• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI SALAT JAMAK QASAR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI SALAT JAMAK QASAR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1839

PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI SALAT JAMAK QASAR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK

Siti Zunaidah1

Email: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik di kelas VII A SMPS 1 Bumitama Antang Kalang pada materi salat jamak dan qasar melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Model Problem Based Learning adalah suatu model pembelajaran yang menyajikan permasalahan autentik dan bermakna kepada peserta didik sehingga memberikan kemudahan pada mereka untuk melakukan penyelidikan dan bertujuan membantu mengembangkan kemampuan berfikir dalam memecahkan masalah dan keterampilan intelektual mereka. Selain melatih pengetahuan dan keterampilan peserta didik , model ini juga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Data penelitian diperoleh berdasarkan lembar tes hasil belajar peserta didik. Teknik analisis data dilakukan dengan melakukan observasi terhadap tindakan guru dan mengumpulkan data hasil belajar yang diperoleh dari hasil test belajar pada materi salat jamak dan qasar, dan dianalisis dengan teknik statistik deskriptif. Dari hasil analisis diperol bahwa setelah diterapkannya model pembelajaran Problem Based Learning, terdapat peningkatan aktivitas guru, peningkatan aktivitas peserta didik dan peningkatan hasil belajar peserta didik.

Kata kunci : Hasil Belajar, Model Pembelajaran, Problem Based Learning

(2)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1840 PENDAHULUAN

Dalam setiap proses pembelajaran tentu mengandung serangkaian perbuatan guru dan peserta didik yang terwujud sebagai hubungan timbal balik yang berlangsung antara keduanya dalam situasi edukatif demi mencapai tujuan tertentu. Dalam pengertian yang sederhana, guru merupakan pemegang peranan utama dalam proses pembelajaran yang mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Oleh karena itu, merupkan keharusan bagi guru untuk mendesain pembelajaran dengan metode yang baik dan menarik sehingga merangsang keaktifan peserta didik untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman belajar yang bermakna.

Proses pembelajaran memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan

pendidikan. Siswa akan merasa benar benar merasakan makna belajar jika proses pembelajaran didesain dengan baik dan interaktif oleh guru. Dalam prakteknya banyak sekali pembelajaran yang masih menggunakan metode metode konvensional, seperti; ceramah dan lainnya. Hal ini kurang cocok diterapkan karena membuat siswa pasif, sedangkan seharusnya yang terjadi adalah proses pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa didalamnya (Suhartina, 2021).

(3)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1841

Keaktifan siswa ini berbasis student centered learning akan membuat pebelajar memiliki kesempatan untuk menemukan dan membangun secara mandiri pengetahuannya dari pengalaman belajar yang dilaluinya (Yasin et al., 2020) dalam (Jasiah, 2018)

Metode pembelajaran adalah cara atau alat bantu yang digunakan oleh Guru untuk mengimplementasikan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis guna mencapai tujuan dari kegiatan pembelajaran . Materi pelajaran yang mudah pun terkadang sulit di terima oleh peserta didik, karena cara atau metode yang digunakannya oleh guru kurang tepat. Sehingga berdampak pada capaian hasil belajar peserta didik. Namun, sebaliknya suatu pelajaran yang sulit akan mudah diterima oleh peserta didik, karena dalam penyampaian materinya menggunakan metode yang mudah dipahami, tepat dan menarik minat belajar peserta didik.

Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.(Sudrajat, 2008)

Kelas VII A SMPS 1 Bumitama Antang Kalang merupakan salah satu kelas yang pserta didiknya mempunya karakter bervariasi, ada yang aktif dan ada yang pasif, terkadang ada yang tidak fokus memperhatikan saat pelajaran berlangsung, ada yang mengantuk, bercanda dengan teman, dan kurang termotivasi untuk mengulang pelajarannya kembali sesampai di rumah.

(4)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1842

Sehingga hal ini yang menyebabkan kurang maksimalnya aktivitas dan hasil belajar yang dicapai oleh mereka. Hal itu dapat diketahui dari hasil pretest di kelas VII A dengan 20 jumlah peserta didik, yang masih 80 persen dibawah standar KKM.

Hasil observasi terhadap peserta didik di SMPS 1 Bumitama Antang Kalang pada materi salat jamak dan qasar, dengan menggunakan metode konvensional seperti ceramah dalam kegiatan belajanya, sementara masih menunjukkan hasil belajar peserta didik yang belum mencapai target maksimal sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) 75 yang telah ditetapkan pada mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti di Sekolah tersebut. Hal itu diketahui setelah dari hasil pretest yang dilakukan. Dari temuan hasil pretest tersebut bahwa metode konvensional tidak menarik minat siswa belajar.

Oleh karena itu peneliti menawarkan metode diskusi dan tanya jawab yang di bingkai dalam penerapan model Problem Based Learning pada materi salat jamak dan qasar untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik di kelas VII A SMPS 1 Bumitama Antang Kalang.

Model pembelajaran merupakan rangkaian antara pendekatan, metode, taktik strategi, teknik bahkan taktik pembelajaran sudah utuh yang terbentuk.

Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang disajikan dari awal hingga akhir oleh guru secara khas dan unik. Dengan kata lain, model pembelajaran merupkan bungkusan atau bingkai penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.(Hasmiati, 2020)

Sarana pendukung model pembelajaran adalah berupa lembar kerja peserta didik (LKPD), bahan ajar, panduan bahan ajar untuk siswa dan untuk guru, media belajar, peralatan demonstrasi atau eksperimen yang sesuai, model

(5)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1843

analogi, meja dan kursi yang mudah dimobilisasi atau ruangan kelas yang sudah ditata untuk kegiatan pembelajaran.

Model Problem Based Learning adalah Model pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan inquiry, memandirikan siswa dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri. Model ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berfikir kritis dan pemecahan masalah serta mendapatkan pengetahuan konsep – konsep penting, di mana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai keterampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berbasis masalah, penggunaannya di dalam tingkat berfikir yang lebih tinggi, dalam situasi berorientasi pada masalah, termasuk bagaimana belajar. (Lidinillah, 2013)

Pertanyaan dan masalah yang diajukan dalam model problem based learning haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Autentik yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata siswa daripada berakar pada prinsip – prinsip disiplin ilmu tertentu.

b. Jelas yaitu masalah dirumuskan dengan jelas dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan penyelesaian siswa.

c. Mudah dipahami yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa selain itu masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangn siswa.

(6)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1844

d. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang, dan sumber yang tersedia. Selain itu masalah yang telah disususn tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

e. Bermanfaat yaitu masalah yang telah disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat baik siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir memecahkan masalah siswa serta membangkitkan motivasi belajar siswa.(Lidinillah, 2013)

Penerapan model Model Problem Based Learning pada materi salat jamak dan qasar diharapkan agar peserta didik memiliki keinginan untuk mengetahui kemungkinan ada permasalahan yang muncul dilingkungan sekitarnya yang berkaitan dengan materi salat jamak dan qasar. Sehingga peserta didik nantinya bisa membangun pengetahuannya secara pribadi dan bermakna. Adapun guru dalam hal ini bertugas sebagai fasilitator yang memberikan pengetahuan awal dan membimbing dalam pelaksanaan penyelidikan atau pemecahan permasalahan. Oleh karena itu pada awal proses pembelajaran perlu diawali dengan mengangkat permasalahan yang sesuai dengan lingkungannya (permasalahan kontekstual) yang berkaitan dengan materi salat jamak dan qasar.

Dengan penerapan model Problem Based Learning ini diharapkan peserta didik di Kelas VII A SMPS 1 Bumitama Antang Kalang dapat mencapai hasil belajar yang sangat baik.

(7)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1845

Salah satu indikator tercapai atau tidaknya suatu proses pembelajaran adalah dengan melihat hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Hasil belajar adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Siswa dapat dikatakan berhasil dalam kegiatan belajar apabila berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan intruksional. Dan untuk mengetahui apakah hasil belajar telah sesuai dengan tujuan yang dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi.(Ibtidaiyah & Ulum, 2021)

Untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan tentunya peserta didik dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya intelegensi, minat, sikap, dan motivasi. Untuk itu, guru diharapkan mampu untuk merencanakan kegiatan belajar mengajar secara efektif. Guru harus mempersiapkan suatu perencanaan agar apa yang menjadi tujuan dalam pengajaran dapat tercapai dengan baik, sehingga hasil belajar peserta didik pun menjadi baik. (Yulianti et al., 2018)

METODE PENELITIAN

Mengingat pentingnya peranan pendidikan Agama Islam dalam kehidupan nyata sehari-hari, maka sekolah perlu meningkatkan berbagai usaha untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Berkaitan dengan dengan hal itu, maka upaya yang dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik di kelas VII A SMPS 1 Bumitama Antang Kalang adalah dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada materi salat jamak dan qasar, yang mengajak peserta didik untuk berperan sebagai subjek dalam kegiatan

(8)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1846

pembelajaran. Model PBL bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai suatu yang harus dipelajari peserta didik. Dengan model PBL diharapakan peserta didik mendapatkan lebih banyak kecakapan daripada pengetahuan yang dihafal. Mulai dari kecakapan memcahkan masalah, kecakapan berfikir kritis, kecakapan bekerja dalam kelompok, kecakapan interpersonal dan komunikasi, serta kecakapan pencarian dan pengelolaan informasi. (Ariandi, 2016)

Dalam penerapan model pembelajaran tersebut peserta didik juga diharapkan mampu bernalar kritis dalam menanggapi permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terdapat 4 tahapan yaitu perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observasi), dan refleksi (reflecting). Penelitian ini akan dilaksanakan dengan dua siklus, dimana antara siklus I sampai siklus II merupakan sebuah rangkaian yang saling berkaitan. Siklus II dilakukan sebagai perbaikan dari siklus sebelumnya. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Mc Taggart (Paidi, 2010).

Penelitian Tindakan Kelas dilakukan pada kelas VII A SMPS 1 Bumitama Antang Kalang dengan penentuan waktu penelitian dilakukan atas kesepakatan antara peneliti, guru kolaboratif, dan kepala sekolah untuk menyesuaikan agenda sekolah tersebut yang mengacu pada kalender akademik sekolah.

Observasi dilakukan terhadap aktivitas pembelajaran peserta didik maupun guru baik sebelum penelitian dan pada saat dilakukannya penelitian dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar materi salat jama’ dan qasar. Agar

(9)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1847

memperoleh data atau informasi yang representatif pada penelitian ini, maka penelitian dilakukan melalui tahap pengumpulan data sebagai berikut:

Tehnik analisis data yang dilakukan untuk menarik kesimpulan dari seluruh data yang telah diperoleh adalah dengan menggunakan instrument atau Lembar observasi dan tes tertulis dengan model soal pilihan ganda untuk memperoleh data atau informasi hasil belajar.

HASIL PENELITIAN

Sebelum melakukan Penelitian Tindakan Kelas, terlebih dahulu dilakukan observasi atau pengamatan terhadap pembelajaran yang dilakukan dengaan model pembelajaran yang masih bersifat konvensional, kemudian dilakukan pretest untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam pembelajara tersebut. Kemudian diperoleh hasil hanya 20 % yang melampaui KKM. Pada awal pembelajaran siklus I , observasi juga dilakukan terhadap kinereja guru dalam proses pembelajaran PAI dan Budi Pekerti pada materi

PLANING

•Perencanaan sebelum kegitan pembelajran dilakukkan yaitu Menyusun: RPP, instrument observasi, instrumen pengukuran (tes tertulis), membuat LKPD, memepersiapkan alat/bahan dan media pembelajaran

ACTION

•Penerapan RPP yang disesuaikan dengan model PBL (diskusi dan tanya jawab tentang permasalahan yang autentik) yang disesuaikan dengan materi yang diajarkan

OBSERVATION

•Pengamatan terhadap aktivitas guru dan peserta didik selama proses pembelajaran yang melibatkan observer, menngunakan tes tertulis dengan bentuk soal pilihan ganda

REFLECTION

•Melakukan analisis selama proses pembelajaran untuk menyempurnakan siklus berikutnya

(10)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1848

“Shalat Jamak dan Qashar”, dan aktivitas peserta didik dalam mengikuti pembelajaran PAI dan Budi Pekerti pada materi tersebut.

Dari hasil observasi kemampuan guru dalam mengajar, sikap guru dalam pelajaran, penguasaan materi, proses pembelajaran, pemakaian media, kemampuan menutup pelajaran dinilai cukup oleh observer. Adapun aktivitas peserta didik yang meliputi perhatian dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), keberanian, jawaban terhadap pertanyaan, kesungguhan dalam mengikuti pelajaran, keseriusan mengerjakan soal ringan dan berat dinilai observer adalah Cukup. Dari pembelajaran siklus I tersebut hasil belajar yang diperoleh peserta didik meningkat hingga 70% peserta didik yang melampaui KKM . Karena masih belum memenuhi target yang peneliti inginkan maka penelitian dilanjutkan pada siklus II.

Melihat kekurangan-kekurangan yang ditemukan pada siklus I, maka peneliti harus melakukan upaya yang lebih untuk memperbaiki Tindakan pada siklus II. Kegiatan penelitian pada siklus II meliputi empat tahap yang sama dengan tahap siklus pertama, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Adapun pengamatan pada siklus II , bahwa dari hasil observasi kemampuan guru dalam mengajar, sikap guru dalam pelajaran, penguasaan materi, proses pembelajaran, pemakaian media, kemampuan menutup pelajaran dinilai cukup oleh observer. Adapun aktivitas peserta didik meliputi perhatian dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), Kerjasama dalam kelompok, keberanian dalam bertanya dan menjawab pertanyaan dalam diskusi , kesungguhan mengerjakan soal ringan dan berat dinilai observer adalah sangat baik. Dari hasil yang diperoleh dalam siklus II tersebut, aktivitas dan hasil belajar

(11)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1849

peserta didik mencapai hasil yang diharapkan yaitu mencapai 85% peserta didik yang melampaui KKM 75.

Berikut ini grafik peningkatan hasil belajar peserta didik kelas VII A SMPS 1 Bumitama Antang Kalang pada materi salat jamak dan qasar dengan model pembelajaran Problem Based Learning :

Berdasarkan grafik pencapaian hasil belajar di atas dapat dilihat bagaimana perbandingan peningkatan ketuntasan belajar peserta didik pada materi salat jamak dan qasar dalam deskripsi berikut ini:

1. Peserta didik dikatakan tuntas secara individu jika peserta didik tersebut mendapat nilai minimum 75 dari seluruh peserta didik sesuai dengan KKM yang ditetapkan sekolah. Sedangkan secara klasikal siswa dikatakan tuntas apabila 85% siswa mendapat nilai minimum 75 dari seluruh siswa.

memperhatikan penjelasan guru

bekerjasama dengan teman sekelompok

partisipasi dan keaktifan dalam

diskusi

keberhasilan mengerjakan soal

pra siklus 40 39 38 20

siklus 1 70 55 50 70

siklus 2 89 85 80 85

40 39 38

20

70 89 55 85 50 80 70 85

100 2030 4050 6070 8090 100

GRAFIK PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK

pra siklus siklus 1 siklus 2

(12)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1850

2. Pencapaian hasil belajar pada materi salat jamak dan qasar dapat dilihat peningakatannya mulai dari tahap pra siklus, dimana dalam tahap pra siklus yang masih menggunakan metode pembelajaran konvensional peneliti memberikan soal pretest, dan mengetahui pencapaian hasil belajar peserta didik per individu baru mencapai rata-rata kelas sebesar 59 , yang artinya baru 20% peserta didik yang melampaui nilai ketuntasan 75 .

3. Kemudian masuk tahap siklus I, dimana dalam tahap ini peneliti menggunakan metode diskusi dan tanya jawab yang dibingkai dengan model Problem Based Learning, pencapaian hasil belajar peserta didik sudah menunjukkan peningkatan yaitu mencapai rata-rata 77, yang artinya dari 20% meningkat menjadi 70% peserta didik yang melampaui ketuntasan 75.

4. Namun demikian, adanya peningkatan tersebut belum memenuhi target peneliti yang menginginkan pencapaian hasil belajar pada materi salat jamak dan qasar mencapai 85%. Oleh karena itu, penelitian dilanjutkan pada tahap siklus II yang akhirnya pencapaian hasil belajar meningkat lagi menjadi rata-rata 83, yang artinya dari 77% meningkat menjadi 85%

peserta didik mencapai keberhasilan atau melampaui ketutasan minimal 75 dalam belajar pada materi salat jamak dan qasar.

KESIMPULAN

Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada materi salat jamak dan qasar, sangat efektif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik di SMPS1 Bumitama Antang Kalang, karena dengan model

(13)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1851

pembelajaran tersebut peserta didik dijadikan sebagai subjek yang terlibat langsung dan aktif dilingkungan belajarnya melalui dikusi dan tanya jawab . Peserta didik juga menjadi sangat aktif dalam mencari sumber data untuk menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan materi salat jamak dan qasar yang terdapat dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Meningkatnya aktivitas dan hasil belajar peserta didik dapat dilhat dari hasil yang diperoleh dalam setiap silkusnya. Dimana pada tahap pra siklus hasil belajar peserta didik hanya mencapai 20% ketuntasan minimal. Sedangkan pada siklus I pencapaian hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan menjadi 70% , dan pada siklus II pencapaian hasil belajar peserta didik meningkat menjadi 85% ketuntasan sehingga memenuhi target dari Penelitian Tindakan Kelas. Dengan demikian maka penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada materi salat jamak dan qasar dinyatakan berhasil untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik di kelas VII A SMPS 1 Bumitama Antang Kalang.

REKOMENDASI

Setelah melakukan Penelitian Tindakan Kelas di kelas pada materi salat jamak dan qasar di kelas VIIA SMPS 1 Bumitama Antag Kalang, peneliti berharap agar guru menggunakan metode pembelajaran yang lebih variatif agar keaktifan dan hasil belajar belajar peserta didik meningkat. Salah satuya dengan menerapkan model pembelajaran Problem based Learning, yang mana pada penerapan model pembelajaran ini peserta didik akan terlibat secara aktif dalam

(14)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1852

proses pembelajaran, sehingga membantu peserta didik dalam memahami materi pembelajaran.

REFERENSI

Ariandi, Y. (2016). Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Berdasarkan Aktivitas Belajar pada Model Pembelajaran PBL. PRISMA, Prosiding Seminar

Nasional Matematika, X(1996), 579–585.

https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/prisma/article/view/21561

Hasmiati, H. (2020). Manajemen Pembelajaran Berbasis Pesantren, Sekolah Dan Madrasah. Jurnal Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam & Pendidikan, 6(1), 46–64.

https://doi.org/10.47435/al-qalam.v6i1.117

Ibtidaiyah, M., & Ulum, D. (2021). Penggunaan Model Pembelajaran Discovery Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas III Mata Pelajaran Fikih Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Lamongan (Vol. 2).

Jasiah, J. (2018). Pemanfaatan Internet pada Matakuliah Ilmu Pendidikan di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Palangka Raya. Al-Khwarizmi:

Jurnal Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, 5(1), 65–86.

https://doi.org/10.24256/jpmipa.v5i1.267

Lidinillah, D. A. M. (2013). Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning). Jurnal Pendidikan Inovatif, 5(1), 1–7.

https://doi.org/10.17605/OSF.IO/GD8EA

Sudrajat, A. (2008). Pengertian pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan

(15)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1853

model pembelajaran. Tersedia: Http://Akhmadsudrajat. Wordpress.

Com/2008/09/12/Pengertian-Pendekatan-Strategi-Metode-Tekniktaktik-Dan- Model-Pembelajaran/.[20 Oktober 2008], 1.

Yulianti, H., Iwan, C. D., & Millah, S. (2018). Penerapan Metode Giving Question and Getting Answer untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 6(2), 197. https://doi.org/10.36667/jppi.v6i2.297

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis komposisi jenis, kelimpahan relatif, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi, ikan yang

Hambatan samping yang terjadi pada koridor Jl.Dr.Setiabudhi menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kemacetan lalu lintas, dan hambatan samping yang terjadi

Penelitian yang dilakukan Supomo dan Indriantoro (1998) menunjukkan bahwa pengaruh partisipasi terhadap kinerja manajerial tidak signifikan, dengan demikian menolak hipotesis yang

Langkah pertama yang dilakukan dalam memodifikasi alat tenun adalah dengan melakukan Pemilihan Alat yang dapat dimodifikasi dengan menambahkan mesin pada alat

Berdasarkan hasil respon yang telah didapatkan dari siswa dan guru terhadap multimedia interaktif yang dikembangkan, dapat disimpulkan bahwa multimedia interaktif

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalaah intrumen terstruktur, sehingga pengamat hanya membutuhkan () pada penerapan program inlis lite dan dampaknya terhadap

Pada Tabel 4 terlihat bahwa delapan isolat asal Cipanas membentuk zona bening (zona hambatan) dengan diameter rata-rata terpanjang sebesar 0,5 cm pada isolat BC4; 0,45 cm pada

Pedagang sayur di Pasar Tradisional Marisa memiliki peran yang penting selain mengatasi kemiskinan yang dialaminya, mereka juga memiliki peran secara ekonomi bagi