patokan
tertinggi pembelian tenaga listrik dari pembangkit panas bumi sebesar US$ 9,70 cent/kWh.
6. Instruksi Presiden No. 1/2006 tentang
Penyediaan dan
Pemanfaatan BBN sebagai Bahan Bakar Lain
Permen 32 Tahun 2008 tentang Mandatory BBN
Menginstruksikan menteri-menteri terkait, gubernur dan bupati/walikota untuk mengambil langkah-langkah
percepatan penyediaan dan pemanfaatan biofuel
Berdasarkan Peraturan Menteri No. 32/2008, menetapkan pentahapan kewajiban penggunaan biofuel (biodiesel, biooil, bioethanol). Target Biodiesel, Bioethanol dan Biooil pada tahun 2025 masing-masing sebesar 20%, 15% dan 10%
Kebijakan Energi Baru Terbarukan … (3)
No Regulasi Deskripsi
7. Peraturan Menteri No. 31/2009 tentang Harga
Pembelian Tenaga Listrik oleh PLN dari PLT yang
Menggunakan EBT Skala Kecil dan Menengah atau
kelebihakan tenaga listrik Kepmen No. 1122K/30/
MEM/2002 (PSK Tersebar) Permen No. 002/2006 (PSM
ET)
PT. PLN berkewajiban membeli listrik dari pembangkit yang menggunakan EBT skala kecil dan menengah dengan kapasitas : ≤ 10 MW atau kelebihan tenaga listrik dari BUMN, BUMD, swasta, koperasi dan swadaya masyarakat
Harga: Rp. 656/kWh x f, jika terinterkoneksi pada tegangan menengah; Rp. 1,004/kWh x f, jika
terinterkoneksi pada tegangan rendah; f = 1.0, 1.2, 1.3, 1.5
PT. PLN dapat membeli listrik dari pembangkit EBT dengan harga melebihi ketentuan di atas berdasarkan Harga
Perkiraan Sendri dan wajin mendapat persetujuan Menteri
8. Peraturan Menteri Keuangan No. 21/PMK.011/2010 tentang Pemberian Fasilitas Perpajakan dan Kepabeanan untuk Kegiatan Pemanfaatan Sumber EBT
Pemberian fasilitas perpajakan untuk pengem-bangan energi terbarukan dalam bentuk: fasilitasi PPh; PPN; bea masuk dan pajak ditanggung Pemerintah.
Pendahuluan
1. Pengertian
Rencana Umum Energi adalah rencana pengelolaan energi untuk memenuhi
kebutuhan energi di suatu wilayah, antarwilayah, atau nasional [ps 1 angka 27].
2. Ruang Lingkup
Rencana Umum Energi terdiri atas :
a. Rencana Umum Energi Nasional (RUEN)
b. Rencana Umum Energi Daerah (RUED)
Landasan penyusunan RUEN (pasal 17)
-
Pemerintah menyusun rancangan rencana umum energi nasional berdasarkan
kebijakan energi nasional
-
Dalam menyusun RUEN, pemerintah mengikutsertakan pemerintah daerah serta
memperhatikan pendapat dan masukan dari masyarakat
-
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyusunan RUEN ditetapkan dengan Peraturan
Presiden
Maksud dan Tujuan RUEN dan RUED (draft Pedoman RUEN)
• RUEN dimaksudkan sebagai acuan dan pedoman dalam
pengelolaan energi di tingkat nasional yang bersifat lintas
sektor, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan energi
dalam negeri secara berkelanjutan, berkeadilan dan optimal
dalam rangka mencapai ketahanan energi nasional.
• RUED dimaksudkan sebagai acuan dan pedoman dalam
pengelolaan energi di tingkat daerah yang bersifat lintas sektor,
dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan energi di daerah
secara berkelanjutan, berkeadilan dan optimal dalam rangka
mencapai ketahanan energi daerah dan sesuai dengan tujuan
pengelolaan energi secara nasional.
RUEN dan RUED disusun berdasarkan prinsip-prinsip pembangunan
berkelanjutan dengan sasaran (draft pedoman RUEN):
• tercapainya keamanan pasokan energi domestik dengan cara
pengalokasian energi untuk kebutuhan domestik (bahan baku dan
bahan bakar) dan ekspor serta pengalokasian energi per wilayah
dengan tetap mengutamakan keberpihakan kepada masyarakat tidak
mampu;
• tercapainya pemenuhan kebutuhan energi domestik (energi tersedia
dalam jumlah yang cukup);
• tercapainya nilai tambah ekonomi yang maksimal;
• tercapainya pengelolaan, penyediaan dan pemanfaatan sumber
dayadan
sumberenergi
secara
optimal,
terpadu,efisiendan
berkelanjutan;
• tercapainya pembangunan infrastruktur energi;
• terjaganya kelestarian fungsi lingkungan hidup;
• tercapainya kemandirian pengelolaan energi.
Format RUEN (draft pedoman RUEN)
•
Pendahuluan
Latar belakang, tujuan, dasar hukum, sasaran pengelolaan energi, kebijakan energi, dan lintas
sektor
•
Metodologi Perencanaan Energi
Model,asumsi dan skenario
•
Kondisi Energi Nasional
Kondisi energi saat ini dan yang diharapkan (potensi dan cadangan energi, konsumsi energi
final, bauran energi, infrastruktur)
•
Proyeksi Kebutuhan Energi
Kebutuhan energi per jenis, sektor, dan wilayah
•
Proyeksi Penyediaan Energi
Energi per jenis, pasokan bahan bakar pembangkit, infrastruktur
•
Cadangan Penyangga Energi Nasional
BBM, LPG, gasbumi/LNG, batubara, listrik (reservemargin)
•
Neraca Energi Nasional
Arus energi mulai dari penyediaan pasokan energi,proses transformasi hingga konsumsi energi
•
Strategi dan Program Implementasi (utama dan pendukung)
•
Aspek Lingkungan
Emisi per jenis bahan bakar dan per kapita
•
Biaya dan Pendanaan
Format RUED (draft pedoman RUEN)
•
Pendahuluan
Latar belakang, tujuan, dasar hukum, sasaran pengelolaan energi, kebijakan energi
•
Metodologi Perencanaan Energi
Model,asumsi dan skenario
•
Kondisi Energi Daerah
Kondisi energi saat ini dan yang diharapkan (potensi dan cadangan energi, konsumsi energi
final, bauran energi, infrastruktur)
•
Proyeksi Kebutuhan Energi Daerah
Kebutuhan energi per jenis, sektor, dan wilayah
•
Proyeksi Penyediaan Energi Daerah
Energi per jenis, pasokan bahan bakar pembangkit, infrastruktur
•
Strategi dan Program Implementasi (utama dan pendukung)
•
Aspek Lingkungan
Emisi per jenis bahan bakar dan per kapita
•
Biaya dan Pendanaan
PENYUSUNAN
RANCANGAN RENCANA
UMUM ENERGI
NASIONAL
RUEN
23KEBIJAKAN ENERGI
NASIONAL
KETERKAITAN KEN, PEDOMAN RUEN, RUEN DAN RUED
PENYUSUNAN
RANCANGAN RENCANA
UMUM ENERGI DAERAH
RUED
PEDOMAN
PENYUSUNAN
RENCANA UMUM
• Kebutuhan energi akan semakin tinggi untuk mengimbangi pertumbuhan
penduduk,
membaiknya
akses
infrastruktur
energi
daerah
dan
peningkatan industri.
• Untuk menjamin keamanan pasokan energi di masa depan, perlu adanya
peningkatan peran daerah baik dalam penyediaan dan pemanfaatan
energi terbarukan maupun dalam peningkatan konservasi dan efisiensi
energi.
• Koordinasi pusat dan daerah perlu terus ditingkatkan dalam rangka
menjamin keamanan pasokan energi untuk mendukung peningkatan
pembangunan daerah.
www.esdm.go.id
KETAHANAN
ENERGI
• Kemampuan untuk merespon
dinamika
perubahan
energi
global (eksternal)
• Kemampuan untuk menjamin
ketersediaan
energi
dengan
harga yang wajar (internal)
KEMANDIRIAN
ENERGI
KEMANDIRIAN ENERGI
1. Ketersediaan
Kemampuan untuk memberikan jaminan pasokan energi
(security of energy supply)
2. Aksesibilitas
Kemampuan untuk mendapatkan akses terhadap energi
(infrastructure availability)
3. Daya beli
Kemampuan untuk menjangkau harga (keekonomian)
energi (willingness to pay)
ENERGI NON FOSIL SUMBER DAYA KAPASITAS TERPASANG
Tenaga Air 75.670 MW (e.q. 845 juta SBM) 4.200 MW
Panas Bumi 27.510 MW (e.q. 219 juta SBM) 1.052 MW
Mini/Micro Hydro 500 MW 86,1 MW
Biomass 49.810 MW 445 MW
Tenaga Surya 4,80 kWh/m2/hari 12,1 MW
Tenaga Angin 9.290 MW 1,1 MW
Uranium 3.000 MW (e.q. 24,112 ton) untuk 11 tahun*) 30 MW
*) Hanya di Kalan – Kalimantan Barat
CADANGAN DAN PRODUKSI ENERGI INDONESIA
(2008)
ENERGI FOSIL SUMBER DAYA CADANGAN PRODUKSI CAD/PRODRASIO
(TAHUN)*)
Minyak Bumi 56,6 miliar barel 8,2 miliar barel**) 357 juta barel 23
Gas Bumi 334,5 TSCF 170 TSCF 2,7 TSCF 63
Batubara 104,8 miliar ton 18,8 miliar ton 229,2 juta ton 82
Coal Bed Methane (CBM) 453 TSCF - -
-*) Dengan asumsi tidak ada penemuan cadangan baru **) Termasuk Blok Cepu
Sumber: Kementerian ESDM
PRODUKSI ENERGI FOSIL INDONESIA
0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
ri
bu
bo
e
ph
Sumber: Kementerian ESDM
ERA MINYAK BUMI SUDAH BERLALU…..
Prediksi produksi minyak Indonesia (Metoda M. King Hubbert)
PRODUKSI MINYAK BUMI INDONESIA
Catatan :
1. 1995 – Mulai mengalami penurunan secara alamiah 2. 1997 – Krisis ekonomi (tidakada investasi)
3. 1998 – s.d. 2001 : Terjadi empat kali ganti pemerintah
4. 2001 – Undang-undang Migas terbit, masuk Mahkamah Konstitusi s.d. 2004 5. 2004 – Pemilihan Umum 0.0 200.0 400.0 600.0 800.0 1,000.0 1,200.0 1,400.0 1,600.0 1,800.0 2,000.0 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 R IB U B P D
INDUSTRI MINYAK INDONESIA SUDAH 100 TAHUN
Sebagian besar lapangan minyak sudah tua (mature)
TIM TEKNIS ENERGI*)
MASYARAKAT INDUSTRI
• Menyediakan pandangan individu dan data serta informasi sektor yang diperlukan dalam penyusunan skenario pengembangan energi di masa y.a.d
• Membahas isu-isu aktual dan menyediakan input bagi model dan asumsi • Mendiskusikan tujuan dan implikasi skenario
• Memberikan rekomendasi skenario yang akan dianalisis • Menyiapkan berbagai pemikiran-pemikiran baru atau terobosan
FORUM ENERGI DAERAH
• Kesamaan persepsi yang komprehensif terhadap permasalahan dan kemungkinan perkembangan energi daerah di masa y.a.d
• Kesepakatan proyeksi skenario energi dan kebijakan, strategi serta program pengembangan energi daerah
• Model ekonomi-energi terpadu
• Tenaga ahli ekonomi / teknologi dan input untuk pembahasan
• Dukungan logistik
PEMERINTAH
Catatan:
STRUKTUR KEANGGOTAAN
FORUM ENERGI DAERAH
KEPUTUSAN GUBERNUR
FORUM ENERGI DAERAH
KETUA/WAKIL KETUA : UNSUR PEMERINTAH
DAERAH
ANGGOTA:
- WAKIL DARI PEMERINTAH DAERAH
- WAKIL DARI LEMBAGA DAN ORGANISASI NON-PEMDA
- WAKIL DARI AKADEMISI
- WAKIL DARI SWASTA (PRODUSEN)
- WAKIL DARI KONSUMEN
FORUM ENERGI DAERAH
• Menyelaraskan kebijakan pengelolaan energi dengan RUEN
• Mengembangkan program energi daerah yang terkait dengan strategi dan KEN • Memfasilitasi pembentukan kemitraan antara masyarakat dan investasi swasta. • Memfasilitasi tersedianya mekanisme pendanaan untuk proyek energi
• Meningkatkan keterjangkauan energi
• Mengkoordinasikan stakeholder dalam penyusunan kebijakan umum energi daerah
• Menyediakan rekomendasi kepada pemerintah daerah dalam pengembangan dan pemanfaatan energi • Merumuskan program dan kebijakan pengembangan energi daerah terpadu
• Mengkoordinasikan program dan kebijakan energi yang akan dilaksanakan oleh lembaga terkait
LINGKUP KERJA FORUM ENERGI DAERAH DAN TIM TEKNIS
ENERGI
PEMERINTAH DAERAH PROPINSI
(RUED)
TIM TEKNIS ENERGI
• Merumuskan rancangan RUED yang akan dibahas oleh Forum Energi Daerah.
• Merumuskan rancangan prioritas pembangunan energi dan prioritas pemanfaatan sumber daya energi yang akan dibahas oleh Forum Energi Daerah.
• Merumuskan rancangan peraturan dan pedoman pengawasan pelaksanaan program pengembangan
pemanfaatan energi yang akan dibahas oleh Forum Energi Daerah.
• Penyediaan dana untuk mendukung keberlanjutan Forum Energi Daerah dan Tim Teknis Energi Daerah.
• Menjaga keberlanjutan kerja sama antara anggota Tim Teknis Energi Daerah yang berasal dari berbagai lembaga