• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 9 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 9 Universitas Kristen Petra"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

9

Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI 2.1. Landasan Teori

2.1.1. Orientasi Etis Idealisme dan Relativisme

Pengertian orientasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2015) adalah : 1. peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yg tepat dan benar; 2. pandangan yg mendasari pikiran, perhatian atau kecenderungan.

Sedangkan etis diambil dari kata etika dimana etika (etimologi), berasal dari bahasa Yunani ”Ethos” yang berarti watak kesusilaan atau adat. Identik dengan perkataan moral yang berasal dari kata lain “Mos” yang dalam bentuk jamaknya

“Mores” yang berarti juga adat atau cara hidup (Zubair, 1987:13). Etis Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: 1. hal yang berhubungan/sesuai dengan etika; 2. Perbuatan yang sesuai dengan asas perilaku yang disepakati secara umum.

Beberapa definisi mengenai orientasi etis yang dikemukakan para ahli antara lain:

1. Jones et al., (2003) mendefinisikan orientasi etis sebagai pandangan yg mendasari pikiran yang digunakan seseorang dalam pengambilan keputusan etis seperti pandangan tentang keadilan dan kejujuran, tugas dan tanggungjawab, dan kepentingan pribadi. (dalam Namagembe, Jones, 2012)

2. Higgins dan Kelleher (2005) mendefinisikan orientasi etis sebagai alternatif pola perilaku untuk menyelesaikan dilema etika

3. Forsyth (1980) mendefinsikan orientasi etis sebagai anggapan, gagasan, dan sikap batin yg paling dasar yg dimiliki oleh orang atau masyarakat (pandangan hidup) yang menentukan reaksi individu dari segi emosi, pendapat dan tindakan dalam menanggapi persoalan etis. Pandangan hidup tersebut didasari 2 hal yaitu relativisme dan idealisme. Orientasi etis yang pertama adalah idealisme. Idealisme adalah sebuah pandangan dimana seseorang percaya bahwa konsekuensi yang diinginkan (konsekuensi positif) dalam melakukan suatu tindakan dapat terjadi tanpa melanggar kaidah moral dan merugikan pihak lainnya adalah suatu hal yang harus dihindari (Elias, 2002). Orang dengan idealisme tinggi memiliki kepercayaan terhadap prinsip moral, norma atau hukum dan menggunakan

(2)

10

Universitas Kristen Petra

prinsip-prisip tersebut untuk menunjukkan kepada mereka mana yang benar atau salah.

Orientasi etis yang kedua adalah relativisme. Menurut Freeman dan Gilbert (1988) relativisme adalah sebuah pandangan seseorang bahwa keputusan moral sangat personal, kompleks dan merupakan tanggung jawab diri masing- masing (dalam Comunale, 2006). Teori atas relativisme dimotivasi akan adanya dimana adanya perbedaan yang mendasar didalam sejarah, budaya, keragaman individual dan pendukung prinsip akibat perbedaan aturan moral di berbagai negara dan didalam lingkungan sosial. Orang dengan relativisme yang tinggi umumnya merasa bahwa tindakan moral tergantung pada situasi dan individu yang terlibat dan beranggapan bahwa tidak ada standar etis yang secara absolute benar dan ia selalu mengikuti standar moral yang berlaku dalam masyarakat dimanapun ia berada. Forsyth telah mengklarifikasi bahwa relativisme dan idealisme bukanlah konsep yang berlawanan akan tetapi merupakan dua konsep yang independen. Dengan kata lain, idealisme berfokus terhadap pemikiran yang tidak egois untuk banyak pihak, sedangkan relativisme berfokus terhadap alternatif yang terbaik (Ghani, 2008).

Apabila kedua dasar ini digabungkan, maka akan terbentuk taksonomi orientasi etis yang dimiliki masing-masing individu seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini sesuai dengan teori yang dikembangkan Forsyth (1981).

High Relativism Low Relativism High

Relativism

Situationist Absolutist

Low Relativism

Subjective Exceptionist Gambar 2.1. Taksonomi Orientasi Etis

Sumber : Forsyth (1981)

Situasionalis menolak prinsip moral universal, tetapi tetap merasa bahwa harus ada tindakan moral yang menguntungkan seluruh pihak yang terlibat. Absolutists meyakini bahwa moralitas memunculkan dampak yang positif dan kebaikan untuk semuanya , bersamaan dengan kesesuaian dengan petunjuk moral secara umum.

(3)

11

Universitas Kristen Petra

Subjectivists juga menolak prinsip moral universal dan meyakini bahwa tindakan moral harus menimbang dampak dari tindakan yang dilakukan, dengan kesadaran bahwa kerugian tertentu tidak dapat dihindari. Subjectivist cenderung mengutamakan nilai pribadi dalam setiap tindakan mereka dibanding nilai universal. Exceptionists mematuhi petunjuk dan prinsip moral secara umum, akan tetapi mengakui bahwa mengikuti petunjuk dan peraturan tersebut mungkin akan menghasilkan dampak negatif.

2.1.2. Love of money

Uang adalah aspek penting dalam keseharian hidup kita. Rubenstein, dalam Tang (2008) berpendapat bahwa di Amerika Serikat, kesuksesan diukur dari uang dan pendapatan. Tang et al. (2008) berpendapat bahwa sikap terhadap uang dipelajari melalui proses sosialisasi yang diperoleh di masa anak-anak dan menetap di masa dewasa. Meskipun uang digunakan secara universal, arti dan pentingnya uang dapat berbeda-beda untuk masing-masing individu. (McClelland, dalam Tang, 2008)

Oleh karena kepentingan dan interpretasi akan uang yang berbeda-beda itulah, Tang (2003) memperkenalkan konsep “the love of money” dari literatur psikologi. Konsep ini mengukur perasaan subjektif seseorang terhadap uang. Tang (2008) menjelaskan bahwa love of money memiliki 4 faktor yang spesifik dan jelas berfokus daripada faktor umum yang terdapat dalam “obsession” yang diukur dalam Money Ethic Scale. Penelitian tersebut mendefinisikan sikap

“subjektif” seseorang (motivator, success, importance, dan rich dari Money Ethic Scale, MES) sebagai “love of money”,

Menurut Heneman dalam Tang (2008), skala tersebut mencerminkan gagasan atas pentingnya (importance) uang, arti (meaning) uang dan perbedaan individual (individual differences) atas sikap terhadap uang. Sehingga pengukuran

“objektif” atas uang (income) akan berhubungan dengan sikap “subjektif”

seseorang terhadap uang dalam banyak bentuk. Ukuran akan kaya dan miskin didalam pemikiran seseorang. Orang yang sebenarnya sudah kaya belum tentu merasa dirinya kaya. Begitupun sebaliknya.

(4)

12

Universitas Kristen Petra

Empat faktor love of money pada penelitian ini mengacu pada Tang dan Chiu (2003) yaitu: faktor kekayaan, motivator, sukses dan arti penting

1) Faktor kekayaan, merefleksikan keinginan sebagian besar orang untuk kaya dan memiliki banyak uang. Faktor kaya merupakan komponen dari sikap yang berkenan dengan hubungan cinta dan benci seseorang pada objek.

2) Faktor motivator (sebuah komponen perilaku) berkenaan dengan gagasan bahwa uang merupakan motivator.

3) Faktor kesuksesan (komponen kognitif) mewakili “obsesi dengan uang sebagai tanda sukses” individu.

4) Faktor arti penting (komponen kognitif) menekankan “penting”nya uang dalam hidup

Seperti yang dikutip dari Tang et al (2008) dengan adanya love of money yang tinggi, manusia akan (1) termotivasi untuk melakukan apapun demi uang, (2) memiliki ketetapan hati yang rendah dan mudah terpengaruh pihak luar, (3) dikontrol sistem reward, (4) menjadi budak dari uang, dan (5) mengalami ketidakpuasan dengan hidup dan pendapatan.

2.1.3. Pengetahuan

Menurut Martin & Oxman (1988), Pengetahuan merupakan kemampuan untuk membentuk model mental yang menggambarkan obyek dengan tepat dan merepresentasikannya dalam aksi yang dilakukan terhadap suatu obyek. (dalam Kusrini, Martin & Oxman, 2006). Menurut Notoatmodjo (2003), Pengetahuan didapat setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang mana penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba yang sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Sedangkan definisi pengetahuan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah segala sesuatu yg diketahui, kepandaian, atau segala sesuatu yg diketahui berkenaan dengan hal yang didapatkan dari pembelajaran. Dari

(5)

13

Universitas Kristen Petra

penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan adalah informasi yang didapatkan seseorang melalui proses penerimaan inderanya dan berpengaruh terhadap tindakannya dalam menanggapi suatu hal. Variabel pengetahuan dalam penelitian ini merupakan pengetahuan mahasiswa mengenai profesi seorang akuntan publik dan skandal akuntansi yang terjadi.

2.1.4. Persepsi Etis

Robbins (2009: 175) mendefinisikan persepsi (perception) sebagai proses dimana individu mengatur dan menginterpretasikan kesan guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Sedangkan persepsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya.

Etis diambil dari kata etika dimana etika (etimologi), berasal dari bahasa Yunani ”Ethos” yang berarti watak kesusilaan atau adat, perkataan moral, dan adat atau cara hidup. (Zubair, 1987:13). Etis Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hal yang: berhubungan atau sesuai dengan etika, dan tindakan yang sesuai dengan asas perilaku yang disepakati secara umum. Sehingga dapat disimpulkan bahwa persepi etis merupakan tanggapan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk sesuai dengan asas perilaku yang disepakati secara umum.

Persepsi etis dalam penelitian ini diartikan sebagai tanggapan mahasiswa mengenai skandal akuntansi yang terjadi sesuai dengan orientasi etika yang mereka miliki.

2.1.5. Earnings Management & Skandal Akuntansi

Earnings management/manajemen laba telah dijelaskan secara berbeda oleh para akademisi, peneliti, praktisi dan badan lain yang terotorisasi (Rezaee, 2002). Schipper (1997) dalam Rezaee (2002) mendefinisikan earnings management sebagai suatu intervensi terhadap proses pelaporan keuangan eksternal untuk memperoleh beberapa keuntungan pribadi. Earnings management seringkali dilakukan atas intervensi manajemen. Pernyataan itu sejalan dengan Healy and Wahlen (1999) yang menyatakan bahwa earnings management terjadi

(6)

14

Universitas Kristen Petra

ketika manajer menggunakan judgment dalam pelaporan keuangan dan melakukan manipulasi transaksi untuk mengubah laporan keuangan, baik untuk menyesatkan beberapa stakeholders tentang kinerja perusahaan atau untuk mempengaruhi kontrak yang bergantung pada angka-angka dalam laporan keuangan. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) memberikan fleksibilitas bagi manajemen untuk memilih kebijakan akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan.

Fleksibilitas inilah yang terkadang dimanfaatkan oleh manajemen untuk memilih kebijakan yang dapat menguntungkannya. Scott (2000) menyatakan bahwa earnings management adalah cara yang digunakan oleh manajer untuk mempengaruhi angka laba secara sistematis, dengan cara memilih kebijakan akuntansi dan prosedur akuntansi tertentu yang bertujuan untuk memaksimumkan keuntungan manajer dan atau nilai pasar dari perusahaan.

Dasar akrual telah disepakati sebagai dasar penyusunan laporan keuangan (Wibisono, 2004). Pemilihan basis akrual sebagai dasar penyusunan laporan keuangan bertujuan untuk menjadikan laporan keuangan lebih informatif yaitu laporan keuangan yang mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Oleh karena itu, kebijakan akrual dalam mengaplikasikan standar akuntansi ini dapat digunakan untuk melakukan manajemen laba. Kutipan ini diperkuat oleh Rezaee (2002) yang menyatakan bahwa:

”Suatu financial statement fraud sering diawali dengan salah saji atau manajemen laba dari laporan keuangan kuartal yang dianggap tidak material tetapi akhirnya berkembang menjadi fraud secara besar-besaran dan menghasilkan laporan keuangan tahunan yang menyesatkan secara material”.

Gideon (2005) juga menyatakan bahwa beberapa kasus yang terjadi di Indonesia, seperti PT. Kimia Farma Tbk juga melibatkan pelaporan keuangan (financial reporting) yang berawal dari terdeteksi adanya manipulasi laba.

Berbagai fakta dan teori yang telah diuraikan di atas mengindikasikan bahwa terdapat hubungan erat antara earnings management dan financial statement fraud. Selanjutnya menurut Skousen et al., dalam Dalnial (2014) Financial statement fraud yang tidak terdeteksi dapat berkembang menjadi skandal besar yang merugikan banyak pihak. Skandal akuntansi yang akan dijadikan acuan di

(7)

15

Universitas Kristen Petra

penelitian ini terjadi tidak lepas dari peranan akuntan publik sebagai auditor independen perusahaan dalam fraud yang dilakukan manajer perusahaan.

Dalam kasus Enron, Arthur Andersen (anggota big 5 pada masa itu) sebagai firma akuntan publik yang mengaudit Enron terbukti memiliki keterlibatan yang signifikan dalam aktivitas keuangan Enron, membantu Enron dalam membuat jaringan kemitraan palsu untuk menghilangkan utang dalam jumlah yang besar dari neraca Enron. KAP Arthur Andersen juga dengan sengaja mensahkan laporan keuangan tahunan Enron meskipun telah mengetahui kecurangan yang dilakukan para manajer perusahaan tersebut. Andersen terbukti bersalah dan dihukum, menjadi firma akuntan publik besar pertama yang melakukan kejahatan besar. Sebagai hasilnya, firma tersebut tidak diperbolehkan lagi menjadi auditor perusahaan publik dan big 5 menjadi big 4 akibat dikeluarkannya Andersen.

Skandal Enron hanya merupakan awal dimana masih ada sederet perusahaan yang terlibat fraud antara lain WorldCom, Computer Associates, Global Crossing, Tyco, Xerox, Halliburton, Bristol-Myers Squibb, Qwest Communications, Adelphia, K-Mart, Lucent Technologies, HealthSouth, and Freddie Mac (Gara and Langstraat, 2003). KAP big 4 lainnya selain Andersen juga diinvestigasi, dan telah diberi hukuman atas peran mereka didalam melakukan penyimpangan yang dilakukan perusahaan, meskipun yang dihukum secara kriminal hanya Enron akibat perannya yang besar dalam sejumlah perusahaan (Communale,2006).

2.1.6. Minat

Menurut Tampubolon (1991: 41), minat adalah suatu perpaduan keinginan dan kemauan yang dapat berkembang jika ada motivasi. Sedangkan menurut Djaali (2008: 121) bahwa minat pada dasarnya merupakan penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Minat sangat besar pengaruhnya dalam mencapai prestasi dalam suatu pekerjaan, jabatan, atau karir. Tidak akan mungkin orang yang tidak berminat terhadap suatu pekerjaan dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan baik. Minat dapat diartikan

(8)

16

Universitas Kristen Petra

sebagai rasa senang atau tidak senang dalam menghadapi suatu objek (Mohamad Surya, 2003: 100).

Minat berkaitan dengan perasaan suka atau senang dari seseorang terhadap sesuatu objek. Hal ini seperti dikemukakan oleh Slameto (2003:180) yang menyatakan bahwa minat sebagai suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri.

Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa minat adalah ketertarikan seseorang terhadap suatu hal dari dalam diri dan hal tersebut mendorong seseorang melakukan suatu keputusan/tindakan. Didalam penelitian ini, minat yang akan ingin diketahui adalah minat mahasiswa akuntansi berkarier sebagai akuntan publik.

2.1.7. Profesi Akuntan Publik

Arens, Elder dan Beasley (2003:26) didalam bukunya mendefinisikan akuntan publik sebagai berikut: “Akuntan publik adalah seseorang yang telah memenuhi persyaratan yang diajukan oleh negara bagian, termasuk kewajiban menempuh ujian akuntan publik, dan kemudian berhak atas sertifikat akuntan publik; seorang akuntan publik memiliki tanggung jawab utama untuk melaksanakan fungsi audit atas laporan keuangan historis yang dipublikasikan, dari entitas yang secara keuangan bersifat komersial maupun non komersial”.

Menurut SK. Menkeu No. 43/KMK.017/1997 tertanggal 27 Januari 1997 sebagaimana diubah dengan SK. Menkeu No. 470/KMK.017/1999 tertanggal 4 Oktober 1999, Kantor Akuntan Publik adalah lembaga yang memiliki izin dari Menteri Keuangan sebagai wadah bagi akuntan publik dalam menjalankan pekerjaannya. Menurut Arens, Elder dan Beasley (2003:38), kantor akuntan publik menyediakan jasa profesionalnya seperti jasa assurance dan jasa-jasa atestasi. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa akuntan publik adalah orang yang menyandang gelar CPA dan tergabung di sebuah Kantor Akuntan Publik dengan lingkup kerjanya melakukan jasa assurance laporan keuangan dan atestasi/audit perusahaan.

(9)

17

Universitas Kristen Petra

2.2. Kajian Penelitian Terdahulu

Sebagai acuan dan bahan pembanding dalam penelitian ini, maka akan dicantumkan beberapa penelitian oleh peneliti-peneliti sebelumnya antara lain:

1. Penelitian oleh Communale et al (2006)

Penelitian oleh Christie L. Comunale, Thomas R. Sexton, dan Stephen C.

Gara yang berjudul “Professional ethical crises: A case study of accounting majors” menganalisa minat mahasiswa terhadap karier akuntan akibat adanya skandal akuntansi. Penelitian yang dilakukan terhadap 105 mahasiswa di 2 universitas negeri dan swasta di Amerika Serikat ini menggunakan variabel eksplanatori berupa orientasi etika (ethical orientation), umur (age), gender dan pengetahuan (knowledge). Penelitian ini menggunakan variabel dependen berupa penilaian (judgement) dan minat (interest) mahasiswa terhadap jurusan akuntansi dan karier sebagai akuntan publik.

Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi stepwise dan metode uji yag digunakan adalah residual plots dan normal probability plots. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orientasi etika idealisme berpengaruh positif terhadap persepsi etis mahasiswa akan skandal akuntansi. Sedangkan orientasi etika relativisme tidak berpengaruh terhadap persepsi etis mahasiswa. Untuk variabel pengetahuan berpengaruh positif terhadap persepsi etis mereka. Dan persepsi etis berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa berkarier sebagai akuntan.

2. Penelitian oleh Elias et al (2010)

Penelitian oleh Rafik Z. Elias dan Magdy Farag yang berjudul “The relationship between accounting students’ love of money and their ethical perception” menganalisa pengaruh gender, usia (age), dan tingkat kelas (class grade) serta sebuah variabel psikologis yaitu Pengaruh love of money (kecintaan terhadap uang), terhadap persepsi etis mahasiswa akuntansi akan perilaku curang didalam atau diluar kelas. Penelitian yang dilakukan terhadap 213 mahasiswa S1 dan S2 di Amerika Serikat ini menggunakan variabel gender, usia (age), dan tingkat kelas (class grade) sebagai variabel kontrol, love of money sebagai

(10)

18

Universitas Kristen Petra

variabel independen, dan persepsi etis ( ethical perception) sebagai variabel dependen. Mahasiswa dibagi menjadi 3 kategori berdasarkan tingkat kecintaan mereka terhadap uang yaitu money worshippers, money repellent dan money admirers.

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan MANOVA. Hasil empiris menunjukkan love of money berpengaruh signifikan terhadap penilaian etis mahasiswa. Money worshippers memandang perilaku curang sebagai kegiatan yang etis, diikuti oleh money admirers dan money repellants yang memandang perilaku ini melanggar etika. Variabel gender, usia dan kelas tidak signifikan dalam menjelaskan pengaruh variabel independen dan dependen. Dan secara keseluruhan, mahasiswa akuntansi memandang tindakan curang di luar kelas lebih tidak etis daripada kegiatan curang didalam kelas.

3. Penelitian oleh Tang et al (2008)

Penelitian oleh Thomas Li-Ping Tang dan Randy K. Chiu yang berjudul

“Income, Money Ethic, Pay Satisfaction, Commitment, and Unethical Behavior:Is the Love of money the Root of Evil for Hong Kong Employees?” menganalisa hubungan antara gaji, love of money, kepuasan atas gaji, komitmen kepada perusahaan dan perilaku yang melanggar etika atas 211 karyawan tetap di HongKong. Variabel eksogen dalam penelitian ini adalah gaji (income). Variabel interveningnya adalah adalah kepuasan atas gaji (pay satisfction) , love of money, dan komitmen kepada perusahaan (organizational commitment). Variabel endogen dalam penelitian ini adalah perilaku yang melanggar etika (evil). Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan Structural Equation Model (SEM). Hasil penelitian ini mendukung pernyataan bahwa love of money dan

“mentalitas kas” merupakan akar dari keinginan dilakukannya kegiatan tidak etis (evil), bukan berdasarkan pendapatan karyawan yang sebenarnya.

Gaji berpengaruh negatif terhadap love of money dimana berpengaruh negatif terhadap kepuasan atas gaji dimana berpengaruh negatif terhadap perilaku tidak etis. Sehingga karyawan berpendapatan tinggi di HongKong memiliki rasa cinta terhadap uang yang rendah, memiliki tingkat kepuasan atas gaji dan komitmen kepada perusahaan yang tinggi. Sehingga orang dengan kepuasan

(11)

19

Universitas Kristen Petra

tinggi tersebut lebih sedikit memiliki keinginan untuk melakukan hal tidak etis.

Hal ini berlaku sebaliknya bagi karyawan yang berpendapatan rendah. Mereka berfokus terhadap uang dan umumnya ingin menaikkan standar hidup mereka, berani mengambil resiko dan lebih berkeinginan untuk melakukan kegiatan tidak etis. Komitmen kepada perusahaan tidak berhubungan dengan keinginan melakukan kegiatan tidak etis. Sehingga meskipun orang tersebut memiliki komitmen, mereka akan tetap dapat berkeinginan melakukan kegiatan tidak etis tersebut.

4. Penelitian oleh Cagle dan Baucus (2006)

Penelitian oleh Julie A.B. Cagle dan Melissa S. Baucus yang berjudul

“Case Studies of Ethics Scandals : Effects on Ethical Perceptions of Finance Students” mempelajari persepsi etis 54 mahasiwa S1 dan 32 mahasiswa S2 di sebuah universitas Kristen sebelum dan sesudah mereka melakukan studi kasus tentang skandal akuntansi perusahaan. Peneliti ingin mengetahui apakah skandal akuntansi yang terjadi di perusahaan akan mempengaruhi persepsi etis mahasiswa.

Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis kelamin (sex), usia (age), status akademis (academic status) dan seberapa banyak mahasiswa mendapat pembelajaran tentang etika (exposure to ethics education of respondents). Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah persepsi etis mahasiswa (ethical perception). Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan regresi. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan bahwa pembelajaran etika tentang skandal akuntansi berdampak positif terhadap persepsi etis mahasiswa dan pengambilan keputusan etis.

Studi kasus tentang skandal etika ini tidak hanya mempengaruhi standar etika mahasiswa akan tetapi juga mempengaruhi persepsi mereka tentang etika bisnis. Sehingga, pembelajaran tentang etika bisnis dapat efektif mempengaruhi perilaku mahasiswa. Salah satu penjelasan yang memungkinkan adalah mahasiswa mendapat pembelajaran yang lebih dalam tentang kompleksitas isu etis di organisasi, dan didalam banyak kasus, terdapat satu atau lebih pihak yang mengambil posisi yang kuat dalam melawan pelanggaran (semisal Sherron Watkins dari Enron)

(12)

20

Universitas Kristen Petra

5. Penelitian oleh Arifianto (2014)

Penelitian oleh Fajar Arifianto yang berjudul “Pengaruh Motivasi Diri dan Persepsi Mengenai Profesi Akuntan Publik terhadap Minat menjadi Akuntan Publik pada Mahasiswa Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta” menganalisa hubungan antara motivasi diri dan persepsi mengenai profesi akuntan publik terhadap minat menjadi akuntan publik.

Penelitian yang dilakukan pada 154 responden mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta ini menggunakan variabel independen yaitu motivasi diri dan persepsi mengenai profesi akuntan publik. Sedangkan variabel dependennya adalah minat menjadi akuntan publik.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear sederhana. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa persepsi mahasiswa mengenai profesi akuntan publik memiliki pengaruh signifikan positif terhadap minat mereka berkarier sebagai akuntan publik. Dan juga persepsi mereka berpengaruh secara bersama-sama dengan variabel motivasi diri. Persepsi Mengenai Profesi Akuntan Publik diteliti melalui nilai intrinsik pekerjaan, gaji / penghargaan finansial, pertimbangan pasar kerja, dan Kelebihan dan Kelemahan Profesi Akuntan Publik.

Berikut ini disajikan ringkasan penelitian-penelitian di atas:

Tabel 2.1. Ringkasan Kajian Penelitian Terdahulu

Peneliti Variabel yang

Digunakan

Hasil Penelitian

Comunale et al (2006) Variabel Independen:

a) Orientasi etis b) Umur

c) Gender d) Pengetahuan Variabel Dependen:

a) Persepsi etis b) Minat mahasiswa

terhadap jurusan akuntansi dan

Orientasi etis idealisme dan pengetahuan berpengaruh positif terhadap persepsi etis mahasiswa, Orientasi etika relativisme tidak berpengaruh terhadap persepsi etis. Persepsi etis berpengaruh terhadap minat mahasiswa

(13)

21

Universitas Kristen Petra

karier sebagai akuntan publik Elias et al (2010) Variabel Independen:

a) Love of money

Variabel Dependen:

a) Persepsi etis Variabel Kontrol:

a) Gender b) Usia

c) Tingkat kelas

Love of money

berpengaruh signifikan terhadap penilaian etis mahasiswa

Arifianto (2014) Variabel Independen:

a) Motivasi diri b) Persepsi

mengenai profesi akuntan publik Variabel Dependen:

a) Minat menjadi akuntan publik

Persepsi mengenai profesi akuntan publik berpengaruh terhadap minat berkarier sebagai akuntan publik

Tang et al (2008) Variabel independen:

a) Gaji

Variabel intervening:

a) Kepuasan atas gaji

b) love of money c) Komitmen

terhadap perusahaan Variabel dependen:

a) Persepsi tentang perilaku yang melanggar etika

Gaji yang diperantarai oleh love of money merupakan penyebab adanya persepsi tentang perilaku yang tidak etis.

Baucus (2006) Variabel Independen:

a. Jenis kelamin b. Usia

c. Status akademis d. Tingkat

pendidikan etika yang diperoleh

Pengenalan tentang skandal akuntansi dari segi etika berpengaruh positif terhadap persepsi etis mahasiswa

(14)

22

Universitas Kristen Petra

Variabel dependen:

a. Persepsi etis mahasiswa

2.3. Hipotesa Penelitian

1. Orientasi etis idealisme & relativisme

Forsyth (1981) menyatakan bahwa penentu pertimbangan individu (ethical judgement) dalam menanggapi isu etis adalah filosofi moral pribadi atau orientasi etis mereka masing-masing. Hal ini didukung oleh argumen Khomsiyah dan Indriantoro, 1998, dalam Purba (2011) bahwa tiap-tiap individu memiliki konsep tersendiri tentang sistem nilai dan orientasi etis yang turut menentukan pertimbangan etisnya, sesuai dengan peran yang disandangnya.

Relativisme dan idealisme adalah dua gagasan dasar atas filosofi moral individu tersebut. Idealisme adalah sebuah pandangan dimana seseorang percaya bahwa konsekuensi yang diinginkan (konsekuensi positif) dalam melakukan suatu tindakan dapat terjadi tanpa melanggar kaidah moral dan merugikan pihak lainnya adalah suatu hal yang harus dihindari (Elias, 2002). Orang dengan idealisme tinggi memiliki kepercayaan terhadap prinsip moral, norma atau hukum yang berlaku secara umum dan menggunakan prinsip-prisip tersebut untuk menunjukkan kepada mereka mana yang benar atau salah.

Kemudian orientasi etis relativisme adalah sebuah pandangan seseorang bahwa keputusan moral sangat personal, kompleks dan merupakan tanggung jawab diri masing-masing (Freeman and Gilbert, 1988), maka individu akan merasa bahwa tindakan moral tergantung pada situasi dan individu yang terlibat dan beranggapan bahwa tidak ada standar etis yang secara absolute benar dan ia selalu mengikuti standar moral yang berlaku dalam masyarakat dimanapun ia berada. Karena teori atas relativisme dimotivasi akan adanya dimana adanya perbedaan yang mendasar didalam sejarah, budaya, keragaman individual dan pendukung prinsip akibat perbedaan aturan moral di berbagai negara dan didalam lingkungan sosial.

Penelitian yang dilakukan Forsyth (1981) menunjukkan bahwa orang dengan sifat relativisme yang tinggi cenderung menolak aturan moral universal

(15)

23

Universitas Kristen Petra

dan lebih mempertimbangkan situasi yang menyebabkan suatu hal terjadi sebelum membuat sebuah penilaian. Dan untuk orang dengan idealisme yang tinggi akan mementingkan kepentingan banyak pihak dan mengutamakan prinsip dan aturan yang berlaku secara umum. Penelitian yang dilakukan oleh Comunale (2006) menghasilkan pernyataan adanya hubungan antara orientasi etis dengan persepsi etis. Apabila dikaitkan dengan skandal akuntansi maka penulis menarik hipotesis berikut :

H1: orientasi etis idealisme berpengaruh terhadap persepsi etis mahasiswa terhadap skandal akuntansi

H2: orientasi etis relativisme berpengaruh terhadap persepsi etis mahasiswa terhadap skandal akuntansi

2. Love of money

Skala love of money merupakan teori yang diperkenalkan dari literatur psikologi oleh Tang (2008) yang mengukur perasaan subjektif seseorang tentang uang mengenai kaya ataupun miskin didalam pikiran mereka. Skala ini terdiri atas indikator pernyataan bahwa uang adalah motivator, uang melambangkan kesuksesan diri, uang itu penting dan keinginan untuk menjadi kaya. Seseorang mungkin miskin secara ekonomi akan tetapi bisa saja kaya secara psikologis begitu pula sebaliknya. Tang ( 2008) berargumen bahwa kemiskinan bukanlah karena tidak memiliki harta melainkan keinginan yang tidak terpuaskan. Oleh karena itu, pengukuran objektif atas uang (pendapatan) mungkin berhubungan dengan perilaku subjektif seseorang terhadap uang (love of money) dalam cara yang berlainan. Sesuai dengan penelitian oleh Elias (2010) dan Tang (2008) yang menyatakan bahwa love of money berpengaruh terhadap persepsi etis mahasiswa maka penulis menarik hipotesis berikut :

H3 : love of money berpengaruh terhadap persepsi etis mahasiswa terhadap skandal akuntansi

(16)

24

Universitas Kristen Petra

3. Pengetahuan

Pengetahuan adalah sesuatu yang didapat dari aktivitas pengindraan terhadap suatu objek dan adanya pembelajaran akan sesuatu. Comunale (2006) menyatakan bahwa pengetahuan mahasiswa akan skandal akuntansi beserta peran akuntan publik dan manajer didalam melakukan kecurangan akan mempengaruhi persepsi etis mereka terhadap skandal akuntansi. Cagle dan Baucus (2006) berpendapat bahwa mahasiswa mengalami peningkatan akan persepsi etis mereka setelah diberi pelajaran tentang etika dan pengenalan akan kasus etika bisnis yang terjadi. Mahasiswa mendapat kesadaran yang meningkat tentang dampak dari perbuatan tidak etis dan mempengaruhi nilai yang dipegang mahasiswa.

Oleh karena itu penulis mengambil hipotesis sebagai berikut:

H4: Pengetahuan berpengaruh terhadap persepsi etis mahasiswa akan skandal akuntansi

4. Persepsi Etis

Persepsi etis adalah tanggapan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk sesuai dengan asas perilaku yang disepakati secara umum.Carol Wade dan Carol Tavris (2007:194) berpendapat bahwa persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya (dalam Arifianto, Wade dan Travis, 2014). Apabila seseorang mempunyai persepsi yang positif akan sesuatu hal, maka cenderung akan mendukung hal tersebut. Begitu pula sebaliknya apabila seseorang mempunyai persepsi yang negatif akan sesuatu hal maka cenderung untuk menghindari hal tersebut.

Penelitian yang dilakukan Arifianto (2014) berargumen bahwa persepsi mahasiswa tentang profesi seorang akuntan publik akan berpengaruh positif terhadap minat mereka berkarier sebagai akuntan publik. Penelitian oleh Comunale (2006) menyatakan bahwa minat mahasiswa berkarier sebagai akuntan publik dipengaruhi persepsi etis mereka tentang skandal akuntansi beserta peran akuntan publik dan manajer. Penelitian oleh Cagle dan Baucus berargumen bahwa persepsi etis mahasiswa berperan dalam mempengaruhi pengambilan keputusan etis mahasiswa.

(17)

25

Universitas Kristen Petra

Oleh karena itu penulis mengambil hipotesis sebagai berikut:

H5 : Persepsi etis mahasiswa terhadap skandal akuntansi berpengaruh terhadap minat karier sebagai akuntan publik

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan kajian literatur yang dilakukan tergambar bahwa kegiatan bermain anak dengan media pohon angka dapat membantu anak dalam mengenal konsep bilangan.Dengan

Ucapan Terima Kasih merupakan bagian terpisah yang dibuat di bagian akhir naskah, sebelum Daftar Pustaka yang wajib dibuat. Pada bagian ini ditulis pihak-pihak yang telah

Berdasarkan dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa financial literacy atau pengetahuan akan keuangan merupakan kemampuan seseorang dalam memahami hal-hal

Ruang konser, opera, studio rekam, dan ruang lain dengan tingkat akustik yang sangat detail Rumah sakit, dan ruang tidur/istirahat pada rumah tinggal, apartemen, motel, hotel, dan

David (2010, p. 131), pemerintah pusat maupun pemerintah daerah merupakan pembuat regulasi, deregulasi, penyubsidi, pemberi kerja, dan konsumen utama organisasi. Karenanya faktor

Jika kinerja lingkungan perusahaan baik maka terdapat kemungkinan kinerja keuangan juga dapat meningkat, hal ini sejalan dengan teori legitimasi karena perusahaan yang

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul : “Pengaruh Orientasi Etis, Gender, dan Pengetahuan Etika Terhadap Persepsi Mahasiswa Mengenai Perilaku

Terdapat kemungkinan pemimpin membentuk hubungan secara merata pada seluruh bawahannya tetapi membentuk hubungan baik membutuhkan pengorbanan waktu dan energi dan karyawan