• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN PENELITIAN PENGEMBANGAN PERGURUAN TINGGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL PENELITIAN PENELITIAN PENGEMBANGAN PERGURUAN TINGGI"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL PENELITIAN

PENELITIAN PENGEMBANGAN PERGURUAN TINGGI

PEMANFAATAN REPOSITORI INSTITUSI SEBAGAI SUMBER BELAJAR DIGITAL DALAM LEARNING MANAGEMENT SYSTEM PADA

PERGURUAN TINGGI ISLAM NEGERI DI SULAWESI SELATAN

Oleh

Prof. Dr. Muhammad Yaumi, M. Hum., M.A.

Nur Aliyah Nur, M.Pd.

PASCASARJANA UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2021

(2)

ii

Daftar Isi

Daftar Isi ... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN TEORETIS ... 5

A. Pemanfaatan Repositori Institusi ... 5

B. Sumber Belajar Digital ... 7

C. Learning Management System ... 8

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 10

A. Jenis dan Lokasi Penelitian 10

B. Metode Pengumpulan Data 11

C. Teknik Pengolahan dan Analisis Data 11

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 13

A. Pola Pengembangan Repositori Institusi ... 13

1. Latar Belakang Pengembangan Repositori UINAM ... 13

2. Desain dan Pengembangan Repositori Institusi ... 17

3. Evaluasi Repositori Institusi ... 24

B. Pemanfaatan Sumber Belajar Digital Berbasis Repositori Institusi dalam Learning Management System ... 28

1. Penyimpanan Sumber Belajar Digital ... 28

2. Penerapan Aktivitas Pembelajaran... 34

BAB V PENUTUP ... 46

A. Kesimpulan ... 46

B. Implikasi Penelitian ... 47

Referensi ... 49

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 53

LAMPIRAN 2 ... 55

(3)
(4)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penggunaan perpustakaan digital berbasis sistem database repositori institusi (RI) untuk menunjang kemudahan belajar di perguruan tinggi berkembang sangat pesat beberapa tahun terakhir ini.

1

RI bukan hanya berkontribusi positif dalam memberi kemudahan akses sumber bagi mahasiswa,

2

melainkan juga telah memberi sumbangan besar dalam perbaikan informasi visual digital, audio, video, dan multimedia,

3

yang tentu saja dibutuhkan dalam pelaksanaan pembelajaran saat ini.

Bahkan, pengembangan dan pemanfaatan RI telah menjadi topik penelitian yang sangat menarik bagi banyak peneliti, pengembang, dan pengguna termasuk ilmuan dari berbagai bidang keahlian.

4

Begitu pula dengan pengembangan Learning Management System (LMS) telah menjadi solusi perbaikan kualitas pendidikan tinggi khususnya di masa Pandemi Covid-19

5

hingga pada era new normal.

6

Eksistensi repositori dan LMS di Indonesia telah dikembangkan oleh banyak perguruan tinggi, bahkan semakin lama cenderung meningkat dalam pengaplikasiannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 70 RI Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia memiliki akses terbuka (Open Access) dan terdaftar pada

1 Radovan Vrana, ‘Digital Repositories and Possibilities of Their Integration into Higher Education’, International Journal of Emerging Technologies in Learning (IJET), 5.2010 (2010).

2 B Van Wyk and Adeline S A Du Toit, ‘A Survey of Sustainable Curation in Research Repositories of Higher Education Institutions in Southern Africa’, 2016.

3 Dio Eka Prayitno Munawaroh and Dioeka Prayitno, ‘Digital Library and Institutional Repository for Supporting Information Literacy’, Arabic Alphabet Retrieval System for OPAC Using Digital Tree Method Maisyahtus Su’adaa Irfana, Moch Yasin 1-5 Big Data, Data Analyst, and Improving the Competence of Librarian Albertus Pramukti Narendra 6-11 Challenges and Strategies to Develop a Positive, 2015, 37.

4 Fatemeh Lagzian, Abdullah Abrizah, and Mee Chin Wee, ‘Critical Success Factors for Institutional Repositories Implementation’, The Electronic Library, 33.2 (2015), 196–209.

5 Syed A. Raza and others, ‘Social Isolation and Acceptance of the Learning Management System (LMS) in the Time of COVID-19 Pandemic: An Expansion of the UTAUT Model’, Journal of Educational Computing Research, 2020 <https://doi.org/10.1177/0735633120960421>.

6 I Komang Mertayasa and G A Kristha Adelia Indraningsih, ‘Effective Learning Approach In New Normal Era’, Jayapangus Press Books, 2020, 175–99

<http://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/JPB/article/download/472/467>.

(5)

Directory of Open Access Repositories (DOAR).

7

Saat ini, hampir seluruh perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia telah mengembangkan berbagai bentuk repositori dengan aplikasi yang beragam tergantung dari kompleksitas di perguruan tinggi tersebut.

8

Salah satunya adalah repositori institusi UIN Alauddin Makassar, yang menggunakan aplikasi Eprints untuk menyimpan arsip seperti makalah, artikel jurnal, skrepsi, tesis, dan disertasi, buku, dokumen hasil penelitian, gambar, video dan audio secara digital.

9

Namun demikian, pemanfaatan RI sebagai sumber belajar digital dalam mengembangkan pembelajaran belum banyak dikembangkan secara sistematis.

Padahal peranannya dapat digunakan sebagai informasi mata kuliah materi pembelajaran, pendataan mahasiswa, sumber informasi akademik mahasiswa.

10

Itulah sebabnya, Rieh dan Smith

11

merekomendasikan perguruan tinggi harus memiliki RI yang menampung berbagai hasil karya para dosen dan mahasiswa sehingga materi pembelajaran dapat diarahkan pada konten yang berbasis pada hasil-hasil riset dan produk-produk teknologi tepat guna yang disimpan secara digital dalam repositori.

12

Selain itu, diperlukan upaya maksimal untuk menyelaraskan sistem repositori dengan LMS agar dapat memberikan dampak pada peningkatan sitasi pada perguruan tinggi.

Bahkan pengembangan RI tidak boleh terpisah dengan tujuan dan sasaran pendidikan secara keseluruhan, walaupun terdapat berbagai pandangan yang saling bertentangan antara mereka yang mendukung dan tidak mendukung pengembangan repositori.

Bagi sebagian ilmuan dan praktisi pendidikan berpandangan bahwa kegiatan repositori berdampak buruk bagi tumbuhnya praktik-praktik penyalahgunaan (plagiasi) hasil karya para ilmuan. Tetapi, di sisi lain berpandangan bahwa justru dengan mengembangkan sistem database repositori akan memudahkan bagi pengguna

7 Asmad et al., (2018)

8 Ilham Arnomo, ‘Perbandingan Perangkat Lunak Repository Institusi: Studi Kasus Pada Repository Institusi Di Indonesia’, INFORM: Jurnal Ilmiah Bidang Teknologi Informasi Dan Komunikasi, 3.1 (2018), 52–56.

9 Asmad and others.

10 Farhana Sarker, Hugh Davis, and Thanassis Tiropanis, ‘The Role of Institutional Repositories in Addressing Higher Education Challenges’, 2010.

11 Rieh & Smith, (2009).

12 Priscilla Laws, David Sokoloff, and Ronald Thornton, ‘Promoting Active Learning Using the Results of Physics Education Research’, UniServe Science News, 13 (1999), 14–19.

(6)

3

untuk melacak berbagai kesamaan (similarity) atau plagiasi yang dilakukan oleh sebagian pengguna. Lagzian dkk.,

13

menyarankan sembilan faktor penting untuk dibenahi jika ingin melanjutkan projek repositori, yakni membuat kebijakan yang mengatur sistem repositori, kegiatan mengadvokasi pengguna, kebijakan hak cipta, jenis konten yang direpositori, dukungan staff, kontrol kualitas, aplikasi yang menunjang kegiatan repositori, dan budaya organisasi dalam memanfaatkan repositori. Begitu pula dengan pemanfaatan sumber belajar berbasis repositori sangat berguna bagi peningkatan aksesibilitas dan sumber belajar yang memungkinkan untuk dihubungkan dengan LMS.

14

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan berbagai uraian dalam latar belakang masalah, maka rumusan masalah pokok penelitian ini dapat diformulasikan seperti “bagaimana pemanfaatan repositori institusi sebagai penguatan sumber belajar digital dalam learning management system di perguruan tinggi Islam negeri di sulawesi selatan?” Dari rumusan masalah pokok tersebut, beberapa pertanyaan penelitian dapat diformulasi sebagai berikut:

1. Bagaimana pola pengembangan repositori institusi sebagai sumber belajar digital dalam learning management system pada perguruan tinggi Islam negeri di Sulawesi Selatan?

2. Bagaimana pemanfaatan sumber belajar digital berbasis repositori institusi dalam learning management system pada perguruan tinggi Islam negeri di Sulawesi Selatan?

3. Bagaimana efektivitas pemanfaatan sumber belajar digital berbasis repositori institusi dalam learning management system pada perguruan tinggi Islam negeri di Sulawesi Selatan?

13 Lagzian et al. (2015)

14 Ayidh Alanazi, Maysam Abbod, and Abrar Ullah, ‘Intelligent E-Learning Repository System for Sharing Learning Resources’, in 2014 International Conference on Web and Open Access to Learning (ICWOAL) (IEEE, 2014), pp. 1–5.

(7)

C. Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan penelitian ini untuk menganalisis pemanfaatan RI sebagai sumber belajar digital yang menunjang LMS dan menjadi landasan dalam pengembangan kebijakan perguruan tinggi Islam negeri di sulawesi selatan. Tujuan umum ini dijabarkan dalam tiga aspek utama, yaitu pola pengembangan repositori institusi, pemanfaatan sumber belajar digital berbasis repositori institusi, dan efektivitas pemanfaatan sumber belajar digital berbasis institusi yang menunjang learning management system ditinjau dari persepsi dosen dan mahasiswa, selengkapnya diuraikan sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi pola pengembangan repositori institusi sebagai sumber belajar digital dalam learning management system pada perguruan tinggi Islam negeri di Sulawesi Selatan.

2. Menganalisis pemanfaatan sumber belajar digital berbasis repositori institusi dalam learning management system pada perguruan tinggi Islam negeri di Sulawesi Selatan.

3.

Menemukan efektivitas pemanfaatan sumber belajar digital berbasis repositori

institusi dalam learning management system pada perguruan tinggi Islam negeri

di Sulawesi Selatan.

(8)

5

BAB II

TINJAUAN TEORETIS

Kajian ini dilandasi oleh teori-teori besar (grand theory) yang menjadi dasar kajian repositori institusi, pengelolaan sumber belajar digital, maupun yang berkenaan dengan learning management system sebagai medium pembelajaran blended dan online. Teori-teori yang dimaksud adalah teori konstruksi sosial tentang teknologi oleh Bijker,

15

teori connectionism oleh Siemens,

16

dan online collaborative learning theory, seperti yang dikembangkan oleh Robert

17

yang memadukan pendekatan konstruktivis dan pengembangan Internet yang kemudian disebut dengan computer-mediated communication.

18

Namun sebelum membahas teori tersebut, terlebih dahulu membahas secara umum tentang pemanfaatan repositori institusi, sumber belajar digital, dan learning management system sebagai acuan dan kerangka konseptual dalam kajian ini.

A. Pemanfaatan Repositori Institusi

Secara umum, RI memiliki banyak manfaat dalam khazanah keilmuan selain untuk mengumpulkan karya ilmiah dalam suatu tempat agar mudah ditemukan kembali oleh mesin pencari seperti Google dan lainnya, juga digunakan sebagai sarana promosi, menyebarluaskan karya sivitas akademika dengan tempat dan waktu yang tidak terbatas.

19

Dalam perspektif ini, repositori dapat memfasilitisi terbangunnya suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya penyebaran hasil penelitian secara merata dan terpola, baik yang dilakukan oleh mahasiswa maupun

15 Wiebe E Bijker, ‘Social Construction of Technology’, The International Encyclopedia of Communication, 2008.

16 Georg Siemens, ‘Connectivism: A Learning Theory for the Digital Age. International Journal of Instructional Technology and Distance Learning’, Obtained through the Internet:

Http://Www. Idtl. Org/Journal/Jam _05/Article01. Htm.[Accessed Sept. 2008], 2005.

17 Tim S Roberts, Online Collaborative Learning: Theory and Practice (IGI Global, 2004).

18 Vishal Arghode, Earl W Brieger, and Gary N McLean, ‘Adult Learning Theories:

Implications for Online Instruction’, European Journal of Training and Development, 2017.

19 Mansur Sutedjo, ‘Pengelolaan Repositori Perguruan Tinggi Dan Pengembangan Repositori Karya Seni’, in Seminar Nasional Digital Local Content: Strategi Membangun Repository Karya Seni, 2014, pp. 1–15.

(9)

yang dikembangkan sendiri oleh para dosen. Dari sisi akreditasi institusi pun diyakini dapat meningkatkan peringkat perguruan tinggi tersebut.

20

Dalam istilah yang lebih spesifik, RI merupakan konsep kontemporer untuk menangkap dan menyediakan sebanyak mungkin hasil penelitian yang langsung dapat diakses secara terbuka oleh para pengguna. RI adalah database sumber daya informasi digital yang dapat diakses melalui Internet atau Intranet

21

. Lebih jauh, RI dipandang sebagai sekumpulan layanan yang ditawarkan universitas kepada para anggota komunitas untuk pengelolaan dan penyebaran materi digital yang dibuat oleh institusi dan para anggota komunitas.

22

Selain itu, RI juga dipahami sebagai database berbasis web (repositori) dari materi ilmiah yang didefinisikan secara kelembagaan (sebagai lawan dari repositori berbasis subjek); kumulatif dan abadi (koleksi catatan); terbuka dan dapat dioperasikan (mis. menggunakan perangkat lunak yang sesuai dengan OAI); dan dengan demikian mengumpulkan, menyimpan, dan menyebarluaskan (merupakan bagian dari proses komunikasi ilmiah). Selain itu, sebagian besar akan mencakup pelestarian bahan digital jangka panjang sebagai fungsi utama IR.

23

Pemanfaatan repositori institusi dilandasi dengan teori konstruksi sosial dan teknologi. Teori konstruksi sosial teknologi atau disebut oleh pengembangnya dengan Social construction of technology (SCOT) berpandangan bahwa teknologi tidak menentukan tindakan manusia, melainkan tindakan manusialah yang membentuk teknologi. penggunaan teknologi tidak dapat dipahami dengan baik tanpa memahami secara komprehensif bagaimana teknologi itu tertanam dalam konteks sosialnya.

24

Dalam hubungannya dengan repositori institusi, SCOT berperan dalam pengelolaan sumber terutama sistem database sumber informasi yang tertanam secara kuat dan sistematis dalam suatu penyimpanan digital, kemudian dikonstruksi secara sosial

20 Sri Ati Suwanto, ‘Manajemen Layanan Repository Perguruan Tinggi’, Lentera Pustaka, 3.2 (2017), 165–76.

21 A Dhiman, ‘Institutional Repositories in E-Learning’, Wireless Information Networks&Business Information System, 2011.

22 Clifford A Lynch, ‘Institutional Repositories: Essential Infrastructure for Scholarship in the Digital Age’, Portal: Libraries and the Academy, 3.2 (2003), 327–36.

23 Faizuddin Harliansyah, ‘Institutional Repository Sebagai Sarana Komunikasi Ilmiah Yang Sustainable Dan Reliable’, Pustakaloka, 8.1 (2016), 1–13.

24 Bijker.

(10)

7

melalui sistem jaringan yang disimpan dalam sistem penyimpanan online untuk diakses dan digunakan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

B. Sumber Belajar Digital

Sumber belajar adalah semua sumber termasuk tools, materials, devices, settings, dan people yang mungkin dipergunakan oleh pebelajar baik secara sendiri-sendiri maupun dalam bentuk gabungan untuk menfasilitasi kegiatan belajar dan meningkatkan kinerja.

25

Sumber belajar adalah segala sesuatu yang berwujud benda dan orang yang dapat menunjang kegiatan belajar sehingga mencakup semua sumber yang mungkin dapat dipergunakan oleh pebelajar agar terjadi perilaku belajar

26

.

Sumber belajar merupakan segala sumber pendukung untuk kegiatan belajar, termasuk sistem pendukung dan materi serta lingkungan pembelajaran.

27

Sumber belajar bukan hanya alat dan materi yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar, tetapi juga meliputi orang, anggaran, dan fasilitas. Sumber belajar bisa termasuk apa saja yang tersedia untuk membantu seseorang belajar.

Di pandang dari sisi pembuatan, maka sumber belajar merupakan seperangkat bahan atau situasi belajar yang dengan sengaja atau tidak sengaja diciptakan agar pebelajar secara individual dan atau secara bersama-sama dapat belajar.

28

Sehingga, sumber belajar adalah segala sesuatu dari mana seseorang mempelajari sesuatu.

Dengan kata lain, sumber belajar adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh pengajar dan pebelajar, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan kemenarikan pembelajaran.

Sumber-sumber belajar meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan latar.

Miarso mengatakan bahwa belajar dapat dilaksanakan di mana saja, di sekolah, di rumah, di tempat kerja, di tempat ibadah, dan di masyarakat luas (aneka sistem). Di samping itu, belajar juga dapat dilakukan dengan rangsangan internal dan eksternal,

25 Anthony Karl Betrus, ‘Sources’, in Educational Technology: A Definition with Commentary, ed. by JanusZewski Alan and Michael Molenda (New York: Taylor & Francis Group, 2008), pp. 213–40.

26 S Nyoman Degeng, Ilmu Pembelajaran: Taksonomi Variabel, Depdikbud (Jakarta, 1990).

27 Barbara B Seels and Rita C Richey, Instructional Technology: The Definition and Domains of the Field (IAP, 2012).

28 Fred Percival and Henry Ellington, A Handbook of Educational Technology (London:

Kogan Page Ltd, 1993).

(11)

yaitu dari dalam diri sendiri atau dari apa dan siapa saja di luar diri (aneka sumber)

29

. Sumber digital adalah bahan-bahan yang tersimpan dan diperoleh secara digital baik melalui media penyimpan online maupun secara offline.

Pemanfaatan sumber belajar digital dilandasi oleh teori

Connectivism yang menekankan bagaimana teknologi Internet telah menciptakan peluang baru bagi pengguna untuk belajar dan berbagi informasi situs-situs Internet browser Web, email, wiki, forum diskusi online, jejaring sosial, YouTube, dan alat lainnya yang memungkinkan pengguna untuk belajar dan berbagi informasi dengan orang lain. Ciri

utama dari konektivisme adalah bahwa pembelajaran dapat terjadi di seluruh jaringan

rekan yang berlangsung secara online. Dalam pembelajaran konektivis, seorang dosen memfasilitasi peserta didik untuk mendapatkan berbagai nformasi dari berbagai sumber. Sedangkan peserta didik didorong untuk mencari informasi secara online dan mengungkapkan apa yang mereka temukan. Pengetahuan baru dikonstruksi melalui pengalaman nyata dari semua peserta didik dan dibagi kepada peserta didik lainnya. Digitalisasi informasi sangat membantu dosen dan peserta didik untuk memberikan kemudahan dalam pelacakan sumber-sumber digital yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

C. Learning Management System

LMS dapat dipahami sebagai platform perangkat lunak berbasis web yang menyediakan lingkungan belajar online interaktif dan mengotomatiskan administrasi, organisasi, pengiriman, dan pelaporan konten dan hasil pembelajaran.

30

Istilah LMS memiliki sejarah panjang dalam tradisi studi di negara-negara barat. Di Indonesia, LMS begitu sangat populer setelah dunia mengalami pandemic Covid-19, di mana pembelajaran dilakukan secara virtual dari rumah. Itulah sebabnya penggunaan LMS dengan berbagai platform yang tersedia telah membantu menghubungkan dosen dan peserta didik dengan sumber belajar yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja.

Ragam LMS pun diperkenalkan dan dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan pengguna, seperti Moodle, blackboard, Course Sites,

https://coursesites.com/SEVIMA EdLink,

Edmodo, dan google classroom. Namun, dari sekian banyak jenis LMS, Moodle

29 (Miarso, 2005: 204)

30 Darren Turnbull and others, ‘Learning Management Systems: An Overview’, Encyclopedia of Education and Information Technologies, 2019, 3–6.

(12)

9

menjadi pilihan terbaik karena menawarkan berbagai kemudahan fitur yang sangat lengkap, selain menggunakan fitur yang tersedia, juga memungkinkan untuk mengadopsi fitur-fitur lain yang didukung dengan perangkat lunaknya.

Dalam mengkaji LMS yang diadopsi oleh perguruan tinggi Islam di Sulawesi Selatan, peneliti menggunakan teori online collaborative learning. Teori ini menekankan pada tiga fase mengonstruksi pengetahuan, seperti menciptaan gagasan, pengorganisasian gagasan, dan konvergensi intelektual.

31

penciptaan gagasan dilakukan dengan cara brainstorming, di mana pemikiran-pemikiran yang berbeda dikumpulkan dan dipetakan dalam suatu pemetaan ide. Pengorganisasian gagasan merupakan fase di mana pandangan dibandingkan, dianalisis dan dikategorikan melalui wacana dan argumen. Adapun konvergensi intelektual merupakan fase di mana sintesis dan konsensus intelektual terjadi, termasuk setuju untuk tidak setuju, biasanya melalui tugas, esai, atau karya gabungan lainnya.

31 L Harasim, ‘Introduction to Learning Theory and Technology, Chapter 1’, Learning Theory and Online Technologies, 2012.

(13)

10

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini menerapkan penelitian kualitatif interpretatif,

32

disebut pula penelitian generik,

33

atau dapat disebut pula basic qualitative research

34

. Penelitian ini menekankan pada penjelasan deskriptif yang ditargetkan untuk memahami fenomena, proses, atau sudut pandang tertentu dari perspektif partisipant yang terlibat.

35

Tujuan utama dari pendekatan penelitian kualitatif generik adalah untuk mengeksplorasi berbagai perspektif dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data, termasuk wawancara dan observasi serta review dokumen.

36

Penelitian ini dilakukan pada Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, Program Pascasarjana IAIN Pare-Pare dan IAIN Palopo. Berdasarkan penelitian awal, ketiga lokasi ini diidentifikasi telah menerapkan repositori institusi dan LMS. Pelaksanaan penelitian dilakukan selama enam bulan yang terdiri atas tiga bulan pertama (Maret, April, dan Mei 2021) merupakan penelitian pendahuluan dan tiga bulan kedua (Juni, Juli, Agustus, 2021) melakukan penelitian sesungguhnya.

Repositori yang dikembangkan di perguruan tinggi Islam memiliki keunikan dalam implementasinya, di samping tertuju kepada semua pengguna, juga telah terintegrasi dalam pembelajaran baik yang ditawarkan pada jenjang sarjana maupun yang dilakukan pada pascasarjana atau program magister dan doktoral. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan mengakses repositori, mengamati pelaksanaan pembelajaran, dan mewawancarai pustakawan dan dosen serta mahasiswa yang telah menggunakan repositori sebagai sumber pembelajaran digital

32 Julie Thompson Burdine, Sally Thorne, and Gurjit Sandhu, ‘Interpretive Description: A Flexible Qualitative Methodology for Medical Education Research’, Medical Education, 2020, 0–1

<https://doi.org/10.1111/medu.14380>.

33 William H. Percy, Kim Kostere, and Sandra Kostere, ‘Generic Qualitative Research in Psychology’, Qualitative Report, 20.2 (2015), 76–85.

34 Sharan B Merriam and Elizabeth J Tisdell, Qualitative Research: A Guide to Design and Implementation (John Wiley & Sons, 2015).

35 Donald Ary and others, Introduction to Research in Education (Cengage Learning, 2018).

36 Vicki l. Plano Clack and John W. Creswell, ‘Understanding Research: A Consumer’s Guide’ (Upper, 2015).

(14)

11

dan dilakukan secara offline dan online. Namun demikian, pengumpulan data digital secara online lebih dominan daripada offline pada masa pandemi.

B. Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumen, kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis data kualitatif,

37

yang mencakup tiga kegiatan secara beriringan; kondensasi data, penyajian data, verifikasi dan penarikan kesimpulan. Kondensasi data (bukan reduksi data) mengacu pada proses pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, pengabstrakan, dan mentransformasikan data yang muncul dalam catatan lapangan tertulis, transkrip wawancara, dokumen, dan materi empiris lainnya. Kondensasi data dalam penelitian ini terjadi secara terus- menerus selama studi ini dilakukan. Bahkan sebelum data benar-benar dikumpulkan secara keseluruhan, kondensasi data antisipatif sudah dilakukan. Setelah data tentang repositori institusi, sumber-sumber belajar digital, dan LMS berhasil dikumpulkan dengan berbagai pendekatan, peneliti membuat ringkasan, pengodean, mengembangkan tema, membuat kategori, dan menulis memo analitik. Kondensasi data berlanjut setelah kerja lapangan selesai hingga laporan akhir selesai secara lengkap.

C. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Aktivitas analisis berikutnya adalah sajian data, yang merujuk pada kumpulan informasi yang terorganisir dan terkompresi yang memungkinkan penarikan kesimpulan dan tindakan. Display data dalam penelitian ini disajikan melalui matriks, grafik, bagan, atau jaringan. Semua dirancang untuk mengumpulkan informasi yang terorganisir menjadi bentuk yang ringkas dan dapat diakses dengan segera sehingga analis dapat melihat apa yang terjadi dan tergambarkan dalam ilustrasi. Analisis data diakhiri dengan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Penarikan kesimpulan merujuk pada interpretasi makna dengan memerhatikan pola, penjelasan, rentetan peristiwa, dan postulat atau dalil dengan tetap mempertahankan keterbukaan dan skeptisisme.

Tujuannya untuk untuk melakukan penarikan kesimpulan secara bertahap dimulai dengan kesimpulan yang sedikit kabur, kemudian berangsur membaik dan akhirnya menjadi kesimpulan final. Ada pun verifikasi merupakan pelacakan kembali terhadap

37 Miles, Huberman, & Saldana (2014)

(15)

sumber data, catatan lapangan, termasuk cara pengambilan data untuk menguji plausibility, sturdiness, and confirmability, atau disebut dengan validity.

38

Peneliti melakukan triangulasi data untuk melacak keakuratan berbagai sumber, waktu pengumpulan data, tempat, dan orang yang berpartisipasi dalam penelitian ini untuk mengetahui kredibilitas data. Peneliti juga memerhatikan aktivitas informan dalam menyelenggarakan pembelajaran berbasis LMS, penguploadan sumber-sumber ke dalam RI, dan pemanfaatannya agar data yang dibutuhkan dapat ditransfer.

Sumber data juga diperiksa dan dicek serta berbagai tulisan tangan, rekaman digital, dan field sight dalam bentuk replikasi untuk mencapai keandalan data. Setelah memeriksa semua proses dan hasil, para peneliti mengaudit kebenaran semua sumber data dan aktivitas untuk mendapatkan konfirmasi data.

38 A Michael Huberman, Mathew Miles, and Johnny Saldana, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, The United States of America: SAGE Publications (Thousand Oaks, California:

SAGE Publications, Inc., 2014).

(16)

13

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pola Pengembangan Repositori Institusi

Peneliti menganalisis dokumen repositori melalui situs repositori perpustakaan institusi yang ditelaah baik dari segi subjek, penulis, pascasarjana, maupun dikaji berdasarkan tahun. Penulis hanya membatasi pada pemanfaatan repositori yang berada pada program Pascasarjana dari tiga perguruan tinggi Islam negeri, mengkaji sumber belajar digital, dan penggunaannya dalam Learning Management System. Peneliti juga melakukan wawancara offline dan online untuk mengungkap pengalaman informan dalam mengelola sumber-sumber belajar digital seperti buku online, video, audio, dan berbagai situs web yang menunjang proses pembelajaran. Untuk memudahkan, penulis menggunakan pedoman wawancara yang mencakup pola pengembangan repositori sebagai sumber-sumber digital, termasuk analisis kebutuhan, desain, dan validasi atau ujicoba.

Pengembangan repositori UINAM, IAIN Palopo dan IAIN Parepare diawali dengan adanya kekhawatiran beberapa pengembang dan pustakawan yang belum memiliki penyimpanan data digital baik untuk menyimpan skrepsi, tesis, dan disertasi secara digital di tengah kemajuan teknologi digitalisasi yang semakin membaik. Di sisi lain tumpukan hasil karya mahasiswa secara cetak tersimpan begitu saja sejak puluhan tahun belakangan ini. Akibatnya ruang penyimpanan di perpustakaan berada dalam bentuk yang sangat mengkhawatirkan, semakin lama semakin penuh dan cenderung mengalami kerusakan yang sulit untuk direkonstruksi kembali. Untuk lebih jelasnya tentang pola pengembangan repositori institusi UINAM Makassar beberapa hasil wawancara dengan para pengembangan dan pustakawan dapat disajikan seperti di bawah ini.

1. Latar Belakang Pengembangan Repositori UINAM

Latar belakang dikembangkannya repositiori institusi UINAM Makassar

diawali dengan adanya kesadaran kolektif para pustakawan dan pengelola

perpustakaan tentang berbagai kelemahan dan keterbatasan karya dalam bentuk cetak

(printed) dan melihat kenyataan perguruan tinggi lain seperti yang terdapat di negara-

(17)

negara tetangga, misalnya malaysia, Singapura, Tailand, dan Pilipina yang lebih dahulu memanfaatkan teknologi digital sebagai basis data pengelolaan perpustakaan digital, seperti dikatakan di bawah ini.

Sebagai seorang yang baru saja menamatkan studi dalam bidang perpustakaan di Malaysia, saya melihat kelemahan perpustakaan kita (UINAM Makassar) pada tahun 2014 belum memiliki apa yang disebut dengan repositori institusi untuk mewadahi lonjakan hasil karya mahasiswa umumnya dan dosen kita khususnya. Kelemahan ini saya komunikasikan dengan Wakil Rektor bidang Akademik (Wakil Rektor I) dan kepala perpustakaan tentang perlunya membangun sebuah repositori untuk menampung semua hasil karya akademik mahasiswa secara digital. Terus-terang saya bahagia karena mendapat sambutan yang sangat luar biasa (TF, dosen Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora dan Pengelola Repositori dan Turnitin UINAM, wawancara tatap muka pada 22 September, 2021).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa adanya keinginan untuk mengembangkan repositori institusi sangat tergantung dari dukungan unsur pimpinan. Dalam pernyataan ini pula tersirat fungsi utama dari repositori institusi adalah untuk menyimpan hasil karya akademik secara digital sehingga tidak perlu lagi mengumpulkan dokumen hasil karya tersebut dalam bentuk cetak, seperti dikatakan berikut ini. Senada dengan pernyataan ini beberapa pernyataan lain juga dapat digambarkan seperti di bawah ini.

Repositori pada IAIN Palopo dilakukan dengan melihat perkembangan repositori yang ada di UIN Alauddin dan kami merasa bahwa begitu tertinggalnya saya sebagai kepala perpustakaan jika tidak melakukan perubahan. Akhirnya kami mengundang beberapa pihak baik dari Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, maupun perpustakaan di luar UIN Alauddin, dalam hal ini perpustakaan UNHAS. Setelah melakukan pelatihan kepada semua pegawai perpustakaan baik di Institut maupun di perpustakaan yang ada di fakultas-fakultas, kami merancang perpustakaan itu dengan bantuan tenaga dari UNHAS. Saya beruntung karena memliki Pimpinan yang sangat care dengan kebutuhan kami, akhirnya terlaksana juga (MDH, dosen Pendidikan Bahasa Inggris dan Kepala Perpustakaan IAIN Palopo, wawancara tatap muka pada 2 Agustus, 2021).

Pengembangan repositori Perpustakaan IAIN Palopo diinspirasi oleh banyaknya repositori yang sudah lama berkembang termasuk dari UINAM yang sering memberikan informasi ke berbagai perguruan tinggi Agama Islam.

Keterlibatan unsur pimpinan dalam mengakselerasi terbentuknya repositori adalah hal

(18)

15

yang sangat diutamakan. Oleh karena itu, tidak membutuhkan waktu yang lama setelah melakukan pelatihan dan memungkinkan untuk dikembangkan, pada saat itu juga repositori institusi IAIN Palopo itu berjalan dengan baik. Sama halnya dengan IAIN Palopo IAIN Parepare pun menyelenggarakan hal yang sama dan dalam waktu yang hampir bersamaan IAIN Parepare juga melakukan hal yang sama.

Inovasi baru di bidang perpustakaan seperti repositori memang menjadi prioritas utama bagi Rektor IAIN Parepare, karena salah satu visinya adalah memajukan bidang teknologi informasi dan komunikasi menjadi pilar penting dalam pengembangan IAIN secara keseluruhan itulah sebabnya kami tidak mendapat banyak rintangan dari pihak institut, begitu kami utarakan niat untuk pengembangan repostori langsung kami diterima baik (USM, Kepala Perpustakaan IAIN Parepare, wawancara tatap muka pada 21 Juli, 2021).

Kehadiran repositori institusi perpustakaan menjadi dambaan bagi setiap perguruan tinggi termasuk IAIN Parepare sebagai salah satu pilar penting bagi tegaknya visi besarnya di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini membawa kemudahan bagi setiap ide pengembangan teknologi di lingkungan IAIN Parepare. Merancang repositori dilakukan dengan berbagai cara, tetapi karena hal ini merupakan sebuah inovasi baru, maka lebih banyak dilakukan secara otodidak

Pada tahap awal kami merancang repositori itu, kami mengerjakan secara otodidak, mendatangi beberapa perguruan tinggi ternama di Pulau Jawa, dan kembali pada perguruan tinggi di tempat saya studi di Malaysia untuk mempelajari apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan repositori itu, bagaimana cara mengembangkannya, dan aplikasi apa yang harus digunakan.

Akhirnya kami mencoba mencoba mendalami dengan membuat perbandingan dengan perguruan tinggi di Indonesia yang terlebih dahulu telah mengembangkan hal serupa, seperti perguruan sekelas IPB, ITB, UI, UGM, dan lain-lain. Semua informasi tentang itu, kami mengumpulkan dan memperoleh pola umum repositori yang banyak digunakan di Indonesia (TF, dosen Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora dan Pengelola Repositori dan Turnitin UINAM, wawancara tatap muka pada 22 September, 2021).

Selain adanya kesadaran kolektif terhadap kelemahan pengelolaan

perpustakaan secara internal, ide pengembangan perpustakaan dipicu juga oleh

kenyataan bahwa sejumlah perguruan tinggi lain ternyata telah banyak melakukan

pembaharuan dalam bidang pengembangan perpustakan digital. Hal ini menambah

semangat perjuangan untuk lebih memberi penekanan pada perlunya melakukan

rancangan terhadap repositori insitusi yang dimaksud. Untuk dapat merealisasikannya

(19)

perlu melakukan studi perbandingan (benchmarking) dengan mengunjungi secara fisik sejumlah perguruan tinggi ternama baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, pelacakan sumber informasi terkait dilakukan juga secara online, seperti dikatakan berikut ini.

Setelah tim terbentuk dalam pembuatan repositori institusi, kami diminta untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyak terkait dengan bentuk dan model dari repositori tersebut. Informasi itu kebanyakan diperoleh melalui pencarian secara online dengan membuka situs-situs repositori dari sekian banyak perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi umum. Dari berbagai informasi yang dihimpun, kami mencoba memetakan dan mengelompokkan agar mudah diidentifikasi. Ternyata banyak perguruan tinggi yang sudah maju mengembangkan repositori, walaupun masih jauh lebih banyak yang belum mengembangkannya (AR, Pustakawan yang bertugas untuk menangani Pascasarjana UINAM Makassar, wawancara tatap muka pada 15 September, 2021).

Tidak dapat dipungkiri bahwa keinginan kuat untuk melakukan pembaharuan berbagai program perguruan tinggi selalu diawali perbandingan antara apa yang telah kita capai atau kondisi nyata saat ini dengan apa yang yang akan diinginkan.

Kemudian menentukan langkah aksi yang hendak dilakukan untuk mencapai keinginan tersebut. Namun semua itu tergantung dari dukungan para pimpinan yang ada dalam suatu lembaga tersebut, baik untuk merancang perubahan, membuat benchmarking, maupun dalam membuat tahapan-tahapan pengembangan, termasuk menentukan jenis aplikasi yang mendukung pekerjaan tersebut, seperti permyataan tersebut.

Setelah kami mendatangi beberapa perguruan tinggi ternama yang telah mengembangkan repositori institusi yang ditunjang dengan hasil pelacakaan adik-adik (pustakawan junior) menunjukkan bahwa kebanyakan aplikasi yang digunakan oleh perguruan tinggi itu adalah Eprints, walaupun terdapat pula aplikasi lain seperti Dspace dan SliMS. Tetapi kedua yang saya sebutkan tidak maksimal untuk mendukung sistem yang dikembangkan di sini (UINAM Makassar). Itulah sebabnya kami memilih Eprints. Setelah itu, kami mencoba mempelajari semuanya secara otodidak. Adik-adik dikerahkan untuk melacak, mempelajari, dan mengadaptasi aplikasi yang kemudian kita gunakan seperti sekarang ini (TF, dosen Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora dan Pengelola Repositori dan Turnitin UINAM, wawancara tatap muka pada 22 September, 2021).

Gagasan untuk mengembangkan repositori institusi ditunjang oleh kesesuaian

atau ketepatan dalam menyeleksi aplikasi dan Repositori institusi perpustakaan

(20)

17

UINAM Makassar menggunakan aplikasi Eprints. Dengan demikian dapat dipahami bahwa latar belakang pengembangan repositori UINAM atau dengan kata lain Analisis Kebutuhan Pengembangan dipicu oleh adanya kelemahan mendasar bahwa di UINAM belum terdapat sistem penyimpanan hasil karya akademik mahasiswa dan dosen, perkembangan ilmu pengetahuan di bidang digitalisasi, dan praktik terbaik dari berbagai perguruan tinggi lain yang sudah maju, serta ditemukan aplikasi yang sesuai dengan kondisi nyata sistem informasi perguruan tinggi di UINAM itu sendiri.

2. Desain dan Pengembangan Repositori Institusi

Tahap kedua dari pola pengembangan repositori institusi UINAM, yaitu desain yang mencakup penentuan aplikasi yang sesuai, mengolah template, membuat klasifikasi dan kategorisasi, serta menginput data yang terbagi pada masing-masing fakultas dan pascasarjana di bawah naungan UINAM. Dalam penentuan aplikasi yang sesuai, para pengembangan dan pustakawan mengumpulkan beberapa aplikasi yang mungkin digunakan untuk pengembangan repositori dan mengambil salah satu yang dapat diadaptasikan dengan kondisi lingkungan UINAM, seperti beberapa pernyataan di bawah ini.

Kebanyakan aplikasi yang digunakan oleh perguruan tinggi itu adalah Eprints, walaupun terdapat pula aplikasi lain seperti Dspace dan SliMS. Tetapi kedua yang saya sebutkan tidak maksimal untuk mendukung sistem yang dikembangkan di sini (UINAM). Kita memilih Eprints karena fitur-fitur sangat lengkap, sesuai dengan perangkat teknologi yang dikembangkan di sini, dan semua itu juga adalah open source, tidak perlu dibayar cuman kalau menggunakan hosting dan domain itu harus dibayar. Di sini (UINAM) tidak membeli domain dan hosting secara terpisah karena langsung menumpang pada domain UIN (UINAM), lebih praktis lah (TF, dosen Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora dan Pengelola Repositori dan Turnitin UINAM, wawancara tatap muka pada 22 September, 2021).

Dari pernyataan di atas menunjukkan bahwa aplikasi repositori yang

digunakan pada repositori institusi UINAM adalah Eprints yang dipilih berdasarkan

pertimbangan (a) fitur-fiturnya sangat lengkap, (b) mudah diadaptasikan karena

sesuai dengan perangkat teknologi yang tersedia, (c) open source sehingga tidak

menghabiskan anggaran. Hal senada dinyatakan juga oleh pustakawan lain yang

banyak menggunakan aplikasi yang sama, seperti pernyataan berikut ini.

(21)

Terus-terang saya tidak memahami lebih jauh tentang aplikasi yang digunakan. Tetapi ketika saya bertanya kepada pihak yang membantu mengembangkan nama aplikasinya Eprints, karena memang kami secara keseluruhan dibantu saja. Ceritanya, kami hanya memanggil tenaga dari UNHAS untuk memberikan pelatihan, setelah itu kami kemukakan ingin juga mememiliki repositori, akhirnya kami mereka yang melakukannya (MDH, dosen Pendidikan Bahasa Inggris dan Kepala Perpustakaan IAIN Palopo, wawancara tatap muka pada 2 Agustus, 2021).

Sama halnya dengan penjelasan sebelumnya bahwa aplikasi yang digunakan adalah Eprints, di mana tampilannya juga menunjukkan hal seperti itu. Prosedur atau pola pengembangan yang dilakukan pada IAIN Palopo langsung dilakukan oleh pihak lain. Jadi tidak mengikuti prosedur seperti yang terdapat pada UIN Alauddin Makassar. Aplikasi yang dipilih dalam pengembangan repositori ini seperti dijelaskan berikut ini

Sepengetahuan saya, aplikasi yang digunakan untuk pengembangan repositori UIN Alauddin adalah Eprints, karena memang sangat bagus dan mudah digunakan, kita lihat saja tampilannya tidak sama dengan tampilan pada umumnya. Memang kita sudah mengubah tampilannya supaya enak dilihat.

Yang jelas banyak yang mengatakan punya UIN bagus digunakan. Mahasiswa juga sering akses itu. Tidak sama dengan Dspace tampilannya Eprints memiliki banyak alternatif fitur dan mahasiswa juga senang katanya (AR, Pustakawan yang bertugas untuk menangani Pascasarjana UINAM Makassar, wawancara tatap muka pada 15 September, 2021).

Di samping aplikasi Eprints memiliki keunggulan dari tiga sisi seperti disebutkan sebelumnya, dari praktik terbaik mahasiswa juga sangat berterima, mudah diakses dan cepat dilacak karena disediakan beberapa alternatif pilihan pencarian. Hal senada disampaikan juga bahwa aplikasi yang digunakan pada IAIN Parepare adalah Eprints, seperti penjelasan berikut ini.

Pemilihan aplikasi dalam pengembangan repositori institusi di IAIN Parepare

langsung memilih aplikasi Eprints karena banyak yang merekomendasikan

bahwa aplikasi ini sangat bagus untuk digunakan karena fitur-fitur yang

disediakan sangat lengkap. Rekomendasi yang kami dapatkan termasuk dari

UIN Alauddin yang terlebih dahulu mengembangkan repositori untuk

menggunakan Eprints. Jadi, kami juga menghadirkan para narasumber dan

menanyakan langsung, ternyata mayoritas narasumber menyarankan untuk

menggunakan aplikasi Eprints (USM, Kepala Perpustakaan IAIN Parepare,

wawancara tatap muka pada 21 Juli, 2021).

(22)

19

Aplikasi Eprints sangat dominan digunakan oleh para pengembang repositori institusi karena ketersediaan fitur yang digunakan sangat sesuai dengan kebutuhan.

Selain itu, informasi dari masyarakat pengguna juga menemukan bahwa tampilannya sangat bagus, baik dari segi linieritas, pewarnaan, teks, dan gambar sangat menarik perhatian banyak orang.

Beberapa mahasiswa sangat bahagia ketika menyerahkan skrepsi, tesis, atau disertasi, dan kami melakukan turnitin dan setelah mahasiswa melakukkan perbaikan (jika hasil turnitin lebih dari 30%), kami langsung mengupload dan mereka menyaksikan bahwa hasil karya mereka telah dipublikasikan melalui repositori institusi UINAM. Pada umumnya mahasiswa memberikan respon positif terhadap tampilan repositori yang menggunakan Eprints ini. Menurut mereka, aplikasi ini memfasilitasi prosesnya cepat dan sederhana dan tidak menunggu waktu yang lama. Begitu pula pada saat mereka ingin akses, maka dengan mudah mereka melakukannya (AR, Pustakawan yang bertugas untuk menangani Pascasarjana UINAM Makassar, wawancara tatap muka pada 15 September, 2021).

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa proses penguploadan dokumen pada repositori UINAM dengan menggunakan aplikasi Eprints sangat membantu mahasiswa karena prosesnya cepat dan sederhana baik pada saat pengunggahan maupun pada saat mahasiswa ingin melihat tampilannya dan mengunduh kembali juga dengan cepat dan sederhana. Itu berarti bahwa aplikasi ini sesuai dengan infrastuktur yang tersedia dan kebutuhan mahasiswa sebagai pengguna repositori institusi. Selain ketepatan aplikasi repositori institusi UINAM, dalam mendesain perlu merancang templet (standar atau stereotipe) untuk memudahkan bagaimana login dan keluar, mengunggah dan mengunduh dokumen, melacak, mencari dokumen yang tepat.

Berbicara tentang tampilan repositori, sebenarnya, kami merasa beruntung karena sudah banyak contoh templet yang dapat diikuti. Selain itu, dalam aplikasi itu sendiri telah tersedia templet bawaan sehingga kami menggunakan saja yang sudah ada karena memang tampilan repositori institusi dari beberapa situs yang kami pelajari pada dasarnya sama dengan tampilan yang terdapat pada repositori yang kami kembangkan (USM, Kepala Perpustakaan IAIN Parepare, wawancara tatap muka pada 21 Juli, 2021).

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa templet yang digunakan

menggunakan template yang terintegrasi dengan aplikasi bawaan Eprints. Penentuan

(23)

templet pada awalnya sangat sulit, tetapi dengan merancang dan mendiskusikannya, semuanya dapat diselesaikan dengan baik.

Saya mengakui bahwa untuk penentuan templet, pada awalnya begitu sangat sulit karena melibatkan banyak pandangan, variasi, dan ketekunan untuk merancangnya. Selaku koordinator yang diberikan kewenangan langsung oleh para pimpinan, saya bekerjasama dengan kawan-kawan pustakawan yang dibantu oleh mahasiswa untuk melihat dulu sejumlah tampilan repositori yang kita pelajari dari berbagai sumber. Akhirnya kita mulai mencoba dan melakukan perbaikan sampai menemukan tampilan yang baik seperti yang terlihat saat ini (TF, dosen Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora dan Pengelola Repositori dan Turnitin UINAM, wawancara tatap muka pada 22 September, 2021).

Nampaknya, untuk menentukan jenis templet repositori memerlukan kerja keras dan ketekunan, serta dilakukan secara berulang-ulang untuk menentukan jenis templet yang cocok, mulai dari jenis huruf, teks, warna, gambar, sampai dengan urutan fitur yang digunakan, seperti dijelaskan berikut ini.

Templet yang kita gunakan saat ini telah berubah beberapa kali perubahan disesuaikan dengan institusi seperti warna kita gunakan warna hijau karena itu warna dari kementerian Agama RI, sedangkan warna kuning, hitam, dan putih hanya untuk menyesuaikan dengan warna dasar itu. Begitu pula jenis huruf, besaran, gambar, dan fitur lainnya dilakukan secara hati-hati dan berulang- ulang. Pada awal penentuan templet banyak pihak yang ikut terlibat termasuk dalam mendiskusikannya. Kami juga sangat terbuka menerima saran dan masukan dari berbagai pihak (KH, Pustakawan yang bertugas untuk menangani Pascasarjana UINAM Makassar, wawancara tatap muka pada 15 September, 2021).

Dalam menentukan templet, para pengembang repositori melibatkan banyak pihak, baik untuk mengumpulkan informasi tentang tampilan repositori yang tersebar luas di dalam dan di luar negeri, menentukan jenis fitur, mencoba dan salah (trial and error), maupun dalam mendiskusikan dan meminta pandangan dari berbagai pihak tersebut. Setelah menentukan templet, para pengembang membuat klasifikasi dan kategorisasi terhadap tampilan utuh repositori agar memudahkan bagi pengguna

Saya betul-betul merasakan bagaimana menemukan pola tampilan dan

pencarian atau pelacakan sumber yang perlu dijadikan standar umum bagi

pengguna khususnya dalam lingkungan UINAM. Tidak mudah memang untuk

sampai pada kesimpulan akhir mulai dari menentukan templet, membuat

klasifikasi dan kategorisasi. Kita sudah mendapatkan klasifikasinya, tetapi perlu

dijabarkan dalam kategorisasi- kategorisasi agar mudah dilacak, begitu pun juga

(24)

21

bagi para penginput data dalam mengupload dokumen. Hanya saja, aplikasi Eprints sudah dilengkapi dengan fitur-fitur yang lengkap sehingga memudahkan untuk mengaturnya. Di sinilah tugas kawan-kawan pengembang untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian yang berarti (TF, dosen Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora dan Pengelola Repositori dan Turnitin UINAM, wawancara tatap muka pada 22 September, 2021).

Klasifikasi dan kategorisasi merupakan langkah-langkah strategik dalam mengembangkan repositori, tujuannya untuk memberikan kemudahan dalam mengunggah dan mengunduh sekaligus menunjukkan tampilan yang menarik untuk dikunjungi. Khusus untuk kategorisasi, pertimbangan kebutuhan menjadi sangat urgen untuk melayani seluruh fakultas dan pascasarjana baik dengan menggunakan fitur fakultas yang dispesifikasi ke dalam prodi-prodi.

Dalam pengklasifikasian, kami mendasarkan pada kebutuhan jurusan (prodi), seperti karya tulis mahasiswa yang masing-masing prodi pada setiap fakultas dan pascasarjana. Tetapi kami juga memikirkan bagi pengguna repositori itu kan banyak juga yang ingin melacak berdasarkan penulis, tahun, dan subjek.

Klasifikasi itu kami buat dan dilengkapi dengan katagorisasi di dalamnya.

Makanya kalau kita menelusurinya dilengkapi dengan fitur-fitur dalam setiap kategori (HRD, Pustakawan yang bertugas untuk menangani Pascasarjana UINAM Makassar, wawancara tatap muka pada 15 September, 2021).

Klasifikasi merupakan komponen yang menaungi setiap kategori yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna. Khusus untuk kategorisasi, berbagai fitur disediakan, termasuk pada setiap kategori untuk melakukan pelacakan sumber dokumen seperti berdasarkan fakultas, penulis, tahun, dan subjek. Semua klasifikasi fitur tersebut masing-masing disediakan juga fitur-fitur yang terdapat dalam setiap kategorisasi.

Kami membuat setransparan mungkin agar begitu masuk dalam halaman repositori langsung menemukan fitur yang dapat dipilih untuk melacak dokumen. Kalau fitur yang disediakan dalam aplikasi, rata-rata tersembunyi, nanti diklik fitur besarnya (klasifikasi) baru muncul fitur bagiannya (kategori).

Nah kita di sini (Perpustakaan UINAM) tidak seperti itu karena memikirkan tentang kemudahan akses tadi (AR, Pustakawan yang bertugas untuk menangani Pascasarjana UINAM Makassar, wawancara tatap muka pada 15 September, 2021).

Fitur-fitur yang dipilih dapat diubah tampilannya sesuai dengan kehendak

masing-masing. Terdapat beberapa cara untuk memberi nuansa yang berbeda antara

satu repositori dengan repositori lainnya. Namun demikian tidak jarang terjadi

(25)

kesamaan bentuk dalam membuat tampilan repositori. Khusus untuk repositori UINAM, cenderung menampilkan klasifikasi fitur secara langsung menunjukkan kategori yang ingin dicari sehingga terlihat secara transparan semua fitur kategorisasinya. Dengan begitu, penginputan data menjadi sangat mudah dan sederhana mengingat tampilan kategori yang lebih detail sesuai dengan keinguinan pengguna langsung terlihat dengan sangat cepat.

Setelah kami menentukan semua kategori fitur, kami mencoba melakukan penginputan dokumen skrepsi, tesis, dan disertasi yang mulanya dalam jumlah yang sangat terbatas. Bahkan di sini kepala perpustakaan UINAM mendapat sorotan yang sangat tajam karena dikabarkan membuang hasil-hasil karya mahasiswa, padahal skrepsi yang dimaksud sudah didokumentasikan, discan, sehingga semuanya sudah memiliki versi elektronik atau soft copy. Menurut kepala perpustakaan UINAM, sampa-sampai dia ditelepon langsung oleh Pak Dirjen (Prof. Dr. Kamaruddin Amin) w2aktu itu untuk menanyakan perihal tersebut. Setelah dijelaskan duduk persoalannya, akhirnya Pak Dirjen pun dapat memahami. Hal ini terjadi karena sebagian mahasiswa yang lewat di depan Perpustakaan UINAM tidak menyadari kalau semua skrepsi dalam bentuk cetak yang dibuang dan dibakar itu telah ada versi elektroniknya (TF, dosen Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora dan Pengelola Repositori dan Turnitin UINAM, wawancara tatap muka pada 22 September, 2021).

Penginputan data pun tidak terlepas dari berbagai rintangan dan salah satunya adalah kurangnya peahaman dari sebagaian masyarakat kampus terhadap versi elektronik dari dokumen skrepsi, tesis, dan disertasi yang berakibat pada adanya pemotretan tersembunyi yang dilakukan oleh mahasiswa senior lalu menyebarluaskan sejumlah foto skrepsi tua yang dibakar dan dibunang dari tempatnya karena telah merusak dan memenuhi space ruangan yang sangat terbatas. Padahal hasil karya mahasiswa tersebut telah dibuatkan versi elektroniknya. Namun, tidak lama setelah penginputan dokumen tersebut, barulah mereka paham bahwa pendokumentasian dalam versi elektronik dari semua dokumen sangat penting dilakukan.

Dalam perkembangannya ternyata kebutuhan untuk melakukan proses

digitalisasi semua dokumen yang masih dalam bentuk cetak sangat penting

untuk dilakukan. Selain memudahkan untuk dimiliki juga tidak mudah hilang

dan dimakan rayap, berbeda misalnya dengan bahan cetak yang hanya umur

lima tahun sudah mengalami kerusakan. Bayangkan kalau sampai hari ini kita

menerima hasil karya mahasiswa dalam bentuk teks cetak, pasti ruang

perpustakaan tidak akan bisa lagi menampung sejumlah besar hasil karya

tersebut. Itulah sebabnya mengapa kami melakukan online semua dokumen

(26)

23

skrepsi, tesis, dan disertasi secara online bukan hanya abstrak atau ringkasann seperti yang terjadi pada kampus-kampus lain, melainkan seluruh isi dokumen tersebut, termasuk lembar pengesahannya (HRD, Pustakawan yang bertugas untuk menangani Pascasarjana UINAM Makassar, wawancara tatap muka pada 15 September, 2021).

Kadang-kadang penguploadan dokumen skrepsi, tesis, dan disertasi ada yang setuju dan ada juga yang tidak setuju. Bagi yang tidak setuju, dikhawatirkan ada mahasiswa menciplak tulisan tersebut yang menyebabkan mahasiswa kita kedapatan memalsukan nama dan tempat penelitihan dan akhirnya mendapat teguran dan bahkan berujung pada pembatalan gelar yang akan diperolehnya. Namun, bagi mereka yang menyetujuinya, hal itu penting untuk dionlinekan untuk memudahkan mesin pencari plagiasi dapat mengenal secara mudah. Dengan demikian pendeteksian tulisan yang secara online memberi kemudahan yang sangat berarti.

Berbagai pendapat tentang boleh tidaknya mempublikasikan fulltext melalui repositori sering terjadi polemik, ada yang pro dan ada yang kontra. Bagi kami berpikir positif saja akan banyak manfaatnya jika difulltextkan mengingat kebutuhan orang berbeda-beda. Saya sendiri sangat mendukung untuk diterbitkan semua secara fulltext karena boleh dikata seluruh perpustakaan pada negara-negara maju rata-rata telah menghasilkan dalam bentuk fulltext. Pada awalnya, mendapat masukan yang pro dan kontra, namun setelah berjalan sekian tahun hal ini tidak lagi menjadi masalah (TF, dosen Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora dan Pengelola Repositori dan Turnitin UINAM, wawancara tatap muka pada 22 September, 2021).

Pada awal penguploadan dokumen, skrepsi, tesis, dan disertasi terjadi banyak rintangan selain dari ada yang pro dan kontra juga belum semua hasil karya itu diterbitkan secara sistematis dan teratur, termasuk hasil karya para dosen baik terkait dengan buku, manuskrip, video, dan bahkan bahan perkuliahan semuanya disediakan dengan mengatur agar dosen dapat mengupload tersendiri bahan-bahan yang dimaksud. Tetapi tidak banyak di kalangan dosen yang dapat mengupload sendiri, seperti pernyataan di bawah ini.

Saat ini, repositori UINAM bukan hanya berisi skrepsi, tesis, dan disertasi

mahasiswa saja, melainkian sudah dilengkapi dengan seluruh jenis publikasi

dosen, termasuk penelitian, makalah, bahan ajar dan powerpoint, video, audio,

audio-visual dan semacamnya. Bahkan dosen telah memiliki kesempatan

untuk langsung mengupload sendiri berdasarkana petunjuk yang tertera secara

(27)

online. Tinggal nantinya, petugas pustkawannya yang menerima atau menverifikasinya (HRD, Pustakawan yang bertugas untuk menangani Pascasarjana UINAM Makassar, wawancara tatap muka pada 15 September, 2021).

Repositori institusi yang dikembangkan di UINAM sudah dilengkapi dengan fitur upload mandiri untuk semua dosen, sehingga memudahkan bagi dosen untuk mengupload kapan saja dan di mana saja. Hanya saja tidak semua dosen memiliki waktu yang cukup untuk melakukannya. Di sinilah perlunya kerjasama antara unit demi untuk sebuah pengembangan repositori institusi yang betul-betul sesuai dengan apa yang diharapkan bersama sehingga dapat menunjang visi dan misi kampus peradaban.

3. Evaluasi Repositori Institusi

Evaluasi merupakan langkah dari dari pola pengembangan repositori institusi ketiga perguruan tinggi Islam (UINAM, IAIN Palopo, dan IAIN Parepare. Evaluasi yang dimaksud di sini adalah penilaian tentang validitas, kepraktisan, dan efektivitas suatu produk yang biasa dikenal dengan istilah evaluasi formatif seperti yang direkomendasikan oleh Dick, Carey, dan Carey

39

di mana banyak proses pengembangan menggunakan pendekatan tersebut. Untuk memngungkap bagaimana pengembang repositori institusi melakukan evaluasi formatif, di bawah ini disajikan beberapa pernyataan.

Untuk melakukan evaluasi terhadap repositori yang kami kembangkan tidak ada prosedur baku yang kami gunakan, tetapi untuk meminta pandangan dari berbagai pihak baik itu unsur pimpinan, teman sejawat, para dosen, dan mahasiswa serta pengguna umum lainnya sering kami lakukan. Semua itu tidak dilakukan secara sistematis. Kami hanya memperlihatkan ke semua pihak itu pada setiap melakukan pengembangan. Kami juga tidak melakukan uji kuantitatif seperti layaknya orang yang melakukan penelitian dan pengembangan sehingga data juga kami tidak simpan. Begitu ada koreksi dari berbagai pihak dan ternyata koreksinya itu logis dan dapat diterima kami lakukan revisi. Sayangnya hasil revisinya kami tidak simpan (TF, dosen Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora dan Pengelola Repositori dan Turnitin UINAM, wawancara tatap muka pada 22 September, 2021).

39 Walter Dick, Lou Carey, and James O Carey, ‘The Systematic Design of Instruction’, 2015, P. 257-293.

(28)

25

Dalam penelitian dan pengembangan, evaluasi selalu direncanakan secara matang termasuk dalam pembuatan instrumen. Namun dalam pengembangan repositori institusi memang disadari adanya proses evaluasi tetapi tidak terrencana dengan baik sehingga pada setiap rangkaian kegiatan pengembangan, maka dilakukan penilaian secara langsung oleh pihak-pihak yang terkait dengan proses pengembangan tersebut. Hal senada diungkapkan juga oleh para pengembangang yang ada di IAIN Palopo yang mengatakan bahwa

Kalau evaluasi formatif seperti yang ditanyakan, kami tidak paham sesungguhnya karena aplikasi ini langsung dibantu oleh pengembang yang ada di UNHAS. Paling-paling evaluasi yang kami lakukan hanyalah meminta pendapat dari semua kalangan termasuk mahasiswa sebagai pengguna repositori tersebut. Setelah repositori selesai, kami dilatih kembali untuk menggunakannya, tetapi dalam perkembangannya, IAIN Palopo memiliki teknisi yang menurut kami ahli di bidang itu dan merekalah yang melakukan evaluasi dan perbaikan secara menyeluruh (MDH, dosen Pendidikan Bahasa Inggris dan Kepala Perpustakaan IAIN Palopo, wawancara online via telepon WA pada 25 Agustus, 2021).

Pengembang repositori yang terdapat di IAIN Palopo juga tidak melakukan evaluasi formatif seperti yang biasa dilakukan melalui penelitian dan pengembangan.

Proses evaluasi juga dilakukan pada saat penggunaan termasuk pada saat penginputan data berlangsung. Tiba-tiba ada telepon atau pengaduan, maka kami langsung memberikan pelayanan untuk melakukan perbaikan. Hal ini terjadi juga pada IAIN Parepare ketika repositori itu dikembangkan.

Pengembangan repositori institusi di IAIN Parepare berjalan begitu saja tanpa dilakukan perencanaan yang matang atau melakukan analisis kebutuhan secara sistematis seperti dalam penelitian dan pengembangan. Bagi kami, namanya inovasi teknologi, ya dilakukan secara spartan, terus-menerus kami lakukan, merancang, meminta pendapat dari orang lain, dan melakukan perbaikan sesuai dengan masukan dari berbagai pihak tersebut (USM, Kepala Perpustakaan IAIN Parepare, wawancara online melalui telepon WA pada 5 Agustus, 2021).

Pola pengembangan repositori yang terdapat pada IAIN Parepare sama

dengan berlaku di UINAM dan IAIN Palopo bahwa proses evaluasi dilakukan setiap

saat, baik pada saat proses pengembangan, setelah selesai melakukan tahapan tertentu,

dan atau setiap kali bertemu dengan pihak-pihak yang menjadi pengguna repositori

institusi. Hal ini berbeda dengan proses penelitian dan pengembangan yang terlebih

(29)

dahulu meerencanakan seluruh langkah-langkah pengembangan termasuk di dalamnya proses evaluasi formatif yang dilengkapi dengan instrumen penilaian pada setiap tahap penilaian. Walaupun demikian konstruk atau tampilan repositori tidak terdapat kesan bahwa proses pengembangannya tidak dilakukan evaluasi formatif secara sistematis dan terrencana, malinkan melalui proses yang berlangsung secara terus-menerus.

Berdasarkan analisis data mulai dari latar belakang pengembangan repositori, desain dan pengembangan repositori, sampai dengan evaluasi repositori institusi, maka dapat diidentifikasi bahwa pola pengembangan repositori institusi dilakukan melalui beberapa tahapan, yang mencakup (1) analisis kebutuhan, (2) desain dan pengembangan, dan (3) evaluasi. Untuk melihat lebih jauh bagaimana tampilan ketiga pola pengembangan yang dihasilkan oleh tiga perguruan tinggi Islam di Sulawesi Selatan tersebut, dapat diilustrasikan sebagaimana tertera pada gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Tahapan Pengembangan Repositori

Gambar ini menunjukkan tahapan dalam pola pengembangan repositori institusi sebagai sumber belajar digital dalam learning management system pada perguruan tinggi Islam negeri di Sulawesi Selatan mencakup analisis kebutuhan, desain dan pengembangan, serta evaluasi formatif untuk mendapatkan tingkat kevalidan, kepraktisan, dan kefektivian, dan perwujudannya dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini.

Analisis Kebutuhan Desain dan Pengembangan Evaluasi

R E V I S I

• Menganalisis kondisi nyata saat ini

• Mengidentifikasi kelemahan

• Menentukan arah pengembangan

• Membuat rencana aksi

• Melakukan benchmarking.

• Menentukan aplikasi yang sesuai

• Mendesain template

• Membuat klasifikasi

• Menyusun kategorisasi

• Mengembangkan panduan penggunaan (teks dan video)

• Menyusun peraturan penggunaan

• Meminta masukan dari teman sejawat

• Meminta pendapat dari pimpinan

• Melibatkan dosen untuk memvalidasi

Melibatkan partisipasi mahasiswa

Meminta pandangan Pihak eksternal.

(30)

27

Gambar 2. Repositori Institusi Perguruan Tinggi Islam Negeri

(31)

Terlihat pada gambar 2 bahwa tampilan repositori institusi yang terdapat pada tiga perguruan tinggi Islam negeri di Sulawesi Selatan hampir sama. Ketiga perguruan tinggi tersebut memilih aplikasi yang sama yaitu Eprints. Walaupun menggunakan aplikasi yang sama, tetapi templet menunjukkan perbedaan satu sama lain. Selain itu, fitur-fitur yang terdapat pada dua perguruan tinggi (IAIN Palopo dan IAIN Parepare) cenderung tersembunyi, sedangkan yang terdapat pada repositori institusi UINAM ditampilkan keluar sehingga terlihat ketika pada saat masuk di halaman beranda. Pada fitur pencarian (browse), ketiga perguruan tinggi menggunakan istilah yang berbeda-beda tetapi tujuannya sama. Pada repositori institusi UINAM menyediakan fitur pencarian berdasarkana fakultas/ lembaga, penulis tahun dan subjek. Pada repositori IAIN Palopo menggunakan fitur tahun, subjek, divisi dan pengarang. Adapun pada repositori institusi IAIN Parepare menyediakan fitur tahun, subjek, divisi, pengarang, dan supervisor.

B. Pemanfaatan Sumber Belajar Digital Berbasis Repositori Institusi dalam Learning Management System

Untuk mendapatkan data tentang pemanfaatan sumber belajar digital, peneliti menggunakan memeriksa dokumen LMS dan wawancara secara online dan offline karena tidak memungkinkan untuk melaksanakan observasi secara langsung.

Pemeriksaan dokumen secara asingkronus dilakukan ketika informan menyediakan sumber belajar, dan secara singkronus ketika pelaksanaan pembelajaran berlangsung.

Selain itu, peneliti memeriksa dokumen yang digunakan selama pelaksanaan pembelajaran. Pemanfaatan sumber belajar digital berbasis repositori institusi dalam LMS dilakukan dengan dua cara yaitu melalui (1) penyimpanan sumber belajar Digital dan (2) aktivitas pembelajaran secara Online

1. Penyimpanan Sumber Belajar Digital

Penyimpanan sumber belajar digital dapat dilakukan dengan menggunakan

fitur-fitur tertentu yang memungkinkan suatu sumber belajar itu dapat terlihat dalam

LMS. Strategi penyimpanannya dapat dilakukan dengan memanfaatkan teks, gambar,

video, dan link. Untuk menyimpan teks secara digital, pengembang dapat

menggunakan tombol file, buku, atau folder (jika file-file itu dikumpulkan melalui

folder. Sedangkan untuk penyimpanan gambar, pengembang cukup menggunakan

(32)

29

label dan penyimpanan video dilakukan dengan memilih fitur halaman (page).

Adapun fitur lainnya adalah untuk penyimpanan sumber-sumber digital yang berbasis pada link. Untuk lebih jelasnya, dapat diilustrasikan dalam gambar 3 berikut ini.

Gambar 3. Fitur-fitur untuk Penyimpan Sumber Belajar

Tampak jelas pada gambar 3 bahwa fitur-fitur tersebut dapat diarahkan untuk penyimpanan teks, gambar, video dan link. Namun khusus untuk gambar sangat jarang digunakan kecuali untuk kebutuhan untuk menandai sebuah lambang dari masing-masing sumber tersebut. Penyimpanan sumber belajar digital lebih lanjut dapat dianalisis melalui beberapa pernyataan di bawah ini.

Pemanfaatan sumber belajar digital dalam LMS sampai saat ini di Pascasarjana IAIN Palopo masih dalam bentuk sendiri-sendiri tergantung dari dosen yang bersangkutan. Tetapi secara umum masih dominan menggunakan aplikasi google classroom dan sebagaian yang lain menggunakan zoom meeting. Untuk LMS kita sudah beberapa kali melakukan pelatihan dan mendatangkan Bapak sendiri sebagai narasumber. Saat ini kami belum melakukan secar kelembagaan, tetapi beberap dosen telah menggunakannya

Penyimpanan sumber belajar dapat

dipilih sesuai dengan jenis sumber

belajar yang digunakan dalam

LMS.

Referensi

Dokumen terkait

Perlu kami informasikan bahwa untuk perpanjangan pendafiaran sebagai Agen Tunggal Barang Produksi Luar Negeri berikutnya, permohonan Saudara agar di/engkapi

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar peserta didik kelas X TKJ 3 SMK N 1 Sawit pada Pembelajaran Pemrograman Dasar

Analisis Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial Dengan Kepuasan Kerja, Job Relevant Information Dan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel

Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang meneliti cara mempersingkat waktu akses dengan menggunakan Squid pada Linux Ubuntu [9], penelitian ini akan membahas bagaimana 2 proxy

(7) Tolok ukur dan pembobotan indikator penilaian mandiri atas Kinerja PPB Pemda sebagaimana dimaksud pada ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) dilakukan menggunakan

Pada umumnya ORSV yang menginfeksi tanaman anggrek menunjukkan adanya gejala mosaik serta bercak nekrotik yang memiliki ciri khas yaitu bercak yang berbentuk lingkaran seperti

[r]

Pemerintah Denamrk dapat dimintai pertanggungjawaban atas tindakan perburuan paus tersebut karena perburuan tersebut secara tidak langsung dilakukan oleh aparat