TUGAS AKHIR – CL 224801
STUDI KERENTANAN IKLIM
KABUPATEN GRESIK PADA KETERSEDIAAN SUMBER DAYA AIR
AHMAD NAILUL FIRDAUS NRP 03211740000072
Dosen Pembimbing
Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.ES., Ph.D.
NIP 196006181988031002
DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN
Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan dan Kebumian Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2023
TUGAS AKHIR – CL 224801
STUDI KERENTANAN IKLIM KABUPATEN
GRESIK PADA KETERSEDIAAN SUMBER DAYA AIR
AHMAD NAILUL FIRDAUS NRP 03211740000072
Dosen Pembimbing
Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.ES., Ph.D.
NIP 196006181988031002
DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN
Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan dan Kebumian Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2023
FINAL PROJECT – CL 224801
GRESIK DISTRICT CLIMATE VULNERABILITY STUDY ON THE AVAILABILITY OF WATER RESOURCES
AHMAD NAILUL FIRDAUS NRP 03211740000072
Advisor
Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.ES., Ph.D.
NIP 196006181988031002
DEPARTMENT OF ENVIRONMENTAL ENGINEERING Faculty of Civil Planning and Geo Engineering Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2023
ii
LEMBAR PENGESAHAN
v PERNYATAAN ORISINALITAS
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama mahasiswa / NRP : Ahmad Nailul Firdaus / 03211740000072 Departemen : Teknik Lingkungan
Dosen Pembimbing / NIP : Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.ES., Ph.D. / NIP.
196006181988031002
dengan ini menyatakan bahwa Tugas Akhir dengan judul “Studi Kerentanan Iklim Kabupaten Gresik pada Ketersediaan Sumber Daya Air” adalah hasil karya sendiri, bersifat orisinal, dan ditulis dengan mengikuti kaidah penulisan ilmiah.
Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Surabaya, Januari 2023
Mengetahui Mahasiswa,
Dosen Pembimbing
Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.ES., Ph.D. Ahmad Nailul Firdaus
NIP. 196006181988031002 NRP. 03211740000072
vi
Halaman ini sengaja dikosongkan
vii STUDI KERENTANAN IKLIM KABUPATEN GRESIK PADA KETERSEDIAAN
SUMBER DAYA AIR Nama Mahasiswa : Ahmad Nailul Firdaus
NRP : 03211740000072
Departemen : Teknik Lingkungan FT-SPK ITS Dosen Pembimbing : Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.ES., Ph.D ABSTRAK
Perubahan iklim menjadi permasalahan global dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan yang terus terjadi memicu berbagai permasalahan dalam kehidupan. Salah satu permasalahan utama akibat perubahan iklim adalah permasalahan terkait sumber daya air. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk menghadapi perubahan iklim, baik komitmen dalam konferensi internasional maupun rencana adaptasi perubahan iklim yang dituangkan dalam RAN-API (Rencana Aksi Adaptasi Perubahan Iklim) 2014. Namun dalam pelaksanaan di lapangan, belum banyak daerah yang menjadikan perubahan iklim sebagai salah satu pertimbangan dalam pembuatan kebijakan.
Dalam penelitian ini, dilakukan studi kerentanan iklim Kabupaten Gresik pada ketersediaan sumber daya air. Studi yang dilakukan meliputi perhitungan nilai indeks kerentanan/Climate Vulnerability Index (CVI) dan upaya adaptasinya. Metode yang digunakan untuk penentuan CVI adalah menggunakan interaksi antara parameter keterpaparan (exposure), sensitivitas (sensitivity), dan kapasitas adaptasi (adaptive capability). Parameter tersebut terdiri dari beberapa komponen untuk dianalisis, diantaranya: profil demografi, potensi sumber daya air, hubungan sosial, akses air bersih, sosio-ekonomi, bencana alam, dan variabilitas iklim. Penentuan status kerentanan dilakukan pada skala kecamatan. Metode yang digunakan untuk analisis nilai kerentanan adalah skoring dengan pembobotan seragam (equal weight)
Melalui hasil penelitian ini, terdapat tujuh (7) wilayah kecamatan di Kabupaten Gresik yang memiliki tingkat kerentanan sedang yaitu Kecamatan Cerme (0,54), Kecamatan Driyorejo (0,53), Kecamatan Duduksampeyan (0,57), Kecamatan Kebomas (0,56), Kecamatan Manyar (0,59), Kecamatan Menganti (0,59), dan Kecamatan Panceng (0,58).
Serta terdapat sebelas (11) wilayah kecamatan yang memiliki tingkat kerentanan tinggi yaitu Kecamatan Balongpanggang (0,64), Kecamatan Benjeng (0,63), Kecamatan Bungah (0,62), Kecamatan Dukun (0,69), Kecamatan Gresik (0,61), Kecamatan Kedamean (0,66), Kecamatan Sangkapura (0,62), Kecamatan Sidayu (0,62), Kecamatan Tambak (0,64), Kecamatan Ujungpangkah (0,74), dan Kecamatan Wringinanom (0,66). Rekomendasi Langkah adaptasi untuk mengatasi dampak perubahan iklim pada sektor sumber daya air di Kabupaten Gresik terdiri atas tujuh (7) klaster strategi yang dapat digunakan sebagai acuan bagi pemangku kebijakan untuk membuat program-program prioritas.
Kata kunci: CVI, Gresik, kerentanan, perubahan iklim, sumber daya air, adaptasi
viii
Halaman ini sengaja dikosongkan
ix GRESIK DISTRICT CLIMATE VULNERABILITY STUDY ON THE
AVAILABILITY OF WATER RESOURCES Student Name : Ahmad Nailul Firdaus
NRP : 03211740000072
Department : Environmental Engineering, Faculty of CIVPLAN ITS Advisor : Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.ES., Ph.D
ABSTRACT
Climate change has become a global issue in recent decades. Changes that continue to occur trigger various problems in life. One of the main problems caused by climate change is problems related to water resources. Various efforts have been made by the Indonesian Government to deal with climate change, both commitments in international conferences and climate change adaptation plans outlined in the Climate Change National Adaptation Action Plan 2014. However, in the field of implementation, not many regions have made climate change as one of the considerations in policy making.
In this research, a climate vulnerability study of Gresik Regency was conducted on the availability of water resources. The study includes the calculation of the value of the vulnerability index/Climate Vulnerability Index (CVI) and its adaptation efforts. The method used to determine the CVI is to use the interaction between the parameters of exposure, sensitivity, and adaptive capability. These parameters consist of several components to be analysed, including demographic profile, potential water resources, social relations, access to clean water, socioeconomics, natural disasters, and climate variability. Determination of vulnerability status is done at the sub-district scale. The method used to analyse vulnerability scores is equal weight scoring.
Through this research, it was determined that there are seven (7) sub-districts in Gresik District that have a moderate level of vulnerability, which are Cerme Sub-district (0.54), Driyorejo Sub-district (0.53), Duduksampeyan Sub-district (0.57), Kebomas Sub-district (0.56), Manyar Sub-district (0.59), Menganti Sub-district (0.59), and Panceng Sub-district (0.58). There are eleven (11) sub-districts that have a high level of vulnerability, including Balongpanggang Sub-district (0.64), Benjeng Sub-district (0.63), Bungah Sub-district (0.62), Dukun Sub-district (0.69), Gresik Sub-district (0.61), Kedamean Sub-district (0,66), Sangkapura Sub-district (0.62), Sidayu Sub-district (0.62), Tambak Sub-district (0.64), Ujungpangkah Sub-district (0.74), and Wringinanom Sub-district (0.66). Recommendations for adaptation measures to address the impacts of climate change on the water resources sector in Gresik Regency consist of seven (7) cluster strategies that can serve as guidelines for policy makers to create priority programs.
Keywords: CVI, Gresik, vulnerability, climate change, water resources, adaptation
x
Halaman ini sengaja dikosongkan
xi KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala karunia-Nya sehingga penulis dapat berkesempatan menempuh studi di Departemen Teknik Lingkungan ITS, belajar memahami fenomena lingkungan lebih mendalam, hingga merampungkan studi sarjana dengan Tugas Akhir berjudul “STUDI KERENTANAN IKLIM KABUPATEN GRESIK PADA KETERSEDIAAN SUMBER DAYA AIR” ini.
Perlu diketahui bahwa saat tulisan ini dibuat, konsentrasi CO2 atmosferik bumi sudah mencapai 413,31 ppm (kadar CO2 idealnya berkisar 280 – 350 ppm), yang kemudian berimplikasi pada kenaikan suhu rata-rata bumi sebesar 1,15oC sejak masa pra-industrial (sementara kenaikan 1,5oC adalah ambang batas kritis). Oleh karena hal ini, penulis sangat bersyukur masih dapat menulis di tengah keadaan bumi yang semakin tidak ideal. Tentunya penulisan Tugas Akhir ini tidak mungkin akan rampung tanpa bantuan dan dorongan dari pihak-pihak yang sangat berperan, di antarantya:
1. Ibu, Ayah, dan keluarga saya yang telah menjadi support system utama selama saya menempuh studi dan selalu dapat memahami pilihan-pilihan yang saya ambil.
2. Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.ES., Ph.D, dosen pembimbing saya, yang telah berkenan dan dengan sangat sabar memberikan bimbingan dan motivasi kepada saya selama beberapa semester untuk dapat menyelesaikan tugas akhir ini.
3. Dr. Abdu Fadli Assomadi, S.Si., M.T., Bapak Arry Febrianto, S.Si., M.T., dan Ibu Ainul Firdatun Nisaa, S.T., M.Sc., selaku dosen pengarah dan penguji yang telah memberi masukan, arahan, dan kritik yang dapat mambuat tulisan ini menjadi lebih baik.
4. Ibu-Bapak Dosen dan Karyawan Departemen Teknik Lingkungan ITS yang begitu suportif dan telah memberikan yang terbaik untuk peserta didiknya, termasuk saya.
5. Rekan-rekan seperjuangan di HMTL ITS “Nyala Karya” dan BEM ITS “Unjuk Asa”
yang telah membersamai, menginspirasi, sekaligus memberi banyak perspektif yang telah memicu saya untuk menjadi pribadi lebih baik dan belajar banyak hal.
6. Keluarga Mahasiswa ITS (KM ITS) dan Keluarga Mahasiswa Teknik Lingkungan ITS (KMTL ITS) yang telah memberi saya banyak pengalaman dan tantangan berharga selama masa studi saya di ITS.
7. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI & Beastudi Etos yang telah memberikan bantuan finansial dan character building sehingga saya dapat menempuh studi di Kampus ITS tanpa kendala berarti.
8. Teman-teman Teknik Lingkungan 2017 “ATLAS” yang selalu siap sedia memberikan bantuan dan dukungan selama saya menempuh studi.
9. Ratusan manusia berjasa lainnya yang pernah bertemu, berdiskusi, menginspirasi dan memberikan dukungan selama saya menempuh studi.
Tulisan ini jelas bukanlah tulisan yang sempurna. Masih banyak celah dan kekurangan yang dapat diperbaiki untuk disempurnakan di kemudian hari. Kritik dan saran tentu penulis harapkan agar bisa menjadi koreksi. Terakhir, penulis berharap semakin banyak civitas akademika (khususnya dari TL ITS) yang tertarik dalam riset perubahan iklim. Masyarakat akademik adalah kelompok yang selalu diharapkan dapat memberikan penjelasan dan solusi atas beragam permasalahan, termasuk krisis iklim yang akan menjadi tantangan terbesar umat manusia. Teknik Lingkungan ITS memiliki banyak sumberdaya untuk berperan lebih di bidang ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi keilmuan dan pembaca sekalian. Terima kasih.
Surabaya, Januari 2023 Penulis
xii
Halaman ini sengaja dikosongkan
xiii DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN ORISINALITAS ... v
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... xi
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Permasalahan ... 2
1.3 Tujuan ... 2
1.4 Manfaat ... 2
1.5 Batasan Masalah ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Perubahan Iklim ... 3
2.2 Kaitan Perubahan Iklim dan Sumber Daya Air ... 4
2.3 Profil Wilayah Studi ... 5
2.3.1 Kondisi Iklim dan Meteorologi ... 5
2.3.2 Kondisi Demografi ... 8
2.3.3 Historis bencana alam ... 8
2.3.4 Kebutuhan Air ... 9
2.4 Indeks Kerentanan (Vulnerability Index) ... 9
2.4 Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim ... 10
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 11
3.1 Gambaran Umum ... 11
3.2 Prosedur Penelitian ... 12
3.2.1 Pengumpulan Data ... 15
3.2.2 Analisis Data ... 17
3.2.3 Pembahasan ... 19
3.2.4 Sintesis luaran ... 19
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 21
4.1 Tren Perubahan Iklim Kabupaten Gresik ... 21
4.2 Analisis Indeks Kerentanan ... 22
xiv
4.2.1 Analisis Indeks Keterpaparan (Exposure) ... 22
4.2.2 Analisis Indeks Sensitivitas (Sensitivity)... 30
4.2.3 Analisis Indeks Kapasitas Adaptasi (Adaptive Capacity) ... 36
4.2.4 Sintesis Indeks Kerentanan (CVI) ... 54
4.3 Rekomendasi Strategi Adaptasi ... 60
4.3.1 Klaster Perbaikan/Penyempurnaan Tata Ruang dan Tataguna Lahan ... 60
4.3.2 Klaster Pengelolaan dan Pemanfaatan Kawasan Produktif secara Lestari ... 61
4.3.3 Klaster Peningkatan Tata Kelola Kawasan Konservasi dan Ekosistem Esensial .... 62
4.3.4 Klaster Rehabilitasi Ekosistem yang Terdegradasi ... 62
4.3.5 Klaster Pengurangan Ancaman terhadap Ekosistem ... 63
4.3.6 Klaster Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi ... 63
4.3.7 Klaster Program Pendukung ... 64
BAB V PENUTUP ... 65
5.2 Kesimpulan ... 65
5.2 Saran ... 65
DAFTAR PUSTAKA ... 67
LAMPIRAN ... 70
xv DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Jumlah hari hujan dan rata-rata curah hujan (dalam mm) bulanan Kabupaten Gresik
2016-2019 ... 5
Tabel 2.2 Suhu Rata-Rata Permukaan Kab. Gresik Tahun 1991 – 2021 ... 6
Tabel 2.3 Rata-rata Curah Hujan Tahunan Kab. Gresik Tahun 1991 – 2021 ... 7
Tabel 2.4 Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk kecamatan Tahun 2021 ... 8
Tabel 2.5 Jumlah Desa Per Kecamatan Yang Mengalami Bencana Banjir Kabupaten Gresik Tahun 2019-2021 ... 8
Tabel 3.1 Pertimbangan Pemilihan Kriteria Climate Vulnerability Index... 15
Tabel 3.2 Parameter penilaian Climate Vulnerability Index... 17
Tabel 4.1 Parameter penilaian Indeks Ketepaparan ... 22
Tabel 4.2 Indeks Kelas Bahaya Banjir ... 23
Tabel 4.3 Indeks Kelas Bahaya Kekeringan ... 24
Tabel 4.4 Indeks Kelas Bahaya Cuaca Ekstrem ... 25
Tabel 4.5 Curah hujan kecamatan di Kabupaten Gresik ... 25
Tabel 4.6 Indeks Keterpaparan ... 26
Tabel 4.7 Parameter Penilaian Indeks Sensitivitas ... 31
Tabel 4.8 Presentase Pelayanan Air Perpipaan ... 31
Tabel 4.9 Kepadatan Penduduk Setiap Kecamatan ... 32
Tabel 4.10 Proporsi Profesi Petani ... 33
Tabel 4.11 Indeks Sensitivitas ... 34
Tabel 4.12 Parameter Penilaian Indeks Kapasitas Adaptasi... 37
Tabel 4.13 Rasio Ketergantungan ... 38
Tabel 4.14 Rasio Embung per Desa ... 38
Tabel 4.15 Sungai dan Kelasnya di Kabupaten Gresik ... 41
Tabel 4.16 Karakteristik Gelombang pada Citra Sentinel-2... 43
Tabel 4.17 Nilai Reklasifikasi Vegetasi dan Tutupan Lahan ... 45
Tabel 4.18 Proporsi dan Luas RTH Setiap Kecamatan di Kabupaten Gresik ... 47
Tabel 4.19 Rasio Koperasi per Desa Setiap Kecamatan di Kabupaten Gresik ... 47
Tabel 4.20 PAMSISMAS di Setiap Kecamatan di Kabupaten Gresik ... 48
Tabel 4.21 Nilai Indeks Kapasitas Adaptasi ... 50
Tabel 4.22 Nilai Indeks Kerentanan (CVI) ... 55
Tabel 4.23 Level Kerentanan Setiap Kecamatan... 58
xvi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Tren perubahan suhu daratan dan lautan global 1850 – 2012 ... 3
Gambar 2.2 Proyeksi perubahan iklim pada (a) temperatur permukaan, (b) rata-rata presipitasi, (c) rata-rata kenaikan muka air laut dalam skenario RCP2.6 dan RCP8.5 ... 4
Gambar 2.3 Diagram keterkaitan kegiatan manusia, iklim, dan sumber daya air ... 5
Gambar 3.1 Peta Administrasi Kabupaten Gresik ... 12
Gambar 3.2 Kerangka penelitian ... 14
Gambar 3.3 User Interface QGIS 3.22 ... 19
Gambar 4.1 Tren Suhu Rata-Rata Permukaan Kab. Gresik Tahun 1991-2021 ... 21
Gambar 4.2 Tren Curah Hujan Tahunan Rata-rata Kab. Gresik Tahun 1991-2021 ... 22
Gambar 4.3 Peta Keterpaparan ... 30
Gambar 4.4 Peta Sensitivitas ... 36
Gambar 4.5 Sungai di Kabupaten Gresik diolah dari: Badan Informasi Geospasial, 2021 ... 40
Gambar 4.6 Citra NDVI ... 44
Gambar 4.7 Hasil Reklasifikasi RTH ... 46
Gambar 4.8 Peta Kapasitas Adaptasi ... 54
Gambar 4.9 Profil Kerentanan Tiap Kecamatan ... 57
Gambar 4.10 Peta Kerentanan Setiap Kecamatan ... 59
1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Berbagai literatur dan laporan resmi lembaga nasional maupun internasional menunjukkan bahwa perubahan iklim yang sedang terjadi telah menghasilkan dampak di berbagai sektor kehidupan. Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR) (2009) mengidentifikasi bahwa ada setidaknya 9 (sembilan) sektor yang harus menjadi perhatian Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Sembilan sektor tersebut diantaranya: Sumber daya air, kelautan & perikanan, pertanian, kesehatan, transportasi, kehutanan, industri, energi, dan persampahan. Sektor-sektor tersebut juga telah dikaji dan menjadi salah atu acuan dalam penyusunan RAN-API (Rencana Aksi Nasional – Adaptasi Perubahan Iklim) 2014 yang memuat langkah-langkah strategis Pemerintah Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Salah satu sektor penting yang selalu menjadi perhatian adalah ketersediaan sumber daya air. Hal in relevan dengan fakta bahwa ketersediaan air tawar diproyeksikan berkurang seiring dengan pertumbuhan penduduk dan kenaikan kebutuhan air terus meningkat yang akan mempengaruhi jutaan penduduk pada tahun 2050 (IPCC, 2007). Sebagaimana telah diketahui bahwa air merupakan salah satu kebutuhan esensial bagi manusia, baik untuk kebutuhan domestik, pertanian, industri, dll. Posisi Indonesia yang berada pada garis ekuator akan menghadapi dampak langsung dari perubahan iklim. Kenaikan suhu, perubahan presipitasi, kenaikan muka air laut, dan berbagai kejadian ekstrem yang merupakan ciri dari perubahan iklim akan berdampak pada ketersediaan air di suatu wilayah (Suroso, et al., 2010)
Kabupaten Gresik merupakan salah satu wilayah di Provinsi Jawa Timur yang kerap kali mengalami permasalahan seputar sumber daya air. Menurut informasi dari BPBD Gresik yang dilansir dari beritajatim.com (2021), setidaknya ada 54 desa yang tersebar di 11 kecamatan di wilayah Kabupaten Gresik berpotensi mengalami kekeringan. Permasalahan air bersih di Gresik hampir terjadi setiap tahun dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, akses terhadap air bersih merupakan salah satu agenda Sustainable Development Goals (SDG’s) 2030 yang juga harus diwujudkan oleh pemerintah. Selain itu, beberapa wilayah di Kabupaten Gresik juga seringkali mengalami bencana banjir. Tercatat pada tahun 2021, setidaknya ada empat (4) Kecamatan di Gresik yang mengalami bencana banjir (BPBD Kab. Gresik, 2020). Menurut Synthesis Report IPCC (2014), dampak dari perubahan iklim di antaranya adalah terjadinya kekeringan dan banjir. Dari studi yang sama, perubahan iklim juga diproyeksikan akan meningkatkan risiko cuaca ekstrem, yang berimplikasi terhadap peningkatan risiko banjir dan kekeringan di suatu wilayah.
Fakta bahwa sering terjadi bencana alam yang berkaitan dengan perubahan iklim (climate- related disaster) selama beberapa waktu terakhir pada beberapa wilayah di Kabupaten Gresik dapat menjadi indikasi bahwa Kabupaten Gresik berpotensi rentan terhadap perubahan iklim.
Namun tentu diperlukan studi yang lebih komprehensif untuk memastikan dan menentukan tingkat kerentanan setiap wilayah di Kabupaten Gresik terhadap perubahan iklim. Kajian dan langkah adaptasi perubahan iklim daerah masih terbilang minim di Indonesia, termasuk di Kabupaten Gresik. Padahal menurut Undang-Undang No. 11/2020, daerah wajib menyusun KLHS yang diantaranya terdiri atas kajian kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim. Di samping itu, aspek perubahan iklim juga menjadi agenda prioritas pembangunan dalam RPJMN 2020-2024. Dari urgensi yang ada, dibutuhkan suatu studi ilmiah yang dapat menjadi referensi bagi pemangku kebijakan untuk menyusun strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Penelitian ini akan mengkaji tingkat kerentanan
2
Kabupaten Gresik terhadap perubahan iklim pada ketersediaan sumber daya air serta mengidentifikasi langkah adaptasi perubahan iklim pada sektor tersebut. Diharapkan setelah adanya studi kerentanan ini, dilakukan upaya untuk menekan nilai kerentanan sehingga Kabupaten Gresik memiliki resiliensi terhadap perubahan iklim, terutama pada sektor sumber daya air.
1.2 Rumusan Permasalahan
Rumusan permasalahan dalam tugas akhir ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perkiraan kerentanan dan risiko perubahan iklim terhadap ketersediaan sumber daya air di Kabupaten Gresik?
2. Bagaimana rekomendasi strategi adaptasi untuk menghadapi tantangan perubahan iklim di Kabupaten Gresik pada ketersediaan sumber daya air?
1.3 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam tugas akhir ini adalah sebagai berikut:
1. Menentukan perkiraan kerentanan dan risiko perubahan iklim terhadap ketersediaan sumber daya air di Kabupaten Gresik.
2. Mengidentifikasi rekomendasi strategi adaptasi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim di Kabupaten Gresik pada ketersediaan sumber daya air.
1.4 Manfaat
Manfaat yang didapat dari tugas akhir ini adalah sebagai berikut:
1. Memberikan informasi mengenai tingkat kerentanan dan risiko perubahan iklim pada ketersediaan sumber daya air di Kabupaten Gresik.
2. Menjadi referensi bagi pembuat kebijakan dalam menyusun strategi adaptasi perubahan iklim, khususnya pada ketersediaan sumber daya air.
3. Memberikan rekomendasi kepada pembuat kebijakan untuk mewujudkan kabupaten/kota yang memiliki resiliensi terhadap dampak perubahan iklim.
1.5 Batasan Masalah
Tugas akhir ini memiliki batasan masalah sebagai berikut:
1. Penelitian dilakukan di wilayah Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur.
2. Penelitian dilakukan dengan menganalisis data-data eksisting yang tersedia.
3. Penelitian berfokus pada ketersediaan dan akses terhadap sumber daya air yang ada di Kabupaten Gresik
4. Kriteria yang digunakan untuk menentukan indeks kerentanan adalah keterpaparan, sensitivitas, dan kapasitas adaptasi.
5. Pembobotan indikator keterpaparan, sensitivitas, dan kapasitas adaptasi dilakukan secara merata (equal weighting)
6. Identifikasi strategi adaptasi didasarkan kepada hasil penelitian yang dilakukan.
3 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perubahan Iklim
Iklim merupakan sistem yang paling kompleks dan bervariasi terhadap wilayah (spasial) dan waktu (temporal) (Chakraborty, et al., 2014). Beberapa studi telah membuktikan bahwa iklim dunia mengalami perubahan secara kontinyu. Perubahan iklim telah dikonfirmasi berdasarkan bukti yang tersedia dari observasi seperti peningkatan suhu udara dan lautan global, cairnya gletser dan lapisan es pada wilayah kutub secara komprehensif, dan naiknya permukaan air laut global (IPCC, 2007). Tren kenaikan suhu permukaan bumi dan lautan ditunjukkan pada gambar 2.1. Pemanasan global juga telah menjadi isu yang seringkali dibahas pada pertemuan & konferensi internasional yang kemudian menghasilkan komitmen global dalam upaya menghadapi perubahan iklim.
Gambar 2.1 Tren perubahan suhu daratan dan lautan global 1850 – 2012 Keterangan garis: Coklat (daratan), biru (lautan), hitam (rata-rata)
sumber: IPCC, 2014
IPCC (2007) mendefinisikan perubahan iklim sebagai perubahan pada iklim yang dapat diidentifikasi (menggunakan uji statistik) dari perubahan rata-rata atau variabilitas beberapa komponennya, dan bertahan pada periode yang panjang (dekade atau lebih). Singh (2007) menyatakan bahwa perubahan iklim merupakan variasi dan perubahan pada kondisi cuaca dalam ruang dan waktu pada skala dan ukuran yang berbeda, yang menghasilkan perubahan tipe iklim seperti tipe iklim hangat dan lembap ke tipe iklim hangat dan kering, atau hangat dan lembap ke tipe iklim dingin dan lembap. Perubahan iklim dapat terjadi karena proses natural-internal maupun dorongan faktor eksternal seperti perubahan antropogenik pada komposisi atmosfer atau perubahan tata guna lahan (IPCC, 2007).
Kondisi iklim diproyeksikan akan terus mengalami perubahan. Berbagai skenario telah dilakukan untuk mengidentifikasi sejauh mana perubahan iklim dan langkah apa yang seharusnya dilakukan untuk menghadapinya. Dalam hal ini, Intergovernmental Panel of Climate Change (IPCC) memiliki hasil kajian berupa forecast kondisi perubahan iklim dalam berbagai skenario. Gambar 2.2 menunjukkan proyeksi perubahan iklim global dengan skenario RCP2.6 (mitigasi ketat) dan RCP8.5 (emisi GRK tinggi/business as usual). Gambar tersebut menunjukkan jika populasi melakukan business as usual tanpa ada upaya mitigasi terhadap perubahan iklim, temperatur rata-rata bumi akan mengalami kenaikan sebesar 3,5 oC atau lebih, ekstremisitas cuaca yang semakin intens, serta berimbas pula pada kenaikan muka
4
air laut. Hal ini kemudian akan menimbulkan berbagai dampak (yang sudah terlihat maupun yang terproyeksikan), di antaranya: (1) dampak yang menyebar terhadap ekosistem, manusia, tempat tinggal, dan infrastruktur, (2) kerusakan substantial yang bersifat ireversibel, (3) berkurangnya makanan dan sumber daya air, (4) Kesehatan fisik maupun mental, (5) kehidupan dan infrastruktur kawasan urban, (6) kerugian ekonomi, (7) krisis kemanusiaan jika bahaya iklim berhadapan dengan tingginya kerentanan masyarakat (IPCC, 2022).
Dari gambar 2.2 juga dapat dilihat bahwa perubahan iklim akan terus terjadi walaupun jika sudah dimitigasi secara ketat. Namun upaya mitigasi yang ketat dapat menurunkan laju perubahan iklim, sehingga dampak turunannya dapat ditekan lebih kecil dan dapat lebih dimitigasi.
Gambar 2.2 Proyeksi perubahan iklim pada (a) temperatur permukaan, (b) rata-rata presipitasi, (c) rata-rata kenaikan muka air laut dalam skenario RCP2.6 dan RCP8.5
Sumber: IPCC, 2014 2.2 Kaitan Perubahan Iklim dan Sumber Daya Air
Siklus hidrologi sangat terkait dengan perubahan suhu atmosfer dan neraca radiasi.
Perubahan iklim yang diamati selama beberapa dekade terakhir secara konsisten diasosiasikan dengan perubahan jumlah komponen siklus hidrologi dan sistem hidrologi seperti: perubahan pola presipitasi, intensitas dan ekstremisitas, persebaran pencairan es dan salju, meningkatnya uap air atmosfer, peningkatan laju evaporasi, dan perubahan kelembapan dan limpasan tanah (IPCC, 2008). Iklim dan sumber daya air juga sangat terkait dengan kegiatan manusia.
Kundzewicz et al. (2007) menyebutkan bahwa penduduk, gaya hidup, ekonomi, dan teknologi
5 akan mempengaruhi emisi gas rumah kaca, penggunaan lahan, dan kebutuhan makanan.
Aktivitas tersebut memerlukan air yang secara signifikan dapat mempengaruhi siklus hidrologi seperti yang digambarkan pada diagram berikut.
Gambar 2.3 Diagram keterkaitan kegiatan manusia, iklim, dan sumber daya air Sumber: Kundewicz et al., 2007
2.3 Profil Wilayah Studi
Kabupaten Gresik terletak di sebelah Barat Laut Kota Surabaya dengan luas wilayah 1.191,25 km2. Secara administratif, Kabupaten Gresik terbagi menjadi 18 Kecamatan terdiri dari 330 Desa dan 26 Kelurahan. Sedangkan secara geografis, wilayah Kabupaten Gresik terletak antara 1120 sampai 1130 Bujur Timur dan 70 sampai 80 Lintang Selatan merupakan dataran rendah dengan ketinggian 2 sampai 12 meter di atas permukaan air laut, kecuali Kecamatan Panceng yang mempunyai ketinggian 25 meter di atas permukaan air laut.
Sebagian wilayah Kabupaten Gresik merupakan daerah pesisir pantai dengan panjang pantai 140 km yang terdiri dari 69 km di daratan Pulau Jawa memanjang mulai dari Kecamatan Kebomas, Gresik, Manyar, Bungah, Sidayu, Ujungpangkah, dan Panceng serta 71 km di Kecamatan Sangkapura dan Tambak yang berada di Pulau Bawean Wilayah Kabupaten Gresik sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Selat Madura dan Kota Surabaya, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Mojokerto, serta sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lamongan.
2.3.1 Kondisi Iklim dan Meteorologi
Kabupaten Gresik memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau.
Curah hujan di wilayah Kabupaten Gresik pada tahun 2016-2019 berkisar antara 0 – 404 mm setiap bulannya. Data time series mengenai curah hujan dan jumlah hari hujan bulanan pada Kabupaten Gresik pada tahun 2016-2019 disajikan pada Tabel 2.1 berikut.
Tabel 2.1 Jumlah hari hujan dan rata-rata curah hujan (dalam mm) bulanan Kabupaten Gresik 2016-2019
Bulan
2016 2017 2018 2019 2020 2021
HH CH
(mm) HH CH
(mm) HH CH
(mm) HH CH
(mm) HH CH
(mm) HH CH (mm) Januari 11 224 15 220 15 296,1 18 330,5 24 589,9 27 732,7 Februari 16 308 13 290 13 273,9 13 260,5 24 400 17 114,5 Maret 10 266 11 298 14 250,6 17 404 19 163,8 16 93,7
April 9 224 10 223 6 177,3 13 256,33 23 235,6 9 117,5
Mei 9 266 5 199 1 41,3 4 95,16 21 298,8 9 99,9
6 Bulan
2016 2017 2018 2019 2020 2021
HH CH
(mm) HH CH
(mm) HH CH
(mm) HH CH
(mm) HH CH
(mm) HH CH (mm) Juni 8 238 4 169 2 133,3 - 9 10 115,4 13 112
Juli 4 224 2 178 - - - - 10 51,8 3 9,8
Agustus 2 140 - - - - - - 6 19,7 2 8,3
September 4 266 - - - - - - 5 2 8 213,8
Oktober 7 322 3 261 1 142 - - 12 84,5 9 260,3 November 10 224 9 370 8 317,1 4 60,33 17 239,7 21 467,7 Desember 11 224 13 178 11 311,3 7 149,5 27 543,1 24 255,8 Ket: HH = Hari Hujan
CH = Curah Hujan
Sumber: BPS Kabupaten Gresik, 2017 – 2022
Fenomena perubahan iklim di Kabupaten Gresik dapat diamati dari tahun ke tahun (annually) melalui data historis iklim 30 tahun ke belakang. Adapun data historis faktor iklim berupa curah hujan tahunan dan rata-rata suhu permukaan diperoleh dari situs open source https://power.larc.nasa.gov yang dapat dilihat datanya pada tabel 2.2 berikut.
Tabel 2.2 Suhu Rata-Rata Permukaan Kab. Gresik Tahun 1991 – 2021 Tahun Suhu Rata-rata Permukaan (OC)
1991 28,88
1992 28,64
1993 28,8
1994 28,83
1995 28,55
1996 28,96
1997 28,88
1998 28,76
1999 28,62
2000 28,55
2001 28,69
2002 29,3
2003 29,17
2004 29,08
2005 29,02
2006 29
2007 29,06
2008 28,87
2009 29,25
2010 28,33
2011 28,55
2012 29
2013 28,6
2014 29,03
2015 29,04
7 Tahun Suhu Rata-rata Permukaan (OC)
2016 28,68
2017 28,87
2018 29,26
2019 29,65
2020 29,15
2021 28,88
Sumber: power.larc.nasa.gov
Tabel 2.3 Rata-rata Curah Hujan Tahunan Kab. Gresik Tahun 1991 – 2021 Tahun Curah Hujan Tahunan (mm)
1991 1508,2
1992 1919,53
1993 1587,3
1994 1418,55
1995 1919,53
1996 1587,3
1997 1260,35
1998 2467,97
1999 1618,95
2000 1471,29
2001 1750,78
2002 1160,16
2003 1597,85
2004 1750,78
2005 1560,94
2006 1613,67
2007 1418,55
2008 1545,12
2009 1655,86
2010 2726,37
2011 1966,99
2012 1534,57
2013 2436,33
2014 1792,97
2015 1661,13
2016 2541,8
2017 2035,55
2018 1582,03
2019 1566,21
2020 2404,69
2021 2413,68
Sumber: power.larc.nasa.gov
8
2.3.2 Kondisi Demografi
Kondisi demografi Kabupaten Gresik ditampilkan dengan mengetahui jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk. Data mengenai jumlah penduduk tahun 2020 dan pertumbuhannya pada setiap kecamatan di Kabupaten Gresik dapat dilihat pada tabel 2.4 di bawah ini.
Tabel 2.4 Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk kecamatan Tahun 2021 Kecamatan Penduduk (jiwa) Laju Pertumbuhan Penduduk (%)
Wringinanom 73347 0,52
Driyorejo 122562 -0,11
Kedamean 61563 0,42
Menganti 146160 1,11
Cerme 82189 0,9
Benjeng 63181 0,4
Balongpanggang 53971 0,39
Duduksampeyan 47220 0,26
Kebomas 119432 0,53
Gresik 76077 -0,27
Manyar 119863 0,33
Bungah 65852 0,64
Sidayu 43623 0,23
Dukun 63387 0,77
Panceng 51556 1,53
Ujungpangkah 49530 0,88
Sangkapura 50928 0,47
Tambak 30129 1,14
Kab. Gresik 1320570 0,56
Sumber: BPS Kabupaten Gresik, 2022 2.3.3 Historis bencana alam
Bencana alam yang seringkali melanda Kabupaten Gresik adalah banjir dan kekeringan di beberapa daerah. Data mengenai historis bencana alam banjir pada setiap kecamatan di Kabupaten Gresik dapat dilihat pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5 Jumlah Desa Per Kecamatan Yang Mengalami Bencana Banjir Kabupaten Gresik Tahun 2019-2021
Kecamatan Jumlah Desa 2019 2020 2021
Wringinanom 1 1 -
Driyorejo 2 5 4
Kedamean 3 1 1
Menganti 7 4 4
Cerme 6 18 17
Benjeng 9 11 17
Balongpanggang 10 8 6
Duduksampeyan - - -
Kebomas 2 3 5
9 Kecamatan Jumlah Desa
2019 2020 2021
Gresik - 1 5
Manyar 1 - 1
Bungah 6 1 2
Sidayu - - -
Dukun - - -
Panceng - - -
Ujungpangkah 1 - -
Sangkapura - - -
Tambak - -
Kabupaten Gresik 48 53 62 Sumber: BPS Kabupaten Gresik, 2022
Dari tabel di atas terlihat bahwa terdapat setidaknya 12 kecamatan di Kabupaten Gresik yang mengalami bencana banjir dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Dengan wilayah Gresik bagian selatan yang dilalui Sungai Kali Lamong mengalami banjir yang lebih parah dibanding wilayah lainnya. Kecamatan yang dilalui aliran Kali Lamong tersebut adalah Kecamatan Wringinanom, Driyorejo, Kedamean, Menganti, Cerme, Benjeng, Balongpanggang, dan Kebomas. Adapun wilayah Gresik bagian utara yang dilalui Sungai Bengawan Solo juga mengalami bencana banjir yang relatif lebih kecil, yaitu Kecamatan Manyar, Bungah, dan Ujungpangkah. Secara keseluruhan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, Kabupaten Gresik mengalami kenaikan jumlah desa yang terdampak banjir, yaitu 48 desa di 2019, 53 desa di 2020, hingga 62 desa di 2021.
2.3.4 Kebutuhan Air
Kebutuhan air pada kabupaten Gresik secara umum meliputi kebutuhan air domestik, pertanian, dan industri. Sumber air yang digunakan meliputi air yang bersumber dari PDAM Giri Tirta Kabupaten Gresik, air tanah, dan aliran sungai. Kabupaten Gresik dilalui oleh DAS Brantas (Kalimas) & DAS Kali Lamong di sisi selatan dan DAS Bengawan Solo di sisi utara.
Kebutuhan untuk keperluan pertanian disuplai dari air sungai dan air tanah. Kebutuhan untuk industri disuplai dari PDAM. Sedangkan kebutuhan untuk domestik disuplai dari PDAM dan air tanah bagi daerah yang tidak terlayani PDAM.
2.4 Indeks Kerentanan (Vulnerability Index)
Kerentanan telah banyak didefinisikan ke dalam beberapa pandangan sesuai konteksnya.
Terdapat metode pengukuran kerentanan yang disesuaikan dengan konteksnya. Beberapa di antaranya adalah SVI (Social Vulnerability Index), EVI (Environmental Vulnerability Index), serta yang digunakan dalam penelitian ini yaitu CVI (Climate Vulnerability Index). CVI digunakan dalam penelitian ini karena indeks ini memiliki indikator yang paling sesuai untuk menganalisis korelasi perubahan iklim dan kerentanan masyarakat jika dibandingkan dengan indeks lainnya.
Dalam konteks perubahan iklim, kerentanan dapat didefinisikan sebagai kecenderungan suatu wilayah mengalami dampak negatif dari suatu dampak perubahan iklim (bencana) (IPCC, 2014). Kerentanan terhadap perubahan iklim dikuantifikasikan dalam sebuah nilai/indeks yang dinamakan indeks kerentanan perubahan iklim/Climate Vulnerability Index (CVI). CVI menyajikan pendekatan yang realistis untuk mengetahui kerentanan perubahan iklim dari faktor sosial maupun faktor alam (Pandey & Jha, 2012). Pendekatan yang
10
digunakan di dalam CVI mempertimbangkan kondisi sosial dan kondisi alam yang sedang terjadi di masyarakat, untuk kemudian ditentukan indeks kerentanan suatu wilayah terhadap perubahan iklim. Komponen yang dinilai dalam CVI meliputi berbagai komponen yang mencakup 3 aspek, yaitu keterpaparan (exposure), sensitivitas (sensitivity), dan kapasitas adaptasi (adaptive capacity).
Vulnerability = f(Exposure, Sensitivity, Adaptive capacity)
Kerentanan ditentukan oleh keterpaparan sensitivitas dan kurangnya kapasitas adaptasi.
Menurut DAI (2018), keterpaparan (exposure) adalah keberadaan manusia, mata pencaharian, spesies/ekosistem, fungsi lingkungan hidup, infrastruktur atau aset ekonomi sosial dan budaya, di dalam wilayah yang terlanda ancaman bencana. Sensitivitas (sensitivity) adalah potensi tingkat kerusakan dan kehilangan suatu sistem bila mengalami bencana tertentu.
Sensitivitas tergantung pada jenis ancamannya, daerah yang sensitif terhadap banjir belum tentu sensitif terhadap kekeringan. Kapasitas adaptasi (adaptive capacity) adalah potensi atau kemampuan suatu sistem untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim termasuk variabilitas iklim dan iklim ekstrem, sehingga potensi kerusakanya dapat dikurangi atau dicegah. Ketiga komponen tersebut saling berinteraksi untuk kemudian ditentukan nilai CVI- nya. Vulnerability berkorelasi positif dengan exposure dan sensitivity, serta berkorelasi negatif dengan adaptive capability (Ford & Smit, 2004). Komponen yang relevan dengan wilayah studi dan perihal yang ingin dikaji akan menjadi komponen yang diperhitungkan dalam menentukan nilai CVI. Komponen beserta metode perhitungan CVI lebih lanjut dijelaskan pada BAB III.
2.4 Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim
Upaya adaptasi merupakan penyesuaian dalam sistem ekologi, sosial dan ekonomi dalam merespon dampak perubahan iklim yang sudah terjadi atau yang diramalkan akan terjadi. Hal ini mengacu pada proses, praktik, dan struktur untuk mengurangi potensi kerugian dan mengambil keuntungan dari perubahan yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Pada dasarnya, upaya adaptasi untuk merespon perubahan iklim seringkali berkaitan dengan pengurangan kerentanan (Bappenas, 2014). Sedangkan mitigasi dalam konteks perubahan iklim dapat diartikan sebagai hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi gas rumah kaca di atmosfer. Adaptasi dan mitigasi saling berkaitan dalam upaya untuk meningkatkan resiliensi (ketahanan) suatu sistem terhadap dampak dari perubahan iklim. Pemahaman mengenai hal ini dapat memberikan acuan untuk mengarahkan dan mengalokasikan sumber daya serta membangun kapasitas masyarakat pada tingkat lokal, regional, maupun nasional.
Dengan memperhatikan pengertian adaptasi perubahan iklim serta tujuannya, adaptasi dapat dikatakan sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan (resiliensi) suatu sistem terhadap dampak perubahan iklim. Sehingga menurut RAN-API 2014, adaptasi perubahan iklim di Indonesia diarahkan sebagai:
1. Upaya penyesuaian dalam bentuk strategi, kebijakan, pengelolaan/manajemen, teknologi dan sikap agar dampak (negatif) perubahan iklim dapat dikurangi seminimal mungkin, dan bahkan jika memungkinkan dapat memanfaatkan dan memaksimalkan dampak positifnya.
2. Upaya mengurangi dampak (akibat) yang disebabkan oleh perubahan iklim, baik langsung maupun tidak langsung, baik kontinu maupun diskontinu dan permanen serta dampak menurut tingkatnya.
11 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Gambaran Umum
Penelitian ini memiliki beberapa tahapan mulai dari penentuan parameter, pengumpulan data, analisis & pemrosesan data, hingga didapat sebuah kesimpulan studi. Langkah pertama adalah menentukan parameter yang diperlukan untuk melakukan analisis data. Dalam penelitian ini, ditentukan aspek kerentanan, komponen, dan kriteria. Aspek kerentanan adalah tiga hal yang mempengaruhi kerentanan, yaitu keterpaparan (exposure), sensitivitas (sensitivity), dan kapasitas adaptasi (adaptive capacity). Komponen adalah parameter turunan dari aspek kerentanan yang akan digunakan sebagai baseline dalam perhitungan indeks kerentanan. Sedangkan kriteria adalah parameter dari komponen yang akan digunakan untuk menilai indeks kerentanan berdasarkan data-data yang akan dikumpulkan. Tahap selanjutnya adalah pengumpulan data. Data yang digunakan pada penelitian ini didapat dari sumber sekunder yang diperoleh dari lembaga pemerintahan setempat serta institusi lain yang kredibel. Data-data yang dikumpulkan adalah data-data yang diperlukan untuk menilai kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Selanjutnya ditentukan indeks kerentanan dan risiko perubahan iklim terhadap ketersediaan sumber daya air (SDA) pada wilayah studi sesuai dengan metode analisis yang telah ditentukan. Terakhir, berdasarkan indeks kerentanan yang telah dihitung, dibuat peta kerentanan serta dilakukan identifikasi strategi adaptasi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim di wilayah studi.
Adapun wilayah studi yang digunakan pada penelitian ini meliputi seluruh wilayah Kabupaten Gresik yang terdiri dari delapan belas (18) kecamatan. Dua Kecamatan di antaranya adalah Kecamatan Tambak dan Sangkapura yang terletak di Pulau Bawean.
Sedangkan enam belas (16) kecamatan lainnya berada di Pulau Jawa. Adapun peta wilayah studi terdapat pada Gambar 3.1. Level penilaian kerentanan ditentukan dalam skala kecamatan, sehingga data-data yang dianalisis pun merupakan data-data dengan level kecamatan.
Luaran dari studi ini menghasilkan sebuah perkiraan kerentanan (vulnerability projection) berupa peta kerentanan yang akan memperlihatkan perbandingan risiko yang dimiliki oleh tiap-tiap kecamatan di Kabupaten Gresik. Risiko yang diamati dalam penelitian ini adalah risiko kerentanan ketersediaan sumber daya air berikut aksesibilitasnya. Dari perkiraan kerentanan dan risiko tersebut juga ditentukan rekomendasi strategi adaptasi perubahan iklim pada sektor sumber daya air yang dapat dijadikan sebagai dasar penentuan kebijakan penanganan fenomena perubahan iklim di Kabupaten Gresik
12
Gambar 3.1 Peta Administrasi Kabupaten Gresik sumber: Pemerintah Kabupaten Gresik, 2015
3.2 Prosedur Penelitian
Prosedur penilitian studi kerentanan ini terdiri atas beberapa tahapan. Tahapan tersebut meliputi kegiatan pengumpulan data, analisis data, hingga pembahasan data menggunakan pemodelan matematik dan pemetaan (mapping). Tahapan penelitian digambarkan dalam kerangka penelitian yang disajikan pada Gambar 3.2.
13
14
Gambar 3.2 Kerangka penelitian
15 3.2.1 Pengumpulan Data
Data yang dibutuhkan pada penelitian ini terdiri atas data wilayah Kabupaten Gresik yang terkait dengan komponen dan kerentanan. Data-data tersebut bersumber dari badan pemerintahan terkait maupun lembaga lain yang kredibel. Adapun data yang diperlukan namun tidak tersedia secara langsung akan diolah terlebih dahulu menggunakan pendekatan analisis.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data seputar kapasitas adaptasi (profil demografi, dan hubungan sosial), sensitivitas (akses air bersih dan sosio-ekonomi), serta keterpaparan (bencana alam dan variabilitas iklim). Dari semua aspek dan komponen tersebut kemudian ditentukan kriteria yang dalam hal ini merupakan data yang diperlukan untuk kemudian dilakukan penilaian/skoring. Berikut adalah kriteria-kriteria yang digunakan dalam penelitian ini beserta pertimbangan pemilihan kriterianya.
Tabel 3.1 Pertimbangan Pemilihan Kriteria Climate Vulnerability Index No. Komponen Kriteria Pertimbangan
I
Kapasitas Adaptasi
Profil Demografi
Rasio
Ketergantungan
Rasio Ketergantungan (dependency ratio) menunjukkan adalah perbandingan antara jumlah penduduk umur 0-14 tahun, ditambah dengan jumlah penduduk 65 tahun ke atas (keduanya disebut dengan bukan angkatan kerja) dibandingkan dengan jumlah pendduk usia 15-64 tahun (angkatan kerja).
Menurut Aprilia dan Triani (2022), rasio ketergantungan berkorelasi positif dengan tingkat kemiskinan dan kemampuan adaptasi kelompok masyarakat. Hal ini kemudian menjadi penting sebagai salah satu kriteria mengukur kapasitas adaptasi suatu masyarakat termasuk untuk fenomena perubahan iklim.
Potensi Sumber Daya Air
Ketersediaan waduk/embung
Waduk/embung memiliki fungsi sebagai penampung cadangan air saat musim penghujan, mengurangi risiko air, menyediakan kebutuhan air baku untuk masyarakat maupun irigasi (Hartono, 2020). Dalam konteks perubahan iklim, adanya waduk/embung dapat menjadi jarring pengaman apabila terjadi cekaman oleh pengaruh iklim yang mengakibatkan kurangnya ketersediaan air.
Ketersediaan sungai dan kualitasnya
Sungai memiliki peranan vital utuk menyediakan sumber kebutuhan air bagi masyarakat Kabupaten Gresik. Adanya sungai dengan kualitas baik dapat menunjang ketersediaan air di suatu wilayah (RPJMD Kab. Gresik 2021 – 2026, 2021)
Proporsi Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka hijau memiliki fungsi ekologis diantaranya dapat mengurangi genangan dan banjir sekaligus menyimpan air, baik air permukaan yang tertahan maupun air tanah karena infiltrasi (Lusiyanawati, 2017). Hal ini dapat menunjang potensi sumber daya air di suatu kawasan.
16
No. Komponen Kriteria Pertimbangan
Hubungan Sosial
Rata-rata jumlah koperasi per desa
Adanya koperasi yang aktif dapat menjadi salah satu indikator untuk menakar hubungan antar- masyarakat di suatu wilayah. Hubungan sosial ini berkorelasi positif dengan kapasitas adaptasi suatu kelompok masyarakat apabila terjadi fenomena tertentu termasuk perubahan iklim. (Sutikno dan Hakim, 2016)
Masyarakat
pengelola air bersih
Adanya kelompok masyarakat yang mengelola air bersih di suatu wilayah dapat menjadi salah faktor penunjang kapasitas adaptasi apabila terjadi hal-hal tertentu yang berkaitan dengan akses air bersih.
(Swastomo dan Iskandar, 2021)
II
Sensitivitas
Akses Air Bersih
Persen rumah tangga tidak terlayani akses air perpipaan
Akses air perpipaan mempengaruhi seberapa sensitif suatu kelompok masyarakat bilamana terjadi kekeringan maupun kesulitan akses air bersih yang diakibatkan oleh faktor-faktor lain (Didovetz dkk, 2020)
Sosio-ekonomi
Kepadatan penduduk
Kepadatan penduduk menunjukkan bagaimana tingkat permintaan (demand) suatu wilayah terhadap air bersih. Di sini tidak digunakan kriteria jumlah penduduk karena faktor luas wilayah juga berpengaruh terhadap ketersediaan air. Makin luas wilayah, makin besar potensi serapan cadangan air (Kumari dan Wijesekerta, 2017).
Proporsi masyarakat yang bergantung pada pertanian
Pertanian konvensional merupakan salah satu sektor yang langsung terdampak apabila terjadi variabilitas iklim (IPCC, 2022). Pertanian sangat bergantung pada aspek iklim seperti curah hujan, lama penyinaran sinar matahari, temperature, dan sebagainya.
III
Keterpaparan
Bencana alam
Kelas indeks bahaya kekeringan
Semakin sering suatu wilayah terkena kekeringan, semakin rawan wilayah tersebut terhadap akses kebutuhan air bersih (Ogunbode dan Ifabiyi, 2019) Kelas indeks bahaya
banjir
Risiko banjir yang tinggi berimplikasi terhadap sulitnya akses terhadap air bersih. Banjir dapat mengakibatkan erosi permukaan tanah, membawa sedimen, mengkontaminasi sumber air bersih, dan sebagainya (Tabari, 2020).
Kelas indeks bahaya cuaca ekstrem
Cuaca ekstrem dapat berpengaruh terhadap air bersih. Cuaca ekstrem mempengaruhi seberapa intens presipitasi serta seberapa besar potensi evapotranspirasi akibat pengaruh panas matahari.
(Clarke dkk, 2022) Variabilitas
iklim Curah hujan tahunan
Semakin tinggi curah hujan tahunan, semakin besar potensi tersedianya cadangan air (Ogunbode dan Ifabiyi, 2019). Dalam kasus ini, curah hujan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan bencana banjir yang mempengaruhi akses terhadap air bersih.
17 3.2.2 Analisis Data
Dalam analisis CVI, digunakan parameter berikut untuk menilai indeks dari masing- masing komponen. Analisis sub-komponen CVI nantinya dilakukan dalam skala kecamatan.
Untuk memperoleh nilai indeks masing-masing, terlebih dahulu dilakukan skoring untuk setiap indikator. Skoring bertujuan untuk menormalisasi data dan didasarkan pada penelitian- penelitian sebelumnya. Kelas interval yang digunakan untuk skoring didasarkan pada standar umum sesuai aturan yang berlaku atau menggunakan pendekatan penentuan skala interval sebagai berikut:
Dimana:
i = skala interval
R = selisih skor maksimum dan minimum N = banyaknya kelas penilaian yang dibentuk
Setelah dilakukan skoring dan penilaian, kemudian dapat dihitung indeks masing-masing (Keterpaparan, Sensitivitas, dan Kapasitas Adaptasi) dengan persamaan berikut.
Indeks = Σ 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚
Tabel 3.2 menunjukkan parameter penilaian yang digunakan dalam penilaian indeks kerentanan. Parameter ini juga dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 3.2 Parameter penilaian Climate Vulnerability Index
Aspek Komponen Kriteria Level Skor Keterangan Sumber
Kapasitas adaptasi
Profil Demografi
(PD)
Rasio ketergantungan
<50% 5 Rasio
populasi usia dibawah 14
dan di atas 65 terhadap
usia 14–65
BPS Kab.
Gresik
50%-60% 4
60%-70% 3
70%-80% 2
>80% 1
Potensi Sumber Daya Air
(SDA)
Ketersediaan waduk/embung
> jumlah desa 5
-
BPS Kab.
Gresik, Dinas PUTR Kab.
Gresik
= jumlah desa 3
< jumlah desa 1
Ketersediaan sungai dan kualitasnya
Terdapat sungai
kelas I 5
Kelas sungai sesuai Peraturan Gubernur
DLH Kab.
Gresik Terdapat sungai
kelas II 4 Terdapat sungai
kelas III 3 Terdapat sungai
kelas IV 2 Tidak dilalui
sungai 1
Proporsi Ruang Terbuka Hijau
>30% 5
- Citra
spasial 22,5%-30% 4
15%-22,5% 3
18
Aspek Komponen Kriteria Level Skor Keterangan Sumber
7,5%-15% 2
<7,5% 1
Hubungan Sosial (HS)
Rata-rata jumlah koperasi per
desa
> 1 5
- BPS Kab.
Gresik
= 1 3
< 1 1
Masyarakat pengelola air
bersih
Terdapat 1
setiap desa 5
HIPPAM dan sejenisnya
BPS Kab.
Gresik Ada kelompok
pengelola 3 Tidak ada sama
sekali 1
Sensitivit as
Akses Air Bersih
(AB)
Persen rumah tangga tidak terlayani akses
air perpipaan
80-100% 5
- PDAM
Giri Tirta
60-80% 4
40-60% 3
20-40% 2
0-20% 1
Sosio- Ekonomi
(SE)
Kepadatan Penduduk
>1000 jiwa/km2 5
Penduduk/k m2
BPS Kab.
Gresik 500-1000
jiwa/km2 3
<500 jiwa/km2 1 Proporsi
masyarakat yang bergantung pada
pertanian
>50% 5
Pekerja pertanian/tot
al pekerja
BPS Kab.
Gresik 37,5-50% 4
25-37,5% 3 12,5-25% 2
0-12,5% 1
Keterpap aran
Bencana alam (BA)
Kelas indeks bahaya banjir
- 5
-
BPBD Kab.
Gresik
- 3
- 1
Kelas indeks bahaya kekeringan
- 5
-
BPBD Kab.
Gresik
- 3
- 1
Kelas indeks bahaya cuaca
ekstrem
- 5
-
BPBD Kab.
Gresik
- 3
- 1
Variabilitas iklim (VI)
Curah hujan tahunan
<1500 mm 5
- BMKG
>2500 mm 3 1500-2500 mm 1
Kemudian setelah didapat masing-masing nilai keterpaparan, sensitivitas, dan kapasitas adaptasi, dapat diketahui nilai CVI berdasarkan persamaan berikut ini.
CVI = Keterpaparan+Sensitivitas+(1−Kapasitas Adaptasi) 3
19 Persamaan di atas mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Swami dan Parthasarathy (2021), dimana persamaan tersebut telah sesuai dengan logika penilaian indeks kerentanan (CVI). Indeks Kerentanan berkorelasi positif dengan indeks Keterpaparan dan Sensitivitas, serta berkorelasi negatif dengan indeks Kapasitas Adaptasi. Indeks kerentanan akan semakin tinggi jika nilai indeks Keterpaparan atau Sensitivitas semakin tinggi. Sedangkan Indeks kerentanan akan semakin rendah jika indeks Kapasitas Adaptasi semakin tinggi. Dalam penelitian ini, bobot ketiga indeks disamaratakan, maka perlu untuk dibagi tiga (3) untuk mendapatkan nilai Indeks Kerentanan.
3.2.3 Pembahasan
Pembahasan dilakukan dengan melakukan studi dari data yang udah dianalisis menggunakan metode yang telah ditetapkan, lalu membandingkan dengan data aktual. Hal-hal yang bersifat anomali (penyimpangan) dapat dijelaskan menggunakan teori atau penelitian sejenis yang telah dilakukan sebelumnya. Pembahasan yang dilakukan mengenai nilai CVI serta kaitannya dengan ketersediaan sumber daya air. Dari pembahasan yang dilakukan, kemudian dilakukan sintesis berupa pemetaan kerentanan iklim terhadap sumber daya air pada wilayah studi.
3.2.4 Sintesis luaran
Luaran pada penelitian ini indeks kerentanan setiap kecamatan di Kabupaten Gresik pada aspek sumber daya air. Visualisasi perkiraan dampak dan risiko dilakukan dengan cara membuat peta tematik kerentanan Kabupaten Gresik melalui software QGIS 3.22. Melalui peta kerentanan tersebut, dapat dirumuskan strategi adaptasi perubahan iklim pada setiap wilayah kecamatan yang memiliki indeks kerentanan tinggi.
Gambar 3.3 User Interface QGIS 3.22
20
Halaman sengaja dikosongkan