EVALUASI IMPLEMENTASI KODE ETIK PUSTAKAWAN PADA DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP PROVINSI
SUMATERA UTARA
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) dalam bidang Program Studi
Ilmu Perpustakaan dan Informasi
BRIAN MOHAN TAMBA 110709063
PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERAUTARA MEDAN
2018
PERNYATAAN ORISINALITAS
Karya ini adalah karya orisinalitas dan belum pernah disajikan sebagai suatu tulisan untuk memperoleh suatu klasifikasi tertentu atau dimuat pada media publikasi lain.
Penulis membedakan dengan jelas antara pendapat atau gagasan penulis dengan pendapat atau gagasan yang bukan berasal dari penulis dengan mencantumkan tanda kutip.
Medan, Oktober 2018 Penulis
Brian Mohan Tamba 110709063
ABSTRAK
Tamba,Brian Mohan. 2018. Evaluasi Implementasi Kode Etik Pustakawan Pada Dinas Perpustakaan Dan Arsip Provinsi Sumatera Utara. Program StudiIlmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi pemahaman pustakawan tentang kode etik pustakawan pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Jumlah pustakawan yang bekerja di Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara sebanyak 34 orang dihitung sampai akhir Desember 2017. Untuk menentukan informan penelitian digunakan teknik purposive samplingsehingga informan dalam penelitian berjumlah lima orang. Data dikumpulkan dengan menggunakan wawancaraterstruktur.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwamasih adanya kendala yang dialami pustakawan Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utaradalam menerapkan beberapa substansi dari kode etik pustakawan yakni: tentang hubungan pustakawan dengan organisasi profesi dan hubungan pustakawan dengan masyarakat.
Kata Kunci : Kode Etik Pustakawan
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur peneliti panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkah dan anugerah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul: Evaluasi Implementasi Kode Etik Pustakawan Pada Dinas Perpustakaan Dan Arsip Provinsi Sumatera Utara.
Skripsi ini dibuat sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan studi untuk meraih gelar Sarjana Sosial (S.Sos) dalam bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ayahanda Tunggul Damiani Tambadan Ibunda Tonggina Simanjuntak,S.Ag serta kakak/adik saya Benedikta Tamba,S.Ag, Jayan Basri Tamba,S.Pd, Amoilung Rafael Tamba dan Handa Khapoor Tamba karena atas segala doa, dukungan dan kasih sayang mereka kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyajian skripsi ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu secara moral maupun material. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Ishak, S.S, M.Hum sebagai Ketua Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi.
3. Ibu Laila Hadri Nasution. S.Sos, M.P selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi.
4. Ibu Hotlan Siahaan, S.Sos. M.I.Kom selaku Dosen Pembimbing, yang telah banyak memberikan bantuan, bimbingan, dan arahan serta waktu dalam penulisan skripsi ini.
5. Bapak Dr. Irawaty A. Kahar M.Pd selaku Dosen Penguji I, yang telahmemberi masukan yang bermanfaat untuk kesempurnaan skripsi penulis.
6. Ibu Dra. Zaslina Zainuddin M.Pd selaku Dosen Penguji II, yang memberi masukan yang bermanfaat untuk kesempurnaan penulisan skripsi ini.
7. Kepada seluruh staf pengajar Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik penulis selama perkuliahan.
8. Bapak Ferlin H Nainggolan, SH selaku Kepala Dinas Perpustakaan Dan Arsip Provinsi Sumatera Utara, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian pada dinas tersebut.
9. Seluruh pegawai di Dinas Perpustakaan Dan Arsip Provinsi Sumatera Utara yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian penelitian ini.
10. Teman-teman angkatan 2011 Supitra Muhari S.Sos, David SinambelaS.Sos, Chandra Halomoan S.Sosyang telah memberikan doa, dukungan, dan masukan untuk penulisan skripsi ini.
11. Untuk sahabat tersayang Faithniken Sikaningsih SG, Vika, Riana, Delika, Adista, Lisbeth, Ardiyansah, Agum dan kawan-kawan yang tak dapat
penulis sebutkan satu persatuyang telah membantu mencari referensi serta masukan untuk penulisan skripsi saya.
Medan, Oktober 2018 Penulis
Brian Mohan Tamba 110709063
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... v
BAB IPENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
1.5 Ruang Lingkup ... 5
BAB IIKAJIAN TEORITIS ... 6
2.1 Perpustakaan Umum ... 6
2.1.1Tujuan Perpustakaan Umum ... 7
2.1.3 Tugas Perpustakaan Umum ... 8
2.2 Pustakawan ... 10
2.3 Profesi Pustakawan ... 13
2.3.1 Etika Profesi ... 17
2.4 Kode Etik ... 19
2.4.1 Tujuan Kode Etik ... 20
2.4.2 Fungsi Kode Etik ... 23
2.5 Kode Etik Pustakawan ... 24
2.5.1 Tujuan Kode Etik Pustakawan ... 26
2.5.2 Manfaat Kode Etik Pustakawan ... 27
2.6 Substansi Kode Etik Pustakawan Indonesia ... 28
2.6.1 Sikap Dasar Pustakawan ... 28
2.6.2 Hubungan Pustakawan dengan Pengguna ... 29
2.6.3 Hubungan Antar Pustakawan ... 31
2.6.4 Hubungan Pustakawan dengan Perpustakaan ... 32
2.6.5 Hubungan Pustakawan dengan Organisasi Profesi ... 33
2.6.6 Hubungan Pustakawan dengan Masyarakat ... 34
BAB IIIMETODE PENELITIAN ... 37
3.1 Gambaran Umum ... 37
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 38
3.3 Pendekatan dan Metode yang Digunakan ... 38
3.4 Data dan Sumber Data ... 39
3.5 Prosedur Pengumpulan Data ... 40
3.6 Analisis Data ... 41
3.7 Pemeriksaan Keabsahan Data ... 42
BAB IVHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 44
4.1 Karakteristik Informan ... 44
4.2 Hasil Penelitian ... 44
4.2.1 Implementasi Sikap Dasar Pustakawan ... 45
4.2.2 Implementasi Hubungan Pustakawan dengan Pengguna ... 53
4.2.4 Implementasi Hubungan Pustakawan dengan Perpustakaan ... 62
4.2.5 Implementasi Hubungan Pustakawan dengan Organisasi Profesi ... 65
4.2.6 Implementasi Hubungan Pustakawan dengan Masyarakat ... 67
BAB VKESIMPULAN DAN SARAN ... 70
5.1 Kesimpulan ... 70
5.2 Saran ... 71 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Perpustakaan sebagai salah satu pusat informasi bertugas menyediakan koleksi yang mutakhir dan relevan dengan kebutuhan pemakai serta menyediakan fasilitas, mengumpulkan, mengolah dan menyajikan layanan informasi untuk dapat dimanfaatkan oleh pemustaka secara efektif dan efisien. Melimpahnya informasi dalam berbagai jenis maupun bentuk media, mengharuskan pustakawan untuk melakukan perubahan terhadap perpustakaan yang peranannya sebagai mediator informasi, fasilitator, dan pendamping pendidik.
Kondisi tersebut merupakan tantangan bagi pustakawan dalam memberikan kontribusi kinerja yang memuaskan sesuai dengan harapan pemustaka. Kinerja merupakan kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggungjawab dengan hasil seperti yang diharapkan. Kinerja yang dilakukan oleh para pustakawan menyangkut juga pelayanan yang diberikan kepada pustakawan pada satu lembaga perpustakaan. Karena keberhasilan dari suatu perpustakaan tidak lepas dari pelayanan yang baik kepada pemustaka.
Pustakawan dalam memberikan pelayanan, harus menyenangkan serta memberikan kemudahan-kemudahan kepada pemustaka, maka pustakawan dituntut untuk memberikan kontribusi yang optimal, dalam artian pelayanan pustakawan yang berorientasi pada pemustaka.
Pelayanan pustakawan yang seharusnya mencerminkan kode etik pustakawan yaitu yang pertama adalah harus bersikap sopan, ramah, melayani dengan wajah ceria dan komunikatif kepada pemustaka; yang kedua adalah pustakawan dalam memberikan pelayanan kepada pemustaka harus mampu bersikap luwes, kemudian berusaha mengetahuai kemauan dari pemustaka; yang ketiga adalah memberikan pelayanan sampai tuntas, kemudian menjamin kerahasiaan informasi yang dicari oleh pemustaka. Kegiatan yang di atas juga merupakan usaha pustakawan dalam meningkatkan kualitas kinerjanya dalam pelayanan pustakawan, sehingga upaya tersebut akan benar-benar terwujud dan pustakawan diharapkan mengimplementasikan kode etik pustakawan dalam memberikan pelayanan.
Kode etik pustakawan mengatur dan sebagai pedoman kerja bagi pustakawan. Tujuan kode etik pustakawan adalah agar pustakawan profesional dalam memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemustaka. Penyusunan kode etik pustakawan dimulai sejak tahun 1993, kemudian diperbaharui pada tahun 1997 dan disempurnakan pada 19 September 2002, dan direvisi kembali pada 15 November 2006 di Denpasar Bali. Kode etik pustakawan merupakan panduan perilaku dan kinerja pustakawan dalam menjalankan profesinya, dengan demikian kode etik sangat dibutuhkan oleh pustakawan sebagai landasan kerja dan sebagai pedoman tingkah laku pustakawan dan sebagai sarana kontrol sosial untuk meningkatkan kepercayaan pengguna kepada perpustakaan sehingga mengangkat citra pustakawan itu sendiri.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara (DPA-PROVSU) merupakan bagian dari perpustakaan umum, yaitu salah satu perpustakaan yang diselenggarakan oleh pemerintah provinsi, dan kabupaten dan kota dengan jumlah pustakawan yang bertugas pada tahun 2017 adalah 34 orang. Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang, status sosial, agama, suku, pendidikan dan sebagainya. Tujuan dari perpustakaan umum antara lain untuk: memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk menggunakan bahan pustaka dalam meningkatkan pengetahuan keterampilan dan kesejahteraannya; menyediakan informasi yang murah, mudah, cepat dan tepat yang berguna bagi masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari; membantu dalam pengembangan dan pemberdayaan komunitas melalui penyediaan bahan pustaka dan informasi;
bertindak selaku agen kultural, sehingga menjadi pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya; memfasilitasi masyarakat untuk belajar sepanjang hayat. Dalam hal ini tidak lepas dari kualitas kinerja pelayanan yang diberikan oleh pustakawan, sehingga perpustakaan ini berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Dari hasil observasi awal peneliti pada DPA-PROVSU menemukan beberapa hal yang tidak sesuai dengan substansi yang dijabarkan pada kode etik pustakawan. Pertama, pustakawan kurang mampu menerapkan beberapa aspek tentang sikap dasar pustakawan, yaitu: tidak menunjukkan pelayanan yang ramah terhadap pengguna yang saat itu datang ke perpustakaan. Kedua, pustakawan kurang mampu menerapkan aspek tentang hubungan pustakawan dengan
pengguna, hal ini ditunjukkan pustakawan acuh tak acuh untuk membantu mencari bahan koleksi perpustakaan sehingga pengguna yang sering kesulitan dalam menemukan informasi yang dibutuhkannya antara lain mencari koleksi dan narasumber informasi. Sikap yang ditunjukkan oleh pustakawan tersebut merupakan penyimpangan dari kode etik pustakawan yang ditetapkan oleh Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) dan juga akan mencemari nama baik profesi sebagai pustakawan.
Pustakawan yang handal akan terwujud jika pustakawan bekerja secara profesional dan menjalankan kode etik yang berlaku, namun sayangnya tidak semua pustakawan mengerti dan menerapkan kode etik pustakawan apalagi jika kode etik tersebut menyangkut pustakawan sebagai sebuah profesi.
Berdasarkan pengamatan awal di atas, peneliti melakukan penelitian tentang “Evaluasi Implementasi Kode Etik Pustakawan Pada Dinas Perpustakaan Dan Arsip Provinsi Sumatera Utara” yang bertempat di Jln. Brigjend Katamso No. 45K Medan Sumatera Utara.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana penerapan kode etik pustakawan pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui penerapan kode etik pustakawan pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara.
1.4 Manfaat Penelitian
a. Bagi DPA-PROVSU
Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi DPA-PROVSU dalam meningkatkan kinerja yang sesuai dengan kode etik pustakawan.
b. Bagi Pustakawan
Sebagai referensi dalam menjalankan tugas sebagai pustakawan sesuai dengan kode etik pustakawan yang telah diterapakan.
c. Bagi Peneliti berikutnya
Hasil penelitian ini dapat disajikan sebagai bahan rujukan untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan kode etik pustakawan.
1.5 Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini adalah penerapan kode etik pada DPA- PROVSU berdasarkan kode etik pustakawan Indonesia yang meliputi :
1. Sikap dasar pustakawan.
2. Hubungan pustakawan dengan pengguna.
3. Hubungan antar pustakawan.
4. Hubungan pustakawan dengan perpustakaan.
5. Hubungan pustakawan dengan organisasi profesi.
6. Hubungan pustakawan dengan masyarakat.
BAB II
KAJIAN TEORITIS 2.1 Perpustakaan Umum
Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Pasal 1 Ayat 1 menyebutkan, perpustakaan adalah institusi pengolah koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Perpustakaan merupakan hal yang penting dalam setiap program pendidikan, dan penelitian. Perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dengan dana umum tujuan untuk melayani kebutuhan masyarakat akan informasi secara menyeluruh tanpa membedakan jenis kelamin, agama, ras, usia, pekerjaan dan kedudukan.
Adapun pengertian perpustakaan umum menurut Blasius (2002: 46) perpustakaan umum gerbang menuju pengetahuan, mendukung perorangan, dan kelompok untuk melakukan kegiatan belajar seumur hidup, pengam bilan keputusan mandiri dan pembangunan budaya. Sedangkan Santoso (2006: 159) mengemukakan bahwa: perpustakaaan umum adalah pusat informasi yang menyediakan pengetahuan dan informasi-informasi siap akses bagi penggunanya.
Layanan perpustakaan umum disediakan dengan dasar kesamaan akses untuk semua orang tanpa memandang perbedaan umur, ras, gender, agama, kebangsaan, bahasa dan status sosial. Semua kelompok umur pemakai harus mendapatkan
materi yang sesuai dengan kebutuhannya dan koleksi dan layanan harus bebas dari sensor politik, agama atau tekanan sosial.
Dari kedua uraian pendapat diatas dapat diketahui bahwa perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk melayani kepentingan umum dan memenuhi kebutuhan informasi masyarakat tanpa memebedakan umur, ras, gender, suku bangsa, agama yang dianut, bahasa, dan status sosial dalam mengakses pengetahuan dan informasi-informasi yang disediakan perpustakaan.
2.1.1 Tujuan Perpustakaan Umum
Demikian pentingnya peranan perpustakaan umum bagi kecerdasan bangsa sehingga UNESCO mengeluarkan manifesto perpustakaan umum pada tahun 1972. Adapun manifesto Perpustakaan Umum UNESCO, (Sulistyo-Basuki, 1991) menyatakan bahwa perpustakaan umum mempunyai 4 tujuan utama sebagai berikut :
1. Memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan merekan ke arah kehidupan yang lebih baik.
2. Menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat dan murah bagi masyarakat, terutama informasi mengenai topik yang bergurna dan sedang hangat dibicarakan dalam kalangan masyarakat (informasi mutakhir).
3. Membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, bantuan yang diberikan adalah dengan menyediakan bahan pustaka yang sesuai. Fungsi ini disebut sebagai fungsi pendidikan seumur hidup. Pendidikan sejenis ini hanya dapat dilakukan oleh perpustakaan umum karena perpustakaan umum merupakan satu-satunya pranata kepustakawanan yang terbuka bagi umum. Perpustakaaan nasional juga terbuka untuk umum, namun untuk memanfaatkannya tidak selalu terbuka langsung bagi perorangan, adakalanya harus melalui perpustakaan lain.
4. Bertindak selalku agen kultural, artinya perpustakaan umum merupakan pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya.
Perpustakaan umum bertugas menumbuhkan apresiasi budaya masyarakat sekitarnya dengan cara menyelenggarakan pameran budaya, ceramah, pemutaran film, dan penyediaan informasi yang dapat meningkatkan keikutsertaan, kegemaran dan apresiasi masyarakat terhadap segala bentuk seni budaya.
Selain beberapa tujuan yang harus dicapai seperti tersebut di atas, perpustakaan umum juga mempunyai misi agar tidak ditinggalkan oleh anggotanya.
Menurut Blasius (2002) misi perpustakaan umum adalah berikut ini : a. Menciptakan dan menguatkan kebiasaan membaca sejak dini.
b. Mendukung pelaksanaan pendidikan formal dan perorangan yang belajar mandiri.
c. Memberikan peluang bagi pengembangan kreativitas.
d. Merangsang imajinasi dan kreativitas kaum muda.
e. Mempromosikan warisan budaya, penemuan ilmiah, dan inovasi.
f. Menyediakan akses pada ekspresi budaya.
g. Membina dialog antar budaya dan mendukung keanekaragaman budaya.
h. Membantu budaya lisan.
i. Menjamin akses atas semua jenis informasi ke masyarakat bagi semua warga.
j. Menyediakan cukup informasi bagi perusahaan, asosiasi, dan kelompok pemerhati setempat.
k. Memberikan kemudahan dalam pengembangan keterampilan dan ketidakbutaan informasi dan komputer.
l. Membantu dan aktif dalam kegiatan pemberantasan buta huruf pada semua tingkatan.
2.1.2 Tugas Perpustakaan Umum
Untuk mencapai suatu tujuan perpustakaan umum harus dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Adapun tugas perpustakaan umum menurut Yusup (1995: 24) adalah :
1. Mengumpulkan segala macam media cetak dan karya lainnya yang dihasilkan oleh daerah yang tercakup dalam wilayah koordinasinya.
2. Menghimpun semua jenis informasi kemudian mengolahnya untuk kepentingan pemanfaatan bagi masyarakat banyak, yaitu anggota masyarakat yang secara administratif terjangkau dalam pelayanannya.
3. Mengelola sumber-sumber informasi yang beragam pula sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang bervariasi.
Sedangkan dalam Buku Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2000: 5), Tugas pokok perpustakaan umum adalah menyediakan, mengolah, memelihara dan mendayagunakan koleksi bahan pustaka, menyediakan sarana pemanfaatannya dan melayani masyarakat pengguna yang membutuhkan informasi dan bahan bacaan. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa tugas perpustakaan umum adalah menghimpun semua informasi, mengolah, memelihara dan mendayagunakan koleksi bahan pustaka untuk kepentingan pemnfaatan bagi masyarakat umum.
Pendapat lain dikemukakan oleh Yusuf (1996: 18) menyatakan bahwa tugas pokok perpustakaan umum adalah sebagai berikut :
1. Perpustakaan umum disediakan oleh pemerintah dan masyarakat untuk melayani kebutuhan bahan pustaka masyarakat.
2. Perpustakaan umum menyediakan bahan pustaka yang dapat menumbuhkan kegairahan masyarakat untuk belajar dan membaca sedini mungkin.
3. Mendorong masyarakat untuk terampil memilih bacaan yang sesuai dengan kebutuhannya dalam meningkatkan pengetahuan untuk menunjang pendidikan formal, nonformal, dan informal.
4. Menyediakan aneka ragam bahan pustaka yang bermanfaat untuk dibaca agar dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat yang layak sehingga dapat berpartisipasi dalam pembangunan nasional.
Berdasarkan uraian pendapat di atas dapat diketahui bahwa tugas perpustakaan umum adalah melayani kebutuhan masyarakat dengan menyediakan berbagai ragam bahan bacaan yang bermanfaat yang dapat mendorong masyarakat
untuk terampil membaca sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sehingga dapat berpartisipasi dalam pembangunan nasional.
2.2 Pustakawan
Kata pustakawan berasal dari kata “pustaka”. Dengan demikian penambahan kata “wan” diartikan sebagai orang yang pekerjaannya atau profesinya terkait erat dengan dunia pustaka atau bahan pustaka. Dalam bahasa Inggris pustakawan disebut sebagai “librarian” yang juga terkait erat dengan kata
“library”. Sejak tahun 1988 pemerintah Indonesia mengakui profesi pustakawan sebagai jabatan fungsional.
Menurut Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI,2006 ) dikatakan bahwa yang disebut pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu pengetahuan, dokumentasi dan informasi yang dimiliki melalui pendidikan.
Sedangkan menurut kamus istilah perpustakaan karangan Lasa, HS pustakawan adalah: tenaga profesional dan fungsional di bidang perpustakaan, informasi maupun dokumentasi. Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan disebutkan bahwa : pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperolehnya melalui pendidikan dan pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.
Dari ketiga pendapat di atas dapat diketahui bahwa pustakawan yang profesional di bidang perpustakaan telah memberikan pelayanan sesuai tugas
lembaga induknya berdasarkan ilmu pengetahuan, dokumentasi dan informasi yang dimiliki melalui pendidikan.
Poerwadarminta (2006: 44) menambahkan bahwa pustakawan adalah ahli perpustakaan. Dengan pengertian tersebut berarti pustakawan sebagai tenaga yang berkompeten dibidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi. Selanjutnya Aziz (2006: 44) menambahkan bahwa: Perpustakan merupakan tenaga profesi dalam bidang informasi, khususnya informasi publik, informasi yang disediakan merupakan informasi publik melalui lembaga kepustakawanan yang meliputi berbagai jenis perpustakaan.
Pustakawan merupakan tenaga fungsional yang statusnya seharusnya tidak berbeda dengan tenaga profesional lainnya seperti guru, dosen, hakim, dokter, jaksa dan sebagainya.Pustakawan merupakan suatu profesi. Seperti tenaga profesional lainnya, pustakawan juga memiliki jenjang pendidikan yang harus dilalui dari D2, D3, S1, S2 hingga S3 sekalipun.
Pustakawan juga memiliki karir dan jenjang kepangkatan. Pustakawan jika ingin meningkatkan karirnya, mereka harus mengikuti serangkaian pelatihan yang intensif. Pelatihan-pelatihan yang diikutinya merupakan proses pembelajaran yang sesuai dengan bidang keahlian kepustakawanan yang tidak diketahui atau dipahami oleh orang awam. Semakin tinggi pendidikan dan karir yang diraih oleh pustakawan, semakin berkualitas nilai pustakawan tersebut.
Jenjang jabatan fungsional pustakawan terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok pustakawan Tingkat Terampil (PTT) dan kelompok Pustakawan Tingkat Ahli (PTA). Pustakawan Tingkat Terampil adalah pustakawan yang
memiliki dasar pendidikan untuk pengangkatan pertama kali serendah-rendahnya Diploma II (D2) Perpustakaan, Dokumentasi dan Informasi atau Diploma bidang lain yang disetarakan(Muin, 2014: 196).
Pustakawan Tingkat Terampil terdiri dari : a. Pustakawan Pelaksana
b. Pustakawan Pelaksana Lanjutan c. Pustakawan Penyedia
Pustakawan Tingkat Ahli (PTA) adalah pustakawan yang memiliki dasar pendidikan untuk pengangkatan pertama kali serendah-rendahnya sarjana (S1) Perpustakaan, Dokumnetasi dan informasi atau sarjana bidang lain yang disetarakan.
Pustakawan Tingkat Ahli terdiri dari:
a. Pustakawan pertama b. Pustakawan Muda c. Pustakawan madya d. Pustakawan Utama
Hal yang melandasi profesi pustakawan adalah sebagaimana yang tertera dalam undang-undang No 43 tahun 2007 tentang perpustakaan pasal 29 ayat 2 yang berbunyi “pustakawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kualifikasi sesuai dengan standar nasional perpustakaan”
Pasal 30 dalam undang-undang tersebut disebutkan “Perpustakaan Nasional, perpustakaan Umum Pemerintah, Perpustakaan Umum Provinsi,
Perpustakaan Umum kabupaten/Kota dan Perpustakaan Perguruan Tinggi dipimpin oleh Pustakawan atau oleh tenaga ahli dalam bidang perpustakaan”.
Dari isi Undang-Undang tersebut tertulis jelas bahwa pustakawan merupakan tenaga profesional terdidik. Oleh karena itu, para pustakawan harus memiliki rasa kebanggaan dan layak disetarakan dengan profesi lainnya.Masyarakat kita juga seharusnya memahami dan mengakui profesi pustakawan.Hal penting yang juga harus dipahami bahwa tidak semua orang yang bekerja di perpustakaan itu kemudian disebut pustakawan. Banyak orang yang sebenarnya bukan atau belum layak menyandang profesi pustakawan bekerja diperpustakaan dan sering kali dipanggil dengan sebutan pustakawan.
Dari beberapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pustakawan merupakan tenaga profesi dalam bidang informasi, yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang.
2.3 Profesi Pustakawan
Menurut Harefa (2004: 121) kata profesi berasal dari kata latin, yaitu professus yang makna semula dihubungkan dengan sumpah atau janji yang bersifat keagamaan dan pengakuan. Sedangkan menurut Arifin (2008: 58), Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan keterampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari manusia serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut.
Profesi juga diartikan Markus Willy (2005: 518), sebagai sesuatu pekerjaan berjenjang karir yang membutuhkan pendidikan dan keterampilan dalam melakukannya.
Good’s Dictionary of Educationmendefinisikan profesi sebagai susatu pekerjaan yang meminta persiapan spesialisasi yang relatif lama di Perguruan Tinggi dan dikuasai oleh suatu kode etik yang khusus. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesi diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (seperti keterampilan, kejururan, dan sebagainya) tertentu.
Dari penyataan yang dikemukakan oleh bebrapa ahli diatas dapat disimpulkan bahwa profesi merupakan pekerjaan yang harus dikerjakan dengan bermodal pendidikan, keahlian, keterampilan dan spesialiasi tertentu yang berlandaskan disiplin etika dan sumpah atau janji untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Profesi pustakawan sering kali menjadi sebuah pertanyaan bagi masyarakat. Tak banyak orang yang mengenal dan mengetahui siapa itu pustakawan dan apa pekerjaannya. Masyarakat umumnya tahu bahwa di perpustakaan ada pekerja yang memberikan layanan informasi, namun seringkali mereka tidak tahu siapakah yang disebut pustakawan itu.
Surat Keputusan Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara No.18/MENPAN/1988 tentang Angka kredit bagi jabatan pustkawan dan diperbaharui dengan SK Menpan No.33 Tahun 1990 yang kemudian diperbaharui kembali dengan SK Menpan No.132 Tahun 2002. Para ahli atau pemerhati
pustakawan pun secara jelas mengakui eksistensi pustakawan sebagai suatu profesi. Berikut ini merupakan ciri-ciri dari profesi, yaitu:
1. Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoritis Seseorang profesional harus memiliki pengetahuan teoritis dan keterampilan menegenai bidang teknik yang ditekuni dan bisa diterapkan dalam pelaksanaanya atau prakteknya dlam kehidupan sehari-hari.
2. Asosiasi.
Profesional Merupakan suatu badan organisasi yang biasanya diorganisasikan oleh anggota profesi yang bertujuan untuk meningkatkan status para anggotanya.
3. Pendidikan yang Ekstensi.
Profesi yang prestisius biasanya memerlukan pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi. Seorang profesional dalam bidang teknik mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi baik itu dalam suatu pendidikan formal ataupun non formal.
4. Ujian Kompetisi.
Sebelum memasuki organisasi profesional, biasanya ada persyaratan untuk lulus dari suatu tes yang menguji terutama pengetahuan teoritis.
5. Pelatihan Institusional.
Selain ujian, juga biasanya dipersyaratkan untuk megikuti pelatihan institusional dimana calon profesional mendapatkan pengalaman praktis sebelum menjadi anggota penuh organisasi. Peningkatan keterampilan melalui pengembangan profesional juga dipersyaratkan.
6. Lisensi.
Profesi menetapkan syarat pendaftaran dan proses sertifikasi sehingga hanya mereka yang memiliki lisensi bisa dianggap bisa dipercaya.
7. Otonomi Kerja.
Profesional cenderung mengendalikan kerja dan pengetahuan teoretis mereka agar terhindar dari adanya intervensi dari luar.
8. Kode Etik.
Organisasi profesi biasanya memiliki kode etik bagi para anggotanya dan prosedur pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan.
9. Mengatur Diri.
Organisasi profesi harus bisa mengatur organisasinya sendiri tanpa campur tangan pemerintah. Profesional diatur oleh mereka yang lebih senior, praktisi yang dihormati, atau mereka yang berkualitas paling tinggi.
10. Layanan Publik da Altruism.
Diperolehnya penghasilan dari kerja profesinya dapat dipertahankan selama berkaitan dengan kebutuhan publik, seperti layanan dokter berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat.
11. Status dan Imbalan yang tinggi.
Profesi yang paling sukses akan meraih status yang tinggi, prestise, dan imbalan yang layak bagi para anggotanya. Hal tersebut bisa dianggap
sebagai pengakuan terhadap layanan yang mereka berikan bagi masyarakat.
Pustakawan profesional adalah tenaga yang memiliki sertifikat atau diploma setingkat diploma 2 dalam ilmu perpustakaan, sedangkan teknisi merupakan tenaga perpustakaan yang berpendidikan SLTA ke bawah dengan pendidikan kepustakawanan satu tahun atau kurang.
Hal senada dinyatakan oleh Tjitropranoto (1995: 29) yang menggambarkan tenaga profesional pustakawan berdasarkan keahlian dan ketrampilan dengan ciri sebagai berikut :
1. Mempunyai metodologi, teknik analisis, serta teknik dan prosedur kerja yang didasarkan pada disiplin ilmu pengetahuan dan atau pelatihan teknis tertentu dengan sertifikasi.
2. Memiliki etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi.
3. Dapat disusun dalam suatu jenjang jabatan berdasarkan : tingkat keahlian bagi jabatan fungsional keahlian, tingkat keterampilan bagi jabatan fungsional keterampilan.
4. Pelaksanaan tugas bersifat mandiri.
5. Jabatan fungsional tersebut diperlukan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi organsasi.
Senada dengan itu, Arifin (2006: 29 menjabarkan profesionalisme dalam tiga watak kerja yang merupakan persyaratan dari setiap kegiatan pemberian jasa profesi ialah:
a. Kerja seorang profesional bertekad untuk merealisasikan kebijakan demi tegaknya kehormatan profesi yang digeluti dan oleh
karenanya tidak terlalu mementingkan imbalan upah material.
b. Kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan atau pelatihan yang panjang, ekslusif,dan berat.
c. Kerja seorang profesional diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral harus menundukkan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan disepakati bersama didalam sebuah organisasi profesi.
Pengertian sederhana istilah profesional adalah segala hal yang berkaitan dengan profesi, yaitu memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya (Supriyanto, 2003: 4). Kartosedono (2003:2) menambahkan bahwa tanggung jawab utana pelaksanaan tugas pustakawan profesional dituntut adanya keikhlasan, kejujuran, dan pengabdian dalam melayani masyarakat pemakai perpustakaan, serta mempunyai tanggung jawab pada publik.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat dartikan bahwa profesi pustakawan adalah suatu profesi yang menunjukkan tugas, bertnggung jawab, memiliki wewenang dan hak pustakawan didasarkan pada keahlian dan keterampilan dalam melaksanakan kegiatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang bersifat mandiri. Keahlian dan keterampilan di bidang perpustakaan atau kompetensi memadai yang dipersyaratkan di bidang perpustakaan menandakan profesi pustakawan menempati posisi dalam katagori profesi yang profesional.
2.3.1 Etika Profesi
Etika berasal dari bahasa asing yaitu Ethic(s) bahasa Inggris atau Ethica dalam bahasa Latin, Ethique dalam bahasa Prancis, Ethikos dalam bahasa Yunani Kuno (Greek) yang artinya kebiasaan-kebiasaan terutama yang berkaitan dengan tingkah laku manusia. Etika (ethics) mempunyai pengertian standar tingkah laku atau perilaku manusia yang baik, yakni tindakan yang tepat, yang harus dilaksanakan oleh manusia yang sesuai dengan ketentuan moral pada umumnya.
Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk dan tanggung jawab.
Rubin (2004: 324) menyatakan bahwa etika bagi para profesional di bidang informasi merupakan salah satu bentuk penegasan terhadap nilai-nilai dari pelayanan, termasuk didalamnya adalah keharusan menghormati sesama, yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup bermasyarakat.
Dalam Code of Professional Ethics (APA,2003: 4), suatu etika profesi menuntut memiliki prinsip-prinsip yang menjadi bagian dari kewajiban moral anggotanya yang berupa:
a. Respect for nights and dignity of the person, yaitu prinsip yang selalu menghormati hak dan martabat manusia.
b. Competence, yaitu kemampuan dan keahlian yang sesuai dengan bidang kerja yang ditekuni.
c. Responsibility, yaitu tanggungjawab dalam setiap pelaksanaan tugas-tugas.
d. Integrity, yaitu tidak terpisah-pisah antara hak dan kewajiban, selalu ada keseimbangan anatara tuntutan hak dan pelaksanaan kewajiban di setiap tugasnya.
Sedangkan Rindjin (2004: 65) menyatakan bahwa etika mempunyai tiga makna, yaitu:
1. Etika (kebiasaan, watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan, akhlak atau watak tertentu. Dalam perjalanan hidup seseorang proses pembentukannya berlangsung secara perlahan, tetapi berkelanjutan, sehingga terbentuk kebiasaan dan kemudian menjadi watak yang kuat.
2. Etika dalam bentuk jamak, berarti adat istiadat, yaitu norma-norma yang dianut oleh kelompok, golongan atau masyarakat tertentu mengenai perbuatan baik dan buruk.
3. Etika adalah studi tentang prinsip-prinsip perilaku yang baik dan yang buruk.
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa etika secara umum adalah ilmu yang mengajarkan tentang baik dan buruk dalam mengendalikan pola perilaku hidup manusia baik secara pribadi maupun sebagai kelompok yang sesuai dengan
norma-norma hukum atau kaidah-kaidah yang berlaku dalam kehidupan sehari- hari.
2.4 Kode Etik
Kode etik terdiri dari dua kata yaitu kode dan etik, dalam bahasa Inggris terdapat berbagai makna dari kata code diantaranya tingkah laku, perilaku, peraturan perundang-undangan, dan kata ethic bermakna sejumlah aturan moral atau prinsip prilaku untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah.
Sulystyo Basuki (2001: 23) kode etik sebagai sistem norma, nilai, dan aturan profesional tertulis secara tegas menyatakan apa yang benar atau salah.
Harrolds Librarian’s Glossalry and Reference Books (Harold, 1995: 518) mencantumkan definisi kode etik, yaitu: “A document setting out the norms of professional conduct and behavior required of members of a professional association”. Dengan kata lain bahwa kode etik adalah suatu dokumen yang berisi norma moral dan perilaku seorang profesional yang mengacu pada kesepakatan anggota asosiasi profesionalnya.
Martono (1993: 16) mengatakan bahwa kode etik merupakan persetujuan bersama yang berasal dari para anggota profesi itu sendiri untuk mengarahkan mereka, sesuai dengan nilai-nilai ideal yang diharapkan.
Sedangkan dalam ALA Glosseary of Library and Information Science pada tahun 1983 disebutkan bahwa kode etik adalah pernyataan standar profesi yang ideal yang dianut oleh kelompok profesional atau organisasi profesi untuk menuntun anggotanya dalam mengemban tanggungjawab profesionalnya.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional yang telah diakui, disepakati dan diterapkan oleh masing-masing anggota dari kelompok profesi tersebut.
Dalam kode etik pustakawan Indonesia Pasal 1, kode etik pustakawan Indonesia merupakan:
1. Aturan tertulis yang harus dipedomani oleh setiap pustakawan dalam melaksanakan tugas profesi sebagai pustakawan.
2. Etika profesi pustakawan yang menjadi landasan moral yang dijunjung tinggi, diamalkan dan diamankan oleh setiap pustakawan.
3. Ketentuan mengatur pustakawan dalam melaksanakan tugas kepada diri sendiri, sesama pustakawan, pengguna, masyarakat dan negara.
Sehingga dapat dikemukakan bahwa pengertian dari kode etik adalah seperangkat standar aturan tingkah laku yang dibuat oleh organisasi profesi yang menjadi landasan perilaku anggotanya dalam menjalankan tugas dan profesinya.
2.4.1 Tujuan Kode Etik
Pada dasarnya tujuan kode etik suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota dan kepentingan organisasi. Hermawan dan Zen (2006: 84) memberikan penjabaran mengenai tujuan kode etik dari suatu organisasi profesi yaitu :
1. Menjaga Martabat dan Moral Profesi.
Salah satu hal yang harus dijaga oleh suatu profesi adalah martabat dan moral. Agar profesi itu mempunyai martabat yang perlu dijaga dan dipelihara adalah moral. Profesi yang mempunyai martabat dan moral yang tinggi, sudah pasti akan mempunyai citra atau image yang tinggi pula di masyarakat. Untuk itu, profesi membuat kode etik yang akan mengatur
sikap dan tingkah laku anggotanya, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Oleh karena itu kode etik profesi sering disebut juga sebagai kode kohormatan profesi, jika kode etik dilanggar maka nama baik profesi akan tercemar, berarti merusak martabat profesi.
2. Memelihara Hubungan Antar Profesi.
Kode etik juga dimaksudkan untuk memelihara hubungan antar anggota.
Dalam kode etik diatur hak dan kewajiban kepada antar sesama anggota profesi. Satu sama lain saling hormat menghormati dan bersikap adil, serta berusaha meningkatkan kesejahteraan bersama. Dengan adanya aturan tersebut diharapkan mampu mendukung keberhasilan bersama.
3. Memelihara Hubungan Anggota Profesi.
Dalam kode etik dirumuskan tujuan pengabdian profesi, sehingga anggota profesi mendapat kepastian dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Oleh karena itu, biasanya kode etik merumuskan ketentuan bagaimana anggota profesi melayani masyarakat. Dengan adanya ketentuan itu, para anggota profesi dapat meningkatkan pengabdiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan tanah air serta kemanusiaan.
4. Meningkatkan Mutu Profesi.
Untuk meningkatkan mutu profesi, kode etik juga memuat kewajiban agar para anggota profesinya berusaha untuk memelihara dan meningkatkan mutu profesi. Selain itu, kode etik juga mengatur kewajiban agar para anggotanya mengikuti perkembangan zaman. Setiap anggota profesi berkewajiban memelihara dan meningkatkan mutu profesi, yang pada umumnya dilakukan dalam wadah organisasi profesi.
5. Melindungi Masyarakat Pemakai.
Profesi, seperti hal profesi pustakawan adalah melayani masyarakat.
Melalui kode etik yang dimiliki, dapat melindungi pemakai jasa. Ketika ada anggota profesi melakukan sesuatu yang tidak patut dilakukan sebagai pekerja profesional, maka kode etik adalah rujukan bersama.
Sejalan dengan pendapat Hermawan dan Zen, pendapat lain tujuan dari kode etik menurut Soepardan (2007: 40) menyatakan bahwa tujuan kode etik adalah sebagai berikut :
1. Menjunjung Tinggi Martabat dan Citra Profesi.
Image pihak luar atau masyarakat terhadap satu profesi perlu dijaga untuk mencegah pandangan merendahkan atau meremehkan profesi tersebut.
Oleh karena itu, setiap kode etik profesi akan melarang berbagai bentuk tindakan atau kelakuan anggota profesi yang dapat mencemarkan nama baik profesi di dunia luar sehingga kode etik disebut juga “kode kehormatan”.
2. Menjaga dan Memelihara Kesejahteraan Para Anggota.
Kesejahteraan yang dimaksud adalah kesejahteraan material dan spiritual
umumnya menetapkan larangan-larangan bagi anggotanya untuk melakukan perbuatan yang merugikan kesejahteraan. Kode etik juga menciptakan peratuan-perauran yang mengatur tingkah laku yang tidak pantas atau tidak jujur para anggota profesi ketika berinteraksi dengan sesama anggota profesi.
3. Meningkatkan Pengabdian Para Anggota Profesi.
Kode etik juga berisi tujuan pengabdian profesi tertentu, sehingga para anggota profesi dapat dengan mudah mengetahui tugas dan tanggung jawab pengabdian profesinya. Oleh karena itu, kode etik merumuskan ketetuan-ketentuan yang perlu dilakukan oleh para anggota profesi dalam menjalankan tugasnya.
4. Meningkatkan Mutu Profesi.
Kode etik juga memuat norma-norma serta anjuran agar profesi selalu berusaha untuk meningkatkan mutu profesi sesuai dengan bidang pengabdiannya. Selain itu, kode etik juga mengatur bagaimana cara memelihara dan meningkatkan mutu organisasi profesi.
Hal ini juga dikemukakan oleh Ernawan (2007: 125) tujuan dibuatnya kode etik adalah menjunjung martabat profesi atau memelihara kesejahteraan para anggotanya dengan mengadakan larangan-larangan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang akan merugikan kesejahteraan material para anggotanya. Sehingga maksud yang terkandung dalam pembentukan kode etik yaitu :
a. Menjaga dan meningkatkan kualitas moral.
b. Menjaga dan meningkatkan keterampilan teknis.
c. Melindungi kesejahteraan materil dari para pengemban profesi.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa tujuan dibuatnya kode etik profesi yaitu untuk menjunjung moral dan martabat dari suatu profesi, meningkatkan mutu dari profesi, memelihara hubungan dan meningkatkan kesejahteraan para anggota.
2.4.2 Fungsi Kode Etik
Pada dasarnya kode etik memiliki fungsi ganda yaitu sebagai pelindung danpengembangan bagi profesi. Menurut Julia (2013: 3) ada tiga hal pokok yang merupakan fungsi dari kode etik yaitu :
1. Kode etik memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan. Maksudnya bahwa dengan kode etik, pelaksana profesi mampu mengetahui suatu hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.
2. Kode etik merupakan sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan. Maksudnya bahwa etika profesi dapat memberikan suatu pengetahuan kepada masyarakat agar juga dapat memahami arti pentingnya suatu profesi, sehingga memungkinkan pengontrolan terhadap para pelaksana di lapangan kerja.
3. Kode etik mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi. Arti tersebut dapat dijelaskan bahwa para pelaksana profesi pada suatu instansi atau perusahaan yang lain tidak boleh mencampuri pelaksanaan profesi dilain instansi atau perusahaan.
Pendapat lain fungsi kode etik yang dikemukakan oleh Ernawan (2007:
125) yaitu :
1. Menguatkan kepercayaan masyarakat terhadap suatu profesi, karena setiap klien mempunyai kepastian bahwa kepetingannya akan terjamin.
2. Sarana kontrol sosial.
3. Pengemban patokan yang lebih tinggi.
4. Pencegah kesalahpahaman dan konflik.
Sedangkan Soepardan dan Hadi mengemukakan (2007: 39) kode etik berfungsi sebagai berikut :
1. Memberi panduan dalam membuat keputusan tentang masalah etik.
2. Menghubungkan nilai atau norma yang dapat diterapkan dan dipertimbangkan dalam memberi pelayanan.
3. Merupakan cara untuk mengevaluasi diri.
4. Menjadi landasan untuk memberi umpan balik bagi teman sejawat.
5. Menginformasikan kepada profesi lain dan masyarakat tentang nilai moral.
6. Menginformasikan kepada profesional tentang nilai dan standar profesi.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa fungsi dari kode etik yaitu sebagai sarana kontrol sosial, memberikan pedoman dan panduan bagi anggota profesi, untuk mencegah kesalah pahaman dan untuk mengevaluasi diri.
2.5 Kode Etik Pustakawan
Kode etik pustakawan pertama kali muncul di dalam sebuah paper di Prant Institute Library School tahun 1903. Pada tahun 1922 muncul sebuah proposal kode etik dalam Annual of the American Academy of Political and Social Science. Proposal ini terdiri dari 30 bagian, yang dianalisis secara profesional dan ditampilkan oleh Council of American Library Association pada bulan Desember 1929. Pada tahun 1939, kode etik ini ditampilkan secara lengkap di ALA Bulletin terdiri dari lima bagian besar, yaitu :
a. Hubungan pustakawan dengan pemerintah.
b. Hubungan pustakawan dengan pemakai.
c. Hubungan pustakawan dengan staf di perpustakaannya.
d. Hubungan pustakawan dengan profesinya.
e. Hubungan pustakawan dengan masyarakat.
Kode etik pustakawan di Indonesia lahir setelah melalui berbagai perkembangan selama dua puluh tahun melalui kongres yang diadakan di berbagai kota. Undang-Undang Republik Indonesia No.43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Pasal 36 ayat 1, memberikan batasan pengertian kode etik pustakawan adalah norma atau aturan yang harus dipatuhi oleh setiap pustakawan untuk menjaga kehormatan, martabat, citra dan profesionalitas. Anggran Dasar dan Rumah Tangga (AD/ART) Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) menegaskan
bahwa kode etik pustakawan adalah panduan perilaku dan kinerja semua anggota pustakwan Indonesia dalam melaksanakan tugasnya dibidang kepustakawanan (IPI, 2006).
Suwarno mengemukakan bahwa kode etik pustakawan adalah seperangkat aturan atau norama yang menjadi standar tingkah laku yang berlaku bagi profesi pustakwan dalam rangka melaksanakan kewajiban profesionalnya di dalam kehidupan masyarakat (Suwarno,2010: 108).
Seperti yang kita telah ketahui bahwa kode etik merupakan suatu aturan atau norma-norma tentang perilaku apa yang baik dan apa yang benar yang harus dilakukan bagi anggota profesi pada bidang tertentu. Dan kalau dihubungkan dengan profesi pustakawan maka kode etik pustakawan adalah serangkaian aturan atau norma-norma tentang tingkah laku yang dirumuskan secara tertulis, dan kemudian menjadi sebagian pedoman, dan aturan dalam bekerja secara profesional oleh para pustakawan.
Kode etik pustakawan di Indonesia dikeluarkan oleh Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), sehingga setiap pustakawan harus tunduk dan taat pada kode etik pustakawan Indonesia, dengan demikian kode etik pustakawan menjadi milik seluruh anggota profesi pustakawan.
Kode Etik Pustakawan Indonesia terdiri dari beberapa bagian yaitu : 1. Mukadimah.
2. Bab I berisi tentang ketentuan umum.
3. Bab II berisi tentang tujuan.
4. Bab III berisi tentang sikap dasar pustakawan, hubungan dengan pengguna, hubungan antar pustakawan, hubungan dengan pustakawan, hubungan pustakawan dengan organisasi profesi, hubungan pustakawan dalam masyarakat, pelanggaran, pengawasan dan ketentuan lain.
2.5.1 Tujuan Kode Etik Pustakawan
Berikut ini dapat diuraikan beberapa tujuan dari kode etik pustakawan menurut Hermawan dan Zen (2006: 84) yaitu :
1. Meningkatkan pengabdian pustakawan kepada Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan negara.
2. Menjaga martabat pustakawan adalah tugas anggota untuk selalu martabat dan kehormatan pustakawan dengan berlandaskan niai-nilai moral yang dianut oleh masyarakat.
3. Meningkatkan mutu profesi pustakawan; untuk dapat memberikan layanan kepustakawan terhadap masyarakat, maka anggota profesi berkewajiban untuk meningkatkan mutu profesi dan anggota melalui berbagai kegiatan, baik melalui pendidikan formal, non-formal atau informal.
4. Meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan, terutama layanan informasi kepada masyarakat; mendapatkan informasi, adalah merupakan hak setiap orang, maka pustakawan sebagai pekerja harus berupaya agar kuantitas dan kualitas informasi yang diberikan selalu meningkat sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Tujuan kode etik pustakawan yang tertuang dalam kode etik pustakawan Indonesia Pasal 2 adalah :
1. Membina dan membentuk karakter pustakawan.
2. Mengawasi tingkah laku pustakawan dan sarana kontrol sosial
3. Mencegah timbulnya kesalahpahaman dan konflik antara anggota dengan masyarakat.
4. Menumbuhkan kepercayaan masyarakat pada perpustakaan dan mengangkat citra pustakawan.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa tujuan dari kode etik pustakawan adalah menjaga martabat pustakawan, meningkatkan mutu dari profesi pustakawan, meningkatkan kualitas layanan dan mencegah kesalah pahaman dan konflik antar anggota dan masyarakat.
2.5.2 Manfaat Kode Etik Pustakawan
Kode etik memberikan manfaat terhadap profesi, anggota dan masyarakat, menurut Hermawan dan Zen (2006:101) memberikan penjelasan secara rinci manfaaat kode etik adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Bagi profesi.
Manfaat kode etik bagi profesi adalah sebagai berikut ; a. Dasar formal dari suatu organisasi yang profesional.
b. Sebagai indikator bahwa pekerjaan pustakawan adalah matang dan bertanggung jawab.
c. Kode etik akan membantu anggota memiliki standar kinerja.
d. Sebagai alat kontrol masuknya anggota ke dalam profesi atau asosiasi.
e. Meyakinkan hubungan layanan perpustakaan dan informasi yang disajikan terhadap kebutuhan masyarakat yang harus dilayani.
f. Menyediakan manajemen layanan perpustakaan informasi yang baik dan efektif.
g. Mendorong para pustakawan untuk memahami tanggung jawab individual untuk melibatkan diri dan mendukung assosiasi profesi mereka.
2. Manfaat Bagi Anggota.
Manfaat kode etik bagi anggota profesi adalah sebagi berikut:
a. Anggota profesi memiliki tuntutan moral dalam melaksanakan tugas profesinya.
b. Menjamin hak pustakawan dan pekerja informasi untuk berpraktik.
c. Dapat memelihara kemampuan, keterampilan, dan keahlian para anggota.
d. Dapat memperbaiki kinerja yang dapat mengangkat citra, status dan reputasi.
e. Perbaikan kesejahteraan dan apresiasi.
f. Dapat menghilangkan keragu-raguan dan kebingungan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab dalam hubungan dengan pemakai, pustakawan dan atasan.
3. Manfaat Bagi Masyarakat.
Manfaat kode etik bagi masyarakat adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan mutu layanan terhadap masyarakat.
b. Memungkinkan masyarakat untuk menyampaikan keluhannya, jika ada layanan yang diberikan tidak memenuhi standar yang telah ditetapkannya.
c. Memberi perlindungan hak akses terhadap informasi.
d. Menjamin hak akses pemakai terhadap informasi yang diperlukannya.
e. Menjamin kebenaran, keakuratan, dan kemutakhiran setiap informasi yang diberikan.
f. Melindungi pemakai dari beban lebih informasi (information overload).
2.6 Substansi Kode Etik Pustakawan Indonesia
Dalam kode etik pustakawan Indonesia memiliki substansi yang dijabarkan dalam berbagai kewajiban yang dimiliki pustakawan, yaitu sikap dasar pustakawanan, hubungan dengan pengguna, hubungan antar-pustakawan, hubungan dengan perpustakaan, hubungan pustakawan dengan organisasi profesi, dan hubungan pustakawan dengan masyarakat.
2.6.1 Sikap Dasar Pustakawan
Kode etik pustakawan yang ditetapkan IPI pada Pasal 3 menuangkan beberapa sikap dasar, menurut Suwarno (2010: 115) substansi kode etik pustakawan dalam sikap dasar pustakawan yaitu :
a. Berupaya melaksanakan tugas yang sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya dan kebutuhan pengguna perpustakaan pada khususnya.
Tugas pustakawan adalah melayani pemustaka denga baik. Maka dalam kode etik ini, pustakawan dituntut untuk dapat menyerap aspirasi masyarakat pemustaka untuk kemudian memberikan layanan sesuai dengan harapan pemustakanya.
b. Berupaya mempertahankan keunggulan kompetensi setinggi mungkin dan berkewajiban mengikuti perkembangan. Pustakawan adalah seorang yang telah memiliki ilmu dibidang perpustakaan artinya, ia memiliki dibidang perpustakaan yang harus senantiasa ditingkatkan dan dikembangkan.
Untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan keahliannya, dapat dilakukan dengan cara selalu mengikuti perkembangan dunia kepustakawanan dan tidak berhenti untuk menuntut ilmu terutama bidang kepustakawanan.
c. Berupaya membedakan antara pandangan atau sikap hidup pribadi dan tugas profesi. Pustakawan adalah manusia yang hidup sebagai makhluk pribadi dan sosial. Kaitannya dengan profesi pustakawan, pustakawan selain bertanggung jawab terhadap dirinya, ia bertanggung jawab dengan profesi pustakawan yang disandangnya.
d. Menjamin bahwa tindakan dan keputusannya berdasarkan pertimbangan profesional. Pustakawan sebagai seorang yang profesional dituntut bersikap dan bekerja sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Setiap tugas yang dibebankan dilakukan atau dikerjakan secara profesional, begitu pula
ketika memutuskan sesuatu harus dipertimbangkan berdasarkan prinsip- prinsip profesionalisme.
e. Tidak menyalahgunakan posisinya dengan mengambil keuntungan kecuali atas jasa profesi. Pustakawan bukan profesi yang profit, keuntungan yang didapat pustakawan berasal dari jasa profesi yang telah dilakukannya. Hal ini mengisyaratkan sebagai larangan kepada pustakawan untuk tidak melakukan hal-hal negatif yang menyebabkan terganggunya nama baik profesi pustakawan, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme. Kode etik pustakawan Indonesia menghendaki pustakawan berlaku jujur, bersih, dan menghindarkan diri dari segala bentuk penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan, baik untuk kepentingan pribadi maupun golongan, dan juga agar fasilitas yang tersedia di perpustakaan dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin.
f. Bersifat sopan dan bijaksana dalam melayani masyarakat, baik dalam ucapan maupun perbuatan.Pustakawan adalah individu yang hidup di dalam lingkungan masyarakat. Dengan demikian, pustakawan tidak lepas dari interaksinya dengan orang lain. Untuk menjaga martabatnya dan profesinya, pustakawan dituntut untuk dapat berinteraksi dan melayani masyarakat dengan baik, santun, dan bijaksana.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa kode etik pustakawan menuangkan beberapa sikap dasar yaitu berupaya melaksanakan tugas sesuai dengan harapan masyarakat, berupaya mempertahankan keunggulan kompetensi, membedakan sikap hidup pribadi dan tugas profesi, tindakan dan keputusan berdasarkan pertimbangan profesional, tidak menyalahgunakan kedudukan untuk mengambil keuntungan dan bersikap sopan dan bijaksana dalam melayani pemustaka.
2.6.2 Hubungan Pustakawan dengan Pengguna
Kepentingan utama pustakawan adalah pemustaka, kewajiban pustakawan kepada masyarakat dimuat dalam kode etik pustakawan yang dikeluarkan IPI, Suwarno (2010: 117) menjabarkan hubungan dengan pengguna/pemustaka meliputi :
1. Puskawan menjunjung tinggi hak perorangan atas informasi. Pustakawan
sosial, ekonomi, politik, gender kecuali ditentukan oleh peraturan perundang-undangan. Hak perorangan atas informasi bermakna sebagai hak pemustakan mendapatkan informasi yang seluas-luasnya, dan kemudian menjadi tugas pustakawan untuk dapat memberikan pelayanan kepada pemustaka dengan sebaik-baiknya.
2. Pustakawan tidak bertanggung jawab atas konsekuensi pengguna informasi yang diperoleh dari perpustakaan. Informasi yang diakses oleh pemustaka tidak dapat dideteksi oleh pustakawan, pemustaka juga dengan leluasa dapat menggunakan informasi yang diaksesnya untuk kepentingannya tanpa harus diketahui oleh pustakawan sebagai pengelola informasi di perpustakaan, dengan demikian, pustakawan dalam hal ini tidak bertanggung jawab terhadap informasi yang telah diakses oleh pemustaka, baik untuk kepentingan ilmiah maupun kepentingan lain sesuai dengan kebutuhan pemustaka.
3. Pustakawan berkewajiban melindungi hak privasi pengguna dan kerahasiaan menyangkut informasi yang dicari. Melindungi hak privasi dan kerahasiaan yang disebut di sini bermakna bahwa pemustaka memiliki hak untuk dilindungi segala privasinya dalam hal informasi yang dicarinya. Dengan demikian, pustakawan dituntut untuk menjaga dan melindungi kerahasiaan tersebut. Dengan kata lain pustakawan harus menyembunyikan atau tidak mengumumkan sesuatu yang bersifat rahasia, terutama yang menyangkut informasi yang dicari oleh pemustakanya.
d. Pustakawan mengakui dan menghormati hak milik intelektual. Sejalan dengan pustakawan yang memiliki kewajiban melindungi hak privasi pemustaka, pustakawan harus pula mengakui dan menghormati hak milik intelektual. Artinya, informasi yang dikelola oleh pustakawan, terutama yang menyangkut karya seseorang, baik sendiri maupun bersama-sama yang lain, berupa buku, majalah, kaset, disket, CD dan program komputer, dan lain sebagainya adalah karya yang memiliki kekuatan hukum untuk dilindungi, untuk itu pustakawan harus konsekuen dengan profesinya untuk melindungi hak cipta penulisannya dengan mencegah oknum- oknum yang ingin menggunakan karya tersebut untuk tujuan yang tidak sesuai dengan undang-undang.
Dari pendapat diatas dapat dikemukakan bahwa kode etik pustakawan mengatur hubungan pustakawan dengan pengguna/pemustaka yaitu pustakawan menjunjung tinggi hak pemustaka/pengguna atas informasi, pustakawan tidak bertanggungjawab atas konsekuensi pengguna/pemustaka atas informasi yang diperoleh dari perpustakaan, pustakawan berkewajiban melingungi hak privasi
pengguna/pemustaka dan kerahasiaan menyangkut informasi yang dicari dan pustakawan mengakui dan menghormati hak milik intelektual.
2.6.3 Hubungan Antar-Pustakawan
Pada Pasal 5 kode etik pustakawan dicantumkan mengenai hubungan antar-pustakawan, Suwarno (2010:119) menjabarkan hubungan antar-pustakawan sebagai berikut :
a. Pustakawan berusaha mencapai keunggulan dalam profesinya dengan cara memelihara dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini dapat diartikan dengan cara bekerja sama dengan pustakawan lain, pustakawan berusaha berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman untuk berusaha mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya.
b. Pustakawan bekerja sama dengan dengan pustakawan lain dalam upaya mengembangkan kompetensi profesional pustakawan, baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok. Sejalan dengan pemikiran pada poin a, antara pustakawa satu dan lainnya saling memberikan masukan atas kinerja dan hasil kerja yang telah dilaksanakan sehingga kedepan dapat meningkatkan kompetensinya, baik secara individu maupun kelompok dan dapat meningkatkan kualitas hasil kerja yang lebih memuaskan.
c. Pustakawan memelihara dan memupuk hubungan kerja sama yang baik antar sesama rekan. Makna yang tersirat pada kewajiban ini adalah bahwa pustakawan dalam melaksanakan tugasnyaa sehari- hari harus menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan, bersikap saling menghormati, adil, dan berusaha menigkatkan kesejahteraan bersama. Sikap yang harus ditumbuhkan adalah sikap yang ingin bekerja sama, saling menghargai, saling pengertian, rasa persaudaraan, dan tanggung jawab sehingga tumbuh rasa senasib dan sepenanggungan.
d. Pustakawan memiliki kesadaran, kesetiaan, dan penghargaan terhadap korps pustakawan secara wajar. Sebagai pustakawan, kode etik menghendaki agar pustakawan memiliki kesadaran yang tinggi, kesetiaan, dan memberikan yang terbaik kepada korps atau kelompok profesinya dengan cara yang sesuai dengan kemampuan pustakawan.
e. Pustakawan menjaga nama baik dan martabat rekan, baik di dalam maupun di luar kedinasan. Sesama rekan kerja pustakawan berkewajiban saling menegur, mengigatkan jika terjadi kekeliruan atau penyimpangan yang dapat merugikan nama baik diri dan
tempat bekerja. Sikap saling mendorong dalam peningkatan prestasi dan karir juga sangat dianjurkan sehingga akan meningkatkan pula kualitas diri dan profesinya kemudian akan diikuti oleh meningkatknya kesejahteraan bersama.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kode etik pustakawan mengatur hubungan antar-pustakawan yaitu pustakawan berusaha mencapai keunggulan profesinya, pustakawan bekerjasama dengan pustakawan lain, pustakawan memelihara dan memupuk hubungan kerjasama yang baik antar sesama rekan, pustakawan memiliki kesadaran, kesetiaan, dan penghargaan terhadap korps perpustakaan secara wajar dan pustakawan menjaga nama baik dan martabat rekan kerja.
2.6.4 Hubungan Pustakawan Dengan Perpustakaan
Kode etik pustakawan juga telah mengatur tentang hubungan pustakawan dengan perpustakaan, kewajiban ini terdapat dalam Pasal 6 ada tiga kewajiban yang harus dilakukan pustakawan, Suwarno (2010:121) menjabarkan hubungan pustakawan dengan perpustakaan sebagai berikut :
a. Pustakawan ikut aktif dalam perumusan kebijakan menyangkut kegiatan jasa pustakawan. Perpustakaan adalah tempat bekerja seorang pustakawan, maju tidaknya perpustakaan bergantung kepada kompetensi pustakawan dalam bekerja dan merealisasikan program-programnya.
b. Pustakawan bertanggung jawab terhadap pengembangan perpustakaan. semakin baik suatu perpustakaan, perpustakaan itu akan semakin menarik minat untuk dikunjungi oleh pemustaka.
Untuk itu, pustakawan sebagai pengelola informasi untuk dituntut untuk aktif dan bertanggungjawab mengembangkan perpustakaan agar di masa depan perpustakaan menjadi piihan utama pemustaka dalam mencari informasi.
c. Pustakawan berupaya membantu dan mengembagkan pemahaman serta kerja sama semua jenis perpustakaan. Tidak ada perpustakaan yang lengkap dan tidak ada pustakawan yang mampu meng-cover semua kebutuhan pemustaka seorang diri. Hal ini menjadi pekerjaan rumah pustakawan untuk bisa bekerja sama dengan
perpustakaan dan pustakawan lain agar perpustakaan yang satu melengkapi perpustakaan yang lain tanpa membedakan jenis perpustakaan yang ada.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kode etik pustakawan mengatur hubungan pustakawan dengan perpustakaan yaitu pustakawan ikut aktif dalam perumusan kebijakan perpustakaan, pustakawan bertanggung jawab terhadap pengembangan perpustakaan, pustakawan berupaya mengadakan kerjasama dengan perpustakaan lain.
2.6.5 Hubungan Pustakawan Dengan Organisasi Profesi
Profesi pustakawan memiliki sebuah organisasi profesi yaitu Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), kewajiban pustakawan hubungannya dengan organisasi profesi menurut Suwarno (2010:123) adalah sebagai berikut :
a. Pustakawan iuran keanggotaan secara disiplin.
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Ikatan Pustakawan Indonesia telah mengatur mengenai iuran yang harus diberikan pustakawan kepada organisasi profesi (IPI). Iuran ini digunaka sebagai dukungan dana untuk kegiatan-kegiatan yang diprogramkan IPI.
b. Mengikuti kegiatan organisasi sesuai kemampuan dengan penuh rasa tanggung jawab.
IPI merupakan organisasi yang menjadi penggerak kegiatan pustakawan di Indonesia. Sebagai orgaisasi, IPI mempunyai program kegiatan yang melibatkan anggotanya. Kode etik menganjurkan pustakawan untuk aktif mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan penuh rasa tanggung jawab.
c. Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi.
Pustakawan adalah individu yang syarat dengan kepentigan pribadi. Konsekuensi ketika pustakawan telah bergabung dengan organisasi, ia dituntut untuk mengutamakan kepentingan organiasai di atas kepentingan pribadinya.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kode etik pustakawan mengatur hubungan pustakawan dengan organisasi profesi yaitu pustakawan membayar
iuran keanggotaan secara disiplin, mengikuti kegiatan organisasi dan mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi.
2.6.6 Hubungan Pustakawan Dengan Masyarakat
Hubungan antar pustakawan dengan masyarakat telah diatur dalam kode etik pustakawan Pasal 8. Kewajiban pustakawan hubungannya dengan masyarakat mencakup beberapa hal, Suwarno (2010:124) menjabarkan hubungan pustakawan dengan masyarakat yaitu sebagai berikut:
a. Pustakawan bekerja sama dengan anggota komunitas dan organisasi yang sesuai berupaya meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan serta komunitas yang dilayaninya. Kewajiban ini berarti pustakawan dalam menjalankan tugasnya harus menjaga martabat, moral, dan bekerja sama dengan organisasi lain untuk meningkatkan pelayanan yang lebih baik, serta meningkatkan nama baik profesi, instansi tempat bekerja, bahkan bangsa dan negara.
b. Pustakawan berupaya memberikan sumbangan dalam pengembangan kebudayaan di masyarakat. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang berbudaya, masyarakat memiliki tradisi yang mencirikan eksistensinya. Pustakawan yang hidup di dalamnya dapat dikatakan menjadi bagian dari budaya tersebut, kewajiban ini mengisyaratkan agar pustakawan memberikan nilai tambah bagi kebudayaan di masyarakat.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa kode etik pustakawan mengatur hubungan pustakawan dengan masyarakat yaitu pustakawan bekerjasama dengan anggota komunitas dan organisasi yang sesuai dan pustakawan berupaya memberikan sumbangan dalam pengembabngan kebudayaan masyarakat.
Sesuai dengan kode etik yang sudah ditetapkan dalam Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (AD/ART) Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) tahun 2006 Bab III pasal 3 s/d pasal 8 yang sekaligus menjadi indikator penelitian ini yaitu: