No. Daftar/FPEB/420/UN.40.7.D1/LT/2013
ANALISIS DAYA SAING INDUSTRI ROTI DI KOTA BOGOR
SKRIPSI
Diajuan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi
Oleh
ATIK DWI LARASATI
0901604
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu
LEMBAR PENGESAHAN
ANALISIS DAYA SAING INDUSTRI ROTI DI KOTA BOGOR
Bandung, Oktober 2013
Skripsi ini disetujui oleh
Pembimbing I
Prof. Dr. H. Eeng Ahman, MS. NIP. 19611022 198603 1 002
Pembimbing II
Drs. M. Dudih Sugiharto, M.Si. NIP. 19561128 198303 1 00 1
Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia Bandung
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul “ANALISIS
DAYA SAING INDUSTRI ROTI DI KOTA BOGOR” ini beserta seluruh
isinya adalah benar-benar karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan
penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika
keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan.
Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko/sanksi yang dijatuhkan
kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika
keilmuan dalam karya saya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian
karya saya ini.
Bandung, Oktober 2013
Yang membuat pernyataan,
Atik Dwi Larasati
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu
ABSTRAK
“ANALISIS DAYA SAING INDUSTRI ROTI DI KOTA BOGOR”
di bawah bimbingan Prof. Dr. H. Eeng Ahman, MS. dan Drs. M. Dudih Sugiharto M.Si.
Oleh
Atik Dwi Larasati 0901604
Permasalahan dalam penelitian ini yaitu saat ini banyaknya perusahaan roti di Kota Bogor yang lingkup pangsa pasarnya lebih dikuasai oleh satu industri saja, sehingga sangat terlihat sekali adanya ketimpangan daya saing antar industri roti. Hal ini terbukti dari banyaknya industri roti yang mengurangi volume produksinya untuk tetap bisa bertahan dalam daya saing yang semakin ketat tersebut.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pengaruh faktor kompetensi pengusaha, diferensiasi, permintaan, dan pemasok bahan baku terhadap daya saing. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian yaitu para pengusaha roti di Kota Bogor. Sampel sebanyak 26 industri roti. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu survey eksplanatori yaitu menggunakan angket sebagai alat pengumpulan data dan teknik analisis data dalam menggunakan regresi linier berganda. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah penyebaran angket, dan wawancara. Data yang diperoleh dari responden terdiri dari data ordinal dan interval. Untuk data ordinal, maka diubah terlebih dahulu menjadi data interval melalui metode MSI. Kemudian dengan menggunakan uji persamaan regresi linier berganda dengan menggunakan bantuan program SPSS16 dan eviews 7.
Hasil penelitian secara simultan menunjukkan variabel kompetensi pengusaha, diferensiasi, permintaan, dan pemasok bahan baku berpengaruh secara signifikan terhadap daya saing. Dan secara parsial kompetensi pengusaha, diferensiasi dan permintaan berpengaruh positif secara signifikan terhadap daya saing. Sedangkan, pada variabel pemasok bahan baku tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap daya saing.
Kata Kunci :kompetensi pengusaha, diferensiasi, permintaan, pemasok bahan baku,
ABSTRACT
“COMPETITIVENESS ANALYSIS ON BREAD INDUSTRIES IN BOGOR”
Under the guidance of Prof. Dr. H. Eeng Ahman, MS. and Drs. M. Dudih Sugiharto M.Si.
by
Atik Dwi Larasati 0901604
This research is focused on the background of the problem revealing that pretty
much bread industries’ market share in Bogor is only dominated by one company so that
the imbalance competition among them becomes clearly visible. This is proven by some bread companies reducing their volume of production in order to get survived within this competition.
Therefore, this research is aimed to find out how entrepreneur’s competence,
diferentiation, demands, and raw materials suppliers affect the industries’ competitiveness. Subjects of the research are bread’s entrepreneurs in the city of Bogor and 26 bread industries as the samples. The method used in this research is the explanatory survey using questionnaire as an instrument of data collection and multiple linear regressions as data analysis technique.Research are questionnaires, and interview. Data expected consists of ordinal and interval data. ordinal data are first converted into interval data by using MSI method for being tested later on by using multiple linear regression worked under the worksheets of SPSS 16 and eviews 7.
The result of the study simultaneously shows the significant effect among entrepreneurs' competence, diferentiation, and raw materials suppliers towards the competitiveness of the industry. Partially described, entrepreneurs' competence, diferentiation and demands have a significantly positive effect towards the competitiveness whereas raw materials supplier doesnt have any significant effect towards the level of competitiveness
Keywords:entrepreneurs’ competence, diferentiation, demand, raw materials suppliers,
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... Error! Bookmark not defined.
KATA PENGANTAR ... Error! Bookmark not defined.
UCAPAN TERIMA KASIH ... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR GAMBAR ... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR LAMPIRAN ... Error! Bookmark not defined.
BAB I PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined.
1.1. Latar Belakang Masalah ... Error! Bookmark not defined.
1.2. Identifikasi dan Rumusan Masalah ... Error! Bookmark not defined.
1.3. Tujuan Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
1.4. Manfaat Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
1.5. Sistematika Penulisan ... Error! Bookmark not defined.
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRIAN DAN HIPOTESIS ... Error! Bookmark not defined.
2.1. Kajian Pustaka ... Error! Bookmark not defined.
2.1.1 Konsep Industri ... Error! Bookmark not defined.
2.1.2 Konsep Daya Saing ... Error! Bookmark not defined.
2.1.3 Konsep Kompetensi ... Error! Bookmark not defined.
2.1.3.1 Pengertian Kompetensi ... Error! Bookmark not defined.
2.1.4 Diferensiasi ... Error! Bookmark not defined.
2.1.5 Permintaan ... Error! Bookmark not defined.
2.1.6 Pemasok Bahan Baku ... Error! Bookmark not defined.
2.2 Kajian Empiris Penelitian Terdahulu... Error! Bookmark not defined.
2.3 Kerangka Pemikiran ... Error! Bookmark not defined.
2.4 Hipotesis ... Error! Bookmark not defined.
BAB III METODE PENELITIAN... Error! Bookmark not defined.
3.1 Objek Penelitian... Error! Bookmark not defined.
3.3 Populasi Dan Sampel ... Error! Bookmark not defined.
3.3.1 Populasi ... Error! Bookmark not defined.
3.3.2 Sampel ... Error! Bookmark not defined.
3.4 Operasional Variabel ... Error! Bookmark not defined.
3.5 Sumber Dan Jenis Data ... Error! Bookmark not defined.
3.6 Teknik Pengumpulan Data ... Error! Bookmark not defined.
3.7 Instrumen Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
1.7.1 Tes Validitas ... Error! Bookmark not defined.
1.7.2 Uji Reliabilitas ... Error! Bookmark not defined.
3.8 Teknik Analisis Data Dan Pengujian Hipotesis... Error! Bookmark not
defined.
3.8.1 Teknik Analisis Data ... Error! Bookmark not defined.
3.8.2 Pengujian Hipotesis ... Error! Bookmark not defined.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... Error! Bookmark not
defined.
4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
4.2 Gambaran Umum Responden ... Error! Bookmark not defined.
4.2.1 Penyebaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin .. Error! Bookmark
not defined.
4.2.2 Penyebaran Responden Berdasarkan Usia ... Error! Bookmark not
defined.
4.2.3 Penyebaran Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir ... Error!
Bookmark not defined.
4.2.4 Penyebaran Responden Berdasarkan Pengalaman Usaha ... Error!
Bookmark not defined.
4.2.5 Penyebaran Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja... Error!
Bookmark not defined.
4.3 Gambaran Umum Variabel Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu
4.3.2 Kompetensi Pengusaha ... Error! Bookmark not defined.
4.3.3 Diferensiasi ... Error! Bookmark not defined.
4.3.4 Permintaan ... Error! Bookmark not defined.
4.3.5 Pemasok Bahan Baku ... Error! Bookmark not defined.
4.4 Analisis Data ... Error! Bookmark not defined.
4.4.1 Uji Validitas ... Error! Bookmark not defined.
4.4.2 Uji Realibilitas ... Error! Bookmark not defined.
4.4.3 Pengujian Model Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
4.5 Uji Asumsi Klasik ... Error! Bookmark not defined.
4.5.1 Uji Normalitas Data ... Error! Bookmark not defined.
4.5.2 Uji Multikolinearitas ... Error! Bookmark not defined.
4.5.3 Uji Heteroskedastisitas ... Error! Bookmark not defined.
4.5.4 Uji Autokorelasi ... Error! Bookmark not defined.
4.6 Pengujian Hipotesis ... Error! Bookmark not defined.
4.6.1 Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial (Uji t) .... Error! Bookmark
not defined.
4.6.2 Pengujian Koefisien Secara Simultan (Uji F)... Error! Bookmark not
defined.
4.6.3 Pengujian Determinasi (R2) ... Error! Bookmark not defined.
4.7 Pembahasan Hasil Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
4.7.1 Pengaruh Kompetensi Pengusaha Terhadap Daya Saing ... Error!
Bookmark not defined.
4.7.2 Pengaruh Diferensiasi Terhadap Daya Saing ... Error! Bookmark not
defined.
4.7.3 Pengaruh Permintaan Terhadap Daya Saing ... Error! Bookmark not
defined.
4.7.4 Pengaruh Pemasok Bahan Baku Terhadap Daya Saing ... Error!
4.7.5 Pengaruh Kompetensi Pengusaha, Diferensiasi, Permintaan, dan
Pemasok Bahan Baku terhadap Daya Saing Industri Roti di Kota Bogor
Error! Bookmark not defined.
4.8 Implikasi Pendidikan ... Error! Bookmark not defined.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... Error! Bookmark not defined.
5.1 Kesimpulan ... Error! Bookmark not defined.
5.2 Saran ... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR PUSTAKA ... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR LAMPIRAN ... Error! Bookmark not defined.
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi seperti sekarang ini terjadi pembaharuan yang sangat
cepat dan berdampak luas bagi perekonomian, baik di dalam maupun luar negeri.
Dan dampak terbesar yang terlihat yaitu dengan semakin ketatnya persaingan di
berbagai sektor. Oleh karena itu sangat dibutuhkan peran pemerintah pusat
maupun peran pemerintah daerah dalam memajukan perekonomian bangsa.
Dan dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah dengan pemanfaatan
sumber daya dan potensi yang dimiliki oleh daerah masing-masing secara
optimal, salah satu yang berpengaruhnya adalah sektor Usaha Kecil Menengah
(UKM) dan industri. Karena peran UKM dan industri tersebut sangatlah berperan
penting dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dalam memberdayakan
masyarakat sekitar. Sektor-sektor tersebutlah yang diharapkan memiliki
keunggulan kompetitif untuk dapat bersaing baik dengan produk dalam yang
berada di pasar domestik maupun terhadap produk luar.
Daya saing merupakan salah satu kriteria yang menentukkan keberhasilan
suatu usaha di dalam perdagangan. Menurut IMD World Competitiveness
Yearbook daya saing diukur dari kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi
bisnis, dan infrastruktur. Posisi Indonesia dalam kesepakatan perdagangan bebas
dunia relatif kurang menguntungkan, hal tersebut dapat dilihat dari data berikut :
Tabel 1.1
Posisi Daya Saing Indonesia
Negara 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
USA 1 1 1 1 1 1 3 3 5 7
Singapura 4 2 3 3 5 5 1 1 2 2
Malaysia 21 16 28 23 21 21 18 26 21 14
Korea 37 35 29 38 13 11 27 22 24 22
Jepang 25 23 21 17 9 8 17 10 9 10
China 29 24 31 19 30 34 18 27 26 26
Thailand 30 29 27 32 34 34 37 38 39 38
Indonesia 57 58 59 52 54 55 42 35 33 42
Berdasarkan tabel 1.1 posisi daya saing Indonesia sangatlah
mengkhawatirkan. Dari sejak tahun 2003 sampai 2005, peringkat daya saing
Indonesia berturut-turut mengalami penurunan dari peringkat 60 negara yang
diteliti yaitu dari posisinya ke 57 pada tahun 2003 terus menurun sampai pada
posisinya ke 59 pada tahun 2005. Kemudian untuk tahun-tahun berikutnya terjadi
penaikan dan penurunan hingga pada tahun 2012 daya saing Indonesia berada
pada posisi ke 42. Sehingga dari data diatas dapat terlihat bahwa daya saing
Indonesia masih lebih rendah dibawah Negara USA, Singapura, Malaysia, Korea,
Jepang, China, dan Thailand.
Menurut catatan IMD (Outlook Ekonomi Indonesia Bank Indonesia, 2008)
rendahnya kondisi daya saing Indonesia, disebabkan oleh buruknya kinerja
perekonomian nasional dalam hal empat pokok yaitu buruknya kinerja
perekonomian nasional, buruknya efisiensi kelembagaan pemerintah, lemahnya
efisiensi usaha, dan keterbatasan infrastruktur.
Oleh karena itu setiap bangsa harus berdaya saing tinggi. Sejalan yang
diungkapkan oleh Presiden pertama Ir. Soekarno dalam Kuntoro Mangkusubroto
(2011:4), menyatakan bahwa „een natie van koelias en een koelie onder de
naties’. Artinya bangsa yang tidak berdaya saing adalah bangsa kuli dan kulinya
bangsa lain. Dan apabila kita berbicara tentang daya saing, daya saing tidak hanya
bisa ditujukan pada suatu produk tanpa pengembangan sarana pendukungnya.
Selaras dengan yang diungkapkan oleh Ina Primiana (2009:103), menyatakan
bahwa :
“Daya saing nasional tidak bisa hanya ditujukan pada suatu produk tanpa pengembangan sarana pendukungnya. Dengan kata lain daya saing nasional semakin ditentukkan oleh kaitan yang kompleks antara kebijakan makro dan industri dengan strategi mikro perusahaan. Peningkatan daya saing nasional ini lebih kompleks lagi karena juga menyangkut kualitas SDM, infastruktur dan penguasaan teknologi.”
Dan untuk mencapai tingkat daya saing yang baik tersebut tentunya terdapat
prasayar agar daya saing itu sukses dalam pelaksanaannya. Sebagaimana yang
diungkapkan oleh Zuhal (2008:74), menyataan bahwa agar dapat mendongkrak
daya saing maka perlu konsep makro dan konsep mikro yang membutuhkan
mengutamakan pada investasi fisik semata-mata tetapi lebih berorientasi pada
produktivitas. Hal ini berarti kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dan
penguasaan teknologi akan semakin menentukan pertumbuhan ekonomi.
Sekalipun kita masih mempunyai keunggulan komparatif dalam SDM dan tenaga
kerja murah, namun kita harus tetap mengutamakan kemampuan SDM dalam
menciptaka nilai tambah yang lebih besar dalam setiap proses produksinya.
Selaras dengan perkembangan zaman yang mengubah gaya hidup menjadi
semakin dinamis dan serba praktis tentunya terjadi peningkatan aktivitas yang
lebih cepat dan praktis sehingga mengubah pola konsumsi masyarakat, sehingga
dengan semakin meningkatnya aktivitas diluar terkadang orang-orang
mengabaikan kebutuhan pangan yang merupakan kebutuhan pokok manusia
dalam kelangsungan hidup manusia. Sehingga alternatif kebanyakan masyarakat
dalam mengatasi hal tersebut yakni dengan mengkonsumsi makanan yang lebih
praktis dan mudah diperoleh, mudah penyajian, banyak variasi dan bentuk, serta
mengandung gizi yang cukup baik.
Gambar 1.1
Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Bogor
Menurut Kelompok Pengeluaran Makanan Jadi Tahun 2011
Sumber : Buku laporan Badan Pusat Statistik Kota Bogor Tahun 2012
Dari gambar 1.1 diatas dapat dilihat bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK)
Kota Bogor menurut kelompok pengeluaran makanan jadi pada periode tahun
2011 rata-rata mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa potensi UKM 126
127 128 129 130 131 132
127,95 128,38
128,94 128,99 128,96
129,93 130,11 130,19 130,17
khususnya yang menggeluti industri makanan jadi memiliki peluang yang cukup
besar dan cukup menjanjikan untuk dapat terus berkembang, khususnya di Kota
Bogor tersebut.
Dari beberapa Provinsi dan Kota yang berada di Indonesia, UKM yang
berada di Bogor apabila dilihat dari datanya cukup baik dengan data yang
diperoleh dari Dinas Perdagangan Kota Bogor Tahun 2011 menunjukkan bahwa
jumlah jenis perusahaan perdagangan Perusahaan besar sebanyak 15 unit,
sedangkan perusahaan menengah dan kecil sebanyak 173 unit lebih berkembang
dibandingkan jumlah perusahaan besar. Dan sebagian besar UKM yang berada di
Kota Bogor hanya UKM yang memiliki daya saing dan dapat berkompetitif yang
mampu bertahan lama.
Sejalan dengan yang diungkapkan oleh Airlangga Hartarto (2004:13),
menyatakan bahwa :
“Dalam abad global ini dibutuhkan industri yang tangguh dan kompetitif. Hanya industri yang demikianlah yang dapat menjadi pendorong tumbuhnya perekonomian, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan akhirnya mengurangi angka kemiskinan.” Dengan adanya peningkatan perkembangan industri makanan dan minuman
tersebut pastinya juga didukung pula oleh peningkatan pengeluaran rata-rata
perkapita untuk kelompok makanan jadi. Hal tersebut mengindikasikan adanya
peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bersumber dari perubahan pola
konsumsi kepada perubahan kesejahteraan.
Gambar 1.2
Persentasi Pengeluaran Rata-Rata Perkapita Makanan Jadi Kota Bogor
Sumber : Buku laporan Badan Pusat Statistik Kota Bogor Tahun 2012 73,74%
87,69%
46,02%
92,34%
0,00% 20,00% 40,00% 60,00% 80,00% 100,00%
Dari total pengeluaran perkapita diatas pula menunjukkan adanya peluang
yang cukup besar untuk mengembangkan industri makanan jadi, contohnya
seperti roti karena roti merupakan makanan alternatif dari nasi yang semakin
banyak diminati orang-orang akhir-akhir ini karana daya tahannya yang cukup
lama, mudah dan cepat diperoleh dan memiliki pasar baik dikalangan konsumen
dan pangsa pasar yang besar.
Jamil Mubaroq dalam tulisannya yang berjudul laporan karya ilmiah
lingkungan bisnis perencanaan strategi dalma meningkatkan daya saing roti go
menyatakan bahwa ditengah keterpurukan ekonomi salah satu jenis usaha yang
mampu bertahan adalah usaha industri roti dan kue kering yang termasuk
golongan industri makanan dari tepung. Dan menurutnya di berbagai Kota besar
di Pulau Jawa, pada umumnya perusahaan roti dan kue masih bisa menjalankan
usahanya walaupun dengan mengurangi volume produksi bahkan terdapat
perusahaan yang mampu mempertahankan tenaga kerjanya.
Lain halnya dengan keadaan keragaman jenis dan merek roti yang dimiliki
Kota Bogor memberikan alternatif pilihan yang bervariasi bagi para penikmat roti.
Sehingga tidak dipungkiri kuliner roti ini merupakan salah satu tujuan para
konsumen baik lokal maupun luar kota (wisatawan). Maka keadaan tersebut
menciptakan suatu daya saing industri dimana terdapat tingkat kekuatan daya
pikat aspek kuliner khususnya roti yang selanjutnya membentuk daya saing
industri roti secara keseluruhan. Dan lalu hal tersebut didukung pula dengan terus
bertambahnya jumlah populasi di Kota Bogor berpengaruh pula pada permintaan
kebutuhan pangan praktis seperti roti tersebut sehingga meningkatnya
pertumbuhan persaingan diantara para industri bakery (produsen roti), khususnya
pada perusahaan roti manis di Kota Bogor.Selain itu, karena industri pengolahan
makanan khususnya industri roti merupakan salah satu industri yang berperan
penting dalam hal penyumbang Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB)
Kota Bogor bagi suatu daerah. Hal inilah yang menyebabkan industri roti di Kota
Bogor berlomba-lomba untuk memperkenalkan produk yang dimilikinya sehingga
Tabel1.2
Perkembangan Perusahaan Roti di Kota Bogor
No. Perusahaan
Sumber : Hasil pengolahan data pada pra penelitian melalui wawancara
Dari tabel 1.2 dapat dilihat perkembangan beberapa industri roti yang
terdapat di Kota Bogor cukup baik dengan pendapatan bersih yang diperoleh
cukup beragam. Dan dari data tersebut terlihatsecara sepintas diantara industri roti
tersebut Venus lah memiliki daya saing yang baik dengan diperolehnya investasi
paling tinggi dibandingkan perusahaan lainnya sebesar Rp 364.700.000 serta
kapasitas produksi sebesar Rp 1.800.000 potong roti. Industri bakery produksi roti
unyil merek venus tersebut pula merupakan produk unggulan oleh-oleh dari Kota
Bogor yang mampu bersaing dengan industri sejenisnya, karena bentuknya yang
unik, memiliki produktivitas tinggi dan cukup popular serta memiliki brand image
produksi yang diperoleh industri roti unyil venus setiap bulannya menunjukkan
seberapa besar tingat daya saingnya dibandingkan industri roti lainnya.
Namun, disisi lain industri roti-roti ini memiliki beberapa ancaman yang
dapat menghambat kemajuan daya saingnya seperti harus adanya impor terigu
dari China dan India yang dikarenakan produksi terigu dalam negeri kurang
mencukupi serta produknya yang mudah ditiru. Maka dari itu untuk mengatasi
ancaman tersebut industri roti harus dapat memanfaatkan potensi dan peluang lain
untuk dapat meningkatkan daya saingnya.
Sebagaimana yang diungkapkan Porter (1994:117) bahwa :
“Perusahaan melakukan daya saing produk terhadap tingkat penjualan para pesaingnya, bilamana ia berhasil menampilkan keunikan yang dinilai penting oleh pembeli dan kuantitas baik pada produknya selain sekedar harga rendah”
Berkaca dengan melihat kondisi keunggulan daya saing industri roti unyil
merek venus tersebut, maka untuk meningkatkan daya saing produk terhadap
tingkat penjualan para pesaing industri roti lainnya maka setiap industri roti harus
disokong oleh faktor-faktor pendukung lainnya yang dapat mendorong serta
mendukung industri roti tersebut, oleh karena itu setiap pengelola industri roti
diharapkan mampu memanfaatkan potensi lainyang ada dan menetapkan strategi
yang efektif dan efisien agar industrinya terus dapat meningkat dan mampu
berdaya saing dengan industri roti lainnya dalam jangka panjang. Khususnya
dalam faktor yang paling berpengaruh kuat dalam perkembangan daya saing roti
yaitu dengan adanya factor conditions seperti kompetensi pengusaha, factor
strategy structure & rivarlry seperti strategi bersaing dalam diferensiasi, biaya,
maupun fokus,factor demand conditions seperti permintaan produk dari
konsumen, serta faktor related & supporting industryseperti pemasok bahan baku.
Oleh karena itu perlu studi untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
daya saing yang dimiliki industri roti tersebut.
Berdasarkan pada uraian latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk
1.2.Identifikasi dan Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah, terlihat bahwa yang menjadi
permasalahan dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi daya
saing industri roti di Kota Bogor. Dan dalam penelitian ini peneliti membatasi
ruang lingkup permasalahan yakni dari beberapa faktor seperti kompetensi
pengusaha, diferensiasi, permintaan, sertapemasok bahan baku.
Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1) Bagaimana pengaruh kompetensi pengusaha terhadap daya saing industri roti
di Kota Bogor?
2) Bagaimana pengaruhdiferensiasi terhadap daya saing industri roti di Kota
Bogor?
3) Bagaimana pengaruh permintaan terhadap daya saing industri roti di Kota
Bogor?
4) Bagaimana pengaruh pemasok bahan baku terhadap daya saing industri roti di
Kota Bogor?
1.3.Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :
1) Untuk mengetahui pengaruh kompetensi pengusaha terhadap daya saing
industri roti di Kota Bogor.
2) Untuk mengetahui pengaruh diferensiasi terhadap daya saing industri roti di
Kota Bogor.
3) Untuk mengetahui pengaruh permintaan terhadap daya saing industri roti di
Kota Bogor.
4) Untuk mengetahui pengaruh pemasok bahan baku terhadap daya saing
industri roti di Kota Bogor.
1.4.Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran untuk memperkaya khasanah ilmu ekonomi mikro, khususnya
2) Secara praktis diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran serta
informasi mengenai analisis kompetensi pengusaha, diferensiasi, permintaan
dan pemasok bahan bakudalam meningkatkan daya saing industri roti di
Kota Bogor. Juga dapat memberikan masukan bagaimana suatu industri
dapat meningkatkan daya saingnya.
1.5.Sistematika Penulisan
Untuk memahami alur pikir dalam penulisan skripsi ini, maka perlu adanya
struktur organisasi yang berfungsi sebagai pedoman penyusunan laporan
penelitian ini, yaitu sebagai berikut :
BAB I berisi Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang penelitian,
identifikasi dan perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta
struktur organisasi skripsi atau sistematika penulisan. Latar belakang penelitian
dimaksudkan untuk menjelaskan alasan peneliti melaksanakan penelitian,
pentingnya masalah itu untuk diteliti, dan pendekatan untuk mengatasi masalah.
Indentifikasi dan perumusan masalah menjelaskan tentang analisis dan rumusan
masalah dinyatakan dalam bentuk kalimat tanya. Tujuan penelitian menyajikan
tentang hasil yang ingin dicapai setelah penelitian selesai dilakukan, tujuan
penelitian dirumuskan dalam bentuk kalimat kerja operasional. Manfaat penelitian
diharapkan dapat memberikan kegunaan baik bagi siswa, guru, peneliti sendiri
dan bagi peneliti lain. Dan sistematika penulisan berisi rincian tentang urutan
penulisan dari setiap bab dan bagian bab dalam skripsi mulai dari BAB I hingga
BAB terakhir.
BAB II berisi kajian pustaka, kerangka pemikiran, dan hipotesis penelitian.
Kajian pustaka berfunsi sebagai landasan teoritik dalam menyusun rumusan
masalah dan tujuan. Kerangka pemikiran merupakan tahapan yang harus
ditempuh untuk merumuskan hipotesis dengan mengkaji hubungan teoritis antar
variabel penelitian. Artinya, setelah hubungan variabel tersebut didukung oleh
teori yang dirujuk, barulah hipotesis dapat dirumuskan. Oleh karena itu, hipotesis
merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang dirumuskan dalam
BAB III berisi penjelasan yang rinci mengenai metode penelitian.
Komponen dari metode penelitian terdiri dari lokasi dan subjek penelitian, desain
penelitian berikut dengan justifikasi pemilihan desain penelitian, metode
penelitian berikut dengan justifikasi penggunaan metode penelitian, instrument
penelitian, teknik pengumpulan data, serta analisis data penelitian.
BAB IV berisi penelitian dari analisis data untuk menghasilkan temuan
berkaitan tenang masalah penelitian, serta pembahasan yang dikaitkan dengan
kajian pustaka.
BAB V berisi tentang kesimpulan dan sasaran yang menyajikan tentang
penafsiran dan pemaksanaan peneliti terhadap hasil analisis temuan penelitian.
Penulisan kesimpulan untuk skripsi berupa butir demi butir hasil penelitian. Saran
dapat ditujukkan kepada para praktisi pendidikan, ataupun kepada peneliti
berikutnya.
Daftar pustaka memuat semua sumber yang pernah dikutip dan digunakan
dalam penulisan skripsi. Lampiran berisi semua dokumen yang digunakan dalam
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2010:118), objek penelitian adalah variabel
penelitian, yaitu sesuatu yang merupakan inti dari problematika penelitian. Dalam
penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Dimana daya saing
sebagai variabel terikat, sedangkankompetensi pengusaha,diferensiasi,permintaan,
dan pemasok bahan baku sebagai variabel bebas. Variabel tersebut merupakan
objek dari penelitian ini. Adapun subjek dari penelitian ini yaitu para pengusaha
industri rotiyang terdapat di lingkungan sekitar Kota Bogor.
3.2 Metode Penelitian
Metode penelitian ini merupakan langkah dan prosedur yang akan dilakukan
untuk mengumpulkan data dalam rangka memecahkan masalah atau menguji
hipotesis. Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu
dengan metode survey eksplanatori (explanatory methode). Yaitu suatu metode
penelitian yang bermaksud menjelaskan hubungan antar variabel dengan
menggunakan pengujian hipotesis.
Adapun pengertian penelitian survey menurut Masri Singarimbun (1995:3)
adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan
kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok. Tujuan dari penelitian
explanatory adalah untuk menjelaskan atau menguji hubungan antar variabel yang
diteliti.
3.3 Populasi Dan Sampel
1.3.1 Populasi
Menurut Suharsimi Arikunto (2010:173) “Populasi adalah keseluruhan
subjek penelitian. Apabila ingin meneliti semua elemen yang ada dalam
wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi
menurut Sugiyono (2009: 57) dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian Administrasi menjelaskan bahwa “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek atau objek yang mempunyai karakteristik tertentu yang
diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulan.”
Sedangkan menurut TPPS(Tim Pertimbangan Penulisan Skripsi Program
Ekonomi Koperasi UPI) (2003:5) “Populasi merupakan sekelompok orang,
kejadian atau segala sesuatu yang diteliti.”
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dan berdasarkan pra penelitian
yang telah dilkaukan, maka yang menjadi populasi dalam penelitian adalah
para pengusaha industri roti di Kota Bogor yang berjumlah 26 pengusaha roti.
1.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi untuk mewakili seluruh
populasi. Jadi tidak perlu untuk meneliti secara keselurahan populasi jika
karakteristik dari sampel sudah mewakili terhadap populasinya. Untuk
menentukan berapa ukuran sampel, maka peneliti harus melakukan penarikan
sampel.
Banyaknya sampel yang akan diteliti menurut Suharsimi Arikunto
(1998 : 120) didasarkan atas :
“… pengambilan sampel tergantung setidak-tidaknya dari besarnya : (1)Besarnya kemampuan peneliti dari segi waktu, tenaga dan dana.
(2)Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek karena menyangkut
banyak dan sedikitnya data.
(3)Besar kecilnya resiko yang ditanggung.” Selanjutnya apabila populasinya
lebih dari 100, maka dapat diambil 10% - 15% atau 20 - 25% tergantung
kemampuan peneliti.
Berdasarkan pendapat tersebut, karena total populasi berjumlah
kurang dari 100 yaitu sebanyak 30 pengusaha industri roti di Kota Bogor.
Maka yang menjadi sampel yaitu populasi itu sendiri yaitu sebanyak 26 orang
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu
Hal ini karena populasi yang terbatas maka penarikan sampel ditiadakan. „„Sampel seperti ini sering disebut sebagai sampel total/sampel jenuh, yaitu sampel yang jumlahnya sebesar populasi.“ (Winarno Surakhmad, 1998 : 100)
Tabel 3.1
Sampel Industri Roti di Kota Bogor
No. Perusahaan Alamat
1 Evie Boy Gang Tirta 1 Kebon Kalapa Bogor Tengah 2 Singapore Bakery Jln. Roda No. 94 Bogor Timur
3 Mungil Jln. Sedap Malam 2 No. 17 Bogor
4 De Paris Jln. Suryakencana No. 229 Sukasari Bogor Timur 5 Venus Jln. Siliwangi No. 27 A Sukasari Bogor Timur 6 Roti.Co Jln. Raya Ciomas Bukit Asri No. 32 Bogor 7 Bogor Aroma Bakery Jln. Pandu Raya No. 136 Bogor
8 Bogor Permai Jln. Jendral Sudirman 23 A Pabaton Bogor Tengah 9 Edy's Bakery Jln. Kedunghalang No. 26 RT. 6/3 Bogor Utara 10 Michelle Bakery Jln. Raya Pajajaran No. 14 Bogor Selatan 11 PT. Ramayana Lestari Plaza Jambu 2 Bogor Utara
12 SAE Jln. Kecubung 13 Bogor Tengah
13 Barkah Jln. Fakultas RT. 6/4 Tegal Gundil Bogor Utara 14 Sukses Bakery Gang Besi RT. 2/11 Kebon Pala Bogor Tengah 15 Delicieus Jln. Mawar 18/22 Menteng Bogor Barat
16 PT. Mustika Citra Rasa Jln. Raya Pajajaran No. 7 Baranangsiang Bogor Timur 17 Jumbo Bakery Jln. Raya Pajajaran 3P No.8 Baranangsiang Bogor Timur 18 Bambi Jln. Sawo Jajar 12/12 Bogor Tengah
19 Virta's Cake Jln. Sukasari I/16 Sukasarai Bogor Timur 20 Bogasari Jln. Pajajaran No. 3 Bogor Selatan
21 Shany Bakery Jln. Pahlawan 69 Bondongan Bogor Selatan
22 Manis Bakery Kp. Warga Luju RT. 4/4 Barangsiang Bogor Timur 23 Surya Bakery Kp. Ciburial RT. 4/4 Baranangsiang Bogor Timur 24 Dwi Rambo Kp. Kutajaya RT 4/11 Bogor Selatan
25 Dwi Kandi Jln. Pamoyanan No. 215 Bogor Selatan 26 Tan Tjoan Jln. Siliwangi Bogor Tengah
Sumber : DEPERINDAG KOTA BOGOR
3.4 Operasional Variabel
Untuk menguji hipotesis yang diajukan, dalam penelitian ini terlebih
dahulu setiap variabel didefinisikan, kemudian dijabarkan melalui
penelitian dapat diketahui skala pengukurannya secara jelas. Operasionalisasi
variabel penelitian secara rinci diuraikan pada tabel 3.2 dibawah ini :
Tabel 3.2
Operasionalisasi Variabel
Konsep Variabel Indikator Sumber Data Skala
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu c.Financial pembelian roti, dilihat dari presentase tingkat pembelian pada satu
tahun terakhir. pengusaha inti denan pemasok bahan baku yang berkualitas.
Ordinal
3.5 Sumber Dan Jenis Data
Menurut Suharsimi Arikunto (2006:129) yang dimaksud dengan sumber
data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Adapun
sumber data yang diperoleh dari penelitian ini adalah :
a) Para pengusaha roti di Kota Bogor.
b) Referensi studi pustaka.
Sedangkan jenis data yang dgunakan adalah dalam penelitian ini adalah :
1) Data primer yang diperoleh secara langsung dari para pengusaha roti, alat
yang dilakukan melalui kuesioner/angket dan wawancara.
2) Data sekunder diperoleh dari instansi yang terkait seperti Badan Pusat
Statistik (BPS) dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan
(DISPERINDAG) serta dari Internet dan kajian pustaka yang berhubungan
dengan penelitian ini.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dengan teknik tertentu sangat diperlukan dalam analisis
anggapan dasar dan hipotesis karena teknik-teknik tersebut dapat menentukan
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu
menguji anggapan dasar dan hipotesis. Untuk mendapatkan data yang diperlukan,
maka teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah :
1) Angket, yaitu pengumpulan data melalui penyebaran seperangkat pertanyaan
maupun pernyataan tertulis kepada responden yang menjadi anggota sampel
dalam penelitian.
2) Wawancara, komunikasi langsung dengan sumber data dalam hal ini para
pengusaha industi roti.
3.7 Instrumen Penelitian
Dalam suatu penelitian alat pengumpul data atau instrumen penelitian akan
menentukan data yang dikumpulkan dan menentukan kualitas penelitian.
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket
tentang kompetensi pengusaha, diferensiasi, permintaan, pemasok bahan baku dan
daya saing.
Skala yang digunakan dalam instrumen penelitian ini adalah skala likert.
Dengan menggunakan skala likert, setiap jawaban dihubungkan dengan bentuk
pernyataan positif dan negatif.
Adapun langkah-langkah penyusunan angket adalah sebagai berikut :
1) Menentukan tujuan pembuatan angket yaitu mengetahui pengaruh kompetensi
pengusaha, diferensiasi, permintaan dan pemasok bahan baku terhadap daya
saing.
2) Menjadikan objek yang menjadi responden yaitu para pengusaha roti di Kota
Bogor.
3) Menyusun pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh responden.
4) Memperbanyak angket.
5) Menyebarkan angket.
6) Mengelola dan menganalisis hasil angket.
Agar hipotesis yang telah dirumuskan dapat diuji maka diperlukan
pembuktian melalui pengolahan data yang telah terkumpul. Jenis data yang
dikumpulkan dalam penelitian ini ada yang berupa data ordinal berupakompetensi
permintaan, dan daya saing. maka terlebih dahulu data yang bersifat ordinal
ditingkatkan menjadi data yang sifatnya interval dengan menggunakan metode
MSI (Method Succesive Interval).
Selanjutnya agar hasil penelitian tidak bias dan diragukan kebenarannya
maka alat ukur tersebut harus valid dan reliabel. Untuk itulah terhadap angket
yang diberikan kepada responden dilakukan 2 (dua) macam tes, yaitu tes validitas
dan tes reliabilitas.
1.7.1 Tes Validitas
Suatu tes dikatakan memiliki validitas tinggi apabila tes tersebut
menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil dengan maksud
digunakannya tes tersebut. Dalam uji validitas ini digunakan teknik korelasi
Product Moment dengan rumus (Suharsimi Arikunto, 2010:170):
√
Dengan menggunakan taraf signifikan
= 0,05 koefisien korelasi yang diperoleh dari hasil perhitungan dibandingkan dengan nilai dari tabel korelasinilai r dengan derajat kebebasan (n-2), dimana n menyatakan jumlah
banyaknya responden. Jika rhitung > r 0,05 dikatakanvalid, sebaliknya jika rhitung
r0,05 tidak valid.
Jika instrumen itu valid, maka dilihat kriteria penafsiran mengenai indeks
korelasinya, (Riduwan, 2004: 217).
Antara 0,800 – 1,000 : sangat tinggi
Antara 0,600 – 0,799 : tinggi
Antara 0,400 – 0,599 : cukup tinggi
Antara 0,200 – 0,399 : rendah
Antara 0,000 – 0,199 : sangat rendah (tidak valid)
1.7.2 Uji Reliabilitas
Tes reliabilitas adalah tes yang digunakan dalam penelitian untuk
mengetahui apakah alat pengumpul data yang digunakan menunjukan tingkat
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu
mengungkapkan gejala dari sekelompok individu walaupun dilaksanakan pada
waktu yang berbeda.
Untuk menghitung uji reliabilitas, penelitian ini menggunakan rumus
alpha dari Cronbach sebagaimana berikut(Suharsimi Arikunto, 2010: 171):
[ ] [ ]
Dimana; r11 = reliabilitas instrumen
k = banyak butir pernyataan atau banyaknya soal
n2 = Jumlah varians butir
t2 = varians total
Kriteria pengujiannya adalah jika rhitung lebih besar dari rtabel dengan
taraf signifikansi pada
= 0,05, maka instrumen tersebut adalah reliabel, sebaliknya jika rhitung lebih kecil dari rtabel maka instrument tidak reliabel.3.8 Teknik Analisis Data Dan Pengujian Hipotesis
3.8.1 Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, menganalisis data akan menggunakan analisis
regresi linier berganda (multiple linear regression method). Tujuannya untuk
mengetahui variabel-variabel yang dapat mempengaruhi preferensi konsumen.
Alat bantu analisis yang digunakan yaitu dengan menggunakan
program komputer Econometric Views (EViews) versi 7.0.0.1 dan SPSS 16.
Tujuan Analisis Regresi Linier Berganda adalah untuk mempelajari bagaimana
eratnya pengaruh antara satu atau beberapa variabel bebas dengan satu variabel
terikat.
Dalam penelitian ini akan dilakukan pemilihan model fungsi regresi.
Apakah akan menggunakan regresi model linier atau model log-linier. Dalam
penelitian ini digunakan metode Mackinnon, White dan Davidson (metode
MWD) untuk memilih model yang paling cocok.
Model analisa data yang digunakan untuk mengetahui pengaruh antara
LNY = β0+ β1X1+ β2X2+ β3X3 + β4X4 + e
dugaan sementara digunakan model Persamaan Regresi Log Linier (Semilog),
sebagai berikut:
Dimana :
LNY = Daya Saing β0 = Konstanta Regresi β1 = Koefisien Regresi X1 β2 = Koefisien Regresi X2 β3 = Koefisien Regresi X3 β4 = Koefisien Regresi X4 X1 = Kompetensi Pengusaha X2 = Diferensiasi
X3 = Permintaan X4 = Pemasok Bahan Baku
e = Faktor pengganggu
Dalam penelitian ini akan dikemukakan beberapa pengujian data yang
akan dilakukan dengan uji regresi.
Uji ini disebut juga koefisien regresi yaitu angka yang menunjukkan
besarnya derajat kemampuan atau distribusi variabel bebas dalam menjelaskan
variabel terikatnya dalam fungsi yang bersangkutan. Besarnya nilai R kuadrat
diantara nol dan satu. Jika nilainya semakin mendekati satu, maka model
tersebut baik dan tingkat kedekatan antara variabel bebas dan variabel terikat
semakin dekat pula.
Parameter persamaan regresi log linier berganda dapat ditaksir dengan
menggunakan metode kuadrat terkecil biasa atauordinary least square (OLS).
Sebelum melakukan pengujian hipotesis terlebih dahulu dilakukan pengujian
mengenai ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi klasik. Hasil
pengujian hipotesa yang baik adalah pengujian yang tidak melanggar tiga
asumsi klasik yang mendasari model regresi log linier berganda. Ketiga asumsi
tersebut adalah :
(1) Tidak terdapat multikolinear antara variabel independen, artinya apakah
pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variable bebas. Untuk
mendeteksi adanya multikolineritas dilakukan dengan cara melihat nilai
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu
menentukan model regresi bebas multikolinier adalah; mempunyai nilai
VIF di sekitar angka 1, mempunyai angka Tolerance mendekati 1.
(2) Tidak terjadi autokorelasi, artinya tidak ada korelasi antara variable
penganggu. Mendeteksi autokorelasi dapat dilihat dari besaran
Durbin-Watson. Secara umum diambil patokan :
a. Angka D-W di bawah -2 berarti ada autokorelasi positif
b. Angka D-W di antara –2 dan +2 berarti tidak ada autokorelasi
c. Angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif.
(3) Tidak terdapat heteroskedastisitas. Heteroskedastisitas terjadi jika
variansnya berbeda. Dasar pengambilan keputusannya adalah jika ada pola
tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang
teratur, maka telah terjadi heteroskedastisitas
Uji Asumsi Klasik
1) Uji Normalitas Data
Uji normalitas data dilakukan agar dapat diketahui sifat distribusi dari
data penelitian, dengan demikian diketahui normal tidaknya sebaran data yang
bersangkutan. Pengujiannya menggunakan alat bantu analisis yang digunakan
yaitu dengan menggunakan program komputer SPSS 16. Menurut buku Singgih
Santoso (2012:232) mengatakan data yang berdistribusi normal jika pada
grafik histogram mengikuti bentuk bel (lonceng). Dari grafik terlihat sebaran
data mempunyai kurva yang dapat dianggap berbentuk lonceng. Karena itu
error model regresi dapat dikatakan berdistribusi normal. Dan selain itu dapat
dideteksi melalui grafik normal P-P plot of regression standardized residual
yang dapat dilihat melalui penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari
grafik. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas, sedangkan jika
data menyebar jauh dari garis diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis
2) Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah situasi di mana terdapat korelasi variabel
bebas antara satu variabel dengan yang lainnya. Dalam hal ini dapat disebut
variabel-variabel tidak ortogonal. Variabel yang bersifat ortogonal adalah
variabel yang nilai korelasi antara sesamanya sama dengan nol. Ada beberapa
cara untuk medeteksi keberadaan Multikolinearitas dalam model regresi OLS
(Yana Rochmana, 2010:143-148), yaitu:
1) Mendeteksi nilai koefisien determinasi (R2) dan nilai thitung. Jika R2 tinggi
(biasanya berkisar 0,7–1,0) tetapi sangat sedikit koefisien regresi yang
signifikan secara statistik, maka kemungkinan ada gejala multikolinieritas.
2) Korelasi parsial antarvariabel independen. Dengan menghitung koefisien
korelasi antarvariabel independen. Apabila koefisiennya rendah, maka
tidak terdapat multikolinearitas, sebaliknya jika koefisiennya antarvariabel
independen (X) itu koefisiennya tinggi (8,0-1,0) maka diduga terdapat
multikoliniearitas.
3) Regresi Auxiliary. Kita menguji multikolinearitas hanya dengan melihat
hubungan secara individual antara satu variabel independen dengan satu
variabel independen lainnya.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Uji Mendeteksi nilai
koefisien determinasi (R2) dan nilai thitungdan korelasi parsial antarvariabel
independen dengan bantuan SoftwareEviews 7.
Apabila terjadi Multikolinearitas menurut Yana Rohmana (2010:
149-154) disarankan untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
1) Tanpa ada perbaikan
2) Dengan perbaikan:
a) Adanya informasi sebelumnya (informasi apriori).
b) Menghilangkan salah satu variabel independen.
c) Menggabungkan data Cross-Section dan data Time Series.
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu e) Penambahan data.
3) Heteroskedastisitas (Heteroskedasticity)
Salah satu asumsi pokok dalam model regresi linier klasik adalah bahwa
varian-varian setiap disturbance term yang dibatasi oleh nilai tertentu
mengenai variable-variabel bebas adalah berbentuk suatu nilai konstan yang sama dengan δ2
. inilah yang disebut sebagai asumsi heterokedastisitas
(Gujarati, 1995:177).
Heteroskedastisitas berarti setiap varian disturbance term yang dibatasi
oleh nilai tertentu mengenai variabel-variabel bebas adalah berbentuk suatu
nilai konstan yang sama dengan atau varian yang sama. Uji heteroskedasitas
bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan
varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian
residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut
homokesdasitas dan jika berbeda disebut heteroskedasitas. Keadaan
heteroskedastis tersebut dapat terjadi karena beberapa sebab, antara lain:
a) Sifat variabel yang diikutsertakan kedalam model.
b) Sifat data yang digunakan dalam analisis. Pada penelitian dengan
menggunakan data runtun waktu, kemungkinan asumsi itu mungkin benar.
Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk mengetahui adanya
heteroskedastisitas (Yana Rochmana : 161-183), yaitu sebagai berikut :
1) Metode informal (grafik), kriteria yang digunakan dalam metode ini adalah
:
a) Jika grafik mengikuti pola tertentu misal linier, kuadratik atau
hubungan lain berarti pada model tersebut terjadi heteroskedastisitas.
b) Jika pada grafik plot tidak mengikuti pola atau aturan tertentu maka
pada model tersebut tidak terjadi heteroskedastisitas.
2) Uji Park (Park test), yakni menggunakan grafik yang menggambarkan
keterkaitan nilai-nilai variabel bebas (misalkan X1) dengan nilai-nilai
3) Uji Glejser (Glejser test), yakni dengan cara meregres nilai taksiran
absolut variabel pengganggu terhadap variabel Xi dalam beberapa bentuk,
diantaranya:
4) Uji korelasi rank Spearman (Spearman’s rank correlation test.) Koefisien
korelasi rank spearman tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi
heteroskedastisitas berdasarkan rumusan berikut :
d1= perbedaan setiap pasangan rank
n = jumlah pasangan rank
5) Metode Goldfeld-Quandt. Metode ini meliputi perhitungan 2 regresi.
Regresi pertama merupakan kelompok data yang diduga mempunyai
varian residual yang tinggi. Jika varian residual setiap kelompok hampir
sama maka diduga varian residual mempunyai karakteristik
homoskedastisitas. Namun jika varian residual menunjukkan trend yang
menaik maka model mengandung heteroskedastisitas.
6) Metode Breusch Pagan Godfrey. Metode ini mengembangkan model yang
tidak memerlukan penghilangan data c dan pengurutan data, sebagai
alternatif dari metode Golgfeld-Quandt.
7) Uji White (White Test). Pengujian terhadap gejala heteroskedastisitas
dapat dilakukan dengan melakukan White Test, yaitu dengan cara
meregresi residual kuadrat dengan variabel bebas, variabel bebas kuadrat
dan perkalian variabel bebas. Ini dilakukan dengan membandingkan χ2hitung dan χ2
tabel, apabila χ2hitung> χ2tabel maka hipotesis yang mengatakan bahwa terjadi heterokedasitas diterima, dan sebaliknya apabila χ2
hitung < χ2tabel
maka hipotesis yang mengatakan bahwa terjadi heterokedasitas ditolak. Dalam metode White selain menggunakan nilai χ2
hitung, untuk memutuskan
apakah data terkena heteroskedasitas, dapat digunakan nilai probabilitas
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu
Chi Squares <α, berarti Ho ditolakjika probabilitas Chi Squares >α, berarti
Ho diterima.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode park dan metode
glejser dengan bantuan SoftwareEviews 7.Dilakukan pengujian dengan
menggunakan metode park test, yaitu dengan menggunakan grafik yang
menggambarkan keterkaitan nilai-nilai variabel bebas dengan nilai-nilai
taksiran variabel pengganggu yang dikuadratkan.
Apabila terjadi Heteroskedastisitas menurut Yana Rohmana (2010:
184-188) disarankan untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan cara
perbaikan sebagai berikut :
a) Jika varian dan residual diketahui, maka heteroskedastisitas dapat diatasi
dengan metode Weighted Least Square (WLS) atau Kuadrat Terkecil
Tertimbang.
b) Jika varian tidak diketahui, maka heterokedastisitas dapat diatasi dengan
metode White dan atau metode transformasi.
4) Autokorelasi (autocorrelation)
Secara harfiah, autokorelasi berarti adanya korelasi antara anggota
observasi satu dengan observasi lain yang berlainan waktu. Dalam kaitannya
dengan asumsi metode OLS, autokorelasi merupakan korelasi antara satu
residual dengan residual yang lain. Sedangkan salah satu asumsi penting metode
OLS berkaitan dengan residual adalah tidak adanya hubungan antara residual
satu dengan residual yang lain (Agus Widarjono, 2005:177).
Akibat adanya autokorelasi adalah:
a) Varian sampel tidak dapat menggambarkan varian populasi.
b) Model regresi yang dihasilkan tidak dapat dipergunakan untuk menduga
nilai variabel terikat dari nilai variabel bebas tertentu.
c) Varian dari koefisiennya menjadi tidak minim lagi (tidak efisien),
d) Uji t tidak berlaku lagi, jika uji t tetap digunakan maka kesimpulan yang
diperoleh salah.
Adapun cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi pada model
regresi, pada pengujian asumsi autokorelasi menurut (Yana Rochmana :
194-201)dapat diuji melalui beberapa cara di bawah ini:
1) Uji Durbin Watson (D-W). Uji D-W merupakan salah satu uji yang banyak
dipakai untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi. Jika digambarkan
akan terlihat seperti pada gambar dibawah ini :
Autokorelasi
positif Ragu-ragu Tidak ada
Autokorelasi Ragu-ragu
Autokorelasi negatif
0 dL du 4-du 4-dL 4
Gambar 3.1
Statistik Durbin – Watson d
Dari aplikasi gambar diatas dapat ditabelkan seperti dibawah ini :
Tabel 3.3
Uji Statistik Durbin – Watson d
Nilai Statistik d Hasil
0 < d < dL dL< d < du du< d < 4 – du
4 – du< d < 4 – dL 4 – dL< d < 4
Menolak hipotesis nol ; ada autokorelasi positif Daerah keragu-raguan ; tidak ada keputusan Menerima hipotesis nol ; tidak ada autokorelasi positif/negatif
Daerah keragu-raguan ; tida ada keputusan Menolak hipotesis nol ; ada autokorelasi positif
2) Uji Breusch-Godfrey (uji BG). Nama lain uji BG ini adalah uji
lagrange-multiplier (uji LM) atau (pengganda lagrange).
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Uji Breusch-Godfrey (uji
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu
3.8.2 Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis statistika sifatnya kuantitatif, jadi setiap hipotesis
yang dimaksud harus dinyatakan dengan angka-angka. Dalam pengujian
hipotesis menggunakan data sampel bisa dengan menggunakan dua sisi atau
satu sisi. Uji hipotesis dua sisi dipilih jika tidak mempunyai dugaan kuat atau
dasar teori yang kuat dalam penelitian, sebaliknya uji hipotesis satu sisi jika
peneliti mempunyai landasan teori atau dugaan yang kuat. Dan pada
penelitian ini menggunakan uji hipotesis satu sisi karena memiliki dugaan
yang kuat dan telah jelas hubungan antara pengaruh X dan LNY, apakah
positif atau negatif.
Adapun hipotesis nul dan hipotesis alternative dapat dinyatakan sebagai
berikut :
Hipotesis untuk Xi
Kompetensi pengusaha, diferensiasi, permintaan, dan pemasok bahan baku
berpengaruh positif terhadap daya saing industri roti di Kota Bogor
Uji Hipotesis satu arah :
H0 : β1≤ 0, variabel Xi tidak berpengaruh terhadap LNY
Ha : β1> 0, variabel Xi berpengaruh terhadap LNY
Dimana i = X1, X2, X3, dan X4
1) Pengujian Secara Parsial (Uji t )
Pengujian ini dilakukan untuk menguji hipotesis:
Ho : masing- masing variabel Xi secara parsial tidak berpengaruh terhadap
variabel LNY, dimana i = X1, X2, X3, X4.
Hi : masing-masing variabel Xi secara parsial berpengaruh terhadap
variabel LNY, dimana i = X1, X2, X3, X4.
Untuk menguji rumusan hipotesis diatas digunakan uji t dengan rumus:
t =
Se
; i = X
1, X2, X3, X4.
Tolak Ho jika t hit> t tabel, dan terima Ho jika t hit< t tabel.
2) Pengujian Secara Serempak (Uji F )
Pengujian ini dilakukan untuk menguji rumusan hipotesis:
Ho : semua variabel xi secara bersama-sama tidak berpengaruh i terhadap
LNY, dimana i = X1, X2, X3, X4.
Hi : semua variabel xi secara bersama-sama berpengaruh i terhadap LNY,
dimana i = X1, X2, X3, X4.
(Pengaruh bersama antara variabel bebas secara kesuluruhan terhadap
variabel terikat adalah signifikan)
Terima Ho jika F hit< F tabel:
(Pengaruh bersama antara variabel bebas secara keseluruhan terhadap
variabel terikat adalah tidak signifikan)
3) Koefisien Determinasi
Menurut Gujarati (1995:98) dijelaskan bahwa koefisien determinasi
(R2) yaitu angka yang menunjukkan besarnya derajat kemampuan
menerangkan variabel bebas terhadap variabel terikat dari fungsi tersebut.
Koefisien determinasi sebagai alat ukur kebaikan dari persamaan regresi
yaitu memberikan proporsi atau presentase variasi total dalam variabel tidak
bebas Y yang dijelaskan oleh variabel bebas X.
Pengujian ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana perubahan
variabel terikat dijelaskan oleh variabel bebasnya, untuk menguji hal ini
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu R2 =
=
2 2
y y
y i yˆ
i (Agus Winarjono, 2005:39)
Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1 (0 < R2 < 1), dengan ketentuan sebagai
berikut:
Jika R2 semakin mendekati angka 1, maka hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat semakin erat/dekat, atau dengan kata lain
model tersebut dapat dinilai baik.
Jika R2 semakin menjauhi angka 1, maka hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat jauh/tidak erat, atau dengan kata lain
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dari hasil pembahasan
tentang pengaruh kompetensi pengusaha, diferensiasi, permintaan, dan pemasok
bahan baku terhadap daya saing industri roti di Kota Bogor dapat disimpulkan
sebagai berikut :
1. Kompetensi pengusaha berpengaruh terhadap daya saing industri roti di
Kota Bogor. Artinya, semakin tinggi kompetensi pengusaha maka akan
semakin tinggi pulatingkat daya saingnya.
2. Diferensiasi berpengaruh positif terhadap daya saing industri roti di Kota
Bogor. Artinya, semakin tinggi tingkat diferensiasinya maka semakin tinggi
pula tingkat daya saingnya.
3. Permintaan berpengaruh positif terhadap daya saing industri roti di Kota
Bogor. Artinya, semakin tinggi tingkat permintaan maka semakin tinggi
pula tingkat daya saingnya.
4. Pemasok bahan baku tidak berpengaruh terhadap daya saing industri roti di
Kota Bogor. Artinya, semakin tinggi atau rendahnya tingkat pemasok bahan
baku maka tidak akan mempengaruhi semakin tinggi atau pun rendahnya
tingkat daya saingnya.
5.2Saran
Adapun saran-saran yang dapat penulis rekomendasikan adalah sebagai
berikut :
1. Kompetensi pengusaha berpengaruh terhadap daya saing. Maka dari itu harus
dilakukan peningkatan pengelolaan kompetensi pengusaha agar dapat
meningkatkan keunggulan bersaingnya dan berimbas pada daya saya
saingnya pun akan bisa semakin meningkat. Namun, selain itu para
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu
kompetensi sumber daya manusia (tenaga kerja) dengan baik, agar tercapai
efisiensi produksi agar pangsa pasar (daya saing) dapat tercapai.
2. Diferensiasi berpengaruh positfi terhadap daya saing, maka para pegusaha
harus dapat lebih memperbanyak diferensiasi produknya agar dapat lebih
mengembangkan pangsa pasarnya (daya saing).
3. Permintaan berpengaruh positif terhadap daya saing, maka dari itu para
pengusaha roti harus dapat menciptakan permintaan dengan cara
meningkatkan kualitas dengan inovasi-inovasi baru dari produk rotinya
maupun dari segi harganya agar dapat menarik minat para konsumen untuk
dapat membeli.
4. Pemasok bahan baku tidak berpengaruh terhadap daya saing.Hal ini
dikarenakan, setiap industri roti yang masih berskala pangsa pasar rendah.
Maka dari itu, diharapkan untuk meningkatkan skala produksinya agar kelak
dapat melakukan kerja sama dengan pemasok bahan baku guna menunjang
ketersediaan stok bahan baku yang lebih baik. Hal tersebut dilakukan agar
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Dumairy. (1996). Perekonomian Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Gaspersz, Vincent. (2003). Ekonomi Manajerial. Jakarta: PT. Gramedia.
Gujarati, Damodar. (1995). Ekonometrika Dasar. Penerbit : Erlangga Jakarta.
Hady, Hamdy. (2009). Ekonomi Internasional : Teori dan Kebijakan Perdagangan Internasional. Bogor : Ghalia Indonesia
Hartarto, Airlangga. (2004). Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia. Yogyakarta : Andi
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1990. Jakarta : Balai Pustaka
Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. (2007). Manajemen Pemasaran Edisi 12. Jakarta : PT. Indeks.
Krugman, R. Paul. dan Maurice Obstfeld. (1999). Ekonomi Internasional :Teori dan Kebijakan. Jakarta : Rajawali Pers.
Laporan Badan Pusat Statistik Kota Bogor Tahun 2012.
Masri Singarimbun dan Sofian Efendi. (1995). Metode Penelitian Survey. Jakarta : LP3S.
Muhaimin. (2004). Paradigma Pendidikan Islam. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Porter, Michael E. (1994). Keunggulan Bersaing: Menciptakan Dan Mempertahankan Kinerja Unggulan.Jakarta Barat : Binarupa Aksara.
Primiana, Ina. (2009). Menggerakkan Sektor Riil UKM & Industri. Bandung : Alfabeta
Riduwan. (2004). Dasar-dasar Statistika. Badung : Alfabeta.
Atik Dwi Larasati, 2013
Analisis Daya Saing Industri Roti Di Kota Bogor
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu
Rohmana, Yana. (2010). Ekonometrika Teori dan Aplikasi dengan Eviews. Bandung: Laboratorium Pendidikan Ekonomi dan Koperasi FPEB UPI.
Santoso, Singgih. (2012). Aplikasi SPSS pada Statistik Parametrik. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo
Samuelson, P.A. dan William D.N. (1997). Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Erlangga.
Sudjana. (1996). Teknik Analisis Regresi dan Korelasi. Tarsito : Bandung.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: CV. Alfabeta.
Sukirno, S. (1998). Pengantar Teori Mikro Ekonomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sumiharjo, Tumar. (2008). Daya Saing Berbasis Potensi Daerah. Bandung : Puskomedia.
Surakhmad, Minarno. (2003). Pengantar Interaksi Belajar, Dasar, dan Teknik Metodelogi Pengajaran. Bandung : Tarsito
Suryana. (2006). Kewirausahaan. Jakarta : Salemba Empat.
Prawirosentono, Suyadi. (2002). Pengantar Bisnis Modern. Studi Kasus Indonesia dan Analisis Kuantitatif. Jakarta: Bumi Aksara.
Tambunan, Tulus. (2002). Perdagangan Internasional dan Neraca Pembayaran. Jakarta: Pustaka LP3ES.
Tulus TH Tambunan. (2001). Perekonomian Indonesia: Teori dan Temuan Empiris. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Tulus TH Tambunan. (2011). Industrialisasi di Negara Sedang Berkembang Kasus Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Warren, J, Keegan. (1995). Global Marketing Management. New Jersey : Prentice Hall Inc.
Widarjono, Agus. (2005). Ekonometrik, Teori dan Aplikasinya Edisi Pertama. Yogyakarta : Ekonisia.