USULAN PENELITIAN
ANALISIS SUDUT PANDANG KAMERA DALAM MEMBANGUN UNSUR DRAMATIK
PADA FILM PENYALIN CAHAYA KARYA WREGAS BHANUTEJA
Joko Zainurrohim
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN INTITUT SENI INDONESIA PADANGPANJANG
FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN TELEVISI DAN FILM
2023
USULAN PENELITIAN
ANALISIS SUDUT PANDANG KAMERA DALAM MEMBANGUN UNSUR DRAMATIK
PADA FILM PENYALIN CAHAYA KARYA WREGAS BHANUTEJA
Joko Zainurrohim 06101919
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN INTITUT SENI INDONESIA PADANGPANJANG
FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN TELEVISI DAN FILM
2023
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Film yang ditemukan sekitar akhir abad ke-19 sampai saat ini terus mengalami perkembangan yang begitu pesat. Pada awalnya, film Edison dan Lumiere merupakan film yang memiliki durasi hanya beberapa menit. Film tersebut menunjukkan bahwa bentuk dari realitas kehidupan menciptakan sebuah film. Proses perekaman gambar yang diambil menggunakan frame (bingkai) secara statis (kamera tidak bergerak sama sekali) dan tidak ada proses penyuntingan terhadap hasil gambar yang sudah di rekam. (M. Ali Mursid dan Dani Manesah, 2020:3).
Javadalasta menyatakan bahwa:
“Film merupakan rangkain gambar bergerak yang menghasilkan suatu cerita yang dikenal sebagai movie atau video. Film sebagai media audio visual yang terdiri dari beberapa potongan gambar yang disatukan menjadi sebuah cerita dalam film. Dan memiliki kemampuan untuk memahami sosial budaya (M. Ali Mursid dan Dani Manesah, 2020:3)”.
Film dapat menyebabkan dampak signifikan dalam kehidupan nyata.
film akan memberikan dampak positif terhadap masyarakat apabila film tersebut berhasil menyampaikan pesan-pesan yang bersifat membangun. Salah satu film yang berhasil menggunakan teknik sudut pandang kamera dalam membangun unsur dramatik ialah film yang di sutradarai oleh Wregras Banuteja yaitu film Penyalin Cahaya.
Film Penyalin Cahaya Film yang dirilis pada tahun 2021 ini bergenre drama thriller yang mengangkat isu pelecehan seksual. Film ini meneritakan tentang seorang mahasiswa yang memperjuangkan beasiswa yang gagal karena dianggap melakukan tindakan yang tidak baik akibat unggahan foto ia yang tengah mabuk tersebar ke media sosial. Kemudian ia mencoba berusaha untuk mendapatkan beasiswanya kembali dengan membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan ia dijebak oleh temannya. Di tengah usahanya untuk mendapatkan bukti-bukti yang menyebar foto dirinya, justru ia mendapatkan sebuah kenyataan bahwa ia menjadi korban pelecehan seksual. Ia dan korban lainnya berusaha untuk mengungkapkan fakta yang sebenarnya terjadi. Semua itu mereka lewati dengan penuh rintangan dalam mencari sebuah keadilan.
Penghargaan yang telah diraih oleh film Penyalin Cahaya adalah Anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia 2021, Sutradara Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2021, Film Terbaik Festival Film Indonesia 2021, Penata Sinematografi Festival Film Indonesia 2021, Penata Artistik Terbaik Festival Film Indonesia 2021, Penata Suara Terbaik Festival Film Indonesia 2021, Pencipta Lagu Tema Terbaik Festival Film Indonesia 2021, Penata Musik Terbaik Festival Film Indonesia 2021, Penyunting Gambar Terbaik Festival Film Indonesia 2021, Penata Busana Terbaik Festival Film Indonesia 2021, Pemeran Utama Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2021, Pemeran Pendukung Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2021.
Film Penyalin Cahaya memiliki unsur dramatik yang lengkap dengan adanya konflik, ketegangan (suspense), kingintahuan (curiosity), dan kejutan (surprise). Dramatik dalam istilah lain dramaturgi, merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan dalam menciptakan adegan dramatik pada sebuah cerita film ataupun pada pola pikir penontonnya (Elizabeth Lutters, 2010:100). Dengan analisis sudut pandang kamera dalam membangun unsur dramatik. Dengan demikian, di setiap adegan dalam film akan memiliki sebuah shot yang memiliki unsur dramatik sehingga mampu menghasilkan kesan dan pengalaman bagi penonton.
Penempatan Sudut pandang kamera yang baik akan memperkuat kesan dramatik dari cerita. Kemudian sudut pandang kamera ialah sudut pandang melalui pengambilan gambar dalam sebuah adegan film. Baik pengambilan gambar berupa frame ataupun pengambilan gambar berupa angle. Dengan demikian, pemilihan dalam menempatkan kamera menentukan sudut pandang yang tepat akan mempertinggi visualisasi dramatik dari suatu cerita dalam film.
Sebaliknya, jika penempatan sudut pandang kamera dilakukan tanpa adanya motivasi tertentu maka makna dari sebuah gambar yang telah di shot akan sulit dipahami oleh penonton. Penempatan kamera yang berubah-ubah, penonton dapat ditempatkan dimana saja dan melihat adegan dari berbagai sudut pandang . kamera. Yang mencakup tipe-tipe sudut pandang kamera, yaitu objectif, subjectif, point of view. (Marcelli, 1964:11)
Berdasarkan fenomena yang telah dipaparkan oleh penulis diatas dapat terlihat bahwa ketertarikan penulis dalam film Penyalin Cahaya terkait atas isu pelecehan seksual. Dengan demikian, penulis melakukan penelitian melalui salah satu teknik sinematografi dalam membangun dengan unsur naratif dalam menciptakan sebuah film. Bagaimana kedua unsur tersebut mampu menjadi sebuah film yang menghasilkan unsur dramatik. Penelitian ini terfokus dalam Teknik sudut pandang kamera dalam membangun unsur dramatik pada film Penyalin Cahaya.
Menurut beberapa referensi, belum ada yang melakukan penelitian tentang sudut pandang kamera dalam membangun unsur dramatik pada film Penyalin Cahaya. Hingga dapat dikatakan bahwa penelitian yang dilakukan bersifat original.
B. Rumusan Masalah
Penempatan teknik pengembilan sudut pandang kamera dapat membangun unsur dramtik pada sebuah film. Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan sebelumnya, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana sudut pandang kamera pada film Penyalin Cahaya dapat membangun unsur dramatik?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian a. Tujuan
1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana teknik sudut pandang kamera dalam membangun unsur dramatik pada film Penyalin Cahaya dengan penulis sebagai penonton dan pengamat.
2. Tujuan Khusus
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam mengenai penggunaan teknik sudut pandang kamera dalam membangun unsur dramatik pada film Penyalin Cahaya.
b. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan menambah wawasan bagi para sineas terutama dibidang perfilman dan memberikan kontribusi mengenai teori kepada para mahasiswa mengenai penggunaan teknik sudut pandang kamera dalam membangun unsur dramatik pada film Penyalin Cahaya.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan ide atau pemikiran untuk pembuat film kedepannya dalam mempertimbangkan shot untuk menempatkan kamera dengan posisi yang tepat dalam sudut pandang kamera.
D. Tinjauan Pustaka
Penelitian sebelumnya yang terkait dengan Analisis Sudut Pandang Kamera Dalam Membangun Unsur Dramatik Pada Film Penyalin Cahaya Adalah penelitian yang dilakukan oleh Bagus Satrio Nugroho, Jurusan Televisi dan Film Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2019 yang berjudul Analisis Unsur Dramatik Pada Film Need For Speed Melalui Sudut Pandang Kamera Dari Adegan Berkendara. Dalam penelitiannya Bagus Satrio Nugroho membahas mengenai unsur dramatik melalui sudut pandang kamera dari adegan berkendara pada film Need For Speed. Hal menjadi referensi bagi penulis dari peniliti tersebut adalah dalam
variabel. Perbedaannya terletak pada metode penelitian dan objek yang diteliti.
Memahami Film, penulis Himawan Pratista, (2017). Yang menjelaskan tentang Film memiliki dua unsur yakni unsur naratif dan sinematik. Unsur naratif adalah bahan yang akan diolah, sedangkan unsur sinematik adalah cara pengolahannya. Kedua unsur tersebut saling berinteraksi dan berkesinambungan satu dengan yang lainnya. Dalam film fiksi unsur naratif adalah motor penggerak sebuah cerita, sedangkan unsur sinematik adalah aspek teknis dalam pembentuk film. Unsur sinematik terbagi menjadi empat elemen pokok, yakni mise-en-scene, sinematografi, editing, dan suara.
The Five C's of Cinematography, Joseph V. Mascelli, A.S.C , diterjemahkan oleh H. Misbach Yusa Biran, 2010. Buku ini menjelaskan tentang perspektif sudut pandang kamera, seperti tipe-tipe angle kamera objektif, subjektif, dan sudut pandang. Sudut pandang kamera kemudian
ditentukan oleh jenis-jenis seperti ukuran objek , sudut objek, dan ketinggian kamera.
Kunci Sukses Penulisan Skenario oleh Elizabeth Lutters, 2010. Dalam bukunya membahas unsur dramatik menjadi empat bagian, yaitu konflik, ketegangan, keingintahuan, dan kejutan. Buku ini menjelaskan grafik naratif berbeda yang menciptakan konflik di setiap adegan.
E. Landasan Teori
Sinematografi adalah seni bercerita secara visual, sinematografi memvisualkan apa yang terlihat oleh penonton (tidak terlihat) dan bagaimana gambar disajikan dengan baik. Sinematografi terdiri dari dua suku kata cinema dan graphy dari bahasa yunani, kinema yang artinya bergerak dan graphoo berarti menulis. Jadi, sinematografi dapat diartikan sebagai kegiatan menulis dengan menggunakan gambar yang bergerak. Seperti apakah gambar-gambar itu, kemudian bagaimana menyusun potongan-potongan gambar bergerak menjadi beberapa rangkaian gambar yang dapat menyampaikan pesan tertentu.
Sebagaimana dijelaskan oleh Jodeph V. Marcelli (1965:24) dalam buku The Five C’s of Cinematografi:
“a camera angle is defined as the area and view point recorded by the lens. placement of the camera decides how much are will be included, and viewpoint from which the audience will observe the event. it is important to remember the relationship between camera angle and audience Every time the camera is shifted, the audience is repositioned, and observes the event from a fresh viewpoint. add dramatik impact to the story telling”
Sudut pandang kamera didefinisikan sebagai area titik pandang yang direkam oleh kamera. Penempatan kamera akan menentukan maksud dari shot tersebut, dan sudut pandang dari mana penonton akan mengamatinya. Penting untuk mengingat hubungan antara sudut pandang kamera dan penonton setiap kali perpindahan kamera. Agar tercipta dramatik dalam suatu cerita.
Menurut Five C’s Cinematografi Joseph V. Marcelli. Yakni sinematografi memiliki lima unsur yang pada umumnya dikenal dengan istilah Five C’s sinematografi, close up, camera angle, composition, cutting, dan continuity. Sudut pandang kamera kemudian ditentukan oleh jenis-jenis seperti ukuran objek , sudut objek, dan ketinggian kamera. Berikut penjelasan lima elemen sinematografi menurut Josep V. Marcelli:
1. Camera angle
Camera angle adalah teknik pengambilan gambar dari sudut
padang tertentu untuk menghasilkan gambar dalam sebuah adegan pada film. Camera angle adalah penempatan sudut kamera yang akan mempengaruhi sudut pandang penonton. Sudut pandang kamera akan menentukan sudut pandang penonton serta area yang dapat ditangkap dalam gambar. Elemen ini dapat membawa penonton kedalam sebuah film, yang dapat memasuki kedalam suasana adegan yang dirasakan oleh pemain.
a. Angle Objektif
Sudut pandang kamera yang menempatkan kamera dari sudut pandang penonton yang tersembunyi, dan tidak dari sudut
pandang pemain tertentu. Sehingga penempatan kamera angle objektif tidak mewakili siapapun. Penonton tidak dilibatkan dan pemain tidak merasa ada kamera yang mengambilnya.
b. Angle Subjektif
Sudut pandang kamera yang ditempatkan dari sudut pandang penonton yang dilibatkan. Seperti pemain melihat ke arah penonton. Atau kamera ditempatkan dari angle kamera pemain yang memperhatikan pemian lainnya dalam sebuah adegan film.
c. Point Of View
Adalah sudut pandang gabungan atau keterkaitan antara objektif dan subjektif yang merekam adegan dari titik pandang yang digunakan sehingga mendapatkan kesan kamera menempel dipipinya.
2. Continuity
Film yang telah di produksi secara profesional harus memvisualkan gambar yang berkesinambungan, menyajikan kejadian yang telah direkam secara tepat dan logis. Continuity adalah teknik menggabungkan gambar untuk dapat menghasilkan gambar tiap frame agar tidak terjadi jumping antar shot. Tujuannya adalah agar gambar yang telah diambil dari adegan menjadi lebih jelas, halus, dan lancar.
Film mempunyai ruang dan waktunya tersendiri.
a. Kontiniti waktu
Waktu yang sebenernya selalu bergerak maju kedepan, tetapi dalam film waktu dapat di mainkan. Terdapat empat kategori waktu dalam film, yaitu masa sekarang, masa lampau, masa depan, dan menurut kondisi waktu.
b. Kontiniti ruang
Cerita yang adegannya bergerak dari satu tempat ke tempat lain yang membutuhkan konsep kontiniti ruang. Penonton harus dibuat seolah menyadari lokasi/ruang dari sebuah adegan dan arah gerakan sehingga penonton selalu menyadari dari mana pemain datang dan pemain akan pergi.
3. Cutting
Cutting dapat diartikan kedalam symbol dari proses sebuah editing.
Ini bukanlah tugas seorang editor seutuhnya melainkan suatu gagasan yang disebut dengan editorial thingking. Director Of Photography, Sutradara, bahkan seorang Sound Desain harus memiliki kepekaan terhadap editorial thingking. Dengan menyusun shot-shot menjadi satu scene yang baik sehingga menghasilkan rangkaian shot-shot yang bertutur tentang suatu cerita yang utuh.
a. Memilih shot
Dengan memilih shot yang terbaik diantara shot-shot dari pengambilan gambar (take) yang dilakukan oleh sutradara. Ia harus memilih dengan detail berdasarkan pertimbangan efek
visualnya, kreativitas suaranya, kualitas penyiarannya, kualitas permainannya, dan dramatiknya.
b. Mempertimbangkan keterkaitan dan kesinambungan
Menyambungkan setiap gambar dengan menentukan titik pemotongannya sehingga menciptakan kesinambungan antara cerita. Ia harus dengan teliti memperhatikan efek estetik, dramatik dari penyambungan gambar supaya tidak terjadi loncatan-loncatan sambungan yang dapat mengganggu penonton.
4. Close – Up
Close Up merupakan fasilitas yang unik dari sebuah film. Hanya film
yang dapat menjelaskan sebagian besar plot, yaitu membingkai objek yang ditampilkan. Framming memiliki tujuan untuk fokus kepada pesan yang dikirimkan kemudian membentuk peristiwa untuk membuang kejadian yang tidak penting. Sehingga penonton dapat melihat informasi sedetail mungkin.
a. Close Up Cut In
Suatu pengambilang gambar yang lebih dekat dari pengambilan gambar sebelumnya yang lebih lebar. Untuk menciptakan kesinambungan dari adegan utama (sebelumnya) kemudian dilanjutkan dengan shot yang lebih dekat (close up) dari seorang pemian, objek tertentu yang mempunya kesan drmatik.
b. Close Up Cut Away
Suatu pengambilan gambar close up yang menyajikan adegan kedua yang sedang berlangsung secara bersamaan disuatu tempat yang berkaitan secara penuturan. Dengan memperlihatkan ekspresi para pemain yang berada diluar layar, agar memperkuat sebuah adegan yang ditampilkan dengan memberi sisipan pada suatu dialog.
5. Compotition
Komposisi merupakan gabungan dari unsur-unsur yang terdapat dalam gambar untuk membentuk suatu kesatuan yang berkesinambungan dalam sebuah frame. Tujuan menampilkan gambar yang menarik bagi penonton adalah agar penonton tidak ingin mengalihkan pandangannya terhadap gambar yang kita tampilkan.
a. Berdasarkan ukuran dan jarak objek/subjek
Biasanya mata penonton akan tertarik pada suatu objek atau subjek yang lebih besar dan dekat dari pada suatu objek dan subjek yang lebih kecil dan jauh dari mata penonton. Ekspresi seorang aktor yang muncul di latar depan, karena lebih dekat kepada kamera sehingga keliatan lebih besar. Sangat mungkin menjadi titik fokus perhatian penonton.
b. Ketajaman fokus
Objek atau subjek yang mendapatkan yang mendapatkan fokus akan menjadi lebih di perhatikan oleh penonton. Seperti, seorang Director of Photography yang menempatkan dua tokoh yang sedang berdialog. Yang pemain satu diatur sedemikian rupa sehingga mempunya ukuran yang lebih besar, sedangkan pemain kedua berada lebih jauh dari kamera sehingga ukurannya lebih kecil.
c. Bergerak
Mata penonton akan lebih tertarik pada benda yang bergerak dibandingkan yang statis (diam). Sebuah benda yang bergerak di tengah adegan yang statis akan menarik perhatian penonton.
d. Close up ekstrem
Merupakan suatu cara yang baik dengan memengaruhi penonton agar penonton difokuskan perhatiannya pada apa yang dimaksud oleh seorang Director of Photography. Seperti dalam adegan sekelompok prajurit yang tegak sejajar terdapat seorang prajurit yang selalu memutarkan pedang nya sementara rajurit yang lain hanya terdiam.
e. Menggunakan warna dan cahaya
Penggunaan warna dan cahaya dapat membantu penonton untuk mengarahkan perhatian terhadap objek atau subjek yang penting. Cahaya yang terang akan lebih menarik dibanding
yang gelap. Kemudian warna yang cerah akan lebih menarik dibandingkan warna gelap.
Sudut pandang kamera kemudian terdiri dari beberapa jenis-jenis shot yang terdiri dari sebagai berikut:
1. Extreme Long Shot
Merupakan jarak kamera yang paling jauh dari objeknya, sehingga menggambarkan sebuah objek yang jauh dan luas. (pratista, 2017:146)
2. Long Shot
Dalam shot tersebut, seluruh tubuh objek tampak jelas. Namun latar belakang masih dominan. Jenis shot ini seringkali digunakan untuk establishing shot. Yakn shot pembuka dalam film sebelum shot-shot
yang berjarak lebih dekat. (Pratista, 2017:147) 3. Medium Long Shot
Pada shot tersebut, tubuh objek terlihat dari bawah lutut sampai ke atas. Tubuh objek dan lingkungan sekitarnya terlihat seimbang.
(Pratista, 2017:147) 4. Medium Shot
Memperlihatkan tubuh objek dari pinggang sampai atas. Gerak serta wajah mulai terlihat. Medium shot sering kali digunakan dalam film.
(Pratista, 2017:147)
5. Medium Close-up
Memperlihatkan tubuh objek dari dada sampai atas. Objek tersebut mendominasi frame kemudian latar belakang tidak lagi dominan.
Adegan percakapan antar kedua tokoh biasanya menggunkan medium close-up. (Pratista, 2017:137)
6. Close-up
Shot dengan memperlihatkan detail wajah, kaki, tangan, atau sebuah objek kecil lainnya. (Pratista, 2017:147)
7. Extreme close-up
Dengan memperlihatkan lebih detail bagian dari wajah seperti telinga, hidung, mata, bibir. Jenis shot ini jarang digunakan daripada jenis shot lain. (Pratista, 2017:147)
Sudut kamera merupakan sudut pandang ketinggian kamera dengan objek yang ada didalam frame. Seperti berikut:
1. Low angle
Sudut kamera ini mampu memberikan kesan sebuah objek akan tampak lebih besar. Menggunakan sudut seperti ini menggambarkan bahwa sosok tersebut terlihat besar, gagah, dan kokoh. (Pratista, 2017:149)
2. Hight angle
Memberikan kesan objek seolah tampak kecil, serta terintimidasi.
(Pratista, 2017:149)
3. Over head shot
Sudut pengambilan yang paling tidak lazim digunakan. Sebuah shot yang diambil secara tegal lurus ke bawah, sehingga tidak menampakkan wajah dari objek dalam sebuah film. (Pratista, 2017:150)
Pergerakan kamera sangat memungkinkan kamera untuk bergerak bebas sesuai naratif dan adegannya. Sebagai berikut:
1. Pan
Pan merupakan pergerakan kamera secara horizontal ke kanan atau ke
kiri dengan penempatan kamera tetap berada pada porosnya. Teknik ini sering digunakan untuk mengikuti objek. (Pratista, 2017:153) 2. Till
Pergerakan kamera secara vertikal ke atas atau bawah ataupun sebaliknya, dengan penempatan kamera tetap berada pada porosnya.
Teknik seperti ini sering digunakan untuk memperlihatkan objek yang tinggi seperti gedung bertingkat, patung, ataupun objek lainnya.
3. Roll
Mrupakan pergerakan kamera memutar 180° bahkan dapat memutar hingga 360° dengan posisi kamera tetap berada pada prosnya. Teknik seperti ini jarang digunakan, kecuali terdapat maksud tertentu.
Menurut Elizabeth Lutters dalam bukunya yang berjudul Kunci Sukses Menulis Skenario, ia menjelaskan unsur dramatik dengan istilah lain dramaturgi, yaitu unsur-unsur yang dibutuhkan untuk menciptakan gerakan dramatik dalam sebuah cerita atau dalam benak penonton. Unsur dramatik terdiri dari konflik, ketegangan, keingintahuan dan kejutan.
1. Konflik
Konflik dapat terjadi karena adegan yang kemudian bertujuan untuk bertemu dengan masalah yang menghambatnya. Sebagaimana adegan yang digerakkan oleh motivasi, ia tidak mau ditahan atau bahkan melawan jika dihalangin, kemudian terjadilah pertikaian.
Pertikaian itulah yang menjadikannya sebuah konflik. (Misbach, 2010:107)
2. Ketegangan (Suspence)
ketegangan adalah keadaan yang muncul di benak penonton. Kondisi ini bukan karena kengerian atau emosi dari adegan yang dimainkan, melainkan ketika penonton dapat meragukan apakah bisa atau tidaknya kehendak utama dapat mengatasi penghalang mereka, dan mereka tahu bahwa kegagalan dalam bahaya besar. (Misbach, 2010:107)
3. Keingintahuan (Curiosity)
Keingintahuan seseorang terhadap sesuatu timbul ketika ada sesuatu yang tidak jelas, aneh dan beberapa informasi masih tersembunyi.
Ketika penonton diperlihatkan adegan seorang gadis cantik berjalan
sendirian di kuburan di tengah malam, atau seseorang membuat bom, tetapi mereka tidak tahu siapa dia atau apa yang dia inginkan atau apa hambatannya, apa yang terjadi bukanlah kegembiraan, tetapi rasa ingin tahu. (Misbach, 2010:93)
4. Kejutan (Surprise)
kejutan terjadi ketika itu terjadi secara tidak terduga. Elemen terpenting dalam membuat kejutan adalah elemen (Tebak). Misalnya ada yang mengetuk pintu, terdengar suara (Permis) yang artinya tamu sudah datang. Suara wanita yang lembut terdengar, tetapi begitu pintu terbuka, itu hanya burung beo yang berbicara. (Misbach, 2010:115)
Film merupakan salah satu media komunikasi yang dirancang untuk menyampaikan pesan melalui elemen audio, selain itu film juga menyampaikan pesan melalui visual. Dengan demikian, pesan yang disampaikan lebih cepat diterima oleh masyarakat. Secara umum, film dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu film fiksi, film dokumenter, dan film eksperimental. Saat ini film telah menjadi media ekspresi yang memiliki nilai estetika yang tinggi, dan telah menjadi bagian dari unsur budaya.
Himawan Pratista, (2018:25) dalam bukunya yang berjudul Memahami Film mengemukakan bahwa:
“Pengalaman mental dan budaya yang dimiliki penonton juga memengaruhi pemahaman penonton terhadap sebuah film, secara sadar maupun tidak sadar. Inilah mengapa, setiap orang bisa dapat memiliki opini atau pendapat yang berbeda tentang sebuah film. Keberhasilan seseorang dalam memahami film secara utuh sangat dipengaruhi oleh
pemahaman orang tersebut terhadap aspek naratif dan sinematik sebuah film. Jika saja sebuah film kita anggap buruk (kurang memadai), bisa jadi bukan karena film tersebut buruk, namun karena kita sendiri yang masih belum mampu memahaminya secara utuh”.
Film memiliki dua unsur yakni unsur naratif dan sinematik. Unsur naratif adalah bahan yang akan diolah, sedangkan unsur sinematik adalah cara pengolahannya. Kedua unsur tersebut saling berinteraksi dan berkesinambungan satu dengan yang lainnya. Dalam film fiksi unsur naratif adalah motor penggerak sebuah cerita, sedangkan unsur sinematik adalah aspek teknis dalam pembentuk film. Unsur sinematik terbagi menjadi empat elemen pokok, yakni mise-en-scene, sinematografi, editing, dan suara.
(Himawan Pratista, 2018:23).
F. Metode Penelitian 1. Desain Penelitian
Metode dalam penelitian ini menggunakan kualitatif melalui pendekatan eksplanatori. Penelitian yang bermaksud menjelaskan struktur variabel-variabel yang akan penulis teliti serta hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain. Sedangkan karakteristik penelitian ini memiliki sifat replaksi, sehingga hasil uji hipotesis yang didukung oleh penelitian-penelitian sebeleumnya yang diulang dengan objek yang berbeda. Tipe penelitian eksplanatori adalah penelitian yang digunakan untuk memperoleh data dari sumber tertentu dengan teknik pengumpulan data dan analisis data. Mengumpulkan data-data yang bersumber dari buku,
dan jurnal-jurnal penelitian yang memfokuskan pada topik pembahasan, kemudian mengkelompokkan data-data tersebut kedalam jenis penelitian, pembahasan jenis penelitian, dan kesesuain terhadap ide atau judul yang di bahas. Menurut umar (1999:35) penelitian eksplanatori merupakan penelitian yang memiliki tujuan untuk menganalisis keterkaitan antara satu varibel dengan variabel lainnya.
2. Jenis dan Sumber Data
penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif yang berisfat eksplanatori. Yang menjelaskan mngenai mengapa dan bagaimana keterkaitan variabel satu dengan variabel lainnya. Dengan mengumpulkan data-data yang bersumber dari buku dan jurnal-jurnal penelitian yang terfokus pada topik pembahasan. Metode kualitatif untuk menganalisis sudut pandang kamera yang teridentifikasi membangun unsur dramatik yang dikontruksi pada film Penyalin Cahaya.
Sumber data yang dibutuhkan penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu:
a. Data Premier
Sumber data utama yang digunakan peneliti dalam melakukan penelitian. Data yang diperoleh peneliti dengan melakukan observasi/pengamatan terhadap objek penelitian pada film Penyalin Cahaya.
b. Data sekunder
Data yang peroleh penulis melalui beberapa referensi seperti buku, jurnal, artikel, skripsi, tesis dan informasi mengenai film Penyalin Cahaya melalui internet.
3. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan penulis berdasarkan kebutuhan dalam menganalisis objek yang diteliti. Dengan metode pengumpulan data melalui sebagai berikut:
a. Observasi
Dengan melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap tema yang diselidiki dari perolehan data-data yang terkait dengan objek penelitian. Pengamatan data tersebut dilakukan dengan tinjauan literasi ataupun teori-teori yang relevan dengan objek penelitian. Hasil dari menonton film Penyalin Cahaya akan diamati secara seksama dan mendetail, kemudian menentukan apa saja yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian.
b. Dokumentasi
Dengan mencari atau mengumpulkan data-data yang terkait dengan objek penelitian, baik dalam bentuk fisik maupun digital, bisa berupa video, jurnal, artikel, maupun dokumen lainnya.
c. Studi Pustaka
Merupakan metode pengumpulan data dengan menggunakan literatur atau buku-buku pustaka yang relevan atau melalui jurnal,
maupun melalui internet yang berhubungan dengan objek penelitian.
4. Teknik Analisa Data
Teknik analisis data pada penelitian ini dengan menggunakan metode kualitatif tidaklah memiliki acuan yang seharusnya, sehingga peneliti mampu mencari sendiri metode apa yang cocok dengan objek penelitiannya (Sugiyono, 2014:44). Teknik analisis data akan dilakukan jika semua data telah terkumpul kemudian informasi lainnya telah mencakupi untuk dilakukannya proses penelitian. Menurut Lofland dan Lofland (1984:47) mengemukakan bahwa:
“sumber data dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lainnya”.
Data-data yang telah penulis dapatkan kemudian dianalisa dengan menggunakan metode kualitatif. Data yang digunakan ialah data yang telah ditemukan dari objek film Penyalin Cahaya yang berupa data visual, atau buku-buku dan jurnal yang berkaitan dengan teknik sudut pandang kamera dalam membangun unsur dramatik.
5. Teknik Penyajian Hasil Analisis Data
Teknik penyajian hasil analisis data terbagi menjadi dua yaitu, formal dan informal, (Sudaryanto, 1993:57). Teknik dengan penyajian
formal merupakan teknik penyajian dengan menggunakan statistik berupa bagan, grafik, foto. Penyajian informal adalah teknik penyajian menggunakan kalimat, narasi, dan ungkapan.
Dalam penelitian ini, penulis menyajikan hasil analisis berbentuk formal yang disajikan kedalam bentuk foto yang telah di screen capture oada adegan yang mendukung teknik sudut pandang kamera pada film Penyalin Cahaya. Sedangkan penyajian data informal tersebut dideskripsikan kedalam unsur dramatik yang muncul pada penggunaan teknik sudut pandang kamera pada setiap adegan dalam film tersebut.
Daftar Pustaka
Pratista, Himawan. 2017. Memahami Film Edisi 2. Yogyakarta: Montase Press Sarwo, Nugroho 2014. Teknik Dasar Videografi. Yogyakarta: ANDI OFFSET Biran, Misbach Yusa 2010. Teknik Menulis Skenario. Fakultas Film dan Televisi
IKJ
Meleong, Lexy J. 1989. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya
Marcelli, Joseph 1977. The Five C’s Cinematography. Hollywood:
Cine/GraficPublication,
Fikri, F. N., Zafirah, K. S., Istikomah, R. S., Zahra, S., & Hasibuan, H. A. Penyalin Cahaya: Analisis Jenis Pelecehan Seksual Pada Film.