SKRIPSI
MUHAMMAD ARIFIN. B TP. 130 708
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UIN SULTHAN THAHA SYAIFUDDIN JAMBI
2018
iv
Fakultas tarbiyah dan keguruan UIN STS Jambi
MOTTO
“sesungguhnya telah ada pada diri Rosulallah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”( Anonim Al- Quran
Surat Al-Ahzab :21)
viii
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Judul : Upaya Orang Tua Dalam Mengatasi Kenakalan Remaja Di Desa Rantau Rasau Satu Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tajung Jabung Timur
Skripsi ini membahas Upaya Orang Tua Dalam Mengatasi Kenakalan Remaja Di Desa Rantau Rasau Satu Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tajung Jabung Timur. Penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif, peneliti berperan langsung sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis data dan sekaligus pelapor data. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi dan teknik wawancara. Hasil penelitian pada skripsi ini adalah masih ada remaja yang melakukan tindakan kenakalan remaja, bentuk-bentuk kenakalan yang terjadi yaitu, mencuri, minum-minuman keras, merokok dan bolos sekolah.Beberapa factor yang mengakibatkan terjadinya kenakalan remaja karena kurangnya perhatian orang tua, kurangnya pendidikan agama bagi para remaja, latar belakang pendidikan orang tua yang rendah serta factor pergaulan dengan teman sebaya. Orang tua sendiri telah berupaya untuk melakukan upaya dalam mengatasi kenakalan remaja yang terjadi seperti, mengikut sertakan para remaja kedalam kegiatan keagamaan, memberikan pendidikan agama melaui pondok pesantren, dan membatasi waktu bermain para remaja.
Kata Kunci : Upaya, Orang Tua, Kenakalan Remaja
viii
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
Name : MuhamadArifin
Study Program : Islamic Education
Title : Efforts of Parents in Overcoming Adolescent Delinquency in RantauRasau Village One RantauRasau District, TajungJabungTimur District
This thesis discusses the efforts of parents in overcoming juvenile delinquency in Rantau Rasau village, Rantau Rasau district, Tajung Jabung Timur district. This research is in the form of qualitative descriptive, researchers play a role directly as planners, implementers, data collectors, data analyzers and reporters at the same time. Data collection was done using observation techniques and interview techniques. The results of this thesis are there are still teenagers who perform juvenile delinquency, forms of delinquency that occur namely, stealing, drinking, smoking and skipping school. Some factors that lead to juvenile delinquency due to lack of parental attention, lack of religious education for adolescents, low educational background of parents and interaction with peers. Parents themselves have attempted to make efforts to overcome juvenile delinquency that occurs such as, involving teenagers into religious activities, providing religious education through Islamic boarding schools, and limiting playing time for teenagers.
Keywords: Efforts, Parents, Juvenile Delinquency
viii
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi Alhamdulillah Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan berkat Rahmat dan Ridho-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Laporan Penelitian Kualitatif ini dengan baik.
Pelaksanaan penulisan ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) dalam bidang Pendidikan Agama Islam, pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, yang berjudul “UPAYA ORANG TUA DALAM MENGATASI KENAKALAN REMAJA DI DESA RANTAU RASAU SATU KECAMATAN RANTAU RASAU KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR”
Penulisan Laporan Penelitian kualitatif ini dapat terwujud berkat bantuan dan jasa dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. H. Hadri Hasan, MA. Selaku Rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
2. Bapak Dekan dan Wakil Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dan segenap staf yang telah memberikan fasilitas dan layanan administrasi dengan baik selama perkuliahan dan penyelesaian skripsi ini.
3. Ibu Dra. Hj.Hasnidar Karim, M. Pd .I selaku Dosen Pembimbing I dan Ibuk Ikhtiati M.Pd .I selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak membantu dan memberikan arahan serta masukan dalam penyusunan skripsi ini.
4. Bapak Ridwan, S.Psi, M.Psi selaku ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
viii
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi karyawan dan staf yang berada di ruang lingkup Fakultas Tarbiyah dan keguruan.
6. Pimpinan Perpustakaan Institut dan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan serta karyawan yang telah membantu penulis dalam melengkapi referensi dalam penulisan skripsi ini.
7. Para sahabat Mahasiswa seperjuangan Angkatan 2013 khususnya teman- teman lokal PAI A Jurusan Pendidikan Agama yang telah menjadi partner diskusi dalam penyusunan skripsi ini.
Akhirnya semoga Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan dan amal semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu.
Jambi, 2018 Penulis
Muhamad Arifin NIM : TP.130 708
Fakultas tarbiyah dan keguruan UIN STS Jambi x
PERSEMBAHAN ... iii
MOTTO ... iv
PERNYATAAN ORISINALITAS. ... v
ABTRAK. ... vi
ABTRACT. ... vii
KATA PENGANTAR. ... viii
DAFTAR ISI. ... x
DAFTAR TABEL... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah. ... 1
B. Fokus Penelitian... 6
C. Rumusan Masalah. ... 6
D. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian. ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ... 8
A. Kajian Teoritik... 8
1. Orang tua. ... 8
2. Remaja . ... 8
3. Kenakalan Remaja ... 11
4. Faktor factor penyebab terjadinya Kenakalan Remaja ... 13
5. Usaha Orang Tua Dalam Mengatasi Kenakalan Remaja ... 14
B. Studi Relevan ... 19
BAB III METODE PENELITIAN. ... 21
A. Pendekatan Dan Desain Penelitian. ... 21
B. Seting Dan Subjek Penelitian. ... 21
1. Seting Penelitian. ... 21
2. Subjek Penelitian. ... 22
C. Jenis Dan Sumber Data. ... 22
1. Jenis Data. ... 22
a. Data Primer. ... 22
b. Data Skunder. ... 23
2. Sumber Data. ... 23
D. Teknik Pengumpulan Data. ... 24
1. Observasi. ... 24
2. Wawancara. ... 24
3. Dokumentasi. ... 25
E. Teknik Analisi Data. ... 25
1. Analisis Domain . ... 26
2. Analisis Taksonomi. ... 26
Fakultas tarbiyah dan keguruan UIN STS Jambi xi
G. Jadawal Penelitian. ... 28
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN. ... 29
A. Temuan Umum. ... 30
1. Historis dan Geografis. ... 30
2. Struktur Pemerintahan. ... 31
3. Keadaan Penduduk. ... 32
B. Temuan Khusus. ... 35
1. Bentuk-Bentu Kenakalan Remaja Di Desa Rantau Rasau Satu Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur... 35
2. Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Di Desa Rantau Rasau Satu Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur. . ... 40
3. Usaha Orang Tua Dalam Mengatasi Kenakalan Remaja Di Desa Rantau Rasau Satu Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur... 48
BAB V PENUTUP. ... 53
A. Kesimpulan. ... 53
B. Rekpmendasi . ... 54
C. Kata Penutup. ... 55
DAFTAR PUSTAKA. ... 56 LAMPIRAN-LAMPIRAN
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi Tabel 4.2 : Struktur Demografi. ... 34 Grafik 4.2 : jenis Pekerjaan. ... 35 Tabel 4.3 :Keadaan Agama. ... 36
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Timbulnya kenakalan remaja yang terjadi pada saat ini merupakan permasalahan besar dalam lingkungan masyarakat, dimana kenakalan remaja tersebut tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga merugikan orang lain.
Masa remaja adalah masa yang sangat peka terhadap ajaran agam islam, dan pada masa itu remaja sangat rentan dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar.
Perkembangan kepribadian seseorang termasuk remaja merupakan hasil hubungan dan pengaruh timbal balik secara terus menerus antara pribadi dengan lingkungannya, lingkungan sosial bagi para remaja merupakan inspirasi yang dapat memberikan kekukatan fisik maupun kesehatan mental yang merupakan upaya mencegah timbulnya gangguan perkembangan kepribadian.(Siti Hartinah, 2010:146)
Amat banyak sekali faktor yang menyebabkan tingkah laku kenakalan remaja, salah satunya adalah lemahnya pertahanan diri seseorang remaja yang dimagsud dengan pertahanan diri adalah faktor yang ada dalam diri untuk mengontrol dan mempertahankan diri terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan.Jika ada pengaruh negatif yaitu seperti pecandu dan pengedar narkoba, ajakan-ajakan untuk melakukan perbuatan negatif. Meraka tidak bisa menghindar dan mudah terpengaruh, akibatnya remaja tersebut terlibat dalam kegiatan negatif yang membahayakan dirinya dan masyarakat.(Sofyan S. Willis,2012: 93)
Lemahnya kepribadian remaja tidak terlepas dari faktor pendidikan di keluarganya, sering orang tua tidak memberikan kesempatan untuk anak agar mandiri, kreatif, dan memiliki daya kritis, serta mampu bertanggung jawab.Akibatnya hingga remaja dimana saat-saat itu adalah saat yang sangat penting untuk menjadi orang dewasa, tidak menjadi kenyataan yang terjadi malah anak tersebut menjadi anak manja, yang lugu dan kurang memahami trik-trik
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
kejahatan yang ada didunia nyata. Selain itu kondisi keluarga yang sering bertengkar antara ayah dan ibu membuat anak tidak betah dirumah, mereka lebih senang diluar dan berkumpul dengan anak-anak lain yang terdiri latar belakang kehidupan yang berbeda.
Masalah-masalah yang dihadapi remaja sering kali yang disebabkan oleh hambatan komunikasi antara kedua belah pihak. Faktor yang menyebabkan penghambat komunikasi diantaranya adalah biasanya orang tua mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari kedudukan anak yang remaja, sebagai akibat terjadi benturan nilai antara remaja yang mulai merasa dewasa dengan orang tuanya yang menggunakan otoritas yang berlebihan.(Siti Hartinah,2010:147-148)
Remaja sebagai sosok individu yang sedang mencari jati diri, remaja tidak boleh berpangku tangan saja.Remaja harus mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya.Akan tetepi patut diketahui bahwa pengembangan tersebut harus melalui pembiasaan bertingkah laku terpuji dan bertanggung jawab, kreatif yang selalu didasari keimanan dan ketaqwan kepada Allah SWT.
Pencarian jati diri oleh seseorang remaja dapat saja di Implementasikan dalam berbagai bentuk dan sarana, termasuk mencari figur yang dianggap tepat untuk dijadikan model atau contoh yang pantas baginya untuk diikuti.Dalam masa itu remaja tidak tertutup kemungkinan mengalami goncangan jiwa, ragu-ragu bahkan kebingungan untuk mencari sosok idolanya, apalagi sosok idola yang didambakan itu sangat beragam. Namun demikian, islam telah menggaris bawah pencarian jati diri itu hendaklah dilakukan dengan tetap mengacu kepada pedoman Allah SWT.
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Ahzab.21
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Anonim Q.S Al-Ahzab :21)
Menyimak kutipan ayat diatas tersirat makna bahwa Rosulallah SAW adalah sosok yang sempurna yang dapat dijadikan contoh berprilaku.Akan tetapi, perkembangan prilaku remaja itu sendiri banyak dipengaruhi oleh berbagai hal atau kondisi. Misalnya, lingkungan tempat dimana remaja tumbuh berkembang dan bergaul ditengah masyarakat, namun demikian remaja juga tidak mungkin diisolasi dari pergaulan tersebut karena tanpa masyarakat atau lingkungan kepribadian remaja itu tidak akan berkembang.
“Masa remaja merupakan masa peralihan dari mana anak-anak menuju masa dewasa.Selama masa remaja banyak masalah yang dihadapi karena remaja itu berupaya menemukan jati dirinya. Kebutuhan aktualisasi diri usaha pencarian jati diri remaja dilakukan dengan berbagai pendekatan, agar ia dapat mengaktualisasi dirinya dengan baik” (Sunarto & Agung Hartono, 2008:68).
Berada dalam lingkungan seorang remaja banyak belajar mengenai berbagai hal, tidak terkecuali bagaimana ia harus bertingkah laku yang baik dan benar. Lingkungan yang terdiri dari orang tua, saudara, teman, guru, dan sebagainya. Lingkungan yang baik diharapkan akan melahirkan remaja yang baik.
Sebaliknya dengan lingkungan yang buruk tentu akan menyebabkan prilaku remaja yang buruk pula. Prilaku-prilaku buruk inilah yang sering dimaknai dengan istilah kenakalan remaja. Kenakalan remaja merupakan suatu masalah yang sangat penting dan perlu untuk dibicarakan, karena remaja merupakan bagian dari generasi muda, dan merupakan tumpuan dan harapan masa depan bangsa dan negara. Di tangan merekalah terletak masa depan bangsa dan negara ini. Oleh karena itu, pembinaan remaja sebagai generasi penerus suatu bangsa mutlak diperlukan terutama pembinaannya dan segi moral agar memiliki budi pekerti dan ahlak yang mulia sebagai bekal hidup dimasa yang mendatang.Karena apabila para remaja memiliki budi pekerti dan ahlak yang luhur maka kelangsungan hidup suatu bangsa dapat dipertahankan.
Dengan demikian orang tua khususnya dan orang islam umumnya mempunyai kewajiban untuk membimbingnya. Pendidikan dalam keluarga
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
pertama kali disebut pendidikan yang terutama. Para ahli sependapat beberapa pentingnya pendidikan dalam keluarga, bahwa apa saja yang terjadidalam pendidikan itu membawa pengaruh besar terhadap kehidupan sistem didik, deemikia pula terhadap pendidikan yang akan dialami di sekolah dan di masyarakat.
Orang tua, ayah dan ibu memegang peranan yang sangat penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya.Hal ini menunjukan bahwa orang tua bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidupnya.Karena tidak diragukan bahwa tanggung jawab pendidikan secara mendasar menjadi bebadn orang tua.Hal ini merupakan fitrah yang telah dikodratkan oleh Allah SWT pada setiap orang tua, mereka tidak bisa lari dari tanggung jawab itu karena merupakan amanah dari Allah SWT yang dibebankan kepada mereka. Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman dalam surat At-Tahrim
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
lingkungan juga menjadi perhatian penting bagi orang tua agar kenakalan remaja dapat diatasi.
Berdasarkan studi pendahuluan di Desa Rantau Rasau Satu, Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, kondisi para remaja sangat menghawatirkan yang mana para remaja melakukan tindakan-tindakan kenakalan remaja seperti mencuri, minum minuman keras (mabuk-mabukan) berkumpul hingga larut malam sehingga mengakitkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Di wilayah Desa Rantau Rasau Satu Kecamata rantau rasau kabupaten tanjung jabung timur, terutama di lingkungan RT 16 dan 17 masih banyak para remaja yang melakukan tindakan kenakalan remaja seperti seperti mencuri, minum minuman keras (mabuk-mabukan) berkumpul hingga larut. Salah satu bentuk kenakalan remaja yang sering dilakukan oleh para remaja adalah meminum-minuman keras, kegiatan negatif ini mereka lakukan pada saat mereka berkumpul dengan teman-temannya pada malam hari. Selain itu beberapa orang remaja juga melakukan tindakan mencuri, dan remaja lainnya melakukan kenakalan remaja seperti merokok, dan bolos sekolah. Melihat kondisi tersebut sangat disayangkan, di usia remaja yang seharusnya di isi dengan hal-hal yang positif dan ilmu pengetahuan malah mereka habiskan waktu mereka dengan kegiatan-kegiatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Pergaulan menjadi salah satu faktor penyebab remaja melakukan tindakan kenakalan remaja.
Memperhatikan kondisi diatas, tidak semerta-merta menyalahkan remaja, karena disatu sisi mereka masih ada orang tua yang selalu memperhatikan mereka, Jika perhatian orang tua kurang dan pengawasannya lemah maka kenakalan anak remaja semakin lama semakin meningkat.
Berdasarkan observasi yang telah penulis lakukan tindakan kenakalan remaja yang terjadi tidak terlepas dari peran orang tua itu sendiri. Di wilayah Desa Rantau Rasau Satu Kecamata rantau rasau kabupaten tanjung jabung timur, terutama di lingkungan RT 16 dan 17 Orang tua sudah berupaya untuk mengatasi kenakalan remaja namun belum maksimal, ini terlihat dari masih banyaknya remaja yang melakukan tindakan kenakalan remaja. Kondisi tersebut tentunya
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
menjadi keresahan orang tua, sebab sebagai orang tua pasti berharap anak-anak mereka menjadi generasi yang bisa di banggakan.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian guna mengetahui lebih mendalam tentang permasalahan kenakalan remaja,selengkapnya peneliti memberi judul : UPAYA ORANG TUA DALAM MENGATASI KENAKALAN REMAJA DI DESA RANTAU RASAU I, KECAMATAN RANTAU RASAU, KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR.
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
B. Fokus Penelitian
Agar tidak terjadi kesimpang siuran dalam penelitian ini, oleh karena itu penelitian lebih berfokus pada orang tua yang memiliki anak remaja yang berusia 11-22 tahun yang melakukan tindakan kenakalan remaja dan berada di kawasan RT 16 dan 17.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan tersebut dapat ditegaskan bahwa yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan ini adalah
1. Bagaimana bentuk-bentuk kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau I ? 2. Apa saja faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja di Desa Rantau
Rasau I ?
3. Bagaimana upaya orang tua dalam menanggulangi kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau I ?
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi tujuan penulis adalah:
a. Ingin mengetahui bentuk bentuk bentuk kenakalan remaja.
b. Ingin mengetahui faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja.
c. Ingin mengetahui upaya oranag tua dalam menanggulangi kenakalan remaja.
2. Kegunaan Penelitian
Melihat dari tujuan di atas, maka penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat berguna :
a. Untuk memberi informasi kepada pihak yang memiliki tanggung jawab guna mengambil langkah kebijakan.
b. Sebagai bahan untuk menambah wawasan berfikir dan sebagai pengembangan ilmu pengetahuan bagi penulis dalam dunia pendidikan.
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
c. Sebagai persyaratan guna mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1) dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Syaifuddin Jambi
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teoritik
Untuk memperoleh gambaran tentang permasalahan dalam judul yang dibahas, maka diperlukan suatu kajian dan analisis dari beberapa teori atau pendapat pakar, ada beberapa teori yang perlu penulis paparkan yang berkaitan dengan judul diatas yaitu:
1. Upaya Orang Tua Dalam Mengatasi Kenakalan Remaja
Usaha atau upaya adalah daya akal atau ikhtiar, maksudnya adalah upaya dan usaha yang dilakukan oleh orang tua untuk membentuk anak sholeh yang dapat berguna bagi orang tua, agama, maupun Negara
Agar upaya-upaya yang dilakukan dapat tercapai, orang tua memegang peranan penting dalam memberikan pendidikan ahlak agar tercipta anak yang sholeh. Karena orang tua bagi anak di anggap paling dekat dengan dirinya sebagai mana yang dikatakan oleh Zakiyah Daradjat, “ sejak seorang lahir, ibunya yang selalu disampingnya, oleh karena itu ia meniru perangai dirinya dan biasanya seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabila ibu menjalankan tuga-tugass dengan baik”. (Zakiyah Daradjat. 2009: 35)
Menanggulangi kenakalan remaja tidak sama dengan mengobati suatu penyakit, setiap penyakit tentu sudah ada obatnya, berbeda halnya dengan kenakalan remaja. Usaha penanggulangan remaja terbagi atas tiga bagian :
a. Upaya preventif
Yang dimagsud dengan upaya preventif adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis, berencana dan terarah, untuk menjaga agar kenakalan itu tidak timbul. Upaya preventif lebih besar manfaatnya daripada upaya kuratif. Karena jika kenakalan itu sudah meluas sangat sulit untuk
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
menanggulanginya. Berbagai upaya preventif dapat dilakukan akan tetapi secara garis besarnya dapat dikelompokkan atas tiga bagian yaitu:
1) Rumah tangga
Menjadikan rumah tangga atau keluarga yang taat dan takwa kepada Allah SWT didalam kegiatan sehari-hari, hal ini dapat dilakukan dengan sholat berjamaah, pengajian Al- Quran serta keteladanan ahlak yang mulia kepada anak-anak. Hal itu akan berhasil jika orang tua memberikan pimpinan dan keteladanan setiap hari dan tingkah laku orang tua hendaklah manifestasi dar didikan agama dalam dirinya. Jika hal ini dapat dilakukan maka anak-anak akan bertingkah laku seperti apa yang dilakukan orang tuanya. (Siti Hartinah. 2010: 127-129)
2) Upaya dimasyarakat
Masyarakat adalah tempat pendidikan setelah dirumah dan sekolah, ketiganya haruslah mempunyai keseragaman dalam mengarahkan anak dalam upaya tercapainya suatu pendidikan. Apabila salah satu yang pincang , maka yang lain juga akan pincang, pendidikan dimasyarakat biasanya diabaikan orang tua, karena biasanya orang tua berpendapat bahwa jika anak telah di sekolahkan maka semuanya telah beres dan gurulah yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak.
(Sofyan S Willis. 2012: 128)
3) Upaya disekolah
Upaya preventif disekolah terhadap timbulnya kenakalan remaja tidak kalah pentingnya dengan upaya dikeluarga. Hal ini disebabkan karena sekolah merupakan tempat pendidikan kedua setelah keluarga.
Hanya bedanya sekolah memberikan pendidikan formal dimana kegiatan belajar anak diatur sedemikian rupa dan jangka waktu yang lebih singkat jika dibanding lamanya pendidikan dikeluarga. Rata-rata sekolah hanya mengatur pendidikan anak 5 jam saja, tetapi waktu yang pendek itu
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
cukup menentukan pembinaan sikap dan kecerdasan. (Sofyan S Willis.
2012: 133) b. Upaya kuratif
Upaya kuratif dalam menanggulangi masalah kenakalan remaja ialah upaya antisipasi terhadap gejala-gejala kenakalan remaja, supaya kenakalan itu tidak meluas dan merugikan masyarakat. Upaya kuratif secara formal dilakukan oleh Polri dan Kejaksaan Negeri, sebab jika sudah terjadi kenakalan remaja berarti sudah terjadi suatu pelanggaran hukum yang dapat berakibat merugikan diri mereka dan masyarakat. (Sofyan S Willis. 2012:
140)
c. Upaya pembinaan
Mengenai upaya pembinaan remaja dimagsudkan ialah :
1) Pembinaan terhadap remaja yang tidak melakukan kenakalan, dilaksanakan dirumah, sekolah, dan masyrakat. Pembinaan seperti ini telah diungkapkan pada upaya prevetif yaitu upaya menjaga jangan sampai terjadi kenakalan remaja.
2) Pembinaan terhadap remaja yang telah mengalami tingkah laku kenakalan atau yang telah menjalani suatu hukuman karena kenakalannya. Hal ini perlu dibina agar mereka tidak mengulangi.
Pola asuh orang tua yang di apresiasikan anak sebagai bantuan, bimbingan, dan dorongan untuk membentuk dan mengembangkan dirinya sebagai pribadi yang berkarakter adalah orang tua yang mampu memancarkan kewibawaan pada anak . pendidik atau orang tua yang mampu berbuat demikian, dia senantiasa menampilkan prilaku yang konsisten antara bahasa lisan dan perbuatannya menerima anak apa adanya , dan menghargai apa yang dimiliki serta prilaku anak. (Moh. Shochib. 2010:
207-208)
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
Kartini kartono mengemukakan ada beberapa usaha atau upaya pencegahan yang dapat dilakukan dalam upaya menanggulangi kenakalan remaja yaitu:
a. Meningkatkan kesejahteraan keluarga.
b. Perbaikan lingkungan yang ada didaerah terpencil (dusun) kampung miskin.
c. Mendirikan klinik bimbingan psikologi dan edukatif untuk memperbaiki tingkah laku dan membantu remaja yang sehat baagi remaja.
d. Membentuk badan kesejahteraan anak dan remaja.
e. Mendirikan tempat latihan untuk menyalurkan kreatifitas para rmaja, seperti latihan hidup bermasyarakat, latihan persiapan untuk bertransmigrasi dan lain-lain. (Sudarman Danim. 2011: 95-96)
Pendidikan berfungsi untuk membimbing jasmani dan rohani pada anak didik yang bertujuan pembentukan setiap individu menjadi mahluk yang mulia yang memahami eksistensi dirinya dalam kehidupan bermasyarakat dengan tetapi menampilkan ahlak yang mulia berdasarkan konsep-konsep yang ada kepada terbentuknya kepribadian yang baik dan utuh. Jika seorang remaja masih melakukan perbuatan menyimpang dan masih berupaya melakukan tindakan represit, yaitu tindakan secara hukum yang ditunjukan kepada remaja yang melakukan kenakalan yang melanggar hukum, atau orang secara langsung membantunya, atau menjadi penyebab sehingga remaja itu melanggar hukum.
Setiap tindakan yang ditempuh oleh pihak berwenang merupakan upaya yang bersifat mendidik dan menolong remaja agar mereka menyadari perbuatannya yang keliru. Melalui upaya ini juga diberikan pengertian bahwa mereka bukan saja menolong orang tua, keluarga dan para patugas untuk mencari jalan dan cara-cara pemecahan masalah remaja.
Dilihat dari pendekatan keagamaan, tersirat bahwa melalui upaya-upaya tersebut tentang didalamnya pendekatan yang bersifat psikologis. Sejak anak lahir hingga menjadi dewasa semua proses pendidikan telah diatur. Islam juga memperhatikan posisi manusia sebagai mahluk sosial dengan kebutuhannya.
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
Agama mengatur bagaimana seorang anak bisa menjadi seorang anak yang tidak egois, disatu sisi dan tidak menjadi apatis orang lain. Karena itu islam sangat memperhatikan perkembangan jiwa manusia terutama pengawasan dan penyeluruhan terhadap pendidikan, baik secara individual maupun masyarakat.
Islam mengajarkan bagaimana pendidikan itu dilakukan atas prinsip keseimbangan manusia sebagai mahluk individu dan manusia sebagai mahluk sosial. Jika pendidikan anak jauh dari ajaran agama, maka penyimpangan, kesesatan, dan kekafiran akan semakin dekat.
Ada beberapa jawaban yang diberikan, pertama kita harus mampu mendidik anak kita hingga mereka menjadi cerdas, kedua, anak-anak harus kita didik dengan kebenaran filsafat dalam makna yang seluas-luasnya. Ketiga, kita harus mendidik anak dengan kebenaran Al-quran. (Muhammad Muyyidin.2008: 23-25)
Usaha yang dimagsud adalah sebuah upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk mengatasi permasalahan kenakalan remaja. Usaha ini dilakukan dengan melibatkan semua komponen baik kepada seluruh masyarakt terutama orang tuanya sendiri.
Ibu, bapak dan guru bertanggung jawab dihadapan Allah Swt terhadap pendidikan generasi muda. Jika pendidikan mereka baik, maka berbahagialah generasi tersebut didunia dan diakhirat. Tetapi jika mengabaikan pendidikannya maka sengsaralah generasi tersebut dan beban dosanya berada pada mereka. (Syekh Muhammad bin Zainu. 2011: 89)
2. Orang tua
Orang tua adalah pembina dan pendidik pribadi yang pertama dalam hidup. Kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka merupakan unsur- unsur pendidikan yang tidak langsung dengan sendirinya akan masuk kedalam pribadi anak yang sedang bertumbuh dan berkembang.
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
Orang tua harus selalu mendorong dan menolong anak-anaknya dalam melakukan hal-hal yang baik, yaitu dengan memberikan teladan yang baik, melalui ucapan dan perbuatan. (Puspita Rahman, 2009: 79)
Orang tua mempunyai pengaru besar atas perkembangan jiwa anak secara integral (menyeluruh). (Arifin, 2009: 103)
Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa orang tua adalah dua orang dewasa yang hidup bersama dalam ikatan perkawinan yang telah melahirkan anak atau keturunan, yaitu ibu bapak, yang mempunyai tanggung jawab untuk membesarkan, mendidik, dan memberikan tauladan yang baik kepada anaknya.
3. Remaja
Remaja berasal dari bahasa latin Adolescence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa.(Jamal Ma’mur Asmani. 2012: 40)
Perkembangan lebih lanjut , istilah Adolescence sesungguhnya memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, sosial, emosional, dan fisik.
Remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintregasi kedalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya tidak berada dibawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama atau paling tidak sejajar.
Remaja juga sedang mengalami perkembangat pesat dalam aspek intelektual. Transformasi intelektual dari cara berfikir remaja ini memungkinkan mereka tidak hanya mampu mengintregasikan dirinya kedalam masyarakat dewasa, tetapi juga merupakan karakteristik yang paling menonjol dari semua priode perkembangan.(Muhammad Ali & Muhammad Asrori, 2011: 9)
Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik(seksual), sehingga mampu berproduksi. Menurut Konopka masa remaja ini meliputi:
a. Masa remaja awal 12-15 tahun.
b. Masa remaja madya 15-18 tahun.
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
c. Masa remaja akhir 19-22 tahun.
Sementara salzman mengemukakan bahwa masa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung(dependence) terhadap orang tua kearah kemandirian (independence), minat minat seksual, perenungan diri dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral. (Syamsu Yusuf LN, 2009: 184)
Berdasarkan kriteria yang disebutkan di atas menggambarkan tentang seseorang yang memenuhi kriteria tersebut yang dapat dikatakan remaja. Ada beberapa ciri khusus dari masa remaja diantaranya yaitu:
a. Masa yang penting
Dampak jangka panjang yang besar pada prilaku remaja menjadikan fase remaja sebagai fase yang sangat penting.
Dibutuhkan penyesuaian mental dan pembentukan sikap, serta nilai dan minat baru agar mereka bisa melewati masa yang indah ini secara positif.
b. Masa transisi
Masa transisi atau masa peralihan menuntut remaja untuk cepat beradaptasi dengan dunia baru. Sikap kekanak-kanakan sudah mulai harus dihilangkan dan digantikan dengan sikap kedewasaan. hal ini dikarenakan pada priode transisi tampak krtidak jelasan antara status individu dan munculnya keraguan terhadap peran yang harus dimainkan.
c. Masa perubahan
Perubahan dratis remaja sulit dihindari terutama pada : 1) Emosi yang tinggi.
2) Perubahan tubuh.
3) Perubahan nilai-nilai sebagai konsekuensi perubahan minat danpola tingkah laku, dan
4) Bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan.
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
d. Masa bermasalah
Masalah remaja cendrung sulit untuk diatasi oleh remaja itu sendiri. Pertama, karena sebagian masalah yang terjadi selama kanak- kanak diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga remaja tidak berpengalaman dalam mengatasinya. Kedua, sebagian remaja sudah merasa mandiri, sehingga mereka sering menolak bantuan orang tua dan guru-guru. Remaja biasanya ingin mengatasi masalahnya sendiri.
e. Masa pencarian identitas
Bagi remaja identitas adalah hal yang sangat penting. Remaja akan terus berusaha menemukan identitasnya sendiri. Untuk itu, mereka menggunakan symbol-simbol status dalam bentuk kendaraan, pakaian, dan kepemilikan barang-barang lain yang mudah di lihat.
f. Masa munculnya ketakutan
Banyak pihak yang takut terhadap remaja, kenakalan remaja contohnya, merupakan momok bagi orang tua. Dalam banyak hal remaja memang cendrung sulit dikendalikan. Berbagai persepsi negative seperti tidak dapat dipercaya, cendrung merusak, tidak mampu mengendalikan emosi, dan suka berbuat onar adalah label- label yang sering kali ditempelkan pada remaja.
g. Masa yang tidak realitas
Masa remaja adalah masa-masa yang dipenuhi dengan aneka keinginan dan cita-cita tinggi, yang kadang tidak realistis. Emosi mereka sering naik turun secara tiba-tiba. Remaja bisa sangat gembira sekaligus gampang marah ketika keninginannya tidak tercapai.
h. Masa menuju masa dewasa
Masa remaja adalah fase menuju masa dewasa, namun sesungguhnya banyak remaja yang belum siap untuk benar-benar menjadi orang yang berfikir dewasa. Disinilah pentingnya bimbingan
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
dan arahan yang cukup dari semua pihak. Kalau tidak, mereka mudah terjerumus dalam prilaku yang membahayakan, seperti minum- minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan prilaku seks. (Jamal Ma’mur Asmani, 2012: 44-49)
4. Kenakalan remaja
Kenakalan adalah sifat nakal atau perbuatan nakal dan bisa juga diartikan sebagai tingkah laku secara ringan yang menyalahi norma yang berlaku.
Kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku, perbuatan atau tingkah laku, perbuatan atau tindakan sosial, agama, serta ketentuan hokum yang berlaku di masyarakat.
Kenakalan remaja Juvenile Delinquency terdiri dari bahasa latin Juvenilis artinya : anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda.
Sifat-sifat khas pada priode remaja. Dan Delinquency berasal dari kata latin Deliquere yang berarti : terabaik mengabaikan yang kemudian dipeluas artinya menjadi jahat, a-social, kriminal, pelanggar aturan pembuat rebut, pengacau, penteror, tidak dapat diperbaiki lagi, durjana, dan lain-lain.(kartini kartono, 2014: 6)
Menurut Dr. Fuad Hasan, kenakalan remaja itu ialah “kelakuan atau perbuatan anti sosial dan normative”. Menurut Dr. Kusumanto :” Juvenile Delinquency atau kenakalan remaja adalah tingkah laku individu yang bertentangan dengan syarat-syarat dan pendapat umum yang di anggap sebagai Acceptable dan baik oleh suatu lingkungan atau hukum yang berlaku disuatu masyarakat yang berkebudayaan”.(Sofyan S Willis. 2012: 89)
Kejahatan anak-anak remaja ini merupakan produk sampingan dari : a. Pendidikan massal yang tidak menekankan watak dan kepribadian
anak.
b. Kurangnya usaha orang tua dan orang dewasa menanamkan moralitas dan keyakinan beragam pada anak-anak muda.
c. Kurang di tumbuhkannya tanggung jawab social pada anak-anak remaja. (Kartini Kartono. 2014: 8)
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
Menurut kartini kartono beberapa bentuk prilaku menyimpang yang umunya dilakukan para remaja yaitu:
a. Berpesta-pesta sambil mabuk-mabukan, melakukan hubungan seks bebas,atau pesta orgy (mabuk-mabukan yang hebat dan menimbulkan keadaan yang kacau balau) yang menggangu lingkungan.
b. Kecanduan dan ketagihan bahan narkotika (drugs) yang erat kaitannya dengan tindak kejahatan.
c. Perjudian dan bentuk-bentuk permainan lain dengan taruhan, sehingga menimbulkan akses kriminalitas.
d. Komersialisasi seks, pengguguran janin oleh gadis-gadis “nakal” dan aborsi bayi oleh ibu-ibu yang tidak menikah.
e. Tindakan radikal dan ekstrim, yang antara lain dilakukan melalui kekerasan, penculikan, dan pembunuhan, yang dilakukan oleh anak- anak remaja. (Jamal Ma’mur asmani, 2012: 103)
Dari beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja ialah “suatu perbuatan anti sosial, melanggar norma sosial, agama, serta ketentuan hukum yang berlaku di masyarakat yang dilakukan oleh remaja untuk menunjukan eksistensinya..
5. Faktor faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja
Pembagian faktor penyebab kenakalan remaja pada anak dan remaja terbagi menjadi dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal :
a. faktor internal
1). Lemahnya pertahanan diri
Adalah faktor yang ada dalam diri untuk mengontrol dan mempertahankan diri terhadap pengaruh negatif yang datang dari lingkungan.
2). Kurang kemampuan menyesuaikan diri
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
Keadan ini amat terasa didunia remaja, banyak sekali remaja yang tidak bisa bergaul dengan sesama teman remaja yang disebut dengan kurang pergaulan.
3). Faktor bawaan sejak lahir yang disebabkan karena masalah-masalah tertentu.
4). Kurangnya dasar-dasar keimanan dalam diri remaja
b. Faktor Eksternal
1). Faktor keluarga yang kurang harmonis
Ketidakharmonisan antara remaja dan keluarga menjadi sebab terjadinya rumah tangga yang retak. Suasana ini dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain perceraian orang tua terlalu sibuk bekerja, salah satu orang tua sudah tiada, orang tua dan anggota keluarga lainnya tidak mau mengerti tugas dan perkembangan remaja, atu remaja itu sendiri tidak mau peduli terhadap tugas tugas yang seharusnya dipikul dalam keluarga. Suasana inilah yang menjadi retak atau broken home.(Sofyan S. Willis, 2012: 22-23)
2). Faktor lingkungan masyarakat
Sebagian remaja beranggapan bahwa orang tua dan guru tidak memberikan kebebasan bagi mereka, bahkan sebagian remaja yang mengatakan orang tua dan guru tidak pernah memberikan pengawasan terhadap tingkah laku mereka sehingga mereka menimbulkan kenakalan remaja.
Menurut Kartini Kartono seorang anak atau remaja tidak serta mereka berbuat tindak kejahatan, tentu ada hal lain yang menjadi pendorong. (Jamal Ma’mur Asmani. 2012: 13)
Remaja yang melakukan kejahatan seperti disebutkan para ahli diatas pada umumnya merupakan remaja yang kurang memiliki kontrol diri, atau justru menyalahgunakan kontrol diri tersebut kearah yang berlawanan, yang akhirnya suka menegakkan standar tingkah laku sendiri, disamping
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
meremehkan keberadaan orang lain. Kejahatan yang dilakukan itu pada umumnya disertai unsur-unsur mental dengan motif-motif yang tidak jelas, egois, dan gampang marah.
B. Studi Relevan
Penelitian ini agar ilmiah dan orisinalitas, maka berikut ini ada beberapa karya ilmiah yang memiliki kedekatan isi dan metodologi dengan penulis mengenai upaya orang tua dalam menanggulangi kenakalan remaja di Desa Pematang Jering Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muaro Jambi.
Upaya orang tua dalam menanggulangi kenakalan remaja di Desa ladang panjang kabupaten sarolangun, Nailurrahmi, NIM TP. 090 796 , Skripsi Tahun 2011. Mengambil kesimpulan bahwa :
1. Bentuk kenakalan remaja desa ladang panjang kabupaten sarolangun menggunakan narkoba minum-minuman keras dan berjudi.
2. Faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja adalah karena rendahnya faktor pendidikan agama dalam keluarga, faktor kurangnya perhatian orang tua, dan faktor pengaruh lingkungan.
3. Upaya orang tua dalam menanggulangi kenakalan remaja didesa ladang panjang kabupaten sarolangun dengan cara memberikan pendidikan agama, membuat nasehat, serta menggiatkan ceramah agama yang berisikan materi- materi tentang ahlak.
Upaya orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja di desa sungai jauh kecamatan rawas ulu kabupaten musi rawas utara sumatra selatan, Sukarmiatun, NIM TP. 110 368. Skripsi tahun 2013. Memberikan kesimpulan bahwa:
1. Bentuk kenakalan remaja remaja di desa sungai jauh kecamatan rawas ulu kabupaten musi rawas utara sumatra selatan dimana sudah sampai pada tingkat menghawatirkan, karena para remajanya sering melakukan perbuatan yang melanggar norma agama seperti narkoba, minuman keras, dan berjudi.
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi
2. Faktor penyebab kenakalan remaja di Desa Sungai Jauh Kecamatan Rawas Ulu Kabupaten Musi Rawas Utara Sumatra Selatan adalah karena kurangnya perhatian orang tua terhadap anak disebabkan mereka sibuk dengan pekerjaan meraka diluar rumah. Dan juga remaja yang tinggal di Desa Sungai Jauh Kecamatan Rawas Ulu Kabupaten Musi Rawas Utara Sumatra Selatan, sangat kurang dalam menguasai pendidikan agama, serta pergaulan mereka dengan teman sebayanya yang terkadang teman sepergaulan mereka itu adalah remaja yang terlebih dahulu menkonsumsi barang-barang yang tidak dibenarkan dalam agama dan hukum negara.
3. Usaha orang tua menanggulangi kenakalan remaja di desa sungai jauh kecamatan rawas ulu kabupaten musi rawas utara sumatra selatan melalui cara mendatangkan guru-guru agama masih kurang untuk mengajarkan anak mereka dirumah serta dengan menganjurkan anak untuk sekolah.
Skripsi ini sama-sama membahas tentang upaya orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja, akan tetapi metode pengumpulan data yang digunakan berbeda, Penelitian ini menggunakan metode dan pendekatan deskriptif kualitatif.
Penelitian ini diteliti dengan menggunakan sudut pandang dengan instrumen penelitian yang ada di masyarakat tetapi skripsi ini lebih menitik beratkan pada faktor penyebab kenakalan remaja di Desa Sungai Jauh Kecamatan Rawas Ulu Kabupaten Musi Rawas Utara Sumatra Selatan.
Selain itu penelitian ini juga mengedepankan peran orang tua dalam mencegah dan mengatasi kenakalan remaja yang terjadi di Desa Rantau Rasau Satu Kecamata Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan Dan Desain Penelitian
Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat Postpusivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah menggunakan instrumen kunci, pengambilan sumber data dilakukan secara purposive sampling, dan teknik pengumpulan dengan tringulasi (gabungan).
(Sugiyono, 2012:14)
Penelitian ini menggunakan metode dan pendekatan deskriptif kualitatif.
Penelitian ini diteliti dengan menggunakan sudut pandang dengan instrumen penelitian yang ada di masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, penelitian kualitatif sifatnya deskriptif, karena data yang dianalisis tidak untuk menerima atau menolak hipotesis (jika ada) memungkinkan hasil analisis itu berupa deskriptif dari gejala-gejala yang diamati yang tidak selalu berbentuk angka-angka atau koefesian antara variabel. Oleh karena itu penelitian kulaitatif dipandang memungkinkan dipakai untuk mengetahui usaha orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
B. Setting Dan Subjek Penelitian 1. Setting penelitian
Setting penelitian ini berlokasi di Desa Rantau Rasau Satu, kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. adapun alasan penelitian dilakukan di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur ini yaitu:
a. Penelitian di Desa tersebut belum pernah dilakukan sebelumnya b. Dari segi waktu, biaya, dan tenaga tidak menjadi permasalahan c. Dari segi komunikasi lancar
d. Mudah mendapatkan data
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
2. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan yang diambil dengan menggunakan cara Snow Ball artinya seperti bola salju yang menggelinding semakin jauh semakin besar, maka ditetapkan informan kunci (Key Informan) adalah orang tua yang mempunyai anak dan melakukan tindakan kenakalan remaja, anak sebagai responded, sedangkan tokoh agama adalah tambahan.
Subjek penelitian yang dimagsud adalah orang tua, tokoh agama, dan remaja yang berusia 12-22 tahun yang berada di lingkungan RT 16 dan 17 Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
C. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data
a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan termasuk laboratorium. (Nasution, 2011: 143)
Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung dilapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang memerlukan, data primer disebut juga data asli atau data baru. (Iqbal Hasan, 2010:19)
Berdasarkan pengertian diatas Data primer yang dimagsud dalam penelitian ini yaitu upaya orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau I kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
1) Bentuk kenakalan remaja yang dilakukan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur
2) Faktor-faktor penyebab kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
3) Upaya orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur
b. Data sekunder
Data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen.
(Sugiyono, 2010: 225)
Data sekunder adalah data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti, misalnya dari biro statistrik, majalah, koran, keterangan-keterangan atau publikasi lainnya. Data skunder dalam penelitian ini diambil secara tidak langsung yaitu berupa gambaran umum Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur
1) Historis dan geografis 2) Struktur organisasi 3) Keadaan penduduk 4) Keadaan mata pencarian
2. Sumber data
Sumber data atau informasi baik jumlah maupun keragaman diketahui terlebih dahulu, sebagai bahan atau dasar dalam menentukan isi, bahasa, sistematika item dalam instrument penelitian. (Margono, 2010: 55)
Adapun sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari : a. Kepala desa
b. Orang tua c. Remaja d. Tokoh agama e. Tokoh masyarakat
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
D. Teknik Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Menurut Sutrisno Hadi, yang di kutip Sugiyono, mengemukakan metode observasi merupakan” suatu proses yang kompleks, tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antaranya yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan. (Sugiono, 2012: 145)
Metode observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode observasi partisipan yang mana peneliti melibatkan diri secara langsung dalam lingkungan penelitian mengenai upaya orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur, yang meliputi:
a. Bentuk kenakalan remaja yang dilakukan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur
b. Faktor-faktor penyebab kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur
c. Upaya orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur
2. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang lain.
Pelaksanaannya dapat di lakukan secara langsung ataupun tidak langsung terhadap objek penelitianya. Instrumen yang di pakai dapat berupa lembar pengamatan, panduan pengamatan, dan lainnya. (Sugiono.2012: 151)
Wawancara di gunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan study pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus di teliti, dan jika apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondenya sedikit/kecil. Teknik pengumpulan data ini berdasarkan daripada laporan tentang diri sendiri atau
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
setidak-tidaknya pada pengetahuan dan keyakinan pribadi. (Sugiono. 2012:
137)
Dalam penelitian ini metode yang penulis gunakan yakni wawancara tidak tersetruktur sebagai instrumen pelengkap observasi untuk mengumpulkan data dilapangan tentang usaha orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur, seperti :
a. Bentuk kenakalan remaja yang dilakukan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur
b. Faktor-faktor penyebab kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur
c. Upaya orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur
3. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah suatu cara mencari data terhadap hal-hal seluk beluk penelitian baik berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, prestasi, majalah, agenda dan lain sebagainya. (Sugiyono, 2012: 138)
Adapun data yang ingin diperoleh dengan menggunakan metode ini adalah :
a. Historis dan geografis b. Struktur organisasi c. Keadaan penduduk d. Keadaan mata pencarian
E. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data, penulis menggunakan analisis data kualitatif.
Data kualitatif ini akan dianalisis dengan:
1. Analisis Domain
Analisis domain pada umumnya dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh tentang situasi sosial yang diteliti atau objek
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
penelitian. Data diperoleh dari Gran Tour. Hasilnya berupa gambaran umum tentang objek yang diteliti, yang sebelumnya belum pernah diketahui. Dalam analisis ini informasi yang diperoleh belum mendalam, masih dipermukaan, namun menemukan domain-domain atau kategori dari situasi sosial yang diteliti. (Sugiyono, 2012: 258).
Analisis domain ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari lapangan penelitian secar garis besarnya yaitu mengenai masalah upaya orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
2. Analisis Taksonomi
Setelah peneliti melakukan analisis domain, sehingga ditemukan domain- domain atau kategori dari situasi sosial tertentu, maka selanjutnya domain yang dipilih oleh peneliti ditetapkan sebagai fokus penelitian. Perlu diperdalam lagi melalui pengumpulan daata dilapangan. Pengumpulan data dilakukan secara terus menerus melalui pengamatan. Wawancara mendalam dan dokumentasi sehingga data yang tekumpul menjadi banyak. Oleh karena itu, pada tahap ini diperlukan analisis lagi yang disebut dengan taksonomi. (Sugiyono. 2012: 261) Analisis taksonomi ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari lapangan penelitian secara garis besarnya yaitu mengenai masalah upaya orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
3. Analisis Komponensial
Pada analisis komponensial yang dicari untuk diorganisasikan dalam domain bukanlah keserupaan dalam domain, tetapi justru yang memiliki perbedaan atau kontras. Data ini dicari melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang terseleksi. Dengan teknik pengumpulan data yang bersifat tringulasi tersebut, sejumlah dimensi yang spesifik dan berbeda pada setiap elemen akan dapat ditemukan. (Sugiyono. 2012: 264)
Analisis kompenensial ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari lapangan penelitian secara garis besarnya yaitu mengenai
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
masalah Upaya Orang Tua Dalam Mengatasi Kenakalan Remaja Di Desa Pematang Jering Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muaro Jambi.
F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data 1. Perpanjangan waktu penelitian
Dilakukan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yag sedang diteliti, serta memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.
2. Triangulasi data
Triangulasi data adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data itu. Penelitian ini menggunakan triangulasi dengan sumber membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan/informasi yang diperoleh melalui waktu penelitian kualitatif. Hal ini dapat dicapai dengan jalan:
a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara b. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa
yang dikatakannya secara pribadi
c. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu
d. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa dan orang berpendidikan
e. Membandingkan hasil wawancara dngan isi suatu dokumen yang berkaitan.
Berdasarkan teknik triangulasi diatas, maka dimagsud untuk mengecek kebenaran dan keabsahan data-data yang diperoleh dilapangan tentang upaya orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja di Desa Rantau Rasau Satu kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dari sumber hasil observasi, wawancara maupun melalui dokumentasi, sehingga dapat
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
dipertanggung jawabkan keseluruhan data yang diperoleh dilapangan dalam penelitian tersebut. (sugiyono. 2012)
Untuk mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian dilapangan, maka penulis menyusun agenda secara sistematis yang terlihat pada tabel jadwal penelitian sebagai berikut:
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
**Jadwal dapat berubah sesuai dengan kebutuhan data penelitian dilapangan
No Jenis Kegiatan Penelitian
Tahun Akademik 2017-2018
jan feb mar Apr mei jun jul agus sep okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul 1 Observasi
x 2 Bimbingan
Proposal x
3 Perbaikan
Proposal x
4 Seminar x
5 Perbaikan
Proposal x
6 Riset x x x
7 Perbaikan x x
8 Agenda
Skripsi x x
29
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi A. TEMUAN UMUM
1.Historis Dan Geografis a.Historis
Asal nama Desa Rantau Rasau menurut tokoh masyarakat setempat (Pak Sahudi Orang Perintis Pertama Desa Rantau Rasau I )diambil dari nama pohon yaitu (pandan hutan yang tumbuh di tepi sungai Batanghari), dan menjadi tempat bermukim suku Melayu Jambi yang sekarang bernama desa Rasau yang letaknya di tepian Sungai Batanghari berseberangan dengan desa Rantau Rasau 1. Sedangkan nama Rantau Rasau diambil dari gabungan nama Rasau dan Rantau. Rasau mengambil dari nama aslinya, sedangkan Rantau, adalah orang yang datang (perantau).
Sesuai namanya, Desa Rantau Rasau satu adalah desa transmigrasi pertama pada pemerintahan Orde Lama di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (sebelum pemekaran Kabupaten tahun 2004 masih bernama Kabupaten Tanjung Jabung). Mereka didatangkan secara bergelombang.
Gelombang pertama datang tahun 1967 sebanyak 49 KK, kemudian datang lagi tahun 1969 sebanyak 56 KK. Kemudian dilanjutkan pada masa Orde Baru pada tahun 1971/1972 melalui proyek transmigrasi REPELITA-1 (rancana pembangunan 5 tahun) sebanyak 27 KK berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. Pada tahun 1973 didatangkan transmigrasi lokal dari Sorolangun sebanyak 25 KK. Sebagai daerah transmigrasi yang baru kondisi alam yang ada pada tahun 1970an masih berupa hutan belantara dan rawa gambut yang menjadi bagian dari delta Berbak. “dulunya jarak tempuh menuju kota jambi hanya bisa melewati sungai Batanghari menggunakan kapal motor, berangkat jam 16.00 sampai di Angsoduo Jambi jam 10.00 pagi (18 jam), tutur pak Sahudi”.
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
Pada tahun 1976, Desa Rantau Rasau satu menjadi bagian dari Kecamatan Sabak. Tahun 1987 dengan adanya pemekaran kecamatan, masuk dalam wilayah kecamatan Nipah Panjang, dan terakhir tahun 2004, dengan adanya pemekaran kecamatan Nipah Panjang, desa Rantau Rasau I masuk kedalam wilayah Kecamatan Rantau Rasau dan berlangsung hingga saat ini.(Dokumen Desa rantau rasau satu)
b. Geografis
Desa Rantau Rasau satu adalah salah satu desa dalam wilayah Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Secara geografis, Desa Rantau Rasau I terletak pada Kordinat S 01°10.291'-E 104°07.852’ yakni di dataran rendah timur bagian tengah Pulau Sumatera Bentang Alam Berbak Jarak Tempuh Ke ibukota provinsi (Kota Jambi), yakni 161 km dan biasanya ditempuh hanya sekitar 4,5 jam perjalanan dengan mobil atau sepeda motor. Sedangkan Jarak Tempuh Ke Ibukota Kabupaten Tanjung Jabung Timur, yakni 65 km dan ditempuh selama 2 jam perjalanan dengan mobil atau sepeda motor. Dengan pusat kecamatan di Desa Bandar Jaya 7 km, 10 menit.
Desa Rantau Rasau satu adalah salah satu Desa dari sebelas desa di kecamatan Rantau Rasau dengan luas wilayah 11,25 KM2 dengan ketinggian dari permukaan laut 0 - 5 M, dengan suhu rata-rata 33-65 C, dan menjadi bagian dari lanskap Berbak.
Batas wilayah Desa Rantau Rasau satu sebagai berikut:
a) Sebelah Utara : berbatasan dengan desa Rantau Jaya b) Sebelah Selatan : berbatasan dengan Sungai Batang Hari c) Sebelah Timur : berbatasan dengan desa Karya Bakti
d) Sebelah Barat :berbatasan dengan desa Rantau Rasau II dan Pematang Mayang
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
2.Struktur Pemerintahan
Struktur pemerintah Desa Rantau Rasau satu di susun sesuai ketentuan PP Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dengan Permendagri Nomor 84 Tahun 2015 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa, disusun sebagai berikut :
TABEL 4.1
Struktur Pemerintahan Desa Rantau Rasau I
Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi
Sumber: Diolah Dari Data Desa Rantau Rasau satu, Tahun 2017 KEPALA DESA
DENI PERMANA
KASI PEMERINTAHAN
AHMAD ZAINI
SEKRETARIS DESA WARDIYONO S.Pd.I
KEPALA DUSUN PELITA IDRUS SALAM KEPALA DUSUN PERINTIS
SUPRIYATNA
KEPALA DUSUN PEMBANGUNAN AGUNG PRISWANTORO S.Pt KASI PELAYANAN
DAN KESEJAHTERAAN DIYAH RAHMAWATI S
KAUR UMUM DAN PELAYANAN PERENCANAAN
O’ON PAR’ON
KAUR KEUANGAN INDAH SARINAH
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
3. Keadaan Penduduk a. Jumlah Penduduk
Berdasarkan data umum Kependudukan Desa Rantau Rasau satu, Jumlah penduduk desa Rantau Rasau 1 tahun 2017 adalah 695 Kepala Keluarga atau 2.543 jiwa, terdiri dari 1.304 jiwa penduduk laki-laki dan 1.239 jiwa perempuan. Dilihat dari asal-usul penduduknya, 60 % berasal dari etnik jawa, 25 % etnik sunda dan sisanya 15% berasal dari penduduk asli melayu Jambi dan pendatangdari etnik bugis, minang dan batak.
Struktur demografis terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu penduduk usia produktif 20 s/d 50 tahun dan penduduk usia muda di usia 19 tahun.
Gambaran struktur penduduk desa Rantau Rasau dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
Tabel: 4.2:
Struktur Demografi Desa Rantau Rasau satu
Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi (Menurut Kelompok Usia& Jenis Kelamin)
No Kelompok Umur Jumlah Jiwa
1. 0-4 Tahun 196
2. 4-9tahun 103
3. 9-14 Tahun 180
4. 14-19 Tahun 193
5. 19-24 Tahun 286
6. 24-29 Tahun 167
7. 29-34 Tahun 357
8. 34-39 Tahun 250
9. 39-44 Tahun 187
10. 44 Tahun Lebih 324 Jumlah Penduduk 2.543 Jiwa
Sumber: Diolah Dari Data Kependudukan Desa Rantau Rasau I, Tahun 2017
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
b. Keadaan Mata Pencaharian
Pekerjaan utama penduduk Desa Rantau Rasau I sebagai petani ( 77%), kemudian pedagang (17%) dan sisanya sebagai pegawai dan penyedia jasa. Gambaran tentang pekerjaan utama penduduk dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
GRAFIK 4.3
Jenis Pekerjaan Desa Rantau Rasau I,
Sumber : Data RPJMDes Desa Rantau Rasau I, tahun 2016
c. Keadaan Pendidikan
Tingkat pendidikan penduduk desa Rantau Rasau 1 berdasarkan data dari RPJMDes tahun 2016, adalah sebagai berikut; 98 % tamat SD, 76 % tamat SMP, 62% tamat SMA dan 25 % tamat perguruan tinggi.
Sedangkan penduduk yang buta huruf sebanyak 2% yang umumnya berusia diatas 75 tahun.
Apabila data pendidikan di atas, diketahui bahwa minat dan tingkat kesadaran masyarakat terhadap pendidikan cukup tinggi. Hal ini ditunjang oleh keberadaan sarana dan prasarana pendidikan yang ada di
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
desa serta program pendidikan luar sekolah (Kejar paket A,Bdan C) yang sudah cukup mampu memberikan andil dalam penanganan masalah pendidikan. Bahkan, di beberapa sekolah daya tampung murid telah melampaui batas, sehingga di tanggulangi dengan sekolah pagi dan siang.
Namun demikian, dari hasil analisa yang dilakukan oleh UPTD Pendidikan TK/SD ternyata anggota Drop Out usia sekolah tingkat SLTP masih ada dan berpengaruh pada program penuntasan Wajar 9 Tahun.
Oleh karena itu untuk lebih meningkatkan pencapaian target, disebagian kecil wilayah masih memerlukan PAUD dan peningkatan Kejar Paket A,B dan C melalui PKBM. (Dokumen Desa Rantau Rasau Satu)
Berdasarkan keterangan diatas disimpulkan bahwa keadaan pendidikan masyarakat di Desa Rantau Rasau Satu mayoritas adalah tamatan Sekolah Dasar hal ini tentunya sangat berpengaruh kepada prilaku mereka dalam mendidik keluarga dan anak-anaknya.
d. Keadaan Agama
Agama adalah suatu kepercayaan terhadap tuhan yang maha esa, dan merupakan landasan pokok dari Negara Indonesia. Untuk lebih jelasnya tentang keadaan pemeluk agama di Desa Rantau Rasau Satu dapat dilihat pada table berikut :
Table 4.3. Keadaan Pemeluk Agama Desa Rantau Rasau Satu
sumber: Diolah Dari Data Desa Rantau Rasau I, Tahun 2017 No Jenis Agama Jumlah Jiwa
1. Islam 2.375
2. Kristen 100 3. Khatolik 68
4. Hindu -
5. Budha -
Jumlah 2.543 jiwa
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
Kemudian untuk melakukan suatu kegiatan keagamaan, maka sangat diperlukan suatu sarana dan prasarana ibadah. Desa rantau rasau satu terdapat Sarana ibadah berupa mesjid sebanyak 10 unit, mushola/langgar sebanyak 7 unit dan gereja Katholik 1 unit dan gereja Protestan 2 unit.
B. TEMUAN KHUSUS
1. Bentuk-Bentuk Kenakalan Remaja Di Desa Rantau Rasau Satu Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur
Kenakalan remaja saat ini bukan suatu masalah baru dalam kehidupan masyarakat, dimana sejak dulu, masalah kenakalan remaja telah menjadi topik pembahasan yang tidak ada habisnya sampai sekarang dan seolah-olah tidak ada jalan keluar untuk mengatasinya.Penyimpangan-penyimpangan yang tejadi yang dilakukan para remaja dengan berbagai bentuk kenakalan.
Dengan perkembamngan zaman yang semakin pesat dan memasuki era modern ini serta diringi kemajuan teknologi yang begitu maju, ahlak remajapun berubah mengkuti kemajuan zaman.
Desa Rantau Rasau Satu Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur khususnya keadaan kenakalan remajanya bermacam-macam dan berbagai bentuk, dimana remaja-remajanya masih ada yang melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar norma-norma agama, dan norama masyarakat seperti:
a. Meminum-minuman keras
Dalam ajaran islam telah dikemukakan bahwa meminum-minuman keras adalah salah satu perbuatan yang dilarang dan barang siapa yang melakukan hal tersebut akan mendapat hukuman dari allah SWT.
Namun hal ini sepertinya tidak menjadi ancaman dikalangan remaja.
Dalam ajaran islam sendiri mengemukakan bahwa dengan berzikir kepada allah SWT hati manusia akan menjadi tenang, akan tetapi bagi kalangan remaja meminum-minuman keras hati akan menjadi tenang dan seolah-olah terlepas dari segala masalah. Hal inilah yang terjadi di kalangan remaja yang berada di Desa Rantau Rasau Satu Kecamatan
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN STS Jambi
Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebagai mana yang dikatan oleh ketua pemuda setempat.
Menurut Bapak Agung Priswantoro S.Pt selaku kepala Dusun pembangunan mengatakan:
“di wilayah ini anak-anak remaja sering berkumpul di rumah temannya yang tidak ada orang tuanya, dan mereka menginap, mereka sering minum-minuman keras (tuak) dan bergadang hingga pagi dengan teman-temanya yang sepergaulan” (wawancara 22 maret 2018)
Anak-anak remaja yang sering melakukan penyimpangan atau kenakalan remaja memang tidak terlepaas dari peran orang tua mereka, jka orang tua selalu memperhatikan dan membimbing anak-anak remaja baik dengan memberikan pendididkan agama serta mengarahkan, bahwa yang mereka lakukan adalah salah dan melangar maka mereka akan menyadari bahwa sesungguhnya perbuatan merka itu salah.
Salah seorang remaja yang bernama Dwi mengatakan bahwa:
“meminum-minuman keras itu dapat menghilangkan masalah yang kita hadapi, apalagi minumnya bareng teman-teman. Solah-olah dunia ini hanya kami yang punya, pokoknya bawaannya heppy kalu lagi minum”
( wawancara 22 maret 2018)
Sedangkan Iwan memberikan kesaksian sebagai brikut
“Pada saat kami ngumpul bareng teman-teman sembari minum tuak, salah seorang dari kami membawa jenis minuman keras sangat banyak, dan dioplos dengan obat batuk, dan beberapa tablet obat sakit kepala, rasanya enak sekali, sempat takut juga sih tapi karena pengaruh alcohol jadi kami mabok sampai pagi”
Apa yang telah dilakukan para remaja tentunya sangat berbahaya, apalagi jenis minuman yang mereka konsumsi mengansung kadar alcohol yang sangat tinggi dan di campur dengan obat-obatan yang semestinya tidak digunakan untuk mabuk-mabukan