DISTRIBUSI PENDAPATAN PENDUDUK DI DAERAH PARIWISATA DAN NON PARIWISATA.

49 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

DISTRIBUSI PENDAPATAN PENDUDUK DI

DAERAH PARIWISATA DAN NON

PARIWISATA

Oleh :

IR. NI WAYAN PUTU ARTINI, MP.

NIP : 195912311986012002

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS

PERTANIAN UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(2)

DISTRIBUSI PENDAPATAN PENDUDUK DAERAH PARIWISATA DAN NON PARIWISATA DI KABUPATEN BADUNG

RINGKASAN

Berbagai program yang dijalankan pemerintah pada hakekatnvamempunyai

tujuan utama yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Walaupun berbagai

upaya dan kebijakan telah dilakukan pemerintah namun kesejahteraan masyarakat

belum merata. Hal ini dapat dilihat dan realitas yang ada, di mana masih ada daerah

yang kondisi sosialnya masih tertinggal dibandingkan dengan daerah lain atau dengan

kata [am masih ada gap keadaan sosial ekonomi masyarakat baik antar lapisan

masyarakat (vertical inequity] maupun antar daerah (spatial inequity). Permasalahan

ini menjadi agenda serius dalam pembangunan, sementara pemerintah selalu berusaha

memperbaiki kondisi sosial ekonomi daerah-daerah yang masih tertinggal.

Kabupaten Badung yang dibagi menjadi tiga wilayah yaitu Badung Utara

(merupakan daerah pertanian) yang dalam penelitian mi dikategorikan daerah non

pariwisata, Badung Selatan merupakan daerah pariwisata) dan Badung Tengah yang

merupakan transisi antara daerah pariwisata dan non pariwisata. Penelitian ini

dilakukan di daerah pariwisata dan non pariwisata.

Adapun tujuan dan penelitian mi adalah untuk mengetahui karakteristik.

(3)

pariwisata dan non pariwisata Besarnya sampel yang diambil sebanyak KKJ kepala

keluarga (50 orang di daerah pariwisata dan 50 orang di daerah non pariwisata).

Dalam penelitian ini yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder.

Data primer dikumpulkan dengan memakai daftar pertanyaan (kuesioner), wawancara

mendalam, dan observasi; sedang data sekunder diperoleh dan instansi-instansi terkait

dan hasil-hasil penelitian sebelumnya. Data dianalisis secara deskriptif yaitu

mendiskripsikan, memberikan penafsiran-penafsiran yang memadai terhadap fakta

yang diperoleh dengan interpretasi yang rasional terhadap fakta-fakta di lapangan dan

analisis Gini Ratio untuk menentukan distribusi pendapatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di daerah non pariwisata luas pemilikan

dan luas garapan pen duduk lebih luas dibandingkan dengan di daerah pariwisata.

Rata-rata pemilikan dan penguasaan tanah di daerah non pariwisata 33,39 arc dan

50,87 arc sementara di daerah pariwisata pemilikan dan penguasaannya

masing-masing 24,38 are dan 48.61 are. Pendapatan penduduk di daerah non pariwisata dan

daerah pariwisata masing-masing Rp 3.871.801,38 dan Rp 5.472.329,47 per kapita

per tahun. Distribusi pendapatan per kapita per tahun penduduk di daerah non

pariwisata dan di daerah pariwisata tergolong dalam ketimpangan sedang dengan

(4)

Discription analyses shows three results:

1. Land owner and land holder in non tourism area were 33.39 acre and 50.87

acre while in tourism area were 24.38 acre and 48.61 acre respectively

2. Annual income per capita at non tourism and tourism region were

3.871.801,38 rupiahs and 5.472.327,47 rupiahs

3. The population income at this two type region were medium in equally

(5)

PRAKATA

Puji syukur yang sedalam-dalamnya penulis panjatkan ke hadirat Ida Sang Hyang

WidiWasa/TuhanYangMaha Esaatasanugrah-Nya sehinggapenelitianinidapat

diselesaikan dengan baik.Penelitian ini dilaksanakan di daerah pariwisata dan non

pariwisata di Kabupaten Badung, Propinsi Bali.

Pada kesempatan mi penulis mengucapkan terima kasih kepada masyarakat di

daerah pariwisata dan non pariwisata yang telah membantu peneliti

dalammemberikan informasi ataupun data yang diperlukan, sena terima kasih juga

kami sampaikan pada semua pihak yang telah membantu peneliti baik secara

langsung maupun tidak langsung.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa apa yang disajikan dalam penelitian ini

masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu tegur sapa dan kritik yang bersifat

membangun dari para pembaca akan penulis terima dengan kerendahan hati.

Akhirnya penulis mengharapkan semoga apa yang disajikan dalam tulisan ini ada

manfaatnya.

Denpasar, Oktober 2015

(6)

DAFTAR ISI

3.2. Sasaran dan Manfaat Penelitian ... 10

IV. METODE PENELITIAN ... 12

5.2. Penduduk dan Mata Pencaharian ... 20

5.3. Potensi Pertanian ... 25

5.4. Sosial Ekonomi ... 28

5.5. Karakteristik Responden ... 31

5.5.1. Umur ... 31

5.5.2. Pendidikan ... 32

5.5.3. Penguasaan Lahan ... 32

5.6. Pendapatan ... 34

5.7. Distribusi Pendapatan ... 36

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 39

6.1. Kesimpulan ... 39

6.2. Saran ... 40

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 1. Sumber dan besar investasi di Kabupaten Badung selama lima tahun ... 3

Tabel 2. Luas wilayah dan tata guna tanah di Kabupaten Badung ... 17

Tabel 3. Realisasi dan keadaan normal curah hujan di Kabupaten Badung ... 19

Tabel 4. Jumlah penduduk Kabupaten Badung dirinci per kecamatan ... 20

Tabel 5. Perkembangan Penduduk di Kabupaten Badung selama delapan tahun terakhir... 21

Tabel 6. Komposisi Penduduk di Kabupaten Badung ... 22

Tabel 7. Distribusi penduduk Kabupaten Badung berdasarkan lapangan Pekerjaan . 23 Tabel 8. Kontribusi berbagai lapangan usaha terhadap PDRB Kabupaten Badung tahun 2001 ... 24

Tabel 9. Luas areal, produksi dan produktivitas tanaman pangan dan tanaman perkebunan di Kabupaten Badung ... 25

Tabel 10. Populasi Ternak di Kabupaten Badung ... 26

Tabel 11. Luas pemeliharaan, produksi dan nilai perikanan di Kabupaten Badung tahun 1998 s.d 2002 ... 27

Tabel 12. Jumlah Sekolah, Murid dan Guru di Kabupaten Badung ... 28

Tabel 13. Sarana/prasarana Kesehatan di Kabupaten Badung ... 29

(8)

I. PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Secara implisit program kebijakan pemerintah dewasa ini adalah

meningkatkan kesejahteraan masyarakat (dan atau mengurangi jumlah penduduk

yang hidup di bawah garis kemiskinan) dan melaksanakan delapan jalur

pemerataan yaitu pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok, pemerataan

pembagian pendapatan, pemerataan pembangunan, pemerataan memperoleh

pendidikan, pelayanan kesehatan, kesempatan kerja, kesempatan berusaha, dan

pemerataan dalam memperoleh keadilan. Walaupun berbagai upaya dan kebijakan

telah dilaksanakan oleh pemerintah, namun tingkat kesejahteraan masih belum

merata. Hal ini dapat dilihat dari realitas yang ada, di mana masih ada daerah yang

kondisinya sosialnya masih tertinggal dibanding dengan daerah lainnya dengan

kata lain belum meratanya kesejahteraan masyarakat. Permasalahan ini menjadi

agenda serius dalam perkembangan dan pemerintah selalu berusaha memperbaiki

kondisi sosial ekonomi daerah-daerah yang masih tertinggal.

Pendapatan merupakan salah satu indikator untuk mengukur kesejahteraan

seseorang atau masyarakat, sehingga pendapatan itu mencerminkan kemajuan

ekonomi suatu masyarakat. Kemajuan itu dapat dilihat dari tiga aspek yaitu

tingkat pendapatan, pertumbuhan atau perkembangan pendapatan, dan distribusi

vertikal maupun horizontal. Ketiga aspek pendapatan tersebut di atas adalah

(9)

hendaknya berjalan secara seimbang agar tercapai stabilitas ekonomi yang

mantapdan dinamis.

Bali tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pariwisata mempunyai peranan

besar sebagai lokomotif pembangunan ekonomi dan sekaligus sebagai generator

dalamperubahan sosial budaya. Keadaan ini menyebabkan angka pertumbuhan

FDRB Bali selalu di atas rata-rata nasional. Dalam pembangunan pariwisata Bali,

ada beberapa masalah mendasar seperti ketidakmerataan manfaat ekonomi baik

antar lapisan masyarakat (vertical inequity) maupun ketimpangan antar daerah

(.spatial inequity), Kabupaten Badung, Gianyar, dan Kodya Denpasar merupakan

tiga kabupaten yang mempunyai pendapatan sangat besar dari sektor pariwisata.

sedangkan kabupaten lainnya mendapat manfaat ekonomi yang jauh di bawah.

Hal ini menimbulkan adanya pergeseran penyerapan tenaga kerja pada berbagai

sektor di mana terdapat indikasi bahwa “eksodus”tenaga kerja dari sektor

pertanian ke non pertanian. Dampak lain yang ditimbulkan oleh sektor pariwisata

antara lain keterkaitan dan keterlibatan individual dengan masyarakat luar,

hubungan interpersonal antara anggota masyarakat, ritme kehidupan sosial

masyarakat, pola pembagian kerja, stratifikasi dan mobilitas dan sebagainya

(Cohen, dalam Pitana 1999). Dalam kaitannya dengan hubungan interpersonal

terlihat bahwa pola interaksi sosial di Bali sudah mengarah pada “dominasi

ekonomi” sehingga seakan-akan pertimbangan ekonomi menjadi prioritas utama

dalam hubungan sosial di mana konformitas sosial (social conformity) yang tinggi

tergeser oleh individualisme. Di samping itu Bali telah menjadi daya tarik bagi

(10)

Kabupaten Badung yang merupakan daerah pusat pariwisata dan sekaligus

merupakan pusat aktivitas perekonomian merupakan daerah tujuan para urban.

Pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat yang ditandai dengan pembangunan

pemukiman, pusat-pusat pembelanjaan, perkantoran, hiburan, dan sebagainya

akan membawa dampak sosial baik yang bersilat positif maupun negatif.

Kesenjangansosial yang semakin nyata merupakan dampak negatif dari

pertumbuhan ekonomi yang kurang memperhatikan aspek pemerataan.

Ketimpangan pembangunan cendrung mengakibatkan ketimpangan dalam

kesejahteraan penduduk karena kesejahteraan merupakan fungsi dari investasi

yang dilakukan. Semakin tinggi tingkat investasi semakin tinggi tingkat

kesejahteraan penduduk. Di Kabupaten Badung besarnya investasi yang dilakukan

baik oleh pemerintah maupun swasta selama lima tahun terakhir disajikan pada

Tabel 1.

Tabel 1. Sumber dan besar investasi di Kabupaten Badung

Selama lima tahun terakhir

Tahun

Sumber dan besar investasi

Jumlah (Rp) Pemerintah (Rp) Swasta (Rp) Swadaya (Rp)

1995/1996 97.378.433.849,00 1.386.037.060.732,00 18.711.480.795,00 1.502.126.975,376,00

1996/1997 155.874.526.581,00 1.444.259.189.090,00 15.579.644.385,00 1.615.813.377.056,00

1997/1998 233.184.926.370,00 1.500.365305.611,31 35.262.133.000,00 1.769.442.364.981,31

1998/1999 221.906.722.752,75 827.339.922910,00 42.991.198.000,00 1.092.237.843.662,75

(11)

Kabupaten Badung membawahi enam kecamatan yaitu Kuta Selatan,

Kuta, Kuta Utara, Mengwi, Abiansemal, dan Petang; dibagi menjadi tiga wilayah

yaitu Badung Selatan (Kecamatan Kuta Utara, Tengah, dart Selatan), Badung

Tengah (Kecamatan Mengwi), dan Badung Utara (Kecamatan Abiansemal dan

Petang) mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Badung Selatan adalah daerah

pariwisata yang membutuhkan hasil-hasil pertanian untuk mensupply kebutuhan

hotel dan restoran sedangkan dilain pihak Badung Utara (Kecamatan Abiansemal

dan Petang) yang notabene daerah pertanian (non pariwisata) adalah sebagai

pemasok hasil-hasil pertanian yang dibutuhkan Badung Selatan. Ini berarti ada

simbiose yang mutualistis antara Badung Utara dengan Badung Selatan. Adanya

anggapan sementara masyarakat awam bahwa penduduk Badung Selatan lebih

sejahtera, lebih glamour, lebih makmur, dan sebagainya dibanding Badung Utara,

mendorong peneliti untuk mengetahui tingkat kesejahteran penduduk di daerah

pariwisata (Badung Selatan) dan di daerah non pariwisata (Badung Utara) dilihat

dari distribusi pendapatan masing-. masing.

1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang permasalahan yang disebutkan di atas, maka

permasalahan penting yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimanakah

distribusi pendapatan penduduk di daerah pariwisata dan non pariwisata, di mana

(12)

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pendapatan merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat

kesejahteraan seseorang atau masyarakat, sehingga pendapatan ini mencerminkan

kemajuan ekonomi suatu masyarakat. Pendapatan itu dapat dilihat dari tiga aspek

yaitu tingkat pendapatan, pertumbuhan atau perkembangan pendapatan, dan

distribusi antara individu atau rumah tangga. Ketiga aspek pendapatan tersebut

dalam perekonomian yang kegiatannya diatur dan dilaksanakan secara berencana

hendaknya berjalan secara seimbang agar tercapai stabilitas ekonomi yang mantap

dan dinamis.

Pembagian pendapatan yang sangat timpang akan berakibat fatal terhadap

keadaan sosial ekonomi, sosial budaya, dan sosial politik. Kesenjangan

pendapatan yang tinggi dapat mengganggu stabilitas politik (Pareto, 1971 dalam

Hasibuan, 1993). Tingkat pendapatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai

pendekatan, salah satu pendekatan yang sering dilakukan adalah dengan memakai

pendapatan per kapita.

Di Indonesia pembangunan ekonomi sering ditunjukkan dengan

pendapatan penduduk per kapita, pertumbuhan, pemerataan, dan struktur

ekonomi. Dalam analisis ekonomi makro sederhana, maka pendapatan yang

diperoleh dialokasikan untuk konsumsi dan ditabung untuk investasi. Pendapatan

(13)

penduduk. Pembangunan dikatakan berhasil bila peningkatan pendapatan lebih

besar dari peningkatan jumlah penduduk.

Di samping pemerataan, unsur lain dari Trilogi Pembangunan adalah

pertumbuhan. Persoalan yang ada dalam pertumbuhan pendapatan adalah “trade

off dan pertumbuhan yang tinggi. Pembangunan yang mengutamakan

pertumbuhan yang tinggi akan cendrung menyingkirkan aspek pemerataan.

Demikian sebaliknya, jikatujuan pembangunan yang diutamakan adalah

pemerataan, maka tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak tercapai. Di

samping itu ada yang berpendapat bahwa masalah pemerataan adalah soal waktu,

karena dalam jangka waktu tertentu, ekonomi dengan tingkat pertumbuhan yang

tinggi akan mengurangi tingkat kesenjangan setelah melalui kesenjangan yang

tinggi (Kusnet, 1955 dalam Hasibuan, 1993).

Tjiptohenjanto (1882) menyatakan bahwa, kemiskinan berhubungan erat

dengan kesenjangan pendapatan. Dari berbagi hasil penelitian didapatkan adanya

kecendrungan bahwa kesenjangan pendapatan di daerah miskin lebih kecil

dibandingkan dengan kesenjangan pendapatan di daerah yang maju. Di samping

itu King dan Weldon (1976 dalam Artini, 1996) menemukan bahwa di daerah

pedesaan kesenjangan pendapatan lebih kecil dibandingkan dengan di daerah

perkotaan, akan tetapi rendahnya rendahnya tingkat kesenjangan pendapatan

sekaligus dibarengi dengan rendahnya pendapatan per kapita. Keberhasilan

pembangunan tidak hanya dapat diukur secara kuantitatif seperti besar dan

distribusi pendapatan, tetapi bisa juga diukur secara kualitatif seperti yang

(14)

Salah satu indikator untuk mengukur tolak ukur keberhasilan

pembangunan menurut Nasikun (1992) yaitu dengan menggunakan indeks

kualitas hidup (PQLI). Di lihat dari tujuan PQLI cocok diterapkan sebagai tolak

ukur keberhasilan pembangunan dalam kerangka model pembangunan pemerataan

melalui pertumbuhan dan model pembangunan pemenuhan kebutuhan dasar.

PQLI menunjukkan seberapa jauh masyarakat berhasil mencapai sejumlah

karakteristik sosial atau kebutuhan dasar yang menjamin kelangsungan hidup

manusia. Komponen PQLI adalah: 1) angka harapan hidup pada usia satu tahun 2)

kematian bayi dan angka melek huruf. Angka harapanhidup pada usia satu tahun

dan kematian bayi digambarkan untuk mengukur hasil dari proses sosial.

Keduanya dapat dilihat sebagai proksi kombinasi dari efek hubungan-hubungan

sosial, status nutrisi, kesehatan masyarakat, dan lingkungan keluarga. Angka

melek huruf menunjukkan kemampuan menangkap informasi tentang potensi

pembangunan dan peluang yang dimiliki oleh kelompok penduduk miskin untuk

dapat menikmati kemungkinan-kemungkinan dan keuntungan-keuntungan dari

kegiatan pembangunan. Adapun lima dimensi kemiskinan menurut Nasikun

(1992) yaitu:

1. Kemiskinan “proper” artinya kurangnya pemilikan asset atau rendahnya

akses terhadap aliran uang dan barang.

2. Kelemahan fisik, ditunjukkan oleh berat badan yang tidak normal dan

sensitif terhadap variasi musim.Kelemahan fisik dapat diukur dengan

(15)

lingkar lengan yang tidak normal dan atau persentase anak-anak balita

yang meninggal selama setahun terakhir.

3. Kerentanan, yang dapat dilihat dariketidakmampuan keluarga miskin

untuk menyediakan sesuatu dalam menghadapi situasi darurat. Dimensi

kerentanan dapat diukur dengan persentase penduduk yang berusia 10

tahun ke atas yang bersetatus sebagai buruh tani dan atau tidak memiliki

pekerjaan yang tetap.

4. Ketidakberdayaan, tercermin dalam seringnya elit desa menjaring bantuan

yang sebenarnya diperuntukkan orang miskin. Ketidakberdayaan dapat

diukur melalui penyusunan indeks diferensiasi pendidikan, okupasial, dan

indeks kompetisi atau diferensiasi politik dan

5. Keterasingan (isolasi), di mana keluarga miskin umumnya tersisih dari

pusat kehidupan dan kemajuan. Hal ini dapat diukur melalui panjang jalan

yang dapat dilalui kendaraan roda empat sepanjang tahun per kilometer

persegi luas daerah, persentase rumah tangga yang memiliki radio, televisi,

dan berlangganan koran.

Keadilan Distribusi Pendapatan

Keadilan distribusi pendapatan pada dasarnya erat kaitannya dengan

keadilan sosial. Keduanya merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa

dipisah-pisahkan. Terciptanya keadilan sosial akan menjamin terwujudnya keadilan

distribusi pendapatan. Sebaliknya keadilan distribusi akan membawa pada

(16)

sekelompok orang. Dalam pasal 27 Undang-Undang Dasar 1945 dikatakan bahwa

setiap orang berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi

kemanusiaan. Ini berarti setiap orang berhak memperoleh aset-aset ekonomi

secara adil dan merata, sesuai dengan bakat, keahlian, dan ilmu pengetahuan yang

dimilikinya. Penguasaan atas sumber pendapatan oleh satu kelompok tertentu

bukan hanya bertentangan dengan UUD 1945, tetapi juga mengingkari semangat

persaudaraan, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Semangat persaudaraan bisa

luntur bila terjadi ketimpangan sosial. Sebagian kecil anggota masyarakat

menikmati kehidupan yang sejahtera, sementara sebagian besar lainnya tidak

mampu memenuhi kehidupan yang paling asasi sekalipun. Hal ini tentu akan

menimbulkan kecemburuan dan permusuhan sebagian besar masyarakat terhadap

segelintir elit ekonomi tersebut.

HasilpenelitianArtinidkk.(2001)menyebutkanbahwapendapatan

masyarakat di daerah pariwisata lebih besar dari di daerah non pariwisata, tetapi

distribusi pendapatan di daerah pariwisata lebih timpang dibanding di daerah non

(17)

III.TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1.Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan dan penelitian ini adalah membandingkan distribusi

pendapatan sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan

penduduk di daerah pariwisata dan daerah non pariwisata. Secara lebih terperinci

tujuan penelitian ini adalah untuk:

1. Mengetahui karakteristik penduduk dt daerah pariwisata dan non

pariwisata

2. Mengetahuibesarnyapendapatanpendudukdidaerahpariwisatadannon

pariwisata

3. Mengetahuidistribusipendapatanpendudukdidaerah pariwisatadannon

pariwisata

3.2.Sasaran dan Manfaat Penelitian

 Adapun sasaran dari penelitian ini adalah penduduk yang berada di

Kabupaten

BadungkhususnyayangberdomisilidiBadungUtarasebagaidaerahnan

pariwisata dan Badung Selatan sebagai daerah pariwisata.

 Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada pemerintah

yaitu sebagai bahan informasi dalam memantapkan/meningkatkan kualitas

(18)

yang diambil dalam upaya memeratakan dan sekaligus meningkatkan

kesejahteraan masyarakat.

 Penelitian ini juga dimaksudkan untuk mengupayakan terobosan atau

alternatif pemecahan masalah yang mungkin ada di daerah penelitian

 Sebagai input kepada pemerintah dalam menentukan kebijakan di masa

mendatang dalam mengurangi ketimpangan dalam pembagian pendapatan

(19)

IV.METODE PENELITIAN

4.1.Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Badung yaitu di wilayah Badung

Utara dan Badung Selatan. Pemilihan daerah ini didasarkan atas pertimbangan

bahwa kedua daerah tersebut berada dalam satu wilayah kabupaten dimana

wilayah Badung Utara merupakan daerah yang lokasinya jauh dari kota serta

merupakan daerah pertaniaan(daerah non pariwisata) dan Badung Selatan adalah

daerah yang berlokasi di pusat perkotaan yang sekaligus merupakan daerah

pariwisata. Wilayah Badung Utara yang dijadikan lokasi penelitian adalah

Kecamatan Abiansemal dan Kecamatan Petang, sedangkan wilayah Badung

Selatan adalah Kecamatan Kuta, Kuta Utara, dan Kuta Selatan.

4.2.Pengambilan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua penduduk yang berada di

kedua wilayah tersebut (Badung Utara dan Badung Selatan). Adapun banyaknya

sampel yang akan diambil dalam penelitian berjumlah 100 orang (50 orang

diambil di Badung Utara dan 50 orang di Badung Selatan. Dalam pengambilan

sampel dilakukan secara acak sederhana di mana setiap orang dalam populasi

mempunyai peluang yang sama untuk diambil.

4.3.Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah data primer dan data

(20)

yangmenjadi pokok penelitian dan data yang menunjang penelitian,baik itu data

kualitatif maupun data kuantitatif. Dalam mencari data primer dilakukan dengan

cara:

1. Dengan survey, dengan memakai kuesioner (daftar pertanyaan) yang

dipersiapkan sebelumnya seperti yang dikemukakan oleh Singarimbun (1982).

2. Dengan wawancara mendalam (indepth interview) terhadap responden/

informan tertentu. Wawancara mendalam ini dilakukan terhadap sejumlah

tokoh-tokoh masyarakat, seperti bendesa adat, kepala desa, dan tokoh

masyarakat lainnya yang dianggap tahu dan bisa memberikan informasi yang

akurat terhadap hal-hal yang ditanyakan. Wawancara mendalam dilakukan

menurut kategori profesi, status sosial dan kategori lainnya jika dipandang

perlu. Untuk wawancara mendalam

penelitimenggunakansuatupedomanwawancara (guided interview) untuk

memudahkanmelakukanwawancara,walaupundilapanganpertanyaan-pertanyaan terus berkembang).

3. Dengan observasi, yaitu suatu pengumpulan data dengan pengamatan

langsung di lapangan untuk menguji dan melengkapi data lainnya.Observasi

secara langsung mi sangat baik dilakukan terutama untuk melihat pola

hubungan sosial maupun

dalamkegiatankeagamaansehinggaakantampaktingkatkohesisosial masyarakat

(21)

Sedangkan data sekunder dicari dari dinas/instansi yang secara langsung

maupun tidak langsung berkaitan dengan masalah distribusi pendapatan

masyarakat serta dari hasil-hasil penelitian sebelumnya.

4.4. Analisis Data

Dalam penelitian ini data kuantitatif akan dianalisis secara tabulasi tanpa

memakai uji statistik, sedangkan data kualitatif akan dianalisis secara diskriptif

kualitatif yaitu dengan mendiskripsikan kemudian memberikan

penafsiran-penafsiran dengan interprestasi rasional yang memadai terhadap fakta-fakta yang

diperoleh dilapangan. Secara rinci analisis data dilakukan dengan cara sebagai

berikut:

1. Untuk mengetahui karakteristik penduduk dan besamya pendapatan penduduk

dilakukan analisis data secara diskriptif dan tabulasi

2. Untuk mengetahui distribusi pendapatan dipakai suatu indikator yang disebut

Gini Ratio (Sajogyo,1992) dengan formula:

• Fi = persentase kumulatif jumlah keluarga kelas ke-i

• Fi-1 = persentase kumulatif jumlah keluarga sebelum kelas ke-i

• Yi = persentase kumulatif jumlah pendapatan kelas ke-i

(22)

• k = jumlah kelas.

Gini Ratio merupakan bilangan yang besarnya berkisar antara 0 dan I

(0<GR<1). Dalam menentukan tingkat ketimpangan distribusi pendapatan

masyarakat dipakai kriteria yang di kemukakan oleh Tjiptoherijanto (1992), di

mana distribusi pendapatan dikatagorikankedalam ketimpangan berat,

(23)

V.HASIL DAN PEMBAIIASAN

5.1. Kondisi Fisik

Kabupaten Badung yang menjadi lokasi dalam penelitian ini secara

geografis terletakantara08°14’205> - 08°50’48’; LS dan 115°05’00”-

115°26’16”BT dengan luas wilayah 418,52 Km2

. Secara administratif Kabupaten

Badung terbagi atas enam kecamatan yaitu Kecamatan Kuta Selatan, Kuta, Kuta

Utara, Mengwi, Abiansemal, dan Petang. Penelitian ini dilakukan di wilayah

Badung Selatan (Kecamatan Kuta, Kuta Utara, dan Kuta Selatan) dan Badung

Utara (Kecamatan Abiansemal dan Petang). Adapun luas wilayah dan tataguna

(24)

Tabel 2. Luas wilayah dan tata guna tanah Kabupaten Badung

Penggunaan lahan Luas (Km”)

Sawah 104,13

Pekarangan rumah 90,76

Tegal/kebun 86,20

Tambak 0,01

Kolam/empang 0,26

Tanah sementara tidak diusahakan 1,64

Hutan rakyat 12,52

Hutan negara 14,90

Tanah perkebunan 66,22

Lainnya 41,88

Jumlah 418,52

Sumber: Badung dalam angka 2002

Dari tabel di atas terlihat bahwa wilayah Kabupaten Badung hanya 24,88%

merupakan sawah sedang 75,12% lainnya bukan sawah (pekarangan, tegal, hutan,

dan sebagainya).

Badung Selatan dengan luas wilayah 152,51Km2 terletak antara 08°38’44,2”

-08°46’58,7” LS dan 115°09’42,3” - 115°10’41,3”BT dengan batas-batas wilayah

(25)

sebelah Barat adalah Samudra Indonesia. Secara administratif Badung Selatan

terbagi atas 17 Desa/Kelurahan, sedang Badung Utara terdiri atas 24 Desa

Kelurahan. Badung Selatan (Kuta secara keseluruhan) adalah daerah obyek wisata

manca negara di Bali Hingga kini berkembang sangat pesat terutama dalam

bidang pariwisata dengan segala pendukungnya.

Kecamatan Abiansemal dengan luas wilayah 69,01 Km2 terletak diantara

08°26’59” - 08°36’10;’ LS dan 115°11’38” - 115°14’57”BT dengan batas wilayah

sebagai berikut: di sebelah Utara Kecamatan Petang, di sebelah Timur

KabupatemGianyar, di sebelah Selatan Kodya Denpasar, dan di sebelah Barat

Kecamatan Mengwi. Secara administratif Kecamatan Abiansemal terbagi atas 17

desa. Hampir sebagian besar wilayah Abiansemal adalah sawah (44,59%) sedang

54,41% lainnya untuk tegalan, pekarangan, perkebunan, kolam, dan sebagainya.

Sementara Kecamatan Petang dengan luas wilayah 115,00 Km2 terletak antara

08°14’17” - 08°28’25” LS dan 115°ir01” - 115°15’09”BT. Secara administratif

Kecamatan Petang terdiri atas 7 desa. Adapun batas-batas wilayah Kecamatan

Petang sebagai berikut: di sebelah Utara Kabupaten Buleleng, di sebelah Timur

Kabupaten Bangli dan Gianyar, di sebelah Selatan Kecamatan Abiansemal, dan di

Kabupaten Tabanan. Hampir sebagian besar wilayah Kecamatan Petang adalah

tegalan (42,43%) sedang 57,57% sisanya untuk sawah, hutan, dan sebagainya.

Sama halnya dengan pulau Bali yang beriklim tropis, Kabupaten Badung

mempunyai dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan

(26)

kemarau biasanya terjadi antara Bulan April sampai Oktober. Perbedaan curah

hujan dart bulan ke bulan cukup tinggi dibandingkan dengan keadaan normal.

Realisasi curah hujan di Kabupaten Badung tahun 2002 disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Realisasi dan keadaan normal curah hujan di Kabupaten Badung

No Bulan

Curah hujan (mm)

Realisasi Normal

1 Januari 326 392

2 Pebruari 406 315

3 Maret 73 203

4 April 36 112

5 Mei 10 79

6 Juni 0,2 67

7 Juli 5,6 57

8 Agustus 0,8 31

9 September 2,1 43

10 Oktober 0 98

11 November 95 177

12 Desember 210 280

(27)

5.2. Penduduk dan MataPencaharian

Besar kecilnya pertumbuhan penduduk di suatu daerah dipengaruhi oleh

besarnya angka kelahiran, kematian, dan migrasi penduduk. Jumlah penduduk

Kabupaten Badung pada tahun 2002 sebanyak 342.013 orang yang terdiri atas

171.166 orang laki-laki dan 170.847 orang perempuan dengan seks ratio 100,19

serta kepadatan penduduk 817 jiwa per kilometer persegi. Jumlah penduduk

Kabupaten Badung yang dirinci per kecamatan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Jumlah penduduk Kabupaten Badung dirinci per kecamatan

Kecamatan

Luas wilayah

(Km2)

(28)

Perkembangan penduduk Kabupaten Badung disajikan pada Tabel 5. Dari

tabel tersebut dapat dilihat bahwa penduduk Kabupaten Badung semakin

bertambah dalam delapan tahun terakhir. Hal ini disebabkan karena fertilitas

masyarakatmeningkat, mortalitas turun karena sarana dan prasarana kesehatan

sudah semakin canggih, kesadaran masyarakat akan sanitasi meningkat, dan

sebagainya.

Tabel 5. Perkembangan penduduk di Kabupaten Badung selama delapan tahun terakhir

Komposisi penduduk di Kabupaten Badung yang dirinci menurut

kelompok umur tertentu yaitu kelompok umur yang masih produktif (15-64) tahun

dan kelompok umur tidak produktif (di bawah 14 tahun dan di atas 64 tahun)

(29)

produktif yaitu kelompok umur 15 s.d 64 tahun. Hal mi terkait dengan mudah

tidaknya masyarakat menerima inovasi baru, tingkat mobilitas, motivasi kerja,

produktivitas, dan sebagainya.

Tabel 6. Komposisi penduduk di Kabupaten Badung (data sensus tahun 2000)

Klp. Umur (Thn) Jumlah Penduduk (orang)

<.14

15-64

> 64

80.036

248.298

17.529

Jumlah 345.863

Sumber: Badung dalam angka 2002.

Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia (terutama Kabupaten Badung)

merupakan tempat yang potensial untuk dituju oleh migran dari Iuar daerah.

Sektor pariwisata/jasa di kawasan ini mempunyai daya tarik yang cukup tinggi,

untuk menarik para migran yang ingin mengadu nasibnya. Di Kabupaten Badung

tersedia berbagai ragam lapangan pekerjaan dari tingkat yang terendah (tidak

memerlukan keterampilan khusus) sampai yang profesional. Hal ini memperkuat

pendapat berbagai kalangan yang menyebutkan pulau Bali sebagai gadis cantik

yang memikat yang dirindukan banyak orang namun si gadis tidak hanya dilirik

(30)

di Kabupaten Badung menurut lapangan pekerjaan tahun 2001, dan 2002 disajikan

pada Tabel 7.

Tabel 7. Distribusi penduduk Kabupaten Badung berdasarkan lapangan pekerjaan (hasil Susenas) tahun 2001 dan 2002

Jenis pekerjaan

Persentase tenaga kerja

Tahun 2001 Tahun 2002

Pertanian 14,71 17,58

Pertambangan dan penggalian 0,37 0,07

Industri 34,17 11,27

Listrik, gas, dan air 0,06 0,23

Bangunan 14,55 12,52

Dagang, hotel, dan restoran 29,93 35,52

Pengangkutan dan komunikasi 6,73 6,21

Keuangan dan asuransi 3,36 2,76

Jasa kemasyarakatan 16,22 13,61

Lainnya 0,00 0,24

Sumber: Badung dalam angka 2002.

Dalam label 7 di alas dapat dilihat bahwa sektor pertanian menyerap

(31)

bekerja di sektor pertanian tidak memerlukan keterampilan khusus; ditambah lagi

dengan adanya krisis moneter yang dimulai tahun 1997 menyebabkan tenaga kerja

yang kena PHK terpaksa mau tidak mau mereka kebanyakan sebagai petani.

Kalau dilihat dari kontribusi berbagai sektor terhadap PDRB ternyata

kontribusi dari sektor perdagangan, hotel, dan restoran memberi andil yang paling

tinggi yaitu 48,08% kemudian sektor angkutan dan komunikasi (22,30%)

sedangkan kontribusi dan sektor pertanian hanya 6,89%. Kontribusi dari berbagai

sektor lapangan pekerjaan di Kabupaten Badung terhadap PDRB disajikan dalam

Tabel 8.

Tabel 8. Kontribusi berbagai lapangan usaha terhadap PDRB Kabupaten Badung tahun 2001

Lapangan usaha Atas dasar harga berlaku (%)

Atas dasar harga konstanthn 1993 (%)

Pertanian 8,29 6,89

Pertambangan dan penggalian 0,23 0,23

Industri pengolahan 2,92 3.28

Listrik, gas, dan air 1,43 1,48

Bangunan 4,50 5,06

Dagang, hotel, dan restoran 42,22 48,08

Pengangkutan dan komunikasi 29,60 22,30

Keuangan dan asuransi 2,78 2.94

Jasa lainnya 8,03 9.74

(32)

5.3.Potensi Pertanian

Usahatani di Kabupaten Badung sebagian besar masih bersifat tradisional,

di mana tanah masih merupakan modal utama dalam proses produksi pertanian.

Di Kabupaten Badung ditanam berbagai jenis tanaman pangan, tanaman

perkebunan, serta terdapat berbagai jenis peternakan. Produksi dan produktivitas

tanaman pangan dan tanaman perkebunan di Kabupaten Badung disajikan dalam

Tabel 9.

Tabel 9. Luas areal. produksi dan produktivitas tanaman pangan dan

tanaman perkebunan di Kabupaten Badung

(33)

Dalam Tabel 9 dapat dilihat bahwa produktivitas tanaman perkebunan

masih rendah, karena masyarakat lebih cendrung mengusahakan tanaman pangan.

Di Kabupaten Badung disamping dihasilkan tanaman pangan dan perkebunan,

masyarakat juga mempunyai penghasilan tambahan dari ternak. Ternak yang

paling diminati oleh masyarakat setempat adalah babi, ayam buras, dan ayam

pedaging. Populasi ternak di Kabupaten Badung disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10. Populasi ternak di Kabupaten Badung tahun 2000, 2001, 2002

Jenis ternak

Populasi (ekor)

1998 1999 2000 2001 2002

Sapi potong 46.960 45.114 44.403 39.262 40.302

Kambing 2.181 1.505 1.655 918 421

Babi 187.460 175.998 167.614 149.893 90.986

A. buras 986.597 993.957 912.915 826.710 422.345

A.pedaging 233.877 243.030 232.512 234.805 211.832

A.petelur 30.847 30.447 29.569 23.071 44.911

Itik 92.678 89.569 85.105 87.134 77.555

Sumber: Badung Dalam Angka 2002,

DalamTabel 10 dapat dilihat bahwa dalam lima tahun terakhir

perkembangan ternak secara keseluruhan cenderung menurun. Hal ini disebabkan

oleh karena adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan serta adanya

(34)

alasan spiritual maupun alasan kesehatan. Ternak sapi, babi, ayam buras, kambing

dan itik sangat akrab dipelihara oleh masyarakat karena sangat mudah diuangkan

dan juga dibutuhkan oleh masyarakat untuk kepentingan upacara.

Disamping peternakan, perikanan juga merupakan mata pencaharian

beberapa penduduk di Kabupaten Badung. Produksi perikanan ini diharapkan

mampu untukmeningkatkan status gizimasyarakat.Produksiperikanan

diKabupaten Badung disajikan padaTabel 11

(35)

Dari Tabel 11dapat dilihat bahwa pada nilai perikanan cendrung

meningkat dari tahun ketahun.Hal ini karena masyarakat cendrung untuk

mengkonsumsi ikan sebagai sumber protein hewani.

5.4. Sosial Ekonomi

Pendidikan merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat

kesejahteraan masyarakat. Tinggi rendahnya tingkat pendidikan masyarakat

mencerminkan tingkat intelektual suatu bangsa atau negara. Sejauh mana

pendidikan telah tercapai, kemampuan penduduk membaca dan menulis,

kemampuan penduduk berbahasa Indonesia sangat penting mendapat perhatian

dalam pembangunankhususnya dalam upaya mencerdaskan bangsa. Untuk itu

penyediaan sarana dan prasarana pendidikan mutlak diperlukan. Untuk menunjang

pembangunan di bidang pendidikan, perlu didukung oleh sarana dan prasarana

pendidikan yang memadai. Di bawah ini disajikan sejumlah sarana dan prasarana

pendidikan yang ada di Kabupaten Badung Tabel 12)

Tabel 12. Jumlah sekolah, murid, dan guru di Kabupaten Badung

Jenis sekolah Jumlah sekolah Jumlah murid Jumlah guru

TK 127 8.917 427

SD 250 2.540 2.354

SLIP 40 5.430 1.252

SLTA 29 11.097 1.006

(36)

Dari Tabel 12 dapat dilihat bahwa jumlah Sekolah Dasar paling banyak

dibandingkan dengan yang lainnya. Demikian pula halnya dengan guru, jumlah

guru di sekolah Dasar paling banyak. Kalau dilihat dari jumlah murid, ternyata

murid yang berpendidikan SMA yang terbanyak. Ini berarti bahwa kesadaran

masyarakat akan pentingnya pendidikan semakin meningkat.

Di samping pendidikan, kesehatan masyarakat juga perlu mendapat

perhatian dalam upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Manusia di

samping sebagai obyek juga sekaligus subyek dalam pembangunan, di mana

manusia sebagai perencana, pelaksana, dan pengevaluasi program pembangunan

yang ada. Di Bawah ini disajikan sarana/prasarana kesehatan yang ada di

Kabupaten Badung (Tabel 13).

Tabel 13.Sarana/prasarana kesehatan di Kabupaten Badung

Nomor Sarana/prasana kesehatan Jumlah

1 Rumah sakit 2

2 Puskesmas 1 1

3 Puskesmas pembantu 41

4 Apotik 56

5 Klinik KB 53

Sumber: Badung dalam angka 2002

Dari Tabel 13 dapat dilihat bahwa sarana kesehatan di Kabupaten Badung

(37)

sehingga semua fasilitas kesehatan tersedia dalam jumlah yang memadai, di

samping karena jumlah penduduk Kabupaten Badung cukup tinggi.

Kehidupan masyarakat di Kabupaten Badung dihiasi dengan

keanekaragaman, baik dalam bidang sosial politik, sosial agama/budaya, maupun

sosial ekonomi. Komposisi penduduk Kabupaten Badung dilihat dari segi agama

yang dianut disajikan dalam Tabel 14.

Tabel 14. Komposisi penduduk Kabupaten Badung dirinci menurut agama yang dianut

Agama Jumlah Persen

Hindu 325.467 95,16

Islam 8.916 2,61

Katolik 2.809 0,82

Kristen 4.149 1,21

Buda 672 0,20

Jumlah 342.013 100,00

Sumber: Badung dalam angka 2002

Di Bali, khususnya Kabupaten Badung yang menganut agama Hindu

masih mayoritas (95,16%) sedangkan 4,84% lainnya adalah masyarakat non

Hindu. Agar setiap umat beragama dapat melakukan ibadah sesuai dengan

agama/kepercayaan masing-masing, di Kabupaten badung telah ada sejumlah

tempat peribadatan yang berupa 2.755 buah pura, 12 buah mesjid, 11 buah

(38)

5.5.Karakteristik Responden

5.5.1. Umur

Dari 100 orang kepala keluarga yang diambil sebagai responden semua

berjenis kelamin laki-laki. Rata-rata umur kepala keluarga responden di daerah

pertanian (Badung Utara) 45, 52 tahun dengan kisaran 27 s.d 70 tahun) dan

rata-rata umur kepala keluarga di daerah pariwisata (Badung Selatan) 47,72 tahun

(dengan kisaran 27 s.d 63 tahun).

Dilihat dari rata-rata umur kepala rumah tangga, ternyata masih tergolong

usia produktif. Penduduk yang tergolong produktif mempunyai sifat respon

terhadap suatu inovasi, dan masih produktif untuk melakukan kegiatan. Sampai

pada umur tertentu, semakin tua umur, semakin meningkat kekuatan fisik dan

pada tingkatan umur tertentu semakin tua umur, kekuatan fisik menurun, yang

berarti produktivitasnya menurun.

Sebaliknya, apabila umur dikaitkan dengan pengalaman, maka semakin

tua umur semakin banyak pengalaman yang diperoleh. Karena pengalaman juga

rnenunjukkan produktivitas, sehingga dengan meningkatnya umur maka

(39)

5.5.2.Pendidikan

Tingkat pendidikan penduduk suatu masyarakat merupakan faktor penting

untuk melihat mutu sumber daya manusia. Tingkat pendidikan dapat menentukan

kemajuan pembangunan suatu masyarakat, karena pendidikan dapat

mempengaruhi tingkat pengetahuan dan keterampilan penduduk. Dalam

pembangunan pertanian,pendidikan merupakanfaktor pelancar tingkat pendidikan

formal kepala rumah tangga penduduk di Badung Utara dan Badung Selatan

berturut-turut 9,4 tahun dan 7,2 tahun atau dengan kata lain tingkat pendidikannya

masih rendah

Pendidikan merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat

kesejahteraan penduduk suatu daerah (BPS, 1998). Tingkat pendidikan yang

rendah akan mempersulit untuk mendapat pekerjaan di luar sektor pertanian serta

mempersulit difusi suatu inovasi pada rnasyarakat. Hariandja (1979)

mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan salah satu sumber kemiskinan

selain kurangnya tanah sebagai sumber penghasilandan jumlah anggota yang

besar.

5.5.3. Penguasaan Lahan

Besar kecilnya pendapatan masyarakat terutama petani) tergantung dari

luas penguasaan lahannya., kesuburan lahan, jenis lahan, jenis komoditi yang

diusahakan, serta tingkat penerapan teknologi. Rata-rata luas penguasaan lahan

(40)

sedangkan luas pemilikannya ternyata lebih besar dibandingkan dengan luas

penguasaannya yaitu 50.87 dan 48,61 are. Baik penguasaan maupun pemilikan

tanah penduduk di Badung Utara lebih besar dan di Backing Selatan. Hal ini

disebabkan karena Badung Utara merupakan daerah pertanian sementara Badung

Selatan adalah daerah pariwisata. Untuk menentukan luas tanah yang ideal bagi

seseorang (terutama petani) tidakmudah, karena hal ini tergantung dari banyak

faktor seperti kemampuan lahan untuk berproduksi, topografi, jenis tanah,

penggunaan lahan, serta jauh tidaknya letak lahan dari pasar. Baik di Badung

Utara maupun di Badung Selatan penguasaannya tanahnya lebih rendah dan

rata-rata penguasaan lahan rumah tangga di Bah. Dari sensuspertanian 1993 dilaporkan

rata-rata luas penguasaan lahan rumah tangga petani di Bali 72 are(Sensus

Pertanian, 1993).

Singarimbun dan Penny (1976, dalam Sudana, 1984) menyatakan bahwa,

suatu rumah tangga petani untuk dapat hidup dengan cukupan paling sedikit harus

memiliki 70 are sawah dan 30 are tegalan atau pekarangan. Sedangkan menurut

Direktorat Jendral Transmigrasi (dalam Raharjo, 1979), dikatakan suatu rumah

tangga untuk dapat hidup secara layak harus memiliki tanah minimal 200 are (2

hektar), yang terdiri atas satu hektar sawah, 0,75 hektar tegalan, dan 0,25 hektar

pekarangan. Kalau mengikuti pendapat tersebut dan terutama di Badung Selatan

sebagian besar lahan pertanian telah beralih fungsi ke non pertanian, serta tanah

banyak yang merupakan tanah kapur, maka kesimpulan untuk menyatakan

(41)

Penguasaan dan pemilikan lahan erat kaitannya dengan status penguasaan

lahan. Sebagai akibat terjadinya perubahan dalam status penguasaan lahan. maka

rata-rata luas pemilikan berbeda dengan luas lahan garapan pertanian rumah

tangga. Luas pemilikan berarti luas milik yang digarap ditambah dengan luas

milik yang tidak digarap (disakapkan, disewakan dan sebagainya), sedangkan luas

garapan berarti luas lahan yang disakap ditambah luas milik yang digarap (tidak

termasuk luas milik yang digarap orang lain). Di daerah penelitian pemilikan lebih

luas dari penguasaan lahan, ini berarti ada sebagian tanah miliknya yang

dikerjakan orang lain (disakapkan, disewakan, dan sebagainya).

5.6.Pendapatan

Pendapatan merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat

kemakmuran dan atau kesejahteraan sesorang atau masyarakat, sehingga

pendapatan mencerminkan kemajuan ckonomi suatu masyarakat. Tujuan pokok

dan pembangunan nasional adalah meningkatkanpendapatan, masyarakat, ini

berarti bahwa pendapatan masyarakat dapat dipakai untuk melihat keberhasilan

pembangunan ekonomi. Keberhasilan ini dapat dilihat dari tiga aspek yaitu

besarnya, pertumbuhan dan distribusinya. Untuk mengkaji pendapatan dalam

penelitian ini dilakukan dengan dua (dua) pendekatan yaitu:

1. Pendekatan produksi (production approach), yaitu dengan menghitung

sernua nilai produksi barang dan jasa yang dapat dihasilkan dalam suatu

(42)

2. Pendekatan pendapatan (income approach) yaitu dengan menghitung

sernua nilai keseluruhan balas jasa yang dapat diterima oleh pemilik faktor

produksi dalam suatu periode tertentu.

Dalam tulisan ini pendapatan yang dicari adalah pendapatan yang berasal

dariusahatanidan non usahatani. Pendapatan dari usahatanidihitung berdasarkan

jumlah produksi yang dihasilkan dikalikan dengan harga per unit produksi yang

berlaku di daerah penelitian kemudian dikurangi dengan biaya-biaya riil yang

dikeluarkan selama proses produksi. Sedangkan pendapatan dari luar pertanian

dihitung berdasarkan hasil riil yang diterima sebagai imbalan tenaga kerja yang

dicurahkan di tempat mereka bekerja.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan yang intensif

berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat. Pembangunan yang intensif

berarti terjadi penanaman modal (investasi) yang intensif.

Dari hasil penelitian diperoleh, pendapatan rumah tangga penduduk di

Badung. Utara (sebagai daerah pertanian) sebesar Rp. 22.766.192,12 dan Badung

Selatan (sebagai daerah pariwisata) Rp. 22.172.715,15. Dengan membagi

pendapatan rumah tangga dengan jumlah anggota rumah tangga, maka diperoleh

pendapatan per kapita sebesar Rp. 3,871.801,38./tahun di wilayah Badung Utara

dan Rp.5.472,329/tahun di wilayah Badung Selatan. Dengan memakai uji statistik

(t.test), ternyata secara statistik pendapatan masyarakat di wilayah Dadung Utara

sangat berbeda nyata dengan pendapatan masyarakat di wilayah Badung Selatan

(43)

Besarnya pendapatan masyarakat di wilavah Badung Selatan ini karena

Badung Selatan merupakan pusat pariwisata sehingga perekonomian

masyarakatnya lebih baik dibanding dengan masyarakat, di Badung Utara.

Bila dibandingkandengan Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB)

Kabupaten Badung tahun 2001, ternyata baik pendapatan masyarakat di wilayah

Badung Utara maupun Badung Selatan lebih kecil. di mana PDRB perkapita

berdasarkan alas harga konsyan 1993 sebesar Rp 5,591 .260,67 (BPS, 2002).

5.7.Distribusi Pendapatan

Di samping besarnya pendapatan, distribusi pendapatan yang merupakan

salah satu bagian dan Trilogi Pembangunan merupakan komponen yang tidak bisa

diabaikan dalam pembangunan Distribusi pendapatan merupakan salah satu

indikator untuk menentukan/mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat.

Pembagian pendapatan yang tidak merata tidak saja mengganggu stabilitas

ekonomi, tetapi juga sosial, budaya, dan politik (Pareto dkk., dalam Hasibuan,

1993).

Salah satu sebab terjadinya tingkat kesenjangan pembagian pendapatan di

negara-negara sedang berkembang adalah keadaan struktur kegiatan ekonomi

yang senjang misalnya di sektor pertanian terdapat tenaga kerja setengah

menganggur yang tinggi dan tingkat pendapatan pekerja yang relatif rendah.

sedangkan di pihak lain sektor manufaktur dengan teknologi yang relatif modern

(44)

Sektor pertanian adalah sektor yang menampung sebagian besar tenaga

kerja dengan tingkat produktivitas yang rendah, sektor mi kebanyakan bersifat

tradisional dengan tingkat pendidikan tenaga kerja yang relatif tertinggal, Banyak

para ahli yang meneliti tentang kesenjangan pembagian pendapatan personal pada

sektor pertanian. Dari tulisan tersebut diperoleh bahwa beberapa variabel yang

berkaitan dengan kesenjangan pembagian pendapatan yaitu luas tanah,

kesempatan kerja, kesempatan dalam memperoleh irigasi, status pemilikan tanah,

dan tingkat pertumbuhan (Hasibuan, 1993). Sedangkan Bellante dan Jakson

(1990) menyebutkan sumber ketidaksamaan pendapatan adalah perbedaan dalam

human capital yang pada akhimya membawa perbedaan dalam penghasilan. Lebih

lanjut disebutkan bahwa perbedaanitukarenaperbedaan citarasa dan preferensi

seseorang,kesediaan menggantikan pekerjaan dengan waktu untuk leisure, jenis

serta jumlah pekerjaan, dan motivasi.

Untuk mengukur keberhasilan pembangunan, hendaknya tidak hanya

diukur dengan besarnya pendapatan tetapi juga dilihat dari bagaimana penyebaran

pendapatan tersebut di masyarakat. Distribusi pendapatan merupakan suatu

konsep yang empiris untuk menentukan atau menilai bagaimana pendapatan total

populasi itu terbagi diantara satuan-satuan yang menerima pendapatan (Soejono,

1978). Berdasarkan pengertian tersebut, maka yang dimaksud dengan distribusi

pendapatan dalam tulisan ini adalah suatu keadaan yang menunjukkan bagaimana

penyebaran total pendapatan diantara penerima pendapatan di Badung Utara dan

(45)

Dari hasil perhitungan dengan formula Gini Ratio diperoleh bahwa

distribusi pendapatan per kapita per tahun untuk wilayah Badung Utara dan

Badung Selatan tergolong dalam ketimpangan sedang dengan Gini Ratio sebesar

0,62 dan 0,65.dan

Gini Ratio di negara-negara sedang berkembang rata-rata 0,467 sedangkan

untuk negara-negara maju 0,392 (Irawan dan Suparmoko, 1992). Ini berarti

tingkat kesejahteraan penduduk di wilayah Badung Utara maupun Badung Selatan

masih perlu mendapat perhatian dan berbagai pihak.

Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Artini (1996) di

Kecamatan Abang di mana distribusi pendapatan petani di Kecamatan Abang

tergolong dalam ketimpangan ringan dengan Gini Ratio sebesar 0,229. Dari hasil

penelitian Artinidkk, (2001) sebelumnya menunjukkan bahwa Gini Ratio

pendapatan masyarakat Di Badung Utara dan Badung Selatan sebesar 0,64 dan

0,73. Ini berarti setelah meledaknya Bom Bali tahun 2002 pendapatan masyarakat

di Daerah penelitian mengalami penurunan yang signifikan. Penurunan

pendapatan ini sekaligus menurunkan angka Gini (perbaikan penyebaran

(46)

VI.KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Dari uraian sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan:

1. Masyarakat di Badung Utara (daerah non pariwisata) mempunyai

karakteristik antara lain: rata-rata pendidikan formal 9,4 tahun; luas

penguasaan tanah 33.39 are dan pemilikan tanah 50,87 are. Sementara

masyarakat di Badung Selatan (daerah pariwisata) rata-rata pendidikannya

7,2 tahun, luas penguasaan tanah 24,38 are serta luas pemilikan tanah

sebesar 48,61 are.

2. Pendapatan penduduk Badung Utara (daerah non pariwisata) dan

pendapatan penduduk di Badung Selatan (daerah pariwisata)

masing-masing Rp 3.871.801,38 dan Rp 5.472.329,47 per kapita per tahun.

3. Distribusi pendapatan per kapila per tahun masyarakat di Badung Utara

(daerah non pariwisata) dan masyarakat di Badung Selatan (daerah

pariwisata) Tergolong dalam ketimpangan sedang dengan indek Gini

(47)

6.2 Saran

1. Perlu ada upaya peningkatan pendapatan masyarakat baik di daerah non

pariwisata maupun di daerah pariwisata.

2. Perlu adanya upaya-upaya untuk mengurangi ketimpangan pendapatan

masyarakat agar tidak menimbulkan gejolak sosial. Hal ini dapat dicapai

bila pemerintah menciptakan iklim yang berpihak kepada golongan

(48)

DAFTAR PUSTAKA

Artini, Ni Wayan Putu (1996). Analisis Rumah Tangga Petani di Desa Miskin dan Tidak Miskin, Thesis Pasca Sarjana universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Artini, Ni Wayan Putu, I gdePItana, Ni Wayan Sri Astiti, dan I WayanWidyantara (2001). Tingkat kesejahteraan penduduk di Badung Utara dan Badung Selatan, Kerjasama Pusat Penelitian Kepariwisataan dan Kebudayaan dengan Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Denpasar

Badan Pusat Statisitk (2002). Badung Dalam Angka 2002. Bappeda Kabupaten Badung.

Bellante, D. dan Mark Jakson (1990). Ekonomi Ketenagakerjaan, terjemahan Wimanjaya K. Liotohe dan M. Yasin Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Halide (1979). Pemanfaatan Waktu Luang Rumah Tangga Petani di Daerah Aliran Sungai Jeneberang, Disertai Doktor Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Hasibuan, Nurimansyah (1993). Pemerataan dan Pembangunan Ekonomi, Universitas Sri Wijaya, Palembang.

Nasikun (1992). Indek Kualitas Hidup Fisik : Makna dan LImitasinya. Kumpulan Makalah Membangun Martabat Manusia, Gajah Mada Universitas Press.

Pitana, I Gde (1999). Pelangi Pariwisata Bali, Kajian Aspek Sosial Budaya Kepariwisataan Bali di Penghujung Abad, BP, Denpasar.

Santyosa (1974). Penyebaran Industri di Daerah Pedesaan, Warta Pertanian NO. 31 Tahun IV, Departemen Pertanian Jakarta.

Singarimbun, Masri dan Tri Handayani (1982). Pembuatan Kuesioner, Metode Penelitian Survey, LP3ES, Jakarta.

(49)

Sudana, I Wayan (1984). Tingkat Kemiskinan Keluarga Petani di Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Skripsi Sarjana Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Universitas Udayana, Denpasar.

Figur

Tabel 1. Sumber dan besar investasi di Kabupaten Badung
Tabel 1 Sumber dan besar investasi di Kabupaten Badung . View in document p.10
Tabel 2. Luas wilayah dan tata guna tanah Kabupaten Badung
Tabel 2 Luas wilayah dan tata guna tanah Kabupaten Badung . View in document p.24
Tabel 3. Realisasi dan keadaan normal curah hujan di Kabupaten Badung
Tabel 3 Realisasi dan keadaan normal curah hujan di Kabupaten Badung . View in document p.26
Tabel 4. Jumlah penduduk Kabupaten Badung dirinci per kecamatan
Tabel 4 Jumlah penduduk Kabupaten Badung dirinci per kecamatan . View in document p.27
Tabel 5.  Perkembangan penduduk di Kabupaten Badung selama delapan tahun terakhir
Tabel 5 Perkembangan penduduk di Kabupaten Badung selama delapan tahun terakhir . View in document p.28
Tabel 6. Komposisi penduduk di Kabupaten Badung (data sensus tahun 2000)
Tabel 6 Komposisi penduduk di Kabupaten Badung data sensus tahun 2000 . View in document p.29
Tabel 7.  Distribusi penduduk Kabupaten Badung berdasarkan lapangan pekerjaan (hasil Susenas) tahun 2001 dan 2002
Tabel 7 Distribusi penduduk Kabupaten Badung berdasarkan lapangan pekerjaan hasil Susenas tahun 2001 dan 2002 . View in document p.30
Tabel 8. Kontribusi berbagai lapangan usaha terhadap PDRB Kabupaten Badung tahun 2001
Tabel 8 Kontribusi berbagai lapangan usaha terhadap PDRB Kabupaten Badung tahun 2001 . View in document p.31
Tabel 9.  Luas areal. produksi dan produktivitas tanaman pangan dan
Tabel 9 Luas areal produksi dan produktivitas tanaman pangan dan . View in document p.32
Tabel 10. Populasi ternak di Kabupaten Badung tahun 2000, 2001, 2002
Tabel 10 Populasi ternak di Kabupaten Badung tahun 2000 2001 2002 . View in document p.33
Tabel 11.  Luas pemeliharaan, produksi, dan nilai perikanandi Kabupaten Badung tahun 1998 s.d 2002
Tabel 11 Luas pemeliharaan produksi dan nilai perikanandi Kabupaten Badung tahun 1998 s d 2002 . View in document p.34
Tabel 12. Jumlah sekolah, murid, dan guru di Kabupaten Badung
Tabel 12 Jumlah sekolah murid dan guru di Kabupaten Badung . View in document p.35
Tabel 13.Sarana/prasarana kesehatan di Kabupaten Badung
Tabel 13 Sarana prasarana kesehatan di Kabupaten Badung . View in document p.36
Tabel 14.  Komposisi penduduk Kabupaten Badung dirinci menurut agama yang dianut
Tabel 14 Komposisi penduduk Kabupaten Badung dirinci menurut agama yang dianut . View in document p.37

Referensi

Memperbarui...