• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III A. Sejarah Singkat Masuknya Ajaran Kristen Di Bali

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III A. Sejarah Singkat Masuknya Ajaran Kristen Di Bali"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

A. Sejarah Singkat Masuknya Ajaran Kristen Di Bali

Pada tahun 1630, seseorang pendeta yang bernama Justus Heurnius mengunjungi Bali bersama-sama VOC (Vorenigde Oost Indische Compagnie) dalam upaya perdagangan. pendeta Justus tertarik akan Bali yang diinginkan menjadi kawasan penginjilan. Setelah beliau pulang ke Belanda, ia memohon kepada pemerintah untuk mengutus pekabar injil ke Bali, tetapi pemerintah tidak banyak memberikan perhatian.1 Tahun 1863 UZV (Utrechtsche Zending Vererniging), menentukan Bali menjadi wilayah pekerjaannya. Pengurus UZV tertarik pada Pulau Bali dikarenakan penduduk dianggap masih kafir atau bukan Islam, sehingga diutuslah Van der Jagt, yang datang ke Bali pada Tahun 1864. Van der Jagt membawa tugas utama yang harus dilaksanakan, yaitu menelaah bahasa daerah Bali serta menemukan titik-titik kontak yang diperlukan membuka hati mereka bagi berita Injil. semua itu menjadi persiapan kedatangan pendeta-pendeta Zending ke Bali. 2

Setelah Van der Jagt mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk tugas-tugas pelayanan, maka datanglah Van Eck kemudian menyususl de Vroom untuk bersama-sama untuk tugas tersebut. Mereka bekerja dengan ulet dengan tujuan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan akan memperoleh hasil yang Baik. Tetapi semuanya tidak sesuai harapan serta tujuan mereka tidak segera menjadi kenyataan. Akhirnya Van der Jagt serta Van Eck pulang ke Belanda, dan menyisakan hanya De Vroom sendiri. Beliau melanjutkan tugas-tugas dengan semangat, meski pada akhirnya di tahun 1868 beliau harus menyingkir ke Pulau Jawa karena adanya situasi yang tidak memungkinkan di Bali yang pada waktu itu terdapat pemberontakan.

Pemberontakan tersebut tidak berlangsung lama, di awal tahun 1869 De Vroom serta Van Eck telah kembali ke Bali untuk melanjutkan tugas - tugas mereka.3

Mereka memulai dengan memberikan pendidikan kepada anak-anak Bali dan ini menjadi awal pembibitan hidup kekristenan yang lebih tinggi. Mereka memulainya dengan cara membuka sekolah yang pada saat itu jumlah anak didiknya orang di akhir tahun 1869.

Selain pendekatan melalui sekolah, mereka membuat pertemun-pertemuan di hari minggu pagi di rumah-rumah pendeta zending. Pertemuan itu bukanlah ibadah akan tetapi hanya berupa

1 Muller Kruger, Sejarah Gereja di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1986), 124

2 Dr. Abineno, Sejarah Apostolat di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1979). 111

3 Abineno, Sejarah Apostolat di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1979)112.

(2)

dialog tentang persoalan agama. Situasi masyaakat pada saat itu menunjukkan bahwa mereka lebih senang menerima pendeta zending datang ke rumah mereka, terutama Bila pendeta zending datang membawa obat untuk mengobati orang sakit. Melalui kesempatan itu para pendeta zending berkesmpatan memberikan firman Tuhan pada orang-orang Bali yang ditemui. Akhirnya ada beberapa orang yang menyatakan mengikut Kristen, yaitu suami-istri Ida Putu Sideman, dan ketut Srubong serta menyusul Gusti Wayan Karangasem, sedangkan yang lain mengundurkan diri. Di hari raya Paskah 1873 Gusti Wayan Karangasem dibaptis menjadi orang Kristen Bali yang pertama.4

Baptisan pertama yang dilakukan oleh De Vroom dan Van Eck ini tidak mendatangkan kegembiraan melainkan menimbulkan kekacauan besar dan kemudian menjadi hambatan besar bagi pekerjaan misi. Kekacauan yang tejadi mengakibatkan terbunuhnya De vroom pada malam hari tanggal 8 Juni 1881.5 Akibatnya Bali dinyatakan sebagai daerah tertutup bagi misi sejak tahun 1881 sampai 1931, terutama di bawah pemerintahan Hindia Belanda, dengan alasan tertib hukum.

Namun, Bali tidak selamanya tinggal tertutup bagi penginjil karena selanjutnya pada tahun 1929 seorang yang bernama Salam Watias dari jawa timur yang berprofesi sebagai penjual buku-buku rohani agen BFBS (British and Foreign Bible Society). Buku-bukunya banyak terjual karena orang Bali suka membaca pelajaran-pelajaran agama. Salam Watias dengan rajin melakukan pendekatan dengan orang-orang Bali dengan sistem persaudaraan sehingga banyak orang Bali yang meminta untuk memberikan pengajaran agam kristen, namun Watias menyadari bahwa sebagai penjual buku dia tidak mampu melakukannya sehingga ia meminta GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) yang melakukan tugas tersebut. Namun tugas tersebut tidak segera ditangani karena Bali pada saat itu masih berstatus daerah yang tertutup bagi penginjilan.

B. GKPB Jemaat “Pniel” Blimbingsari

Secara geografis, Desa Blimbingsari terletak melintang dari timur ke barat dalam wilayah Kabupaten Jembrana. Daerahnya berupa dataran rendah serta tinggi yang terdiri dari pegunngan dan perbukitan. Sebelah Utara serta Barat desa adalah kawasan hutan jati (bukit dan gunung Klatakan). Pada bagian selatan berbatasan dengan desa Pangkuh Tanah serta disebelah Timur berbatasan dengan desa Ekasari. Desa Blimbingsari ialah salah satu dari

4 Abineno, Sejarah Apostolat di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1979)112.

5 Abineno, Sejarah Apostolat di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1979)112.

(3)

sepuluh desa yang terdapat di kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.6 Penamaan Desa Blimbingsari memiliki sejarah yang sederhana, meskipun sejarah terbentuknya desa tersebut bisa dikatakan tidak sesederhana namanya. 7

Secara singkat terbentuknya Blimbingsari berawal dari pembaptisan yang dilakukan oleh Dr.R.A. Jaffray kepada 12 orang Bali, bertempat di Tukad Yeh Poh, Untal-untal, Dalung.

Baptisan ini dilaksanakan pada 11 November 1931. Lahirnya gereja di Bali berkat Tsang To Hang berasal Christian and Missionary Alliance (CMA). CMA ialah sekumpulan orang Kristen di Amerika serikat yang terpanggil untuk mengabarkan Injil ke banyak sekali daerah. Pada saat itu, Tsang to Hang mengatakan pada pengikutnya yang baru percaya akan Kristus supaya menolak segala sesuatu yang berafiliasi dengan penyembahan kepada dewa-dewa serta segala bentuk persembahan seperti sesajen (banten) yang berhubungan dengan ajaran kepercayaan Hindu.8

Akibat tindakan yang dilakukan sang Tsang To Hang serta para pengikutnya, timbulah perlawanan dari umat Hindu, yang mengakibatkan kekacauan desa-desa kawasan orang Kristen berada. Orang Kristen Bali mulai dikucilkan, dipukuli, dicaci maki, tidak diperbolehkan untuk menguburkan mayat pada kuburan umat Hindu, tidak mendapatkan aliran air di sawah dan masih banyak kesulitan lain yang dihadapi oleh umat Kristen Bali.

Dari kejadian tersebut pemerintah Belanda memutuskan untuk membuang atau mengucilkan orang-orang Kristen Bali ke hutan angker di wilayah Bali Barat dengan tujuan supaya mereka meninggal di makan hewan buas. Singkat cerita, berkat pertolongan Tuhan dan juga kerja keras dari orang Kristen Bali pada saat itu, mereka berhasil memberdayakan hutan angker yang penuh dengan binatang buas menjadi sebuah desa yang asri sampai dengan saat ini.9

Penamaan desa Blimbingsari mempunyai sejarah yang sederhana. Penamaan desa tersebut dilatarbelakangi dengan pembuangan orang Kristen ke hutan angker di wilayah Bali Barat. Pada saat itu orang-orang Kristen yang dibuang itu mulai menebang pohon-pohon yang ada di hutan sehingga hutan tersebut layak untuk dijadikan tempat hunian bagi mereka. Diantara pohon-pohon yang mereka tebang terdapat banyak pohon belimbing hutan

6 I Wayan Sunarya, Blimbingsari Selayang Pandang (Yogyakarta: Andi, 2015), 1.

7 I Wayan Sunarya, Blimbingsari Selayang Pandang (Yogyakarta: Andi, 2015), 1.

8Ketut Suyaga Ayub, Blimbingsari The Promise Land: Gereja Kristen Protestan di Bali (Yogyakarta: Andi, 2014), 18-23.

9 Ketut Suyaga Ayub, Blimbingsari The Promise Land: Gereja Kristen Protestan di Bali (Yogyakarta: Andi, 2014), hal. 49

(4)

yang mereka sebut belimbing talun, yaitu pohon yang daunnya hampir sama dengan bentuk daun belimbing, tetapi daun-daun muda yang baru tumbuh berwarna merah muda, tampak sangat cantik dikarenakan daun- daun muda ini tumbuh pada bulan-bulan eksklusif secara bersamaan. Dari pohon inilah cikal-bakalnya pemberian nama Blimbingsari.10

Penataan desa Blimbingsari ini sungguh unik, hal ini disebabkan adanya jalan yang berbentuk seperti salib. Arah utara ke selatan, sengaja dibuatkan jalan panjang, seperti tempat bagi tubuh Yesus Kristus, mulai dari kepala sampai ke kaki yang terpaku.

Sedangkan dari barat sampai ke timur dibuatkan jalanan yang lebih pendek, sebagai tempat tangan Yesus Kristus yang tertancap paku di kayu salib.11 Dengan model bangunan yang demikian, corak ini menjadi bukti bahwa masyarakat Kristen di Blimbingsari hidup dengan tetap menghormati identitas nenek moyang mereka yakni sebagai orang Bali. Penggabungan nilai – nilai unik simbol kebudayaan Hindu Bali dengan kebijakan Kekristenan merupakan langkah yang ideal untuk menutup jurang pemisah terkait dengan perbedaan identitas ditengah – tengah masyarakat.12

Pada saat ini, Jemaat GKPB Pniel Blimbingsari berjumlah kurang lebih 700 sampai 800 orang, dikarenakan Majelis belum mendata kembali jumlah terbaru di jemaat, dan mungkin saja data tersebut dapat berubah seiring berjalannya waktu. Mayoritas jemaat Blimbingsari adalah pensiunan dari kota yang memilih pulang kampung dan menetap di kampung. Maka dari itu, kebanyakan jemaat di desa Blimbingsari bermatapencaharian seperti berkebun, berternak (memelihara sapi, ayam dan babi) dan juga petani.13 Selain jemaat yang menetap di Blimbingsari, ada juga jemaat yang diaspora. Jemaat yang diaspora merupakan jemaat yang statusnya tercatat sebagai anggota GKPB Pniel Blimbingsari, akan tetapi karena pekerjaan atau hal lain mereka meninggalkan desa dan merantau ke tempat lain.

Oleh sebab itu, pada saat perayaan hari raya gereja seperti natal, paskah dan hari besar lainnya menjadi kesempatan yang paling mereka tunggu untuk berkumpul bersama keluarga.

C. Aneka Macam Corak

10 Ketut Suyaga Ayub, Blimbingsari The Promise Land: Gereja Kristen Protestan di Bali (Yogyakarta: Andi, 2014), hal. 49

11 Ketut Suyaga Ayub, Blimbingsari The Promise Land: Gereja Kristen Protestan di Bali (Yogyakarta: Andi, 2014), hal. 50

12 Wawancara dengan Bapak Ketut Royal, (Mantan Majelis) 18 Januari 2022, Pukul 14.00 WITA

13 Wawancara dengan Bapak Made Swirya, (Mantan Majelis) 18 Januari 2022, Pukul 14.35 WITA

(5)

 Struktur Bangunan

Gambar 1.14 Gambar 2.15

Gereja Kristen Pniel Blimbingsari merupakan salah satu bangunan yang telah dipengaruhi oleh budaya Bali melalui proses akulturasi. Struktur bangunannya sendiri menggunakan konsep lokal yakni Asta Kosala Kosali yang menjadi pakem dan terus dipertahankan masyarakat Bali dalam mendirikan sebuah bangunan peribadatan (atau bahkan dalam pembangunan sebuah rumah tempat tinggal). Sedangkan bangunan gereja ini juga memiliki pakem tersendiri dalam memenuhi kebutuhan fungsi bangunannya. Hal ini terjadi pada kompleks Gereja Kristen Pniel Blimbingsari yang memiliki wujud arsitektur yang unik dan menarik dibandingkan Gereja lainnya di pulau Bali. Keunikan yang terdapat pada Gereja Pniel ini menarik perhatian untuk penulis meneliti mengenai bagaimana tata ruang Gereja.

Seperti penyusunan bangunan gereja Blimbingsari tersebut sebagian besar diadaptasi dari tata cara mendirikan Pura.

14 Koleksi Pribadi Penulis

15 Google.com (diakses 19 Juni 2022.) 12.15 WIB

(6)

 Candi Bentar

Gambar 3.16

Candi Bentar dalam konsep Bali merupakan simbol mulut yang tenganga. Simbol mulut yang tenganga ini menjadikan Candi Bentar sebagai pintu masuk pada komplek Gereja Kristen Pniel Blimbingsari, Bali. Candi Bentar pada gereja ini memiliki ornament salib sebagai simbol Agama Kristen. Pada Candi Bentar ini juga terdapat ukiran Bali yang mempunyai makna yang sangat mendalam seperti perjalanan Eksodus Jemaat GKPB Blimbingsari atau perjalanan orang Kristen Bali yang “dibuang” dari tempat asal mereka ke hutan angker di wilayah Bali bagian Barat dengan tujuan supaya mereka mati dimangsa oleh binatang buas. Namun, pada kenyataanya mereka justru menemukan tempat untuk mereka tinggal di wilayah tersebut dan membangun peradaban mereka sendiri di sana.

 Dinding Panyeker dan Dinding Aling-Aling

Gambar 4.17

Sekeliling Dinding Panyeker atau dinding pembatas komplek Gereja Kristen Pniel Blimbingsari terdapat ornamen ukiran khas Bali berupa flora atau disebut juga ornamen pepatraan Bali. Hal ini juga terjadi pada Dinding Aling-Aling, dinding dipenuhi oleh ukiran khas Bali berupa pepatraan Bali dilengkapi dengan batu ukiran perjanjian pada sisi depannya.

 Kori Agung

16 Google.com (diakses 19 Juni 2022.) 12.57 WIB

17 Google.com (diakses 19 Juni 2022.) 12.16 WIB

(7)

Gambar 5.18

Kori Agung ini berfungsi sebagai pintu masuk utama bangunan gereja. Bangunan Kori Agung memiliki dua celah untuk akses masuk. Kedua celah ini dihiasi oleh pintu beserta ukirannya yang memiliki makna tersendiri. Pada puncak Kori Agung juga terdapat ukiran salib yang menegaskan fungsi bangunan di dalamnya. Pada Kori Agung ini terdapat ukiran salib yang patah melambangkan posisi ketika Yesus di salib. Pada Kori Agung ini juga terdapat ukiran yang menyampaikan makna yang mirip dengan yang ada di Candi Bentar yakni perjalanan Eksodus bangsa Israel sampai keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir hingga mereka sampai ke tanah perjanjian yang telah dijanjikan oleh Tuhan dan pada akhirnya mereka pun membangun peredaban di sana.

Gambar 6. 19

Pada bangunan gereja juga terdapat Bale Kul-kul (kentongan khas Bali) yang sering digunakan sampai saat ini. Dikarenakan pada saat itu belum adanya alat komunikasi secanggih sekarang digunakan sebagai alat komunikasi untuk memanggil warga desa ketika ada acara keagamaan ataupun sebagai media pemberitahuan suatu peristiwa. Bahkan sampai saat ini walaupun sesudah memasuki era modern, Bale Kul-kul ini tetap eksis digunakan sebagai alat komunikasi.

18 Google.com (diakses 19 Juni 2022.) 13.21 WIB

19 Google.com (diakses 19 Juni 2022.) 13.18 WIB

Referensi

Dokumen terkait