• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERHITUNGAN DAN ANALISA. interprestasi data tanah dan beban yang akan menompang di area pondasi yang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERHITUNGAN DAN ANALISA. interprestasi data tanah dan beban yang akan menompang di area pondasi yang"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

PERHITUNGAN DAN ANALISA

4.1 UMUM

Dalam perencanaan pondasi hal yang pertama dilakukan adalah penyajian interprestasi data tanah dan beban yang akan menompang di area pondasi yang akan kita buat. Tahapan selanjutnya adalah perhitungan analisa daya dukung pondasi dan tegangan yang terjadi akibat pembebanan. Dilanjutkan dengan tahap perhitungan konsolidasi dan waktu konsolidasi dari design perhitungan yang akan kita sajikan.

Dalam Tugas Akhir ini akan dibahas mengenai perhitungan daya dukung pondasi dangkal (raft foundation) dan perhitungan tekanan tanah lateral, tekanan tanah lateral akibat gempa, pengaruh muka air tanah, penurunan konsolidasi dan waktu konsolidasi, dan tak lupa adalah identifikasi adanya sifat ekspansifitas tanah

Lokasi pengujian tanah lapangan pada Proyek Pengembangan Fasilitas Produksi Pondok Makmur (PERTAMINA EP) terletak di Desa Jaya Bakti, Kecamatan Cabangbungin Kabupaten Bekasi dimana kurang lebih sekitar 20 km, sebelah utara Bekasi ± 8,4 km sebelah timur sumur minyak Pondok Tengah (PDT-I). Gambaran lokasi pengeboran terlihat pada ilustrasi gambar sebagai berikut:

(2)

Gambar IV.1 Lokasi titik pengeboran di lapangan

4.2 PENYELIDIKAN TANAH LAPANGAN

Pekerjaan penyelidikan tanah dilapangan meliputi :

a) Pemboran dalam (deep boring)

Pemboran ini dilakukan sebanyak 2 titik pemboran di area fasilitas produksi PT.Pertamina EP di Pondok Makmur, dengan kedalaman pengeboran sampai kedalaman 36,45 m (BH-05) dan kedalaman 32,45 (BH-06)

(3)

Pengambilan sampel tidak terganggu (UDS) selama pemboran dalam dengan kedalaman 12 meter, pada masing-masing titik dimbil 3 sampel tanah tidak terganggu.

c) Standard penetration test (SPT)

Standard penetration test (SPT) dilakukan pada setiap titik pemboran dengan interval pengujian setiap 2 m.

d) Pengujian sondir (Cone penetration test/CPT) sebanyak 2 titik

4.3 PENYELIDIKAN TANAH LABORATORIUM

Pengujian tanah dilaboratorium dilakukan pada sampel pengambilan tanah tidak terganggu (UDS) dalam pekerjaan pengujian dilaboratorium antara lain:

a) Water content / moisture content b) Specific gravity (Gs)

c) Atterberg limit (LL dan PL) d) Analisa ayakan dan hydrometer e) Triaxial UU

f) Triaxial CU g) Consolidation test

h) Permebalility test dan Chemical content

(4)

4.4 ANALISA

4.4.1 STATIGRAFI & KONDISI LAPISAN TANAH

Secara umum dari proses penyelidikan tanah dilapangan kondisi tanah merupakan kondisi tanah lempung yang lunak dan muka air tanah terdapat pada kedalaman 1.85 m dari pengujian lapangan titik Bore Hole 5. Dalam pengerjaan hanya diambil data Bore Hole 5 dan titik sondir 7, dikerenakan titik tersebut merupakan titik terdekat dengan lokasi dibangunnya Open Drain Pit, secara mendetail kondisi lapisan tanah dijelaskan dalam tabel berikut :

Kedalaman Deskripsi Tanah

0,00 – 4,00 Merupakan jenis lapisan tanah pasir dengan gradasi buruk hal ini terlihat pada hasil bore log yg menunjukkan huruf SP sand poorly graded dan pada kedalaman ini mempunyai permeabilitas tanah yang besar yaitu 7,270. Lapisan di kedalaman ini mempunyai nilai N-SPT sebesar 12 blows/ 30 cm penetrasi.dan mempunyai nilai perlawanan konus sondir qc rata-rata 19.76 kg/cm²

4,00 – 10,00 Merupakan jenis lapisan tanah lempung (medium clay), dengan warna abu-abu. Lapisan di kedalaman ini mempunyai nilai N-SPT sebesar 5-7 blows/ 30 cm penetrasi.dan mempunyai nilai perlawanan konus sondir qc rata-rata 19.2 kg/cm²

10,00 – 14,00 Merupakan jenis lapisan tanah lempung (soft clay), dengan warna abu-abu tua. Lapisan di kedalaman ini

(5)

penetrasi.dan mempunyai nilai perlawanan konus sondir qc rata-rata 18.9 kg/cm²

14,00 – 24,00 Merupakan jenis lapisan tanah lempung (medium to stiff clay), dengan warna abu-abu. Lapisan di kedalaman ini mempunyai nilai N-SPT sebesar 7-13 blows/ 30 cm penetrasi.dan mempunyai nilai perlawanan konus sondir qc rata-rata 31.04 kg/cm² 24,00 – 28,00 Merupakan jenis lapisan tanah lempung kelanauan

(hard silty clay), dengan warna abu-abu muda. Lapisan di kedalaman ini mempunyai nilai N-SPT sebesar 30-37 blows/ 30 cm penetrasi.dan mempunyai nilai perlawanan konus sondir qc rata-rata 86,45 kg/cm²

28,00 – 30,00 Merupakan jenis lapisan tanah lempung (very stiff clay), dengan warna abu-abu muda. Lapisan di kedalaman ini mempunyai nilai N-SPT sebesar 27 blows/ 30 cm penetrasi.dan mempunyai nilai perlawanan konus sondir qc rata-rata 113.5 kg/cm² 30,00 - 32,00 Merupakan jenis lapisan tanah lempung (hard silty

clay), dengan warna coklat muda. Lapisan di kedalaman ini mempunyai nilai N-SPT sebesar 34 blows/ 30 cm penetrasi.

32,00 – 36,45 Merupakan jenis lapisan tanah lempung (hard silty clay), dengan warna coklat muda.Lapisan di kedalaman ini mempunyai nilai N-SPT sebesar 50 blows/ 30 cm penetrasi.

(6)
(7)

Dalam resume hasil pengujian tanah lapangan dapat disimpulkan bahwa sebagian besar kondisi tanah merupakan tanah lempung dengan konsistensi tanah yang berbeda.

Jika dilihat dari hasil laboratorium dan kondisi tanah yang ada yaitu tanah lempung, kemungkinan adanya ekspansifitas tanah sangat besar hal tersebut terlihat dari nilai plasticity indeks yang besar, kriteria tanah ekspansif adalah tanah yang mempunyai kembang susut yang tinggi akan adanya air.

Salah satu yang cocok untuk desain pondasi pada tanah lempung adalah dengan design pondasi rakit (raft foundation) dikarenakan pondasi rakit dapat menyebarkan beban pondasi itu sendiri secara merata.

Desain pondasi rakit (raft foundation) harus cukup kaku dalam melawan gaya ekspansifitas tanah itu sendiri. Dalam hal ini pondasi tidak akan retak ketika tanah mengalami penyusutan dan pondasi tidak akan terangkat ketika tanah mengalami pengembangan.

(8)

4.4.2 IDENTIFIKASI TANAH EKSPANSIF

a) Korelasi Indeks plastisitas (ASTM D-1883)

Pengunaan batas-batas Atterberg untuk memprediksi pengembangan telah banyak dilakukan. Bebarapa prosedur melibatkan kadar fraksi butiran lempung. Batas-batas atterberg dan potensi pengembangan lempung tergantung pada banyaknya air yang diserap lempung. Semakin besar indeks plastisitas, semakin besar pula air yang dapat diserap oleh lempung, oleh sebab itu lebih besar pula potensi pengembangannya.

Perkiraan derajat dan persen pengembangan berdasarkan indeks plastisitas (PI) (ASTM D-1883)

Indeks Plastisitas (ASTM D-424) Derajat pengembangan Persen pengembangan (ASTM D-1883) 0 – 10 Tidak ekspansif 2 atau kurang 10 – 20 Agak ekspansif 2 - 4

>20 Ekspansif tinggi >4

Berdasarkan indeks plastisitas mengacu pada tabel korelasi perkiraan derajat dan persen pengembangan berdasar indeks plastisitas (PI) (ASTM D-1883), dengan nilai indeks plastisitas 56,17 % pada uji atterberg limit diperoleh kesimpulan, bahwa tanah mempunyai derajat ekspansifitas yang tinggi, dengan persen pengembangan diperkirakan > 4%

(9)

b) Cara Holz dan Gibbs (1956)

Cara ini menyajikan kriteria untuk memperkirakan potensial pengembangan tanah tak terganggu dengan pembebanan sebesar 6,9 kPa. Korelasi indeks uji dengan tingkat pengembangan menunjukan hubungan antara pengembangan dengan parameter parameter tanah, antara lain Plasticity Index, Shrinkage Limit, Colloid Content, dan kemungkinan perubahan volume.

Korelasi Indeks uji dengan tingkat pengembangan Data dari Indeks tests Kemungkinan

pengembangan (% perubahan volume) Tingkat Pengembangan Colloid Content (%) Plasticity Index (%) Shrinkage Limit (%) >28 >35 <11 >30 Sangat tinggi 20-31 25-41 7-12 20-23 Tinggi 13-23 15-28 10-16 10-20 Sedang <15 <18 >15 <10 Rendah Sumber : Holz & Gribbs (1956)

Jika dilihat dari resume hasil laboratorium untuk cara Holtz dan Gibbs dengan nilai Plasticity Indeks sebesar 56,17% maka dapat dipastikan tanah pada area bore hole 5 mempunyai tingkat pengembangan yang sangat tinggi. Dan bisa disimpulkan tanah ekspansif.

(10)

c) Cara Chen (1988)

Ada dua cara yang dikemukakan Chen dalam melakukan identifikasi tanah ekspansif, yaitu: cara pertama, Chen mempergunakan indeks tunggal, yaitu Plasticity Index (PI). Sedangkan cara kedua, Chen mempergunakan korelasi antara fraksi lempung lolos saringan no. 200, batas cair (LL), dan nilai N dari hasil uji Standart Penetration Test (SPT).

Tabel korelasi nilai indeks plastisitas menunjukan hubungan antara harga PI dengan potensi pengembangan yang dibagi menjadi 4 kategori, yaitu: potensi pengembangan rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Tanah ekspansif dengan tingkat pengembangan tinggi sampai sangat tinggi yaitu nilai Plasticity Index > 55%.

Korelasi nilai Indeks Plastisitas (PI) dengan tingkat pengembangan Indeks Plastisitas (PI)

(%) Potensi Pengembangan 0 – 15 Rendah 10 – 35 Sedang 20 – 55 Tinggi > 55 Sangat tinggi Sumber : Chen (1988)

Sedangkan pada Tabel korelasi data lapangan dan laboratorium dengan tingkat pengembangan menunjukan korelasi antara tingkat pengembangan dengan prosentase lolos saringan no. 200, Liquid limit, N hasil uji SPT,

(11)

pengembangan tinggi sampai sangat tinggi dengan nilai Liquid Limit lebih besar dari 40% dan lebih besar dari 60% lolos saringan no. 200.

Korelasi data lapangan dan laboratorium dengan tingkat pengembangan Data lapangan dan laboratorium Kemungkinan

Pengembangan (% perubahan volume total) Tingkat Pengembangan Prosentase lolos saringan no. 200 LL (%) N (pukulan / ft) >95 >60 >30 >10 Sangat tinggi 60 – 95 40 – 60 20 – 30 3 – 10 Tinggi 30 – 60 30 – 40 10 – 20 1 – 5 Sedang <30 <30 <10 <5 Rendah Sumber : Chen (1988)

Jika berdasarkan tebel korelasi indeks plastisitas dengan tingkat pengembangan dapat disimpulkan bahwa tanah mempunyai nilai pengembangan yang sangat tinggi dengan nilai pengembangan >35%, data laboratorium nilai indeks plastisitas sebesar 56,41 %

Dari keseluruhan hasil identikfikasi tanah ekspansif, maka dapat disimpulkan tanah lokasi penelitian merupakan tanah ekspansif dengan tingkat pengembangan yang sangat tinggi.

(12)

4.5 PERHITUNGAN

4.5.1 PERHITUNGAN PEMBEBANAN

a) BEBAN MATI

Sket gambar Open Drain Pit :

Pedestal pompa Ukuran : 5.8x2m Tebal : 0.3 m Pedestal vessel Ukuran : 5.2x2m Tebal : 0.3 m 9.35 m 9.35 m 8.85 m 0.5 m 13.35 m 12.85 m 5.93 m 0.6 m

(13)

Volume beton Open Drain Pit : Plat lantai : 13,35x 9,35x0,6 = 74,89 m³ Dinding : 41,4x5,33x0,5 = 110,33 m³ Pedestal vessel : 5,2x2x0,3 = 3,12 m³ Pedestal pompa : 5,8x2x0,3 = 3,48 m³ Volume total = 191,82 m³ Berat jenis beton bertulang : 2400 kg/m³ = 23,54 kN/m³ Volume tangga akses

Unp 200x80x5.5.11 : 16.65 x 24,6 = 409.59 kg (berat / m = 24,6 kg) Sh 200x100x5.5.8 :7.4 x 21.3 = 157.62 kg (berat / m = 21.3 kg)

Grating = 50.45 kg

Handrail = 60 kg

Volume total = 677.66 kg = 6,64 kN

Jadi Beban mati pondasi Open Drain Pit

Beban mati = (Volume beton x Berat Jenis Beton)+ berat tangga = (191,82 x 23,54)+6.64 = 4522,08 kN

Luasan pondasi open drain pit = 13,35 x 9,35 = 124 ,82 m² Jadi beban mati / m² = 4522.08 : 124, 82 = 36,229 kN/m²

(14)

b) BEBAN HIDUP

Beban Open Drain Vessel (1 buah, V-1013)

Berat vessel open drain drum dalam kondisi operasi: Beban operasi + Beban Skid + Beban Platform = 7597+982+1050 = 9629 kg = 94,43 kN

Beban Oil Open Drain Pump (2 buah , P-1008A/B) rotating Berat oil open drain pump dalam kondisi operasi :

Beban pompa + Motor + Coupling + Baseplate (x 2 karena 2 buah pompa) = (170,1+58+7+450) x 2 = 1356 kg = 13,29 kN

Beban Water Open Drain Pump (2 buah , P-1009A/B) rotating Berat water open drain pump dalam kondisi operasi :

Beban pompa + Motor + Coupling + Baseplate (x 2 karena 2 buah pompa) = (136+58+7+450) x 2 = 1562.4 kg =12.76 kN

(data beban pompa dan vessel terdapat dalam lampiran)

Jumlah beban mati = 4522.08 kN, Beban hidup =120.48 kN,dikarenakan beban mati 5 kali lebih besar dari beban hidup maka beban sentrifugal pompa bisa diabaikan, (Arya S., O'Neill M., and Pincus G. - Design of Structures and Foundations for Vibrating Machines_ hal 49 point 2)

(15)

c) KOMBINASI PEMBEBANAN

Dipakai kombinasi beban terfaktor digunakan untuk merancang tulangan beton dengan metode Load and Resistance Factored Design (LRFD) UBC,1997 Volume 2, Sections 1612.2

P =1.2D+1.6L+0.5 (Lr or S) Dimana:

D = Beban mati pit dalam keadaan kosong L = Beban hidup (Beban Pompa & Peralatan)

Lr = Beban Atap (dikerenakan konstruksi pit maka Lr=0) S = Beban salju (tidak ada salju di Indonesia maka S=0) Maka kombinasi pembebanan menjadi

P = 1.2D+1.6L+0.5 (Lr or S)

= (1.2x4522.08)+1.6x(94.43+13.29+12.75)=5619.248 kN Jadi beban / m²

Qult = P/ Luasan open drain pit

(16)

4.5.2 PERHITUNGAN KAPASITAS DAYA DUKUNG PONDASI

a) DAYA DUKUNG TERZAGHI

Dalam analisa kapasitas daya dukung terzaghi digunakan rumus rectangular foundation dengan rumus sebagai berikut :

Kapasitas daya dukung pondasi segi empat (rectangular foundation) qu = c Nc (1 + 0,3 B/L) + b Df Nq + 1/2 b B N (1-0,2 . B/L) dimana :

qu : daya dukung ultimate c : kohesi tanah

b : berat volume tanah Df : kedalaman pondasi B : lebar pondasi L : panjang pondasi

Kedalaman pondasi terdapat pada elevasi -5.63 m. dan terdapat 3 lapisan tanah untuk sampai kedalaman tersebut, hal itu digunakan untuk menghitung tegangan overbudden pada pondasi. Untuk data kohesi dan sudut geser diambil data tanah dengan pengujian triaxial cu dikarenakan tanah merupakan tanah lempung yang permeabilitasnya rendah. Atau tidak bersifat segera meloloskan air ketika terjadi beban diatasnya

(17)

Rumus perhitungan gamma efektif

γb = γ sat – γw

menghitung gamma efektif lapisan tanah 1.85-4.00 m

γ’1 = 1.68 – 1 =0.68

menghitung gamma efektif lapisan tanah 4.00-5.63 m

γ’2 = 1.69 – 1 =0.69

dikarenakan muka air tanah pada elevasi 1.85 m maka diatas muka air tanah dipakai gamma bulk / kering, dan perhitungan tegangan overbudden menjadi: Po = (γxD1) + (γ’1xD1) + (γ’2xD2) 5.63 m 0.6 m 1.85 m 6.00 m 0.3 m 2.15 m c’=0.111 kg/cm² =10.886 kN/m² φ =22.92ᵒ γ sat=1.68 c=0.094 kg/cm² =9.218 kN/m² φ =18.87ᵒ γ sat=1.69 c=0.111 kg/cm² =10.886 kN/m² φ =22.92ᵒ γ =1.22

(18)

= (1.22x1.85) + (0.68x2.15) + (0.69x1.63) = 4,84

Dikarenakan φ (sudut geser tanah) <36 maka menggunakan keruntuhan geser lokal, dan dalam nilainya sebagai berikut :

Nc =11,325 ; Nq= 3.629 ; Nγ = 1.519

Untuk perhitungan daya dukung tanah:

qu = c Nc (1 + 0,3 B/L) + Po Nq + 1/2 b B N (1-0,2 . B/L) qu = 9.218x11.325 (1+0.3x9.35/13.35) + 4.84x3.628 +

1/2x0.69x9.35x1.519 (1-0.2x9.35/13.35)

qu = 126.340 + 17.577+ 4.214 qu = 148.131 kN/m²

maka Qall = (digunakan sf sebesar 3)

Qall =

b) DAYA DUKUNG MAYERHOFF

Dalam analisa kapasitas daya dukung mayerhoff menggunakan rumus sebagai berikut

qu = c.Nc.Fcs.Fcd.Fci + Po.Nq.Fqs.Fqd.Fqi + ½.b.B.N.Fs.Fd.Fi

(19)

c : kohesi tanah

B : lebar pondasi (diameter untuk pondasi lingkaran) b : berat volume tanah

Df : kedalaman pondasi Fcs, Fqs, Fs : Faktor bentuk Fcd, Fqd, Fd : Faktor kedalaman

Fci, Fqi, FI : Faktor kemiringan beban Nc, Nq, N : Faktor gaya dukung

Dengan φ (sudut geser tanah) =18,87 , faktor daya dukung menurut mayerhoff didapat : Nc =13,822 ; Nq= 5,729 ; Nγ = 2,348 Faktor bentuk: Fcs =1+0.2( ) ( ) =1+0.2( ) ( ) Fqs=Fγs =1+0.1( ) ( ) =1+0.1( ) ( ) Faktor kedalaman: Fcd =1+0.2( ) ( )

(20)

=1+0.2( ) ( ) =1.004

Fqd=Fγd =1+0.1( ) ( )

=1+0.1( ) ( ) =1.002

Faktor kemiringan beban;

Dikarenakan beban vertikal maka Fci, Fqi, Fγi =1

Sehingga perhitungan kapasitas daya dukung pondasi menurut mayerhoff menjadi

qu = c.Nc.Fcs.Fcd.Fci + Po.Nq.Fqs.Fqd.Fqi + ½.b.B.N.Fs.Fd.Fi

qu =9,218x13,822x1,000x1,004x1 + 4,84x5,729x1,000x1,002x1 + 0,5x0,69x9,35x2,348x1,000x1,002x1

qu =163,352 kN/m²

maka Qall = (digunakan sf sebesar 3)

Qall =

c) DAYA DUKUNG HANSEN

Dalam menghitung daya dukung Hansen menggunakan rumus untuk pondasi berbentuk datar/tanpa kemiringan:

(21)

dimana :

qu : daya dukung ultimate

L,B : Panjang & lebar pondasi

 : berat volume tanah

C : kohesi tanah

Po : tekanan overbudden diatas pondasi

Sc, Sq, S : faktor bentuk pondasi Dc, Dq, D : faktor kedalaman pondasi

Nc, Nq, N : faktor kapasitas daya dukung Hansen

Dengan φ (sudut geser tanah) =18,87 , faktor daya dukung menurut mayerhoff didapat :

Nc =13,822 ; Nq= 5,729 ; Nγ = 2,428

Sehingga perhitungannya menjadi Faktor bentuk pondasi:

Sc =1+(B/L) (Nq/Nc) =1+(9.35/13.35)x(5/11.63) = 1.261 Sq =1+(B/L)tg𝛗 =1+(9.35/13.35) tg 18.87 = 1.200 Sγ =1-0.4 (B/L) =1-0.4 (9.35/13.35) = 0.719 Faktor kedalaman fondasi :

(22)

Dq =1+2(D/B)tg𝛗(1-sin𝛗)²

=1+2(5.63/9.35) tg 18.87 (1-sin 18.87)² =1+62.107x0.150 =1.181

Dγ =1

Sehingga daya dukung tanah menurut Hansen adalah ; qu = Sc.Dc.c.Nc +Sq.Dq.Po.Nq+Sγ.Dγ.0.5B.γNγ

qu =1,290x1,240x9,218x13,822 + 1,000x1,000x4,84x5,729 + 0,719x1x(0,5x9,35)x0,69x2,428 = 237,424 kN/m²

maka Qall = (digunakan sf sebesar 3)

Qall =

Tabel 4.1 Resume daya dukung pondasi dangkal

Terzaghi Mayerhoff Hansen qu (kN/m²) 148.131 163,352 237,424

Qall (kN/m²) 49,376 54,451 79,141

(23)

4.5.3 PERHITUNGAN TEKANAN TANAH LATERAL

a) TEKANAN TANAH LATERAL AKTIF (RANKINE)

Dalam perhitungan tekanan tanah lateral aktif, diambil dari pengujian Triaxial CU pada bore hole 5

Besarnya tekanan tanah tersebut menurut Rankine dapat ditentukan sebagai berikut:

( ⁄ ) ( ⁄ ) Dengan mengambil nilai koefisien tekanan tanah aktif, Ka sebagai

( ⁄ )

Maka tekanan tanah lateral aktif adalah untuk tanah kohesif:

√ H=5.63m H1=1.85 mm H2=2.15 mm H3=1.63 γ sat =1.68 g/cc γ’1=1.68-1=0.68 g/cc=6.67 kN/m³ c’=0.089 kg/cm² =8,73 kN/m² 𝚹=29.19ᵒ γsat=1.69 g/cc γ’2=1.69-1=0.69 g/cc=6.76 kN/m³ c’=0.071 kg/cm² =7.16 kN/m² 𝚹=24.09ᵒ c’=0.089 kg/cm² =8.73 kN/m² 𝚹’ ᵒ γ =1.22 g/cc = 11.96 kN/m³

(24)

Koefisien tekanan tanah aktif pada masing-masing lapisan:

- Lapisan tanah 1 & 2

( ⁄ ) 0.344 - Lapisan tanah 3

( ⁄ ) 0.420

Dikarenakan ada muka air tanah maka perhitungan tekanan tanah lateral efektif dan tekanan tanah hidrostatik dilakukan terpisah. Tegangan tanah lateral efektif adalah :

Menentukan tegangan efektif horizontal tanah:

- Kedalaman 0 m √ 1 √ = -1.024 kN/m² - Kedalaman 1.85 m (lapisan 1) √ 1

(25)

- Kedalaman 1.85 m (lapisan 2) √ 1 √ = -2.629 kN/m² - Kedalaman 4 m (lapisan 2) √ √ = 2.304 kN/m² - Kedalaman 4 m (lapisan 3) √ √ = 6.035 kN/m² - Kedalaman 5.63 m

(26)

√ 3

√ = 10.663 kN/m²

Dikarenakan tanah berkohesi terdapat kemungkinan Pa negatif yang berarti ada gaya tarik yang bekerja pada tanah. Pada tanah yang menderita tarik tersebut tanah menjadi retak-retak. Retakan bila terisi oleh air akan mengakibatkan tekanan hidrostatis

Perhitungan tekanan hidrostatik : - Pada kedalaman 0 - Pada kedalaman 1.85 - Pada kedalaman 4 = γw.d2 = 9.81x2,15 = 21.09 kN/m² - Pada kedalaman 5.63 = γw.d2 + γw.d3 = 9.81x2,15 + 9.81x1.63 = 37.081 kN/m²

(27)

Gambar 4.3 Distribusi tekanan tanah lateral aktif adalah sebagai berikut :

Jadi gaya tekan tanah aktif persatuan panjang dinding

Pa = P1+P2+P3+P4+P5+P6+P7+P8

=(1/2x1.85x-1.024) + (1.85x-2.269) + (1/2x2.15x-2.269) + (2.15x2.034) + (1.63x6.035) + (1/2x1.63x10.663) + (1/2x2.15x21.09) +(1/2x1.63x37.081) = 68.210 kN/m

b) TEKANAN TANAH LATERAL PASIF

Koefisien tekanan tanah pasif pada masing-masing lapisan:

- Lapisan tanah 1 & 2

( ⁄ ) 2.904 - Lapisan tanah 3 ( ⁄ ) 2.379 H=5.63m H1=1.85 mm H2=2.15 mm H3=1.63 -1.024 6.035 10.663 2 3 4 5 7 8 37.081 21.09 1 2.304 -2.629 6

(28)

Menentukan tekanan efektif tanah lateral pasif adalah :

- Pada kedalaman 0

√ 1

√ = 29.754 kN/m²

- Pada kedalaman 1.85 m (lapisan 1)

√ 1

√ = 94.008 kN/m²

- Pada kedalaman 1.85 m (lapisan 2)

√ = 94.008 kN/m²

- Pada kedalaman 4 m (lapisan 2)

(29)

√ = 135.651 kN/m²

- Pada kedalaman 4 m (lapisan 3)

√ √ = 108.840 kN/m² - Pada kedalaman 5.63 m √ 3 √ = 135.054 kN/m²

(30)

Gambar 4.4 Distribusi tekanan tanah lateral pasif adalah sebagai berikut :

Jadi gaya tekan tanah pasif persatuan panjang dinding

Pp = P1+P2+P3+P4+P5+P6+P7+P8 =(1.85x29.754) + (1/2x1.85x94.008) + (2.15x94.008) + (1/2x2.15x135.651) + (1.63x108.840) + (1/2x1.63x135.054) + (1/2x2.15x21.090) + (1/2x1.63x37.081) = 830.315 kN/m H=5.63m H1=1.85 mm H2=2.15 mm H3=1.63 29.754 135.651 108.840 135.054 2 1 3 4 5 6 8 37.081 21.090 94.008 7

(31)

4.5.4 PERHITUNGAN TEKANAN TANAH AKTIF AKIBAT GEMPA (MONONOBE-OKABE)

Dari teori mononobe okabe gaya yang diperhitungkan adalah gaya tanah yang akan mengalami keruntuhan, yang dihitung pertama kali adalah momen inersia dalam arah horizontal dan vertikal, dengan rumus sebagai berikut:

( )

( )

Menurut klasifikasi tanah berdasarkan SNI 1726:2002 (hal 19; Tabel 5 percepetan puncak batuan dasar dan percepatan puncak muka tanah untuk masing-masing wilayah gempa Indonesia) pada lokasi penelitian masuk pada wilayah gempa 3 dengan percepatan gempa sebagai berikut.

Kh =0,15

Kv=0.03

Dalam perhitungan tekanan tanah aktif akibat gempa (mononobe-okabe) menggunakan rumus:

PA = ½ γ H² (1-Kv) KAE

Dimana:

(32)

H = tinggi retaining wall

KAE = koefisien tekanan aktif tanah dengan pengaruh gempa

Sedangkan dalam menghitung tekanan tanah aktif menggunakan rumus :

KAE = ( ) ( )[ √( ( ) ( ) ( ) ( )) ] 𝚹 = ⌋ 𝚹 = ⌋ Dimana:

Ø = sudut geser tanah 𝜹 = sudut geser dinding

𝜷 = 0 (muka belakang tembok tegak) i = 0 (permukaan tanah urugan datar) Profil pelapisan tanah

-1.85 H1=1.85 mm H2=2.15 mm H3=1.63 Lapisan 1 γ sat =1.68 g/cc γ d = 1.22 g/cc = 11.96 kN/m³ Ø=29.19 -4.00 -5.63 Lapisan 2 γ sat =1.68 g/cc =16.47 kN/m³ γ ‘ = 0.68 g/cc =6.67 kN/m³ Ø=29.19 Lapisan 3 γ sat =1.69 g/cc = γ d = 0.69 g/cc =6.76 kN/m³ Ø=24.09

(33)

Perhitungan koefisien tekanan tanah aktif akibat gempa, dalam perhitungan tekanan tanah aktif akibat gempa dihitung tiap lapisan tanah yang mempunyai sudut geser yang berbeda.

- Lapisan tanah 1 & 2 (sudut geser tanah lapisan kedua lapisan ini sama)

KAE1,2

=

( ) ( )[ √( ( ) ( ) ( ) ( ) ) ] KAE1,2= ( ) [ √( ( ) ( ) ( ) ( ) ) ] KAE1,2 = [ √( ) ] KAE1,2 = 0.450 - Lapisan tanah 3 KAE3

=

( ) ( )[ √( ( ) ( ) ( ) ( ) ) ] KAE3 = ( ) [ √( ( ) ( ) ( ) ( ) ) ] KAE3 = [ √( ) ] KAE3 = 0.775

(34)

Perhitungan tekanan tanah aktif akibat gempa tiap lapisan - Pada kedalaman 1.85 m (Lapisan tanah 1)

PA1 = ½ γ H² (1-Kv) KAE1

( ) = 8.934 kN/m²

- Pada kedalaman 4 m (Lapisan tanah 2)

PA2 = ½ γ H² (1-Kv) KAE2

( ) = 16.615 kN/m²

- Pada kedalaman 5.63 m

PA3= ½ γ H² (1-Kv) KAE3

( ) = 16.547 kN/m²

Perhitungan tekanan tanah aktif akibat gempa per satuan panjang dinding :

(35)

4.6 CEK STABILITAS PONDASI

4.6.1 PERHITUNGAN STABILITAS PENURUNAN PONDASI

a) PENURUNAN ELASTIC

Penurunan elastis (se) yaitu penurunan yang terjadi bersamaan dengan beban kerja yang terjadi cepat rumus yang digunakan adalah :

Se = A1* A2* Δσ*B/E

Dimana :

A1 : faktor kedalaman dasar telapak pondasi A2 : faktor daerah kedalaman yang ditinjau Δσ : tegangan pada telapak pondasi

B : lebar telapak pondasi

E : nilai elastisitas tanah yang dibebani Dalam penurunan elastic ditinjau 2 lapisan tanah

-5.63 m -4.00 m -1.85 m -10 m Lapisan 4 γ sat =1.58 γ’1=1.58-1=0.58 g/cc= 5.68 kN/m³ σp’=2.7 kg/cm² Lapisan 1 & 2 γ =1.22 g/cc =11.96 kN/m³ γ’1=1.68-1=0.68 g/cc =6.66 kN/m³ σp’=2.7 kg/cm² -14 m P=5619.248 kN Lapisan 3 γ sat =1.69 γ’1=1.69-1=0.69 g/cc = 6.76 kN/m³ σp’=2.7 kg/cm²

(36)

Nilai modulus elastisitas E = 2.5xqc (qc dari data sondir kedalaman 5,6 m) qc=20 kg/cm²

E = 2.5 Qc =2.5x20 = 50 kg/cm²= 4903 kN/m² Perhitungan tegangan pada telapak pondasi

Δσ = q beban – q’

= 5619.248/(9.35x13.35) – (6.66x4 + 6.76x1.63) = 7.359 kN/m² Penurunan lapisan lempung pada kedalaman -4.00 ~ 10.00

L/B = 13.35/9.35 = 1.427 A1 =0.15 Df/B = 5.63/9.35 = 0.621 A2=0.95 H/B =4.37/9.35 = 0.467

Se 1 = 0.15x0.95x = 0.002 m

Penurunan lapisan lempung pada kedalaman -10.00 ~ 14.00 L/B = 13.35/9.35 = 1.427 A1 =0.30

(37)

H/B =8.37/9.35 = 0.895

Se 2= 0.3x0.95x = 0.004 m

Se total = 0.002 + 0.004 =0.006 m= 0.6 cm

b) PENURUNAN KONSOLIDASI

Perhitungan penurunan konsolidasi berdasarkan jenis tanah menggunakan rumus: Tanah NC clay : ( ) Tanah OC clay:

Jika : σo’+Δσ’≤ σp’ maka

(

)

Jika : σo’+Δσ’≥ σp’ maka

( ) ( )

Dimana : Sc = penurunan konsolidasi pada tanah lempung Cc = indeks pemampatan

Cr = indeks pemampatan kembali

(38)

eo = angka pori awal

o = tekanan overbudden awal sebelum dibebani (kN/m2)

 = penambahan tegangan akibat beban pondasi (kN/m2)

Dalam penurunan konsolidasi ditinjau 2 lapisan tanah

Lapisan tanah 3 (4-10 m)

σp’ =2.7 kg/cm² = 264.787 kN/m²

Tegangan vertikal efektif sebelum pembebanan

σo1’ =(1.85x1.22)+(2.15x0.68)+(0.69x(1/2x4.37+1.63) =6.351 =622.839 kN/m² Jenis konsolidasi tanah

OCR= σp’/ σo’= 264,787 / 622.839 =0,425 ≤1 → NC clay Tekanan luar akibat beban yang bekerja pada elevasi ini

-5.63 m -4.00 m σo'1 σo'2 -1.85 m P=5619.248 kN -10 m -14 m Lapisan 4 γ sat =1.58 cr = 0.098 γ’1=1.58-1=0.58 eo = 1.41 σp’=2.7 kg/cm² cc = 0.541 Lapisan 3 γ sat =1.69 cr = 0.071 γ’1=1.69-1=0.69 eo = 1.11 σp’=2.7 kg/cm² cc = 0.313 Lapisan 1 & 2 γ =1.22 γ sat =1.68 cr = 0.077 γ’1=1.68-1=0.68 eo = 1.01 σp’=2.7 kg/cm² cc = 0.621

(39)

Maka dipakai rumus normally consolidated: ( ) ( ) Sc1 = 0.313x2.07 log 1.050=0.014 m =1,4 cm Lapisan tanah 4 (10-14 m) σp’ =2.7 kg/cm² = 264.787 kN/m²

Tegangan vertikal efektif sebelum pembebanan

σo2’ =(1.85x1.22)+(2.15x0.68)+(0.69x6)+(0.58x4/2) =9.019 =884.488 kN/m² Jenis konsolidasi tanah

OCR= σp’/ σo’= 264,787 / 884.488 =0.299≤1 → NC clay Tekanan luar akibat beban yang bekerja pada elevasi ini

2=P/A1 =5115.21 / (9.35+4.185)x(13.35+4.185) = 23.676 kN/m²

Maka dipakai rumus normally consolidated:

( ) ( ) Sc2 = 0.541x1.659 log 1.026=0.010 m = 0.1 cm Sc total =1.4 +0.1 = 1.5 cm

(40)

Batas penurunan izin untuk pondasi rakit 75-300 mm Penurunan total

St =Se+Sc = 0.6+1.5 = 2.1 cm

Jadi penurunan izin masih masuk yaitu 21 mm < 75 mm…….. (ok)

4.6.2 PERHITUNGAN WAKTU KONSOLIDASI

Dalam waktu konsolidasi ditinjau lapisan tanah

Dikarenakan angka porositas lapisan 2 n=0.500, lapisan 3 n=0.530 sedangkan lapisan 4 n=0.580, makan kemungkinan air mengalir lebih banyak mengarah pada lapisan 4, sehingga nilai Hdr=Hc

St =2.1 cm

U=2.1 / 100 =0,021 =2.1 %

Nilai u dalam tabel faktor waktu dan derajat konsolidasi U 0 → TV =0 ; U10 → TV=0,008 -5.63 m -4.00 m -1.85 m St = 2.1 cm -10 m -14 m

Lapisan 4 (soft clay) e = 1.410 sr =96.03 n=0.580 Lapisan 1&2 ( SP) e =1.010 sr = 90.69 n=0.500

Lapisan 3 (medium clay) e = 1.110

sr =97.41 n=0.530

cv=0,00009 cm/det

(41)

TV =(2.1/10)x0,008 =0,0016

Sehingga waktu penurunan konsolidasi adalah

Jadi lamanya penurunan 2.4 bulan

(1 tahun 365 hari =60x60x24x35=31.536.000 detik)

4.6.3 PENGARUH MUKA AIR TANAH / GAYA UPLIFT

Asumsi perhitungan gaya uplift, data tanah yang ditunjau menggunakan lapisan data tanah lapisan 3

-5.63 m -4.00 m -1.85 m

Berat sendiri pondasi Q= 5619.248 kN -10 m Lapisan 3 γ sat = 1.69 g/cc =16.579 kN/m² C=0.071 kg/cm² Θ=24.09 P Z df

(42)

Sesuai dengan hokum buoyancy yang berbunyi :

Sebuah benda yang tenggelam seluruhnya atau sebagian dalam suatu fluida akan mendapatkan gaya angkat ke atas yang sama besar dengan berat fluida yang dipindahkan.

Maka perhitungan gaya uplift adalah: Up = H x B x γw x Df

Dimana :

H = Panjang telapak pondasi B = Lebar telapak pondasi γw = berat jenis air

Df = kedalaman muka air tanah ke dasar pondasi Jadi perhitungan gaya uplift menjadi

Up = 13.35x9.35x 9.81x 3.78 = 4628.643 kN

Beban titik berat uplift UP2 = 1/2xUp

=1/2x4628.643 =2314.321 kN/m² Lokasi titik resultant uplift

(43)

M max = -P.z + Q.1/2.L²

= (-2314.321x3.116) + (5619.248x ½ x9.35) = -7211.424 + 26269.984=19058.984 kN

Dikerenakan gaya uplift yang bekerja masih lebih kecil dari beban pit dalam kondisi kosong maka aman terhadap potensi uplift & guling (hasil momen +)

4.6.4 STABILITAS TERHADAP GAYA GULING

Tekanan tanah leteral aktif persatuan panjang dinding adalah

Pa = tekanan tanah letaral aktif

Pae = tekanan tanah letaral aktif akibat gempa

PA =Pa +Pae = 68.209 + 42.097 =110.306 kN/m Ph = PA cos α =110.306 cos 0 = 110.306 kN/m 5.63 m 0.6 m 0.3 m Pv=0 0.5 m Ph=Pa 2 1 3 9.35 m 0.25 m C c’=0.071 kg/cm² =7.16 kN/m² 𝚹=24.09ᵒ

(44)

Faktor keamanan terhadap gaya guling

Fs guling =

Momen gaya yang menyebabkan guling pada titik C

𝞢Mo = Ph x

𝞢Mo = 110.306 x = 207.008 kN

Perhitungan momen penahan 𝞢Mr (γ beton =23.58 KN/m³)

Penampang (1) Penampang Δ (2) Berat / sat panjang dinding (3) = γ x 2 Lengan momen (4) Momen terhadap titik C (5)= 4 x 3 1 2.665 62.840 8.85 556.141 2 5.61 132.284 4.675 618.427 3 1.257 29.652 9.225 273.540 𝞢V=224.776 𝞢Mr = 1448.108

Faktor keamanan terhadap gaya guling

Fs guling =

(45)

4.6.5 STABILITAS TERHADAP GAYA GESER

Dalam perhitungan tekanan tanah pasif didapatkan Pp = 830.315 kN

Fs geser = ( )

(

k1 & k2 berkisar 1/2 sampai 2/3) Maka perhitungan menjadi

Fs geser = ( ) ( )

Fs geser = = 8.518 >1.5…………OK

4.6.6 STABILITAS TERHADAP DAYA DUKUNG

RESUME DAYA DUKUNG PONDASI DANGKAL

Terzaghi Mayerhoff Hansen Qu (kN/m²) 148.131 163.352 273.424 Qall (kN/m²) 49.377 54.451 79.141 *Q all dipakai safety faktor = 3

Dari kombinasi pembebanan didapatkan beban sebesar 5619.248 kN, diasumsikan beban merata karena konstruksi berupa raft foundation, maka beban izin / m² adalah

P all = 5619,248 / (9.35x13,35) = 45.018 kN/m²

Beban pondasi lebih kecil dari pada daya dukung pondasi, maka tanah masih stabil untuk menerima beban yang bekerja dari pondasi.

(46)

4.6.7 PERIKSA KEKAKUAN PLAT PONDASI OPEN DRAIN PIT

Menurut SK SNI T-15-1991-03 batas lendutan maksimum adalah 1/480 bentang yang terjadi akibat beban merata (Timoshenkok, 1998) adalah:

( ) Dimana :

𝜹 : Lendutan yang terjadi α : Koefisien lendutan Pult : Beban ultimate μ : Nilai poison ratio

D : Momen akibat lentur untuk plat Ec : Modulus elastisitas beton H : Tebal plat

B : Lebar plat Diketahui :

Pult : 45.018 kN/m²

Ec : 4700√28= 24870.062 MPa = 24870062 kN/m² μ : 0.3 (nilai poison ratio untuk tanah lempung) H : 0.6 m

(47)

Batas lendut maksimum berdasar SK SNI T-15-1991-03 tabel 3.2.5 (b) batasan lendutan maksimum adalah 1/480 bentang maka

𝜹 mak = Perhitungan momen lentur untuk plat

( ) Perhitungan lendutan yang terjadi

< ………OK

Dengan ketebalan 0.6 m pondasi aman terhadap lendutan, sehingga pondasi mampu menahan beban ultimate yang bekerja

Tabel 4.2 Resume stabilitas pondasi

STABILITAS SAFETY FAKTOR

IJIN SAFETY FAKTOR PONDASI Guling 2 6,995 Geser 1,5 8,518 Daya dukung 45.018 kN/m² 49.377 kN/m² (SF 3) Lendutan 0,0019 m 0,019 m

(48)

Jika ditinjau dari segi prosentase pengembangan tanah dan derajat kejenuhan maka pengembangan tanah ekpansif masih aman terhadap stabilitas pondasi. Dengan prosentasi pengembangan tanah dari kolerasi tabel maka potensi pengembangan tanah sebanyak.

Gambar 4.5 Korelasi pengembangan tanah dan derajat kejenuhan

Diambil data derajat kejenuhan pada tanah lapisan 3 dengan derajat kejenuhan sebesar 97,41 % diperkirakan potensi pengembangan tanah sebanyak 6,7%.

97.41 % 6,7 %

Gambar

Gambar IV.1 Lokasi titik pengeboran di lapangan
Tabel korelasi nilai indeks plastisitas menunjukan hubungan antara harga  PI dengan potensi pengembangan  yang dibagi menjadi 4 kategori,  yaitu:
Tabel 4.1 Resume daya dukung pondasi dangkal
Gambar 4.3 Distribusi tekanan tanah lateral aktif adalah sebagai berikut :
+3

Referensi

Dokumen terkait

Bentuk Penampang Tiang persegi memiliki Daya Dukung Tanah yang paling besar dibanding lingkaran (Isnaniati 2007), berdasar data tanah CPT diperoleh perilaku

Pondasi tiang merupakan pondasi yang biasa dipakai untuk kondisi tanah lempung yang letak tanah kerasnya berada jauh dibawah permukaan tanah dan pemilihan bentuk dasar

vulkanik dan abu sekam padi pada tanah lempung yang dilihat dari pengujian. laboratorium yaitu CBR Laboratorium sesuai dengan variasi kadar

Untuk menghitung penurunan konsolidasi suatu lapisan tanah lempung yang relatif tipis yang dibebani suatu beban yang luas, maka rumus Terzaghi akan memberikan

Menurut Chen ( 1975 ) faktor yang berpengaruh pada proses mengembang tanah lempung ekspansif dapat dilihat dari dua kondisi proses, yaitu kondisi di laboratorium dan kondisi

Jadi dari kelima sampel tanah tersebut jenis tanah yang dominan yaitu lempung tak organik dengan plastisitas tinggi. Dari data hasil penelitian

Secara umum terlihat bahwa pemampatan primer untuk tanah gambut sebelum stabilisasi berlangsung lebih lambat daripada kondisi setelah distabilisasi, dimana hal ini

Bentuk Penampang Tiang persegi memiliki Daya Dukung Tanah yang paling besar dibanding lingkaran (Isnaniati 2007), berdasar data tanah CPT diperoleh perilaku