MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMP MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE INVESTIGASI KELOMPOK.

40 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMP

MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE INVESTIGASI KELOMPOK (Group Investigation)

(Penelitian Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII Semester Ganjil pada Salah Satu SMP Negeri di Kota Cimahi)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Jurusan Pendidikan Matematika

Oleh NINA INDRIANI

0605525

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

Meningkatkan Kemampuan Berpikir

Kreatif Siswa SMP Melalui

Pembelajaran Kooperatif Tipe

Investigasi Kelompok (

Group

Investigation

)

Oleh Nina Indriani

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

© Nina Indriani 2013 Universitas Pendidikan Indonesia

Agustus 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMP MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE INVESTIGASI KELOMPOK

(Group Investigation)

(Penelitian Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII Semester Ganjil di Salah Satu SMP Negeri di Kota Cimahi)

Oleh

NINA INDRIANI NIM 0605525

Disetujui dan disahkan oleh: Pembimbing I,

Dr. Bambang Avip P, M.Si NIP. 19641205199031001

Pembimbing II,

Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Pd.

NIP. 197006162005012001

Mengetahui,

Ketua Jurusan Pendidikan Matematika

(4)

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMP

MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE INVESTIGASI

KELOMPOK (GROUP INVESTIGATION)

Nina Indriani 1)

Dr. Bambang Avip P, M.Si 2) Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Pd 2)

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi masalah masih rendahnya kemampuan berpikir kreatif siswa sehingga diperlukan alternatif pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa SMP dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation). Tujuan khususnya adalah: (1) mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kreatif pada siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) dengan siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensional; (2) mengetahui apakah ada perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kreatif antara kelompok tinggi, sedang, dan rendah setelah siswa mendapatkan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation). Dalam penelitian ini digunakan metode kuasi eksperimen dengan desain kelompok kontrol tidak ekivalen. Penelitian dilakukan terhadap siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Cimahi pada semester ganjil. Instrumen yang digunakan berupa: tes, lembar observasi, jurnal harian siswa, dan lembar wawancara. Berdasarkan hasil pengolahan data secara statistik dan deskriptif, diperoleh informasi bahwa: 1. peningkatan kemampuan berpikir kreatif pada siswa yang mendapatkan pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) lebih tinggi daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan pembelajaran konvensional; 2. terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kreatif antara siswa kelompok tinggi, sedang, dan rendah setelah mendapatkan pembelajaran matematika dengan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) dimana perbedaan kemampuan berpikir kreatif terdapat pada kelompok tinggi-sedang dan kelompok tinggi-rendah dengan peningkatan kemampuan berpikir kreatif tertinggi terdapat pada kelompok tinggi, sedang, dan rendah.

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok (group

investigation), berpikir kreatif.

Keterangan : 1) Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika UPI

2)

(5)

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMP

MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE INVESTIGASI

KELOMPOK (GROUP INVESTIGATION)

Nina Indriani

ABSTRACT

The main problem underlied this research is the issue of the enhancement of students mathematical creativity ability. So, the alternative model of learning has been needed to increase that mathematical creativity ability of the students. This research aims to see whether mathematical creativity ability of the students with Cooperatif Learning Type Group Investigation better than conventional learning. In the other hand, to see diferent creativity ability the studends from high groups, middle groups, and lower groups. The level of students mathematical creativity ability was measured by using written test consist of pretest and posttest, and to see the students attitude, the researcher uses student questionnaire, and observation sheets. Based on the results of data processing, it is concluded that the students mathematical creativity ability with cooperatif learning type group investigation are better than conventional learning. The second concluded there are diferent mathematical creativity ability students between high group, middle group, and lower group. However the attitude of students towards cooperatif learning type group investigation is positive. Therefore, it is suggested that more teachers familiarize their students to learn independently and actively in learning activities in the classroom where the teacher acts as a facilitator. Students also have to get accustomed to stories about linking mathematics with other disciplines and everyday life so that they can feel the benefits of math in life.

Keywords : cooperatif learning type group investigation, Mathematical Creativity

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR DIAGRAM ... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

E. Definisi Operasional ……….. 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kemampuan Berpikir Kreatif ... 9

B. Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok (Group Investigation) ... 13

C. Teori Konstruktivisme ... 16

D. Keterkaitan antara Kemampuan Berpikir Kreatif dengan Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok ... 17

E. Hipotesis Penelitian ... 18

BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian ... 19

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 20

C. Variabel Penelitian ... 20

D. Instrumen Penelitian ... 20

(7)

2.... Lem bar Observasi .……….. ... 29 3.... Jurna

l Harian ... 30 4.... Waw

ancara ... 30 E. Prosedur Penelitian ... 31 F. Analisis Data ... 32 1... Peng

olahan Data Kuantitatif ... 32 2... Peng

olahan Data Kualitatif ... 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian ... 36 1... Peng

olahan Hasil Tes Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa ... 36 2... Anal

isis Data Pre-test ... 39 3.... Anal

isis Data Post-test ... 42 4.... Anal

isis Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif ... 45 5.... Data

Kelas Eksperimen Kelompok Tinggi, Sedang, dan

Rendah ... 49 6... Anal

(8)

7.... Anal isis Data Post-test Kelas Eksperimen Kelompok Tinggi, Sedang,

dan Rendah ... 57

8.... Anal isis Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Kelompok Tinggi, Sedang, dan Rendah ... 61

9... Anal isis Data Lembar Observasi ... 68

10. ... Anal isis Data Hasil Wawancara ... 69

11. ... Anal isi Data Hasil Jurnal Siswa ... 70

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 72

1. ... Kem ampuan Berpikir Kreatif ... 72

2. ... Kem ampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelompok Tinggi, Sedang, dan Rendah Kelas Eksperimen ... 75

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 79

B. Saran ... 79

DAFTAR PUSTAKA ... 81

(9)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tujuan guru dalam kegitan belajar mengajar siswa adalah untuk mencapai kompetensi-kompetensi matematika yang dituangkan dalam draft paduan KTSP pelajaran matematika sehingga kompetensi tersebut dapat dicapai dan dimiliki siswa selama dan setelah proses pembelajaran. Kompetensi tersebut diharapkan mampu membantu siswa menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan dimasa mendatang. Hal ini sesuai dengan fungsi pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

(10)

suatu konsep dasar dengan cara yang berbeda. Sikap seorang yang berpikir kreatif seperti yang disebutkan diatas diakui perlu bagi siswa selama dan setelah proses pembelajaran.

Pentingnya berpikir kreatif juga diungkapkan oleh Peter (2012: 39) bahwa “Student who are able to think creatively are able to solve problem effectively”. Agar dapat bersaing dalam dunia kerja dan kehidupan pribadi, siswa harus memiliki kemampuan pemecahan masalah dan harus bisa berpikir dengan kreatif. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kreatif penting dikembangkan dalam setiap kegiatan pembelajaran. Sekolah sebagai lembaga formal pendidikan sangat berperan penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Salah satu mata pelajaran yang diberikan di sekolah adalah matematika. Pentingnya kemampuan berpikir kreatif dalam matematika diungkapkan oleh Lunenburg (2011: 3) yang berpendapat bahwa “…in the minds of students thinking creatively,

mathematical content is transformed into mathematical thinking”.

Untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa, telah banyak upaya yang dilakukan untuk memperbaiki aspek-aspek yang berkaitan dengan proses dan kegiatan pembelajaran, antara lain perbaikan pada kurikulum, tujuan, pelaksanaan pembelajaran, juga evaluasi. Akan tetapi, pada kenyataannya kondisi pembelajaran matematika saat ini masih belum memenuhi harapan yang diinginkan, baik proses maupun hasil pembelajarannya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa studi dan hasil penelitian yang telah dilakukan, diantaranya:

(11)

perhitungan semata (PPPPTK, 2011:51). Hasil tersebut mengungkapkan bahwa kemampuan bernalar siswa Indonesia masih rendah. Berpikir kreatif merupakan bagian dari penalaran, sesuai dengan pernyataan Krulik Rudnik (Rohayati, 2005:1), bahwa penalaran mencakup berpikir dasar, berpikir kritis, dan berpikir kreatif. Hal ini berarti kemampuan berpikir kreatif siswa juga masih rendah. 2. Hasil wawancara penulis dengan guru matematika kelas VIII dalam studi

pendahuluan yang dilakukan di salah satu SMP Negeri klaster 1 di kota Cimahi pada bulan Mei 2013, menyatakan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematika siswa masih kurang. Siswa memecahkan masalah yang diberikan dengan cara yang sama persis seperti yang dicontohkan guru. Bila dihadapkan dengan soal yang jenisnya berbeda, mereka cenderung tidak bisa menyelesaikan. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang kemampuan berpikir kreatifnya masih kurang. Selain itu, masih banyak juga siswa yang pasif dan bersikap tak acuh selama pembelajaran berlangsung, hal ini merupakan akibat dari kurang adanya interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Kurang adanya interaksi tersebut juga berdampak tidak memberikan kemungkinan kepada siswa dalam upaya mengembangkan kreativitas berpikir yang dimilikinya melalui berbagai kegiatan.

Menurut hasil studi di atas, ternyata masih banyak siswa yang kemampuan berpikir kreatifnya masih kurang. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, dan faktor eksternal yang merupakan faktor dari luar seperti guru dan metode yang digunakan dalam proses pembelajaran.

(12)

Proses belajar mengajar matematika yang baik adalah guru harus mampu menerapkan suasana yang dapat membuat murid antusias terhadap persoalan yang ada, sehingga mereka mampu mencoba memecahkan persoalannya (Mulyono, 2003:13). Selain itu dalam pembelajaran seorang guru harus dapat menciptakan interaksi yang melibatkan antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa, sehingga memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan dalam kelompoknya dan diharapkan kemampuan kreativitas matematiknya dapat dieksplorasi secara maksimal.

Sekarang ini mulai berkembang model-model dalam pembelajaran matematika yang dimaksudkan untuk lebih memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk aktif belajar. Berbagai pendekatan tersebut juga mengupayakan agar pembelajaran yang terpusat pada guru (teacher oriented) berubah menjadi terpusat kepada siswa (student oriented). Hal ini sesuai dengan pernyataan Oleinik (Hasratuddin, 2010: 21) yang mengatakan bahwa proses pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa adalah pembelajaran berpusat pada siswa.

(13)

1. Tahap Pengelompokkan (Grouping). 2. Tahap Perencanaan (Planning). 3. Tahap Penyelidikan (Investigation). 4. Tahap Pengorganisasian (Organizing). 5. Tahap Presentasi (Presenting).

6. Tahap Evaluasi (Evaluating).

Keenam langkah tersebut oleh Joyce dan Weil (2004:221) dikembangkan berdasarkan tiga konsep dasar dalam Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation, yaitu penelitian (inquiry), pengetahuan (knowledge), dan dinamika kelompok (dynamic of the learning group).

Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok digunakan untuk membantu siswa membangun arti dan konsep-konsep matematika bagi mereka sendiri, sehingga pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna. Terciptanya interaksi komunikasi antar siswa dalam investigasi kelompok juga dapat mengembangkan kepercayaan diri siswa dalam menerapkan konsep matematika ketika mereka menghadapi situasi kehidupan sehari-hari menjadi logis.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa dalam pembelajaran matematika jika dilakukan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation). Oleh karena itu, penulis akan melakukan penelitian kuasi eksperimen

(14)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, rumusan masalah dari penelitian ini adalah:

1. Apakah peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok (Group Investigation) lebih tinggi daripada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional?

2. Apakah ada perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kreatif antara siswa kelompok tinggi, sedang, dan rendah pada kelas yang mendapat Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok (Group Investigation)?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok (Group Investigation) lebih tinggi daripada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional.

(15)

D. Manfaat Penelitian

Secara garis besar manfaat penelitian ini ada dua, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian yang lebih mendalam.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis. penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak, diantaranya:

a. Bagi siswa, proses pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dalam pembelajaran matematika sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

b. Bagi guru, pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (Group Investigation) dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

c. Bagi peneliti, dapat menambah pengalaman dan pengetahuan tentang bagaimana menerapkan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (Group Investigation) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. d. Bagi sekolah, sebagai masukan dalam upaya meningkatkan motivasi dan hasil

belajar siswa melalui pembelajaran yang tepat.

E. Definisi Operasional

Agar tidak terjadi perbedaan pemahaman mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka beberapa istilah yang perlu didefinisikan secara operasional yaitu:

(16)

guru dengan siswa dan siswa dengan siswa dalam kelompoknya dimulai dari tahap pengelompokkan, perencanaan, penyelidikan, pengorganisasian, presentasi, dan tahap evaluasi.

2. Pembelajaran konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang masih bersifat teacher centered yaitu guru lebih dominan dalam proses pembelajaran, dimana materi disampaikan langsung oleh guru dengan ceramah dan tanya jawab.

(17)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode dan Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen karena sesuai dengan tujuan penelitian yaitu akan melihat hubungan sebab akibat yang terjadi melalui pemanipulasian variabel bebas serta melihat perubahan yang terjadi pada variabel terikatnya. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation), sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan berpikir kreatif siswa. Jadi, pada penelitian ini peneliti memberikan perlakuan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) dan melihat kemampuan berpikir kreatif siswa.

Desain kuasi eksperimen yang digunakan pada penelitian ini berbentuk desain kelompok pretes-postes. Penelitian ini melibatkan dua kelas yang diteliti tentang kemampuan berpikir kreatif dalam matematika, satu kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelas sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen akan mendapat pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation), sedangkan kelas kontrol memperoleh pembelajaran dengan

pembelajaran konvensional. Sebelum diberikan perlakuan pembelajaran, diadakan tes awal (pre-test) tentang kemampuan berpikir kreatif siswa kemudian dilakukan tes akhir (post-test) untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa setelah diberi perlakuan. Dengan demikian desain kuasi eksperimen dari penelitian ini menurut Russefendi (2005: 50) adalah sebagai berikut:

(18)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

O O

Keterangan:

O : Pre-test dan Post-test yaitu tes kemampuan berpikir kreatif siswa

X : Pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (Group Investigation)

B. Populasi dan Sampel

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa SMPN di salah satu kota Cimahi kelas VIII semester 1 tahun ajaran 2012/2013. SMP Negeri di kota Cimahi tersebut merupakan salah satu sekolah kategori klaster 1 di kota Cimahi yang bertempat di Jalan Jendral Sudirman no. 152 Cimahi. Sekolah tersebut memiliki tenaga kerja guru yang berjumlah 68 orang dengan jumlah guru matematikanya adlah 9 orang. Dari kesembilan orang tersebut 6 diantaranya berpendidikan Sarjana Pendidikan jurusan pendidikan matematika dan 3 diantara adalah Master pendidikan dengan jurusan pendidikan matematika.

Sampel pada penelitian ini diambil secara acak (random). Kelas VIII yang ada di salah satu SMPN di kota Cimahi mendapatkan kesempatan yang sama untuk diambil menjadi anggota sampel. Dari tiga belas kelas yang ada, diambil dua kelas secara acak untuk dijadikan sampel. Akhirnya terpilih kelas VIII-1 sebagai kelas eksperimen dengan jumlah siswa 36 orang dan kelas VIII-5 sebagai kelas kontrol dengan jumlah siswa 35 orang.

C. Variabel Penelitian

(19)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

D. Instrumen Penelitian

Untuk mendapatkan data dan informasi yang lengkap maka dibuatlah instrumen penelitian yang meliputi instrumen tes dan non tes. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Instrumen Tes

Instrumen tes dalam penelitian ini berupa tes pilihan ganda kemampuan matematis awal siswa dan tes tulis kemampuan berpikir kreatif pada matematika. Tes tertulis ini berbentuk pilihan ganda yang berkaitan dengan materi kemampuan dasar matematik siswa dan tes uraian yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Pada penelitian ini, tes yang digunakan terbagi ke dalam tiga macam tes, yaitu:

a. Tes kemampuan matematis awal, yaitu tes yang dilakukan untuk mengelompokkan siswa pada kelompok tinggi, sedang, dan rendah.

b. Pre-test, yaitu tes yang dilakukan sebelum perlakuan diberikan untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif awal siswa.

c. Post-test, yaitu tes yang dilakukan setelah perlakuan diberikan untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif akhir siswa.

Tipe tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe uraian dengan tujuan kemampuan berpikir kreatif siswa dapat terlihat jelas dari cara siswa menjawab soal-soal uraian langkah demi langkah, juga dapat menggambarkan seberapa jauh proses berpikir dan kemampuan siswa untuk berpikir kreatif dalam matematika secara baik.

Pemberian skor pada soal berpikir kreatif ini didasarkan pada paduan Holistic Creative Thinking Scoring Rubrics dari Facione & Facione (2007).

Holistic Creative Thinking Scoring Rubrics adalah suatu prosedur yang

(20)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

0, 1, 2, 3, 4, dan 5. Setiap skor yang diraih mencerminkan kemampuan siswa dalam merespon persoalan yang diberikan dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemampuan berpikir kreatif. Kriteria pemberian skor tersebut diadaptasi dari Facione & Facione (Allen, 2009) yang diuraikan dalam Tabel 3.1 pada halaman berikut ini.

Tabel 3.1

Holistic Creative Thinking Scoring Rubrics

Aspek

Siswa berusaha merespon meski jawaban kurang tepat dan langkah-langkah yang digunakan sudah mengarah.

Siswa merespon dengan 1 jawaban benar dan proses pengerjaan jelas.

Siswa merespon dengan 2 jawaban benar dan proses pengerjaan jelas.

Siswa merespon dengan 3 jawaban benar dan proses pengerjaan jelas.

(21)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif 2

3

4

5

Siswa merespon dengan 1 cara/ ide, prosesnya kurang jelas, namun jawaban tepat.

Siswa merespon dengan 1 cara/ide, prosesnya jelas dan jawabannya tepat. Siswa merespon dengan 2 cara/ide, prosesnya kurang jelas, namun jawaban tepat.

Siswa merespon dengan 2 cara/ide, prosesnya jelas dan jawabannya tepat. Orisinalitas

Siswa berusaha merespon meski terdapat banyak ketidakakuratan dan banyak kekurangan dalam proses pengerjaan. Siswa merespon dengan proses pengerjaan yang kurang tepat namun jawaban benar. Siswa merespon dengan proses pengerjaan yang umum dilakukan dan jawaban tepat. Siswa merespon dengan proses pengerjaan yang baru dan unik namun jawaban kurang tepat.

Siswa merespon dengan proses pengerjaan yang baru dan unik dan jawaban tepat

Sebelum penyusunan instrumen ini, terlebih dahulu dibuat kisi-kisi soal yang didalamnya mencakup nomor soal, aspek kemampuan berpikir kreatif, indikator kemampuan berpikir kreatif, butir soal, kunci jawaban, dan skor.

(22)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

kisi soal tes berpikir kreatif dapat dilihat pada Lampiran A.3 halaman 147. Sedangkan tes kemampuan matematis awal yang digunakan adalah tes kemampuan dasar yang telah baku untuk digunakan dapat dilihat pada Lampiran A.4 hal 149.

Instrumen yang baik dan dapat dipercaya adalah yang memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi. Oleh karena itu, sebelum instrumen tes digunakan, terlebih dahulu instrumen tersebut dikonsultasikan pada dosen pembimbing, kemudian diujicobakan pada siswa yang telah mendapatkan materi operasi aljabar dengan tujuan untuk mengetahui validitas, reliabilitas, daya pembeda,dan indeks kesukaran tiap butir soal dari instrumen tersebut. Uji coba dilaksanakan pada salah satu SMP Negeri di kota Cimahi pada kelas IX yang diikuti oleh 30 siswa. Hasil uji coba instrumen kemudian diolah dengan menggunakan bantuan software Anates Versi 4.0. Proses penganalisisan data hasil uji coba meliputi hal-hal berikut:

a. Validitas

(23)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

penjelasan sebelumnya yang akan diselidiki adalah validitas empirik (kriterium) soal.

Untuk menentukan validitas empirik soal, perhitungan koefisien validitas dilakukan dengan menggunakan produk moment raw score oleh rumus (Suherman, 2003: 41) :

Keterangan:

: koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y N : banyak subjek

X : skor yang diperoleh dari masing-masing butir soal

Y : skor total

Menurut Guilford (Suherman, 2003: 112), interpretasi validitas nilai dapat dikategorikan dalam Tabel 3.2 berikut ini.

Tabel 3.2

Interpretasi Validitas Nilai

Nilai Keterangan

Validitas sangat tinggi Validitas tinggi Validitas sedang Validitas rendah Validitas sangat rendah

(24)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan Anates Versi 4.0 tipe uraian, data hasil pengujian diperoleh validitas butir soal seperti pada Tabel 3.3 berikut ini.

Tabel 3.3

Validitas Tiap Butir Soal

No. Soal Interpretasi

1 0,598 Validitas sedang

2 0,846 Validitas tinggi

3 0,750 Validitas tinggi

b. Reliabilitas

Suherman (2003: 131) mengatakan bahwa suatu alat evaluasi (tes dan nontes) disebut reliable jika hasil evaluasi tersebut relatif tetap jika digunakan untuk subjek yang sama. Relatif tetap di sini dimaksudkan tidak tepat sama, tetapi mengalami perubahan yang tidak berarti (tidak signifikan) dan bisa diabaikan.

Bentuk soal tes yang digunakan pada penelitian ini adalah soal tes tipe uraian, karena itu untuk mencari koefisien reliabilitas ( ) digunakan rumus alpa yaitu sebagai berikut:

Keterangan:

= Koefisien reliabilitas alat evaluasi = Banyaknya butir soal

(25)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif = Varians skor total

Menurut Guilford (Suherman, 2003: 139) koefisien reliabilitas diinterpretasikan seperti yang terlihat pada tabel berikut:

Tabel 3.4 Kriteria Reliabilitas

Koefisien reliabilitas ( ) Kriteria

Reliabilitas sangat rendah Reliabilitas rendah Reliabilitas sedang Reliabilitas tinggi Reliabilitas sangat tinggi

Berdasarkan perhitungan telah dilakukan dengan menggunakan Anates Versi 4.0 tipe uraian, diperoleh koefisien realibilitas sebesar 0,73. Menurut interpretasi reliabilitas pada Tabel 3.4 di atas, derajat reliabilitas tes ini termasuk dalam kriteria derajat reliabilitas tinggi.

c. Indeks kesukaran

Berdasarkan asumsi Galton, Suherman menyatakan bahwa hasil evaluasi dari hasil perangkat tes yang baik akan menghasilkan skor atau nilai yang membentuk distribusi normal (Suherman, 2003:168).

(26)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif Keterangan:

= Indeks Kesukaran = Rata-rata skor tiap soal

= Skor maksimum ideal per soal

Untuk menginterpretasi indeks kesukaran, digunakan kriteria sebagai berikut (Suherman, 2003:170) :

Tabel 3.5

Klasifikasi Indeks Kesukaran

IK Keterangan

Soal terlalu sukar Soal sukar Soal sedang Soal mudah Soal terlalu mudah

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan Anates versi 4.0 untuk soal uraian dan berdasarkan klasifikasi di atas, indeks kesukaran tiap butir soal yang akan digunakan dalam penelitian ini ditunjukkan dalam tabel berikut:

Tabel 3.6

Indeks Kesukaran tiap Butir Soal

Nomor Soal IK Kategori

1 0,50 Sedang

(27)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

Dari Tabel 3.6 di atas dapat disimpulkan bahwa instrumen tes yang diujicobakan terdiri dari 3 butir soal sedang.

d. Daya Pembeda

Galton mengasumsikan bahwa “suatu perangkat alat tes yang baik harus bisa membedakan antara siswa yang pandai, rata-rata dan yang kurang karena dalam suatu kelas biasanya terdiri dari ketiga kelompok tersebut” (Suherman, 2003:159).

Rumus untuk menentukan daya pembeda soal tipe uraian (Suherman, 2003:159) adalah:

Dengan:

= rata-rata skor kelompok atas untuk soal itu = rata-rata skor kelompok bawah untuk soal itu, SMI = skor maksimal ideal (bobot).

Klasifikasi interpretasi untuk daya pembeda yang banyak digunakan (Suherman, 2003:161) adalah:

Tabel 3.7

(28)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

Kategori Daya Pembeda

Daya Pembeda (DP) Kategori Sangat Tinggi

Tinggi Sedang Jelek Sangat Jelek

Dengan bantuan program Anates versi 4.0 diperoleh tabel sebagai berikut:

Tabel 3.8

Daya Pembeda Setiap Butir Soal

Nomor Soal DP Kategori

1 0,35 Sedang

2 0,47 Tinggi

3 0,52 Tinggi

Dengan melihat validitas, reliabilitas, indeks kesukaran dan daya pembeda dari setiap soal yang diujicobakan serta dengan mempertimbangkan indikator yang terkandung dalam setiap soal tersebut maka semua soal digunakan sebagai instrumen tes penelitian. Selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran B.

(29)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

Suherman (2003:62) mendefinisikan bahwa observasi adalah teknik evaluasi non tes yang menginventarisasikan data sikap dan kepribadian siswa dalam kegiatan belajar yang dilakukan dengan mengamati kegiatan dan perilaku siswa secara langsung dan bersifat relatif.

Observasi ini bertujuan untuk memperoleh data tentang proses pembelajaran dengan harapan hal-hal yang tidak teramati oleh peneliti dapat ditemukan dengan menggunakan lembar observasi. Observasi ini dilakukan oleh rekan mahasiswa atau guru yang telah mengetahui dan telah memahami pembelajaran matematika, sehingga dapat mengamati dengan benar bagaimana kegiatan pembelajaran berlangsung. Yang diamati dalam observasi ini adalah sikap siswa dalam pembelajaran dan sikap peneliti sendiri selama pembelajaran. Format lembar observasi pada penelitian ini, terlampir pada Lampiran A.7-A8 halaman 155-159.

3. Jurnal Harian

Jurnal siswa ini merupakan tulisan yang dibuat oleh siswa setiap harinya untuk mengetahui proses berpikir kreatif siswa dalam mengerjakan persoalan yang diberikan oleh guru. Format jurnal harian yang digunakan dalam penelitian ini terlampir pada Lampiran A.9 halaman 165.

4. Wawancara

(30)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

wawancara yang digunakan dalam penelitian ini terlampir pada Lampiran A.10 halaman 166.

E. Prosedur Penelitian

Secara garis besar, prosedur penelitian ini hanya digunakan dalam tahap-tahap sebagai berikut:

1. Tahap Persiapan

Persiapan yang dilakukan untuk melaksanakan penelitian ini dimulai dari: a. Menetukan masalah penelitian yang berhubungan dengan pembelajaran

matematika siswa SMP.

b. Menetapkan pokok bahasan yang akan digunakan dalam penelitian. c. Membuat instrumen penelitian.

d. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan bahan ajar penelitian.

e. Menilai RPP dan instrumen penelitian oleh pembimbing. f. Melakukan uji coba instrumen penelitian.

g. Memperbaiki instrumen penelitian.

h. Memilih sampel penelitian yaitu satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas kelompok kontrol.

2. Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

a. Memberikan tes kemampuan awal matematis siswa untuk menggolongkan siswa kelas eksperimen ke dalam kelompok tinggi, sedang, dan rendah.

(31)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

c. Melaksanakan pembelajaran matematika dengan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol. Lembar kerja siswa, lembar observasi siswa dan guru, serta jurnal harian hanya diberikan kepada kelas eksperimen.

d. Melaksanakan post-test untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol.

e. Untuk siswa tertentu dari siswa kelompok atas, sedang, dan rendah pada kelas eksperimen akan dilakukan dengan wawancara.

3. Tahap Pengolahan Data

a. Mengumpulkan informasi hasil data kuantitatif.

b. Mengolah dan menganalisis hasil data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan kualitatif dari masing-masing kelas.

F. Teknik Analisis Data

Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan memberikan tes kemampuan matematis awal siswa untuk kelas eksperimen, memberikan tes (pretest dan posttest), observasi, jurnal harian dan wawancara. Data yang diperoleh kemudian dikategorikan ke dalam jenis data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif ini diperoleh dari hasil pre-test dan post-test kemampuan berpikir kreatif. Sedangkan data kualitatif meliputi hasil lembar observasi, jurnal harian, dan wawancara yang digunakan untuk melihat sejauh mana keefektivitasan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) yang digunakan. Setelah data-data diperoleh, kemudian diolah dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pengolahan Data Kuantitatif

(32)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

kemampuan berpikir kreatif siswa yang mendapatkan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Analisis dilakukan dengan menggunakan bantuan software IBM SPSS Statistics 17 for windows. Adapun langkah-langkah dalam

melakukan uji statistik data hasil tes adalah sebagai berikut:

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan untuk data pre-test, post-test, dan indeks gain pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dalam uji normalitas ini digunakan uji Kolgomorof – Smirnov atau Shapiro –Wilk dengan taraf signifikasi α = 0,05.

Jika data berdistribusi normal, maka analisis data dilanjutkan dengan uji homogenitas varians untuk menentukan uji parametrik yang sesuai. Namun, jika data berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal, maka tidak dilakukan uji homogenitas varians tetapi langsung dilakukan uji perbedaan dua sampel independen (uji non-parametrik).

b. Uji Homogenitas Varians

Uji homogenitas varians dilakukan untuk mengetahui apakah dua sampel yang diambil memiliki variansi yang homogen atau tidak. Dalam uji homogenitas ini dilakukan uji Levene dengan taraf signifikasi α = 0,05.

c. Uji Perbedaan Dua Sampel Independen

(33)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

pengujiannya dilakukan dengan menggunakan uji t, yaitu Independent Samples T Test dengan asumsi varians kedua sampel sama (homogen). Jika data hanya

memenuhi asumsi distribusi normal saja tetapi tidak homogen maka pengujiannya menggunakan t’, yaitu Independent Samples T Test dengan asumsi varians kedua sampel tidak homogen. Jika data tidak berdistribusi normal, maka pengujiannya menggunakan uji non-parametrik dengan menggunakan uji Mann-Whitney.

Analisis data skor indeks gain dilakukan untuk menguji hipotesis jika kemamuan awal kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berbeda secara signifikan. Indeks Gains adalah gain ternormalisasi yang dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Kriteria indeks gains menurut Hake (Fuadah, 2011: 38) adalah sebagai berikut:

Tabel 3.9 Kriteria Indeks Gain

Indeks Gain Kriteria

IG < 0,30 Rendah

0,30 < IG < 0,70 Sedang

IG > 70 Tinggi

d. Analisis Data Kelompok Tinggi, Sedang, dan Rendah

(34)

Nina Indriani, 2013

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa smp melalui pembelajaran kooperatif

memperoleh pembelajaran matematika dengan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation).

Teknik pengelompokan siswa menggunakan tes kemampuan matematis awal siswa. Siswa diurutkan dari skor tertinggi sampai skor terendah, kemudian dibagi menjadi kelompok tinggi, sedang, dan rendah. Setelah diperoleh kelompok tinggi, sedang, dan rendah, langkah selanjutnya adalah menguji ada tidaknya perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa pada kelompok tinggi, sedang, dan rendah pada kelas eksperimen setelah memperoleh pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) dengan menggunakan Anova satu jalur.

2. Pengolahan Data Kualitatif

a. Menganalisis Lembar Observasi

Data hasil observasi akan disajikan dalam bentuk ringkasan untuk mendapatkan data yang penting sesuai dengan tujuan penelitian.

b. Menganalisis Jurnal Harian Siswa

Data hasil jurnal harian siswa dianalisis untuk dapat mengetahui proses peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa dari hari ke hari dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang diberikan.

c. Menganalisis Wawancara

(35)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah melalui proses analisis, data-data hasil penelitian di kelas VIII di salah satu SMP Negeri di kota Cimahi tahun pelajaran 2013/2014 memberikan kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) berpengaruh positif terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Kesimpulan secara lebih rincinya adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) lebih tinggi daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.

2. Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan

berpikir kreatif antara siswa pada kelompok tinggi, sedang, dan rendah setelah mendapat pembelajaran matematika dengan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation). Peningkatan tertinggi diperoleh atas siswa kelompok tinggi, kemudian kelompok sedang, dan kelompok rendah yang diperoleh berdasarkan uji Scheffe.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh, berikut ini saran-saran yang diharapkan dapat bermanfaat untuk perbaikan pada penelitian-penelitian selanjutnya ataupun diterapkan pda pembelajaran di sekolah.

(36)

pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) disarankan dapat dijadikan suatu alternative pembelajaran yang perlu dipertimbangkan oleh guru, dan perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut agar pembelajaran matematika melalui pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) lebih efektif.

2. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat perbedaan

peningkatan kemampuan berpikir kreatif secara signifikan antara siswa kelompok tinggi, sedang, dan rendah. Oleh karena itu, pembelajaran matematika dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) dapat diterapkan untuk siswa kelompok tinggi, sedang, dan rendah.

3. Melihat kecilnya ruang lingkup subjek yang diteliti

dalam penelitian ini, maka bagi peneliti selanjutnya perlu melakukan penelitian dalam lingkup yang lebih luas lagi. Selain itu, sangat memungkinkan untuk dilakukan penelitian lebih lanjutmengenai pembelajaran matematika dengan menggunaka pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) dengan populasi yang lebih luas, jenjang sekolah dan pokok

bahasan yang berbeda.

4. Karena pada penelitian ini, peneliti hanya melihat ada tidaknya perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kreatif antara siswa kelompok tinggi, sedang, dan rendah maka disarankan bagi peneliti yang akan melakukan penelian serupa ada baiknya penelitian dilanjutkan lebih luas untuk melihat sejauh mana perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kreatif antara siswa kelompok tinggi, sedang, dan rendah dengan menggunakan uji statistik selanjutnya yaitu uji Scheffe.

5. Pada saat peneliti melakukan penelitian di

(37)
(38)

Nina Indriani, 2013

DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin dan Wahyuni. (2010). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

BNSP, (2006). Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah : Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMP/MTs [Online] Tersedia: http://litbang.kemdiknas.go.id/content/Buku%20Standar%20Isi%20SMP(1).p df [23 Januari 2013]

Hake, R. (1999). Analyzing Change / Gain Scores* [online]. Tersedia: http://www.physics.indiana.edu/~sdi/AnalyzingChange-Gain.pdf [14 Juni 2013]

Height, T.P. (1989). “Mathematical Investigation in Classroom”. [online]. Tersedia: http://math.nie.edu.sg/bwjyeo/publication/30/3/555.

Herdian. (2010). Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa. [online]. Tersedia:

http://herdy07.wordpress.com/2010/05/27/kemampuan-berfikir-kreatif-siswa/.

Isjoni. (2007). Cooperative Learning (Efektivitas Pembelajaran Kelompok). Bandung: Alfabeta.

Joyce B., Weil M., dan Calhoun E. (2004). Model of Teaching. Sydney: Allyn & Bacon.

Kusumaningrum, Maya.(2012). Mengoptimalkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika Melalui Pemecahan Masalah Matematika. Prosiding UNY.[online]. Tersedia : http://eprints.uny.ac.id/8512/

Leonard dan Supardi. (2010). “Pengaruh Konsep Diri, Sikap Siswa Pada Matematika,

dan Kecemasan Siswa terhadap Hasil Belajar Matematika”. Jurnal Cakrawala Pendidikan. 29, (3), 341-352.

Lunenburg, F.C. (2011). “Creative Thinking and Constructivism Techniques for

Improving Student Achievement”. National Forum of Teacher Education Journal. 21, (3), 1-9.

Mertler, C.A. (2001). Designing Scoring Rubrics for Your Classroom [Online]. Tersedia:

(39)

Nina Indriani, 2013

Mulyana, Tatang. (2008). Permbelajaran Analitik Sintetik untuk Meningkakan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematika Siswa Sekolah Menengah Atas. Disertasi UPI: tidak diterbitkan.

Mulyono, A. (2003). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Mathematics Problem Solving Skills”. African Journal of Mathematics and Computer Science Research. 5, (3), 39-43.

PPPPTK. (2011). Instrumen Penilaian Hasil Belajar Matematika SMP; Belajar dari

PISA dan TIMSS [Online]. Tersedia:

http://p4tkmatematika.org/file/Bermutu%202011/SMP/4.INSTRUMEN%20P ENILAIAN%20HASIL%20BELAJAR%20MATEMATIKA%20...pdf [23 Januari 2013]

Qonita, R.M. (2012). Penerapan Model Pembelajaran Induktif Versi Hilda Taba Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMA. Skripsi pada FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Rohayati, Ade. (2005). Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan berpikir Kritis [Online]. Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIKA/196005

(40)

Nina Indriani, 2013

Ruseffendi, E.T. (2010). Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. Bandung: Tarsito.

Setiawan. (2006). Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Investigasi. Yogyakarta: Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Matematika. Slavin, R. (2008). Cooperative Learning. Teori, Riset, dan Praktek. Bandung: Nusa

Media.

Sugiyono. (2012). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Suherman, E. (2003). Evaluasi Pembelajaran Matematika. Bandung: JICA UPI. Tesa, L.Z. (2011). Penerapan Model Pembelajaran Problem-Based Instruction Untuk

Meningkatkan Kemampuan Kreativitas Matematika Siswa. Skripsi pada FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Wardhani, S. (2004). Pembelajaran Matematika Kontekstual di SMP [Online]. Tersedia:

http://www.p4tkmatematika.org/downloads/smp/mathkontekstual.pdf [25

Figur

Tabel 3.1 Holistic Creative Thinking Scoring Rubrics
Tabel 3 1 Holistic Creative Thinking Scoring Rubrics . View in document p.20
Tabel 3.2 Interpretasi Validitas Nilai
Tabel 3 2 Interpretasi Validitas Nilai . View in document p.23
Tabel 3.3 Validitas Tiap Butir Soal
Tabel 3 3 Validitas Tiap Butir Soal . View in document p.24
Tabel 3.4 Kriteria Reliabilitas
Tabel 3 4 Kriteria Reliabilitas . View in document p.25
Tabel 3.5 Klasifikasi Indeks Kesukaran
Tabel 3 5 Klasifikasi Indeks Kesukaran . View in document p.26
Tabel 3.7
Tabel 3 7 . View in document p.27
Tabel 3.8  Daya Pembeda Setiap Butir Soal
Tabel 3 8 Daya Pembeda Setiap Butir Soal . View in document p.28
Tabel 3.9 Kriteria Indeks Gain
Tabel 3 9 Kriteria Indeks Gain . View in document p.33

Referensi

Memperbarui...