• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Isu kekerasan seksual terhadap perempuan bukanlah isu perdana di Indonesia. Media massa kerap memberitakan kasus kekerasan atau pelecehan seksual. Komnas HAM melalui catatan tahunan (CATAHU) tahun 2018 menyatakan ada 406.178 kasus pelecehan seksual terhadap perempuan, meningkat 14% dari tahun sebelumnya (Komnas Perempuan, 2019). Badan Pusat Statistik memperkuat data dengan menyebut bahwa pada 2017, satu dari tiga perempuan pernah mengalami kekerasan fisik dan atau seksual selama hidupnya (BPS, 2017). Indonesia, yang nampaknya masih belum beranjak dari ketimpangan gender membuat para korban pelecehan atau kekerasan seksual takut untuk melaporkan kejadian yang menimpa mereka. Lentera Sintas bersama dengan magdalene.co, difasilitasi oleh Change.org merilis sebuah laporan pada 2016. Laporan tersebut menyatakan 93 persen penyintas kekerasan seksual tidak melaporkan kasusnya ke pihak berwajib dan penegak hukum (Asmarani, 2016).

Tidak hanya sampai disitu, Indonesia dianggap sebagai negara kedua paling tidak aman bagi perempuan di Asia Pasifik, mengekor India. Setelah India dan Indonesia terdapat Filipina. Patokan yang digunakan dalam penelitian antara lain layanan dan penanganan kesehatan, lemahnya hukum yang melindungi perempuan, dan aspek ketimpangan gender. Meskipun pemerintah berupaya meningkatkan upaya kelayakan hidup perempuan melalui regulasi-regulasi, hal tersebut tidak selalu diimbangi dengan peningkatan kualitas hidup perempuan (Evlanova, 2019). Narasi pelecehan dan kekerasan seksual tidak berhenti pada laporan lembaga resmi. Pasalnya, kasus kekerasan seksual bagaikan gunung es di lautan, nampak sebongkah kecil mencuat diatas permukaan air, namun di bawah air, di bagian yang tak terlihat jauh lebih besar berkali-kali lipat dari apa yang nampak di permukaan air. Hal ini disebabkan karena korban atau penyintas kekerasan seksual memilih diam. Ada semacam perasaan malu dan menyalahkan diri sendiri atau self-blame dalam diri korban ketika hal tersebut menimpa mereka (Forde, 2018). Bahkan ketika menceritakan kejadian kekerasan atau pelecehan seksual yang menimpanya ke orang terdekat, mereka justru dibanjiri dengan bermacam-macam pertanyaan yang menyudutkan mereka. Situasi tersebut, disebut dengan victim-blaming, yaitu menumpukan kesalahan kepada korban yang secara tidak langsung membuat seolah-olah korban yang memancing agar orang melecehkannya secara seksual. Kedengerannya lucu memang, tapi itulah yang terjadi.

(2)

2

Kisah dimulai dari Agni, seorang mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta yang dilecehkan oleh temannya berinisial HS pada saat menjalani KKN di Maluku. Agni mengakui hal tersebut pada 30 Maret 2017 (Franciska, 2019). Agni berjuang. Kisahnya pertama kali muncul di media terbitan kampus UGM, Balairung. Tulisan panjang tersebut mengisahkan kronologi kejadian hingga titik dimana Agni dan pihak kampus tarik ulur dalam penyelesaian masalah. Agni menginginkan kejadian ini harus maju hingga taraf hukum namun sebaliknya, kampus mengimbau “jalan damai” antara pelaku dan korban (Maudy, 2018). Tak lama, kasus yang juga ramai diperbincangkan di media sosial ini mendapat perhatian dari media-media di Indonesia. Salah satu media yang aktif mengabarkan kasus Agni adalah Tirto.id.

Tirto.id adalah media berita online yang mengudara sejak 2016. Hingga September 2019, Tirto.id menempati peringkat ke-37 situs online paling sering dikunjungi menurut Alexa.com. Hal tersebut menjadi prestasi tersendiri bagi Tirto yang masih bisa dibilang belia di kancah berita online. Selain itu, Tirto.id juga menjadi media pertama di Indonesia yang lolos sertifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional (International Fact-Checking Network/IFCN) pada 2018 (Paramitha, 2018), menerima penghargaan Adinegara 2017 yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai Media Siber Terinovatif (Damaledo, 2018), dan bekerja sama dengan platform media sosial Facebook untuk pengecekan hoaks yang tersebar melalul media sosial tersebut untuk membantu meminimalisir konten tidak benar yang disebar melalui platorm Facebook. Tirto.id digandeng oleh Facebook karena kredibilitasnya, yang terbukti dari dua prestasi tersebut (Swaragita, 2018).

Tirto.id juga mengabarkan banyak kasus kekerasan seksual di dalam kampus-kampus di Indonesia, diantaranya Universitas Diponegoro, dimana 12 orang mahasiswi mengaku menjadi korban pelecehan seksual, 4 diantaranya oleh dosen (Adam, 2019). Tirto.id kembali melaporkan kasus pelecehan seksual dalam kampus, kali ini UIN Malang yang menuturkan kisah tentang salah seorang dosen berinisial ZH yang senantiasa mengincar mahasiswi baru dengan modus diajak menjalin hubungan istimewa layaknya sepasang kekasih sedangkan ZH ternyata sudah beristri. Ketika perkaranya hendak dibawa ke ranah fakultas untuk ditindak tegas, korban, yang dengan bujuk rayu dari ZH dan perlakuan spesial yang selama ini diterima akan memberikan dukungan dan menyebut apa yang terjadi adalah “kesalah pahaman” semata (Zuhra, 2019).

(3)

3

Serangkaian karya-karya jurnalistik berbentuk laporan mengenai seksual dalam kampus tersebut merupakan proyek Tirto.id yang digarap bersama VICE Indonesia dan The Jakarta Post dalam menyikapi maraknya kasus sermacam ini.

Adapun VICE Indonesia adalah media yang berbasis di Montreal, Kanada sejak 1994, yang melebarkan jangkauan ke Indonesia pada 2016. Media yang didirikan oleh Suroosh Alvi dan Shane Smith ini adalah media yang menargetkan anak-anak muda generasi milenial ke bawah sebagai pembaca, sehingga topik yang disampaikan bersinggungan dengan kehidupan modern dengan penggunaan bahasa yang tidak baku, akrab, dan terkadang penggunaan kata slang. Memutuskan untuk membangun basis di Indonesia karena target pasar anak muda yang mencapai lebih dari 62,4 juta jiwa (Eka, 2016). Vice mampu bercerita perihal bahasan berat dengan mendalam, berani, tapi santai sesuai dengan gaya anak muda Indonesia.

Sedangkan, The Jakarta Post adalah media berita Indonesia berbahasa Inggris besutan PT. Bina Media Tenggara yang berbasis di Jakarta. Dalam menyajikan berita, The Jakarta Post bekerja sama dengan Tribunnews.com, Kompas.com, Kontan.co.id, dan Asia News Network. Karena berbahasa Inggris, media ini dapat lebih mudah menjangkau pembaca dari luar negeri untuk segala informasi yang berkaitan atau terjadi di Indonesia.

Laporan diperoleh dari kesaksian korban, penyintas, maupun sumber kredibel lainnya yang kemudian dituangkan dalam proyek bertajuk, “Nama Baik Kampus: Testimoni Kekerasan Seksual: 174 Penyintas, 79 Kampus, 29 Kota”. Tema besar tesebut kemudian di breakdown menjadi beberapa kisah pelecehan dan kekerasan seksual yang dialami pelecehan penyintas. Adanya proyek ini menunjukkan bahwa media seperti Tirto.id, VICE Indonesia, dan The Jakarta Post peduli terhadap isu pelecehan seksual di dalam kampus. VICE Indonesia adalah media yang pertamakali mencetuskan proyek ini, yang kemudian menggandeng Tirto.id dan Jakarta Post1.

Tidak hanya mengulas kasus yang memang sedang in, melainkan berdedikasi terhadap isu yang acapkali dilupakan pihak pemerintah terutama departemen Pendidikan.Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, yang menaungi kampus-kampus di seluruh Indonesia beranggapan bahwa Universitas dan Perguruan Tinggi bersifat otonom, yang berarti penyelesaian setiap persoalan kemahasiswaan, termasuk kekerasan seksual berada di tangan kampus masing-masing yang diatur dalam kode etis civitas akademika (Erlangga, 2019).

(4)

4

Sementara itu, menanggapi kasus kekerasan seksual dalam kampus yang marak terjadi, Kemenristekdikti melalui Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ismunandar menyayangkan hal tersebut dan berharap universitas dapat menyelesaikannya. Intervensi mungkin saja dilakukan oleh pihak Kemristekdikti tergantung bagaimana kasusnya. Kemenristekdikti melempar bola panas tersebut pada masing-masing universitas yang notabene tidak memiliki sistematika pelaporan yang jelas untuk kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan staf kampus lainnya, jika mengacu pada kasus-kasus yang sudah ada, seperti UGM dan Undip. Tirto.id sebagai media yang menganggap penting isu ini mengangkat kasus-kasus ini ke permukaan dengan harapan ada lebih banyak korban atau penyintas pelecehan seksual di kampus memiliki ruang berbicara. Selain itu, pihak pembuat kebijakan dan pengambil keputusan menjadi lebih terbuka terhadap masalah ini, serta literasi masyarakat terhadap kasus kekerasan seksual dalam kampus menjadi lebih besar.

“… menurut saya, cuma lewat jurnalistik, suatu kasus yang dianggap tabu seperti

pelecehan ini bisa mendapatkan perhatian besar. Karena kalau melapor ke polisi, paling banter cuma disalahkan dan di-haha-hihi,” tutur Adit, pasangan seorang penyintas

pelecehan seksual Universitas Islam di Bandung (Adam, 2018).

Tirto.id menuangkan serangkaian kasus kekerasan seksual dalam kampus tersebut dalam berita berjenis laporan mendalam (InDepth) yang berisikan investigasi dari berbagai pihak, termasuk penyintas, pihak kampus, hingga terduga tersangka.

Sebagaimana halnya berita, yang demi kepentingan tertentu dapat membentuk opini publik, maka pemberitaan laporan kekerasan seksual dalam kampus ini juga memiliki ideologi atau nilai serta keberpihakan tertentu (Suprihatin, 2018:6). Upaya untuk menjelaskan nilai yang terkandung dalam teks dapat dilakukan dengan analisis wacana.

Van Dijk, dalam “News as Discourse” (1998) menjelaskan bahwa analisis wacana adalah Analisa suatu teks dengan pendekatan linguistik atau Bahasa. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa analisis wacana adalah penggunaan dan tujuan Bahasa dalam mendeskripsikan suatu peristiwa secara lebih eksplisit dan sistematis demi mencapai tujuan, yaitu pesan khusus yang hendak disampaikan kepada pembaca. Selain pendekatan Bahasa dan konteks, analisis wacana juga mulai dipengaruhi oleh paradigma kritis sehingga muncullah Analisis Wacana Kritis, yang dipelopori oleh Universitas East Anglia, Fowler, Hodge and Kress, Trew melakukan pendekatan kritis terhadap analisis wacana, menganggap bahwa wacana tidak serta merta muncul tanpa mengemban tujuan spesifik

(5)

5

yaitu membawa pesan kepada pembaca (Habibie, 2017). Salah satu ilmuwan yang mengembangkan teori analisis wacana kritis adalah Norman Fairclough.

Fairclough membedah wacana secara kritis dalam 3 dimensi, yaitu tekstual,

discourse practice, dan sosiocultural practice (Fairclough, 1995:421). 3 dimensi tersebut

memadukan tiga tradisi, yaitu analisis tekstual dari segi bahasa atau linguistik, analisis makro-sosiologis praktis sosial, dan tradisi interoretatif dan mikro-sosiologis dalam sosiologi (Darma, 2014: 47). Fairclough pertama kali memperkenalkan metode analisis wacana kritisnya untuk melihat bahasa sebagai praktik kekuasaan. Fairclough membangun suatu model yang mengintegrasikan secara bersama-sama analisis wacana didasarkan pada linguistik dan pemikiran sosial dan politik umum yang diintegrasikan dengan perubahan sosial. Karenanya, model analisis wacana Fairclough disebut model perubahan sosial (Fairclough, 1992: 64).

Kekerasan seksual digambarkan oleh media kerapkali terjadi karena ada pihak yang merasa lebih memiliki kuasa atas yang lain di kehidupan sosial, sehingga metode pendekatan Fairclough digunakan oleh penulis untuk menganalisa informasi yang disajikan oleh Tirto.id dalam merepresentasikan kasus kekerasan seksual dalam rangkaian artikel mengenai kekerasan seksual dalam kampus, yaitu “Relasi Kuasa dan Budaya Perkllosaan

Dalam Menara Gading Kampus” (4 Juli 2018) dan “Yang Harus Kampus Lakukan Mengatasi Pelecehan Seksual” (4 Juli 2018) yang diakses pada 30 Juli 2019 pukul 14:25.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana Tirto.id menyusun informasi mengenai kasus kekerasan seksual dalam kampus di rangkaian artikel pelecehan seksual dalam kampus melalui analisis wacana kritis Norman Fairclough?

1.3 Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana Tirto.id menyusun informasi dalam rangkaian artikel pelecehan seksual di lingkungan kampus berdasarkan analisis wacana kritis Norman Fairclough.

b. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah, sebagai berikut:

 Menjelaskan korelasi antara teks dan konteks dalam rangkaian artikel pelecehan seksual dalam kampus.

(6)

6

 Menjelaskan bagaimana Tirto.id merepresentasikan kuasa, dominasi dan hubungan antar tokoh dalam rangkaian artikel pelecehan seksual dalam kampus.

 Menjelaskan bagaimana penyusunan rangkaian artikel pelecehan seksual dalam kampus dalam hubungannya dengan praktik sosial dan budaya tertentu.

1.4 Manfaat Penelitian

a. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana penerapan ilmu pengetahuan yang telah didapat selama penulis berada di bangku perkuliahan ke dalam realita pemberitaan kasus kekerasan seksual dalam kampus di Indonesia, khususnya media online Tirto.id.

b. Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian diharapkan menambah referensi penelitian mengenai artikel bertemakan kekerasan seksual dalam kampus, maupun analisis wacana kritis, maupun media online Tirto.id. Terlebih lagi, dapat memberi masukan kepada media Tirto.id dalam memberitakan kasus kekerasan seksual dalam kampus.

1.5 Definisi Konseptual

a. Analisis Wacana Kritis

Analisis wacana kritis bertujuan untuk mengungkap politik yang tersembunyi di balik suatu wacana/diskursus yang secara sosial dominan dalam masyarakat, seperti sistem kepercayaan, agama, kekuasaan, peraturan adat, dan interpretasi atau cara pandang masyarakat umum tentang dunia.

Analisis tidak bertujuan memberikan jawaban absolut terhadap suatu permasalahan, melainkan membangun suatu kesadaran di masyarakat mengenai inti permasalahan dalam suatu wacana, kebohongan yang dibangun dalam tiap asumsi, dan solusi dari permasalahan (Jorgensen dan Phillips dlm Lehtonen, 2007: 1-3). Analisis wacana kritis mencelikkan kesadaran akan motivasi tersembunyi atas ideologi yang selama ini masyarakat kita anut. Dengan memahami apa yang tersembunyi, maka pekerjaan memberikan solusi konkrit menjadi mudah.

b. Pelecehan Seksual dalam Kampus

Adapun yang dimaksud dengan kampus disini adalah lembaga pendidikan tinggi sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 12 Tahun

(7)

7

2012 Tentang Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi memiliki kekebasan dalam hal akademik, mimbar akademik, dan otonomi keilmuan.

Sedangkan Pelecehan atau kekerasan seksual, menurut Komnas HAM memiliki 15 bentuk, yaitu Perkosaan; Intimidasi Seksual termasuk Ancaman atau Percobaan Perkosaan; Pelecehan Seksual; Eksploitasi Seksual; Perdagangan Perempuan untuk Tujuan Seksual; Prostitusi Paksa; Perbudakan Seksual; Pemaksaan perkawinan, termasukcerai gantung; Pemaksaan Kehamilan; Pemaksaan Aborsi; Pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi; Penyiksaan Seksual; Penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual; Praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan; Kontrol seksual, termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama.

Komnas HAM menegaskan bahwa daftar tersebut belum final, karena ada kemungkinan baha tindak pelecehan seksual tidak terdeteksi karena tidak ada informasi mengenainya.

Pelecehan seksual dalam kampus adalah bagian dari otonomi kampus masing-masing dan Kemenrristekdikti, yang membawahi perguruan tinggi di Indonesia tidak banyak campur tangan mengenai hal tersebut. Kemristekdikti menyerahkan setiap kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus untuk diselesaikan oleh kampus masing-masing. Kemnristekdikti akan melakukan intervensi dengan meninjau terlebih dahulu sepeeti apa kasusnya. Namun, selama pihak kampus atau perguruan tinggi dapat mengatasi masalah tersebut, itu adalah bagian dari otonomi lembaga perguruan tinggi (Adam, 2018).

c. Pemberitaan Kasus Pelecehan Seksual

Media seringkali menilai berita mengenai kekerasan terutama kekerasan seksual adalah berita yang menarik, karena berita memiliki unsur yang dapat menaikkan tiras berita, yaitu seks. Maka, hadirlah pameo yang mengatakan “bad news is a good news”, karena berita-berita buruk mengenai kekerasan, kriminalitas, dan seksualitas merupakan kabar baik bagi media karena dapat menjadi magnet penyedot perhatian masyarakat (Rossy, 2015).

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah virus Covid-19 adalah dengan menerapkan perilaku Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di mana dalam penerapannya

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah Untuk mengetahui apakah ada pengaruh model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) terhadap hasil belajar matematika

Untuk menentukan adanya perbedaan antar perlakuan digunakan uji F, selanjutnya beda nyata antar sampel ditentukan dengan Duncan’s Multiples Range Test (DMRT).

(3) kedisiplinan belajar santri berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan menghafal al- Qur’an santri pondok pesantren Al-Aziz Lasem Rembang, hal ini terbukti

Dari hasil analisis diperoleh grain size pelet U02 sinter Cirene sebesar 7,9 11mdan pelet PWR sebesar 6,9 11m.Sedangkan porositas pelet Cirene adalah 12,4% dan pelet PWR adalah

Pemodelan penyelesaian permasalahan penjadwalan ujian Program Studi S1 Sistem Mayor-Minor IPB menggunakan ASP efektif dan efisien untuk data per fakultas dengan mata

Pendekatan dapat diartikan sebagai metode ilmiah yang memberikan tekanan utama pada penjelasan konsep dasar yang kemudian dipergunakan sebagai sarana

Audit, Bonus Audit, Pengalaman Audit, Kualitas Audit. Persaingan dalam bisnis jasa akuntan publik yang semakin ketat, keinginan menghimpun klien sebanyak mungkin dan harapan agar