• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM ADAT PERNIKAHAN MINANGKABAU SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM ADAT PERNIKAHAN MINANGKABAU SKRIPSI"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

1

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pada Jurusan Pendidikan Agama Islam

Oleh:

FATIMAH 2114.0364

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI

2018 M/1439

(2)

ABSTRAK

Fatimah, NIM: 2114.064, “Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Adat Pernikahan Minangkabau”. Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

Penelitian dilatarbelakangi oleh banyaknya masyarakat Minangkabau yang hamil di luar nikah yang tidak sesuai dengan filosofi orang Minangkabau adat basandi syarak,syarak basandi kitabulla, syarak mangato adat mamakai. Dan banyaknya kaula muda yang ingin menikah namun di persulit dengan permasalahan adat seperti sasuku dan adat nagari. Batasan masalah penelitian ini adalah nilai-nila pendidikan Islam dalam adatpernikahan Minangkabau. Dan yang menjadi rumusan masalah penelitianadalah Apakah nilai-nilai pendidikan Islam dalam adat pernikahandi Minangkabau?. Penelitian ini bertujuan untuk melihat Apa saja nilai-nilai pendidikan Islam dalam adat di Minangkabau.

Jenis penelitian ini adalah studi kepustakaan (Library Research), yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca, dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. Peneliti menggunakan sumber data primer dan sekunder, yang menjadi data primer adalah karya Bambang Suwondo dalam bukunya Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Sumatera Baratdan karya A.A Navis dalam buku Alam Terkembang Jadi Guru. Sedangkan Sumber data sekunder ini adalah data pendukung yang berasal dari majalah, koran, atau media internet yang bertujuan untuk memperkuat data primer yang bersumber dari rujukan utama dan buku utama pendukung lainnya.Teknik pengumpulan data yang peneliti lakukan adalah dengan cara membaca, mencatat, dan mengolah atau menganalisis data yang ada kaitannya dengan pembahasan, kemudian data yang diperoleh diklasifikasikan sesuai dengan keperluan. maka peneliti menganalisa data dengan menggunakan metodeInduktif dan metode deduktif.

Hasil penelitian menemukannilai-nilai pendidikan Islam dalam adat pernikahan di Minangkabau diantaranya: nilai iffah (kesucian diri), nilai haya‟ (rasa malu), nilai ta‟aruf (saling mengenal), nilai ta‟awun (tolong menolong), nilai ukhuwah (persaudaraan), musyawarah, amanah(jujur/dapat dipercaya), sertakasih sayang.

(3)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Shalawat dan salam penulis mohonkan kepada Allah SWT, semoga disampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan jalan yang terang dan petunjuk kepada kita semua.

Dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan rasa terimakasih yang sebebesar- besarnya kepada:

1. Ibu Rektor Dr. RidhaAhida, M.Hum dan wakil-wakil Rektor IAIN Bukittinggi.

2. Bapak Dr. H. Nunu Burhanuddin, Lc,.M.Ag selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Bukittinggi dan wakil-wakil dekan IAIN Bukittinggi.

3. BapakFauzan, M.Ag, selaku KetuaJurusanPendidikan Agama Islam dan staf tata usaha IAIN Bukittinggi, sekaligus sebagai pembimbing II yang senantiasa penuh kesabaran dalam memberikan pengarahan, dorongan, dan motivasi untuk menyelesaikan studi di IAIN Bukittinggi

4. BapakDr. Hasnawati, M.Pd selaku Penasehat Akademik (PA) senantiasa penuh kesabaran yang telah memberikan dorongan, pengarahan dan motivasi untuk menyelesaikan studi di IAIN Bukittinggi.

5. BapakDr.Muhiddinur Kamal, S.Ag, M.Pd selaku Pembimbing I yang telah memberikan arahan, bimbingan, motivasi, serta nasehat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Bapak dan Ibu Dosen serta karyawan IAIN Bukittinggi yang telah memberikan berbagai ilmu kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

(4)

7. Bapak/Ibu kepala perpustakaan, karyawan/ti Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, yang telah menyediakan fasilitas kepada penulis untuk mengadakan studi kepustakaan.

8. Teristemewa Kedua orang tua, Jamaan (Ayah), Martini (Umi),dan Humaidah(kakak),dan Abdul Gafur (abang), Muhammad Hiqbal (abang), Aisyah (kakak), Abdullah (adik), Salman Alfarisi (adik), dan Hamzah yang tidak henti-hentinya mendo‟akan, mensuport, menyemangati serta memberikan dorongan untuk kesuksesan penulis. Sebuah jasa yang tidak akan pernah terbalas dengan apapun kecuali hanya dengan kesuksesan. Serta saudara dan karib kerabat, nenek, paman dan bibi.

9. Seluruh mahasiswa dan teman-teman seperjuangan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi Angkatan 2014,terkhususmahasiswaJurusanPendidikan Agama Islam PAI B (BP. 2014) yang selalu bersama-sama berjuang dalam melewati suka dan dukanya masa perkuliahan hingga sama-sama pula menamatkan jenjang pendidikan Strata I. Dan teristimewa juga kepada (0813741629**) yang memberikan pesan yang sangat berarti untuk menjalankan kehidupan di dunia ini serta mendorong penulis untuk bersemangat dalam menyelesaikan studi.Atas segala bantuan yang telah diberikan, penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, semoga amal dan jasa baik yang telah diberikan mendapat balasan disisi Allah SWT. Aamiin yarabbal „aalamiin..

Akhirnya hanya kepada Allah SWT penulis berserah diri dan mohon ampunan dari dosa dan kekhilafan.

Bukittinggi, Juli 2018 Penulis,

FATIMAH NIM. 2114.064

(5)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI... v

BAB IPENDAHULUAN A. LatarBelakang Masalah ... 1

B. IdentifikasiMasalah ... 5

C. BatasanMasalah ... 5

D. RumusanMasalah ... 6

E. Tujuandan Kegunaan Penelitian ... 6

F. PenjelasanJudul ... 6

G. Sistematika Penulisan... 8

BAB II LANDASAN TEORI A. Nilai-Nilai Pendidikan Islam... 9

1. Pengertian Nilai-Nilai Pendidikan Islam ... 9

2. Sumber atau Landasan Nilai pendidikan Islam ... 16

3. Tujuan Pendidikan Islam ... 19

4. Fungsi Pendidikan Agama Islam ... 22

B. Pernikahan Adat Minangkabau ... 24

1. Pengertian Pernikahan ... 24

2. Pernikahan dalam Adat Minangkabau ... 26

3. Adat Pernikahan Minangkabau ... 32

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 48

B. Sumber Data... 48

C. Teknik Pengumpulan Data ... 49

D. Metode Analisa ... 50

BAB IV HASIL PENELITIAN Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Adat Pernikahan Minangkabau 1. Nilai Iffah... 54

2. Nilai haya‟... 56

(6)

3. Nilai ta‟aruf...58

4. Nilaiukhuwah... 60

5. Nilaita‟awun... 63

6. Musyawarah, ... 65

7. Amanah... 66

8. Kasih sayang... 68

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... ... 70

... B. Saran ... 71 DAFTAR KEPUSTAKAAN

(7)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi peradaban bangsa. Dan bagi negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam maka pendidikan Islam sangat dibutuhkan bagi penganutnya. Tidak hanya itu saja, Indonesia juga merupakan negara yang memiliki ragam budaya serta memiliki nilai-nilai yang terkandung dari setiap tradisi yang ada. Maka dari itu sangatlah penting untuk mengetahui tradisi/ adat yang dimiliki dan menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya melalui pendidikan.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 dipaparkan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampian yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara1.

Pendidikan Islam menurut Ahmad D. Marimba adalah bimbingan jasmani, rohani, berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuan Islam. Dengan pengertian lain beliau sering menyatakan kepribadian utama tersebut dengan

1 Nanang Purwanto, Pengantar Pendidikan, (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2014), Hal. 23

(8)

istilah kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, serta bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam2

Nilai menurut Milton Rokeach dan James Bank, adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan yang mana seseorang bertindak atau menghindari suatu tindakan atau mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan. Menurut Sidi Gazalba adalah sesuatu yang bersifat Abstrak, ia ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah menurut pembuktian empirik, melainkan soal penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki, disenagi dan tidak disenangi.3

Menurut pandangan idealisme, nilai itu absolut. Apa yang dikatakan baik, benar, salah, cantik, atau tidak cantik, secara fundamental tidak berubah dari generasi kegenerasi. Pada hakikatnya nilai itu tetap. Nilai tidak diciptakan manusia, melainkan merupakan dari bagian dari alam semesta.4

Maka nilai-nilai pendidikan Islam adalah sesuatu yang di pandang baik, buruk, benar, salah, indah, atau tidak indah sesuai dengan ajaran agama Islam. Ajaran agama Islam adalah ajaran agama yang memusatkan perhatiannya pada semua aspek, karena implikasi dari ajaran agama Islam

2M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), Hal. 7

3 Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996) Hal.

60-61

4Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: ALFABETA, 2015), Cet.10, Hal.

99

(9)

adalah hubungan manusia dengan Allah,manusia dengan manusia, serta hubungan manusia dengan sesama makhluk dan ciptaan-Nya. Oleh karena itu suatu nilai dalam ajaran agama Islam dapat ditemukan dalam suatu kebudayaan atau tradisi atau adat yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Adat adalah aturan/ perbuatan yang lazim di turut atau dilakukan sejak dahulu; kebiasaan; wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan satu dengan yang lain berkaitan menjadi suatu sistem.5Kata adat dalam pengertian Minangkabau berasal dari bahasa sanskerta yang dibentuk dari a dan dato. A artinya “tidak”, dato artinya sesuatu yang bersifat kebendaan. Adat pada hakikatnya adalah sesuatu yang tidak bersifat kebendaan. Jadi, adat ada dalam pikiran yang akan menentukan untuk bersikap dan berprilaku maupun berbuat serta mengambil tindakan.6

Adat Minangkabau adalah kumpulan dari aturan-aturan dan norma- norma kehidupan bermasyarakat, yang sesuai dengan hukum alam yang nyata, sesuai dengan hukum Islam, dibuat berdasarkan mufakat, untuk mencapai kesempurnaan hidup di dunia dan kesempurnaan hidup di akhirat.7Dalam kebudayaan orang Minangkabau adat dikatakan dengan peraturan hidup sehari-sehari.8 Hazairin berpendapat hukum yang berlaku bagi umat Islam di Indonesia adalah hukum Islam, hukum adat baru bisa berlaku kalau tidak

5Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia,(Padang: Balai Bahasa Padang: 2009), Hal.4

6Musyair Zainuddin, Ranah Minang dan Lingkungan Hidup,(Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2014), Hal.11

7Julius, Mambangkik Batang Tarandam, (Bandung, Citra Umbara, 2007), Cet.1, Hal.8

8Amir M.S, Adat Minangkabau, (Jakarta: Citra Harta Prima, 2011), Cet. 7, Hal. 1

(10)

bertentangan dengan hukum Islam9. Sehingga lahirlah falsafah di Minangkabau “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, syarat mangato, adat mamakai” (adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, syarak mengatakan adat memakai)10.

Karena adat di Minangkabau mencakup segala aturan yang berlaku dalam lingkungannya. Maka penulis hanyamengarahkan pada adat pernikahan yang ada di Minangkabau. Dalam agama Islam dikatakan bahwa segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan sesuai dengan firman Allah dalam QS.

az-Zariyat ayat 49





Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah..

Pernikahan menurut Zakiah Drajat yang juga dikutip oleh Abdul Rahman Ghozali adalah akad yang memberikan faedah hukum kebolehan mengadakan hubungan keluarga (suami istri) antara pria dan wanita danmengadakan tolong menolong dan memberi batas hak bagi pemiliknya serta pemenuhan kewajiban bagi masing-masingnya.11

Adapun fenomena yang di temukan adalah banyaknya masyarakat Minangkabau yang hamil di luar nikah yang tidak sesuai dengan filosofi

9 Yaswirman, Hukum Keluarga, Adat dan Islam, (Padang: Andalas University Press, 2006), Hal. 83

10Yaswirman, Hukum Keluarga, ...,Hal. 114

11Abdul Rahman Ghozali, Fikih Munakahat, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), Hal. 9

(11)

orang Minangkabau adat basandi syarak,syrak basandi kitabulla, syarak mangato adat mamakai. Dan banyaknya kaula muda yang ingin menikah namun di persulit dengan permasalahan adat seperti sasuku dan adat nagari.Maka dari itu penulis ingin melihat secara umum adat pernikahan di Minangkabau sesuai dengan buku-buku yang ada sehingga mampu mambangkikan batang yang tarandam dan tertarik untuk membahasnya dalam sebuah karya ilmiah yang berbentuk skripsi dengan judul NILAI- NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM ADAT PERNIKAHAN DI MINANGKABAU.

B. Identifikasi Masalah

Adapun yang menjadi identifikasi masalahnya adalah:

1. Hamil diluar nikah

2. Kaula muda yang ingin menikah di persulit dengan masalah adatseperti sasuku dan beda adat dalam nagari

C. Batasan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas maka batasan masalahnya adalah nilai-nila pendidikan Islam dalam adat pernikahan Minangkabau.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas maka rumusan masalahnya adalah Apa sajakah nilai-nilai pendidikan Islam dalam adat pernikahan Minangkabau?

(12)

E. Tujuan dan kegunaan

1. Tujuan dari penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui Apa saja nilai-nilai pendidikan Islam dalam adat pernikahan di Minangkabau.

2. Kegunaan dari penelitian ini adalah

a. untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S-1) pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Bukittinggi.

b. Sebagai kontribusi pemikiran dari penulis dan menambah koleksi bacaan pada perpustakaan IAIN Bukittinggi.

c. Sebagai wujud kepedulian penulis terhadap permasalahan yang ada d. Untuk menambah wacana serta sebagai tambahan pengetahuan bagi

pembaca terutama untuk penulis.

F. Penjelasan Judul

Untuk memperoleh gambaran yang jelas dan untuk menghindari pengertian yang salah tentang apa yang dimaksud dengan judul ini, maka penulis perlu menjelaskan pengertian yang ada di dalam judul ini. Hal ini untuk menghilangkan kesalahpahaman dalam mengartikan dan memahami kata-kata dan maksud dari judul ini. Berikut dijelaskan maksud dari beberapa kata yang mempunyai makna penting dalam penulisan skripsi, yaitu :

Nilai-nilai Pendidikan Islam sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan atau sesuatu yang

(13)

menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya12

Adat pernikahan apa yang meliputi seluruh perpestaan secara adat.13 Yang penulis maksud adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum nikah

Minangkabau salah satu nama kebudayaan yang ada di Sumatere Barat14

Maksud judul penelitian ini adalah usaha untuk menemukan nilai-nilai pendidikan Islam dalam adat pernikahan Minangkabau dengan melihat sumber yang terdapat dalam buku-buku yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan Islam dalam adat pernikahan Minangkabau.

G. Sistematika Penulisan

BAB I Merupakan pendahuluan, yang terdiri dari : Latar Belakang Masalah, Batasan dan Rumusan Masalah, Tujuan dan Kegunaan Pembahasan, Penjelasan Judul, Sistematika Penulisan.

BAB II Merupakan landasan teori yang terdiri dari : nilai- nilai pendidikan Islam yang membahas tentang (makna nilai-nilai pendidikan Islam, sumber/landasan nilai pendidikan Islam,

12 departemen dan kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), hal.

783

13Iskandar Kemal, Pemerintahan Nagari Minangkabau & Perkembangannya, (Yogyakarta: Graha Ilmu,2009), Hal. 50

14Datoek Toeah, Tambo Alam Minang Kabau, (Bukittinggi: Cv Pustaka Indonesia, 1985), Cet.13, Hal 12

(14)

tujuan pendidikan Islam dan fungsi pendidikan Islam), dan pernikahan adat Minangkabau yang membahas tentang (pengertian pernikahan, pernikahan dalam adat Minangkabau, dan adat pernikahan Minangkabau).

BAB III merupakan metodeologi yang terdiri dari : jenis penelitian, sumber data, metode analisis,dan teknik pengumpulan data.

BAB IV Merupakan hasil penelitian dari nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam adat pernikahan Minangkabau yang terdiri dari : nilai haya‟ (rasa malu), nilai ta‟aruf (saling mengenal), nilai ta‟awun (tolong menolong), nilai ukhuwah (persaudaraan), musyawarah, amanah(jujur/dapat dipercaya), serta kasih sayang.

BAB V Merupakan penutup yang terdiri dari:kesimpulan dan saran-saran.

(15)

BAB II

LANDASAN TEORITIS A. Nilai-Nilai Pendidikan Islam

1. Pengertian Nilai-Nilai Pendidikan Islam

Nilai-nilai dasar mencerminkan totalitas sebuah sistem. Nilai adalah angka kepandaian; ponten; sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya; harga; sifat-sifat (hal-hal yang penting/ berguna bagi kemanusiaan).15Menurut pandangan idealisme, nilai itu absolut. Apa yang dikatakan baik, benar, salah, cantik, atau tidak cantik, secara fundamental tidak berubah dari generasi kegenerasi. Pada hakikatnya nilai itu tetap. Nilai tidak diciptakan manusia, melainkan merupakan bagian dari alam semesta.16Menurut Milton dan James Bank, nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan, yang mana seseorang harus bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan, dimiliki atau dipercayai.17

Menurut Kluckhohan yang dikutip oleh Abdurrahman menyatakan bahwa nilai merupakan konsepsi (tesirat dan tersurat) yang sifatnya membedakan individu atau kelompok dari apa yang diinginkan, yang mempengaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir tindakan.

15Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia, (Padang: Balai Bahasa Padang, 2009), Hal.562

16 Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2015), Cet.10, Hal. 99

17Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. Ll, No. 2, 2005, Hal. 2

(16)

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa nilai merupakan rujukan dan keyakinan yang berharga untuk menentukan pilihan bertindak dalam kehidupan.18 Frankel menyatakan sebuah nilai adalah suatu ide atau konsep tentang sesuatu yang dipandang penting oleh seseorang dalam hidup. Nilai adalah ide-ide atau gagasan yang mencakup tentang apa yang benar, baik, dan indah yang mendasari pola-polabudaya dan memandu masyarakat dalam menangggapi unsur jamaniah dan lingkungan sosial.

Menurut Rokeach yang dikutip oleh Abdurrahman membedakan nilai menjadi dua, yaitu nilai instrumental yang sering muncul dalam perilaku dan nilai terminal yang lebih bersifat inherent, tersembunyi dalam nilai-nilai instrumental. Secara kronologis nilai-nilai yang dimaksudkan Rokeach disusun dalam hubungan berkaitan, yaitu keberadaan nilai terminal tergantung kepada nilai instrumental. Secara lengkap nilai-nilai itu dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Nilai instrumental dan nilai terminal Nilai instrumental Nilai terminal Bercita-cita keras

Berwawasan luas Berkemampuan Ceria

Bersih

Hidup nyaman Hidup bergairah Rasa berprestasi Rasa kedamaian Rasa keindahan

18 Abdurrahman, Nilai-Nilai Budaya dalam Kaba Minangkabau: Suatu Interpretasi Semiotik, (Padang, Unp Press, 2011), Hal. 32-33

(17)

Bersemangat Pemaaf Penolong Jujur Imajinatif Mandiri Cerdas Logis Cinta Taat Sopan

Tanggug jawab Pengawasan diri

Rasa persamaan Keamanan keluarga Kebebasan

Kebahagiaan Keharmonisan diri

Kasih sayang yang matang Rasa aman secara luas Kesenangan

Keselamatan Rasa hormat Pengakuan sosial Persahabatan abadi Kearifan

Dalam Islam nilai direntangkan menjadi lima kategori: baik sekali, baik, netral, buruk, buruk sekali (wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram).

Nilai dalam Islam ditentukan oleh Tuhan.19 Dalam akhlak (etika Islam) terdapat beberapa nilai luhur yang bersifat universal, yaitu: kejujuran, kebaikan, kebenaran, rasa malu, kesucian diri, kasih sayang, hemat, dan sederhana.

Kejujuran memiliki kesamaan makna dengan amanah. Menurut Hamzah Ya‟qub yang dikutip oleh Sudarsono amanah ialah suatu sikap dan sifat pribadi yang setia, tulus hati dan jujur di dalam melaksanakan suatu yang dipercayakan kepadanya, berupa harta benda, rahasia, maupun tugas kewajiban. Pelaksanaan amanat dengan baik disebut dengan “al-amin” yang berarti : yang dapat dipercaya yang jujur, yang setia, yang aman.

19 Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,(Bandung: Pt Remaja Rosdakarya, 2008), Cet. 16, Hal. 40

(18)

Kebaikanmemiliki aspek kesamaan dengan “al-Barr” yang meliputi aspek kemanusiaan dan pertanggungjawaban ibadah kepada Allah SWT.

Dalam jalur hubungan kemanusiaan; dalam tata hubungan hidup keluarga dan kemasyarakatan wajib dipahami bahwa kedua orang tua yaitu ayah dan ibu menduduki posisi yang paling utama. Walaupun demikian kewajiban ibadah kepada Allah dan taat kepada Rasul tetap berada diatas hubungan horisontal kemanusiaan.

Kebenaran memiliki kesamaan dengan “ash-shidqu”. Menurut etika Islam “Ash-Shidqu” (benar), yaitu sikap mental yang mampu memberikan dorongan kuat untuk beramal sesuai dengna kenyataan yang sesungguhnya baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jika masyarakat atau bangsa memiliki sifat ini maka mereka akan hidup tenang, tentram dan damai, penuh barokahNya; berarti terhindar dari cela, dosa atau kecurangan.

Rasa malumemiliki kesamaan makna dengan “al-haya” (malu). Sifat tersebut merupakan suatu kemampuan dalam jiwa setiap insan yang dapat berfungsi sebagai penghalang bagi seseorang untuk melakukan perbuatan- perbuatan tercela; perbuatan-perbuatan yang dapat mendegradasikan nilai- nilai kemanusiaannya sendiri karena merusak norma-norma agama, sosial dan kesusilaan.

kesucian dirimemiliki kesamaan arti dengan “al-iffah”. Sifat al-iffah pada hakikatnya merupakan prikeadaan jiwa yang mampu untuk menjaga diri dari perbuatan jahat. Di dalam etika Islam, nilai iffah menjadi salah satu nilai

(19)

luhur yang harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim. Salah satu perwujudan dari nilai al-iffah di dalam etika Islam ialah: menjaga kesucian pria dan wanita dari hubungan seks di luar perkawinan yang sah. Di dalam alquran surat an- Nur ayat 33 dijelaskan

dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya. Sehingga Allah memampukan mereka dengan karunianya.

( qs. an-Nur: 33).

Kasih sayangmemiliki makna dengan “ar-Rahman”. Kasih sayang merupakan pembawaan naluri setiap orang. Perwujudan sifat kasih sayang atau “ar-rahman” di dalam etika Islam meliputi: perlakuan kasih sayang di dalam keluarga, kasih sayang dalam lingkungan dan antar bangsa. Ketika seseorang memiliki sifat ar-rahman maka ia akan memiliki tingkah laku: suka menyambung tali kekeluargaan (silaturrahmi), memiliki rasa persaudaraan yag erat, mudah damai, mudah memaafkan kesalahan yang dilakukan orang lain kepadanya dan bersifat pemurah.

Hematmemiliki kesamaan makna dengan “al-iqtishad” yang dimaksud dengan hemat ialah menggunakan segala sesuatu yang tersedia berupa harta benda, waktu dan tenaga menurut ukuran keperluan, mengambil jalan tengah tidak kurang dan tidak berlebihan.

Kesederhanaandapat disamakan dengan istilah “qana‟ah” atau

“zuhud”. Menurut bahasa qana‟ah berarti menerima apa adanya atau tidak serakah. Sedangkan zuhud berarti sederhana. Kedua istilah tersebut tidak

(20)

memiliki perbedaan makna yang prinsipil. Dari segi etika Islam sifa qana‟ah atau zuhud merupakan prikeadaan jiwa yang mampu menerima dengan ikhlas apa yang ada pada dirinya; juga merupakan suatu perasaan berkecukupan dengan segala apa yang dimiliki baik yang bersifat materil maupun non materil.20

Istilah pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari kata dasar “didik” (mendidik)21. Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 dipaparkan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampian yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.22

Sedangkan secara umum kata pendidikan adalah upaya mempengaruhi orang lain agar berubah pola pikir, ucapan, perbuatan, sifat dan wataknya sesuai dengan tujuan yang diharapkan.23

Pendidikan Islam menurut Syahminan Zaini adalah usaha mengembanngkan fitrah manusia dengan ajaran agama Islam, agar terwujud

20 Sudarsono, Ilmu Filsafat, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), Cet.2, Hal. 206-223

21 Nanang Purwanto, Pengantar Pendidikan, (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2014), Hal. 19

22 Nanang Purwanto, Pengantar Pendidikan, (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2014), Hal. 23

23abuddin nata,kapita selekta pendidikan Islam,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2012), cet.1, Hal. 164

(21)

(tercapai) kehidupan manusia yang makmur dan bahagia.24 Pendidikan Islam menurut Ahmad D. Marimba yang dikutip olehM. Sudiyonoadalah bimbingan jasmani, rohani, berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain beliau sering menyatakan kepribadian utama tersebut dengan istilah kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, serta bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.25

Ketika nilai telah dilekatkan pada sebuah sistem, maka ia akan mencerminkan paradigma, jati diri dan grand concept dari sistem tersebut Oleh karena itu, nilai-nilai dasar pendidikan Islam bermakna konsep-konsep pendidikan yang dibangun berdasarkan ajaran Islam sebagai landasan etis, moral dan operasional pendidikan. Dalam konteks ini, nilai-nilai dasar pendidikan Islam menjadi pembeda dari model pendidikan lain, sekaligus menunjukkan karakteristik khusus.

Akan tetapi perlu ditegaskan, sebutan Islam pada pendidikan Islam tidak cukup dipahami sebatas "ciri khas". Ia berimplikasi sangat luas pada seluruh aspek menyangkut pendidikan Islam, sehingga akan melahirkan pribadi-pribadi Islami yang mampu mengemban misi yang diberikan oleh Allah, yakni sebagai khalifah dan 'abid.

24Syahminan Zaini, Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1986), Hal. 4

25 M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), Hal. 7

(22)

Dengan demikian, pendidikan yang dijalankan atas nilai dasar Islam mempunyai dua orientasi. Pertama, ketuhanan, yaitu penanaman rasa takwa dan pasrah kepada Allah sebagai Pencipta yang tercermin dari kesalehan ritual atau nilai sebagai hamba Allah. Kedua, kemanusiaan, menyangkut tata hubungan dengan sesama manusia, lingkungan dan makhluk hidup yang lain yang berkaitan dengan status manusia sebagai khalifatullah fi al ardh.26

2. Sumber/ Landasan Nilai Pendidikan Islam

Secara epistemologis, pendidikan Islam diletakkan pada dasar-dasar ajaran Islam dan seluruh perangkat kebudayaannya. Dasar-dasar pembentukan dan pengembangan pendidikan Islam merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat menghantarkan peserta didik kearah pencapaian pendidikan, sehingga yang menjadi dasar terpenting dari pendidikana Islam adalah Al-quran dan Sunnah Rasulullah (hadits).27

Menetapkan Al-Qur'an sebagai landasan epistemologis nilai-nilai dasar pendidikan Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata. Akan tetapi, justru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dapat dibuktikan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan. Sebagai pedoman, Al-Qur'an tidak ada keraguan padanya (QS. Al-Baqarah : 2). Ia

26 Sarjono, Nilai-Nilai Dasar Pendidikan Islam, (Jurnat Pendidikan Agama Islam Vol. Ll, No, 2, 2005), Hal. 136-137

27 Al-Rasyidin. Samsul Nizar, Pendekatan Historis, Teoritis Dan Praktis Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2005), Cet. 2, Hal. 34

(23)

tetap terpelihara kesucian dan kebenarannya (QS. Ar-Ra'du : 9), baik dalam pembinaan aspek sosial budaya dan pendidikan.

Demikian juga dengan kebenaran Sunnah sebagai dasar kedua bagi pendidikan Islam. Secara umum Sunnah dipahami sebagai segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perbuatan, perkataan dan ketetapannya. Kepribadian Rasul sebagai uswatun hasanatun (QS.Al-Ahzab : 21) dan perilakunya senantiasa terpelihara dan dikontrol oleh Allah (QS.An- Najm :3-4) adalah jaminan Allah bahwa mencontoh Nabi dalam segala hal adalah suatu keharusan.

Dalam pendidikan Islarn, Sunnah Nabi mempunyai dua fungsi, yaitu : (1) menjelaskan sistem pendidikan Islam yang terdapat dalam Al-Qur'an yang umumnya masih bersifat global, (2) menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasulullah bersama sahabat, perlakuannya terhadap anak-anak, dan pendidikan keimanan yang pernah dilakukannya.28

Dengan ungkapan lain, keberadaan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai landasan epistemologis pendidikan Islam tidaklah terputus atau terpisah, tetapi satu rangkaian yang hidup dan dinamis seperti dikehendaki oleh Islam.

Dari sini dasar-dasar pendidikan yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah menunjukkan nilai keilmiahannya.

28 Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Lslam, (Bandung: Cv.

Diponogoro,1992), Hlm. 47.

(24)

Landasan ketiga adalah ijtihad sahabat, pemikir muslim, juga pergumulannya dengan pemikir dan pemikiran Barat modern. Dalam pandangan Hasan Langgulung, para sahabat merupakan murid-murid dari guru teragung (Muhammad SAW). Sekolah Nabi SAW benar-benar telah menghasilkan manusia luar biasa yang dapat melintasi segala kesulitan dan tekanan serta mencatatkan namanya dalam lembaran sejarah sebagai orang- orang besar.29

Landasan epistemologis ketiga di atas. menunjukkan adanya kaitan pelaksanaan pendidikan Islam dengan situasi sosial kemasyarakatan dan tidak tercerabut dari akar sejarah. Nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang tidak bertentangan dengan landasan utama (Al-Qur'an dan Sunnah) tetap diakomodir dan menjadi bahan masukan yang berharga, dengan pertimbangan memberikan kemaslahatan kepada manusia dan menjauhkan kerusakan.

Dengan dasar ini, pendidikan Islam diletakkan dalam kerangka sosiologis, selain menjadi sarana transmisi pewarisan kekayaan sosial budaya yang positif bagi kehidupan manusia.

Kemudian, warisan pemikiran Islam juga merupakan dasar penting dalam pendidikan Islam. Dalam hal ini, contoh-contoh yang dilakukan para sahabat, hasil pemikran para ulama, filosof, cendekiawan muslim, khususnya berkaitan dengan pendidikan menjadi rujukan penting pengembangan

29Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1992), Hlm.120-122

(25)

pendidikan Islam. Pemikiran mereka ini pada dasarnya merupakan refleksi terhadap ajaran-ajaran pokok Islam. Terlepas dari hasil refleksi itu apakah berupa idealisasi atau kontekstualisasi ajaran Islam, yang jelas warisan pemikiran ini mencerminkan dinamika Islam dalam menghadapi kenyataan kehidupan yang terus berubah dan berkembang. Karena itu, ia dapat diperlakukan secara positif dan kreatif untuk pengembangan pendidikan Islam.

3. Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan ialah sasaran yang hedak dicapai oleh suatu aktivitas manusia, sebab aktivitas yang tidak mempunyai tujuan adalah pekerjaan sia-sia. Oleh karena itu tujuan pendidikan Islam menurut Syaminan Zaini adalah:

membentuk manusia yang mampu melasanakan tugasmanusia sebagai khalifah Allah di bumi, berjasmani kuat/sehat dan trampil, berotak ceras dan berilmu banyak, berhati tunduk kepada Allah, serta mempunyai semangat kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan pendirian yang teguh,30Muhammad Omar al-Toumy al-Syaibany menggariskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah untuk mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai tingkat akhlak al-karimah. Tujuan ini sama dan sebangun dengan tujuan yang akan dicapai oleh misi kerasulan, yaitu “membimbing agar manusia berakhlak mulia”.

Kemudian akhlak mulia dimaksud, diharapkan tercermin dari sikap dan

30Syahminan Zaini, Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1986), Hal. 48-53

(26)

tingkah laku individu dalam hubungannya dengan Allah, diri sendiri, sesama manusia dan sesama makhluk Allah, serta lingkungannya.

Tujuan pendidikan Islam memiliki karakeristik yang ada kaitannya dengan sudat pandang tertentu. Secara garis besarnya tujuan pendidikan Islam dapat dilihat dari beberapa dimensi yaitu:

a. Dimensi hakikat penciptaan manusia

Berdasarkan dimensi ini, tujuan pendidikan Islam diarahan kepada pencapaian target yang berkaitan dengan hakikat penciptaan manusia oleh Allah SWT. Dari sudut pandang ini maka pendidikan Islam bertujuan untuk membimbing perkembangan peserta didik secara optimal agar menjadi pengabdi kepada Allah yang setia (Q.S. 51:56)

b. Dimensi tauhid

Mengacu kepada dimensi ini, maka tujuan pendidikan Islam diarahkan untuk membimbing dan mengembangkan potensi peserta didik secara optimal agar dapat menjadi hamba Allah yang bertakwa.

c. Dimensi moral

Dalam dimensi ini manusia dipandang sebagai sosok individu yang memiliki potensi fitriyah. Menurut M Quraish Shihab, potensi ini mengacu kepada tiga kecendrungan utama, yaitu benar, baik, dan indah.

Pada dimensi ini tujuan pendidikan dititikberatkan pada upaya pengenalan terhadap nilai-nilai yang baik kemudian menginternalisasikannya serta mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam

(27)

sikap dan perilaku melalui pembiasaan. Sumber utama dari nilai-nilai moral dimaksud adalah ajaran wahyu

Tujuan pendidikan agama Islam bukanlah semata-mata untuk memenuhi kebutuhan intelektual saja,melainkan segi penghayatan juga pengamalan serta pengaplikasiannya dalam kehidupan dan sekaligus menjadi pegangan hidup.

Menurut H.M.Arifin yang penulis kutip dalam buku karangan Akmal Hawi mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membina dan mendasari kehidupan anak dengan nilai-nilai syari‟at Islam secara benar sesuai dengan pengetahuan agama.

Sedangkan imam Al-Ghazali berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam yang paling utama adalah beribadah kepada Allah dan kesempurnaan insan yang berorientasi pada kebahagiaan dunia akhirat.Selanjutnya Ahmad D.Marimba mengatakan bahwa tujuan pendidikan agama islam adalah untuk membentuk kepribadian muslim,yakni bertakwa kepada Allah,pendapat tersebut sesuai dengan firman Allah dalam al-qur‟an surah Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya sebagai berikut ini:

“Dan aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-ku”

Berpedoman dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan agama islam itu adalah untuk membentuk manusia yang mengabdi kepada Allah,cerdas,terampil,berbudi pekerti luhur

(28)

bertanggung jawab terhadap dirinya dan masyarakat guna tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat.31

4. Fungsi Pendidikan Agama Islam

Agama merupakan masalah yang absrak,tetapi dampak/pengaruhnya akan tampak dalam kehidupan yang konkret.Untuk mengkaji mengenai pentingnya pendidikan agama ini maka penulis akan mengungkapkan lebih dahulu fungsi agama itu sendiri.

Agama dalam kehidupan sosial mempunyai fungsi sebagai sosialisasi individu,yang berarti bahwa agama bagi seorang anak akan mengantarkannya menjadi dewasa.Sebab untuk menjadi dewasa seseorang memerlukan semacam tuntunan umum untuk mengarahkan aktivitasnya dalam masyarakat dan juga merupakan tujuan pengembangan kepribadian, dan dalam ajaran Islam inilah anak tersebut dibimbing pertumbuhan jasmani dan rohaninya dengan hikmah mengarahkan,mengajarkan,melatih,mengasuh dan mengawasi berlaku ajaran Islam.

Menurut Zakiah Darajat fungsi agama Islam itu adalah:

1. Memberikan bimbingan dalam hidup

Agama yang ditanamkan sejak kecil kepada anak-anak sehingga merupakan bagian dari unsur-unsur kepribadiannya,akan cepat bertindak menjadi pengendali dalam menghadapi segala keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan yang timbul.Karena keyakinan terhadap agama yang

31 Akmal Hawi, Kompetensi Guru PAI, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), Cet Ke-1, Hal 20-21

(29)

menjadi bagian dari kepribadiannya itu,akan mengatur sikap dan tingkah laku seseorang secara otomatis dari dalam.

2. Menolong dalam menghadapi kesukaran

Orang yang benar menjalankan agamanya,maka setiap kekecewaan yang menimpanya tidak akan memukul jiwanya.Ia tidak akan putus asa,tapi ia akan menghadapinya dengan tenang.Dengan cepat ia akan ingat kepada Tuhan,dan menerima kekecewaan itu dengan sabar dan tenang.

3. Menentramkan bathin

Agama bagi anak muda sebenarnya akan lebih tampak,betapa gelisahnya anak muda yang tidak pernah menerima pendidikan agama,karena usia muda itu adalah usia dimana jiwa yang sedang bergolak,penuh dengan kegelisahan dan pertentangan bathin dan banyak dorongan yang menyebabkan lebih gelisah lagi.Maka agama bagi anak muda mempunyai fungsi penentram dan penenang jiwa disamping itu,menjadi pengendali moral.

Dari beberapa fungsi agama diatas dapat kita katakana bahwa agama sangat perlu dalam kehidupan manusia, baik bagi orang tua maupun anak- anak,agama merupakan bibit terbaik yang diperlukan dalam pembinaan kepribadian serta pembentukan nilai-nilai Islami bagi anak. Anak yang tidak

(30)

pernah mendapatkan didikan agama di waktu kecilnya,tidak akan merasakan kebutuhan terhadap agama setelah ia dewasa nanti.32

Pada dasarnya fungsi pendidikan Islam adalah sebagai alat untuk memelihara,mengadakan perubahan,mengembangkan wawasan dan ilmu pengetahuan sesuai dengan perintah yang ada didalam Al-Qur‟an guna menuju terbentuknya kepribadian muslim yang seutuhnya sehingga mampu mengaplikasikan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam secara baik dan benar.

B. Pernikahan Adat Minangkabau 1. Pengertian pernikahan

Pernikahan menurut Zakiah Drajat yang juga dikutip oleh Abdul Rahman Ghozali adalah akad yang memberikan faedah hukum kebolehan mengadakan hubungan keluarga (suami istri) antara pria dan wanita dan mengadakan tolong menolong dan memberi batas hak bagi pemiliknya serta pemenuhan kewajiban bagi masing-masingnya.33Tidak dapat dipungkiri bahwa perkawinan/pernikahan merupakan suatu kebutuhan yang bersifat naluriah bagi setiap makhluk yang hidup. Pada dasarnya perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang akan melahirkan anak untuk menyambung

32 Akmal Hawi, Kompetensi Guru PAI, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), Cet Ke-1, Hal 21-23

33 Abdul Rahman Ghozali, Fikih Munakahat, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), Hal. 9

(31)

keturunan.34 Perkawinan dapat juga disebut sebagai titik awal dari proses pemekaran kelompok.35

Adapun perintah menikah atau hidup berpasangan, terdapat dalam QS.

az-Zariyat ayat 49





Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.

Ayat diatas mengatakan bahwa setiap sesuatu Allah ciptakan berpasang-pasangan, ada perempuan dan ada laki-laki. Untuk melangsungkan kehidupan Allah memerintahkan umatnya untuk meneruskan keturunan dengan cara menikah sebagaimana firman Allah dalam QS.an-Nur ayat 32













Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.

Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

34 Bambang Sumondo, Adat Upacara Perkawinan Sumatera Barat, (Padanng: Proyek Penelitian Dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1978), Hal.

22

35 Amir M.S, Adat Minangkabau, (Jakarta: Citra Harta Prima, 2011), Cet.7, Hal.22

(32)

2. Pernikahan dalam Adat Minangkabau

Adat adalah aturan/ perbuatan yang lazim di turut atau dilakukan sejak dahulu; kebiasaan; wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan satu dengan yang lain berkaitan menjadi suatu sistem.36 Kata adat dalam pengertian Minangkabau berasal dari bahasa sanskerta yang dibentuk dari a dan dato. A artinya “tidak”, dato artinya sesuatu yang bersifat kebendaan. Adat pada hakikatnya adalah sesuatu yang tidak bersifat kebendaan. Jadi, adat ada dalam pikiran yang akan menentukan untuk bersikap dan berprilaku maupun berbuat serta mengambil tindakan.37

Adat Minangkabau adalah kumpulan dari aturan-aturan dan norma- norma kehidupan bermasyarakat, yang sesuai dengan hukum alam yang nyata, menikahkan anak perempuan dengan calon mempelai laki-laki dengan syarat, bahwa calon mempelai laki-laki akan memberi mahar (mas kawin) kepada calon mempelai perempuan.

Menurut Ter Haar yang dikutip oleh Iskandar Kemal, pernikahan ialah pembelian antara wali perempuan dan lelaki, dengan menyerahkan seorang perempuan untuk dikawini pihak lelaki, sementara lelaki menerima penyerahan ini dengan syarat membayar uang mahar, dengan atau tanpa syarat-syarat dalam perjanjian (talik). Sedangkan Hazairin yang dikutip oleh

36 Ensklopedia, Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia, (Padang: Balai Bahasa Padang:

2009), Hal.4

37 Musyair Zainuddin, Ranah Minang dan Lingkungan Hidup,(Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2014), Hal.11

(33)

Iskandar Kemal berpandangan bahwa: “nikah adalah suatu perbuatan hukum dalam hal mana wali dari perempuan mengawinkan wanita itu dengan syarat, supaya lelaki itu membayar mas kawin (maharnya) kepada pihak perempuan”.

Selain dari itu beliau menyatakan, bahwa perempuan itu pihak istri menerima persyaratan itu sebagai mas kawinnya. Lelaki tidak boleh mengucapkan kabul ragu-ragu atau bimbang, tetapi tegas, bahwa apa yang diserahkan oleh wali perempuan diterimanya dengan membayar uang mahar. Jika pembayaran mahar dilakukan kemudian atau perkataan ini diucapkan tidak kepada wali mempelai perempuan, maka nikah ini menjadi dinyatakan batal.38

Dalam alam pikiran orang Minangkabau, tata cara perkawinan ada dua, yakni menurut syarak (agama) dan menurut adat. Yang disebut menurut syarak ialah mengucapkan akad nikah di hadapan kadhi. Pernikahan yang hanya dilakukan secara syarak saja belum dapat diartikan sebagai suatu perkawinan yang telah selesai sehingga perkawinan tersebut di sebut dengan perkawinan gantung atau nikah ganggang. Maka dari itu, pernikahan menurut adat perlu pula dilaksanakan. Perkawinan baru di anggap sah bila telah dilakukan perkawinan menurut adat, yakni setelah dilaksanakan upacara baralek (berhelat), yaitu perjamuan.39

38Iskandar Kemal, Pemerintahan Nagari Minangkabau dan Perkembangannya,(Yogyakarta:

Graha Ilmu, 2009), Edisi.2, Hal. 51

39 A.A Navis, Alam Terkembang Jadi Guru, (Jakarta: Pt Grafiti Pers, 1984), Cet.1, Hal 197- 198

(34)

Dalam tiap masyarakat dengan susunan kekerabatan bagaimanapun, perkawinan mempunyai penyesuaian dalam banyak hal. Perkawinan menimbulkan hubungan baru tidak saja antara pribadi yang bersangkutan, antara mempelai laki-laki (marapulai) dan mempelai perempuan (anak daro), tetapi juga antara dua keluarga. Latar belakang antara kedua keluarga bisa sangat berbeda, baik asal usul, kebiasaan hidup, pendidikan, tingkat sosial, tata krama, bahasa, dan lain sebagainya. Oleh karena itu syarat utama yang harus dipenuhi oleh perkawinan adalah kesediaan dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dari masing-masing pihak. Pengenalan dan pendekatan untuk dapat mengenal watak masing-masing pribadi dan keluarganya penting sekali guna memperoleh keserasian atau keharmonisan dalam pergaulan antara keluarga kelak.

Berpilin duanya antara adat dan agama Islam di Minangkabau membawa konsekwensi sendiri. Baik ketentuan adat maupun ketentuan agama dalam mengatur hidup dan kehidupan masyarakat Minangkabau tidak dapat diabaikan. Kedua aturan itu harus dipelajari dan dilaksanakan dengan cara serasi, seiring, dan sejalan.

Pelanggaran, apalagi pendobrakan, terhadap salah satu ketentuan adat maupun ketentuan agama Islam dalam masalah perkawinan akan membawa konsekwensi yang pahit sepanjang hayat bahkan berkelanjutan kepada keturunan. Oleh karena itu dalam perkawinan orang Minangkabau selalu berusaha memenuhi semua syarat perkawinan yang lazim di Minangkabau.

(35)

Syarat-syarat itu menurut Fiony Sukmasari dalam bukunya perkawinan adat minangkabau yang di kutip oleh Amir M.S adalah sebagai berikut :40

1. Kedua calon mempelai harus beragama Islam

2. Kedua calon mempelai tidak sedarah atau tidak berasal dari suku yang sama, kecuali pesukuan itu berasal dari nagari atau luhak yang lain.

3. Kedua calon mempelai dapat saling menghormati dan menghargi orang tua dan keluarga kedua belah pihak.

4. Calon suami (marapulai) harus sudah mempunyai sumber penghasilan untuk dapat menjamin kehidupan keluarganya.

Perkawinan yang dilakukan tanpa memenuhi semua syarat di atas dapat dianggap perkawinan sumbang atau perkawinan yang tidak memenuhi syarat menurut adat minang. Selain dari itu, masih ada tata krama dan upacara adat dan ketentuan agama Islam yang harus dipenuhi seperti tata krama pinang maminang, batuka tando,akad nikah,japuik manjapuik, baralek gadang, jalang manjalang, dan sebagainya. Tata krama dan upacara adat perkawinan inipun tak mungkin diremehkan karena semua orang Minang menganggap bahwa perkawinan itu sesuatu yang agung. Yang kini diyakini seumur hidup.41

40Amir M.S, Adat Minangkabau, (Jakarta: Citra Harta Prima, 2011), Cet.7, Hal. 12

41 Amir M.S, Adat Minangkabau, (Jakarta: Citra Harta Prima, 2011), Cet.7, Hal. 12-13

(36)

Oleh karena itu perkawinan yang akan dilangsungkan itu harus di dasarkan atas suka sama suka antara anak daro dan marapulai. Hamka telah menyatakan dalam bukunya yang dikutip oleh Amir M. S “tiap-tiap wanita tidak boleh dinikahkan dengan tidak dimufakati terlebih dahulu, dan seorang perawan juga tidk boleh dikawinkan tanpa persetujuannya”.42

Pegawai NTR mengawasi pernikahan agar perkawinan yang akan dilangsungkan tidak bertentangan dengan seluruh peraturan yang berlaku.

Dalam residentie Sumatera Barat pegawai pejabat pernikahan tidak boleh melangsungkan pekawinan jika melanggar syarat-syarat adat. Akan tetapi kebijakan pemerintah negara berubah, Undang-Undang No 22 tahun 1946 dan instruksi Menteri Agama No. 4/1947, mengubah kewajiban untuk mengawasi larangan adat. Undang-Undang ini berlaku untuk seluruh Indonesia yang digantikan dengan Undang-Undang No. 7 tahun 1954. Karena hal ini adat yang menghalangi perkawinan, dengan sendirinya orang bisa mengabaikan kesulitannya dengan pergi keluar daerah lain. Dengan aturan ini, hukum Islam mencapai kemenangan tentang syarat syahnya suatu pernikahan. 43

3. Adat Pernikahan Minangkabau

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas maka yang dimaksud dengan adat pernikaha Minangkabau adalah segala bentuk upacara/perpestaan

42Amir M.S, Adat Minangkabau, ..., Hal. 15

43 Iskandar Kemal, Pemerintahan Nagari Minangkabau dan Perkembangannya,(Yogyakarta:

Graha Ilmu, 2009), Edisi.2, Hal. 51-52

(37)

yang dilakukan di Minangkabau. Atau dapat juga diartikan segala tatacara yang dilaksanakan/kebiasaan yang dilakukan dalam merayakan pernikahan yang dianggap sakral di Minangkabau. Adapun adat pernikah Minangkabau adalah:

a. Pinang-Maminang

Pinang-meminang(pinang-maminang) lazimnya diprakarsai kerabat pihak perempuan. Apabila seorang gadis telah dipandang pantas untuk menikah berumah tangga maka mulailah kerabatnya manyalangkan mato (melihat-lihat atau mendengar-dengar jejaka mana yang sudah layak beristri dan yang pantas untuk disandingkan dengan anak gadis mereka).

Bila yang dicari telah ditemukan, berundinglah pihak kerabat memperbincangkan keadaan calon yang diincar.

Bila rundingan lancar maka ditugaskanlah seseorang untuk melakukan penyelidikan, apakah pihak laki-laki mau menerima pinangan mereka. Jika hasil penyelidikan itu memberi angin, barulah dikirim utusan untuk melakukan pinangan yang di pimpin oleh mamak si gadis, kepastian hasil dalam pinang-meminang dirundingkan terlebih dahulu oleh pihak laki-laki dengan seluruh kerabatnya. Pada hari yang telah disepakati pihak perempan kembali datang menemui pihak laki-laki untuk mendengar pinangannya diterima atau tidak.44

44 A.A Navis, Alam Terkembang Jadi Guru, (Jakarta: PT Temprint, 1984), Cet.1, Hal. 199

(38)

Pengecualian peminangan ada juga terjadi. Ada beberapa negari dimana kebiasaan meminang dilakukan oleh keluarga laki-laki. Tetapi setelah diperhatikan hal ini terjadi kemudian karena mengingat kenyataan dalam peminangan orang-orang terpandang dalam negeri misalnya peminangan penghulu dan raja-raja. Pada negeri-negeri tersebut peminangan penghulu tetap juga dilakukan oleh keluarga perempuan dan bukan sebaliknya.

Disamping kedua cara peminangan diatas terdengar pula istilah siatajun itu patah (siapa terjun dia itu yang patah), maksudnya siapa yang berminat terhadap seseorang dialah yang terlebih dahulu meminang, suatu cara yang merupakan campuran dari cara diatas terlihat pada beberapa negari. Tapi bagaimana pun dari ketiga cara peminangan yang ada, peminangan oleh keluarga perempuan masih tetap dominan dan lebih umum.45Apabila pinangan telah diterima, tidaklah otomatis perkawinan bisa dilangsungkan. Rundingan selanjutnya ialah untuk menentukan kapan waktunya pertunangan dilaksanakan yang biasa di sebut dengan batimbang tando. Pada dasarnya peminangan dilakukan tiga tahap:46

45 Bambang Suwando, Adat Upacara Perkawinan Sumatera Barat, (Padanng: Proyek Penelitian Dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978), Hal.

29

46 Bambang Suwando, Adat Upacara, ...,Hal.43

(39)

1. Penjajakan (maresek-resek)

Maksudnya yaitu apabila seorang perempuan Minangkabau telah cukup umur untuk berumah tangga maka keluarganya berkewajiban mencarikan pasangan untuknya, yang kemudian disepakati dengan si perempuan tersebut. Ini merupakan kewajiban dari mamak terhadap kemenakan-kemenakan perempun, supaya mengawinkan sehingga tidak ada yang tua dalam rumah gadang.47 Namun ketika si gadis ataupun si laki-laki telah mempunyai calon maka diberi tugaslah beberapa anggota keluarganya (perantara) untuk mencari tahu bagaimana si calonnya. Pekerjaan ini dilakukan dengan hati-hati sekali sehingga tidak kentara oleh orang banyak, sehingga kalau lamaran atau usaha itu menemukan jalan buntu tidak akan menimbulkan malu.

Perantara harus dapat menyampaikan maksudnya sebaik- baiknya, biasanya dengan menyidir secara tak langsung. Proses ini dapat berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Apabila dari hasil penyelidikan ini, manti (perantara) berkesimpulan bahwa orang yang dituju sudah ingin bermenantu dan kira-kira akan setuju dengan calonnya, maka manti akan memberi tahu keluarga yang akan

47 Iskandar Kemal, Pemerintahan Nagari Minangkabau Dan Perkembangannya,(Yogyakarta, Graha Ilmu, 2009), Edisi.2, Hal. 37

(40)

meminang untuk mengadakan pembicaraan seterusnya. Maka mulailah tahap perundingan yang akan menjurus kepada peminangan.

2. Peminangan resmi

Setelah manti (perantara) menyelesaikan tugasnya dan mendapatkan hasil bahwa calon yang dituju kira-kira setuju. Maka diadakanlah kunjungan peminangan dengan cara mengirimkan utusan ke rumah calon menantu tersebut dengan membawa rombongan, lebih- kurang lima puluh orang, yang terdiri dari orang dekat, niniak-mamak, urang sumando, sanak keluarga, serta orang kampung. Dan yang menanti juga terdiri dari orang dekat, niniak-mamak, urang sumando, sanak keluarga, serta orang kampung pula.

Pada kunjungan ini yang berbicara hanyalah beberapa orang niniak mamak dan urang sumando kedua belah pihak selebihnya hanya mendengar saja. Dalam pembicaraan tersebut didapatlah jawaban bahwa yang bersangkutan telah setuju. Pertemuan ini akan ditutup dengan peresmian bertunangan yang disebut batuka cincin atau batuka tando atau batimbang tando. Peminangan resmi biasanya dilakukan pada waktu habis zuhur (sore) atau malam hari di rumah orang yang dipinang. Tempat pertunangan ini bisa dilakukan di tempat laki-laki kalau yang meminang keluarga perempuan atau sebaliknya.

(41)

3. Batuka tando

Yaitu pertukaran tanda bahwa mereka telah berjanji menjodohkan anak kemenakan mereka di suatu waktu kelak.48 Atau bisa juga diartikan pengukuhan perjanjian. Jadi sesudah ada persetujuan lalu dikukuhkan dengan penukaran barang-barang tertentu yang disebut tando (tanda). Barang-barang tersebut dapat terdiri dari bermacam-macam benda, seperti : cincin, gelang, kain, atau tidak ada sama sekali. Hal ini berguna unuk menghalangi masing-masing pihak bertindak lain. Umumnya wanita yang telah bertunangan akan dibatasi geraknya, dahulu di sebut dengan pingit artinya tidak boleh keluar rumah untuk sesuatu yang tidak jelas. Sekarang pingitan tidak ada lagi, walaupun begitu keluarga perempuan akan tetap mengawasi anak kemenakannya.

Apabila pertunangan putus akan mengakibatkan sangsi atau denda. Besar dan bentuk denda bermacam-macam, pada umumnya denda dibayar oleh orang yang bersalah melalui putusan niniak- mamak (penghulu) dalam negari. Mungkirnya perjanjian karena perangai salah satu pihak tidak disenangi, baik itu yang bersangkutan maupun tingkah laku kaum keluarganya, maka boleh memutuskan

48 A.A Navis, Alam Terkembang Jadi Guru, (Jakarta: PT Temprint, 1984), Hal.199

(42)

ikatan tadi. Punghulu wajib menghukum putus ikatan perjanjian orang itu dengan berbagai-bagai timbangan:49

Pertama, jika kesalahan kedua belah pihak sama berat maka hukumannya tando dikuak, yakni pulang memulangkan sebelah menyebelah, dan ikatan janjinya putus di situ saja.Kedua, adakalanya dihukumkan hilang tanda sebelah yang menyebabkan mungkir atau yang dilipat dua, membayar dua kali lipat kimat ikatan tanda itu kepada yang dimungkiri. Dan ada pula yang ditambah hukuman memulangkan tanda itu dengan membayar kesalahan kepada penghulu yang mempertimbangkan tanda itu dahulu, serta dengan hakim-hakim yang duduk menimbang. Maka bayaran kesalahan itu berupa menjamu penghulu itu minum makan, baik dengan memotong ayam, atau lain sebagainya menurut adat yang dibiasakan dalam sebuah nagari. Itulah hukuman adat tentang ikatan janji kawin dalam hal sumando manyumando yang dipertalikan dengan adat yang kawin dalam nagari.50 b. Menentukan hari (manakuak hari)

Yang dimaksudkan dengan menentukan hariatau manakuak hari adalah memusyawarahkan rencana waktu akan dilangsungkan perkawinan sekalian dengan pestanya. Sehingga dengan adanya acara ini rencana

49 Ibrahim Dt. Sanggoeno Diradjo, Tambo Alam Minangkabau,(Bukiktinggi: Kristal Multimedia, 2014), Hal.273

50Ibrahim Dt. Sanggoeno Diradjo, Tambo Alam Minangkabau,(Bukiktinggi: Kristal Multimedia, 2014), Hal.274

(43)

tersebut bisa disesuaikan dengan rencana keluarga calon marapulai atau anak daro.

c. Manyiriah

Kira-kira tiga hari sebelum upacara puncak perkawinan (pesta) dilakukan acara manyiriah atau mengundang orang datang pada kenduri perkawinan. Ini disebut juga mamanggia atau manjapuik.

d. Mas kawin, uang antaran, uang jemputan, dan sebagainya

Masyarakat Minangkabau tidak mengenal mas kawin atau semisalnya. Namun marapulai yang datang untuk bertempat tinggal dirumah istrinya selain membayar mahar untuk hukum Islam, membawa juga perangkat keperluan anak dara yang jadi istrinya itu yang disebut dengan panibo. Panibo itu berbentuk sepasang pakaian lengkap untuk anak daro. Diberbagai luhak atau negeri panibo itu berbeda-beda bentuknya. Ada yang memberi selimut wol tebal, umpanya di nagari yang berhawa dingin. Di berbagai negeri lain terutama di daerah pantai barat, di kenal uang jemputan yang berupa uang atau benda lain yang diberikan kerabat perempuan kepada kerabat laki-laki.

e. Malam bainai

Acara malam bainai dilaksanakan di rumah anak dara, yang diadakan sehari atau beberapa hari sebelum hari pernikahan. Bainai ialah memerahan kuku pengantin dengan daun inai yang telah dilumatkan.

Bainai semata-mata dihadiri perempuan dari kedua belah pihak, pihak ibu

(44)

atau bakonya masing-masing. Bahan inai diletakkan di hadapan kedua pengantin. Yang akan di inai kedua puluh kuku jari mereka masing- masing. Anak daro diinai kerabat marapulai, dan marapulai diinai kerabat anak daro. Yang pertama diberi kesempatan ialah ibu marapulai untuk menginai calon menantunya dan yang kedua ibu anak daro yang akan menginai calon menantunya pula. Demikianlah selanjutnya secara berturut-turut.

Tujuan menginai kuku agar merah ialah untuk memberikan pertanda kepada kedua pasangan itu bahwa mereka yang merah kukunya adalah pengantin baru sehingga kalau mereka berjalan berdua, semua orang sudah tahu kalau mereka adalah pengantin baru dan takkan ada orang yang mengusiknya.

f. Pernikahan

Nikah atau akad nikah adalah perjanjian antara seorang lelaki dengan seorang perempuan untuk hidup bersama sesuai dengan ajaran agama Islam yang menimbulkan hak dan kewajiban. Acara pernikahan menurut kebiasaan yang lazim dilaksanakan di rumah anak daro. Namun bisa juga dilaksanakan di masjid. Jika dilaksanakan di masjid, calon marapulai di jemput ke rumah orang tuanya untuk dibawa kemasjid oleh utusan kerabat anak daro. Utusan itu terdiri dari kaun laki-laki saja. Bila dalam perjanjian semula ada syarat-syarat yang harus diisi pihak anak daro, maka pada waktu itulah perjanjian itu dipenuhi.

(45)

g. Manjapuik marapulai

Acara yang paling pokok dalam perkawinan menurut adat istiadat ialah basandiang (bersanding) yaitu utuk mendudukkan kedua pengantin di pelaminan untuk disaksikan jamu atau tamu yang hadir. Sebelum bersanding, marapulai terlebih dahulu dijeput ke rumah kerabatnya. Pada waktu itulah segala upacara adat istiadat perkawinan harus dipenuhi sebagaimana yang disepakati sebelumnya.

Acara japuik manjapuik dilakukan setelah upacara keagamaan ijab-kabul atau akad nikah dilaksanakan. Apabila terjadi penyimpangan yang disebabkan hal-hal tertentu, maka hal tersebut dapat terlaksana apabila ada persetujuan kedua belah pihak terlebih dulu. Persetujuan dimaksud disebutkan dalam adat, “adat habih dek bakarilahan, habih cupak dipalilihan, cencang aie indak putuieh, cencang abu tak babakeh”(adat habis karena saling merelakan, habis cupak karena pelilihan, cencang air tidak putus, cencang abu tak berbekas). Maksudnya, dalam hubungan bermasyarakat, adat memberikan beberapa kelonggaran dalam pelaksanaan adat itu sendiri. Dengan syarat adanya kerelaan antara kedua belah pihak untuk tidak mengikuti jalur adat sepenuhnya di dalam satu kasus tertentu, disebabkan kesulitan teknis atau pertimbangan- pertimbangan lainnya.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya dewan direksi diharapkan dapat menciptakan hubungan yang baik dengan pihak manajemen sehingga dapat mengambil keputusan permodalan yang optimal yang bertujuan

caranya adalah dengan mengadakan forecasting peramalan data dari tahun 2016 hingga tahun 2035, dengan menggunakan data ekspor Indonesia dan Vietnam tahun 2000-2016 atau 16 tahun

Setelah berdirinya Sinode Gereja Masehi Injili di Bolaang Mongondow (GMIBM) tahun 1950, maka gereja Kotamobagu tergabung dalam anggota GMIBM bersama dengan gereja

Didapati stres kerja memiliki pengaruh negatif atau tinggi tingkat stess yang dialami karyawan semakin menurun kinerja yang dihasilkan begitu juga sebaliknya,

23 Jika ada orang lain yang sedang mendapat masalah, saya pura-pura tidak tahu. 24 saya tidak ingin memberikan bantuan kepada teman yang

Sistem pencahayaan pada bangunan sebagian besar dilakukan dengan cara memanfaatkan cahaya matahari kedalam bangunan, memanfaatkan cahaya matahari ini menggunakan bukaan

Tujuan makalah ini adalah merumuskan strategi transformasi kelembagaan gapoktan dan Lembaga Keuangan Mikro-Agribisnis (LKM-A) mendukung pengembangan agribsinis di perdesaan. Metode

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak terdapat pengertian perkawinan secara jelas. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata hanya memandang soal perkawinan hanya