BAB I PENDAHULUAN. optimal dimana hal ini merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar belakang

Pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal dimana hal ini merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 alinea IV setelah perubahan kedua pada tahun 2000 yang pada intinya untuk memajukan kesejahteraan umum yang berarti meliputi pelayanan kesehatan untuk seluruh rakyat Indonesia. Dinyatakan pula dalam Pasal 1 Undang-undang Kesehatan Nomor: 23 Tahun 1992 (selanjutnya disebut UUK) bahwa “Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal. ” Dalam kerangka tersebut dijelaskan bahwa kesehatan sebagai hak asasi manusia harus diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai upaya kesehatan kepada seluruh rakyat Indonesia melalui penyelenggaraaan pembangunan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat.1

Profesi dokter sejak dahulu sudah di kenal dan sudah terjalin atas hubungan kepercayaan antara pengobat dan penderita atau dengan kata lain hubungan antara pengobat dan pasien. Pada saat ini dengan semakin berkembangnya teknologi dan pengetahuan hubungan itu disebut dengan nama

1http://www.academia.edu/4782379/Memahami_Kesehatan_Sebagai_Hak_Asasi_Manusi a_Oleh_Indra_Perwira ,06 Maret 2014, 16.00 WIB

(2)

transaksi terapeutik antara dokter dengan pasien, yang terjalin dengan rasa saling percaya dan mempercayai.2

2 Hermein Hadiati Koeswadji, Hukum Kedokteran, Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1988, hal 3.

Timbulnya hubungan antara dokter dan pasien tersebut karena pasien itu mencari pertolongan kepada dokter atas sakit yang dideritanya, dari sinilah awal terjalin transaksi terapeutik antara dokter dan pasien.

Hal ini membawa akibat bahwa hubungan pemberian pertolongan ini menimbulkan ciri khas yaitu karena pasien berada dalam keadaan dan posisi yag lemah dan bergantung kepada dokter, dengan kata lain keadaan pasien ini adalah masalah mengenai hidup dan mati yang di percayakan pasien kepada dokter yang di tunjuk untuk menangani, dan keadaan atau posisi dokter dikatakan lebih kuat yaitu seorang dokter menjalankan profesi kedokteran dan diharapkan dapat menghilangkan penyakit yang di derita pasien. Namun didalam kenyataan tidak demikian karena akan timbul perbedaan persepsi antara dokter dengan pasien.

Dokter yang dinilai sebagai profesi yang dapat menyembuhkan dan menghilangkan semua penyakit yang diderita oleh pasien sehingga tanggung jawab keadaan pasien di serahkan seluruhnya kepada dokter, sehingga pasien terlalu mengharapkan pertolongan dari dokter. Hal yang berbeda terjadi dalam pemikiran pasien, pasien hanya menilai dan mengukur dari sudut pandang hasilnya, sedangkan dokter hanya bisa berusaha, tetapi tidak menjamin akan hasilnya, asalkan ia telah bekerja sesuai prosedur dan menurut standar profesi medis yang berlaku. Tetapi dengan adanya pekembangan pola pikir masyarakat, tingkat pendidikan dan arus informasi yang berkembang pesat maka hubungan yang demikian ini bergeser kearah hubungan yang sejajar dan seimbang, dimana

(3)

pasien juga mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan memilih dokter sendiri lalu memilih metode penyembuhan yang akan digunakan untuk kesembuhan dirinya.3

Pada dasarnya hubungan hukum antara dokter dengan pasien ini bertumpu pada dua macam hak asasi manusia dijamin dalam dokumen maupun konvensi internasional. Kedua macam hak tersebut adalah hak untuk menentukan nasib sendiri (the right to self determination) dan hak asasi atas informasi ( the right to information ). Kedua hak dasar tersebut bertolak dari hak atas keperawatan kesehatan ( the right to health care) yang merupakan hak asasi individu (individual human right). Dokumen internasional yang menjamin kedua hak tersebut adalah The Universal Declaration of Human Right tahun 1948, dan The United Nation International Convenant on Civil and Political Right tahun 1966.4

Profesi dokter dan tenaga medis lainnya merupakan satu profesi yang sangat terhormat dalam pandangan masyarakat. Karena dari profesi inilah banyak sekali digantungkan harapan hidup dan kesembuhan dari pasien serta keluarga yang sedang menderita sakit . Dahulu hubungan dokter dengan pasiennya lebih bersifat paternalistik, yaitu pasien taat dan menurut saja terhadap dokternya tanpa bertanya lagi. Pada masa kini hubungan yang demikian sudah tidak mendapat tempat lagi karena masyarakat sudah semakin pintar dan sadar atas hak-haknya untuk menentukan nasib nya sendiri, dokter atau tenaga kesehatan lainnya tersebut sebagai manusia biasa yang penuh dengan kekurangan dalam tugas kedokterannya yang penuh risiko ini tidak dapat menghindarkan diri dari kekuasaan Allah, kemungkinan pasien cacat bahkan meninggal dunia setelah ditangani dokter bisa

3 Yunanto, Pertanggung Jawaban Dokter Dalam Transaksi Terapeutik, Tesis Mkn, Universitas Diponegoro, Semarang, 2009, hal 7.

4 Ibid, hal 8.

(4)

saja hal tersebut terjadi walaupun dokter telah melaksanakan tugas sesuai dengan keterampilan dan ilmu yang dimilikinya dengan sungguh-sungguh.

Pada saat ini profesi dokter sedang menjadi perhatian serius khalayak umum dan marak terdengar di mass media nasional antara lain yang menjadi perhatian adalah kasus malpraktek Dr. Ayu dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan yang terjadi tahun 2010 di RS. Dr. Kandau Manado, kasus RSU Lasinrang terlambat memberi pertolongan pada pasien sesak nafas bayi Nayla hingga tewas pada tahun 2013 dan kasus ambulance terlantarkan pasien lansia hingga tewas di Bandar Lampung pada 24 Januari 2014 menjadi perhatian serius khalayak umum , baik lewat media elektronik atau media cetak. Bahwa banyak ditemui kasus-kasus malpraktek yang dilakukan oleh dokter, dokter dinilai tidak menjalankan fungsi dan tugasnya sesuai prosedur dan dokter dianggap tidak menjalankan pertolongan yang seharusnya ia lakukan kepada pasien yang mengalami malpraktek tersebut. Bahkan ternyata menurut Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan Pusat pada tahun 2013 yang dimuat dalam harian Analisa yang terbit pada tanggal 23 November 2013 oleh Yudi Pratama5

5 Yudi Pratama, Pelayanan Kesehatan di Indonesia Semakin Memburuk, Harian Analisa, 14 Desember 2013.

, tercatat kurang lebih 150 kasus malpraktek di Indonesia, walau sebagian besar tidak sampai kemeja persidangan. Pemberitaan ini menimbulkan keresahan dimasyarakat bahkan dapat menghilangkan rasa percaya masyarakat khususnya pasien kepada dokter, yang seharusnya menyembuhkan sakit para pasien atau masyarakat.

Masyarakat mulai tidak percaya terhadap kinerja dokter, masyarakat mulai merasa dokter tidak mampu menyembuhkan penyakit yang diderita oleh masyarakat.

(5)

Sedangkan dokter beranggapan bahwa ia telah menjalankan prosedur kesehatan kepada pasien dengan sebaik-baiknya. Bahkan pemberitaan malpraktek tidak hanya meresahkan kecemasan dikalangan pasien atau masyarakat saja melainkan juga pada kalangan dokter dokter beranggapan profesi mereka bagaikan memakan buah simalakama, tidak menolong dinyatakan salah menurut hukum namun menolong berisiko dituntut oleh keluarga pasien jika tidak sesuai dengan harapannya.

Hubungan hukum antara dokter dengan pasien didasarkan adanya suatu perjanjian atau sering dikenal dengan transaksi terapeutik, yaitu suatu perjanjian dimana dokter berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan pasien dari penderitaan sakitnya yang lazim disebut perjanjian inspaning verbitenis, dimana dalam hal ini yang dituntut bukan perjanjian hasil atau resultaat verbitenis melainkan yang dituntut adalah suatu upaya yang dilakukan dokter atau usaha yang maksimal. Perjanjian yang lain karena dilandaskan oleh Undang-undang.

Hubungan hukum yang demikian ini akan menghasilkan suatu hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak yang dapat di tuntut pemenuhannya.6

6 Syahrul Mahmud, Aspek Hukum Dalam Medical Malpractice, Varia Peradilan, IKAHI, Edisi ke-2,2007, hal 2.

Dalam Surat

Keputusan Menteri Kesehatan 434/Men.Kes/X/1983 tentang berlakunya Kode Etik Kedokteran Indonesia bagi para dokter Indonesia menyebutkan bahwa transaksi terapeutik adalah hubungan dokter dengan penderita yang dilakukan dalam suasana saling percaya (konfidensial) serta senantiasa diliputi segala macam emosi, harapan dan kekhawatiran makhluk insani. Sebagai sebuah proses, maka dokter atau tenaga kesehatan lainnya diikat dalam sebuah kode etik yang

(6)

harus dipatuhi dan dijalankan serta dijadikan pedoman dalam menjalankan profesi kedokteranya. Pelanggaran atas disiplin ini akan ditangani oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) sebagai sebuah lembaga independent dan bertanggung jawab pada Kode Etik Kedokteran Indonesia.

MKDKI ini berwenang memberikan sanksi disiplin berupa peringatan tertulis, pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin paktek dan atau kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran.

Sedangkan pelanggaran terhadap kode etik akan di tangani oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).7

Hubungan dokter dan pasien terdapat didalamnya hak dan kewajiban pasien terhadap dokter dan dokter terhadap pasien. Dokter selalu berupaya atas kesembuhan yang menjadi harapan dari terapi yang diberikan terhadap pasien, dan pasien harus mentaati semua perintah dokter yang menjadi bagian dari terapi kesembuhan. Oleh karena itu diharapkan adanya kerjasama dan saling kepercayaan antara dokter dan pasien agar terjalin hubungan yang baik dan tujuan dari pengobatan tersebut lancar serta berdampak hasil yang baik sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan. Timbulnya rasa percaya antar dokter pasien ini walau terjalin tidak secara tertulis harus di implementasikan kepada ketertiban dokter dalam menjalankan profesinya sesuai dengan standar dan kepatuhan dari pasien atas perintah dokter lebih diterapkan untuk terjalin kerjasama dan tidak terjadi perselisihan dikemudian hari. Berdasarkan hal tersebut diatas penulis tertarik menulisnya dalam skripsi dengan judul “ Tangggung Jawab Perdata

7 Hermein Hadiati Koeswadji, (1) Hukum dan Masalah Medik, Airlangga University Press, Jakarta, 1998, hal 98.

(7)

Dokter Dalam Transaksi Terapeutik Antara Dokter Dengan Pasien (Studi Kasus RSUD. Dr. Djoelham Binjai)

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang trsebut diatas, berbagai persoalan yang timbul atau yang muncul, dalam skripsi ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah bentuk hubungan antara dokter dan pasien dalam transaksi terapeutik ?

2. Bagaimanakah Tanggung jawab dokter terhadap pasien dalam transaksi terapeutik ?

3. Bagaimanakah penyelesaian perkara-perkara perdata yang dilakukan oleh dokter dalam transaksi terapeutik ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penulisan skripsi ini dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui sejauh mana bentuk hubungan hukum antara dokter dan pasien sehingga dapat diketahui apa saja hak dan kewajiban antara dokter dengan pasien.

2. Untuk mengetahui sejauh mana pertanggung jawaban dokter kepada pasien dalam menjalankan profesi dokter sesuai dengan Kode Etik dan Undang-undang yang berlaku.

3. Untuk mengetahui bagaimana penyelesaian perkara perdata antara dokter dengan pasien.

(8)

D. Manfaat Penulisan 1. Secara Teoritis

Secara teoritis, memberikan sumbangan pemikiran bagi Ilmu Hukum khususnya hukum kedokteran, yang permasalahannya selalu berkembang seiring dengan perkembangan Ilmu Kedokteran itu sendiri. Dan diharapkan dapat menjembatani antara kepentingan hukum dan kepentingan pelayanan medis untuk mencapai asas keseimbangan kepentingan dokter dan kepentingan pasien yang sama-sama menjadi prioritas untuk membangun kesadaran kesehatan yang ada di masyarakat. Karena dengan adanya hubungan baik antara dokter dan pasien maka timbul rasa saling percaya dan saling mentaati hak dan kewajiban nya sendiri khususnya antara dokter dan pasien. Dengan skripsi ini masyarakat tau akan haknya jika berhubungan dengan dokter dan pelayanan kesehatan lainnya jadi masyarakat dapat memilih cara pengobatan apa dan metode pengobatan apa yang ia percayai untuk menyembuhkan sakit nya.

2. Secara Praktis

a. Bagi para penentu dan pembuat peraturan diharapkan skripsi ini dapat dijadikan salah satu masukan dalam pengambilan kebijakan dibidang pelayanan medis untuk publik atau masyarakat.

b. Bagi para dokter, skripsi ini dapat dijadikan bahan renungan dan kajian dalam memberikkan pelayanan medis yang terbaik sesuai dengan standart profesi dan etika kedokteran terhadap pasien atau masyarakat.

(9)

c. Bagi penulis, untuk menambah wawasan dan pengetahuan khususnya, hukum perdata tentang transaksi terapeutik antara dokter dengan pasien dalam melakukan tindakan medis.

d. Bagi masyarakat hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran sehingga dapat menjadi bahan masukan bagi masyarakat luas dalam hal transaksi terapeutik antara dokter dengan pasien dalam tindakan medis.

E. Metode Penelitian

Metode penelitian dapat diartikan sebagai suatu cara untuk mencapai suatu kepastian. Namun demikian menurut kebiasaan, metode dapat dirumuskan dengan kemungkinan-kemungkinan antara lain, kesatu suatu tipe pemikiran yang dipergunakan dalam penelitian dan penilaian, kedua suatu teknik yang umum dalam suatu ilmu pengetahuan, ketiga cara tertentu untuk melaksnakan suatu prosedur8

Dalam pembahasan skripsi ini, metodologi penelitian hukum yang digunakan penulis adalah sebagai berikut :

1. Spesifikasi penelitian

Penulis menggunakan metode penelitian hukum normatif. Dalam hal penelitian hukum normatif, penulis melakukan penelitian terhadap peraturan perundang-undangan dan bahan hukum yang berhubungan dengan judul penulis

8 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 1986, Hal 5.

(10)

ini yaitu “ Tanggung Jawab Perdata Dokter Dalam Transaksi Terapeutik antara Dokter dengan Pasien “ Studi Kasus Rumah Sakit Umum Dr. Djoelham Binjai”.

2. Metode Pendekatan

Dalam menyelesaikan penelitian skripsi ini, penulis menggunakan metode pendekatan yuridis mengingat permasalahan-permasalahan yang diteliti adalah bagaimana dokter melaksanakan profesi dokternya berlandaskan kepercayaan dalam transaksi terapeutik.

3. Lokasi Penelitian

Dalam penelitian untuk penelitian skripsi ini, penulis mengambil lokasi di Rumah Sakit Umum Dr. Djoelham Binjai yang terletak di Jalan. Sultan Hasanussin No.9 Binjai, Sumatera Utara.

4. Alat Pengumpul Data

Pengumpulan data-data yang diperlukan penulis yang berkaitan dengan penyelesaian skripsi ini ditempuh melalui cara penelitian kepustakaan (library Research). Dalam hal ini, penulis melakukan penelitian terhadap literatur-literatur

untuk memperoleh bahan teoritis ilmiah yang dapat digunakan sebagai dasar terhadap substansi pembahasan dalam penulisan skripsi ini. Tujuan penelitian kepustakaan ini adalah untuk memperoleh data-data skunder yang meliputi peraturan perundang-undangan, buku-buku, majalah, surat kabar, situs internet, maupun bahan bacaan lainnya yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini.

5. Analisis Data

Data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan akan dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan metode induktif dan deduktif yang berpedoman

(11)

kepada bagaimana implementasi tangung jawab dokter terhadap pasien dalam transaksi terapeutik. Analisis deskriptif artinya penulis berusaha semaksimal mungkin umtuk memaparkan data-data yang sebenarnya.

Metode deduktif artinya berdasarkan peraturan hukum yang berlaku di Indonesia tentang pertanggung jawaban dokter kepada pasien dalam transaksi terpeutik dalam menjalankan profesinya sebagai dokter dalam memberikan pelayanan dan menjaga kepercayaan pasien terhadap profesi dokter untuk mengambil kesimpulan yang bersifat khusus berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian.

Metode induktif artinya dari data-data khusus mengenai Pertanggung jawaban perdata dokter terhadap pasien dalam transaksi terapeutik akan ditarik kesimpulan umum yang akan digunakan dalam pembahasan selanjutnya.

F. Keaslian Penulisan

Sepanjang pengetahuan penulis “ Tanggung Jawab Perdata Dokter terhadap Transaksi Terapeutik antara Dokter dengan Pasien (Studi Kasus Rumah Sakit Umum Dr. Djoelham Binjai) “ yang diangkat menjadi judul skripsi ini belum pernah di tulis di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara .

Topik permasalan ini sengaja dipilih oleh penulis adalah berdasarkan hasil pemikiran penulis sendiri. Skripsi ini belum pernah ada yang membuat. Kalaupun sudah ada, penulis yakin bahwasanya substansi pembahasannya adalah berbeda.

Dalam skripsi ini, penulis mencoba menguraikan pembahasannya kearah

(12)

bagaimana dokter mempertanggung jawabkan tindakan medisnya terhadap pasien berdasarkan hanya dengan rasa saling percaya dalam transaksi terapeutik tersebut.

Dengan demikian keaslian penulisan skripsi ini dapat dipertanggung jawabkan.

G. Sistematika Penulisan

Dalam menghasilkan karya ilmiah yang baik maka pembahasan harus diuraikan secara sistematis. Oleh karena itu, untuk memudahkan pembahasan skripsi ini maka diperlukan adanya sistematika penulisan yang teratur yang terbagi dalam bab perbab yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.

Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah : BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini akan membahas tentang Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Metode Penelitian, Keaslian Penulisan dan Sistematika Penulisan.

BAB II : PERJANJIAN MENURUT SISTEM HUKUM INDONESIA

Bab ini membahas mengenai Pengertian Perjanjian, Asas-asas Perjanjian, Jenis- jenis Perjanjian, Syarat Sahnya Perjanjian, Saat Lahirnya Perjanjian, Akibat Perjanjian, Saat Berakhirnya perjanjian.

BAB III : PERJANJIAN TERAPEUTIK MENURUT HUKUM PERDATA DI INDONESIA

(13)

Bab ini membahas mengenai Timbulnya Hubungan Hukum Dalam Transaksi Terapeutik, Pengertian Transaksi Terapeutik, Asas-asas Dalam Transaksi Terapeutik, Sifat Transaksi Terapeutik, Dasar Hukum Terjadinya Transaksi Terapeutik, Syarat Sahnya Transaksi Terapeutik, Berakhirnya Transaksi Terapeutik, Hak dan Tanggung Jawab Dokter dengan Pasien.

BAB IV : TANGGUNG JAWAB PERDATA DOKTER TERHADAP TRANSAKSI TERAPEUTIK ANTARA DOKTER DENGAN PASIEN (STUDI KASUS RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr.DJOELHAM BINJAI)

Bab ini membahas mengenai Hubungan Hukum Antara Dokter dan Pasien Dalam transaksi Terapeutik, Tanggung Jawab Dokter Terhadap Pasien dalam Transaksi Terapeutik, dan Penyelesaian Perkara-perkara Perdata yang Dilakukan Oleh Dokter dalam Transaksi Terapeutik.

BAB V : PENUTUP

Bab ini terdiri dari Kesimpulan dan Saran.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :