INOVASI MESIN PENGADUK DODOL UNTUK MENGURANGI BEBAN KERJA OPERATOR DI UKM
DODOL SEJAHTERA
TUGAS SARJANA
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Penulisan Tugas Sarjana
Oleh :
EGA ABRAHAM PANGARIBUAN
130403075
D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I F A K U L T A S T E K N I K
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N
2 0 1 9
ABSTRAK
Beban kerja merupakan banyaknya tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam satuan waktu dengan jumlah tenaga kerja tertentu.
Peningkatan beban kerja menjadi salah satu permasalahan pada operator pengadukan dodol dalam pemenuhan peningkatan pemasaran secara online.
Fasilitas manual untuk proses pembuatan dodol mengharuskan operator berdiri dan mengaduk adonan dalam waktu yang lama setiap hari. Proses pengadukan dodol secara manual mengharuskan operator mengaduk dodol secara terus- menerus dalam waktu 4 sampai 5 jam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengurangi beban kerja operator pada stasiun pengadukan dodol. Metode yang digunakan adalah penilaian beban kerja secara langsung untuk menilai konsumsi energi operator dan secara tidak langsung untuk melihat % CVL operator, penilaian keluhan kerja dengan kuesioner Standard Nordic Questionnaire, dan penilaian postur kerja dengan kuesioner Quick Exposure Check. Hasil yang didapatkan setelah menggunakan mesin pengaduk dodol adalah beban kerja berdasarkan konsumsi energi berada dalam kategori ringan, berdasarkan % CVL berada dalam kategori tidak mengalami kelelahan dan berdasarkan postur kerja berada dalam kategori tindakan dalam waktu dekat.
Hal ini mengindikasikan bahwa terjadinya penurunan beban kerja setelah operator menggunakan mesin pengaduk dodol. Inovasi mesin pengaduk dilakukan pada bagian pisau pengaduk, alat pemanas dan tutup mesin penggerak pisau pengaduk.
Kata kunci : Beban kerja, Keluhan Operator, Postur Kerja, Dodol, Mesin Pengaduk Dodol.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Saya panjatkan kepada hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan Tugas Sarjana ini dengan baik.
Laporan Tugas Akhir (TA) dengan judul “
INOVASI MESIN PENGADUK DODOL UNTUK MENGURANGI BEBAN KERJA OPERATOR DI UKM DODOL SEJAHTERA
” merupakan salah satu persyaratan lulus untuk memperoleh gelar sarjana di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.Isi / materi yang terdapat pada Tugas Akhir ini mencakup pengurangan beban kerja operator pengaduk dodol menggunakan mesin pengaduk dodol yang ergonomis.
Tugas Akhir ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penulis memohon maaf jika terdapat ketidak sempurnaan dalam penulisan.
MEDAN, Maret 2019 PENULIS
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat mengikuti pendidikan di Departemen Teknik Industri USU serta telah memberikan nikmat kesehatan dan ilmu kepada penulis selama masa kuliah dan dalam penyelesaian laporan Tugas Sarjana ini.
Dalam penulisan Tugas Sarjana ini penulis telah mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, baik berupa materil, spiritual, informasi maupun administrasi. Oleh karena itu sudah selayaknya penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Orang tua yang tiada hentinya mendukung penulis baik secara moril maupun materil dan mendoakan penulis selama penyelesaian Tugas Sarjana ini.
2. Ibu Dr. Meilita Tryana Sembiring, ST., MT., selaku Ketua Departemen dan Bapak Buchari ST, M. Kes selaku Sekretaris Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Medan.
3. Ibu DR. ENG. LISTIANI NURUL HUDA, MT., sebagai Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing penulis dan memberikan masukan dalam penyelesaian laporan tugas sarjana.
4. Bapak Nur Rohim dan Ibu Rita selaku pemilik UKM Dodol Sejahtera yang telah meluangkan waktunya untuk berdiskusi serta dengan sabar membimbing dalam melaksanakan penelitian.
5. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE dan Ibu Rahmi M Sari, ST, M(M)T selaku dosen penguji Tugas Sarjana yang telah meluangkan waktu untuk memberikan masukan dan saran kepada penulis saat melaksanakan seminar maupun sidang tugas sarjana.
6. Seluruh dosen Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik penulis selama perkuliahan sebagai bekal dalam penulisan tugas sarjana.
7. Bang Tumijo, Bang Edi, Bu Ester, Bang Nurmansyah, Kak Dede, Kak Neneng, Kak Rahmaini, dan Kak Mia sebagai Staf pegawai Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara yang telah membantu segala urusan administrasi dan peminjaman buku di perpustakaan selama kegiatan perkuliahan dan penyelesaian tugas Sarjana.
8. Sahabat-sahabat penulis di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik USU, Robby Simbolon, Benny Simbolon, Wiwik Rahmad Padli, Agastya R.
Arif, Ahmad Husaini, Aji Prasetio, Akbar Alayubi, Bayu Noviza, Haritz Gozi, Hilman Ismail, Imam Ramzani, Iyel Syaputra, Mhd Alwi Hudaya, Mhd Azmi, Mhd Munawir, Mhd Gabriel, Ananda Rizki, Mhd Primo, Raden Aldi, Rio Evaldo, Rahmadsyah, Tri Ardi, Irfan Ulya, khususnya teman-teman angkatan 2013 “REPTIGS” yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam penyelesaian laporan tugas akhir ini.
DAFTAR ISI
BAB HALAMAN
LEMBAR JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
SERTIFIKAT EVALUASI TUGAS SARJANA ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
UCAPAN TERIMA KASIH ... v
ABSTRAK ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xxii
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
I PENDAHULUAN ... I-1 1.1. Latar Belakang ... I-1 1.2. Rumusan Masalah ... I-5 1.3. Tujuan Penelitian ... I-5 1.4. Manfaat Penelitian ... I-6 1.5. Batasan Masalah dan Asumsi... I-6 1.6. Sistematika Penulisan Laporan ... I-7
DAFTAR ISI (LANJUTAN)
BAB HALAMAN
II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... II-1 2.1. Sejarah Perusahaan... II-1 2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha ... II-2 2.3. Lokasi Usaha ... II-3 2.4. Daerah Pemasaran ... II-4 2.5. Organisasi dan Manajemen ... II-4 2.5.1. Struktur Organisasi ... II-4 2.5.2. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab ... II-5 2.5.3. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja ... II-7 2.6. Bahan yang Digunakan ... II-7 2.6.1. Bahan Baku ... II-7 2.6.2. Bahan Penolong ... II-8 2.6.3. Bahan Tambahan ... II-10 2.7. Peralatan dan Mesin Produksi ... II-10
2.7.1. Mesin Produksi ... II-10 2.7.2. Peralatan Produksi ... II-11 2.8. Uraian Proses Produksi ... II-13
DAFTAR ISI (LANJUTAN)
BAB HALAMAN
III LANDASAN TEORI ... III-1 3.1. Beban Kerja ... III-1 3.1.1. Faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja ... III-2 3.1.1.1.Faktor Eksternal ... III-2 3.1.1.2.Faktor Internal ... III-3 3.1.2. Penilaian Beban Kerja Fisik ... III-4 3.1.3. P e n i l a i a n B e b a n K e r j a B e r d a s a r k a n
Jumlah Kebutuhan Kalori ... III-5 3.1.4. Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Denyut Nadi Kerja . III-6 3.2. Standard Nordic Questionnaire ... III-8 3.3. Postur Kerja ... III-10 3.4. Quick Exposure Check (QEC) ... III-8
IV METODOLOGI PENELITIAN ... IV-1 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian ... IV-1 4.2. Jenis Penelitian ... IV-1 4.3. Objek Penelitian ... IV-1 4.4. Kerangka Konseptual ... ... IV-1 4.5. Variabel Penelitian ... IV-2 4.6. Rancangan Penelitian ... IV-3
4.7. Instrumen Penelitian... IV-4 4.8. Pengumpulan Data ... IV-7 4.8.1. Sumber Pengumpulan Data ... IV-7 4.8.2. Metode Pengumpulan Data ... IV-7 4.9. Pengolahan Data... IV-8 4.10. Analisis Pemecahan Masalah ... IV-8 4.11. Kesimpulan dan Saran... IV-8
V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA ... V-1 5.1. Inovasi Mesin Pengaduk Dodol ... V-1 5.2. Perhitungan Beban Kerja ... V-2 5.2.1. Metode Penilaian Langsung ... V-3 5.2.2. Metode Penilaian Tidak Langsung ... V-5 5.3. Standard Nordic Questionnaire ... V-7 5.4. P e n i l a i a n P o s t u r K e r j a d e n g a n A n a l i s i s
Quick Exposure Check (QEC) ... V-13 5.4.1.P e n i l a i a n P o s t u r K e r j a O p e r a t o r dengan
Analisis Quick Exposure Check (QEC) ... V-13 5.5. Hubungan Beban Kerja dengan Postur Kerja ... V-18
DAFTAR ISI (LANJUTAN)
BAB HALAMAN
VI ANALISIS PEMECAHAN MASALAH ... VI-1 6.1. Analisis Kondisi Aktual ... VI-1 6.1.1. Analisis Fasilitas Kerja ... VI-3 6.1.2. Analisis Beban Kerja dan Kelelahan ... VI-6 6.1.3. Analisis Postur Kerja ... VI-7 6.1.4. Analisis Inovasi Mesin Pengaduk Dodol ... VI-8 VII KESIMPULAN DAN SARAN ... VII-1 7.1. Kesimpulan ... VII-1 7.2. Saran ... VII-2 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR HALAMAN
2.1. Produk Dodol Sejahtera ... II-2 2.2. Toko Dodol Sejahtera... II-3 2.3. Lokasi Dodol Sejahtera Dilihat dari Google Maps ... II-3 2.4. Struktur Organisasi UKM Dodol Sejahtera ... II-5 2.5. Beras Ketan ... II-8 2.6. Kemasan Dodol ... II-10 2.7. Blok Diagram Uraian Proses Produksi Dodol... II-15 3.1. Standard Nordic Questionnaire ... III-9 3.2. Skor dan Penanganan Hasil Quick Exposure Checklist (QEC) .. III-13 4.1. Kerangka Konseptual Penelian ... IV-2 4.2. Rancangan Penelitian ... IV-4 4.3. Stopwatch ... IV-5 4.4. Kamera ... IV-5 4.5. Kuesioner SNQ ... IV-6 4.6. Kuesioner QEC ... IV-6 5.1. Mesin Pengaduk Dodol ... V-1 5.2. Perbandingan Beban Kerja Operator... V-5 5.3. Perbandingan %CVL Operator ... V-7 5.4. Keluhan Rasa Sakit ... V-12
DAFTAR GAMBAR (LANJUTAN)
GAMBAR HALAMAN
6.1. Alat Pemanas Kuali Pengaduk Dodol ... VI-2 6.2. Pisau Pengaduk Adonan Dodol ... VI-3 6.3. Mesin Penggerak Pisau Pengaduk... VI-3 6.4. Inovasi Alat Pemanas ... VI-4 6.5. Inovasi Pisau Pengaduk ... VI-5 6.6. Inovasi Tutup Motor Penggerak Pisau Pengaduk ... VI-5
DAFTAR TABEL
TABEL HALAMAN
2.1. Rincian Tugas dan Tanggung Jawab ... II-5 2.2. Jumlah Pekerja UKM Dodol Sejahtera ... II-7 2.3. Bahan Penolong Proses Pengolahan Dodol ... II-9 2.4. Mesin Produksi Pengolahan Dodol ... II-10 2.5. Peralatan Produksi Pengolahan Dodol ... II-11 2.6. Uraian Produksi Pengolahan Dodol ... II-12 3.1. Kategori Beban Kerja Berdasarkan Metabolisme Respirasi,
Suhu Tubuh, dan Denyut Jantung ... III-4 5.1. Elemen-elemen Mesin Pengaduk Dodol ... V-2 5.2. Pengukuran Denyut Nadi Kerja dan Istirahat Operator ... V-3 5.3. Perhitungan Beban Kerja Berdasarkan Konsumsi Energi ... V-4 5.4. Hasil Perhitungan %CVL Operator Pengaduk Dodol ... V-6 5.5. Rekapitulasi Kuesioner SNQ Operator Pengaduk Dodol
Manual ... V-9 5.6. Rekapitulasi Kuesioner SNQ Operator Pengaduk Dodol
Menggunakan Mesin ... V-10 5.7. Penilaian Kuesioner SNQ ... V-11 5.8. Kuesioner QEC Pengamat ... V-13 5.9. Kuesioner QEC Operator ... V-14 5.10. Penilaian Postur Kerja Operator dengan QEC ... V-16
5.11. Nilai Level Tindakan QEC pada Operator ... V-17 5.12. Perbandingan Postur Kerja Operator dengan Analisis QEC ... V-18
DAFTAR TABEL (LANJUTAN)
TABEL HALAMAN
5.10. Customer Importance (CI) terhadap Proses Perancangan
Fasilitas Kerja ... V-17 5.11. Nilai Importance dan Relative Weight ... V-22 5.12. Bobot Tingkat Kesulitan ... V-23 5.13. Bobot Tingkat Kesulitan ... V-24 5.14. Bobot Derajat Kepentingan ... V-25 5.15. Dimensi Tubuh Operator ... V-28 5.16. Tinggi Mata Duduk (TMD) ... V-29 5.17. Jangkauan Tangan (JT) ... V-30 5.18. Diameter Genggam (DG) ... V-30 5.19. Rekapitulasi Hasil Pengukuran Nilai Rata-rata, Standar
Deviasi, Nilai Maximum, dan Nilai Minimum ... V-33
5.20. Uji Keseragaman Data Antropometri Untuk Perancangan
Fasilitas Kerja ... V-34 5.21. Uji Kecukupan Data ... V-37 5.22. Tinggi Mata Duduk (TMD) ... V-38 5.23. Diameter Genggam (DG) ... V-38 5.24. Jangkauan Tangan (JT) ... V-39 5.25. Rekapitulaasi Nilai persentil Data Antropometri ... V-40 5.26. Rekapitulasi Data SNQ Pekerja Produksi ... V-44
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dodol adalah makanan manis yang terbuat dari santan, tepung susu, pulut dan gula merah. Proses pembuatan dodol sebagian besar masih dilakukan secara manual yang membutuhkan tenaga kerja operator. Fasilitas manual untuk proses pembuatan dodol mengharuskan operator berdiri dan mengaduk adonan dalam waktu yang lama setiap hari. Hal tersebut membuat operator mengalami keluhan rasa sakit pada tubuh dan juga meningkatkan beban kerja operator. Permasalahan beban kerja pada operator pengadukan dodol dapat dikurangi dengan melakukan inovasi mesin pengaduk dodol.
Dalam penelitian “Workload Evaluation towards the Dodol Workers from Dryer Section in Buleleng Bali”(I Gede Santosa, 2016) meneliti beban kerja operator dodol. Beban kerja operator dodol diukur dengan denyut nadi pekerja saat istirahat dan pada saat operator bekerja. Setelah itu, beban kerja diprediksi berdasarkan nilai beban kardio vaskular (CVL). Denyut nadi istirahat diukur dengan metode denyut 15 detik sementara denyut nadi kerja diukur dengan metode denyut 10 detik. Tingkat rata-rata denyut nadi kerja yang diperoleh adalah 126,03. Klasifikasi beban kerja ini termasuk dalam kategori beban kerja berat karena berada dalam kisaran 125-150 / menit. Hasil pengukuran diperoleh nilai rata-rata dari beban kardio vaskular (% CVL) adalah 56,08.
Dalam penelitian “Analisis Beban Kerja Dengan Menggunakan Metode CVL dan NASA-TLX di PT.ABC” (Puteri, Renty Anugerah Mahaji. 2017) , permasalahan yang dihadapi adalah beban kerja fisik memiliki persentase CVL 31,16% sehingga diperlukan perbaikan, dan beban kerja mental dengan skor NASA Task Load Index (NASA-TLX) 74,2% bagian proyek dan 61,5% bagian head office yang memiliki arti beban kerja dalam tingkat sedang. Metode yang digunakan perhitungan %CVL dan NASA-TLX. Hasil yang didapatkan pada perhitungan %CVL, sebelum perbaikan skor yang didapatkan 31,16% (diperlukan perbaikan), setelah perbaikan skor yang didapatkan adalah 23,28% (tidak terjadi kelelahan). Pada perhitungan beban kerja mental, skor bagian proyek yang didapatkan 74,2% (beban kerja sedang), setelah dilakukan perbaikan menjadi 51,6% (beban kerja ringan) dan pada bagian head office skor yang didapatkan adalah 61,5% (beban kerja sedang) setelah dilakukan perbaikan menjadi 47,66%
(beban kerja ringan).
Dalam penelitian “Analisis Pengaruh Pemakaian Alat Bantu Angkut Terhadap Segment Tubuh Pekerja” (Putro, Gunawan Madyono. 2018) , permasalahan yang dihadapi adalah operator memindahkan barang tanpa alat bantu yang menyebabkan beban kerja menjadi berat dengan konsumsi energi yang besar. Metode yang digunakan adalah pengukuran konsumsi energi, Quick Exposure Check (QEC) dan antropometri.
Hasil yang didapatkan setelah menggunakan alat mengurangi konsumsi energi sebesar 82,82% dibanding tanpa alat bantu. Sedangkan keluhan segmen tubuh bagian punggung berkurang 30%, pergelangan tangan berkurang 28%, leher
berkurang 29% dan bahu berkurang 14% sehingga alat bantu yang sudah ada layak digunakan.
Inovasi alat pengaduk dodol telah diteliti oleh Indra Akmal pada tahun 2017 dengan judul penelitian “Alat Pengaduk Lempuk Durian Untuk Peningkatan Kapasitas dan Produktivitas Pada UMKM Lempuk Durian Di Kabupaten Bengkalis”. Permasalahan yang dihadapi adalah proses pengadukan lempuk durian memerlukan tenaga yang besar untuk mengaduk adonan secara kontiniu.
Pengambilan data dilakukan dengan cara mengamati dan mengukur waktu 2 orang pekerja melakukan pengadukan lempuk dan mengamati dan mengukur waktu pengadukan lempuk durian menggunakan mesin dengan berat total masing- masing 50kg.
Kesimpulan yang didapatkan adalah waktu rata-rata pengadukan lempuk durian 50 kg adalah 5 jam 25 menit dari waktu sebelumnya yang mencapai 8 jam 24 menit. Saran yang diberikan kepada pengusaha lempuk agar dapat menggunakan alat pengaduk lempuk untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Inovasi mesin pengaduk dodol dalam penelitian “Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Dodol Nangka di Desa Suranadi Lombok Barat Nusa Tenggara Barat” oleh Ansar Nazaruddin pada tahun 2018. Dalam penelitian ini mesin pengaduk dodol otomatis diaplikasikan guna meningkatkan produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan. Mesin pengaduk dodol otomatis yang telah diaplikasikan dapat meningkatkan produktivitas dari 10kg/hari menjadi 20 kg/hari. Produk yang dihasilkan lebih higienis, gurih, dan lezat jika dibandingkan sebelum menggunakan teknologi mesin otomatis
Penelitian tentang beban kerja fisik operator pengaduk dodol telah dilakukan dalam Tugas Akhir berjudul “The Relationship Between Energy Consumption and Heat Stress of Dodol Stirrer” oleh Fricilya Simatupang pada tahun 2018. Diagram penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.1.
Output Penelitian Usulan perancangan Mesin Pengaduk
Dodol Permasalahan Penelitian
Terdahulu dilakukan oleh Fricilya
Keluhan Beban Kerja Fisik Operator
Metode - Konsumsi Energi dan
% CVL - SNQ dan QEC
-Antropometri -Macroergonomic Analysis
and Design
Output Penelitian Inovasi Mesin Pengaduk Dodol Permasalahan Penelitian
Sekarang dilakukan oleh Ega Abraham Peningkatan Pemasaran Produk Secara Online dan Beban Kerja
Operator Mesin Pengaduk dodol
Metode - Konsumsi Energi dan
% CVL - SNQ dan QEC
Gambar 1.1. Diagram Keterkaitan Penelitian Terdahulu dengan Penelitian Sekarang
Dalam Gambar 1.1., diketahui % CVL operator pengaduk dodol sebesar 42,74% yang merupakan kategori memerlukan perbaikan. Berdasarkan perhitungan konsumsi energi, operator pengaduk dodol mendapat nilai sebesar 413,41 yang merupakan kategori beban kerja yang berat. Berdasarkan perhitungan postur kerja, operator pengaduk dodol mendapat nilai sebesar 74,69% yang merupakan kategori diperlukan tindakan sekarang juga. Operator mengalami keluhan rasa sakit pada tubuh karena pekerjaan pengadukan dodol dilakukan secara terus-menerus dalam waktu 4 sampai 5 jam. Rata-rata keluhan sakit dan sangat sakit pada tubuh operator pengadukan dodol manual berdasarkan hasil
Gambar 1.2. Rata-Rata Keluhan Rasa Sakit dan Sangat Sakit Operator Pengaduk Dodol
Inovasi mesin pengaduk dodol dilakukan untuk mengurangi beban kerja dan keluhan sakit pada tubuh operator pengaduk dodol. Gambaran proses pengadukan dodol manual dan menggunakan mesin dapat dilihat pada Gambar 1.3.
Gambar 1.3. Pengadukan Dodol Manual dan Mesin Pengaduk Dodol
UKM SGN merupakan salah satu UKM yang berada di Serdang Bedagai.
Dibukanya akses Jalan Tol Medan-Tebing Tinggi, mengakibatkan penurunan
volume kendaraan yang melintas di jalan Serdang Bedagai. Berkurangnya volume kendaraan yang melintas berakibat pada menurunnya jumlah pembeli dodol di Serdang Bedagai. Banyak UKM dodol yang mengalami kerugian bahkan tidak sedikit yang mengalami kebangkrutan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, UKM SGN memasarkan produknya secara online.
UKM SGN memproduksi dodol dalam lingkungan kerja yang tidak ergonomis. Salah satu faktor yang tidak ergonomis dalam lingkungan kerja adalah fasilitas kerja manual. Fasilitas kerja manual tersebut mengakibatkan operator mengalami kelelahan saat bekerja, terutama pada bagian pengadukan dodol. Salah satu tugas (task) bersifat fisik yang dilakukan operator pengaduk dodol adalah mengaduk dodol. Tugas (task) tersebut mengharuskan operator bekerja mengaduk dodol secara terus-menerus selama waktu kerja 4 sampai 5 jam. Tugas yang dilakukan operator dodol secara terus-menerus menyebabkan adanya keluhan pada bagian tubuh dan operator mengalami kelelahan setelah melakukan pengadukan dodol. Tugas, waktu kerja dan lingkungan kerja tersebut menyebabkan adanya permasalahan beban kerja pada operator pengaduk dodol.
Perancangan mesin pengaduk dodol telah dilakukan untuk UKM SGN.
Mesin pengaduk yang dirancang untuk UKM ini masih semi-automatis. Mesin tersebut menggunakan alat pengaduk yang dapat mengaduk secara otomatis tetapi masih dibutuhkan operator untuk membantu meratakan adonan dodol. Mesin pengaduk dodol ini diharapkan dapat mengurangi beban kerja operator dan mengurangi keluhan sakit akibat kerja di UKM SGN. Mesin pengaduk dodol yang diaplikasikan pada UKM SGN masih memiliki beberapa kekurangan. Salah satu
kekurangan yang terdapat pada mesin pengaduk dodol adalah dodol yang tidak teraduk rata sehingga mengakibatkan terbentuknya kerak pada tengah kuali.
Berdasarkan permasalahan diatas, inovasi mesin pengaduk dodol perlu dilakukan guna menyempurnakan fungsi mesin pengaduk dodol. Inovasi mesin juga diperlukan untuk mengetahui perbandingan beban kerja dan keluhan rasa sakit pada operator pengaduk dodol setelah menggunakan mesin pengaduk dodol.
1.2. Perumusan Masalah
Rumusan masalah berdasarkan latar belakang permasalahan adalah peningkatan pemasaran secara online dan beban kerja operator yang berat membutuhkan inovasi terhadap mesin pengaduk dodol.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengurangi beban kerja operator pada operator stasiun pengadukan di UKM SGN.
Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam Penelitian Tugas Akhir ini adalah:
1. Analisis beban kerja operator menggunakan manual dan mesin pengaduk dodol
2. Analisis keluhan operator menggunakan pengaduk manual dan mesin pengaduk dodol
3. Analisis postur kerja ergonomis menggunakan mesin pengaduk dodol
4. Inovasi pengadukan dodol menggunakan mesin pengaduk dodol yang ergonomis
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat bagi mahasiswa
Mahasiswa dapat menyelesaikan tugas sarjana dan mampu menerapkan ilmu teknik industri.
2. Manfaat bagi UKM
Laporan penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi UKM untuk mengurangi beban kerja, operator pengaduk dodol.
3. Bagi Departemen Teknik Industri USU
Penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk mengatasi masalah beban kerja dalam suatu perusahaan.
1.5. Batasan Masalah dan Asumsi
Batasan-batasan dalam penelitian ini adalah :
1. Penelitian dilakukan di lantai produksi pada saat mesin mengaduk dodol.
2. Penilaian dilakukan pada salah satu operator mesin pengaduk dodol.
3. Penilaian keluhan MsDs operator setelah menggunakan mesin dengan kuesioner Standard Nordic Questionnaire (SNQ).
4. Perhitungan beban kerja operator setelah menggunakan mesin dengan metode %CVL dan konsumsi energi.
5. Menganalisis postur kerja operator setelah menggunakan mesin dengan Quick Exposure Check (QEC).
6. Inovasi mesin pengaduk dodol dilakukan dari hasil wawancara dengan operator.
7. Biaya dalam perancangan inovasi tidak diperhitungkan.
8. Mesin pengadukan dodol tidak dibahas lebih dalam karena telah diteliti dalam penelitian sebelumnya.
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam penelitian adalah : 1. Tidak ada perubahan cara kerja selama penelitian berlangsung.
2. Operator dianggap sudah mengerti prosedur kerja yang dilakukan.
3. Tidak terdapat perubahan pekerja selama periode penelitian berlangsung.
1.6. Sistematika Penulisan Laporan
Sistematikan laporan dalam penelitian terdiri dari beberapa bab yang terdiri dari sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan, terdiri dari latar belakang permasalahan yang dilakukan penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan dan asumsi yang digunakan dalam penelitian serta sistematika penulisan laporan penelitian.
Bab II Gambaran Umum perusahaan, menguraikan sejarah singkat dari UKM SGN, ruang lingkup bidang usaha, lokasi perusahaan, daerah pemasaran, serta organisasi dan manajemen perusahaan.
Bab III Landasan teori, berisi tinjauan pustaka yang berisi teori yang mendukung pemecahan masalah penelitian, Teori yang digunakan berhubungan dengan kelelahan operator, pengukuran beban kerja fisiologis, penilaian postur kerja, dan inovasi mesin pengaduk dodol.
Bab IV Metodologi penelitian, menjelaskan tentang langkah yang dilakukan dalam pengerjaan penelitian seperti penentuan tempat dan waktu penelitian, jenis penelitian, objek penelitian, variabel penelitian, kerangka konseptual penelitian, blok diagram prosedur penelitian, metode pengumpulan data, metode pengolahan data dan metode analisis pemecahan masalah
Bab V Pengumpulan dan Pengolahan data, memuat data-data yang telah - dikumpulkan. Data – data terdiri dari data denyut nadi istirahat dan kerja operator, kuesioner SNQ , kuesioner QEC, dan inovasi mesin pengaduk dodol.
Bab VI Analisis pemecahan masalah, memaparkan analisis terhadap hasil dari pengolahan data dan memberikan usulan terhadap permasalahan penelitian
Bab VII Kesimpulan dan saran, berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil pemecahan masalah, serta saran-saran yang bagi perusahaan dan penelitian selanjutnya.
BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
2.1. Sejarah Perusahaan
SGN adalah UKM yang memproduksi makanan berupa dodol. Pada awal usaha, UKM ini hanya berupa toko kecil yang merupakan usaha keluarga yang menjual dodol, buah-buahan dan tikar. UKM ini berdiri sejak tahun 1980.
UKM SGN memproduksi dodol aneka rasa. Beberapa variasi rasa dodol yang dihasilkan yaitu original, durian, pandan, lapis spesial, nanas, ubi jalar ungu, markisa, labu siam, dan cokelat wijen. Selain menjual aneka dodol, UKM ini juga menjual makanan lain seperti keripik, dan kue kacang.
UKM SGN mampu memproduksi 50 kg dodol setiap harinya, apabila UKM menerima pesanan dalam jumlah besar, UKM dapat meningkatkan produksinya. Pada hari biasa, dodol yang diproduksi hanya dodol dengan rasa original, pandan dan durian.
2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha
UKM SGN bergerak di bidang usaha dagang yang memproduksi makanan, yaitu dodol. Produk dodol dapat dilihat pada gambar 2.1.
Sumber: UKM SGN
Gambar 2.1. Produk UKM SGN
UKM melakukan pengolahan dodol dengan ruangan produksi yang berada dibelakang rumah pemilik usaha. Sistem produksi yang diterapkan adalah make to stock, dimana UKM selalu memproduksi dodol 4 sampai 6 kuali setiap hari.
Dodol diolah berdasarkan ketersediaan dodol yang ada di toko. Apabila UKM mengikuti acara pameran dan hari-hari besar dalam kalender, dodol yang diproduksi dapat ditambah sesuai kebutuhan.
2.3. Lokasi Usaha
UKM SGN berlokasi di jalan Jalan Lintas Sumatera Medan-Tebing Tinggi, Dusun 2, Desa Bengkel, Kec. Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Toko UKM SGN dapat dilihat pada Gambar 2.2.
Sumber: UKM SGN
Gambar 2.2. Toko UKM SGN
Lokasi UKM SGN dengan menggunakan aplikasi Google Maps dapat dilihat pada Gambar 2.3.
Sumber: Google Maps
Gambar 2.3. Lokasi UKM SGN Dilihat dari Google Maps
2.4. Daerah Pemasaran
UKM SGN memasarkan produknya ke beberapa daerah dan kota yang berada di wilayah Sumatera. Kota yang menjadi daerah pemasaran UKM ini adalah Medan, Pematangsiantar, Batu Bara, Tebing Tinggi, Sei Rampah, Binjai dan kota-kota lain yang ada di Sumatera Utara. Selain kota-kota yang ada di Sumatera Utara juga, pemasaran dilakukan seperti berikut.
1. Toko pribadi, terletak di pinggir jalan pasar bengkel. Lokasi toko berada di rumah pemilik UKM, dan konsumen dapat langsung mengunjungi toko untuk membeli produk dodol.
2. Retail, produk sudah memasuki pasar retail seperti Carrefour, Maju Bersama, dan Lotte Mart. Kerjasama dengan retail dilakukan dengan sistem kontrak berkala dan sistem pengantaran langsung ke retail menggunakan jasa kurir.
Retail yang di layani adalah seluruh kota Medan hingga Palembang.
3. Toko non pribadi, produk dodol dititipkan pada toko-toko makanan dan oleh- oleh khas kota medan seperti Aroma, Neko-Neko dan Royan bakery
4. Produk dipasarkan di Bandara Kualanamu dan Koperasi INALUM.
5. Produk juga dipasarkan dalam bazar di negara Malaysia.
2.5. Organisasi dan Manajemen 2.5.1. Struktur Organisasi
Struktur organisasi di UKM SGN adalah struktur organisasi lini yang merupakan bentuk organisasi hubungan langsung secara vertikal antara atasan dengan bawahan, sejak dari pimpinan tertinggi sampai dengan jabatan-jabatan
yang terendah yang dihubungkan dengan garis wewenang atau komando. Struktur organisasi UKM SGN dapat dilihat pada Gambar 2.4.
Kepala Bagian Pemasaran Manajer
Operator Produksi
Kepala Bagian Produksi
Operator Pengepakan
Operator Pemasaran Sumber : UKM SGN
Gambar 2.4. Struktur Organisasi UKM SGN
2.5.2. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab
Pembagian tugas dan tanggung jawab dari jabatan pada struktur organisasi perusahaan dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Rincian Tugas dan Tanggung Jawab No Jabatan Rincian Tugas dan Tanggung Jawab
1 Manajer
Pemilik bertindak sekaligus sebagai manajer. Manajer bertanggung jawab atas keseluruhan hal yang terjadi dalam UKM, seperti jumlah yang harus diproduksi setiap harinya, masalah keuangan, administrasi, pameran, perlombaan, dsb.
Tabel 2.1. Rincian Tugas dan Tanggung Jawab (Lanjutan) No Jabatan Rincian Tugas dan Tanggung Jawab
2
Kepala Produksi
Kepala produksi mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan untuk proses produksi dan pengepakan. Membeli bahan yang berhubungan dengan kedua proses tersebut, melapor kepada manajer, dan bertanggung jawab penuh atas kelancaran proses produksi
3
Kepala Pemasaran
Kepala pemasaran mengatur dan mengarahkan kurir yang akan mengirimkan produk ke luar kota, toko retail, dan lainnya. Kepala pemasaran juga bertindak langsung untuk mengantar pesanan ke Medan dan melihat ketersediaan dodol yang tersedia ataupun yang telah habis di toko retail Medan
4
Operator Produksi
Mengolah bahan-bahan yang telah disediakan untuk membuat dodol
5
Operator Pengepakan
Mengemas dodol dan makanan ringan seperti keripik dan dikepak untuk persiapan pengiriman pesanan
6
Operator pemasaran
Mengirim pesanan ke tempat tujuan daerah pemasaran
Sumber : UKM SGN
2.5.3. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja
Jumlah tenaga kerja yang ada di UKM SGN dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Jumlah Pekerja UKM SGN
No Jabatan Jumlah Tenaga Kerja (Orang)
1 Manajer 1
2 Kepala Produksi 1
3 Kepala Pemasaran 1
4 Operator Produksi 2
5 Operator Pengepakan 7
6 Operator Pemasaran 3
Total 15
Sumber : UKM SGN
Jam kerja proses pengolahan dodol dilakukan dari pukul 08.00-17.00 WIB setiap hari. Penambahan jumlah tenaga kerja akan dilakukan apabila banyaknya pesanan dan pada saat hari libur nasional.
2.6. Bahan yang Digunakan 2.6.1. Bahan Baku
Bahan baku adalah bahan utama yang digunakan dalam pembuatan produk, ikut dalam proses produksi dan persentasenya terbesar dibandingkan bahan-bahan lainnya. Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan dodol adalah beras ketan. Beras ketan merupakan bahan baku utama dalam pembuatan dodol.
Beras ketan dengan kualitas yang baik akan memberikan tekstur kenyal dan memberikan rasa yang lezat. Beras ketan yang digunakan untuk pengadukan dodol adalah sebanyak 4 kg. Beras ketan dapat dilihat pada Gambar 2.5.
Sumber : UKM SGN
Gambar 2.5. Beras Ketan
2.6.2. Bahan Penolong
Bahan penolong adalah bahan yang dibutuhkan untuk memperlancar proses produksi, tetapi tidak tampak di bagian akhir produk. Bahan penolong yang digunakan dalam produksi dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3. Bahan Penolong Proses Pengolahan Dodol
No Bahan
Penolong Gambar Keterangan
1 Gula aren
Gula aren akan memberikan rasa, aroma serta warna yang khas pada dodol. Gula aren akan dimasak agar menjadi cair. Gula yang akan dimasak adalah sebanyak 5 kg.
2 Kelapa
Kelapa digunakan untuk proses pengambilan santan.
Kelapa yang digunakan sebanyak 20 buah.
3 Gula Pasir
Gula pasir digunakan untuk memberikan rasa manis pada dodol. Gula yang digunakan sebanyak 4 kg.
4 Tepung
Susu
Tepung susu digunakan sebagai penguat rasa pada dodol. Tepung susu yang digunakan sebanyak 1 kg.
5 Perasa
Perasa yang digunakan untuk dodol berasal dari bahan- bahan alami. Beberapa perasa yang digunakan adalah durian, pandan, nanas, ubi, dll. Komposisi yang dibutuhkan untuk tiap rasa berbeda-beda.
Sumber : UKM SGN
2.6.3. Bahan Tambahan
Bahan tambahan adalah bahan yang digunakan dalam proses produksi dan berfungsi untuk meningkatkan mutu produk serta merupakan bagian dari produk akhir. Bahan tambahan pada produksi dodol adalah kemasan dan stiker dodol.
Dodol dikemas ke dalam kemasan seperti Gambar 2.6.
Sumber : UKM SGN
Gambar 2.6. Kemasan Dodol
2.7. Peralatan dan Mesin Produksi 2.7.1. Mesin Produksi
Mesin produksi adalah mesin-mesin yang digunakan untuk mempermudah berlangsungnya proses produksi. Mesin yang digunakan dalam proses produksi dodol dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4. Mesin Produksi Pengolahan Dodol
No Mesin
Produksi Gambar Keterangan
1 Mesin pemarut kelapa
Mesin pemarut kelapa digunakan untuk memarut daging kelapa. Mesin pemarut kelapa berjumlah 2 unit
2 Mesin perasan santans
Mesin perasan santan digunakan untuk memeras kelapa parut untuk menghasilkan santan. Mesin berjumlah 1 unit.
3
Mesin penggiling beras ketan
Mesin penggiling untuk menggiling beras ketan menjadi cairan beras ketan.
Mesin berjumlah 1 unit.
Sumber : UKM SGN
2.7.2. Peralatan Produksi
Peralatan Produksi adalah alat-alat yang digunakan untuk membantu jalannya proses produksi. Peralatan yang digunakan dalam proses produksi dodol dapat dilihat pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5. Peralatan Produksi Pengolahan Dodol
No Peralatan
Produksi Gambar Keterangan
1 Tungku
Tungku dan kuali digunakan untuk memasak adonan dodol.
2
Sendok Pengaduk
Dodol
Sendok pengaduk, digunakan untuk mengaduk bahan yang sedang dimasak.
3 Ember
Ember digunakan sebagai tempat bahan-bahan sebelum dimasukkan kedalam kuali pengaduk
4 Panci
Panci sebagai wadah untuk memasak ubi
5 Timbangan
Timbangan digunakan untuk menimbang berat bahan yang akan digunakan dalam proses produksi.
Sumber : UKM SGN
2.8. Uraian Proses Produksi
Uraian proses pembuatan dodol secara manual dapat dilihat pada Tabel 2.6.
Tabel 2.6. Uraian Produksi Pengolahan Dodol Manual No Peralatan
Produksi Gambar Keterangan
1 Perendaman Beras Ketan
Beras ketan dicuci dan direndam selama 3 jam sebanyak 4 kg.
Perendaman beras ketan dilakukan untuk membuat beras ketan menjadi lunak sehingga mudah digiling
2 Pengupasan Sabut Kelapa
Kelapa dikupas dari sabut agar mudah dibelah. Kelapa yang digunakan sebanyak 20 buah
3 Pembelahan Batok Kelapa
Kelapa dibelah dan dibuang airnya.
4 Pemarutan Kelapa
Kelapa yang telah dibelah kemudian diparut
Tabel 2.6. Uraian Produksi Pengolahan Dodol Manual (Lanjutan)
No Peralatan Gambar Keterangan
Produksi
5
Pemerasan Santan Kelapa
Kelapa yang telah diparut
diperas dengan
menggunakan mesin pemeras santan
6 Penggilingan Beras Ketan
Beras ketan hasil rendaman digiing dengan mesin penggiling. Di atas mesin digantungkan mber berisi air yang dialirkan melalui lubang kecil di
ember untuk
memudahkan proses penggilingan
7
Pemasakan santan, Beras
Ketan, dan Gula Merah
Santan, cairan ketan, dan gula merah yang telah dimasak dan menjadi cair dimasukkan ke dalam kuali dan dimasak selama 1 jam
8
Penambahan Gula Pasir,
Susu, dan Tepung Susu
Setelah 1 jam pemasakan, kemudian ditambahkan bahan-bahan lain ke dalam kuali
9 Penambahan perasa
Perasa yang digunakan ditambahkan ke dalam kuali setelah 3 jam bahan-bahan sebelumnya dimasukkan.
Tabel 2.6. Uraian Produksi Pengolahan Dodol Manual (Lanjutan)
No Peralatan Gambar Keterangan
Produksi
10
Pengadukan dodol hingga
matang
Diaduk dodol hingga tekstur dodol sudah menunjukkan bahwa dodol telah matang
11 Pengangkatan Dodol
Diangkat dodol yang telah matang ke dalam ember
12 Pendinginan Dodol
Didiamkan dodol hingga dingin agar mudah dikemas
13 Pengemasan Dodol
Dilakukan pengemasan dodol sesuai dengan bentuk kemasan.
Sumber : UKM SGN
Blok diagram proses produksi dodol dapat dilihat pada Gambar 2.7.
Perendaman Beras Ketan
Pengupasan Sabut Kelapa
Pemarutan Kelapa
Pemerasan Santan Kelapa
Penggilingan Beras Ketan
Pemasakan Ketan, Santan, gula merah
Penambahan variasi rasa
Pengemasan Pembelahan Batok
Kelapa
Penambahan bahan lain
Pengadukan Dodol
Pengangkatan Dodol
Pendinginan Dodol
Sumber : UKM SGN
Gambar 2.7. Blok Diagram Uraian Proses Produksi Dodol
BAB III
LANDASAN TEORI
3.1. Beban Kerja
Beban kerja adalah banyaknya tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan oleh suatu organisasi dalam satuan waktu dan dengan jumlah tenaga kerja tertentu. Aktivitas kerja yang dilakukan melibatkan otot, otak, dan organ tubuh, apabila aktivitas kerja meningkat dapat menyebabkan terjadinya peningkatan beban kerja. Beban kerja terdiri dari dua, yaitu beban kerja fisik dan beban kerja mental. Beban kerja fisik melibatkan penggunaan otot atau usaha fisik untuk melakukan suatu pekerjaan. Setiap melakukan aktivitas kerja, tubuh mengalami perubahan fungsi diantaranya konsumsi oksigen, laju detak jantung, peredaran udara, temperatur tubuh, dan lain-lain.1
Beban kerja yang melebihi batas kemampuan operator dapat menyebabkan kelelahan ataupun cedera, sedangkan beban kerja yang terlalu ringan dapat menimbulkan efek bosan atau jenuh terhadap pekerjaannya. Beban kerja yang diberikan kepada pekerja sebaiknya adalah beban kerja yang seimbang dengan kemampuan yang dimiliki oleh pekerja. Analisis beban kerja banyak digunakan dalam analisis ergnomi, kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dan penentuan kebutuhan pekerja. Perhitungan beban kerja dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu :
1 Patrisia, Yuliana. Pengaruh Beban Kerja, Kelelahan Kerja dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Pada Karyawan PT. Kaltim Diamond Coal (KDC) diakses dari http://ejournal.psikologi.fisip-unmul.ac.id/site/wp
content/uploads/2018/08/JURNAL%20YULIANA%20PATRISIA%20(08-27-18-01-54-03).pdf
1. Fisik, meliputi perhitungan beban kerja berdasarkan fisik manusia.
2. Mental, perhitungan beban kerja dengan mempertimbangkan aspek mental (psikologis).
3. Penggunaan waktu, pemanfaatan waktu lebih mempertimbangkan pada aspek penggunaan waktu untuk bekerja.2
Beban kerja yang dibebankan pada pekerja terjadi dalam tiga kondisi yaitu beban kerja normal (fit), beban kerja berlebih (overload) dan beban kerja yang terlalu rendah (underload). Beban kerja yang terlalu berat atau terlalu ringan akan mengakibatkan terjadinya inefisiensi kerja. Beban kerja overload dapat menyebabkan kelelahan fisik maupun psikologis pada operator yang berakibat pada menurunnya produktivitas karena kelelahan bekerja.3
3.1.1. Faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja4
Faktor-faktor yang mempengaruhi beban kerja adalah sebagai berikut :
3.1.1.1. Faktor Eksternal
Faktor eksternal beban kerja adalah beban kerja yang berasal dari luar tubuh pekerja. Aspek beban kerja eksternal sering disebut sebagai stresor. Yang termasuk dalam beban kerja eksternal adalah:
2 Mutia, Mega. Pengukuran Beban Kerja Fisiologis dan Psikologis pada Operator Pemetikan Teh dan Operator Produksi Teh Hijau di PT Mitra Kerinci diakses dari http://repo.unand.ac.id/4587/9/Pengukuran%20Beban%20Kerja%20Fisiologis%20dan%20Psikol ogis%20pada%20Operator%20Pemetikan%20Teh%20dan%20Operator%20Produksi%20Teh%
20Hijau%20di%20PTMitra%20Kerinci.pdf
3 Fahmy, Arif., Mualifatul, Binti., Amrullah, Haidar Natsir. Analisis Beban Kerja dengan Metode Full Time Equivalent Untuk Mengoptimalkan Kinerja Pada Teknisi Maintenance RTG diakses dari http://journal.ppns.ac.id/index.php/seminarK3PPNS/article/view/720/559
1. Tugas-tugas (tasks). Tugas yang dilakukan bersifat fisik seperti, tata ruang kerja, stasiun kerja, alat dan sarana kerja, kondisi kerja, sikap kerja dan alat bantu kerja. Tugas juga ada yang bersifat mental seperti tanggung jawab pekerjaan dan kompleksitas dalam bekerja.
2. Organisasi kerja. Organisasi kerja yang mempengaruhi beban kerja misalnya lama waktu bekerja, waktu istirahat, kerja malam, kerja bergilir, sistem pengupahan, tugas dan wewenang.
3. Lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi beban kerja adalah lingkungan kerja fisik (penerangan, kebisingan, getaran mekanis), lingkungan kerja kimiawi (debu, gas pencemar udara), lingkungan kerja biologis (bakteri, virus dan parasit) dan lingkungan kerja psikologis (penempatan tenaga kerja).
3.1.1.2. Faktor Internal
Faktor internal beban kerja adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh itu sendiri sebagai akibat adanya reaksi dari beban kerja eksternal. Reaksi tubuh tersebut dikenal sebagai strain. Secara ringkas faktor internal meliputi:
1. Faktor somatis (jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, kondisi kesehatan, status gizi)
2. Faktor psikis (motivasi, persepsi, kepercayaan, keinginan, kepuasan dan lain- lain.).
3.1.2. Penilaian Beban Kerja Fisik5
Penliaian beban fisik dapat dilakukan dengan dua metode yaitu penelitian secara langsung dan metode tidak langsung. Metode pengukuran langsung yaitu dengan mengukur oksigen yang dikeluarkan melalui asupan energi selama bekerja. Semakin berat kerja semakin banyak energi yang dikeluarkan. Meskipun metode dengan menggunakan asupan oksigen lebih akurat, namun hanya mengukur secara singkat dan peralatan yang diperlukan sangat mahal. Kategori berat ringannya beban kerja didasarkan pada metabolisme respirasi, suhu tubuh, dan denyut jantung dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Kategori Beban Kerja Berdasarkan Metabolisme Respirasi, Suhu Tubuh, dan Denyut Jantung
Kategori Beban Kerja
Konsumsi Oksigen
Ventilasi Paru
Suhu
Rectal Denyut Jantung
Ringan 0,5-1 11-20 37,5 75-100 x/menit
Sedang 1-1,5 20-31 37,5-38 100-125 x/menit
Berat 1,5-2 31-43 38-38,5 125-150 x/menit
Sangat Berat 2-2,5 43-56 38,5-39 150-175 x/menit Berat Sekali 2,5-4,0 60-100 >39 >175 x/menit
Sumber :Tarwaka, dkk., Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas
Berat ringannya beban kerja yang diterima oleh seorang tenaga kerja dapat digunakan untuk menentukan berapa lama seorang tenaga kerja dapat melakukan aktivitas kerjanya sesuai dengan kemampuan atau kapasitas kerja yang bersangkutan. Di mana semakin berat beban kerja, maka akan semakin pendek waktu seseorang untuk bekerja tanpa kelelahan dan gangguan fisiologis yang berarti atau sebaliknya.
3.1.3. Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Jumlah Kebutuhan Kalori
Salah satu kebutuhan utama dalam pergerakan otot adalah kebutuhan akan oksigen yang dibawa oleh darah ke otot untuk pembakaran zat dalam menghasilkan energi. Sehingga jumlah oksigen yang dipergunakan oleh tubuh untuk bekerja merupakan salah satu indikator pembebanan selama bekerja.
Dengan demikian setiap aktivitas pekerjaan memerlukan energi yang dihasilkan dari proses pembakaran. Semakin berat pekerjaan yang dilakukan maka akan semakin besar pula energi yang dikeluarkan. Berdasarkan hal tersebut maka besarnya jumlah kebutuhan kalori dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menentukan berat ringannya beban kerja. Penilaian beban kerja secara langsung bertujuan untuk menentukan jumlah energi yang dikonsumsi selama bekerja.
Jumlah energi yang dikonsumsi selama aktivitas berlangsung dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
Y = 1,80411 − 0,0229038 X + 4,71733 . 10-4 X2 Dimana:
Y = Energi (Kkal/menit)
X = Kecepatan denyut jantung (denyut/menit)
Berkaitan dengan hal tersebut, Menteri Tenaga Kerja melalui Keputusan Nomor 51 (1999) menetapkan kategori beban kerja menurut kebutuhan kalori sebagai berikut:
1. Beban kerja ringan : 100-200 Kilo kalori/jam 2. Beban kerja sedang : >200-350 Kilo kalori/jam 3. Beban kerja berat : > 350-500 Kilo kalori/jam
Kebutuhan kalori dapat dinyatakan dalam Kalori yang dapat diukur secara tidak langsung dengan menentukan kebutuhan oksigen. Setiap kebutuhan 1 liter oksigen akan memberikan 4,8 Kilo kalori. Kebutuhan kalori per jam tersebut merupakan pemenuhan kebutuhan kalori terhadap energi yang dikeluarkan akibat beban kerja utama. Sehingga masih diperlukan tambahan kalori apabila terdapat beban kerja tambahan seperti, stasiun kerja tidak ergonomis, sikap paksa waktu kerja, suhu lingkungan yang panas, dll. Kebutuhan kalori seorang pekerja selama 24 jam sehari ditentukan oleh tiga hal:
1. Kebutuhan kalori untuk metabolisme basal 2. Kebutuhan kalori untuk kerja.
3. Kebutuhan kalori untuk aktivitas-aktivitas lain di luar jam kerja.
Berdasarkan uraian tersebut dapat digaris bawahi bahwa, penentuan kategori beban kerja fisik berdasarkan kebutuhan oksigen melalui penaksiran kebutuhan kalori belum dapat menggambarkan beban sebenarnya yang diterima oleh seorang pekerja. Hal tersebut disebabkan karena masih banyak faktor yang mempengaruhi kebutuhan kalori. Selain berat ringannya pekerjaan itu sendiri, juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat bekerja, cara dan sikap kerja serta stasiun kerja yang digunakan selama kerja.
3.1.4. Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Denyut Nadi Kerja
Pengukuran denyut jantung selama kerja merupakan suatu metode untuk menilai cardiovasculair strain. Salah satu peralatan yang dapat digunakan untuk menghitung denyut nadi adalah telemetri dengan menggunakan rangsangan
Electro Cardio Graph (ECG). Apabila peralatan tersebut tidak tersedia, maka
dapat dicatat secara manual memakai stopwatch dengan metode 10 denyut (Kilbon, 1992). Dengan metode tersebut dapat dihitung denyut nadi kerja sebagai berikut:
Beban kerja fisik tidak hanya ditentukan oleh jumlah kJ yang dikonsumsi, tetapi juga ditentukan oleh jumlah otot yang terlibat dan beban statis yang diterima serta tekanan panas dari lingkungan kerjanya yang dapat meningkatkan denyut nadi. Berdasarkan hal tersebut maka denyut nadi lebih mudah dan dapat digunakan untuk menghitung indek beban kerja. Denyut nadi untuk mengestimasi indek beban kerja fisik terdiri dari beberapa jenis yang didefinisikan oleh Grandjean (1993).
1. Denyut nadi istirahat: adalah rerata denyut nadi sebelum pekerjaan dimulai.
2. Denyut nadi kerja: adalah rerata denyut nadi selama bekerja.
3. Nadi kerja: adalah selisih antara denyut nadi istirahat dan denyut nadi kerja.
Peningkatan denyut nadi mempunyai peran yang sangat penting di dalam peningkatan cardiac output dari istirahat sampai kerja maksimum.
1. Metode Heart Rate reserve (HR reserve)
Peningkatan denyut nadi mempunyai peran sangat penting di dalam peningkatan cardiac output dari istrihat sampai kerja maksimum. Peningkatan yang potensial dalam denyut nadi dari istirahat sampai kerja maksimum tersebut oleh Rodahl (1989) didefenisikan sebagai heart rate reserve (HR
reserve). HR reserve tersebut diekspresikan dalam persentase yang dapat dihitung dalam menggunakan rumus sebagai berikut.
istirahat 100 nadi
Denyut -
maksimum nadi
Denyut
istirahat nadi
Denyut -
kerja nadi Denyut Reserve
HR
% x
2. Metode Cardiovasculair Load (CVL)
Menurut Manuaba & Vanwonterghem (1996) menentukan klasifikasi beban kerja berdasarkan peningkatan denyut nadi kerja yang dibandingkan dengan denyut nadi maksimum karena beban kardiovaskuler (cardiovasculair load =
%CVL) yang dihitung dengan humus sebagai berikut:
istirahat) nadi
Denyut -
maksimum nadi
(Denyut
istirahat) nadi
Denyut -
kerja nadi (Denyut x
CVL 100
%
Dimana denyut nadi maksimum adalah (220 – umur) untuk laki-laki dan (200 – umur) untuk wanita. Dari hasil penghitungan % CVL tersebut kemudian dibandingkan dengan klasifikasi yang telah ditetapkan sebagai berikut :
< 30% = Tidak terjadi kelelahan 30 s.d. < 60% = Diperlukan perbaikan 60 s.d. < 80% = Kerja dalam waktu singkat 80 s.d. < 100% = Diperlukan tindakan segera
> 100% = Tidak diperbolehkan beraktivitas
3.2. Standard Nordic Questionnaire6
Standard Nordic Questionnaire merupakan alat yang dapat mengetahui bagian-bagian otot yang mengalami keluhan dengan tingkat keluhan mulai dari Tidak Sakit (TS), Agak Sakit (AS), Sakit (S), dan Sangat Sakit (SS). Pembagian bagian-bagian tubuh serta keterangan dari bagian-bagian tubuh tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Sumber: Zen, Zayyinul Hayati. Perancangan Alat Material Handling Dengan Menggunakan Pendekatan Biomekanika dan Postur Kerja pada Bagian Pengepakan Pupuk di CV. Bukitraya Laendrys Bukittinggi
Gambar 3.1. Standard Nordic Questionnaire
6 Zen, Zayyinul Hayati. Perancangan Alat Material Handling Dengan Menggunakan Pendekatan Biomekanika dan Postur Kerja pada Bagian Pengepakan Pupuk di CV. Bukitraya Laendrys Bukittinggi diakses dari https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/5050/IN- 10_Zayyinul%20Hayati%20Zen%20UMRI.pdf?sequence=1&isAllowed=y
3.3. Postur Kerja7
Sikap kerja alamiah atau postur normal yaitu sikap atau postur dalam proses kerja yang sesuai dengan anatomi tubuh, sehingga tidak terjadi pergeseran atau penekanan pada bagian penting tubuh seperti organ tubuh, syaraf, tendon, dan tulang sehingga keadaan menjadi tenang dan tidak menyebabkan keluhan musculoskeletal disorders dan sistem tubuh yang lain. Postur kerja dengan mempertimbangkan aspek ergonomi dapat membantu mendapatkan postur kerja yang nyaman bagi pekerja, baik itu postur kerja berdiri, duduk, angkat maupun angkut.
Beberapa jenis pekerjaan terkadang berada dalam posisi kerja yang tidak nyaman. Kondisi kerja seperti ini memaksa pekerja selalu berada pada postur kerja yang tidak alami dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Hal ini, akan menyebabkan pekerja mengalami kelelahan, adanya keluhan sakit pada bagian tubuh, cacat produk bahkan cacat tubuh. Sikap kerja tersebut dilakukan tergantung dari kondisi dalam sistem kerja yang ada. Jika kondisi sistem kerja tidak sehat akan menyebabkan kecelakaan kerja, karena pekerja melakukan pekerjaan yang tidak aman. Sikap kerja yang salah dan diluar kebiasaan akan menambah resiko cidera pada bagian musculoskeletal.
7 Nofirza, Hermayu, Suci Anisa. Usulan Perbaikan Postur dan Fasilitas Kerja Menggunakan Plibel Checklist dan Quick Exposure Check (QEC) (Studi Kasis: Home Industry Pembuatan Tahu
3.4. Quick Exposure Check (QEC)8
Quick Exposure Checklist (QEC) adalah salah satu metode pengukuran beban postur yang pertama kali diperkenalkan oleh Li dan Buckle pada tahun 1999. Quick Exposure Checklist (QEC) memiliki tingkat sensitivitas dan kegunaan yang tinggi serta dapat diterima secara luas realibilitasnya. Selain itu, Quick Exposure Checklist (QEC) digunakan untuk mengetahui risiko cedera pada otot rangka/sistem muskuloskeletal (muscoluskeletal disorder) yang menitikberatkan pada tubuh bagian atas yakni punggung, leher, bahu, dan pergelangan tangan. Kelebihan dari Quick Exposure Checklist (QEC) adalah mempertimbangkan kondisi yang dialami oleh pekerja dari dua sudut pandang yakni dari sudut pandang pengamat observer dan operator. Hal ini dapat memperkecil bias penilaian subjektif dari pengamat dan dapat diterapkan pada pekerjaan yang statis maupun dinamis. Tujuan dari penggunaan Quick Exposure Checklist (QEC) adalah sebagai berikut:
1. Menilai perubahan paparan pada tubuh yang berisiko terjadinya muskuloskeletal sebelum dan sesudah intervensi ergonomi.
2. Melibatkan pengamat dan juga pekerja dalam melakukan penilaian dan mengidentifikasi kemungkinan untuk perubahan pada sistem kerja.
3. Membandingkan paparan risiko cedera diantara dua orang atau lebih yang melakukan pekerjaan yang sama atau diantara orang-orang yang melakukan pekerjaan yang berbeda.
8 Widyarti, Yustina. Analisis Risiko Postur Kerja Dengan Metode Quick Exposure Checklist (QEC) dan Pendekatan Fisiologi Pada Proses Pembuatan Tahu Universitas Muhammadiyah Surakarta, diakses dari http://eprints.ums.ac.id/47156/31/NASPUB%20LENGKAP%20revisi.pdf
4. Meningkatkan kesadaran diantara para manager, engineer, desainer, praktisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan para operator mengenai faktor risiko muskuloskeletal pada stasiun kerja.
Menurut Brown dan Li pada tahun 2003, Exposure score dihitung berdasarkan bagian tubuh dengan mempertimbangkan ± 5 kombinasi atau interaksi, contohnya postur dengan gaya atau beban, pergerakan dengan gaya atau beban, durasi dengan gaya atau beban, postur dengan durasi serta pergerakan dengan durasi. Sedangkan untuk tahap-tahap penilaian dengan menggunakan metode Quick Exposure Checklist (QEC) yaitu sebagai berikut.
1. Pengembangan Metode untuk merekam postur kerja
Untuk menghasilkan sebuah metode kerja yang cepat untuk digunakan tubuh dibagi dalam segmen-segmen yang membentuk tujuh kelompok atau grup yakni grup A, B, C, D, E, F dan G dari sudut pandang pengamat. Sedangkan untuk dari sudut pandang operator dibentuk kelompok atau grup yaitu grup H, I, J, K, L, M dan N. Hal ini untuk memastikan bahwa seluruh postur tubuh terekam, sehingga segala kejanggalan atau batasan postur oleh punggung atau leher yang mungkin saja mempengaruhi postur anggota tubuh atas dapat tercakup dalam penilaian.
2. Pengembangan sistem skor untuk pengelompokkan bagian tubuh
Berdasarkan hasil dari penilaian grup A sampai grup G yang meliputi punggung, bahu, lengan, tangan, dan pergelangan tangan yang diamati dan ditentukan oleh skor masing-masing postur. Kemudian skor tersebut dimasukkan
dalam tabel skor penilaian (Exposure Score) untuk memperoleh skor total.
Dibawah ini adalah contoh penilaian skor metode Quick Exposure Checklist (QEC) yang dapat dilihat pada Gambar 3.2.
Gambar 3.2. Skor dan Penanganan Hasil Quick Exposure Checklist (QEC)
Menurut Brown dan Li pada tahun 2003 exposure level (E) dihitung berdasarkan presentase antara total skor aktual exposure (X) dengan total skor maksimum (Xmaks).
Dimana :
X = total skor yang diperoleh dari penilaian terhadap postur (punggung + bahu/lengan + pergelangan tangan + leher) Xmaks = total skor maksimum untuk postur kerja
(punggung + bahu/lengan + pergelangan tangan + leher)
Xmaks adalah konstan untuk tipe-tipe tugas tertentu. Pemberian skor (Xmaks = 162) apabila tubuh adalah statis, termasuk duduk atau berdiri tanpa pengulangan (repetitive) yang sering dan penggunaan tenaga atau beban yang relatif lebih rendah. Untuk pemberian skor maksimum (Xmaks = 176) apabila dilakukan manual material handling yaitu mengangkat, mendorong, menarik, dan membawa beban.
3.5. Pengertian Kelelahan9
Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat.
Kelelahan diatur langsung oleh otak. Kelelahan diklasifikasikan dalam dua jenis, yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum. Kelelahan otot adalah merupakan
9 Tarwaka, Ergonomi Industri Dasar Dasar Pengetahuan Ergonomi dan Aplikasi di Tempat Kerja
tremor pada otot atau perasaan nyeri pada otot. Kelelahan umum biasanya ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja yang disebabkan oleh monotoni, intensitas dan lamanya kerja fisik, keadaan lingkungan, sebab-sebab mental, status kesehatan dan keadaan gizi.
3.5.1. Faktor Penyebab Terjadinya Kelelahan Kerja
Grandjean (1991) menjelaskan bahwa faktor penyebab terjadinya kelelahan di industri sangat bervariasi, dan untuk memelihara dan mempertahankan kesehatan dan efisiensi, proses penyegaran harus dilakukan diluar tekanan. Penyegaran terjadi terutam selama waktu tidur malam, tetapi periode istirahat dan waktu waktu berhenti kerja juga dapat memberikan penyegaran. Faktor-faktor penyebab kelelahan dapat diilustrasikan pada Gambar 3.3.
Gambar 3.3. Faktor-faktor Penyebab Kelelahan Kerja
Kelelahan yang disebabkan kerja statis berbeda dengan beban kerja dinamis. Pada kerja otot statis dengan pengerahan tenaga 50% dari kekuatan maksimum otot hanya dapat bekerja selama 1 menit, sedangkan pada pengerahan tenaga < 20% kerja fisik dapat berlangsung lama. Pengerahan tenaga otot statis 15 sampai 20% akan menyebabkan kelelahan dan nyeri jika pembebanan berlangsung sepanjang hari. Kerja otot statis merupakan kerja berat (strenous).
Perbandingan antara kerja otot statis dan otot dinamis, pada kondisi yang hampir sama, kerja otot statis mempunya konsumsi energi lebih tinggim denyut nadi meningkat dan diperlukan waktu istirahat yang lebih lama.
Untuk mengurangi tingkat kelelahan maka harus dihindarkan sikap kerja yang bersifat statis dan diupayakan sikap kerja yang lebih dinamis. Hal ini bertujuan untuk membuat sirkulasi darah dan oksigen berjalan normal ke seluruh anggota tubuh.
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di UKM SGN yang berlokasi di jalan Jalan Lintas Sumatera Medan-Tebing Tinggi Dusun 2 Desa Bengkel, Kec. Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2018.
4.2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif (Descriptive Research) karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara akurat tentang fakta-fakta terkait permasalahan yang ada di UKM SGN secara langsung dan memberikan usulan perbaikan kepada UKM. (Sinulingga, 2016).
4.3. Subjek Penelitian
Subjek penelitian yang diamati adalah operator mesin pengaduk dodol di lantai produksi UKM SGN.
4.4. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual memperlihatkan struktur dan sifat antar variabel penelitian yang telah diidentifikasi dari teori. Pada kerangka konseptual terdapat